Anda di halaman 1dari 41

Bab VI

PEMURNIAN NIRA

Nira mentah hasil dari pemerahan di stasiun gilingan masih mengandung berbagai
macam senyawa organik dan senyawa anorganik berupa kotoran, koloid, dan unsur bukan
gula. Oleh karenanya sebelum nira mentah diproses menjadi gula, senyawa-senyawa
tersebut harus dihilangkan terlebih dahulu agar tidak mengganggu proses pembuatan gula,
proses ini disebut Pemurnian Nira
Tujuan dari proses pemurnian nira adalah menghilangkan koloid, kotoran dan
unsur bukan gula sebanyak-banyaknya dan menekan kerusakan sukrosa sekecil-kecilnya
dalam waktu yang relatif pendek dan menjaga agar tidak memberikan efek samping berupa
terdestruksinya monosacarida yang dapat menimbulkan warna gelap pada nira.
Beberapa komponen yang terlarut dalam nira merupakan senyawa yang bersifat
asam sehingga dapat menurunkan pH dan menimbulkan suasana asam pada nira,
sedangkan sukrosa sendiri sensitif terhadap suasana asam.Maka untuk menghindari inversi
sukrosa yang disebabkan oleh suasana asam tersebut ditambahkanlah bahan yang bersifat
basa agar pH nira menjadi netral. Dalam hal ini digunakanlah susu kapur sebagai bahan
yang bersifat basa dan diharapkan mampu menetralkan pH nira mentah serta membantu
proses pengendapan unsur bukan gula. Nira yang sudah ditambahkan susu kapur akan
direaksikan dengan gas SO2 yang berfungsi untuk membentuk endapan Calsium Sulfit
(CaSO3).
Perlu diperhatikan bahwa dalam proses pemurnian yang terpenting adalah
menghindari terurainya Sukrosa dan Monosakarida pada nira yang disebabkan
olehpengaruh suhu, pH, dan waktu. Didalam mengendalikan proses, ketiga faktor tersebut
diharapkan tidak terjadi dalam keadaan ekstrim secara bersama-sama.

Di Pabrik Gula Tjoekir penghilangan kotoran dalam proses pemurnian dilakukan


dengan beberapa cara yaitu :
a. Cara Fisis
Yaitu sebuah proses pemurnian yang dilaksanakan dengan cara memisahkan
kotoran dan bukan gula yang tidak larut, berupa ampas halus, pasir, kerikil dengan
cara penyaringan dan pengendapan (sedimentasi).
b. Cara Chemis
Sebuah proses pemurnian yang ditujukan untukmenghilangkan kotoran yang
larut seperti garamgaram anorganik (K, Na, Ca) dan senyawa-senyawa asam. Untuk
menghilangkan kotoran ini digunakan bahan kimia yaitu kapur dalam bentuk susu
kapur dan gas SO2. Diharapkan penambahan bahan kimia ini dapat bereaksi dengan
komponen bukan gula membentuk endapan incompresible, sehingga mudah
dipisahkan dengan pengendapan dan penapisan (filtration).
c. Cara Fisis-Chemis
Proses penghilangan bukan gula yang melayang layang seperti koloid,
protein,lilin,dan

lain-lain

dengan

cara

mencari

titik

isoelektrisnya

(titik

netral)menggunakan kombinasi pengaturan suhu dan pH, sehingga zat bukan gula tadi
akanmenggumpal kemudian mudahdiendapkan.
Proses pemurnian dilakukan untuk memisahkan antara kotoran dan unsur bukan
gula dengan nira.Nira mentah akan mengalami proses pengaturan dan perubahan pH, suhu
dan waktu sehingga nantinya akan menghasilkan nira jernih dan kotoran berupa blotong.

Berikut bagan proses pemurnian nira di PG Tjoekir

Proses pemurnian nira di PG Tjoekir menggunakan proses Sulfitasi Netral. Nira


mentah yang dihasilkan oleh Stasiun Gilingan ditampung dalam bak dan dipompa ke timbangan
nira (timbangan boulogne), kemudian ditampung dalam peti nira tertimbang. Nira tersebut
selanjutnya dipompa ke Pemanas Pendahuluan I, didalam Pemanas Pendahuluan I nira
bersikulasi dan dipanaskan hingga suhu 70-80C. Pemanas Pendahuluan I bertujuan untuk
mematikan dan menghambat perkembangan bakteri, mikroba dan jasad renik, menggumpalkan
senyawa seperti putih telur dan koloid, serta mempercepat penyempurnaan reaksi.

Nira yang telah dipanaskan diPemanas Pendahuluan Ikemudian masuk kedalam


Defekator yang terdiri dari 3 tingkatan untuk ditambah susu kapur dengan kekentalan 6 Be,
setiap proses Defekasi memiliki fungsi yang berbeda-beda yaitu Defekasi I bertujuan untuk
menetralkan nira agar tidak terjadi inversi sukrosa, pH yang ditetapkan untukDefekasi I
adalah 6,8. Kemudian nira mengalami proses Defekasi II yang bertujuan untuk membentuk
inti endapan Ca3(PO4)2dengan sasaran pH 8,6-8,8. Selanjutnya nira mengalamiDefekasi III
yang bertujuan memberikan susu kapur berlebih dengan pH akhir menjadi 8,6- 8,8., berikut
persamaan reaksi Defekasi :
3 Ca(OH)2+ 2 H3PO4

Ca3(PO4)2

+ 6 H2O

Dari defekator III (tempat reaksi defekasi III), nira masuk pada peti sulfitasi untuk
direaksikan dengan gas SO2 hingga pH menjadi 7- 7,2, proses ini disebut Sulfitasi, yang
bertujuan

untukmenetralkan

kelebihan

susu

kapur,menyelubungi

endapan

Ca3(PO4)2denganmembentuk endapan Calsium SulfitCaSO3 sehingga endapannya bersifat


incompresible.
Berikut reaksi yang terjadi pada proses Sulfitasi :
SO2+ H2O

H2SO3

CaOH2 + H2SO3

CaSO3+ 2 H2O

Ca3(PO4)2 + H2SO3

3 Ca(SO3)2+ H2O

Nira mentah tersulfitir kemudian dipompa ke Pemanas Pendahuluan II untuk


dipanaskan dan bersirkulasi hingga suhu 80-90OC, Pemanas Pendahuluan IIbertujuan
untuk menyempurnakan dan mempercepat reaksi Sulfitasi Netral, menurunkan kelarutan
endapan Calsium Sulfit, dan menurunkan viscositas nira, serta menggumpalkan Nitrogen
yang ada pada nira.
Selanjutnya nira masuk ke Flash Tank yang berfungsi untuk mengeluarkan gasgas (udara) yang ada dalam nira supaya tidak menghambat proses pengendapan, saat nira
berada di Flash Tank dilakukan penambahan floculant untuk direaksikan dengan koloidkoloid yang melayang-layang agar terbentuk endapan (flok-flok) yang lebih besar dan

