Anda di halaman 1dari 61

HAKEKAT

PENAFSIRAN TENTANG TAAWUDJZ

Artinya :
Aku Berlindung Kepada Allah dari Godaan Syaetan Yang Terkutuk
Jika kita lihat dari sudut pandang Syareat dan Tarekat, dimana kita mempelajari Syareat
yaitu mengenai Tata Hukum dan Tarekat yaitu Jalan atau Cara untuk mencapai tujuan (yang
di-Ridhoi Allah SWT), maka sekarang di Bab Hakekat kita akan membicarakan Kebenaran
yang hakiki karena segala sesuatu datangnya atau sumbernya dari Allah baik itu yang baik
maupun yang buruk (jelek), disini kita diberikan kebebasan untuk memilih jalan yang akan
kita tempuh.
Pada Hakekatnya Nafsu yang ada pada diri manusia itu terbagi menjadi 2 (dua) bagian yaitu
:
1. Nafsu Yang Jelek (AL-TAHALI)
2. Nafsu Yang Baik (AL-TAKHALI)
Adapun didalam Nafsu Yang Jelek tersebut terbagi lagi menjadi 4 (empat) bagian adalah
sebagai berikut :
1. Nafsu Amarah
2. Nafsu Lawwamah
3. Nafsu Syawiyah
4. Nafsu Mulahamah
Dan Nafsu Yang Baik terbagi juga menjadi 4 (empat) bagian yaitu :
1. Nafsu Mutmainah
2. Nafsu Rhodiah
3. Nafsu Mardiyah
4. Nafsu Kamilah

Selanjutnya mari kita bahas dan kita pelajari secara lebih mendalam yaitu nafsu-nafsu
yang ada pada diri manusia satu persatu.
I. NAFSU YANG JELEK (AL-TAHALI)
I.1. NAFSU AMARAH
Nafsu Amarah yaitu Nafsu Bissu, Nafsu yang seringkali mendorong manusia untuk
berbuat atau melakukan dosa dan kejahatan. Buanglah Nafsu Amarah Dalam Jiwa.
Nafsu Amarah terbagi menjadi 4 (empat) bagian, yaitu :
I.1.1. Al Hasut, seperti Syirik, Iri dan Fitnah
I.1.2. Asy Syahwat, seperti Jinah tidak pada maqomnya (tempatnya)
I.1.3. Wal Harsu, seperti Loba, Tamak dan Serakah
I.1.4. Al Buklu, seperti Kikir dan Pelit
Banyak sekali ayat-ayat dalam Al-Quran yang menyatakan tentang Ancaman Allah bagi
manusia-manusia yang senantiasa mengikuti hawa nafsu amarah ini, antara lain :
Firman Allah SWT dalam Surat Yusuf Ayat 53

ARTINYA :
Dan Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan) karena nafsu itu selalu menyuruh
kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku, sesungguhnya Tuhanku
Maha Pengampun Lagi Maha Penyeyang.
Firman Allah SWT dalam Surat Al Qalam Ayat 44 45

ARTINYA :

o Ayat 44 : Maka serahkanlah (Ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang


yang mendustakan perkataan ini (Al-Quran) nanti Kami akan
menarik mereka berangsur-angsur (kearah kebinasaan) dari arah
yang mereka tidak ketahui.
o Ayat 45 : Dan Aku memberi tangguh kepada mereka, sesungguhnya rencana-Ku
amat teguh
Firman Allah SWT dalam Surat Al Maaidah Ayat 60

ARTINYA :
Katakanlah: "Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang
lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu di sisi Allah, yaitu orangorang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan
kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?" Mereka itu lebih buruk
tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.
Firman Allah SWT dalam Surat Al - Araaf Ayat 182

ARTINYA :
Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka
dengan berangsur-angsur (kearah kebinasaan) dengan cara yang mereka tidak ketahui.
I.2. NAFSU LAWWAMAH
Nafsu Lawwamah yaitu Hawa Nafsu yang sering menyesali diri, sebagaimana
firman-firman Allah yang menyatakan tentang nafsu yang sering menyesali diri ini, antara
lain :
Firman Allah SWT dalam Surat Al Qiyaamah Ayat 1 2

ARTINYA :
o Ayat 1 : Aku bersumpah dengan Hari Kiamat.
o Ayat 2 : Dan Aku bersumpah dengan Jiwa Yang Amat Menyesali (dirinya
Sendiri).
Yang dimaksud dengan Ayat tersebut diatas, bila ia berbuat kebaikan maka ia juga akan
menyesal kenapa ia tidak berbuat lebih banyak, apalagi kalau ia berbuat kejahatan.
Nafsu Lawwamah ini terbagi 4 (empat) bagian, yaitu :
1. Adz dzamu (Suka Mencela)
2. Al Kibru (Sombong)
3. Al Makar (Tertipu Perbuatan Amal)
4. Al Ujubt (Memastikan Lebih Dahulu)
I.2.1. Adz dzamu (Suka Mencela)
Orang yang suka mencela biasanya dirinya lebih tercela dari pada orang yang dicelanya,
untuk itu ingatlah kita sebagai manusia janganlah suka menjelekkan (mencela) orang lain
tetapi justru kita harus berusaha menutupi Aib (kekurangan) orang lain.
Firman Allah SWT dalam Surat Al Hujuraat Ayat 11

ARTINYA :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang
lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang
mengolok-olokan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokan) wanita yang
lain (karena) boleh jadi wanita (yang diperolok-olokan) lebih baik dari wanita
(yang mengolok-olokan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan
janganlah kamu memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruknya
panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah Iman dan barang siapa yang
tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.
I.2.2. Al Kibru (Sombong)
Janganlah kita terlalu bergembira dengan apa-apa yang telah kita dapati (capai) apalagi
kegembiraan itu telah melampui batas seperti dengan kata Kalau Bukan Aku tentu tidak
berhasil Karena Aku yang terbaik, hal-hal semacam inilah yang dapat menimbulkan
Kesombongan, Takabur dan akhirnya menjadi lupa diri dan yang lebih parah lagi ia lupa
kepada Sang Pencipta Yang Maha Tingga yaitu Allah SWT.
Firman Allah SWT dalam Surat Al Hadiid Ayat 23

ARTINYA :
(Kami jelaskan yang demikian itu) Supaya Kamu jangan berduka cita apa yang
luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang
diberikan-Nya kepadamu dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong
lagi membanggakan diri.
I.2.3. Al Makar (Tertipu Perbuatan Amal)
Kalau kita lihat dan kita rasakan, banyak sekali amal-amal manusia atau mungkin
amal kita sendiri menjadi bias (sia-sia/kosong) karena ketidak-ikhlasan kita
menjalaninya atau ingin mendapat pujian dan adalagi yang paling berbahaya yaitu, syaetan
mewarnai para pemeluk agama Allah ini dengan berbagai upacara Bidah, Khurofat,
Takhayul dan segala macam upacara yang mirip-mirip dengan agama.
Didalam Hadist diriwayatkan oleh Muslim, Nasai, Turmudzi, Ibnu Majal yang bersumber dari
Abu Hurairah R.A :Bahwa Rosullullah SAW berkata tentang tiga orang yang telah
beramal namun amalnya sia-sia saja.
Pertama ; Ada seorang yang mati di medan perang dan dia dikatakan mati syahid didalam
membela kebenaran sampai mengorbankan jiwanya, tetapi itu semua setelah
dihisab, amalnya tercerai oleh syaetan karena di dalam perjuangannya dia tidak
ikhlas karena ingin mendapat pujian dan akhirnya ingin menjadi pahlawab yang
besar.

Kedua ; Orang yang Alim Quran, ilmunya telah sampai, pidatonya membuat semaraknya
para pendengar, lancar lagi fasih tetapi setelah di hisab juga kosong amalnya, ini
disebabkan karena dia ingin dimasyurkan orang lain.
Ketiga ; Adalah seorang yang suka menolong kepada orang lain atau kepada orang yang
membutuhkan, tetapi setelah di hisab juga kosong melompong amalnya ini
disebabkan karena ia ingin dikatakan sebagai orang yang baik lagi dermawan.

Demikianlah, sangat banyak manusia atau juga mungkin diri kita sendiri yang tertipu
oleh amalnya sendiri karena segala hal yang telah diperbuatnya selalu mengharapkan
pamrih, baik itu pamrih kepada manusia maupun kepada Allah. Pamrih kepada Allah disini
maknanya bahwa segala sesuatu yang diperbuatnya itu hanya mengharapkan pahala saja,
sementara Allah tidak berhitung atas apa-apa yang telah diberikan kepada manusia.
Seindah-indahnya perbuatan di mata Allah hanyalah perbuatan yang hanya mengharapkan
Ridho Allah semata sementara Pahala dan lain-lain-nya kita serahkan kepada Allah.
Firman Allah dalam Surat Asy Syuura Ayat 20

ARTINYA :
Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah
keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia
Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya
suatu bahagianpun di akhirat.
Firman Allah dalam Surat Asy Syuura Ayat 21

ARTINYA :

Apakah
mereka
mempunyai
sembahan-sembahan
selain
Allah
yang
mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak
ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan.
Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat
pedih.
Firman Allah dalam Surat Asy Syuura Ayat 23

ARTINYA :
Itulah (karunia) yang (dengan itu) Allah menggembirakan hamba-hamba-Nya
yang beriman dan mengerjakan amal saleh. Katakanlah: "Aku tidak meminta
kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam
kekeluargaan". Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan
baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun
lagi Maha Mensyukuri.
I.2.4. Al Ujubt (Memastikan Lebih Dahulu)
Manusia tidak dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan terjadi diwaktu
yang akan datang, apa yang akan diusahakan atau dikerjakannya besok atau apa yang
akan diperolehnya, namun demikian mereka diwajibkan untuk berusaha.
Firman Allah SWT dalam Surat Luqman Ayat 34

ARTINYA :
Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari
Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada
dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa
yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui
di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha
Mengenal.
Al-Ujubt terbagi menjadi 5 (lima) sifat yang harus kita tinggalkan atau hindari
antara lain, yaitu :
a. Memastikan Kiamat
b. Manusia tidak tahu apa yang terjadi besok
c. Manusia tidak tahu umur dan ajalnya
d. Manusia tidak tahu kandungan rahim seorang ibu (masa depan seorang
anak)
e. Manusia tidak tahu jodoh kita panjang atau pendek
Dari keterangan diatas itu semua adalah hak-hak Allah, dan kita sebagai manusia
hanya wajib berusaha hasil dan tidaknya hanya Allah yang tahu kecuali orang-orang yang
diberi petunjuk.
I.3. NAFSU SYAWIYAH
Nafsu Syawiyah yaitu hawa nafsu yang seringkali menggambarkan suatu maksiat
atau kehidupan menjadi indah dalam pandangan atau khayalan.
Firman Allah SWT dalam Surat Yusuf Ayat 83

ARTINYA :
Yakub berkata : Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan yang
buruk itu, maka kesebaran itulah kesebaranku mudah-mudahan Allah
mendatangkan mereka semuanya kepadaku ; Sesungguhnya Dialah Yang Maha
Mengetahui Lagi Maha Bijaksana.

Didalam Nafsu Syawiyah terbagi menjadi 4 (empat) bagian yang harus kita
tinggalkan, antara lain :
1. Al Haqod (Dendam Dalam Hati)
2. Al Kidzhu (Pembohong Dalam Perbuatan)
3. Al Qibah (Gemar Menjelekkan Orang)
4. Al Hawa (Keinginan Diluar Kemampuan)
I.3.1. Al Haqod (Dendam Dalam Hati)
Kita sebagai manusia dianjurkan untuk bersikap lapang dada, menerima segala sesuatu
dengan Ridho Allah, dan janganlah kita bersikap dendam dalam Hati, karena sesungguhnya
Allah memberikan kedudukan yang tinggi disisi-Nya bagi orang yang meninggalkan sifat
dendam ini.
Firman Allah SWT dalam Surat An Nisaa Ayat 149

ARTINYA :
Jika kamu menyatakan sesuatu kebaikan / menyembunyikan / memanfaatkan
sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf Lagi
Maha Penguasa.
I.3.2. Al Kidzhu (Pembohong Dalam Perbuatan)
Pada hakekatnya kezhaliman itu bertitik tolak terhadap diri kita sendiri, seperti tidak
jauhnya dengan lilin, dia (lilin) menerangi dengan cahayanya namun dirinya sendiri lumer
seperti halnya manusia. Manusia gembar-gemborkan atau perintahkan pada orang lain
untuk berbuat baik sementara dirinya sendiri tidak berbuat sesuai dengan apa yang dia
ucapkan.
Firman Allah SWT dalam Surat Az Zumar Ayat 32

ARTINYA :

Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta
terhadap Allah dan mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya? Bukankah
di neraka Jahannam tersedia tempat tinggal bagi orang-orang yang kafir?.
Firman Allah SWT dalam Surat Al Hadiid Ayat 14

ARTINYA :
Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-2 Mukmin), seraya berkata :
Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu ?. Mereka menjawab :
Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran
kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga
datanglah ketetapan Allah ; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (Syaetan)
Yang Amat Penipu.
I.3.3. Al Qibah (Gemar Menjelekkan Orang)
Marilah kita introspeksi diri kita masing-masing sejauh mana kita telah berbuat kebenaran
untuk mencapai yang hak. Cobalah kita semua untuk belajar jujur kepada diri sendiri,
Apakah kita sudah menjauhkan dari sifat atau perbuatan menjelekkan orang. Disini kita
dituntut untuk sadar akan hal asal muasalnya diri kita sehingga Pantaskah Kita menjelekkan
orang lain sementara diri kita sendiri banyak kekurangan dan kesalahan. Dalam Bab-Bab
terdahulu telah dijelaskan bahwa Sesungguhnya Allah Menciptakan Mahluk-mahluknya (Jin,
Iblis, Manusia, Hewan, Tumbuhan, malaikat dll) dan Allah pulalah yang memelihara mereka.
Dari ayat inipun sangat jelas bahwasannya manusia tidak mempunyai hak sedikitpun untuk
mencela atau menjelekkan orang lain karena sama-sama diciptakan oleh Allah dan
dipelihara oleh-Nya.
Firman Allah SWT dalam Surat Al Hujuraat Ayat 11

ARTINYA :
Hai orang-orang yang Beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang
lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang
mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita
lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari
wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan
janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburukburuk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa
yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.
I.3.4. Al Hawa (Keinginan Diluar Kemampuan)
Sebagaimana telah dibahas di dalam uraian-2 terdahulu, bahwasannya syaetan yang
paling utama masuk melalui hawa. Sedangkan pengertian hawa disini adalah suatu
keinginan. Keinginan diluar kemampuan manusia akan berakibat mencelakakan diri manusia
itu sendiri, baik itu kerugian secara Moril maupun Materi. Karena Hakekatnya manusia
diciptakan oleh Allah itu dengan segala keterbatasan dan kekurangan dan setiap
diri manusia sudah diberikan kemampuan dan batas sampai dimana manusia
dapat melakukan atau berusaha, dan seikhlas-ikhlasnya usaha adalah yang hanya
mengharapkan Ridho Allah semata lain dari itu adalah perbuatan syaetan.
Sebagai contoh, jika kita mempunyai keinginan atau angan-angan atau harapan atau citacita, maka sebaiknya yang pertama kita lakukan adalah kita harus melihat kemampuan
yang kita miliki saat itu apakah kita dapat mencapainya atau tidak setelah kita tahu
kemampuan kita selanjutnya kita berusaha semampunya untuk mewujudkannya dan akhir
dari usaha kita adalah hanya mengharapkan Ridho atau izin Allah apakah usaha yang telah
kita lakukan ini di Ridhoi Allah atau tidak. Tetapi jika kita tidak melakukan seperti pernyataan
diatas, maka dapat dibayangkan apa yang akan kita lakukan sementara sesungguhnya
dalam keadaan sadar kita tidak dapat melakukannya, maka kita akan mulai melakukan halhal yang akan nantinya bertengan dengan Hukum Allah dan selanjutnya akan jatuhlah Azab
Allah kepada diri kita dan dengan sendirinya yang ragu adalah diri kita sendiri.
Ibarat seperti, Jika kita tahu kita hanya sanggup mermikul beban seberat 50 Kg, tetapi
karena kita tidak mengindahkan akan keterbatasan diri kita maka kita paksakan untuk
mengangkat beban seberat 100 Kg. Dan yang terjadi adalah kita tidak akan mampu
mengangkatnya jika dipaksakan kita akan terkilir dan akan merugikan diri kita sendiri.

