Anda di halaman 1dari 19

STATUS PENDERITA

I.

IDENTITAS
Nama

: Tn. MU

Umur

: 55 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Suku

: Makassar

Kewarganegaraan

: Indonesia

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Pensiunan

Alamat

: Rappocini Raya no.3A

Tgl pemeriksaan

: 28 April 2015

No. RM

: 07 01 56

II. ANAMNESIS
A. Keluhan utama

: Mata kiri merah

B. Anamnesis terpimpin

Dialami sejak tiga hari yang lalu, muncul perlahan-lahan dan semakin
memberat 2 hari terakhir. Mata merah disertai rasa panas, agak gatal, bengkak
dan berair. Cairan yang keluar tidak berwarna, tidak berbau dan encer. Selain
itu, pasien merasa penglihatannya normal, namun mata terasa ada yang
mengganjal sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman di mata kirinya.
Penglihatan kembar tidak ada, silau tidak ada, nyeri tidak ada, rasa pusing
pada kepala tidak ada. Riwayat terapi tidak ada. Riwayat trauma tidak ada.
Riwayat demam disangkal. Riwayat keluarga dan lingkungan sekitar dengan
gejala yang sama disangkal.
C. Riwayat Penyakit Dahulu
1.

Riwayat hipertensi

: disangkal

2.

Riwayat kencing manis

: disangkal

3.

Riwayat alergi obat dan makanan : disangkal

4.

Riwayat trauma mata

: disangkal

5.

Riwayat pemakaian softlens

: disangkal

D. Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat sakit serupa dirumah dan dilingkungan kerja disangkal.
III. PEMERIKSAAN FISIK
A. Kesan umum
Keadaan umum baik, compos mentis, gizi kesan cukup
B. Pemeriksaan visus
OD
6/6
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
4D
+2,50 D
2D

Visus
Visus jauh tanpa koreksi
Koreksi
Visus jauh dengan koreksi
terbaik
Visus dekat
Koreksi
Visus dekat dengan koreksi

OS
6/6
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
4D
+2,50 D
2D

C. Pemeriksaan segmen anterior


OD
Edema (-)
Sekret (-)
Hiperlakrimasi (-)

Pemeriksaan
Palpebra
Silia
Apparatus lakrimalis

Hiperemis (-)

Konjungtiva

Jernih
Dalam batas normal
Cokelat, Kripte (+),

Kornea (tes sensitivitas dan


flouresens jika ada)
BMD
Iris

arcus senilis (+)


Bulat, letak sentral,

Pupil

diameter 3mm
RCL (+)/RCTL (+)
(-)
Jernih

Refleks cahaya langsung/tak


langsung
Relative Afferent Pupillary
Defect (RAPD)
Lensa

OS
Edema (+)
Sekret (+), serous
Hiperlakrimasi (+)
Hiperemis (+), injeksi
konjungtiva (+)
Jernih
Dalam batas normal
Cokelat, Kripte (+),
arcus senilis (+)
Bulat, letak sentral,
diameter 3mm
RCL (+)/RCTL (+)
(-)
Jernih

D. Tes pergerakan bola mata

OD

OS

E. Tes lapangan pandang


Tidak di periksa
F.

Tekanan intraokuler
Metode Pemeriksaan

OD

OS

Tekanan Intraokuler
Palpasi
Indentasi Schiotz

Normal
Tidak diperiksa

Normal
Tidak diperiksa

G. Palpasi
OD
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada pembesaran

Palpasi
Nyeri tekan
Massa tumor
Glandula preaurikuler

Tidak ada

Edema

OS
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada pembesaran
Edema palpebra superior
et inferior

H. Tes buta warna


Tidak dilakukan pemeriksaan
I.

Pemeriksaan segmen posterior


Gambaran funduskopi:
Tidak dilakukan pemeriksaan
FOD

: (-)

FOS

: (-)

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Laboratorium
V.

