Anda di halaman 1dari 12

Acara 1II

FERMENTASI SUBSTRAT CAIR


FERMENTASI NATA DE COCO
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM
TEKNOLOGI FERMENTASI

Disusun oleh:
Nama : Vina
NIM : 12.70.0164
Kelompok A3

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA
SEMARANG
2015

1. HASIL PENGAMATAN

1.1.Fermentasi Substrat Cair Fermentasi Nata de coco


Hasil pengamatan fermentasi substrat cair fermentasi nata de coco dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Fermentasi Substrat Cair Fermentasi Nata de coco
Kel
A1
A2
A3
A4
A

Tinggi media
awal cm
1,4
1,2
1,4
2,0
1,2

Tinggi ketebalan nata cm


0
14

0
0,3
0,3
0
0,4
0,4
0
0,5
0,
0
0,2
0,6
0
0,2
0,3

0
0
0
0
0
0

Lapisan nata
14

21,43 21,43
33,33 33,33
35,71 35,71
10
30
16,6
25

Pada tabel 1, dapat dilihat bahwa tinggi media awal yang digunakan oleh tiap kelompok
berbeda-beda. Pada kelompok A1 dan A4 tinggi media awal yang dihasilkan adalah 1 cm,
kelompok A2 dan A5 adalah 1,2 cm, sedangkan kelompok A4 memiliki tinggi awal 2,0 cm.
Pada hari ke-0, umumnya nata masih belum terbentuk. Setelah hari ke-7, nata mulai
terbentuk dan pada hari ke-14 terjadi kenaikan tinggi ketebalan nata. Pada kelompok A1,
justru ketebalan lapisan nata pada hari ke-14 sama dengan ketebalan nata pada hari ke-7.
Persentasi lapisan nata tertinggi dihasilkan oleh kelompok A3 sebesar 35,71% (pada hari ke7 dan 14), sedangkan persentasi lapisan nata terendah dihasilkan oleh kelompok A4 sebesar
10% (pada hari ke-7) dan 25% (pada hari ke-14) dihasilkan oleh kelompok A5.

2. PEMBAHASAN
3.
4.
Nata merupakan salah satu produk fermentasi yang biasanya dikonsumsi sebagai
makanan ringan. Nata adalah selulosa yang berbentuk padat, memiliki tekstur yang kenyal,
berwarna putih transparan, dan memiliki kandungan air sekitar 98%. Hal tersebut sesuai
dengan yang diungkapkan oleh Rahman (1992). Menurut Palungkun (1996), nata berasal dari
bahasa Spanyol yang berarti krim. Krim tersebut dibentuk oleh mikroorganisme Acetobacter
xylinum melalui proses fermentasi. Pambayun (2002) juga menambahkan bahwa nata dapat

