Anda di halaman 1dari 42

SKENARIO 2

Astaga..Ada Mayat Bayi di Kardus Aqua

Mayat Bayi berjenis kelamin laki laki ditemukan di sebuah tempat pemnuangan
akhir (TPA) Darupono Kaliwungu Selatan, Kendal Jawa Tengah Kamis (6/12/12) pagi. Bayi
berada di dalam kardus aqua dibungkus kantong plastik hitam, dalam keadaan membusuk dan
berbau. Saat ini, jasad bayi berada di Rumah Sakit Umum Suwondo Daerah (RSUD)
Kabupaten Kendal, Iptu Abdullah Umar, mayat dibuang oleh seorang perempuan yang hamil
tua, sekarang perutnya sudah mengempis. Bayi itu pertama kali ditemukan oleh seorang
pemulung bernama jokarmo (31), warga Desa Darupono, Kecamatan Kaliwungu
Selatan,Kendal.
Saat itu jakarmo sedang mengais sampah. Dia mengaku terkejut ketika ada plastik
hitam besar yang di kerumuni lalat, kata Umar. Karena curiga, jelas Umar, pemulung
tersebut mendakati kantong plastic. Setelah dekat, Ia terkejut, saat melihat kepala bayi,. Lalu
plastic itu dibuka dan terlihatlah sesosok mayat bayi. kemudian, pemulung itu
melaporkannya kepada polisi, jelasnya. Mayat bayi yang diperkirakan berusia 1 hari itu akan
dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Semarang untuk diotopsi. Kasus itu, sekarang masih
ditangani oleh petugas polisi. Kami akan mencari orang tua mayat tersebut, tambah Umar.
Pelaku sudah diamankan di polres.
Warni, sang pelaku mengaku dia juga korban pemerkosaan yang dilakuka oleh
tetangga desanya di Merapen Gerobokan, karena ketakutan hamil dan melahirkan, korban
pergi ke Kaliwungu untuk bekerja di pabrik gula dan mengasingkan diri

Kata Sulit :

1. Autopsi : Investigasi medis yang dilakukan untuk mengetahui penyebab suatu


kematian.
2. Hamil Tua : Seorang Ibu hamil yang usia kehamilannya sudah berada pada
trisemester ke-3.
Pertanyaan :
1. Sebenarnya, apa yang harusnya dilakukan pelaku, selain harus membuang anaknya
seperti pada kasus diatas?
2. Bagaimana cara menentukan waktu kematian bayi(korban).
3. Apakah alasan pelaku diperkosa(ada tindak pemerkosaan) dapat meringankan
hukuman bagi si ibu(pelaku)?
4. Pandangan Islam terhadap penelantaran anak dan pembunuhan?
5. Bagaimana cara mengetahui, apakah bayi ini lahir hidup atau mati?
6. Apa daja indikasi dilakukannya proses autopsi pada korban?
7. Hukuman apa saja yang dijatuhkan kepada pelaku?
8. Bagaimana cara menentukan umur bayi yang masih 1 hari?
9. Apakah lokasi pemeriksaan, berpengaruh pada pemeriksaan? Bagaimana dan kenapa?
10. Bagaimana cara pemeriksaan korban pemerkosaan?

Jawaban :
1. Bisa dirawat sendiri anaknya (paling benar), bisa diasuh oleh orang-orang terdekat,
bisa menitipkan pada orangtua yang tidak mampu memiliki anak( masuk panti asuhan
adopsi).
2. Menentukan waktu kematian : kaku mayat, lebam mayat, pembusukan, ada nya
serangga.
3. Harus ada pemeriksaan kejiwaan yang dilakukan oleh pelaku, jadi belum tentu
meringankan hukuman bagi si pelaku.
4. Hukumnya haram dalam menelantarkan anak, dan haram untuk melakukan
pembunuhan.
5. Bisa dilakukan pemeriksaan seperti menentukan waktu kematian(no. 2) ditambah tes
lain, seperti fungsi paru dengan cara tes apung paru.
6. Indikasi autopsi : penentuan matinya korban(wajar atau tidak), perkiraan waktu
kematian, penyebab kematian, dan investigasi lain untuk membantu pencarian pelaku.
7. Pasal 338 KUHP
8. Salah satu cara dengan antropometri(jika keadaan bayi normal).
9. Berpengaruh, karena proses pembusukan mayat, dipengaruhi oleh suasan, suhu,
mahluk hidup, yang ada di sekitar tempat kejadian perkara(TKP).
10. Dengan cara melakukan visum, dalam visum akan dilakukan pemeriksaan luka, serta
pengambilan sampel yang penting, untuk tindak lanjut upaya pencarian pelaku.
HIPOTESIS
Ditemukan seorang mayat bayi di tempat pembuangan sampah. Lalu, dilakukan visum
mati pada mayat yang mencakup pemeriksaan lebam mayat, kaku mayat, tanda pembusukan,
perkiraan usia mayat, dan perkiraan waktu kematian. Setelah dilakukan visum mati,
2

dilanjutkan dengan pemeriksaan otopsi dengan melakukan tes apung paru untuk mengetahui
apakah mayat bayi tersebut lahir hidup atau lahir mati dan mencari penyebab kematian pada
mayat bayi tersebut. Dari hasil visum mati dan otopsi didapatkan perkiraan usia korban dan
korban lahir hidup sehingga dapat disimpulkan bahwa kasus ini merupakan kasus
pembunuhan anak yang hukumnya haram dalam islam dan dapat dijerat dengan pasal 338
KUHP. Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, didapati bahwa pelaku adalah ibu korban
sendiri, selanjutnya dilakukan visum hidup pada pelaku dan didapatkan bahwa pelaku
merupakan korban perkosaan.

SASARAN BELAJAR
LO I

Mengetahui dan Memahami Autopsi

LO II

Mengetahui dan Memahami Visum


3

LO. III Mengetahui dan Memahami Infanticide


LO. IV Mengetahui dan Memahami Investigasi Pemerkosaan
LO. V Mengetahui dan Memahami Pandangan Hukum Negara dan Islam terhadap
pemerkosaan dan penelantaran anak

LO I Mengetahui dan Memahami Autopsi


Sebelum masuk ke autopsi, terdapat penjelasan tentang thanatologi
Kematian manusia berdasarkan dua dimensi yaitu kematian seluler (seluler death)
akibat ketiadaan oksigen dan kematian manusia sebagai individu (somatic death). Kematian
4

individu dapat didefinisikan secara sederhana sebagai terhentinya kehidupan secara


permanen (permanent cessation of life) atau dapat diperjelas lagi menjadi berhentinya
secara permanen fungsi berbagai organ vital yaitu paru-paru, jantung dan otak sebagai
kesatuan yang utuh yang ditandai oleh berhentinya konsumsi oksigen. Sebagai akibat
berhentinya konsumsi oksigen ke seluruh jaringan tubuh maka sel-sel sebagai elemen
terkecil pembentuk manusia akan mengalami kematian, dimulai dari sel- sel paling rendah
daya tahannya terhadap ketiadaan oksigen.
Mati suri adalah penurunan fungsi organ vital sampai taraf minimal untuk
mempertahankan kehidupan, sehingga tanda-tanda kliniknya seperti sudah mati yang
sifatnya reversibel. Sedangkan mati somatik adalah keadaan dimana ketika fungsi ketiga
organ vital sistem saraf pusat, sistem kardiovaskuler, dan sistem pernafasan berhenti
secara menetap.
Mati serebral adalah kerusakan kedua hemisfer otak yang irreversible kecuali batang
otak dan serebelum, kedua sistem lain masih berfungsi dengan bantuan alat. Sedangkan
mati batang otak adalah kerusakan seluruh isi neuronal intrakranial yang ireversibel,
termasuk batang otak dan serebelum.
Kriteria diagnostik penentuan kematian:
1. Hilangnya semua respon terhadap sekitarnya (respon terhadap komando atau perintah, dan
sebagainya)
2. Tidak ada gerakan otot serta postur, dengan catatan pasien tidak sedang berada
dibawah pengaruh obat-obatan curare.
3. Tidak ada reflek pupil
4. Tidak ada reflek kornea
1. Tidak ada respon motorik dari saraf kranial terhadap rangsangan
2. Tidak ada reflek menelan atau batuk ketika tuba endotracheal didorong ke dalam
3. Tidak ada reflek vestibulo-okularis terhadap rangsangan air es yang dimasukkan ke
dalam lubang telinga
4. Tidak ada napas spontan ketika respirator dilepas untuk waktu yang cukup lama
walaupun pCO2 sudah melampaui wilayah ambang rangsangan napas (50 torr)
Tes klinik ini baru boleh dilakukan paling cepat 6 jam setelah onset koma serta apneu
dan harus diulangi lagi paling cepat sesudah 2 jam dari tes yang pertama. Sedangkan tes
konfirmasi dengan EEG dan angiografi hanya dilakukan jika tes klinik memberikan hasil yang
meragukan atau jika ada kekhawatiran akan adanya tuntutan di kemudian hari.
a) Tanda dan Patofisiologi

Tanda kematian tidak pasti


1.

Berhentinya sistem pernafasan dan sistem sirkulasi.


Secara teoritis, diagnosis kematian sudah dapat ditegakkan jika jantung
dan paru berhenti selama 10 menit, namun dalam prakteknya seringkali terjadi
kesalahan diagnosis sehingga perlu dilakukan pemeriksaan dengan cara
mengamati selama waktu tertentu. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan
mendengarkannya melalui stetoscope pada daerah precordial dan larynx dimana
denyut jantung dan suara nafas dapat dengan mudah terdengar.
5

Kadang-kadang jantung tidak segera berhenti berdenyut setelah nafas


terhenti, selain disebabkan ketahanan hidup sel tanpa oksigen yang berbeda-beda
dapat juga disebabkan depresi pusat sirkulasi darah yang tidak adekwat, denyut nadi
yang menghilang merupakan indikasi bahwa pada otak terjadi hipoksia. Sebagai
contoh pada kasus judicial hanging dimana jantung masih berdenyut selama 15
menit walaupun korban sudah diturunkan dari tiang gantungan.
2. Kulit yang pucat
Kulit muka menjadi pucat ,ini terjadi sebagai akibat berhentinya
sirkulasi darah sehingga darah yang berada di kapiler dan venula dibawah kulit
muka akan mengalir ke bagian yang lebih rendah sehingga warna kulit muka tampak
menjadi lebih pucat. Akan tetapi ini bukan merupakan tanda yang dapat dipercaya.
Kadang-kadang kematian dihubungkan dengan spasme agonal sehingga wajah
tampak kebiruan. Pada mayat yang mati akibat kekurangan oksigen atau
keracunan zat-zat tertentu (misalnya karbon monoksida) warna semula dari raut
muka akan bertahan lama dan tidak cepat menjadi pucat
3. Relaksasi otot
Pada saat kematian sampai beberapa saat sesudah kematian , otot-otot
polos akan mengalami relaksasi sebagai akibat dari hilangnya tonus. Relaksasi pada
stadium ini disebut relaksasi primer. Akibatnya rahang turun kebawah yang
menyebabkan mulut terbuka, dada menjadi kolap dan bila tidak ada penyangga
anggota gerakpun akan jatuh kebawah. Relaksasi dari otot-otot wajah
menyebabkan kulit menimbul sehingga orang mati tampak lebih muda dari umur
sebenarnya, sedangkan relaksasi pada otot polos akan mengakibatkan iris dan
sfincter ani akan mengalami dilatasi. Oleh karena itu bila menemukan anus yang
mengalami dilatasi harus hati-hati menyimpulkan sebagai akibat hubungan
seksual perani/anus corong.
4. Perubahan pada mata
Perubahan pada mata meliputi hilangnya reflek kornea dan reflek cahaya
yang menyebabkan kornea menjadi tidak sensitif dan reaksi pupil yang negatif.

