Anda di halaman 1dari 8

SURAT KETERANGAN VISUM ET REPERTUM

KORBAN HIDUP DAN MATI (Makassar, 10 Oktober 2010)


Gatot S. Lawrence
Departemen Kedokteran Forensik-Medikolegal (KFM), Fakultas Kedokteran
Universitas Hasanuddin-Makassar, Indonesia

PENDAHULUAN
Profesi dokter adalah salah satu profesi yang tertua. Dalam rangka
memberikan pelayanan kesehatan yang menyeluruh, maka salah satu pegangan
dokter dan petugas kesehatan adalah 5 Prinsip Dasar Moral, yaitu Autonomy,
Beneficence, Non-Maleficence, Justice, dan Honesty yang dikemukan oleh sejumlah
filsuf dan pemerhati moral dan bioetik, terutama dalam bidang biomedik.
Terjadinya interaksi antara dokter dan pasien pada hakikatnya adalah karena
terdapat

permasalah

kesehatan

yang

ingin

diselesaikan.

Permasalahan

seseorang/pasien dalam hal meningkatkan derajat kesehatan (health promotion),


pencegahan penyakit (disease prevention), penanganan penyakit (curative), dan
pengurangan

kecacatan/kerusakan

yang lebih lanjut (rehabilitative care).


Selain itu bilamana upaya kesehatan
telah dilakukan dengan maksimal
berdasarkan

ilmu

pengetahuan

kedokteran yang ada (the available


medical science), namun perjalanan

Setiap manusia mulai dari awal


kehidupannya (proses konsepsi) hingga
kematiannya memiliki hak yang asasi
untuk mendapatkan pelayanan dengan
5 Prinsip Dasar Moral:
1. Autonomy, 2. Beneficence,
3. Non-Maleficence, 4. Justice,
dan 5. Honesty

penyakit/ jejas biologis tetap saja berjalan hingga menuju kematian (mortis). Oleh
sebab itu, tidak dapat disangkal lagi bahwa hingga akhir perjalanan pasien/manusia
tersebut pada hakikatnya semua manusia masih harus dilayani dengan 5 Prinsip
Dasar Moral tersebut.
Oleh sebab itu, perjalanan manusia mulai dari awal kehidupannya (proses
konsepsi) hingga kematiannya (mortis) memiliki hak asasi manusia yang sama untuk
mendapatkan pelayanan dengan 5 Prinsip Dasar Moral tersebut. Hal ini dianggap
sangat asasi sehingga berbagai badan dunia (United Nations, World Health

Organization, World Medical Association) maupun perundang-undangan nasional


secara nyata memberi dukungan pula.
Di pihak lain, sangat disayangkan bahwa terjadinya jejas atau damage tidak
selalu sebagai akibat dari perjalanan penyakit, namun tidak jarang hal tersebut
merupakan tindakan manusia yang patologis; seperti misalnya terjadinya jejas atau
damage sebagai akibat dari perkelahian, penikaman, penembakan, serta berbagai
tindakan kriminal lainnya. Kejadian tersebut merupakan insiden (incidence) yang
dapat mengakibatkan damage, yang bermanifestasi dari luka ringan hingga
mengakibatkan kematian pada orang yang terlibat dalam insiden tersebut. Sehingga
kejadian kematian dapat terjadi secara alamiah, melalui perjalanan proses
degeneratif, dan dapat juga sebagai akibat dari kecelakaan serta tindakan
kejahatan. Melalui jalur apa saja, kematian (mortis) bagi kebanyakan orang
merupakan suatu kejadian kehilangan seseorang yang sangat kita cintai, sayangi,
atau hormati.
Dalam rangka memberikan jaminan rasa aman dan tenteram serta
mengungkapkan kebenaran (truth), maka aparatur negara penegak hukum dapat
menggunakan seperangkat peraturan dan perundang-undangan yang berlaku di
Indonesia untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Sehubungan dengan hal
inilah, maka tidak jarang seorang dokter yang bertugas di Puskesmas atau Rumah
Sakit akan dihubungi oleh penyidik untuk membuat Surat Keterangan Visum et
Repertum. Berkaitan dengan hal tersebut, ada sejumlah peraturan dan perundangundangan, diantaranya adalah Pasal 133 KUHAP (Kitab Undang-Undang Hukum
Acara Pidana):
(1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban
baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang
merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan
ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya.
(2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan
secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk
pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah
mayat.