dibuat dari berbagai bahan asalkan bahan tersebut mengandung gula, protein, dan mineral.
Apabila bahan baku yang digunakan berbeda, maka nata yang dihasilkan pun akan berbeda.
Bahan baku yang dapat digunakan antara lain air kelapa (nata de coco), sari kedelai (nata de
soya), sari buah mangga (nata de mango), sari buah nanas (nata de pina), dan sebagainya.
5.
6.
Berdasarkan teori dari Santosa (2012), nata de coco merupakan salah satu makanan
rendah kalori yang memiliki nilai nutrisi dan dapat digunakan untuk diet, selain itu juga kaya
akan serat yang dibutuhkan oleh tubuh untuk menjaga kesehatan pencernaan. Nata de coco
adalah produk basah karena memiliki kandungan air yang tinggi serta tidak mudah untuk
disimpan. Produk nata de coco dapat diolah lebih lanjut menjadi minuman instan yang kaya
serat dengan metode pengeringan dan ditambahkan dekstrin serta carboxy methyl cellulose
(CMC) untuk menstabilkan produk.
7.
8.
Nata yang dibuat dalam praktikum kali ini adalah nata de coco, karena bahan baku
yang digunakan adalah air kelapa. Menurut Prades et al (2011), air kelapa atau sari kelapa
merupakan minuman manis yang menyegarkan yang diambil langsung dari bagian dalam
buah kelapa. Air kelapa berbeda dengan santan kelapa, dimana santan kelapa merupakan
cairan putih yang berminyak dan diperoleh dari parutan kernel segar. Air kelapa mengandung
sejumlah mineral dan gula sehingga umumnya digunakan sebagai minuman isotonik alami.
Gula yang terdapat dalam air kelapa adalah sukrosa, sorbitol, glukosa, dan fruktosa kemudian
diikuti dengan galaktosa, xylosa, dan mannosa. Selain itu, di dalam air kelapa terdapat
mineral seperti potasium, klorida, zat besi, dan sulfur dengan total mineral sebesar 0,4-1%
dari volume cairan. Air kelapa juga mengandung asam-asam amino seperti alanin, arginin,
sistein, dan serin yang lebih tinggi dibandingkan pada susu sapi. Penggunaan air kelapa
dalam pembuatan nata ini dikarenakan air kelapa dapat digunakan sebagai medium
pertumbuhan mikrobia, salah satunya adalah bakteri nata de coco (Acetobacter xylinum).
Nata de coco merupakan komponen selulosa yang diproduksi selama proses fermentasi air
kelapa menggunakan mikroba Acetobacter xylinum. Air kelapa memiliki faktor pertumbuhan
yang dapat menstimulasi strain bakteri yang berbeda dan kultur in vitro tanaman.
9.
10.
Menurut Czaja et al (2004), selulosa merupakan biopolimer yang dihasilkan oleh
prokariotik, organisme non-fotosintetik, Acetobacter yang memiliki kemampuan untuk
mensintesa selulosa dengan kualitas tinggi. Selulosa bakteri memiliki kekuatan mekanik yang
tinggi, kristalinitas tinggi, dan kapasitas menahan air tinggi. Terdapat 2 metode untuk
menghasilkan selulosa bakteri yaitu kultur stasioner dan kultur teragitasi. Pada kultur
stasioner, membran selulosa terakumulasi di permukaan medium. Sedangkan pada kultur

