Anda di halaman 1dari 20

Naik... Naik... Ke Puncak Gunung, Tinggi...

Tinggi Sekali
D, seorang mahasiswa FK UMM mempunyai hobi mendaki gunung. Selama
kuliah di FK, Dsudah lama sekali tidak melakukan hobinya tersebut. Untuk
menyalurkan bakatnya, D bergabung dengan unit kegiatan mahasiswa pecinta
alam yang ada di UMM. Syarat untuk menjadi anggota, akan dilakukan diklat
lapangan dengan rencana pendakian gunung semeru. D sangat bersemangat
ketika diklat. D dan 1 orang rekannya kurang memperhatikan intruksi
seniornya untuk mendaki gunung bertahap dan istirahat tiap 2 jam. D terus
mendaki tanpa istirahat. Setelah 4 jam, D sampai di ketinggian 1700 m di atas
permukaan laut (apl), D merasa neusea, dizzines, dyspneu dan letargi. Rekan D
yang bersamanya merasa panik dan segera meminta bantuan tim medis. Pada
pemeriksaan fisik, didapatkan hiperventilasi dan penurunan saturasi O2. Tim
medis menyatakan D mengalami hipoksia akut akibat ketinggian. Tim medis
segera membawa D turun ke ketinggian yang lebih rendah untuk memulihkan
keluhan D. Setelah 2 jam berada di tempat yang lebih rendah, keluhan D
hilang. Tim medis menasehati D untuk mematuhi semua peraturan pendakian
yang sudah diberikan instruktur agar terjadi aklimatisasi dan tidak
membahayakan D.

Keyword : Mahasiswa D Pendaki Gunung, Ketinggian 1700 m diatas permukaan


laut, nausea, dizzines, dyspnea dan letargi, hiperventilasi dan penurunan
saturasi okisgen, hipoksia akut, aklimatisasi.

Klasifikasi Istilah
Nausea
Perasaan ingin muntah/ rasa tidak nyaman di lambung yang dapat
mengakibatkan keinginan untuk segera muntah
(Kamus Kesehatan)
Adalah suatu perasaan tidak nyaman pada kerongkongan dan lambung
yang dapat berujung pada muntah (Indra K. Muhtadi, 2011)
Dizzines adalah perasaan pusing, mabuk, goyah yang biasa disebut
kepeningan (Remmel, 2002)
Dyspnea (sesak nafas) adalah keadaan abnormal dan ketidaknyaman
saat bernapas (Walker, 1990)
Sesak nafas yaitu perasaan sulit bernapas yang biasanya terjadi ketika
kita melakukan aktivitas fisik. Sesak napas adalah suatu gejala dari
beberapa penyakit yang dapat bersifat kronis.
Letargi adalah perasaan mengantuk yang abnormal atau keadaan mati
rasa mental. (Purse, 2012)

Hiperventilasi
keadaan napas yang berlebihan akibat kecemasan
yang mungkin disertai dengan histeria atu
serangan panik.
Saturasi 02
Adalah suatu pengukuran untuk jumlah oksigen
yang dibawa oleh hemoglobin. (Bird, 2013)
Hipoksia akut
Kondisi kekurangan oksigen pada jaringan tubuh
yang terjadi akibat pengaruh perbedaan ketinggian.
Aklimatisasi
Aklimatisasi merupakan suatu upaya penyesuaian
fisiologis atau adaptasi dari suatu organisme
terhadap suatu

Mengapa pada pendaki gunung


terjadi dispnea, dan hiperventilasi
Penurunan tekanan barometer pada ketinggian menyebabkan
penurunan tekanan partial oksigen (pO2) inspirasi, bisa
menjadi masalah pada sebagian orang. Namun sulit untuk
mengetahui pada ketinggian berapa seseorang dapat
mengalami gangguan akibat ketinggian.
Tekanan atmosfer dan tekanan oksigen inspirasi akan
menurun secara linear menjadi 50% dari nilai permukaan
laut pada ketinggian 5000 meter dan hanya 30% pada
ketinggian 8900 meter. Seiring dengan penurunan pO2,
tubuh akan mengkompensasinya dengan meningkatkan
ventilasi. Hipoksia juga akan menyebabkan vasokonstriksi
pulmoner yang selanjutnya mengakibatkan hipertensi
pulmoner dan high altitude pulmonary oedema (HAPE).

