Anda di halaman 1dari 19

PTERYGIUM

Disusun oleh :
ESTER DINA MARANATA NAINGGOLAN
(210 210 137)

Pembimbing :
dr. JANUAR SITORUS, Sp.M

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SUMATERA UTARA
BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA
RSUD DR. DJASAMEN SARAGIH
PEMATANG SIANTAR

2015

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena
dapat menyelesaikan tulisan tentang Pterygium. Adapun tulisan ini disusun dalam
rangka memenuhi salah satu persyaratan kepaniteraan klinik senior di SMF Ilmu
Mata RSUD dr.Djasamen Saragih Pematangsiantar.
Pada kesempatan ini, izinkan penulis menyampaikan rasa terimakasih
kepada dr. Januar Sitorus, Sp.M yang telah membimbing dan mendidik penulis
selama menjalani kepaniteraan klinik senior. Selain itu, penulis juga hendak
menyampaikan terimakasih kepada dokter dan tenaga medis lainnya di bagian ini.
Penulis mendapatkan manfaat yang besar selama mengumpulkan dan
memahami materi tulisan serta pada saat menyusun tulisan ini hingga selesai.
Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih banyak kekurangan dan memberikan
informasi yang minimal. Untuk itu, masukan yang membangun sangat penulis
harapkan. Semoga tulisan ini dapat menambah wawasan kita semua dan marilah
kita budayakan membaca sejak dini.

Pematangsiantar, Maret 2015

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................

DAFTAR ISI ....................................................................................................

ii

STATUS PASIEN ............................................................................................


PTERYGIUM ..................................................................................................

PENDAHULUAN ...........................................................................................

DEFINISI .........................................................................................................

EPIDEMIOLOGI .............................................................................................

ETIOLOGI DAN FAKTOR RESIKO .............................................................

JENIS-JENIS PTERYGIUM ...........................................................................

STADIUM PTERYGIUM ...............................................................................

GEJALA KLINIK ............................................................................................

HISTOLOGIS ..................................................................................................

DIAGNOSIS BANDING ................................................................................

TERAPI ...........................................................................................................

KEKAMBUHAN SETELAH DILAKUKANNYA EKSISI BEDAH ............

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................

11

BAB I
STATUS PASIEN

I. IDENTITAS PASIEN
Nama

: Ny. Y

Umur

: 53 tahun

Agama

: Islam

Pekerjaan

: PNS

Alamat

: Wonosoco

Tanggal Pemeriksaan : 26 Februari 2015

II. ANAMNESIS
Anamnesis secara

: Autoanamnesis

Keluhan Utama

: Mata kanan perih dan terasa ada yang mengganjal

Riwayat Penyakit Sekarang:


Keluhan mata kanan perih dialami pasien sejak kira-kira 3 bulan yang lalu dan
sifatnya hilang timbul. Rasa perih ini timbul terutama bila mata kena cahaya
matahari, debu atau angin. Pasien juga merasakan seperti ada sesuatu yang
mengganjal ketika menutup mata kanannya. Awalnya pasien merasa gatal pada
mata kanannya, lama kelamaan rasa gatal menghebat sehingga pasien sering
mengucek-ngucek matanya. Rasa gatal kemudian diikuti dengan rasa perih yang
disertai pengeluaran air mata yang berlebihan dan mata menjadi merah. Keluhan
ini timbul saat pasien beraktifitas di luar rumah yaitu saat mata pasien terkena
debu, angin atau sinar matahari. Pasien juga merasakan penglihatan mata kananny
terganggu sejak 1 minggu terakhir.

Pasien sehari-hari banyak beraktifitas di luar rumah dan jarang memakai kacamata
pelindung sehingga sering terpapar sinar matahari dan debu.
Riwayat Penyakit Dahulu :
-

Riwayat Trauma Pada Mata (-)


Riwayat Penyakit Mata Yang Lain (-)
Riwayat Hipertensi (-)
Riwayat Diabetes Melitus (-)
Riwayat Alergi Obat (-)

Riwayat Penyakit Keluarga

Tidak ada keluarga pasien yang mengalami penyakit serupa.

