Anda di halaman 1dari 6

BAB III

LANDASAN TEORI
A. Konsep Harga diri Rendah
1. Definisi
Harga diri rendah adalah menolak dirinya sebagai sesuatu yang berharga dan
tidak bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri. Jika individu sering gagal maka
cenderung harga diri rendah. Harga diri rendah jika kehilangan kasih sayang dan
penghargaan orang lain. Harga diri diperoleh dari diri sendiri dan orang lain, aspek
utama adalah diterima dan menerima penghargaan dari orang lain (Stuart, 2007).
2. Etiologi
1. Predisposisi
a. penolakan orang tua
b. harapan orang tua yang tidak relistis
c. kegagalan yang berulang kali
d. kurang mempunyai tanggungjawab personal
e. ketergantungan pada orang lain
f. ideal diri yag tidak realistis
2. Presipitasi
a. Trauma seperti penganiayaan seksual dan psikologis atau menyaksikan
kejadian yang megancam.
b. Ketegangan peran beruhubungan dengan peran atau posisi yang diharapkan
dimana individu mengalami frustrasi. Ada tiga jenis transisi peran:
1) Transisi peran perkembangan adalah perubahan normatif yang berkaitan
dengan pertumbuhan. Perubahan ini termasuk tahap perkembangan dalam
kehidupan individu atau keluarga dan norma-norma budaya, nilai-nilai
tekanan untuk penyesuaian diri.
2) Transisi peran situasi terjadi dengan bertambah atau berkurangnya anggota
keluarga melalui kelahiran atau kematian.
3) Transisi peran sehat sakit sebagai akibat pergeseran dari keadaan sehat ke
keadaan sakit. Transisi ini mungkin dicetuskan oleh kehilangan bagian
tubuh, perubahan ukuran, bentuk, penampilan dan fungsi tubuh, perubahan
fisik, serta prosedur medis dan keperawatan.
3. Tanda dan gejala
Menurut Keliat (2006) gejala klinis yang ditunjukkan oleh pasien harga diri
rendah kronis adalah sebagai berikut:
1. Perasaan malu pada diri
2. Rasa bersalah terhadap diri sendiri
3. Merendahkan martabat misalnya, saya tidak bisa, saya tidak mampu, saya memang
bodoh dan tidak tahu apa-apa.

4. Gangguan hubungan sosial, seperti menarik diri, klien tak mau bertemu orang lain,
lebih suka menyendiri.
5. Percaya diri kurang, klien sukar mengambil keputusan yang suram mungkin
memilih alternatif tindakan.
6. Mencederai diri dan akibat HDR disertai dengan harapan yang suram mungin klien
ingin mengakhiri kehidupan.
4. Jenis-jenis harga diri rendah

Jenis-jenis harga diri rendah menurut Kelliat (2006) adalah sebagai berikut:
1. Situasional
yaitu terjadi trauma yang tiba tiba, misal harus operasi, kecelakaan, dicerai suami,
putus sekolah, putus hubungan kerja, dll.
2 Kronis
Perasaan negatif terhadap diri sudah berlangsung lama yaitu sebelum sakit atau
dirawat. Klien ini mempunyai cara berpikir yang negatif, kejadian sakit yang
dirawat akan menambah persepsi negatif terhadap dirinya. Adapun akibat harga
diri rendah berkepanjangan (kronis) adalah sebagai berikut:
a. Klien akan mengisolasi diri dari lingkungan dan akan menghindar dengan orang
lain.
b. Jika berlangsung lama tanpa adanya intervensi yang terapeutik dapat
menyebabkan terjadinya kekacauan identitas dan akhirnya terjadi di
personalisasi.

Kekacauan

identitas

adalah

kegagalan

individu

mengintegrogasikan aspek-aspek. Depersonalisasi adalah perasaan tidak realita


dan asing terhadap diri sendiri yang berhubungan dengan kecemasan,
kepanikan, serta tidak dapat meredakan dirinya dengan orang lain.

5.

