Anda di halaman 1dari 27

TUGAS KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

LAPORAN KASUS INDIVIDU


FLOUR ALBUS e.c. GONOREA

Oleh
Aldy Valentino Maehca Rendak
H1A001007

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA


BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM/PUSKESMAS
GUNUNG SARI
2014

BAB I
PENDAHULUAN
Kesehatan reproduksi menurut World Health Organization (WHO) adalah kesejahteraan
fisik, mental dan sosial yang utuh bukan hanya tidak adanya penyakit atau kelemahan, dalam
segala hal yang berhubungan dengan sistem reproduksi dan fungsi-fungsinya serta prosesprosesnya. Kegagalan dalam menjaga kesehatan reproduksi ini dapat mengakibatkan adanya
gangguan reproduksi, yang misalnya disebabkan oleh adanya Infeksi Menular Seksual
(IMS).1
Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah penyakit infeksi yang penularannya terutama
melalui hubungan seksual. Cara hubungan kelamin tidak hanya terbatas secara alat kelamin
dengan alat kelamin (genito-genital), atau anus dengan alat kelamin (ano-genital) sehingga
kelainan yang timbul akibat penyakit kelamin ini tidak terbatas pada daerah alat kelamin
(ekstra genital). Penyebab infeksi tersebut dapat berupa kuman, jamur, virus dan parasit.
Dimana wanita lebih rentan dengan gangguan reproduksi yang berupa infeksi, karena organ
reproduksi wanita berhubungan langsung dengan dunia luar melalui liang senggama, rongga
ruang rahim, saluran telur atau tuba fallopii yang bermuara di dalam perut ibu.2
Diperkirakan lebih dari 340 juta kasus baru dari IMS yang dapat disembuhkan (sifilis,
gonore, infeksi klamidia, dan infeksi trikomonas) terjadi setiap tahunnya pada laki- laki dan
perempuan usia 15- 49 tahun. Secara epidemiologi penyakit ini tersebar di seluruh dunia,
angka kejadian paling tinggi tercatat di Asia Selatan dan Asia Tenggara, diikut di Afrika
bagian Sahara, Amerika Latin, dan Karibean.1
Saat ini di Indonesia prevalensi gonore dan klamedia tertinggi di Asia, dan infeksi
gonore di Indonesia menempati urutan yang tertinggi dari semua jenis PMS. Dari hasil
survalens Terpadu Biologis dan perilaku kelompok beresiko tinggi di Indonesia di Indonesia
(WPSL) rata-rata satu dari dua orang WPS dinyatakan terinfeksi setidaknya satu dari gonore,
klamidia, dan sifilis. Hal tersebut menjadi salah satu faktor tingginya prevalensi PMS di
WPSL, pada tahun 2011 Prevalensi Gonore meningkat dari 31,7% menjadi 36,6%, begitu
pula dengan Klamidia dari 35,3% menjadi 39,7%. Berbeda dengan Klamidia dan Gonore,
pada Sifilis terjadi penurunan prevalensi dari 12,8% menjadi 8,5%.3
Di NTB terjadi tren peningkatan angka Infeksi Menular Seksual jika diamati pada
tahun 2009-2012, dimana pada Tahun 2009 angka IMS sebanyak 326 kasus baru, kemudian
meningkat menjadi 669 kasus baru di tahun 2010, meningkat menjadi 818 kasus baru di
tahun 2011, dan menjadi 862 kasus baru di tahun 2012. Sedangkan secara spesifik untuk

Infeksi Menular Seksual lainnya selain HIV dan AIDS di NTB tahun 2012, angka tertinggi
ditemukan pada daerah Kota Mataram dengan 655 kasus (199 laki-laki dan 456
perempuan),sedangkan untuk angka terendah ditemukan di daerah Lombok Barat, Lombok
Utara dan Sumbawa dengan 0 kasus. Tidak ditemukan informasi spesifik orgnanisme kausal
IMS untuk wilayah NTB.4 Di wilayah kerja Puskesmas Gunung Sari, berdasarkan data yang
diperoleh diatas disimpulkan bahwa pada tahun 2012 tidak ditemukan adanya IMS,
sedangkan dalam bulan Oktober 2013, ketika pelayanan Klinik VCT Puskesmas Gunung Sari
mulai dijalankan hingga bulan November 2014 ditemukan 21 kasus baru IMS, dengan 9
kasus Gonorea dan 12 kasus kandidiasis. Selama kurun waktu 17-29 November 2014, terjadi
lonjakan kasus IMS, dimana ditemukan 6 kasus baru IMS dengan diagnosa Gonorea.5
Gonore merupakan salah satu penyakit hubungan seksual (PMS)

atau Sexually

Transmitted Disease (STD) yang disebabkan oleh kuman Neisserae gonorrhoeae (N


gonorrhoea) atau kuman Diplpcoccus Gram negatif. Kuman ini menginfeksi semua tingkat
usia dan dapat menyerang Pria dan Wanita. Pada wanita gejala dapat muncul dalam kurun
waktu yang cukup lama setelah pajanan agen infeksi, gejala dapat muncul 6 bulan sampai 1
tahun setelah kontak seksual, sehingga 80% wanita bersifat asimptomatik, dengan demikian
wanita biasanya tidak mencari pengobatan sampai terjadi komplikasi yang lebih berat, maka
itu dapat dikatakan sebagai sumber infeksi (source of infection). Adanya keluhan keputihan
atau cairan flour albus berwarna kuning kehijauan dan bau pada vagina dapat dicurigai suatu
gejala wanita terinfeksi gonore. Kuman yang hidup pada vulva dan serviks pada daerah
vagina ini dapat menyebabkan radang panggul dan sering terjadi kemandulan karena
tersumbatnya saluran indung telur (tuba fallopii).2
Mengingat adanya lonjakan kasus Gonorea yang terjadi di wilayah kerja PKM Gunung
Sari dan mengingat bahaya dari infeksi menular seksual ini, maka penulis merasa perlu
membuat laporan kasus mengenai seorang wanita yang mengalami keluhan keputihan yang
diduga disebabkan oleh infeksi N. gonorrhea.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. GAMBARAN PENYAKIT GONOREA DI PUSKESMAS GUNUNG SARI
Berdasarkan data dari Profil Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun
2012, diperoleh data bahwa tidak ada kasus IMS selain HIV dan AIDS di wilayah
Lombok Barat. Sehingga penulis menyimpulkan bahwa tidak ada kasus baru IMS di
wilayah kerja Puskesmas Gunung Sari selama tahun 2012. Berdasarkan data yang
diperoleh dari Klinik VCT Puskesmas Gunung Sari, didapatkan bahwa sejak bulan
Oktober 2013, ketika pelayanan Klinik VCT Puskesmas Gunung Sari mulai dijalankan
hingga bulan November 2014 ditemukan 21 kasus baru IMS, dengan 9 kasus Gonorea
dan 12 kasus kandidiasis. Selama kurun waktu 17-29 November 2014, terjadi lonjakan
kasus IMS, dimana ditemukan 6 kasus baru IMS dengan diagnosa Gonorea.5