(3) Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada
rumah sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan
terhadap mayat tersebut dan diberi label yang memuat identitas mayat, dilak
dengan diberi cap jabatan yang dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain
badan mayat.
Bahkan terdapat dua pasal selanjutnya secara eksplisit disebutkan bahwa
pengungkapan kebenaran tidak berhenti pada pemeriksaan luka (visum et
repertum korban hidup) namun bilamana penyidik merasa perlu, maka dapat
dilakukan pemeriksaan terhadap korban mati melalui tindakan autopsi (visum et
repertum korban mati), hinggga terhadap korban yang sudah dikubur dapat
dilakukan penggalian jenazah (visum et repertum ekhumasi). Hal ini dapat dilihat
sebagaimana yang tercantum pada:
Pasal 134 KUHAP.
(1) Dalam hal sangat diperlukan dimana untuk keperluan pembuktian bedah mayat
tidak mungkin lagi dihindari, penyidik wajib memberitahukan terlebih dahulu
kepada keluarga korban.
(2) Dalam hal keluarga keberatan, penyidik wajib menerangkan dengan sejelasjelasnya tentang maksud dan tujuan perlu dilakukannya pembedahan tersebut.
(3) Apabila dalam waktu dua hari tidak ada tanggapan apapun dari keluarga atau
pihak yang diberi tahu tidak diketemukan, penyidik segera melaksanakan
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 133 ayat (3) undang-undang ini.
Pasal 135 KUHAP
Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan perlu melakukan penggalian mayat,
dilaksanakan menurut ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 133 ayat (2)
dan pasal 134 ayat (1) undang-undang ini.
Dalam hal untuk kepentingan bedah mayat tersebut, maka dalam Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia No. 18, tahun 1981 tentang: Bedah mayat klinis

dan bedah mayat anatomis serta transplantasi alat dan atau jaringan tubuh
manusia.
Pada Bab II, secara khusus membahas tentang Bedah Mayat Klinis; dimana Pasal 2
(PP RI No.18, thn 1981) tertulis bahwa:
Bedah mayat klinis hanya boleh dilakukan dalam keadaan sebagai berikut:
a. Dengan persetujuan tertulis penderita dan atau keluarganya yang terdekat
setelah penderita meninggal dunia, apabila sebab kematiannya belum dapat
ditentukan dengan pasti;
b. Tanpa persetujuan penderita atau keluarganya yang terdekat, apabila diduga
penderita menderita penyakit yang dapat membahayakan orang lain atau
masyarakat sekitarnya
c. Tanpa persetujuan penderita atau keluarganya yang terdekat, apabila dalam
jangka waktu 2x24 jam (dua kali dua puluh empat) jam tidak ada keluarga
terdekat dari yang meninggal dunia datang ke rumah sakit.
Pasal 3 (PP RI No.18, thn 1981)
Bedah mayat klinis hanya dilakukan di ruangan dalam rumah sakit yang disediakan
untuk keperluan itu.
Pasal 4 (PP RI No.18, thn 1981)
Perawatan mayat sebelum, selama dan sesudah bedah mayat klinis dilakukan
sesuai dengan masing-masing agama dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha
Esa, dan diatur oleh Menteri Kesehatan.

Proximus Mortis Approach (PMA)


Pembuatan Surat Keterangan Visum et Repertum korban hidup maupun korban
mati, pada hakikatnya adalah sama, yaitu suatu tindakan dan pendapat profesional
yang dilakukan oleh dokter/dokter gigi (untuk masalah gigi) setelah melakukan
pemeriksaan dengan menggunakan pendekatan ilmu kedokteran dalam rangka
membantu pihak penyidik untuk mengungkapkan tentang penyebab terjadinya
jejas/damage (Cause of Damage) pada korban hidup dan penyebab kematian
(Cause of Death) pada korban mati.

