Anda di halaman 1dari 10

Kedudukan Khabar Ahad dalam Masalah Aqidah

APR 30
Posted by M. Taufik N.T
Oleh M Taufik NT
Diskusi tentang khabar ahad apakah yufiidul ilma (berfaedah ilmu/yaqin)
atau yufiidu adz dzon (berfaedah dzon/dugaan) sehingga bisa diterima sebagai
dalil dalam masalah aqidah atau tidak, sebetulnya merupakan perkara klasik
yang memang terdapat perbedaan para ulama dalam menyikapinya. Namun
dikarenakan adanya kekaburan pada sebagian kaum muslimin sehingga akhirnya
mereka menyalahkan -bahkan menganggap sesat- orang yang berbeda
pendapat dengannya, maka hal ini perlu kita kaji kembali. Pertanyaanpertanyaan yang harus terjawab dan dipahami dalam membahas tema ini antara
lain:
1. Apa yang dimaksud dengan aqidah dan Iman?
2. Apa yang dimaksud dengan khabar ahad?
3. Apakah khabar ahad menghasilkan kepastian atau hanya dzan?
4. Bolehkah aqidah dibangun diatas hal yang dzanniy (tidak pasti)?
Tulisan ini berusaha menjelaskan hal-hal tersebut (insya Allah tidak bermaksud
fanatis terhadap salah satu pendapat saja dan menyatakan pendapat yang lain
sesat), semoga dapat memberikan pencerahan bagi umat ini dalam menggalang
persatuan mewujudkan cita-cita tegaknya kalimatullah di muka bumi ini.
1. Pengertian Aqidah
Menurut Istilah, ( jamaknya, ) memiliki beberapa rumusan yang diajukan
oleh beberapa ulama, diantaranya :
a. Syeikh Mahmud Syaltut

Aqidah ialah segi pandang (keyakinan) yang harus dipercaya lebih dahulu
sebelum segala perkara yang lainnya dengan kepercayaan yang tidak dapat
dilemahkan oleh keraguan dan tidak dipengaruhi oleh kesamaran
(syubhat) [1]
b. Thahir Ibnu Shalih Al Jazairy mengatakan :

Aqidah Islamiyah ialah sejumlah perkara yang diyakini kebenarannya oleh umat
Islam bahwa mereka memastikan dengan kuat (akan kebenarannya)[2]
c. Al Jurjani
:
Al aqaaid : apa-apa yang dimaksud didalamnya adalah itiqad (keyakinan) itu
sendiri bukan amal /perbuatan[3].
Jadi meskipun dengan redaksi yang berbeda, pada dasarnya aqidah Islamiyah
ialah mempercayai dengan kepercayaan yang pasti akan benarnya sejumlah
perkara pokok
2. Pengertian Iman
Ada beberapa definisi Iman yang kesemuanya memiliki satu makna, antara lain:
1. Hadits Riwayat Muslim dari Umar Ibnu Khattab ra.
: , .
Maka Kabarkanlah kepadaku tentang iman ? maka jawab Rasulullah : (Iman Itu)
ialah engkau percaya kepada Allah, Malaikat-malaikatnya, kitab-kitab-Nya,

Rasul-rasul-Nya dan hari akhirat dan percaya kepada qadar (kepastian Allah)
yang baik dan yang buruk.
2. Hadits Riwayat Ibnu Majah dan Thabrani dari Ali ra.

Iman itu adalah marifat (mengenal dengan yakin) dalam hati dan ucapan
pengakuan dengan lisan serta mengamalkan segala rukunnya.
3. Syekh Mahmud Syaltut

