Anda di halaman 1dari 10

PAPER TOKSIKOLOGI

TOKSIKOLOGI FORMALIN PADA TUBUH MANUSIA

KELOMPOK :
Antonius Oktavianus Caesar

(1208105011)

Katrin Walensky S.

(1308105031)

Sang Ayu Meni Sri Anggraini

(1308105032)

Nurul Hidayah

(1308105040)

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2015

BAB I PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang

Formaldehide yang lebih dikenal dengan nama formalin sebenarnya bukan merupakan
bahan makanan, bahkan merupakan zat yang tidak boleh di tambahkan pada makanan.
Formalin bagi tubuh manusia diketahui sebagai zat beracun, karsinogen, mutagen, korosif,
dan iritatif.
Akhir akhir ini semakin marak dibicarakan tentang formalin yang terdapat dibeberapa
bahan makanan. Formalin dijadikan salah satu zat untuk mengawetkan makanan, sehingga
makanan akan lebih lama bertahan.Pengawet formalin mempunyai unsur aldehida yang
bersifat mudah bereaksi dengan protein, karenanya jika disiramkan ke makanan seperti
tahu, formalin akan mengikat unsur protein mulai dari bagian permukaan tahu hingga terus
meresap ke bagian dalamnya. Dengan matinya protein setelah terikat unsur kimia dari
formalin maka bila di tekan tahu terasa lebih kenyal. Selain itu protein yang telah mati tidak
akan di serang bakteri pembusuk yang menghasilkan senyawa asam, itulah sebabnya tahu
atau makanan lainnya menjadi lebih awet.
Sifat

antimicrobial

dari

formaldehid

merupakan

hasil

dari

kemampuannya

menginaktivasi protein dengan cara mengkondensasi dengan amino bebas dalam protei
menjadi campuran lain. Kemampuan dari formaldehid meningkat seiring dengan
peningkatan suhu (Lund,1994). Mekanisme formalin sebagai pengawet adalah jika
formaldehid bereaksi dengan protein sehingga membentuk rangkaian rangkaian antara
protein yang berdekatan.Melihat sifatnya, formalin juga sudah tentu akan menyerang protein
yang banyak terdapat di dalam tubuh manusia seperti pada lambung. Terlebih bila formalin
yang masuk ke tubuh itu memiliki dosis tinggi.
Formalin juga dapat merusak persyarafan tubuh manusia dan di kenal dengan zat
yang bersifat neurotoksik. Gangguan pada persyarafan berupa susah tidur, sensitif, mudah
lupa, sulit berkonsentrasi. Pada wanita akan menyebabkan gangguan menstruasi dan
infertilas. Penggunaan formalin jangka panjang pada manusia dapat menyebabkan kanker
mulut dan tenggorokan.

1.2.
a.
b.
c.
d.

Rumusan Masalah
Bagaimana fase eksposisi dari xenobiotika formalin dalam tubuh?
Bagaimana fase toksokinetik dari xenobiotika formalin dalam tubuh?
Bagaimana fase toksodinamik dari xenobiotika formalin dalam tubuh?
Bagaimana metode analisis xenobiotika formalin dalam tubuh?

a.
b.
c.
d.

Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui fase eksposisi dari xenobiotika formalin dalam tubuh.
Untuk mengetahui fase toksokinetik dari xenobiotika formalin dalam tubuh.
Untuk mengetahui fase toksodinamik dari xenobiotika formalin dalam tubuh.
Untuk mengetahui metode analisisi dari xenobiotika formalin dalam tubuh.

1.3.

1.4.
Batasan Masalah
Batasan masalah yang akan dipaparkan dan dibahas dalam paper ini meliputi fase
eksposisi, fase toksokinetik( adsorbs, distribusi,metabolism,dan ekskresi), fase
toksodinamik dan cara atau metode yang digunakan dalam analisis xenobiotika formalin
dalam tubuh.

BAB II ISI
2.1.

Fase Eksposisi Xenobiotika Formalin Dalam Tubuh


Fase Eksposisi adalah kontak suatu organisme dengan xenobiotika,kontak nya

xenobiotika dengan organisme dapat melalui:


1. Jika Terhirup

Formalin dapat kontak dengan tubuh, bila formalin di biarkan menguap dalam
ruang terbuka sehingga terhirup oleh hidung
2. Jika Kontak Dengan Kulit
Formalin dapat masuk dalam tubuh,bila kulit terkena formalin
3. Jika Kontak Dengan Mata
Formalin dapat kontak dengan mata,bila cairan formalin mengguap atau tidak
sengaja terkena cairannya
4. Jika Tertelan
Formalin juga dapat kontak dengan tubuh melalui meminumnya.
2.2.
Fase Toksokinetik Xenobiotika Formalin Dalam Tubuh
Fase toksokinentik adalah fase yang terjadi setelah fase eksposisi,pada fase ini
2.2.1.

