Anda di halaman 1dari 5

Selasa, 28 Desember 2010

AKHLAK TERHADAP AL-QURAN


AKHLAK TERHADAP AL-QURAN
Al-Quran adalah kitab suci agama islam untuk seluruh umat muslim di seluruh dunia dari
awal diturunkan hingga waktu penghabisan spesies manusia di dunia baik di bumi maupun di
luar angkasa akibat kiamat besar.
Di dalam surat-surat dan ayat-ayat alquran terkandung kandungan yang secara garis besar
dapat kita bagi menjadi beberapa hal pokok atau hal utama beserta pengertian atau arti
definisi dari masing-masing kandungan inti sarinya, yaitu sebagaimana berikut ini :
1. Aqidah / Akidah
Aqidah adalah ilmu yang mengajarkan manusia mengenai kepercayaan yang pasti wajib
dimiliki oleh setiap orang di dunia. Alquran mengajarkan akidah tauhid kepada kita yaitu
menanamkan keyakinan terhadap Allah SWT yang satu yang tidak pernah tidur dan tidak
beranak-pinak. Percaya kepada Allah SWT adalah salah satu butir rukun iman yang pertama.
Orang yang tidak percaya terhadap rukun iman disebut sebagai orang-orang kafir.
2. Ibadah
Ibadah adalah taat, tunduk, ikut atau nurut dari segi bahasa. Dari pengertian "fuqaha" ibadah
adalah segala bentuk ketaatan yang dijalankan atau dkerjakan untuk mendapatkan ridho dari
Allah SWT. Bentuk ibadah dasar dalam ajaran agama islam yakni seperti yang tercantum
dalam lima butir rukum islam. Mengucapkan dua kalimah syahadat, sholat lima waktu,
membayar zakat, puasa di bulan suci ramadhan dan beribadah pergi haji bagi yang telah
mampu menjalankannya.
3. Akhlaq / Akhlak
Akhlak adalah perilaku yang dimiliki oleh manusia, baik akhlak yang terpuji atau akhlakul
karimah maupun yang tercela atau akhlakul madzmumah. Allah SWT mengutus Nabi
Muhammd SAW tidak lain dan tidak bukan adalah untuk memperbaiki akhlaq. Setiap
manusia harus mengikuti apa yang diperintahkanNya dan menjauhi laranganNya.
4. Hukum-Hukum
Hukum yang ada di Al-quran adalah memberi suruhan atau perintah kepada orang yang
beriman untuk mengadili dan memberikan penjatuhan hukuman hukum pada sesama manusia
yang terbukti bersalah. Hukum dalam islam berdasarkan Alqur'an ada beberapa jenis atau
macam seperti jinayat, mu'amalat, munakahat, faraidh dan jihad.
5. Peringatan / Tadzkir
Tadzkir atau peringatan adalah sesuatu yang memberi peringatan kepada manusia akan
ancaman Allah SWT berupa siksa neraka atau waa'id. Tadzkir juga bisa berupa kabar gembira
bagi orang-orang yang beriman kepadaNya dengan balasan berupa nikmat surga jannah atau
waa'ad. Di samping itu ada pula gambaran yang menyenangkan di dalam alquran atau disebut
juga targhib dan kebalikannya gambarang yang menakutkan dengan istilah lainnya tarhib.
6. Sejarah-Sejarah atau Kisah-Kisah
Sejarah atau kisah adalah cerita mengenai orang-orang yang terdahulu baik yang
mendapatkan kejayaan akibat taat kepada Allah SWT serta ada juga yang mengalami
kebinasaan akibat tidak taat atau ingkar terhadap Allah SWT. Dalam menjalankan kehidupan
sehari-hari sebaiknya kita mengambil pelajaran yang baik-baik dari sejarah masa lalu atau
dengan istilah lain ikibar.
7. Dorongan Untuk Berpikir
Di dalam al-qur'an banyak ayat-ayat yang mengulas suatu bahasan yang memerlukan

