Anda di halaman 1dari 20

BAB I

SEJARAH FILSAFAT ILMU


A. Tradisi Keilmuan Barat
Zaman Yunani Kuno berlangsung kira-kira dari abad ke-6 SM hingga
awal abad pertengahan, antara 600 tahun SM hingga tahun 200 SM.
Zaman ini dianggap sebagai cikal bakal filsafat yang ada sekarang. Pada
zaman ini mitos-mitos yang berkembang dalam masyarakat digantikan
dengan logos (rasio) setelah mitos-mitos tersebut tidak dapat lagi
menjawab dan memecahkan problema-problema kosmologis.
Pada tahap ini bangsa Yunani mulai berpikir sedalam-dalamnya
tentang berbagai fenomena alam yang begitu beragam, meninggalkan
mitos-mitos untuk kemudian terus meneliti berdasarkan reasoning power.
Contoh yang paling popular dalam hal ini adalah mengenai persepsi
orang-orang Yunani terhadap pelangi. Dalam masyarakat tradisional
Yunani, pelangi dianggap sebagai Dewi yang bertugas sebagai pesuruh
bagi dewa-dewa lain. Tetapi bagi mereka yang sudah berpikir maju,
pelangi adalah awan sebagaimana yang dikatakan oleh Xenophanes, atau
pantulan matahari yang ada dalam awan seperti yang dikatakan oleh
Pytagoras (499-420 SM). Demikianlah apa yang menjadi perhatian para
ahli pikir Miletos, yakni sebuah kota di Yunani, pertama kali adalah
(problema kosmologis).
Zaman ini melahirkan pakar-pakar filsafat yang berjasa besar dalam
perkembangan ilmu pengetahuan selanjutnya, Thales ( 625 545 SM),
Anaximandros ( 610 540 SM), Anaximanes ( 538 480 SM),
Pythagoras ( 580 500 SM), Xenephanes ( 570 480 SM),
Heraklistos ( 540 475 SM), dan seterusnya. Thales misalnya yang
pertama kali mempertanyakan dasar dari alam dan segala isinya. Dia
mengatakan, bahwa asal dari segala sesuatu adalah air. Sedangkan
menurut Anaximandros, bahwa asal segala sesuatu adalah apeiron
(yang tak terbatas) yang disebabkan oleh penceraian (ekskrisis). Lain lagi
dengan Anaximanes, dia berpendapat bahwa asal segala sesuatu adalah
hawa atau udara. Pendapat Thales dan kawan-kawan sezamannya itu
hingga sekarang masih aktual dan menarik sebagai inspirasi bagi
munculnya teori tentang proses kejadian sesuatu (evolusionisme).
Dalam hal ini berpikir logika deduktif, nama Aristoteles (384 322
SM) tidak bisa dilupakan. Dasar-dasar berpikirnya tetap mendominasi para
ilmuwan di Eropa hingga dewasa ini. Aristoteles adalah murid Plato (427
347 SM) dan Plato adalah murid Socrates (469 399 SM). Perbedaan
pendapat pada masa ini sudah timbul meski dengan gurunya, seperti
Plato dengan Aristoteles, juga filsuf-filsuf yang lain. Hingga kini logika
Aristoteles tetap terpakai, sebab logika tersebut dapat diaplikasikan
mutakhir berbagai ilmu dan teknologi. Mula-mula logika Aristoteles
menjelma dalam prinsip kausalitas ilmu alam (natural science), kemudian
menjelma menjadi logika ekonomi di dalam industri (Cony R. Semiawan
et.al, 1988: 10).

Pasca Aristoteles, kira-kira lima abad kemudian, muncul lagi


pemikir-pemikir jenius seperti Plotinus (284 269 SM). Zaman ini adalah
zaman filsafat Hellenisme di bawah pemerintah Alexander Agung.
hanya zaman ini berbeda sekali dengan zaman Aristoteles, dimana
perkembangan ilmu tidak mengalami kemajuan yang pesat hingga Abad
Pertengahan. Pada masa ini pemikiran filsafat yang yang teoritis menjadi
praktis dan hanya menjadi hidup saja. Muncul juga aliran yang bercorak
religius, misalnya filsafat neo-Pythagoras, Platonis Tengah, Yahudi dan
Platonisme, termasuk aliran yang bersifat etis, Epikuros dan Stao (Harun
Hadiwijono, 1989: 54).
Pasca Yunani, bangsa yang berbudaya tinggi adalah Romawi. Dapat
dikatakan, bahwa dalam kegiatan keilmuan bangsa Romawi pada
umumnya hanya berpegang pada karya tokoh Yunani, terutama
Aristoteles yang tanpa banyak mengadakan perubahan (Cony, et.al. 1988:
14). Lebih lanjut dikatakan, bahwa sejak runtuhnya kerajaan Romawi nonKatolik dan mulai berkembangnya agama Katolik Roma, kerajaan-kerajaan
di Eropa masuk dalam abad kegelapan, abad kemandekan kegiatan
keilmuan yang disebabkan antara lain karena para penguasa di kerajaan
di Eropa tidak concern terhadap perkembangan keilmuan, di samping
terlalu kuatnya pengaruh otoritas agama.
Hampir dua abad lamanya, filsafat modern yang dimulai sejak abad
ke-16 diisi oleh pergumulan hebat antara rasionalisme dan empirisme,
sehingga seorang pakar besar Immanuel Kant (1724 1804) dengan
karyanya yang masyhur, Kritik der reinen Vernunft berhasil memugar
objektivitas ilmu pengetahuan modern. Demikianlah kemajuan berpikir
manusia dari kurun waktu yang mengalami perkembangannya mulai dari
zaman Yunani Kuno, zaman Renaissance (abad ke-15), Aufklarung (abad
ke-18) hingga abad ke-19 dan abad ke-20, mulai dari J.C. Fichte (1762
1814 M) hingga Gabriel Marcel (1889 1973 M), bahkan hingga
sekarang ini.

