Anda di halaman 1dari 22

DIARE AKUT

Identitas Pasien
Nama: Yasmin
Umur: 7 bulan 20 hari
Alamat: Desa Karangsari Kampung Babakan Cijenjing RT 01/RW09
No telp : 0853 15505168
Pekerjaan: Pendidikan :Identitas Ayah

Identitas Ibu

Nama : Tn. Ideh Supardi

Nama : Ny. Nurhayati

Umur : 40 tahun

Umur : 38 tahun

Pekerjaan : Buruh lepas (pembuat

Pekerjaan : Ibu rumah tangga

jalan) dan buruh tani

Pendidikan : SD

Pendidikan : SMP
ANAMNESIS
Keluhan utama : mencret
Riwayat penyakit sekarang:
Pasien mengalami mencret

sejak 4 hari sebelum datang ke klinik. Dalam

satu hari pasien mengalami mencret 5-7x,

memiliki konsistensi cair, bewarna

kekuningan dan sebanyak 1/6-1/4 gelas belimbing setiap kali mencret. Perut pasien
terlihat kembung, namun setelah ibu pasien membalurkan minyak telon, perutnya
terlihat tidak sekembung sebelumnya. Ibu pasien juga mengeluhkan adanya
kemerahan pada anus 3 hari yang lalu, namun sudah membaik. Mencret tidak
disertai lendir, tidak ada darah, tidak berbau menyengat yang berbeda dengan BAB
biasanya, tidak menyemprot dan tidak sering kentut.
Keluhan tidak disertai, batuk, pilek, panas badan, mual dan muntah, namun
pasien pernah muntah sedikit 1x karena kebanyakan minum ASI 4 hari yang lalu.
Pasien terlihat lebih lemas dari biasanya namun masih terlihat sadar, mata terlihat
lebih cekung dan rasa haus yang bertambah. Mulut dan bibir pasien tidak terlihat
kering, BAK seperti biasa dan tidak ada kejang.
Sebelum datang ke klinik, pasien sudah pernah berobat ke Bidan Nani di hari
yang sama saat mencret pertama kali muncul. Pasien diberikan Zinc, antibiotic

selama 6 hari 2x1/2 sdt dan obat yang tidak diketahui namanya 3x1/2 sdt, pasien
meminum obat selama 3 hari dan tidak mengalami perbaikan, karena itu ibu pasien
membawa pasien ke klinik Basmallah. Selama mecret, pasien tetap diberikan ASI
dan makanan pendamping yaitu bubur bayi Cerelac Nestle.
Pasien mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan, setelah itu diberikan
makanan pendamping ASI. Pada awalnya makanan pendamping yang diberikan
adalah biskuit marie yang dilunakkan dengan air serta pisang, namun karena ibu
pasien merasa sulit untuk mencari pisang, ibu pasien mengganti makanan menjadi
bubur bayi Cerelac Nestle. Pasien biasa diberikan makan sebanyak 3-4 sdt bubur
bayi setiap makan. Ibu pasien menyatakan pasien memang tidak terlalu suka
makan, namun sering meminum ASI. Dalam sehari pasien bisa minum ASI sebanyak
7-8x. Pasien biasa diberikan air putih dari air isi ulang atau air sumur yang direbus.
Air sumur yang digunakan tidak berbau, tidak berasa dan tidak berwarna namun
jika ditunggu lama akan terlihat adanya sedikit tanah yang mengendap. Air
ditampung di dalam ember yang tertutup dan diletakkan di dapur.
Pasien tidak pernah diberikan susu formula, tidak menggunakan botol untuk
minum dan tidak menggunakan dot, namun pasien sering memasukkan bendabenda asing yang tidak terjamin kebersihannya ke dalam mulut. Ibu pasien biasa
mencuci alat makan, gelas dan sendok pasien sama seperti alat makan anggota
keluarga lainnya yaitu di samping sumur dengan menggunakan sabun cuci piring
dan dibilas dengan air dari sumur. Jarak antara sumur dengan kamar mandi hanya
berjarak 2.5 meter. Keluarga pasien menggunakan kamar mandi umum yang
terbuka dan digunakan bersama 5 keluarga lainnya. Dalam kesehariannya pasien
biasa memakai pampers yang diganti sebanyak 2x/hari, namun saat pasien mencret
hanya memakai celana saja.
Ibu

pasien

jarang

mencuci

tangan

saat

menyiapkan

makanan

dan

memberikan makanan kepada pasien, saat memegang pasien jika sehabis


melakukan

aktivitas

lain

dan

saat

memberikan

ASI.

Pasien

juga

jarang

membersihkan payudara saat menyusui pasien.


Riwayat penyakit dan pengobatan terdahulu
Sebelumnya pasien pernah juga mengalami mencret pada saat berumur 4
bulan, pergi berobat ke Bidan Nina, diberikan obat yang tidak diingat namanya lalu

sembuh setelah 3 hari. Pasien beberapa kali pernah mengalami batuk dan pilek
namun sembuh sendiri tanpa diobati.
Pasien lahir secara normal, cukup bulan dengan berat 3,5 kg dan panjang
badan 50 cm dengan Bidan Eet. Pasien rutin dibawa ke posyandu setiap bulan
untuk diukur berat badan. Pasien telah melakukan imunisasi dasar lengkap sesuai
dengan jadwalnya, kecuali campak yang akan dilakukan pada saat pasien berumur
9 bulan. Pasien mendapatkan imunisasi di Puskesmas Pembantu Karangsari dengan
menggunakan JAMKESMAS.
Pasien tidak memiliki alergi makanan dan obat.
Pada saat ini, tidak ada anggota keluarga yang memiliki keluhan yang sama.
GENOGRAM
Bentuk keluarga: keluarga inti
Tahapan keluarga : keluarga dengan anak remaja
Family Map:

Pasien merupakan anak bungsu dalam keluarga dan tinggal bersama kedua
orang tua serta kedua kakaknya.

