Anda di halaman 1dari 14

Case Report Session

KATARAK

Preseptor:
Antonia Kartika, dr., Sp.M (K), M.Kes.
Rova Virgana,dr., Sp. M (K)
Oleh:

Brahma Dass 130112142557


Carmelia Cantika Maharani 130112140644
Che Wan Nurdamia 130112142517

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN
RUMAH SAKIT MATA CICENDO
BANDUNG
2015

I.

Keterangan Umum
Nama
Usia
Jenis Kelamin
Pekerjaan
Alamat
Tanggal Pemeriksaan

II.

: Tn. A
: 76 tahun
: Lelaki
: Pensiunan peniaga wartel
: Pamempeg, Bandung
: 5 Mei 2015

Anamnesis
Keluhan Utama

: penglihatan mata kanan buram

Anamnesis Khusus:
Pasien mengeluhkan penglihatan mata kanan buram secara berangsur-angsur sejak 1 tahun
SMRS. Keluhan disertai dengan adanya penglihatan seperti berkabut. Keluhan melihat kabut
yang semakin lama semakin tebal. Keluhan tidak disertai mata merah. Pasien merasa melihat
lebih jelas di tempat yang teduh. Pasien juga merasa silau saat terpapar sinar matahari
sehingga kedua matanya mulai berair.
Tidak ada keluhan nyeri pada mata. Tidak ada riwayat sering menabrak benda dan
penglihatan menyempit. Pasien memiliki riwayat menggunakan kacamata yang diakui hanya
digunakan pada waktu tertentu. Pasien mempunyai riwayat pernah dioperasi katarak pada
mata sebelah kiri namun sedangkan untuk mata kanan tidak ada riwayat operasi mata.
Riwayat mata merah berulang disangkal. Tidak ada riwayat benturan atau luka pada mata.
Tidak ada riwayat kencing manis. Pasien memiliki riwayat minum obat hipertensi. Riwayat
penggunaan obat-obatan lain dalam jangka waktu lama disangkal. Riwayat penyakit mata di
keluarga disangkal oleh penderita. Karena keluhan pada mata kanannya, pasien berobat ke
RS Cicendo.

III.

Pemeriksaan Fisik
Status Generalis
Kesadaran

: Kompos Mentis

Keadaan Umum : Tenang


Tanda Vital

: Tidak diperiksa

Leher

: td

Thorax

: td

Abdomen

: td

Ektremitas

: td

Neurologis

: td

Genitalia

: td

Status Oftalmologis
Pemeriksaan Subjektif
Visus
VOD : SC : 0,125 (6/48)

VOS

: SC : 0,32 (6/20)

Pemeriksaan Objektif
a. Inspeksi
OD
Muscle balance
Pergerakan bola mata

Duksi baik
Tekanan Intraokular
Silia
Palpebra superior
Palpebra inferior
Konjungtiva tarsalis sup
Konjungtiva tarsalis inf
Konjungtiva bulbi
Kornea
Bilik mata depan
Pupil

OS
Ortotropia

Duksi baik
Versi baik
Normal
Normal
Trikiasis
Trikiasis
Krusta Krusta Tenang
Tenang
Tenang
Tenang
Tenang
Tenang
Tenang
Tenang
Tenang
Tenang
Arkus senilis
Jernih
Dangkal
Sedang
Bulat
Bulat
3 mm
3 mm
Refleks Direk/Indirek +/ Refleks Direk/Indirek +/+
+

Iris
Lensa
Shadow test

Sinekia (-)
Keruh
+

b. Pemeriksaan TIO dengan palpasi


OD: Normal

OS: Normal

c. Pemeriksaan Objektif dengan alat-alat lain


Tonometer
Funduskopi
Slit lamp

IV.

Diagnosis Banding :

V.

Diagnosis Kerja :

: tidak dilakukan
: tidak dilakukan
: tidak dilakukan

Katarak senilis immatur OD


VI.

Pemeriksaan Penunjang :
Slit lamp examination

VII.

Penatalaksanaan
ECCE + IOL

VIII. Prognosis
Quo ad vitam

: ad bonam

Quo ad functionam

: dubia ad bonam

PEMBAHASAN

Sinekia (-)
Jernih (pseudophakia)
-

Mengapa pasien ini didiagnosis seperti ini?


