Anda di halaman 1dari 19

Makalah Farmakognosi II

Alkaloid Kuinolizidin

Kelompok 7
Nama anggota :
Avi Rahmadiah

(1306376995)

Herra Williany Monalissa

(1306403516)

Whinanda Chalista

(1306480710)

Kelas:
Farmakognosi II-A

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS INDONESIA
2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Alkaloid merupakan senyawa yang mengandung substansi dasar
nitrogen basa dan pada umumnya dalam bentuk cincin heterosiklik. Alkaloid
terdistribusi secara luas hampir pada seluruh tanaman. Diperkirakan sekitar
15 20% vascular tanaman mengandung alkaloid. Alkaloid biasanya
memiliki rasa pahit dan sangat beracun.
Alkaloid dapat diklasifikasikan lagi berdasarkan tipe dasar kimia pada
nitrogen yang terkandung dalam bentuk heterosiklik. Klasifikasi alkaloid
tersebut meliputi alkaloid pirrolizidin , alkaloid piperidin, alkaloid piridin,
alkaloid indol, alkaloid kuinolizidin, alkaloid steroid, dan lain sebagainya.
Peranan alkaloid untuk jaringan tanaman tidak pasti, mereka telah dikenal
sebagai produk metabolik sekunder.
Alkaloid Kuinolizidin merupakan alkaloid derivat lisin, via kadaverin.
Alkaloid kuinolizidin terdapat dalam berbagai bentuk, yaitu bisiklik, trisiklik,
dan tetrasiklik. Lebih dari 200 alkaloid kuinolizidin yang telah diketahui,
umumnya terdistribusi dalam famili Leguminoceae (Fabaceae).pada makalah
ini, penulis akan membahas alkaloid kuinolizidin, yakni Lupinin,Lupanin dan
Spartein beserta tanaman penghasilnya.
1.2 Tujuan Penulisan
1.2.1 Mengetahui secara umum tentang alkaloid quinolizidin
1.2.2 Mengetahui tanaman penghasil alkaloid quinolizidin
1.2.3 Mengetahui morfologi, habitat, penyebaran, kandungan, dan khasiat
dari tanaman penghasil quinolizidin
1.2.4 Mengetahui bagaimana cara memperoleh simplisia dari tanaman
penghasil quinolizidin
1.2.5 Memenuhi tugas Farmakognosi 2
1.3 Rumusan Masalah
1.3.1 Apa yang dimaksud dengan alkaloid kuinolizidin?
1.3.2 Tanaman apa saja yang mengandung alkaloid kuinolizidin beserta
turunannya?
2
1.3.3 Bagaimana morfologi penyebaran, dan cara mendapatkan simplisia
dari tanaman tersebut?

1.4 Metode Penulisan


Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah metode
studi pustaka. Penulis melakukan studi dari berbagai sumber, yakni buku,
situs internet, dan jurnal 10 tahun terakhir. Melalui studi pustaka, penulis
menggabungkan teori-teori lama dan baru untuk mendapatkan hasil studi
yang lebih menarik

BAB II
ISI
3.1 Alkaloid Kuinolizidin
Alkaloid Kuinolizidin atau yang disebut juga alkaloid lubin
merupakan alkaloid derivat lisin, via kadaverin. Alkaloid

kuinolizidin

terdapat dalam berbagai bentuk, yaitu bisiklik, trisiklik, dan tetrasiklik. Lebih
dari 200 alkaloid kuinolizidin yang telah diketahui, umumnya terdistribusi
dalam famili Leguminoceae (Fabaceae). Lebih dari 100

komponen

kuinolizidin ini diproduksi dari genus Lupinus yang memiliki lebih dari 400
spesies yang umumnya berhabitat di Amerika. Namun kuinolizidin juga dapat
ditemukan

pada

beberapa

famili

tanaman

lain

yaitu

Rubiaceae,

Chenopodiacae, dan Solanaceae.