solid.Flash Tank juga berfungsi mengubah tipe aliran nira dari aliran turbulen menjadi
aliran laminer untuk memudahkan proses pengendapan.
Setelah melalui Flash Tank nira masuk ke peti pengendap Single Tray Clarifier
(SRT).Didalam Single Tray Clarifier (SRT) nira masuk secara tangensial dengan putaran 4
rotasi/jam,dengan suhu 100c kotoran yang ada pada nira diendapkan dan turun ke dasar
peti pengendap sehingga terpisah dari nira jernihnya.Nira jernih selanjutnya disaring
melewati DSM Screen dan ditampung dalam peti nira encer.Sedangkan nira kotor yang
mengandung endapan flok-flok kotoran dialirkan ke Mud Mixer untuk ditambah dengan
fine

baggaseyang

berfungsi

sebagai

bahan

pembantu

penapisan

nira

kotordi

RVF.Kemudian nira kotor yang sudah dicampur dengan fine bagasse ditapis dengan
menggunakan Rotary Vaccum Filter (RVF). Nira tapis yang diperoleh dari RVF dialirkan
kembali kedalam bak nira mentah tertimbang sedangkan limbahnya berupa blotong sebagai
hasil samping.
Nira encer selanjutnya dipanaskan pada Pemanas Pendahuluan IIIdengan suhu
110C yangbertujuan untuk mempersiapkan dan meringankan proses penguapan yang akan
dilakukan oleh Evaporator di Stasiun Penguapan.
A. Timbangan / Volume Nira(flowmeter)

Untuk mengetahui volume nira di PG Tjoekir menggunakan Mass Flowmeter yang di


pasang di pipa menuju VLJH (pemanas pertama). Dengan kapasitas 0 300 m3/jam. Hal ini
bertujuan untuk mengetahui nira yang akan diolah menjadi gula dan sebagai data
pengawasan pengolahan.

Keterangan gambar :
1. Pipa nira mentah
2. Tangki nira mentah
3. Valve nira mentah
4. Sensor (flow meter)
5. Pompa motor
6. Dudukan pompa motor
7. Monitor

Bagian-bagian alat dan fungsinya :


1. Pipa nira mentah
Berfungsi mengalirkan nira mentah dari stasiun gilingan menuju tangki nira
mentah
2. Tangki nira mentah
Berfungsi menampung nira mentah dari stasiun gilingan
3. Valve nira mentah
Berfungsi untuk mengatur nira yang masuk
4. Sensor (flow meter)
Berfungsi untuk mendeteksi volume aliran nira mentah
5. Pompa motor
Berfungsi untuk memompa nira mentah menuju pemanas
6. Dudukan pompa motor
Berfungsi untuk pijakan pompa motor
7. Monitor
Berfungsi untuk mengetahui volume nira mentah di flow meter
Cara kerja alat :
Nira mentah dari stasiun gilingan masuk kedalam tangki nira mentah. Pada layar monitor
diatur nira mentah keluar dari tangki dan mengatur motor agar mengeluarkan nira sesuai
yang sudah diatur. Nira mentah keluar dari tangki nira mentah melalui valve dan
menggunakan pompa centrifugal. Nira naik menuju pipa yang ada sensor, dari situ
terdeteksi berapa debit air nira yang menuju pemanas pendahuluan.

Cara menghitung berat nira tiap 8 jam atau 24 jam :

Pada layar monitor ada dua penunjukan display digital, yaitu :


1. Display Digital yang menunjukan berat nira mentah rata-rata tiap jam mulai awal
giling sampai dengan saat ini
2. Display Digital yang menunjukan jumlah nira mentah mualai awal giling sampai
dengan saat ini.

Contoh:
Untuk mengetahui berat nira mentah yang dibaca adalah display digital yang kedua.
Kapasitas Giling
: 2540 Kui / jam
Aliran nira Flow Meter menunjuk: 263,7 m3 / jam
Maka dalam 8 jam diperoleh
: 263,7 x 8 = 2109,6 m3/ jam
Dalam 24 jam diperoleh
:2109,6m3 x 3 = 6328,8 m3 / 24jam

B. Alat Pemanas Nira

Alat pemanas nira adalah suatu alat pemanas yang berfungsi mentransfer panas(kalor) dari
bahan pemanas melalui bidang pemanas ke bahan yang dipanaskan.Alat pemanas ini berfungsi
untuk memanaskan nira mentah hingga suhu tertentu.
Alat pemanas nira berbentuk silinder dimana didalamnya terdapat sekat atau tube
plat yang berbentuk tonjolan tonjolan yang membagi ruang pemanas menjadi beberapa
kompartement.

Dengan

adanya

sekat

pembagi(kompartement),

nira

dipaksa

mengalir(bersirkulasi) beberapa kali dengan arah vertikal melalui badan pemanas.Transfer


panas pada juice heater dipengaruhi beberapa faktor, yaitu :
1) Koefisien perpindahan panas, terdiri dari :
a. Pemanas, meliputi
b. Logam pipa

Setum, permukaan pipa, adanya air

embun, gas tidak terembunkan, dan kerak


Bahan logam yang dipakai dan koefisien
konduktivitasnya

c. Nira, meliputi

Kecepatan

aliran

nira,

pengaturan

tekanan, sifat nira (panas jenis) dan


adanya kerak

2) Luas bidang pemanas.


Luas bidang pemanas adalah luas suatu bidang penghantarkan panas terhadap
suatu cairan yang bersentuhan langsung dengan bidang tersebut.
3) Selisih suhu antara pemanas dengan bahan yang dipanaskan.
Yaitu selisih suhu (T)antara bahan pemanas(uap) yang digunakan dengan bahan
yang akan dipanaskan.
Di PG Tjoekir, proses pemanasan menggunakan Uap nira atau uap bekas sebagai
bahan pemanas yang berada di bagian Shell Juice Heater, sementara nira sebagai bahan
yang dipanaskan berada pada bagian Tube Juice Heater.Uap nira atau uap bekas dipilih
karena memiliki tekanan dan suhu operasi yang mudah dikendalikan.
4) Data Alat Pemanas (juice heater)
Just heater I
Just heater II
Just heater III
Just heater IV
Just heater V

HSA
300 m3
300 m3
120 m3
120 m3
150 m3

NO.OF tube
702 pcs
666 pcs
348 pcs
348 pcs
480 pcs

Length (mm)
4410
4415
3355
3355
3070

ID/OD
33/36 mm
33/36 mm
33/36 mm
33/36 mm
33/36 mm

Just heater VII


Just heater VIII

200 m3
200 m3

672 pcs
672 pcs

2985
2965

33/36 mm
33/36

Jml LP operasi

: 1020 m2.