iman adalah Itiqaad yang bersifat pasti yang sesuai dengan kenyataan (yang
diItiqodkan) yang muncul dari dalil [4]
Jadi IMAN bukanlah sekedar pembenaran hati belaka; pembenaran itu harus
bersifat pasti, tanpa ada keraguan sedikitpun, dan melahirkan ketundukan atau
bukti yang nyata yang diwujudkan dalam amal-amal shalih dan meninggalkan
larangan Allah.
Sekali lagi, tentang masalah pendefinisian ini juga ada perbedaan sudut
pandang, kalau pakai hadits 1, maka kesimpulannya adalah seperti definisi dari
Syekh Mahmud Syaltut, sedangkan ada yang mendefinisikan mutlak seperti
riwayat ke-2. Namun ini hanya masalah definisi, yang intinya baik yang pertama
maupun ke 2, iman itu tetap mewajibkan amal, amal adalah konsekuensi iman,
dan amal akan memperkuat pengaruh iman pada diri seseorang.
Dalam hal ini, sangat menyedihkan ketika sebagian orang mengatakan pendapat
lain sesat, kafir, jahmiyah, bahkan murjiah dan zindiqah hanya gara-gara
masalah definisi, tanpa melihat kandungan makna apa yang dimaksudkan oleh
yang membuat definisi.
Ini juga menimpa imam Abu Hanifah yang dituduh murjiah bahkan zindiq garagara mengeluarkan amal dari definisi iman, dan menyatakan iman tidak
bertambah dan berkurang. Salah satu ulama ahlul hadits yang membantah Abu
Hanifah ini adalah Al Hafidz Abdullah Bin Muhammad Bin Abi Syaibah Al Kufi
(wafat pada tahun 235 H), terkenal dengan karyanya yang berjudul Mushonnaf
Ibnu Abi Syaibah dimana didalam karya tersebut beliau mengkritik Al Imam Al
Hanafi dengan kritikan tajam dalam satu bab khusus dengan judul Kitabu Roddi
Ala Abi Hanifah (kumpulan bab-bab yang berisi tentang bantahan terhadap Abu
Hanifah). Kemudian Ibnu Abi Syaibah menambahkan dalam sub judulnya Ini
adalah keterangan tentang perkara dimana Abu Hanifah telah menyelisihi
sunnah Nabi. Juga Al Hafidz Abu Bakr Ahmad Bin Ali Al Khotib Al Baghdady
(wafat pada tahun 463 H). Dalam kitab karya beliau berjudul Tarikh Baghdad
jilid 13, beliau membawakan riwayat hidup Imam Hanafi dan sekaligus kritikankritikan tajam yang beliau sampaikan tentang penyimpangan-penyimpangan Abu
Hanifah. Abdullah Bin Ahmad Bin Hambal (putra Imam Hambali) juga menulis
dalam kitab beliau As Sunnah dengan judul Bantahan Terhadap Murjiah,
padanya Imam Abdullah Bin Ahmad Bin Hambal membawakan riwayat-riwayat
kritikan para Ulama terhadap Imam Hanafi dalam penyimpangannya tentang
pemahaman murjiah ini.
Padahal ini adalah kesalahpahaman dalam memahami pendapat imam Abu
Hanifah, maksud perkataan Imam Abu Hanifah bahwa iman tidak bertambah dan
berkurang adalah dari segi banyaknya perkara yg diimaninya, namun bertambah
serta berkurang dari segi keyakinannnya. Dan saya rasa semuanya akan sepakat

dengan ini, karena kalau iman berkurang, misalnya berkurang dengan tidak
mengimani hari akhir saja maka tidak akan disebut ber iman.(Syarah Fiqh Akbar
Li Abi Hanifah).
Saya rasa kalau kita hanya memaksakan pendapat kita saja, tanpa melihat
bagaimana pendapat ulama yang lain, hal inilah yang diidam idamkan musuh
Islam, dan ini merupakan strategi mereka untuk memecah belah umat Islam,
dengan atau tanpa kita sadari, kita telah masuk dalam strategi Cheryl Benard
dari Rand Corporation dalam tulisannya: Civil Democratic Islam, Partners,
Resources And Strategies.
3. Hubungan Pengertian Aqidah dan Iman
Menurut Mahmud Syaltut, Aqidah sama pengertiannya dengan iman. Kalau
aqidah mempunyai arti mempercayai sejumlah perkara yang diyakini
kebenarannya, yaitu perkara yang bertalian dengan ilaahiyah, an-nubuwah, arruhaaniyat dan samiyyat, sedangkan iman mempunyai rukun-rukunnya yang
enam (Arkaanul Iman) yang juga harus yakin kebenarannya. Maka inti
pengertiannya adalah sama.
Jadi perbedaannya hanya terletak pada Istilah dan sebutan. Yakni aqidah adalah
istilah dan sebutan yang dipergunakan oleh ulama Ushuluddin; sedangkan AlQuran menyebutnya dan mempergunakan kata iman.
)( )
Dan Al-quran telah menyebut aqidah dengan iman dan syariat dengan amal
sholeh[5]
4. Pengertian Khabar (Hadits) Ahad
Berdasarkan sanad (jalan sampainya hadits dari nabi ke penulisnya), hadits
dibagi dua, yakni hadits mutawatir dan hadits ahad. Berikut ini beberapa definisi
hadits mutawatir :

