Anda di halaman 1dari 15

1.

HASIL PENGAMATAN

1.1. Lapisan Nata de coco

Hasil pengamatan pada ketebalan lapisan nata de coco dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Hasil Pengamatan Lapisan Nata de coco

Tinggi media

Ketebalan (cm)

Persentase lapisan (%)

Kel.

awal (cm)

H 0

H 7

H 14

H 0

H 7

H 14

E1

2,8

0

0,4

0,4

0

14,29

14,29

E2

2,6

0

0,6

0,4

0

19,23

15,38

E3

1,3

0

0,5

0,8

0

38,46

61,54

E4

3

0

0,4

0,6

0

13,33

20

E5

2,5

0

0,3

0,3

0

12

12

Berdasarkan hasil pengamatan lapisan nata de coco, dapat diketahui bahwa tinggi media

awal setiap kelompok berbeda-beda, dimana ketinggian media paling tinggi pada

kelompok E4 yaitu 3 cm. Pengamatan dilakukan pada hari ke-0, hari ke-7, dan hari ke-

14. Pada hari ke-7 diperoleh lapisan paling tebal pada kelompok E2 yaitu 0,6 cm dengan

persentase lapisan 19,23% dan lapisan paling tipis pada kelompok E5 yaitu 0,3 cm

dengan persentase lapisan 12%. Sementara pada hasil pengamatan hari ke-14 lapisan

paling tebal terlihat pada nata de coco kelompok E3 yaitu 0,8 cm dengan persentase

lapisan 61,54% dan lapisan paling tipis pada kelompok E5 yaitu 0,3 cm dengan

persentase lapisan 12%.

1.2. Uji Sensori Nata de coco

Hasil pengamatan uji sensori nata de coco dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2. Hasil Pengamatan Uji Sensori Nata de coco

Kel.

Aroma

Warna

Tekstur

Rasa

E1

+

+

-

-

E2

+

+

-

-

E3

++++

+

+++

-

E4

+

+

-

-

E5

+

+

-

-

 

1

2

Keterangan :

 

Aroma

Warna

++++

: tidak asam

++++

: putih

+++

: agak asam

+++

: putih bening

++

: asam

++

: putih agak bening

+

: sangat asam

+

: bening

Tekstur

Rasa

++++

: sangat kenyal

++++

: tidak manis

+++

: kenyal

+++

: agak manis

++

: agak kenyal

++

: manis

+

: tidak kenyal

+

: sangat manis

Uji sensori nata de coco meliputi uji aroma, warna, tekstur, dan rasa. Berdasarkan hasil pengamatan, hanya aroma nata de coco pada kelompok E3 yang tidak asam, sedangkan kelompok lainnya memiliki aroma yang asam. Warna nata de coco yang dihasilkan adalah bening pada semua kelompok. Tekstur pada kelompok E3 adalah kenyal, sedangkan kelompok lainnya tidak bertekstur karena nata de coco yang dihasilkan masih cair. Untuk parameter rasa tidak dilakukan pengujian karena pada semua kelompok tidak ada nata de coco yang terbentuk sempurna.

2.

PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini dilakukan pembuatan nata de coco yang berbahan dasar air kelapa. Nata de coco adalah jenis makanna hasil fermentasi air kelapa oleh bakteri Acetobacter xylinum. Karakteristik makanan ini adalah memiliki bentuk yang padat, berwarna putih, kuat, kokoh, transparan, kenyal, dan rasanya mirip dengan kolang- kaling. Nata de coco biasanya digunakan sebagai campuran pada es krim, koktail buah, sirup, dan makanan ringan lainnya (Astawan & Astawan, 1991). Nata didefinisikan sebagai selulosa yang bentuknya padat dengan warna putih transparan, memilliki tekstur yang kenyal, kandungan air sekitar 98%, dan biasanya dikonsumsi sebagai makanan ringan. Pertumbuhan Acetobacter xylinum menghasilkan biomassa nata selama proses fermentasi cairan yang mengandung asam dan gula (Anastasia et al., 2008). Pembuatan nata dapat dilakukan menggunakan bahan yang mengandung protein, mineral, dan gula seperti air kelapa (nata de coco), sari kedelai (nata de soya), sari buah mangga (nata de mango), sari buah nanas (nata de pina), dan lainnya (Pambayun, 2002).