Kakek dan nenek pasien dari pihak ayah tinggal tinggal disebelah rumah
pasien dan memiliki hubungan yang baik dengan keluarga pasien. Paman
pasien dan istrinya juga tinggal bersama dirumah itu.

Ibu pasien hamil sebanyak 6x, namun yang hidup hanya 3. Anak pertama
pasien meninggal saat berumur 6 bulan dikarenakan pada saat itu
mengalami panas, batuk dan sesak nafas. Anak kedua pasien meninggal saat
berumur 2 bulan dan juga disebabkan oleh gejala yang sama. Anak pertama
dan kedua pasien dilahirkan di paraji. Pasien mengalami keguguran pada saat
hamil anak kelima. Pada saat itu usia kandungan 6 bulan.

Penghasilan keluarga berasal dari ayahnya yang bekerja sebagai buruh lepas,
yaitu membuat jalan di luar kota. Pada saat ini pasien sedang bekerja
membuat jalan di Sumatera. Namun pekerjaan proyek ini biasa didapat hanya
saat bulan puasa dan selesai setelah lebaran. Jika tidak sedang ada proyek,
ayah pasien bekerja sebagai buruh tani. Kurang lebih bekerja sebanyak 15
hari dalam sebulan dan mendapat upah Rp. 30.000/hari. Tanggungan dari
ayah pasien hanya keluarga inti saja. Orang tua ayah pasien memiliki

penghasilan sendiri, yang berasal dari kakeknya yang bekerja sebagai buruh
tani dan neneknya yang berjualan sayur keliling.

Penghasilan dirasakan kurang dan ibu pasien biasa meminjam uang ke


tetangga dekatnya yang kepala keluarganya bekerja sebagai satpam di
Bandung

Hubungan dalam keluarga kurang baik:


-

Jika Ayah pasien sedang tidak bekerja, Ayah pasien lebih senang berada
diluar rumah, pergi ke kebun atau tempat lainnya.

Jika ada masalah keluarga, ibu pasien jarang berdiskusi dengan suami
karena jarang di rumah. Jadi lebih sering cerita ke tetangga dekat atau
adik iparnya.

Anggota keluarga jarang makan, mengobrol dan berbagi waktu bersama

Anak keempat dalam keluarga bandel, kurang sopan dan suka melawan
ibunya.

APGAR
Adaptasi (Adaptation) : ibu pasien merasa tidak dapat kembali kepada
keluarganya jika ada masalah dan kurang mendapat bantuan.
Kemitraan (Partnership) : Ibu pasien terkadang puas dengan cara keluarga
membahas serta membagi masalah.
Pertumbuhan (Growth) : ibu pasien puas bahwa keluarga menerima dan
mendukung dalam melaksanakan kegiatan dan arah hidup baru
Kasih sayang (Affection) : ibu pasien terkadang puas dengan cara keluarga
menyatakan kasih sayang
Kebersamaan (Resolve) : Ibu pasien tidak puas dengan cara keluarganya
membagi waktu bersama. Keluarga jarang menghabiskan waktu bersama dan
kurang harmonis.
APGAR: 4 (Moderately Dysfunctional Family)
SCREEM
Social Interaction : keluarga pasien memiliki hubungan yang baik dengan kerabat
dan tetangga. Ibu pasien sering mengobrol dan bercerita denga tetangga. Anakanak pasien terlihat sering bermain dengan anak-anak di sekitar rumah. Orang tua
dari ibu pasien juga sering datang berkunjung ke rumahnya dan hubungan dengan
saudara-saudara lainnya baik.

Cultural Pride: Keluarga pasien beradat Sunda dan tidak memiliki kesulitan
komunikasi dengan budaya setempat. Ibu pasien masih suka percaya dengan
takhayul. Contohnya adalah pada saat pasien mencret, ibu pasien datang ke Paraji
yang dipercaya memiliki kekuatan gaib, lalu bertanya tentang keadaan anaknya.
Lalu dikatakan bahwa, ada makhluk halus yang mencium pasien, sehingga pasien
menjadi sakit.
Religion : Pasien beragama Islam dan memberikan kepuasan spiritual
Economic Stability: Pendapatan keluarga tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan
keluarga sehari-hari. Ibu pasien kerap meminjam uang ke tetangga dekat.
Education : pendidikan terakhir ibu pasien adalah SD dan ayah pasien adalah SMP.
Pendidikan orang tua tidak cukup untuk memahami dan menghadapi masalah.
Medical Health : tersedia pelayanan kesehatan yaitu Puskesmas Pembantu yang
berjarak 500 m dari rumah pasien. Puskesmas Leuwigoong yang berjarak 6 km dari
rumah pasien dan Klinik Basmalah yang berjarak 6,5 km dari rumah pasien.

