Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pencernaan adalah sebuah proses metabolisme dimana suatu makhluk hidup
memproses sebuah zat dalam rangka untuk mengubah secara kimia atau
mekanik sesuatu zat menjadi nutrisi. Namun, jika proses ini terjadi perubahan
maka akan terjadi gangguan pencernaan termasuk hernia.
Hernia terlihat sebagai suatu tonjolan yang hilang timbul lateral terhadap
tuberkulum pubikum, tonjolan timbul apabila pasien menangis, mengejan, atau
berdiri dan biasanya menghilang secara spontan bila pasien dalam keadaan
istirahat atau terlentang.
Insiden hernia pada populasi umum adalah 1%, dan pada bayi prematur
5%.Laki-laki paling sering terkena (85% kasus).Setengah dari kasus-kasus
hernia inguinalis selama kanak-kanak terjadi pada bayi di bawah 6 bulan.Hernia
pada sisi kanan lebih sering daripada sisi kiri (2: 1).25% pasien menderita
hernia bilateral.Sedangkan insiden tertinggi adalah pada masa bayi 9 lebih dari
50%), selebihnya terdapat pada anak-anak yang berusia kurang dari 5 tahun.
Oleh karena itu perlu kiranya mengetahui bagaimana penyakit tersebut
sehingga dapat diputuskan tindakan secara tepat, apalagi insiden yang terjadi
pada anak-anak, maka sangat diperlukan suatu tindakan secara dini dan tepat.

B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari hernia?

2. Apa etiologi dari hernia?


3. Apa patofisiologi dari hernia?
4. Bagaimana gejala dan tanda dari hernia?
5. Apa manifestasi klinis dari hernia?
6. Bagaimana penanganan atau pencegahan hernia?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi dari hernia.
2. Untuk mengetahui etiologi dari hernia.
3. Untuk mengetahui patofisiologi dari hernia.
4. Untuk mengetahui gejala dan tanda dari hernia.
5. Untuk mengetahui manifestasi klinis dari hernia.
6. Untuk mengetahui cara penanganan atau pencegahan hernia.

D. Manfaat
1. Sebagai bahan dalam memenuhi tugas dari dosen.
2. Sebagai bahan untuk menambah wawasan pembaca khususnya tentang
penyakit hernia.

3. Bagi mahasiswa bisa lebih memahami tanda-tanda dan gejala serta


penyebab penyakit hernia di masyarakat sehingga dapat melakukan
pencegahan terhadap penyakit tersebut.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Hernia
Istilah hernia berasal dari bahasa Latin, yaitu herniae, yang berarti penonjolan
isi suatu rongga melalui jaringan ikat tipis yang lemah pada dinding rongga.
Dinding rongga yang lemah itu membentuk suatu kantong dengan pintu berupa
cincin. Gangguan ini sering terjadi di daerah perut dengan isi yang keluar berupa
bagian dari usus (Giri Made Kusala, 2009).

Menurut Syamsuhidayat (2004), hernia adalah prostrusi atau penonjolan isi


suatu rongga melalui defek atau bagian lemah dari dinding rongga yang
bersangkutan. Pada hernia abdomen, isi perut menonjol melalui defek atau bagian
lemah dari lapisan muskulo aponeurotik dinding perut. Hernia terdiri atas cincin,
kantong, dan isi hernia.

Sedangkan menurut Tambayong (2000), Hernia adalah defek dalam dinding


abdomen yang memungkinkan isi abdomen (seperti peritoneum, lemak, usus atau
kandung kemih) memasuki defek tersebut, sehingga timbul kantong berisikan
materi abnormal.

Dari beberapa pengertian yang telah dikemukakan di atas, maka dapat diambil
kesimpulan bahwa hernia inguinalis adalah suatu keadaan keluarnya jaringan atau
organ tubuh dari suatu ruangan melalui suatu lubang atau celah keluar di bawah
kulit atau menuju rongga lainnya (kanalis inguinalis).