Kebutuhan LP

: 4 m2/TCH,(Hugot 86, 462).

Kapasitas giling

= 24x(1020/4) = 6.120 TCD. (Cukup)

Keterangan gambar :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Pipa masuk nira


Pipa keluar nira
Pipa pemasukan uap
Pipa kondensat
Pipa amoniak
Pipa pengeluaran udara
(Kran Cish)
7.
Tap-tapan

Bagian dan Fungsi Juice Heater :

8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.

Pipa pemanas
Ruang pemanas ( uap )
Beban penyeimbang
Sekat sirkulasi
Tutup ( deksel )
Sekat nira bagian atas
Sekat nira bagian bawah
Pipa Amoniak

a) Pipa masuk nira


b) Pipa keluar nira
c) Pipa pemasukan

: Untuk pemasukan nira ke badan pemanas.


: Untuk pengeluaran nira dari badan pemanas
: Tempat masuk uap ke badan pemanas

uap
d) Pipa kondensat
e) Pipa gas ammonia

: Tempat pengeluaran air embun/kondensat


: Untuk mengeluarkan gas -gas yang tidak

f) Kran Cish

terembunkan pada ruang uap


: Mengeluarkan udara yang terjebak dalam
sekat badan pemanas (mengganggu proses

g) Afsluiter Tap-tapan

transfer panas)
: Untuk mengeluarkan sisa nira/air di dalam

h) Ruang Nira
i) Ruang Uap
j) Beban penyeimbang

badan pemanas
: Tempat nira dipanaskan (nira dalam pipa)
: Tempat uap pemanas nira (Uap bekas)
: Memudahkan pada waktu membuka dan

k) Sekat-sekat sirkulasi

menutup deksel (tutup)


: Untuk mengatur sekaligus batas sirkulasi

l)
m)
n)
o)

Tutup (Deksel)
Sekat bagian atas
Sekat bagian bawah
Pipa Amoniak

:
:
:
:

nira dalam badan pemanas


Penutup pemanas nira
Sekat nira bagian atas
Sekat nira bagian bawah
Tempat pengeluaran gas-gas yang tak
terembunkan dalam ruang pemanas

5) Luas Pemanas dan Sirkulasi Nira

Luas bidang pemanas adalah luas suatu bidang penghantarkan panas terhadap
suatu cairan yang bersentuhan langsung dengan bidang tersebut.Pada alat pemanas nira
(Juice Heater), luas bidang pemanas terdapat pada bidang dalam dari pipa-pipa yang
dilalui oleh nira (tube), sehingga yang dimaksud dengan Luas Bidang Pemanas pada
juice heater adalah Luas bidang dalam pipa (tube) dikalikan jumlah pipa dalam satu badan.
Diatas pipa-pipa pemanas (bagian atas badan pemanas) terdapat ruang sekat-sekat
yang membagi dalam 7 ruang. Ruang 1 dan 7 terdiri 1 pass (1 jalur arah aliran nira),
sedangkan ruang yang lainnya terdiri 2 pass. Dibawah pipa-pipa pemanas juga terdapat
ruang sekat-sekat yang membagi dalam 6 ruang, tiap ruangnya terdiri dari 2 pass. Sekat-

sekat pada ruang atas dan bawah letaknya diatur tidak pada posisi yang sama sehingga
memungkinkan nira mengalir kebawah dan mengalir keatas kembali. Pada waktu nira
mengalir kebawah disebut perjalanan nira 1 Pass dan pada waktu nira mengalir keatas
disebut perjalanan nira 1 Pass juga. Pada waktu nira mengalir kebawah lalu ke atas disebut
perjalanan nira dalam 1 Sirkulasi.
(1 sirkulasi = 2 Pass).
6) Bahan Pemanas dan Suhu Pemanasan Nira
PG Tjoekir memiliki delapan buah pemanas nira (Juice Heater) yang terdiri dari 4 buah
PP I, 3 buah PP II dan 1 buah dibersihkan. Alat pemanas ini menggunakan uap nira atau
uap bekas sebagai bahan pemanas.
a. Pemanas Pendahuluan I
Pemanas Pendahuluan I merupakan pemanasan nira yang dilakukan sebelum nira
mengalami proses Defekasi dan Sulfitasi dengan suhu pemanasan 75-80C yang bertujuan
diantaranya :
1)
2)
3)
4)

Mematikan dan menghambat perkembangan mikroba dan jasad renik.


Menggumpalkan senyawa seperti putih telur, protein, dan koloid.
Mempercepat reaksi defekasi dan sulfitasi.
Menurunkan viskositas nira.

b. Pemanas Pendahuluan II
Pemanas Pendahuluan II merupakan pemanasan nira yang dilakukan setelah nira
mengalami proses Defekasi dan Sulfitasi. Dan sebelum nira masuk ke bejana
pengembangan (flash tank) nira dipanaskan dengan suhu pemanasan 100-102C yang
bertujuan diantaranya :
1) Memperbaiki reaksi penggaraman terutama penggaraman phosphate.
H3PO4 + Ca2+
Ca3(PO4)2
2) Menurunkan kelarutan endapan Calsium SulfitCa(SO3)2.
3) Menyempurnakan dan mempercepat reaksi antara ion calsium dan ion sulfit pada
proses defekasi serta sulfitasi.

4) Menggumpalkan Nitrogen yang ada pada nira, dimana nitrogenakan menggumpal pada
temperature tinggi sehingga dapat dengan mudah diendapkan.
5) Mengekspansikan gas-gas (udara) yang terlarut dalam nira.
6) Menurunkan viscositas nira.
7) Cara Menghilangkan Gas Tak Terembunkan

Gas-gas yang tidak terembunkan dikeluarkan melalui pipa amonia dengan cara
membuka afsluiter secukupnya secara terus menerus, gas-gas yang tidak terembunkan akan
keluar bersama uap pemanas ditandai dengan adanya sedikit uap yang keluar. Dengan
keluarnya gas-gas tak terembunkan melalui pipa amoniatersebut diharapkan transfer panas
dari uap pemanas ke nira akanberlangsung dengan maksimal.
C. Alat Pengeluaran Air Embun
Uap jenuh bila bersinggungan dengan bahan yang suhunya lebih rendah, maka
akan mengembun di ruang pemanas. Hal ini terjadi karena adanya selisih suhu sehingga
setelah panas dari uap ditransfer maka uap akan berubah fase dari gas menjadi zat cair (air
embun). Bila air embun ini tidak segera dikeluarkan dari ruang pemanas dapat
menghambat transfer panas dari uap ke nira, Agar proses transfer panas dapat berlangsung
dengan maksimal, maka air embun harus dikeluarkan dari ruang pemanas dengan lancar
dan continue. Di PG Tjoekir air embun yang terdapat pada badan pemanas (Juice Heater),
badan penguapan (Evaporator) serta pan masak (Kristalisasi) dikeluarkan dengan
menggunakan Condenspot untuk selanjutnya ditampung untuk imbibisi atau pengisi ketel.