Kasus IMS di PKM Gunung Sari


25
20
15

Kasus IMS di Gunung Sari

Linear (Kasus IMS di Gunung Sari)

10
5
0
2012

2013 -2014

Grafik 1. Kasus IMS di PKM Gunung Sari 2012-2014


B. KONSEP PENYAKIT GONOREA
2.1

Definisi
Gonore dalam arti luas mencakup semua penyakit yang disebabkan oleh
Neisseria gonorroheae. Penyakit menular seksual Gonore adalah penyakit infeksi yang
disebabkan oleh kuman Neisseria gonorrhoeae yang di tularkan melalui genital.
penyakit menular seksual akut pada lapisan mucocutaneus traktus genitourinarius

dengan klinis adanya sekret uretra yang purulent yang disebabkan oleh neisseria
gonorrhoeae. 6,7
2.2

Epidemiologi
Penyakit menular seksual yang di akibatkan oleh kuman Neisseria gonorrohea
bervariasi di antara komunitas ataupun pada populasi. Lebih dari 700.000 orang
dilaporkan menderita gonore setiap tahun di Amerika. Lebih banyak menyerang pria
daripada wanita. Dibutuhkan Screening untuk mencari mendeteksi resiko infeksi pada
golongan yang memiliki resiko tinggi infeksi. Pada wanita screening mungkin tidak di
rekomendasikan karena infeksi tidak menimbulkan gejala, di Amerika Serikat
screening dilakukan pada wanita seksual aktif, dan pada wanita hamil yang memiliki
resiko tinggi infeksi ( seperti memiliki riwayat infeksi Gonore sebelumnya atau
infeksi menular seksual lain, berganti-ganti pasangan, penggunaan kondom yang tidak
konsisten adalah mereka yang menikah dengan pekerja seks komersil dan pengguna
obat, tinggal di wilayah kelompok demografik dengan prevalensi penyakit yang
tinggi). Penyakit menular seksual Gonore ini lebih sering pada laki-laki. 6, 10
Di amerika Penderita gonore tertinggi ditemukan pada orang muda yang
belum menikah berusia antara 15-30 tahun, berpendidikan rendah dan status
sosioekonomi rendah.12

2.3

Etiologi
Penyebab Gonore adalah kuman Gonokokus yang termasuk dalam grup
Neisseria dan dikenal terdapat 4 spesies, yaitu N.gonorrhoeae dan N.meningitidis
yang bersifat patogen serta N.cattarrhalis dan N.pharyngis sicca yang bersifat
komensal. Keempat spesies ini sukar dibedakan kecuali dengan tes fermentasi. 7
Gonokokus termasuk golongan diplokokus berbentuk biji kopi berukuran 0,8
dan panjang 1,6 bersifat tahan asam. Pada sediaan langsung dengan pewarnaan
gram bersifat gram negatif, terlihat di luar dan di dalam leukosit, tidak tahan lama di
udara bebas, cepat mati dalam keadaan kering, tidak tahan suhu di atas 39 oC, dan
tidak tahan zat desinfektan, Gonokok membutuhkan suhu 35-37oC dan pH (7,2 -7,6)
untuk tumbuh.6,9

Gambar 1. Pewarnaan Gram Neisseria


gonorrhoeae

2.4

Patogenesis
Secara
morfologik
gonokokus

ini

terdiri atas 4 tipe, yaitu tipe 1 dan 2 yang mempunyai pili yang bersifat virulen, serta
tipe 3 dan 4 yang tidak mempunyai pili dan bersifat nonvirulen. Pili inilah yang akan
melekat pada mukosa epitel dan akan menimbulkan reaksi radang. 7,9
Daerah yang paling mudah terinfeksi ialah daerah dengan mukosa epitel
kuboid atau lapis gepeng yang belum berkembang (immature), yakni pada vagina
wanita sebelum pubertas. 7
2.5

Gejala Klinis
Masa tunas sangat singkat, pada pria umumnya bervariasi antara 2-5 hari,
kadang-kadang lebih lama dan hal ini disebabkan karena penderita telah mengobati
diri sendiri, tetapi dengan dosis tidak cukup atau gejala sangat samar sehingga tidak
diperhatikan oleh penderita. Pada wanita masa tunas sulit ditentukan karena pada
umumnya asimtomatik. 7
Gambaran klinik dan komplikasi Gonore sangat erat hubungannya dengan
susunan anatomi dan faal genital. Oleh karena itu perlu pengetahuan susunan anatomi
genitalia pria dan wanita. Kelainan yang timbul akibat hubungan kelamin selain cara
genito-genital, pada pria dan wanita dapat berupa orofaringitis, proktitis, dan
konjungtivitis. 7

Gambar 2. Anatomi Reproduksi Laki-laki

Gambar 3. Anatomi Reproduksi Perempuan

Infeksi Awal dan Komplikasi pada Pria

1. Uretritis
gejala klinis yang paling sering terjadi adalah uretritis anterior akuta
dan dapat menjalar ke proksimal, selanjutnya mengakibatkan komplikasi
lokal, asendens, dan disseminata. Keluhan subyektif berupa rasa gatal, panas
di bagian distal uretra di sekitar orifisium uretra eksternum, kemudian disusul
disuria, polakisuria, keluar duh dari tubuh dari ujung uretra yang kadangkadang disertai darah, dan disertai perasaan nyeri saat ereksi.
Pada pemeriksaan tampak orifisium uretra eksternum eritematosa,
edematosa, dan ektropion. Tampak pula duh tubuh yang mukopurulen, dan
pada beberapa kasus dapat terjadi pembesaran kelenjar getah bening inguinal
unilateral atau bilateral. 7