Sebaik-baik usaha adalah jika dijalankan bersama-sama dengan Doa dan Ridho
Allah.
Firman Allah SWT dalam Surat Asy Syuaraa Ayat 6

ARTINYA :
Sesungguhnya mereka telah mendustakan (Al-Quran), maka kelak akan datang
kepada mereka (kenyataan dari) berita-berita yang selalu mereka perolokolokkan.
Dari uraian diatas dapatlah kita simpulkan bahwasannya syaetan selalu menghiasi dan
mewarnai tipu dayanya dengan segala keindahan yang berupa Impian dan Khayalan.
Perlu kita ketahui juga bahwasannya syaetan itu ada 2 (dua) jenis yaitu :
1. Syaetan laki-laki
2. Syaetan Perempuan
Kedua jenis syaetan inilah yang menjadi bibit penyakit hati yang selalu menggerogoti
jiwa manusia, agar manusia selalu berada di jalan kesesatan. Dan setelah ia (syaetan)
berhasil membawa manusia kejalan yang sesat, maka ia (syaetan) langsung menghadap
Allah dan berkata bahwasannya ia (syaetan) hanya menjalankan tugasnya dan hanya Allah
yang patut disembah. Sugguh bodohlah diri kita, jika kita tahu sebenarnya bahwasannya
kita selama ini sudah ditipu oleh syaetan. Kita merasa bahwa syaetan yang merusak diri kita
tetapi sesungguhnya syaetan hanya menggoda saja tetapi tidak ikut didalam kehancuran
diri kita. Dan kenyataannya disini kalau kita lihat bahwa sesungguhnya syaetan hanya
mempunyai satu kesalahan saja kepada Allah yaitu disaat Ia (syaetan) tidak mau sujud
kepada Adam sedangkan kita manusia kadang-kadang perbuatan kita melebihi kesalahan
syaetan kepada Allah dan benar jika kita sering disebut juga Syaetan karena sesungguhnya
syaetan (nafsu) itu adalah diri kita sendiri.
Dan sangat jelas sekali didalam Al-Quran bahwa syaetan berkata kepada kita
(manusia) bahwa Janganlah Sekali-kali Kita Mencerca Syaetan Tapi Cercalah Diri
Kita Sendiri , Dan Sesungguhnya Syaetan itu menyembah Allah dan Tidak Mau
Syaetan Itu disekutukan dengan Allah, tetapi pada kenyataannya banyak manusia
yang menyembah syaetan (Gemerlap Dunia) dibanding menyembah kepada Allah.
Sekarang pertanyaannya disini adalah : Siapakah Yang Patut Disebut Syaetan,
Kita (Manusia) atau Iblis ??? (Syaetan itu bukan mahluk tapi adalah Sifat atau
perbuatan Menyekutukan Allah)
Firman Allah SWT dalam Surat Ibrahim Ayat 22

ARTINYA :
Dan berkatalah syaetan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan :
Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang Benar, dan Aku
(syaetan) telah menjanjikan kepadamu tetapi Aku menyalahinya. Sekali-kali tidak
ada kekuasaan bagiku (syaetan) terhadapmu (manusia), melainkan (sekedar) aku
(syaetan) menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku oleh sebab itu janganlah
kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri, aku (syaetan) sekali-kali
tidak dapat menolongmu (manusia) dan kamupun sekali-kali tidak dapat
menolongku. Sesungguhnya Aku tidak membenarkan perbuatanmu (manusia)
mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu. Sesungguhnya orang-orang
yang zhalim mendapat siksaan yang amat pedih.
Firman Allah SWT dalam Surat Al Furqaan Ayat 29

ARTINYA :
Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur'an ketika Al Qur'an itu
telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.
Dan juga jika melihat ayat diatas, bahwasannya syaetan sering mengganggu namun
janganlah kita menjelek-jelekkannya karena Allah sendiri yang mengilhamkan kepada diri
manusia berupa kejelekkan dan kebenaran. Namun Allah jugalah yang memberikan kepada
manusia berupa peraturan-peraturan dan akal. Disinilah kita harus melihat dan

memanfaatkan kelebihan kita sebagai mahluk ciptaan Allah yaitu Akal dan ini tidak dimiliki
oleh mahluk lainnya. Maka sungguh beruntunglah bagi orang-orang yang berilmu dan
memanfaatkan ilmu (akal) untuk Kebaikan dan Kebenaran di Jalan Allah.
I.4. NAFSU MULAHAMAH
Nafsu Mulahamah yaitu Nafsu yang sering mendorong tingkah laku manusia
kepada kedurhakaan (kefasikan) dan ketaqwaan.
Firman Allah SWT dalam Surat Asy Syams Ayat 8

ARTINYA :
Maka Allah mengilhamkan kepada Jiwa itu (Jalan) Kefasikan dan Ketaqwaan.
Didalam Nafsu Mulahamah ini terbagi menjadi 4 (empat) bagian yang harus kita
hidari dalam kehidupan kita sehari-hari, antara lain :
1. Ar Riya ((Ingin Di Puji)
2. Al Fasik (Mencampur Adukkan Amal Baik dengan Amal Buruk)
3. Azh Zholmu (Melakukan Pekerjaan Yang Bukan Maqomnya/haknya)
4. Al Ghoplah (Melakukan Pekerjaan Yang Dapat Melupakan Allah)
I.4.1. Ar Riya ((Ingin Di Puji)
Ar-Riya yaitu melakukan suatu perbuatan tidak mencari Keridhoan Allah akan
tetapi untuk mencari pujian atau kemasyuran di masyarakat.
Firman Allah SWT dalam Surat An Nisaa Ayat 142

ARTINYA :
Sesungguhnya orang-orang Munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas
tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk Shalat, mereka berdiri dengan

malas, mereka bermaksud Riya (dgn Shalat) dihadapan manusia dan tidaklah
mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.
Firman Allah dalam Surat Al Maauun Ayat 6

ARTINYA :
Orang-orang yang berbuat Riya .
Dari keterangan ayat-2 diatas, maka jelaslah bahwa bila kita ingin (niat) melakukan ibadah
(perbuatan) hendaknya kita lakukan semata-mata hanya karna Allah Taalla saja. Dan
buanglah jauh-jauh Sifat Ingin Dipuji, Dimasyurkan dan Mencari Popularitas.
I.4.2. Al Fasik (Mencampur Adukkan Amal Baik dengan Amal Buruk)
Banyak sekali kita lihat contoh orang-orang yang ahli (rajin) Ibadah tetapi dia juga senang
berbuat maksiat, dia tidak mengindahkan perintah dan larangan Allah.
Firman Allah dalam Surat As Sajdah Ayat 20

ARTINYA :
Dan adapun orang-orang yang fasik (kafir), maka tempat mereka adalah neraka.
Setiap kali mereka hendak ke luar daripadanya, mereka dikembalikan (lagi) ke
dalamnya dan dikatakan kepada mereka: "Rasakanlah siksa neraka yang dahulu
kamu mendustakannya".
Begitulah sifat-sifat orang-orang yang Fasik, didalam segala perbuatannya selalu
melalaikan (membelakangi) dan selalu mencampuradukkan antara yang Hak dengan yang
Bathil. Seperti Dirinya rajin melakukan ibadah Shalat, Puasa membaca Al-Quran tetapi
dilain
saat
dirinya
tidak
pernah
meninggalkan
perbuatan
maksiat
(Suka
Menjelekkan/Membicarakan Orang Lain, Suka Berdusta, Suka Berjinah, Pelit dll). Hal
semacam inilah yang sering Disebut Allah : Justru Ibadahnya (Shalat, Puasa) Yang
Nanti Akan Meng-Azhabnya Karena Perbuatannya.
Firman Allah dalam Surat Ali Imran Ayat 82

ARTINYA :
Barang Siapa yang berpaling sesudah itu, maka mereka itulah orang-orang yang
fasik.
Untuk itulah kita harus berhati-hati agar kita jangan sampai terjerumus kedalam jurang
kefasikkan dikarenakan lalai dan mencampur adukkan amal-amal yang baik dengan yang
buruk. Sungguh Amatlah Pedih Azhab Allah Kepada Orang-orang Yang Sudah
Berjanji/Bersaksi bahwa Al-Quran dan Hadist itu sebagai Pedoman Hidupnya
Sementara Ia Tidak Mengamalkannya.
I.4.3. Azh Zholmu (Melakukan Pekerjaan Yang Bukan Maqomnya/haknya)
Dalam bab ini banyak sekali kita lihat penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh
manusia dengan melakukan suatu pekerjaan yang bukan Maqom/Haknya (tempatnya).
Seperti melakukan pekerjaan Homo Seksual (Laki-2 dgn Laki-2 atau Lesbian (Perempuan
dgn Perempuan).
Firman allah SWT dalam Surat Huud Ayat 78

ARTINYA :
Dan datanglah kepadanya kaumnya bergegas-gegas, dan sejak dahulu mereka
melakukan perbuatan-perbuatan yang keji, Luth berkata : Hai Kaumku, inilah
putri-putri (negri)-ku, mereka lebih suci bagimu, maka bertaqwalah kepada Allah
dan janganlah kamu mencemarkan (nama)-ku terhadap tamuku ini, tidak adakah
diantaramu seorang yang berakal? .
Selain perbuatan Homo Sex, Lesbian masih banyak perbuatan yang dilakukan bukan pada
tempatnya (maqomnya), diantaranya merubah atau menambah anggota tubuh yang sudah
diciptakan Allah hanya untuk kesombongan seperti Tatto (gambar pada tubuh), Operasi
plastik (supaya lebih cantik/keren) dll. Hal seperti demikian adalah perbuatan-

perbuatan yang tidak mau bersyukur dan menerima kenyataan atas nikmat yang
telah diberikan Allah. Allah menciptakan Laki-laki dan Perempuan untuk saling
berpasang-pasangan (Kawin), jika laki-2 dgn laki-2 atau sebaliknya maka sudah pasti itu
adalah perbuatan yang dilaknat Allah. Karena Allah telah menciptakan segala sesuatunya
didunia ini secara berpasang-pasangan, seperti Laki-2 dgn Perempuan, Pagi dgn Malam,
Gelap dgn Terang, dll dan sungguh berdosalah manusia yang melakukan sesuatu tidak pada
tempat dan maksud dia diciptakan.
I.4.4. Al Ghoplah (Melakukan Pekerjaan Yang Dapat Melupakan Allah)

Dalam Bab ini, dijelaskan bahwa sungguh merugilah bagi orang-orang yang lebih
mencari atau mementingkan Dunia dibanding Akhirat sementara Isi Dunia itu adalah
Sampah bagi orang-orang yang demikian. Jalanilah hidup yang Adil, yaitu menjalankan Hak
dan Kewajiban kita sebagai mahluk Allah untuk dunia dan Akhirat. Dan kita hidup di dunia ini
hanya sementara saja, dan dunia itu bagaikan seperti tempat kita diuji oleh Allah jika kita
lulus maka selamatlah dan jika kita gagal dalam ujian maka celakalah kita nantinya
(Akhirat).
Dalam Al-Ghoplah ini mungkin hampir semua manusia melakukannya yaitu
melakukan pekerjaan yang kadangkala setiap ada panggilah Allah (Adzan) ia
abaikan atau ia tutup pendengarannya. Dan kita sungguh tidak sadar akan azab
yang akan kita terima jika kita lebih mengejar kebutuhan jasmaniah saja
sedangkan kebutuhan rohani (Mendekatkan diri kepada Allah) tidak dikerjakan
kalau demikian jadinya pantaslah jika kita disebut mahluk yang tidak tahu
bersyukur (berterima kasih) kepada Pencipta-Nya.
Satu contoh yang sangat Realistis (nyata) dan dilakukan hampir seluruh manusia
adalah dalam hal pekerjaan (Uang). Demi mencari Uang, kita rela meninggalkan
shalat dan demi ketenaran kita rela membelakangi kebenaran yang datangnya
dari Allah (Al-Quran). Padahal kita tahu bahwa semua itu (harta benda dan
jabatan) sudah tidak ada artinya jika kita dalam keadaan sakit atau menderita
(di-Azhab).
Firman Allah SWT dalam Surat Al Kahfi Ayat 103 104

ARTINYA :
o Ayat 103 : Katakanlah : Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang
orang-orang yang paling merugi perbuatannya ? .
o Ayat 104 : Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam dunia ini,
sedangkan mereka menyangka berbuat sebaik-baiknya.

