Anda di halaman 1dari 21

1

BAB I
PENDAHULUAN

A.Judul

: Potensi Penggunaan Analogi Dalam Pembelajaran IPA

B. Latar Belakang Masalah


Mengajar adalah seni dan ilmu pengetahuan. Semua orang berharap para
pengajar, yakni guru, menguasai pelajaran dan mengetahui bagaimana cara menjelaskan
materi yang sulit kepada para murid. Namun mengajar lebih dari sekedar menjelaskan.
Pengajaran yang baik akan menggairahkan murid, dan membuat mereka ingin
mempelajari dunia di sekitar mereka. Keinginan mempelajari dunia akan menimbulkan
pertanyaan serta gagasan. Pertanyaan dan gagasan tersebut akan berkembang menjadi
ilmu pengetahuan manakala dapat dibuktikan dan masuk akal; hinngga pada akhirnya
dapat diyakini kebenarannya. Seni mengajar dibutuhkan dalam mengelola interaksi antara
pengetahuan guru dengan keingintahuan murid. Interaksi yang baik antara keduanya akan
menimbulkan pertanyaan bagaimana jika. Ini artinya gagasan ilmu pengetahuan telah
berkembang. Namun terkadang yang terjadi adalah sebaliknya, saat guru berpikir telah
mengajar materi dengan baik, mereka heran melihat wajah para murid yang kebingungan.
Para murid tidak dapat memahami penjelasan guru, atau mereka merasa asing dan
keulitan untuk membayangkan isi materinya. Apa yang dapat guru lakukan? Mereka
dapat menjelaskan ulang dan menambahkan informasi seputar materi yang diajarkan.
Cara ini terkadang berhasil, namun jika konsep materinya benar-benar diluar bayangan
para murid, maka penggunaan analogi atau model adalah cara yang baik untuk dicoba.
Daya tarik analogi dalam IPA, Matematika, Ilmu Sosial, Teknologi, dan Sastra terletak
pada kemampuannya dalam menjelaskan gagasan abstrak dengan istilah-istilah yang
akrab. Para guru terkadang menjelaskan pembuluh nadi atau vena seperti selang, bumi
bundar seperti bola, mata bekerja seperti kamera. Harrison, (2013 :1,10).
Analogi dapat memotivasi murid, hanya jika ia relevan dan memberikan citra
visual (bayangan) yang kuat, yang dapat dengan mudah dihubungkan dengan konsep
abstrak. Pada banyak kasus, humor menambahkan daya tarik analogi, dan membantu
murid mengingat konsep pokok. Taylor,(2003: 41).

C. Rumusan Masalah
bagaimana potensi penggunaan model analogi pada pembelajaran IPA?
D. Tujuan
Mengetahui potensi penggunaan model analogi pada pembelajaran IPA.

BAB II
KAJIAN TEORI
A. Pemetaan Analogi
Untuk mempermudah dalam membahas analogi dijelaskan beberapa istilah
sebagai berikut: dalam suatu analogi, objek keseharian, kejadian atau cerita yang cukup
dipahami disebut analog, sedangkan konsep sains yang sedang dibandingkan disebut
target. Istilah ini sendiri sebenarnya adalah metafora, seperti analogi, karena kita semua
memiliki tujuan untuk mencapai target, jika lemparan kita mengenai target, kita berhasil.
Setiap penjelasan memiliki tujuan, sehingga saat kita dapat memahami target (konsep
sains), artinya kita telah mencapai tujuan.
Hubungan antara analog dengan target disebut pemetaan. Pemetaan (mappings)
dapat menjadi,
Positif: Memiliki sifat bersama di mana terdapat kesamaan antara target dengan analog.
Negatif: Memiliki sifat bukan bersama di mana terdapat ketidaksamaan antara target dan
analog. (Harrison, 2013 :11).
Peneliti mengatakan sangat penting untuk membimbing murid dan membantu mereka
menemukan saat kapan dan bagaimana konsep sains mirip dengan analog, dan kapan
tidak (Duit, 1991). Semua analogi memiliki kelemahan, dan adalah penting untuk
mendiskusikannya manakah konsep ilmiah yang bisa diambil analoginya dari objek
keseharian, kejadian atau kisah, dan mana yang tidak bisa. Berpikir analogis adalah
contoh yang sempurna dari pembelajaran konstruktif, dan daripada tidak menggunakan
analogi karena ia tidak sempurna adalah lebih baik menggunakannya dengan cara
mendorong setiap murid untuk memetakan setiap analogi, menyarankan mereka untuk

3
mengembangkannya, dan bahkan menciptakan buatan mereka sendiri. Aubusson dan
Fogwill (2006) berpendapat analogi yang tidak sempurna adalah alat berpikir yang tetap
unggul, karena adanya upaya mengatasi setiap kesulitan dan permasalahan yang muncul
saat mencoba menggambarkan dan menjelaskan gagasan abstrak. Pengelolaan analogi
yang baik membuat murid berpikir apa yang mereka pelajari, dan membantu mereka
menemukan penjelasan yang lebih baik.( Harrison,2013 :13).
Di bawah ini dijelaskan hubungan Analog, analogi, dan target.

