Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

A.

LATAR BELAKANG
Sehat adalah suatu keadaan yang sejahtera secara menyeluruh baik fisik,

mental dan juga sosial dan tidak hanya bebas dari suatu penyakit atau kelemahan.
Apabila mental terganggu, maka individu tersebut dapat dikatakan sakit. Begitu
pentingnya kesehatan mental terhadap konsep sehat itu sendiri.
Kesehatan mental atau jiwa menurut UU No.3/1961 adalah suatu kondisi
yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual, emosional yang optimal
dari seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan orang lain.
Seseorang yang memiliki mental atau jiwa yang sehat berarti mampu mengatasi
tantangan hidup, dapat menerima orang lain sebagaimana adanya serta memiliki
sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain (Menkes 2005). Ketika hal-hal
tersebut tidak dapat lagi dilakukan maka individu itu dapat dikatakan mengalami
gangguan mental.
Konsep gangguan jiwa dari DSM -IV yang tercantum dalam buku PPDGJ III
adalah adanya gejala klonis yang bermakna baik perilaku maupun psikologik yang
dapat menimbulkan penderitaan (distress) serta disabilitas (disability). Buku PPDGJ
III mengelompokan diagnosis gangguan jiwa ke dalam 100 kategori diagnosis
salah satunya adalah gangguan suasana perasaan (mood/affektif)
termasuk di dalamnya gangguan distimik dan gangguan siklotimik.
Gangguan suasana perasaan (mood/affek disorder) merupakan hal yang
umum dan lazim. Gangguan ini terbanyak ditemukan baik di pelayanan kesehatan
mental maupun dalam praktek dokter medis umum. Berdasarkan hasil penelitian
yang dilakukan di Amerika Serikat dan Eropa, diperkirakan 9-26% wanita dan 512% pria pernah mengalami depresi yang gawat didalam kehidupan mereka.
Gangguan suasana perasaan itu sendiri didefinisikan sebagai perubahan suasana
perasaan (mood) atau afek biasanya kea rah depresi dengan atau tanpa ansietas yang
menyertainya atau ke arah elasi (suasana perasaan yang meningkat). Apabila peubahan
ini terjadi secara bergantian maka disebut unipolar, sedangkan apabila terjadi secara
bersamaan disebut bipolar. Perubahan afek ini biasanya disertai dengan suatu

perubahan pada keseluruhan tingkatan aktivitas.


Pengelompokan diagnosis gangguan perasaan (mood/affektif) terdiri dari :
episode manik, gangguan affektif bipolar, episode depresif, gangguan depresi
berulang, gangguan suasana perasaan (mood/affektif) menetap, ganguan suasana
perasaan (mood/affektif) lainnya dan gangguan suasana perasaan (mood/affektif)
yang tidak tergolongkan. Gangguan distimia dan siklotomia masuk dalam
kelompok diagnosis gangguan suasana perasaan (mood/affektif) menetap.
Pada penelitian komunitas yang dilakukan di New Haven, Baltimore, dan St.
Louis pada tahun 1980 sampai 1982 didapatkan angka prevalensi enam bulan
terbanyak dengan nomor urut satu sampai empat pada usia 65 tahun ke atas
sebagai berikut : perempuan usia lanjut lebih banyak mengalami fobia, gangguan
kognitif berat, distimia, dan depresi berat tanpa berkabung, sedangkan pada lakilaki usia lanjut lebih banyak mengalami gangguan kognitif berat, fobia,
penyalahgunaan atau ketergantungan alkohol dan distimia. Perempuan usia 45-64
tahun lebih banyak mengalami fobia, distimia, depresi berat dan obsesif
kompulsif, sedangkan laki-laki berumur 45-64 tahun lebih banyak mengalami
penyalahgunaan atau ketergantungan alkohol, fobia, distimia, depresi berat
(Myers dan kawan-kawan 1984). Gangguan afektif lebih banyak mengenai
perempuan usia lanjut daripada laki-laki, sedangkan penyalahgunaan atau
ketergantungan alkohol lebih banyak pada laki-laki usia lanjut daripada
perempuan.
Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya gannguan suasana
perasaan antara lain faktor biologi termasuk didalamnya faktor genetik. Menurut
penelitian, anak dari pasien bipolar kemungkin 18 kali lebih besar terkena
gangguan suasana perasaan. Selain itu faktor biologis lainnya yang menjadi
penyebab adalah neurotransmitter, endokrin, ritme tidur, dan aktifitas otak. Faktor
psikologis dan faktor sosial juga dapat mempengaruhi angka kejadian terjadinya
gangguan suasana perasaan seseorang.