Manfaatkanlah hidup ini dengan sebaik-baiknya sesuai dengan ajaran-ajaran Allah dan
sunnah Rosul, berlaku adillah terhadap kebutuhan jasmani dan rohani (Dunia & Akhirat). Dan
berhati-hatilah kepada kenyataan yang kita lihat indah ternyata itu hanyalah jebakan
syaetan saja yang ingin menjauhkan kita dari kebenaran (Yang Datangnya dari Allah).
Dan jika kita sudah berbuat demikian, maka Insya Allah, Allah SWT akan selalu
menjaga dan melindungi kita agar selamat Dunia dan Akhirat dan Senantiasa
diberikan Hidayah dan Inayah sehingga kita menjadi mahluk (hamba) Allah yang
Bersyukur .. Amin Ya Robbal Alamin.
II. NAFSU YANG BAIK (AL TAKHOLII)
Nafsu Yang Baik (Al-Takholii) adalah nafsu dimana dalam mengisi jiwa dan
perasaannya baik akal, ucapan serta tingkah lakunya kepada sifat-sifat yang
terpuji sehingga akan melahirkan manusia baharu yang penuh dengan cinta kasih
dan perdamaian (Jamal & Kamal).
Jamal : Manusia yang cinta damai
Kamal : Manusia yang penuh dengan rasa persaudaraan dan kepedulian (Kepekaan Sosial),
karena sesungguhnya manusia itu diciptakan sebagai mahluk sosial
Didalam kita menempuh (perjalanan) kehidupan dengan nafsu yang baik ini, maka akan
datang disaat yang bersamaan bermacam-macam rintangan, godaan dan cobaan. Karena
sesuatu yang baik itu pasti akan diuji apakah sudah benar-benar menjalankan nahfu yang
baik ini atau belum didalam konteks bermasyarakat dan bernegara sebagai seorang muslim.
Maka jika ingin mengamalkan atau mengerjakan Al-Takholii ini pastilah cobaan dan
godaannya akan lebih hebat dan lebih halus. Jika pada Nafsu Al-Tahalii (Nafsu Yang Jelek)
Yang menggoda atau menguji kita adalah diri kita sendiri (sifat syaetan dalam diri) tetapi di
pelajaran Nafsu Al-Takholii ini justru yang mengganggu atau menguji kita itu adalah yang
datangnya dari Jin Islam dan Malaikat.
Mungkin selama ini kita hanya mengetahui bahwa yang menggoda manusia itu
hanya syaetan saja, tetapi dalam Bab Al-Takholii ini kita akan mempelajari siapa
sesungguhnya yang menguji (menggoda kita) dan bentuk dari pada ujian ini
sangatlah samar dan selalu dengan dalil-dalil agama.
Sebelum kita memasuki Bab Al-Takholii ini lebih dalam, sudah selayaknya kita tahu dulu
sejarahnya mengapa Jin Islam Dan Malaikat juga dapat menggoda atau menguji kita.
Dalam Al-hadist Rosullullah (Di Zaman Nabi Sulaeman AS), yaitu :
o Pada Zaman Nabi Sulaiman, di Syurga para malaikat mengusulkan kepada Allah
SWT kenapa tidak dari golongan mereka saja yang dijadikan khalifah di Bumi
sedang mereka merasa adalah mahluk Allah yang paling taat dan takut kepada
Allah. Hal ini timbul karena dizaman itu moral dan ahlak manusia di bumi
sudah sangat bejat dan rusaknya dan para malaikat sudah tidak kuat melihat
semua perbuatan manusia disaat itu maka itulah para malaikat mengusulkan
untuk dijadikan khalifah di bumi. Maka karena sifat Allah Yang Rahman dan
Rahim, usul para malaikat itu diterima dan Allah memerintahkan kepada para
malaikat untuk memilih 2 (dua) orang diantara mereka (Malaikat) yang paling

terbaik. Setelah para malaikat berunding maka dipilihlah 2 malaikat yaitu


Malaikat Ijza dan Malaikat Tajaya.
o Maka dikirimlah Malaikat Ijza dan Tajaya ke bumi menjadi Manusia dan berganti
nama menjadi Marut (Malaikat Ijza) dan Marut (Malaikat Tajaya) dan dalam diri
mereka juga sudah ada yang namanya nafsu ketika menjadi manusia).
o Dalam pengembaraannya di bumi, suatu hari Harut & Marut bertemu dengan
seorang wanita persia yang sangat cantik jelita dan singkat cerita harut dan
marut tergoda dengan kecantikan wanita itu dan terjadilah perbuatan zina
diantara mereka bertiga. Dan Harut serta Marut-pun mengajarkan ilmu-ilmu
sihir kepada masyarakat pada zaman itu.
o Dari hasil perbuatan zina itu, maka Allah langsung memberikan azab dan siksa,
yaitu Wanita Persia itu di kutuk Allah menjadi Zukro (Ada dua penafsiran
tentang Zukro, yaitu ada yang mengatakan Zukro itu sejenis Ular dan ada yang
bilang Zukro sejenis Babi). Sedangkan Harut Dan Marut dihukum Allah yaitu
digantung di sumur Barbut di negara Babilon.
Firman Allah SWT dalam Surat Al Baqarah Ayat 102

ARTINYA :

Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaetan-syaetan pada masa
kerajaan Sulaeman(dan mereka mengatakan bahwa Sulaeman itu mengerjakan
Sihir). Padahal Sulaeman itu tidak Kafir (mengerjakan Sihir), mereka mengajarkan
sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada kedua orang Malaikat
dinegeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedangkan keduanya tidak mengajarkan
(sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan :Sesungguhnya kami hanya
cobaan (bagimu) sebab itu janganlah kamu kafir, maka mereka mempelajari dari
kedua malaikat itu, mereka dapat menceraikan seorang (suami) dengan istrinya
dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada
seorangpun kecuali dengan Izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang
memberi mudharat yang tidak memberi manfaat. Dan sesungguhnya mereka
telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (Kitab Allah) dengan sihir
itu tiadalah keuntungan di Akhirat dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual
dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahuinya.

Jika kita simak riwayat diatas, maka sangat jelaslah bahwa kita harus waspada agar
kita tidak terjebak dalam permainan (godaan) dari jin ataupun pelajaran Harut dan Marut ini
agar kita bisa ber-Takholii (melaksanakan nafsu Yang Baik).
Nafsu Yang Baik (Al-Takholii) ini terbagi menjadi 4 (empat) bagian yaitu , antara
lain :
1. Nafsu Mutmainah
2. Nafsu Rhodiah
3. Nafsu Mardiyah
4. Nafsu Kamilah
Dari nafsu-nafsu yang baik inilah yang harus kita pupuk dan kita pelihara agar kita dapat
terhindar dari nafsu yang jelek.
II.1. NAFSU MUTMAINAH
Nafsu Mutmainah ini mengajak kita kepada ketenangan jiwa, karena segala sesuatu
yang kita dapatkan didalam kehidupan ini akanlah terasa hampa dan sia-sia jika hati atau
batin dan jiwa kita tidak bahagia karena organ tubuh manusia yang paling jujur dan tidak
pernah berbohong adalah hati (kalbu). Mungkin kita harus jujur pada diri sendiri, apa yang
kita cari dalam kehidupan ini ? Tentulah Kebahagiaan. Dan dimanakah kebahagiaan itu ada ?
Tentu juga Kebahagiaan (ketenangan) itu ada di Hati yang Paling Dalam.
Tetapi kenapa banyak manusia (termasuk diri kita) yang harta berlimpah, dihormati orang
dan memiliki kedudukan yang tinggi tetapi hatinya tidak merasa bahagia dan terasa
kosong ?
Tidak lain dan tidak bukan bahwa segala sesuatu yang dimilikinya tidak dengan jalan Ridho
Allah dan juga belum melakukan syukur yang sebenar-benarnya syukur.
Didalam konteks Nafsu Mutmainah ini adalah mengajak kita untuk mencoba
belajar dan mengerti sebetul-betulnya apa yang diingini oleh Jiwa kita demi

mencapai Kebahagiaan Yang Hakiki. Secara Teori mungkin kita sudah tahu bahwa untuk
mencapai ketenangan jiwa itu adalah semua hal yang kita jalani dan kita terima itu harus
kita kembalikan kepada Allah (Ridho) semata. Tetapi yang belum kita mengerti dan kita
pahami adalah konteks didalam praktek kehidupan kita sehari-hari. Bagaimanakah caranya
kita membersihkan Hati, pikiran dan menjauhkan keluh kesah kita dan bagaimana pula
caranya mendapatkan Keridhoan Allah untuk mencapai Ketenangan Jiwa ini.

Firman Allah SWT dalam Surat Al Fajr Ayat 27 30

ARTINYA :
o Ayat 27 : Hai Jiwa Yang Tenang.
o Ayat 28 : Kembalilah kepada Tuhanmu dgn Hati yang puas lagi di Ridhoi-Nya.
o Ayat 29 : Maka masuklah kedalam jamaah hamba-hamba-Ku.
o Ayat 30 : dan masuklah kedalam Syurga-Ku.
Didalam Nafsu Mutmainah ini terbagi menjadi 5 (lima) bagian yang harus kita
kerjakan dalam kehidupan kita sehari-hari yaitu :
1. Asy Syukur (Banyak Berpuji Kepada Allah)
2. Ar Ridho (Ikhlas Kepada Ketentuan Allah)
3. Ath Thoubat (Mohon Ampun Kepada Allah Dengan Segera)
4. Ash Shobar (Memaksa Berbuat Baik dan Menahan Berbuat Jelek)
5. Thawadhu (Hormat Terhadap Rizallullah Kabinet Allah)
II.1.1. Asy Syukur (Banyak Berpuji Kepada Allah)
Syukurilah Nikmat-Ku, niscaya Aku akan menambahkan dari apa yang telah Aku
berikan dan janganlah kau ingkari nikmat-Ku niscaya Aku akan berikan Azab yang
lebih pedih. Itulah janji Allah kepada kita mengenai syukur ini, intinya berupa Rahmat jika
kita bersyukur dan sekaligus ancaman jika kita mengingkari nikmat yang telah diberikanNya.

Dan sangatlah pantasnya Allah berkata demikian, karena sangat sombonglah jika kita tidak
tahu berteri kasih atas apa yang diberikan-Nya.
Dan jika kita perbandingkan Rasa Syukur Kita dengan Apa Yang telah Allah Berikan
kepada kita semenjak kita didalam kandungan sampai sekarang inipun tidak akan terbelas
dan terbayar. Jika kita mau berhitung dengan satu saja nikmat Allah seperti Udara ; Sudah
berapa banyakkah udara yang kita hirup untuk bernafas ini dan nikmat udara inipun
datang tanpa kita minta. Juga Nikmat Air ; Sungguh berlimpah Allah berikan kita manusia Air
untyk kita pergunakan bermacam-macam manfaatnya dan lain-lain.
Sungguh Allah telah membuktikan semuanya, bahwa dalam memberikan nikmat-Nya Allah
tidak pilih kasih dan pandang agama, semua mahluk Allah merasakan mendapatkan nikmatNya. Tetapi kita manusia sungguh bodoh dan sombong, bersyukur saja belum dilakukan
sudah mengharapkan pahala atas apa yang dilakukan.
Maka dengan itu dalam rangka kita belajar tentang Taawudjz ini, cobalah kita belajar
bersyukur kepada Allah tanpa mengharapkan balasan dari-Nya (Ikhlas). Dan sungguh Allah
sangat menyayangi umatnya yang tahu bersyukur dan Allah akan melipat gandakan dari
apa yang telah diberikan-Nya.
Firman Allah SWT dalam Surat Yaasiin Ayat 33 35

ARTINYA :
o Ayat 33 : Dan suatu tanda (Kekuasaan Allah Yang Besar) bagi mereka adalah
Bumi yang mati kami hidupkan bumi itu dan kami keluarkan
daripadanya biji-bijian dan daripadanya mereka makan.
o Ayat 34 : Dan Kami jadikan kepadanya kebun-kebun korma dan anggur dan
Kami pancarkan padanya beberapa mata air.
o Ayat 35 : Supaya mereka dapat makan dari buahnya dan dari apa yang mereka
usahakan oleh tangan mereka, maka mengapakah mereka
tidak bersyukur ?.
II.1.2. Ar Ridho (Ikhlas Terhadap Ketentuan Allah)
Sesungguhnya kehidupan manusia telah diatur oleh ketentuan Allah (Qodho & Qodhar)
dengan dua jalan, yaitu :

1. Jalan Yang Baik


2. Jalan Yang Buruk (Jelek)
Dan bagi manusia yang mau berfikir, tentunya dia akan memilih jalan yang baik yaitu
jalan yang telah diatur oleh Allah (Al-Quran). Setiap pribadi manusia sudah ada Qodho dan
Qodharnya semenjak ia dilahirkan dan ketentuan itulah yang harus kita jalani dengan ikhlas.
Ikhlas Hati dan Pikiran, inilah yang harus kontraskan atau kita jalani secara bersama-sama
didalam kehidupan kita sehari-hari karena datangnya semua kejadian itu semata-mata
hanya dari Allah SWT Yang Maha Berkuasa dan Berkehendak.
Firman Allah dalam Surat Al Ahzab Ayat 36

ARTINYA :
Dan tidaklah patut bagi laki-2 yang mukmin dan tidaklah patut bagi perempuan
yang mukmin, apabila Allah dan Rosul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan
akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka dan barang
siapa mendurhakakanAllah dan Rosul-Nya, maka sesungguhnya dia telah sesat,
sesat yang nyata.
Dari Ayat diatas, Marilah kita mencoba untuk berserah diri atas apa-apa ketentuan
Allah yang datang kepada diri kita baik berupa hukum-hukum Allah maupun
Qodha dan Qodhar-Nya, dan semoga kita menjadi termasuk Hamba Allah Yang
Selamat baik di Dunia maupun di Akhirat Amin Ya Rabbal Alamin.
II.1.3. Ash Shobar (Memaksa Berbuat Baik & Menahan Berbuat Jelek)
Kata Shobar ini bermakna suatu kekuatan, daya positif yang mendorong
kekuatan jiwa untuk menunaikan suatu kewajiban. Arti Shobar disini adalah menahan
diri dari perbuatan yang dikutuk Allah dan membawanya kepada yang telah dituntunkan
Syara dan Akal, memaksa berbuat baik sesuai dengan Syara dan Akal dan menghindarkan
diri dari apa yang dibensi menurut Syara dan Akal.
Menurut Imam Gojhali didalam Kitab Hujjatul Islam, menegaskan : Sabar ialah
tetap tegaknya dorongan agama berhadapan dengan dorongan hawa nafsu. Dorongan
Agama adalah Hidayah Allah kepada manusia untuk mengenal-Nya, Rosul-Nya serta
mengetahui dan mengamalkan ajaran-Nya dan kemaslahatan-2 yang bertalian dengan
akibat-2 nya.