Riwayat Sosial Ekonomi:


Pasien seorang PNS. Biaya pengobatan ditanggung Jamkesmas.

III.

PEMERIKSAAN FISIK
A. VITAL SIGN
Tekanan darah
Nadi
Suhu
Pernafasan
Keadaan Umum
Kesadaran
Status Gizi

:
:
:
:
:
:
:

120/80 mmHg
84x/menit
Afebris
20x/menit
Baik
Compos mentis
Cukup

B. STATUS OFTALMOLOGI
OCULI DEXTRA(OD)
6/12
S+ 0,50 6/6

PEMERIKSAAN
Visus
Koreksi

OCULI SINISTRA(OS)
6/12
S+ 0,50 6/6

Bulbus okuli

Add S+ 3
Gerak bola mata normal

Palpebra

Normal

Konjungtiva

Normal

antara limbus dengan pupil


Hiperemis (+)
Jernih, bagian nasal tidak rata

Sklera

Normal

ditutupi membran.

Kornea

Normal

Add S+ 3
Gerak bola mata normal
Normal
Bagian nasal terdapat membran
segitiga dengan puncak sudah
melewati limbus kornea namun
belum mencapai setengah jarak

Camera Oculi
Normal

Anterior
(COA)
Iris

Normal
bulat, diameter : 3mm,
letak sentral,

Normal
Normal
bulat, diameter 3 mm,

Pupil

refleks pupil langsung (+),

letak sentral,
refleks pupil langsung (+),

refleks pupil tak langsung (+)


IOL, letak sentral, PCO (-)
Jernih

Lensa
Vitreus

refleks pupil tak langsung (+)


IOL, letak sentral, PCO (-)
Jernih

Normal

Retina

Normal

(+) cemerlang
Normal
Epifora (-), lakrimasi (+)

Fundus Refleks
TIO digital
Sistem Lakrimasi

(+) cemerlang
Normal
Epifora (-), lakrimasi (+)

IV. RESUME
Seorang pasien wanita usia 53 tahun dating ke Poliklinik Mata RSUD Dr.
Djasamen Saragih dengan keluhan utama : mata kanan perih dan terasa
seperti terganjal sesuatu, gatal (+), hiperemis (+), lakrimasi (+).

Pemeriksaan Fisik :
-

Status Generalisata : DBN

Status Oftalmikus :

Subjektif : VOD : 6/12, VOS : 6/12

Objektif : konjungtiva bulbi OD : hiperemis (+), terdapat


membrane berbentuk segitiga pada bagian nasal dengan puncak
melewati limbus tapi belum melewati setengah jarak limbus
dan pupil.

Pemeriksaan Tambahan : TIOD : 17,3 mmHg ; TIOS : 14,9


mmHg

Diagnosa
Pterigium Stadium II Okulus Dekstra

Penanganan
-

Tetes mata kortikosteroid

Direncanakan ekstirpasi Pterigium

Prognosis
Cenderung membaik (Dubia ad Bonam)

Preventif

Pasien dianjurkan memakai kacamata atau topi pelindung bila sedang


beraktifitas di luar rumah.

BAB II
PTERYGIUM

PENDAHULUAN
Pterygium merupakan suatu pertumbuhan fibrovaskular konjungtiva yang
bersifat degeneratif dan invasif. Pertumbuhan ini biasanya terletak pada celah
kelopak bagian nasal ataupun temporal konjungtiva yang meluas kedaerah kornea

Anatomi Konjungtiva
Konjungtiva merupakan membran yang menutupi sklera dan kelopak
bagian belakang. Bermacam-macam obat mata dapat diserap melalui konjungtiva
ini. Konjungtiva mengandung kelenjar musin yang dihasilkan oleh sel Goblet.
Musin bersifat membasahi bola mata terutama kornea.
Konjungtiva terdiri atas tiga bagian, yaitu :

Konjungtiva tarsal yang menutupi tarsus, konjungtiva tarsal sukar digerakkan

dari tarsus.
Konjungtiva bulbi menutupi sklera dan mudah digerakkan dari sklera di
bawahnya.