Suatu hadits hasil tanggapan panca indra, yang diriwayatkan oleh sejumlah
besar rawi, yang menurut adat kebiasaan mustahil mereka berkumpul dan
sepakat dusta[6]

(Khabar) mutawatir adalah khabar jamaah (diriwayatkan dari jamaah ke
jamaah) yang dengannya mendatangkan kepastian (al ilm) tentang
kebenarannya karena kemustahilan mereka bersepakat untuk dusta[7]
Kemudian para ahli hadits sepakat memberi istilah kepadahadits/khabar yang
tidak sampai kepada derajat mutawatir dengan sebutan hadits/khabar ahad.
Jadi tema pembahasan khabar mutawatir dan ahad hanyalah:apakah
berita/khabar yang sampai kepada penulis hadits bisadipastikan bersumber dari
Rasulullah SAW ataukah tidak dengan melihat jumlah perowi di setiap tingkatan
dan kemustahilan mereka bersepakat untuk dusta.
5. Kehujjahan Khabar Ahad
Jumhur ulama ushuliyyin, para muhaditsin, dan imam madzhab yang tiga (Syafii,
Abu Hanifah dan Malik ra) serta imam Ahmad dalam satu riwayat, Imam Asnawy
dan Imam Bazdawy[8] menyatakan bahwa khabar ahad tidak menghasilkan ilm
(kepastian) tetapi menghasilkan dzon, dan beberapa ulama yang berpendapat
seperti ini, Yaitu : Imam Al-Ghazali, An Nawawy, As Sarkhasy, Khatib Al
Baghdady, Ibnu Burhan, Ibnu Abdil Barri, Ibnu Hajar Al Asqalany, Imam As