B. Etiologi
Menurut Giri Made Kusala (2009), hal-hal yang dapat menyebabkan
terjadinya hernia adalah :
a) Umur
Penyakit ini dapat diderita oleh semua kalangan tua, muda, pria maupun
wanita. Pada Anak anak penyakit ini disebabkan karena kurang
sempurnanya procesus vaginalis untuk menutup seiring dengan turunnya
testis. Pada orang dewasa khususnya yang telah berusia lanjut disebabkan
oleh melemahnya jaringan penyangga usus atau karena adanya penyakit yang
menyebabkan peningkatan tekanan dalam rongga perut (Giri Made Kusala,
2009).

b) JenisKelamin
Hernia yang sering diderita oleh laki laki biasanya adalah jenis hernia
Inguinal. Hernia Inguinal adalah penonjolan yang terjadi pada daerah
selangkangan, hal ini disebabkan oleh proses perkembangan alat reproduksi.
Penyebab lain kaum adam lebih banyak terkena penyakit ini disebabkan
karena faktor profesi, yaitu pada buruh angkat atau buruh pabrik. Profesi
buruh yang sebagian besar pekerjaannya mengandalkan kekuatan otot
mengakibatkan adanya peningkatan tekanan dalam rongga perut sehingga
menekan isi hernia keluar dari otot yang lemah tersebut (Giri Made Kusala,
2009).
c) Penyakitpenyerta
Penyakit penyerta yang sering terjadi pada hernia adalah seperti pada kondisi
tersumbatnya saluran kencing, baik akibat batu kandung kencing atau
pembesaran prostat, penyakit kolon, batuk kronis, sembelit atau konstipasi
kronis dan lain-lain. Kondisi ini dapat memicu terjadinya tekanan berlebih
pada abdomen yang dapat menyebabkan keluarnya usus melalui rongga yang
lemah ke dalam kanalis inguinalis.
d) Keturunan
Resiko lebih besar jika ada keluarga terdekat yang pernah terkena hernia.

e) Obesitas
Berat badan yang berlebih menyebabkan tekanan berlebih pada tubuh,
termasuk di bagian perut. Ini bisa menjadi salah satu pencetus
hernia.Peningkatan tekanan tersebut dapat menjadi pencetus terjadinya
f) Kehamilan
Kehamilan dapat melemahkan otot di sekitar perut sekaligus memberi
tekanan lebih di bagian perut. Kondisi ini juga dapat menjadi pencetus
terjadinya hernia.
g) Pekerjaan
Beberapa jenis pekerjaan yang membutuhkan daya fisik dapat menyebabkan
terjadinya hernia. Contohnya, pekerjaan buruh angkat barang.Aktivitas yang
berat dapat mengakibatkan peningkatan tekanan yang terus-menerus pada

otot-otot abdomen.Peningkatan tekanan tersebut dapat menjadi pencetus


terjadinya prostrusi atau penonjolan organ melalui dinding organ yang lemah.
h) Kelahiranprematur
Bayi yang lahir prematur lebih berisiko menderita hernia inguinal daripada
bayi yang lahir normal karena penutupan kanalis inguinalis belum sempurna,
sehingga memungkinkan menjadi jalan bagi keluarnya organ atau usus
melalui kanalis inguinalis tersebut. Apabila seseorang pernah terkena hernia,
besar kemungkinan ia akan mengalaminya lagi.(Giri Made Kusala, 2009).

C. Patofisiologi
Menurut Syamsuhidayat (2004), hernia inguinalis dapat terjadi karena
anomali kongenital atau sebab yang didapat. Hernia dapat dijumpai pada setiap
usia. Lebih banyak pada laki-laki ketimbang pada perempuan. Berbagai faktor
penyebab berperan pada pembentukan pintu masuk hernia pada anulus internus
yang cukup lebar sehingga dapat dilalui oleh kantong dan isi hernia. Selain itu,
diperlukan pula faktor yang dapat mendorong isi hernia melewati pintu yang
sudah terbuka cukup lebar itu. Faktor yang dipandang berperan kausal adalah
adanya prosesus vaginalis yang terbuka, peninggian tekanan di dalam rongga
perut, dan kelemahan otot dinding perut karena usia.