: Tidak dilakukan pemeriksaan

DIAGNOSIS BANDING
OS konjungtivitis suspek viral
OS perdarahan subkonjungtiva
OS episkleritis

VI. DIAGNOSIS
OS konjungtivitis suspek Viral
ODS presbiopia
VII. TERAPI

Non Medikamentosa
o Beristirahat dan menghindari kontak dengan keluarga maupun
lingkungan di sekitarnya beberapa hari agar tidak menularkan ke
orang yang sehat. Pasien diberi penjelasan bahwa konjungtivitis
bisa menular melalui udara.
o Memberikan edukasi kepada pasien bahwa konjungtivitis karena
virus merupakan penyakit yang dapat sembuh secara spontan.
Pasien harus menjaga asupan nutrisi sehingga meningkatkan sistem
imun.

o Memberikan edukasi kepada pasien untuk tidak mengucek mata,


menghindari paparan debu (dapat menggunakan penutup misalnya
kaca mata hitam).
o Menjaga kebersihan diri dan lingkungan (mencuci tangan,
memisahkan handuk, pakaian, dan seprei pasien dengan keluarga
yang lain).
o Pemberian resep kaca mata baca sesuai hasil koreksi .

Medikamentosa
o Fluorometholone

1-2 tetes OS/hari


selama 24/48 jam

o Asam mefenamat

1x500 mg (jika perlu)

VIII. PROGNOSIS
Konjungtivitis
1. Ad vitam
2. Ad fungsionam
3. Ad sanam
4. Ad kosmetikum
Presbiopi
1. Ad vitam
2. Ad fungsionam
3. Ad sanam
4. Ad kosmetikum

OD
OD
Bonam
Bonam
Bonam
Bonam

OS
Bonam
Bonam
Bonam
Bonam
OS
Bonam
Bonam
Bonam
Bonam

TINJAUAN PUSTAKA
I.

ANATOMI KONJUNGTIVA
Kulit kelopak mata menyatu ke dalam kulit periorbital sekitarnya,

bervariasi dari 0,5 mm di margin kelopak mata hingga 1 mm di tepi orbital.

Kecuali untuk rambut vellus halus, hanya rambut dari kelopak mata yang
memiliki bulu mata, atau silia, yang dua kali lebih banyak sepanjang margin
kelopak mata atas dibanding kelopak mata bawah. Cilia akan terganti setiap 3-5
bulan; biasanya tumbuh kembali dalam 2 minggu setelah dipotong dan akan
tumbuh dalam waktu 2 bulan jika dicabut keluar. Silia menangkap partikel kecil
dan juga bekerja sebagai sensor untuk merangsang penutupan reflex kelopak
mata. Berkedip menambah pompa lakrimal untuk memproduksi air mata di atas
mata dan akan mendorong bahan asing dari mata.1
Secara anatomi, konjungtiva dibagi atas 3 bagian:

Konjungtiva tarsal yang menutupi tarsus, konjungtiva tarsal sukar

digerakkan dari tarsus.


Konjungtiva bulbi menutupi sklera dan mudah digerakkan dari sklera di
bawahnya.
Konjungtiva forniks yang merupakan tempat peralihan konjungtiva tarsal
dengan konjungtiva bulbi.2
Pada lapisan interior kelopak mata terdapat membran mukosa yang disebut

konjungtiva palpebral. Bagian ini terletak dekat dengan bola mata. Epitel
konjungtiva palpebral adalah epitel berlapis kolumnar rendah dengan sedikit sel
goblet. Epitel berlapis gepeng kulit tipis berlanjut hingg ke tepi kelopak mata dan
kemudian menyatu menjadi epitel berlapis silindris konjungtiva palpebral.3
Kantung konjungtiva terdiri atas konjungtiva bulbi, konjungtiva forniks
yang terbagi atas 3 bagian, lipatan semilunar dimedial, dan konjungtiva palpebral.
Serat otot polos dari m.levator superior mempertahankan forniks superior
sedangkan jaringan fibrous di pertahankan oleh m.rectus yang secara horizontal
difiksasi di bagian temporal konjungtiva. Karunkula adalah massa jaringan
berdaging yang mengandung rambut dan kelenjar sebasea. Kelenjar tarsal
konjungtiva melekat erat ke tarsus, dan konjungtiva bulbar melekat pada kapsul
Tenon. Jaringan-jaringan ini bersatu di limbus, dan membentuk tonjolan disebut
pagar Vogt. Daerah ini banyak mengandung sel-sel induk kornea.1