Syairozi[9] Imam As Samani[10] dari kalangan ulama terdahulu; Al Qasimy dari


kalangan ulama kemudian[11].
Imamul Haramain Al Juwaini dari mazhab Syafii juga menulis dalam kitabnya
bahwa khabar ahad tidak menghasilkan keyakinan/ilm dalam hal pokok[12].
Namun menghasilkan kepastian dalam hal amal, dengan kata lain khabar
ahad yang shahih wajib diambil untuk diamalkan.
Pendapat yang berbeda dengan itu, yang menyatakan bahwa khabar
ahad Yufiidul Ilma (menghasilkan keyakinan)jika ada indikasi yang
memastikannyadikemukakan oleh sebagian ahli hadits termasuk Ibnu Hajar AlAsqalany (menurut berita yang lain)[13] dan Ibnu Shalah[14], beberapa ulama
besar lain, seperti Imam Dawud dan Ibnu Hazm[15], Ibnu Taimiyah[16], dan lainlain.
Dalam hal ini Ibnu Taimiyah mengklaim bahwa jumhur ulama menyepakati
bahwa khabar ahad mendatangkan ilmu/kepastian, beliau mengatakan :
Adapun khabar wahid dapat mendatangkan ilmu/kepastian, menurut jumhur
ulama dari ashab Hanafiah, Maliki, Syafiiy, dan Ahmad bin Hanbal. Pendapat itu
juga merupakan pendapat mayoritas ashab Asyary, walaupun sesungguhnya
pada essensinya, hadits ahad itu sendiri tidak memberi arti melainkan dzon.
Tetapi manakala hadits itu dibarengi dengan kesepakatan Ahli Ilmu dibidang
Hadits[17] tentang rangkaiannya dengan tashdiq (hadits yang menguatkan atau
membenarkan) maka khabar wahid itu berkedudukan sama seperti halnya
kesepakatan ahli ilmu dibidang Fiqh atas suatu hukum; mereka berpegang
kepada hukum tersebut menjadi qathiy menurut para jumhur. Dan jika
keadaannya tidak disepakati oleh para ulama, maka khabar wahid itu tidak
menjadi qathiy[18]
Kalau kita rujuk tulisan Ibnu Hajar Al Asqalani sendiri, sebetulnya beliau malah
membagi al ilm /kepastian/keyakinan menjadi ilmu haqiqi/dharuri (kepastian
yang langsung bisa diterima karena sangat jelas) dan ilmu nadzari (kepastian
teoritis)[19], beliau tidak mengatakan khabar ahad bisa menghasilkan ilmu
dharuri, beliau hanya menyatakan bahwa khabar ahad bisa menghasilkan ilmu
nadhari, itupun kalau didukung indikasi/qarinah lain yang menjamin
kepastiannya. Jadi pada esensinya khabar ahad itu sendiri tanpa indikasi
lain[20] tidak menghasilkan keyakinan (al Ilm)
Dari semua hal diatas, sebetulnya dapat kita tarik benang merah (kesimpulan
saya) bahwa tidak ada pendapat yang mengatakan khabar ahad bisa
menghasilkan kepastian/ al ilm, pendapat yang sering di klaim bahwa khabar
ahad menghasilkan kepastian/al ilm sebetulnya mengatakan bahwa khabar
ahad akan mendatangkan kepastian jika memang ada indikasi yang
memastikannya, sehingga kalau demikian maka pembahasannya bukanlah
khabar ahad itu sendiri, tetapi pembahasannya beralih pada indikasi/qarinah
yang digunakansejauhmana bisa menghasilkan kepastian.
Meskipun khabar ahad tidak menghasilkan al ilm, namun khabar ahad yang
maqbul wajib digunakan sebagai hujjah untuk diamalkan. Musthafa As Sibaiy
menyatakan :
Adapun khabar ahad, maka jumhur ulama menetapkan bahwa khabar ahad itu
hujjah yang mewajibkan untuk diambil/diamalkan meskipun ia menghasilkan
dzon.[21]

Jadi sangat aneh, kalau ada sebagian kaum muslim yang dengan gegabah dan
prematur telah menyesatkan sekelompok kaum muslim yang berpendapat
bahwa khabar ahad tidak boleh dijadikan hujjah dalam perkara aqidah. Padahal
pendapat yang menyatakan bahwa khabar ahad tidak menghasilkan apa-apa
kecuali sekedar dzan adalah pendapat terkuat yang dipilih oleh jumhur ulama.
Walaupun disana juga ada Ulama yang berpendapat bahwa hadits ahad
menghasilkan keyakinan.
6. Bolehkah Aqidah dibangun Diatas Dalil Yang Dzanny?
Dari pendefinisian aqidah oleh para ahli ushuluddin, dengan mudah dapat
diketahui bahwa aqidah Islam (masalah pokok/rukunnya) menuntut suatu
pembenaran yang bersifat pasti, dan kepastian tidak akan diperoleh kecuali jika
dalil yang digunakan juga pasti.
Banyak ayat-ayat dalam Al Quran berkenaan dengan masalah aqidah yang
melarang manusia mengikuti dzon dalam beriman[22], atau mengikuti sesuatu
tanpa ilmu dan burhanJadi aqidah hanya didasarkan pada dalil yang
sifatnya Qathiyyul wurud (pasti sumbernya) dan Qathiyyud Dalaalah (pasti
penunjukan maknanya).
Allah SWT berfirman :
.
Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang tiada beriman kepada kehidupan
akhirat, mereka benar-benar menamakan malaikat itu dengan nama
perempuan. Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu.
Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya
persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran (QS An Najm :
27-28)
Dalam surat yang lain Allah juga berfirman yang artinya :Dan kebanyakan
mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan
itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran (QS Yunus (10) :
36) (Lihat juga An Najm : 23, Al Anam : 116, Yunus : 66, Shaad : 27, Al
Jaatsiyah : 32, Fushilat : 22-23, Al Jin : 7, Al Baqarah : 78. dst)
Ayat-ayat tersebut menunjukkan adanya larangan mengikutidzon dalam
masalah aqidah. Jelas sekali semua ayat itu berkaitan dengan masalah aqidah.
Meskipun asbabun nuzulnya bukan ditujukan kepada orang-orang mukmin,
tetapi perlu diingat bahwa makna suatu ayat tidak dipersempit berdasarkan
sebab turunnya ayat, karena menurut kaidah ushul :