Kanalis inguinalis adalah kanal yang normal pada fetus. Pada bulan
ke-8 kehamilan, terjadi desensus testis melalui kanal tersebut. Penurunan testis
tersebut akan menarik peritonium ke daerah skrotum sehingga terjadi
penonjolan peritoneum yang disebut dengan prosesus vaginalis peritonei. Pada
bayi yang sudah lahir, umumnya prosesus ini telah mengalami obliterasi
sehingga isi rongga perut tidak dapat melalui kanalis tersebut. Namun dalam
beberapa hal, kanalis ini tidak menutup. Karena testis kiri turun terlebih dahulu,
maka kanalis inguinalis kanan lebih sering terbuka.Bila kanalis kiri terbuka
maka biasanya yang kanan juga terbuka. Dalam keadaan normal, kanalis yang
terbuka ini akan menutup pada usia 2 bulan. Bila prosesus terbuka terus (karena
tidak mengalami obliterasi) akan timbul hernia inguinalis lateralis kongenital
(Erfandi, 2009). Pada orang tua kanalis inguinalis telah menutup. Namun karena
merupakan lokus minoris resistensie, maka pada keadaan yang menyebabkan

tekanan intra-abdominal meningkat, kanal tersebut dapat terbuka kembali dan


timbul hernia inguinalis lateralis akuisita. Kelemahan otot dinding perut antara
lain terjadi akibat kerusakan Nervus Ilioinguinalis dan Nervus Iliofemoralis
setelah apendiktomi (Erfandi, 2009).

Pada hernia akan terjadi prolaps sebagian usus ke dalam anulus


inguinalis di atas kantong skrotum, disebabkan oleh kelemahan atau kegagalan
menutup yang bersifat kongenital. Hernia inkarserata terjadi bila usus yang
prolaps itu menyebabkan konstriksi suplai darah ke kantong skrotum, kemudian
akan mengalami nyeri dan gelala-gejala obstruksi usus (perut kembung, nyeri
kolik abdomen, tidak ada flatus, tidak ada feces, muntah) (Erfandi, 2009).
Isi hernia dapat kembali ke rongga peritoneum disebut hernia inguinal
reponibilis, bila tidak dapat kembali disebut hernia inguinal ireponibilis (Arief
Mansjoer, 2004).Pada hernia reponibilis, keluhan yang timbul hanya berupa
benjolan di lipat paha yang muncul pada waktu berdiri, batuk, bersin,
mengedan, dan menghilang setelah berbaring. Keluhan nyeri pada hernia ini
jarang dijumpai, kalaupun ada dirasakan di daerah epigastrium atau para
umbilikal berupa nyeri viseral akibat regangan pada mesenterium sewaktu satu
segmen usus halus masuk ke dalam kantung hernia (Jennifer, 2007). Bila usus
tidak dapat kembali karena jepitan oleh anulus inguinalis, terjadi gangguan
pembuluh darah dan gangguan pasase segmen usus yang terjepit. Keadaan ini
disebut hernia strangulata.Secara klinis keluhan pasien adalah rasa sakit yang
terus menerus. Terjadi gangguan pasase usus seperti abdomen kembung dan
muntah.Hernia strangulata lebih sering terjadi bila hernia di sebelah kanan
(Arief Mansjoer, 2004). Pembuluh darah yang terjepit juga akan mengakibatkan
penimbunan racun yang akan berakibat terjadinya infeksi dalam tubuh. Infeksi
ini akan menjadi sumber infeksi ke seluruh dinding usus yang akan berakibat
buruk yaitu kematian (Jennifer, 2007)

D. Tanda dan Gejala

Umumnya penderita mengeluhkan turun berok, burut atau kelingsir

atau menyatakan adanya benjolan di selakanganya/kemaluan, benjolan itu bisa


mengecil atau menghilang, dan bila menangis mengejan waktu
defekasi/miksi, mengangkat benda berat akan timbul kembali. Dapat pula
ditemukan rasa nyeri pada benjolan atau gejala muntah dan mual bila telah
ada komplikasi.