Bahan yang digunakan dalam pembuatan nata de coco selain air kelapa adalah gula pasir, asam asetat glasial 95% (asam cuka glasial), ammonium sulfat, dan starter nata de coco. Bahan yang mengandung glukosa adalah air kelapa dan gula pasir. Glukosa yang berperan dalam pembentukan selulosa adalah glukosa dalam bentuk β, sehingga glukosa dalam bentuk α akan diubah menjadi bentuk β melalui enzim isomerase yang terdapat pada bakteri Acetobacter xylinum (Indarti & Asnawati, 2011). Selain itu, glukosa dalam gula pasir berperan sebagai sumber karbon yang berguna dalam proses fermentasi. Sumber karbon yang dapat digunakan adalah monosakarida dan disakarida (Pambayun, 2002). Menurut Awang (1991), air kelapa terdiri atas 91,23% air, 0,15% lemak, 0,29% protein, 1,06% abu, dan 0,15% karbohidrat. Selain itu, terdapat kandungan dextrose, fruktose, sukrose, dan vitamin B. Kandungan nutrisi tersebut membuat air kelapa menjadi media yang baik untuk pertumbuhan Acetobacter xylinum dalam pembentukan nata.

Penggunaan ammonium sulfat adalah sebagai sumber nitrogen yang dapat mendukung pertumbuhan bakteri nata. Sumber nitrogen yang sering digunakan dalam pembuatan

3

4

nata adalah ammonium fosfat atau ZA karena dapat menghambat pertumbuhan bakteri pesaing Acetobater xylinum, yaitu Acetobacter acesi (Pambayun 2002). Sumber karbon dan nitrogen diperlukan untuk membentuk asam nukleat dan protein sebagai sumber energi untuk pertumbuhan bakteri yang optimum, yaitu berupa molekul amonia yang dapat langsung diserap oleh sel bersama dengan sumber nitrogen lainnya (Rahayu et al., 1993). Menurut Edria et al. (2009), penggunaan ammonium sulfat sebagai sumber karbon memiliki kelebihan seperti mudah larut, harganya murah, dan selektif bagi mikroorganisme lain. Penambahan ammonium sulfat berkontribusi pada ketebalan nata yang dihasilkan. Nata dengan penambahan ammonium sulfat memberikan hasil yang lebih tebal dibanding nata tanpa penambahan ammonium sulfat. Starter yang digunakan dalam praktikum ini adalah Acetobacter xylinum. Bakteri ini cocok tumbuh pada suasana asam berkisar antara pH 4,3-4,5. Untuk meningkatkan tingkat keasaman menjadi pH 4,3, maka dalam pembuatan media diperlukan penambahan asam agar Acetobacter xylinum dapat tumbuh dengan baik pada kondisi yang sesuai (Pambayun, 2002). Pada praktikum ini untuk meningkatkan keasaman digunakan asam asetat glasial

95%.

Dalam pembuatan nata de coco, pertama-tama 1,2 liter air kelapa yang akan digunakan disaring terlebih dahulu menggunakan kain saring untuk memisahkan kotoran. Menurut Astawan & Astawan (1991), penyaringan bertujuan untuk menghilangkan kotoran yang mungkin terdapat pada air kelapa. Kotoran dalam air kelapa dapat mengganggu berlangsungnya proses fermentasi yang dilakukan oleh bakteri dan dapat menyebabkan terjadinya kontaminasi. Kemudian air kelapa dimasak hingga mendidih agar mikroorganisme yang tidak diinginkan pada air kelapa dapat mati. Mikrooganisme kontaminan harus dimatikan terlebih dahulu agar tidak mengganggu proses fermentasi (Tortora et al., 1995). Selanjutnya dilakukan penambahan gula pasir sebanyak 10% dan diaduk hingga gula larut. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, gula merupakan sumber karbon yang dibutuhkan untuk proses fermentasi. Menurut Pambayun (2002), sumber karbon yang paling banyak digunakan adalah jenis sukrosa. Alasannya selain karena sukrosa adalah sumber karbohirat sederhana, tetapi juga karena harganya murah dan mudah didapat. Sunarso (1982) menambahkan bahwa konsentrasi optimum gula yang ditambahkan untuk 100 ml media adalah 10 gram, karena jumlah yang berlebihan