BAB II
PEMBAHASAN

A. DEFINISI
1. DISTIMIA
Distimia atau gangguan distimik adalah suatu kondisi kronis yang ditandai
dengan gejala depresi yang terjadi hampir sepanjang hari, lebih banyak hari
daripada tidak, setidaknya selama 2 tahun (menurut kamus kesehatan). Gangguan
distimik merupakan suatu gangguan kronis yang ditandai oleh adanya mood yang
terdepresi (atau mudah marah pada anak-anak dan remaja) yang berlangsung
hampir sepanjang hari dan ditemukan pada sebagian besar hari. Istilah distimia
yang berarti humor yang buruk diperkenalkan pada tahun 1980 dan diganti
menjadi gangguan distimik di dalam DSM-IV.
2. SIKLOTIMIA
Dalam DSM-IV, gangguan siklotimik dibedakan dari gangguan bipolar II,
yang ditandai oleh adanya episode depresif berat dan episode hipomanik. Seperti
gangguan distimik, kategorisasi gangguan siklotimik dengan

gangguan

mood

menyatakan adanya hubungan, kemungkinan biologis, dengan gangguan bipolar I.


Gangguan siklotimik merupakan gangguan yang lebih ringan dimana
periode depresi dan kegembiraan tidak terlalu berat, berlangsung hanya beberapa
hari, dan kambuh dalm selang waktu yang tidak beraturan. Pada akhirnya
gangguan

siklotimik

berkembang

menjadi gangguan manik-depresfif bukan

mania maupun depresi.

B. KRITERIA DIAGNOSIS
1. DISTIMIA
a. Mood terdepresi untuk sebagian besar hari, lebih banyak hari dibandingkan
tidak, seperti yang ditunjukkan keterangan subjektif atau pengalaman orang lain,
sekurangnya 2 tahun. Catatan: pada anak-anak dan remaja, mood dapat mudah
tersinggung dan lama harus sekurangnya 1 tahun.
b. Adanya saat terdepresi dua (atau lebih) berikut:
1) Nafsu makan yang buruk atau berlebihan
2) Insomnia atau hipersomnia
3) Energi lemah atau lelah

4) Harga diri yang rendah


5) Konsentrasi buruk atau sulit mengambil keputusan
6) Perasaan putus asa
c. Selama periode 2 tahun (1 tahun untuk anak-anak atau remaja) gangguan, orang
tidak pernah tanpa gejala dalam kriteria A dan B selama lebih dari 2 bulan suatu
waktu.
d. Tidak pernah ada episode depresif berat selama 2 tahun pertama gangguan (1
tahun untuk anak-anak dan remaja), yaitu gangguan tidak lebih baik diterangkan
oleh gangguan depresif berat kronis, atau gangguan depresif berat, dalam remisi
parsial.
Catatan: mungkin terdapat episode depresif berat sebelumnya asalkan terdapat
remisi lengkap (tidak ada tanda atau gejala bermakna selama 2 bulan) sebelum
perkembangan distimik. Di samping itu setelah 2 tahun
awal dari gangguan distimik mungkin terdapat episode gangguan depresif berat
yang menumpang pada kasus tersebut, kedua diagnosis dapat diberikan jika
memnuhi kriteria untuk episode depresif berat.
e. Tidak pernah terdapat episode manik, episode campuran, atau episode
hipomanik,

dan

tidak

pernah

memenuhi

kriteria

untuk

gangguan

siklotimik.
f. Gangguan tidak terjadi semata-mata selama perjalanan gangguan psikotik kronis,
seperti skizofrenia atau gangguan delusional.
g.Gejala tidak merupakan efek fisiologis langsung dari suatu zat atau suatu
kondisi medis umum.
h. Gejala menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau
gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.