Keterangan gambar dan fungsinya


1. Pipa air embun
Untuk saluran air embun dari badan pemanas ke receiver
2. Receiver tank
Menampung air embun dari badan pemanas
3. Pipa pengimbang
Untuk menyeimbangkan tekanan dalam badan pemanas dengan receiver tank
4. Pipa pengeluaran air embun
Saluran pengeluaran air embun
5. Pompa
Untuk mengeluarkan air embun dari receiver
6. Pipa pengembalian contoh
Saluran untuk pengembalian contoh air embun
7. Pipa kondens ke ketel
Saluran untuk pengisian ketel
8. Pipa kondens ke proses

Saluran air kondens ke proses selanjutnya


9. Gelas penduga
Untuk mengetahui isi tanki receiver
10. Pipa pengimbang
Untuk menyeimbangkan tekanan dalam receiver ke pompa

Cara kerja alat pengeluaran air embun


Air embu jatuh dengan sendirinya dari pemanas karena gaya grafitasi. Air embun
dari receiver ditarik pompa dan dialirkan ke penampungan. Kelancaran air embun
dapat dilihat dari gelas penduga. Tujuan mengeluarkan air embun untuk memperluas
bidang pemanas sehingga transfer panas yang diberikan sempurna. Dan untuk
mengeluarkan air embun tekanan antara pemanas dengan receiver harus sama yang
dihubungkan dengan pipa pengimbang.

D. Pompa

Pompa merupakan alat untuk mentransportasikan suatu cairan dari satu tempat ke
tempat yang lain. Pompa sangat berperan penting dalam membantu continuitas proses
pabrikasi di pabrik gula. Jenis jenis pompa yang digunakan di PG Tjoekir antara lain :
pompa centrifugal, pompa plunyer, pompa vacum dan pompa rota.

1. Pompa Centrifugal
Pompa centrifugal adalah pompa yang digunakan untuk memindahkan dan
mentransportasikan cairan fluida yang memiliki viskositas rendah.

1.Pompa Nira mentah tertimbang.


Type
: Centrifugal
Jumlah

: 2 buah.

Operasi

: 1 buah.

Kapasitas

: 175 m3/jam.

Head

: 50 mka.

Eff pompa

: 80 %.

Nira mentah % tebu

: 100 %.

Bj nira mentah

: 1,06

Kapasitas giling

= (24x175x80x100x1,06)/(100x100)
= 3.562 TCD.

Tidak Cukup, apabila kurang jalan 2 buah

2. Pompa Nira mentah tersulfitir I.(Barat)


Type
: Centrifugal
Kapasitas

: 175 m3/jam.

Head

: 50

mka.

Eff pompa

: 80

%.

Nira mentah % tebu

: 103 %.

Bj nira mentah

: 1,06 ton/m3

Kapasitas giling

= (24x175x80x100x1,06)/(100x103)
= 3.458 TCD.

(Tidak Cukup,apabila kurang pompa cadangan juga jalan)

3. Pompa Nira mentah tersulfitir II.( Timur)


Pemasangan
: 2011
Type

: Centrifugal.

Kapasitas

: 175 m3/jam.

Head

: 50

mka.

Eff pompa

: 80

%.

Nira mentah % tebu

: 103 %.

Bj nira mentah

: 1,06 ton/m3.

Kapasitas giling

=(24x175x80x100x1,06)/(100x103)
= 3.458 TCD.

(Tidak Cukup,apabila kurang pompa cadangan juga jalan)

Keterangan gambar :
1.

Pipa Isap / Input

5.

Impeller

2.

As Pompa

6.

Motorlistrik/kip

3.

Pipa air/ Krengsengan

4.

Rumah Siput / pompa

as
7.

Pipa output

a. Bagianbagian dan Fungsinya

1) Pipa pemasukan/ Input


2) Poros / As Pompa

: Saluran pemasukan cairan ke pompa


: Poros pemutar impeller, bearing dan

3) Pipa air / krengsengan


4) Rumah pompa
5) Impeller/ kipas

penghubung dengan motor listrik


: Saluran masuknya air ke pompa
: Tempat berputarnya kipas
: Sebagai pelempar/pengangkut cairan

6) Elektromotor

dengan gaya centrifugal


: Sebagai sumber penggerak pompa

7) Pipa out put

: Saluran keluar cairan dari pompa

b. Cara Kerja Pompa Centrifugal


Pompa centrifugal bekerja dengan prinsip adanya perbedaan tekanan, sehingga
kolom zat cair dalam pipa isap bergerak masuk ke dalam kipas dengan tekanan dan
kecepatan tertentu maka cairan terlempar dari impeller pompa dan keluar melalui pipa
tekan / pipa pengeluaran.
c. Kegunaan
Di PG Tjoekir pompa centrifugal ini digunakan untuk memindahkan cairan
diantaranya :
1.
2.
3.
4.

Air imbibisi
Air embun
Air injeksi
Nira mentah

5.
6.
7.
8.

Nira encer
Nira tapis
Nira kental
Susu kapur

2. Pompa Plugner
Pompa plugner adalah pompa yang digunakan untuk memindahkan dan
mentransportasikan cairan fluida yang memiliki viskositas tinggi.

Keterangan gambar dan funsinya


1. Roda penggerak
Untuk menggerakan torak maju mundur
2. Torak
Sebagai penguhubung roda penggerak dengan plunger
3. Plunger
Sebagai pengisap dan penekan cairan yang akan mengalir ke bak penampungan
4. Klep hisap

Untuk menghisap cairan dan diatur untuk tidak kembali lagi karena gerakan

plunger
5. Klep penekan
Untuk mengatur cairan yang setelah ditekan tidak kembali lagi
6. Pipa pemasukan
Untuk saluran pemasukan cairan
7. Pipa pengeluaran
Untuk saluran pengeluaran cairan
8. Ketel angin
Untuk mengatur tekanan cairan tetap konstan
9. Motor listrik
Sebagai penggerak
Cara Kerja Pompa Plugner
Saat roda penggerak berputar, maka plunyer eksentrik yang dihubungkan dengan
plugner/piston juga akan bergerak secara horizontal ke muka dan ke belakang, pada saat
plunyer menghisap maka klep pemasukan terbuka dan cairan akan masuk, begitu plunyer
menekan, klep isap akan menutup dan klep tekan akan terbuka sehingga cairan mengalir
keluar.
3. Pompa Vaccum
Pompa vacuum digunakan untuk mengeluarkan gasgas tak terembunkan dalam
nira yang terbawa bersama uap.