Retang respon
Respon adaptif

Respon maladaptif

Aktualisasi
Konsep Diri
Harga diri
Keracunan Depersonalisasi
Diri
positif
Rendah kronis
Identitas
6. Pohon masalah
Menurut Keliat (2006) mengemukakan untuk memudahkan penyusunan diagnosa
keperawatan, maka disusun pohon masalah.
Resiko perilaku kekerasan
Perubahan persepsi sensori
Halusinasi

Kerusakan interaksi sosial


Menarik diri (isolasi sosial)
Gangguan Konsep diri:
harga diri rendah

Defisit Perawatan Diri

Koping individu tidak efektif


7. Masalah keperawatan dan data yang perlu di kaji
1. Menarik diri (isolasi sosial)
2. Harga diri rendah
3. Defisit perawatan diri
8. Diagnosa keperawatan
1. Kerusakan nteraksi sosial : menarik diri (isolasi sosial)
2. Gangguan konsep diri : harga diri rendah
3. Defisit perawatan diri
9. Rencana tindakan keperawatan
Tujuan Umum:
Klien tidak terjadi gangguan konsep diri: harga diri rendah/klien akan meningkatkan
harga diri nya.
Tujuan Khusus:
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya
Tindakan:
1. Bina hubungan saling percaya: salam terpeutik perkenalan diri, jelaskan tujuan
interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat kontrak yang jelas
(waktu,tempat dan topik pembicaraan)
2. Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya
3. Sediakan waktu untuk mendengar klien.
4. Katakan pada klien bahwa dirinya adalah seseorang yang berharga dan
bertanggung jawab serta mamu menolong dirinya sendiri.
2. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki.
Tindakan:
1. Klien dapat menilai kemampuan yang dapat didiskusikan kemampuan dan
aspek positif ysng dimiliki.
2. Hindarkan memberi penilaian negatif setiap bertemu klien, klien utamakan
member pujian yang realistik

3. Klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang dimiliki.


3. Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan.
Tindakan :
1. Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
2. Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan setelah pulang kerumah.
4. Klien dapat menetapkan/merencanakan kegiatan yang sesuai dengan kemampuan
yang dimiliki.
Tindakan:
1. Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai
kemampuan.
2. Tingkatkan kegiatan sesuai denga toleransi kondisi klien
3. Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan.
5. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai sesuai kondisi dan kemampuan.
Tindakan:
1. Beri kesempatan mencoba kegiatan yang telah direncanakan
2. Beri pujian atas keberhasilan kita.
3. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah
B . Konsep Terapi Penghentian Pikiran (thought stopping)
1. Definisi
Terapi penghentian pikiran (thought stopping) merupakan salah satu jenis
psikoterapi yang menekankan dan meningkatkan kemampuan berfikir. Terapi ini
merupakan bagian dari terapi perilaku behavior yang dapat digunakan untuk
membantu klien mengubah proses berpikir (Videbeck, 2008). Laraia (2009)
menjelaskan bahwa terapi penghentian pikiran yang sebagai suatu proses
menghentikan pikiran mengganggu. Terapi penghentian pikiran merupakan teknik
yang digunakan untuk meminimalkan distress akibat pikiran yang tidak diinginkan
(ONeill & Whittal, 2002). Terapi penghentian pikiran pikiran merupakan suatu cara
yang dapat dilatih untuk menghentikan pikiran yang mengganggu atau tidak
diinginkan (Pasaribu, 2012)
2. Tujuan