Gambar.1. Model dari Sebuah Analogi Beserta Pemetaannya

Analog
atribut analog 1
Atribut analog 2

Atribut analog n

Analogi
Memetakan ide 1
Memetakan ide 2

Memetakan ide n

Target
atribut target 1
atribut target 2

atribut target n

Objek atau pernyataan


Objek atau konsep
yang familiar
saintifik
B. Para Ilmuan Menggunakan Analogi
Fakta Stephen Hawking (1998( menggunakan 74 analogi keseharian di dalam
bukunya A Brief History of Time untuk menjelaskan astrofisika dan gagasan quantum,
menunjukan keuntungan metode ini. Untuk menjelaskan alam semesta berkembang ke
segala arah disaat yang sama, dia mengatakan Situasi ini seperti balon dengan sejumlah
titik yang digambarkan pada seluruh permukaan kemudian ditiup (hal. 45). Pada
halaman 115 dia membayangkan kita dapat menangkap black hole dengan membawa
sejumlah massa yang sangat besar didepanya, seperti sebuah wortel yang ditunjukan di
depan keledai. Catatan seorang ahli fisika Robert Oppenheimer (salah seorang anggota
tim pembuat bom atom pertama) menegaskan bahwa sebagian besar kemajuan ilmiah
menggunakan analogi sebagai alat berpikir. Banyak analogi yang dikumpulkan dari
sejarah perkembangan sains, menunjukan peran berpikir analogi dalam kemajuan ilmiah.
Sebagai contoh, berpikir tentang cara kerja arloji membantu Johannes Kepler (1571-

4
1630) dalam mengembangkan gagasan tentang gerakan planet-planet. Demikian pula
Watson (1968)dan koleganya Crick, mereka mencapai kesimpulan tentang bentuk
struktur spiral ganda DNA dengan mencocokkan model analogi dengan data percobaan.
Richard K. Coll bahkan memulai bab analogi kimia dengan menceritakan kembali
analogi Kekule yang mengembangkan analogi seekor ular yang mengigit ekornya
sendiri, untuk menggambarkan struktur molekul benzena.
C. Analogi, Teori Pembelajaran, dan Keterampilan Pengembangan Kepribadian
Kebanyakan peneliti analogi sesuatu tujuan analogi menganjurkan pembelajaran
melalui jalur kontruktif (Dit, 1991). Para penganut kontruksivisme menyatan manusia
memiliki kondisi mental yang dapat diperkaya melalui pengalaman dan ketrampilan;
minat, kejadian dan cerita; dan gagasan mereka mereka sendiri berdasarkan bukti dan
ilmu pengetahuan. Tingkat penerimaan sebuah konsep baru sangat ditentukan oleh
kondisi mental seseorang: apakah diterima, dimodifikasi atau ditolak. Bahkan seorang
murit yang sudah benar mengumpulkan dengan gagasan tentang bagaimana dunia ini
bekerja, namun memiliki prasangka negatif, tetapi akan sulit untuk mempelajari sains.
Empat dekade lalu, David Ausebel (1968) menerangkan bahwa prasangka dapat benarbenar tetanam kuat dan sulit dihilangkan (hal 336). Penelitian saat ini telah mununjukan
prasangka murid sangat kuat, hingga pada satu kesempatan akan mengalami kontradiksi
dengan bukti yang nyata (Osborne& Freyberg, 1985). Beberapa murit akan terlihat
menerima semua ajaran guru mereka ketika belajar bersama, dan mereka juga berupaya
mengikuti setiap arahan pelajaran. Namun sering pula murid menerima pelajaran yang
baru tanpa mau mengubah pandangan awal. Kedua, baik itu prasangka maupun belajar
konsep konsep yang keliru, akan mengakibatkan konsep pemikiran sulit berubah
(Nussbaum & Novick, 1982). Beberapa guru kuatir dengan fenomena ini. Namun
sebenarnya, fenomena ini
Menunjukkan bahwa sekali konsep pemikiran murid dapat diubah, maka konsep
tertanam kuat dalam pikirannya. Menggunakan analogi untuk belajar sains dapat
digambarkan sebagai pengembangan konsep (murid akan berkembang konsep
pemikirannya), atau perubahan konsep (membuang konsep tidak ilmiah dalam pikiran),
atau keduanya. Pembelajaran yang berhasil mengubah konsep pemikiran murid, muncul
saat minat mengajar dengan analogi hadir. Kebanyakan penelitian seputar perubahan