Tanda Kematian Pasti


1. Lebam Mayat
Lebam Mayat disebut juga Post Mortem Lividity, Post Mortem
Suggilation, Hypostasis, Livor Mortis, Stainning. Lebam mayat terbentuk bila
terjadi kegagalan sirkulasi darah dalam mempertahankan tekanan hidrostatik yang
menggerakan darah mencapai capillary bed dimana pembuluhpembuluh darah
kecil afferent dan efferent saling berhubungan. Maka secara bertahap darah yang
mengalami stagnasi di dalam pembuluh vena besar dan cabang-cabangnya akan
dipengaruhi gravitasi dan mengalir ke bawah, ke tempattempat yang terendah
yang dapat dicapai. Dikatakan bahwa gravitasi lebih banyak mempengaruhi sel
darah merah tetapi plasma akhirnya juga mengalir ke bagian terendah yang
memberikan kontribusi pada pembentukan gelembunggelembung di kulit pada
awal proses pembusukan.
Adanya eritrosit di daerah yang lebih rendah akan terlihat di kulit
sebagai perubahan warna biru kemerahan. Oleh karena pengumpulan darah
terjadi secara pasif maka tempattempat di mana mendapat tekanan lokal akan
menyebabkan tertekannya pembuluh darah di daerah tersebut sehingga meniadakan
terjadinya lebam mayat yang mengakibatkan kulit di daerah tersebut berwarna lebih
pucat.
Lebam mayat ini biasanya timbul setengah jam sampai dua jam setelah
kematian, Dimana setelah terbentuk hypostasis yang menetap dalam waktu 1012
jam ternyata akan memberikan lebam mayat pada sisi yang berlawanan setelah
dilakukan reposisi pada tubuh dari pronasi ke supinasi (interpostmorchange).
Lebam mayat ini biasanya berkembang secara bertahap dan dimulai
dengan timbulnya bercak-bercak yang berwarna keunguan dalam waktu kurang
dari setengah jam sesudah kematian dimana bercak-bercak ini intensitasnya
menjadi meningkat dan kemudian bergabung menjadi satu dalam beberapa jam
kemudian, dimana fenomena ini menjadi komplet dalam waktu kurang lebih
812 jam, pada waktu ini dapat dikatakan lebam mayat terjadi secara
menetap. Menetapnya lebam mayat ini disebabkan oleh karena terjadinya
perembesan darah kedalam jaringan sekitar akibat rusaknya pembuluh darah
akibat tertimbunnya selsel darah dalam jumlah yang banyak, adanya proses
hemolisa sel-sel darah dan kekakuan otot-otot dinding pembuluh darah. Dengan
demikian penekanan pada daerah lebam yang dilakukan setelah 8-12 jam tidak
akan menghilang. Hilangnya lebam pada penekanan dengan ibu jari dapat
memberi indikasi bahwa suatu lebam belum terfiksasi secara sempurna. Setelah
empat jam, kapiler-kapiler akan mengalami kerusakan dan butir-butir darah
merah juga akan rusak. Pigmen-pigmen dari pecahan darah merah akan keluar
dari kapiler yang rusak dan mewarnai jaringan di sekitarnya sehingga
menyebabkan warna lebam mayat akan menetap serta tidak hilang jika ditekan
dengan ujung jari atau jika posisi mayat dibalik. Jika pembalikan posisi
dilakukan setelah 12 jam dari kematiannya maka lebam mayat baru tidak akan
timbul pada posisi terendah, karena darah sudah mengalami koagulasi.
Fenomena lebam mayat yang menetap ini sifatnya lebih bersifat relatif.
Perubahan lebam ini lebih mudah terjadi pada 6 jam pertama sesudah kematian,
bila telah terbentuk lebam primer kemudian dilakukan perubahan posisi maka akan
terjadi lebam sekunder pada posisi yang berlawanan. Distribusi dari lebam mayat
7

yang ganda ini adalah penting untuk menunjukan telah terjadi manipulasi posisi
pada tubuh. Akan tetapi waktu yang pasti untuk terjadinya pergeseran lebam
ini adalah tidak pasti, Polson mengatakan untuk menunjukan tubuh sudah
diubah dalam waktu 8 sampai 12 jam, sedangkan Camps memberi patokan
kurang lebih 10 jam.
Akan tetapi pada kematian wajarpun darah dapat menjadi permanent
incoagulable oleh karena adanya aktifitas fibrinolisin yang dilepas kedalam
aliran darah selama proses kematian. Sumber dari fibrinolisin ini tidak
diketahui tetapi kemungkinan berasal dari endothelium pembuluh darah, dan
permukaan serosa dari pleura. Aktifitas fibrinolisin ini nyata sekali pada kapilerkapiler yang berisi darah. Darah selalu ditemukan cair dalam venule dan
kapiler, dan ini yang bertanggung jawab terhadap lebam mayat.
Akumulasi darah pada daerah yang tidak tertekan akan menyebabkan
pengendapan darah pada pembuluh darah kecil yang dapat mengakibatkan
pecahnya pembuluh darah kecil tersebut dan berkembang menjadi petechie
(tardieu`s spot) dan purpura yang kadang-kadang berwarna gelap yang
mempunyai diameter dari satu sampai beberapa milimeter, biasanya memerlukan
waktu 18 sampai 24 jam untuk terbentuknya dan sering diartikan bahwa
pembusukan sudah mulai terjadi. Fenomena ini sering terjadi pada asphyxia atau
kematian yang terjadinya lambat.
2. Kaku Mayat (Rigor Mortis)
Kaku mayat atau rigor mortis adalah kekakuan yang terjadi pada otot
yang kadang-kadang disertai dengan sedikit pemendekan serabut otot, yang terjadi
setelah periode pelemasan/ relaksasi primer. Hal ini disebabkan karena terjadinya
perubahan kimiawi pada protein yang terdapat pada serabut-serabut otot. Menurut
Szen-Gyorgyi di dalam pembentukan kaku mayat peranan ATP adalah sangat
penting. Seperti diketahui bahwa serabut otot dibentuk oleh dua jenis protein, yaitu
aktin dan myosin, dimana kedua jenis protein ini bersama dengan ATP
membentuk suatu masa yang lentur dan dapat berkontraksi (gambar I). Bila
kadar ATP menurun, maka akan terjadi pada perubahan pada akto-miosin,
diamana sifat lentur dan kemampuan untuk berkontraksi menghilang sehingga otot
yang bersangkutan akan menjadi kaku dan tidak dapat berkontraksi.

Gambar I. Kontraksi otot


Oleh karena kadar glikogen yang terdapat pada setiap otot itu
berbeda-beda, sehingga sewaktu terjadinya pemecahan glikogen menjadi asam
laktat dan energi pada saat terjadinya kematian somatic, dimana energi tersebut
digunakan untuk resintesa ATP, akan menyebabkan adanya perbedaan kadar
ATP dalam setiap otot. Keadaan tersebut dapat menerangkan mengapa kaku
mayat akan mulai nampak pada jaringan otot yang jumlah serabut ototnya
sedikit. Atas dasar itulah mengapa pada kematian karena infeksi, konvulsi
kelelahan fisik serta keadaan suhu keliling yang tinggi akan dapat
mempercepat terbentuknya kaku mayat, demikian pula pada mereka yang
keadaan gizinya jelek akan lebih cepat terjadi kaku mayat bila dibandingkan
dengan korban yang mempunyai tubuh yang baik.
Secara biokimiawi saat relaksasi primer, pH protoplasma sel otot masih
alkalis. Perubahan alkalis menjadi asam terjadi 2-6 jam kemudian karena
adanya perubahan biokimia, yaitu glikogen menjadi asam sarkolaktik / fosfor.
Perubahan protoplasma menjadi asam menyebabkan otot menjadi kaku (rigor).
Relaksasi sekunder terjadi setelah ada perubahan biokimia, yaitu asam berubah
menjadi alkalis kembali saat terjadi pembusukan.
Kaku mayat akan terjadi pada seluruh otot (gambar II), baik otot
lurik maupun otot polos. Dan bila terjadi pada otot rangka, maka akan
didapatkan suatu kekakuan yang mirip atau menyerupai papan sehingga
dibutuhkan cukup tenaga untuk dapat melawan kekakuan tersebut , bila hal
ini terjadi otot dapat putus sehingga daerah tersebut tidak mungkin lagi terjadi
kaku mayat.

Kaku mayat mulai terdapat sekitar 2 jam post mortem dan mencapai
puncaknya setelah 10-12 jam pos mortem, keadaan ini akan menetap selama 24
jam dan setelah 24 jam kaku mayat mulai menghilang sesuai dengan urutan
terjadinya, yaitu dimulai dari otot-otot wajah, leher, lengan, dada, perut, dan
tungkai.
Adanya kejanggalan dari postur pada mayat dimana kaku mayat telah
terbentuk dengan posisi sewaktu mayat ditemukan, dapat menjadi petunjuk
bahwa pada tubuh korban telah dipindahkan setelah mati. Ini mungkin
dimaksudkan untuk menutupi sebab kematian atau cara kematian yang sebenarnya.
Faktor-Faktor yang mempengaruhi kaku mayat
:
a) Kondisi otot
Persediaan glikogen
Cepat lambat kaku mayat tergantung persediaan glikogen otot.
Pada kondisi tubuh sehat sebelum meninggal, kaku mayat akan lambat dan
lama, juga pada orang yang sebelum mati banyak makan karbohidrat,
maka kaku mayat akan lambat.
Gi
zi
Pada mayat dengan kondisi gizi jelek saat mati, kaku mayat akan cepat
terjadi.
Kegiatan Otot
Pada orang yang melakukan kegiatan otot sebelum meninggal
maka kaku mayat akan terjadi lebih cepat.
b) Usia
Pada orang tua dan anak-anak lebih cepat dan tidak berlangsung lama.

Pada bayi premature tidak terjadi kaku mayat, kaku mayat terjadi pada bayi
cukup bulan.
c) Keadaan Lingkungan
Keadaan kering lebih lambat dari pada panas dan lembab
Pada mayat dalam air dingin, kaku mayat akan cepat terjadi dan
berlangsung lama.
Pada udara suhu tinggi, kaku mayat terjadi lebih cepat dan singkat,
tetapi pada suhu rendah kaku mayat lebih lambat dan lama.
Kaku mayat tidak terjadi pada suhu dibawah 10oC, kekakuan yang
terjadi pembekuan atau cold stiffening.
d) Cara Kematian
Pada mayat dengan penyakit kronis dan kurus, kuku mayat lebih cepat
terjadi dan berlangsung tidak lama.
Pada mati mendadak, kaku mayat terjadi lebih lambat dan berlangsung
lebih lama.
Waktu terjadinya rigor mortis (kaku mayat)
Kurang dari 3 4 jam post mortem : belum terjadi rigor mortis
10

Lebih dari 3 4 jam post mortem : mulai terjadi rigor mortis


Rigor mortis maksimal terjadi 12 jam setelah kematian
Rigor mortis dipertahankan selama 12 jam
Rigor mortis menghilang 24 36 jam post mortem

Terdapat kekakuan pada pada mayat yang menyerupai kaku mayat :


- Cadaveric spasme (instantaneous rigor), adalah bentuk kekakuan otot yang terjadi
pada saat kematian dan menetap. Cadaveric spasme sesungguhnya merupakan
kaku mayat yang timbul dengan intensitas sangat kuat tanpa didahului oleh
relaksasi primer. Penyebabnya adalah akibat habisnya cadangan glikogen dan
ATP yang bersifat setempat pada saat mati klinis karena kelelahan atau emosi
yang hebat sesaat sebelum meninggal.
Kepentingan medikolegalnya adalah menunjukkan sikap terakhir masa hidupnya.
Misalnya, tangan yang menggenggam erat benda yang diraihnya pada kasus
tenggelam, tangan yang menggenggam pada kasus bunuh diri.
-

Heat stiffening, yaitu kekakuan otot akibat koagulasi protein otot oleh panas.
Otot-otot berwarna merah muda, kaku, tepi rapuh (mudah robek). Keadaan ini
dapat dijumpai pada korban mati terbakar. Pada saat stiffening serabut-serabut
ototnya memendek sehingga menimbulkan fleksi leher, siku, paha, dan lutut,
membentuk sikap petinju (pugilistic attitude). Perubahan sikap ini tidak
memberikan arti tertentu bagi sikap semasa hidup, intravitalitas, penyebab atau
cara kematian.
Cold stiffening, yaitu kekakuan tubuh akibat lingkungan dingin (dibawah
3,5oC atau 40oF), sehingga terjadi pembekuan cairan tubuh, termasuk cairan
sendi, pemadatan jaringan lemak subkutan dan otot, bila cairan sendi yang
membeku menyebabkan sendi tidak dapat digerakan. Bila sendi di bengkokkan
secara paksa maka akan terdengar suara es pecah. Dan mayat yang kaku ini
akan menjadi lemas kembali bila diletakkan ditempat yang hangat, kemudian
rigor mortis akan terjadi dalam waktu yang sangat singkat.

3. Pembusukan Atau Decompositio


Pembusukan mayat nama lainnya dekomposisi dan putrefection.
Pembusukan adalah proses degradasi jaringan pada tubuh mayat yang terjadi
sebagai akibat proses autolisis dan aktivitas mikroorganisme, terutama Clostridium
welchii.
Autolisis adalah perlunakan dan pencairan jaringan yang terjadi dalam
keadaan steril melalui proses kimia yang disebabkan oleh enzim-enzim
intraseluler, sehingga organ-organ yang kaya dengan enzim-enzim akan mengalami
proses autolisis lebih cepat daripada organ-organ yang tidak memiliki enzim,
dengan demikian pankreas akan mengalami autolisis lebih cepat dari pada jantung.
Proses autolisis ini tidak dipengaruhi oleh mikroorganisme oleh karena itu pada
mayat yang steril misalnya mayat bayi dalam kandungan proses autolisis ini tetap
terjadi. Proses auotolisis terjadi sebagai akibat dari pengaruh enzim yang
dilepaskan pasca mati. Mula-mula yang terkena adalah nukleoprotein yang terdapat
pada kromatin dan sesudah itu sitoplasmanya, kemudian dinding sel akan
11

