Anda di halaman 1dari 15

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Metabolisme Metanol


Metanol dapat diabsorbsi kedalam tubuh melalui saluran pencernaan, kulit
dan paru-paru. Metanol didistibusikan secara luas dalam cairan tubuh dengan
volume distribusi 0,6 L/kg. Metanol secara perlahan dimetabolisme di hati.
Sekitar 3% dari metanol diekskresikan melalui paru atau diekskresi melalui urin.3
Metanol beracun melalui dua mekanisme. Pertama metanol yang telah
masuk kedalam tubuh baik melalui, menelan menghirup atau diserap melalui kulit
dapat menekan saraf pusat seperti yang terjadi pada keracunan etanol. Kedua
metanol

beracun

setelah

mengalami

pemecahan

oleh

enzim

alkohol

dehidrogenase di hati menjadi asam format dan formaldehida. Dosis yang


berbahaya dapat terjadi bila seseorang terekspos terus menerus terhadap uap
metanol atau cairan metanol tanpa menggunakan pelindung. Dosis yang
mematikan adalah 100-125 ml (4 fl oz).
Cara kerja metanol sama dengan cara kerja etanol. Metanol lebih bersifat
toksik dibandingkan dengan etanol. Toksisitas metanol semakin meningkat
disebabkan oleh stukturnya yang tidak murni. Metanol diekskresikan secara
lambat di dalam tubuh dan kemudian secara kumulatif metanol dapat bersifat
toksik di dalam tubuh. Selama penelanan metanol secara cepat diabsorbsi dalam
traktus gastrointestinal dan dimetabolisme dihati. Pada langkah pertama dari
degradasi,

metanol

diubah

menjadi

formaldehid

oleh

enzim

alkohol

dehidrogenase. Reaksi ini lebih lambat dari reaksi kedua, oksidasi dari
formaldehid menjadi asam format oleh enzim aldehid dehidrogenase. Oksidasi ini

berlangsung cepat sehingga hanya sedikit formaldehid yang terakumulasi dalam


serum. Hal ini menjelaskan latensi dari gejala antara penelanan dan timbulnya
efek. Waktu paruh dari formaldehid adalah sekitar 1- 2 menit.1,3
Asam format kemudian dioksidasi menjadi karbondioksida dan air oleh
tetrahidrofolat. Metabolisme dari asam format sangat lambat sehingga dapat .
terakumulasi di dalam tubuh yang menimbulkan asidosis metabolik. Asam format
juga menghambat respirasi seluler sehingga terjadi asidosis laktat.5
Kecepatan absorbsi dari metanol tergantung dari beberapa faktor, dua
faktor yang paling berperan adalah konsentrasi metanol dan ada tidaknya
makanan dalam saluran cerna. Metanol dalam bentuk larutan lebih lambat diserap
dibanding dengan metanol yang murni dan adanya makanan dalam saluran cerna
terutama lemak dan protein akan memperlambat absorbsi metanol dalam saluran
cerna. Setelah diabsorbsi, metanol didistribusi ke seluruh jaringan dan cairan
tubuh kecuali jaringan lemak dan tulang, disini konsentrasi metanol paling
rendah. Konsentrasi metanol di dalam darah mencapai maksimum kira-kira
setengah sampai satu jam setelah metanol dikonsumsi. Konsentrasi metanol di
dalam otak setelah tercapai keseimbangan adalah lebih sedikit dibanding dengan
konsentrasi di dalam darah.5
Metanol yang telah diabsorbsi, dimetabolisme di dalam tubuh di hepar
melalui proses oksidasi. Secara normal, tubuh dapat memetabolisme 10 gms
metanol murni. Jika dikonsumsi berlebihan, konsentrasi metanol dalam darah
akan meningkat dan orang tersebut akan mulai menunjukkan keluhan dan gejala
keracunan alkohol, kecuali orang tersebut telah mengalami toleransi terhadap

metanol. Metanol dalam jumlah yang maksimum yaitu 300 ml metanol murni,
dapat dimetabolisme dalam tubuh dalam 24 jam. Keracunan metanol dapat
menyebabkan gangguan pada hepar dan ginjal.1