pemikiran menusia untuk mendapatkan manfaat dan juga membuktikan kebenarannya,


terutama mengenai alam semesta.
Banyak sekali rincian yang dikemukakan Al-Quran berkaitan dengan perlakuan terhadap
sesama manusia. Petunjuk mengenai hal ini bukan hanya dalam bentuk larangan melakukan
hal-hal negatif seperti membunuh, menyakiti badan, atau mengambil harta tanpa alasan yang
benar, melainkan juga sampai kepada menyakiti hati dengan jalan menceritakan aib
seseorang di belakangnya, tidak peduli aib itu benar atau salah, walaupun sambil memberikan
materi kepada yang disakiti hatinya itu.
Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baiK daripada sedekah yang disertai dengan
sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima) (QS Al-Baqarah [2]: 263).
Di sisi lain Al-Quran menekankan bahwa setiap orang hendaknya didudukkan secara wajar.
Nabi Muhammad Saw. Misalnya dinyatakan sebagai manusia seperti manusia yang lain,
namun dinyatakan pula bahwa beliau adalah Rasul yang memperoleh wahyu dari Allah. Atas
dasar itulah beliau berhak memperoleh penghormatan melebihi manusia 1ain. Karena itu, AlQuran berpesan kepada orang-orang Mukmin:
Jangan meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi (saat berdialog), dan jangan pula
mengeraskan suaramu (di hadapannya saat beliau diam) sebagaimana (kerasnya) suara
sebagian kamu terhadap sebagian yang lain... (QS Al-Hujurat [49]: 2).
Janganlah kamu jadikan panggilan (nama) Rasul di antara kamu, seperti panggilan sebagian
kamu kepada sebagian (yang lain) (QS An-Nur [24]: 63).
Petunjuk ini berlaku kepada setiap orang yang harus dihormati. Al-Quran juga menekankan
perlunya privasi (kekuasaan atau kebebasan pribadi).
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasukirumah yang bukan rumahmu
sebelum kamu meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya (QS An-Nur [24]: 27).
Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak lelaki dan wanita yang kamu miliki,
dan orang-orang yang belum balig di antara kamu meminta izin kepada kamu tiga kali (yaitu
waktu) sebelum shalat subuh,ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)-mu di tengah hari,
dan sesudah shalat isya ... (QS An-Nur [24):58).
Salam yang diucapkan itu wajib dijawab dengan salam yangserupa, bahkan juga dianjurkan
agar dijawab dengan salam yang lebih baik (QS An-Nisa' [4]: 86).
Setiap ucapan haruslah ucapan yang baik, Al-Quran memerintahkan, Ucapkanlah kata-kata
yang baik kepada manusia (QS A1-Baqarah [2]: 83). Bahkan lebih tepat jika kita berbicara
sesuai dengan keadaan dan kedudukan mitra bicara, serta harus berisi perkataan yang
benar,Dan katakanlah perkataan yang benar (QS Al-Ahzab [33]: 70).
Tidak wajar seseorang mengucilkan seseorang atau kelompok lain, tidak wajar pula
berprasangka buruk tanpa alasan, atau menceritakan keburukan seseorang, dan menyapa atau
memanggilnya dengan sebutan buruk (baca Al-Hujurat [49]:11-12) .
Yang melakukan kesalahan hendaknya dimaafkan. Pemaafan ini hendaknya disertai dengan
kesadaran bahwa yang memaafkan berpotensi pula melakukan kesalahan. Karena itu, ketika
Misthah --seorang yang selalu dibantu oleh Abu Bakar r.a.--menyebarkan berita palsu tentang
Aisyah, putrinya, Abu Bakar dan banyak orang lain bersumpah untuk tidak lagi membantu
Misthah. Tetapi Al-Quran turun menyatakan:
Janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu
bersumpah bahwa mereka tidak akan memberi bantuan kepada kaum kerabat(-nya), orangorang miskin dan orang-orang yang berhijrah dijalan Allah, dan hendaklah mereka