teragitasi, selulosa disintesa di dalam media dalam bentuk suspensi berserat, pelet, atau massa
yang tidak teratur. Berdasarkan teori dari Jagannath et al (2008), Acetobacter xylinum tumbuh
secara lambat di bawah kondisi statik, dengan doubling time 8-10 jam. Sedangkan pada
kultur teragitasi, doubling time Acetobacter xylinum adalah 4-6 jam.
11.
12.
Halib et al (2012) mengungkapkan bahwa nata de coco umumnya disajikan dalam
bentuk kotak berukuran 1 cm x 1 cm. Nata de coco dibuat dengan mengkulturkan bakteri
Acetobacter xylinum melalui fermentasi air kelapa. Setelah beberapa lama, lapisan gelatin
akan terbentuk di permukaan air kelapa yang telah terfermentasi. Lapisan tersebut akan
dibiarkan terus bertambah hingga mencapai ketebalan 1 cm dan dipotong dalam bentuk
kubus. Nata de coco biasanya disajikan dengan sirup, jelly, atau koktail buah. Komponen
mayor yang terdapat pada nata de coco adalah selulosa dan bukan dekstran. Selama produksi
nata de coco, Acetobacter xylinum memetabolisme glukosa pada air kelapa yang berfungsi
sebagai sumber karbon dan mengubahnya menjadi selulosa ekstraseluler. Acetobacter
xylinum merupakan bakteri asam asetat yang mampu mengoksidasi berbagai tipe alkohol dan
gula menjadi asam asetat. Bakteri asam asetat ini termasuk ke dalam bakteri gram negatif.
Acetobacter juga dapat mengoksidasi asam asetat menjadi karbondioksida dan air melalui
aktivitas enzim pada siklus Krebs.
13.
14.
Pada praktikum kali ini, mula-mula dilakukan pembuatan media dengan cara air
kelapa yang akan digunakan disaring terlebih dahulu untuk memisahkan kotoran. Kemudian,
ditambahkan dengan gula pasir sebanyak 10% dan diaduk hingga larut. Tujuan dari
penambahan gula pasir tersebut adalah sebagai sumber karbon atau sumber karbohidrat
sederhana. Hal tersebut sesuai dengan yang diungkapkan oleh Pambayun (2002). Rahayu et
al (1993) menambahkan bahwa jumlah gula yang digunakan harus sesuai dengan jumlah
inokulum. Gula tersebut nantinya akan dimanfaatkan oleh Acetobacter xylinum untuk
pertumbuhannya. Selama proses fermentasi berlangsung, Acetobacter xylinum akan
mengubah gula menjadi selulosa yang kemudian diakumulasikan secara ekstraseluler dalam
bentuk polikel yang liat. Menurut Sunarso (1982), apabila jumlah gula yang ditambahkan
terlalu banyak, maka gula tersebut akan banyak terbuang karena Acetobacter xylinum karena
tidak mampu memanfaatkannya secara optimal. Konsentrasi gula yang dianggap paling
optimum adalah 10%. Maka dari itu, pada praktikum kali ini jumlah gula yang ditambahkan
sesuai dengan teori yang ada. Selain sebagai sumber karbon, gula juga dapat berfungsi
sebagai pengawet serta untuk memberi tekstur, penampakan, dan flavor yang ideal. Hal
tersebut sesuai dengan yang diungkapkan oleh Hayati (2003).

15.
16.

Setelah air kelapa ditambahkan dengan gula pasir, kemudian ditambahkan dengan

ammonium sulfat sebanyak 0,5%. Menurut Pambayun (2002), ammonium sulfat termasuk ke
dalam nitrogen anorganik yang berfungsi sebagai sumber nitrogen. Sumber nitrogen tersebut
akan mendukung aktivitas bakteri nata. Rahayu et al (1993) mengungkapkan bahwa dengan
adanya sumber C dan N maka pembentukan asam nukleat dan protein akan optimum. Asam
nukleat dan protein dijadikan sebagai sumber energi untuk pertumbuhan bakteri. Kedua
senyawa tersebut terdapat dalam bentuk molekul amonia yang dapat langsung diserap oleh
sel bersama dengan sumber N lain. Kemudian, tahap selanjutnya ditambahkan dengan asam
cuka glasial hingga pH 4-5. Pengaturan tingkat keasaman ini terkait dengan sifat dan
karakteristik bakteri Acetobacter xylinum yang hanya dapat tumbuh optimal pada kondisi
asam terutama pada pH 4,3 dan untuk medium yang digunakan biasanya berkisar antara pH
4-5. Hal tersebut sesuai dengan teori dari Rahman (1992). Menurut Jagannath et al (2008),
asam asetat dapat rusak kemudian menjadi CO 2 dan air yang selanjutnya menghasilkan ATP
tambahan sehingga penggunaan gula untuk sintesa selulosa dapat berlangsung lebih efisien.
Pambayun (2002) mengungkapkan bahwa asam yang dapat digunakan untuk menurunkan pH
adalah asam asetat atau asam cuka.
17.
18.
Setelah seluruh bahan dicampurkan menjadi satu, kemudian dipanaskan hingga gula
larut dan disaring kembali. Menurut Astawan & Astawan (1991), proses pemanasan tersebut
bertujuan untuk membunuh mikroorganisme yang kemungkinan dapat mencemari produk
yang dihasilkan. Apabila tidak dilakukan pemanasan, maka pertumbuhan dan aktivitas
Acetobacter xylinum dapat diganggu oleh mikroorganisme kontaminan. Akibatnya proses
pengubahan glukosa menjadi selulosa akan terganggu dan nata yang terbentuk tidak
sempurna. Selain itu, tujuan dilakukan penyaringan untuk memisahkan kotoran yang terdapat
di air kelapa. Setelah dilakukan pembuatan media, kemudian dilakukan proses fermentasi.
Mula-mula, wadah plastik bersih disiapkan terlebih dahulu, kemudian dimasukkan dengan
100 ml media steril lalu ditutup rapat. Selanjutnya, ditambahkan biang nata (starter) sebanyak
10% dari media ke dalam wadah plastik tersebut dan digojog secara perlahan hingga seluruh
starter bercampur secara homogen. Proses penambahan starter harus dilakukan secara aseptis
untuk mencegah pencemaran dari laboratorium. Biakan murni merupakan biakan yang hanya
terdiri dari satu spesies yang tunggal. Apabila menggunakan teknik aseptik, maka organisme
yang akan tumbuh dalam biakan hasil pemindahan hanyalah organisme yang diinginkan atau
dengan kata lain tidak terkontaminasi. Hal tersebut sesuai dengan teori dari Hadioetomo
(1993).