B. Filsafat Ilmu dan Perkembangannya


Sebagaimana pendapat umum, bahwa filsafat adalah pengetahuan
tentang kebijaksanaan, prinsip-prinsip mencari kebenaran, atau berfikir
rasional-logis, mendalam dan bebas (tidak terikat dengan tradisi, dogma
agama) untuk memperoleh kebenaran. Pengertian ini berasal dari Yunani,
Philos yang berarti cinta dan Sophia yang berarti kebijaksanaan (Wisdom).
Ilmu adalah bagian dari pengetahuan, demikian pula seni dan agama. Jadi
dalam pengetahuan mencakup di dalamnya ilmu, seni dan agama. Filsafat
sebagaimana pengertiannya semula bisa dikelompokkan ke dalam bagian
pengetahuan tersebut, sebab pada permulaannya (zaman Yunani Kuno)
filsafat identik dengan pengetahuan (baik teoretik maupun praktik). Akan
tetapi lama kelamaan ilmu-ilmu khusus menemukan kekhasannya sendiri
untuk kemudian memisahkan diri dari filsafat. Gerak spesialisasi ilmu-ilmu
itu semakin cepat pada zaman modern, pertama ilmu-ilmu eksakta, lalu
diikuti oleh ilmu-ilmu sosial seperti ekonomi, sosiologi, sejarah, psikologi,

dan seterusnya (Franz Magnis Suseno, 1991: 18 dan Van Peursen, 1989:
1).
Ilmu berusaha memahami alam sebagaimana adanya, dan hasil
kegiatan keilmuan merupakan alat untuk meramalkan dan mengendalikan
gejala-gejala alam. Pengetahuan keilmuan merupakan sari penjelasan
mengenai alam yang bersifat subjektif dan berusaha memberikan makna
sepenuhnya mengenai objek yang diungkapkannya. Dan agama
(sebagiannya) adalah sesuatu yang bersifat transendental di luar batas
pengalaman manusia. Secara garis besar, Jujun S. Suriasumanteri
(Saifuddin) et.al, 1991: 14) menggolongkan pengetahuan menjadi tiga
kategori umum, yakni : (1) pengetahuan tentang yang baik dan yang
buruk (yang disebut juga dengan etika/agama); (2) pengetahuan tentang
indah dan yang jelek (yang disebut dengan estetika/seni), dan (3)
pengetahuan tentang yang benar dan yang salah (yang disebut dengan
logika/ilmu). Ilmu merupakan suatu pengetahuan yang mencoba
menjelaskan rahasia alam agar gejala alamiah tersebut tak lagi
merupakan misteri.
4 titik pandang dalam filsafat ilmu, yaitu :
1. Filsafat ilmu adalah perumusan word-view yang konsisten
dengan teori-teori ilmiah yang penting. Menurut pandangan ini
adalah merupakan tugas filsuf ilmu untuk mengelaborasi
implikasi yang lebih luas dari ilmu.
2. Filsafat ilmu adalah suatu eksposisi dari presupposition dan
predisposition dari para ilmuwan.
3. Filsafat ilmu adalah suatu disiplin ilmu yang di dalamnya
terdapat konsep-konsep dari teori-teori tentang ilmu yang
dianalisis dan diklasifikasikan.
4. Filsafat ilmu merupakan suatu patokan tingkat kedua.

C. Objek Kajian Filsafat Ilmu


1. Ontologi
Tiap-tiap pengetahuan memiliki tiga komponen yang merupakan
tiang penyangga tubuh pengetahuan yang disusunnya. Komponen
tersebut adalah ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Ontologi
menjelaskan mengenai pertanyaan apa, epistemologi menjelaskan
pertanyaan bagaimana dan aksiologi menjelaskan pertanyaan untuk
apa. Ontologi merupakan salah satu di antara lapangan-lapangan
penyelidikan kefilsafatan yang paling kuno.
2. Aksiologi
Aksiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakikat niai
yang pada umumnya ditinjau
dari sudut pandang kefilsafatan.
Aksiologi meliputi nilai-nilai, parameter bagi apa yang disebut sebagai
kebenaran atau kenyataan itu, sebagaimana kehidupan kita yang
menjelajahi berbagai kawasan, seperti kawasan fisik materil dan
kawasan simbolik yang masing-masing menunjukkan aspeknya sendiri.
Lebih dari itu, aksiologi juga menunjukkan kaidah-kaidah apa yang
harus kita perhatikan di dalam menerapkan ilmu ke dalam praksis.

Pertanyaan mengenai aksiologi menurut Kattsoff (1987 : 331) dapat


dijawab melalui 3 (tiga) cara. Pertama, nilai sepenuhnya berhakikat
subjektif. Ditinjau dari sudut pandang ini, nilai itu merupakan reaksi
yang diberikan oleh manusia sebagai pelaku dan keberadaannya
tergantung kepada pengalaman mereka;
Kedua, nilai merupakan
kenyataan ditinjau dari segi ontologisme namun tidak terdapat dalam
ruang dan waktu. Nilai-nilai tersebut merupakan esensi logis dan dapat
diketahui melalui akal. Pendirian ini dinamakan objektivisme logis;
Ketiga, nilai merupakan unsur objektif yang menyusun kenyataan yang
demikian disebut objektivisme metafisik.

D. Pengertian Filsafat Ilmu


Filsafat ilmu merupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab
pertanyaan mengenai hakikat ilmu, baik ditinjau dari segi ontologis,
epistemologis maupun aksiologisnya. Dengan kata lain filsafat ilmu
merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara
spesifik mengkaji hakikat ilmu, seperti:
a. Objek apa yang ditelaah ilmu? Bagaimana wujud yang hakiki
dari objek tersebut? Bagaimana hubungan antara objek tadi
dengan daya tangkap manusia yang membuahkan pengetahuan
(landasan ontologis)
b. Bagaimana
proses
yang
memungkinkan
ditimbanya
pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Halhal apa yang harus diperhatikan agar mendapatkan
pengetahuan yang benar? Apakah kriterianya? Apa yang disebut
kebenaran itu? Adakah kriterianya? Cara/teknik/sarana apa yang
membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa
ilmu? (landasan epistemologis)
c. Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan?
Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan
kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah
berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara
teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode
ilmiah dengan norma-norma moral/profesional?

E. Fungsi Filsafat Ilmu


Filsafat ilmu merupakan salah satu cabang dari filsafat. Oleh karena
itu, fungsi filsafat ilmu kiranya tidak bisa dilepaskan dari fungsi filsafat
secara keseluruhan, yakni:
1. Sebagai alat mencari kebenaran dari segala fenomena yang ada.
2. Mempertahankan, menunjang dan melawan atau berdiri netral
terhadap pandangan filsafat lainnya.
3. Memberikan pengertian tentang cara hidup, pandangan hidup
dan pandangan dunia.
4. Memberikan ajaran tentang moral dan etika yang berguna dalam
kehidupan.

5. Menjadi sumber inspirasi dan pedoman untuk kehidupan dalam


berbagai aspek kehidupan itu sendiri, seperti ekonomi, politik,
hukum, dan sebagainya.

F. Substansi Filsafat Ilmu


Telaah tentang substansi filsafat ilmu menurut Ismaun (2001)
memaparkannya dalam empat bagian, yaitu substansi yang berkenaan
dengan: (1) fakta atau kenyataan, (2) kebenaran (truth), (3) konfirmasi
dan (4) logika inferensi. Keempat substansi tersebut dapat dijelaskan
sebagai berikut:
Fakta atau kenyataan memiliki pengertian yang beragam,
bergantung dari sudut pandang filosofis yang melandasinya. Pertama,
positivistik berpandangan bahwa sesuatu yang nyata bila ada
korespondensi antara yang sensual satu dengan sensual lainnya. Kedua,
fenomenologik memiliki 2 (dua) arah perkembangan mengenai pengertian
kenyataan ini. Yang pertama menjurus ke arah korespondensi yaitu
adanya korespondensi antara ide dengan fenomena. Dan yang keduanya
menjurus ke arah koherensi moralitas, kesesuaian antara fenomena
dengan sistem nilai. Ketiga, rasionalistik menganggap suatu sebagai
nyata, bila ada koherensi antara empirik dengan skema rasional.
Keempat, realisme-metafisik berpendapat bahwa sesuatu yang nyata bila
ada koherensi antara empiris dengan objektif, dan kelima, pragmatisme
memiliki pandangan bahwa yang ada itu yang berfungsi.

