Anda di halaman 1dari 11

ASMA

Disusun Oleh :
1.
2.
3.
4.
5.

Ira Budiarti
Linda Fitri A.
Lucy I Utami
Margo Nur W.
Marsha Hamira S.

(121420125840074)
(121420125920082)
(121420125930083)
(121420125950085)
(121420125980088)

S1 KEPERAWATAN / 2A

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HARAPAN BANGSA


PURWOKERTO
2013
KATA PENGANTAR

AssalamualaikumWr.Wb.
Puji syukur Alhamdulillah saya panjatkan kehadirat Allah SWT, atas Rahmat dan
Hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul ASMA
Banyak pihak yang telah membantu terlaksananya penyusunan tugas makalah ini,
sehingga dalam kesempatan ini saya mengucapkan terimakasih kepada :
1. Bapak Made Suandika, S. Kep., Ns.,M. Kep. CWCAA selaku dosen mata kuliah Sistem
Respirasi.
2. Teman-teman yang telah membantu dalam melaksanakan pembuatan makalah ini.
Dalam penyusunan makalah ini, masih terdapat beberapa kekurangannya dan untuk
itu kami mohon kritik dan saran yang dapat memberikan masukan positif bagi penyusun
makalah ini dan semoga dapat memberikan manfaat bagi kita semua.
Wassalamu alaikum Wr.Wb
Purwokerto, Juli 2013

Penyusun

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ii
Daftar Isi .. iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang... 1
B. Tujuan ... 1
BAB II PEMBAHASAN
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.
H.
I.
J.

Definisi .. 2
Etiologi .. 2
Patofisiologi .. 2
Faktor risiko . 3
Manifestasi klinis ...... 4
Komplikasi .... 4
Pemeriksaan penunjang .. 4
Penatalaksanaan Medis 4
Pathway .. 6
Diagnosa Keperawatan ..6

BAB III PENUTUP


Kesimpulan 8
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyakit Asma Bronkial dapat menyerang semua golongan usia, baik laki-laki maupun
perempuan, dewasa maupun anak-anak. Dari waktu ke waktu baik di negara maju maupun
negara berkembang prevalensi asma meningkat. Asma merupakan sepuluh besar penyebab
kesakitan dan kematian di Indonesia, hal ini tergambar dari data studi survey kesehatan rumah
tangga (SKRT) di berbagai provinsi di Indonesia.
Asma dapat timbul pada berbagai usia, gejalanya bervariasi dari ringan sampai berat dan dapat
dikontrol dengan berbagai cara. Gejala asma dapat ditimbulkan oleh berbagai rangsangan antara
lain infeksi, alergi, obat-obatan, polusi udara, bahan kimia, beban kerja atau latihan fisik, baubauan yang merangsang dan emosi.
Prevalensi asma di seluruh dunia adalah sebsar 80% pada anak dan 3-5% pada dewasa, dan
dalam 10 tahun terakhir ini meningkat sebesar 50%. Selain di Indonesia prevalensi asama di
Jepang dilaporkan meningkat 3 kali disbanding di tahun 1960 yaitu dari 1,2 % menjadi 3,14 %.
Penyebab pada asma sampai saat ini belum diketahui namun dari hasil penelitian terdahulu
menjelaskan bahwa saluran nafas penderita asma mempunyai sifat yang sangat khas yaitu sangat
peka terhadap rangsangan.
B.
1.
2.
3.

Tujuan
Untuk mengetahui anatomi Asma
Untuk menegtahui Fisiologi Asma
Untuk mengetahui Konsep penyakit Asma