PEMERIKSAAN FISIK
(Tanggal 26 Juli 2013, hari keempat diare)
Keadaan Umum:
Kesan sakit

: sakit ringan

Kesadaran

: compos mentis

Bentuk badan

: tidak ada deformitas

Tanda Vital:
Tekanan darah

: sulit dinilai

Heart Rate

: 128 kali/menit (N: 100-160)

Respirasi

: 40 kali/menit (N: 30-60)

Suhu

: 37,0 C

Pemeriksaan umum:
1. Kepala
Rambut

: tidak ada kelainan

Ubun-Ubun Besar
Mata

: datar

: konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik,

air mata (+/+)mata cekung (+/+)


Hidung

: tidak ada kelainan

Telinga

: tidak ada kelainan

Mulut

: mukosa mulut basah, lidah basah

Gigi dan gusi

: tidak ada kelainan

Faring

: tidak hiperemis

Tonsil

: T1-T1 tenang

2. Leher
Retraksi suprasternal

: (-)

JVP

: sulit dinilai

KGB

: tidak tampak dan tidak teraba membesar

3. Thorax
Pulmo
Inspeksi

: bentuk dan gerak simetris


Retraksi interkostal (-)

Palpasi

: vokal fremitus kiri = kanan

Perkusi

: sonor, kanan = kiri

Auskultasi

: VBS kiri = kanan, rhonki (-/-),wheezing (-/-)

Cor
Inspeksi

: ictus cordis tidak tampak

Palpasi

: ictus cordis teraba di ICS IV LMCS, kuat angkat

Perkusi

: batas kanan LSD, kiri LMCS

Auskultasi

: bunyi jantung murni regular

4. Abdomen
Inspeksi

: datar lembut

Auskultasi

: bising usus (+) normal

Palpasi

: turgor kulit kembali cepat (< 1 detik),


distensi abdomen (-),
hepar dan lien tidak ada kelainan

Perkusi

: ruang traube kosong

5. Ekstremitas
Akral

: hangat

Capilary refill

: < 2 detik

6. Kulit

: turgor kembali cepat

Kemerahan perianal (-)


Pemeriksaan khusus: tidak dilakukan
Pemeriksaan fisik untuk gizi:
Berat badan

: 7,1 kg
Status gizi baik (Z score -2.0 s/d 2.0 )
Persentil 25 (WHO Child Growth Standard)

Tinggi badan

: 67 cm
Normal (Z score -2)
(CDC 2000, persentil ke-50)

BB/PB

: 7,1/67
(CDC 2000, persentil ke-50)
Normal (Z score -2.0 s/d 2.0 )

Lingkar kepala

: 43 cm
(CDC 2000, persentil ke-50)

DIAGNOSIS BANDING
-

Diare akut non disentri e.c virus dengan dehidrasi sedang

Diare akut non disentri e. c bakteri dengan dehidrasi sedang

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan dibawah ini bersifat disarankan jika didapatkan pasien diare, namun
pada pasien ini pemeriksaan penunjang tidak dilakukan:
Feses rutin
Makroskopik: warna, konsistensi,darah, lendir
Mikroskopik: eritrosit, leukositm telur cacing, ameba)
Pada dehidrasi berat, perlu memerlukan pemeriksaan yang lebih lengkap seperti
darah rutin, elekttrolit dan analisis gas darah.
DIAGNOSIS HOLISTIK
Aspek Personal:
Alasan kedatangan: mencret selama 4 hari
Kekhawatiran: ibu pasien khawatir pasien mencret terus menerus dan menjadi lebih
parah

Harapan : ibu pasien mengaharapkan pasien cepat sembuh


Aspek Klinik:
Diare akut non disentri ec. virus dengan dehidrasi sedang
Aspek risiko internal:
-

Imunitas masih rendah

Pasien sering memasukkan benda-benda kedalam mulut yang tidak terjamin


kebersihannya

Sedikit mengkonsumsi makanan pendamping ASI

Aspek risiko eksternal:


-

Ibu pasien jarang mencuci tangan sebelum memberikan ASI

Ibu pasien jarang membersihan payudara sebelum memberikan ASI

Ibu pasien jarang mencuci tangan sebelum menyiapkan dan memberikan


makanan pendamping

Air minum berasal dari air isi ulang dan air sumur yang kurang bersih karena
ada endapan tanah saat didiamkan lama

Ibu pasien mencuci alat makan pasien di samping sumur yang jaraknya
hanya 2.5 m dari kamar mandi terbuka

Kurangnya pengetahuan ibu pasien tentang pencegahan diare

Kondisi rumah yang kurang bersih

PENATALAKSANAAN
Farmakologi:
Oralit sachet setelah BAB (50-100ml)
Zinc 20mg/hari selama 10 hari
Paracetamol diberikan untuk penjagaan bila pasien nanti demam 100mg/hari
Non Farmakologi:
Teruskan ASI dan makanan pendamping ASI
Edukasi tentang:
-

Penyakit diare
Cara pencegahan:
1. ibu mencuci tangan saat menyiapkan dan memberikan makanan, saat
memberikan ASI dan saat tangan kotor dengan menggunakan sabun

2. Cuci tangan bayi setelah memegang benda-benda kotor


3. Bersihkan payudara sebelum menyusui
4. Pastikan air untuk minum anak bersih dan dimasak sampai mendidih
Intervensi Gizi:
WHO:
(89xBB(dlm kg)-78)= (89x7,1)-78= 553,9 kkalori
No

Waktu Makan

Jenis Makanan

Bahan Makanan

Jumlah

05.00

ASI

Karbohidrat,

protein

06.30

Bubur Susu

lemak
Karbohidrat,

protein 2 sdm

Semangka

lemak

URT/Berat

1 sdm

08.00

ASI

Vitamin
Karbohidrat,

protein

10.00

ASI

lemak
Karbohidrat,

protein

11.30

ASI

lemak
Karbohidrat,

protein

Bubur Susu

lemak
Karbohidrat,

protein 2 sdm

Semangka

lemak

ASI

Vitamin
Karbohidrat,

protein

ASI

lemak
Karbohidrat,

protein

Bubur Susu

lemak
Karbohidrat,

protein 2 sdm

Semangka

lemak

ASI

Vitamin
Karbohidrat,

7
8
9

10

13.00

15.00
17.00
18.30

20.00

lemak

Intervensi Olahraga: RENCANA PEMELIHARAAN KESEHATAN


Rencana pemeliharaan kesehatan Keluarga Tn. I

1 sdm

1 sdm
protein

No

Nama,

Status

JK,

Kesehatan

Umur
Tn. I, 40 Sehat

BMI

Olahraga

Obat

thn

Tek. Darah

Bahaya

cacing

Profil lipid

merokok

Gula darah
BMI

Olahraga

Tek. Darah

KB

Ny.