mengalami kehancuran sebagai akibatnya jaringan akan menjadi lunak dan


mencair.
Pada mayat yang dibekukan pelepasan enzim akan terhambat oleh pengaruh
suhu yang rendah maka proses autolisis ini akan dihambat demikian juga pada
suhu tinggi enzim-enzim yang terdapat pada sel akan mengalami kerusakan
sehingga proses ini akan terhambat.
Setelah seseorang meninggal, maka semua sistem pertahanan tubuh akan
hilang, bakteri yang secara normal dihambat oleh jaringan tubuh akan segera masuk
ke jaringan tubuh melalui pembuluh darah, dimana darah merupakan media yang
terbaik bagi bakteri untuk berkembang biak. Bakteri ini menyebabkan hemolisa,
pencairan bekuan darah yang terjadi sebelum dan sesudah mati, pencairan trombus
atau emboli, perusakan jaringan-jaringan dan pembentukan gas pembusukan. Bakteri
yang sering menyebabkan destruktif ini sebagian besar berasal dari usus dan yang
paling utama adalah Cl. welchii. Bakteri ini berkembang biak dengan cepat sekali
menuju ke jaringan ikat dinding perut yang menyebabkan perubahan warna.
Perubahan warna ini terjadi oleh karena reaksi antara H2S (gas pembusukan yang
terjadi dalam usus besar) dengan Hb menjadi Sulf-Meth-Hb. Tanda pertama
pembusukan baru dapat dilihat kira-kira 24 jam - 48 jam pasca mati berupa warna
kehijauan pada dinding abdomen bagian bawah, lebih sering pada fosa iliaka kanan
dimana isinya lebih cair, mengandung lebih banyak bakteri dan letaknya yang lebih
superfisial. Perubahan warna ini secara bertahap akan meluas keseluruh dinding
abdomen sampai ke dada dan bau busukpun mulai tercium. Perubahan warna ini
juga dapat dilihat pada permukaan organ dalam seperti hepar, dimana hepar
merupakan organ yang langsung kontak dengan kolon transversum. Pada saat
Cl.welchii mulai tumbuh pada satu organ parenchim, maka sitoplasma dari organ
sel itu akan mengalami disintegrasi dan nukleusnya akan dirusak sehingga sel
menjadi lisis atau rhexis. Kemudian sel-sel menjadi lepas sehingga jaringan
kehilangan strukturnya.
Bakteri ini kemudian masuk kedalam pembuluh darah dan berkembang
biak didalamnya yang menyebabkan hemolisa yang kemudian mewarnai dinding
pembuluh darah dan jaringan sekitarnya. Bakteri ini memproduksi gas-gas
pembusukan yang mengisi pembuluh darah yang menyebabkan pelebaran pembuluh
darah superfisial tanpa merusak dinding pembuluh darahnya sehingga pembuluh
darah beserta cabang-cabangnya tampak lebih jelas seperti pohon gundul (arborescent
pattern atau arborescent mark) yang sering disebut marbling. Bakteri pembusukan
ini banyak terdapat dalam intestinal dan paru, maka gambaran marbling ini jelas
terlihat pada bahu,dada bagian atas, abdomen bagian bawah dan paha.
Secara mikroskopis bakteri dapat dilihat menggumpal pada rongga-rongga
jaringan dimana bakteri tersebut banyak memproduksi gelembung gas. Ukuran
gelembung gas yang tadinya kecil dapat cepat membesar menyerupai honey combed
appearance. Lesi ini dapat dilihat pertama kali pada hati . Kemudian permukaan
lapisan atas epidermis dapat dengan mudah dilepaskan dengan jaringan yang ada
dibawahnya dan ini disebut skin slippage. Skin slippage ini menyebabkan
identifikasi melalui sidik jari sulit dilakukan. Pembentukan gas yang terjadi antara
epidermis dan dermis mengakibatkan timbulnya bula-bula yang bening, fragil, yang
dapat berisi cairan coklat kemerahan yang berbau busuk. Cairan ini kadang-kadang
tidak mengisi secara penuh di dalam bula. Bula dapat menjadi sedemikian besarnya
menyerupai pendulum yang berukuran 5 7,5 cm dan bila pecah meninggalkan
12

daerah yang berminyak, berkilat dan berwarna kemerahan, ini disebabkan oleh
karena pecahnya sel-sel lemak subkutan sehingga cairan lemak keluar ke lapisan
dermis oleh karena tekanan gas pembusukan dari dalam. Selain itu epitel kulit,
kuku, rambut kepala, aksila dan pubis mudah dicabut dan dilepaskan oleh karena
adanya desintegrasi pada akar rambut.
Selama terjadi pembentukan gas-gas pembusukan, gelembung-gelembung
udara mengisi hampir seluruh jaringan subkutan. Gas yang terdapat di dalam jaringan
dinding tubuh akan menyebabkan terabanya krepitasi udara. Gas ini menyebabkan
pembengkakan tubuh yang menyeluruh, dan tubuh berada dalam sikap pugilistic
attitude.
Scrotum dan penis dapat membesar dan membengkak, leher dan muka
dapat menggembung, bibir menonjol seperti frog-like-fashion, Kedua bola mata
keluar, lidah terjulur diantara dua gigi, ini menyebabkan mayat sulit dikenali kembali
oleh keluarganya. Pembengkakan yang terjadi pada seluruh tubuh mengakibatkan
berat badan mayat yang tadinya 57 - 63 kg sebelum mati menjadi 95 - 114 kg
sesudah mati.
Tekanan yang meningkat didalam rongga dada oleh karena gas pembusukan
yang terjadi didalam cavum abdominal menyebabkan pengeluaran udara dan
cairan pembusukan yang berasal dari trakea dan bronkus terdorong keluar,
bersama-sama dengan cairan darah yang keluar melalui mulut dan hidung. Cairan
pembusukan dapat ditemukan di dalam rongga dada, ini harus dibedakan dengan
hematotorak dan biasanya cairan pembusukan ini tidak lebih dari 200 cc.
Pengeluaran urine dan feses dapat terjadi oleh karena tekanan intra
abdominal yang meningkat. Pada wanita uterus dapat menjadi prolaps dan fetus
dapat lahir dari uterus yang pregnan. Pada anak-anak adanya gas pembusukan
dalam tengkorak dan otak menyebabkan sutura-sutura kepala menjadi mudah
terlepas.
Organ-organ dalam mempunyai kecepatan pembusukan yang berbeda-beda.
Jaringan intestinal,medula adrenal dan pancreas akan mengalami autolisis dalam
beberapa jam setelah kematian. Organ-organ dalam lain seperti hati, ginjal dan
limpa merupakan organ yang cepat mengalami pembusukan. Perubahan warna
pada dinding lambung terutama di fundus dapat dilihat dalam 24 jam pertama
setelah kematian. Difusi cairan dari kandung empedu kejaringan sekitarnya
menyebabkan perubahan warna pada jaringan sekitarnya menjadi coklat kehijauan.
Pada hati dapat dilihat gambaran honey combs appearance, limpa menjadi sangat
lunak dan mudah robek, dan otak menjadi lunak.
Pembusukan lanjut dari organ dalam ini adalah pembentukan granula- granula
milliary atau milliary plaques yang berukuran kecil dengan diameter 1-3 mm yang
terdapat pada permukaan serosa yang terletak pada endotelial dari tubuh seperti
pleura, peritoneum, pericardium dan endocardium.
Golongan organ berdasarkan kecepatan pembusukannya, yaitu:
1.
Early : Organ dalam yang cepat membusuk antara lain jaringan
intestinal, medula adrenal, pankreas, otak, lien, usus, uterus gravid,
uterus post partum, dan darah
2.
Moderate : Organ dalam yang lambat membusuk antara lain paruparu, jantung, ginjal, diafragma, lambung, otot polos dan otot lurik.
3.
Late : Uterus non gravid dan prostat merupakan organ yang
lebih tahan terhadap pembusukan karena memiliki struktur yang
13

berbeda dengan jaringan yang lain yaitu jaringan fibrousa.


Pada orang yang mengalami obesitas, lemak-lemak tubuh terutama perirenal,
omentum dan mesenterium dapat mencair menjadi cairan kuning yang transluscent
yang mengisi rongga badan diantara organ yang dapat menyebabkan autopsi lebih
sulit dilakukan.
Disamping bakteri pembusukan insekta juga memegang peranan penting
dalam proses pembusukan sesudah mati. Beberapa jam setelah kematian lalat akan
hinggap di badan dan meletakkan telur-telurnya pada lubang-lubang mata, hidung,
mulut dan telinga. Biasanya jarang pada daerah genitoanal. Bila ada luka ditubuh
mayat lalat lebih sering meletakkan telur-telurnya pada luka tersebut, sehingga bila
ada telur atau larva lalat didaerah genitoanal ini maka dapat dicurigai adanya
kekerasan seksual sebelum kematian. Telur-telur lalat ini akan berubah menjadi
larva dalam waktu 24 jam. Larva ini mengeluarkan enzim proteolitik yang dapat
mempercepat penghancuran jaringan pada tubuh. Larva lalat dapat kita temukan
pada mayat kira-kira 36-48 jam pasca kematian. Berguna untuk memperkirakan
saat kematian dan penyebab kematian karena keracunan. Saat kematian dapat kita
perkirakan dengan cara mengukur panjang larva lalat. Penyebab kematian karena
racun dapat kita ketahui dengan cara mengidentifikasi racun dalam larva lalat.
Insekta tidak hanya penting dalam proses pembusukan tetapi meraka juga
memberi informasi penting yang berhubungan dengan kematian. Insekta dapat
dipergunakan untuk memperkirakan saat kematian, memberi petunjuk bahwa tubuh
mayat telah dipindahkan dari satu lokasi ke lokasi lainnya, memberi tanda pada
badan bagian mana yang mengalami trauma, dan dapat dipergunakan dalam
pemeriksaan toksikologi bila jaringan untuk specimen standart juga sudah
mengalami pembusukan.
Aktifitas pembusukan sangat optimal pada temperatur berkisar antara 70100F (21,1-37,8C) aktifitas ini dihambat bila suhu berada dibawah 50F(10C)
atau pada suhu diatas 100F (lebih dari 37,8C). Bila mayat diletakkan pada suhu
hangat dan lembab maka proses pembusukan akan berlangsung lebih cepat.
Sebaliknya bila mayat diletakkan pada suhu dingin maka proses pembusukan akan
berlangsung lebih lambat. Pada mayat yang gemuk proses pembusukan berlangsung
lebih cepat dari pada mayat yang kurus. Pembusukan berlangsung lebih cepat
karena kelebihan lemak akan menghambat hilangnya panas tubuh dan pada mayat
yang gemuk memiliki darah yang lebih banyak, yang merupakan media yang baik
untuk perkembangbiakkan organisme pembusukan.
Pada bayi yang baru lahir hilangnya panas tubuh yang cepat menghambat
pertumbuhan bakteri disamping pada tubuh bayi yang baru lahir memang terdapat
sedikit bakteri sehingga proses pembusukan berlangsung lebih lambat. Proses
pembusukan juga dapat dipercepat dengan adanya septikemia yang terjadi sebelum
kematian seperti peritonitis fekalis, aborsi septik, dan infeksi paru. Disini gas
pembusukan dapat terjadi walaupun kulit masih terasa hangat.

1.
2.
3.
4.

Secara garis besar terdapat 17 tanda pembusukan pada jenazah, yaitu :


Wajah membengkak.
Bibir membengkak.
Mata menonjol.
Lidah terjulur.
14

5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.

Lubang hidung keluar darah.


Lubang mulut keluar darah.
Lubang lainnya keluar isinya seperti feses (usus), isi lambung, dan partus
(gravid).
Badan gembung.
Bulla atau kulit ari terkelupas.
Aborescent pattern / morbling yaitu vena superfisialis kulit berwarna
kehijauan.
Pembuluh darah bawah kulit melebar.
Dinding perut pecah.
Skrotum atau vulva membengkak.
Kuku terlepas.
Rambut terlepas.
Organ dalam membusuk.
Larva lalat.
Pembusukan dipengaruhi oleh beberapa faktor interinsik diatas, selain itu juga
dipengaruhi oleh faktor ekstrinsik antara lain kelembaban udara dan medium di
mana mayat berada. Semakin lembab udara di sekeliling mayat maka pembusukan
lebih cepat berlangsung, sedangkan pembusukan pada medium udara lebih cepat
dibandingkan medium air dan pembusukan pada medium air lebih cepat
dibandingkan pada medium tanah.
Pada keadaan tertentu tanda-tanda pembusukan tersebut tidak dijumpai,
namun yang ditemui adalah modifikasi pembusukan. Jenis-jenis modifikasi
pembusukan antara lain.

4. Mumifikasi
Mumifikasi dapat terjadi karena proses dehidrasi jaringan yang cukup cepat
sehingga terjadi pengeringan jaringan yang selanjutnya dapat menghentikan
pembusukan. Proses mumufikasi terjadi bila keadaan disekitar mayat kering,
kelembaban rendah, suhunya tinggi dan tidak ada kontaminasi dengan bakteri.
Terjadinya beberapa bulan sesudah mati dengan tanda-tanda sebagai berikut mayat
menjadi kecil, kering, mengkerut atau melisut, warna coklat kehitaman, kulit
melekat erat dengan tulang di bawahnya, tidak berbau, dan keadaan anatominya
masih utuh.
5. Saponifikasi
Saponifikasi dapat terjadi pada mayat yang berada di dalamsuasana hangat,
lembab atau basah. Terjadi karena proses hidrolisis dari lemak menjadi asam
lemak. Selanjutnya asam lemak yang tak jenuh akan mengalami
dehidrogenisasi menjadi asam lemak jenuh dan kemudian bereaksi dengan alkali
menjadi sabun yang tak larut. Terbentuk pertama kali pada lemak superfisial
bentuk bercak, di pipi, di payudara, bokong bagian tubuh atau ekstremitas.
Terjadinya saponikasi memerlukan waktu beberapa bulan dan dapat terjadi pada
setiap jaringan tubuh yang berlemak dengan tanda-tanda berwarna keputihan dan
berbau tengik seperti minyak kelapa.
6. Penurunan suhu tubuh mayat/algor mortis
Pada saat sel masih hidup ia akan selalu menghasilkan kalor dan energi.
15

Kalor dan energi ini terbentuk melalui proses pembakaran sumber energi
seperti glukosa, lemak, dan protein. Sumber energi utama yang digunakan adalah
glukosa. Satu molekul glukosa dapat menghasilkan energi sebanyak 36 ATP yang
nantinya digunakan sebagai sumber energi dalam berbagai hal seperti transport ion,
kontraksi otot dan lain-lain. Energi sebanyak 36 ATP hanya menyusun sekitar
38% dari total energi yang dihasilkan dari satu molekul glukosa (gambar II.1).
Sisanya sebesar 62% energi yang dihasilkan inilah yang dilepaskan sebagai kalor
atau panas.