Gambar 4. Uretritis Gonore13

2. Tysonitis
Kelenjar tyson ialah kelenjar yang menghasilkan smegma. Infeksi
biasanya terjadi pada penderita dengan preputium yang sangat panjang dan
kebersihan yang kurang baik. Diagnosis di buat berdasarkan di temukannya
butir pus atau pembengkakan pada daerah frenulum yang nyeri tekan. Bila
duktus tertutup akan timbul abses dan merupakan sumber infeksi laten. 7
3. Parauretritis
Sering pada orang dengan orifisium uretra eksternum terbuka atau
hipospadia. Infeksi pada duktus ditandai dengan butir pus pada kedua muara
parauretra. 7
4. Littritis
Tidak ada gejala khusus, hanya pada urin ditemukan benang-benang
atau butir-butir. Bila salah satu saluran tersumbat, dapat terjadi abses folikular.
Diagnosis dengan uretroskopi. 7
5. Cowperitis
Bila hanya duktus yang terkena biasanya tanpa gejala. Kalau infeksi
terjadi pada kelenjar Cowper dapat terjadi abses. Keluhan berupa nyeri dan
adanya benjolan pada daerah perineum disertai rasa penuh dan panas, nyeri

pada waktu defekasi, dan disuria. Jika tidak diobati abses akan pecah melalui
kulit perineum, uretra, atau rektum dan mengakibatkan proktitis. 7
6. Prostatitis
Prostatitis akut ditandai dengan perasaan tidak enak pada daerah
perineum dan suprapubis, malese, demam, nyeri kencing sampai hematuria,
spasme otot uretra sehingga terjadi retensi urin, tenesmus ani, sulit buang air
besar, dan obstipasi. 7
Pada pemeriksaan teraba pembesaran prostat dengan konsistensi
kenyal, nyeri tekan, dan didapatkan fluktuasi bila telah terjadi abses. Jika tidak
diobati, abses akan pecah, masuk ke uretra posterior atau ke arah rektum
mengakibatkan proktitis.7
Bila prostatitis menjadi kronik, gejalanya ringan dan intermitten, tetapi
kadang-kadang menetap. Merasa tidak enak pada perinemum bagian dalam
dan rasa tidak enak bila duduk terlalu lama. Pada pemeriksaan prostat terasa
kenyal, berbentuk nodus, dan sedikit nyeri pada penekanan. Pemeriksaan
dengan pengurutan prostat biasanya sulit menemukan kuman diplokokus atau
gonokokus.7
7. Vesikulitis
Adalah radang akut yang mengenai vesika seminalis dan duktus
ejakulatorius, dapat timbul menyertai prostatitis akut dan epididimitis akut.
Gejala subyektif menyerupai gejala prostatitis akut, berupa demam,
polakisuria, hematuria terminal, nyeri pada waktu ereksi atau ejakulasi, dan
spasme mengandung darah. 7
Pemeriksaan melalui rektum dapat diraba vesikula seminalis yang
membengkak dan keras seperti sosis, memanjang di atas prostat. Ada kalanya
sulit menentukan batas kelenjar prostat yang membesar. 7
8. Vas deferenitis atau funikulitis
Gejala berupa perasaan nyeri pada daerah abdomen bagian bawah pada
sisi yang sama. 7
9. Epididimitis
Epididimitis akut biasanya unilateral dan setiap epididimitis biasanya
disertai deferentinitis. Keadaan yang mempermudah timbulnya epididimitis ini
adalah trauma pada uretra posterior yang disebabkan oleh salah penanganan
atau kelalaian penderita sendiri. Faktor yang mempengaruhi keadaan ini antara
lain irigasi yang terlalu sering dilakukan, cairan irigator terlalu panas atau
terlalu pekat, instrumentasi yang kasar, pengurutan prostat yang berlebihan,
atau aktivitas seksual dan jasmani yang berlebihan.

Epididimitis dan tali spermatika membengkak dan teraba panas, juga


testis sehingga menyerupai hidrokel sekunder. Pada penekanan terasa nyeri
sekali. Bila mengenai kedua epididimis dapat mengakibatkan sterilitas. 7
10. Trigonitis
Infeksi asendens dari uretra posterior dapat mengenai trigonum vesika
urinaria. Trigonitis menimbulkan gejala poliuria, disuria terminal, dan
hematuria.7
Wanita dan pria homoseksual yang melakukan hubungan seks melalui anus
(anal sex) dapat menderita gonore pada rektumnya. Penderita akan merasakan tidak
nyaman nyeri, pruritus, discharge, atau tenesmus dan dari rektumnya keluar cairan.
Daerah di sekitar anus tampak merah dan kasar, serta tinjanya terbungkus oleh lendir
dan nanah.12
Infeksi Awal dan Komplikasi pada Wanita
Gambaran klinis dan perjalanan penyakit pada wanita berbeda dengan pria.
Hal ini disebabkan oleh perbedaan anatomi dan fisiologis alat kelamin pria dan
wanita. Pada wanita, baik penyakitnya akut maupun kronik, gejala subyektif jarang
ditemukan dan hampir tidak pernah didapati kelainan obyektif. Pada umumnya
wanita datang jika telah terjadi komplikasi. Sebagian besar penderita ditemukan
pada waktu pemeriksaan antenatal atau pemeriksaan keluarga berencana. 7
Disamping itu wanita mengalami tiga masa perkembangan :
Masa prapubertas
Epitel vagina dalam keadaan belum berkembang (sangat tipis), sehingga dapat
terjadi vaginitis gonore. 7

Masa reproduktif
Lapisan selaput lendir vagina menjadi matang, dan tebal dengan banyak glikogen
dan basil Doderlein. Basil Doderlein akan memecahkan glikogen sehingga
suasana menjadi asam dan suasana ini tidak menguntungkan untuk tumbuhnya

kuman gonokokus. 7
Masa menopause
Selaput lendir vagina menjadi atrofi, kadar glikogen menurun, dan basil
Doderlein juga berkurang, sehingga suasana asam berkurang dan suasana ini
menguntungkan untuk kuman gonokokus, jadi menjadi mudah terjadi vaginitis
gonore. 7
Pada mulanya hanya serviks uteri yang terkena infeksi. Duh tubuh yang