BAB II
PENGETAHUAN, ILMU DAN FILSAFAT

A. Pengetahuan
Bahwa manusia itu tahu sesuatu, tidak ada yang menyangkal.
Manusia tahu akan dunia sekitarnya, akan dirinya sendiri, akan orangorang lain. Manusia tahu yang baik dan yang buruk, yang indah dan tidak
indah. Bagaimana manusia itu dapat tahu, apakah sumbernya, apakah
sebenarnya tahu itu? Beberapa pemikir filsafat menyimpulkan adanya 4
(empat) gejala tahu, antara lain:
1. Tidak dari permulaan adanya manusia itu sudah tahu. Pada
suatu ketika ia ingin tahu, maka ia pun memaparkan isi hatinya
dengan bahasa, yang sederhana sebegini, apa sebabnya begitu?
Pertanyaan itu biasanya disebabkan karena ia kagum dan heran.
Untuk memuaskan keingintahuan itulah maka ia bertanya. Jika
akhirnya ia tahu, merasa terpenuhi keinginannya itu, sehingga
untuk sementara puaslah ia. Karena yang ada di sekeliling
manusia itu banyak sekali, maka kekaguman dan keheranan itu
serasa tak ada habisnya, maka terus meneruslah ia bertanya,
baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain. Pertanyaan
kepada diri sendiri akan dijawab dengan melakukan
penyelidikan. Semakin banyak yang diselidiki, semakin banyak
hasil tahunya dan semakin besar rasa kepuasannya. Tetapi
semakin banyak dan makin mendalam yang diketahuinya,
biasanya makin besar pula usahanya untuk tahu. Rasa ingin
tahu manusia akan berakhir pada akhir kesadarannya.
2. Selanjutnya, tampak gejala-gejala bahwa tahu yang memuaskan
manusia itu adalah tahu yang benar. Tahu yang tidak benar
disebut keliru. Tidak seorang pun cinta pada kekeliruan. Keliru
sering kali lebih jelek daripada tidak tahu. Oleh karena tahu itu
kerap kali menjadi dasar dari suatu tindakan, maka tahu yang
keliru kalau dijadikan dasar tindakan, kerap kali tindakan itu pun
justru menjadi keliru, dan ini dapat menimbulkan bencana.
Orang yang mengira tahunya benar, sebenarnya keliru.
Manakala ia sadar akan kekeliruannya, maka segera lenyaplah
kepuasaannya. Oleh karen itu, pemuas ingin tahu itu hanyalah
kebenaran. Walaupun tidak mudah menganalisis apakah
kebenaran itu, tetapi kita yakin bahwa kebenaran itu ada dan
kebenaran itu amat besar artinya bagi kehidupan manusia.
3. Apakah yang ingin diketahui manusia? Apakah objek dari itu?
Tahunya manusia tentang sesuatu bukanlah suatu bekal yang
dibawa sejak lahir. Ia ingin tahu karena ia kagum atas hal yang
ada di sekelilingnya, yang merangsang dan menimbulkan
keinginannya untuk tahu. Yang mengelilingi manusia dan yang
ingin diketahui manusia adalah dunia seisinya, baik yang

kelihatan
sekarang
sehingga
yang ada

maupun yang tidak kelihatan, asal ada, bahkan yang


ini tidak ada, tetapi tidak mengandung kemustahilan,
mungkin akan ada. Jadi objek tahu itu adalah apa saja
dan yang mungkin ada.

4. Oleh karena manusia mengadakan putusan, maka manusia yang


tahu itu, tahulah bahwa ia tahu. Manusia tahu benar bahwa ia
tidak tahu sesuatu, maka bertanyalah ia, misalnya kepada orang
lain. Setelah diberi tahu, tahu jugalah ia bahwaa ia tahu.
Mungkin juga ia mengira bahwa ia tahu, tetapi pada suatu ketika
ternyata ia tahu bahwa ia keliru. Jadi sebenarnya belum tahulah
ia. Ia akan bertanya atau mengadakan penyelidikan sendiri.
Hasilnya, tahulah ia sekarang. Dulu, ia tahu bahwa ia keliru atau
belum tahu, dan sekarang ia tahu bahwa ia tahu.
Berdasarkan penjelasan di atas, tampak jelas bahwa, ada 4 (empat)
tahu yaitu, (a) manusia ingin tahu, (b) manusia ingin tahu yang benar,
objek tahu ialah yang ada dan yang mungkin ada, dan (d) manusia tahu
jika ia tahu. Orang yang tahu disebut mempunyai pengetahuan. Jadi
pengetahuan adalah hasil dari tahu.

B. Ilmu Pengetahuan
Ada orang yang ingin tahu dan berusaha memuaskan keinginannya
itu lebih mendalam. Ia ingin tahu akan hal yang dihadapinya dalam
keseluruhannya, tidak hanya memperhatikan gunanya saja, bahkan
sekiranya tidak berguna, masih diselidikinya juga.
Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang bertujuan mencapai
kebenaran ilmiah tentang objek tertentu, yang diperoleh melalui
pendekatan atau cara pandang (approach), metode (method), dan sistem
tertentu. Jadi pengetahuan yang benar tentang objek itu tidak bisa dicapai
secara langsung dan sifat daripadanya adalah khusus. Ilmu pengetahuan
diciptakan manusia karena didorong oleh rasa ingin tahu manusia yang
tidak berkesudahan terhadap objek, pikiran, atau akal budi yang
menyangsikan kesaksian indra, karena indra dianggap sering menipu.
Kesangsian akal budi ini lalu diikuti dengan pertanyaan seperti, apakah
sesuatu itu, mengapa sesuatu itu ada, bagaimana keberadaannya dan apa
tujuan
keberadaannya?
Masing-masing
pertanyaan
itu
akan
menghasilkan :
1. Ilmu pengetahuan filosofi yang mempersoalkan hakikat atau
esensi sesuatu (pengetahuan universal).
2. Ilmu pengetahuan kausalistik, artinya selalu mencari sebabmusabab keberadaannya (pengetahuan umum bagi suatu jenis
benda).
3. Ilmu pengetahuan yang bersifat deskriptif-analitik, yaitu
mencoba menjelaskan sifat-sifat umum yang dimiliki oleh suatu
jenis objek.