Kebanyakan Manusia mengira bahwa shabar itu adalah merendahkan diri dan menyerahkan
kepada keadaan, (Pesimis) tanpa Ikhtiar mencari jalan keluarnya. Jika kita hanya totalitas
berserah diri tanpa ada usaha untuk merubahnya itu belum seutuhnya yang dikatakan
shabar. Meskipun ada ketentuan-ketentuan Allah Yang Mutlak sifatnya yang tidak kita
mungkin merubahnya. Tetapi secara lebih mendalam dan mendasarnya kata Shabar itu
adalah Memaksakan diri untuk terus berbuat amal shaleh (kebaikan) sehingga
menjadikannya bukan suatu kewajiban lagi melainkan menjadi suatu kebutuhan hidup
seperti halnya dengan bernafas dan memaksa diri untuk menahan diri dari perbuatan yang
jelek sehingga menjadikannya bukan lagi sekedar itu larangan Allah tetapi sudah menjadi isi
dari hati untuk secara otomatis menolak perbuatan jelek tersebut serta segala kejadian
didalam kehidupan ini harus diterima baik yang datangnya berupa kebaikan maupun
keburukan dengan lapang dada tanpa ada kecurigaan-2 terhadap orang lain dan mendorong
diri untuk berusaha (ikhtiar) agar yang diperoleh hari esok harus lebih baik dari hari ini dan
apa yang menimpa hari ini (keburukkan) tidak terjadi lagi pada rhari esok. Inilah yang
disebut manusia yang berilmu dalam konteks shabar.
Menurut filsafat Islam Shabar terbagi menjadi 5 (lima) macam, yaitu antara lain :
1. Shabar dalam Beribadat ((Ash-Shabru Fil Ibadah)
Ialah Tekun mengendalikan diri dalam melaksanakan syarat-2 dan tata tertib ibadah.
2. Shabar ditimpa Malapetaka dan Musibah (Ash-shobru Indal Musibah)
Ialah teguh hati ketika mendapat musibah (cobaan) baik yang berbentuk kemiskinan,
kematian, kecelakaan, terkena penyakit dll.
3. Shabar terhadap Kehidupan Dunia (Ash-shobru Anid Dunya)
Ialah sadar terhadap tipu daya dunya, tidak tergoda akan kenikmatan dunia yang hanya
sementara dan tidak menjadikan kehidupan dunia ini menjadi kehidupan yang abadi
tetapi menjadikan kehidupan dunia ini untuk mencari bekal sebanyak-banyaknya untuk
di akhirat nanti (kehidupan yang kekal).
4. Shabar terhadap Maksiat (Ash-shobru Anil masiat)
Ialah mengendalikan diri supaya tidak berlaku atau melakukan perbuatan maksiat.
5. Shabar dalam Perjuangan (Ash-shobru Fil Jihad)
Ialah menyadari sepenuhnya bahwa setiap perjuangan akan mengalami masa jaya dan
masa kalah, baik itu berjuangan melawan musuh (kebathilan) maupun berjuang
melawan hawa nafsu. Tetapi perjuangan dalam melawan hawa nafsu kita harus
berusaha sekuat tenaga untuk selalu menang.
Dan jika kita tinjau dari sudut pandang bentuk kegiatannya, shabar terbagi menjadi 2 (dua)
bagian yaitu :
1. Shabar dalam menghadapi cobaan yang bersifat Jasmaniah (Fisik), yaitu tabah
dalam memikul beban yang berat, tabah ditimpa kemiskinan ataupun sakit.

2. Shabar dalam menghadapi cobaan yang bersifat Rohaniah (Bathin), yaitu


penyakit hati
Sudah banyak sekali contoh-contoh yang bijaksana dalam penerapan sabar seperti
yang telah dilakukan Para Nabi dan para penerusnya terdahulu, dimana mereka begitu
sabarnya menghadapi segala cobaan, tantangan dan rintangan dalam menegakkan
Kalamullah dan tidak sedikitpun mereka (Para Nabi & Pengikutnya) mengeluh ataupun takut
dalam menegakkan Kalamullah ini. Mereka rela mengorbankan segalanya demi tegaknya
Kebenaran. Semua itu dapat kita lihat dari Tarikh (perjalanan) para Nabi-nabi seperti Tarikh
Nabi Ayub AS dimana dalam perjuangannya sewaktu terkena penyakit dimana para keluarga
dan pengikutnya pada saat itu meninggalkan dan mencacinya, Tarikh Nabi Ibrahim AS ketika
dirinya dibakar hidup-hidup oleh Raja Firaun dan Tarikh Nabi Besar Muhammad SAW beserta
para sahabatnya dalam menyiarkan Kalammullah ini Beliau-2 dihina, dicaci serta diasingkan
tetapi Mereka tetap tabah dan sabar demi tegaknya Kebenaran yang hakiki.
Kita yang mengaku sebagai umat Nabi Muhammad dan mengaku Muslim sudah sepatutnya
kita mencontoh atau meneruskan perjuangan Nabi tanpa pamrih. Suri tauladan Nabi Kita
Muhammad SAW dalam menegakkan Kalammullah ini hendaknya kita jadikan pegangan
dimana jika kita sudah berniat untuk menegakkan Kalammullah ini hendakanya dikerjakan
dengan sungguh-sungguh, ikhlas tanpa ada rasa kuatir dan yang paling penting adalah kita
harus sabar dalam menerima segala bentuk cobaan dan rintangan yang menghadang kita.
Karena Sabar ini adalah kunci dari segala perjuangan untuk mencapai kemenangan.
Firman Allah SWT dalam Surat Ali Imron Ayat 200

ARTINYA :
Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu
dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada
Allah supaya kamu beruntung.
Kemenangan yang dimaksud ayat diatas dalam arti yang lebih luas termasuk didalamnya
kemenangan hidup yang bersifat duniawi atau rohaniah.
Maka marilah dalam kesempatan ini kita sebagai Hamba Allah, agar Allah selalu
senantiasa menghiasi diri kita dengan Sifat Sabar, saling menyabarkan diantara sesama dan
selalu waspada serta hati-hati didalam menegakkan Kalammullah disegala kondisi dan
situasi ... Amin Ya Rabbal Alamin.
II.1.4. Ath Thaubat (Mohon Ampun Kepada Allah Dengan Segera)
Sesungguhnya Iblis beserta kerajaannya menjerit dan menangis jika mendengar atau
melihat ada umat manusia yang bertaubat (Mengakui kesalahannya). Kata Taubat inipun ada
karena sifat Allah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang, Maha Pemberi Rahmat dan Lagi
Maha Bijaksana.

Sangatlah beruntungnya kita sebagai manusia yang telah diberikan begitu


banyaknya kenikmatan oleh Allah SWT. Dapat kita bayangkan jika Allah tidak menerima
Taubat atau Ampunan kepada kita tentulah kita sudah pasti masuk kedalam Neraka, karena
kita manusia selalu berbuat banyak dosa dan salah dan tidak bisa kita bayangkan disaat
Nabi Adam AS melanggar larangan Allah memakan Buah Kulbi dan Allah tidak menerima
Taubat Nabi Adam disaat itu.
Firman Allah SWT dalam Surat Ali Imran Ayat 135

ARTINYA :
Dan juga orang-orang yang mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri
sendiri, mereka ingat akan ampun Allah, lalu memohon ampunan terhadap dosadosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah ? Dan
mereka tidak
meneruskan perbuatan kejinya
itu, sedangkan mereka
mengetahuinya.
Firman Allah SWT dalam Surat Ali Imran Ayat 135

ARTINYA :
Mereka balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan Syurga didalamnya
mengalir sungai-2, sedangkan mereka kekal didalamnya ; Dan itulah pahala
sebaik-baiknya orang yang beramal.
Allah SWT memang benar-benar luas rahmat dan kasih sayang-Nya, Dia tidak mudah
menjatuhkan dan siksaan kepada Hambanya. Allah selalu membukakan pintu Taubat
selebar-lebarnya kepada hamba-hambanya yang mau bertaubat dengan ikhlas.
Perlu kita ketahui dan diperhatikan yang dimasud dengan TAUBAT diatas adalah
Taubat Nasuha yaitu Taubat (mohon ampun) yang terpancar dari hatinya yang paling
dalam (sungguh-sungguh) dan sudah melalui proses pemikiran dan penyesalan yang
mendalam untuk kembali kejalan yang benar dan tidak mengulangi lagi perbuatan yang
salah di waktu lalu. Taubat Nasuha mengandung 3 (tiga ) unsur sifat yang ada didalam diri
manusia, antara lain yaitu :

1. Menyesal
2. Menjauhkan diri dari perbuatan dosa
3. Berjanji tidak akan mengulangi lagi
Dan jika Taubat yang dilakukan itu adalah taubat yang sifatnya hanya sementara atau
mempermainkan maka akan datanglah azab Allah yang sangat pedih kepada dirinya karena
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Sekecil-kecilnya Isi Hati Manusia dan Allah Maha
Bijaksana Lagi Maha Adil.
Firman Allah SWT dalam Surat Al Baqarah Ayat 9

ARTINYA :
Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, sebenarnya mereka hanya
menipu dirinya sendiri, sedang mereka tidak sadar dan tidak merasa.
Sungguh bodoh dan merugilah bagi orang-2 yang melakukan demikian (Taubat Palsu)
karena sesungguhnya hal yang demikian itu dapat merugikan diri sendiri. Untuk itu marilah
kita semua segeralah bertaubat yang sebenar-benarnya taubat (Taubat Nasuha) dan
semoga Allah Mengampuni kesalahan kita dan menerima Taubat kita ... Amin Ya Rabbal
Alamin.
II.1.5. Tawadhu (Hormat Kepada Rizallullah Kabinet Allah)
Tawadhu artinya Tidak menentang ketentuan-ketentuan Allah dan Rasul-Nya,
dengan bersungguh-sungguh Taat tanpa menganggap dirinya tinggi, tidak
mencela pendapat ataupun aregumentasi orang lain dalam hal agama dan
menghindari terjadinya perselisihan pendapat, Sikap rela dan ikhlas kepada
sesama muslim sebagai saudaranya, selama Allah menganggap orang tersebut
sebagai saudaranya.
Firman Allah SWT dalam Surat Al Furqaan Ayat 63

ARTINYA :

Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang
berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa
mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.
Dalam Sifat Tawadhu ini hendaknya kita mengambil Suri Tauladan dari Junjungan
Nabi Besar Muhammad SAW, diantaranya :
o Senantiasa Memberi Salam
o Rendah hati dan jujur dalam pergaulan
o Tidak pernah menolak apabila diajak bergotong royong
o Melayani tamu dengan baik
o Tidak menonjolkan ilmunya tetapi selalu mengamalkannya dengan ikhlas
o Tidak membeda-bedakan warna kulit atau golongan (RAS)
o Memegang teguh amanat
o Bersikap toleransi kepada semua pihak
Serta banyak lagi sifat-sifat Terpuji dari Rosullullah seperti hormat dan tunduk kepada
yang hak. Untuk itu kita sebagai hamba Allah dan sebagai umat Rosullullah sudah
sewajarnya mengambil contoh sifat-sifat terpuji Rosullullah yang telah tertulis diatas dengan
tidak meninggalkan Ketaatan terhadap yang hak. Tinggalkanlah sifat tinggi hati, sombong
dan riya (pamer) tetapi hadapkanlah diri kita hanya kepada Allah bahwasannya kita ini
hamba Allah yang banyak kekurangan dan kelemahan.
Semoga Allah senantiasa melimpahkan Rahmat dan Karunia-Nya agar kita selalu berada
dijalan yang lurus dan benar serta selalu diridhoi Allah dan bukan berada dijalan yang
dimurkai Allah SWT ... Amin Ya Rabbal Alamin.
II.2. NAFSU RHODIAH
Nafsu ini mengajak kita untuk selalu berbuat Kasih Mengasihi, Sayang Menyayangi
kepada sesama Mahluk Allah dan juga kita harus selalu senantiasa mengingat Allah dan
hanya kepada-Nyalah kita akan kembali.
Didalam Nafsu Rhodiah ini terbagi menjadi 6 (enam) perkara yaitu, sebagai
berikut :
1.Barihan (Dermawan)
2.Tawakkal (Taqwa Sebenarnya Hanya Kepada Allah)
3. Ikhlas (Setiap Perbuatannya Hanya Karena Allah)
4. Zuhud (Tidak Ubud-Dunya)

5. Riyadho (Senang Wiritan atau Dzikir)


6. Pasrah (Menyerahkan Hati atau Niat Atas Nama Allah)

II.2.1. Barihan (Dermawan)


Seharusnya kita sebagai orang yang mengaku Mumin untuk bersikap dermawan,
Nafkahkanlah harta yang telah kita terima dijalan yang telah ditentukan oleh Allah karena
sesungguhnya Rizki yang kita terima itu terdapat didalamnya hak orang lain yang harus kita
keluarkan. Dan yakinlah kita bahwa kita tidak akan jatuh miskin jika kita nafkahkan rizki kita
kepada yang hak menerima karena sesungguhnya Allah akan melipat gandakan-Nya.
Firman Allah SWT dalam Surat Saba Ayat 39

ARTINYA :
Katakanlah : Sesungguhnya Tuhanku melapangkan Rizki bagi siapa yang
dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya dan Menyempitkan bagi (siapa yang
dikehendaki-Nya). Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan
menggatinya dan Dialah Pemberi Rezeki sebaik-baiknya.
Firman Allah SWT dalam Surat At Taubah Ayat 60

ARTINYA :
Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-2 Fakir, Orang-2 Miskin,
Pengurus-2 Zakat, Para Mualaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan
budak). Orang-orang yang berhutang untuk jalan Allah dan orang-2 yang sedang
dalam perjalanan sebagai sesuatu ketetapan-Nya yang diwajibkan Allah ; dan
Allah Maha Mengetahui Lagi Maha Bijaksana.