memaafkan, serta berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampuni kamu? Allah
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS An-Nur [24]: 22). Sebagian dari ciri orang
bertakwa dijelaskan dalam Quran suratAli Imran (3): 134, yaitu:
Maksudnya mereka mampu menahan amarahnya, dan memaafkan, (bahkan) berbuat baik
(terhadap mereka yang pernah melakukan kesalahan terhadapnya), sesungguhnya Allah
senang terhadap orang yang berbuat baik. Di dunia Barat, sering dinyatakan, bahwa "Anda
boleh melakukan perbuatan apa pun selama tidak bertentangan dengan hak orang
lain", tetapi dalam Al-Quran ditemukan anjuran, "Anda hendaknya mendahulukan
kepentingan orang lain daripada kepentingan Anda sendiri."Mereka mengutamakan orang
lain daripada diri mereka sendiri, walaupun mereka amat membutuhkan (QS Al-Hasyr [59]:
9).
Jika ada orang yang digelari gentleman --yakni yang memiliki harga diri, berucap benar, dan
bersikap lemah lembut {terutama kepada wanita)-- seorang Muslim yang mengikuti
petunjuk-petunjuk akhlak Al-Quran tidak hanya pantas bergelar demikian, melainkan lebih
dari itu, dan orang demikian dalam bahasa Al-Quran disebut al-muhsin.
Setiap muslim harus meyakini kesucian Kalamulloh, keagungannya, dan keutamaannya di
atas seluruh kalam (ucapan). Al-Quranul Karim itu Kalamulloh yang di dalamnya tidak ada
kebatilan. Al-Quran memberi petunjuk jalan yang lurus dan memberi bimbingan kepada
umat manusia di dalam menempuh perjalanan hidupnya, agar selamat di dunia dan di akhirat,
dan dimasukkan dalam golongan orang-orang yang mendapatkan rahmat dari Alloh Taala.
Untuk itulah tiada ilmu yang lebih utama dipelajari oleh seorang Muslim melebihi keutamaan
mempelajari Al-Quran. Sebagaimana sabda Nabi ShallAllohu alaihi wa sallam, yang
artinya: Sebaik-baik kamu adalah orang yg mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya.
(HR. Bukhari).
Dalam riwayat Imam Muslim dijelaskan, yang artinya: Bacalah Al-Quran, sesungguhnya
Al-Quran itu akan menjadi syafaat di hari Qiyamat bagi yang membacanya (ahlinya). (HR.
Muslim).
Wajib bagi kita menghalalkan apa yang dihalalkan Al-Quran dan mengharamkan apa yang
diharamkannya. Diwajibkan pula beradab dengannya dan berakhlaq terhadapnya. Untuk
mendapatkan kesempurnaan pahala dalam membaca Al-Quran, di saat membaca Al-Quran
seorang Muslim perlu memperhatikan adab-adab yang akan disampaikan pada tulisan berikut
ini.
Agar membacanya dalam keadaan yang sempurna, suci dari najis, dan dengan duduk yang
sopan dan tenang. Dalam membaca Al-Quran dianjurkan dalam keadaan suci. Namun
apabila dia membaca dalam keadaan najis, diperbolehkan dengan Ijma umat Islam. Imam
Haromain berkata; orang yang membaca Al-Quran dalam keadaan najis, dia tidak dikatakan
mengerjakan hal yang makruh, akan tetapi dia meninggalkan sesuatu yang utama. (AtTibyan, hal.58-59).
Membacanya dengan pelan (tartil) dan tidak cepat, agar dapat menghayati ayat yang dibaca.
Rasulullah ShallAllohu alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: Siapa saja yang membaca
Al-Quran (khatam) kurang dari tiga hari, berarti dia tidak memahami (HR. Ahmad dan para
penyusun Kitab-KitabSunan).
Dan sebagian kelompok dari generasi pertama membenci pengkhataman Al-Quran sehari
semalam, dengan dasar hadits di atas. Rasulullah telah memerintahkan Abdullah Ibnu Umar
untuk mengkhatamkan Al-Quran setiap satu minggu (7 hari). (Muttafaq Alaih). Sebagaimana
yang dilakukan Abdullah bin Masud, Utsman bin Affan, Zaid bin Tsabit g, mereka
mengkhatamkan Al-Quran sekali dalam seminggu.
Di dalam sebuah ayat Al-Quran, Alloh Taala menjelaskan sebagian dari sifat-sifat