19.
20.

Kemudian setelah ditambahkan starter, wadah ditutup dengan kertas coklat dan diberi

karet lalu diinkubasi pada suhu ruang selama 2 minggu. Selama proses inkubasi, wadah
plastik tersebut jangan digoyang supaya lapisan yang terbentuk tidak akan terpisah-pisah.
Proses inkubasi dilakukan pada suhu ruang karena Acetobacter xylinum dapat tumbuh dengan
baik pada suhu ruang. Di Indonesia, suhu ruang rata-rata adalah 28 0C. Hal tersebut
diungkapkan oleh Pambayun (2002). Berdasarkan teori dari Rahayu et al (1993), untuk
menghasilkan nata yang baik dengan ketebalan optimum, maka fermentasi sebaiknya
dilakukan pada suhu 28-32oC selama 10-14 hari. Apabila suhu fermentasi terlalu tinggi, maka
sebagian bakteri akan mati sehingga proses fermentasi terhambat. Namun, jika suhu
fermentasinya terlalu rendah, maka akan menyebabkan nata yang dihasilkan terlalu lunak
atau tidak terbentuk lapisan nata sama sekali.
21.
22.
Pambayun (2002) dan Palungkun (1996) mengatakan bahwa pembentukan nata yang
terjadi selama inkubasi disebabkan karena adanya enzim ekstraseluler yang dihasilkan oleh
Acetobacter xylinum. Enzim tersebut akan mempolimerisasi gula menjadi ribuan rantai
(homopolimer) selulosa yang kemudian akan membentuk jaringan mikrofibril yang panjang
dalam cairan fermentasi. Selain selulosa, dalam proses fermentasi ini juga dihasilkan
gelembung-gelembung gas CO2 yang dapat melekat pada jaringan selulosa. Akibatnya,
jaringan selulosa terangkat ke permukaan cairan. Setelah fermentasi berlangsung selama
beberapa lama, jutaan jasad renik yang tumbuh dalam bahan atau media akan menghasilkan
jutaan lembar benang-benang selulosa yang akhirnya memadat dan berwarna putih hingga
transparan, yang disebut dengan nata. Nata ini akan terbentuk di permukaan cairan, akan
tetapi apabila terdapat gangguan selama proses fermentasi misalnya adanya goyangan dapat
menyebabkan nata menjadi turun.
23.
24.
Ketika sudah mulai terbentuk lapisan di permukaan cairan, kemudian diamati
ketebalan lapisan nata de coco pada hari ke- 7 dan ke- 14 dan dihitung persentase kenaikan
ketebalan..
25.
26.
Berikut merupakan beberapa foto dalam tahapan pembuatan nata de coco :
27.