Adapun agar lebih jelasnya keterangan ayat diatas ada 8 (delapan) orang
yang berhak menerima sedekah, yaitu :
1. Fakir : Orang yang sangat sengsara hidupnya tidak mempunyai harta dan tenaga untuk
memenuhi kehidupannya.
2. Miskin : Orang yang serba kekurangan hidupnya.
3. Pengurus Zakat : Orang yang diberi tugas untuk mengumpulkan dan membagikan harta
zakat.
4. Muallaf : Orang Kafir yang baru masuk islam yang imannya masih lemah.
5. Memerdekakan Budak : Mencakup juga untuk memerdekakan orang muslim yang
ditawan oleh orang-orang kafir.
6. Orang-2 Yang Berhutang : Orang yang berhutang karena bukan untuk kepentingannya
dan tidak sanggup membayarnya. Adapun orang yg
berhutang untuk memelihara persatuan umat islam
dibayar hutangnya itu dengan zakat walaupun ia mampu
membayarnya.
7. Sabillillah : Untuk keperluan pertahanan islam dan kaum muslimin.
8. Musafir : Orang yang sedang dalam perjalanan yg bukan maksiat mengalami
kesengsaraan dalam perjalanannya.
Selanjutnya Allah telah menjanjikan bagi orang-orang yang tidak mau menafkahkan
sebagian rizkynya dijalan Allah, maka perbuatan itu akan membawa kepada kemurkaan
Allah.
Firman Allah SWT dalam Surat Ali Imran Ayat 180

ARTINYA :
Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan
kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik untuk
mereka. Sebenarnya kebahilan itu buruk bagi mereka. Harta yang mereka
bakhilkan itu akan dikalungkan kelehernya di hari Kiamat, dan kepunyaan Allahlah segala warisan( yang ada) di langit dan dibumi. Dan Allah Mengetahui apa
yang kamu kerjakan.

Semoga Allah memuliakan kita sekalian dengan kedermawanan, dengan karunia


kemuliaannya dan mengangkat kita dengan karunia nikmat-Nya berupa harta.
Karena tidak mungkin kemuliaan tanpa kedermawanan dan tidak mungkin
kedermawanan tanpa harta ... Amin Ya Rabbal alamin.
II.2.2. Tawakal
Tawakal Yaitu Taqwa yang sebenar-benarnya Taqwa hanya kepada Allah SWT, jika
kita jabarkan atau difinisikan kata TAQWA disini adalah :

o TAQWA
TERDIRI DARI HURUF :

1. HURUF TA 2. HURUF QOF

3. HURUF WAW 4. HURUF ALIF


ARTINYA :

: Menyesali diri dari perbuatan dosa &


memohon Ampunan kepada Allah dan tidak
akan mengulanginya lagi.

: Sifat khusu, merendahkan diri kepada


Allah dalam beribadah dan amal perbuatan.

: Sifat Ikhlas dalam beribadah kepada


Allah serta mewujudkan perilaku cinta dan
kasih sayang, perdamaian, bila sudah
waktunya harus dapat merubah kewajiban
Ibadah menjadi suatu kebutuhan Ibadah.

Rela

terhadap

ketentuan

Allah.

Diantaranya :
- Ibadah tdk menuntut pahala
- Beramal tanpa pamrih
- Berkata sesuai antara lisan & perbuatan
- Mendapat Amanah tidak Khianat
- Patuh kepada Hukum
- Puji syukur thd Nikmat yg diberikan Allah
Firman Allah SWT dalam Surat Al Anfaal Ayat 2 3

ARTINYA :
o Ayat 2 : Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yg
apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila
dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka
(karenanya)dan kepada tuhanlah mereka bertawakal.

o Ayat3 : (Yaitu) orang-orang yg mendirikan sholat dan menafkahkan sebagian


dari rezeki yg Kami berikan kepada mereka.
Firnan Allah dalam Surat Al Anfaal Ayat 28 29

ARTINYA :
o Ayat 28 : Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah
sebagai cobaan dan sesungguhnya disisi Allah-lah pahala yang
besar.
o Ayat 29 : Hai orang-orang yang beriman jika kamu bertaqwa kepada Allah
niscaya Dia akan memberikan Furqaan dan menghapuskan segala
kesalahan-kesalahan dan mengampuni dosa-dosamu dan Allah
mempunyai karunia yang besar.
Dari uraian ayat diatas sesungguhnya harta dan keluarga merupakan suatu cobaan yang
harus kita waspadai, maka bertaqwalah karena dengan taqwa kita bisa membedakan mana
yang hak dan yang mana bathil.
II.2.3. Ikhlas
Ikhlas yaitu segala perbuatan semata-mata karena Allah Taalla. Tentunya didalam
pengamalannya harus di-iringi oleh Niat yang Ikhlas. Karena tidak sedikit amal yang
dilakukan oleh manusia dari lisannya dikatakan ikhlas namun niatnya Riya, dia ingin apa
yang diperbuatnya itu dapat diketahui oleh semua orang sehingga melunturkan amalnya
maka sia-sialah amal perbuatannya. Sesungguhnya bantuan dan pertolongan Allah
kepada hamba-2-Nya adalah sesuai dengan niatnya. Barang siapa yg sempurna
niatnya akan sempurna pula bantuan Allah kepadanya. Dan sebaliknya jika niatnya kurang
sempurna akan berkurang pula bantuan Allah sesuai dengan niatnya.
Firman Allah SWT dalam Surat Az Zalzalah Ayat 7 - 8

ARTINYA :

o Ayat 7 : Barang siapa yg mengerjakan kebaikan sebesar zarrah-pun niscaya dia


akan melihat balasannya pula.
o Ayat 8 : Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan sebesar zarrah-pun
niscaya dia akan melihat balasannya pula.
II.2.4. Zuhud
Zuhud yaitu tidak ubud dunya (yakni tidak merasa penting kemewahan dunia
serta menahan diri dari kesenangan hidup di dunia). Bagi orang yang telah
melakukan ubud dunya atau tidak silau akan kemewahan dunia maka dirinya akan
menganggap bahwa semua tindakan atau tingkah laku sehari harinya adalah hanya ibadah
saja dan suatu usaha untuk mendekatkan dirinya kepada Allah.
Firman Allah SWT dalam Surat Al Alaa Ayat 16 17

ARTINYA :
o Ayat 16 : Tetapi kamu (orang-2 kafir) memilih kehidupan duniawi.
o Ayat 17 : Sedangkan kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal.
Firman Allah SWT dalam Surat Ali Imran Ayat 185

ARTINYA :
Tiap-2 yang berjiwa akan merasakan mati dan sesungguhnya pada hari
kiamatlah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan
dimasukkan kedalam syurga maka sesungguhnya ia telah beruntung. Kehidupan
dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.
Hadist Rosullullah yang berkenaan dengan masalah zuhud ini diriwayatkan
bahwa seorang laki-2 menghadap Rosullullah dan berkata : Ya Rosullullah
tunjukkanlah saya satu amalan yg apabila saya amalkan Allah dan manusia akan
senang kepada saya. Rosullullah menjawab : Berlaku zuhudlah engkau didalam
dunia niscaya engkau disenangi Allah dan berlaku zuhudlah pada apa yg ada

disisi manusia niscaya engkau disenangi manusia. (Hadist Riwayat Ibnu majah
dari Sahl Bin Salad R.A).
Sungguh bodoh manusia jika ia hanya memikirkan kehidupan di dunia dan terlalu
menghambakan dirinya hanya kepada harta, jabatan dan tahta sedangkan itu semua adalah
akan hancur nantinya, sedangkan kepentingan akhirat ditinggalkannya sedangkan itulah
yang abadi nantinya.
II.2.5. Riyadho
Riyadho yaitu perbuatan yang menyenangi akan wiridan ialah berdzikir dengan memuji
akan kebasaran Illahi, karena atas karunia-nya kita dapat merasakan nikmat Iman dan
nikmat Islam serta Ihksan agar kita dapat menjadi orang-2 yang Mukhlisin.
Hendaknya kita suka ber-Riyadho karena dengan ber-Riyadho ini akan memberi pengaruh
kedalam hati yg dapat mencegah kita dari perbuatan dosa dengan senantiasa mensyukuri
nikmat-2 yg telah Allah berikan kepada kita. Inti dari Riyadho ini adalah Dzikir (Mengingat
Allah).
Dzikir terbagi menjadi 2 (dua) macam,yaitu :
1. Dzikir Didalam Hati
2. Dzikir Dengan Lisan (Dilafalkan)
Dalam setiap helaan nafasnya selalu hanya kebesaran Allah yang diucapkannya dan
didalam setiap tingkah lakunya hanya mengharapkan Ridho Allah semata.
Firman Allah SWT dalam Surat Ali Imran Ayat 41

ARTINYA :
Berkata Zakaria : Berilah Aku suatu tanda (bahwa istriku telah mengandung),
Allah berfirman : Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan
manusia selama 3 (tiga) hari, kecuali dengan isyarat, sebutlah nama Tuhanmu
sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah diwaktu petang dan di pagi hari .
AL-HADIST QUDSYI :
ARTINYA :
Wahai hambaku ! Apabila engkau ingat kepada-Ku ketika sunyi, sepi niscaya Aku
akan ingat pula kepadamu dalam sunyi sepi, dan apabila Engkau ingat kepada-Ku

dalam khalayak ramai, Aku akan ingat pula kepadamu dalam khalayak ramai yang
lebih baik dan lebih besar jumlahnya.
II.2.6. Pasrah
Pasrah yaitu menyerahkan diri kepada Allah dengan hati dan niat yg ikhlas
semata-mata hanya kepada Allah. Segala konteks Ibadah akan tiada artinya tanpa ada
kepasrahan, karena hanya Allah-lah yg menciptakan segala perkara. Ditangan-Nya Qodha
dan Qodhar bagi hamba-hamba-nya, syukurilah nikmat-Nya dan hanya kepada-Nya tempat
kita bergantung dan memohon pertolongan. Tiada daya dan upaya kita sebagai hamba-Nya
karena sesungguhnya kita adalah orang-2 yang teraniaya.
II.3. NAFSU MARDIYAH
Nafsu Mardiyah adalah konteks hubungan kita dengan Allah dan manusia (Hablum Minallah
dan Hablum Minannas), untuk senantiasa membina dan memupuk yang Hak dan membuang
atau meninggalkan perkara yg bathil.
Nafsu Mardiyah terbagi menjadi 7 (tujuh) bagian, yaitu :
1. Husnul Suluk (Menjaga Hubungan Yang Baik)
2. Tarku Masiwallah (Meninggalkan Kelakukan Yang Tidak Baik)
3. Hilim (Banyak Memaafkan)
4. Khouf (Merasa Takut kpd Azab Allah)
5. Tajjarut (Suka Bersunyi)
6. Zikrul Maut (Ingat Akan Mati)
7. Mahabbah (Mencintai & Dicintai Allah)
Firman Allah SWT dalam Surat Asy-syura Ayat 43

ARTINYA :
Tetapi orang yang bersabar dan mema`afkan sesungguhnya (perbuatan) yang
demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.
II.3.1. Husnul Suluk
Husnul suluk yaitu menjaga hubungan yang baik kepada sesama agar tidak terjadi silang
sengketa, diantaranya :

a. Menjaga Aib Orang Lain.


Didalam Al-Quran Allah telah berfirman : Barang siapa menutupi satu Aib orang
lain, maka Allah akan menutupi 10 Aib kita.
b. Menjaga Silaturahmi.
Didalam Al-Quran, Allah telah berfirman : Barang siapa yang memutuskan
hubungan silaturahmi kepada saudaranya selama 3 (tiga) hari berturut-turut
maka akan datang kepadanya Laknatullah.

Bumi

Tumbuhan Mengutuk Orang yg Memutuskan

Tali Silaturahmi
Hewan
c. Jangan Berprasangka Buruk Kepada Orang Lain
d. Saling Menghormati sesama Mahluk Allah

II.3.2. Tarku Masiwallah


Tarku Masiwallah yaitu meninggalkan kedzoliman dan meninggalkan kelakuan yg
tidak baik. Pada Hakekatnya kedzoliman bertitik tolak pada satu yaitu kedzoliman kepada
diri sendiri. Orang yg akan berbuat dzolim pada orang lain sebenarnya telah mendzolimkan
diri sendiri. Untuk hal ini tinggalkanlah kedzoliman yg datangnya dari diri kita, antara lain :
a. Dzolim dalam Perkataan
Contohnya : Tingkah lakunya tidak sesuai dengan Perkataannya.
b. Dzolim dalam Perbuatan
Contohnya : Pergi ketempat Maksiat untuk menghamburkan nafsu dan berfoya-foya.

c. Dzolim dalam Penglihatan


Contohnya : Menonton Film Porno, Melihat Keindahan Wanita hingga timbul nafsu.
d. Dzolim dalam Pendengaran
Contohnya : Sering mendengarkan Gosip / Fitnah.
Jika kita lihat perkembangan zaman sekarang ini, memang sangatlah sulit untuk
menghindari kemaksiatan-2 (dzolim) dimana yang dapat memancing kita untuk berbuat
dosa, sehubungan dengan hal tersebut, perbanyaklah dzikir kepada Allah agar kita
senantiasa mendapat Ampunan dan Rahmat serta Perlindunmgan dari Allah SWT.
II.3.3. Hilim (Memaafkan Baik Diminta / Tidak Diminta)
Hilim yaitu suatu perbuatan untuk memaafkan kesalahan orang lain baik diminta
maupun tidak diminta (Lapang Dada / Banyak Memaafkan). Hendaknya kita sebagai
manusia yg senantiasa berhubungan satu sama lain harus saling memaafkan.hendaknya
kita berhati mulia, berlapang dada, bersikap tolenran terhadap musuh ataupun orang yang
memusuhinya. Tidak melampiaskan dendam atau sakit hatinya terhadap orang itu,bahkan
dia memaafkan karna Allah semata-mata. dapat kita simpulkan bahwa memaafkan musuh
atau orang yang memusuhi kita ketika kita dapat melakukan pembalasan adalah salah satu
perbuatan yang sangat baik dan tinggi martabat dan derajatnya disisi Allh.
Firman Allah SWT dalam Surat Asy Syuura Ayat 40

ARTINYA:
Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan serupa, maka barang siapa yang
memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan ) Allah
sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang dzalim.
Firman Allah SWT dalam Surat An Nisaa Ayat 149

ARTINYA:

Jika kamu menyatakan suatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan


suatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf Lagi Maha
Kuasa.
Semoga Allah senantiasa memberikan kita sifat pemaaf, pengampun dan lapang dada. Ya
Allah jadikanlah kami orang-orang yang dapat menahan Nafsu Amarah dan orang-orang
yang suka memaafkan orang lain ... Amin Ya Rabbal Alamin.
II.3.4. Khouf
Khouf yaitu merasa takut akan azab Allah. Azab Allah ini meliputi Lahir & Bathin atau
Ghoib maupun Nyata.
Menangis karena takut akan keagungan Allah SWT, bukan menangis karena tidak
punya uang atau sesuatu yang berkaitan hanya menginginkan kebutuhan duniawi semata
atau tangisan yang direkayasa agar Doa-nya dikabulkan oleh Allah SWT, sesungguhnya
Allah Maha Melihat Lagi Maha Mengetahui.
Yang dimaksud menangis karena takut akan azab Allah atau keagungan-Nya ini
menunjukkan betapa lemah lembutnya hati kita dalam mensyukuri nikmat yang Allah
karuniakan kepada kita serta merasa takut akan azab Allah. Merasa dirinya ini kecil dimata
Allah.
Nabi Muhammad SAW kadang-kadang menangis karena kasihan kepada yang
meninggal atau yang ditinggalkan, menangis karena kuatir akan masa depan umatnya,
menangis karena Keagungan Allah ketika mendengar bacaan Al-Quran atau sedang
melakukan doa dan shalat malam.
Ada istilah yg dapat menjadikan diri kita mempunyai sifat Khouf, dengan idstilah yaitu
DUIT SEJUTA :
Huruf D : Doa, Orang yang tidak mau berdoa sesungguhnya ia adalah orang
yg sombong, maka berdoalah kepada-Nya niscaya Allah akan kabulkan Doa
itu.
Huruf U : Usaha, Allah tidak akan merubah nasib seseorang pabila orang itu tidak mau
merubahnya, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yg berusaha.
Huruf I : Iman, Dengan segala penuh keyakinan karena sesungguhnya Allah Maha Melihat
lagi maha Mengetahui.
Huruf T :Taqwa, Melakukan pekerjaan yang diridhoi oleh Allah dengan penuh keikhlasan.
Huruf SE : Senang, Yang selalu didambakan oleh setiap manusia, untuk itu cukupilah
kebutuhan hidup lahir (duniawi) dan kebutuhan bathin (agama).
Huruf JU : Jujur, Konsekwen antara ucapan dengan perbuatan dalam menjalankan yang
hak.
Huruf TA : Taat, Lakukanlah perintah Allah dan jauhkanlah larangan-Nya.