Gambar 1. Metabolisme Metanol

Manifestasi Klinis
Gejala awal yang timbul setelah keracunan metanol adalah gejala yang terjadi
karena depresi sistem saraf pusat seperti sakit kepala, pusing, mual, koordinasi terganggu,
kebingungan dan pada dosis yang tinggi tidak sadarkan diri dan kematian. Gejala awal ini
lebih ringan dari yang terjadi pada keracunan etanol.4
Bila gejala awal telah dilalui rangkaian kedua dari gejala, terjadi 10-30 jam
setelah paparan awal terhadap metanol. Akumulasi asam format pada saraf optik dapat
menyebabkan penglihatan kabur. Hilangnya penglihatan secara total dapat disebabkan
oleh berhentinya fungsi mitokondria pada saraf optik dimana terjadi hiperemi, edema dan
atropi saraf optik. Demielinisasi saraf optik juga dapat terjadi karena penghancuran

mielin oleh asam format. Akumulasi asam format didalam darah dapat menyebabkan
asidosis metabolik. Interval antara masuknya racun sampai timbulnya gejala berhubungan
dengan volume metanol yang tertelan. Kadar metanol dalam darah mencapai puncaknya
setelah 30-90 menit. Dosis letal minimal adalah 1 mg/kg bb. Asidosis merupakan faktor
primer dari keracunan metanol dan depresi dari sistem saraf pusat adalah faktor yang
minor.4,5,
Ketika metabolime metanol telah berlangsung asidosis metabolik dengan
anion gap yang berat akan terjadi. Asidosis metabolik yang berat yang berhubungan
dengan gangguan penglihatan adalah tanda dari keracunan metanol. Pasien biasanya
mengalami penglihatan kabur, penglihatan ganda, atau perubahan dari persepsi warna.
Bisa juga terjadi pengecilan lapangan pandang dan terkadang kehilangan penglihatan
secara total. Tanda khas dari disfungsi penglihatan termasuk dilatasi pupil dan hilangnya
reflek pupil.3 Tanda dan gejala lebih lanjut dapat terjadi pernafasan dangkal, sianosis,
takipneu, koma, kejang, gangguan elektrolit dan perubahan hemodinamik yang bervariasi
termasuk hipertensi dan cardiac arrest. Dapat juga terjadi gangguan memori yang ringan
sampai berat, agitasi yang dapat berlanjut menjadi stupor dan koma sejalan dengan
memberatnya asidosis. Pada kasus yang berat dapat terjadi kematian. Pasien yang
bertahan dapat menderita gejala sisa seperti kebutaan yang permanen atau defisit
neurologis yang lain.

2.3 Penatalaksanaan Keracunan Metanol


Keracunan metanol berat biasanya dijumpai pada pecandu alkohol kronis dan
mungkin tidak dapat dikenal kecuali dijumpai gejala-gejala yang khas pada sejumlah

pasien. Karena metanol dan metabolit formatnya merupakan toksin yang lebih kuat dari
etanol, maka penting bahwa pasien yang keracunan metanol dikenali dan diobati secepat
mungkin.2
Gejala awal yang penting dari keracunan metanol ialah gangguan visual,
sering kali dijelaskan sebagai berada dalam badai salju. Gangguan visual merupakan
keluhan umum epidemis keracunan metanol. Keluhan penglihatan kabur dengan
kesadaran relative baik merupakan suatu petunjuk kuat untuk keracunan metanol. Dalam
kasus-kasus berat, bau formaldehid tercium melalui pernafasan dan urin. Timbul
bradikardia, koma yang lama, kejang, dan asidosis yang menetap.2
Hasil pemeriksaan fisik pada keracunan metanol biasanya tidak spesifik.
Midriasis yang menetap merupakan tanda keracunan berat. Atropi saraf optik merupakan
tanda lanjut. Penyebab kematian dalam kasus fatal ialah berhentinya
pernafasan secara mendadak. Merupakan hal yang sangat perlu untuk menentukan kadar
metanol dalam darah secepat mungkin bila diduga suatu keracunan metanol. Bila dugaan
klinik keracunan metanol cukup kuat, pengobatan tidak boleh terlambat.2
Kadar metanol lebih dari 50 mg/dL, merupakan indikasi mutlak untuk hemodialis
dan pengobatan dengan etanol meskipun kadar format dalam darah
merupakan indikasi yang lebih baik. Hasil laboratorium tambahan termasuk asidosis
metabolik dengan peningkatan anion gap dan osmolar gap. Etilen glikol, paraldehid, dan
salisilat juga dapat menyebabkan anion gap. Penurunan serum bilirubin merupakan
gambaran yang seragam dari keracunan metanol berat. Toksisitas etilen glikol biasanya
menyebabkan eksitasi susunan saraf pusat, peningkatan enzim-enzim otot, dan
hipokalsemia tetapi tidak ada gejala visual. Keracunan salisilat dapat segera ditentukan