4. Ilmu pengetahuan yang bersifat normative, yaitu mencoba


memahami norma suatu objek yang dari sana akan tergambar
tujuan dan manfaat dari objek tersebut.
Ada 6 (enam) sistem yang lazim dikenal dalam ilmu pengetahuan,
yaitu:
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Sistem
Sistem
Sistem
Sistem
Sistem
Sistem

tertutup
terbuka
alami
buatan
yang berbentuk lingkaran
yang berbentuk garis lurus.

Kebenaran ilmu pengetahuan (lazim disebut kebenaran


keilmuan atau kebenaran ilmiah) adalah pengetahuan yang jelas dari
suatu objek materi yang dicapai menurut objek forma (cara pandang)
tertentu dengan metode yang sesuai dan ditunjang oleh suatu sistem
yang relevan. Pengetahuan yang demikian tahan uji, baik dari verifikasi
empiris maupun rasional, karena cara pandang, metode, dan sistem yang
dipakai bersifat empiris dan rasional secara silih berganti. Ada 3 (tiga)
teori pokok tentang kebenaran keilmuan ini, yaitu:
1) Teori Saling Hubungan (Coherence Theory)
Sering disebut teori konsistensi, karena menyatakan bahwa
kebenaran itu tergantung pada adanya saling hubungan diantara ideide secara tepat, yaitu ide-ide yang sebelumnya telah diterima sebagai
kebenaran.
2) Teori Persesuaian (Correspondence Theory)
Kalau teori koherensi diterima oleh kebanyakan kaum idealis, maka
teori korespondensi lebih bisa diterima oleh kaum realis. Teori
korespondensi ini mengatakan bahwa seluruh pendapat mengenai
suatu fakta itu benar jika pendapat itu sendiri disebut fakta yang
dimaksud. Dengan kata lain, kebenaran adalah persesuaian antara
pernyataan tentang fakta denganfakta itu sendiri.
3) Teori Kegunaan (Pragmatic Theory)
Apa yang dikemukakan oleh teori korespondensi dapat
menyelesaikan secara tuntas pekerjaan dalam mencari kebenaran.
Tetapi kehidupan sehari-hari menuntut sesuatu yang lebih praktis dan
langsung
menimbulkan
konsekuensi
yang
menguntungkan.
Pragmatisme mewarnai pandangannya sebagai berikut : Pada
umumnya teori memandang masalah kebenaran
menurut segi
kegunaannya.
Kebenaran menurut pragmatisme ini bergantung kepada kondisi
yang berupa manfaat (utility), kemungkinan dapat dikerjakan
(workability) dan konsekuensi yang memuaskan (satisfactory results).

C. Filsafat

Pengertian filsafat dapat dirangkum sebagai berikut: (1) filsafat


adalah hasil pemikiran manusia yang kritis dinyatakan dalam bentuk yang
sistematis; (2) filsafat adalah hasil pikiran manusia yang paling dalam; (3)
filsafat adalah refleksi lebih lanjut dari ilmu pengetahuan atau
pendalaman lebih lanjut ilmu pengetahuan (4) filsafat adalah hasil analisis
abstraksi; (5) filsafat adalah pandangan hidup, dan ; (6) filsafat adalah
hasil perenungan jiwa manusia yang mendalam, mendasar dan
menyeluruh. Berdasarkan penjelasan tersebut maka dapat dikemukakan
bahwa ciri-ciri berfilsafat sebagai berikut: deskriptif, kritis atau analitis,
evaluatif atau normatif, spekulatif, sistematis, mendalam, mendasar dan
menyeluruh.

BAB 3
FILSAFAT ILMU DAN
METODOLOGI PENELITIAN

A. Keberadaan Ontologi
Ontologi adalah penjelasan tentang keberadaan atau eksistensi
yang mempermasalahkan akar-akar (akar yang paling mendasar tentang
apa yang disebut dengan ilmu pengetahuan itu). Jadi dalam ontologi
menurut Suriasumantri (1993), yang dipermasalahkan adalah akarakarnya hingga sampai menjadi ilmu. Pada saat ilmu mulai berkembang
pada tahap ontologis ini, manusia berpendapat bahwa terdapat hukumhukum tertentu yang terlepas dari kekuasaan mistis, yang menguasai
gejala-gejala empiris.
Dalam tahap ontologis ini manusia mulai
mengambil jarak dari objek sekitar, tidak seperti yang terjadi dalam dunia
mistis, dimana semua objek berada dalam kesemestaan yang bersifat
difus dan tidak jelas batas-batasnya. Manusia mulai memberikan batasbatas yang jelas kepada objek kehidupan tertentu yang terpisah dengan
eksistensi manusia sebagai subjek yang mengamati dan yang menelaah
objek tersebut. Dalam menghadapi masalah tertentu,
dalam tahap
ontologis manusia mulai menentukan batas-batas eksistensi masalah
tersebut, yang memungkinkan manusia mengenal wujud masalah itu,
untuk kemudian menelaah dan mencari pemecahan jawabannya.
Dalam kajian beberapa pendapat, ontologi dapat dikatakan sebagai
metafisika umum. Rapar (1996) menyebutkan bahwa ontologi membahas
secara menyeluruh dan sekaligus. Pembahasan itu dilakukan dengan
membedakan dan memisahkan eksistensi yang sesungguhnya dari
penampakan atau penampilan eksistensi itu. Menurutnya, teori ontologi
ada 3 (tiga) yang paling terkenal, yaitu:
1. Idealisme.
Teori
ini
mengajarkan
bahwa
ada
yang
sesungguhnya berada di dunia ide. Segala sesuatu yang tampak
dan terwujud nyata dalam alam indrawi hanya merupakan
gambaran atau bayangan dari yang sesungguhnya, yang berada
di dunia ide.
2. Materialisme. Meterialisme menolak hal-hal yang tidak
kelihatan. Baginya, yang ada sesungguhnya adalah keberadaan
yang semata-mata bersifat material atau sama sekali tergantung
pada material. Jadi realitas yang sesungguhnya adalah lambang
kebendaan dan segala sesuatu yang mengatasi alam
kebendaan. Oleh sebab itu seluruh realitas hanya mungkin
dijelaskan secara materialistis.
3. Dualisme. Dualisme mengajarkan bahwa substansi individual
terdiri dari 2 (dua) tipe fundamental yang berbeda dan tak dapat
direduksikan kepada yang lainnya. Kedua tipe fundamental dari
substansi itu ialah mental. Dengan demikian dualisme mengakui

bahwa realitas terdiri dari materi atau yang ada secara fisis dan
mental atau yang beradanya tidak kelihatan secara fisis.
Bertitik-tolak dari yang dijelaskan di atas, dapat disimpulkan bahwa
pengertian dari ontologi yaitu merupakan azas dalam menerapkan batas
atau ruang lingkup wujud yang menjadi objek penelaahan (objek ontologis
atau objek formal dari pengetahuan) serta penafsiran tentang hakikat
realitas (metafisika) dari objek ontologi atau objek formal tersebut dan
dapat merupakan landasan ilmu yang yang menanyakan apa yang dikaji
oleh pengetahuan dan biasanya berkaitan dengan alam kenyataan dan
keberadaan.