Gambar 2.1.Struktur inti kuinolizidin


Dalam bentuk bakunya (tanaman yang belum diolah), alkaloid
kuinolizidin memberikan efek toksik dengan rasa pahit yang digunakan
sebagai mekanisme pertahanan terhadap herbivora dan serangga. Namun
beberapa serangga seperti kutu daun dan larva dari ngengat Uresiphita
reversalis resisten terhadap efek toksik tersebut. Selain sebagai senyawa
pertahanan pada tumbuhan, kuinolizidin berfungsi dalam transportasi
nitrogen dalam floem dan mungkin menjadi penyimpanan nitrogen dalam
biji.
Efek toksik yang dapat ditimbulkan kuinolizidin pada manusia berupa
malaise, mual, midriasis, gangguan pernapasan,

gangguan penglihatan,

kelemahan yang progresif, bahkan koma. Oleh karena itu, dalam


pengolahannya level alkaloidnya dikurangi dengan teknik tertentu seperti
4

plant breeding programm dan chemical extraction technique, serta merendam


biji mentah dalam air sebelum digunakan. (Cheeke, P,1989)
Secara klinis, kuinolizidin memiliki efek hipoglikemik (lupinin),
sitotoksik dan antipiretik (matrine), halusinogenik (cystine), teratogenik
(anagyrine), antiaritmia dan oksitoksik (spartein, lupanin). Sparteine dari
Cyticus scoparius digunakan sebagai antiaritmia, namun penggunaan obat
menurun dan dibatasi karena sekitar 10% dari semua penderita tidak dapat
memetabolisme alkaloid ini dan menderita keracunan. (Manske, R. and
Holmes, H.,1950)
Ekstrak alkaloid dari spesies Lupinus menunjukkan aktivitas
antimikroba, antijamur, dan antikanker. Lupinus albus menunjukkan efek
bakteri Gram negatif inhibitor, sedang Lupinus varius dan Lupinus
densiflorus menunjukkan efek bakteri Gram positif inhibitor. Sifat toksisitas
dan farmakologi kuinolizidin dapat dilihat melalui penghambatan kanal Na +
dan K+ dan interaksinya dengan nikotinik dan muskarinik reseptor asetilkolin.

Gambar 2.2. Struktur kimia dari alkaloid kuinolizidin/alkaloid lupin

Gambar. 2.3.Biosintesis alkaloid kuinolizidin


2.1.1 Lupinin
Lupinin memiliki rumus molekul C10H19NO dengan berat
molekul 162,26396 g/mol. Titik leburnya berada pada kisaran suhu 6869C dan titik didihnya berada di suhu 270C. Lupinin merupakan
alkaloid kuinolizidin bisiklik dan banyak ditemukan pada Lupinus
luteus, namun dapat juga ditemukan pada Anabasis aphylla. Lupinin
larut dalam air, etanol, eter , kloroform dan memiliki efek hipoglikemik.
(Pharmacognosy,n.d)

Gambar.2.4. Strukrut lupinin


2.1.1.1 Tanaman Lupinus luteus L
a. Klasifikasi tanaman
Kerajaan

: Plantae

SubKerajaan

: Tracheobionta

SuperDivisi

: Spermatophyta

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Subkelas

: Rosidae

Bangsa

: Fabales

Familia

: Fabaceae Leguminosae

Jenis

: Lupinus L.

Species

: Lupinus luteus L.