5
konsep dan pengajaran dengan analogi mengacu pada teori Piagetian (Curtis & Reigeluth,
1984; Glynn, 1991). Sejak tahun 1980-an, para peneliti telah memiliki penafsiran belajar
dengan analogi konsep kesetimbangan Piaget (Gabel & Sherwood, 1980), pengembangan
proksimal Zona Vygotsky (Cosgrove, 1995), pembelajaran bermakna Ausabel (Harrison,
Grayson & Treagust, 1999), dan sudut pandang kontruktivisme sosial. Kebanyakan
penelitian menunjukkan analogi bagian dari fenomena kontruktivisme, dan hanya sedikit
yang mengaitkan dengan teori dan metode sperti Piaget dan Vygotsky.
Gagasan pengembangan Piaget mengatakan anak-anak yang lebih kecil akan
mendapatkan manfaat lebih dari analogi konkret yang dapat mereka lihat dan sentuh.
Adalah masuk akal untuk mengefektifkan penggunaan analogi verbal dan abstrak untuk
membahas pemikiran abstrak yang muncul di kelas 8-10, karena para murid sudah mulai
dewasa dan menguasai model imajinasi. Para guru seharusnya berhati-hati menggunakan
analogi abstrak, bahkan saat digunakan pada murid yang lebih tua, karena bisa jadi
diantara mereka ada yang tidak memiliki kemampuan berimajinasi. Inilah para guru harus
memastikan para murid memahami objek keseharian atau pengalaman yang menjadi
dasar analogi. Teori Vygotsky (dikutip oleh Cusgrove,1995), Merekomendasikan untuk
menempatkan analog pada zona pengembangan proksimal murid. Rekan belajar (sesame
murid) dan orang dewasa (para guru) hendaknya menumbuhkan rasa ingin tahu yang
membantu murid untuk memetakan persamaan dan perbedaan antara pengalaman
keseharian dan konsep target. Rekan belajar dan guru sama-sama mencari pengetahuan
yang didapat dari proses belajar. Para murid harus memahami sifat-sifat bersama antara
analog dan target, selama mereka mengembangkan konsep. Belajar adalah konstruksi
pribadi terhadap pengetahuan baru yang dibangun di atas pengatahuan lama. Analogi
membantu murid belajar dan mengingat gagasan ilmiah. Analogi juga adalah alat
penelitian yang efektif karena menghadirkan pertanyaan baru, keterkaitan, dan
penyelidikan..
Pembelajaran analogi terus mengembangkan proses pengajaran. Saat Treagust,
Duit, Joslin dan Lindaeur (1992) meninjau penggunaan analogi pada pelajaran IPA di
Sekolah, mereka menemukan sedikit yang menggunakan analogi secara sistematis, dan
para guru yang sedang mereka observasi tidak tuntas dalam menggunakan analoginya.
Sepuluh tahun kemudian, Harrison (2001) menemukan seperuh dari guru yang diamati

6
oleh Treagust(1992), telah mendiskusikan analogi dengan para murid mereka hingga
tuntas.
D. Apakah Analogi Efektif Digunakan di Dalam Kelas?
Banyak bukti yang mendukung pernyataan bahwa analogi dan model sudah
digunakan sebagai alat keterampilan bagi para ilmuwan, namun sejauh mana
kegunaannya dapat digunakan untuk murid sekolah masih dipertanyakan. Murid sekolah
tidak memiliki pengalaman, pengetahuan, atau waktu untuk menciptakan dan menguji
analogi sebagaimana yang dilakukan para ilmuwan. Tetapi murid-murid dapat
berimajinasi dan berpikir kreatif, menganggap permasalahan adalah tantangan, dan
terdapat beberapa analog dalam pengalaman keseharian mereka.
Tabel.1. Penemuan Ilmiah yang Menggunakan Pemikiran Analogis untuk Kemajuan Ilmu
Pengetahuan.
No
1.

Penemuan Ilmiah Menggunakan Analogis


Persamaan matematika Maxwell yang menjelaskan bentuk garis-garis listrik

2.
3.

Faraday menggunakan analogi tekanan air pada pipa.


Robert Boyle membayangkan partikel gas elastic sebagai pegas spiral.
Huygens menggunakan gelombang air untuk menjelaskan gerakan garis lurus

4.

(streamline) pada burung dan ikan


Di dalam teori fisika kuantum, pemikiran analogis digunakan dalam penemuan

5.

meson (partikel atom elementer)


Kekule memperoleh gagasan bentuk cincin benzene dari sebuah gambar seekor
ular yang sedang menggigit ekornya sendiri.
Analogi adalah alat berpikir yang mudah dan bersahabat bagi murid, jika mereka

dapat menyatakan pendapat awal tanpa merasa dihakimi; dan kemudian mereka diberi
kesempatan untuk mencari validitasnya, baik di itu dalam pelajaran biologi, kimia
maupun fisika. Meskipun demikian beberapa penelitian menunjukkan walaupun analogi
sudah digunakan di dalam komunikasi keseharian, namun penerapan metode di kelas
tidak selalu seefektif seperti yang diharapkan. (Duit,1991). Penggunaan analogi yang
tidak dievaluasi cenderung memunculkan pemahaman yang keliru, terutama hal ini
terjadi karena sifat bukan bersama diperlakukan seperti sesuatu yang sahih, atau saat si
pembelajar tidak mengenal baik analognya. Sebenarnya penggunaan analogi tetap