Ibrah (pengertian/pelajaran) itu diambil berdasarkan umumnya lafadz, bukan
berdasarkan khususnya sebab (latar belakang turunnya ayat)
Jadi dalil-dalil untuk masalah aqidah harus bersifat Qathiy dan dapat
memberikan keyakinan. Allah telah melarang hamba-Nya untuk mengikuti buktibukti atau dalil dalam bidang ushul aqidah yang tidak bersifat Qathiy atau
mengandung unsur dzon.
Menurut arti bahasa (lughawiy) makna dzon adalah :[23]
Adz-dzon adalah adanya dua hal yang kedua-duanya mungkin, serta
mengunggulkan salah satu diantara keduanya. Dan dzon itu adalah untuk
membedakan arti kata syak (ragu) yang mempunyai kedudukan sama antara
dua kemungkinan itu

Adz dzon ialah nama atau istilah bagi suatu perkara yang dihasilkan dari ciriciri/tanda-tanda yang mendukungnya. Manakala ciri yang mendukung itu kuat ia
akan sampai pada ilmu atau keyakinan. Dan manakala ciri-ciri itu sangat lemah
maka ia tidak akan melampaui batas dugaan.
7. Sikap Shahabat Tentang Khabar Ahad dalam Masalah Aqidah
Para sahabat dengan tegas telah menolak khabar ahad sebagai
hujjah/dalil masalah aqidah, contoh paling nyata adalah dalam hal pengumpulan
Al Quran- dimana kita maklumi bahwa iman pada Al Quran adalah bagian dari
aqidah- para sahabat hanya menganggap dan menulis khabar mutawatir saja
yang wajib kita yakini sebagai ayat-ayat Al Quran dan disini tidak ada
pertentangan ulama, sebagaimana juga ditulis oleh Al Hafidz Ibnu Katsir, dalam
Tafsirnya 1/389, Maktabah Syamilah:


adapun jika diriwayatkan bahwasanya ia adalah al Quran, maka sesungguhnya
(jika) ia tidak mutawatir maka tidak ditetapkan bahwasanya ia al Quran dengan
khabar wahid (ahad) seperti ini, oleh karena itu amiirul mukminin Utsman bin
Affan r.a tidak menetapkannya dalam mushaf dan tidak membaca (al quran)
dengannya seorangpun dari para qari yang tsabit hujjah atas qiraahnya, tidak
dari qiraah sabah dan tidak dari selain mereka
Tidak bisa kita katakan bahwa hal ini tidak bisa dijadikan sebagai alasan karena
yang kita bahas adalah hadits, bukan Al Quran[24]. Tidak bisa dikatakan begitu
karena sebetulnya tema yang kita bahas bukanlah hadits, melainkan AQIDAH,
DARI SEGI APAKAH BOLEH DIDASARKAN PADA DALIL YANG DZONNY ATAU
TIDAK?, sedangkan keyakinan terhadap ayat-ayat Al Quran adalah bagian dari
aqidah, dan ayat -ayat tersebut tidak diterima kecuali dengan jalan mutawatir,
jadi temanya adalah sama.
Banyak khabar ahad yang shahih yang menyatakan bahwa khabar itu adalah
ayat Al Quran, namun sahabat tidak mencantumkannya dalam Al Quran
dikarenakan itu khabar ahad.
Sebagai contoh dalam Al Quran surat Al Lail menurut khabar mutawatir
berbunyi:
( 2)( 1)

Tetapi dalam sebuah hadits ahad :




) (
Telah berkata kepadaku Abu Bakar bin Abi Syaibah aku(Al qamah) mendengar
Abdullah membaca nya (surat Al Lail) dengan bacaan :
demi Allah demikianlah aku mendengar Rasulullah
membacanya[25]
Jadi walaupun hadits ini shahih, tidak bisa dijadikan dalil bahwa bunyi surat al lail
adalah . Begitu juga ada riwayat ahad yang shahih yang
mengatakan bahwa An Naas dan Al Falaq bukanlah surat dalam Al Quran.
Riwayat lain mengatakan bahwa hukum rajam ada dalam Al Quran (padahal
tidak ada ayat yang mutawatir yang mewajibkan hukum rajam). Namun karena
keberadaan riwayat hukum rajam ini shahih tetap wajib di amalkan, walaupun

tidak boleh diitiqadkan sebagai ayat dari Al Quran.