ada tahapan xenobiotika dalam tubuh yakni:


Absorpsi Xenobiotika Formalin Dalam Tubuh
Setelah formalin masuk dalam tubuh,formalin terabsorpsi menuju aliran darah.
1. Jika Terhirup
Formalin yang terhirup akan terabsorpsi masuk ke dalam aliran darah
2. Jika Kontak Dengan Kulit
Formalin akan terabsorpsi lewat permukaan kulit dan akan masuk ke dalam
aliran darah setelah diserap melalui lapisan kulit
3. Jika Kontak Dengan Mata
Formalin akan terabsorpsi masuk ke dalam aliran darah lewat pembuluh
darah yang ada di mata.
4. Jika Tertelan
Formalin yang masuk lewat jalur mulut akan akan langsung masuk ke
lambung dan akan diabsorpsi masuk ke dalam aliran darah.

2.2.2.

Distribusi Xenobiotika Formalin Dalam Tubuh


Formaldehid akan terdistribusi secara luas ke dalam jaringan tubuh melalui aliran
darah. Jika dari mulut,formalin akan masuk dalam tubuh melalui saluran
pnecernaan dan akan terdistribusi dalam aliran darah, formaldehida bisa
menimbulkan terikatnya DNA protein, sehingga mengganggu ekspresi genetik

2.2.3.

yang normal.
Metabolisme dan Biotransformasi Xenobiotika Formalin Dalam Tubuh
Formalin memiliki tingkatan lama paparan yaitu :
Tabel 2.1 Pengelompokkan Lama Paparan Formaldehid

Gambar 2.1 Metabolisme Formalin


Metabolisme formaldehida dengan bantuan glutation akan menghasilkan
hydroxymethylglutatione. Glutation merupakan antioksidan alami yang dimiliki
tubuh. Hydroxymethylglutatione bersama ADH3+NAD+akan dikatalisasi dengan
cepat

oleh

enzim

folmaldehyde

dehydrogenase

dan

menghasilkan

S-

formylglutathione. Enzim folmaldehyde dehydrogenase merupakan oksidatif


enzim yang terletak di mitokondria dan sitosol.Keberadaanya terbesar terdapat di
hepar, ginjal, paru-paru dan mukosa lambung. S-formylglutathione yang sudah
terbentuk

dengan

bantuan

enzim

S-formylglutathione

hydrolase

akan

menghasilkan glutathione dan asam format. Pada paparan formalin dosis tinggi
akan mengakibatkan penuruanan glutathione sehingga asam format semakin
menumpuk. Hal tersebut terjadi karena metabolisme formaldehyde bergantung
oleh konsentrasi glutation. Asam format 5 yang dihasilkan memiliki masa paruh
90 menit dalam darah.
Formalin yang masuk kedalam hepar akan di detoksifikasi melalui porses
biotransformasi. Pada formalin hanya mengalami reaksi fase II yakni reaksi
konjugasi karena formaldehid merupakan hasil dari reaksi fase I biotransformasi
metanol. Hasil dari reaksi fase II ini akan menghasilkan asam format. Adapun
reaksi yag terjadi adalah sebagai berikut:
O

O
formaldehyde

CO2+H2O

dehydrogenase

H
H
formaldehid
2.2.4.

H
OH
asam format

Eksresi Xenobiotika Formalin Dalam Tubuh


Asam format yang dihasilkan memiliki masa paruh 90 menit dalam darah.
Selanjutnya akan di ekskresi melalui paru- paru dalam bentuk CO2 , sedangkan
melalui ginjal akan di eksresi bersama dengan urin.

2.3.

Fase Toksodinamik Xenobiotika Formalin Dalam Tubuh


1)
Jika Terhirup
Konsentrasi 0,1-5,0 bpj dapat menyebabkan iritasi pada hidung dan
tenggorokan; 10-20 bpj dapat menyebabkan susah bernafas,rasa terbakar pada
hidung dan tenggorokan,dan batuk;25-50 bpj dapat menyebabkan kerusakan
jaringan dan luka saluran pernafasan seperti pneumonitis dan kadang-kadang
edema paru. Gejala lain seperti bersin, sulit bernafas, radang kerongkongan,
radang batang tenggorokan, dada sesak, radang cabang batang tenggorokan,
sakit kepala, disfagia, sangat haus, kelelahan, berdebar-debar, mual dan muntah.
Pada

konsentrasi

sangat

tinggi

akan

menyebabkan

kematian.