N, Asam Urat

38 thn

Skrining

Konseling

Imunisasi

aksis

Kadar

Asam Perawatan

Urat

payudara

SADARI

Makanan

Profil

Lipid yang

(disarankan)
Gula

dapat

menyebabka

Darah n as. urat

(disarankan)
Pap

Smear

(disarankan)
3

S,

15 Sehat

thn

BMI

Olahraga

Influenza

Penglihatan

Hindari

(disaranka

paparan

n)

rokok
Kesehatan
4

A, 9 thn

Sehat

Kemoprofil

Tumbuh

reproduksi
Hindari

Influenza

kembang

paparan

(disaranka

Pemeriksaan

asap rokok

n)

gigi

Menjaga
kesehatan
yang
sederhana
(hindari
makan

chiki

terlalu
banyak

dan

main
menggunaka
n sandal)

Y, 7 bln

Diare Akut

Tumbuh

Makanan

Campak (9 Kalsium

kembang

pendamping

bulan)

Penglihatan

ASI

Pendengaran

PROGNOSIS
Quo ad vitam : ad bonam
Quo ad functionam : ad bonam
Qua ad sanationam : dubia ad bonam

http://rofiqahmad.wordpress.com/2008/02/14/diare/

DIARE
14 Feb
Adalah defekasi cair dengan frekuensi lebih dari 3 kali dalam 24 jam dengan atau tanpa
disertai lendir atau darah
Penyebab
Infeksi virus (80% rota virus), bakteri (salmonella E, Shigella S, vibriocholerae), protozoa
(amoeba histolitica)
Non infeksi: alergi, gangguan penyerapan, kelainan anatomi, hormonal
Diare yang disebabkan infeksi disebur Gantroenteritis
Rotavirus
Termasuk self limited infecsius desease, dapat dembuh sendiri tanpa diobati. Namun dapat
membahayakan jika terjadi dehidrasi
Kriteria dehidrasi menurut WHO
Diare tanpa dehidrasi jika penurunan BB <5%

Dehidrasi ringan, jika penurunan BB 5%-10%


Dehidrasi berat, jika penurunan BB >10%
Pemeriksaan fisik untuk membedakan tingkat dehidrasi menurut WHO, dibawah ini adalah
pernyataan kondisi yang berurutan antara tanpa dehidrasi, dehidrasi ringan dan dehidrasi
berat
Keadaan umum: baik gelisah tidak sadar
Mata: tidak cekung cekung sangat cekung
Air mata: ada tidak ada tidak ada
Mukosa mulut/ lidah: basah kering sangat kering
Rasa haus: biasa ingin minum tidak mau minum
Turgoe kulit: normal/ cepat kembali kembali lambat kembali sangat lambat
Pengobatan, prinsipnya ada 3 yaitu
Rehidrasi
Pemberian makanan pada anak >6 bulan
Obat-obatan
Pemberian cairan dan elektrolit (fase rehidrasi dan fase pemeliharaan)
Fase rehidrasi, bertujuan untuk mengganti kehilangan cairan yang telah terjadi
Pada dehidrasi ringan dan sedang diberikan oralit 75 cc/kg BB tiap 4 jam sekali
Pada dehidrasi berat berikan RL iv 10 Cc/kgBB dalam waktu 3-6 jam, pada anak kurang 1
th berikan 70 Cc/kgBB diberikan 1 jam pertama dilanjutkan 70 Cc/kgBB untuk 5 jam
berikutnya, pada anak >1 tahun bisa lebih cepat 30 Cc/kgBB dalan jam dilanjutkan 70
Cc/kgBB dalam 2,5 jam berikutnya
Fase Pemeliharaan
Bertujuan agar anak yang telah rehidrasi tidak menjadi dehidrasi lagi
Jumlah cairan yang diberikan = kebutuhan normal ditambah kehilangan yangmasih
berlangsung
Kebutuhan normal pada anak 100Cc/kgBB per hari
Untuk ukuran drip yang 15 tts/Cc gampangane ya.. BB x 1 tetes/menit
Pemberian makanan
Segera berikan makanan setelah rehidrasi tercapai, pada anak <6 bulan ASI atau susu
formula yang sesuai
Obat-obatan
Biasanya tidak memerlukan obat-obatan terutama yang disebabkan oleh virus
berikan Natrium Bicarbonat Ok!Komplikasi diare: hiponatremi, hipokalemia, hypoperistaltik,
asidosis metabolik
Diare oleh karena Shigella: demam sampai kejang, diare menyemprot, jika diare
telahnyemprot biasanya demam turun, diare disertai darah/ lendir, sakit perut sampai
kejang
Diare karena Vibrio Cholerae: tinja seperti cucian beras, diare mancur terus menerus.
Therapi berikan tetrasiklin
Diare karena amoeba: demam tinggi, perut sangat mulas, wajah pucat, diae sedikit tapi
sering, diare berlendir setelah 3 hari disertai darah, pada anak sering terjadi kejang.
Kejang pada anak beri diazepam 0,3-0,5 mg/kgBB,
Pada bayi berikan phenobarbital 20-30 mg im

Kaolin, Pectin, and Paregoric (Systemic)\


Drugs.com
VA CLASSIFICATION
Primary: GA208
Note: Controlled substance classification
Note: Controlled substance classification
CanadaN
Commonly used brand name(s): Donnagel-PG.
Note: For a listing of dosage forms and brand names by country availability, see Dosage
Forms section(s).