BAB 4
DASAR-DASAR PENELITIAN

A. Ilmu Sebagai Pengetahuan


Untuk dapat menguasai pelaksanaan penelitian, perlu diketahui
tentang dasar-dasar yang lebih mendasar, menyangkut tinjauan secara
filsafati dan metodologis. Secara filsafati berkenaan dengan filsafat ilmu,
sedangkan secara metodologis berkenaan dengan metode dan teknik
penelitian. Dasar filsafat ilu dapat diketahui.
Kedudukan ilmu dalam pengetahuan, sifat-sifat dan asumsi dasar
ilmu, komponen-komponen ilmu dan upaya membangun ilmu yang belum
diketahui, serta memperbaiki ilmu yang diragukan kebenarannya. Upaya
membangun dan memperbaiki kebenaran ilmu itu tidaklah dilakukan
dengan semena-mena, melainkan dilakukan dengan prosedur tertentu
menurut metode ilmiah yang berupa langkah-langkah sistematis. Metode
ilmiah berupa langkah-langkah sistematis itu tidak lain adalah metodologi
penelitian.
Ilmu adalah pengetahuan, tetapi tidak semua pengetahuan adalah
ilmu. Pengetahuan adalah pembentukan pemikiran asosiatif yang
menghubungkan atau menjalin sebuah pikiran dengan kenyataan atau
dengan pikiran lain berdasarkan pengalaman yang berulang-ulang tanpa
pemahaman mengenai kausalitas (sebab-akibat) yang hakiki dan
universal. Ilmu adalah akumulasi pengetahuan yang menjelaskan
kausalitas (hubungan sebab-akibat) dari suatu objek menurut metodemetode tertentu yang merupakan suatu kesatuan yang sistematis. Dari
kedua pengertian tersebut jelas bahwa pengetahuan bukan hanya ilmu.
Pengetahuan merupakan bahan utama bagi ilmu. Selain itu ternyata
bahwa pengetahuan tidak menjawab pertanyaan dari adanya kenyataan
itu, sebagaimana dapat dijawab oleh ilmu. Dengan perkataan lain,
pengetahuan baru dapat menjawab tentang apa, sedangkan ilmu
menjawab pertanyaan tentang mengapa dari kenyataan atau kejadian.
Lebih jauh ilmu berusaha memahami alam sebagaimana adanya. Hasil
kegiatan keilmuan merupakan alat untuk meramalkan (prediksi) dan
mengendalikan (kontrol) gejala-gejala alam. Hal ini mudah dimengerti
karena pengetahuan kelimuan merupakan sari penjelasan mengenai
kejadian-kejadian di alam yang bersifat umum dan impersonal.
Ilmu bertujuan untuk menjelaskan tentang segala yang ada di alam
semesta. Sifat pertama dari ilmu ialah bahwa ilmu menjelajah dunia
empirik tanpa batas sejauh dapat di tangkap oleh panca indra manusia itu
terbatas, maka sebagai sifat kedua ialah bahwa tingkat kebenaran yang
dicapainya pun relatif atau tidak sampai kepada tingkat kebenaran yang
mutlak. Sebagai sifat yang ketiga dari ilmu ialah bahwa ilmu menemukan
proporsi-proporsi (hubungan sebab-akibat) yang teruji secara empirik.
Sebagai asumsi dasar dari ilmu sehubungan dengan ketiga sifat tadi, ialah

bahwa pertama, dunia ini ada (manipulable). Asumsi kedua ialah bahwa
fenomena yang ditangkap oleh indra manusia itu adalah berhubungan
satu sama lain. Sedangkan asumsi yang ketiga ialah percaya akan
kemampuan indra yang menangkap fenomena itu. Jadi dapat dikatakan
bahwa ilmu merupakan belief system, artinya ilmu itu kebenarannya
didasarkan pada keyakinan atau kepercayaan, meskipun kebenarannya
bersifat relatif. Yang terakhir harus diketahui ialah bahwa ilmu adalah
pengetahuan yang sistematis, atau ilmu itu merupakan suatu sistem. Jadi
jelas bahwa ilmu mempunyai unsur-unsur atau elemen-elemen
sistematika yang berupa tindakan-tindakan fungsional, yaitu merumuskan
masalah, mengamati dan mendeskripsikan, menjelaskan, meramalkan dan
mengontrol gejala-gejala yang ada di alam semesta.

B. Tingkat Kemantapan Teori


Teori akan menjelaskan (meramalkan) fenomena. Dengan
penjelasan itu orang menjadi mengerti. Penjelasan ini berkisar pada
hubungan-hubungan (relationship). Jadi bila orang dapat menjadikan
relationship itu, dikatakan bahwa orang tersebut adalah orang yang
mengerti. Sebelum mengerti orang harus tahu. Orang dapat tahu tentang
fenomena melalui deskripsi. Deskripsi memberikan pengetahuan tentang
apa, sedangkan teori memberikan penjelasan atau pengertian tentang
mengapa (why). Bagaimana (how) mengaplikasikan pengetahuan dengan
pengertiannya merupakan suatu keterampilan. Artinya, orang yang
mampu mengaplikasikan pengetahuan dengan pengertiannya maka orang
tersebut dikatakan terampil.
Setiap bidang ilmu mempunyai tingkat kemantapan yang berbeda,
misalnya antara bidang ilmu sosial, biologi, dan pengetahuan alam
(eksakta)
berbeda
kemantapan
teorinya,
tergantung
pada
kedewasaannya. Pada ilmu sosial misalnya, ilmu yang relatif lebih muda
perkembangannya, berupaya menuju ke kesempurnaannya, berupa
mendekati teori-teori ilmu eksakta (dalam hal eksplanasi dan prediksinya).
Sampai sekarang mungkin masih banyak yang belum paham mana yang
dimaksud dengan teori, artinya teori yang benar-benar dapat menjelaskan
dan meramalkan fenomena, padahal sejak dahulu telah berpikir tentang
masyarakat dan tentang orang dengan dirinya, namun hubunganhubungan dalam teorinya banyak yang tidak tepat. Pada dasarnya
terdapat tiga tingkat pemikiran ke arah memperoleh teori itu, yaitu tingkat
klasikal, tingkat taksonomikal, dan tingkat teoretikal (teori eksak).