7
membutuhkan kehati-hatian untuk memastikan tidak muncul kesan analog adalah
gambaran yang sebenar-benarnya dari konsep target. (Harrison, 2013 :17-18).
E. Analogi Meningkatkan Pembelajaran Konsep
Para guru yang khawatr munculnya pemahaman yang keliru dalam menggunakan
analogi (terdokumentasi oleh Driver, Squire, Rushworth & Wood Robinson,1994),
terkadang terpaksa menggunakan analogi karena mereka menyadari gagasan ilmiahnya
akan diterima murid, jika analoginya dikaitkan dengan sesuatu yang sudah dipahami dan
disetujui. Sebagai contoh, para murid tahu ada sesuatu yang diserap oleh rangkaian lampu
senter karena tenaga baterainya semakin lama semakin habis. Saat mereka mempelajari
bahwa arus listrik mengalir dari baterai menuju lampu senter dan kembali ke baterai
(lihat gambar1.3), mereka menyimpulkan lebih banyak arus yang masuk menuju bohlam
daripada yang ke luar bohlam karena ada sesuatu yang diambil oleh bohlam. Para guru
dan peneliti telah berupaya melakukan berbagai upaya dari perubahan pada gagasan ini,
di anataranya:
Kereta api bersambung di rel melingkar dan terus menerus mengangkut para
penumpang di stasiun (baterai) dan menurunkannya di stasiun yang lain (bohlam;
gambar 1.4a).
Sebuah sepeda dengan rantainya bergerak karena mendapatkan energy dari gigi
pedalnya yang digenjot (baterai), dan disalurkan menuju gigi roda belakang
(bohlam; gambar 1.4b)
Seorang murid yang lari mengitari lingkaran manusia (rangkaian listrik)
memberikan permen kepada tiga atau empat murid yang dapat menjawab
pertanyaan dari gurunya (guru sebagai baterai dan murid yang menjawab sebagai
bohlam, lihat gambar 1.4c).

9
F. Metode FAR
Sebuah Metode Efektif untuk Menyajikan Analogi
Tujuan dari penerapan metode FAR adalah untuk membantu para guru
memaksimalkan manfaat dan meminimalkan permasalahan, saat analogi muncul pada
pembahasan di kelas atau di buku teks. Metode ini didesain agar dapat mengevaluasi
keterampilan guru yang menggunakan analogi dalam pengajaran sains. Karena tiga tahap FokusAksi-Refleks telah membuat pengajaran menjadi jelas dan optimal, maka penerimaan metode
FAR dengan praktik para guru menjadi mudah. Berikut ini adalah penjelasan rinci dari setiap
tahap:
1. Fokus. Dalam mengajar analogi guru hendaknya menyadari sejak awal, adanya aspek
kesulitan pada konsep yang akan diajarkan (kesulitan bagi guru maupun murid). Pada
tahap ini hendaknya guru memeriksa apakah para murid sudah mengetahui sesuatu
tentang target konsep atau belum, ataukah mereka mempunyai pemahaman konsep yang
keliru. Pertanyaan seputar bagaimana analogi dapat menguatkan konsep yang tepat dan
memperbaiki konsep yang salah, dapat diajukan. Inilah saat di mana para guru
memutuskan apakah paramurid sudah cukup mengenal analog atau belum. Kemudian
guru dapat meningkatkan pengenalan dan pemahaman murid melalui contoh atau
penggambaran. Jika para guru mendapati para muridnya tidak dapat melalui tahap ini
dengan baik, maka penggunaan suatu analogi tertentu sebaiknya tidak dilanjutkan. Tahap
ini seharusnya dijalankan sebelum atau di awal pelajaran, sesuai keadaan. Namun upaya
ini jika sudah dimulai sebelum awal pelajaran, akan mengefektifkan penggunaan analogi.
2. Aksi. Tahap aksi dalam pengajaran analogi mengharuskan guru memperhatikan tingkat
keakraban para murid dengan analog. Selain itu ia juga harus memperhatikan kemiripan
dan ketidakmiripan sifat antara analog dengan target. Proses yang dilakukan dengan
menggambarkan kemiripan cirri-ciri analog dengan target disebut pemetaan sifat-sifat
bersama. Inilah esensi dari instruksi analogi di mana harus ada upaya perluasan,
elaborasi, argumentasi, negosiasi, dramatisasi, penggambaran dan penulisan. Hal ini akan
membantu para murid memahami prinsip-prinsip tingkat tinggi dari kesamaan target
konsep analog. Sebagai tambahan, selain pemetaan sifat-sifat bersama, ketidakmiripan
antara analog dengan konsep target juga harus diiidentifikasi. Proses ini melibatkan