Simplisia

: Lupini lutei semen, Lupinin lutei herba


(Pfaf.org,n.d.)

b. Persebaran
Tersebar luas di wilayah timur Mediterranean. Dijumpai
mulai dari selatan Eropa hingga ke dataran tinggi Afrika Utara
dan Timur, dan benua Amerika. Di benua Amerika dijumpai di
bagian timur dari Amerika Utara dan Amerika Selatan, namun
tidak ditemukan di lembah Amazon. (Plants.usda.gov, n.d.)
c. Morfologi tanaman
Terna tahunan, tumbuh tegak, terdapat akar pemanjat
(taproot) yang kuat dan dalam. Daun majemuk campuran,
tangkai daun panjang, terdiri atas 9 - 11 daun. Perbungaan
tandan terminal, terdiri atas 20-30 bunga; kelopak daun
berbibir, mahkota bunga berwarna kuning, oranye, atau
keputih-putihan; pods datar berwarna kuning-coklat saat
matang dengan 3-5 biji; biji berwarna krem muda, coklat muda
berbintik hitam, jarang ditemukan yang berwana hitam.

Gambar.2.5.Tanaman Lupinus luteus L.


d. Kandungan
Lupinus luteus mengandung 60% lupinin, 30% spartein
dari total alkaloid yang ada.
e. Simplisia dan cara perolehannya
Simplisia yang digunakan adalah biji dan herba.

Lupini lutei semen


Biji diambil dari pods yang hampir matang, berwarna
kuning-coklat, pada bulan Agustus. Pods dibiarkan mengering,
hingga pods berwana coklat, kemudian akan terdengar bunyi
gemeretak (kadang-kadang) dan pods dapat dibuka dengan
mudah. Ambil bijinya, keringkan. Umumnya terdapat 3-5 biji
dalam 1 pods berwarna coklat berbintik hitam. (Osbourn, A.
and Lanzotti, V,2009)
Lupini lutei herba
Ambil bagian batang, daun, dan bunga Lupinus luteus
pada bulan Agustus kemudian keringkan. (Osbourn, A. and
Lanzotti, V,2009)
f. Isolasi
Lupinus diisolasi dari biji Lupinus luteus dengan
ekstraksi kontinu menggunakan 50% etanol yang mengandung
2% asam asetat atau dengan perkolasi biji dengan etanol yang
mengandung 1% HCl.
Etanol akan dihilangkan oleh distilasi dan residu direbus
dengan air, disaring dari lemak jika ada, dibuat basa dengan
NaOH dan diekstraksi dengan eter. Larutan encer diekstraksi
dengan HCl encer dan sparteine diendapkan sebagai merkuri
klorida.
Filtrat diencerkan dengan air,

lupinine dipisahkan

dengan membuat alkali dan kocok dengan eter. Hal ini


dimurnikan dengan kristalisasi dari pertroleum encer.
Atau alkaloid dalam larutan HCl dapat dipisahkan
dengan membuat larutan alkali dan kocok dengan ekstrak
petroleum encer dengan memisahkan pelarut dan residu titrasi
yang dilarutkan dalam air dengan asam, metil merah
digunakan sebagai indicator. Lupinine memberikan endapan
dengan sebagian besar reagen alkaloid. (Osbourn, A. and
Lanzotti, V,2009)
g. Pemalsuan

Hingga saat ini belum ditemukan pemalsuan dari


tanaman Lupinus luteus L.
2.1.2 Lupanin
Lupanin merupakan salah satu alkaloid quinolizidine tetrasiklik
dengan inti quinolizidin yang memiliki berat molekul sebesar 248
gr/mol dan titik lebur sebesar 127oC (Aniszewski, 2007).

Gambar 2.6. Struktur lupanin


Lupanin banyak terdapat pada tanaman dari genus lupin
(Lupinus L) dan genus dari tanaman sapu (Cytisus L). Beberapa
tanaman yang juga mengandung alkaloid lupanin dapat dilihat pada
tabel. Salah satu tanaman yang memiliki kandungan utama Lupanin
adalah Lupinus albus L dan kandungan terbesar alkaloid lupanin berada
pada biji tanaman tersebut. Umumnya pada biji tanaman lupin, lupanin
adalah salah satu konstituen racun utama. Lupanin dapat memblok
transmisi ganglion, menurunkan kontraktilitas jantung dan otot polos
pada uterus. Nilai akut oral LD 50 untuk lupanin adalah 410 mg/kg dari
tubuh tikus. (Crozier, Clifford & Ashihara, 2006) Namun pada daerah
Eropa Selatan dan Mesir biji tanaman Lupinus Albus digunakan sebagai
cemilan setelah kandungan alkaloidnya dihilangkan. (Pilegaard & Gry,
2008)
Tabel.2.1 Tanaman mengadung alkaloid lupanin
Nama Tanaman
Lupinus albus L
Lupinus mexicanus
Genista microcephala
Genista tinctoria L
Cytisus scoparius L