5

menyebabkan A. xylinum tidak dapat memanfaatkan gula secara optimal. Selain itu, dijelaskan pula oleh Pambayun (2002) bahwa penambahan sukrosa berlebih mengakibatkan terlalu banyaknya sukrosa yang diubah menjadi asam, terjadi penurunan pH yang drastis, dan dapat merugikan industri nata. Banyaknya gula yang ditambahkan membuat warna media menjadi lebih gelap karena adanya reaksi browning yang disebabkan oleh terperangkapnya gula dalam struktur serat nata yang transparan. Sedangkan jika sukrosa yang ditambahkan terlalu sedikit menyebabkan bibit nata tidak dapat tumbuh dengan normal dan nata yang dihasilakan tidak terbentuk maksimal. Hayati (2003) menambahkan bahwa pembahan gula bertujuan untuk mendapatkan penampakan, tekstur, dan flavor yang diinginkan, serta dapat berfungsi sebagai pengawet.

Kemudian dilakukan penambahan ammonium sulfat 0,5% dan diaduk hingga rata. Menurut Pambayun (2002), sumber nitrogen untuk pertumbuhan bakteri nata dapat diperoleh dari protein maupun ekstrak yeast (nitrogen organik), urea, ammonium fosfat (ZA), atau ammonium sulfat (nitrogen anorganik). Tahap selanjutnya adalah ditambahkan asam cuka glasial hingga pH media 4-5. Penambahan asam bertujuan untuk menurunkan pH media atau meningkatkan keasamannya. Menurut Saragih (2004), dosis penggunaan asam asetat dalam pembuatan nata de coco adalah sekitar 5 ml/liter air kelapa untuk diperoleh pH 4,0-4,5. Asam asetat glasial memiliki konsentrasi keasaman yang tinggi, oleh karena itu digunakan asam asetat glasial agar volume asam yang ditambahkan tidak banyak.

Selanjutnya dilakukan pemanasan kembali pada media hingga mendidih. Pemanasan ini dilakukan untuk mematikan mikroorganisme yang mungkin terdapat pada media. Tahap ini dilakukan untuk memastikan kembali bahwa media terbebas dari mikroorganisme yang tidak diinginkan. Setelah pemanasan selesai, media disaring menggunakan kain saring yang telah disterilisasi untuk mencegah terjadinya kontaminasi media oleh mikroorganisme kontaminan yang dapat mengganggu proses fermentasi. Astawan & Astawan (1991) menyatakan bahwa denagn dilakukan pemanasan pada air kelapa dapat membunuh mikroorganimse yang mungkin dapat mencemari produk yang akan dihasilkan. Jika pemanasan tidak dilakukan, maka kemungkinan terdapat

6

mikroorganisme lain yang secara langsung maupun tidak langsung mengganggu

aktivitas dan pertumbuhan A. xylinum.

Tahap selanjutnya adalah tahap fermentasi, media yang akan digunakan dibagi ke dalam

5 wadah plastik yang sebelumnya telah dibersihkan menggunakan alkohol. Masing-

masing wadah diisi dengan 200 ml media. Diamkan beberapa saat hingga media cukup

hangat dengan posisi wadah agak ditutup. Setelah media menjadi hangat, tambahkan

biang nata sebanyak 10% dari media ke dalam masing-masing wadah plastik secara

aseptis dan gojog perlahan hingga seluruh starter bercampur dengan media. Setelah itu

tutup wadah dengan kertas coklat dan diberi karet agar tidak terbuka. Inkubasi pada

suhu ruang selama 2 minggu. Selama inkubasi, wadah jangan digoyangkan agar lapisan

yang terbentuk tidak terpisah-pisah. Selama inkubasi, pada hari ke-7 dan hari ke-14

dilakukan pengamatan ketebalan nata yang terbentuk. Kemudian dilakukan pengukuran

persentase lapisan dengan rumus:

dilakukan pengukuran persentase lapisan dengan rumus: Gambar 1. Air kelapa disaring sebelum digunakan Gambar 2.
dilakukan pengukuran persentase lapisan dengan rumus: Gambar 1. Air kelapa disaring sebelum digunakan Gambar 2.
dilakukan pengukuran persentase lapisan dengan rumus: Gambar 1. Air kelapa disaring sebelum digunakan Gambar 2.