Uraian diatas, merupakan simbol agar kita selalu ingat dan terpatri dalam kehidupan kita
untuk senantiasa menjalankan hidup yang lurus dan benar.
Firman Allah SWT dalam Surat Az Zukhruf Ayat 78

ARTINYA :
Sesungguhnya kami benar-benar membawa
diantara kamu benci kepada kebenaran itu.

kepadamu,

tetap

kebanyakan

Firman Allah SWT dalam Surat Al Furqaan Ayat 30

ARTINYA :
Berkatalah Rosul :Ya Tuhanku sesungguhnya kaumku menjadikan Al-quran ini
suatu yang tidak diacuhkan.
Dilihat dari dua ayat diatas (Srt: Az-Zukhruf & Srt: Al-Furqon), sangat berkaitan erat
dimana manusia sudah berpaling dari kebenaran, mereka lebih senang menuruti hawa
nafsunya demi kesenangan sesaat.
Jika kita ingkar dengan apa-2 yg telah diberikan petunjuk dari Allah dan Rosulnya tentunya
Allah akan memberikan balasannya.
Firman Allah SWT dalam Surat Al Jaatsiyah Ayat 14

ARTINYA :
Katakanlah kepada orang-orang yang beriman hendaklah mereka memaafkan
orang-orang yang tidak takut akan hari-hari Allah, karena Dia kan membalas
suatu kaum terhadap apa yang telah mereka kerjakan".

Dari keterangan ayat diatas, sesungguhnya kita dianjurkan untuk memaafkan terhadap
orang-orang yang berbuat dosa karena untuk orang itu Allah yang menimpakan siksaan
kepada mereka. Karena sesungguhnya Allah tidak menghukum mereka melainkan
mereka sendirilah yang menghukumnya.
Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk yang lurus dan benar dan
termasuk golongan orang-orang yang takut akan azab Allah (Khouf) .... Amin Ya Rabbal
alamin.
II.3.5. Tajarut
Tajarut adalah suka bersunyi dalam melakukan dzikrullah yaitu dengan cara
Tafakur, Tadabur dan Tasyakur dalam mengingat Allah, merasakan kebesaran ciptaan
Allah serta mensyukuri nikmat-2 yang telah Allah karuniakan kepada manusia di bumi ini.
Satukanlah antara ucapan dan perbuatan, jernihkanlah pikiran, bersihkanlah hati dan juga
jagalah ucapan.

Ucapan

Perbuatan Dzikrullah
Pikiran
II.3.6. Dzikrul Maut
Setiap mahluk yang berjiwa pasti akan menghadapi mati (maut), dan kepada-Nyalah kita akan kembali. Kita akan dimintai pertanggung jawaban selama kita menjalani hidup,
apabila selama hidup kita berbuat baik ataupun buruk maka Allah yang akan menempatkan
sesuai dengan amalnya masing-masing (Syuga atau Neraka).

Apakah kita sudah siap dimintai Pertanggungjawaban dihadapan Allah Apabila


Kita Mati ???
Tentunya pertanyaan ini kita kembalikan kepada diri kita masing-masing. Tetapi jawaban
yang pastinya adalah siap atau tidak siap kita akan mati. Hidup merupakan modal yang
akan dimintai pertanggung jawabannya di Akhirat kelak.
Firman allah SWT dalam Surat Al Baqarah Ayat 28

ARTINYA :
Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah
menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkanNya kembali.
Kemudian kepadaNya-lah kamu dikembalikan.
Firman Allah SWT dalam Surat Al Waaqiah Ayat 60 62

ARTINYA :
o Ayat 60 : Kami telah menentukan kematian diantara kamu dan kami sekali-kali
tidak dapat dikalahkan.
o Ayat 61 : Untuk menggantikan kamu dengan orang-orang yang seperti kamu
(dalam dunia) dan menciptakan kamu kelak (Akhirat) dalam
keadaan yang kamu tidak ketahui.
o Ayat 62 : Dan sesungguhnya kamu telah mengetahui penciptaan yang pertama,
maka mengapakah kamu tidak mengambil pelajaran (untuk
penciptaan yang ke-dua)?.
Firman Allah SWT dalam Surat Ash Shaaffaat Ayat 84

ARTINYA :
(Ingatlah !) ketika Ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci.

Dari keterangan ayat-ayat diatas, jelas sekali kita akan dimintai pertanggung jawaban dan
akan diganjar oleh Allah. Hendaklah kita ingat akan mati dan berusahalah agar hidup ini
selalu berada dijalan-Nya. Belajarlah kita sebaik-baiknya agar kita tidak salah arah dan
carilah guru yang benar-benar bijaksana dalam memberikan petunjuk-petunjuk-Nya.
Firman Allah SWT dalam Surat Yaasiin Ayat 21

ARTINYA :
Ikutilah orang-orang yang tiada meminta balasan kepadamu ; dan mereka
adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.
Istilah Yang Bijak dari keterangan Ayat diatas adalah : Guru Yang Bijaksana adalah
Guru yang tidak pernah meminta imbalan kepada muridnya, murid yang pandai
adalah murid yang dapat menyenangi gurunya.
Semoga Allah selalu membimbing kita dan mengarahkan kita kepada guru-2 yg bijak
dan mematikan kita dengan mati Husnul Khotimah ...Amin ya Rabbal Alamin.
II.3.7. Mahabbah
Mahabbah yaitu berusaha mencintai Allah maka sebaliknya Allah-pun akan mencintai kita.
Allah SWT dengan karunia dan kemurahan-Nya menetapkan bagi orang yg saling berkawan
dan tulus ikhlas, suci karena Allah untuk menerima cinta dan kasih sayang-Nya.
Cinta allah kepada hambanya berarti Allah memberikan Rahmat kepada mereka.
Adapun orang yg dicintai dan dikasihani Allah adalah orang-2 yang membuang nafsu-nafsu
yang tidak baik (jelek), yaitu :
1. Nafsu Amarah
2. Nafsu Lawamah
3. Nafsu Sawiyah
4. Nafsu Mulahamah
Dan selalu mengerjakan nafsu-nafsu yang selalu mengajak dalam kebaikan,
yaitu :
1. Nafsu Mutmainah
2. Nafsu Rhodiyah
3. Nafsu Mardiyah

4. Nafsu Kamillah
Jika kita memang mencintai Allah dan Rosul-Nya, kerjakan dan laksanakanlah
perintah Allah, Sunnah Rosullullah, Ijma Ulama dan Maunatnya para Ulama. Karena hukumhukum itu merupakan jalan agar kita dicintai allah SWT.
II.4. NAFSU KAMILAH
Nafsu Kamilah yaitu nafsu yang mengajak untuk bersikap tenang, menjernihkan
pikiran, membersihkan hati untuk selalu beribadah kepada Allah SWT.
Untuk menjalankan Nafsu Kamilah ini terbagi menjadi 7 (tujuh) bagian, yaitu :
1. Istiqomah (Ketetapan Hati)
2. Siqqoh (Jujur Antara Perbuatan Dan Perkataan)
3. Muroqobah (Merasa Selalu Diawasi Allah)
4. Tauhid (Ingin bersatu Kepada Allah)
5. Fatwa (Memberi Wejangan Kepada Umat)
6. Dzikir Dan Doa (Mengamalkannya)
7. Khofi (Limpahan Faidi Allah)
Dalam mengisi Nafsu Kamilah ini ada beberapa firman Allah yang dapat menjadikan
kita pegangan di dalam kehidupan kita sehari-hari, antara lain :
Firman Allah SWT dalam Surat Al Mujaadilah Ayat 7

ARTINYA :
Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang
ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga
orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima
orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara
(jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama

mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada


mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui segala sesuatu.
Firman Allah SWT dalam Surat Al Mujaadilah Ayat 8

ARTINYA :
Apakah tiada kamu perhatikan orang-orang yang telah dilarang mengadakan
pembicaraan rahasia, kemudian mereka kembali (mengerjakan) larangan itu dan
mereka mengadakan pembicaraan rahasia untuk berbuat dosa, permusuhan dan
durhaka kepada Rasul. Dan apabila mereka datang kepadamu, mereka
mengucapkan salam kepadamu dengan memberi salam yang bukan sebagai yang
ditentukan Allah untukmu. Dan mereka mengatakan pada diri mereka sendiri:
"Mengapa Allah tiada menyiksa kita disebabkan apa yang kita katakan itu?"
Cukuplah bagi mereka neraka Jahannam yang akan mereka masuki. Dan neraka
itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.
Firman Allah SWT dalam Surat Al Mujaadilah Ayat 9

ARTINYA :

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan rahasia,


janganlah kamu membicarakan tentang membuat dosa, permusuhan dan durhaka
kepada Rasul. Dan bicarakanlah tentang membuat kebajikan dan takwa. Dan
bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kamu akan dikembalikan.
Firman Allah SWT dalam Surat Al Mujaadilah Ayat 10

ARTINYA :
Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari syaitan, supaya orang-orang
yang beriman itu berduka cita, sedang pembicaraan itu tiadalah memberi
mudharat sedikitpun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah dan kepada Allahlah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakkal.
Firman Allah SWT dalam Surat Al Mujaadilah Ayat 19

ARTINYA :
Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah;
mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan
syaitan itulah golongan yang merugi.
Firman Allah SWT dalam Surat Al Mujaadilah Ayat 22

ARTINYA :
Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari
akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan
Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudarasaudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah
menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan
pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam
surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah
ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)
-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan
Allah itulah golongan yang beruntung.
II.4.1. Istiqomah
Istiqomah yaitu Berketatapan (Yakin) Hati Akan Kebenaran-Kebenaran Ayat-ayat Allah.
Maksud dari Istiqomah disini adalah janganlah kita sekali-kali ragu atau tidak yakin akan
kebenaran dari ayat-ayat Allah (Al-Quran). Karena sesungguhnya kebenaran itu datangnya
dari Allah dan akan kembali lagi kepada Allah Yang Maha Pencipta Lagi Maha Kuasa.
Firman Allah SWT dalam Surat Fush Shilat Ayat 30

ARTINYA :
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian
mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada
mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah
kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang
telah dijanjikan Allah kepadamu".
Firman Allah SWT dalam Surat Fush Shilat Ayat 35

ARTINYA :

Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang


yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang
mempunyai keberuntungan yang besar.
Firman Allah SWT dalam Surat Fush Shilat Ayat 54

ARTINYA :
Ingatlah bahwa sesungguhnya mereka adalah dalam keraguan tentang
pertemuan dengan Tuhan mereka. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Dia Maha
Meliputi segala sesuatu.
Firman Allah SWT dalam Surat Fush Shilat Ayat 39

ARTINYA :
Dan sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan) -Nya bahwa kamu melihat bumi itu
kering tandus, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak
dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya tentu dapat
menghidupkan yang mati; sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Dari uraian ayat-ayat diatas, maka jelas sekali bagi kita bahwa janganlah kita sekali-kali
ragu akan Kebesaran dan Ke-Esaan Allah. Sungguh !!! Allah telah menunjukkan Segala
Kebesaran-Nya kepada kita manusia dan Tidak Allah Ciptakan Langit dan Bumi beserta
isinya keculai hanya untuk manusia dan tidak Pula Allah Jadikan Bumi dan Langit beserta
isinya kecuali hanya sujud dan patuh kepada-Nya serta Allah telah menciptakan semuanya
dengan berpasang-pasangan (laki-2 dgn Perempuan, Siang dgn Malam, Baik dgn Jelek, gelap
dgn terang dll) dan Allah pula yang mempunyai Hak untuk menghidupkan dan mamatikan
ciptaan-Nya, ini semua yaitu agar ada keseimbangan di alam dunia.
Allah juga telah berketetapan atau berjanji kepada hamba-hamba yang berbuat baik dan
berbuat jahat. Semua pilihan itu Allah kembalikan kepada kita (manusia) untuk memilih,
Apakah memilih dijalan yang Allah Ridhoi atau di jalan yang Allah Murkai ?
Dan Janganlah kita takut dan bersedih, jika kita yakin akan kebenaran ayat-ayat (Al-Quran)
Allah. Karena apabila kita sudah Yakin (Istiqomah) akan Kebesaran dan Ke-Esaan Allah maka
bergembiralah karena akan datang kepada kita Nikmat Allah yang telah dijanjikan karena
Allah Maha Menepati Segala Janji-janji-Nya.