Famili
Fabaceae
Fabaceae
Fabaceae
Fabaceae
Cytisus

2.1.2.1 Tanaman Lupinus albus L


a. Klasifikasi tanaman
Kerajaan
: Plantae
SubKerajaan
: Tracheobionta

Simplisia
Biji
Herba
Kulit
Herba
Herba

10

Super Divisi
: Spermatophyta
Divisi
: Magnoliophyta
Kelas
: Magnoliopsida
Subkelas
: Rosidae
Bangsa
: Fabales
FamiliA
: Fabaceae
Genus
: Lupinus
Spesies
: Lupinus albus L
b. Morfologi tanaman
Lupinus albus L merupakan tanaman dengan tinggi
sekitar 2 kaki, daun menjari dengan panjang 1-2 inchi, bagian
atas daun halu dan bagian bawah berambut. Bunga berada pada
bagian terminal, berwarna putih dan agak besar. Tanaman ini
memiliki buah berbentuk seperti polong dengan panjang 3-4
inchi, berisi tiga sampai enam buah biji yang tidak berbau dan
memiliki rasa pahit. (Botanical.com, 2015)

Gambar.2.7. Bunga, Daun, dan Buah dari Lupinus albus L


c. Habitat dan Penyebaran
Tanaman Lupinus albus L

tumbuh di daerah yang

kurang subur, dimana didaerah tersebut spesies lain yang


tumbuh lebih sedikit. Tanaman tersebut biasanya tumbuh pada
suhu 15-25oC pada musim tumbuh, suhu optimum sekitar 1824oC. Suhu dan kelembapan lebih tinggi menghalangi
pertumbuhan dari bunga dan buah (polong). Tanaman Lupinus
albus L memiliki toleransi tinggi terhadap suhu rendah, namun
suhu -6 sampai -8oC dapat mengganggu pertumbuhan. Curah
hujan optimal sebesar 400-1000 mm. (Jansen,2006)
Tanaman Lupinus albus L berasal dari Eropa selatan
dan Asia Barat. Dan telah dibudidayakan sejak dahulu di
Yunani, Itali dan Mesir. Saat ini, tanaman Lupinus albus L sulit

11

ditemukan di Eropa Tengah, tetapi tumbuh di Amerika dengan


cukup pesat. Tanaman tersebut juga dapat tumbuh didaerah
lain seperti disekitar Mediterania, Laut Hitam dan Lembah Nil,
termasuk Sudan dan ethiopia. Terkadang dapat tumbuh di
daerah Kenya, Tanzania, Zimbabwe, Afrika Selatan, Mauritius,
U.S dan Amerika Selatan (Yang utama di Brazile dan Chile).
(Jansen,2006)
d. Kandungan
Bji Lupinus albus L, baik yang matang maupun
mentah,

mengandung

air,protein,

karbohidrat,

Kalsium,

Magnesium, Fosfor, Besi, Zink, Vitamin A, tiamin, ribovlafin,


niasin, vitamin B6, Folat,asam askorbat, asam amino esensial
(Triptopan, lisin,metionin, fenilalanin, treonin, valin, lisin dan
isoleuisn),

Asam

Lemak

dan

alkaloid.

(Jansen,2006).