Gambar 1: Potongan sagittal konjungtiva palpebra superior.1

Morfologi sel dari epitel konjungtiva bervariasi dari epitel berlapis cuboid
di daerah tarsus hingga epitel selapis columner pada forniks hingga ke lapisan
skuamous bola mata. Dari permukaan morfologi tersebut, terdapat sel goblet
berjumlah sekitar 10% dari sel basal di epitel konjungtiva. Epitel tersebut yang
paling banyak di konjungtiva tarsal dan bulbar inferonasal konjungtiva.1
Substantia propria konjungtiva terdiri dari jaringan ikat longgar. Jaringan
konjungtiva limfoid yang terdiri dari limfosit dan leukosit lainnya terdapat banyak
di forniks. Limfosit berinteraksi dengan mukosa sel epitel melalui sinyal umpan
balik dimediasi oleh faktor-faktor pertumbuhan, sitokin, dan neuropeptida.
Palpebra konjungtiva mendapat suplai darah dari kelopak mata. Konjungtiva
bulbar disuplai oleh arteri siliaris anterior dari percabangan arteri ophthalmic.
Kapiler ini bersifat semipermeable dan fluorescein mudah bocor seperti halnya
koriokapiler.1
Konjungtiva palpebral mendapatkan suplai darah dari kelopak mata.
Konjungtiva bulbar mendapatkan suplai darah dari arteri ciliaris anterior yang
merupakan percabangan dari arteri oftalmika. 1

IV. KONJUNGTIVITIS
A. Definisi
Konjungtivitis adalah peradangan pada konjungtiva yang disebabkan oleh
4 penyebab utama yaitu virus, bakteri, allergen, dan iritan. Dari keempat hal
tersebut, infeksi akut yang paling banyak terdapat pada pelayanan primer
disebabkan oleh virus dan bakteri. Sekitar 1% - 2% dari seluruh konsultasi
kesehatan keluarga. Konjungtivitis bacterial umumnya lebih sedikit didapatkan
dibanding konjungtivitis viral terutama pada orang dewasa.4
Konjungtivitis adalah proses inflamasi yang melibatkan permukaan mata
dan ditandai oleh adanya suatu dilatasi vascular, infiltrasi selular, dan eksudasi.
Berdasarkan

waktu

perjalanannya

dibagi

atas

konjungtivitis

akut

dan

konjungtivitis kronik. Dikatakan konjungtivitis akut apabila onset terjadi secara


tiba-tiba dan biasanya unilateral dengan inflamasi pada mata kedua selama atau
kurang dari 1 minggu dan lama penyakitnya tidak lebih dari 4 minggu. Sedangkan
pada konjungtivitis kronik ditegakkan bila durasi penyakit lebih lama dari3 atau 4
minggu.5
B. Etiologi
Konjungtiva dibagi atas 2 kategori besar:5
1. Infeksius
a) Bacterial
b) Viral
c) Parasit
d) Mikotik
2. Non-infeksius
a) Iritasi persisten
b) Alergi
c) Toksik (iritan, debu, asap)
d) Sebagai komplikasi dari berbagai kelainan (seperti sindrom steven
Johnson)
C. Gejala dan Tanda Klinis
8

Gejala khas yang ditunjukkan oleh semua pasien berupa mata merah dan
kelopak mata lengket di pagi hari karena meningkatnya sekresi. Setiap
konjungtivitis juga dapat menyebabkan pembengkakan di kelopak mata, yang
berakibat munculnya pseudoptosis. Foreign body sensation, sensasi tekanan, dan
sensasi terbakar biasanya dirasakan pasien, meskipun gejala-gejala ini dapat
bervariasi antara pasien. Rasa gatal menunjukkan adanya reaksi alergi. Fotofobia
dan lakrimasi (epifora) juga dapat muncul namun bervariasi. Adanya
blepharospasme menunjukkan keterlibatan kornea (keratoconjunctivitis).5
Gejala yang sangat prominen pada konjungtivitis akut adalah gatal ringan,
rasa mengganjal dimata, dan fotofobia ringan. Selain itu, hal yang sering muncul
berupa injeksi konjungtiva, perlengketan kelopak mata terutama di pagi hari
setelah bangun pagi, terdapat cairan purulent atau serous pada satu atau kedua
mata namun tanpa adanya tanda-tanda penurunan fungsi penglihatan.4
Tanda penting konjungtivitis adalah hiperemia, epifora, pseudoptosis,
hipertrofi

papiler,

kemosis,

folikel

(hipertrofi

lapis

limfoid

stroma),

pseudomembranosa dan membran, granuloma, dan pre-aurikuler adenopati.6


D. Metode Pemeriksaan
1)

Pemeriksaan slit lamp. Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat sifat dan
injeksi vaskular, sekret, pembengkakan konjungtiva, dan lain-lain dapat
dievaluasi menggunakan slit lamp. 5

2)

Eversi kelopak mata. Pemeriksaan ini dilakukan untuk memeriksa kelopak


mata atas dan bawah untuk melihat folikel, papila, membran, dan benda
asing. Jika diagnosis tidak pasti atau tidak terdapat respon terhadap
antibiotik dan nodul konjungtiva, pemeriksaan yang dilakukan yaitu
pemeriksaan

mikrobiologi

untuk

mengidentifikasi

jenis

patogen.