Terapi penghentian pikiran (thought stopping) bertujuan untuk mengeliminasi


pikiran yang tidak diharapkan serta tidak realistic, tidak produktif serta menghasilkan
ansietas (ONeill & Whittal, 2002).
3. Prinsip
Prinsip pelaksanaan terapi ini adalah kontrol pikiran negatif yang mengganggu.
Keberhasilan terapi ini bergantung sejauh mana klien mampu mengendalikan pikiran
sehingga berhasil mengusir pikiran negatif. Terapi penghentian pikiran dapat
dilakukan sebagai variasi menghentikan pikiran yang tidak menyenangkan atau
memutuskan pikiran atau obsesi yang mengancam. Kontrol pikiran dilakukan dengan
cara memutuskan pikiran negatif yang mengganggu dengan caradistraksi (Townsend,
2009). Distraksi akan memutuskan atau menghambat pikiran otomatis dan menggiring
klien untuk berpikir alternative yang lebih adaptif. Klien diajarkan berteriak STOP
dengan keras saat pikiran negatif muncul kembali. Teriakan STOP merupakn
distraksi untuk memutus pikiran negatif. Teknik sitraksi lain dapat berupa menarik
karet gelang pada pergelangan, memercik wajah dengan air dngin, dan lain-lain.
Teknik distraksi akan membuat klien berhenti memikirkan pikran negatif sehingga
terjadi blocking pada pemikirannya sehingga pikiran negatif dapat diputus.
4. Pelaksanaan Terapi Penghentian Pikiran
Pelaksanaan terapi penggantian pikiran merujuk pada penelitian sebelumnya
(Agustarika, 2009; Supriati, 2010) yang membagi pelaksanaan terapi ini dalam 3 sesi.
Sesi pertama: Identifikasi dan putuskan pikiran yang mengancam atau membuat
stress: apakah pemikiran itu realistis atau tidak, apakah pemikiran tersebut membuat
klien produktif atau tidak, apakah pemikiran tersebut bersifat netral (tidak
mempengaruhi diri) atau justru membuat anda tidak percaya diri, apakah pemikiran
tersebut dapat dikontrol dengan mudah atau tidak. Pilih salah satu pikiran yang sangat
ingin dihilangkan dan instruksikan klien menuliskan dalam selembar kertas pada
kolom sebelah kiri. Atur alarm selama 3 menit (bila menggunakan alrm), instruksikan
klien berhenti memikirkan pikiran mengancam (membuat stress) atau ketika terapis
berteriak STOP! Minta klien memejamkan mata dan membayangkan situasi saat
pikiran yang mengancam membuat stress seolah-olah akan terjadi, lalu putuskan
dengan berteriak STOP! Ganti pikiran tersebut dengan membayangkan pikiran positif
yang telahh diidentifikasi.
Sesi kedua: Berlatih pemutusan pikiran dengan menggunakan rekaman
identifikasi pikiran-pikiran yang membuat stress lain yang telah dituliskan di kolom

sebelah kiri. Rekam kata STOP! Dalam interval 1-3 menit selama 30 menit dengan
menggunakan tape. Bayangkan pikiran tersebut dan setiap mendengar suara STOP
dari tape klien berteriak STOP!. Ganti pikiran tersebut dengan pikiran positif. Jika
telah berhasil, ulangi lagi tanpa menggunakan rekaman. Selanjutnya latih pikiran
dengan mengucapkan STOP dengan nada normal, dengan bisikan dan dengan
membayangkan mendengar teriakan STOP
Sesi 3: Berlatih pemutusan pikiran secara otomatis dengan membuat jadwal
dalam selembar kertas bersama-sama dengan klein utnuk melakukan teknik
pemutusan pikiran secar otomatis yang dapat berlangsung selama beberapa hari.
Latihan teknik penghentian pikiran ini dilakukan sampai klien dapat melakukan
secara mandiri tanpa kehadiran terapis.

III. Alat Ukur


Dalam penerapan evidence based ini, kelompok menggunakan alat ukur Self Esteem
Scale yang diadobsi dari Rosenberg (1965) yang telah diterjemahkan kedalam bahasa
Indonesia oleh kelompok. Untuk kuesioner dengan jumlah 10 pernyataan, dimana 5
pernyataan negatif, dan 5 pernyataan positif. Untuk penilaian skor pernyataan positif
sangat setuju diberi nilai 3, setuju diberi nilai 2, tidak setuju diberi nilai 1 dan sangat
tidak setuju diberi nilai 0. Sedangkan untuk pernyataan negatif kebalikan dari pernyataan
positif. Rentang nilai pada kuesioner ini adalah 0-30. Penilaian dilakukan dengan
membandingkan mean pre test dan mean post test seluruh pasien yang mengikuti terapi
modalitas. Adapaun pernyataan yang positif yaitu pernyataan nomor 1, 3, 4, 7, dan 10.
Pernyataan yang negative yaitu nomor 2, 5, 6, 8, dan 9.