dari kadar salisilat dalam darah.2 Pengobatan pertama untuk keracunan metanol, seperti
pada keadaan kritis keracunan, ialah untuk menyelenggarakan pernafasan, dengan
melakukan trakeotomi bila perlu. Muntah dapat dibuat pada pasien yang tidak koma,
tidak mengalami kejang, dan tidak kehilangan reflex muntah. Bila salah satu dari
kontraindikasi ini ada, maka harus dilakukan intubasi endotrakeal dan bilasan lambung
dengan selang berdiameter besar setelah saluran nafas terlindungi.2
Ada tiga cara yang spesifik untuk keracunan metanol berat; penekanan
metabolism oleh alkohol dehidrogenase untuk pembentukan produk-produk toksiknya,
dialisis untuk meningkatkan bersihan metanol dan produk toksiknya, serta alkalinasi
untuk menetralkan asidosis metabolik.2 Karena etanol berkompetisi untuk alkohol
dehidrogenase, yang bertanggung jawab untuk memetabolisme metanol menjadi asam
format, perlu untuk menjenuhkan enzim ini dengan etanol yang kurang toksik.
Metabolism etanol yang dicirikan tergantung pada dosis dan variabilitas yang disebabkan
oleh asupan etanol kronis memerlukan pemantauan yang berulang-ulang untuk
meyakinkan konsentrasi alkohol yang tepat. Etanol diberikan secara intravena sebagai
larutan 10%. 4-Metilpirazol, suatu penghambat alkohol dehidrogenase yang kuat, dapat
berguna sebagai penunjang dalam keracunan metanol bila tersedia penuh untuk
digunakan manusia. Akhir-akhir ini, obat ini tergolong sebagai orphan drug.2
Dengan dimulainya prosedur dialisis, maka etanol akan hilang dalam dialisat.
Dialisis direkomendasikan untuk pasien yang mengalami gangguan penglihatan, kadar
metanol dalam darah 50 mg % atau lebih, menelan lebih dari 60 ml metanol dan asidosis
berat yang tidak dapat dikoreksi dengan bikarbonat.2,3

Alkalinisasi adalah terapi yang paling lama dipakai bertujuan untuk mengatasi
asidosis dan diperlukan dosis yang sangat besar dari sodium bikarbonat. Karena sistemsistem yang bergantung pada folat bertanggung jawab dalam oksidasi pembentukan asam
format menjadi CO2 pada manusia, maka mungkin berguna untuk memberikan asam
folat kepada pasien-pasien yang keracunan metanol, meskipun belum pernah diuji secara
lengkap dalam uji klinik.2,6

2.4 Penampakan Postmortem


Pada keracunan metanol dapat terjadi perubahan akut sekunder akibat
hipoksia/iskemia pada substansia grisea berupa edema serebri dan injuri neuronal akut.
Pada seseorang yang mengalami keracunan metil alkohol selama beberapa hari atau
beberapa minggu akan menunjukkan pola kerusakan otak yang khas yaitu nekrosis
putamen bilateral, terutama mengenai bagian lateral dari nuclei. Pada beberapa kasus
dapat juga ditemukan nekrosis hemoragik yang melibatkan centrum semiovale,
khususnya bagian subkortikal. Selain itu dapat juga terjadi kerusakan pada substansia
alba dan putamen.7
Penampakan klasik dari perdarahan dan nekrosis putamen akut adalah khas pada
keracunan metanol. Perdarahan yang banyak sampai meluas ke sistem ventrikel
berkorelasi dengan heparinisasi sistemik selama dialisis. Jika pasien dapat bertahan
selama fase akut dari penyakit ini akan terjadi resorpsi jaringan putamen yang mengalami
infark selama perdarahan menjadi suatu rongga kistik di dalam nuclei dari putamen,
beberapa dari pasien ini dapat mengalami sindrom Parkinson.7

Kelainan lain yang mungkin terjadi pada keracunan metanol adalah nekrosis dan
perdarahan pada substansia alba. Lesi pada substansia alba ini kurang spesifik pada
keracunan metanol. Penampakan postmortem pada keracunan metanol yang kronis yaitu
perubahan morfologik otak yang menyeluruh yaitu atropi kortikal dan subkortikal. Lobus
frontal adalah bagian otak yang paling peka, disini akan terjadi kerusakan dan penyusutan
bagian otak tersebut, gejala yang timbul yaitu berupa gangguan eksekutif seperti
kemampuan untuk merencanakan dan menyelesaikan masalah.7

2.5 Penampakan Patologi


Pada keracunan metanol akan tampak hiperemi dan inflamasi dengan
bercakbercak perdarahan pada lambung dan duodenum. Pada paru-paru akan tampak
kongesti dan odema. Pada otak dan meningen akan terjadi kongesti. Pada mukosa
kantung kemih terjadi kongesti, dan pada ginjal menunjukkan adanya degenerasi tubular.
Pada jantung terjadi degenerasi vacuolar pada sel-sel jantung.1
Temuan patologis yang mencirikan adanya suatu intoksikasi metanol adalah
neuropati optik dan nekrosis putamen bilateral dengan atau tanpa nekrosis. Lesi pada
mata meliputi destruksi dari sel-sel ganglion retina, edema. Nekrosis pada putamen dapat
dilihat pada pasien yang dapat bertahan lebih dari 24 jam. Daerah nekrosis juga dapat
dilihat pada substansia alba pada pasien yang bertahan lebih dari beberapa hari.
Nekrosis putamen bilateral atau perdarahan dapat diidentifikasi dengan CT scan
atau MRI.8

Gambar 2 CT scan pada hari ke lima menunjukkan adanya perdarahan pada


putamen.9

Gambar 3 CT Scan Pre (A) dan Post kontras (B) pada hari ke 24 menunjukkan
Hilangnya volume putamen secara bilateral dan adanya lesi putamen dan
subkortikal.