Not commercially available in the U.S.

Category:
Antidiarrheal (adsorbent)
Indications
Note: The efficacy of any antidiarrheal medication for treatment of most cases of
nonspecific diarrhea is questionable, especially in children. {03} {14} Preferred treatment
for acute, nonspecific diarrhea consists of fluid and electrolyte replacement,
nutritional therapy,{03} {15} and, if possible, elimination of the underlying cause of
the diarrhea.
Unaccepted
The U.S. Food and Drug Administration (FDA) has banned the inclusion of paregoric in
antidiarrheal preparations because of lack of proof of its effectiveness. FDA has requested
that manufacturers wishing to obtain the agency's approval for inclusion of this ingredient in
their product provide FDA with evidence that the ingredient is safe and effective for its
intended use.{13} Paregoric-containing medications have been replaced by equally or more
effective, and safer, agents for the treatment of diarrhea. {05}
Pharmacology/Pharmacokinetics
Mechanism of action/Effect:
Kaolin and pectinAdsorbent and protectant. Kaolin is a natural hydrated aluminum silicate
that is believed to adsorb large numbers of bacteria and toxins and to reduce water loss.

Pectin is a polyuronic polymer for which the mechanism of action is unknown. Pectin consists
of purified carbohydrate extracted from citrus fruit or apple pomace. {03} Studies have shown
no decrease in stool frequency or fecal weight and water content with this combination even
though stools appeared more formed. {03} {07}
ParegoricMost of the effects of paregoric are due to the morphine component. Usefulness
in the treatment of diarrhea appeared to be due to alteration of intestinal motility; however,
its efficacy in the treatment of diarrhea has not been demonstrated. {07} {13}
Absorption:
Kaolin and pectinNot absorbed (up to 90% of pectin is decomposed in gastrointestinal
tract).{09} {10}
ParegoricMorphine: Well absorbed from the gastrointestinal tract but undergoes rapid
metabolism so that the effect is less than after parenteral administration.
Protein binding:
ParegoricMorphine: Low.
Biotransformation:
ParegoricHepatic.
Half-life:
ParegoricMorphine: 2 to 3 hours.
Duration of action:
3 to 4 hours.
Elimination:
ParegoricRenal and biliary.
Precautions to Consider
Cross-sensitivity and/or related problems
Patients sensitive to other opium alkaloids may be sensitive to this medication also.
Pregnancy/Reproduction
Pregnancy
First trimester
Opium alkaloids cross the placenta. Problems in humans have not been documented.
Morphine has been shown to be teratogenic in animals in very high doses.

Third trimester
Regular use of an opiate by a pregnant woman late in pregnancy may cause physical
dependence in the fetus, leading to withdrawal symptoms in the neonate.
Breast-feeding
Opium alkaloids (particularly morphine) are distributed into breast milk. However, problems
in humans have not been documented.
Pediatrics
Children up to 2 years of age may be more susceptible to the effects, especially the
respiratory depressant effects, of opiates. Preferred measures for treating childhood diarrhea
consist of fluid and electrolyte replacement, nutritional therapy, and, if possible, elimination
of the cause of the diarrhea; whether antidiarrheals are beneficial for this condition is
questionable. {16} {17} It is recommended that paregoric not be used for treatment of diarrhea
in infants and children up to 2 years of age. In older children, paregoric should be used with
caution (if at all), for as short a time as possible, and only in addition to the preferred
treatment measures. {01}
Paregoric contains 45% alcohol, which is considered an undesirable ingredient in
medications administered to pediatric patients. {01}
Geriatrics
In geriatric patients with diarrhea, caution is recommended because of the risk of fluid and
electrolyte loss; these patients should be referred to a physician. {07}
Geriatric patients may be more susceptible to the effects, especially the respiratory
depressant effects, of opiates. Also, geriatric patients are more likely to have prostatic
hyperplasia or obstruction and age-related renal function impairment, and are therefore
more likely to be adversely affected by opiate-induced urinary retention.
Drug interactions and/or related problems
The following drug interactions and/or related problems have been selected on the basis of
their potential clinical significance (possible mechanism in parentheses where appropriate)
not necessarily inclusive ( = major clinical significance):
Note: Combinations containing any of the following medications, depending on the amount
present, may also interact with this medication.
Addictive medications, other, especially central nervous system (CNS) depressants with
habituating potential (prolonged concurrent use with paregoric may increase the risk of
habituation; caution is recommended)

Alcohol or
Antidiarrheals, antiperistaltic, such as:
Difenoxin and atropine
Diphenoxylate and atropine