C. Berpikir Induktif dan Deduktif


Menurut Francis Bacon (Soetriono dan SRDm Rita Hanafie: 2007),
mempertegas variasi konduksi untuk mencapai hakikat induktif, yaitu: (1)
tabulasi atau pencatatan ciri-ciri positif yaitu pencatatan mengenai apa
yang terjadi dalam suatu kondisi; (2) tabulasi atau penacatatan ciri-ciri
negatif yaitu pencatatan kondisi dimana suatu kejadian tidak timbul dan;
(3) tabulasi atau pencatatan variasi konduksi yaitu pencatatan ada

tidaknya perubahan ciri-ciri pada kondisi yang berubah-ubah. Dari ketiga


tabulasi atau pencatatan tesebut barulah dapat ditetapkan ciri-ciri sifat
atau unsur-unsur mana yang harus ada, yang tidak dapat dipisahkan dari
fenomena itu.
Kebalikan dari berpikir induktif ialah berpikir deduktif. Bekerjanya
berangkat dari hal yang umum (dari induksi/teori/dalil/hukum) kepada halhal yang khusus (particular). Prinsip dasarnya ialah segala yang
dipandang benar pada semua peristiwa dalam satu kelas atau jenis,
berlaku pula sebagai hal yang benar pada semua peristiwa yang terjadi
pada hal yang khusus, asal hal yang khusus ini benar-benar merupakan
bagian atau unsur dari hal yang umum itu. Penalaran deduktif biasanya
mempergunakan silogisme dalam menyimpulkan. Proposisi yang pertama
disebut premis mayor, yang kedua disebut premis minor, dan yang ketiga
disebut konklusi/konsekuen/kesimpulan. Sesuai dengan sebutannya,
premis mayor (PMj) adalah proposisi yang bersifat umum (general),
berupa teori, hukum ataupun dalil dari suatu ilmu, sedangkan premis
minor (PMn) adalah proposisi yang disusun dari fenomena khusus yang
ditangkap oleh indra, yaitu yang ingin diketahui, dan konklusi (K) atau
konsekuen atau kesimpulan adalah jawaban logis bagi premis minor itu.

D. Metode Ilmiah
Kedudukan metode penelitian dalam metode ilmiah dapat dikatakan
hanya sebagian dari langkah-langkah sistematis dalam memperoleh ilmu,
sebab metode penelitian baru merupakan prosedur sistematis dari
bekerjanya pikiran atau logic yang hanya menghasilkan kesimpulan atau
ketetapan rasional saja. Untuk menelusuri langkah-langkah sistematika
keilmuan (metode ilmiah) secara tuntas, masih harus dilanjutkan dengan
langkah-langkah sistematis pelaksanaan penelitian yang disebut teknik
penelitian.
Metode ilmiah merupakan prosedur atau langkah-langkah
sistematis dalam mendapatkan pengetahuan ilmiah atau ilmu. Ilmu
merupakan pengetahuan yang didapatkan melalui metode ilmiah. Metode
adalah suatu prosedur atau cara untuk mengetahui sesuatu dengan
langkah-langkah sistematis. Garis besar langkah-langkah sistematis
keilmuan adalah: (1) mencari, merumuskan dan mengidentifikasi masalah;
(2) menyusun kerangka pikiran (logical contruct); (3) merumuskan
hipotesis (jawaban rasional terhadap masalah); (4) menguji hipotesis
secara empiric; (5) melakukan pembahasan dan; (6) menyimpulkan. Tiga
langkah pertama merupakan metode penelitian, sedangkan langkahlangkah selanjutnya bersifat teknis penelitian. Dengan demikian maka
pelaksanaan penelitian menyangkut dua hal, yaitu hal metode dan hal
teknis penelitian. Namun secara implicit metode dan teknik melarut di
dalamnya.

E. Teknik Penelitian

Jika metode penelitian menurut metode ilmiah diartikan sebagai


prosedur atau langkah-langkah teratur yang sistematis dalam
menghimpun pengetahuan untuk dijadikan ilmu, maka teknik penelitian
menyangkut cara dan alat (termasuk kemahiran membuat dan
menggunakannya) yang diperlukan untuk mencari tujuan penelitian.
Dengan lain perkataan, teknik penelitian menyangkut bagaimana caranya
dan alat-alat penelitian apa yang diperlukan untuk membangun ilmu
melalui penelitian. Pelaksanaan penelitian dapat dibagi dalam empat fase
kegiatan, yaitu fase persiapan, pengumpulan data atau informasi,
pengolahan data atau informasi, dan penulisan laporan penelitian.
Mungkin saja setiap fase penelitian membutuhkan cara dan alat tertentu
atau teknik tertentu. Setiap peneliti harus sudah mengetahui teknik apa
yang diperlukannya, dan juga harus mampu mengadakannya serta harus
mahir menggunakannya.
Alat-alat penelitian yang dipergunakan untuk menangkap atau
merekam atau mencatat data atau informasi dari objek, efektivitas dan
atau fungsinya, dapat dipengaruhi oleh kemahiran subjek dan oleh kondisi
objek serta oleh di mana penelitian dilakukan. Situasi atau lingkungan,
baik fisik atau alam atau lokasi daerah, ipoleksosbudhankamgama dapat
memengaruhi sikap atau mental, baik subjek maupun objek, bahkan
mungkin pula memengaruhi alat-alat penelitian. Setelah mengetahui
sumber-sumber yang mungkin menimbulkan kelemahan atau kesesatan
fase-fase kegiatan penelitian, hasilnya sebagai berikut : (1) ke dalam fase
persiapan, termasuk langkah-langkah menetapkan atau merumuskan atau
mengidentifikasi masalah, menyusun kerangkan pikiran atau pendekatan
masalah, merumuskan hipotesis (jika penelitian bertujuan memverifiasi),
menentukan rancangan uji hipotesis atau teknik analisis (jika tidak
menguji hipotesis); (2) ke dalam fase pengumpulan data atau informasi
masih menyangkut pengujian hipotesis atau teknik analisis; (3) ke dalam
fase pengolahan data juga masih bersangkutan dengan pengujian
hipotesis atau teknik analisis; (4) ke dalam fase penyusunan atau
penulisan laporan bersangkutan dengan langkah pembahasan dan
pembuatan kesimpulan.
Secara umum dapat dikatakan bahwa 3 (tiga) langkah metode
ilmiah yakni menetapkan/merumuskan/identifikasi masalah, menyusun
kerangka pikiran atau pendekatan masalah dan merumuskan hipotesis
yakni termasuk fase persiapan. Menguji hipotesis/analisis yang meliputi
rancangan, data/informasi yang diperlukan; dan analisis/interpretasi
termasuk fase pengumpulan data/informasi. Pembahasan dan pembuatan
kesimpulan termasuk fasepenyusunan/penulisan laporan.