mukopurulen dan mengandung banyak gonokokus mengalir ke luar dan menyerang

uretra, duktus parauretra, kelenjar Bartholin, rektum, dan dapat juga naik sampai
pada daerah kandung telur.7
1. Uretritis
Gejala utama ialah disuria, kadang-kadang poliuria. Pada pemeriksaan, orifisium
uretra eksternum tampak merah, edematosa dan terdapat sekret mukopurulen. 7
2. Parauretritis / Skenitis
Kelenjar parauretra dapat terkena, tetapi abses jarang terjadi. 7
3. Servisitis
Dapat asimtomatik, kadang-kadang menimbulkan rasa nyeri pada punggung
bawah pada pemeriksaan, serviks tampak merah dengan erosi dan sekret
mukopurulen. Duh tubuh akan terlihat lebih banyak bila terjadi servisitis akut
atau disertai vaginitis yang disebabkan Trichomonas Vaginalis.8
4. Bartolinitis
Labium mayor pada sisi yang terkena membengkak, merah dan nyeri tekan.
Kelenjar Bartholin membengkak, terasa nyeri sekali bila penderita berjalan dan
penderita sukar duduk. Bila saluran kelenjar tersumbat dapat timbul abses dan
dapat pecah melalui mukosa atau kulit. Kalau tidak diobati dapat menjadi rekuren
atau menjadi kista. 7
5. Salpingitis
Peradangan dapat bersifat akut, subakut, atau kronis. Faktor predisposisi nya
yaitu :
Masa puerperium (nifas)
Dilatasi setelah kuretase
Pemakaian IUD, tindakan AKDR ( alat kontrasepsi dalam rahim )
Cara infeksi langsung dari serviks melalui tuba Fallopi sampai pada
daerah salping dan ovarium sehingga dapat menimbulkan penyakit radang
panggul (PRP). Infeksi PRP ini dapat menimbulkan kehamilan ektopik dan
sterilitas. Kira-kira 10% wanita dengan gonore akan berakhir dengan PRP.
Gejalanya terasa nyeri pada daerah abdomen bawah, duh tubuh vagina, disuria,
dan menstruasi yang tidak teratur atau abnormal. 7
Harus dibuat diagnosis banding dengan beberapa penyakit lain yang
menimbulkan gejala hampir sama, misalnya : kehamilan di luar kandungan,
apendisitis akut, abortus septik, endometriosis, ileitis regional, dan divertikulitis.
Untuk menegakkan diagnosis dapat dilakukan pungsi kavum Dauglas dan
dilanjutkan kultur atau dengan laparoskopi mikroorganisme. 7
Selain mengenai alat-alat genital, gonore juga dapat menyebabkan
infeksi nongenital , seperti :
1. Proktitis

10

Proktitis pada pria dan wanita pada umumnya asimptomatik. Pada


wanita dapat terjadi karena kontaminasi dari vagina dan kadang-kadang
karena hubungan genitoanal seperti pada pria. Keluhan pada wanita biasanya
lebih ringan daripada pria, terasa seperti terbakar pada daerah anus dan pada
pemeriksaan tampak mukosa eritematosa, edematosa, dan tertutup pus
mukopurulen. 7
2. Orofaringitis
Cara infeksi melalui kontak secara orogenital. Faringitis dan tonsilitis
Gonore lebih sering daripada ginggivitis, stomatitis, atau laringitis. Keluhan
sering bersifat asimtomatik. Bila ada keluhan sukar dibedakan dengan infeksi
tenggorokan yang disebabkan kuman lain. Pada pemeriksaan daerah orofaring
tampak eksudat mukopurulen yang ringan atau sedang. 7
3. Konjungtivitis
Penyakit ini dapat terjadi pada bayi yang baru lahir dari ibu yang
menderita servisitis Gonore. Pada orang dewasa infeksi terjadi karena
penularan pada konjungtiva melalui tangan atau alat-alat. Keluhannya berupa
fotofobia, konjungtiva bengkak dan merah dan keluar eksudat mukopurulen.
Bila tidak diobati dapat berakibat terjadinya ulkus kornea, panoftalmitis
sampai timbul kebutaan. 7
4. Gonore disseminata
Penyakit ini banyak didapat pada penderita dengan Gonore
asimtomatik sebelumnya, terutama wanita. Gejala yang timbul dapat berupa
artritis (terutama monoartritis), miokarditis, endokarditis, perikarditis,
2.6

meningitis, dan dermatitis. 7


Diagnosis
Diagnosis penyakit gonore didasarkan pada hasil pemeriksaan mikroskopik
terhadap nanah untuk menemukan bakteri penyebab gonore. Jika pada pemeriksaan
mikroskopik tidak ditemukan bakteri, maka dilakukan pembiakan di laboratorium. 7,12
Diagnosis ditegakkan atas dasar anamnesis, pemeriksaan klinis, dan
pemeriksaan penunjang yang terdiri dari 5 tahapan.
A. Sediaan langsung
Dengan menggunakan pewarnaan gram akan ditemukan kuman Gonokokus gram
negatif, intraseluler dan ekstraseluler. Bahan duh tubuh pada pria di ambil dari
daerah fosa navikularis, sedangkan pada wanita diambil dari uretra, muara
kelenjar Bartholin, serviks, dan rektum. 7
B. Kultur
11

Untuk identifikasi perlu dilakukan pembiakan (kultur). Dua macam media yang
dapat digunakan adalah :
1. Media transpor
2. Media pertumbuhan
Contoh media transpor adalah :
Media Stuart
Hanya untuk transpor saja, sehingga perlu ditanam kembali pada media

pertumbuhan. 7
Media Transgrow
Media ini selektif dan nutritif untuk N.gonorrhoeae dan N.meningitidis, dalam
perjalanan dapat bertahan hingga 96 jam dan merupakan gabungan media
transpor dan media pertumbuhan, sehingga tidak perlu ditanam pada media
pertumbuhan. Media ini merupakan modifikasi media Thayer Martin dengan

menambahkan trimetoprim untuk mematikan Proteus spp. 7


Contoh media pertumbuhan adalah :
Mc Leods chocolate agar
Berisi agar coklat, agar serum, dan agar hidrokel. Selain kuman Gonokokus,

kuman-kuman yang lain juga dapat tumbuh. 7


Media Thayer Martin
Media ini selektif mengisolasi Gonokokus. Mengandung vankomisin untuk
menekan pertumbuhan kuman gram posisif, kolestimetat untuk menekan
pertumbuhan bakteri gram negatif, dan nistatin untuk menekan pertumbuhan

jamur. 7
Modified Thayer Martin agar
Isinya ditambah dengan trimetoprim untuk mencegah pertumbuhan kuman

Proteus spp. 7
C. Tes definitif
1.
Tes oksidasi
Reagen oksidasi yang mengandung larutan tertrametil-p-fenilendiamin
hidroklorida 1% ditambahkan pada koloni Gonokokus tersangka. Semua
Neisseria memberi reaksi positif dengan perubahan warna koloni yang semula
2.

bening berubah menjadi merah muda sampai merah lembayung. 7


Tes fermentasi
Tes oksidasi positif dilanjutkan dengan tes fermentasi memakai glukosa,

maltosa, dan sukrosa. Kuman Gonokokus hanya meragikan glukosa. 7


D. Tes beta-laktamase
Pemeriksaan beta-laktamase dengan menggunakan cefinase TM disc. BBL
961192 yang mengandung chromogenic cephalosporine, akan menyebabkan
perubahan warna dari kuning menjadi merah apabila kuman mengandung enzim
beta-laktamase.7

12

E. Tes Thomson
Tes Thomson berguna untuk mengetahui sampai sejauh mana infeksi sudah
berlangsung. Dahulu pemeriksaan ini perlu dilakukan karena pengobatan pada
waktu itu ialah pengobatan setempat.
Pada tes ini ada syarat yang perlu diperhatikan :
Sebaiknya dilakukan setelah bangun pagi
Urin dibagi dalam dua gelas
Tidak boleh menahan kencing dari gelas I ke gelas II.
Syarat mutlak ialah kandung kencing harus mengandung air seni paling sedikit
80-100 ml, jika air seni kurang dari 80 ml, maka gelas II sukar di nilai karena
baru menguras uretra anterior. 7
Hasil pembacaan:

2.7

Gelas I

Gelas II

Arti

Jernih

Jernih

Tidak ada infeksi

Keruh

Jernih

Infeksi uretritis anterior

Keruh
Jernih

Keruh
Keruh

Panuretritis
Tidak mungkin

Pengobatan
Pada pengobatan yang perlu diperhatikan adalah efektivitas, harga, dan sedikit
mungkin efek toksiknya. Pilihan utama ialah penisilin + probenesid, kecuali di daerah
yang tinggi insidensi Neisseria gonorrhoeae penghasil Penisilinase (N.G.P.P). secara
epidemiologis pengobatan yang dianjurkan adalah obat dengan dosis tunggal. Macammacam obat yang dapat digunakan antara lain : 7,11,12
Penisilin
Yang efektif adalah penisilin G prokain akua. Dosis 4,8 juta unit + 1 gram
probenesid. Obat tersebut dapat menutupi gejala sifilis. Kontraindikasinya ialah

alergi penisilin. 7
Ampisilin dan amoksisilin
Ampisilin dosisnya ialah 3,5 gram + 1 gram probenesid, dan amoksisilin 3 gram +
1 gram probenesid. Suntikan penisilin tidak dianjurkan. Kontraindikasinya ialah
alergi penisilin. Untuk daerah dengan Neisseria gonorrhoeae penghasil Penisilinase

(N.G.P.P) yang tinggi, penisilin, ampisilin, dan amoksisislin tidak dianjurkan. 7


Sefalosporin
Seftriaksone (generasi ke-3) cukup efektif dengan dosis 250 mg i.m, sefoperazon
dengan dosis 0,05 sampai 1,00 g secara intramuskular. Sefiksim 400 mg per oral
dosis tunggal memberi angka kesembuhan > 95%.7

13

Spektinomisin
Dosisnya ialah 2 gram i.m. baik untuk penderita yang alergi penisilin, yang
mengalami kegagalan pengobatan dengan penisilin, dan terhadap penderita yang

juga tersangka menderita sifilis karena obat ini tidak menutupi gejala sifilis.7
Kanamisin
Dosisnya 2 gram i.m. baik untuk penderita yang alergi penisilin, gagal dengan
pengobatan penisilin dan tersangka sifilis.7
Tiamfenikol
Dosisnya 3,5 gram per oral. Tidak dianjurkan pemakaiannya pada kehamilan.7
Kuinolon
Obat yang menjadi pilihan adalah ofloksasin 400 mg, siprofloksasin 250-500 mg,
dan norfloksasin 800 mg secara oral. Mengingat pada beberapa tahun terakhir ini
resistensi terhadap siprofloksasin dan ofloksasin semakin tinggi, maka golongan
kuinolon yang dianjurkan adalah Levofloksasin 250 mg per oral dosis tunggal.
Obat dengan dosis tunggal yang tidak efektif lagi adalah tetrasiklin, streptomisin,
dan spiramisin.7
Terapi Ganda untuk Infeksi Gonokokal dan Chlamydial
Infeksi Gonore sering kali di ikuti oleh infeksi non Gonore, yaitu Chlamydia
trachomatis. Hal ini menyebabkan pengobatan yang dilakukan pada pasien yang
menderita infeksi Gonore juga diberikan terapi infeksi Chlamydia trachomatis, di
Amerika Serikat kebanyakan Gonokokus telah resisten terhadap Azitromisin dan
Doksisiklin,

terapi

pendamping

mungkin

dibutuhkan

untuk

mengurangi

kemungkinan terjadinya N.Gonorhoeae yang resisten terhadap antibiotik. Terdapat


suatu data yang terbatas bahwa kombinasi Azitromisin dan Sefalosporin oral
2.8

efektif dalam pengobatan faringitis. 10


Gonore yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae penghasil penisilinase
(N.G.P.P)
Gonore dengan galur Neisseria gonorrhoeae penghasil penisilase (N.G.P.P) sukar
diobati dengan penisiline dan derivatnya, walaupun dengan peninggian dosis. Di
samping itu harus dibedakan dengan Gonokokus yang resisten ringan terhadap
antibiotik yang disebabkan karena mutasi pada lokus. Resistensi ringan ini masih
dapat diobati dengan penisilin dengan cara peninggian dosis penisiline dan disebut
resisten relatif. 7,10
Gejala klinis dan komplikasi Gonore dengan galur N.G.P.P ini tidak berbeda dengan
Gonore biasa. Cara diagnostiknya ialah dengan melakukan tes idiometrik atau
asidometrik pada koloni yang tumbuh pada pembiakan.7,10
2.8.1 Pengobatan

14

Obat-obat yang dapat digunakan untuk galur N.G.P.P ialah kuinolon,


spektinomisin, kanamisin, sefalosporin, dan tiamfenikol.7
Namun di Amerika Serikat kuinolon sudah tidak digunakan lagi karena
sebagai terapi Gonore dan kondisi terkait seperti PID , hal ini dikarenakan
telah terjadi resistensi N.gonorrhoeae terhadap kuinolon. Terdapat satu kelas
antimikroba yang direkomendasikan untuk pengobatan N.gonorrhoeae yaitu
golongan sefalosporin.10
Recommended Regimens
Ceftriaxone 250 mg IM in a single dose
OR, IF NOT AN OPTION
Cefixime 400 mg orally in a single dose
OR
Single-dose injectible cephalosporin regimens
PLUS
Azithromycin 1g orally in a single dose
OR
Doxycycline 100 mg orally twice a day for 7 days

Terapi Gonore tanpa komplikasi

Ceftriaksone inject 250 mg dosis tunggal efektif dalam pengobatan Gonore


karena

memiliki

efek

bakterisid

tinggi

dalam

darah.