Semoga dengan segala Rahmat dan Maghfiroh-Nya kita selalu Dilindungi dan Diberi
Keyakinan akan Kebenaran Al-Quran serta dimasukkan kita kedalam golongan orang-orang
yang Istiqomah dengan Iman dan Islam ... Amin Ya Rabbal Alamin.
II.4.2. Siqqoh
Siqqoh yaitu jujur antara perkataan dan perbuatan. Alangkah sulitnya dijaman
sekarang ini mencari orang-orang yang benar, jujur dalam segala ucapan dan tindakkanya.
Padahal berkata benar dan jujur bukan hanya menguntungkan bagi orang lain saja, akan
tetapi menguntungkan diri kita sendiri. Dia akan memperoleh kepercayaan dari khalayak
ramai dan sudah jelas apabila kita berdagang akan memperoleh pasaran yang luas, apabila
menjadi pejabat dia akan dihormati dan disegani oleh bawahannya dan masyarakat. Dan
apabila menjadi karyawan ia selalu dipercaya oleh atasannya. Menepati janji apabila
menjanjikan dan apabila diberi kepercayaan ia amanat.
Banyak sudah orang yang jatuh dan terhina karena setiap perkataan (ucapannya)
selalu bertolak belakang dengan apa yang ia perbuat sehari-hari. Seperti seorang
Penceramah, ia selalu ceramah kepada umat atau pengikutnya untuk melakukan perbuatan
yang baik dan meninggalkan yang perbuatan yang buruk (Mengajak shalat, sedekah, zakat,
puasa dll) sementara dirinya sendiri tidak melakukannya atau jarang melakukan perbuatan
yang beik sebagai contoh atau suri tauladan kepada pengikutnya.
Tidak jujur dalam perkataan dan perbuatan ini mungkin juga bisa disebut
sebagai budaya manusia, dimana sejak dahulu hingga sekarang perbuatan ini sudah
dilakukan dan ini sudah merupakan penyakit hati manusia yang sangat sulit dihilangkan
bahkan ada sebagian manusia yang mengambil keuntungan dari perbuatan yang tidak jujur
ini. Sebagai contoh yang sangat realita, seseorang menyuruh atau berceramah kepada
pengikutnya untuk menyisihkan sebagian rezekinya buat pembangunan mesjid atau
membantu orang miskin tetapi dirinya tidak ikut andil dalam menyumbangkan rezekinya
padahal dirinya sangat mampu bahkan yang sangat parahnya sudah tidak ikut
menyumbang tetapi hasil dari sumbangan orang lain ia gunakan untuk keperluannya
pribadi. Contoh lainnya, Seorang Pemimpin disetiap forum atau acara selalu mengajak
rakyatnya untuk hidup prihatin dan tidak boros karena kondisi negara sedsang terkena krisis
ekonomi tetapi dilain saat Pemimpin tersebut selalu menghamburk-hamburkan uang negara
untuk keperluan diri pribadi atau golongannya sendiri. Dan didalam Al-Quran sangat jelas
bahwa Allah akan memberikan Azab bagi manusia yang melakukan perbuatan ini tanpa ia
sadari kapan datangnya.
Dalam konteks Siqqoh di Bab Marifat ini, kita dianjurkan untuk selalu meningkatkan dan
melakukan perbuatan jujur antara perkataan dan perbuatan didalam kehidupan kita seharihari. Dan dalam menjalankan itu terlebih dahulu kita harus melakukan beberapa hal, anatar
lain :
1. Berusaha untuk jujur kepada Allah
2. Berusaha untuk jujur kepada Diri Sendiri
3. Perbanyak Istigfar atau ingat kepada Allah
4. Berusaha meninggalkan apa yang dilarang dan mengerjakan apa yang
diperintahkan oleh Allah SWT.

Jika kita sudah dapat menjalankan itu semua, Insya Allah kita selalu diberikan Hidayah,
Rahmat dan Maghfiroh serta Perlindungan dari Allah dan Insya Allah akan diangkat derajat
kita ketempat orang-orang yang selalu di-Ridhoi Allah SWT dalam setiap langkah dan
ucapan kita. Sesungguhnya Siqqoh ini adalah cermin dari akhlaqul Karimah yang harus kita
jaga dan kita pupuk agar tercermin dan memancarkan cahaya kebenaran bagi manusia
lainnya.
Dan semoga kita semua selalu dibukakan pintu hati kita dan selalu diberikan petunjuk
oleh Allah SWT agar kita menjadi orang-orang yang selalu melakukan perbuatan juju
didalam setiap ucapan dan perbuatan kita sehari-hari Amin Ya Robbal Alamin.
.II.4.3. Murroqobah
Murroqobah yaitu merasa selalu diawasi Allah. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui, Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Halus yang mengetahui kecil-kecilnya
perkara. Maka tidak ada yang luput dari semua perbuatan kita di dunia oleh Allah SWT.
Untuk meningkatkan keyakinan kita agar kita selalu merasa diawasi oleh Allah didalam
setiap perbuatan kita di dunia ada beberapa macam cara, antara lain :
1. Menjadikan Ibadah (Shalat, Puasa, Zakat, Sedekah dll) kita sebagai suatu kebutuhan
dan bukan suatu kewajiban.
2. Yakin bahwa Allah ada dimana-mana yang selalu melihat kita, dan Allah Tidak Pernah
Tidur
3. Segera Mohon Ampun (Istigfar) & Introspeksi Diri jika melakukan kesalahan
4. Ikhlas tanpa pamrih bila melakukan sesuatu dan hanya mengharapkan Ridho Allah
semata
5. Yakin bahwa apa-apa yang kita miliki dan dapati hanyalah titipan Allah dan bersifat
sementara.
6. Yakin bahwa Nikmat Allah yang hakiki dan abadi hanyalah di Alam Akhirat nanti.
7. Berhati-hati dalam setiap langkah
8. Selalu menghormati orang lain sebagai sesama Mahluk Allah.
Jika kita sudah dapat melakukan itu semua, maka yang ada pada diri kita adalah
selalu pasrah dan berusaha hanya untuk mendapatkan ke-Ridhoan Allah semata. Dan kita
sebagai manusia tidak memiliki daya upaya apapun, semua kita kembalikan kepada
keputusan Allah. Dan selalu bersyukur atas apa-apa yang diberikan Allah kepada kita baik
berupa nikmat maupun berupa ujian.
Semoga Allah SWT memasukkan kita semua kedalam golongan orang-orang yang
selalu Dicintai dan Disayangi serta Di-Ridhoi Amin Ya Robbal Alamin.

II.4.4. Tauhid

Tauhid yaitu Ingin bersatu kepada Allah, jika kita ingin bersatu kepada Allah hendaklah
kita ketahui bawasannya tidak sempurna seseorang mengenal dirinya, dan mengetahui ia
yang akan mula-mula sekali dijadikan oleh Allah SWT. Sesungguhnya Allah telah menjadikan
sekalian Alam ini dari pada Nur Muhammad SAW.
Dari hal ini hendaklah kita pahami akan diri kita baik yang zhohir maupaun bathin. Dan
demikian pula asal kejadian semesta alam ini dan isinya, semuanya berasal dari Nur
Muhammad , yaitu yang berasal dari pada zat Allah yang Mutlak dan yang Qodim dan yang
Baqo.
Hendaklah dari Risalah Allah diatas, Teguhkanlah Tauhid kita bawasannya Tiada Tuhan
selain Allah dan kita manusia tidak patut memiliki sifat sombong karena kita tidak memiliki
daya upaya, kita hanya memiliki hak meminta tapi tidak mempunyai hak untuk menentukan
apakah permintaan kita itu berhasil atau tidak. Hanya Allah yang memiliki hak untuk
menentukan nasib tiap-tiap mahluk-Nya.
Firman Allah SWT dalam Surat Asy Syuura Ayat 13

ARTINYA :
Dia telah mensyari`atkan kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya
kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah
Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan
janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang
musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama
itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama) -Nya
orang yang kembali (kepada-Nya).
Firman Allah SWT dalam Surat Al Ahqaaf Ayat 13

ARTINYA :
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah",
kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka
dan mereka tiada (pula) berduka cita.
Dari uraian Ayat-ayat diatas, maka jelaslah bagi kita semua bahwa sesungguhnya kita
sebagai hamba Allah harus yakin dan percaya bahwa Allah itu Maha Esa dan kita harus
senantiasa melakukan dzikir dengan Meng-Esakan Allah.

TIADA TUHAN SELAIN ALLAH


Hal ini perlu kita lakukan agar Tauhid kita menjadi kuat dan diharapkan akan timbul
didalam diri kita bahwa tidak ada lagi kekhawatiran dengan apa yang akan kita hadapi
nantinya karena didalam diri sudah terpatri Hanya Allah-lah Tempat-Ku Berserah
Diri, dan selain kita melakukan dzikir, kita juga harus menyeimbangkan dengan tingkah
laku dan ucapan kita sehari-hari didalam bermasyarakat dan berbangsa.
Sebelum menjalankan itu semua, ada beberapa yang harus kita yakini dan percayai, antara
lain :
1. Beriman (Percaya) kepada Rukun Islam
2. Beriman (Percaya) kepada Rukun Iman
3. Beriman (Percaya) kepada Hukum-Hukum Allah
4. Beriman (Percaya) Azab dan Nikmat Allah
II.4.5. Fatwa
Fatwa yaitu memberi wejangan kepada umat. Sesungguhnya jika kita telah diberi
nikmat Ilmu oloeh Allah SWT, maka kita sebagai Hamba Allah Wajib Hukumnya untuk
menyampaikan ilmu itu kepada umat atau orang yang tahu. Ilmu itu ibarat Amanat, dari
sesuatu yang tidak kita ketahui menjadi tahu karena hanya kehendak Allah-lah itu dapat
terjadi, sehingga janganlah kita memiliki sifat sombong atau takabur bahwa Ilmu Yang Kita
Miliki Sekarang adalah Milik Kita. Ibarat kita menanam sebuah pohon, jika kita beri pupuk
dan sirami setiap hari maka lama kelamaan pohon itu akan tumbuh menjadi besar dan
berbuah. Pohon yang besar berguna untuk melindungi mahluk-mahluk yang lemah (tempat
berteduh dan bersarang burung) dan buahnya manis untuk dinikmati oleh semua mahluk
(manusia dan Hewan). Begitu juga halnya ilmu ibarat sebuah pohon, apabila kita terus
menyampaikan ilmu yang bermanfaat (Ilmu dari Allah) itu kepada umat, maka lama
kelamaan ilmu yang kita sampaikan itu dapat memayungi umat juga sebagai jemabatan
bagi umat untuk lebih mengenalai Pencipta-nya. Jika kita sadar bahwa ilmu yang kita miliki
itu hanyalah titipan Allah yang harus kita sampaikan kepada umat, seperti ada pepatah AlQuran Berikan / Sampaikanlah Ilmu itu Walau Hanya Satu Ayat Saja. Maka sudah

selayaknya kita yang mengaku seorang Muslim dan Beriman untuk tidak pelit menyimpan
Ilmu yang diberikan itu.
Dan didalam rangka mempelajari TaAwudjz pada Bab Marifat ini, kita sudah harus sadar
dan yakin bahwa ilmu yang kita milki harus kita sampaikan kepada umat dan tidak kita
simpan ilmu kebenaran itu walalu hanya satu ayat saja.
Firman Allah SWT dalam Surat Al Ahzab Ayat 46

ARTINYA :
Dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi
cahaya yang menerangi.

Bila kita lihat dari keterangan Ayat diatas, maka ada beberapa adab atau cara dalam
kita menyampaikan Ilmu kepada Umat (Fatwa) agar umat dapat memahami dan mengerti
dengan sebenar-benarnya yaitu antara lain :
1. Sebelum Ilmu itu kita sampaikan kepada Umat, hendaknya kita amalkan dan kita
kerjakan dulu untuk diri sendiri didalam kehidupan kita sehari-hari (Nasehatilah diri
sendiri Baru Dapat Menasehati Orang Lain), sehingga menjadi contoh dan suri tauladan
bagi umat.
2. Mengetahui Isi, Makna serta Arti yang sesungguhnya dari Ilmu yang akan kita sampaikan
itu, baik secara Dzohir maupun Bathin.
3. Bersikap Arif dan Bijaksana dalam menyampaikan Ilmu, dan beradaptasi kepada Kultur
Budaya setempat, sehingga umat yang menerimanya dapat sungguh-sungguh mengerti
dan mengamalkannya dengan hati ikhlas dan penuh keyakinan bahwa sesungguhnya
ilmu yang diberikan atau disampaikan oleh kita itu benar-benar datangnya dari Allah
bukan rekayasa kita semata.
Semoga kita semua selalu diberikan Petunjuk serta Ilmu yang bermanfaat bagi diri kita
sendiri oleh Allah SWT dan Kita selalu dibukakan Hati dan Pikiran yang jernih dan penuh
ikhlas untuk menyampaikan Ilmu Yang Kita Terima itu kepada Umat ... Amin Ya Robbal
Alamin.
II.4.6. Dzikir dan Doa
Dzikir dan Do yaitu Mengamalkannya, maksudnya adalah setelah kita mempelajari
Bab Syareat dan Tarekat maka didalam Bab Marifat ini adalah Bentuk Pengamalan didalam
Kehidupan Kita sehari-hari dalam rangka mencari Ridho Allah, dari pengetahuan kita tentang
semua Hukum-hukum Allah dan Sifat-sifat Allah serta Nafsu yang Baik dan Buruk.

Di bab-bab terdahulu kita dianjurkan untuk selalu ingat akan Kebesaran-kebesaran Allah
dengan bentuk Dzikir dan Doa. Konotasinya adalah, Basahnya lidah kita dan Helaan Nafas
Kita Hendaknya selalu berisi hanya Kebesaran-kebesaran Allah semata dan Selalu kita MengAgungkan, Men-Sucikan dan Me-Muji Nama Allah.
Dzikir itu adalah bentuk pengamalan kita untuk selalu Mem-Besarkan, Men-Sucikan Nama
Allah dalam konteks kita sebagai Mahkluk dgn Allah sebagai Pencipta, sedangkan Doa yang
selama ini kita jalani adalah juga bentuk dari pengakuan kita bahwa hanya kepada Allah
tempat kita Meminta dan Memohon juga dalam konteks kita sebagai Mahkluk dgn Allah
sebagai Pencipta.
Sedangkan dalam konteks pada Bab Marifat ini adalah selain kita sebagai Mahluk Ciptaan
Allah juga sekaligus kita sebagai Makhluk Sosial yang selalu berinteraksi dengan makhluk
lainnya.