2. SIKLOTIMIA
a. Selama sekurangnya 2 tahun, adanya banyak episode dengan gejala
hipomanik dan banyak periode dengan gejala depresif yang tidak
memenuhi kriteria untuk episode depresif berat.
b. Selama periode 2 tahun di atas, orang tidak pernah tanpa gejala dalam
kriteria A selama lebih dari 2 bulan.
c. Tidak ada episode depresif berat, episode manik, atau episode campuran

yang ditemukan selama 2 tahun pertama gangguan.


Catatan: setelah 2 tahun pertama dari gangguan siklotimik, mungkin
terdapat episode manik atau campuran yang menumpang atau episode depresif
berat.
d. Gejala dalam kriteria A tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan
skizoafektif dan tidak menumpang pada skizofrenia, gangguan
skizofreniform, gangguan delusional, atau gangguan psikotik yang tidak
ditentukan.
e. Gejala bukan karena efek fisiologis langsung dari suatu zat atau suatu
kondisi medis umum.
f. Gejala menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau
gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.
C. ETIOLOGI DISTIMIA DAN SIKLOTIMIA
Penyebab pasti seseorang bisa menderita gangguan distimia dan siklotimia belum
diketahui

secara

pasti.

Namun

ada

beberapa

faktor

yang

dapat

mempengaruhi terjadinya distimia dan siklotimia yang merupakan faktor-faktor


yang juga menyebabkan gangguan suasana perasaan pada umumnya yaitu :
1. Faktor biologis : Dari penelitian yang ada didapatkan hipotesis bahwa
gangguan mood adalah berhubungan dengan disregulasi heterogen pada
amin biogenik. Dimana terjadi kelainan di dalam metabolit amin
biogenik-seperti 5-hydroxyindoleacetic acid (5-HIAA), homovanillic acid
(HVA), dan 3-methoxy-4-hydroxyphenylglycol (MHPG)- di dalam darah,
urine, dan cairan serebrospinalis pada pasien dengan gangguan mood.
Norepinefrin dan serotonin dari amin biogenik merupakan dua transmitter
yang paling berperan dalam patofisiologi mood. Norepinephrine terkait
dengan gangguan bipolar dimana tingkat norephinephrine yang rendah
menyebabkan depresi dan tingkat yang tinggi menyebabkan mania.
Sedangkan untuk serotonin, tingkatnya yang rendah juga menyebabkan
depresi.
2. Faktor genetik : dari data penelitian pada faktor genetik dinyatakan bahwa
perkembangan gangguan mood sangat dipengaruhi oleh genetik. Peran
dari faktor genetik pada bipolar lebih besar dari depresi. Penelitian yang

dilakukan dalam keluarga, apabila satu orang dari orang tua


penderita gangguan mood memiliki gangguan mood maka anak mereka
memiliki faktor resiko 50%. Contoh lain pada anak kembar monozigotik,
presentasi untuk bipolar sekitar 33%-90% sedangkan pada depresi
memiliki presentasi sekitar 50%, tetapi untuk anak kembar dizigotik
memiliki presentasi hanya 25%. Pola penurunan genetika adalah jelas
melalui mekanisme yang kompleks bukan saja tidak mungkin
menyingkirkan efek psikososial, tetapi faktor non genetik memungkinkan
memainkan peranan kausatif dalam perkembangan gangguan mood
sekurangnya pada beberapa orang.
3. Faktor Psikososial : Satu pengamatan klinis lama yang telah direplikasi
adalah bahwa peristiwa kehidupan yang menyebabkan stress lebih sering
mendahului episode pertama