Klasifikasi Hernia
2.4.1. Berdasarkan Terjadinya
a).
Hernia Bawaan atau Kongenital
Kanalis inguinalis adalah kanal yang normal pada fetus.Pada bulan ke-8 kehamilan,
terjadi desensus testis melalui kanal tersebut. Penurunan testis tersebut akan menarik
peritonium ke daerah skrotum sehingga terjadi penonjolan peritoneum yang disebut
dengan prosesus vaginalis peritonei. Pada bayi yang sudah lahir, umumnya prosesus
ini telah mengalami obliterasi sehingga isi rongga perut tidak dapat melalui kanalis
tersebut.Namun dalam beberapa hal, kanalis ini tidak menutup.Karena testis kiri turun
terlebih dahulu, maka kanalis inguinalis kanan lebih sering terbuka.Bila kanalis kiri
terbuka maka biasanya yang kanan juga terbuka. Dalam keadaan normal, kanalis
yang terbuka ini akan menutup pada usia 2 bulan. Bila prosesus terbuka terus (karena
tidak mengalami obliterasi) akan timbul hernia inguinalis lateralis kongenital. Pada
orang tua kanalis tersebut telah menutup.Namun karena merupakan lokus minoris
resistensie, maka pada keadaan yang menyebabkan tekanan intra-abdominal
meningkat, kanal tersebut dapat terbuka kembali dan timbul hernia inguinalis lateralis
akuisita (Erfandi, 2009).
b). Hernia dapatan atau akuisita (acquisitus = didapat)
Hernia kongenital / bawaan ditemukan pada bayi sedangkan hernia akuisita / didapat,
terutama akibat kelemahan otot dinding perut ditemukan pada orang dewasa. Proses
terjadinya hernia eksternal pada bayi umumnya disebabkan penyakit kongenital,
yakni penyakit yang muncul ketika bayi dalam kandungan dan umumnya tidak
diketahui penyebabnya (Erfandi, 2009).
2.4.2. Berdasarkan sifatnya
a). Hernia reponibel/reducible

Yaitu bila isi hernia dapat keluar masuk.Usus keluar jika berdiri atau mengedan dan
masuk lagi jika berbaring atau didorong masuk, tidak ada keluhan nyeri atau gejala
obstruksi usus (Erfandi, 2009).
b). Hernia ireponibel
Yaitu bila isi kantong hernia tidak dapat dikembalikan ke dalam rongga. Ini biasanya
disebabkan oleh perlekatan isi kantong pada peritonium kantong hernia. Hernia ini
juga disebut hernia akreta (accretus = perlekatan karena fibrosis). Tidak ada keluhan
rasa nyeri ataupun tanda sumbatan usus (Erfandi, 2009).
c). Hernia strangulata atau inkarserata (incarceratio = terperangkap, carcer = penjara)
Yaitu bila isi hernia terjepit oleh cincin hernia. Herniainkarserata berarti isi kantong
terperangkap, tidak dapat kembali ke dalam rongga perut disertai akibatnya yang
berupa gangguan pasase atau vaskularisasi. Secara klinis hernia inkarserata lebih
dimaksudkan untuk hernia ireponibel dengan gangguan pasase, sedangkan gangguan
vaskularisasi disebut sebagai hernia strangulata.Hernia strangulata mengakibatkan
nekrosis dari isi abdomen di dalamnya karena tidak mendapat darah akibat pembuluh
pemasoknya terjepit. Hernia jenis ini merupakan keadaan gawat darurat karenanya
perlu mendapat pertolongan segera (Erfandi, 2009).
2.4.3. Berdasarkan Letaknya
a). Hernia Femoralis
Hernia femoralis keluar melalui lakuna vasorum kaudal dari ligamentum
inguinale.Keadaan anatomi ini sering mengakibatkan inkarserasi hernia
femoralis.Hernia femoralis umumnya dijumpai pada perempuan tua, kejadian pada
perempuan kira-kira 4 kali lelaki.Keluhan biasanya berupa benjolan di lipat paha
yang muncul terutama pada waktu melakukan aktivitas yang menaikkan tekanan intra
abdomen seperti mengangkat barang atau batuk.Benjolan ini hilang pada waktu
berbaring.Pintu masuk hernia femoralis adalah anulus femoralis.Selanjutnya, isi
hernia masuk ke dalam kanalis femoralis yang berbentuk corong sejajar dengan vena
femoralis sepanjang kurang lebih 2 cm dan keluar pada fosa ovalis di lipat paha
(Syamsuhidayat, 2004).
Menurut Erfandi (2009), Hernia femoralis terjadi melalui cincin femoral dan lebih
umum pada wanita daripada pria. Ini mulai sebagai penyumbat lemak di kanalis
femoralis yang membesar dan secara bertahap menarik peritoneum dan hampir tidak
dapat dihindari kandung kemih masuk ke dalam kantung.Ada insiden yang tinggi dari
inkarserata dan strangulasi dengan tipe hernia ini.
b). Hernia Umbilikalis
Hernia umbilikalis merupakan hernia kongenital pada umbilikus yang hanya tertutup
peritoneum dan kulit. Hernia ini terdapat kira-kira 20% bayi dan angka ini lebih

