Anda di halaman 1dari 9

KONDILOMA AKUMINATA

Ayu Rezki Fadliya, Suci Nugraeni Tahir


I.

DEFINISI
Kondiloma Akuminata adalah proliferasi jinak pada kulit dan mukosa yang
disebabkan oleh infeksi virus papilomma (PVs). Virus ini tidak menghasilkan
tanda atau gejala yang cepat tetapi virus ini menginduksi secara lambat dan
mengekspansi sel epitel (1).
HPV-16 dan HPV-18 banyak dijumpai pada kasus infeksi dan umumnya
dengan dijumpai juga kanker pada daerah genital. Kondiloma acuminata pada
permukaan kulit muncul sebagai papul lobulus yang rata-rata berukuran 2 sampai
5 mm dari permukaan kulit (2), (3).
II.

ETIOLOGI
Kondiloma Akuminata adalah kutil anogenital jinak yang disebabkan

Human Papilomma Virus (HPV), dengan genotipe 6 dan 11 yang ditemukan pada
> 90% kasus (4).
Virus Papilomma Humanus (HPV), ialah virus DNA yang tergolong dalam
keluarga virus Papova. Sampai saat ini dikenal sekitar 70 tipe HPV, namun tidak
seluruhnya dapat menyebabkan kondiloma akuminata. Tipe yang pernah ditemui
pada kondiloma akuminata adalah tipe 6, 1, 16, 18, 30, 31, 33, 35, 39, 41, 42, 44,
51, 52, dan 56 (5).
Beberapa tipe HPV tertentu mempunyai potensi onkogenik yang tinggi yaitu
tipe 16 dan 18. Tipe ini merupakan jenis virus yag paling sering dijumpai pada
kanker serviks. Sedangkan tipe 6 dan 11 lebih sering dijumpai pada kondiloma
akuminatum dan neoplasia intraepithelial serviks derajat ringan (5).
III. PATOGENESIS(1)
Infeksi HPV terjadi melalui inokulasi virus ke dalam epidermis bisa
melalui luka pada epitel. Maserasi kulit mungkin merupakan faktor predisposisi
penting. Meskipun reseptor seluler untuk HPV belum diidentifikasi, permukaan
sel sulfat heparin, yang dikodekan oleh proteoglikan dan mengikat partikel PV
dengan afinitas tinggi, diperlukan untuk masuk. Hal ini diyakini bahwa satu
1

salinan atau paling banyak beberapa salinan genom virus diselenggarakan sebagai
plasmid extra kromosom dalam sel-sel basal epitel yang terinfeksi. Ketika sel-sel
ini membagi, genom virus juga direplikasi dan dipartisi ke setiap sel keturunan,
kemudian diangkut dalam sel direplikasi. Setelah percobaan PV inokulasi, veruka
biasanya muncul dalam waktu 2 sampai 9 bulan. Permukaan kasar kutil dapat
mengganggu kulit yang berdekatan dan memungkinkan inokulasi virus ke situs
yang berdekatan dengan perkembangan kutil (lesi) baru selama periode minggu ke
bulan. Setiap hasil lesi baru baik dari paparan awal atau menyebar dari kutil
lainnya. Tidak ada bukti yang meyakinkan untuk penyebaran melalui darah.
HPV DNA telah terdeteksi pada mukosa dan kulit normal berdekatan
dengan situs mengobati kutil kelamin berulang. Namun, kenyataan bahwa HPV
DNA menjadi tidak terdeteksi, bahkan oleh teknik yang sangat sensitif, di
sebagian besar infeksi HPV serviks menyiratkan bahwa virus obat setelah
pengobatan mungkin terjadi.
PV tidak tumbuh dari membran nuklir atau plasma, seperti yang dilakukan
seperti pada virus herpes simpleks atau human immunodeficiency virus (HIV).
Oleh karena itu, mereka tidak memiliki lipoprotein yang menyebabkan kerentanan
terhadap inaktivasi cepat oleh kondisi lingkungan seperti pembekuan, pemanasan,
atau dehidrasi dengan alkohol. Sebaliknya, PV virion tahan terhadap
desiccation16 dan deterjen nonoxynol-9, meskipun paparan virus untuk formalin,
deterjen yang kuat seperti sodium dodesil sulfat. PV dapat tetap menular selama
bertahun-tahun bila disimpan dalam gliserol pada suhu kamar.
IV. DIAGNOSIS
Diagnosis dapat ditegakkan dengan melihat gejala klinis penyakit tersebut.
Penyakit terutama terdapat di daerah lipatan yang lembab, misalnya daerah
genitalia ekstrena. Pada pria tempat predileksinya di perineum dan sekitar anus,
sulkus koronarius, glans penis, muara uretra eksterna, korpus, dan pangkal penis.
Pada wanita daerah vulva dan sekitarnya, introitus vagina, dan kadang pada porsio
uteri. Kelainan kulit berupa vegetasi yang bertangkai dan berwarna kemerahan
kalau masih baru, jika agak lama kehitaman. Permukaan berjonjot (papilomatosa).