gangguan mood

daripada episode

selanjutnya. peristiwa kehidupan sangatlah memainkan peran dalam


gangguan mood terutama depresi. Seperti adanya penelitian anak yang
kehilangan orang tuanya pada saat mereka berusia kurang dari 11 tahun
atau kehilangan pasangan merupakan stressor terbesar pada gangguan
mood terutama depresi. Satu teori yang diajukan untuk menjelaskan
pengamatan tersebut adalah bahwa stres yang menyertai episode pertama
menyebabkan perubahan biologi otak yang bertahan lama. Perubahan
bertahan lama tersebut dapat menyebabkan perubahan keadaan fungsional
berbagai neurotransmiter dan sistem pemberi signal intraneuronal. Hasil
akhirnya dari perubahan tersebut adalah menyebabkan seseorang berada
pada resiko yang lebih tinggi untuk menderita episode gangguan mood
selanjutnya, bahkan tanpa adanya stresor eksternal. Tidak ada sifat atau
tipe kepribadian tunggal yang secara unik mempredisposisikan seseorang
kepada depresi. Semua manusia apapun pola kepribadiannya, dapat dan
memang menjadi depresi dalam keadaan yang tepat; tetapi, tipe
kepribadian tertentu -dependen-oral, obsesif-kompulsif, histeris- mungkin
berada dalam resiko yang lebih besar untuk mengalami depresi daripada
tipe kepribadian antisosial, paranoid, dan lainnya yang menggunakan
proyeksi dan mekanisme pertahanan mengeksternalisasikan lainnya.

D. GAMBARAN KLINIS
1. DISTIMIA
Gangguan distimik merupakan suatu gangguan kronis yang ditandai
bukan saja oleh episode penyakit, tetapi, malahan oleh adanya gejala secara
menetap. Gejalanya serupa dengan gejala gangguan depresif berat, dan adanya mood
terdepresi-ditandai oleh adanya perasaan muram, murung, kesedihan, atau
berkurangnya dan tidak ada minat pada aktivitas pasien biasanya- adalah pusat dari
gangguan. Keparahan gejala depresif dalam gangguan distimik biasanya lebih kecil
daripada gangguan depresif berat, tetapi tidak adanya episode yang terpisah adalah
hal yang paling mengarahkan pada diagnosis gangguan distimik. Pasien dengan
gangguan distimik kadang-kadang dapat sarkastik, nihilistik, memikirkan hal yang
sedih, membutuhkan, dan mengeluh. Mereka dapat juga tegang dan kaku dan
menolak intervensi terapeutik, kendatipun mereka datang secara teratur pada
perjanjian. Menurut definisinya, pasien gangguan distimik tidak memiliki adanya
gejala psikotik
Gejala penyerta adalah perubahan nafsu makan dan pola tidur, harga diri
yang rendah, hilangnya energi, retardasi psikomotor, penurunan dorongan seksual,
dan preokupasi obsesif dengan masalah kesehatan. Pesimisme, keputusasaan,
dan ketidakberdayaan dapat menyebabkan pasien gangguan distimik terlihat
sebagai

masokistik.

Tetapi,

jika pesimisme diarahkan keluar, pasien dapat

bersikap kasar terhadap dunia dan mengeluh bahwa mereka telah diperlakukan
buruk oleh sanak saudaranya, anak-anak, orang tua, dan teman sejawat. Gangguan
di dalam fungsi sosial kadang-kadang merupakan alasan mengapa pasien dengan
gangguan distimik mencari pengobatan.

2. SIKLOTIMIA
Gejala

gangguan

siklotimik

adalah

ditemukan pada pada gangguan bipolar I

identik

dengan

tetapi biasanya

gejala

yang

kurang parah.

Kadang-kadang gejala mungkin sama dalam keparahannya tetapi dengan durasi


yang lebih singkat daripada yang terlihat pada gangguan bipolar I. kira-kira

setengah dari semua pasien gangguan siklotimik mengalami depresi sebagai


gejala utamanya. Gejala klinis pada gangguan bipolar adalah episode manik dan
depresi.
Gambaran klinis dari episode manik :

Rasa harga diri yang tinggi secara berlebihan. Ia merasa dirinya paling
hebat dan dapat melakukan apa saja.

Selalu gembira secara berlebihan

Gangguan tidur. Pasien biasanaya hanya butuk waktu 3-4 jam


untuk tidur tapi tidak merasa kelelahan.

Bicara cepat, kata-kata dan idenya banyak secara berlebihan.