Gambar 1. Air kelapa disaring sebelum digunakan

Gambar 2. Air kelapa dimasak hingga mendidih

Gambar 3. Penambahan gula pasir 10%

dimasak hingga mendidih Gambar 3. Penambahan gula pasir 10% Gambar 4. Penambahan 0,5% ammonium sulfat dan
dimasak hingga mendidih Gambar 3. Penambahan gula pasir 10% Gambar 4. Penambahan 0,5% ammonium sulfat dan
dimasak hingga mendidih Gambar 3. Penambahan gula pasir 10% Gambar 4. Penambahan 0,5% ammonium sulfat dan

Gambar 4. Penambahan 0,5% ammonium sulfat dan pengadukan

Gambar 5. Penambahan asam cuka glasial di ruang asam

Gambar 6. Pengukuran pH

7

7 Gambar 7. Pemasakan kembali Gambar 8. Penyaringan kembali Gambar 9. Diambil 200 ml per kelompok

Gambar 7. Pemasakan kembali

7 Gambar 7. Pemasakan kembali Gambar 8. Penyaringan kembali Gambar 9. Diambil 200 ml per kelompok

Gambar 8. Penyaringan kembali

Gambar 9. Diambil 200 ml per kelompok
Gambar 9. Diambil
200 ml per
kelompok
Gambar 7. Air kelapa dipanaskan kembali
Gambar 7. Air kelapa
dipanaskan kembali

Gambar 10. Dituang ke wadah plastik

dipanaskan kembali Gambar 10. Dituang ke wadah plastik Gambar 11. Ditambah 10% inokulum Gambar 12. Wadah

Gambar 11. Ditambah 10% inokulum

Dituang ke wadah plastik Gambar 11. Ditambah 10% inokulum Gambar 12. Wadah ditutup kertas coklat dan

Gambar 12. Wadah ditutup kertas coklat dan diinkubasi

Biang nata digunakan untuk proses fermentasi agar nata dapat terbentuk. Jumlah biang

yang digunakan berkisar antara 1-10% (Rahayu et al., 1993). Hal ini sudah sesuai

dengan yang dilakukan pada saat praktikum, dimana biang nata yang ditambahkan

adalah 10% dari volume media. Inkubasi dilakukan untuk memberikan waktu dan

kondisi yang sesuai pada bakteri untuk tumbuh. Menurut Palungkun (1996), bakteri A.

xylinum akan membentuk gel pada permukaan media yang mengandung gula. Nata

terbentuk karena adanya proses pengambilan glukosa dari larutan gula dalam media

oleh sel-sel A. xylinum. Selanjutnya glukosa digabungkan dengan asam lemak untuk

membentuk prekursor (penciri nata) pada membran sel. Prekursor tersebut kemudian

dikeluarkan dalam bentuk ekskresi dan dibantu enzim untuk mempolimerisasikan

glukosa menjadi selulosa di luar sel. Rahman (1992) menjelaskan bahwa aktivitas

bakteri A. xylinum ditunjukkan dengan terbentuknya lapisan berwarna putih, lama

kelamaan akan semakin melebar dan memadat

Air kelapa mengandung protein, gula, asam amino, vitamin, dan mineral. Air kelapa

juga baik digunakan sebagai bahan dasar dalam fermentasi asam-asam organik.

8

Kelebihan lainnya adalah harganya yang murah, kadar kontaminasi yang kecil karena termasuk dalam produk alami atau bukan merupakan sisa suatu proses produksi, merupakan produk samping minuman, dan terjamin ketersediaannya (Widayati et al., 2002). Selama pembuatan nata de coco, bakteri A. xylinum akan memetabolisme glukosa dalam air kelapa yang berperan sebagai sumber karbon dan mengubahnya menjadi selulosa ektraseluler sebagai metabolit. Bakteri A. xylinum merupakan bakteri asam asetat yang diketahui memiliki kemampuan mengoksidasi jenis alkohol dan gula yang berbeda menjadi asam asetat. Bakteri asam asetat ini termasuk dalam bakteri gram negatif dan merupakan bakteri aerobik (Halib et al., 2012).