Selain itu, pemeriksaan histologis dapat digunakan diagnosis dengan


menggunakan 3% - 5% asam asetat selama 10 menit dapat meningkatkan
visualisasi dari lesi, terutama jika menggunakan kolkoskopik meskipun diagnosis
tidak hanya pada kehadiran lesi putih sebagai tes non spesifik. Teknik PCR
mendeteksi jaringan kutaneus jenis EV HPV tetapi umumnya terbatas hanya pada
penelitian dan diagnostik laboratorium. Tes diagnostik hibridisasi sangat sensitif
dan spesifik untuk mengidentifikasi jenis HPV pada mukosa genital (1).
Lesi (kutil) cutaneus biasanya ditemukan pada semua kelompok . beberapa
kutil yang tidak spontan selalu kambuh setelah pengobatan, bertahan selama
bertahun-tahun atau memiliki morfologi yang tidak biasa menunjukkan EV (1).
Jika seorang wanita yang terinfeksi HPV, maka jika dilakukan tes serologis
hanya didapatkan postif 50% saja, dengan membuat tes serologi diagnosis untuk
infeksi HPV tidak dapat ditegakkan. HPV tidak dapat dikultur. Dengat melakukan
inspeksi, kondyloma akuminata dapat didiagnosis. Menggunakan pencahayaan
yang baik dan dengan alat pembesar ketika pemeriksaan untuk infeksi pada
genital.Terlihat lesi yang datar, bertangkai dan berpigmen dan dibutuhkan biopsi
(2)

Gambar 1. Kondyloma Akuminata Penis


Lesi dengan riwayat 3 bulan pada pria usia 25 tahun. Mutlipel papul yang
berbentuk kol pada batang penis dan kulit (7).

Gambar 2. Kondyloma Akuminata pada Vulva


Papul dengan konsistensi lunak, multiple, dan berwarna merah kecoklatan (7).

Gambar 3. Kondyloma Akuminata pada serviks uteri


Tepi tajam, warna keputihan, plak dengan permukaan menyatu di sekitarnya (7).

V. DIAGNOSA BANDING
A. Veruka Vulgaris
Vegetasi yang tidak bertangkai, kering, dan berwarna abu-abu atau sama
dengan warna kulit (5).

Gambar 4. Tampak papul yang hiperkeratotik (verokous) pada bagian ibu jari (7).
B. Kondiloma Lata
Sifilis stadium II, klinis berupa plakat yang erosive, ditemukan banyak
Spirochaeta palladium (5).

Gambar 5. Hiperkeraotik, skuama plak pada kedua plantar (7).


C. Karsinoma Sel Skuamosa
Vegetasi yang seperti kembang kol, mudah berdarah dan berbau (5).

Gambar 6. Nodul berbentuk seperti kubah, gelap dan hyperkeratosis (7).