Ceftriakson

menyembuhkan 99,2 % dari urogenital dan anorektal, sedangkan 98,9 % untuk


infeksi faring.10
2.9

Follow Up
Pasien yang didiagnosis dengan infeksi Gonore tanpa komplikasi yang telah
diterapi dengan atau tanpa regimen alternatif tidak membutuhkan pemeriksaan untuk
lebih memastikan ( periksa ulang 3-4 minggu setelah terapi selesai ). Pasien yang
memiliki gejala menetap setelah terapi harus di evaluasi dengan kultur N.gonorrhoeae,
dan dilakukan tes resistensi antimikroba. Uretriris menetap, servisitis, atau proktitis
dapat disebabkan oleh C.trachomatis atau organisme lain. 10
Infeksi N.gonorrhoeae kebanyakan mereka yang telah terdiagnosis dan di
terapi dalam beberapa bulan. Paling banyak infeksi merupakan hasil dari reinfeksi
daripada kegagalan terapi, hal ini adalah indikasi untuk dibutuhkannya peningkatan
edukasi pasien dan juga ke pasangan seks nya. Dokter harusnya akan menasihati
pasien untuk melakukan pemeriksaan ulang seletah 3 bulan terapi. 10

2.10

Managemen Mitra Seksual


Pengobatan efektif pada pasien yang menderita penyakit menular seksual
adalah dengan turut mengobati mitra seksual untuk mencegah infeksi berulang dan

15

penularan yang lebih lanjut. Pasien harus dianjurkan untuk membawa pasangan seks
agar di lakukan evaluasi dan pengobatan. Mitra seksual yang menderita infeksi
N.gonorrhoeae yang melakukan kontak seksual terakhir dalam waktu 60 hari sebelum
timbul gejala atau terdiagnosis infeksi harus dievaluasi dan diterapi infeksi untuk
N.gonorrhoeae dan C.trachomatis. Jika pasien melakukan kontak seksual > 60 hari
sebelum timbul gejala atau didiagnosis, pasangan seks terakhir harus di obati. Pasien
harus di instruksikan untuk tidak melakukan hubungan seksual sampai terapi
sempurna dan sampai mereka serta pasangan seks mereka tidak menunjukkan gejala
lagi. Jika mitra seksual tidak memungkinkan untuk secara langsung di evaluasi, maka
dapat dipertimbangan untuk memberikan langsung terapi infeksi N.gonorrhoeae dan
C.trachomatis. 10

16

BAB III
LAPORAN KASUS
I.

IDENTITAS
Nama
Usia
Pekerjaan
Agama
Suku
Pendidikan
Status
Alamat
Tanggal

II.

:
:
:
:
:

Ny. F
32 tahun
IRT
Islam
Sasak
: SMA
: Menikah
: Pakel- Gunung Sari -Lombok Barat
: 28 November 2014

ANAMNESIS
Keluhan Utama : Keluar cairan kuning kental dari lubang kemaluan
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang dengan keluhan keluar cairan kuning kental dari lubang kemaluan, keluhan
ini dirasakan sejak sekitar satu bulan terakhir dan cairan tersebut keluar hampir setiap
hari. Pasien menjelaskan tidak ada darah yang keluar bersama cairan tersebut, dan
menurut pasien cairan yang keluar tersebut tidak berbau. Selain itu pasien juga
mengeluhkan adanya bintik-bintik kemerahan yang muncul pada dinding bagian dalam
kemaluan korban yang terasa gatal dan perih, pasien sering menggaruk daerah
kemaluannnya karena keluhan gatal tersebut. Pasien jua mengeluhkan daerah
kemaluannya terasa nyeri ketika pasien berhubungan seksual dengan suaminya. Pasien
tidak mengeluhkan nyeri pada saat berkemih.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Pasien mengaku pernah memiliki riwayat keluhan yang serupa, yaitu keluar cairan kuning
kental dari lubang kemaluan sekitar 14 tahun yang lalu, namun disertai dengan bau busuk.
Pasien tidak pernah berobat untuk mengatasi keluhannya ini.
Riwayat kencing manis disangkal oleh pasien, riwayat tekanan dara tinggi disangkal oleh
pasien.
Riwayat Penyakit Keluarga :
Menurut pasien, suami pasien tidak memiliki keluhan seperti pasien, yaitu keluar cairan
kuning kental dari lubang kemaluan. Riwayat penyakit tekanan darah tinggi, kencing
manis, dan asma disangkal oleh pasien.

17

Riwayat Alergi :
Pasien mengatakan tidak mempunyai alergi terhadap obat-obatan dan makanan.
Riwayat Kontrasepsi : Pasien tidak pernah menggunakan kontrasepsi
Riwayat Obstetri dan Ginekologi:
-

Pasien mengaku sudah menikah sebanyak 1x, dimana suami pasien saat ini adalah
pasangan nikah pertama pasien. Pernikahan pasien sudah berlangsung sekitar 14
tahun, kawin pertama kali usia 24 tahun. Pasien mengatakan mengalami haid pertama
(menarke) pada usia 14 tahun. Pasien memiliki siklus haid yang teratur (30 hari).
Pasien belum pernah hamil hingga saat ini.
Pasien hanya memiliki satu partner hubungan seksual yaitu suami pasien saat ini.

Riwayat sosial, ekonomi, dan lingkungan


-

Pasien memiliki 1 orang suami, Tn. M, berusia 48 tahun dan tidak memiliki anak.
Suami pasien sebelumnya pernah menikah sebanyak satu kali dan bercerai, serta
memiliki anak dari isteri pertamanya, yaitu AS, laki-laki, usia 24 tahun, Karyawan
Hotel.

Gambar 4. Genogram Keluarga Ny. F


Keterangan:
Bercerai
Laki-laki
Perempuan

Pasien tinggal dirumah bersama isterinya di rumah permanen.


Pasien bukan seorang perokok.

18

Pasien tidak bekerja. Tulang punggung keluarga pasien adalah suami pasien yang
bekerja sebagai supir truk pengangkut sembako. Penghasilan keluarga pasien rata-

rata perbulan adalah sekitar Rp. 2.000.000,-.


Untuk keperluan manci cuci kakus, serta keperluan untuk memasak, pasien

menggunakan air PAM.


Pasien memiliki fasilitas kamar mandi yang berada di dalam rumah pasien. Di dalam

kamar mandi terdapat jamban jongkok.


Untuk memasak, keluarga pasien menggunakan kompor gas.
Pasien memiliki tempat pembuangan sampah di halaman samping rumah pasien,
sampah tersebut dibakar setiap 2-3 hari sekali.

III.

STATUS GENERALIS
Keadaan umum : baik
Kesadaran
: compos mentis
Tanda Vital
-

Tekanan darah
Frekuensi nadi
Frekuensi napas
Suhu

: 120/70 mmHg
: 87 x/menit, kuat angkat, teratur
: 20 x/menit
: 36,4oC

Kepala dan Leher :


1.

Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-),

2.

THT : struktur normal, tidak nampak tanda radang

3.

Mulut

: Bibir sianpasienis (-), mukpasiena mulut normal, gigi

geligi dalam batas normal.


4.

Leher

: Pembesaran KGB (-), kelenjar tiroid tidak membesar.

5.

Nervus Cranialis I XII : dalam batas normal

Thorax :

Inspeksi : Retraksi intercpasiental (-), pergerakan dinding dada simetris


Palpasi : Gerakan dinding dada simetris, fremitus vokal sama antara kiri dan

kanan
Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru. Batas jantung tidak dievaluasi.
Auskultasi
Pulmo
: Vesikuler (+/+) , Ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
Cor

Abdomen :
Inspeksi

: S1S2 tunggal reguler, murmur (-), gallop (-)


: Massa (-), distensi (-), scar operasi (-)

19

IV.