Loperamide
Opium tincture or
CNS depressionproducing medications, other (See Appendix II ) (concurrent use of these
medications with paregoric may result in increased CNS depressant, respiratory depressant,
and hypotensive effects; concurrent use should be undertaken with caution, and dosage of
one or both agents should be reduced)
(concurrent use of any opioid-containing analgesic may increase the risk of severe
constipation)
Anticholinergics or other medications with anticholinergic activity (See Appendix
II ) (concurrent use with paregoric may result in increased risk of severe constipation,
which may lead to paralytic ileus, and/or urinary retention)
Digitalis glycosides or
Lincomycins (concurrent use with kaolin and pectin combinations may impair absorption of
digitalis glycosides and lincomycins, resulting in decreased therapeutic effectiveness of
these medications when administered orally; it is recommended that kaolin and pectin
containing medications be administered not less than 2 hours before or 3 to 4 hours after
oral lincomycins; patients receiving digitalis glycosides concurrently with kaolin and pectincontaining medications should be monitored closely for evidence of altered effect {03})
Metoclopramide (paregoric may antagonize the effects of metoclopramide on
gastrointestinal motility)
Monoamine oxidase (MAO) inhibitors, including furazolidone, procarbazine, and
selegiline (caution is recommended when using any opioid in patients who have received
an MAO inhibitor within 14 days because concurrent use of MAO inhibitors with meperidine
has resulted in unpredictable, severe, and sometimes fatal reactions, including immediate
excitation, sweating, rigidity, and severe hypertension, or, in some patients, hypotension,
severe respiratory depression, coma, convulsions, hyperpyrexia, and vascular collapse)
Naloxone{02}{23}{24} (naloxone reverses the effects of paregoric and may precipitate
withdrawal symptoms in opioid-dependent patients)
Naltrexone{22} (naltrexone blocks the therapeutic effects of paregoric and may
precipitate withdrawal symptoms in opioid-dependent patients; naltrexone therapy should
not be initiated in a patient receiving paregoric; patients receiving naltrexone should be
treated with nonopioid medications when antidiarrheal treatment is required)
Oral medications, other{09}{10} (prolonged use of adsorbents may interfere with absorption
of other oral agents administered concurrently; it is recommended that medications
containing kaolin and pectin be administered at least 2 to 3 hours before or after other oral
medications)

Laboratory value alterations

The following have been selected on the basis of their potential clinical significance (possible
effect in parentheses where appropriate)not necessarily inclusive ( = major clinical
significance):
With diagnostic test results
Gastric emptying studies (paregoric may delay gastric emptying, thereby invalidating test
results)
Hepatobiliary imaging using technetium Tc 99m disofenin, technetium Tc 99m lidofenin, or
technetium Tc 99m mebrofenin (delivery of technetium Tc 99m-labeled agent to the small
bowel may be prevented because paregoric may cause constriction of the sphincter of Oddi
and increased biliary tract pressure; these actions result in delayed visualization and thus
resemble obstruction of the common bile duct {11} {12})
With physiology/laboratory test values
Amylase, plasma and
Lipase, plasma (values may be increased because opiates can cause contractions of the
sphincter of Oddi and increased biliary tract pressure; the diagnostic utility of determinations
of these enzymes may be compromised for up to 24 hours after medication has been given)
Medical considerations/Contraindications
The medical considerations/contraindications included have been selected on the basis of
their potential clinical significance (reasons given in parentheses where appropriate) not
necessarily inclusive ( = major clinical significance).
Except under special circumstances, this medication should not be used when the
following medical problems exist:
Diarrhea associated with Clostridium difficile caused by cephalosporins, lincomycins
(possibly including topical clindamycin), or penicillins or
Diarrhea caused by poisoning until the toxic material is eliminated from the
gastrointestinal tract (paregoric may delay removal of toxins from the colon, thereby
prolonging and/or worsening the diarrhea)
Respiratory depression, acute

(may be exacerbated)

Risk-benefit should be considered when the following medical problems exist


Alcohol abuse, or history of or
Drug abuse or dependence, history of (patient predisposition to drug abuse)
Asthma, acute attack or
Respiratory disease or impairment, especially chronic obstructive pulmonary
disease{02} (paregoric may decrease respiratory drive and increase airway resistance in
patients with these conditions)
Cardiac arrhythmias or
Seizures, history of (paregoric may exacerbate condition)

Dehydration (although adsorbent antidiarrheals may increase the consistency of feces


and decrease the frequency of evacuation, they do not reduce the amount of fluid loss, but
only mask its extent; rehydration therapy is essential if signs or symptoms of dehydration,
such as dryness of mouth, excessive thirst, wrinkled skin, decreased urination, and dizziness
or lightheadedness, are present; fluid loss may have serious consequences, such as
circulatory collapse and renal failure, especially in young children {07} {08} and the elderly {20})
Diarrhea, parasite-associated, suspected{07} (use of adsorbent antidiarrheals may make
recognition of parasitic causes of diarrhea more difficult; if parasitic agents are suspected
pathogens, appropriate stool analyses should be performed prior to therapy with
adsorbents)
Dysentery, acute, characterized by bloody stools and elevated temperature {07} (sole
treatment with adsorbent antidiarrheals may be inadequate; antibiotic therapy may be
required)
Gallbladder disease or gallstones

(paregoric may cause biliary contraction)

Head injury or
Increased intracranial pressure, pre-existing or
Intracranial lesions (risk of respiratory depression and further increase in cerebrospinal
fluid pressure)
Hepatic function impairment{07}
Hypothyroidism (paregoric may increase risk of respiratory depression and CNS
depression)
Incontinence, overflow (secondary to constipation, but often mistaken for
diarrhea; {19} {20} use of kaolin, pectin, and paregoric combination may worsen
constipation {20})
Inflammatory bowel disease, severe (risk of toxic megacolon may be increased,
especially with repeated dosing of paregoric)
Prostatic hyperplasia or obstruction or
Urethral stricture (paregoric may cause urinary retention)
Renal function impairment (components of this formulation excreted primarily via kidneys;
also, paregoric may cause urinary retention)
Sensitivity to paregoric{05} or other opiates
Ads by Google

Licensed Eboga Clinic


25 Yrs Exp. Government Licensed by Ministry of Health. 8 day program
www.ibogahouse.com
Side/Adverse
Note: At

high

doses,

paregoric

exhibits

Effects

effects

of

opiates.