Konjungtiva forniks yang merupakan tempat peralihan konjungtiva tarsal


dengan konjungtiva bulbi.
Konjungtiva bulbi dan konjungtiva forniks berhubungan sangat longgar

dengan jaringan di bawahnya, sehingga bola mata mudah bergerak.


Anatomi Kornea
Kornea (Latin Cornum = seperti tanduk) adalah selaput bening mata,
bagian selaput mata yang tembus cahaya, merupakan lapis jaringan yang menutup
bola mata sebelah depan dan terdiri atas lapis: Epitel : Tebalnya 50 m, terdiri atas
5 lapis sel epitel tidak bertanduk yang saling tumpang tindih; satu lapis sel basal,
sel poligonal dan sel gepeng. Pada sel basal sering terlihat mitosis sel dan sel
muda ini terdorong ke depan menjadi lapis sel sayap dan semakin maju ke depan
menjadi sel gepeng, sel basal berikatan erat dengan sel basal di sampingnya dan
sel poligonal di depannya melalui desmosom dan makula okluden; ikatan ini
menghambat pengaliran air, elektrolit, dan glukosa yang merupakan barrier. Sel
basal menghasilkan membran basal yang melekat erat kepadanya. Bila terjadi
gangguan akan mengakibatkan erosi rekuren. Epitel berasal dari ektoderm
permukaan.
Membran Bowman. Terletak dibawah membran basal epitel kornea yang
merupakan kolagen yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari
bagian

depan

stroma.

Lapis

ini

tidak

mempunyai

daya

regenerasi.

Stroma. Terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen yang sejajar satu
dengan lainnya, pada permukaan terlihat anyaman yang teratur sedang di bagian
perifer serat kolagen ini bercabang; terbentuknya kembali serat kolagen memakan
waktu lama yang kadang-kadang sampai 15 bulan. Keratosit merupakan sel
stroma kornea yang merupakan fibroblas terletak di antara serat kolagen stroma.
Diduga keratosit membentuk bahan dasar dan serat kolagen dalam perkembangan
embrio atau sesudah trauma.
Membran Descemet. Merupakan suatu lapisan tipis yang bersifat kenyal,
kuat, tidak berstruktur dan bening, mempunyai tebal 40 m; terletak di bawah
stroma, lapisan ini merupakan pelindung atau barrier infeksi dan masuknya
pembuluh darah.

Endotel. Berasal dari mesotelium, berlapis satu, bentuk heksagonal, besar


20-40m. Endotel melekat pada membrane descemet melalui hemidesmosom dan
zonula okluden.
Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensoris terutama berasal dari saraf
siliar longus, saraf nasosiliar, saraf ke V (N.Trigeminus), saraf siliar longus
berjalan suprakoroid, masuk kedalam stroma kornea, menembus membrane
Bowman melepaskan selubung schwannya. Seluruh lapis epitel dipersarafi sampai
pada keua lapis terdepan tanpa ada akhir saraf. Trauma atau penyakit yang
merusak endotel akan mengakibatkan sistem pompa endotel terganggu sehingga
dekompensasi endotel dan terjadi edema kornea. Endotel tidak mempunyai daya
regenerasi.
Kornea merupakan bagian mata yang tembus cahaya dan menutup bola
mata di sebelah depan. Pembiasan sinar terkuat dilakukan oleh kornea, dimana 40
dioptri dari 50 dioptri pembiasan sinar masuk kornea dilakukan olah kornea.
DEFINISI
Pterygium merupakan suatu pertumbuhan fibrovaskular konjungtiva yang
bersifat degeneratif dan invasif. Pertumbuhan ini biasanya terletak pada celah
kelopak bagian nasal ataupun temporal konjungtiva yang meluas kedaerah kornea.
Pterygium berbentuk segitiga dengan puncak dibagian sentral atau didaerah
kornea. Pterygium mudah meradang dan bila terjadi iritasi, maka bagian
pterygium akan berwarna merah. Pterygium dapat mengenai kedua mata.
Timbulnya pterygium kadang-kadang bersamaan dengan pinguekula.
Pinguekula terletak dalam fissura interpalpebral di meridian horizontal.
Pinguekula sendiri merupakan suatu penonjolan berwarna putih kekuningan yang
tumbuh di dekat kornea, diduga pinguekula adalah degenarasi hialin jaringan
submukosa konjungtiva. Pembuluh darah tidak masuk ke dalam pinguekula akan
tetapi bila meradang atau terjadi iritasi, maka disekitar bercak degenerasi ini akan
terlihat pembuluh darah yang melebar.