BAB 5
Jenis Pengetahuan
A. Pengetahuan Ilmiah
Berdasarkan perbedaan cara kerja yang dipakai untuk memperoleh
dan mempertanggung jawabkan kebenarannya serta berdasarkan
perbedaan objek yang menjadi bahan kajiannya, sekurang-kurangnya
dapat kita bedakan adanya tiga jenis pengetahuan. Tiga jenis itu adalah
pengetahuan ilmiah, pengetahuan moral , dan pengetahuan keagamaan.
Secara sederhana pengetahuan ilmiah adalah jenis pengetahuan
yang diperoleh dan dipertanggung jawabkan kebenarannya secara ilmiah
atau dengan menerapkan cara kerja atau metode ilmiah. Sedangkan yang
dimaksud dengan metode ilmiah adalah prosedur atau langkah-langkah
sistematis yang perlu diambil guna memperoleh pengetahuan yang
didasarkan atas persepsi indrawi dan melibatkan uji coba hipotesis serta
teori secara terkendali. Karena pengamatan indrawi biasanya mengawali
ataupun mengakhiri proses kerja ilmiah, maka cara kerja ilmiah sering
juga disebut suatu lingkaran atau siklus empiris.
Pengetahuan ilmia tidak berkembang melulu dengan merentang
penyimpulan berdasarkan apa yang telah diketahui. Untuk dapat
berkembang dibutuhkan imajinasi, baik dalam merumuskan pertanyaanpertanyaan dan menyusun hipotesis untuk menjawab pertanyaan
tersebut. Di sinilah tempatnya penemuan ilmiah(scientific invention)
terjadi. Bukan hanya masin dan alat-alat yang ditemukan untuk pertama
kali, tetapi juga hipotesis dan teori ilmiah. Penemuan dalam arti invention
atau dalam arti discovery rupanya erat terkait satu sama lain. Kalau
menemukan (inventi) teori baru yang benar, dapat dikatakan juga
menemukan (discover) kebenaran yang dinyatakannya.

B. Pengetahuan Moral
Penilaian dan putusan moral pada dasarnya berakar pada latar
belakang budaya seseorang. Sekurang-kurangnya ada dua varian besar
dalam pandangan seperti itu. Pertama, relativisme budaya dan kedua
nonkognitivisme. Pandangan tersebut menekankan bahwa penilaian dan
putusan moral pada dasarnya berakar pada dasarnya berakar pada latar
belakang budaya seeorang. Sekurang-kurangnya ada dua varian besar
dalam pandangan seperti itu. Yang pertama menerima bahwa ada
kebenaran penilaian dan putusan moral, tetapi bersifat relatif terhadap
kebudayaan tempat penilaian dan putusan itu dibuat. Sedang yang kedua
berpendapat bahwa penilaian dan putusan moral tidak termasuk wacana
yang mau menegaskan benar salah, tetapi bermaksud mengungkapkan
perasaan atau sikap si penilai ataupun pendengar terhadap hal yang
dibicarakan. Perasaan dan sikap Ini relatif terhadap kebudayaan tempat
orang lahir dan dibesarkan.
Dalam dua pandangan di atas, pengetahuan moral dianggap tidak
ada. Entah karena tidak ada proposisi moral sama sekali sebagaimana

diyakini oleh nonkognitivisme, atau karena kebenaran penilaian dan


putusan moral itu hanya relatif terhadap latar budaya tempat penilaian
dan putusan itu dibuat. Sedangkan proposisi yang menegaskan kebenaran
pengetahuan, entah kebenaran yang bersifat empiris atau kebenaran
nalar, selalu dapat nilai dan ditegaskan benar-salahnya tanpa kualifikasi
apa-apa. Pandangan nonkognitivisme yang menganggap penilaian dan
putusan moral itu merupakan ungkapan perasaan dan sikap yang bersifat
relatif terhadap budaya tempat penilaian dan putusan itu dibuat,
menganggap tidak ada soal benar-salah dalam hal moral. Posisi
relativisme moral memang tidak perlu dibarengi dengan nonkognitivisme,
tetapi kalau sekaligus menganut nonkognitivisme sebenarnya menjadi
lebih jelas mengapa penilaian dan putusan moral itu bersifat relatif
terhadap suatu kebudayaan. Kalau penilaian dan putusan moral itu bukan
suatu proposisi atau pernyataan yang bersifat kognitif, tetapi suatu
ungkapan perasaan dan sikap, maka memang tidak mengherankan bahwa
hal itu relatif terhadap kebudayaan tempat penilaian dan putusan itu
dibuat.
Apa dasar epistemologi nonkognitivisme untuk menolak adanya
pengetahuan moral? Bagi aliran suatu pernyataan bernilai kognitif kalau
dan hanya benar-salah dapat ditentukan secara empiris (eposteriori) atau
secara rasional (apriori). Pernyataan moral tidak memenuhi tolok ukur ini.
Ketika kita menilai suatu tindakan itu salah secara moral atau bahwa
perilaku tertentu itu buruk (misalnya tindak kekejaman terhadap anak),
tak ada suatu proposisi pun, baik yang didasarkan atas pengalaman
indrawi
maupun
yang
didasarkan
atas
deduksi
logis,
yang
mengimplikasikan kebenaran tentang penilaian tersebut. Penilaian
tersebut rupanya memang dibuat tidak berdasarkan bukti indrawi ataupun
bukti ilmiah lainnya. Padahal, bagi penganut nonkognitivisme, tidak ada
sumber lain bagi pengetahuan manusia, selain pengalaman indrawi dan
penalaraan logis.

C. Pengetahuan Religius

Persoalan tentang kemungkinan adanya pengetahuan religius


sedikitberbeda
dari
perseoalan
tentang
kemungkinan
adanya
pengetahuan moral.

BAB 6
PERAN FILSAFAT ILMU DALAM
PENGEMBANGAN METODE ILMIAH

A. Abstrak
Filsafat ilmu mrenjelaskan tentang duduk perkara ilmu atau science
yang menjadi landasan asumsi logika (doktrin netralistik etik), hasil-hasil
empirik yang dicapai, serta batas-batas kemampuannya. Metodologi
penelitian menjelaskan tentang upaya pengembangan ilmu berdasarkan
tradisi-tradisi, yang terdir dari dua bagian, yaitu baik deduktif maupun
induktif. Demikian pula tentang hasil-hasil yang dicapai, berbentuk
pengetahuan atau knowledge, baik yang bersifat deskriptif (kualitatif dan
kuantitatif) maupun yang bersifat hubungan (proporsi tingkat rendah,
proporsi tingkat tinggi, dan hukum-hukum).
Filsafat ilmu ataupun metodologi penelitian bersifat mengisi dam
memperluas cakrawala kognitif tentang apa yang disebut ilmu, yang
diharapkan akan menimbulkan pengertian untuk disiplin dalam berkarya
ilmiah, sekaligus meningkatkan motivasi sebagai ilmuwan untuk
melaksanakan tugas secara sungguh-sungguh.