Keterangan gambar :

1.
2.
3.
4.

As kruk
Batang eksentrik
Batang piston
Piston

5.
6.
7.
8.

Pipa uap baru


Pipa uap bekas
Pipa input udara
Pipa output udara

a. Bagian dan fungsi pompa vaccum

1) As Kruk
2) Batang Eksentrik

: Penerus dari gerakan eksentrik


: Penerus dari tekanan uap yang masuk

3) Pipa Uap Bekas

sebagai penggerak
: Saluran keluar uap bekas untuk dipakai

4) Pipa Uap Baru

sebagai pemanas
: Tempat masuknya uap baru sebagai tenaga

5) Piston
6) Pipa Input Udara
7) Pipa Output

gerak pompa
: Untuk memompa udara
: Saluran masuk udara
: Saluran keluar udara

Udara

b. Cara kerja pompa vaccum


Uap baru masuk dan menggerakkan batang eksentrik mesin uap kemudian
gerakan ini diteruskan ke as kruk dan batang piston.Dengan gerakan piston tersebut, maka
gas-gas atau udara yang tidak terembunkan pada kondensor dipompa keluar sehingga
terjadi hampa pada kondensor. Sedangkan uap baru yang telah menggerakkan batang
eksentrik akan berubah menjadi uap bekas dan digunakan sebagai pemanas nira.

c. Kegunaan
Pompa vacuum digunakan untuk mengeluarkan gas tidak terembunkan di
kondensor pada badan akhir penguapan (evaporator terakhir).

4. Pompa Rota
Digunakan untuk memompa bahan dengan viskositas tinggi dan banyak
digunakan pada stasiun masakan dan puteran.
E. Bejana pengembang (flash tank)
Spesifikasi alat
Diameter

: 1,50 m.

Tinggi

: 2,25 m.

Volume

: 3,97 m3.

Waktu tinggal

: 1,7

Nira mentah % tebu

: 115 %.

Bj nira mentah

: 1,06 ton/m3.

Kapasitas giling

= (24x60x100x3,97x1,06)/(115x1,7)
= 3.100 TCD.

menit.

5
2

Gambar 7.10 Flash Tank

Keterangan gambar :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Pipa pengeluaran gas


Kisi kisi
Pipa pemasukan nira
Penampung nira
Pipa pengeluaran nira
Pipa tap nira

Bagian-bagian alat dan fungsinya :


1. Pipa pengeluaran gas

Sebagai saluran pengeluaran udara dan gas gas tidak berguna dalam nira.
2. Kisi kisi
Untuk memecah aliran nira yang dibutuhkan ke plat sehingga memudahkan
pelepasan udara dan gas yang terperangkap nira.
3. Pipa pemasukan nira
Sebagai saluran masuknya nira ke dalam flash tank.
4. Penampung nira
Sebagai tempat penampungan nira yang keluar dari kisi kisi.
5. Pipa pengeluaran nira
Sebagai saluran pengeluaran nira dari flash tank.
6. Pipa tap nira
Sebagai saluran pengeluaran nira pada saat akan dibersihkan.

Cara kerja

F. Peti reaksi
Peti reaksi digunakan untuk melakukan proses pemurnian, komponen nira akan direaksikan
dengan susu kapur dan gas SO2. Peti reaksi di PG Tjoekir terdiri dari defekator I, II, III dan peti
sulfitasi nira mentah tipe Thompson.

1. Peti Defekasi / Defekator


Peti Defekasi atau defecator merupakan alat yang berfungsi untuk mereaksikan nira
mentah dengan susu kapur 6Be. Tujuan pemberian susu kapur ini tidak lain adalah untuk
menetralkan pH nira mentah, membentuk endapan Calsium phosphate dan memberikan susu
kapur berlebih yang nantinya akan direaksikan dengan gas SO2 pada proses sulfitasi. Proses
defekasi di PG Tjoekir terdiri dari 3 tingkat yaitu
1) Defekasi I
Defekasi ini terjadi sesaat setelah nira keluar dari PP 1 dengan pH 6,8 yang
bertujuan menetralkan suasana asam pada nira untuk menghindari terjadinya inversi
sukrosa
2) Defekasi II
Defekasi ini terjadi setelah nira mengalami proses defekasi I, pH defekasi II
mencapai 8,6-8,8 tujuan dari defekasi ini yaitu untuk membentuk endapan Ca 3(PO4)2,
berikut persamaan reaksinya :
3 Ca(OH)2 + 2 H3PO4

Ca3(PO4)2

+ 6 H2O

3) Defekasi III
Defekasi ini merupakan defekasi yang terakhir dengan pH mencapai 8,5-9,0.
Tujuan dari defekasi ini adalah memberikan susu kapur berlebih yang nantinya akan
dinetralkan dengan pemberian gas SO2 pada proses sulfitasi.

Data teknis

Diameter
Tinggi
Volume

Defekator I
1,6 m
3,4 m
6,8 m3

Defecator II
1,6 m
2,0 m
4,0 m3

Defecator III
0,9 m
1,6 m
1,0 m3

Gambar defekator
Keterangan gambar defekator beserta fungsinya
Defecator I
Sebagai tempat reaksi antara nira dengan susu kapur sampai PH 6,8
Defecator II
Sebagai tempat reaksi lanjutkan antara nira dari defecator I dengan susu kapur sampai 8,6-8,8

Defekator II
Sebagai tempat penyempurna reaksi
Pipa pemasukan nira
Sebagai saluran pemasukan nira ke peti defecator
pipa pemasukan susu kapur
sebagai saluran untuk memasukan susu kapur ke defecator
penampung
sebagai pengatur luapan keluar menuju bejana sulfitasi
Elektro Motor
Sebagai penggerak pengaduk
Pengaduk
Sebagai pengaduk agar nira dan susu kapur tercampur
Pipa sirkulasi
Tempat bercampurnya nira dan susu kapur
Pipa kurasan
Untuk membuang tap-tapan susu kapur
pipa penghubung
Sebagai saluran pengeluaran nira dari defekator I ke defekator II
pipa pengeluaran
sebagai saluran pengeluaran nira ke bejana sulfitasi

cara kerja
nira mentah dari PP I dialirkan ke peti defekasi bersamaan dengan susu kapur.
Pencampuran dibantu dengan pengaduk. Setelah homogen dan PH mencapai 8,6-8,8
nira terkapur dialirkan ke peti sulfitasi.
Petunjuk teknis pengoperasian defecator
i. Pemberian susu kapur disesuaikan dengan kondisi nira agar tecapai PH sasaran
(indicator yang digunakan PP, BTB, PAN )
ii. Checking PH harus rutin (continue)
iii. Pengaduk harus jalan dengan arah yang benar