The following side/adverse effects have been selected on the basis of their potential clinical
significance (possible signs and symptoms in parentheses where appropriate)not
necessarily
inclusive:
Those
Incidence
Allergic

indicating

need

reaction (hives;

for
itching;

medical
skin

attention
rare
rash)

histamine release (decreased blood pressure; fast heartbeat; increased sweating; redness
or flushing of face; shortness of breath, troubled breathing or wheezing)
Manfaat probiotik pada diare
Balita dan anak-anak sangat rentan mengalami diare. Hal ini disebabkan karena mekanisme
pertahanan di saluran pencernaan yang belum berdiferensiasi dengan baik. Tapi siapa tahu
jajanan anak-anak semacam minuman probiotik yang dijual di tengah masyarakat memiliki
efek yang cukup bagus untuk kesembuhan diare?
World Health Organization (WHO) mendefinisikan diare dengan meningkatnya frekuensi
buang air besar dan berubahnya konsistensi tinja menjadi lebih lunak atau bahkan cair pada
bayi atau anak lebih dari 3 kali perhari berlangsung secara mendadak. Perlu diketahui
bahwa diare merupakan penyebab 15-34 % kematian dari seluruh kematian yang terjadi di
negara maju maupun negara berkembang. Sebanyak delapan belas juta anak di bawah
umur 5 tahun meninggal setiap tahunnya, atau secara kasar 17 % dari seluruh angka
kematian anak. Anak-anak mengalami 12 episode diare per tahun di negara maju maupun
negara berkembang. Sementara di Indonesia sendiri, insidensi diare pada tahun 2000
adalah 301 per 1000 penduduk. Sedangkan angka kematian akibat diare berkisar antara
150.000 hingga 200.000 per tahun. Mencengangkan bukan?
Masalah yang paling berbahaya dari diare adalah dehidrasi (kekurangan cairan) meski
demikian banyak orangtua yang tidak mengetahui masalah ini. Bisa anda bayangkan
bagaimana jadinya jika output air dalam tubuh melebihi input? Itulah yang terjadi pada
anak-anak, belum lagi ditambah dengan sikap rewel jika anak-anak sedang sakit. Tentu saja
menyulitkan bukan?
Dewasa ini probiotik menjadi salah satu suplemen populer untuk diare. Sejak
ditemukan beberapa abad yang lalu, probiotik atau bakteri hidup yang memiliki efek
menguntungkan pada saluran cerna ini diklaimmemiliki kemampuan untuk
memperbaiki keseimbangan mikroflora usus. Probiotik diketahui dapat bersaing
dengan kuman patogen untuk mendapatkan nutrisi. Selain itu probiotik juga dapat
melisiskan toksin (racun). Berdasarkan penelitian terbaru, probiotik juga dapat menginduksi
zat antimikroba untuk menghancurkan kuman patogen dalam usus. Rollo dkk (1999)
menyebutkan bahwa probiotik dapat menghambat perlekatan kuman patogen pada dinding
saluran cerna.
Efek yang menguntungkan ini telah banyak diteliti di dunia medis. Penelitian yang dilakukan
Dinleyici dkk (2012) menunjukkan bahwa terapi diare yang diberikan bersama dengan
pemberian probiotik sukses menurunkan lama rawat inap diare akut pada anak. Rata-rata

penurunan lama rawat adalah 24 jam. Mereka juga mengklaim anak-anak yang mendapat
probiotik lebih cepat sembuh 36 jam bila dibandingkan dengan yang tidak mendapatkan
probiotik. Sejalan dengan Dinleyici dkk, van den Plas dan de Hert (2012) juga memaparkan
suplementasi probiotik dapat menyeimbangkan flora usus 24 jam lebih cepat sehingga
konsistensi tinja lebih cepat membaik jika dibandingkan dengan pengobatan tanpa
suplementasi probiotik.
Saat ini belum ada panduan khusus tentang dosis yang tepat untuk suplementasi probiotik
pada diare. Hanya saja beberapa penelitian menggunakan dosis antara 2,5-40 x 109[9].
Sedangkan menurut Dinleyici (2012) dosis yang signifikan memberikan efek adalah 2,5 x
10[9] CFU (colony forming units) selama kurang lebih selama 5 hari untuk diare akut.
Referensi:
(1) Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Laporan hasil uji coba standar dan kriteria
rumah sakit pendidikan. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. 2004
(2) Parashar UD, Humelman EG, Bresee JS, Miller MA, Glass RI. Global illnes and deaths
caused by rotavirus disease in children. Emerging Infect Dis;9: 565-572. 2006
(3) Rollo EE. The epithelial cell response to rotavirus infection. J Immunol; 163 (8): p. 444252.1999
(4) Dinleyici EC, Dalgic N, Guven S, Ozen M, Kara A, Arica V, Metin-Timur O, Sancar M,
Kurugol Z, Tanir G, Ozturk D, Aydogdu S, Tutanc M, Eren M, Vandenplas Y. The effect of a
multispecies synbiotic mixture on the duration of diarrhea and length of hospital stay in
children with acute diarrhea in Turkey: Single blinded randomized study. Eur J Pediatr (14).
2012
(5) Van den Plas, de Hert. Cost/benefit of synbiotics in acute infectious gastroenteritis: spend
to save. Benef Microbes. 3(3):189-94. 2012
Saat mempersiapkan simpanan ASI untuk si kecil ketika Mama akan kembali bekerja, Mama
pasti ingin tahu apakah ASI yang sudah Mama siapkan sudah sesuai dengan kebutuhan si
kecil. Bagaimana cara yang paling tepat untuk memperkirakan kebutuhan ASI harian si
kecil?
Perhitungan Kebutuhan ASI si Kecil
(http://www.lactamilmama.com/2012/06/memperhitungkan-konsumsi-asi-si-kecil/)
Konsumsi ASI bayi yang mendapatkan ASI Eksklusif meningkat cepat pada beberapa minggu
pertama setelah kelahirannya, lalu tidak berubah dan tidak terpengaruh oleh umur dan
berat badannya saat dia berumur 1 6 bulan. Kemudian setelah dia berumur 6 bulan atau
setelah dia mulai mendapatkan MPASI (Makanan Pendamping ASI), konsumsi ASInya akan
perlahan berkurang.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa umumnya bayi berumur 1-6 bulan mengkonsumsi ASI
sekitar 750 ml per hari. Konsumsi ASI harian setiap bayi berbeda-beda, tapi rata-rata
konsumsi ASI hariannya adalah 570-900 ml per hari. Informasi ini bisa Mama gunakan untuk
menentukan jumlah ASI yang perlu Mama siapkan secara keseluruhan dan jumlah ASI yang
Mama simpan dalam tiap kemasan penyimpanan untuk mengurangi ASI yang terbuang
karena tidak habis. Caranya:
Perkirakan berapa kali sehari (dalam 24 jam) si kecil menyusui
Lalu hitung 750 ml dibagi dengan perkiraan berapa kali si kecil menyusui dalam
sehari
Contoh: Kalau si kecil menyusui 8 kali sehari, berarti si kecil menghabiskan sekitar 93-94 ml
dalam sekali penyusuan (750/8 = 93.75)
Perhitungan ini akan berubah bila si kecil sudah mulai mendapatkan MPASI yang membuat
konsumsi ASI-nya perlahan berkurang. Tapi ASI tetap menjadi asupan nutrisi utama si kecil
selama tahun pertama. Karena jumlah MPASI yang diterima setiap bayi saat dia berumur 612 bulan berbeda-beda, asupan ASI yang dibutuhkan setiap bayi juga berbeda. Sebuah