Gambar III. Metabolisme Glukosa


Sesudah mati, metabolisme yang menghasilkan panas akan terhenti
16

sehingga suhu tubuh akan turun menuju suhu udara atau medium di sekitarnya.
Penurunan ini disebabkan oleh adanya proses radiasi, konduksi, dan pancaran
panas. Proses penurunan suhu pada mayat ini biasa disebut algor mortis. Algor
mortis merupakan salah satu perubahan yang dapat kita temukan pada mayat
yang sudah berada pada fase lanjut post mortem.
Pada beberapa jam pertama, penurunan suhu terjadi sangat lambat
dengan bentuk sigmoid. Hal ini disebabkan ada 2 faktor, yaitu :
1.

Masih adanya sisa metabolisme dalam tubuh


mayat, yakni karena masih adanya proses glikogenolisis dari cadangan
glikogen yang disimpan di otot dan hepar (gambar II.2).

2.

Perbedaan koefisien hantar sehingga butuh waktu


mencapai tangga suhu.

Gambar IV. Glikogenolisis

Pada jam-jam pertama penurunannya sangat lambat tetapi sesudah itu


penurunan menjadi lebih cepat dan pada akhirnya menjadi lebih lambat kembali.
17

Jika dirata-rata maka penurunan suhu tersebut antara 0,9 sampai 1 derajat
celcius atau sekitar 1,5 derajat Fahrenheit setiap jam, dengan catatan penurunan
suhu dimulai dari 37 derajat Celcius atau 98,4 derajat Fahrenheit sehingga
dengan dapat dirumuskan cara untuk memperkirakan berapa jam mayat telah
mati dengan rumus (98,4oF - suhu rectal oF) : 1,5oF. Pengukuran dilakukan per
rectal dengan menggunakan thermometer kimia (long chemical thermometer).
Terdapat dua hal yang mempengaruhi cepatnya penurunan suhu mayat ini
yakni:
a.
Faktor internal
- Suhu tubuh saat mati
Sebab kematian, misalnya perdarahan otak dan septikemia, mati
dengan suhu tubuh tinggi. Suhu tubuh yang tinggi pada saat mati ini akan
mengakibatkan penurunan suhu tubuh menjadi lebih cepat. Sedangkan,
pada hypothermia tingkat penurunannya menjadi sebaliknya.
-

Keadaan tubuh mayat


Konstitusi tubuh pada anak dan orang tua makin mempercepat
penurunan suhu tubuh mayat. Pada mayat yang tubuhnya kurus, tingkat
penurunannya menjadi lebih cepat.
b.

Faktor Eksternal
- Suhu medium
Semakin besar selisih suhu antara medium dengan mayat maka
semakin cepat terjadinya penurunan suhu. Hal ini dikarenakan kalor yang ada
di tubuh mayat dilepaskan lebih cepat ke medium yang lebih dingin.
-

Keadaan udara di sekitarnya


Pada udara yang lembab, tingkat penurunan suhu menjadi lebih besar.
Hal ini disebabkan karena udara yang lembab merupakan konduktor yang
baik. Selain itu, Aliran udara juga makin mempercepat penurunan suhu tubuh
mayat
-

Jenis medium
Pada medium air, tingkat penurunan suhu menjadi lebih cepat sebab
air merupakan konduktor panas yang baik sehingga mampu menyerap
banyak panas dari tubuh mayat.
-

Pakaian mayat
Semakin tipis pakaian yang dipakai maka penurunan suhu mayat
semakin cepat. Hal ini dikarenakan kontak antara tubuh mayat dengan suhu
medium atau lingkungan lebih mudah.
1.1. Entomologi Forensik
Entomologi forensik merupakan salah satu cabang dari sains forensik yang
memberikan informasi mengenai serangga yang digunakan untuk menarik kesimpulan
ketika melakukan investigasi yang berhubungan dengan kasus-kasus hukum yang
berkaitan dengan dengan manusia atau satwa (Gaensslen, 2009; Gennard, 2007).
18

Dalam kasus entomologi forensik, Gomes et al. (2006) menyatakan bahwa lalat
merupakan invertebrata primer yang mendekomposisi komponen organik pada hewan
termasuk juga mayat manusia. Pada saat lalat mengambil materi organik yang ada di
dalam tubuh mayat, maka lalat tersebut akan memindahkan telur yang akan berkembang
menjadi larva dan pupa (Sukontason et al., 2007). Adanya berbagai perubahan dari
berbagai jenis lalat dan serangga lain akan menimbulkan suatu komunitas dalam mayat
yang secara ekologi dan evolusi akan terjadi proses kompetisi, predasi, seleksi,
penyebaran dan kepunahan lokal dalam tubuh mayat tersebut (Hangeveld, 1989).
Amendt et al. (2004a) menyebutkan bahwa ada empat kategori secara ekologi
untuk mengidentifikasi suatu komunitas pada bangkai/mayat, antara lain:
1. Adanya spesies necrophagous yang memakan bangkai/mayat.
2. Adanya predator dan parasit pada terhadap spesies necrophagous yang memakan
serangga atau golongan Arthropoda yang lain. Terkadang juga ditemukan spesies
Schizophagous, yakni spesies yang hadir untuk memakan pada saat pertama kali,
namun akan menjadi predator pada tahap larva.
2. Adanya spesies omnivora seperti semut, lebah, dan beberapa jenis kumbang yang
memakan baik pada bangkai maupun pada koloni serangga yang ada.
3. Adanya spesies lain seperti laba-laba yang menggunakan bangkai/mayat untuk tempat
tinggalnya.

1. Tahapan Dekomposisi
Peristiwa dekomposisi melibatkan berbagai aspek selain faktor biotik, yakni
faktor abiotik yang meliputi parameter fisik seperti temperatur, kelembaban, dan
lain-lain. Menurut Gennard (2007) dan Goff (2003), tahapan dekomposisi terdiri dari
lima tahap antara lain:
Tahap1: fresh stage, tahapan dimulai pada saat kematian dan ditandai adanya
tanda penggelembungan pada tubuh. Serangga yang pertama kali datang adalah
lalat dari famili Calliphoridae dan Sarcophagidae. Lalat betina akan meletakkan
telurnya di daerah yang terbuka seperti daerah kepala (mata, hidung, mulut, dan
telinga).
Tahap 2: bloated stage, merupakan tahapan pembusukan yang sedang dimulai.
Gas yang dihasilkan oleh aktivitas metabolisme bakteri anaerob menyebabkan
penggelembungan pada pada perut mayat. Selanjutnya suhu internal naik selama
tahapan ini sebagai akibat dari aktivitas bakteri pembusuk dan aktivitas metabolime
dari larva lalat. Lalat dari famili Calliphoridae sangat tertarik pada mayat selama
tahapan ini. Kemudian selama mengembang akibat adanya gas, cairan dalam tubuh
terdorong keluar dari lubang-lubang tubuh dan meresap ke dalam tanah. Cairan
tersebut tersusun oleh senyawa seperti amonia yang dihasilkan oleh aktivitas
metabolisme dari larva lalat sehingga akan menyebabkan tanah di bawah mayat itu
untuk menjadi alkali (basa) dan fauna tanah menjadi tertarik untuk menuju ke mayat.
Tahap 3: decay stage, tahapan ini ditandai adanya kerusakan kulit dan
mengakibatkan gas keluar dari tubuh. Larva lalat membentuk gerombolan yang
besar pada mayat. Meskipun beberapa serangga predator, seperti kumbang, tawon,
dan semut, pada tahap bloated stage, serangga necrophagous dan predator dapat
diamati dalam jumlah besar menjelang tahapan ini berakhir. Pada akhir tahap ini, lalat
19

dari famili Calliphoridae dan Sarcophagidae telah menyelesaikan perkembangan


siklusnya dan meninggalkan mayat untuk menjadi pupa. Pada akhir tahap ini, larva
lalat akan menghilang dari jaringan tubuh pada mayat.
Tahap 4: postdecay stage, pada tahap ini sisa-sisa tubuh seperti kulit,
kartilago dan usus sudah mengalami pembusukan. Selanjutnya sisa jaringan tubuh
yang masih ada akan mengering. Indikator pada tahap ini adalah hadirnya kumbang
dan berkurangnya dominansi lalat di dalam tubuh mayat.
Tahap 5: skeletal stage, pada tahap ini hanya tersisa tulang belulang dan rambut.
Tahapan ini tidak jelas serangga apa saja yang hadir. Pada kasus tertentu, kumbang
dari famili Nitidulidae terkadang ditemukan. Tubuh mayat sudah mengalami akhir
dari dekomposisi.

1.1

Definisi
Autopsi merupakan pemeriksaaan terhadap tubuh mayat, meliputi pemeriksaan
terhadap bagian luar maupun bagian dalam, dengan tujuan menemukan proses penyakit dan
atau adanya cedera, melakukan interpretasi atas penemuan-penemuan tersebut, menerangkan
penyebabnya serta mencari hubungan sebab akibat antara kelainan-kelainan yang ditemukan
dengan penyebab kematian.
1.2

Klasifikasi
Berdasarkan tujuannya, autposi dibagi menjadi :
1. Autopsi klinik, dilakukan terhadap mayat seseorang yang sebelumnya menderita suatu
penyakit, dirawat dirumah sakit tetapi kemudian meninggal. Untuk autopsi ini mutlak
diperlukan izin keluarga terdekat. Tujuan dilakukan autopsi klinik adalah :
Menentukan sebab kematian yang pasti
Menentukan apakah diagnosis klinis yang dibuat selama perawatan sesuai dengan
diagnosa post mortem
Mengetahui korelasi proses penyakit yang ditemukan dengan diagnosis klinis, dan
gejala-gejala klinik
Menentukan efektifitas pengobatan
Mempelajari perjalanan lazim suatu proses penyakit
Pendidikan
2. Autopsi forensik, dilakukan terhadap mayat seseorang berdasarka peraturan undangundang dengan tujuan :
Membantu dalam hal penentuan identitas mayat
Menentukan sebab pasti kematian, memperkirakan saat kematian, memperkirakan cara
kematian
Mengumpulkan serta mengenali benda-benda bukti untuk penentuan identitas benda
penyebab serta identitas pelaku kejahatan
Membuat laporan tertulis yang onyektif berdasarkan fakta dalam bentuk visum et
repertum
Melindungi orang yang tidak bersalah dan membantu orang dalam penentuan identitas
serta penuntutan terhadap orang yang bersalah.
20

Untuk menentukan autopsi forensik ini, diperlukan suatu surat permintaan visum dari
yang berwenang, dalam hal ini adalah penyidik. Izin keluarga tidak diperlukan, bahkan
apabila ada seseorang yang menghalang-halangi dapat ditindak sesuai undang-undang
yang berlaku.
3. Otopsi anatomi, dilakukan untuk keperluan pendidikan mahasiswa fakultas kedokteran.
Bahan yang dipakai adalah mayat yang dikirim ke rumah sakit yang setelah disimpan 2 x
24 jam di laboratorium ilmu kedokteran kehakiman tidak ada ahli waris yang
mengakuinya. Setelah diawetkan di laboratorium anatomi, mayat disimpan sekurangkurangnya satu tahun sebelum digunakan untuk praktikum anatomi. Menurut hukum, hal
ini dapat dipertanggungjawabkan sebab warisan yang tak ada yang mengakuinya menjadi
milik negara setelah tiga tahun (KUHPerdata pasal 1129). Ada kalanya, seseorang
mewariskan mayatnya setelah ia meninggal pada fakultas kedokteran, hal ini haruslah
sesuai dengan KUHPerdata pasal 935

Autopsi pada Kasus Kematian akibat Kekerasan


Berdasarkan sifat serta penyebabnya, kekerasan dapat dibedakan atas kekerasan yang
bersifat:
A.
Mekanik:
Kekerasan oleh benda tajam
Kekerasan oleh benda tumpul
Tembakan senjata api
B.
Fisika:
Suhu
Listrik dan petir
Perubahan tekanan udara
Akustik
Radiasi
C.
Kimia: Asam atau basa kuat
Pada kematian akibat kekerasan, pemeriksaan terhadap luka harus dapat mengungkapkan
berbagai hal tersebut di bawah ini.
1. Penyebab luka.
Dengan memperhatikan morfologi luka, kekerasan penyebab luka dapat ditentukan.
Pada kasus tertentu, gambaran luka seringkali dapat memberi petunjuk mengenai bentuk
benda yang mengenai tubuh, misalnya luka yang disebabkan oleh benda tumpul
berbentuk bulat panjang akan meninggalkan negative imprint oleh timbulnya marginal
haemorrhage. Luka lecet jenis tekan memberikan gambaran bentuk benda penyebab luka.
2. Arah kekerasan.
Pada luka lecet jenis geser dan luka robek, arah kekerasan dapat ditentukan. Hal ini
sangat membantu pihak yang berwajib dalam melakukan rekonstruksi terjadinya perkara.
21