tinggi lagi pada bayi prematur.Tidak ada perbedaan angka kejadian antara bayi lakilaki dan perempuan.Hernia umbilikalis merupakan penonjolan yang mengandung isi
rongga perut yang masuk melalui cincin umbilikus akibat peninggian tekanan
intraabdomen, biasanya ketika bayi menangis.Hernia umumnya tidak menimbulkan
nyeri dan sangat jarang terjadi inkarserasi (Syamsuhidayat, 2004).
Menurut Erfandi (2009), Hernia umbilikalis pada orang dewasa lebih umum pada
wanita dan karena peningkatan tekanan abdominal. Ini biasanya terjadi pada klien
gemuk dan wanita multipara.Tipe hernia ini terjadi pada sisi insisi bedah sebelumnya
yang telah sembuh secara tidak adekuat karena masalah pascaoperasi seperti infeksi,
nutrisi tidak adekuat, atau kegemukan.
c). Hernia sikatriks atau hernia insisional
Hernia ini terjadi pada bekas luka laparotomi. Sayatan pada nervus mengakibatkan
anestesi kulit dan paralisis otot pada segmen yang dilayani oleh saraf yang
bersangkutan (Syamsuhidayat, 2004).
d).
Hernia Inguinalis
Hernia Inguinalis adalah suatu keadaan dimana sebagian usus masuk melalui sebuah
lubang sebagai bagian yang lemah pada dinding perut ke dalam kanalis inguinalis.
Kanalis inguinalis adalah saluran berbentuk tabung, yang merupakan jalan tempat
turunnya testis (buah zakar) dari perut ke dalam skrotum (kantung zakar) sesaat
sebelum bayi dilahirkan.Hernia inguinalis dapat bersifat bawaan (kongenital) dan
didapat (akuisita).Pasien laki-laki lebih banyak daripada pasien wanita.Pada pria,
hernia bisa terjadi di selangkangan, yaitu pada titik dimana korda spermatika keluar
dari perut dan masuk ke dalam skrotum (Asep Subarkah, 2008).
Menurut Syamsuhidayat (2004), hernia inguinalis dapat dibagi menjadi :
1. Hernia inguinalis indirek
Disebut juga hernia inguinal lateralis, karena keluar dari rongga peritoneum melalui
anulus inguinalis internus yang terletak lateral dari pembuluh epigastrika inferior,
kemudian hernia masuk ke dalam kanalis inguinalis dan jika cukup panjang,
menonjol keluar dari anulus inguinalis eksternus.Apabila hernia ini berlanjut,
tonjolan akan sampai ke skrotum, ini disebut hernia skrotalis. Kantong hernia berada
di dalam muskulus kremaster, terletak anteromedial terhadap vas deferens dan
struktur lain dalam tali sperma (Syamsuhidayat, 2004).
Menurut Erfandi (2009), Hernia ini terjadi melalui cincin inguinalis dan melewati
korda spermatikus melalui kanalis inguinalis. Ini umumnya terjadi pada pria daripada
wanita.Insidennya tinggi pada bayi dan anak kecil.Hernia ini dapat menjadi sangat
besar dan sering turun ke skrotum.Benjolan tersebut bisa mengecil atau menghilang
pada waktu tidur.Bila menangis, mengejan atau mengangkat benda berat atau bila

posisi pasien berdiri dapat timbul kembali.