Anamnesis: penglihatan mata kanan buram

Penyebab penglihatan mata buram dapat diklasifikasikan menjadi:


1.
Pemeriksaan
fisik:penglihatan
Penurunan

persisten

Visus: VOD 6/12 (0,5) dan VOS 6/10 (0,63)

Ar

Bertahap (mingguan hingga


bulanan)
Gangguan refraksi
Katarak
Diabetes
Degenerasi makular
Glaukoma (kronis)
Akut (menit hingga harian)
Vaksular/iskemik
Oklusi vena retina sentral
Oklusi arteri retina sentral
Vitreous hemorrhage

Optik neuritis
Ablasio retina

Penyebab penglihatan mata buram juga dapat disertai mata merah atau mata tenang. Penglihatan
buram dengan mata merah: iritis, keratitis, ulkus kornea, glaukoma akut sudut tertutup. Penglihatan
buram tanpa mata merah: katarak, kelainan refraksi, glaukoma kronis.
Pasien ini didapatkan:
Anamnesis
Usia pasien 76 tahun

Pemeriksaan fisik

VOD : SC : 0,125 (6/48)

Keluhan mata kanan buram berangsur- : 0,32 (6/20)

angsur sejak 1 tahun SMRS


Penglihatan seperti berkabut. Keluhan COA OD dangkal
melihat

kabut

yang

semakin

lama Lensa OD keruh

semakin tebal
Tidak disertai mata merah

Shadow test OD +

Penglihatan lebih jelas di tempat yang


teduh
Silau saat terpapar sinar matahari

2. Bagaimana tatalaksana pada pasien ini?


Tatalaksana katarak adalah operasi. Indikasi operasi adalah:

VOS

: SC

Indikasi Operasi:
1. Indikasi optik: mengganggu QoL
2. Indikasi medis
Katarak hipermatur
Lens induced glaucoma
Lens induced uveitis
Lensa dislokasi/subluksasi
Diabetic Retinopathy
Retinal Detachment/ablasio retina
3. Indikasi kosmetik
Pilihan operasi:
1. Extra-capsular cataract extraction with Posterior Chamber Lens Implantation (ECCE
with PCL)
2. Intra-capsular cataract extraction (ICCE)
3. Small incision cataract surgery (SICS)
4. Phacoemulsification with Foldable Intra-ocular Lens (IOL)

Persiapan Pre-op:
Generalis: kondisi medis general yang harus diperhatikan: kontrol gula darah pada pasien
DM, blood pressure, angina, fungsi pernapasan, dll.
Oftalmologis: visus, TIO, funduskopi, USG, Biometri, retinometri
Edukasi Post-Op
1. Mata dibersihkan rutin
2. Pemeriksaan mata:

Visus
Kejernihan kornea
Kedalaman COA
Pupil
IOL
Intra-ocular pressure (IOP)
3. Topikal antibiotic-steroid tetes mata setiap 4-6 jam (4-6 minggu)
Komplikasi operasi:
a. Intraoperative:
- Damage endotelium kornea
- Ruptur kapsul posterior
- Vitreous prolapse
- Hyphaema
- Hemorrhage
- Dislokasi nukleus ke dalam vitreous
b. Early post operative
- Edema kornea
- Wound leak
- Prolapse iris
- Shallow or flat COA
- Hyphaema
- Glaukoma
- IOL dislokasi
- Endofltalmitis
c. Late post operative
- Cystoid macular edema
- Glaukoma
- Posterior Capsular Opacification (PCO)
3. Bagaimana prognosis pada pasien ini?
Quo ad vitam : ad bonam
Quo ad functionam : dubia ad bonam
-

Prognosis quo ad vitam pasien ini ad bonam karena keadaan umum pasien baik, tanda vital
pasien baik dan gangguan ini tidak berbahaya. Prognosis quo ad functionam pada pasien ini
dubia ad bonam karena Jika dilakukan operasi, maka struktur abnormalnya telah terangkat,
maka tidak ada lagi yang mengganggu media refraksi cahaya masuk ke mata. Jadi secara
fungsi, matanya akan bisa melihat jernih kembali. Namun lensa buatan tidak memiliki fungsi
yang sama persis atau sebaik lensa normal manusia.