3. Cara terjadinya luka.


Yang dimaksudkan dengan cara terjadinya luka adalah apakah luka yang ditemukan
terjadi sebagai akibat kecelakaan, pembunuhan atau bunuh diri. Luka-luka akibat
kecelakaan biasanya terdapat pada bagian tubuh yang terbuka. Bagian tubuh yang
biasanya terlindung jarang mendapat luka pada suatu kecelakaan. Daerah terlindung ini
misalnya adalah daerah sisi depan leher, daerah lipat siku, dan sebagainya. Luka akibat
pembunuhan dapat ditemukan tersebar pada seluruh bagian tubuh. Pada korban
pembunuhan yang sempat mengadakan perlawanan, dapat ditemukan luka tangkis yang
biasanya terdapat pada daerah ekstensor lengan bawah atau telapak tangan.
Pada korban bunuh diri, luka biasanya menunjukkan sifat luka percobaan (tentative
wounds) yang mengelompok dan berjalan kurang lebih sejajar.
4. Hubungan antara luka yang ditemukan dengan sebab mati.
Harus dapat dibuktikan bahwa terjadinya kematian semata-mata disebabkan oleh
kekerasan yang menyebabkan luka. Untuk itu pertama-tama harus dapat dibuktikan
bahwa luka yang ditemukan adalah benar-benar luka yang terjadi semasa korban masih
hidup (luka intravital). Untuk ini, tanda intravitalitas luka berupa reaksi jaringan terhadap
luka perlu mendapat perhatian. Tanda intravitalitas luka dapat bervariasi dari
ditemukannya resapan darah, terdapatnya proses penyembuhan luka, sebukan sel radang,
pemeriksaan histo-enzimatik, sampai pemeriksaan kadar histamin bebas dan serotonin
jaringan
1.3

Dasar Hukum
Beberapa peraturan perundang-undangan yang mengatur pekerjaan dokter dalam
membantu peradilan:
Pasal 133 KUHAP :
1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka,
keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia
berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman
atau dokter dan atau ahli lainnya.
2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dilakukan secara tertulis
yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan
mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.
3) Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit
harus diperlakukan baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut dan diberi
label yg memuat identitas mayat diberi cap jabatan yang dilekatkan pada ibu jari kaki atau
bagian lain badan mayat.
Pasal 134 KUHAP
1) Dalam hal sangat diperlukan di mana untuk keperluan pembuktian bedah mayat tidak
mungkin lagi dihindari, penyidik wajib memberitahukan terlebih dahulu kepada keluarga
korban.
22

2) Dalam hal keluarga keberatan, penyidik wajib menerangkan sejelas-jelasnya tentang


maksud dan tujuan perlu dilakukannya pembedahan tersebut.
3) Apabila dalam waktu dua hari tidak ada tanggapan apapun dari keluarga atau pihak yang
perlu diberitahu tidak ditemukan, penyidik segera melaksanakan ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam pasal 133 ayat (3) undang-undang ini.
Pasal 179 KUHAP:
1) Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter
ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.
Semua ketentuan tersebut di atas untuk saksi berlaku juga bagi mereka yang memberikan
keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan sumpah atau janji akan
memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan yang sebenarnya menurut pengetahuan
dalam bidang keahliannya
1.4
Teknik Autopsi
Terdapat 4 teknik autopsi dasar yaitu :
1. TEKNIK VIRCHOW
Teknik autopsi yang tertua.
Setelah dilakukan pembukaan rongga tubuh, organ-organ dikeluarkan satu persatu
dan langsung diperiksa.Dengan demikian kelainan-kelainan yang terdapat pada
masing-masing organ dapat segera dilihat, namun hubungan anatomik antar beberapa
organ yang tergolong dalam satu sistem menjadi hilang.
2. TEKNIK ROKITANSKY
Setelah rongga tubuh dibuka, organ-organ dilihat dan diperiksa dengan melakukan
beberapa irisan in situ, baru kemudian seluruh organ- organ tersebut dikeluarkan
dalam kumpulan-kumpulan organ (en bloc).
Teknik ini jarang dipakai.
3. TEKNIK LETULLE
Setelah rongga tubuh dibuka, organ-organ leher, dada, diafragma dan perut
dikeluarkan sekaligus (en masse).
Kemudian diletakkan di atas meja dengan permukaan posterior menghadap ke atas.
Plexus coeliacus dan kelenjar-kelenjar para aortal diperiksa.
Aorta dibuka sampai arcus aortae dan Aa.renalis kanan dan kiri dibuka serta
diperiksa.
Aorta diputus di atas muara a. renalis.
Rectum dipisahkan dari sigmoid.
Organ-organ urogenital dipisahkan dari organ-organ lain.
Bagian proksimal jejunum diikat pada dua tempat dan kemudian diputus antara dua
ikatan tersebut, dan usus-usus dapat dilepaskan.
Esofagus dilepaskan dari trachea, tetapi hubungannya dengan lambung
dipertahankan.
Vena cava inferior serta aorta diputus di atas diafragma dan dengan demikian organorgan leher dan dada dapat dilepas dari organ-organ perut.
23

Kerugian teknik ini adalah sukar dilakukan tanpa pembantu, serta agak sukar dalam
penanganan karena panjangnya kumpulan organ-organ yang dikeluarkan bersamasama ini.

4. TEKNIK GOHN
setelah rongga tubuh dibuka, organ leher, dada, pencernaan beserta hati dan limpa, serta
organ urogenital diangkat ke luar.
LO II Mengetahui dan Memahami Visum
2.1
Definisi
Visum et Repertum adalah keterangan tertulis yang dibuat dokter atas permintaan tertulis
(resmi) penyidik tentang pemeriksaan medis terhadap seseorang manusia baik hidup maupun
mati ataupun bagian dari tubuh manusia, berupa temuan dan interpretasinya, di bawah
sumpah dan untuk kepentingan peradilan
2.2

Dasar Hukum

Pasal 133 KUHAP menyebutkan:


1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka,
keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia
berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman
atau dokter dan atau ahli lainnya.
2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara
tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau
pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.
Yang berwenang meminta keterangan ahli adalah penyidik dan penyidik pembantu
sebagaimana bunyi pasal 7(1) butir h dan pasal 11 KUHAP.
Penyidik yang dimaksud di sini adalah penyidik sesuai dengan pasal 6 (1) butir a, yaitu
penyidik yang pejabat Polisi Negara RI. Penyidik ini adalah penyidik tunggal bagi pidana
umum, termasuk pidana yang berkaitan dengan kesehatan dan jiwa manusia. Oleh karena
visum et repertum adalah keterangan ahli mengenai pidana yang berkaitan dengan kesehatan
jiwa manusia, maka penyidik pegawai negeri sipil tidak berwenang meminta visum et
repertum, karena mereka hanya mempunyai wewenang sesuai dengan undang-undang yang
menjadi dasar hukumnya masing-masing (Pasal 7(2) KUHAP).
Sanksi hukum bila dokter menolak permintaan penyidik, dapat dikenakan sanki pidana :
Pasal 216 KUHP :
Barangsiapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan
menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh pejabat
berdasar- kan tugasnya, demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau memeriksa
tindak pidana; demikian pula barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi
atau mengga-galkan tindakan guna menjalankan ketentuan, diancam dengan pidana penjara
paling lama empat bulan dua minggu atau denda paling banyak sembilan ribu rupiah.
24

2.3

Fungsi dan Peranan


Visum et repertum adalah salah satu alat bukti yang sah sebagaimana tertulis dalam
pasal 184 KUHP. Visum et repertum turut berperan dalam proses pembuktian suatu perkara
pidana terhadap kesehatan dan jiwa manusia, dimana VeR menguraikan segala sesuatu
tentang hasil pemeriksaan medik yang tertuang di dalam bagian pemberitaan, yang karenanya
dapat dianggap sebagai pengganti barang bukti.
Visum et repertum juga memuat keterangan atau pendapat dokter mengenai hasil
pemeriksaan medik tersebut yang tertuang di dalam bagian kesimpulan. Dengan demikian
visum et repertum secara utuh telah menjembatani ilmu kedokteran dengan ilmu hukum
sehingga dengan membaca visum et repertum, dapat diketahui dengan jelas apa yang telah
terjadi pada seseorang, dan para praktisi hukum dapat menerapkan norma-norma hukum pada
perkara pidana yang menyangkut tubuh dan jiwa manusia.
Apabila visum et repertum belum dapat menjernihkan duduk persoalan di sidang
pengadilan, maka hakim dapat meminta keterangan ahli atau diajukannya bahan baru, seperti
yang tercantum dalam KUHAP, yang memungkinkan dilakukannya pemeriksaan atau
penelitian ulang atas barang bukti, apabila timbul keberatan yang beralasan dari terdakwa
atau penasehat hukumnya terhadap suatu hasil pemeriksaan. Hal ini sesuai dengan pasal 180
KUHAP.
Bagi penyidik (Polisi/Polisi Militer) visum et repertum berguna untuk mengungkapkan
perkara. Bagi Penuntut Umum (Jaksa) keterangan itu berguna untuk menentukan pasal yang
akan didakwakan, sedangkan bagi Hakim sebagai alat bukti formal untuk menjatuhkan
pidana atau membebaskan seseorang dari tuntutan hukum. Untuk itu perlu dibuat suatu
Standar Prosedur Operasional Prosedur (SPO) pada suatu Rumah Sakit tentang tata laksana
pengadaan visum et repertum.
2.4
Jenis Visum et Repertum
a. VeR perlukaan (termasuk keracunana)
b. VeR kejahatan susila
c. VeR jenazah
d. VeR psikiatrik
Jenis a,b dan c adalah visum et repertum mengenai tubuh atau raga manusia. Dalam hal ini
berstatus sebagai korban tindak pidana, sedangkan jenis d mengenai jiwa atau mental
tersangka atau terdakwa tindak pidana.

2.5

Bagian Visum et Repertum


25

Setiap visum et repertum harus dibuat memenuhi ketentuan umum sebagai berikut:
a. Diketik di atas kertas berkepala surat instansi pemeriksa
b. Bernomor dan bertanggal
c. Mencantumkan kata Pro Justitia di bagian atas kiri (kiri atau tengah
d. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar
e. Tidak menggunakan singkatan, terutama pada waktu mendeskripsikan temuan
pemeriksaan
f. Tidak menggunakan istilah asing
g. Ditandatangani dan diberi nama jelas
h. Berstempel instansi pemeriksa tersebut
i. Diperlakukan sebagai surat yang harus dirahasiakan
j. Hanya diberikan kepada penyidik peminta visum et repertum. Apabila ada lebih dari satu
instansi peminta, misalnya penyidik POLRI dan penyidik POM, dan keduanya berwenang
untuk itu, maka kedua instansi tersebut dapat diberi visum et repertum masing-masing asli
k. Salinannya diarsipkan dengan mengikuti ketentuan arsip pada umumnya, dan disimpan
sebaiknya hingga 20 tahun
Pada umumnya visum et repertum dibuat mengikuti struktur sebagai berikut :
a. Pro Justitia
Kata ini harus dicantumkan di kiri atas, dengan demikian visum et repertum tidak perlu
bermeterai.
b. Pendahuluan
Pendahuluan memuat : identitas pemohon visum et repertum, tanggal dan pukul diterimanya
permohonan visum et repertum, dentitas dokter yang melakukan pemeriksaan, identitas objek
yang diperiksa : nama, jenis kelamin, umur, bangsa, alamat, pekerjaan, kapan dilakukan
pemeriksaan, dimana dilakukan pemeriksaan, alasan dimintakannya visum et repertum,
rumah sakit tempat korban dirawat sebelumnya, pukul korban meninggal dunia, keterangan
mengenai orang yang mengantar korban ke rumah sakit.
c. Pemberitaan (Hasil Pemeriksaan)
Memuat hasil pemeriksaan yang objektif sesuai dengan apa yang diamati terutama dilihat dan
ditemukan pada korban atau benda yang diperiksa. Pemeriksaan dilakukan dengan sistematis
dari atas ke bawah sehingga tidak ada yang tertinggal. Deskripsinya juga tertentu yaitu mulai
dari letak anatomisnya, koordinatnya (absis adalah jarak antara luka dengan garis tengah
badan, ordinat adalah jarak antara luka dengan titik anatomis permanen yang terdekat), jenis
luka atau cedera, karakteristiknya serta ukurannya. Rincian ini terutama penting pada
pemeriksaan korban mati yang pada saat persidangan tidak dapat dihadirkan kembali.
d. Kesimpulan
Memuat hasil interpretasi yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dari fakta yang
ditemukan sendiri oleh dokter pembuat visum et repertum, dikaitkan dengan maksud dan
tujuan dimintakannya visum et repertum tersebut. Pada bagian ini harus memuat minimal 2
unsur yaitu jenis luka dan kekerasan dan derajat kualifikasi luka.