2. Peti Sulfitasi Nira Mentah

Peti sulfitasi nira mentah digunakan sebagai tempat untuk mereaksikan nira terkapur dari
defekator III dengan pH 8,6 - 8,8 dengan gas SO 2 hingga pH mencapai 7- 7,2. Tujuan dari
pemberian gas SO2 ini untuk menetralkan kelebihan susu kapur, mereduksi warna nira sehingga
intensitas warna nira rendah, menurunkan viscositas nira dan menyelubungi endapan Ca 3(PO4)2
dengan membentuk endapan Calsium Sulfit CaSO3 sehingga endapannya bersifat incompresible.
Berikut reaksinya :
Ca(OH)2

+ H2SO3

CaSO3 + 2 H2O

Data teknis
Peti tunggu susu kapur.
Jumlah

: 4 buah.

Diameter

: 1,9 ; 2,4 ; 2,1 ; 1,1 m.

Tinggi

: 1,5 ; 1,1 ; 1,4 ; 1,1 m.

Volume

: 15,0 m3.

Waktu tinggal

: 4

Nira mentah % tebu

: 103 %.

Kebutuhan susu kapur

: 20

Kapasitas giling

jam.

ltr/ ton tebu.

= (24x15x1000x100x1,06)/(20x4x103)
TCD. (Cukup)

Gambar peti sulfitasi


Keterangan gambar dan fungsinya
1.
Pipa pemasukan nira
Sebagai pemasukan nira terkapur
2.
Manhole
Untuk lubang masuk orang saat pembersihan atau perbaikan
3.
Payungan
Sebagai penyebar dan perata gas SO2 pada nira
4.
Bejana sulfitasi nira mentah
Tempat berlangsungnya proses sulfitasi
5.
Pipa gas SO2
Saluran pemasukan gas SO2 ke peti sulfitasi
6.
Sekat
Untuk membantu proses sirkulasi nira pada bejana sulfitasi
7.
Cerobong
Untuk mengeluarkan gas yang tidak bereaksi dengan nira

= 4.631

8.

Peti luapan
Untuk menampung luapan nira tersulfitir
9.
Pipa pengeluaran nira
Sebagai saluran pengeluaran nira tersulfitir
Cara kerja
Nira mentah terkapur dari defekator III masuk ke dalam peti sulfitasi.Dengan adanya sekat
parabolis dan peti sulfitasi, diharapkan pencampuran nira dan gas SO2 lebih sempurna.
Selanjutnya nira tersulfitir keluar secara overflow yang kemudian dipompa ke juice heater II.

G. Peti pengendap ( single tray clarifier)

Keterangan gambar :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Motor lisrik
Pipa input nira
Pipa output nira
Talang luapan nira
Defraktor
As pengaduk
Saput

8.
Nira jernih
9.
Pipa nira level I IV
10. Saput bawah
11. Badan bagian bawah
12. Pipa nira kotor
13. Tap tapan

1. Bagian bagian dan Fungsinya


1. Motor Listrik :

Menggerakkan penggaruk nira kotor

2. Pipa Input Nira

Saluran

:
:

nira

ke

peti

Saluran

pengeluaran

nira

Saluran

yang

pengendapan
3. Pipa output nira
jernih
4. Talang luapan nira

menerima

luapan nira jernih secara merata


5. Defraktor

Untuk

menahan

laju

nira

dan

penyekat nira jernih dengan nira yang masuk


6. As Pengaduk :
7. Saput :

Poros dari pengaduk

Stang pengaduk untuk menyapu endapan

agar masuk ke ruang bawah


8. Nira jernih

Nira

yang

sudah

diendapkan

kotorannya
9. Nira level I IV

Saluaran pengontrol proses

pengendapan yang terjadi pada posisi empat tingkat nira ter


proses
10. Saput Bawah :

Untuk menyapu dan mengaduk agar

kondisi nira kotor tetap homogen, sehingga nira kotor dapat


keluar dengan lancar
11. Badan Bawah :

Tempat terkumpulnya nira kotor

12. Pipa Nira Kotor

Saluran nira kotor menuju ke

Saluran untuk mengeluarkan

peti nira kotor


13. Pipa Pengetapan

air bilasan pada waktu peti pengendapan dicuci


2. Cara Kerja Alat
Nira mentah yang telah melalui Expandeur untuk dikeluaran gas-gas dan telah
ditambahkan floculant akan masuk ke peti pengendap melalui pipa pemasukan dan melewati
kompartemen, selanjutnya kotoran akan mengendap kebawah sehingga dibagian atas tinggal
nira jernih dan dikeluarkan menuju ke bak luapan, dari bak luapan nira jernih disaring
menggunakan saringan tipe DSM Screen, Sementara itu skraper dalam single tray secara
kontinyu berputar untuk menyapu endapan agar mengumpul di bawah, kemudian dikeluarkan ke
peti nira kotor untuk ditapis pada RVF (Rotary Vacuum Filter).

H. Alat Penapisan (Rotary Vacuum Filter)


Rotary Vacuum Filter merupakan suatu alat untuk menapis nira kotor yang berasal dari
peti pengendapan dengan cara menggunakan penapisan vacuum yang nantinya akan
menghasilkan nira tapis dan blotong, Nira tapis akan dikembalikan ke bak nira mentah
tertimbang sedangkan blotong merupakan hasil samping. Dalam proses penapisan nira kotor
dicampur dengan ampas halus (bagacillo) yang ditambahkan sebanyak mill tebu,
a.

Data Rotary Vacuum Filter


Jumlah: 2 buah, operasi 2 buah.
Diameter

I / II

: 8 / 8

Panjang

I / II

: 14/12

Luas tapis

: 32,7 m2 dan 28,1 m2.

Kebutuhan LT

: 2 m2/100 ton.

Kapasitas giling

: (32,7+28,1 m2)/2 x 100 = 3.040 TCD.


(Tidak Cukup)

Alat penapisan yang digunakan di PG Tjoekir adalah Rotary Vacuum Filter. Alat ini
terdiri dari saringan berbentuk silinder yang terbagi atas ruang vacuum rendah, vacuum
tinggi, dan ruang bebas vacuum. Sedangkan alat pembuat vacuum berupa kondensor.