2. Hernia inguinalis direk
Disebut juga hernia inguinalis medialis, menonjol langsung ke depan melalui segitiga
Hesselbach, daerah yang dibatasi oleh ligamentuminguinale di bagian inferior,
pembuluh epigastrika inferior di bagian lateral dan tepi otot rektus di bagian medial.
Dasar segitiga Hasselbach dibentuk oleh fasia transversal yang diperkuat oleh serat
aponeurosis muskulus transversus abdominis yang kadang-kadang tidak sempurna
sehingga potensial untuk menjadi lemah.Hernia medialis, karena tidak keluar melalui
kanalis inguinalis dan ke skrotum, umumnya tidak disertai strangulasi karena cincin
hernia longgar (Syamsuhidayat, 2004).
Menurut Erfandi (2009), Hernia ini melewati dinding abdomen di area kelemahan
otot, tidak melalui kanal seperti pada hernia inguinalis dan femoralis indirek. Ini lebih
umum pada lansia.Hernia inguinalis direk secara bertahap terjadi pada area yang
lemah ini karena defisiensi kongenital. Hernia ini disebut direkta karena langsung
menuju anulus inguinalis eksterna sehingga meskipun anulus inguinalis interna
ditekan bila pasien berdiri atau mengejan, tetap akan timbul benjolan. Bila hernia ini
sampai ke skrotum, maka hanya akan sampai ke bagian atas skrotum, sedangkan
testis dan funikulus spermatikus dapat dipisahkan dari masa hernia. Pada pasien
terlihat adanya massa bundar pada anulus inguinalis eksterna yang mudah mengecil
bila pasien tidur. Karena besarnya defek pada dinding posterior maka hernia ini
jarang sekali menjadi ireponibilis
2.5. Manifestasi Klinis
Menurut Arief Mansjoer (2004), manifestasi klinis dari hernia adalah sebagai
berikut :
a. Adanya benjolan (biasanya asimptomatik)
Keluhan yang timbul berupa adanya benjolan di daerah inguinal dan atau skrotal
yang hilang timbul. Timbul bila terjadi peningkatan tekanan intra peritoneal misalnya
mengedan, batuk-batuk, tertawa, atau menangis. Bila pasien tenang, benjolan akan
hilang secara spontan.
b. Nyeri
Keluhan nyeri pada hernia ini jarang dijumpai, kalaupun ada dirasakan di daerah
epigastrium atau para umbilikal berupa nyeri viseral akibat regangan pada
mesenterium sewaktu satu segmen usus halus masuk ke dalam kantung hernia
(Jennifer, 2007). Bila usus tidak dapat kembali karena jepitan oleh anulus inguinalis,
terjadi gangguan pembuluh darah dan gangguan pasase segmen usus yang
terjepit.Keadaan ini disebut hernia strangulata.Secara klinis keluhan pasien adalah
rasa sakit yang terus menerus.