Perhatian gampang teralih
Aktivitasnya berlebihan
Nafsu seksual yang meninggi

Sedangkan gambaran klinis episode depresif sebagai berikut :

Perasaan murung atau sedih


Mudah menangis
Minat dan kegembiraan hilang
Kelelahan
Nafsu makan terganggu
Gangguan tidur (insomnia/hipersomnia)
Putus asa
Pesimis
Sulit konsentrasi
Merasa bersalah
Sering berpikir untuk bunuh diri.

E. TERAPI
1

DISTIMIA
Kombinasi farmakoterapi dan terapi kognitif maupun perilaku mungkin

merupakan pengobatan yang paling efektif untuk gangguan distimik. Terapi


tersebut antara lain :
a. Terapi kognitif
Terapi Kognitif adalah suatu teknik dimana pasien diajarkan cara berpikir dan
berkelakukan

yang

baru

untuk

manggantikan

sikap negatif yang salah

terhadap dirinya sendiri, dunia dan masa depan. Terapi ini merupakan program
terapi jangka pendek yang diarahkan pada masalah saat ini dan pemecahannya.

b. Terapi perilaku
Terapi perilaku untuk gangguan depresif didasarkan pada teori bahwa depresi
disebabkan oleh hilangnya pendorong positif sebagai akibat perpisahan,
kematian,

atau

perubahan

lingkungan

yang

tiba-tiba. Berbagai

metode

pengobatan berpusat pada tujuan spesifik untuk meningkatkan aktivitas,untuk


mendapatkan pengalaman menyenangkan dan untuk mengajarkan pasien
bagaimana cara bersantai. Mengganti perilaku pribadi pasien terdepresi
dipercaya merupakan cara paling efektif untuk mengubah pikiran dan perasaan
depresi yang menyertai. Terapi ini seringkali digunakan untuk mengobati
keputusasaan yang dipelajari pada beberapa pasien yang tampaknya menghadapi
setiap tantangan kehidupan dengan rasa ketidakmampuan.
c. Psikoterapi berorientasi tilikan (Psikoanalitik)
Pendekatan psikoterapeutik berusaha untuk menghubungkan perkembangan dan
pemeliharaan gejala depresif dan ciri kepribadian maladaptif dengan konflik yang
tidak terpecahkan pada masa anak-anak awal. Tilikan ke dalam ekivalen depresi
(seperti penyalahgunaan zat) atau ke dalam kekecewaan masa anak-anak sebagai
pendahulu terhadap depresi dewasa dapat digali melalui terapi. Hubungan
sekarang yang ambivalen dengan orang tua, teman, dan orang lain di dalam
kehidupan pasien sekarng ini diperiksa. Gangguan distimik melibatkan suatu
keadaan depresi kronis yang menjadi cara hidup orang tertentu. Mereka secara
sadar mengalami dirinya sendiri berada di dalam belas kasihan dari objek internal
yang menyengsarakan yang tidak henti-hentinya menyiksa mereka.
d. Terapi interpersonal
Di

dalam

terapi

interpersonal

untuk

gangguan

distimik,

pengalaman

interpersonal pasien sekarang ini dan cara mereka mengatasi stres dinilai untuk
menurunkan gejala depresif dan menigkatkan harga diri. Terapi interpersonal
terdiri kira-kira 12-16 sesi mingguan dan dapat dikombinasi dengan medikasi
antidepresan.
e. Terapi keluarga dan kelompok
Terapi keluarga dapat membantu pasien dan keluarganya untuk menghadapi
gejala gangguan, khususnya jika sindrom subafektif yang didasarkan secara biologis
tampaknya akan timbul. Terapi kelompok dapat membantu pasien yang menarik

diri untuk mempelajari cara baru mengatasi masalah interpersonalnya di dalam


situasi sosial.
f.