Keterangan gambar :
1. Drum saringan pompa
2. Screper
2. Pipa luapan
3. Agitator
4. Bak nira kotor
5. Tangki pemasukan nira kotor
6. Pipa air siraman
7. Pipa nira kotor
8. Poros penggerak
9. Saringan
10. Pipa vaccum tinggi
11. Pipa vaccum rendah
Bagian bagian alat dan fungsinya :
1. drum saringan pompa
berfungsi untuk menyaring sisa kandungan gula yang masih terdapat pada blotong
2. screper
untuk menyekrap blotong.
3. Pipa luapan
Untuk aliran luapan nira kotor dari bak dibawah drum vaccum filter ke tangki nira
kotor.
4. Agitator
Pengaduk nira kotor agar tidak terjadi endapan.
5. Bak nira kotor
Berfungsi untuk menampung nira kotor yang akan ditapis.
6. Tangki pemasukan nira kotar
Untuk memasukan nira kotor kedalam RVF
7. Pipa air siraman
Untuk menyiram blotng bertujuan menekan kehilangan gula.
8. Pipa nira kotor
Berfungsi untuk penyaluran nira kotor
9. Poros penggerak
Berfungsi untuk menggerak kan RVF.
10. Saringan
Untuk menyaring nira kotor.
11. Pipa vaccum tinggi
Pipa tekanan hampa tinggi untuk menghisap nira kotor.
12. Pipa vaccum rendah
Pipa tekanan rendah untuk menghisap nira pada awal penempelan blotong.

Cara kerja alat :


Nira yang keluar dari single Clarifier ditampung dalam mixer bagasilo dengan
penambahan ampas halus sebagai media penapisan dan membentuk kerangka blotong diaduk
kemudian dialirkan ke rotary drum vacuum filter, ampas halus diberikan apabila nira kotor
terlalu encer. Pada penapisan disiram air dengan suhu 700 C agar gula dalam blotong larut.
Saringan yang digunakan dengan diameter lubang 0,5 mm yang berada dipermukaan
silinder yang berputar dan bagian bawah silinder akan tercelup nira kotor.
Pada saat itu terjadi pengisapan nira kotor dengan vacuum rendah 25-30 cmHg,
kemudian akan berputar terus masuk ke tekanan vacuum tinggi 45 cmHg dibagian atas diberi
siraman air pencuci dan akan masuk dalam poripori blotong. Karena tarikan vacuum nira
akan keluar dari blotong selanjutnya silinder akan masuk daerah bebas vacum dimana
blotong akan terlepas dengan bantuan scraper dan ditampung dalam bak blotong dan
diangkut keluar oleh truk. Sedangkan nira hasil tapisan dikembalikan bercampur dengan nira
mentah untuk diproses lagi, selanjutnya silinder akan berputar seperti semula dan berjalan
terus menerus hingga blotong yang dihasilkan tiap harinya mencapai 15 truk (setiap truk
memuat 4-5 ton blotong).

I. Pembuatan susu kapur


Alat ini berfungsi untuk membuat susu kapur dari kapur tohor yang dipadamkan
dengan air panas dan selanjutnya diencerkan dengan air dingin sampai dengan kepekatan
yang dikehendaki. Untuk saat ini kepekatan yang dibutuhkan adalah 6o Be. Alat ini terdiri
dari silo/bunker kapur tohor, tromol pemadam kapur, bak pengendap, dan tangki penampung
susu kapur.

Gambar alat pembuatan susu kapur

Keterangan gambar beserta fungsinya


1. Tromol pemadan kapur
Untuk mencampurkan dan mengaduk kapur dengan air hingga halus
2. Pipa air panas
Saluran air panas untuk memadamkan kapur
3. Motor penggerak I
Untuk menggerakan tromol pemadam kapur
4. Motor penggerak II
Sebagai penggerak saringan goyang
5. Saringan halus
Sebagai penyaring kapur yang tidak terpadamkan juga batu dan krikil
6. Saringan getar
Untuk menyaring susu kapur dari kerikil sehingga didapat susu kapur yang lebih

halus
7. Bak penampung susu kapur
Sebagai penampung susu kapur juga sebagai pengendap pasir
8. Bak tunggu berpengaduk
Sebagai penampung susu kapur juga sebagai pengendap pasir
9. Pipa air dingin
Saluran air dingin untuk mengencerkan susu kapur hingga densitasnya 6Be
10. Motor penggerak
Sebagai penggerak pengaduk pada bak tunggu
11. Pipa sirkulasi
Saluran pengembalian susu kapur dari peti penjatah susu kapur
12. Pompa
Pemompa susu kapur dari bak tunggu ke peti penjatah susu kapur
13.
Motor listrik IV
Sebagai penggerak pompa susu kapur
Cara kerja

J. Tobong belerang / sulfur burner

Tobong belerang merupakan sebuah alat yang befungsi untuk menghasilkan gas sulfit
(SO2) dari proses pembakaran belerang. Pembakaran dilakukan di dalam tobong dengan cara
pemberian udara kering yang dihembuskan ke dalam tobong .
Faktor yang berpengaruh agar pembakaran sempurna harus memenuhi kriteria :
1. Debit Udara masuk untuk pembakaran harus konstan.
2. Udara harus kering.
3. Bekerja dengan belerang cair.
4. Pendinginan dalam tobong belerang baik, sehingga suhu pembakaran dalam
tobong tidak terlalu tinggi (sekitar 360C)
5. Sublimator bekerja harus dengan baik
Adapun fungsi dari gas SO2adalah :
1.

2.

Menetralkan kelebihan susu kapur dan membentuk endapan calsium sulfit.


SO2 +H2O

H2SO3

Ca(OH)2 + H2SO3

CaSO3 + 2 H2O

Mereduksi zat zat warna yang ada dalam nira.


Fe3+

3.

Fe2+

Menurunkan viscositas.
S padat

S Cair

S cair + O2

SO2 + 2,217 kkal

Bila kalori yang terjadi dibiarkan berlebih, maka akan terjadi pembakaran S cair menjadi
S uap yang terlalu besar. Hal ini akan berakibat oksidasi berlangsung tidak sempurna, dimana
bila sublimator tidak bekerja dengan baik S uap yang tidak teroksidasi akan menyublim pada
pipa-pipa sehingga menyebabkab kebuntuan pipa. Disamping itu suhu pembakaran pada tobong
yang terlalu tinggi juga akan berakibat terbentuknya SO3 yang akan bereaksi dengan H2O
menjadi H2SO4 yang bersifat korosif.