Ukurannya bisa semakin besar,

penyebabnya tidak diketahui tetapi pertumbuhannya didukung oleh pemaparan


sinar matahari dan iritasi mata. Pinguekula tidak enak dilihat tetapi biasanya tidak
menyebabkan masalah yang serius dan tidak perlu dibuang/diangkat.

EPIDEMIOLOGI
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa prevalensi pterygium paling
tinggi terdapat di daerah khatulistiwa. Pterygium juga sering ditemukan pada lakilaki dibandingkan wanita dan umumnya mengenai orang-orang yang memiliki
aktivitas di luar ruangan. Prevalensi pterygium juga meningkat dengan
bertambahnya usia. Insiden pterygium paling banyak ditemukan pada usia 20-40
tahun.
ETIOLOGI DAN FAKTOR RESIKO
Terdapat banyak perdebatan mengenai etiologi atau penyebab pterygium.
Disebutkan bahwa radiasi sinar Ultra violet B sebagai salah satu penyebabnya.
Sinar UV-B merupakan sinar yang dapat menyebabkan mutasi pada gen
suppressor tumor p53 pada sel-sel benih embrional di basal limbus kornea. Tanpa
adanya apoptosis (program kematian sel), perubahan pertumbuhan faktor Beta
akan menjadi berlebihan dan menyebabkan pengaturan berlebihan pula pada
sistem kolagenase, migrasi seluler dan angiogenesis. Perubahan patologis tersebut
termasuk juga degenerasi elastoid kolagen dan timbulnya jaringan fibrovesikular,
seringkali disertai dengan inflamasi. Lapisan epitel dapat saja normal, menebal
atau menipis dan biasanya menunjukkan displasia.
Terdapat teori bahwa mikrotrauma oleh pasir, debu, angin, inflamasi,
bahan iritan lainnya atau kekeringan juga berfungsi sebagai faktor resiko
pterygium. Orang yang banyak menghabiskan waktunya dengan melakukan
aktivitas di luar ruangan lebih sering mengalami pterygium dan pinguekula
dibandingkan dengan orang yang melakukan aktivitas di dalam ruangan.
Kelompok masyarakat yang sering terkena pterygium adalah petani, nelayan atau
olahragawan (golf) dan tukang kebun. Kebanyakan timbulnya pterygium memang
multifaktorial dan termasuk kemungkinan adanya keturunan (faktor herediter).
Pterygium banyak terdapat di nasal daripada temporal. Penyebab
dominannya pterygium terdapat di bagian nasal juga belum jelas diketahui namun
kemungkinan disebabkan meningkatnya kerusakan akibat sinar ultra violet di area
tersebut. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa kornea sendiri dapat bekerja

seperti lensa menyamping (side-on) yang dapat memfokuskan sinar ultra violet ke
area nasal tersebut.
Teori lainnya menyebutkan bahwa pterygium memiliki bentuk yang
menyerupai tumor. Karakteristik ini disebabkan karena adanya kekambuhan
setelah dilakukannya reseksi dan jenis terapi yang diikuti selanjutnya (radiasi,
antimetabolit). Gen p53 yang merupakan penanda neoplasia dan apoptosis
ditemukan pada pterygium. Peningkatan ini merupakan kelainan pertumbuhan
yang mengacu pada proliferasi sel yang tidak terkontrol daripada kelainan
degeneratif.
JENIS-JENIS PTERYGIUM
Vaskuler : pterygium tebal, merah, progresif, ditemukan pada anak muda
(tumbuh cepat karena banyak pembuluh darah. Membrannaceus : pterygium tipis
seperti plastik, tidak terlalu merah, terdapat pada orang tua.
STADIUM PTERYGIUM
Stadium I