Reaksi

hipersensitifitas seperti udem laring, asma bronchitis parah, dan dilaporkan terjadi
urtikaria pada orang yang pernah terpapar.
2)

Jika Kontak Dengan Kulit


Uap atau larutan dapat menyebabkan rasa sakit, perubahan warna putih,
keras, mati rasa, dan luka baker tingkat satu. Sensitisasi dermatis yang ditandai
dengan ekstrim, reaksi vesicular disertai dengan erupsi pada kelopak mata,
wajah, leher, skrotum, dan pundak terjadi pada orang yang pernah terpapar.Juga

3)

dilaporkan terjadi urtikaria. Dosis letal pada kelinci sebeser 270 mg/kg
Jika Kontak Dengan Mata
Kosentrasi 0,05-3,0 bpj dapat menyebabkan iritasi dengan kemerahan,
gatal, sakit, berair, penglihatan kabur, dan lakrimasi sedang. 4-20 bpj dapat

4)

menyebabkan lakrimasi hebat, dan kerusakan mata permanen, dan kebutaan.


Jika Tertelan
Kasus tertelan formalin dalam bentuk gas tidak mungkin terjadi, tapi jika
terjadi, dapat menyebabkan mulut, tenggorokan dan lambung terbakar, sulit

bernafas, mual, muntah dan diare, kemungkinan pendarahan, sakit perut


parah, sakit kepala, hiotensi, vertigo, stupor, kejang, pingsan, dan koma.
Perubahan degeneratif dari hati, jantung dan otak, dan gangguan limpa,
pankreas, susunan saraf pusat, dan ginjal dengan albuminuria, hermaturia,
anuria, dan asidosis dapat terjadi.
Bahaya paparan jangka panjang ( Kronis )
a)
Jika Terhirup
Paparan berulang atau jangka panjang menyebabkan sakit kepala, rintis
mual, mengantuk, gangguan pernapasan, gangguan ginjal, dan sensitisasi paru.
Efek neuropsikologi seperti gangguan tidur, iritibilitas, gangguan keseimbangan,
penurunan daya ingat, hilang konsentrasi, dan perubahan kejiwaan.Gangguan
haid dan sterilitas kedua pada wanita. Efek reproduktif pada hewan
b)
Jika Kontak Dengan Kulit
Paparan berulang atau jangka panjang mungkin menyebabkan luka
bakar tingkat dua, mati rasa, gatal, gangguan pada kuku, pengerasan dan
penyamakan kulit dan sensitisasi. Dermatitis dapat terjadi atau terlihat beberapa
tahun kemudian dimulai dengan erupsi pada area digital, dan bagian lain tubuh.
c)
Jika Kontak Dengan Mata
Efek tergantung pada konsentrasi dan lama paparan. Keterulangan atau
kontak lama dengan bahan krosif dapat menimbulkan konjungtivitas atau efek
seperti pada paparan jangka pendek
d) Jika Tertelan
Tertelan formalin dalam jumlah

sedikit

secara

berulang

dapat

menyebabkan iritasi saluran pencernaan, muntah, dan pusing. Reaksi


sensitisasi pernah dilaporkan. Pria yang menelan formalin selama 15 hari
mengeluh sakit pada perut atau lambung dan sakit kepala. Gejala lain yang
dilaporkan termasuk rasa terbakar pada tenggorokan, penurunan suhu badan,
dan 4 orang pria mengalami gatal-gatal pada dada dan paha.
Penggunaan formalin untuk mengawetkan makanan sesungguhya telah
dilarang sejak tahun 1982. Hal ini dikuatkan dengan Undang-Undang No 7/1996
tentang Perlindungan Pangan. Walaupun daya awetnya sangat luar biasa,
formalin dilarang digunakan pada makanan. Di Indonesia, beberapa undangundang yang melarang penggunaan formalin sebagai pengawet makanan
adalah Peraturan Menteri Kesehatan No 722/1988 yaitu bahwa makanan yang
menggunakan bahan tambahan makanan yang tidak sesuai dengan ketentuan
mempunyai pengaruh langsung terhadap derajat kesehatan manusia.
Berdasarkan efek yang ditimbulkan, toksikologi formalin tergolong
toksikologi klinis

dan toksikologi makanan dimana penggunaan formalin

sebagai pengawet makanan yang dapat memberikan efek menginaktivasi


protein pada konsentrasi tertentu.. Sifat formalin ini dapat merusak protein
protein penting dalam tubuh,sehingga menimbulkan efek toksik bagi tubuh.
2.4.

