Anda di halaman 1dari 5

ANALISIS RASIO KEUANGAN

OLEH :

1.

Luh Sukarini

(13810331190113)
2. Desak Gede Yudi Atika Sari
(13810331190111)
FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS MAHASARASWATI
DENPASAR T.A 2013

1. Pengertian Rasio Keuangan


Rasio merupakan alat ukur yang digunakan perusahaan untuk mengenalisis laporan
keuangan. Rasio menggambarkan suatu hubungan atau pertimbangan antara suatu
jumlah tertentu dengan jumlah yang lain. Dengan menggunkan alat analisa berupa rasio
keuangan dapat menjelaskan dan memberikan gambaran kepada penganalisa tentang
baik atau buruknya keadaan atau posisi keuangan suatu perusahaan dari suatu period eke
periode berikutnya.
Analisis rasio keuangan adalah analisis yang menghubungkan perkiraan neraca dan
laporan laba rugi terhadap satu dengan lainnya, yang memberikan gambaran tentang
sejarah perusahaan serta penilaian terhadap keadaan suatu perusahaan tertentu. Analisis
rasio keuangan memungkinkan manajer keuangan meramalkan reaksi para calon
investor dan kreditur serta dapat ditempuh untuk memperoleh tambahan dana. (Zaki
Baridwan,

1997:17)

Suatu rasio tidak memiliki arti dalam dirinya sendiri, melainkan harus diperbandingkan
dengan rasio yang lain agar rasio tersebut menjadi lebih sempurna dan untuk melakukan
analisis ini dapat dengan cara membandingkan prestasi suatu periode dengan periode
sebelumnya sehingga diketahui adanya kecenderungan selam periode tertentu, selain itu
dapat pula dilakukan dengan membandingkan dengan perusahaan sejenis dalam industri
itu sehingga dapat diketahui bagaimana keuangan dalam industri.
Dalam mengadakan interpretasi dan analisis laporan keuangan suatu perusahaan,
seorang penganalisis memerlukan adanya ukuran atau yardstick tertentu. Ukuran yang
sering digunakan dalam analisis keuangan adalah rasio. Pengertian rasio sebenarnya
hanyalah alat yang dinyatakan dalam aritmatical terms yang dapat digunakan untuk
menjelaskan hubungan antara dua macam data keuangan. Macamnya rasio banyak
sekali, karena dapat dibuat menurut kebutuhan penganalisis.

Menurut Bambang Riyanto (1992 : 329), analisis rasio keuangan adalah proses
penentuan operasi yang penting dan karakteristik keuangan dari sebuahperusahaan dari
data akuntansi dan laporan keuangan. Tujuan dari analisis ini adalah untuk menentukan
efisiensi kinerja dari manajer perusahaan yang diwujudkan dalam catatan keuangan dan
laporan keuangan.

2. Dasar Pembanding Angka Ratio


Untuk dapat menentukan /mengukur tingkat likwiditas, solvabilitas, serta
profitability perusahaan diperlukan alat pembanding dan ratio dalam industry sebagai
keseluruhan yang sejenis dimana perusahaan menjadi anggotanya dapat digunakan
sebagai alat pembanding dari angka ratio suatu perusahaan, angka ratio dari industry
sebagai keseluruhan ini disebut sti andard rasio(rasio rata rata). Perbedaan perbedaan
dalam data keuangan dan hasil operasi dari berbagai perusahaan yang sejenis mungkin
karena disebabkan faktor faktor berikut :
a. Perbedaan letak perusahaan dengan tingkat harga dan biaya operasi yang berbedabeda, seperti besar kecilnya perusahaan.
b. Jumlah aktiva tetap yang dimiliki suatu perusahaan mungkin berbeda dengan
perusahaan lain
c. Adanya perbedaan umur kekayaan yang dimiliki perusahaan perusaahaan tersebut
d. Perbedaan kebijaksanaan tiap perusahaan
e. Perbedaan struktur permodalan yang dimiliki oleh perusahaan perusahaan yang
bersangkutan
Karena adanya perbedaan-perbedaan tersebut maka maka penganalisa terlebih dahulu
harus mereview atau menyusun kembali standard rasio yg sesuai dengan kehjendak
penganalisa yang bersangkutan.
Standard rasio bukanlah merupakan angka pembanding yg ideal atau bukanlah
merupakan ukuran yang pasti , tetapi standard rasio dapat digunakan sebagai pedoman
atau pegangan bagi penganalisa.