PEMBAHASAN KATARAK

Katarak
a. Definisi katarak
Katarak dapat didefinisikan sebagai segala jenis kekeruhan yang terjadi pada lensa
mata. Faktor penyebab katarak antaranya penuaan, trauma, toksin, penyakit sistemik seperti
diabetes, merokok, dan keturunan. Keadaan terdapatnya kekeruhan pada lensa yang dapat
terjadi karena hidrasi lensa, denaturasi protein lensa atau keduanya.
b. Patogenenesis dan patofisiologi
Berbagai temuan menunjukkan bahwa lensa yang mengalami katarak mengalami
agregasi protein yang berujung pada penurunan transparasi, perubahan warna menjadi kuning
atau kecoklatan, ditemukannya vesikel antara lensa, dan pembesaran sel epitel. Perubahan
lain yang juga muncul adalah perubahan fisiologi kanal ion, absorpsi cahaya, dan penurunan
aktivitas anti-oksidan dalam lensa juga dapat mengakibatkan katarak.
Katarak komplikata merupakan katarak yang timbul akibat penyakit mata lain atau
penyakit sistemik. Berbagai kondisi yang dapat mengakibatkan terjadinya katarak sekunder
adalah uveitis anterior kronis, glaucoma akut, myopia patologis dan diabetes mellitus
merupakan penyebab yang paling umum.
Penggunaan obat-obatan (steroid) dan trauma, baik trauma tembus, trauma tumpul,
kejutan listrik, radiasi sinar inframerah dan radiasi pengion untuk tumor mata juga dapat
mengakibatkan kekeruhan lensa/ katarak.
c. Manifestasi klinis
1. Pasien dengan katarak akan mengeluh penglihatan seperti berasap dan tajam
penglihatan menurun perlahan. Kekeruhan lensa ini mengakibatkan lensa tidak
transparan, sehingga pupil akan berwarna putih atau abu-abu.
2. Penurunan sensitivitas kontras : pasien mengeluhkan sulitnya melihat benda di luar
ruangan pada cahaya terang.
3. Pergeseran kearah myopia: Normalnya pasien usia lanjut akan mengeluhkan
perubahan hyperopia, akan tetapi pasien katarak mengalami perubahan myopia karena
perubahan indeks refraksi lensa.
4. Diplopia monocular : hali ini dikarenakan adanya perbedaan indeks refraksi antara
satu bagian lensa yang mengalami kekeruhan dengan bagian lensa lainnya.
5. Sensasi silau (glare). Opasitas lensa mengakibatkan rasa silau karena cahaya
dibiaskan akibat perubahan indeks refraksi lensa.
d. Klasifikasi katarak:

Katarak Kongenital

Adalah katarak yang mulai terjadi sebelum atau segera setelah lahir dan bayi
berusia kurang dari 1 tahun. Katarak ini digolongkan dalam katarak:
- Kapsulolentikular: pada katarak ini termasuk katarak kapsular dan katarak polaris
- Katarak Lentikular: termasuk dalam golongan ini katarak yang mengenai korteks
atau nukleus lensa.
Penanganan tergantung pada unilateral dan bilateral, adanya kelainan mata lain, dan
saat terjadinya katarak. Katarak kongenital prognosisnya kurang memuaskan karena
bergantung pada bentuk katarak dan mungkin sekali pada mata tersebut telah terjadi
ambliopia. Bila terdapat nistagmus, maka keadaan ini menunjukkan hal yang buruk pada
katarak kongenital.
Bentuk-bentuk katarak congenital:
Katarak piramidalis atau polaris anterior
Katarak piramidalis atau polaris posterior
Katarak zonularis atau lameralis
katarak pungtata dan lain-lain.
Tindakan bedah pada katarak congenital adalah operasi yang dilakukan bila refleks
fundus tidak tampak. Biasanya bila katarak bersifat total, maka operasi dapat dilakukan pada
usia 2 bulan atau lebih muda bila telah dapat dilakukan pembiusan. Tindakan bedah yang
umum dikenal adalah disisio lensa, ekstraksi linier, ekstraksi dengan aspirasi.

Katarak juvenile
Katarak yang lembek dan terdapat pada orang muda, yang mulai terbentuk pada usia
kurang dari 9 tahun dan lebih dari 3 bulan. Biasanya merupakan kelanjutan dari
katarak kongenital.
Katarak senil

Adalah semua kekeruhan lensa yang terdapat pada usia lanjut, yaitu usia di atas 50
tahun. Penyebabnya sampai sekarang belum diketahui secara pasti. Namun terapat
beberapa teori yang menjelaskan penyebab katarak senil, antara lain:
Konsep penuaan :
-