Auskultasi
Perkusi
Palpasi

: BU (+) N
: Timpani
: Supel, nyeri tekan (-), massa (-), hepar dan lien tidak teraba

STATUS GINEKOLOGI
Daerah Genitalis

Inspeksi

terlihat sekret mukopurulen berwarna kuning di sekitar dinding

vagina, sekret banyak. Tampat papul eritema diskret di dinding dalam vagina.
Tampak adanya ekskoriasi di daerah peri genital yang kemerahan.
V.

VI.
VII.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Urinalisis (28 November 2014):
Protein : (-)
Glukosa : (-)
Leukosit : 20-25/lpb
Eritrosit : (-)
Epitel
: 2-5/lpb
Bakteri : Ditemukan adanya bakteri coccus gram negative, berbentuk diplokokus
seperti biji kopi.
DIAGNOSIS
Flour Albus e.c. Gonorea
PENATALAKSANAAN
a. Rencana Terapi
Pemberian antibiotik: Tiamfenikol 3,5 gram peroral dosis tunggal
Pemberian obat simptomatis : Antinyeri yaitu Asam Mefenamat Tablet (3dd tab
I) dan Antipruritus yaitu Loratadin (I dd tab I).
b. KIE pasien dan keluarga
Memberitahu pasien untuk tidak melakukan kontak seksual hingga dinyatakan
sembuh dan menjaga kebersihan daerah genital. Jika pasien ingin melakukan
hubungan seksual dengan suami pasien, maka pasien diharapkan untuk

menggunakan kondom.
Pasien diminta untuk sebaiknya mengajak suami pasien untuk diperiksa di PKM
untuk mengetahui apakah suami pasien juga terinfeksi kuman N. Gonorrhea.

VIII. PROGNOSIS
Bonam

20

21

BAB IV
PEMBAHASAN
Suatu penyakit dapat terjadi oleh karena adanya ketidakseimbangan faktor-faktor
utama yang dapat mempengaruhi derajat kesehatan individu. Paradigma hidup sehat yang
diperkenalkan oleh H. L. Blum mencakup 4 faktor yaitu faktor genetik (keturunan), perilaku
(gaya hidup) individu atau masyarakat, faktor lingkungan (sosial ekonomi, fisik, politik) dan
faktor pelayanan kesehatan (jenis, cakupan dan kualitasnya). Berikut akan dijelaskan faktorfaktor yang mempengaruhi kondisi penyakit yang dialami pasien dalam kasus berdasarkan
paradigma hidup sehat Blum.
Faktor Biologis
Keadaan malnutrisi, gizi kurang, atau kekurangan kalori, protein, vitamin, zat besi dan
lain-lain, akan mempengaruhi daya tahan tubuh seseorang sehingga rentan terhadap penyakit
termasuk Infeksi Menular Seksual Gonorea. Daya tahan tubuh pasien dalam kondisi yang
baik karena pasien setiap hari tidak beraktivitas berat dan hanya mengurus rumah pasien saja.
Menurut pasien, asupan nutrisi pasien cukup, pasien tidak pernah telat makan ataupun
kekurangan sumber makanan karena kondisi ekonomi pasien yang cukup memadai. Namun
pasien sebelumnya pernah mengalami keluhan keputihan serupa dengan keluhan keputihan
pasien saat ini dan tidak pernah diobati, kondisi membuat pasien lebih rentan untuk
mengalami infeksi menular seksual. Sehingga menurut penulis, kondisi biologis ini
mempengaruhi kejadian infeksi menular seksual Gonorea pada pasien.
Faktor Perilaku
Faktor perilaku yang dapat berperan pada timbulnya penyakit mencakup pengetahuan,
sikap dan tindakan, dalam hal ini khususnya mengenai penyakit infeksi menular seksual
Gonorea. Setelah dilakukan anamnesis dan kunjungan rumah, diketahui bahwa pengetahuan
pasien mengenai resiko IMS serta hal-hal yang memperberat penyakitnya sangatlah kurang.
Sehingga hal ini berdampak pada perilaku pasien yang tidak mencari pertolongan kesehatan
untuk mengatasi permasalahan kesehatannya.
Ada beberapa perilaku beresiko yang dapat menjadi penyebab seseorang terkena
infeksi menular seksual, yaitu: penggunaan kondom dan hubungan seksual dengan satu
pasangan. Menurut penjelasan pasien, pasien tidak pernah menggunakan kondom wanita
sebelumnya saat berhubungan seksual. Selama satu bulan terakhir ketika pasien mengalami
keputihan, pasien masih melakukan hubungan seksual dengan suami pasien, namun tanpa

22

penggunaan kondom wanita ataupun suami pasien menggunakan kondom pria. Perilaku ini
memang bukan menjadi faktor penyebab pasien mengalami infeksi menular seksual, namun
perilaku ini memungkinkan pasien untuk menularkan infeksi menular seksualnya kepada
pasangan seksualnya, yaitu suami pasien. Pasien juga mejelaskan bahwa selama ini pasien
tidak pernah melakukan hubungan seksual dengan pasangan lain, selain dengan suami pasien.
Jadi, menurut penulis perilaku pasien dalam hal penggunaan kondom dan hubungan seksual
dengan satu pasangan tidak mempengaruhi kejadian infeksi menular seksual yang dialami
oleh pasien.
Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan dianggap cukup berperan dalam proses penyebaran infeksi meular
seksual Gonorea ini adalah perilaku pasangan seksual pasien, yaitu dalam hal ini adalah
suami pasien: apakah pasangan seksual pasien sering bergonta-ganti pasangan dan apakah
pasangan seksual pasien menggunakan kondom jika berhubungan seksual dengan pasangan
seksual yang lain. Menurut penjelasan pasien, suami pasien sebelum menikah dengan pasien,
sering bergonta-ganti pasangan seksual dan menurut pasien tidak pernah mempraktikan
penggunaan kondom. Namun menurut pasien, saat ini suami pasien tidak mempunyai
pasangan seksual lain selain pasien. Namun, menurut penulis tidak menutup kemungkinan
suami pasien memiliki pasangan seksual lain, jika memang pernyataan pasien bahwa pasien
hanya berhubungan seksual dengan suami pasien selama 14 tahun terakhir adalah benar.
Selain itu mengingat pekerjaan pasien adalah sebagai supir truk pengangkut bahan sembako
yang sering bepergian keluar daerah dalam jangka waktu yang lama.
Faktor Pelayanan Kesehatan
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh penulis di Puskesmas Gunung Sari,
penulis menemukan bentuk program promotif dan preventif yang konkrit untuk kasus Infeksi
Menular Seksual (IMS). Puskesmas Gunung Sari memiliki Klinik VCT yang menangani
kasus HIV-AIDS dan kasus IMS lainnya. Klinik VCT di Puskesmas Gunung Sari ini berperan
dalam melakukan pemeriksaan lanjutan bagi para penderita IMS (misalnya tes IVA pada
wanita dan melakukan pemeriksaan swab vagina) serta menjadi pusat konseling bagi pasien
dengan infeksi menular seksual. Selain itu Klinik VCT di Puskesmas Gunung Sari juga
menjalankan program penyuluhan kesehatan reproduksi secara rutin di Posyandu, sehingga
proses penyampaian informasi mengenai kesehatan reproduksi, terutama yang berhubungan
dengan infeksi menuluar seksual telah cukup proporsinya yang diterima oleh masyarakat