c. Gangguan pasase usus seperti abdomen kembung dan muntah


Tanda klinik pada pemeriksaan fisik bergantung pada isi hernia. Pada Inspeksi : saat
pasien mengedan dapat dilihat hernia inguinalis lateralis muncul sebagai penonjolan
diregio ingunalis yang berjalan dari lateral atas ke medial bawah. Palpasi: kantong
hernia yang kosong dapat diraba pada funikulus spermatikus sebagai gesekan dari dua
lapis kantong yang memberikan sensasi gesekan dua permukaan sutera. Tanda ini
disebut tanda sarung tangan sutera, tetapi umumnya tanda ini sukar ditentukan. Kalau
kantong hernia berisi organ maka tergantung isinya, pada palpasi mungkin teraba
usus, omentum ( seperti karet ), atau ovarium.Dengan jari telunjuk atau jari
kelingking pada anak kecil, dapat dicoba mendorong isi hernia dengan menonjolkan
kulit skrotum melalui annulus eksternus sehingga dapat ditentukan apakah isi hernia
dapat direposisi atau tidak. Apabila hernia dapat direposisi, pada waktu jari masih
berada dalam annulus eksternus, pasien diminta mengedan.Kalau hernia menyentuh
ujung jari, berarti hernia inguinalis lateralis, dan kalau samping jari menyentuh
menandakan hernia inguinalis medialis. Isi hernia pada bayi wanita yang teraba
seperti sebuah massa yang padat biasanya terdiri dari ovarium.
d. Gambaran klinik hernia
Jenis Reponibel Nyeri Obstruksi Sakit Toksik
Reponibel/bebas
Ireponibel/akreta
Inkarserata
Strangulata
2.6
2.7.12.8. Penatalaksanaan hernia
1. Konservatif
a. Istirahat di tempat tidur dan menaikkan bagian kaki, hernia ditekan secara
perlahan menuju abdomen (reposisi), selanjutnya gunakan alat penyokong.
b. Jika suatu operasi daya putih isi hernia diragukan, diberikan kompres hangat dan
setelah 5 menit di evaluasi kembali.
c. Celana penyangga
d. Istirahat baring
e. Pengobatan dengan pemberian obat penawar nyeri, misalnya Asetaminofen,
antibiotic untuk membasmi infeksi, dan obat pelunak tinja untuk mencegah sembelit.
f. Diet cairan sampai saluran gastrointestinal berfungsi lagi, kemudian makan
dengan gizi seimbang dan tinggi protein untuk mempercepat sembelit dan mengedan

selama BAB, hindari kopi kopi, teh, coklat, cola, minuman beralkohol yang dapat
memperburuk gejala-gejala.
2. Pembedahan (Operatif) :
a. Herniaplasty : memperkecil anulus inguinalis internus dan memperkuat dinding
belakang.
b. Herniatomy : pembebasan kantong hernia sampai ke lehernya, kantong dibuka
dan isi hernia dibebas kalau ada perlekatan, kemudian direposisi, kantong hernia
dijahit ikat setinggi lalu dipotong.
c. Herniorraphy : mengembalikan isi kantong hernia ke dalam abdomen dan
menutup celah yang terbuka dengan menjahit pertemuan transversus internus dan
muskulus ablikus internus abdominus ke ligamen inguinal.
2.9. Pemeriksaan penunjang
Biasanya tidak diperlukan pemeriksaan tambahan untuk menegakkan diagnosis
hernia. Namun pemeriksaan seperti ultrasonografi (USG), CT Scan, maupun MRI
(Magnetic Resonance Imaging) dapat dikerjakan guna melihat lebih lanjut
keterlibatan organ-organ yang terperangkap dalam kantung hernia tersebut.
Pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan untuk kepentingan operasi.
Sinar X abdomen menunjukkan abnormalnya kadar gas dalam usus/ obstruksi usus.
Hitung darah lengkap dan serum elektrolit dapat menunjukkan hemokonsentrasi
(peningkatan hematokrit), peningkatan sel darah putih (Leukosit : >10.000
18.000/mm3) dan ketidak seimbangan elektrolit.
2.10. Komplikasi
1. Terjadi perlekatan antara isi hernia dengan kantong hernia, sehingga isi hernia
tidak dapat dimasukkan kembali (hernia inguinalis lateralis ireponibilis).Pada
keadaan ini belum ada gangguan penyaluran isi usus.
2. Terjadi penekanan pada cincin hernia, akibatnya makin banyak usus yang masuk.
Cincin hernia menjadi relatif sempit dan dapat menimbulkan gangguan penyaluran isi
usus.Keadaan ini disebut hernia inguinalis lateralis incarcerata.
3. Bila incarcerata dibiarkan, maka timbul edema sehingga terjadi penekanan
pembuluh darah dan terjadi nekrosis. Keadaan ini disebut hernia inguinalis lateralis
strangulata.
4. Timbul edema bila terjadi obstruksi usus yang kemudian menekan pembuluh
darah dan kemudian timbul nekrosis.
5. Bila terjadi penyumbatan dan perdarahan akan timbul perut kembung, muntah
dan obstipasi.
6. Kerusakan pada pasokan darah, testis atau saraf jika pasien laki-laki,
7. Pendarahan yang berlebihan/infeksi luka bedah,