Penggunaan kapas penyeka dan tabung pengiriman steril dapat digunakan


untuk memeriksa kultur apabila dicurigai klamidia. 5
3)

Smear epitel. Ini digunakan untuk mendeteksi klamidia pada khususnya


dan untuk mengidentifikasi patogen pada umumnya. Epitel konjungtiva
yang memiliki sekret diusap dengan kapas lidi dan dioleskan pada slide

dan dicelup dalam larutan Giemsa dan stain Gram. Temuan sitology
memberikan informasi penting tentang etiologi konjungtivitis tersebut. 5
a) Konjungtivitis bakterial: sel granulosit dengan inti polimorf dan
ditemukan adanya bakteri
b) Konjungtivitis viral: limfosit dan monosit;
c) Konjungtivitis chlamydia: Ditemukan sel limfosit, sel plasma, dan
leukosit;
d) Konjungtivitis alergi: Temuan meliputi sel granulosit eosinophilic
dan limfosit;
e) Konjungtivitis mikotik (sangat jarang): pada pewarnaan giemsa
dan gram akan tampak adanya hifa;
4)

Irigasi. Konjungtivitis dapat terjadi sebagai akibat munculnya dakriosistitis


asimtomatik atau canaliculitis karena terus menerus terpapar bakteri.
Sistem lakrimal sebaiknya sering di irigasi untuk mengurangi peradangan
yang berulang atau resisten terhadap pengobatan sehingga pemeriksa
mampu memverifikasi sumber peradangan.5

E. Klasifikasi
Konjungtivitis, terdiri dari:
1. Konjungtivitis bakterial
2. Konjungtivitis viral
3. Konjungtivitis alergi
4. Konjungtivitis Jamur
5. Konjungtivitis Parasit
6. Konjungtivitis iritasi atau kimia 6

1. Konjungtivitis bakterial
a. Definisi

10

Konjungtivitis bakteri adalah inflamasi konjungtiva yang disebabkan oleh


bakteri. Konjungtivitis yang disebabkan bakteri dapat saja akibat infeksi genokok,
meningokok, Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumonia, Hemophilus
influenza dan Eschericia coli. Memberikan gejala berupa sekret mukopurulen dan
purulen, kemosis konjungtiva, edema kelopak, kadang-kadang disertai keratitis
dan blefaritis. Terdapat papil pada konjungtiva dan mata merah. Konjungtivitis
bakteri ini mudah menular.2
b. Etiologi dan Faktor Risiko
Konjungtivitis bakteri umumnya memiliki manifestasi akut atau subakut
dengan kemerahan, sekret, pembengkakan, robekan, dan iritasi. Visus biasanya
tidak terganggu. Selain itu rasa nyeri jarang ditemukan dan mungkin dapat
dijadikan

diferensial

diagnosis

yaitu

episcleritis.

Sekret

dapat

bersifat

mukopurulen atau hanya bersifat purulen dan terdiri dari sel-sel (leukosit, bakteri,
sel-sel epitel) dan non-seluler (fibrin, protein, lendir). Tidak ada hubungan yang
spesifik antara jenis sekret dan etiologi konjungtivitis; eksudat mukopurulen
paling sering terlihat di konjungtivitis bakteri.12
Di Inggris, organisme yang paling umum menyebabkan konjungtivitis
adalah pneumococcus, Haemophilus spp. dan Staphylococcus aureus. Biasanya
dikaitkan dengan infeksi kronis, dan konjungtivitis purulen akut, dikenal lebih
umum sebagai "pink eye", biasanya disebabkan oleh pneumokokus. Kronis
konjungtivitis juga dapat disebabkan oleh Moraxella lacunata tapi organisme ini
jarang diidentifikasi. Konjungtivitis bakteri yang penting tapi jarang ditemukan
konjungtivitis purulen yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae; Penyakit ini
masih menjadi penyebab yang berat dari konjungtivitis lain terutama pada bayi
baru lahir dari ibu yang terinfeksi. Apabila tidak dilakukan terapi, kornea dapat
menjadi infeksi dan menyebabkan perforasi serta kecacatan permanen pada
penglihatan. Sekret purulen, mata kemerahan dan edema kelopak mata adalah
kondisi yang umumnya dikenal sebagai oftalmia neonatorum.11
c. Patofisiologi