Kalau kabar ahad dijadikan dalil dalam masalah aqidah, tentunya harus juga
diyakini bahwa ayat ayat Al Quran ada yang kurang atau kelebihan, dan ini
adalah mustahil. Akibat lainnya kita menyatakan aqidahnya Siti Aisyah berbeda
dengan Ibnu Umar (kalau aqidahnya berbeda lantas siapa yang kafir? karena
mereka berdua beda pendapat dalam hal apakah mayat disiksa karena ratapan
keluarganya). Jadi pendapat yang kami ambil, khabar ahad berfaedah dlon dan
tidak bisa jadi dalil dalam masalah aqidah (untuk mengkafirkan orang lain).
Adapun dalam masalah hukum tidak ada perbedaan pendapat bahwa khabar
ahad wajib dijadikan dalil kalau khabar tersebut maqbul.
8. Khatimah
Masalah hadits ahad, apakah dapat menjadi dalil dalam aqidah atau tidak,
memang telah menjadi bahan perbincangan di kalangan ulama-ulama besar
sejak zaman dahulu. Mereka telah mencurahkan segenap kemampuan dan
keikhlasan untuk berpendapat. Walaupun untuk masalah Al Quran mereka
bersepakat, namun mereka tidak bersepakat dalam pernik-pernik lain dalam
masalah ini hingga sekarang. Oleh karena itu, kaum muslimin boleh saja
mengikuti salah satu pendapat, tentu saja dengan memperhatikan kekuatan
hujjah dan dalilnya, semuanya tetap muslim dan bersaudara. Allahu alam
Beberapa Syubhat
1. Ada yang mengatakan bahwa Kalau anda mengatakan aqidah tidak bisa
dibangan kecuali dengan khabar mutawatir, kenapa anda tidak mengajak kawankawan anda dalam tablig ini sehingga khabarnya menjadi mutawatir? Ini adalah
pertanyaan yang salah kaprah yang bertentangan dengan Ilmu Musthalahul
Hadits, karena sekarang bukan masa pentadwinan hadits lagi, dengan kata lain
walaupun kita menyampaikan hadits, kita bukanlah terhitung sebagai perawi
hadits, jadi khabar ahad jika disampaikan beramai-ramai juga tetap khabar-ahad
namanya. Begitu pula ayat Al Quran walaupun disampaikan hanya oleh satu
orang masih tetap khabar mutawatir namanya.
2. Ada yang mengatakan Kenapa di amalkan apa yang tidak di itiqadkan,
bukankah ini munafik?, Ini juga tidak berbeda dengan pernyataan pertama.
Dalam Islam aqidah berbeda dengan syariah (walaupun tidak bisa dipisahkan).
Dalam aqidah yang dituntut adalah kepastian/keyakinan, dalam syariah yang
dituntut adalah amal. Oleh karena itu para ulama (kecuali ingkar sunnah)
sepakat bahwa khabar ahad -walaupun hanya menghasilkan dzan- dapat
digunakan sebagai dalil dalam masalah amal. Jika amal = itiqad ada satu
pertanyaan yang harus dijawab : si A harus meng itiqadkan bahwa batal
wudlunya karena menyentuh wanita, si B ber itiqad bahwa tidak batal wudlunya
karena menyentuh wanita. Bukankah kalau ini masalah itiqad berarti itiqad si A
dengan si B berbeda, dengan kata lain si A dan si B aqidahnya berbeda sehingga
kalau aqidahnya berbeda, salah satunya ada yang kafir?
3. Tidak menjadikan itiqad berarti tidak percaya, ini juga ungkapan yang tidak
pas, karena pembenaran itu bermacam-macam tingkatannya. Ada istilah syak (
)yang berarti pembenaran tetapi masih ragu-ragu, ada al wahm ( )yang
berarti pembenaran yang lebih lemah dari syak, ada dzan ([)26] yang berarti
pembenaran yang kuat karena ada bukti, alasan dan indikasi yang
membenarkannya, tapi belum sampai derajat pasti, kalau bukti itu sampai