Mengapa hiperventilasi
menyebabkan hipertensi?
Hiperventilasi karena ketinggian akan diikuti
peningkatan curah jantung, frekuensi jantung dan
tekanan darah sistemik. Efek ini diakibatkan oleh
perangsangan simpatis sistem kardiovaskuler yang
menyebabkan perangsangan kemoreseptor arteri
dan peningkatan inflasi paru. Peningkatan curah
jantung, vasokonstriksi hipoksik pulmoner dan
rangsangan saraf simpatis pembuluh darah
menyebabkan peningkatan rerata tekanan arteri
pulmoner yang selanjutnya dapat mengakibatkan
hipertensi pulmoner dan peningkatan kerja
ventrikel kanan.

Peta konsep

Narasi peta konsep

Tinjauan pustaka
Anatomi fisiologi sistem respirasi secara umum

Ventilasi paru
Bila rongga dada mengembang vol. paru , tekanan udara paru
udara luar akan masuk paru ( inspirasi )
Bila volume thorax , volume paru juga , tekanan sehingga udara
keluar dari paru-paru (ekspirasi)
Respirasi internal dan eksternal
RESPIRASI INTERNAL (SELULER) yang mengacu pada proses metabolisme
intrasel yang berlangsung di mitokondria
RESPIRASI EKSTERNAL yang mengacu pada keseluruhan rangkaian
kejadian yang terlibat dalam pertukaran O2 dan CO2 antara antara
lingkungan eksternal dan sel tubuh mulai dari pertukaran oksigen di
alveolus sampai pertukaran oksigen antara kapiler dan jaringan

Quiet respiration

Forced respiration

Transport O2 dan CO2 dalam darah


Transport Gas Oksigen
O2 yang diikat Hb akan membentuk ikatan hemoglobin dengan oksigen HbO2 dan akan
dibawa ke jaringan. Persamaan reaksi disajikan dibawah
Hb + O2 HbO2
Rendahnya O2 dalam sel/jaringan menyebabkan Hb melepaskan O2.Hb akan melepaskan
O2 dan membentuk Hb kembali
HbO2 Hb + O2
PO2 darah 95 mmHg dan di sel 23 mmHg dan oleh karenanya O2 berdifusi dari pembuluh
darah ke sel/jaringan
Transport Gas Karbondioksida
Ketika oksigen dipakai oleh sel sebenarnya seluruh oksigen tersebut menjadi CO2 sehingga
PCO2 dalam sel meningkat. Oleh karena PCO2 sel/jaringan tinggi maka CO2 akan berdifusi
dari sel/jaringan ke pembuluh darah. PCO2 di sel 45 mmHg sedang pada pembuluh darah
4o mmHg, sehingga CO2 berdifusi mengikuti perbedaan gradient tekanan.
Tiga puluh persen CO2diikat oleh Hb untuk membentuk karbaminohemoglobin (HbCO2)
dan sebagian besar lebih kurang 60% dalam bentuk HCO3- seperti persamaan dibawah:
Karbonik anhidrase
CO2 + H2O H2CO3
H+ + HCO3-

Efek fisiologis penurunan PO2 atmosfer di


ketinggian terhadap sistem respirasi
Penurunan tekanan barometrik merupakan
penyebab dasar semua persoalan hipoksia pada
fisiologi tempat tinggi karena seiring dengan
terjadinya penurunan tekanan barometrik akan
terjadi juga penurunan tekanan oksigen parsial
secara proporsional, sehingga tekanan oksigen
selalu tetap dari waktu ke waktu.
Pergeseran kurva saturasi Hb akibat
penurunan PO2

Efek hipoksia akut pada setiap ketinggian yang dicapai


Efek akut dari hipoksia pada orang yang belum teraklimatisasi saat
menghirup udara biasa , mulai dari ketinggian 12.000 kaki ialah:
Mengantuk, Malas, Kelelahan mental dan otot, Sakit kepala, Mual, dan
Euforia
Semua efek ini berkembang menjadi kedutan (twitching) atau kejang
diatas ketinggian 18.000kaki dan akhirnya , di atas 23.000 kaki
berakhir dengan koma pada orang yang belum teraklimatisasi, yang
segera diikuti oleh kematian.
Salah satu efek utama dari hipoksia adalah menurunnya kecakapan
mental , yang akan menurunkan kemampuan dalam mengmbil
keputusan, mengingat, dan melakukan gerakan motorik diskrit.
Sebagai contoh, jika penerbang yang belum teraklimatisasi berada
pada ketinggian 15.000 kaaki selama 1 jam, kemampuan mentaal
biasanya turun menjadi 50% normal, dan setelah 18 jam turun
menjadi 20%.