10
upaya negosiasi dengan para murid di mana analogi diungkapkan kelemahan dan
keterbatasannya, sehingga para murid tidak memaksakan analogi diluar kegunaannya.
3. Refleksi. Hal berikut yang harus dilakukan dalam penggunaan analogi, guru harus
merenungi kejelasan dan kegunaan dari analog sebagai bagian pembuatan kesimpulan.
Sesudah itu guru harus mencari cara menemukan analog yang lebih sesuai serta pemetaan
yang lebih sistematis untuk meningkatkan peran analogi. Tahap refleksi ini mungkin
dilakukan selama proses pengajaran berjalan atau sesudah atau persiapan di kemudian
hari. Dalam praktiknya, tahap ini tidak terlalu jelas waktunya, karena bisa dilakukan
bersamaan dengan tahap-tahap yang lain. Karena refleksi adalah karakteristik dari
pengajaran yang baik, maka para guru menganggap para guru ini sebagai sesuatu yang
biasa.
Tahap-tahap metode FAR menjadi kebiasaan para guru yang akrab dengan proses ini.
Tahap-tahap ini telah terbukti kegunaannya dalam pengajaran analogi.
Gambar 2. Metode FAR untuk mengajar dan Belajar dengan Analogi
Fokus
Konsep
Murid
Analog
Aksi
Mirip
Tidak Mirip
Refleksi
Kesimpulan
Perbaikan

Apakah sulit, asing, atau abstrak?


Apakah sudah diketahui murid seputar konsep tersebut?
Apakah para murid sudah mengenal analognya?
Diskusikan cirri-ciri pada analog dan konsep sains. Gambarkan
kesamaan di antara keduanya.
Diskusikan saat di mana analog tidak mirip konsep sains.
Apakah analogi ini jelas, berguna, atau membingingkan?
Apakah hasilnya sesuai rencana?
Berdasarkan hasilnya, apakah ada perubahan diperlukan di waktu
yang lain Anda menggunakan analogi ini?

G. Analogi dalam Pelajaran Fisika


Analogi Mata Seperti Sebuah Kamera
Analogi mata seperti sebuah kamera adalah cara memberitahu cara kerja mata
(lihat artiekl Glynn, 1991) yang diutamakan di sejumlah buku-buku sains. Dua asumsi
yang sering terpikirkan oleh para guru saat analogi ini digunakan : (1) para murid

11
mengetahui bagaimana cara kerja kamera dan (2) para murid paham bentuk gambar
lubang kamera dan lensa cembung. Asumsi ini masuk akal jika kameranya sederhana,
namun saat kamera sederhana sudah jarang digunakan. Kamera digital dan video adalah
perkembangan mutakhir dari kamera sederhana 35mm.
Para murid akan memiliki pengetahuan awal mengenai kamera, hanya jika
mereka pernah membuat kamera lubang jarum dan memiliki pengalaman menggunakan
lensa yang menghasilkan bayangan nyata dari bohlam dan api lilin. Sangat penting bagi
para murid untuk memahami bentuk bayangan dari alat optic sederhana. Pengetahuan
konsep awal yang diperlukan para murid bisa diringkas menjadi seperti berikut:
a) Sinar cahaya sebenarnya berkumpul secara halus dan rinci menghasilkan bayangan
nyata. Sebagai contoh gambar yang dibentuk saat lensa mengumpulkan cahaya yang
ditampilkan pada layar (contohnya, proyektor).
b) Hanya sumber cahaya yang dapat menghasilkan bayangan focus (contohnya, api lilin,
cahaya bohlam, chaya dari proyektor).
c) Sinar cahaya membias dengan cara yang teratur sebagaimana sinar melewati lensa
cembung.

12
Tabel berikut ini menunjukkan beberapa cara kerja serta fungsi dari bagian-bagian
kamera yang dapat digunakan untuk mengajarkan tentang mata
Beberapa Cara Kerja Kamera yang Mirip dengan Mata
Struktur atau Fungsi Kamera
Struktur atau Fungsi Mata
Lensa cembung memfokuskan cahaya
Kornea dan lensa memfokuskan cahaya pada
pada film
Lensa berubah posisinya untuk

retina
Lensa berubah bentuknya untuk

memfokuskan objek yang dekat maupun

memfokuskan objek yang dekat maupun

yang jauh
Diafragma mengendalikan cahaya yang

yang jauh.
Pupil mengendalikan cahaya yang masuk

masuk.
Ruang dalam yang gelap mencegah

menuju retina.
Ruang dalam yang gelap mencegah

munculnya pantulan berlipat ganda.