derajat pasti maka disebut al ilm atau al yaqin ( ) , yang berarti


pembenaran yang pasti bahwa sesuatu adalah begitu dan tidak mungkin tidak
begitu. Perhatikan surah An Nisa : 157:



dan karena ucapan mereka: Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih,
`Isa putra Maryam, Rasul Allah, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak
(pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan
dengan `Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham
tentang (pembunuhan) `Isa, benar-benar dalam keragu-raguan ( ) tentang
yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan ( ) tentang
siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan ( ) belaka, mereka
tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah `Isa.
Yang menimbulkan keraguan (syak) pada mereka adalah mereka kehilangan satu
orang yang mereka kepung dan tangkap, sehingga ada kemungkinan yang tidak
tertangkap itu adalah Isa. Kemudianmereka punya bukti/alasan kuat bahwa
orang yang mereka salib adalah Isa karena wajahnya persis wajah
Isa, dan karena wajah seseorang hampir bisa dipastikan tidak akan berubah
jauh, maka mereka menduga kuat/hampir memastikan bahwa yang mereka salib
adalah Isa. (Al Quran menyebut ini dengan (dzan). Namun mereka masih tidak
bisa memastikannya karena walaupun wajahnya wajah Isa tetapi tubuhnya
bukan tubuh Isa, ditambah lagi ada satu orang yang tidak bisa mereka
tangkap[27].
[1] Mahmud Syaltut, Islam, aqidah wa syariah, hal. 11
[2] Thahir Ibnu Shalih Al Jazairy, Al Jawahiru Al Kalamiyah, hal . 2
[3] Ali bin Muhammad bin Ali Al Jurjani (wafat 816 H), At Tariifaat, hal 196 (maaf
sebelumnya tertulis at taaarif, itu kitabnya al Manawy)
[4] Mahmud Syaltut , idem, Hal 56
[5] Mahmud Syaltut, idem, hal. 12
[6] Fatchur Rahman, Ikhtisar Musthalahul Hadits, hal 78
[7] Muhammad bin Ibrahim (wafat 733 H), Al Manhal Ar Rawiy, juz I hal 31
[8] Mahmud Syaltut , idem, Hal 63 64
[9] Abu Ishak Ibrahim bin Ali as Syairozi (wafat 476 H), Allumu fi ushulil fiqh, hal
71 72, pada hal 59 beliau menulis :


(begitu juga boleh penasakhan sunnah dengan sunnah, sebagaimana boleh
menasakh Al Quran dengan Al Quran, khabar ahad dengan ahad, mutawatir
dengan mutawatir dan ahad dengan mutawatir, sedangkan khabar mutawatir
tidak boleh dinasakh dengan khabar ahad, karena mutawatir mewajibkan
(menghasilkan) ilmu (keyakinan) sedangkan khabar ahad mewajibkan dzan
(dugaan).
[10] Abil Madzfar Mansur bin Muhammad bin Abdul Jabbar as Samani (wafat 489
H), Qawaathiul Adillati fil Ushul, hal 50 juz 1
[11] Fathy M Salim, Al Istidlal bidz dzonny fil Aqidah, hal 59, Juga Lihat : Al
Ghazaly, Al Mustashfaa, Jilid I Hal. 145; As Suyuthy,Tadribur Rawy, jld I hal. 105106; Sayyid Quthub, Fii Dhilalil Quran, jld VIII, hal 710; dan Dr. Mahmud Ajaj Al

Khatib, Ushul Hadits hal 302-303.