8. Komplikasi lama merupakan atropi testis karena lesi.


9. Bila isi perut terjepit dapat terjadi: shock, demam, asidosis metabolik, abses.
2.11. Pencegahan
Menurut Jennifer (2007), pencegahan hernia adalah :
a) Usahakan untuk mempertahankan berat tubuh yang sehat
Hal ini dapat membantu mengurangi tekanan pada otot di bagian perut.
b) Konsumsi makanan yang mengandung serat tinggi
Seperti : Buah-buahan, sayuran, dan makanan yang terbuat dari gandum sangat
disarankan untuk dikonsumsi. Makanan tersebut mengandung banyak serat yang
membantu mencegah konstipasi dan mengurangi tekanan di bagian perut.
c) Hindari mengangkat barang yang terlalu berat
Jika harus mengangkat barang berat, lakukan dengan cara yang benar. Postur tubuh
yang tepat saat mengangkat barang berat, yakni tekuk lutut Anda dan hindari
membungkuk untuk mengurangi tekanan.
d) Hindari tekanan Intra abdomen
Seperti batuk kronis dan mengejan yang dapat mencetuskan hernia.

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
3.1.1. Definisi Hernia
Istilah hernia berasal dari bahasa Latin, yaitu herniae, yang berarti penonjolan isi
suatu rongga melalui jaringan ikat tipis yang lemah pada dinding rongga.Dinding
rongga yang lemah itu membentuk suatu kantong dengan pintu berupa
cincin.Gangguan ini sering terjadi di daerah perut dengan isi yang keluar berupa
bagian dari usus (Giri Made Kusala, 2009).
3.1.2. Etiologi dari hernia : Menurut Giri Made Kusala (2009) :
1. Umur
2. Jenis kelamin
3. Penyakit penyerta
4. Keturunan
5. Obesitas
6. Kehamilan

7.
8.

Pekerjaan
Kelahiran prematur

3.1.3. Klasifikasi :
a. Berdasarkan terjadinya : Hernia bawaan dan didapat
b. Berdasarkan sifatnya : Hernia reponibel , ireponibel dan strangulata.
c. Berdasarkan letaknya : Hernia femoralis, umbilikalis, sikatris dan inguinalis.
3.1.4. Manifestasi klinis.
a. Adanya benjolan (biasanya asimptomatik)
b. Nyeri
c. Gangguan pasase usus seperti abdomen kembung dan muntah
3.1.5. Tanda dan gejala
a. Umumnya penderita mengeluhkan turun berok, burut atau kelingsir.
b. adanya benjolan di selakanganya/kemaluan
c. rasa nyeri pada benjolan atau gejala muntah dan mual bila telah ada komplikasi
3.2. Saran
3.2.1. Bagi Mahasiswa
Meningkatkan kualitas belajar dan memperbanyak literatur dalam pembuatan
makalah agar dapat membuat makalah yang baik dan benar
3.2.2. Bagi Pendidikan
Bagi dosen pembimbing agar dapat memberikan bimbingan yang lebih baik dalam
pembuatan makalah selanjutnya.
3.2.3. Bagi Kesehatan
Memberikan pengetahuan kepada mahasiswa kesehatan khususnya untuk mahasiswa
keperawatan agar mengetahui bagaimana asuhan keperawatan pada pasien hernia.
DAFTAR PUSTAKA
http://makalahkeperawatan.wordpress.com/2012/10/23/makalah-hernia/
Brunner & Sudarth, 2002. Keperawatan medikal bedah edisi 8,volume 2, Jakarta :
EGC
Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan untuk perencanaan dan
pendokumentasian perawatan pasien.Jakarta : EGC.

Kapita Selekta Kedokteran.Edisi III. 2000.MedicaAesculaplus FK UI.


Keperawatan Medikal Bedah. Swearingen. Edisi II. 2001. EGC