: Belum melewati limbus

Stadium II

: Sudah melewati limbus dan belum mencapai pupil

Stadium III : Sudah menutupi pupil


Stadium IV : Sudah melewati pupil
GEJALA KLINIK
Pterygium dapat ditemukan dalam berbagai bentuk. Pterygium dapat
hanya terdiri atas sedikit vaskular dan tidak ada tanda-tanda pertumbuhan.
Pterygium dapat aktif dengan tanda-tanda hiperemia serta dapat tumbuh dengan
cepat.
Pasien yang mengalami pterygium dapat tidak menunjukkan gejala apapun
(asimptomatik). Kebanyakan gejala ditemukan saat pemeriksaan berupa iritasi,
perubahan tajam penglihatan, sensasi adanya benda asing atau fotofobia.
Penurunan tajam penglihatan dapat timbul bila pterygium menyeberang axis
visual atau menyebabkan meningkatnya astigmatisme. Efek lanjutnya yang
disebabkan membesarnya ukuran lesi menyebabkan terjadinya diplopia yang

biasanya timbul pada sisi lateral. Efek ini akan timbul lebih sering pada lesi-lesi
rekuren (kambuhan) dengan pembentukan jaringan parut.

Pterygium memiliki tiga bagian :

Bagian kepala atau cap, biasanya datar, terdiri atas zona abu-abu pada
kornea yang kebanyakan terdiri atas fibroblast. Area ini menginvasi dan
menghancurkan lapisan Bowman pada kornea. Garis zat besi (iron
line/Stockers line) dapat dilihat pada bagian anterior kepala. Area ini juga

merupakan area kornea yang kering.


Bagain whitish. Terletak langsung setelah cap. Merupakan sebuah lapisan

vesikuler tipis yang menginvasi kornea seperti halnya kepala.


Bagian badan atau ekor. Merupakan bagian yang mobile (dapat bergerak),
lembut, merupakan area vesikuler pada konjungtiva bulbi dan merupakan
area paling ujung. Badan ini menjadi tanda khas yang paling penting untuk
dilakukannya koreksi pembedahan.

HISTOLOGIS
Secara histologis, pterygium menujukkan perubahan yang sama dengan
pinguekula. Epitel dapat saja normal, akantotik, hiperkeratosis atau bahkan
displasia. Pemeriksaan sitologi pada permukaan sel pterygium terlihat abnormal
dan menunjukkan peningkatan densitas sel goblet dengan metaplasia squamosa
juga menunjukkan adanya permukaan sitologi yang abnormal pada area lain di
konjungtiva bulbi pada area tanpa adanya pterygium8. Substansia propria
menunjukkan degenerasi elastotik jaringan kolagen seperti yang dilaporkan oleh
Austin dkk2 seperti elastodisplasia dan elastodistropi. Kolagen selanjutnya
menghasilkan maturasi dan degenarasi abnormal. Sumber serat atau fiber
kemungkinan berasal dari fibroblast yang mengalami degenerasi.
DIAGNOSIS BANDING

Diagnosis banding pterygium adalah pseudopterygium. Pseudopterygium


merupakan

perlekatan

konjungtiva

dengan

kornea

yang

cacat.

Sering

pseudopterygium ini terjadi pada proses penyembuhan tukak kornea, sehingga


konjungtiva menutupi kornea. Pseudopterygium juga sering dilaporkan sebagai
dampak sekunder penyakit peradangan pada kornea. Pseudopterygium dapat
ditemukan di bagian apapun pada kornea dan biasanya berbentuk obliq.
Sedangkan pterygium ditemukan secara horizontal pada posisi jam 3 atau jam 9.