11

Jaringan pada permukaan mata dikolonisasi oleh flora normal seperti


Streptococci, Staphylococci dan Corynebacterium. Perubahan pada mekanisme
pertahanan tubuh ataupun pada jumlah koloni flora normal tersebut dapat
menyebabkan infeksi klinis. Perubahan pada flora normal dapat terjadi karena
adanya kontaminasi eksternal (penggunaan kontak lens dan berenang) atau
penyebaran dengan melalui bagian tubuh yang terinfeksi (mengucek mata)7.
Konjungtivitis bakteri dapat mengenai segala ras, walaupun terdapat
perbedaan variasi geografi dan prevalensi patogen dari tiap daerah. Perempuan
dan laki-laki memiliki resiko yang sama untuk terkena konjungtivitis bakteri.
Perbedaan tingkat infeksi mungkin disebabkan oleh lingkungan dan pola
kebiasaan hidup.7
Mekanisme pertahanan primer terhadap infeksi adalah lapisan epitel yang
meliputi konjungtiva sedangkan mekanisme pertahanan sekundernya adalah
sistem imun yang berasal dari perdarahan konjungtiva, lisozim dan imunoglobulin
yang terdapat pada lapisan air mata, mekanisme pembersihan oleh lakrimasi dan
berkedip. Adanya gangguan atau kerusakan pada mekanisme pertahanan ini dapat
menyebabkan infeksi pada konjungtiva.7
d. Gejala Klinis
Gejalanya berupa gatal-gatal, kemerahan, kotoran mata dan kelopak mata
lengket pada waktu bangun tidur. Adapun tanda yang lain sebagai berikut:8
1.

Tajam penglihatan, kornea dan pupil; normal

2.

Hyperemia konjungtiva, paling nyata pada forniks dan kurang nyata


di limbus

3.

Sekret mata, dapat purulent atau mukopurulen

4.

Reaksi papiler pada konjungtiva

5.

Tidak ada limfadenopati periaurikuler. Berbeda dengan infeksi virus


dan chlamydia.

e. Diagnosis

12

Pada saat anamnesis yang perlu ditanyakan meliputi usia, karena mungkin
saja penyakit berhubungan dengan mekanisme pertahanan tubuh pada pasien yang
lebih tua. Pada pasien yang aktif secara seksual, perlu dipertimbangkan penyakit
menular seksual dan riwayat penyakit pada pasangan seksual yang disebabkan
oleh Neisseria gonorrhea dan Chlamydia serta transmisi ibu ke anak.7
Pemeriksaan kultur mungkin diperlukan untuk mengidentifikasi bakteri
chlamydia atau jenis bakteri lain. Sama halnya dengan kultur viral dan fungal,
pemeriksaan ini dilakukan bila dicurigai adanya penyebab sekunder seperti ulkus
kornea akibat penggunaan softlens dan lain-lain. Adapun respon selular yang
dapat muncul dari pemeriksaan kultur ini adalah peningkatan neutrophil untuk
infeksi akibat bakteri, peningkatan limfosit untuk infeksi virus, dan peningkatan
eosinophil untuk reaksi alergi.7
f. Penatalaksanaan
Terapi utama untuk konjungtivitis bakterialis adalah antibiotic topikal,
walaupun antibiotik sistemik kadang diperlukan untuk infeksi gonorhhea dan
chlamydia. Terapi lini pertama (tetes mata) sering digunakan yaitu: trimethoprim
kombinasi dengan polimixin B, gentamicin, tobramycin, neomycin, ciprofloxacin,
ofloxacin, erythromycin.7
2. Konjungtivitis Viral
a. Definisi
Konjungtivitis viral atau pink eye adalah penyakit yang sering ditemui,
bersifat self limiting disease dan biasanya disebabkan oleh adenovirus. Virus lain
juga dapat meyebabkan infeksi konjungtiva termasuk virus herpes simplex,
varicella zoster, enterovirus, coxsackie, poxvirus dan HIV. 9
b. Etiologi dan Faktor Risiko
Konjungtivitis viral dapat disebabkan berbagai jenis virus, tetapi
adenovirus adalah virus yang paling banyak menyebabkan penyakit ini, dan
Herpes simplex virus yang paling membahayakan. Selain itu penyakit ini juga