Proses Penyaringan
Penyaringan air
kelapa

28.
29.
30.
31.
32.
33.
Media percobaan,Penambahan
Nata
34. Berdasarkan
tinggi media awal yang Inkubasi
digunakan
oleh
tiap kelompok berbeda-beda. Starter
Pada kelompok A1 dan A3 tinggi

media awal yang dihasilkan adalah 1,4 cm, sedangkan tinggi media awal yang dihasilkan
oleh kelompok A2 dan A5 secara berturut-turut adalah 1,2 cm sedangkan kelompok A5
memiliki tinggi awal 2,0 cm. Pada hari ke-0, umumnya nata masih belum terbentuk. Setelah
hari ke-7, nata mulai terbentuk tetapi pada hari ke-14 terjadi kenaikan tinggi ketebalan nata.
Pada kelompok A1, A2, dan A3 justru ketebalan lapisan nata pada hari ke-14 sama dengan
ketebalan nata pada hari ke-7. Hal ini menandakan bahwa proses fermentasi kurang berjalan
dengan baik, karena seharusnya lapisan nata mengalami peningkatan. Menurut Rahayu et al
(1993), nata yang terbentuk di permukaan cairan dapat menurun jika terjadi gangguan seperti
goncangan saat proses fermentasi. Selain itu, keaseptisan selama penambahan kultur starter
nata juga mempengaruhi ketebalan nata karena kehadiran mikroba perusak dapat mengurangi
konsentrasi glukosa pada medium sehingga nata yang terbentuk akan kurang maksimal. Hal
tersebut diungkapkan oleh Tranggono & Sutardi (1990). Persentasi lapisan nata tertinggi
dihasilkan oleh kelompok A3 sebesar 33,33% (pada hari ke-7 dan ke-14), sedangkan
persentasi lapisan nata terendah dihasilkan oleh kelompok A4 sebesar 10% (pada hari ke-7)
dan 25% oleh kelompok A5 (pada hari ke-14).
35.
36.
Berdasarkan teori dari Seumahu et al (2007), nata dikatakan baik atau buruk
ditentukan oleh karakteristiknya. Nata dikatakan baik apabila memiliki ketebalan sekitar 1,5 2 cm, dan selulosa gelnya homogen dengan transparansi tinggi. Akan tetapi, nata akan
dikatakan buruk apabila hanya memiliki ketebalan kurang dari 0,5 cm, lembut, dan berwarna
putih atau pucat. Terdapat sedikit perbedaan antara nata yang baik dan buruk, yaitu pada nata
yang buruk, dinamika populasi bakteri selama fermentasi akan mengalami fluktuasi.
Sedangkan pada nata yang baik, dinamika populasi bakteri selama fermentasi cenderung
stabil dengan persentase variabilitas yang rendah. Menurut teori tersebut, dapat diketahui
bahwa nata yang dihasilkan dalam praktikum ini dikatakan nata yang kurang baik, karena
salah satu cirinya yaitu memiliki ketebalan yang kurang dari 1,5 2 cm.
37.
38.
Menurut Jagannath et al (2008), ketebalan nata akan mempengaruhi water holding
capacity yang juga akan mempengaruhi tekstur fisik dan organoleptik nata. Nata de coco

mampu menahan air sebanyak 100 kali beratnya. Kemampuannya dalam menahan air (water
holding capacity) mendefinisikan kemampuan struktur suatu bahan pangan untuk mencegah
air keluar dari struktur 3 dimensi. Kondisi selama proses sangat mempengaruhi ketebalan dan
tekstur nata yang dihasilkan, seperti pH, sukrosa, dan konsentrasi amonium sulfat.
Berdasarkan percobaan dari Jagannath et al (2008), diketahui bahwa konsentrasi sukrosa
pada 10% dan ammonium sulfat 0,5% dengan pH 4,0 dapat menghasilkan ketebalan nata
yang paling maksimal.
39.
40.
.
41.
42.
43.
44.
45.
46.
47. KESIMPULAN
48.