Berdasarkan hasil pengamatan hari ke-7 dan hari ke-14 dapat diketahui bahwa pada kelompok E1 dan E5 tidak mengalami peningkatan ketebalan selulosa. Pada kelompok E2 justru terjadi penurunan ketebalan. Hal ini dapat disebabkan oleh kurang sesuainya kondisi media untuk pertumbuhan bakteri, sehingga bakteri tidak tumbuh secara optimal. Selain itu, kemungkinan pada saat inkubasi terjadi goncangan pada wadah yang menyebabkan lapisan yang terbentuk terpisah-pisah dan lapisan menjadi turun. Menurut Jagannath (2008), apabila terjadi penambahan konsentrasi gula maupun ammonium sulfat yang berbeda dan tingkat keasaman yang berbeda, dapat mempengaruhi tingkat ketebalan dari nata de coco yang dihasilkan. Perbedaan konsentrasi tersebut dapat disebabkan oleh praktikan pada saat penimbangan bahan yang digunakan, sehingga mempengaruhi hasil akhir pada lapisan yang terbentuk. Sedangkan kelompok E3 dan E4 mengalami peningkatan ketebalan selulosa yang dihasilkan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Rahman (1992), bahwa lapisan putih yang terbentuk akan melebar dan memadat dengan ditandai oleh menebalnya lapisan yang terbentuk. Namun dari hasil pengamatan, nata de coco yang memadat hanya pada kelompok E3, dapat dilihat pada gambar 14. Berdasarkan hasil perhitungan persentase lapisan, dapat diketahui bahwa persentase lapisan memiliki hubungan berbanding lurus dengan ketebalan yang dihasilkan. Semakin semakin besar ketebalan lapisan, maka persentase lapisan akan semakin besar pula.

9

9 Gambar 13. Lapisan yang terbentuk pada hari ke-14 Gambar 14. Nata de coco kelompok E3

Gambar 13. Lapisan yang terbentuk pada hari ke-14

9 Gambar 13. Lapisan yang terbentuk pada hari ke-14 Gambar 14. Nata de coco kelompok E3

Gambar 14. Nata de coco

kelompok E3

Berdasarkan hasil pengamatan uji sensori, dapat diketahui bahwa pada kelompok E3

aroma yang dihasilkan tidak asam, sedangkan kelompok lainnya memiliki aroma sangat

asam. Hal ini menunjukkan bahwa pada kelompok E1, E2, E4, dan E5 memiliki pH

yang sangat rendah. Hal ini pula yang menyebabkan nata de coco tidak dapat terbentuk

karena A. xylinum tidak dapat tumbuh secara optimal pada pH yang sangat rendah.

Seperti yang telah dijelaskan oleh Pambayun (2002), penambahan sukrosa berlebih

dapat menyebabkan penurunan pH yang drastis dan meningkatkan keasaman. Padahal

A. xylinum dapat tumbuh pada kisaran pH 4,3-4,5. Hal ini menunjukkan bahwa media

yang digunakan memiliki pH lebih rendah dari kisaran pH tersebut. Penyebab lainnya

dapat ditimbulkan oleh penambahan asam cuka glasial yang berlebih sehingga pH

semakin menurun.

yang

dihasilkan memiliki warna kuning. Hasil tersebut tidak sesuai dengan teori yang

Parameter warna dari

hasil

uji

sensori

menunjukkan bahwa

nata

de coco

10

dijelaskan oleh Rahman (1992), bahwa aktivitas bakteri A. xylinum ditunjukkan dengan terbentuknya lapisan berwarna putih. Hal tersebut menunjukkan bahwa aktivitas bakteri pada nata de coco tidak optimum, sehingga warna yang dihasilkan tidak berwarna putih. Tekstur hanya bisa diamati pada kelompok E3 karena hanya pada kelompok tersebut yang menghasilkan nata de coco yang memadat dengan tekstur kenyal.