hambaNya yang shalih, yang artinya: Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil
menangis dan mereka bertambah khusyu (QS. Al-Isra: 109).
Agar membaguskan suara di dalam membacanya, sebagaimana sabda Rasulullah ShallAllohu
alaihi wa sallam, yang artinya: Hiasilah Al-Quran dengan suaramu (HR Ahmad, Ibnu
Majah dan Al-Hakim).
dalam hadits lain dijelaskan: Tidak termasuk umatku orang yang tidak melagukan AlQuran (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Maksud hadits di atas, membaca Al-Quran dengan susunan bacaan yang jelas dan terang
makhroj huruf nya, panjang pendeknya bacaan, tidak sampai keluar dari ketentuan kaidah
Tajwid.
Membaca Al-Quran dimulai dengan Istiadzah.Alloh Subhanahu wa Taala berfirman, yang
artinya: Dan bila kamu akan membaca Al-Quran, maka mintalah perlindungan kepada
Alloh dari (godaan-godaan) syaithan yang terkutuk (QS. An-Nahl: 98).
Apabila ayat yang dibaca dimulai dari awal surat, setelah istiadzah terus membaca
Basmalah, dan apa bila tidak di awal surat cukup membaca istiadzah. Khusus surat AtTaubah walaupun dibaca mulai awal surat tidak usah membaca Basmalah, cukup dengan
membaca istiadzah saja.
Membaca Al-Quran dengan berusaha mengetahui artinya dan memahami inti dari ayat yang
dibaca dengan beberapa kandungan ilmu yang ada di dalam nya. Firman Alloh Taala, yang
artinya: Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran, ataukah hati mereka
terkunci? (QS. Muhammad: 24).
Membaca Al-Quran dengan tidak mengganggu orang yang sedang shalat, dan tidak perlu
membacanya dengan suara yang terlalu keras atau di tempat yang banyak orang. Bacalah
dengan suara yang lirih atau dalam hati secara khusyu. Rasulullah ShallAllohu alaihi wa
sallam bersabda, yang artinya: Orang yang terang-terangan (di tempat orang banyak)
membaca Al-Quran, sama dengan orang yang terang-terangan dalam shadaqah (HR.
Tirmidzi, Nasai, dan Ahmad).
Dalam hadits lain dijelaskan, yang artinya: Ingatlah bahwasanya setiap hari dari kamu
munajat kepada Rabbnya, maka janganlah salah satu dari kamu mengganggu yang lain, dan
salah satu dari kamu tidak boleh mengangkat suara atas yang lain di dalam membaca (AlQuran) (HR. Abu Dawud, Nasai, Bai haqi dan Hakim), ini hadits shahih dengan syarat
Shaikhani (Bukhari-Muslim).
Jadi jangan sampai ibadah yang kita lakukan tersebut sia-sia karena kita tidak mengindahkan
sunnah Rasulullah dalam melaksanakan ibadah membaca Al-Quran. Misalnya, dengan suara
yang keras pada larut malam, yang akhirnya mengganggu orang yang istirahat dan orang
yang shalat malam.
Dengarkan bacaan Al-Quran. Jika ada yang membaca Al-Quran, maka dengarkanlah
bacaannya itu dengan tenang, Alloh Taala berfirman, yang artinya: Dan tatkala dibacakan
Al-Quran, maka dengar kanlah dan diamlah, semoga kamu diberi rahmat (QS. Al-Araaf:
204).
Membaca Al-Quran dengan saling bergantian yang bertujuan untuk pendidikan atau
mempelajari Al Quran. Yang mendengarkannya harus dengan khusyu dan tenang.
Rasulullah bersabda, yang artinya: Tidaklah berkumpul suatu kaum di dalam rumah-rumah
Alloh, mereka membaca Al-Quran dan saling mempelajarinya kecuali akan turun atas
mereka ketenangan, dan mereka diliputi oleh rahmat (Alloh), para malaikat menyertai
mereka, dan Alloh membang-ga-banggakan mereka di kalangan (malaikat) yang ada di
sisiNya. (HR. AbuDawud).
Setiap orang Islam wajib mengatur hidupnya sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan harus
dipelihara kesucian dan kemuliaannya, serta dipelajari ayat-ayatnya, dipahami dan
dilaksanakan sebagai konse kuensi kita beriman ke-pada Al-Quran.

(Sumber Rujukan: Minhajul Muslim, Fiqih Sunnah, At-Tibyan Fi Adaabi Hamlatil Quran)