B. Pendahuluan
Upaya manusia untuk mengetahui tentang Tuhan, alam semesta,
lingkungan (baik alamiah maupun sosial), dan dirinya (baik fisik maupun
perilakunya) dilakukan melalui kegiatan berpikir, baik secara deduktif
maupun induktif. Sudah menjadi kodrat manusia ingin mengetahui segalagalanya. Oleh karena itu, manusia selalu bertanya untuk mendapatkan
jawabannya. Mengetahui merupakan kenikmatan atau kebahagiaan.
Karena manusia bisa mengetahui (dalam arti kata yang lebih dalam:
memahami, mengerti, menghayati), maka derajat manusia lebih tinggi
daripada binatang, bahkan lebih tinggi daripada malaikat.
Apa yang dipelajari sejauh ini adalah ilmu-ilmu Barat, yaitu ilmu
yang lahir dan berkembang di dunia Barat, yang akar-akarnya digali dari
filsafat Yunani Kuno. Tidak ada salahnya melanjutkan tradisi itu, namun
bila hanya itu saja dan begitu saja, maka belum konsekuen terhadap
Pancasila. Begitu mengakui Pancasila sebagai Dasar Negara dan sebagai
pandangan hidup bangsa (Ways of Life), maka quest for knowledge
harus diturunkan dari Pancasila yang menyatakan Ketuhanan Yang Maha
Esa sebagai sila pertamanya. Hal tersebut menunjukkan bahwa Negara
Indonesia merupakan salah satu negara yang ideologinya digali dari
kepribadian bangsanya dan merupakan negara yang berketuhanan Yang
Maha Esa. Maka dari satu kekhususan dibandingkan dengan ilmu-ilmu
Barat itu, niscaya akan membawa pada kebenaran yang lebih benar
daripada yang telah diraih oleh ilmu-ilmu Barat itu. Kekhususan itu adalah

bahwa the quest for knowledge tak lain merupakan upaya untuk
menemukan dan mengerti ilmu Tuhan, yang sangat luas dan dalam, yang
tidak akan habis-habisnya ditulis dengan tinta sebanyak tujuh samudera.
Ilmu itu telah ada, telah diciptakan oleh Tuhan, dan berjalan dengan
ketetapan-ketetapan yang abadi (sunatullah), yang tunduk pada penciptaNya tanpa membangkang sedikitpun.

C.

Pembahasan
1. Peran Filsafat Ilmu
Filsafat ilmu menurut Beerling (1988: 1 4) adalah penyelidikan
tentang ciri-ciri mengenai pengetahuan ilmiah dan cara-cara untuk
memperoleh pengetahuan. Filsafat ilmu erat kaitannya dengan filsafat
pengetahuan atau epistemologi, yang secara umum menyelidiki
syarat-syarat serta bentuk-bentuk pengalaman manusia, juga
mengenai logika dan metodologi.
Untuk menetapkan dasar pemahaman tentang filsafat ilmu maka
Cony (M. Zainuddin 2006: 21-22) menjelaskan empat titik pandang
dalam filsafat ilmu: (1) filsafat ilmu adalah perumusan word view yang
konsisten dengan teori-teori ilmiah yang penting. Menurut pandangan
ini, adalah merupakan tugas filsuf ilmu untuk mengelaborasi implikasi
yang lebih luas dari ilmu; (2) filsafat ilmu adalah eksposisi dari
presupposition dan pre-disposition dari para ilmuwan; (3) filsafat ilmu
adalah suatu disiplin ilmu yang di dalamnya terdapat konsep dan teori
tentang ilmu yang dianalisis dan diklasifikasikan; (4) filsafat ilmu
merupakan suatu patokan tingkat kedua, filsafat ilmu menuntut
jawaban terhadap pertanyaan sebagai berikut: (a) karakteristik apa
yang membedakan penyelidikan ilmiah dari tipe penyelidikan lain; (b)
kondisi yang bagaimana yang patut dituruti oleh para ilmuwan dalam
penyelidikan alam; (c) kondisi yang bagaimana yang harus dicapai bagi
suatu penjelasan ilmiah agar menjadi benar; (d) status kognitif yang
bagaimana dari prinsip dan hukum ilmiah.
Filsafat ilmu pengetahuan (theory of knowledge) dimana logika,
bahasa, matematika termasuk menjadi bagiannya lahir pada abad ke18. Dalam filsafat ilmu pengetahuan diselidiki apa yang menjadi
sumber pengetahuan, seperti pengalaman (indra), akal (verstand),
budi (vernnft) dan intuisi. Diselidiki pula arti evidensi serta syaratsyarat untuk mencapai pengetahuan ilmiah, batas validitasnya dalam
dalam menjangkau apa yang disebut sebagai kenyataan atau
kebenaran itu. Dari sini lantas muncul teori empirisme (John Lock),
rasionalisme (Rene Descartes), Kritisme (Immanual Kant), Positivisme
(Auguste
Comte),
Fenomenologi
(Husserl),
konstruktivisme
(Feyeraband), dan seterusnya. Sejalan dengan itu, masing-masing
aliran ini atau disebut juga school of thought, memiliki metodenya
sendiri, sehingga netodologi menjadi bagian yang sangat menarik
perhatian.

Cara yang paling sederhana untuk menemukan pertanyaan


penelitian (research question) adalah melalui data sekunder. Wujudnya
berupa beberapa kemungkinan misalnya:
a. Melihat suatu proses dari perwujudan teori.
b. Melihat Linkage dari proposisi suatu teori, kemudian bermaksud
merperbaikinya.
c. Merisaukan keberlakuan suatu dalil atau model di tempat
tertentu atau pada waktu tertentu.
d. Melihat tingkat informative value dari teori yang telah ada.
Kemudian bermaksud meningkatkannya.
e. Segala sesuatu yang tidak dapat dijelaskan dengan teori yang
telah ada atau belum dapat dijelaskan secara sempurna.

D. Kesimpulan

Berdasarkan beberapa uraian dan penjelasan di atas maka dapat


disimpulkan hal-hal sebagai berikut.
1. Filsafat ilmu perlu didekati secara historis-kronologis untuk
menangkap struktur prosesialnya dan secara sistematik-filosofis
untuk menangkap struktur esensialnya.
2. Struktur prosesial mencakup sembilan langkah sitematik yaitu:
tahap pra penelitian (identifiksi masalah, penetapan tujuan
penelitian/tercapainya ilmu, intropeksi dan skeptif). Tahap
proses penelitian (tahap ontologisme dasar/asumsi dasar).
Tahap epistemologis (metodologi/sarana dan cara mencapai
ilmu, penyimpulan, aplikasi ilmu praksisn dan tercapainya
sebagai pembuktian dan ilmu final). Tahap akhir (tercapainya
kebahagiaan abadi).
3. Metode penelitian menurut metode ilmiah sebagai prosedur atau
langkah-langkah teratur yang sistematis dalam menghimpun
pengetahuan untuk dijadikan ilmu yang meliputi masalah,
kerangka pemikiran, hipotesis uji hipotesis pembahasan dan
kesimpulan.