Farmakoterapi

Antidepresan dibutuhkan untuk mengatasi gangguan vegetatif yang sering


dialami oleh penderita distimik, seperti gangguan tidur, rasa lelah, anhedonia
dan rasa nyeri. Respon pengobatan dengan dengan antidepresan sebesar 55
persen. Dari beberapa pelaporan diperoleh bahwa SSRIs, trisiklik antidepresan
dan monoamin oksidase inhibitor sama efektif, tetapi diantara obat tersebut
SSRIs yang dapat
ditoleransi lebih baik. Penggunaan antidepresan harus memperhatikan efek samping
yang ditimbulkan karena obat digunakan dalam jangka panjang. Pasien usia
lanjut

dan

anak

dengan

riwayat

gangguan perhatian

dapat

diberikan

psikostimulan seperti amfetamin dan metilfenidat. Hal-hal yang diperhatikan


dalam pemilihan antidepresan adalah:

Efek samping yang harus dihindari oleh individu tersebut


Individu memiliki riwayat penggunaan antidepresan sebelumnya
Apabila obat tersebut memiliki efektivitas yang baik bagi anggota
keluarga lainnya yang memiliki gejala yang sama. Penggunaan antidepresan
harus berhati-hati untuk pasien dengan
gangguan distimik dengan
komorbiditas gangguan kecemasan, karena dosis awal yang terlalu tinggi
atau peningkatan dosis yang terlalu cepat akan memberikan efek
samping yang akan mempengaruhi kepatuhan dalam berobat.

Antidepresan golongan SSRIs yang seringkali diberikan adalah fuoxetin


dengan dosis awal 20 mg (untuk orang dewasa), sekali
sehari, yang diberikan pada saat pagi hari. Dosis dapat ditingkatkan perlahan
dalam beberapa minggu sebesar 20 mg dengan dosis
maksimal 80mg/hari. Selain itu dapat juga diberikan sertralin dengan dosis awal 50
mg (untuk orang dewasa), sekali sehari, yang diberikan pada saat pagi hari, dan
dosis dapat ditingkatkan dalam beberapa minggu sebesar 50 mg, dengan
dosis maksimal 200mg/hari.
Antidepresan diberikan dengan waktu yang tidak terbatas, namun dosis dapat
diturunkan sesuai dengan evaluasi perbaikan gejala. Namun obat tidak boleh
diturunkan terlebih dahulu sampai 6 bulan stelah gejala membaik.
Selain

psikoterapi

dan

farmakoterapi,

kegiatan

olahraga

juga dapat

memperbaiki gejala. Pasien disarankan berolahraga sebanyak 3-4 kali seminggu.


Olahraga yang digunakan adalah bersifat aerobik.

2. SIKLOTIMIA
Terapi pada gangguan bipolar ini adalah secara farmakoterapi dan
psikoterapi
1.

Farmakoterapi

Medikasi yang diberikan sesuai dengan keadaan episode bipolar (manik atau
depresi). Maka itu, beberapa obat diindikasikan untuk episode
terutama

antipsikotik,

valproat,

akut

manik,

dan benzodiazepine(contoh: lorazepam,

clonazepam). Pilihan dari obat tersebut tergantung dari gejala yang ada
seperti gejala psikosis, agitasi, agresif, dan gangguan tidur. Antipsikotik atipikal
digunakan untuk pengobatan mania akut dan untuk menstabilkan mood.
Antidepresi spektrum luas dan ECT (Elecro Convulsive Therapy) digunakan
untuk episode depresi akut (contoh: depresi mayor).
a. Mood Stabilizing Medications

(Medikasi Penstabil Mood) biasanya

merupakan terapi lini pertama. Umumnya, pasien dengan gangguan bipolar


melanjutkan terapi ini selama beberapa tahun.
(1) Lithium sangat efektif mengontrol gejala mania dan mencegah rekuren
episode mania dan depresi.
(2) Asam valproat atau divalproex, juga sama efektifnya dengan lithium.
Asam valproat dan antikonvulsan lainnya dapat meningkatkan risiko
pikiran bunuh diri. Pasien yang mengkonsumsi obat antikonvulsan harus diawasi
dan mereka tidak diperbolehkan mengganti dosis tanpa konsultasi dengan dokternya.
b. Atipikal antipsikotik kadang-kadang diberikan juga.
(1) Olanzapine,

jika

diberikan

bersama

dengan

antidepresan

dapat

meringankan gejala mania yang parah atau psikosis. Namun beberapa studi
menyebutkan bahwa medikasi olanzapine dapat meningkatkan berat badan dan
meningkatkan risiko diabetes dan penyakit jantung.
(2) Aripiprazole
(3) Quetiapine (Seroquel)
(4) Risperidone (Risperdal)
c. Antidepresan juga kadang-kadang diberikan untuk mengatasi gejala depresi

pada gangguan bipolar. Baru-baru ini, studi yang didanai oleh NIMH
menunjukkan bahwa penambahan antidepresan dengan mood stabilizer
tidak lebih efektif dibandingkan dengan hanya memberikan antidepresan.