BAB II
1

PEMBAHASAN
A. Definisi
Asma bronchial adalah gangguan fungsi aliran udara paru yang ditandai oleh kepekaan
saluran nafas terhadap berbagai rangsangan dengar karakteristik bronkospasme, hiper
sekresimukosa dan infeksi saluran pernafasan.
Sedangkan mernurut Manahutu E.Y (1992) bahwa Asma bronchial adalah penyakit dengan
karakteristik peningkatan hiperaktivitas bronkus terhadap berbagai rangsangan. Dengan
manifestasi penyempitan trachea dan bronkus yang luas dan menyeluruh dengan derajat yang
berubah, karena pengobatan maupun secara spontan.bronkospasme.
B. Etiologi
Etiologi yang pasti dari asma belum diketahui, dari hasil penelitian yang dilakukan,
menjelaskan bahwa saluran nafas penderita asma mempunyai sifat yang sangat khas, yaitu sangat
peka terhadap berbagai rangsangan
Faktor-faktor yang dapat menyebabkan asma adalah sebagai berikut :
1. Faktor pencetus
a. Alergen (makanan, bumbu masak, bulu binatang, debu,dll)
b. Asap rokok
c. Zat-zat di tempat kerja (woll, debu, tepung, serbuk kayu)
d. Obat-obatan : Aspirin, penicilin
e. Infeksi terutama oleh virus
f. Emosi
g. Lingkungan dan cuaca, udara yang terlalu lembab, terlalu panas, atau dingin.
h. Aktivitas fisik yang berlebihan
i. Aktor yang sulit dihindarkan: bau tajam
j. Penyakit tertentuyang memperberat : infeksi hidung (sinusitis).
2. Faktor Keturunan
C. Patofisiologi
Dasar kelainan pada asma adalah suatu hiperaktivitas bronkus yaitu sindroma klinik yang
ditandai oleh kepekaan saluran nafas terhadap berbagai rangsangan, baik rangsangan dari dalam
maupun dari luar.
Dengan manifestasi penyempitan saluran nafas yang menyeluruh dengan derajat yang berubahubah secara spontan atau dengan pengobatan (faisal yunus;1990).
2

Ada 2 komponen penyempitan saluran nafas pada asma yaitu :


1. Bronkospasme
Disebabkan karena kontraksi otot polos bronkus.
2.

Inflamasi dinding mukosa saluran nafas

Menyebabkan edema dan hiopersekresi mukosa. Hal tersebut menyebabkan obstruksi aliran
udara.
Secara skematis patofisiologi asma bronkial dapat dijelaskan sebagai berikut :
Kien terpajan alergen / faktor pencetus
Sel mast mensekresi berbagai mediator :
Histamin, prostaglandin leucotrin, plcitelet activating faktor
Otot polos kontraksi bronkokonstriksi.
Pembuluh darah kapiler dilatasi (vasodilatasi kapiler sekitar bronkus)

Spasme otot polos


Edema mukosa
Hipersekresi

Obstruksi saluran nafas


Tanda dan gejala asma bronkial :

sesak
batuk
Wheezing
D. Faktor Resiko
Beberapa infeksi pernapasan selama masa kanak-kanak,
Kontak dengan beberapa alergen udara atau eksposur ke beberapa infeksi virus
pada masa bayi atau pada anak usia dini ketika sistem kekebalan tubuh

1.
2.
3.
4.
5.

berkembang,
Memiliki kecenderungan alergi,
Orang tua menderita asma
E. Manifestasi Klinis
Batuk keras karena gatal di tenggorokan.
Dipsnoe yang hebat.
Cianosis pada ekstrenitas atas dan bawah.
Nafas berbunyi / mengi (wheezing).
Nadi cepat dan dangkal.
3

6.
7.

Keringat dingin dan takut pada waktu serangan biasanya pada malam hari.
Produksi spontan.
F. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada klien dengan asma adalah pneumotoraks, atelektasis,

gagal nafas, bronkhitis dan fraktur iga.


G. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan pada penderita asma adalah
1. Uji Foal Paru (spirometri)
Volume ekspirasi paksa detik 1 (Vep-1) dan kapasitas vital paksa
2. Lab
a. Darah tepi : Eosinovilia
b. Uji kulit : Dengan alergen pada asma alergi (uji prick)
c. Serum
: Iqe spesifik meningkat
d. Sputum : Terdapat eosinofil, spiral, curschumann dan kristal, chardet layden.
H. Penatalaksanaan Medis Asma Bronchial
1. Usaha Pencegahan
a. Usaha menghindari faktor pencetus
b. Imunoterapi : hanya pada kasus tertentu. Alergen secara periodik dimulai dari
dosis kecil, kemudian ditingkatkan dengan tujuan menimbulkan kekebalan
2.

terhadap alergen pencetus serangan.