Teori putaran biologik

Jaringan embrio manusia dapat membelah diri 50 kali mati


Imunologis
Dengan bertambah usia akan bertambah cacat imunologik yang mengakibatkan

kerusakan sel
Teori mutasi spontan
Teori a free radical
Free radical terbentuk bila terjadi reaksi intermediate reaktif kuat free radical
dengan molekul normal mengakibatkan degenerasi. Free radical dapat

dinetralisasi oleh antioksidan dan Vit E


Teori A Cross link
Ahli biokimia mengatakan terjadi pengikatan bersilang asam nukleat dan molekul
protein sehingga menggangu fungsi, perubahan lensa pada usia lanjut:
1. Kapsul
-Menebal dan kurang elastis
-Mulai presbiopia
-Bentuk lamel kapsul berkurang atau kabur
-Terlihat bahan granular
2. Epitel makin tipis
-Sel epitel pada ekuator bertambah besar dan berat
-Bengkak dan vakuolisasi mitokondria yang nyata
3. Serat lensa :
-Lebih ireguler
-Pada korteks jelas kerusakan serat sel
-Brown sclerotic nucleus, sinar ultraviolet lama kelamaan merubah protein
nukleus lensa, sedang warna coklat protein lensa nukleus mengandung
histidin dan triptofan dibanding normal.
-Korteks tidak berwarna karena kadar askorbat tinggi dan menghalangi
fotooksidasi
- Sinar tidak banyak mengubah protein pada serat muda

Katarak ini dikenal dalam 4 stadium, yakni:


Insipien

Imatur

Matur

Hipermatur

Kekeruhan
Cairan lensa
Iris
Bilikmatadepa

Ringan
Normal
Normal
Normal

Sebagian
Bertambah
Terdorong
Dangkal

Seluruh
Normal
Normal
Normal

Masif
Berkurang
Tremulans
Dalam

n
Sudutbilikmat

Normal

Sempit

Normal

Terbuka

a
Shadow test
Penyulit

+
Glaukoma

Peudopositif
Uveitis+
Glaukoma

Katarak

Insipien:

Pada stadium ini akan terlihat hal-hal berikut:


Kekeruhan mulai dari tepi ekuator berbentuk jeruji menuju korteks terjadi pada anterior dan
posterior ( katarak kortikal). Vakuol mulai terlihat di dalam korteks.
Katarak

intumesen:

Kekeruhan lensa disertai pembengkakan lensa akibat lensa yang degeneratif


menyerap air. Masuknya air ke dalam celah lensa mengakibatkan lensa menjadi bengkak dan
besar yang akan mendorong iris sehingga bilik mata menjadi dangkal dibanding dengan
keadaan normal. Pencembungan lensa ini akan dapat memberikan penyulit glaukoma.
Katarak intumesen biasanya terjadi pada katarak yang berjalan cepat dan mengakibatkan
miopia lentikular. Pada keadaan ini dapat terjadi hidrasi korteks hingga lensa akan
mencembung dan daya biasnya akan bertambah, yang memberikan miopisasi
Pada pemeriksaan slitlamp terlihat vakuol dapa lensa disertai peregangan jarak lamel
serat lensa.
Katarak

imatur:

Sebagian lensa keruh atau katarak. Katarak yang belum mengenai seluruh lapis lensa.
Pada katarak imatur akan dapat bertambah volume lensa akibat meningkatnya tekanan
osmotik bahan lensayang degeneratif. Pada keadaan lensa mencembung akan dapat
menimbulkan hambatan pupil, sehingga terjadi glaukoma sekunder.
Katarak

matur:

Pada katarak matur kekeruhan telah mengenai seluruh masa lensa. Kekeruhan ini bisa
terjadi akibat deposisi ion Ca yang menyeluruh . Bila katarak imatur atau intumesen tidak
dikeluarkan maka cairan lensa akan keluar, sehingga lensa kembali pada ukuran yang normal.
Akan terjadi kekeruhan seluruh lensa yang bila lama akan mengakibatkan kalsifikasi lensa.
Bilik mata depan akan berukuran kedalaman normal kembali, tidak terdapat bayangan iris
pada lensa yang keruh, sehingga uji bayangan iris negatif.
Katarak

hipermatur:

Katarak hipermatur, katarak yang mengalami proses degenerasi lanjut, dapat menjadi
keras atau lembek dan mencair.