Oleh sebab itu, dalam menganalisis patomekanisme terjadinya damage pada


korban hidup maupun sebab kematian pada korban mati, maka konsep pemikiran
Translating

Pendulum

Hypothesis

(dikemukakan

oleh

Gatot

S.

Lawrence)

merupakan pendekatan yang komprehensif dan natural. Sebab dasar pemikiran


hipotesis ini adalah bahwa berbagai gangguan klinis seperti diabetes, obesitas,
hipertensi, dislipidemia, dan penyakit jantung koroner sebenarnya ber-akar dari satu
permasalahan biologik yang sama, yaitu inflamasi (yang dikenal sebagai Common
Soil Hypothesis), dan perjalanan gangguan tersebut mulai berlangsung sejak awal
kehidupan manusia, yang membawa sejumlah kerentanan genetik (genetic
susceptibility); dan kerentanan genetik tersebut akan selalu berinteraksi dengan
lingkungan yang direpresentasikan oleh pola hidup yang sehat (pada saat kita
menyadari untuk melaksanakan life style sehat), maupun yang tidak sehat
(sedentary life style) atau kerentanan genetik tersebut dapat pula berinteraksi
dengan medikamentosa; artinya Pendulum kehidupan senantiasi selalu berayun ke
arah yang sehat maupun yang tidak sehat, silih berganti selaras dengan dinamika
kehidupan, serta tetap ber-translating. Maksimal upaya penanganan kesehatan yang
dapat dilakukan adalah menjaga kualitas kehidupan melalui ayunan pendulum ke
arah sehat baik dengan cara pola hidup sehat dan atau medikamentosa, serta
berupaya menghindari ayunan pendulum ke arah tidak sehat. Bilamana dalam
proses perjalanan hidup manusia yang secara alamiah tersebut terjadi insidens
kekerasan yang mengakibatkan perlukaan/jejas atau damage bahkan hingga
kematian, maka patomekanisme damage yang terjadi tidak dapat dipisahkan dengan
perjalanan biologi manusia yang senantiasa melakukan penyesuaian dengan
keadaan yang baru (menjaga homeostasis).
Sebagai

ilustrasi,

misalnya

seorang

pria

45

tahun

dengan

profil

kesehatannya: penyakit hipertensi dan diabetes, serta memiliki kerentanan terjadi


keloid (pertumbuhan jaringan keloid/jaringan parut yang berlebihan pada waktu
proses penyembuhan). Suatu hari ia ditikam oleh penjahat (dalam kasus
penodongan) dengan pisau yang kotor pada daerah perut. Bilamana cukup
beruntung korban tidak sampai meninggal dan kemudian dibawa ke Rumah Sakit
terdekat. Kondisinya yang terluka tentu mendapatkan penanganan medik yang
optimal di Unit Gawat Darurat oleh Dokter Jaga UGD. Bilamana keesokan hari,
kejadian tersebut menjadi masalah hukum, maka penyidik akan mengirimkan Surat