23

umum. Hal ini seharusnya mampu meningkatkan angka kunjungan pasien dengan infeksi
menular seksual, namun fakta di lapangan menunjukkan angka kunjungan pasien dengan
infeksi menular seksual ke Puskesmas Gunung Sari masih rendah, dalam kurun waktu satu
tahun terakhir (2013-2014) kasus IMS yang ditangani oleh PKM hanya berjumlah 21 kasus.
Menurut penulis hal ini lebih disebabkan oleh tingkat kesadaran masyarakat yang rendah
untuk berobat dan rasa malu pasien dengan IMS untuk berobat karena stigma masyarakat
yang buruk mengenai penderita IMS.
Mutu pelayanan kesehatan Puskesmas Kediri memiliki obat-obatan yang cukup
memadai untuk penatalaksanaan IMS Gonorea, mulai dari obat untuk terapi simptomatis dan
terapi antibiotika. Antibiotika seperti Thiamfenikol telah tersedia di Puskesmas Gunung Sari,
dimana antibiotika ini merupakan obat yang dipergunakan dalam penatalaksanaan Gonorea
sesuai dengan buku Panduan Klinis di Fasilitas Kesehatan Primer Tahun 2013 yang
dikeluarkan oleh Menteri Kesehatan. Sehingga untuk mutu pelayanan ditinjau dari
ketersediaan obat maka pelayanan kesehatan Puskesmas Kediri sudah cukup baik. Acuan
standar pelayanan Gonorea yang dipergunakan di Puskesmas Gunung Sari mengacu pada
Panduan Klinis di Fasilitas Kesehatan Primer Tahun 2013. Sehingga pelayanan untuk
kasus Gonorea telah memiliki standar yang baik. Selain itu di Puskesmas Gunung Sari telah
tersedia Klinik VCT, sehingga konseling pasien dengan IMS dapat dilakukan dengan baik
oleh tenaga konselor terlatih.
Biaya pelayanan kesehatan di Puskesmas Gunung Sari cukup terjangkau, pasien
umum hanya dikenakan biaya 5.000 rupiah untuk rawat jalan. Sedangkan untuk pasien BPJS
tidak dikenakan biaya apapun. Pasien pada kasus ini menggunakan jenis pelayanan pasien
umum, sehingga pasien dikenanakan biaya untuk seluruh jasa layanan kesehatan yang
diperolehnya selama berobat di Puskesmas Gunung Sari. Mengingat kondisi ekonomi pasien
yang cukup memadai, penulis menganggap bahwa pasien tidak mengalami kesulitan dalam
hal pembiayaan kesehatan.
Ketersediaan SDM di Puskesmas Gunung Sari sudah cukup memadai, dengan
tenaga kesehatan baik di Balai Pelayanan Dewasa (rawat jalan) ataupun IGD sudah mengerti
tentang alur diagnosis dan alur pelayanan pasien dengan infeksi menular seksual.
Akses pasien ke Puskesmas Gunung Sari mudah, rumah pasien berjarak kurang lebih
2 km dari Puskesmas, pasien menggunakan ojek motor untuk dapat pergi mencari pengobatan
ke Puskesmas.

24

DETERMINAN KESEHATAN

25

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Terdapat program terkait promotif dan preventif infeksi menular seksual di Puskesmas
Gunung Sari, yaitu Klinik VCT yang telah dimulai pelayanannya sejak Oktober 2013.
2. Determinan masalah kesehatan yang ada pada pasien kasus ini adalah faktor biologis:
imunitas (paparan sebelumya terhadap IMS namun tidak pernah mendapat
pengobatan) dan faktor lingkungan: perilaku suami pasien (pengunaan kondom
dan hubungan seksual dengan satu pasangan).
5.2 Saran
Klinik VCT perlu melakukan follow up dalam bentuk kunjungan rumah untuk menilai
apakah pasien-pasien yang sebelumnya mengalami IMS masih berada dalam kelompok
beresiko IMS, sehingga dapat dilakukan intervensi lebih lanjut pada pasien-pasien
tersebut.

26

KEPUSTAKAAN

1. CDC. Sexually transmitted diseases treatment guidelines, 2006. Morbidity and Mortality
Weekly Report 2006;55(RR-11).
2. Hapsari, Gretta. Perilaku Pemakaian Kondom Dengan Kejadian Infeksi Menular Seksual.
Jurnal Keperawatan Ilmiah STIKES Hang Tuah Surabaya. 2012; Vol 3 No.2 : 16-27.
3. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Surveilans Terpadu Biologis dan Perilaku,
Pada Kelompok Berisiko Tinggi di Indonesia Tahun 2011. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia; 2011.
4. Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat. Profil Dinas Kesehatan Provinsi Nusa
Tenggara Barat Tahun 2012. Mataram: Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat;
2013.
5. Klinik VCT Puskesmas Gunung Sari. Laporan Kunjungan Pasien Klinik VCT Puskesmas
Gunung Sari 2013-2014. Gunung Sari: Puskesmas Gunung Sari.
6. Djuanda, Adhi, dkk. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Ed.5. Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia; 2007. 369-380
7. Fitzpatrick, Thomas, dkk. Dermatology In General Medicine fourth edition. The
McGraw-Hill Companies, Inc.1993; 2760-2764.
8. Fitzpatrick, Thomas, dkk. Dermatology In General Medicine seventh edition. The
McGraw-Hill Companies, Inc. 2008; 1994-1996
9. Harahap, Mawarli. Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta: Hipokrates; 2000.
10. Moolenaar, Ronald et all. Morbidity and Mortality Weekly Report. Sexually Transmitted
Diseases Treatment Guidelines, 2010; Vol 59. : 49-53.
11. Brian

Wong,

MD.

Gonococcal

http://emedicine.medscape.com/article
12. Nicholas John Bennett, MB, BCh,

Infections.
PhD.

Gonorrhea.

Diunduh
Diunduh

dari
dari

http://emedicine.medscape.com/article

27