Tutup lensa melindungi lensa
Bayangan ditangkap film atau chip

munculnya pantulan berlipat ganda


Kelopak mata melindungi kornea
Bayangan ditangkap retina

Beberapa Cara Kerja Kamera yang Tidak Mirip dengan Mata


Struktur atau Fungsi Kamera
Struktur atau Fungsi Mata
Sebuah lensa di depan kamera
Dua lensa-kornea di depan (tidak dapat
disesuaikan fokusnya) dan lensa yang dapat
disesuaikan fokusnya berada di belakang
kornea.
Menangkap gambar tunggal atau berulang Menangkap gambar yang bersambung
Memiliki rentang kecerahan yang terbatas Bekerja pada rentang kecerahan.
Tabel dibawah ini menunjukkan cara menganalisa Analogi Mata Seperti Sebuah
Kamera berdasarkan metode FAR.

Fokus

Konsep

Analogi Mata Seperti Sebuah Kamera


Baik mata maupun kamera keduanya membentuk
bayangan(pada film dan retina, secara berurutan). Bayangan
nyata dibentuk saat cahaya sinar dari sumber membentuk

Para murid

bayangan yang focus.


Apakah para murid memahami bagaimana bayangan terbentuk?
Pernahkah mereka melihat bayangan cahaya bohlam atau api
lilin di dalam kamera lubang jarum? Apakah mereka familiar

Analog

dengan kamera dan mengetahui cara kerjanya?


Sinar cahaya dari objek yang bersinar atau diterangi melewati
lensa cembung dapat difokuskan pada layar, film atau retina.

Aksi

Hal ini terjadi di kamera dan mata.


Kemiripan-Pemetaan Analog dengan Target
Analog-Kamera

Target-Mata

Lensa cembung memfokuskan cahaya

Kornea bersama lensa memfokuskan

pada film.
Lensa bergerak untuk memfokuskan

cahaya pada retina.


Lensa bentuknya berubah untuk

objek yang dekat dan jauh.

memfokuskan objek yang dekat dan

Diafragma mengatur cahaya yang

jauh.
Pupil mengatur cahaya yang masuk

masuk
Ruang dalam yang gelap mencegah

menuju retina.
Ruang dalam yang gelap mencegah

pemantulan berlipat.
Tutup lensa melindungi lensa

pemantulan berlipat.
Kelopak mata melindungi kornea.

Bayangan ditangkap film atau chip.

Bayangan ditangkap retina.

Ketidakmiripan-Di mana Letak Kelemahan Analogi Berada

Mata memiliki lensa yang tetap (kornea) dan sebuah lensa yang bisa
diatur fokusnya, sesangkan kamera bisa memiliki 6-10 lensa dengan

bentuk berbeda di dalam system lensanya.


Kamera menangkap sebuah gambar atau berulang; mata adalah alat

penangkap gambar bersambung.


Mata bisa menerima cahaya dengan rentang tingkat kecerahan yang lebih
luas dibandingkan kamera; bagaimanapun juga, peralatan kamera
elektronik menjadi mirip mata; khususnya saat gambar dikirim melalui

Reflek

kabel (seperti saraf optic).


Kesimpula Apakah struktur dan fungi analoginya meyakinkan? Apakah

si

diagram mata dan kamreanya memuaskan, ataukah para murid


memerlukan model kamera dan bedah mata (atau model yang

Perbaikan

bagian-bagiannya bisa dicopot)?


Tingkat manfaat membandingkan struktur dan fungsi kamera
digital dengan mata, tergantung pada usia dan pengalaman para

13

14

H. Analogi dalam Pelajaran Biologi


Analogi Ember dan Pompa untuk Jantung
Bahasa teknik bisa memusingkan dan menakutkan bagi para murid. Saat
mempelajari tentang sirkulasi jantung, murid-murid kecil harus bersusah payah untuk
memahami kata-kata seperti klep, bilik, serambi, pembuluh balik, dan aorta. Selain itu,
para murid sering takjub dengan diagram jantung yang rumit yang ada di dalam buku
teks. Analogi ini menggambarkan bagian-bagian jantung dengan istilah-istilah analogis
yang di kenal seperti, keran, ember, dan pompa di dalam model kotak sederhana. Dengan
menggunakan perbandingan ember dan pompa, akan memberikan wawasan tentang
fungsi ruang-ruang di dalam jantung.
Kami mendorong para guru untuk menggunakan analogi ini, untuk memotivasi
murid-murid mereka dalam memperkenalkan gagasan yang memungkinkan mereka
belajar konsep ilmiah yang rumit dengan menggunakan analogi dan mereka belajar
konsep ilmiah yang rumit dengan menggunakan analogi dan model. Analogi ini pertama
kali dideskripsikan oleh Wilkes (1991) dan kemudian oleh Venville dan Treagust (1996).
Slide tranparan proyektor atau PowerPoint berisi Gambar 6.8 dapat ditampilakan dengan
cara slide yang satu melapisi slide berikutnya untuk menunjukan bagaimana fungsi dari
aspek jantung yang berbeda dijelaskan dengan model setahap demi setahap. Ruang-ruang
dari jantung ditunjukkan didalam bentuk empat kotak sederhana ditampilkan Slide 1.
Untuk para murid, gambar struktur ini lebih mudah untuk dibayangkan daripada diagram
yang digambar bentuknya secara akurat. Slide2 ditampilkan diatas slide1 untuk
menunjukkan serambi kanan dapat dibandingkan dengan ember yang mengumpulkan
darah dari tubuh yang digambarkan seperti pabrik pada slide ini. Bilik kanan dapat
dibandingkan dengan sebuah pompa yang memompa darah menuju paru-paru yang
digambarkan sebagai tempat oksigen disuntikkan ke dalam darah.