CaraAnalisis Xenobiotika Formalin

Pengujian Formalin Menggunakan Asam Kromatofat dan Kit Test


Deteksi formalin menggunakan asam kromatofat. Sejumlah 20 gr contoh
dimasukkan ke dalam labu kjeldahl 800 ml yang telah berisi 200 ml air dan diasamkan
dengan 5 ml asam fosfat 10 %. Kemudian didestilasi perlahan-lahan hingga diperoleh 90
ml destilat yang ditampung dalam Erlenmeyer yang telah berisi 10 ml air (ujung
pendinginnya harus tercelup). Selanjutnya 2 ml destilat dimasukkan ke dalam tabung
reaksi dan ditambahkan 5 ml larutan asam kromatofat 0,5 % dalam asam sulfat 60 %
yang dibuat segar lalu dipanaskan dalam tangas air yang mendidih selama 15 menit,
larutan berwarna merah keunguan jika mengandung formaldehida (BBPOM, 2008).
Deteksi formalin menggunakan kit test sebanyak 20 gr sampel dan ditambahkan
air sebanyak 100 ml kemudian dihaluskan selanjutnya disaring menggunakan kertas
saring, 5 ml larutan dan masukkan ke dalam tabung reaksi yang berbeda kemudian
tambahkan 1 ml baku formalin dengan kosentrasi masing-masing tabung 10 dan 5 ppm,
selanjutnya tambahkan 10 tetes reagen Fo-1 ke dalam tiap-tiap tabung tesebut yang
telah diberi label berdasarkan konsentrasi formalin masing-masing tabung dan di
homogenkan, selanjutnya masukkan strip kit test ke dalam tiap-tiap tabung selama 1 detik
angkat dan tentukan perubahan warna sesuai dengan indikator warna (Ungu) (BBPOM,
2008).
2.5.

Cara Penanggulangan Jika Terpapar Formalin


Penanganan bila telah terpapar formaldehid:
a.

Terhisap
Pindahkan korban pada udara bersih.Apabila tidak bisa bernapas beri napas

buatan.Jika sulit bernapas beri oksigen, kemudian panggil dokter.


b.

Tertelan

Berilah susu, arang aktif atau air. Setiap bahan organik dapat menonaktifkan
formalinjaga tubuh korban agar tetap hangat dan rileks.Apabila muntah, jaga agar
kepala lebih rendah dari pinggul.
c.

Kontak kulit
segera cuci dengan air paling tidak 15 menit, sambil melepas pakaian yang

terkena. Cuci pakaian sebelum digunakan kembali.


d.

Kontak mata
segera cuci dengan air selama 15 menit kemudian panggil dokter

BAB III PENUTUP


3.1

KESIMPULAN
1. Fase eksposisi xenobiotika formalin adalah terpapar melalui inhalasi,oral, mata, dan
kulit.
2. Metabolisme formaldehida dengan bantuan glutation akan menghasilkan
hydroxymethylglutatione
3. Formalin yang masuk kedalam hepar akan di detoksifikasi melalui porses
biotransformasi
4. Formalin memiliki biotransformasi dengan dua jalur yaitu jalur 1 (reaksi reduksi dari
senyawa karbonil, dehalogenisasi, dan pembentukan nitro dan azo) dan jalur 2(jalur
konjugasi)
5. Ekskresi formalin dapat melalui hepar dan paru-paru,pada ekskresi hepar hasilnya
adalah CO2 sedangkan pada paru-paru hasil ekskresinya keuar bersama urine

DAFTAR PUSTAKA
Chaliq.2013.Formalin atau Formaldehid.(online) http://chaliqchemistry.blogspot.com/2012/03/formalin-atau-formaldehid.html. Diakses pada tanggal 8 mei
2015.
Dalbey, W.E. 1982. Formaldehyde and tumors in hamster respiratory tract.Toxicology. 24: 9-14.
Hurni, H. and H. Ohder. 1973. Reproduction study with formaldehyde and
hexamethylenetetramine in beagle dogs. Food Cosmet.Toxicol. 11: 459-462
Kerns, W.D., K.L. Pavkov, D.J. Donofrio, E.J. Gralla and J.A. Swenberg. 1983. Carcinogenicity
of formaldehyde in rats and mice after long-term inhalation exposure. Cancer Res. 43: 43824392
Olsen, J.H., S.P. Jensen, M. Hink, K. Faurbo, N.O. Breum and O.M. Jensen. 1984.
Occupational formaldehyde exposure and increased nasal cancer risk in man. Int. J. Cancer.
34: 639-644.
Tobe, M., T. Kaneko, Y. Uchida, et al. 1985.Studies of the inhalation toxicity of formaldehyde.
National Sanitary and Medical Laboratory Service (Japan). p. 1-94.