13

dapat disebabkan oleh virus Varicella zoster, picornavirus (enterovirus 70,


Coxsackie A24), poxvirus, dan human immunodeficiency virus 9.
Penyakit ini sering terjadi pada orang yang sering kontak dengan penderita
dan dapat menular melalu di droplet pernafasan, kontak dengan benda-benda yang
menyebarkan virus (fomites) dan berada di kolam renang yang terkontaminasi9.
c. Patofisiologi
Konjungtivitis viral akut adalah konjungtivitis yang paling sering ditemui.
Beberapa jenis adenovirus menjadi penyebab konjungtivitis ini. Biasanya gejala
pada mata muncul sebagai akibat dari infeksi saluran napas bagian atas dan
walaupun sering bersifat bilateral, satu mata mungkin saja sudah terinfeksi
sebelum mata lainnya. Mata yang telah terinfeksi menjadi merah dan
mengeluarkan sekret. Gejala lain yang dapat muncul yaitu kelopak mata yang
semakin menebal, dan akan tampak seperti kelopak mata jatuh. Pada palpasi,
dapat dirasakan adanya pembesaran kelenjar preaurikuler.pada beberapa kasus,
kornea dapat terlibat dan epitel kornea dapat memutih apabila berlangsung
beberapa bulan. Apabila kornea yang memutih tersebut tepat didepan jalur
refraksi, penglihatan akan sedikit terganggu. Tidak ada terapi khusus, tapi
biasanya dapat diterapi dengan antibiotik tetes untuk mencegah terjadinya infeksi
sekunder.11
d. Gejala Klinis
Dua sindrom utama adalah keratokonjungtivitis epidemic dan demam
faringokonjungtiva. Keduanya disebabkan oleh adenovirus dan terjadi secara
epidemic. Gejala yang muncul berupa lakrimasi, mata merah, rasa tidak enak pada
mata dan fotofobia (biasanya unilateral). Tanda-tanda antara lain konjungtivitis
folikularis yang dicirikan oleh lesi-lesi disekret multipel yang agak meninggi
mirip butir-butir beras, dan limfadenopati preaurikuler. Sebagian penderita
mengalami keratitis yang mula-mula berupa lesi epitel pungtata difusa, kemudian
terjadi kekeruhan fokal subepitelial, dan akhirnya infiltrat stroma anterior. Yang
terakhir ini dapat berlangsung beberapa bulan.8

14

e. Diagnosis
Virus adalah penyebab setengah dari seluruh kasus konjungtivitis. Gejala
yang timbul selalu disertai dengan sekret berair dan pembesaran kelenjar
preaurikuler. Biasanya hanya diobati dengan antibiotic karena cukup sulit
membedakannya dengan infeksi bakteri tanpa dilakukan pemeriksaan kultur.
Kombinasi antibiotik dan steroid seperti tobradex, mungkin saja dapat
mengurangi gejala, namun dapat memudahkan infeksi herpes simpleks atipikal.13
Onset biasanya unilateral, tanda-tanda yang lain yaitu lakrimasi berat dan
rasa gatal disertai dengan sekret berair mukoid. Kelopak mata yang terkena
konjungtivitis

biasanya

edema.