2. Psikoterapi
Penatalaksanaan pasien dengan gangguan bipolar termasuk edukasi pasien saat
awal dan terus menerus. Edukasi tidak hanya ditujukan kepada pasien, tetapi
juga keluarga mereka. Tidak hanya untuk mengatasi saat gejala muncul,
tetapi juga untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.
a. Terapi kognitif (Cognitive Behavioral Therapy)
Untuk menghilangkan episode depresif dan mencegah rekurennya dengan
membantu pasien mengidentifikasi dan uji kognitif negatif, mengembangkan cara
berfikir alternatif, fleksibel dan positif, juga melatih kembali respon kognitif dan
pikiran yang baru.
b. Terapi interpersonal
Memusatkan pada satu atau dua masalah interpersonal pasien yang sedang
dialaminya sekarang.
c. Terapi perilaku
Dengan memusatkan pada perilaku mal adaptif di dalam terapi, pasien belajar untuk
berfungsi di dunia dengan cara tertentu dimana mereka mendapat dorongan positif
dari lingkungan.
d. Terapi berorientasi psikoanalitik
Pendekatan psikoanalitik didasarkan pada depresi dan mania. Tujuannya
adalah untuk mendapatkan perubahan pada struktur atau karakter kepribadian
pasien, bukan untuk hilangkan gejala.
e. Terapi keluarga
Diindikasikan jika gangguan membahayakan perkawinan atau fungsi keluarga
pasien.

3. Terapi Lain
a. ECT (Electro Convulsive Therapy) dapat meringankan gangguan

bipolar yang parah, yang tidak dapat diatasi dengan terapi lainnya.
ECT sangat efektif untuk depresi yang parah, manik, atau episode
campuran, tetapi bukan terapi lini pertama.
b. Medikasi Tidur. Pasien dengan gangguan bipolar biasanya tidur lebih
baik setelah mendapat terapi gangguan bipolar. Tetapi jika masalah
tidur ini tetap ada, dokter dapat meresepkan sedatif atau obat tidur
lainnya.

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Gangguan afektif merupakan sekelompok penyakit yang bervariasi
beratnya. Gejala utamanya adalah perubahan mood yang secara periodik
berganti-gantian antara manik dan depresi, biasanya diikuti oleh gejala-gejala
yang khas. Mood adalah pengalaman emosional individu yang bersifat menyebar,
kondisi perasaan yang terus ada yang mewarnai kehidupan psikologis kita.
Perasaan sedih atau depresi bukanlah hal yang abnormal dalam konteks peristiwa
atau situasi yang penuh tekanan. Namun orang dengan Gangguan Mood (Mood
Disorder) mengalami gangguan mood yang sangat parah atau berlangsung sangat
lama dan mengganggu kemamapuan mereka untuk berfungsi dalam memenuhi
tanggung jawab secara normal. Faktor penyebab gangguan yang berperan penting
adalah gangguan biologis, faktor genetika, dan psikososial.
Gangguan mood adalah suatu kelompok kondisi klinis yang ditandai oleh
hilangnya perasaan kendali dan pengalaman subjektif adanya penderitaan berat.
Gangguan mood terdiri dari episode yang mendasari gangguan tersebut, yaitu
episdoe depresi, manik, campuran, dan hipomanik.
Gangguan distimik adalah bila terdapat episode depresi hampir setiap hari
dalam kurun waktu 2 tahun. Pada pasien distimik tidak ditemukan adanya gejala
psikotik. Pasien dengan gangguan distimik memiliki gejala mirip dengan
gangguan depresi mayor namun lebih banyak gejala yang bersifat subjektif. Dan
dikatakan gangguan siklotimik apabila selama sekurangnya 2 tahun, adanya
banyak episode dengan gejala hipomanik dan banyak periode dengan gejala
depresif yang tidak memenuhi kriteria untuk episode depresif berat.