DZIKIR Hat
i yg Bersih

Pikiran yg Jernih

Ucapan
DOA Perbuatan
Dalam mencapai apa yang dinamakan Ridho Allah pada konteks Dzikir dan Doa adalah kita
harus mengamalkannya dalam dua arah yaitu hubungan Vertical yaitu dengan Allah dan
hubungan Horizontal yaitu dengan makhluk lainnya.
Mungkin yang akan berat kita jalani adalah hubungan kita secara Horizontal yaitu dengan
makhluk lainnya. Banyak manusia yang dalam pengamalan Dzikir dan Doa kepada Allah
dapat berhasil tetapi begitu manusia itu terjun kedalam hubungan dengan makhluk lainnya
ia tidak berhasil. Seperti contoh ; Seorang Ulama Besar dan Masyur lantaran ia tergoda
dengan kenikmatan dunia (Harta, Tahta dan Jabatan) , maka ia akan jatuh kedalam jurang
kehinaan. Itu semua karena ia tidak mengamalkan Dzikir dan Doa yang selama ini selalu ia
ucapkan atau lafadkan.
a. Dzikir
Kita sering atau mungkin selalu ber-dzikir Allahu Akbar (Allah Maha Besar) atau La
Illaha Illallah(Tiada Tuhan Selain Allah) atau Astaghfirllahaladzim(Mohon

Ampun), sementara didalam kenyataannya kita tidak menunjukkan sifat seorang yang
hanya Menghambakan Diri Kepada Allah justru banyak diantara kita terjebak
didalam kehidupan dunia yang sementara ini ; seperti seorang bawahan dengan atasan,
didalam ibadah ia selalu mengatakan bahwa Ia adalah Hamba Allah tetapi setelah ia
bekerja, demi untuk kebutuhan Jasmani (Uang) ia rela menghambakan diri (Menjilat)
Atasannya atau ia acuh begitu Atasannya menjelekkan Agamanya atau Allah. Atau
didalam setiap ibadah kita selalu meminta Ampunan kepada Allah tetapi begitu ia selesai
beribadah perbuatan maksiatpun ia jalani kembali. Bukankah ini semua hanyalah
perbuatan yang sia-sia dan hanya mendapatkan Murka Allah saja. Adakah
Pengamalan dalam konteks Dzikir disini ??? (Jawabannya ada didalam diri kita
masing-2)
b. Doa
Didalam setiap Shalat mungkin kita Ber-Doa Ya Allah Berilah Hamba-mu Rizky Yang
Halal Dan Pekerjaan, sementara dalam prakteknya kita tidak berusaha untuk mencari
rizky dan pekerjaan, kita hanya bermalas-malasan menunggu Rizky itu datang kepada kita
atau malah kita selalu memakan rizky yang kita tahu itu adalah haram. Adakah
Pengamalan dalam konteks Doa disini ??? (Jawabannya ada didalam diri kita
masing-2)
Marilah kita semua setelah melihat contoh diatas untuk segera berintrospeksi diri ;
Apakah Kita Selama Ini Sudah Mengamalkan Dzikir dan Doa ?
Marilah mulai sekarang kita semua untuk mencoba belajar untuk mengamalkan Dzikir dan
Doa ini didalam kehidupan kita sehari-hari. Sebelum itu semua terlebih dahulu kita harus
mengetahui arti Dzikir dan Doa yang di Ridhoi Allah itu.
o Dzikir adalah Meng-Agungkan, Men-Sucikan, Mengucap Tasbih dan Melakukan
Pujian-pujian hanya kepada Allah SWT Semata, dengan menyatukan Hati,
Pikiran dan Lisan serta Ikhlas. Tak ada yang diingatnya kecuali hanya Nama Allah,
Tak ada nafas yang dihembuskan kecuali dengan lafadz Allah dan Tak ada yang
diucapkan serta diperbuatnya kecuali hanya Nama Allah.
Jika kita sudah dapat menyatukan Hati, Pikiran, Lisan dan Perbuatan kedalam satu
kesatuan yang utuh yaitu Hanya Nama Allah Yang Selalu Disebut, maka akan timbullah
atau terciptalah yang dinamakan Cahaya Ke-Imanan, Cahaya Kebenaran, Cahaya
Kesabarandan dan Cahaya Kepasrahan. Dan Allah akan selalu menjaga dan melindungi
kita dengan Rahmat, Maghfiroh dan Ridho-Nya. Disisi lainpun Seluruh anggota badanpun
akan ikut mengontrol dan menjaga kita dari perbuatan maksiat.
o Doa adalah Menyeru, Memohon dan Mengharap sesuatu dari Allah Yang Maha
Pemurah dan Maha Pencipta. Didalam konteks Marifat, Doa Yang Dimaksud adalah
Kepasrahan dan berserah diri secara totalitas hanya kepada Allah karena hanya kepada
Allah-lah tempat kita Meminta. Ber-Doa yang sesungguhnya tidak hanya
dilakukan pada saat kita kesusahan saja tetapi disaat kita mendapatkan
nikmat juga kita harus berdoa (Bersyukur). Seperti dzikir, didalam berdoa-pun
kita harus menyatukan hati, pikiran, lisan dan perbuatan menjadi satu kesatuan yang
utuh sehingga apapun yang diberikan Allah kepada kita itu adalah nikmat yang harus
kita syukuri tanpa ada keluhan atau ketidak ikhlasan.
Sesungguhnya Allah telah mengilhamkan kepada manusia sifat yang baik dan
buruk, disinilah kita harus berhati-hati dan waspada, karena justru godaan Syaetan yang

terberat adalah disaat kita sedang mendekatkan diri kepada Allah dan selalu Allah
memberikan kebebasan kepada kita untuk memilih jalan yang akan kita tempuh.

II.4.7. Khofi
Khofi yaitu Limpahan Faidi Allah. Janganlah kita ragu dan takut dalam menegakkan
Kalamullah dimanapun kita berada, yakinlah Allah beserta Rosul akan senantiasa
membantu kita. Tegakkanlah yang Hak (Kebenaran) dan Perangilah Kebathilan (Maksiat)
walaupun kita harus kehilangan harta, tahta dan nyawa. Bukalah mata hati kita lebar-lebar
untuk dapat membedakan yang Hak dan Bathil, dan semampu kita berusaha untuk
meninggalkan hal-hal yang berbau maksiat.
Firman Allah SWT dalam Surat Muhammad Ayat 7

ARTINYA :
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia
akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.
Firman Allah SWT dalam Surat Shaad Ayat 35 39

ARTINYA :
o Ayat 35 : Ia berkata: "Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku
kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku,
sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi".
o Ayat 36 : Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan
baik menurut ke mana saja yang dikehendakinya,
o Ayat 37 : dan (Kami tundukkan pula kepadanya) syaitan-syaitan, semuanya ahli
bangunan dan penyelam,

o Ayat 38 : dan syaitan yang lain yang terikat dalam belenggu.


o Ayat 39 : Inilah anugerah Kami, maka berikanlah (kepada orang lain) atau
tahanlah (untuk dirimu sendiri) dengan tiada pertanggungan jawab.
Dari uraian ayat-ayat diatas, jelas sudah bahwasannya jika Allah sudah berkehendak
maka tidak ada satupun makhluk didunia ini yang dapat merubahnya. Seperti kisa Nabi
Sulaiman AS, Allah telah memberikan limpahan Faidi kepada Nabi Sulaiman AS berupa
kekayaan, menaklukkan syaetan dan angin.
Tentunya perjalanan untuk mendapatkan hal itu tidaklah mudah karena syaetan
tentu tidak akan tinggal diam, dan dia akan selalu berusaha untuk mengganggu dari setiap
penjuru kelemahan manusia. Dan waspadalah kita semua kepada Mulut karena dari
mulutlah Manusia bisa terangkat ketempat yang tertinggi dan karena mulut pula manusia
bisa jatuh kedalam jurang kehinaan dan kenistaan. Pandai-pandailah kita menyimpan
amanat dan rahasia seorang dan jangan pula kita menjelekkan dan menghina orang lain
serta jagalah aib seseorang niscaya Allah akan menutupi sepuluh aib kita kepada orang lain.
Semoga Allah SWT menjadikan kita orang-orang yang Khofi yaitu orang-orang yang
mendapatkan limpahan Faidi Allah juga selalu mendapatkan perlindungan dan pertolonganNya serta meneguhkan kedudukan kita yang lebih utama ialah Iman dan Islam agar kita
selalu berada dalam Agama Allah ... Amin Ya Robbal Alamin.

III.
AL
TAJALII

Al-Tajalii adalah dimana tingkatan Ke-Imanan manusia telah merasa dengan


keyakinan penuh (tidak ragu-ragu) bahwa segala apa perbuatannya disaksikan
dan dilihat oleh Allah SWT, baik secara Ghaib maupun secara Nyata, sehingga Ia
selalu patuh dan taat kepada Allah dan Rosul-Nya antara Lisan dan Perbuatannya selalu
sesuai dengan kehendak Illahi Robbi.
Pada tingkatan ini, manusia sudah bisa meninggalkan sifat Toma (Serakah) dalam mengisi
dinamika kehidupannya. Di dalam Al-Tajalii terbagi menjadi 4 (empat) bagian yang harus kita
amalkan didalam kehidupan kita sehari-hari, yaitu :
1. Shidiq (Berlaku jujur dan Terpercaya)
2. Memegang Teguh Amanah Allah
3. Mengamalkan Tablig
4. Menyampaikan Fathonah
III.1. Shidiq
Berlaku jujur, terpercaya dan tidak mengerjakan hal-hal yang bukan haknya atau
maqomnya serta patuh terhadap hukum dan kewajiban Agama.

III.2. Amanah
Bertanggung jawab secara baik dan benar dan Ikhlas terhadap semua titipan
Allah baik berupa Harta, Ilmu, keluarga dan jiwa. Tidak pernah ingkar terhadap janji
diantara sesama manusia, dapat menjaga kerukunan, bermusyawarah, berbangsa serta
bernegara seta menjaga alam semesta.
III.3. Tablig
Melakukan siar Islam, Ukhuwah Islamiah, Bashoriah dan Wathoniyah sesuai
dengan semangat Amar Maruf Nahi Munkar dan berketetapan hati mengamalkan
Sunnah Rosul.
III.4. Fathonah
Berusaha meraih pengetahuan sebanyak-banyaknya baik ilmu Muamalah (Dunia)
maupun Ilmu Mukhasafa (Ilmu Agama) kemudian menyampaikan ilmu itu dengan
adil, arif, bijaksana serta sanggup mengeluarkan Fatwa atau Ijma, hal-hal yang
tidak sesuai dengan Al-Quran dan Al-Ghadist di tinggalkan
Firman Allah SWT dalam Surat Al Anaam Ayat 19

ARTINYA :
Katakanlah: "Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?" Katakanlah: "Allah. Dia
menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al Qur'an ini diwahyukan kepadaku
supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang
yang sampai Al Qur'an (kepadanya). Apakah sesungguhnya kamu mengakui
bahwa ada tuhan-tuhan yang lain di samping Allah?" Katakanlah: "Aku tidak
mengakui". Katakanlah: "Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan
sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan
Allah)".
Firman Allah SWT dalam Surat Al Anaam Ayat 24

ARTINYA :
Lihatlah, bagaimana mereka telah berdusta terhadap diri mereka sendiri dan
hilanglah daripada mereka sembahan-sembahan yang dahulu mereka adaadakan.
Firman Allah SWT dalam Surat Az Zukhruf Ayat 78

ARTINYA :
Sesungguhnya Kami benar-benar telah membawa kebenaran kepada kamu tetapi
kebanyakan di antara kamu benci pada kebenaran itu.
Firman Allah SWT dalam Surat Al Hadiid Ayat 20

ARTINYA :
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan
suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta
berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanamtanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering
dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti)
ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan
dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.
Firman Allah SWT dalam Surat Al Jaatsiyah Ayat 23

ARTINYA :
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai
tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah
mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas
penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah
(membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?
Sungguh Allah SWT telah memberikan petunjuk yang benar dan sudah
sepatutnya kita sebagai Hamba Allah untuk tidak ragu sedikitpun akan kebenaran
Ayat-ayat Allah tersebut. Dan janganlah pula kita, bila ingin selamat Dunia dan Akhirat
serta untuk mendapatkan Ridho Allah untuk sekali-kali membelakangi Al-Quran karena jika
sudah meninggalkan Al-Quran dari pedoman hidup kita, maka akan datanglah Azab yang
pedih seta ditutuplah pendengaran dan hati kita oleh Allah. Dan jadikanlah kisah-kisah
terdahulu dari umat-umat yang lalu menjadi pelajaran untuk kita.
Seyogyanyalah kita yang sudah tahu dan mengerti akan kebenaran ayat-ayat
Allah untuk terus berusaha semampu kita menegakkan Kalamullah. Marilah kita
bersama-sama Menegakkan yang Hak (Kebenaran) dan Membrantas Ke-Bathilan
(Kemunkaran), karena Allah beserta Rosul pasti akan menolong dan melindungi kita dengan
cahaya Ke-Imanan dan Ke-Taqwaan.
Allah-pun telah memberitahukan melalui Al-Quran, bahwa apa-apa yang ada di
dunia ini hanyalah sebuah permainan. Dunia hanya berisi Kesenangan, Kelalaian,
Kemegahan dan tipu daya, sehingga jika kita sudah masuk perangkap indah dan
gemerlapnya dunia yang memperdaya ini maka dengan secara tidak disadari kita
sudah memper-Tuhankan Nafsu kita. Karena jelaslah sekali bahwa Indah dan
gemerlapnya dunia ini akan membangkitkan nafsu kita yang berupa keburukkan,
kesombongan, keangkuhan, kemunafikkan dan kemunkaran. Dan Allah akan membiarkan
hambanya jika hambanya sudah memilih untuk menyembah dan memper-Tuhankan Dunia
dan Hawa Nafsunya. Jika demikian jadinya, maka ; Siapakah Yang Akan Membuka Mata
Hati Kita, Jika Allah Sang Maha Pencipta Sudah Menutup Mata Hati dan
Pendengaran Kita ??? (Naudzubillah Mindzalik !!!), Semoga Allah menjadikan kita
sebagai hamba-hamba-Nya yang selalu dibukakan Mata Hati dan Pendengaran
Kita ... Amin Ya Robbal Alamin.
Marilah kita semua yang sudah mengetahui hal ini untuk bersama-sama dengan penuh rasa
persatuan dan persaudaraan untuk menegakkan Amar Maruf Nahi Munkar dan marilah pula
kita dimulai dari diri sendiri untuk berusaha menjalankan dan mengamalkan sifat-sifat
Shidiq, Amanah, Tablig dan Fathonah didalam kehidupan kita sehari-hari, baik itu kita
sebagai makhluk individu maupun sebagai makhluk sosial.

Semoga Allah SWT selalu meningkatkan Ke-Imanan, Ke-Islaman, Ke-Taqwaan dan


Keyakinan kita dan semoga Allah selalu memberikan petunjuk dan cahaya
kebenaran serta yang utama adalah Ke-Ridhoan Allah SWT kepada kita semua
didalam setiap langkah perjalan hidup kita sehari-hari selama hidup di dunia ini.
Dan Juga Semoga Allah SWT memberikan Ke-Ridhoan dan kenikmatan-Nya di
Akhirat nanti ... Amin Ya Robbal Alamin.