Pato & Dwiloted (1994) menjelaskan bahwa dalam pembuatan nata de coco dipengaruihi oleh beberapa faktor, seperti sumber nitrogen, sumber karbon, keberadaan mikroba, temperatur, pH, dan umur kelapa. Rahayu et al. (1993) menambahkan faktor yang mempengaruhi fermentasi yaitu pH dan suhu inkubasi. Untuk mendapatkan pH yang optimum maka diperlukan penambahan asam untuk memberikan kondisi yang sesuai, sehingga bakteri dapat bekerja dengan baik. Suhu tempat inkubasi juga harus diperhatikan yaitu 28 o C. Suhu yang terlalu ekstrim dapat membunuh sebagian bakteri yang dibiakkan, sehingga menghambat proses fermentasi. Suhu yang terlalu rendah akan menghasilkan nata yang terlalu lunak atau bahkan tidak terbentuk nata sama sekali. Untuk menghasilkan nata yang baik dengan ketebalan optimum, maka diperlukan waktu fermentasi 10-14 hari dengan suhu 28-32 o C.

Sumber nitrogen yang ditambahkan juga mempengaruhi pembuatan nata. Menurut penelitian yang dilakukan Hamad & Kristiono (2013), nata de coco dengan sumber nitrogen urea menghasilkan yield lebih besar dibanding ZA dan ammonium sulfat. Bahkan pada penggunaan ammonium sulfat, nata tidak terbentuk sama sekali. Hal tersebut disebabkan oleh komposisi nitrogen pada urea lebih besar dibanding sumber nitrogen lainnya. Semakin tinggi konsentrasi urea yang ditambahkan, maka selulosa dalam nata akan semakin dan kandungan air akan semakin sedikit. Seperti yang telah dijelaskan oleh Halib et al. (2012) bahwa bakteri A. xylinum merupakan bakteri aerob, maka jumlah oksigen yang tersedia dalam wadah mempengaruhi pertumbuhan bakteri dan proses fermentasi itu sendiri. Penggunaan kertas coklat membuat terbatasnya oksigen yang masuk ke dalam wadah, sehingga oksigen dalam wadah juga akan berkurang dan menghambat proses fermentasi. Hal ini pula yang memungkinkan tidak terbentuknya lapisan yang memadat pada hasil praktikum.

3.

KESIMPULAN

Prinsip pembuatan nata de coco adalah dengan proses fermentasi yang melibat

bakteri Acetobacter xylinum.

Nata de coco memiliki bentuk yang padat, berwarna putih transparan, memilliki

tekstur yang kenyal, kandungan air sekitar 98%, dan biasanya dikonsumsi sebagai

makanan ringan.

Nata de coco berbahan dasar air kelapa yang mengandung air, lemak, protein, abu,

dan karbohidrat yang merupakan sumber nutrisi yang baik untuk pertumbuhan

Acetobacter xylinum.

Dalam fermentasi nata de coco digunakan gula pasir sebagai sumber karbon.

Glukosa dalam air kelapa dan gula pasir digunakan oleh Acetobacter xylinum untuk

dibuah menjadi selulosa.

Penambahan gula yang berlebih dapat menyebabkan penurunan pH yang drastis

karena banyaknya gula yang diubah menjadi asam.

Sumber nitrogen dalam fermentasi nata de coco dapat menggunakan ekstrak yeast

(nitrogen organik), urea, ammonium fosfat (ZA), atau ammonium sulfat (nitrogen

anorganik).

Ketebalan lapisan berbanding lurus dengan persentase lapisan.

Semarang, 7 Juli 2014

Rizka Redhitasari

12.70.0071

11

Asisten Dosen :

- Wulan Apriliana

- Nies Mayangsari

4.

DAFTAR PUSTAKA

Anastasia, Nadia dan Afrianto, Eddy. (2008). Mutu Nata de Seaweed dalam Berbagai Konsentrasi Sari Jeruk Nipis. Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi II. Universitas Lampung.

Astawan, M. & M. W. Astawan. (1991). Teknologi Pengolahan Nabati Tepat Guna Edisi Pertama. Akademika Pressindo. Bogor.

Awang, S. A. (1991). Kelapa: Kajian SosialEkonomi. Aditya Media. Yogyakarta.