Kandungan alkaloid tertinggi dari biji Lupinus albus L adalah


lupanin. Selain lupanin, juga terdapat alkaloid lain dengan
kandungan yang cukup besar yakni, 13-hidroksilupanin
(Pilegaard & Gry, 2008). Kandungan alkaloid lengkap dari biji
Lupinus albus L dapat dilihat pada gambar dibawah ini

12

Gambar.2.8.Distribusi alkaloid (%) dalam Biji Lupinus albus L


e. Simplisia dan cara perolehan
Simplisia yang digunakan dari tanaman Lupinus albus
L adalah biji. Biji tersebut dipanen setelah tanaman berumur
116-130 hari, ketika kulit polong berwarna kecoklatan (Azo
et al. 2012)
f. Kegunaan
Tanaman Lupinus albus L memiliki banyak kegunaan
terutama pada bagian biji dari tanaman tersebut. Biji yang telah
dimemarkan, dan direndam di dalam air dapat digunakan untuk
bisul secara topikal, tepung Lupin dicampur dengan madu atau

13

cuka digunakan sebagai obat cacing, dan biji yang dibakar


dapat digunakan sebagai anti serangga. Selain kegunaan untuk
pengobatan, biji dari tanaman tersebut dapat digunakan sebagai
makanan ringan, sebelum dikonsumsi, biji direndam selama 13 hari untuk menghilangkan rasa pahit dan kandungan alkaloid
yang beracun, kemudian dimasak. (Jansen,2006)
g. Pemalsuan
Hingga saat ini belum ditemukan pemalsuan dari
tanaman Lupinus albus L.
2.1.3 Spartein
Spartein merupakan salah satu alkaloid lupin yang memiliki inti
kuinolizidin. Pada konfigurasinya, spartein dapat menjadi (-)spartein
atau biasa dikenal dengan lupinidin. Tanaman Cytisus scoparius (Scotch
broom) memiliki kandungan utama spartein. Kandungan spartein
lainnya dapat ditemukan pada tanaman Lupinus mutabilis, L.
polyphyllus, dan Genista tinctoria.
Karakteristik Spartein
Rumus Molekul : C15H26N2
Berat Molekul
: 234,4 g/mol
Titik didih
: 325C
Titik lebur
: 30,5C

Gambar 2.9. Struktur spartein


2.1.3.1 Tanaman Cytisus scoparius
C. scoparius merupakan tumbuhan semak anggota suku
Fabaceae yang dapat ditemukan di Eropa khusunya daerah
Mediterrania. C. scoparius dapat tumbuh hingga setinggi 4 meter
dan memiliki bentuk unik yakni bunganya mekar dalam jumlah
yang banyak hingga menutupi ranting-ranting pohon dengan lebat
seperti sapu. Hal tersebut yang membuat tanaman ini disebut
Broom. Tanaman Broom memiliki berbagai jenis nama, seperti

14

Scotch Broom, French Broom, Spanish Broom, tergantung tempat


pertumbuhan dan perkembangannya.
a. Klasifikasi tanaman
Kerajaan : Plantae
Bangsa : Magnoliophyta
Kelas
: Magnoliopsida
Ordo
: Fabales
Keluarga : Fabaceae
Genus
: Cytisus
Spesies : Cystisus scoparius
b. Morfologi tanaman
Morfologi tanaman Cystisus scoparius dapat dilihat pada tabel
Tabel 2.2. Morfologi tanaman Cystisus scoparius
Bagian
Daun

Deskripsi
Bentuknya kecil dan satu bagian hanya
ditumbuhi sampai 3 helai daun dan
memilki

rambut

permukaannya.
Bunga

Daun

halus

pada

hampir

tidak

terlihat karena hitamnya batang


Warna bunga adalah kuning terang dan
menyerupai
polong.

bunga
Tumbuh

tanaman
tunggal

kacang
atau

berpasangan tiap ujungnya. Mekar pada


Buah

bulan Mei-Juni
Buah polong berwarna hitam dihasilkan
dari kuntum bunga. Panjang buah 2-3
cm dan lebar 8 mm. ketika matang, buah
akan retak lalu pecah dan melontarkan
biji-biji kecil berwarna hitam.

c.