Dengan memperbandingkan angka rasio perusahaan kita dengan perusahaan yang lain,
maka akan di temukan kelemahan-kelemahan yg ada pada perusahaan kita dan dapat
diadakan tindakan,atau perbaikan seperlunya.

3. Penggolongan Rasio Keuangan


Pada dasarnya macam atau jumlah angka-angka rasio banyak sekali karena rasio
dapat dibuat menurut kebutuhan penganalisis. Namun demikian angka-angka rasio yang
pada dasarnya dapat digolongkan menjadi dua kelompok (Munawir, 1992 : 68), yaitu :
1) Penggolonagn berdasarkan sumber data
Rasio-rasio neraca (balance sheet rasio), yaitu rasio-rasio yang disususn dari
data yang bersumber atau yang berasal dari neraca.
Rasio-rasio laporan laba rugi (income statement ratio), yaitu rasio yang disusun
dari data yang berasal dari laporan laba rugi.
Rasio-rasio antar laporan (intern statement ratio), yaitu rasio-rasio yang disusun
dari data yang berasal dari neraca dan data yang berasal dari laporan laba rugi.
2) Penggolongan berdasarkan tujuan penganalisis adalah: Rasio likuiditas, Rasio
solvabilitas, Rasio rentabilitas, Dan rasio lain yang sesuai dengan kebutuhan
penganalisis.

4. Keterbatasan Rasio Keuangan


a. Rasio tersebut dibentuk dari data akuntansi dan data ini dipengaruhi oleh cara
penafsirannya dan bahkan dapat dimanipulasi.
b. Seorang manajer keuangan harus berhati - hati dalam penilaian apakah suatu rasio
tertentu baik atau buruk dalam penilaian gabungan tentang sebuah perusahaan,
berdasarkan suatu kumpulan rasio - rasio.
c. Kecocokan dengan rasio gabungan industri bukan suatu jaminan bahwa perusahaan
tersebut sedang berjalan normal dan dipimpin dengan baik.
d. Dalam menganalisa setiap rasio, angka - angka yang diperoleh dan perhitungan
tidak dapat berdiri sendiri. Rasio tersebut akan berarti bila setidaknya satu dari dua
hal ini dipenuhi 1) Adanya perbandingan dengan perusahaan sejenis yang

mempunyai tingkat risiko yang hampir sama; 2) Adanya analisa kecenderungan


(trend) dari setiap rasio pada tahun tahun sebelumnya.
e. Pencapaian target sesuai dengan rata rata industri tidak menunjukkan Kinerja
perusahaan yang baik. Kebanyakan perusahaan justru menginginkan tingkat yang
lebih baik dari rata - rata industri. Oleh karena itu lebih tepat jika difokuskan pada
industry leader's ratios.

5. Hubungan Antar Berbagai Ratio


Hubungan ini bisa merupakan hubungan rasio antara laporan keuangan yang satu
laporan dengan yang lain atau hubungan dalam komponen dalam satu laporan
keuangan. Hubungan tersebut dapat bersifat positif maupun negative tergantung rasio
keuangannya.
Sebagai contoh hubungan antarberbagai rasio keuangan, yaitu:
a. hubungan antara rentabilitas ekonomi dengan rentabilitas modal sendiri;
b. hubungan antara rasio utang dengan rentabilitas modal sendiri.
Misalnya hubungan antara rentabilitas ekonomi dengan rentabilitas modal sendiri
bersifat positif. Semakin besar rentabilitas ekonomi, akan berakibat besar pula
rentabilitas modal sendiri. Tentu saja dengan asumsi ceteris paribus, yaitu faktorfaktor lain tidak lain tidak berubah seperti bunga, pajak, dan rasio utang-modal
sendiri.
Kemudian, dapat dikatakan pula bahwa hubungan rentabilitas ekonomi dengan
modal sendiri pada berbagai tingkat pengguna modal asing cukup berpengaruh.
Berbeda dengan hubungan antara rentabilitas ekonomi dengan rentabilitas modal
sendiri yang selalu bersifat positif, hubungan antara rasio utang dengan rentabilitas
modal sendiri. Dalam pratiknya rentabilitas modal sendiri, selain dipengaruhi oleh
rentabilitas ekonomi, juga dipengaruhi oleh rasio utang.