15

Tabel dibawah ini menunjukkan cara menganalisa Analogi Ember dan Pompa
untuk Jantung berdasarkan metode FAR.

Analogi Ember dan Pompa untuk Jantung


Fokus

Konsep

Demonstrasi sederhana tentang aliran darah yang kaya oksigen


dan yang miskin oksigen melewati empat ruang jantung, paru-

Para murid

paru, tubuh dan kembali menuju jantung.


Para murid melihat system rangkap pompa di dalam jantung
demikian membingungkan, dan sulit membedakan aliran darah

Analog

yang kaya oksigen dan yang miskin oksigen.


Ember cukup dikenal oleh kebanyakan murid. Mereka juga
mengenal konsep sebuah pompa seperti yang mungkin pernah

Aksi

mereka lihat di aquarium, kolam renang atau sumur taman.


Kemiripan-Pemetaan Analog dengan Target
Analog-Ember dan pompa

Target-Ruang-ruang

di

dalam

Ember menerima air

jantung
Serambi kanan dan kiri menerima
darah mengalir yang kembali dari

Pompa menyedot air dari satu tempat

tubuh dan paru-paru berturut-turut.


Bilik kanan dan kiri memompa darah

dan memompanya ke tempat yang

dari jantung menuju jantung dan paru-

diinginkan.
Keran dapat ditutup untuk mencegah

paru, berturut-turut.
Klep jantung mencegah darah mengalir

air mengalir kea rah sebaliknya.


Suntikan dapat digunakan untuk

ke arah yang salah.


Paru-paru memasukan oksigen ke

memasukan suatu bahan ke dalam

dalam darah yang datang dari bilik

suatu tempat.
Pabrik menggunakan bahan-bahan

kanan.
Tubuh seperti pabrik yang
menggunakan oksigen dari darah.

Ketidakmiripan-Pemetaan Analog dengan Target

Ember atasnya terbuka dimana air bisa meluap keluar, sedangkan


serambi memiliki klep yang memungkinkan adanya aliran darah menuju

bilik.
Perpindahan gas keluar dan masuk dari darah menuju paru-paru terjadi

melalui difusi, tidak melalui proses penyuntikan aktif.


Jantung terbuat dari bahan-bahan organic, sedangkan ember dan pompa

dibuat dari bahan anorganik.


Serambi secara aktif memompa darah menuju bilik; tidak pasif seperti air

Reflek

yang menetes dari ember.


Kesimpula Apakah para murid setelah mempelajari analogi ini, memahami

si

aliran darah yang melalui darah dan fungsi dari setiap aspek
jantung? Walaupun para murid dapat menggunakan analogi ini
untuk membantu mereka memahami fungsi ruang-ruang di dalam
jantung, namun mereka sering kesulitan mengingat istilah teknik

16

17

I. Analogi dalam Pelajaran Kimia


Analogi Balon untuk Bentuk Molekul
Para guru kimia dan berbagai buku teks sering membahas bentuk-bentuk molekul.
Di dalam pelajaran kimia, kebanyakan guru menggunakan teori tolakan pasangan
electron valensi, atau the valence shell electron pair repulsion (VSPER). Ini adalah
gagasan abstrak, dan beberapa murid kesulitan untuk membayangkan kenyataan bahwa
orbital electron bertolakan satu sama lain. Sebuah cara konkret untuk membantu para
murid melihat konsep ini, adalah dengan menggunakan model sebagai model orbital
electron.
Balon berisi udara dapat digunakan sebagai model medan negative orbital
electron. Saat anda menaruh sebuah balon diantara balon-balon lainnya, tekanannya akan
menghasilkan gaya reaksi. Balon akan terpental jika dilepaskan.Modelini membantu para
murid membayangkan bagaimana orbital yang tak Nampak, saling menekan satu sama
lainnya. Akan bermanfaat jika menggunakan balon yang ditiup, dan membiarkan para
murid merasakan tekanan yang ada didalamnya.
Target penjelasan analogi ini adalah perbedaan bentuk antara etana (C 4H6) yang
berbentuk tetrahedral;etena(C2H4) yang berbentuk planar; dan etuna (C 2H2) yang
berbentuk linear.