Obat-obatan untuk pencegahan
a. Korti kosteroid
Tipikal yang mempunyai manfaat anti inflamasi yang kuat.
b.

Kromolin

Bekerja menstabilkan sel mast dan mengurangi pelepasan mediator penyebab


bronkospasme.
c.

Cetotiven

Mempunyai efek menghambat pelepasan mediator dari sel mast dan efek profilaksis pada
asma ekstrinsik terutama pada anak.
3.

Pengobatan pada serangan asma


a. Bronkodilator
Obat pelega, melebarkan jalan nafas terutama dengan jalan merelaksasikan otot polos
bronkus, contohnya antagonis beta 2, metilkantin, anti kolinergik.
b.

Kortikostroid
4

c. Anti biotik : bila ada infeksi


d. Terapi cairan melalui infus
e. Terapi oksigen : 2-4 L/menit
f. Fisioterapi dada dan terapi intalasi

I. Pathway

J. Diagnosa Keperawatan
1. Diagnosa Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi
mukos
Tujuan

: Jalan nafas klien efektif setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24

jam
5

Intervensi :
a. Kaji fungsi pernafasan seperti bunyi nafas, kecepatan, irama dan kedalaman juga
penggunaan otot bantu nafas.
b. Berikan posisi senyaman mungkin (semi fowler)
c. Catat kemampuan untuk mengeluarkan sputum
Rasional :
a. penurunan bunyi nafas dapat menunjukkan atelektosis, ronchi menunjukkan akumulasi
sekrel atau ketidakmampuan untuk membersihkan jalan nafas yang dapat menimbulkan
penggunaan otot bantu nafas dan peningkatan kerja pernafasan.
b. Posisi semi fowler dapat membantu meningkatkan ekspansi paru sehingga memfasilitasi
ventilasi difusi perfusi
c. Pengeluaran sulit bila sekret sangat kental
2. Diagnosa : Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kurangnya suplai O2 pada tubuh
Tujuan

: Adanya perbaikan dalam pertukaran gas setelah dilakukan tindakan keperawatan

3 x 24 jam
Intervensi

a. Observasi dan kaji tingkat fungsi pernafasan seperti adanya wheezing atau ronchi dan
penggunaan otot bantu nafas
b. Kaji kulit terhadap pucat/cianosis
c. Observasi hasil gas darah arteri
Rasional

a. Adanya penurunan pada bunyi nafas dapat menunjukkan aklektasis, ronchi menunjukkan
akumulasi, sekret yang dapat menimbulkan penggunaan otot bantu pernafasan
b. Untuk mengetahui sirkulasi peredaran darah perifer, cianosis menunjukkan
ketidakcukupan suplai O2 dalam darah
c. Untuk mengidentifikasi kemajuan atau penyimpangan dari sasaran yang diharapkan

BAB III
KESIMPULAN
Asma bronchial adalah gangguan fungsi aliran udara paru yang ditandai oleh kepekaan
saluran nafas terhadap berbagai rangsangan dengar karakteristik bronkospasme, hiper
sekresimukosa dan infeksi saluran pernafasan.
Asma dapat timbul pada berbagai usia, gejalanya bervariasi dari ringan sampai berat dan
dapat dikontrol dengan berbagai cara. Gejala asma dapat ditimbulkan oleh berbagai rangsangan
antara lain infeksi, alergi, obat-obatan, polusi udara, bahan kimia, beban kerja atau latihan fisik,
bau-bauan yang merangsang dan emosi.

DAFTAR PUSTAKA
http://modulkesehatan.blogspot.com/2012/12/makalah-asma-bronchial.html
http://www.scribd.com/doc/88797261/Makalah-Asma
http://syehaceh.wordpress.com/tag/faktor-resiko-asma/
http://nursingbegin.com/tag/askep-asma/

Anda mungkin juga menyukai