penelitian menunjukkan rata-rata ASI yang dikonsumsi bayi berumur 7 bulan adalah 875
ml per hari dan untuk bayi berumur 11-16 bulan adalah 550 ml per hari. Penelitian juga
menunjukkan bahwa konsumsi ASI balita yang berumur 12-24 bulan adalah 400-550 ml per
hari dan untuk balita berumur 24-36 bulan adalah 300-360 ml per hari.
Bila Konsumsi ASI si Kecil Lebih Banyak dari Perhitungan
Kalau si kecil menghabiskan ASI lebih banyak dari perhitungan Mama, Mama perlu
mengecek apakah si kecil diberi terlalu banyak ASI (overfeeding) ketika Mama sedang tidak
di rumah. Overfeeding bisa disebabkan oleh:
1. Botol dengan dot yang alirannya terlalu cepat. Dot dengan aliran yang cepat
meningkatkan resiko overfeeding, karena si kecil akan kewalahan menerima aliran
ASI sehingga dia tidak bisa mengontrol kapan dia harus berhenti karena kenyang.
Mama bisa mengecek kecepatan aliran dot si kecil dengan memperhatikan tetesan
ASI yang keluar dari dot saat botol dibalikkan. Kecepatan aliran yang bisa dengan
mudah dikendalikan oleh si kecil adalah satu tetes ASI setiap detik.
2. Memberikan ASI dalam botol kepada si kecil setiap dia menangis. Tangisan bayi tidak
selalu berarti dia lapar, jadi bila dia diberikan ASI setiap kali dia menangis, maka
resikooverfeeding akan menjadi lebih besar. Bila si kecil menangis, cek apakah dia
menangis karena menginginkan ASI atau karena hal lain seperti mengantuk, minta
digendong, dan lain sebagainya.
3. Si kecil suka mengempeng. Saat menyusui langsung dari Mama, si kecil bisa
mengontrol jumlah ASI yang keluar dan hanya akan meminum sedikit ASI bila dia
hanya ingin mengempeng (comfort sucking). Tapi saat minum ASI dari botol, dia
tidak bisa mengontrol aliran ASI yang keluar, sehingga dia akan meminum ASI
walaupun dia tidak lapar. Akibatnya: overfeeding. Pertimbangkan memberikan si
kecil hal lain selain botol susu untuk memenuhi kebutuhannya mengempeng.
Bila Konsumsi ASI si Kecil Lebih Sedikit dari Perhitungan
Bila si kecil mengkonsumsi ASI lebih sedikit dari perhitungan Mama, bisa jadi dia
melakukanreverse-cycling, di mana dia hanya meminum ASI dari botol untuk menghilangkan
rasa laparnya, lalu menunggu Mama untuk memuaskan rasa laparnya dengan menyusui dari
Mama secara langsung. Bila hal ini terjadi, si kecil akan menyusui lebih sering dan dalam
durasi lebih lama dari biasanya begitu Mama kembali ke rumah. Reverse-cycling biasa
terjadi pada bayi ASI Eksklusif, terutama pada bayi yang baru belajar minum ASI dari botol.
Ada beberapa tips untuk Mama bila si kecil melakukan reverse-cycling:
1. Bersabar. Anggap saja reverse-cycling ini sebagai suatu pujian karena si kecil lebih
memilih Mama daripada ASI dalam botol
2. Simpan ASI dalam jumlah yang lebih sedikit per botol agar tidak banyak ASI yang
terbuang
3. Jangan terlalu khawatir si kecil kelaparan karena tidak minum ASI dalam waktu lama,
karena sebenarnya beberapa bayi tidur sepanjang malam selama 8 jam tanpa
mengkonsumsi ASI. Awasi saja pertumbuhan berat badan si kecil dan jumlah popok
kotornya untuk memastikan si kecil mendapatkan ASI yang cukup
4. Pastikan si kecil mendapatkan waktu yang cukup untuk menyusui langsung dari
Mama saat Mama berada di rumah