VI. PENATALAKSANAAN(6)
1. Podophylin
banyak tersedia bahan kimia topikal. pertama yang direkomendasikan untuk
pengobatan kondiloma acuminata , termasuk podofiloks. Yang terbaik dalam
pengobatan kondiloma acuminata, adalah agen citotoxic berasal dari resin
podofilum emodi dan podofilum peltatum yang berisi pedofilox. Cara
pengobatan dengan podofilin ini sering dipakai. Hasilnya baik pada lesi yang
baru, tetapi kurang memuaskan pada lesi yang lama atau yang berbentuk
pipih.
2. Bichloracetic acid atau trichloracetic acid
Bichloracetic adalah keratolitik kuat sangat bagus untuk mengobati kondiloma
akuminata. Seperti dengan podophylin, obat ini mudah digunakan. Hal ini
sangat menguntungkan untuk lesi dalam. Dan adapun efek sampingnya bias
menyebabkan iritasi pada kulit sekitarnya. Digunakan larutan dengan
konsentrasi 50%, dioleskan setiap minggu. Dan dapat digunakan pada wanita
hamil
3. Agen kemoterapi
Agen kemoterapi yang digunakan utuk pengobatan kondiloma akuminata
adalah krim 5-flourouracil atau preparat asam salisilat, thiotepa, bleomycin,
dank rim idoxuridin. 5-flourouracil konsentrasinya antara 1-5% dalam krim,
digunakan terutama pada lesi uretra. Pemberiannya setiap hari sampai lesi
hilang.
6

4. Interferon
Interferon dapat diberikan secara injeksi pada kondyloma di daerah
anogenital. Obat ini diberikan 10 sampai 28 hari.Adapun efek samping dari
obat ini demam, panas dingin, nyeri otot, sakit kepala, pusing, dan leukopenia.
5. Imiquimod
Imiquimod topical adalah modulator imun yang menginduksi interferon dan
cytokine pada jaringan. Digunakan 5% krim, pada sisi luar lesi yang bersih,
dapat mencapai kesembuhan 72-84% pada wanita dan dimana percentasenya
lebih sedikit dari pria. Adapun efek sampingnya bisa menyebabkan luka yang
eritema.
6. Vaksin
Meskipun sudah sangat diupayakan vaksin, tetapi tidak efektif dalam
mengobati kondyloma akuminata. Baru-baru ini, vaksin HPV ditargetkan pada
struktur protein kapsul virus (E6,E7) mulai menjanjikan.
7. Elektrokoagulation
Elektrokoagulasi efektif untuk menghancurkan kondyloma akuminata yang
terletak pada daerah internal dan ekternal anus. Tetapi teknik membutuhkan
anastesi local dan tenaga yang ahli untuk kauterisasi. Mengontrol luka sangat
penting untuk mencegah jaringa skar dan luka pada spincter anus.
8. Terapi laser
9. Cryoterapi
Cryoterapi melibatkan aplikasi dari cairan nitrogen, karbon dioksida, udara
cairan untuk terapi pada kondyloma akuminata. Terapi ini tidak membutuhkan
anastesi.
10. Bedah eksisi
Bedah esksisi banyak digunakan untuk treatment kondyloma akuminata
karena bisa menyembuhkan dan mencegah rekurensi. Kombinasi antara bedah
eksisi dan kauterisasi merupakan gold standar dari terapi.
VII. PROGNOSIS
Walaupun sering mengalami residif, prognosisnya baik. Faktor predisposisi
dicari, misalnya adanya flour albus atau kelembaban pada pria yang tidak di
sirkumsisi (5).

DAFTAR PUSTAKA
1. Andorphy EJaL, D.R. warts. In: Wolf K, et el., editor. Fitzpatrick's
Dermatology in General Medicine. New York: The McGraw-Hill Companies;
2008. p. 1914-19.
2. Sexually Transmitted Viral Infection. In: James WD, et al, editor. Andrews'
Disease Of The Skin : Clincal Dermatology. California: Elsevier; 2006. p.
419-25.
3. Viral Disease. In: Habif TP, editor. Clinical Dermatology: Elsivier; 2010. p.
408-10.
4. Lacey CJN, . et al. Europen course on HPV associated pathology: guidlines
for primary care physician for the diagnosis and management of anogenital
virus. IUSTI GW Guidelines.162-8.
5. Handoko RP. Penyakit Virus. In: Djuanda APDd, et al., editor. Ilmu Penyakit
Kulit dan Kelamin. Jakarta: zFakultas Kedokteran Universitas Indonesia;
2010. p. 113-14.

6. Chang GJ, M.D and Welton, M.L, M.D. Human Papillomavirus, Condyloma
Acuminata, and Anal Neoplasia. 2004:221-25.
7. Wolff, K. and R. A. Johnson (2009). Fitzpatrick's Color Atlas and Synopsis of
Clinical dermatology Sixth edition. The McGraw-Hill Companies.