Habitat dan Penyebaran


Cytisus scoparius tumbuh baik di daerah kering, tanah
berpasir yang terpapar sinar matahari langsung, dan tanah yang
memiliki pH dari 4.5 hingga 7.5 serta negara dengan musim
dingin. Di Eropa, Broom sebagian besar ditemukan di daerah
rumputan asam, area agrikultur, daerah tepian sungai, dan

15

bukit pasir. C. scoparius biasanya tumbuh pada habitat yang


dilindungi dimana terdapat padang rumput serta lahan yang
terpelihara.
Penyebaran Broom lebih banyak di sekitaran Eropa,
dari Irlandia hingga Ukraina dan dari Spanyol Selatan hingga
Swedia Selatan. Di Afrika, tanaman ini sangat jarang
ditemukan, pertama kali ditemukan di Afrika Selatan. Di
Amerika, Broom cukup banyak tersebar ke berbagai negara. Di
Asia sendiri, Broom tersebar luas di Iran dan Jepang. Indonesia
belum memiliki tanaman Broom yang mungkin dapat
disebabkan karena iklim tropis Indonesia dan sifat tanah yang
tidak cocok untuk perkembangan Broom
d. Kandungan
Kandungan yang ada pada Cytisus scoparius lebih dari
70 senyawa, terdiri dari alkaloid quinolizidin, alkenol,
benzenoid,

flavonol,

karotenoid,

steroid,

lemak,

dan

monoterpen yang tersebar di seluruh bagian tanaman (herb).


e.

(Koduru,2014)
Simplisia dan cara perolehan
Seluruh dari bagian Cytisus scoparius dapat digunakan
sebagai bahan yang bermanfaat. Sebagian besar, simplisia
didapatkan dengan cara pengeringan. Namun, bentuk segarnya
juga dapat digunakan. Pengeringan dilakukan dalam suhu
ruangan dan penyimpanan tidak boleh lebih dari 12 bulan

f.

karena dapat mengurangi kandungan aktif pada tanaman.


Kegunaan
Broom herba memiliki sedikit kandungan narkotik
yang mempengaruhi respirasi dan regulasi hati. Bunga broom
yang muda memiliki efek kardiotonik, diuretic, emetik, dan
vasokonstiktor.

Tumbuhan

tergolong

diuretik

kuat,

menstimulasi produksi urin sehingga menyebabkan penurunan


retensi air. Broom dapat mencegah perdarahan saat melahirkan
dengan membuat otot uterus berkontraksi. Namun, tidak
dianjurkan untuk ibu hamil dengan tekanan darah tinggi.

16

Selain kebutuhan medis, serat akar Broom dapat


digunakan sebagai bahan pembuat kertas dan pakaian. Pucuk
dari tanaman Broom dijadikan perisa pahit untuk bir. Bijinya
dapat ditambahkan ke dalam kopi. Bunga Broom dapat
g.

dimakan langsung sebagai salad.


Pemalsuan
Hingga saat ini belum ditemukan pemalsuan dari
tanaman Cytisus scoparius

17

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Alkaloid Kuinolizidin merupakan alkaloid derivat lisin, via
kadaverin. Alkaloid kuinolizidin terdapat dalam berbagai bentuk, yaitu
bisiklik, trisiklik, dan tetrasiklik. Salah satu contoh alkaloid kuinolizidin
bisiklik adalah lupinin dan banyak ditemukan pada Lupinus luteus L.
Sedangkan alkaloid kuinolizidin tetrasiklik yaitu lupanin dan spartein.
Lupanin banyak terdapat pada tanaman Lupinus albus L dan Spartein
banyak terdapat pada Cytisus scoparius.
3.2 Saran
Pengetahuan mengenai alkoloid sebaiknya disebar secara masif
kepada masyarakat karena alkaloid banyak mengandung manfaat. Selain itu
ada beberapa alkaloid tertentu yang beracun dan terdapat pada tanaman. Hal
tersebut dapat membahayakan masyarakat. Maka dari itu diperlukan
penyebaran pengetahuan secara intensif kepada masyarakat, agar tidak
terjadi hal hal yang tidak diinginkan.