Edria, D., M. Wibowo, dan Elvita K. (2009). Pengaruh penambahan kadar gula dan kadar nitrogen terhadap ketebalan, tekstur dan warna nata de coco. Jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan, Institut Pertanian Bogor.

Halib, N., Iqbal, M.C., and M. Amin. (2012). Physicochemical Properties and Characterization of Nata de Coco from Local Food Industries as a Source of Cellulose. Sains Malaysiana 41(2)(2012): 205211.

Hamad, A. dan Kristiono. (2013). Pengaruh penambahan sumber nitrogen terhadap hasil

fermentasi nata de coco. Momentum, Vol. 9, No. 1, April 2013, Hal. 62-65. ft-Unwahas

Semarang.

Hayati, M. (2003). Membuat Nata de coco. Adi Cita Karya Nusa. Yogyakarta.

Indarti, D. dan Asnawati. (2011). Karakteristik film nata de coco-benedict secara adsorpsi untuk sensor glukosa dalam urine. Jurnal ILMU DASAR Vol. 12 No. 2. 2011 :

200 209.

Jagannath, A. (2008). The effect of pH, sucrose and ammonium sulphate concentrations on the production of bacterial cellulose (Nata-de-coco) by Acetobacter xylinum. World J Microbiol Biotechnol (2008) 24:25932599.

Palungkun, R. (1996). Aneka Produk Olahan Kelapa. Penebar Swadaya. Jakarta.

Pambayun, R. (2002). Teknologi Pengolahan Nata de coco. Kanisius. Yogyakarta.

Pato, U. & Dwiloka, B. (1994). Proses & Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Nata de Coco. Sains Teks I (4) : 70-77.

12

13

Rahayu, E. S.; R. Indriati; T. Utami; E. Harmayanti & M. N. Cahyanto. (1993). Bahan Pangan Hasil Fermentasi. UGM. Yogyakarta.

Rahman, A. (1992). Teknologi Fermentasi. ARCAN Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi IPB. Bandung.

Saragih PY. 2004. Membuat Nata De Coco. Jakarta : Puspa Swara.

Sunarso. (1982). Pengaruh Keasaman Media Fermentasi Terhadap Ketebalan Pelikel pada Pembuatan Nata de coco. Skripsi. UGM. Yogyakarta.

Sunarso.(1982). Pengaruh Keasaman Media Fermentasi Terhadap Ketebalan Pelikel pada Pembuatan Nata de Coco.Skripsi.UGM.Yogyakarta.

Tortora, G.J., R. Funke & C.L. Case.(1995). Microbiology.The Benjamin / Cummings Publishing Company, Inc. USA.

Widayati, Eny; Sutarno; dan Setyaningsih, Ratna. (2002). Seleksi Isolat Bakteri untuk Fermentasi Asam Laktat dari Air Kelapa Varietas Rubescent (Cocos nucifera L. var. rubescent). Biosmart Volume 4 Nomor 2 Halaman 32-35.

Widayati, Eny; Sutarno; dan Setyaningsih, Ratna. (2002). Seleksi Isolat Bakteri untuk Fermentasi Asam Laktat dari Air Kelapa Varietas Rubescent (Cocos nucifera L. var. rubescent). Biosmart Volume 4 Nomor 2 Halaman 32-35.

5.

LAMPIRAN

5.1. Perhitungan

% Lapisan nata =

Kelompok E1

Hari ke-7

x 100%

%

Lapisan nata =

x 100% = 14,29 %

Hari ke-14

%

Lapisan nata =

x 100% = 14,29 %

Kelompok E2

Hari ke-7

%

Lapisan nata =

x 100% = 19,23 %

Hari ke-14

%

Lapisan nata =

x 100% = 15,38 %

Kelompok E3

Hari ke-7

%

Lapisan nata =

x 100% = 38,46%

Hari ke-14

%

Lapisan nata =

x 100% = 61,54 %

Kelompok E4

Hari ke-7

%

Lapisan nata =

x 100% = 13,33 %

Hari ke-14

%

Lapisan nata =

x 100% = 20 %

15

Kelompok E5

Hari ke-7

%

Lapisan nata =

x 100% = 12 %

Hari ke-14

%

Lapisan nata =

x 100% = 12%

5.2. Laporan Sementara

5.3. Jurnal