Biasanya

pasien

memiliki

riwayat

flu

sebelumnya.5
Karakteristik temuan lain yaitu mata merah dan edema pda plika
semilunaris dan karunkula lakrimalis serta ditemukan adanya keratitis nummular
(Coin like infiltrates yang tampak pada superfisial korneal bagian stroma).5
f. Penatalaksanaan
Konjungtivitis viral umumnya dapat sembuh sendiri. Terapi untuk
konjungtivitis yang disebabkan oleh adenovirus dapat diterapi dengan terapi
suportif. Pasien diinstruksikan untuk melakukan kompres dingin dan pemberian
tetes mata steril. Vasokonstriktor dan antihistamin topikal dapat digunakan untuk
mengatasi rasa gatal yang berlebihan. Untuk pasien yang dicurigai berpotensi
terkena infeksi bakteri, dapat diberikan antibiotik topikal untuk mencegah infeksi
bakteri.9
Pada pasien dengan konjungtivitis yang disebabkan oleh virus Herpes
simpleks, terapi antiviral topikal dapat diberikan seperti, idoxuridine, vidarabine
dan trifluridine. 9
Untuk konjungtivitis akibat infeksi virus varicella zoster, pemberian
acyclovir oral dapat diberikan untuk menghambat replikasi virus. 9
Pencegahan transmisi konjungtivitis viral sangat penting dilakukan. Pasien
dan pemeriksa harus mencuci tangan untuk mencegah infeksi mata, tidak bertukar
handuk, linen dan alat kosmetik. Pasien diharapkan untuk istirahat dari pekerjaan

15

untuk menhindari penularan, dan tidak diperkenankan untuk menggunakan


softlens hingga tanda dan gejala sudah teratasi. 9
3. Konjungtivitis Alergi
a. Definisi
Konjungtivitis alergi adalah bentuk alergi pada mata yang paling sering
dan disebabkan oleh reaksi inflamasi pada konjungtiva yang diperantarai oleh
sistem imun. Reaksi hipersensitivitas yang paling sering terlibat pada alergi di
konjungtiva adalah reaksi hipersensitivitas yang dimediasi oleh IgE.10
b. Etiologi dan Faktor Risiko
Konjungtivitis alergi dibedakan atas lima subkategori, yaitu konjungtivitis
alergi musiman dan konjungtivitis alergi tumbuh-tumbuhan yang biasanya
dikelompokkan dalam satu grup, keratokonjungtivitis vernal, keratokonjungtivitis
atopik dan konjungtivitis papilar raksasa. Etiologi dan faktor resiko pada
konjungtivitis alergi berbeda-beda sesuai dengan subkategorinya. Misalnya
konjungtivitis alergi musiman dan tumbuh tumbuhan biasanya muncul pada satu
atau kedua mata. Kondisi ini berlangsung tiba-tiba (akut) atau bergantung pada
waktu paparan seperti disebabkan oleh alergi tepung sari dan rumput pada musim
tertentu ataupun paparan alergi dari bahan-bahan rumahan. Vernal konjungtivitis
biasanya muncul pada kedua mata, baik palpebral, konjungtiva, bahkan kornea.
Penyebab utama belum diketahui namun sering dikaitkan dengan konjungtivitis
musiman, dan pada kasus yang berat dapat menyebabkan kebutaan. Konjungtivitis
atopik terjadi pada pasien dengan riwayat dermatitis atopic, sedangkan
konjungtivitis papilar raksasa yaitu formasi dari papil konjungtiva raksasa sebagai
respon terhadap trauma dan gesekan biasanya pada pengguna lensa kontak.10
c. Patofisiologi
Patogenesis alergi pada mata sangat kompleks dan multifactorial, dan
didasari oleh hasil interaksi lingkungan dengan kelompok gen yang menjadi factor
predisposisi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ada kaitan antara
konjungtivitis alergi dan gen predisposisi terhadap perkembangan penyakit

16

tersebut. Sebuah hubungan telah ditemukan antara konjungtivitis alergi dengan


kromosom 5, 16 dan 17 dan juga kromosom 6 memiliki kaitan spesifik terhadap
alergen tertentu. Hal ini menunjukkan adanya kemungkinan terdapat organ
spesifik pada gen tertentu yang saling berhubungan dengan penyakit alergi. Hal
tersebut diungkapkan setelah adanya gen tertentu yang teridentifikasi mengalami
konjungtivitis dan sebelumnya pernah mengalami asthma atopi, Dalam konteks
tersebut, secara genetic IL-10 menjadi penentu peningkatan tekanan pada sel mast
dikonjungtiva dan akan berakhir dengan aktivasi oleh alergen. Beberapa studi juga
menunjukkan adanya pengaruh sel dendrit dikonjungtiva yang menjadi
patogenesis penyakit tersebut dan telah dilaporkan bahwa sistem imun dalam sel
mungkin berpengaruh terhadap terapi penyakit tersebut. Aktivasi sel mast dan
degranulasi sel mast juga telah dilakukan penelitian dalam beberapa tahun
terakhir. Studi tersebut mendeskripsikan pentingnya beta-chemokines dalam
mengaktivasi leukosit dan aktivasi sel mast primer. Dalam hal ini, eotaxin-1
menunjukkan adanya peranan utama dalam stimulasi signal pada sel mast di
konjungtiva. Pada sebuah studi konjungtivitis alergi, eotaxin-1 reseptor antagonis
mampu menghambat timbulnya reaksi alergi sehingga dijadikan sebagai terapi
yang sangat menarik dalam mengatasi reaksi alergi. Pembuktian tersebut diatas
menunjukkan bahwa ilmu alergi pada mata dapat menjadi terapi baru dalam
mengkontrol reaski alergi.10
d. Diagnosis
Diagnosis konjungtivitis alergi didasasarkan pada temuan klinis dan
berdasarkan