Aklimatisasi tubuh terhadap PO2 yang rendah


Seseorang yang tinggal di tempat tinggi selama beberapa hari,
minggu atau tahun, menjadi semakin teraklimatisasi terhadap
PO2 yang rendah, sehingga efek buruknya semakin berkurang
dan memungkinkan orang tersebut bekerja lebih berat tanpa
mengalami efek hipoksia atau untuk naik ke tempat yang lebih
tinggi.
Prinsip-prinsip yang terjadi pada aklimatisasi ialah :
Peningkatan ventilasi paru-paru yang cukup berat.
Peningkatan jumlah sel darah merah
Peningkatan kapasitas difusi paru
Peningkatan vaskularisasi jaringan perifer
Penngkatan kemampuan sel dalam menggunakan oksigen
sekalipun nilai PO2 rendah.

Acute mountain sickness


Sebagian kecil orang yang naik secara cepat ke tempat tinggi menjadi sakit secara akut dan
dapat mninggal jika tidak diberikan oksigen atau dipinadahkan ke tempat rendah. Munculnya
sakit tersebut berawal sejak beberapa jam sampai sekitar dua hari setelah naik. Ada 2 hal
yang terjadi :
Edema serebri akut
Terjadi karena pembuluh darah otak mengalami vasodilatasi lokal akibat hipoksia. Dilatasi
arteriol-arteriolakan meningkatkan aliran darah menuju kapiler, sehingga meningkatkan
tekanan kapiler, yang pada gilirannya menyebabkan pembesaran cairan ke jaringan otak.
Edema serebri kemudian dapat menimbulkan disorientasi berat dan efek-efek lain yang
berhubungan dengan disfungsi otak.
Edema Paru Akut
Penyebab hal ini belum diketahui, namun dugaan jawabannya adalah Hipoksia berat
menyebabkan arteriol-arteriol paru mengalami konstriksi kuat, namun konstriksi tersebut lebih
kuat terjadi di beberapa bagian paru dibandingkan yang lain. Hal tersebut mengakibatkan
semakin banyak aliran darah pulmoner dipaksa masuk ke pembuluh darah pulmoner yang
belum konstriksi, yang semakin sedikit jumlahnya. Kesimpulan postulat tersebut adalah
tekanan kapiler di daerah paru tersbut akan menjadi sangat tinggi sehingga timbul edema
lokal. Perluasan proses tersebut secara progresif ke daerah paru lain megakibatkan penyebaran
edema paru dan disfungsi paru berat yang mematikan. Pemberian oksigen untuk bernapas
pada orang tersebut biasanya mmbalikkan proses tersebut dalam hitungan jam.

Chronic mountain sickness


Kadang, orang yang berdiam diri terlalu lama di tempat tinggi dapat menderita mountain sickness
kronik, dengan gejala gejala sebagai berikut :
Sel darah merah dan hematokrit meningkat tinggi sekali
Tekanan arteri pulmonalis meningkat, bahkan melebihi peningkatan normal yang terjadi selama
aklimatisasi
Jantung sisi kanan sangat membesar
Tekanan arteri perifer menurun
Terjadi gagal jantung kongestif
Kemtian sering terjadi kecuali pada pasien yang dipindahkan ke tempat yang lebih rendah

Penyebab peristiwa-peristiwa tersebut mungkin 3 hal :
Massa sel darah terlalu menjadi terlalu besar sehingga viskositas darah meningkat beberapa kali
lipat; peingkatan viskositas darah ini akan menurunkn aliran darah jaringan sehingga
pengangkutan oksigen juga berkurang.
Arteriol paru mengalami vasokonstriksi akibat hipoksia paru. Hal ini terjadi akibat mekanisme
konstriksi sebagai reaksi terhadap hipoksia, yang secara normal terjadi dengan tujuan
mengalihkan aliran darah dari alveoli rendah oksigen ke alveoli tinggi oksigen
Spasme arteriolalveolus mengalihkan banyak aliran darah ke pembuluh nonalveolar,
menyebabkan banyak aliran darah paru memintas ke pembuluh darah yang oksigennya rendah.

Daftar pustaka
Indra, K. M. 2011. Topik ke-65: Vomiting & Nausea.
http://indramuhtadi.weebly.com/2/post/2011/10/topik-ke
-65-vomiting-nausea.html
. Diakses pada tanggal 19 Desember 2013.
Remmel, K. S. 2002. Handbook of Symptom-oriented
Neurology
Walker, H. K. 1990. Clinical Methods: The History,
Physical, and Laboratory Examinations.
Purse, M. 2012. Lethargy.
http://bipolar.about.com/od/glossaryijkl/g/gl_lethargy.htm .
Diakses pada tanggal 19 Desember 2013.
Bird, C. 2013. Oxygen Saturation.
http://preemies.about.com/od/glossary/g/OxygenSats.ht
m
. Diakses pada tanggal 19 Desember 2013.