Nata adalah selulosa yang berbentuk padat, memiliki tekstur yang kenyal, berwarna

A1
A2
A3
A4

putih transparan, dan memiliki kandungan air sekitar 98%.


Nata de coco merupakan komponen selulosa yang diproduksi selama proses

fermentasi air kelapa menggunakan mikroba Acetobacter xylinum.


Selama produksi nata de coco, Acetobacter xylinum memetabolisme glukosa pada air
kelapa yang berfungsi sebagai sumber karbon dan mengubahnya menjadi selulosa

ekstraseluler.
Acetobacter xylinum merupakan bakteri asam asetat yang mampu mengoksidasi

berbagai tipe alkohol dan gula menjadi asam asetat.


Tujuan dari penyaringan adalah untuk memisahkan kotoran.
Tujuan dari penambahan gula pasir adalah sebagai sumber karbon atau sumber
karbohidrat sederhana, sebagai pengawet dan memberi tekstur, penampakan, dan

flavor yang ideal terhadap nata de coco.


Ammonium sulfat termasuk ke dalam nitrogen anorganik yang berfungsi sebagai

sumber nitrogen dimana akan mendukung aktivitas bakteri nata.


Bakteri Acetobacter xylinum hanya dapat tumbuh optimal pada kondisi asam terutama

pada pH 4,3 dan medium yang digunakan biasanya berkisar antara pH 4-5.
Asam cuka digunakan untuk menurunkan pH.
Proses pemanasan bertujuan untuk membunuh mikroorganisme yang kemungkinan

dapat mencemari produk yang dihasilkan.


Pencucian dan perendaman nata bertujuan untuk membuang asam yang terdapat pada
nata.

Pada hari ke-0, umumnya nata masih belum terbentuk. Setelah hari ke-7, nata mulai

terbentuk tetapi pada hari ke- 14 terjadi penurunan tinggi ketebalan nata.
Nata yang terbentuk di permukaan cairan dapat menurun jika terjadi gangguan seperti

goncangan saat proses fermentasi.


Nata yang dihasilkan dalam praktikum ini termasuk nata yang kurang baik, karena
memiliki ketebalan yang kurang dari 1,5 2 cm.
49.
50.
51. Semarang, 8 Juni 2014
-

Asisten Dosen:
Wulan Aprilia
Nies Mayangsari

52.
53.
54.
Vina
55.
12.70.0164
56. DAFTAR PUSTAKA
57.
58.

Astawan, M. & M.W. Astawan. (1991). Teknologi Pengolahan Pangan Nabati Tepat
Guna. Akademika Pressindo. Bogor.
59.

60.

Czaja, W., D. Romanovicz, and R. M. Brown, Jr. (2004). Structural investigations of


microbial cellulose produced in stationary and agitated culture. Cellulose 11: 403-411.
61.
62. Fardiaz, S. (1992). Mikrobiologi Pangan 1. PT Gramedia. Jakarta.
63.

64.

Hadioetomo, R.S. (1993). Mikrobiologi Dasar dalam Praktek : Teknik dan Prosedur
Dasar Laboratorium. PT Gramedia. Jakarta.
65.

66.

Halib, N; M. Cairul & I. Ahmad. (2012). Physicochemical Properties and


Characterization of Nata de Coco from Local Food Industries as a Source of
Cellulose. Malaysiana Journal. Malaysia.
67.
68. Hayati, M. (2003). Membuat Nata de Coco. Adi Cita Karya Nusa. Yogyakarta.
69.

70.

Jagannath, Kalaiselvan S. S, Manjunatha P. S, Raju A. S. Bawa. (2008). The effect of


pH, sucrose and ammonium sulphate concentrations on the production of bacterial
cellulose (Nata-de-coco) by Acetobacter xylinum. World J Microbiol Biotechnol
(2008) 24:25932599.
71.

10

72.