26

e. Penutup
Memuat pernyataan bahwa keterangan tertulis dokter tersebut dibuat dengan
mengingat sumpah atau janji ketika menerima jabatan atau dibuat dengan
mengucapkan sumpah atau janji lebih dahulu sebelum melakukan pemeriksaan
Dibubuhi tanda tangan dokter pembuat visum et repertum
LO. III Mengetahui dan Memahami Infanticide
3.1
Definisi
Infanticide atau pembunuhan anak adalah pembunuhan yang dilakukan oleh seorang ibu
dengan atau tanpa bantuan orang lain terhadap bayinya pada saat dilahirkan atau beberapa
saat sesudah dilahirkan, oleh karena takut diketahui orang lain bahwa ia telah melahirkan
anak.
3.2
Undang-undang yang Berhubungan dengan Infanticide
Undang-undang yang menyangkut pembunuhan anak terdapat pada KUHP pasal 341, 342
dan 343.
Pasal 341 KUHP
Seorang ibu yang karena takut akan ketahuan melahirkan anak pada saat anak dilahirkan
atau tidak lama kemudian, dengan sengaja merampas nyawa anaknya, diancam karena
membunuh anaknya sendiri, dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.
Pasal 342 KUHP
Seorang ibu yang untuk melaksanakan niat yang ditentukan karena takut akan ketahuan
bahwa ia akan melahirkan anak, pada saat akan dilahirkan atau tidak lama kemudian
merampas nyawa anaknya, diancam karena melakukan pembunuhan anak sendiri dengan
rencana, dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.
Pasal 343 KUHP
Kejahatan yang diterangkan dalam pasal 341 dan 342 dipandang, bagi orang lain yang
turut serta melakukan, sebagai pembunuhan atau pembunuhan anak dengan rencana.
Dengan demikian, pada kasus pembunuhan anak terdapat tiga unsur yang penting, yaitu:

Pelaku: Pelaku haruslah ibu kandung korban.

Motif: Motif atau alasan pembunuhan adalah karena takut ketahuan telah
melahirkan anak.

Waktu: Pembunuhan dilakukan segera setelah anak dilahirkan atau tidak beberapa
lama kemudian, yang dapat diketahui dari ada tidaknya tanda-tanda perawatan.

3.3
Hal-hal yang Perlu Ditentukan
Dalam kasus infanticide, hal-hal yang harus ditentukan atau yang perlu dijelaskan dokter
dalam pemeriksaannya adalah:
Berapa umur bayi dalam kandungan, apakah sudah cukup bulan untuk dilahirkan.
Apakah bayi lahir hidup atau sudah mati saat dilahirkan.
27

Bila bayi lahir hidup, berapa umur bayi sesudah lahir.


Apakah bayi sudah pernah dirawat.
Apakah penyebab kematian bayi.

Untuk menjawab kelima hal di atas, diperlukan pemeriksaan yang lengkap, yaitu
pemeriksaan luar dan pemeriksaan dalam (autopsi) pada tubuh bayi serta bila perlu
melakukan pemeriksaan tambahan seperti pemeriksaan mikroskopis pada jaringan paru
(patologi anatomi) dan pemeriksaan test apung paru.
Cara melakukan test apung paru adalah sebagai berikut:
Keluarkan paru-paru dengan mengangkatnya mulai dari trachea sekalian dengan
jantung dan timus. Kesemuanya ditaruh dalam baskom berisi air. Bila terapung artinya paruparu telah terisi udara pernafasan.
Untuk memeriksa lebih jauh, pisahkan paru-paru dari jantung dan timus, dan kedua
belah paru juga dipisahkan. Bila masih terapung, potong masing-masing paru-paru menjadi
12 20 potongan-potongan kecil. Bagian-bagian ini diapungkan lagi. Bagian kecil paru ini
ditekan dipencet dengan jari di bawah air. Bila telah bernafas, gelembung udara akan terlihat
dalam air. Bila masih mengapung, bagian kecil paru-paru ditaruh di antara 2 lapis kertas dan
dipijak dengan berat badan. Bila masih mengapung, itu menunjukkan bayi telah bernafas.
Sedangkan udara pembusukan akan keluar dengan penekanan seperti ini, jadi ia akan
tenggelam.
Ada beberapa keadaan dimana test ini diragukan hasilnya.
1. Paru-paru sudah berkembang, namun dalam pemeriksaan ternyata tenggelam.

Penyakit: pada edema paru atau pemadatan karena bronkopneumonia atau lues
(sifilis). Tetapi biasanya jarang melibatkan kedua bagian paru atau seluruh jaringan
paru. Sebagian tetap akan merapung. Lagi pula pemeriksaan ini secara patologi
anatomi akan menegaskan adanya penyakit tersebut.

Atelektase paru. Biasanya jarang terjadi.

2. Paru-paru yang belum berfungsi (bayi belum bernafas), tetapi pada pemeriksaan
mengapung:

Telah terjadi proses pembusukan. Ini mudah dikenal karena proses pembusukan pada
daerah lain juga didapati.

Dimasukkan udara secara artifisial. Susah melakukannya, apalagi oleh orang awam.

Adanya udara dalam lambung dan usus merupakan petunjuk bahwa si-anak menelan
udara setelah ia dilahirkan hidup, dengan demikian nilai dari pemeriksaan udara di dalam
lambung dan usus ini sekedar memperkuat saja. Seperti halnya pada pemeriksaan untuk
menentukan adanya udara dalam paru-paru, maka pemeriksaan yang serupa terhadap lambung
dan usus baru dapat dilakukan bila keadaan si-anak masih segar dan belum mengalami proses
pembusukan serta tidak mengalami manipulasi seperti pemberian pernafasan buatan. Caranya
28

adalah dengan mengikat bagian bawah esofagus di bawah thyroid proksimal dari cardia dan
colon, kemudian dilepaskan dari organ lainnya. Bila yang terapung adalah lambung, hal ini
tidak berarti apa-apa. Bila usus yang terapung berarti bayi telah pernah menelan udara dan ini
berarti bayi telah pernah bernafas.
Adanya udara di dalam liang telinga bagian tengah hanya dapat terjadi bila si-anak
menelan udara dan udara tersebut melalui tuba eustachii masuk ke dalam liang bagian tengah.
Untuk dapat mengetahui keadaan tersebut pembukaan liang telinga bagian tengah harus
dilakukan di dalam air; tentunya baru dilakukan pada mayat yang masih segar.
Adanya makann di dalam lambung dari seorang anak yang baru dilahirkan tentunya
baru dapat terjadi pada anak yang dilahirkan hidup dan diberi makan oleh orang lain, dan
makanan tidak mungkin akan dapat masuk ke dalam lambung bila tidak disertai dengan
aktivitas atau gerakan menelan.
Adanya udara di dalam paru-paru, lambung dan usus serta di dalam liang telinga
bagian tengah merupakan petujuk pasti bahwa si-anak yang baru dilahirkan tersebut memang
dilahirkan dalam keadaan hidup. Sedangkan adanya makanan di dalam lambung lebih
mengarahkan kepada kenyataan bahwa si-anak sudah cukup lama dalam keadaan hidup; hal
mana bila keadaannya memang demikian maka si-ibu yang menghilangkan nyawa anak
tersebut dapat dikenakan hukuman yang lebih berat dari ancaman hukuman seperti yang
tertera pada pasal 341 dan 342.

29

LO. IV Mengetahui dan Memahami Investigasi Pemerkosaan


4.1
Definisi
Pemerkosaan berasal dari bahasa latin yaitu rapere yang artinya menangkap atau mengambil
dengan paksa. Pemerkosaan adalah suatu tindakan kriminal dimana si korban dipaksa untuk
melakukan aktivitas seksual, khususnya penetrasi dengan alat kelamin diluar kemauannya
sendiri (Philip, 2007)
Dalam hukum tertulis, kasus tindak kriminal pemerkosaan helas terjadi apabila terdapat
persetubuhan (atau terjadi penyerangan)tanpa adanya persetujuan yang nyata dari salah satu
pihak yang terlibat. Persetubuhan ini sering diartikan sebagai penetrasi penis ke dalam anus,
vagina, atau oral seks. (Philip 2007)
Dampak dampak dari pemerkosaan bagi korbannya antaranya (Philip, 2007) :
Hilangnya keperawanan korban
Pengucilan baik dalam keluarga ataupun masyarakat
Hilangnya rasa percaya diri korban dikarenakan kesuciannya telah hilang
Hilangnya hak dalam mengeyam pendidikan
Dampak psikologis depresi sampai bunuh diri
Terdapat berbagai jenis pemerkosaan diantaranya :
Perkosaan saat berkencan (date rape)
Perkosaan yang dilakukan oleh gang/kelompok (gang rape)
Perkosaan dalam perkawinan (marital rape)
Pemerkosaan dibawah umur (statutory rape)

4.2

Pemerkosaan dalam Bidang Forensik

1. Berdasarkan KUHP Pasal 285, "Barangsiapa yang dengan kekerasan atau dengan ancaman
memaksa perempuan yang bukan istrinya bersetubuh dengan dia, karena perkosaan,
dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya dua belas tahun."
2. Berdasarkan KUHP Pasal 286, "Barangsiapa bersetubuh dengan perempuan yang bukan
istrinya, padahal diketahuinya bahwa perempuan itu dalam keadaan pingsan atau tidak
berdaya, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya sembilan tahun." Dan...
3. Berdasarkan KUHP Pasal 287, "Barangsiapa bersetubuh dengan perempuan yang bukan
istrinya, padahal diketahuinya atau patut dapat disangkanya, bahwa umur perempuan itu
belum cukup lima belas tahun atau, kalau tidak terang umurnya, bahwa perempuan itu

30

belum pantas untuk dikawini, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya sembilan
tahun.

Dari kalimat di atas terdapat unsur-unsur yang dapat mendefinisikan apa yang dimaksud
dengan pemerkosaan. Unsur-unsur tersebut ialah :

Bersetubuh
Kekerasan/paksaan secara fisik, psikis, ataupun obat-obatan yang dapat membuat tidak
berdaya
Menyetubuhi bukan istri
Menyetubuhi gadis di bawah umur (usia < 15 tahun dan belum datang haid pertama).

Jadi yang dimaksud dengan pemerkosaan ialah pelanggaran hukum dalam hal menyetubuhi
perempuan bukan istri ataupun perempuan di bawah umur dengan memaksa secara fisik,
psikis, ataupun bantuan obat-obatan.
Dalam bidang kedokteran forensik, yang dimaksud dengan pemerkosaan ialah identik dengan
persetubuhan yang kriminal. Persetubuhan adalah masuknya alat kelamin laki-laki (penis) ke
dalam liang vagina dengan atau tanpa mengeluarkan ejakulat.
Bukti bahwa telah terjadi persetubuhan antara lain

Robekan hymen/selaput dara (bagi korban yang sebelumnya perawan) dan ejakulat pria
pada liang vagina.
Pada hymen dilihat apakah robekan masih baru atau sudah lama, yang berarti korban
sudah beberapa hari datang setelah dugaan perkosaan. Ciri-ciri robekan baru ialah merah
(hiperemis) di luar vagina, sedangkan robekan lama tidak merah seperti robekan baru.
Dalam keadaan ini, pemeriksaan direkomendasikan kepada spesialis ginekologi.
Pemeriksaan ejakulat pria di liang vagina korban dinilai untuk mengetahui apakah
memang betul terdapat sperma dan semen ada pada liang vagina. Pemeriksaan dilakukan
dengan berbagai tes, seperti tes Berberio yang berfungsi untuk mendeteksi cairan semen
dan sperma. Dengan cara ini, bahkan semen yang telah lama pun masih bisa dideteksi.
Selain tes Berberio, ada sejumlah tes lain untuk mengidentifikasi ejakulat, seperti tes
enzim fosfatase, tes florence, dan tes golongan darah.

Setelah mengidentifikasi adanya bukti persetubuhan, yang penting untuk dinilai ialah bukti
pemaksaan/kekerasan.

Bukti kekerasan dapat berupa kerusakan fisik seperti kerusakan (lesi/lecet) pada vulva
vagina.
Selanjutnya cari tahu dengan anamnesis, adakah bukti psikis yang didapat dari korban
seperti ancaman pistol/senjata tajam, serta lihat ekpresi yang depresif dari korban dugaan
31

perkosaan. Selain itu, keadaan korban saat ia menduga dirinya dipekosa juga harus
diketahui dengan anamnesis, apabila korban pingsan, ketahui apa yang mengakibatkan
pingsan seperti akibat hiptotis, narkotika, bius, dan sebagainya.
Pemeriksaan area vagina, yang dilakukan oleh dokter ginekologi harus didampingi oleh
saksi/perawat atau keluarga pasien. Pemeriksaan dilakukan sedini mungkin untuk
menghindari hilangnya barang bukti (barang bukti berupa ejakulat dan temuan fisik,
misalnya). Hal ini berfungsi agar menjamin validitas pemeriksaan.

Kesimpulannya, setiap dugaan perkosaan, harus ditemukan bukti persetubuhan, paksaan, dan
atau korban yang bukan istri atau berusia di bawah umur.

4.3

Penentuan Jenis Delik

Suatu laporan tentang seorang yang disetubuhi atau dilecehkan secara seksual oleh seseorang
lainnya tidak selalu berarti kasusnya adalah perkosaan. Untuk kasus-kasus semacam ini kita
harus memilah termasuk kategori delik yang manakah kasus tersebut, yang masing masing
mempunyai kriteria dan hukuman yang berbeda satu sama lain.

Perkosaan

Menurut KUHP pasal 285 perkosaan adalah dengan kekerasan atau ancaman kekerasan
menyetubuhi seorang wanita di luar perkawinan. Termasuk dalam kategori kekerasan disini
adalah dengan sengaja membuat orang pingsan atau tidak berdaya (pasal 89 KUHP).
Hukuman maksimal untuk delik perkosaan ini adalah 12 tahun penjara.