TERAPI
a. Terapi Konservatif
Terdapat beberapa terapi untuk pterygium. Secara umum pterygium primer
diterapi secara konservatif dan hal ini merupakan rekomendasi pertama pada
kebanyakan orang. Air mata buatan dapat membuat perasaan nyaman pada
penderita dan menyingkirkan adanya sensasi adanya benda asing pada mata.
Biasanya proses inflamasi pada lesi menjadi berkurang, pada kasus ini
pemberian dekongestan optik ringan atau yang lebih jarang, obat anti
inflamasi juga dapat diresepkan oleh dokter.
Pterygium atrofik yang berukuran kecil dapat diobservasi secara teratur.
Cairan pelumas dapat digunakan untuk mengatasi iritasi. Pterygium aktif
dapat diterapi awal dengan vasokonstriktor, obat-obat anti inflamasi non
steroid atau tetes mata steroid. Semua hal ini dapat digunakan sebagai terapi
tunggal atau sebelum dilakukan eksisi bedah.
b. Terapi Bedah
Pembedahan merupakan tindakan terbaik untuk mengatasi pterygium ataupun
pinguekula, namun hasilnya seringkali mengecewakan. Bahkan dengan tehnik
modern ini, angka kekambuhan cukup tinggi, yaitu antara 50-60%.
Pembedahan
pinguekula

tidak

tidak
terlalu

direkomendasikan
menimbulkan

selama

masalah

pterygium

berat

bagi

ataupun
penderita.

Tiga tipe masalah yang merupakan indikasi dilakukannya pembedahan segera :


Tajam penglihatan terganggu. Hal ini dikarenakan pterygium berukuran cukup
besar sehingga mengenai zona penglihatan di bagian tengah kornea. Pembedahan

dapat digunakan untuk menjernihkan media penglihatan dan membatasi


astigmatisma yang cepat dan irregular.
Pterygium (kadang pinguekula) sangat mengganggu secara kosmetik.
Pembedahan biasanya dapat mengurangi ukuran pterygium, namun eliminasi
secara menyeluruh kadang sulit dilakukan.
Baik pterygium maupun pinguekula menyebabkan perasaan yang sangat
tidak nyaman karena adanya kekeringan atau sensasi adanya benda asing yang
kronik. Pembedahan biasanya dapat meningkatkan rasa nyaman, namun gejala
iritasi juga dapat muncul.
Cara operasi terbagi tiga :
1. Bar sklera : sklera dibiarkan terbuka.
2. Eksterpasi pterigium : Pterigium digunting, kemudian dijahit kebawah
konjungtiva.
3. Operasi plastik : ditutup oleh mukosa mulut.
Indikasi Operasi McReynold
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Pterigium telah memasuki kornea lebih dari 4 mm.


Pertumbuhan yang progresif, terutama pterigium jenis vascular.
Mata terasa mengganjal.
Visus menurun, terus berair.
Mata merah sekali.
Telah masuk daerah pupil atau melewati limbus.
Alasan kosmetik.

Tehnik pembedahan dengan menggunakan tandur atau graft sklera :

Pembedahan ini dilakukan di bawah anastesi lokal sehingga pasien tidak

akan merasakan sakit.


Dalam pembedahan, pterygium dipindahkan dan bagian kecil konjungtiva
yang berupa kulit tipis transparan yang menutupi bagian putih pada mata
diletakkan ke tempat tersebut dari kelopak mata bagian bawah. Operasi

hanya berlangsung selama setengah jam.


Setelah pembedahan, seringkali pasien mengalami nyeri mata selama
beberapa minggu sehingga diperlukan pemberian tetes mata topikal selama