Gambar 4 fotografi fundus 2 bulan setelah intoksikasi metanol memperlihatkan


atropi optik dengan cakram optik yang terlihat glaucomatous dan penyempitan
lingkaran neuroretina dengan 0,9 cup pada (a) mata kanan, dan 0,7 cup pada (b)
mata kiri.10

2.6 Diagnosis
2.6.1 Pemeriksaan lab

Pemeriksaan lab pada ginjal didapatkan rendahnya kadar bikarbonat serum karena
terjadi asidosis metabolik. Peningkatan anion gap disebabkan karena peningkatan kadar
laktat dan keton, hal ini dapat terjadi kemungkinan karena akumulasi asam format. Dapat
juga terjadi peningkatan osmolar gap, hal ini bukan merupakan temuan yang spesifik
karena menunjukkan adanya suatu larutan dengan berat molekul rendah seperti etanol,
alkohol lain, mannitol, glisin, lemak atau protein. Diagnosis definitive dari keracunan
metanol dapat dilihat dari peningkatan kadar metanol serum yang dapat diukur dengan
gas chromathography namun hal ini tidak berkorelasi dengan tingkat keracunan dan
merupakan indikator yang baik untuk prognosis.5

2.6.2 Imaging
CT scan dapat menunjukkan perubahan karakteristik dari nekrosis putamen
bilateral dengan derajat perdarahan yang bervariasi. Namun lebih sering hasil CT scan
normal. MRI adalah metode imaging yang lebih sensitive dalam mendiagnosa keracunan
metanol. Pada keracunan metanol yang baru berlangsung selama empat minggu, MRI
telah dapat menunjukkan adanya perubahan pada putamen dan juga lesi yang berwarna
putih pada lobus frontal atau oksipital. MRI dapat digunakan untuk membedakan
keracunan metanol dengan kondisi lain seperti hipoglikemik dan keracunan
karbonmonoksida.5
Temuan patologis paling karakteristik setelah keracunan metanol adalah adanya
daerah nekrosis pada putamen, dimana juga terdapat perdarahan dengan derajat yang
bervariasi. Gambaran ini bisa terlihat pada pasien yang bertahan setelah 24 jam, nekrosis

juga dapat terlihat pada substansia alba pada pasien yang bertahan lebih dari beberapa
hari.8

DAFTAR PUSTAKA
1. Modis Medical Jurisprudence and Toxicology. In : Alcohol Intoxication 18th edition.
2. Bertram G Katzung (1998), Alkohol. Farmakologi Dasar dan Klinik edisi VI, EGC, hal
. 369-379.
3.

Methanol

Poisoning

Overview.

Available

from:

http://www.antizol.com/

mpoisono.htm (Accesed: 2010, Oct 1).


4. Methanol. Available from: http//www.wikipedia.com/ (Accesed: 2010, Oct 1).
5.

Methanol

Intoxication.

Available

from:

http://www.emedicine.com/

NEURO/topic217.htm (Accesed: 2010, Oct 1).


6. Methyl Alcohol Poisoning. Available from : http://www.jpgmonline.com/article.asp?
issn=00223859;year=1984;volume=30;issue=2;spage=69;epage=74;aulast=Ra
vichandran (Accesed: 2010, Oct 1).
7.

Final

Diagnosis

Methanol

Poisoning.

Available

http://path.upmc.edu/divisions/neuropath/bpath/cases/case53/dx.html

from

(Accesed:

:
2010,

Oct 1).
8. Methanol Intoxication with Putaminal and White Matter Necrosis: MR and CT
findings. Available from : http://www.ajnr.org/cgi/reprint/16/7/1492.pdf (Accesed: 2010,
Oct 1).
9. CT and MR Imaging Findings in Methanol Intoxication. Available from:
http://www.ajnr.org/cgi/reprint/27/2/452.pdf (Accesed: 2010, Oct 1).
10. Ocular manifestasions and MRI findings in a case of methanol poisoning. Available
from:

http://www.nature.com/eye/journal/v19/n7/fig_tab/

6701641f2.html?

url=/eye/journal/v19/n7/full/6701641a.html#figure-title (Accesed: 2010, Oct 1).