18

18

DAFTAR PUSTAKA
Aniszewski, T. (2007). Alkaloids - secrets of life. Amsterdam: Elsevier.
Azo, W.M., G.P.P. Lane, W.P. Davis and N.D. Cannon.(2012). Bi-cropping white
lupins (Lupinus albus L.) with cereals for wholecrop forage in organic
farming: The effect of seed rate and harvest dates on crop yield and
quality. Biological Agriculture & Horticulture 28(2):86-100
Botanical.com,. (2015). A Modern Herbal | Lupins. Retrieved 26 June 2015, from
http://www.botanical.com/botanical/mgmh/l/lupins50.html#cul
Cabi.org,.(2015) Cytisus scoparius (broom) Retrieved 30 June 2015, from:
http://www.cabi.org/isc/datasheet/17610
Cheeke, P. (1989). Toxicants of plant origin. Boca Raton, Fla.: CRC Press.
Crozier, A., Clifford, M., & Ashihara, H. (2006). Plant secondary metabolites.
Oxford: Blackwell Pub.
Issg.org. (2015) issg Database: References for Cytisus scoparius Retrieved 30
June 2015 from: http://www.issg.org/database/species/references.asp?
si=441&fr=1&sts =&lang=EN
Jansen, P.C.M., (2006). Lupinus albus L. ROTA4U. Brink, M. & Belay, G.
(Editors). PROTA (Plant Resources of Tropical Africa / Ressources
vgtales de lAfrique tropicale), Wageningen, Netherlands. Retrieved 30
June 2015, from http://www.prota4u.org/search.asp
Koduru R.(2014) CYTISUS SCOPARIUS: A REVIEW OF ETHNOMEDICAL,
PHYTOCHEMICAL AND PHARMACOLOGICAL INFORMATION.
Indo American Journal of Pharmaceutical Research Retrieved 30 June
2015;4(4):2151-2169. from: http://www.scopemed.org/?mno=159455
Manske, R. and Holmes, H. (1950). Chemistry and Physiology. The Alkaloids,
Volume 1. Elsevier Science & Technology.

19

Osbourn, A. and Lanzotti, V. (2009). Plant-derived natural products. New York:


Springer-Verlag.
Pfaf.org, (n.d.). Lupinus luteus Yellow Lupin, European yellow lupine PFAF Plant
Database. [online] Available at: http://www.pfaf.org/.
Plants.usda.gov, (n.d.). Plants Profile for Lupinus luteus (European yellow
lupine). [online] Available at: http://plants.usda.gov/.
Pharmacognosy, (n.d.). Lupinine-Synonyms l-Lupinine; ()-Lupinine-obtained
from the seeds and herb of Lupinus luteus , Anabasis aphylla. [online]
Available at: http://www.epharmacognosy.com/.
Pilegaard, K., & Gry, J. (2008). Alkaloids in edible lupin seeds. Copenhagen:
Nordic Council of Ministers
Plant for A Future.(2015) Cytisus scoparius Broom, Scotch broom, Common
Broom

PFAF

Plant

Database

Retrieved

30

June

2015.from:

http://www.pfaf.org/user/Plant.aspx?LatinName=Cytisus+scoparius
Pubchem.ncbi.nlm.nih.gov. (2015). (-)-Sparteine | C15H26N2 - PubChem
Retrieved

30

June

2015

from:

http://pubchem.ncbi.nlm.nih.gov/compound/Sparteine#section
=Experimental-Properties
Wiki.bugwood.org. (2015) Cytisus scoparius - Bugwoodwiki Retrieved 30 June
2015 from: http://wiki.bugwood.org/Cytisus_scoparius