Persetubuhan diluar perkawinan

Persetubuhan diluar perkawinan antara pria dan wanita yang berusia diatas 15 tahun tidak
dapat dihukum kecuali jika perbuatan tersebut dilakukan terhadap wanita yang dalam
keadaan pingsan atau tidak berdaya.
Untuk perbuatan yang terakhir ini pelakunya dapat dihukum maksimal 9 tahun penjara (pasal
286 KUHP) jika persetubuhan dilakukan terhadap wanita yang diketahui atau sepatutnya
dapat diduga berusia dibawah 15 tahun atau belum pantas dikawin maka pelakunya dapat
diancam hukuman penjara maksimal 9 tahun.
Untuk penuntutan ini harus ada pengaduan dari korban atau keluarganya (pasal 287 KUHP) .
Khusus untuk yang usianya dibawah 12 tahun maka untuk penuntutan tidak diperlukan
adanya pengaduan.

32

Perzinahan

Perzinahan adalah persetubuhan antara pria dan wanita diluar perkawinan, dimana salah
satu diantaranya telah kawin dan pasal 27 BW berlaku baginya.
Khusus untuk delik ini penuntutan dilakukan oleh pasangan dari yang telah kawin tadi yang
diajukan dalam 3 bulan disertai gugatan cerai/pisah kamar/pisah ranjang. Perzinahan ini
diancam dengan hukuman pen]ara selama maksimal 9 bulan.

Perbuatan cabul

Seseorang yang dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seseorang untuk
melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, maka ia diancam dengan hukuman
penjara maksimal 9 tahun (pasal 289 KUHP).
Hukuman perbuatan cabul lebih ringan, yaitu 7 tahun saja jika perbuatan cabul ini dilakukan
terhadap orang yang sedang pingsan, tidak berdaya. berumur dibawah 15 tahun atau belum
pantas dikawin dengan atau tanpa bujukan (pasal 290 KUHP). Perbuatan cabul yang
dilakukan terhadap orang yang belum dewasa oleh sesama jenis diancam hukuman penjara
maksimal 5 tahun (pasal 291 KUHP).
Perbuatan cabul yang dilakukan dengan cara pemberian, menjanjikan uang atau barang,
menyalahgunakan wibawa atau penyesatan terhadap orang yang belum dewasa diancam
dengan hukuman penjara maksimal 5 tahun (pasal 293 KUHP) .
Perbuatan cabul yang dilakukan terhadap anak, anak tiri, anak angkat, anak yang belum
dewasa yang pengawasan, pemeliharaan, pendidikan atau penjagaannya diserahkan
kepadanya, dengan bujang atau bawahan yang belum dewasa diancam dengan hukuman
penjara maksimal 7 tahun.
Hukuman yang sama juga diberikan pada pegawai negeri yang melakukan perbuatan cabul
dengan bawahan atau orang yang penjagaannya dipercayakan kepadanya, pengurus, dokter,
guru, pegawai, pengawas atau pesuruh dalam penjara, tempat peker]aan negara, tempat
pendidikan, rumah piatu, rumah sakit, rumah sakit jiwa atau lembaga sosial yang melakukan
perbuatan cabul dengan orang yang dimasukkan ke dalamnya (pasal 294 KUHP).
Orang yang dengan sengaja menyebabkan atau memudahkan, menjadi penghubung bagi
perbuatan cabul terhadap korban yang belum cukup umur diancam dengan hukuman penjara
maksimal 5 tahun (pasal 295 KUHP).

33

Jika perbuatan ini dilakukan sebagai pencarian atau kebiasaan maka ancaman hukumannya
satu tahun 4 bulan atau denda paling banyak Rp. 15.000,-

4.4

Pemeriksaan Korban

Jika korban dibawa ke dokter untuk mendapatkan pertolongan medis, maka dokter punya
kewajiban untuk melaporkan kasus tersebut ke polisi atau menyuruh keluarga korban untuk
melapor ke polisi.
Korban yang melapor terlebih dahulu ke polisi pada akhirnya juga akan dibawa ke dokter
untuk mendapatkan pertolongan medis sekaligus pemeriksaan forensik untuk dibuatkan
visum et repertumnya.
Sebagai dokter klinis, pemeriksa bertugas menegakkan diagnosis dan melakukan pengobatan.
Adanya kemungkinan terjadinya kehamilan atau penyakit akibat hubungan seksual (PHS)
harus diantisipasi dan dicegah dengan pemberian obat-obatan. Pengobatan terhadap luka dan
keracunan harus dilakukan seperti biasanya. Pengobatan secara psikiatris untuk
penanggulangan trauma pasca perkosaan juga sangat diperlukan untuk mengurangi
penderitaan korban. Sebagai dokter forensik pemeriksa bertugas mengumpulkan berbagai.
bukti yang berkaitan dengan pemenuhan unsur-unsur delik seperti yang dinyatakan oleh
undang-undang, dan menyusun laporan visum et repertum.
Secara umum dokter bertugas mengumpulkan bukti adanya kekerasan, keracunan, tanda
persetubuhan, penentuan usia korban dan pelacakan benda bukti yang berasal dari pelaku.
Pencarian benda-benda bukti yang berasal dari pelaku pada tubuh atau pakaian korban dan
tempat kejadian perkara merupakan hal penting yang paling sering dilupakan oleh dokter.

Pada kasus perkosaan dan delik susila lainnya perlu dikumpulkan informasi sebagai berikut :

1. Umur Korban
Umur korban amat perlu ditentukan pada pemeriksaan medis, karena hal itu menentukan
jenis delik (delik aduan atau bukan), jenis pasal yang dilanggar dan jumlah hukuman yang
dapat dijatuhkan.

34

Dalam hal korban mengetahui secara pasti tanggal lahirnya/umurnya, apalagi jika
dikuatkan oleh bukti diri (KTP,SIM dsb) , maka umur dapat langsung disimpulkan dari
hal tersebut.
Akan tetapi jika korban tak mengetahui umurnya secara pasti maka perlu diperiksa erupsi
gigi molar II dan molar III. Gigi molar II mengalami erupsi pada usia kurang lebih 12
tahun, sedang gigi molar III pada usia 17 sampai 21 tahun. Untuk wanita yang telah
tumbuh molar IInya, perlu dilakukan foto ronsen gigi. Jika setengah sampai seluruh
mahkota molar III sudah mengalami mineralisasi (terbentuk) , tapi akarnya belum maka
usianya kurang dari 15 tahun.
Kriteria sudah tidaknya wanita mengalami haid pertama atau menarche tak dapat dipakai
untuk menentukan umur karena usia menarch saat ini tidak lagi pada usia 15 tahun tetapi
seringkali jauh lebih muda dari itu.
2. Tanda Kekerasan
Yang dimaksud dengan kekerasan pada delik susila adalah kekerasan yang menunjukkan
adanya unsur pemaksaan, seperti jejas bekapan pada hidung, mulut dan bibir, jejas cekik
pada leher, kekerasan pada kepala, luka lecet pada punggung atau bokong akibat
penekanan, memar pada lengan atas dan paha akibat pembukaan secara paksa, luka lecet
pada pergelangan tangan akibat pencekalan dsb.
Adanya luka-luka ini harus dibedakan dengan luka-luka akibat "foreplay" pada
persetubuhan yang "biasa" seperti luka isap (cupang) pada leher, daerah payudara atau
sekitar kemaluan, cakaran pada punggung (yang sering -terjadi saat orgasme) dsb.
Luka-luka yang terakhir ini memang merupakan kekerasan tetapi bukan kekerasan yang
dimaksud pada delik perkosaan. Adanya luka-luka jenis ini harus dinyatakan secara jelas
dalam kesimpulan visum et repertum untuk menghindari kesalahan interpretasi oleh
aparat penegak hukum.
Tanpa adanya kejelasan ini suatu kasus persetubuhan biasa bisa disalahtafsirkan sebagai
perkosaan yang berakibat hukumannya menjadi lebih berat.
Pemeriksaan toksikologi untuk beberapa jenis obat-obatan yang umum digunakan untuk
membuat orang mabuk atau pingsan perlu pula dilakukan, karena tindakan membuat
orang mabuk atau pingsan secara sengaja dikategorikan juga sebagai kekerasan. Obatobatan yang perlu diperiksa adalah obat penenang, alkohol, obat tidur, obat perangsang
(termasuk ecstasy) dsb.
3. Tanda Persetubuhan
Tanda persetubuhan secara garis besar dapat dibagi dalam tanda penetrasi dan tanda
ejakulasi. Tanda penetrasi biasanya hanya jelas ditemukan pada korban yang masih kecil
atau belum pernah melahirkan atau nullipara. Pada korban-korban ini penetrasi dapat
menyebabkan terjadinya robekan selaput dara sampai ke dasar pada lokasi pukul 5 sampai
7, luka lecet, memar sampai luka robek baik di daerah liang vagina, bibir kemaluan
maupun daerah perineum. Adanya penyakit keputihan akibat jamur Candida misalnya
dapat menunjukkan adanya erosi yang dapat disalah artikan sebagai luka lecet oleh
pemeriksa yang kurang berpengalaman. Tidak ditemukannya luka-luka tersebut pada
korban yang bukan nulipara tidak menyingkirkan kemungkinan adanya penetrasi.

35

Tanda ejakulasi bukanlah tanda yang harus ditemukan pada persetubuhan, meskipun
adanya ejakulasi memudahkan kita secara pasti menyatakan bahwa telah terjadi
persetubuhan. Ejakulasi dibuktikan dengan pemeriksaan ada tidaknya sperma dan
komponen cairan mani. Untuk uji penyaring cairan mani dilakukan pemeriksaan fosfatase
asam. Jika uji ini negatif, kemungkinan adanya ejakulasi dapat disingkirkan. Sebaliknya
jika uji ini positif, maka perlu dilakukan uji pemastian ada tidak sel sperma dan cairan
mani.
Usapan lidi kapas diambil dari daerah labia minora, liang vagina dan kulit yang
menunjukkan adanya kerak. Adanya rambut kemaluan yang menggumpal harus diambil
dengan cara digunting, karena umumnya merupakan akibat ejakulasi di daerah luar
vagina.
Untuk mendeteksi ada tidaknya sel mani dari bahan swab dapat dilakukan pemeriksaan
mikroskopik secara langsung terhadap ekstrak atau dengan Pembuatan preparat tipis yang
diwarnai dengan pewarnaan malachite green atau christmas tree.
Jika yang akan diperiksa sampel berupa bercak peda pakaian dapat dilakukan
pemeriksaan Baechi, dimana adanya sperma akan tampak berupa sel sperma yang
terjebak diantara serat pakaian. Sel sperma positip merupakan tanda pasti adanya
ejakulasi. Kendala utama pada pemeriksaan ini adalah jika sel sperma telah hancur bagian
ekor dan lehernya sehingga hanya tampak kepalanya saja. Untuk mendeteksi kepala
sperma semacam ini harus diyakini bahwa memang kepala tersebut masih memiliki topi
(akrosom).
Adanya cairan mani dicari dengan pemeriksaan terhadap beberapa komponen sekret
kelenjar kelamin pria (khususnya kelenjar prostat) yaitu spermin (dengan uji Florence),
cholin (dengan uji Berberio) dan zink (dengan uji PAN) . Suatu temuan berupa sel sperma
negatif tapi komponen cairan mani positip menunjukkan kemungkinan ejakulasi oleh pria
yang tak memiliki sel sperma (azoospermi) atau telah menjalani sterilisasi atau
vasektomi.
4. Dampak Perkosaan
Dampak perkosaan berupa terjadinya gangguan jiwa, kehamilan atau timbulnya penyakit
kelamin harus dapat dideteksi secara dini. Khusus untuk dua hal terakhir, pencegahan
dengan memberikan pil kontrasepsi serta antibiotic lebih bijaksana dilakukan ketimbang
menunggu sampai komplikasi tersebut muncul.
5. Pelaku Perkosaan
Aspek pelaku perkosaan merupakan merupakan aspek yang paling sering dilupakan oleh
dokter. Padahal tanpa adanya pemeriksaan kearah ini, walaupun telah terbukti adanya
kemungkinan perkosaan. amatlah sulit menuduh seseorang sebagai pelaku pemerkosaan.
Untuk mendapatkan informasi ini dapat dilakukan pemeriksaan kutikula rambut dan
pemeriksaan golongan darah dan pemeriksaan DNA dari sampel yang positip
sperma/maninya.
Pemeriksaan DNA dalam Bidang Kedokteran Forensik

36

Pertama kali diperkenalkan oleh Jeffrey pada tahun 1985. Beliau menemukan bahwa pita
DNA dari setiap individu dapat dilacak secara simultan pada banyak lokus sekaligus dengan
pelacak DNA (DNA probe) yang diciptakannya.
Pola DNA ini dapat divisualisasikan berupa urutan pita-pita yang berbaris membentuk
susunan yang mirip dengan gambaran barcode pada barang di supermarket. Uniknya ternyata
pita-pita DNA ini bersifat spesifik individu, sehingga tak ada orang yang memiliki pita yang
sama persis dengan orang lain.
Pada kasus perkosaan ditemukannya pita-pita DNA dari benda bukti atau karban yang
ternyata identik dengan pita-pita DNA tersangka menunjukkan bahwa tersangkalah yang
menjadi donor sperma tadi. Adanya kemungkinan percampuran antara sperma pelaku dan
cairan vagina tidak menjadi masalah, karena pada proses kedua jenis DNA ini dapat
dipisahkan satu sama lain. Satu-satunya kesalahan yang mungkin terjadi adalah kalau
pelakunya ternyata adalah saudara kembar identik dari si tersangka, karena keduanya
memiliki pita DNA yang sama persis.
Perkembangan lebih lanjut pada bidang forensik adalah ditemukannya pelacak DNA yang
hanya melacak satu lokus saja (single locus probe) . Berbeda dengan tehnik Jeffreys yang
menghasilkan banyak pita, disini pita yang muncul hanya 2 buah saja. Penggunaan metode
ini pada kasus perkosaan sangat menguntungkan karena ia dapat digunakan untuk membuat
perkiraan jumlah pelaku pada kasus perkosaan dengan pelaku lebih dari satu. Sebagai contoh,
jika pita DNA pada bahan usapan vagina ada 6 buah, maka sedikitnya ada (6 : 2) yaitu 3
orang pelaku. Untuk mempertinggi derajat keakuratan pemeriksaan ini, umumnya dilakukan
pemeriksaan beberapa lokus sekaligus. Adanya pita yang sama dengan tersangka
menunjukkan bahwa tersangka itu adalah pelakunya, sedang pita yang tidak sama
menyingkirkan tersangka sebagai pelaku.
Ditemukannya metode penggandaan DNA secara enzimatik (metode Polymerase Chain
Reaction atau PCR) oleh kelompok Cetus, membuka lebih banyak kemungkinan pemeriksaan
DNA. Dengan metode ini bahan sampel yang amat minim jumlahnya tidak lagi menjadi
masalah karena DNAnya dapat diperbanyak jutaan sampai milyaran kali lipat di dalam mesin
yang dinamakan mesin PCR atau thermocycler. Dengan metode ini waktu pemeriksaan juga
banyak dipersingkat, lebih sensitif serta lebih spesifik pula. Pada metode ini analisis DNA
dapat dilakukan dengan sistim dotblot yang berbentuk bulatan berwarna biru, sistim
elektroforesis yang berbentuk pita DNA atau dengan pelacakan urutan basa dengan metode
sekuensing.