1. Data Alat

Pembuat
Jumlah

URAIAN

TB Nira Mentah
PG. Tjoekir
2

Luas dapur pembakaran


Luas yang dibutuhkan

1,25 m2
0,04 m2/100 tcd

Kapasitas tobong belerang

TB Nira Kental
PG. Tjoekir
2

0,75 m2
0,025 m2/100 tcd

(1,25/0,04) x 100
= 3125 TCD

(0,75/0,025) x
100 = 3000
TCD

Keterangan gambar :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Kompresor
Ketel Udara
Monometer
Afsluiter Udara Kering
Kaca Pengontrol
Lubang Nyala Api
Tempat Pemasukan Belerang
Man Hole

9. Mantel Pendingin
10. Pipa Input Uap
11. Ruang Bakar
12. Afsluiter Belerang Cair
13. Pipa gas SO2
14. Sublimator
15. Pendingin sublimator
16. Pipa output SO2

ii. Bagian bagian dan Fungsinya


1. Kompresor :

Menghembuskan udara

2. Ketel Udara :

Berfungsi untuk mengatur tekanan

biar stabil
3. Manometer :

Untuk mengukur tekanan udara pada

ketel udara
4. Afsluiter Udara kering

Pengatur pemasukan

udara kering dalam tobong belerang


5. Kaca Penglihat

Untuk

mengontrol

besar

kecilnya pembakaran
6. Lubang Nyala Api :

Lubang

untuk

membakar

belerang pada awal pengoperasian


7. Afsluiter pemasukan

Untuk

memasukkan

belerang padat Belerang Padat


8. Man Hole

Untuk keluar masuk orang

9. Mantel Pendingin :

Untuk

mendinginkan,

sehingga suhu pembakaran 360C dan suhu gas SO2


keluar 70 C
10. Pipa pemasukan Uap

Uap

masuk

mencairkan belerang
11. Ruang pembakaran :

Tempat pembakaran belerang

12. Afsluiter belerang cair

Mengatur

belerang

cair ke ruang pembakaran


13. Pipa SO2

14. Sublimator :

Mengalirkan gas SO2 ke sublimator


Tempat untuk menyublimkan uap

belerang yang tidak teroksida


15. Pipa Pengeluaran gas SO2 :

Saluran

keluar

gas

SO2 ke Peti sulfitasi


iii. Cara Kerja Tobong Belerang
1. Belerang padat dimasukkan kedalam ruang pencairan.
2. Ambil belerang yang agak halus masukkan dalam ruang bakar melalui tempat nyala
api, kemudian di bakar.

3. Setelah terlihat belerang terbakar maka lubang penyalaan api ditutup kembali dan
afsluiter pemasukan udara kering dibuka sedikit demi sedikit dan air pendingin
dialirkan ke tobong, agar suhu pembakaran tidak boleh lebih dari 360C sehingga
tidak terbentuk SO3.
4. Afsluiter uap dibuka untuk mecairkan belerang padat pada ruang pencairan.
5. Setelah api terlihat menyala dengan baik kita lihat melalui kaca kontrol, afsluiter
belerang cair kita buka, maka belerang cair terbakar dan terbentuk gas SO2.
6. Gas SO2 yang terbentuk keluar melalui pipa menuju sublimator, disini uap belerang
yang belum teroksidasi akan menyublim dan yang keluar menjadi gas SO 2 yang
sempurna.
7. Gas SO2 dari sublimator tersebut keluar menuju ke peti sulfitasi.
K. Alat Pemadam Kapur
Alat ini dipergunakan untuk memadamkan kapur tohor (CaO) menjadi susu kapur dengan
dispersitas yang baik (90%). Dalam proses pemurnian nira, kapur diberikan dalam bentuk susu
kapur Ca(OH)2.
Reaksi pemadaman kapur tohor :
CaO + H2O

Ca(OH)2 + 15,9 kcal

Untuk PG. Tjoekir dengan densitas susu kapur 6Be

1.

Data Alat
a. Alat penghancur kapur (Tromol )
Diameter

910 mm

Panjang

3.000 mm

Volume

1,45 m3

b. Bak Penampung
Diameter

2.960 mm

Panjang

1.950 mm

Lebar

1.550 mm

2.

Tinggi

1.200 mm

Volume / Isi

3.627 ltr

Bentuk

Bulat

Cara kerja :
Kapur tohor (CaO) dimasukkan ke dalam tromol yang berputar dan ditambahkan air
panas suhu 70C agar diperoleh partikel-partikel yang kecil (dispersitas baik), Selanjutnya
disaring pada saringan getar untuk dipisahkan dengan kotoran kasar seperti pasir, kerikil, dan
batu kapur sehingga diperoleh kapur yang bebas dari kotoran, selanjutnya masuk ke peti
pengendap berpengaduk untuk mengendapkan CaO yang tidak bereaksi dan diencerkan dengan
air dingin hingga diperoleh susu kapur dengan densitas 6Be dan dimasukkan ke peti tarik susu
kapur berpengaduk untuk dipompa ke defekator. Penggunaan air dingin untuk pengenceran
bertujuan utnuk meeningkatkan kelarutan CaO sehingga diperoleh Ca2+ yang lebih banyak.

L. Saringan Nira Encer


Nira jernih yang keluar dari peti pengendapan masih mengandung kotoran halus, agar
kotoran tersebut tidak menyebabkan kerak di badan penguapan.Tersumbatnya pipa pipa
mengganggu kerja pompa dan terikut masuk kedalam gula produk, maka kotoran ini sangat perlu
disaring dengan menggunakan saringan DSM Screen.

1.Data Alat

Keterangan gambar :
1. Pipa Input Nira Encer
2. Over flow / Talang Luapan Nira Encer
3. Saringan slot 0,35 mm
4. Pipa Output Nira Encer

5. Tempat kotoran

1.

Bagian bagian dan fungsinya


1. Pipa Input Nira

Saluran masuk nira encer ke

saringan DSM Screen


2. Talang Luapan

Talang untuk penerus luapan

aliran nira encer


3. Saringan :

Untuk menyaring kotor halus yang

terikut nira
4. Pipa Output Nira :

Saluran keluar nira encer

yang bersih
5. Pipa Uap Krengsengan

Untuk membersihkan

saringan dari dalam

2.

Cara menghilangkan kotoran yang tertahan di saringan DSM Screen (Ducth


State Mines)
Untuk menghilangkan kotoran tersebut dilakukan secara manual oleh petugas
dengan cara di sekop dengan menggunakan sapu lidi secara periodik dan ditampung
dalam bak nira kotor, sedangkan di bagian dalam dengan membuka afsluiter steam
krengsengan.