beberapa hari. Pada awal fase nyeri ini, biasanya mata juga mengalami
sedikit pembengkakan dan memerah.
KEKAMBUHAN SETELAH DILAKUKANNYA EKSISI BEDAH
Pterygium dapat mengalami kekambuhan walaupun telah dilakukan
pembedahan. Kambuhnya pterygium setelah dilakukan pembedahan telah lama
menjadi masalah tersendiri bagi para ahli bedah walaupun tehnik yang digunakan
termasuk baru. Autograf konjungtiva pada sel benih limbus adalah tehnik
pembedahan yang paling banyak digunakan saat ini untuk mengatasi adanya
kekambuhan pterygium, namun seringkali tehnik ini saja tidak cukup untuk
mengatasi seringnya kekambuhan setelah dilakukannya pembedahan10. Salah
satu cara yang paling banyak direkomendasikan adalah dengan tehnik
intraoperatif dengan menggunakan Mitomycin C.
Mitomycin C, adalah antimetabolit yang telah digunakan selama bertahuntahun sebagai pengobatan glaukoma. Ternyata bahan ini juga dapat mengatasi
pterygium yang kambuh setelah pembedahan.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Frucht-Pery dkk (1999) dilakukan
untuk mengetahui efektifitas pemberian Mitomycin C secara intraoperatif dalam
pembedahan pterygium. Metode penlitian : Efektifitas pemberian Mitomycin C
secara intraoperatif dan kekambuhan post-operatif dinilai pada 17 pasien dengan
dua pasien diantaranya mengalami kekambuhan pterygium. Para peneliti
menggunakan tehnik bar-sclera dan meletakkan spons steril yang dicelupkan ke
dalam larutan Mitomycin C 0,02% intraoperatif dalam ruangan episklera selama 3
menit. Kelompok kontrol (15 pasien) hanya menjalani eksisi bedah saja. Pasien
kemudian dimonitor selama 21 sampai 30 bulan. Hasil penelitian adalah
peterygium menglami kekambuhan pada satu (5,9%) dari 17 pasien dalam
kelompok pertama dan sebanyak 6 pasien (40%) juga mengalami kekambuhan
pada kelompok kontrol. Analisis statistik dengan menggunakan test Fisher
menunjukkan adanya pengurangan angka kekambuhan yang signifikan (p=0,027)
pada kelompok yang diberikan Mitomycin C

intraopertif. Tidak terdapat

komplikasi atau efek samping selama periode follow-up. Kesimpulan dari


penelitian ini adalah Mitomycin C dapat diberikan secara intraoperatif dan

merupakan tehnik yang efektif untuk meningkatkan angka keberhasilan eksisi


bedah pada pterygium 10.
Tehnik intraoperatif dengan Mitomycin C :
Tehnik ini dimulai dengan melakukan tindakan bedah konvensional.
Kemudian sebuah spons yang dicelupkan dalam larutan (solution) Mitomycin C
kemudian diletakkan di bawah flap konjungtiva dan di belakang limbus.
Selanjutnya 0,1 cc dari 0.4 mg/mL (0.04%) Mytomitocin C diaplikasikan pada
ruangan subkonjungtiva selama 3 menit.
Langkah selanjutnya adalah dengan membasuh sklera selama kurang lebih
5 menit dengan menggunakan larutan fisiologis. Dengan dosis Mitomycin-C
yang tepat, persentase kekambuhan pterygium menjadi semakin rendah dan
komplikasi terhadap penglihatan tidak ditemukan.

10

DAFTAR PUSTAKA

Aminlari, A., Singh, R., liang, D., 2010. Management of Pterygium 3738.
Erry, Mulyani, U.A., Susilowati, D., 2011. Distribusi dan Karakterisitik Pterigium
di Indonesia. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, Buletin Penelitian Sistem
Kesehatan 14, 8449.
Fisher, J.P., 2009. Pterygium. Medscape.
Francisco J, Garcia-Ferrer, Ivan R. Schwab, Debra J. Shetlar, 2010. Konjungtiva,
in: Vaughan & Asbury Oftalmologi Umum Edisi 17. EGC, Jakarta, p. 119.
G Gazzard, S-M Saw, M Farook, D Koh, D Widjaja, S-E Chia, C-Y Hong, D T H
Tan, 2002. Pterygium in Indonesia: prevalence, severity and risk factors.
bjophthalmol 86, 13411346.
Ilyas, S., 2009. Ikhtisar Ilmu Penyakit Mata. Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia, Jakarta.

11