LO. V Mengetahui dan Memahami Pandangan Hukum Negara dan Islam terhadap
Pemerkosaan dan Penelantaran Anak
37

Pemerkosaan
Yuridis
1. Berdasarkan KUHP Pasal 285, "Barangsiapa yang dengan kekerasan atau dengan
ancaman memaksa perempuan yang bukan istrinya bersetubuh dengan dia, karena
perkosaan, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya dua belas tahun."
2. Berdasarkan KUHP Pasal 286, "Barangsiapa bersetubuh dengan perempuan yang
bukan istrinya, padahal diketahuinya bahwa perempuan itu dalam keadaan pingsan
atau tidak berdaya, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya sembilan tahun."
Dan...
3. Berdasarkan KUHP Pasal 287, "Barangsiapa bersetubuh dengan perempuan yang
bukan istrinya, padahal diketahuinya atau patut dapat disangkanya, bahwa umur
perempuan itu belum cukup lima belas tahun atau, kalau tidak terang umurnya, bahwa
perempuan itu belum pantas untuk dikawini, dipidana dengan pidana penjara selamalamanya sembilan tahun.

Perspektif Hukum Islam


Perkosaan dalam bahasa Arab disebut al wath`u bi al ikraah (hubungan seksual dengan
paksaan). Jika seorang laki-laki memerkosa seorang perempuan, seluruh fuqaha sepakat
perempuan itu tak dijatuhi hukuman zina (had az zina), baik hukuman cambuk 100 kali
maupun hukuman rajam. (Abdul Qadir Audah, At Tasyri Al Jina`i Al Islami, Juz 2 hlm.
364; Al Mausuah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, Juz 24 hlm. 31; Wahbah Zuhaili, Al
Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, Juz 7 hlm. 294; Imam Nawawi, Al Majmu Syarah Al
Muhadzdzab, Juz 20 hlm.18).
Dalil untuk itu adalah Alquran dan sunnah. Dalil Alquran antara lain firman Allah SWT
(artinya), Barang siapa yang dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkan dan
tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. (QS Al Anaam [6] : 145). Ibnu Qayyim mengisahkan ayat ini dijadikan
hujjah oleh Ali bin Abi Thalib ra di hadapan Khalifah Umar bin Khaththab ra untuk
membebaskan seorang perempuan yang dipaksa berzina oleh seorang penggembala, demi
mendapat air minum karena perempuan itu sangat kehausan. (Abdul Qadir Audah, At
Tasyri Al Jina`i Al Islami, Juz 2 hlm. 365; Wahbah Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa
Adillatuhu, Juz 7 hlm. 294).
Adapun dalil sunnah adalah sabda Nabi SAW, Telah diangkat dari umatku (dosa/sanksi)
karena ketidaksengajaan, karena lupa, dan karena apa-apa yang dipaksakan atas mereka.
(HR Thabrani dari Tsauban RA. Imam Nawawi berkata, Ini hadits hasan). (Wahbah
Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, Juz 7 hlm. 294; Abdul Qadir Audah, At Tasyri
Al Jina`i Al Islami, Juz 2 hlm. 364).
Pembuktian perkosaan sama dengan pembuktian zina, yaitu dengan salah satu dari tiga
bukti (al bayyinah) terjadinya perzinaan berikut; Pertama, pengakuan (iqrar) orang yang
berbuat zina sebanyak empat kali secara jelas, dan dia tak menarik pengakuannya itu
hingga selesainya eksekusi hukuman zina. Kedua, kesaksian (syahadah) empat laki-laki
Muslim yang adil (bukan fasik) dan merdeka (bukan budak), yang mempersaksikan satu
perzinaan (bukan perzinaan yang berbeda-beda) dalam satu majelis (pada waktu dan
tempat yang sama), dengan kesaksian yang menyifati perzinaan dengan jelas. Ketiga,
38

kehamilan (al habl), yaitu kehamilan pada perempuan yang tidak bersuami.
(Abdurrahman Al Maliki, Nizhamul Uqubat, hlm. 34-38).
Jika seorang perempuan mengklaim di hadapan hakim (qadhi) bahwa dirinya telah
diperkosa oleh seorang laki-laki, sebenarnya dia telah melakukan qadzaf (tuduhan zina)
kepada laki-laki itu. Kemungkinan hukum syara yang diberlakukan oleh hakim dapat
berbeda-beda sesuai fakta (manath) yang ada, antara lain adalah sbb:
Pertama, jika perempuan itu mempunyai bukti (al bayyinah) perkosaan, yaitu
kesaksian empat laki-laki Muslim, atau jika laki-laki pemerkosa mengakuinya, maka
laki-laki itu dijatuhi hukuman zina, yaitu dicambuk 100 kali jika dia bukan muhshan,
dan dirajam hingga mati jika dia muhshan. (Wahbah Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa
Adillatuhu, Juz 7 hlm. 358).
Kedua, jika perempuan itu tak mempunyai bukti (al bayyinah) perkosaan, maka
hukumnya dilihat lebih dahulu; jika laki-laki yang dituduh memerkosa itu orang baikbaik yang menjaga diri dari zina (al iffah an zina), maka perempuan itu dijatuhi
hukuman menuduh zina (hadd al qadzaf), yakni 80 kali cambukan sesuai QS An
Nuur : 4. Adapun jika laki-laki yang dituduh memperkosa itu orang fasik, yakni bukan
orang baik-baik yang menjaga diri dari zina, maka perempuan itu tak dapat dijatuhi
hukuman menuduh zina

Penelantaran Anak
Yuridis
Dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak,
maka perlindungan anak telah memiliki landasan hukumnya secara yuridis. Termasuk
didalamnya diatur mengenai anak terlantar yaitu anak-anak yang karena suatu sebab tidak
terpenuhi kebutuhan dasarnya dengan wajar, baik rohani, jasmani, maupun sosial. Apabila
pelaku memenuhi unsur-unsur tindak pidana penelantaran anak berdasarkan Pasal 77
huruf b Dari Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak yaitu:
Penelantaran terhadap anak yang mengakibatkan anak mengalami sakit atau penderitaan,
baik fisik, mental, maupun sosial. maka ia mendapat hukuman sebagaimana diatur dalam
Pasal 77 huruf c Dari Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 yaitu: dipidana dengan
pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp
100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

Perspektif hukum Islam


Bicara mengenai perlindungan anak tidak terlepas dari pembahasan hak asasi manusia,
sebab anak merupakan manusia kecil yang sepatutnya harus diindungi. Disebut anak,
yakni orang yang berusia dibawah 18 (delapan belas) tahun, termasuk yang masih dalam
kandungan. Perlindungan anak merupakan bentuk implementasi penyelenggaraan hak
asasi manusia, sebab hak anak termasuk bagian integral dari hak asasi itu sendiri.
Pada perkembangannya, sebagian masyarakat menganggap alergi ketika membahas
konsep hak asasi manusia, menurut mereka hak asasi merupakan konsep barat. Pada
kenyataannya Islam juga mengajarkan konsep perlindungan anak. Secara jelas kita dapat

39

melihatnya dari hadist yang artinya Cukup berdosa seorang yang mengabaikan orang
yang menjadi tanggungannya.(HR. Abu Daud NasaI dan Hakim)
Hadist ini menjelaskan mengenai penelantaran terhadap anak, dengan demikian Islam
melarang terjadinya penelantaran terhadap anak, penelataran termasuk dalam kategori
kekerasan terhadap perekonomian.
Isyarat perlindungan anak yang dikehendaki Allah SWT tertuang dalam firman-Nya, yang
artinya sebagai berikut Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orangorang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan
janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk
berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan
bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
perbuat. (QS.Al-Maidah:8)
Ayat diatas turun berawal dari peristiwa yang menimpa Numan bin Basyir. Pada suatu
ketika Numan bin Basyir mendapat sesuatu pemberian dari ayahnya, kemudian Umi
Umrata binti Rawahah berkata aku tidak akan ridha sampai peristiwa ini disaksikan oleh
Rasulullah. Persoalan itu kemudian dibawa ke hadapan Rasulullah SAW. Untuk
disaksikan. Rasul kemudian berkata apakah semua anakmu mendapat pemberian yang
sama? Jawab ayah Numan tidak. Rasul berkata lagi takutlah engkau kepada Allah
dan berbuat adillah engkau kepada anak-anakmu. Sebagian perawi menyebutkan,
sesungguhnya aku tidak mau menjadi saksi dalam kecurangan. Mendengar jawaban itu
lantas ayah Numan pergi dan membatalkan pemberian kepada Numan. (HR. Bukhari
Muslim)
Esensi ayat diatas adalah semangat menegakkan keadilan dan perlindungan terhadap
anak. Islam memiliki standar yang mutlak dengan penggabungan norma dasar ilahi
dengan prinsip dasar insani. Syariat Islam merupakan pola yang luas tentang tingkah laku
manusia yang berakal dan otoritas kehendak Allah SWT yang tertinggi, sehingga garis
pemisah antara hukum dan moralitas sama sekali tidak bisa ditarik secara jelas seperti
pada masyarakat barat pada umumnya
Jangankan menelantarkan manusia, menelantarkan kucing dengan mengurung dan tidak
memberi makan dan minum saja sudah dilarang dalam islam.
Rasulullah saw bersabda:

" :

"

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW bersabda: Seorang wanita masuk Neraka
karena seekor kucing yang ia kurung kemudian tidak memberi makan dan
membiarkannya sehingga ia memakan serangga sampai mati.(Diriwayatkan oleh
Muslim dari Muhammad bin Rafi dan Abdu bin Khumaid dari Abdul Razaq)
40

Hadits ini berkenaan adanya seorang wanita yang mengurung seekor kucing tanpa
memberinya makan dan minum. Maka balasan baginya adalah ia akan masuk neraka
karena ia menganiaya kucing tersebut, tidak memberinya makan, atau melepaskannya
sehingga si kucing dapat bebas mencari makan sendiri.
Alasan mengapa Islam melarang menelantarkan anak, diantaranya adalah karena
anak merupakan penerus dari orang tuanya yang akan melanjutkan apa yang dimiliki
oleh orang tuanya terutama untuk menjaga keturunan keluarganya supaya tidak punah
dan anak juga merupakan harapan agama dan bangsa yang akan melanjutkan
perjuangan di masa depan, oleh karena itu hendaklah orang tua itu menjaga,
memelihara, serta mendidik anaknya supaya menjadi generasi yang kuat sehingga
mampu memajukan dan memperjuangkan agama dan bangsa dengan baik bukannya
menelantarkan anaknya sehingga anak-anaknya menjadi generasi yang lemah.

DAFTAR PUSTAKA

Atmadja. DS., Thanatologi;Ilmu Kedokteran Forensik;Edisi Pertama. Bagian Kedokteran


Forensik FKUI: Jakarta

41

Dahlan, Sofwan. 2007. Ilmu Kedokteran Forensik. Pedoman Bagi Dokter dan Penegak
Hukum. Badan Penerbit Universitas Diponegoro: Semarang. 47-65.
Dimaio VJ, Dimaio D. 2001. Forensic pathology. 2nd ed. CRC Press: London
Coe, John I M.D, Curran William J.LL.M,SMHyg. 1980. Definition and Time of
Death;Modern Legal Medicine, Psychiatry, and Forensic Science. F.A. Davis Company
Dimaio DJ, Dimaio Vincent J.M.1993. Time of Death; Forensic Pathology. CRC Press,Inc:
London
Idris, M A Dr. 1997. Saat kematian. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Bina Rupa Aksara.

42