Massa Lensa yang berdegenerasi keluar dari kapsul lensa sehingga lensa menjadi
mengecil, berwarna kuning dan kering. Pada pemeriksaan terlihat bilik mata dalam dan
lipatan kapsul lensa. Kadang-kadang pengerutan berjalan terus sehingga hubungan dengan
zonula zinn menjadi kendor. Bila proses katarak berjalan lanjut disertai dengan kapsul yang
tebal maka korteks yang berdeganerasi dan cair tidak dapat keluar, maka korteks akan
memperlihatkan bentuk sebagai sekantong susu disertai dengan nukleus yang terbenam di
dalam korteks lensa karena lebih berat. Keadaan ini disebut sebagai katarak morgagni
Katarak komplikata
Katarak akibat penyakit mata lain seperti radang, dan proses degenerasi seperti ablasi
retina, retinitis pegmentosa, glaukoma, tumor intra okular, iskemia okular, nekrosis anterior
segmen, buftalmos, akibat suatu trauma dan pasca bedah mata.
Katarak komplikata memberikan tanda khusus dimana mulai katarak selamanya di daerah
bawah kapsul atau pada lapis korteks, kekeruhan dapat difus, pungtata ataupun linear.
Katarak diabetes
Katarak diabetik merupakan katarak yang terjadi akibat adanya penyakit diabetes
melitus.
Katarak diabetik dapat terjadi dalam 3 bentuk :
1. Pasien dengan dehidrasi berat, asidosis dan hiperglikemia nyata, pada lensa akan
terlihat ekekruhan berupa garis akibat kapsul lensa berkerut. Bila dehidrasi lama akan
terjadi kekeruhan lensa, kekeruhan akan hilang bila terjadi rehidrasi dan kadar gula
normal kembali.
2. Pasien diabets juvenil dan tua tidak terkontrol, dimana terjadi katarak serentak pada
kedua mata dalam 48 jam, bentuk dapat snow flake atau bentuk piring subkapsular.
3. Katarak pada pasien diabetes dewasa dimana gambaran secara histologik dan
biokimia sama dengan katarak pasien nondiabetik.
Katarak Sekunder
Katarak sekunder terjadi akibat terbentuknya jaringan fibrosis pada sisa lensa yang
tertinggal, paling cepat keadaan ini terlihat sesudah 2 hari EKEK.
Pengobatan katarak terutama pembedahan. Ekstraksi katarak adalah cara pembedahan
dengan mengangkat lensa yang katarak. Pada pasien ini dapat dilakukan dengan:

Ekstraksi Katarak Ekstrakapsular (EKEK)


Tindakan pembedahan pada lensa katarak dimana dilakukan pengeluaran isi lensa
(korteks dan nukleus) dengan memecah atau merobek kapsul lensa anterior (kapsulotomi
anterior) sehingga massa lensa dapat keluar melalui robekan tersebut.
Pembedahan ini dilakukan pada pasien katarak muda, pasien dengan kelainan endotel,
bersama-sama keratoplasti, implantasi lensa intra ocular posterior, perencanaan implantasi
sekunder lensa intra okular,kemungkinan dilakukan bedah glaukoma, mata dengan
predisposisi terjadinya prolaps badan kaca, pasca bedah ablasio retina.
Penyulit: katarak sekunder.
Ekstraksi Katarak Ekstrakapsular (EKEK) metode fakoemulsifikasi
Tindakan

pembedahan

ini

merupakan

pengembangan

dari

ECCE/

EKEK

konvensional, dimana pada tindakan ini digunakan getaran suara ultrasonic untuk
menghancurkan lensa.
Dibandingkan dengan operasi ECCE konvensional :
o Lebih cepat
o Luka insisi lebih kecil (2-5 cm), sehingga penyembuhan luka operasi
lebih cepat
o Lebih mahal
Ekstraksi Katarak Intrakapsular (EKIK)
Merupakan pembedahan dengan mengeluarkan seluruh lensa bersama kapsul. Pada
metode ini tidak akan terjadi katarak sekunder. Kontraindikasi metode ini adalah pada pasien
berusia kurang dari 40 tahun yang masih mempunyai ligamen hialoidea kapsular. Penyulit
yang dapat terjadi pada pembedahan ini antara lain astigmata, glaukoma, uveitis,
endoftalmitis, dan perdarahan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Vaughan, Daniel G. 2000. Oftalmologi Umum Edisi ke-14. Widya Medika.
Jakarta.
2. Ilyas, Sidarta. 2005. Ilmu Penyakit Mata Edisi Ketiga. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Jakarta
3. Khurana. Opthalmology. 4th. 2007. New Age International Publisher
4. Kanski - Clinical Ophthalmology A Systematic Approach, 7th Edition-2011. Elsevier