Nurhayati, Siti. (2011). Kajian Pengaruh Kadar Gula dan Lama Fermentasi Terhadap
Kualitas Nata De Soya. Universitas Terbuka p1-8.
73.
74. Palungkun, R. (1996). Aneka Produk Olahan Kelapa. Penebar Swadaya. Jakarta.
75.
76. Pambayun, R. (2002). Teknologi Pengolahan Nata de coco. Kanisius. Yogyakarta.
77.

78.

Prades, A., M. Dornier, N. Diop, and J. P. Pain. (2011). Coconut Water Uses,
Composition and Properties: a Review. Fruits Journal vol. 67, p. 87-107.
79.

80.

Rahayu, E. S.; R. Indriati; T. Utami; E. Harmayanti & M. N. Cahyanto. (1993). Bahan


Pangan Hasil Fermentasi. UGM. Yogyakarta.
81.

82.

Rahman, A. (1992). Teknologi Fermentasi. ARCAN Pusat Antar Universitas Pangan


dan Gizi IPB. Bandung.
83.

84.

Santosa, B; Ahmadi, K & D. Taeque. (2012). Dextrin Concentration and Carboxy


Methyl Cellulosa (CMC) in Making of Fiber-Rich Instant Baverage from Nata de
Coco. International Journal of Science and Technology. Indonesia.
85.

86.

Seumahu, Cecilia Anna, Antonius Suwanto, Debora Hadisusanto, dan Maggy


Thenawijaya Suhartono. (2007). The Dynamics of Bacterial Communities During
Traditional Nata de Coco Fermentation. Microbiology Indonesia, August 2007, p 6568.
87.

88.

Sunarso. (1982). Pengaruh Keasaman Media Fermentasi Terhadap Ketebalan Pelikel


pada Pembuatan Nata de coco. Skripsi. UGM. Yogyakarta.
89.

90.

Tranggono & Sutardi. (1990). Biokimia & Teknologi Pasca Panen. PAU Pangan &
Gizi UGM. Yogyakarta.
91. LAMPIRAN
92.
92.1.
93.

Perhitungan
Lapisan nata=

tinggi ketebalan nata cm


x 100
tinggi media awal cm

94.
Kelompok A1
95. Hari ke-0
96.

lapisan nata=

0 cm
x 100=0
1cm

11

97.
98. Hari ke-
lapisan nata=

99.

0,cm
x 100=0
1 cm

100.
101.
102.

Hari ke-14
lapisan nata=

0,cm
x 100=0
1 cm

103.
Kelompok A2
104.
105.

Hari ke-0
lapisan nata=

0 cm
x 100=0
0,cm

106.
107.
108.

Hari ke-
lapisan nata=

1 cm
x 100=142,86
0,cm

109.
110.
111.

Hari ke-14
lapisan nata=

0,7 cm
x 100=100
0, cm

112.
Kelompok A3
113.
114.

Hari ke-0
lapisan nata=

0 cm
x 100=0
1,2 cm

115.
116.
117.

Hari ke-
lapisan nata=

118.
119.

Hari ke-14

0, cm
x 100=8,33
1,2 cm

12

120.

lapisan nata=

0, cm
x 100=41,6
1,2 cm

121.
Kelompok A4
122.
123.

Hari ke-0
lapisan nata=

0 cm
x 100=0
1cm

124.
125.
126.

Hari ke-
lapisan nata=

0,8 cm
x 100=80
1cm

127.
128.
129.

Hari ke-14
lapisan nata=

0,cm
x 100=0
1 cm

130.
Kelompok A
131.
132.

Hari ke-0
lapisan nata=

0 cm
x 100=0
1cm

133.
134.
135.

Hari ke-
lapisan nata=

1 cm
x 100=100
1 cm

136.
137.
138.

Hari ke-14
lapisan nata=

0,8 cm
1cm

139.
139.1.
140.

Laporan Sementara

140.1.

Jurnal (Abstrak)

x 100 = 80