riwayat

penyakit

sebelumnya.

Bagaimanapun

juga,

tes

hipersensitivitas menjadi pemeriksaan yang sangat penting untuk mengkonfirmasi


IgE spesifik apa yang ada dalam serum pasien. Hal ini dilakukan untuk
menentukan alergen penyebab dan bagaimana cara menghindari alergen tersebut.
Identifikasi alergen memungkinkan dilakukan untuk mengklasifikasi penyebab
konjungtivitis alergi, apakah berasal dari alergen akibat perubahan musim (jamur,
serbuk sari) atau allergen dari bahan rumahan (debu, serangga atau jamur). 10

17

Gejala utama yang muncul pada konjungtivitis alergi adalah rasa gatal,
lakrimasi, mata merah, rasa mengganjal dimata, edema dan adanya riwayat alergi
seperti rhinitis atau asthma.10
f. Penatalaksanaan
Konjungtivitis alergi adalah suatu kondisi yang ditandai dengan adanya
gatal, injeksi konjungtiva, pengeluaran sekret mukus, kemosis, dan edema
kelopak mata. Terapi dimulai dengan menghindari bahan iritan, mengentikan
untuk sementara penggunaan make-up dan melakukan kompres dingin.
Penggunaan tetes mata mengandung kombinasi antihistamin, zinc astringet, dan
dekongestan. Penggunaan tetes mata tersebut mengakibatkan dilatasi pupil namun
dapat menyebabkan serangan glaucoma sudut tertutup. Untuk itu, jika pemberian
dekongestan direkomendasikan, ingatkan pada pasien untuk segera control apabila
terdapat gejala-gejala nyeri pada mata, penurunan visus, atau mata semakin
merah.13

18

DAFTAR PUSTAKA
1.

American Academy of Ophthalmology. 2015. External Disease and Cornea.

2.
3.

United States Of America: EB p.3-7


Ilyas, H. Sidarta. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: FKUI; 2003 p.121-46
Eroschenko, Victor. 2008. Atlas Histologi DiFiore. Dengan korelasi

4.

Fungsional. Jakarta: EGC.


Visscher, KL; Hutnik, CM; Thomas, M. 2009. "Evidence-based treatment of
acute infective conjunctivitis: Breaking the cycle of antibiotic prescribing.".

5.

Canadian family physician Medecin de famille canadien


K. Lang, Gerhard. 2000. Ophthalmology A short Textbook. New York:

6.

Thiema Stutgart. p. 74-104


Nurwasis. Komaratih, Evelyn. 2006. Pedoman Diagnosis dan Terapi Bag.

7.

SMF Ilmu Kesehatan Mata. Surabaya: RSU. Dr. Soetomo. p. 74-5


Marlin, DS. 2009. Conjunctivitis, Bacterial. Diakses tanggal 27 april 2015

8.
9.

darihttp://emedicine.medscape.com/article/1191730-overview
Konski. Ophthalmology. p.9-11
Scott IU, Kevin L. 2010. Conjunctivitis, Viral. California: Penn State

10.

College of Medicine. Diakses pada tanggal 27 april 2015.


Cuvillo , et al. 2009. Allergic Conjunctivitis and H1 Antihistamine. J Investig

11.

Allergol Clin Immunol 2009; Vol. 19. Esmon Publicidad


Galloway. 2006. Commons Eye Disease and their Management. London:

12.
13.

Springer p.45-51
Seal, David. 2010. Ocular Infection. New York: Informa p.139-50
Leitman, Mark. 2007. Manual for Eye Examination and Diagnosis. New
Brunswick: Blackwell p. 68-72

19