[12] Abdul Malik bin Abdullah bin Yusuf Al Juwaini (wafat 478 H),Al Burhaan fi
Ushulil Fiqh, ,juz 1 hal 79
lihat juga Muhammad bin Ali bin Muhammad as Syaukani (wafat 1250
H), Irsyaadul Fuhul, hal 135 145
[13] Ahmad Syakir, Al Bahitsul Hadits, hal. 33-34
[14] As Suyuthy (wafat 911 H), Tadribur Rawy, Jld I, Hal. 105-106
[15] Al Amidy, Al Ahkam Fii Ushulil Ahkaam, Jld. I hal. 322, 332, 339
[16] Ibnu Taimiyyah, Al Fataawaa, jld XVIII, hal : 41
[17] Ibnu Hazm menukil dari Abdullah bin Ahmad bin Hanbal bahwa adalah
suatu kebohongan besar bila ada yang mengatakan mampu terwujud
kesepakatan (ijma) setelah masa sahabat Lihat Abdul Wahab Khallaf, Ilmu
Ushulil Fiqh, hal 62
[18] Ibnu Taimiyyah, idem, lihat juga Syarah Qashidah Ibnu Qayyim, juz I hal 208
210 (Ibnu Qayyim (lahir 691H) adalah murid dari Ibnu Taimiyyah)
[19] sebagian ulama mengkritik penggunaan istilah ilmu nadzari menurut
mereka ilmu nadzari masih merupakan dzon/ dugaan yang sangat kuat (dalam
bahasa penelitian mungkin dengan taraf signifikan 0,01 atau 99% penelitian
tersebut adalah benar), sebagian lagi memilih penggunaan istilah menghasilkan
ilmu/kepastian dalam hal amal/perbuatan (lihat juga Mahmud Syaltut, idem)
[20] Ahmad bin Ali bin Hajar As Asqalaniy (Wafat 852 H), Nukhbatul Fikri fi
Mustalahi Ahlil Atsar, juz 1 hal 1. Naskah asli nya sebagai berikut (tentang
klasifikasi hadits):


yg pertama adalah mutawatir, yakni yang menghasilkan ilmu/kepastian, dan
selain yang pertama adalah (khabar) ahad yang didalamnya ada yang maqbul
(diterima) yaitu yang wajib mengamalkannya menurut jumhur, ada pula yang
mardud (ditolak) karena dan kadang-kadang dalam khabar ahad itu dengan
adanya qarinah/indikasi indikasi ada yang menghasilkan ilmu nadzari
[21] Musthafa As Sibaiy, AS Sunnah, hal 167.
[22] Walaupun di al quran ada juga penyebutan dzan yang bermakna yaqin,
semisal dalam surat Al Baqarah : 46; , namun
dalam pembahasan ini yang dimaksud dg dzan adalah yang tidak sampai derajat
yaqin.
[23] Al Jurjani, idem hal 144, Fathi M Salim, idem hal 18 dan 59, Raghib al
Asfahani, ; Al Mufradaat fii Gharibil Quran, hal 317
[24] kalaupun yang dibahas hanya hadits, maka istilah khabar ahad dan khabar
mutawatir itu adalah istilah ahli hadits untuk mengelompokkan hadist dari segi
KEPASTIAN apa bersumber dari Rasulullah, atau belum sampai derajat kepastian,
kalau boleh dikatakan khabar ahad juga pasti dari Rasulullah, ya tidak perlu ada
klasifikasi hadits, masukkan saja semuanya kedalam kategori mutawatir.
Sebagaimana juga ada istilah hasan dengan shahih, keduanya bisa diterima
sebagai hujjah, namun hasan tidak sama dengan shahih, ini kalau konsisten
dengan musthalahul hadits.
[25] Shahih Bukhari (Dar Ibn Katsir Yamamah, cet III, 1987, beirut) No 3532,3659,
5922, Shahih Muslim (Daar al Ihyait Turats al Aroby) No 824, Lihat juga (dengan

sanad yang lain) shahih Ibnu Hibban no 6330, 6331,7127, cet III 1993 Sunan
Tirmidzi Hadits No 2939
[26] walaupun dalam al Quran secara bahasa dzan juga digunakan untuk
menyatakan yang yaqin, namun dalam istilah ahli ushul dzan digunakan untuk
menyatakan pembenaran yang tidak sampai derajat yaqin, sebagaimana shalat
dalam Al Quran secara bahasa juga berarti doa namun ahli fiqh
menggunakannya untuk istilah perbuatan perbuatan shalat secara khusus.
[27] Dalam tafsir Qurthubi disebutkan salah satu keraguannya:
! :
Shahabat Isa berkata: jika yang disalib ini adalah teman kami maka dimana Isa
? dan kalau yang disalib ini Isa lalu dimana teman kami?