18
Struktur tetrahedral etana dapat dibuat modelnya dengan mengikat empat balon
bersamaan berisi udara. Balon-balon dianggap berbentuk tetrahedral, dan Anda dapat
mendiskusikan mengapa gaya tekanan dapat menghasilkan arah yang saling menjauhi.
Analoginya adalah empat orbital-sp3 akan melakukan hal yang sama (empat ikatan
hibrida sp3 di dalam alkana seperti empat balon yang serupa).
Jika anda meledakan sebuah balon, tiga balon yang tersisa akan bergerak
membentuk planar (analoginya menjadi H2C = gugus etena). Peledakan balon berikutnya
akan menghasilkan sebuah struktur yang kira-kira linear, walaupun hasilnya cenderung
lebih longgar. Ini adalah model etuna dengan ikatan rangkap tiga-HC.

Tabel dibawah ini menunjukkan cara menganalisa Analogi Balon untuk Bentuk
Molekul berdasarkan metode FAR.

Analogi Balon untuk Bentuk Molekul


Fokus

Konsep

Tarik menarik dan tolak menolak listrik statis antara atom dan
electron menghasilkan ikatan kovalen. Teori VSPER adalah
cara yang bermanfaat untuk menjelaskan bentuk yang
dihasilkan saat atom-atom berbagi electron di dalam suatu

Para murid

molekul.
Para murid memiliki kesulitan dalam membayangkan gaya yang
tidak tampak, seperti gaya tolakan listrik statis. Mereka lebih

Analog

mengenal tekanan balon yang berisi udara.


Cara yang sederhana untuk menunjukkan tolakan antara
pasangan electron yang berdekatan, adalah dengan membuat
model ikatan kovalen dengan balon yang berisi udara. Empat
balon berisi udara penuh diikat bersamaan dengan erat pada
bagian lehernya. Tekanan udara-keelastisannya-menekan sama
besar setiap balonnya. Bentuknya kira-kira adalah sebuah
tetrahedral. Ini seperti metana (CH4). Sementara mendiskusikan
gaya dan bentuk yang ditunjukkan, pecahkan satu balon dengan
pin, dan tiga balon yang tersisa akan membentuk suatu planar.
Saat balon kedua dipecahkan, dua balon tersisa akan

Aksi

membentuk suatu linear.


Kemiripan-Pemetaan Analog dengan Target
Analog-Balon-balon

Target-Molekul kovalen

Balon yang ditiup penuh

Pasangan electron dari ikatan kovalen

Empat leher balon yang terikat

Empat ikatan sigma yang mengelilingi

bersama
Balon menolak satu sama lain karena

satu atom karbon


Ikatan menolak satu sama lain karena

adanya tekanan udara


Satu balon meletus

gaya listrik statis


Dua ikatan menyatu menjadi ikatan

Dua balon meletus

rangkap dua
Tiga ikatan menyatu menjadi ikatan
rangkap tiga

Ketidakmiripan-Di mana letak kelemahan Analogi Berada

Ada 2,4,6 elektron per ikatan, tetapi setiap balon mengandung jutaan

partikel.
Kerapatan electron di dalam ikatan tidak seragam, tetapi tekanan di

dalam balon seragam.


Bentuk daerah ikatan kaya electron tidak sama persis dengan bentuk

balon.
Tolakan listrik statis adalah gaya pada suatu jarak, tetapi tekanan balon

19

20

BAB III
KESIMPULAN
Analogi dan berpikir analogi adalah pusat sains, dan digunakan untuk perpikir dan
bekerja secara ilmiah. Beberapa peringatan hendaknya diperhatikan saat menjelaskan dan
mengembangkan analogi: analogi seharusnya menarik, dikenal dan sifat-sifatnya bersama
atau bukan bersama, sebaiknya dirundingkan dengan melibatkan murid. Analogi adalah
alat pemikiran tingkat tinggi yang efektif yang membantu ilmuwan dan orang awam
dalam memahami fenomena alam di sekitar mereka. Analogi memiliki potensi yang baik
terhadap pemahaman konsep dalam mengajarkan Fisika, Kimia, dan Biologi. Namun
analogi dapat menjadi pedang bermata dua. Selalu perhatikan bersama para murid di
manakah letak kelemahan analogi yang sedang dipelajari.

21
Beberapa analogi adalah alat pembangun pengetahuan yang efektif, namun
sebagian yang lain berpotensi menimbulkan pemahaman konsep yang keliru jika tidak
digunakan secara hati-hati.

DAFTAR PUSTAKA
Harrison,A.G. (2008). Using Analogies in Middle and Secondery Science Classrooms
The FAR Guide-An Interesting Way to Teach With Analogies. California :
Corwin Press. p1-26 & p.202.
Venville, G. Using Analogies in Middle and Secondery Science Classrooms The FAR
Guide-An Interesting Way to Teach With Analogies. California : Corwin Press.
p. 30-32. & p125-127.
Cool,R.K. Using Analogies in Middle and Secondery Science Classrooms The FAR
Guide-An Interesting Way to Teach With Analogies. California : Corwin Press.
p.149.