Permintaan Visum et Repertum (SPV-1) ke pihak UGD Rumah Sakit. Dalam


keadaan demikian, maka Surat Keterangan Visum et Repertum tersebut akan dibuat
oleh dokter yang telah berkompetensi membuat laporan Visum et Repertum.
Skenario ke-2 adalah korban tidak melapor karena terlanjur perlukaannya tidak
dapat diatasi di UGD, maka langsung ditangani secara CITO operasi oleh dokter
Bedah. Setelah tindakan operasi, bilamana penyidik mengirimkan SPV (SPV-2),
yang berkompeten menuliskan Surat Keterangan VeR korban penikaman tersebut
adalah dokter Spesialis Forensik-Medikolegal atau dokter yang telah diberikan
pelatihan forensik-medikolegal yang membuat Surat Keterangan Visum et Repertum
tersebut, dengan mengakomodasi ringkasan medik yang dilakukan oleh dokter UGD
dan dokter Bedah. Demikian pula selanjutnya bilamana terjadi proses penyembuhan
yang tidak berjalan baik, misalnya terjadi pembentukan keloid yang berlebihan,
maka mungkin saja terpaksa diperlukan tindakan pembedahan oleh dokter Bedah
Plastik. Jika pada titik ini penyidik mengirimkan SPV (SPV-3), maka yang
berkompeten menuliskan Surat Keterangan VeR korban tersebut adalah dokter
Spesialis Forensik-Medikolegal atau dokter yang telah diberikan pelatihan forensikmedikolegal. Bilamana proses penyembuhan berjalan yang tidak memihak kepada
korban, misalnya terjadi sepsis yang akhirnya menyebabkan korban penikaman
meninggal setelah hari ke-15, maka dengan sendirinya pihak penyidik akan
melayangkan Surat Permintaan Autopsi serta pembuatan Surat Keterangan Visum
et Repertum (SPV-4). Oleh sebab itu dalam memberikan jawaban ilmiah terhadap
sebab kematian dari korban, maka seorang dokter spesialis forensik atau dokter
yang telah diberi pelatihan khusus forensik diharapkan dapat menggunakan seluruh
pengetahuan ilmu kedokteran dan dibantu dengan alat bantu pemeriksaan
penunjang lainnya (laboratorium kimia darah, histopatologi, toksikolgi, USG, CTscan, DNA, serta pemeriksaan canggih lainnya) untuk mengungkapkan sebab
terjadinya damage (Cause of Damage) dan sebab terjadinya kematian (Cause of
Death).
Dalam menuliskan diagnosis damage pada korban hidup maupun sebab
kematian pada korban mati, maka secara digunakan pendekatan Proximus Morbus
untuk kasus korban hidup dan Proximus Mortis untuk kasus korban mati. Kedua
pendekatan tersebut memiliki dasar pendekatan yang sama yaitu patomekanisme
perjalanan jejas/penyakit hingga terjadinya kematian. Sebagai ilustrasi penggunaan

konsep Proximus Mortis Approach (PMA) seperti misalnya kematian korban


tersebut merupakan rangkaian damage/keadaan morbid/komplikasi yang memenuhi
urutan patomekanisme yang dapat dijelaskan dengan dukungan bukti ilmu
kedokteran, sehingga penyebab awal (incidence) dari semua rangkaian peristiwa
tersebut dapat ditunjukkan buktinya, maka dalam mengungkapkan rangkaian
patomekanisme terjadinya kematian perlu disebutkan terlebih dahulu keadaan
morbid yang paling dekat dengan kematian (proximate to the death), dan selanjutnya
disusul dengan keadaan morbid lain secara berurutan berdasarkan patomekanisme
yang sudah diketahui. Cara penulisan kesimpulan dari sebab kematian digunakan
cara Multiple Cause of Death (COD), sebagaimana yang dianjurkan oleh World
Health Organization, sehingga dituliskan keadaan morbid yang berhubungan
langsung

dengan

kematian

(I-a),

dan

keadaan

morbid

yang

mendahuluinya/penyebab sebelumnya (I-b, I-c), serta penyebab yang mendasari


terjadinya kematian (I-d). Selain itu dituliskan pula semua keadaan morbid lain yang
tidak mempunyai hubungan langsung dengan penyebab langsung kematian
tersebut, namun berkontribusi terhadap kematian dari korban (II-a, II-b, II-c, II-d).

Sedangkan cara penulisan kesimpulan sebab perlukaan/jejas/damage, maka


digunakan cara Multiple Cause of Damage (MCOD). Sehingga dituliskan terlebih
dahulu keadaan morbid yang berhubungan langsung dengan damage (A-1), dan
keadaan morbid yang mendahuluinya/penyebab sebelumnya (A-2, A-3), serta
penyebab yang mendasari terjadinya jejas/damage (A-4). Selain itu dituliskan pula
semua keadaan morbid lain yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan
penyebab langsung damage tersebut, namun memberikan berkontribusi terhadap
damage dari korban (B-1, B-2, B-3, B-4, dan seterusnya).