Anda di halaman 1dari 18

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Air Payau
Air merupakan suatu sarana utama yang sangat penting bagi kehidupan.

Untuk itu, sangat diperlukannya air bersih dalam meningkatkan kualitas dan
derajat kehidupan terutama dalam hal kesehatan. Air bersih juga merupakan
kebutuhan yang sangat mendasar bagi manusia karena diperlukan terus-menerus
dalam kegiatan sehari-harinya untuk bertahan hidup. Oleh karena itu, manusia
memerlukan sumber air bersih yang diperoleh dari air tanah (air sumur) dan air
permukaan (air waduk, air telaga, air sungai, dan air rawa). Namun tidak semua
air baku dapat digunakan manusia untuk memenuhi kebutuhan air minum, hanya
air baku yang memenuhi persyaratan kualitas air minum yang dapat digunakan
untuk air minum (Meidhitasari, 2007).
Masyarakat pesisir Riau yang identik dengan nelayan merupakan bagian
dari masyarakat terpinggirkan yang masih terus bergulat dengan berbagai
persoalan kehidupan, baik ekonomi, sosial, pendidikan, kesehatan, maupun
budaya. Kondisi kehidupan mereka selalu dalam kondisi yang memprihatinkan,
terutama secara ekonomi dan kesehatan. Tidak sedikit masyarakat pesisir yang
menderita berbagai penyakit akibat kondisi lingkungan yang tidak kondusif.
Begitu juga dengan akses sumber air bersih yang sulit didapat sehingga banyak
masyarakat mengkonsumsi air tanah yang memiliki tingkat salinitas dan TDS
yang tinggi. Air tanah yang memiliki tingkat salinitas yang tinggi disebut dengan
air payau (Anonim,2013).
Air payau adalah campuran air tawar dan air laut (air asin) yang biasa
ditemukan pada daerah-daerah muara dan pesisir. Pada penelitian ini air payau
yang digunakan diambil di Jl. Sukajadi, Kec. Dumai Kota. Gambar air payau
dapat dilihat pada Gambar 2.1.

Gambar 2.1 Air Payau


Sumber air payau yang biasa digunakan adalah berasal dari air tanah, air
tanah ini menjadi salin atau berasa asin karena adanya rembesan air laut yang
bercampur dengan air tanah. Air permukaan yang payau jarang dipergunakan
tetapi mungkin dapat terjadi secara alami. Beberapa komponen yang terdapat
dalam air payau seperti boron dan silika memiliki konsentrasi yang bervariasi dan
dapat memiliki nilai yang beragam dari satu sumber dengan sumber lainnya
(Amin, 2014).
Air payau memiliki kandungan bahan kimia Natrium klorida (NaCl) tinggi
yang menyebabkan rasa asin yang berlebih. Peristiwa inilah yang menyebabkan
tingginya kadar garam air di daerah pesisir (Nurhayati, 2014).
Air payau umumnya memiliki kualitas yang tidak memenuhi persyaratan air
minum yang sehat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Dikarenakan air payau
masih mengandung kadar garam, kesadahan, padatan, warna dan logam Fe dan
Mn yang tinggi (Amin, 2014). Disamping itu, air payau memiliki kualitas yang
tidak memenuhi persyaratan air minum yang distandarkan oleh Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia. Air yang baik untuk keperluan sehari-hari harus
memenuhi standar mutu air bersih. Di Indonesia standar mutu air minum untuk
keperluan

rumah tangga

telah ditetapkan

berdasarkan peraturan Menteri

Kesehatan RI No. 492/ MenKes/ PER/ IV/ 2010 tentang persyaratan kualitas air
minum. Dapat dilihat pada pada tabel 2.1.
Tabel 2.1 Parameter Air Baku dan Air Payau

No Parameter Analisis
Satuan Air baku
Air Payau
FISIKA
1
Bau
Tidak berbau
2
Zat Padat Terlarut mg/l
500
1500-6000
(TDS)
3
Kekeruhan
NTU
5
4
Rasa
Tidak berasa
5
Temperatur
C
Suhu udara, 3C 6
Warna
TCU
15
98
KIMIA
1
Besi (Fe)
mg/l
0,3
2-5
2
Alumunium
mg/l
0,2
3
Kesadahan (CaCO3)
mg/l
500
>500
4
Klorida (Cl)
mg/l
250
1500
5
Mangan (Mn)
mg/L
0,4
2-3
6
Fluorida
mg/l
1,5
7
Nitrat (sebagai NO3) mg/l
50
8
Nitrit (sebagai NO2)
mg/l
3
9
pH
6,5-8,5
7-9
10 Sulfat (SO4)
mg/l
250
600-2500
11 Tembaga
mg/l
2
12 Seng
mg/l
3
BAHAN ORGANIK
13 Zat organik (KMnO4) mg/l
10
61,18
14 Detergen
mg/l
0,05
(Air baku: Permenkes 2010 dan air payau: Mudiat 1996, dan Idaman 2012)
2.2

Parameter Air Payau


Dalam pengolahan air payau menjadi air bersih, ada beberapa beberapa

parameter yang diperhatikan dalam memenuhi standar baku mutu dari sifat fisika
(Bau, Jumlah zat padat terlarut (TDS), kekeruhan, rasa, warna dan suhu), sifat
kimia anorganik (Kesadahan, klorida, pH, mangan, besi, natrium, dan lain-lain),
dan sifat kimia organik (benzena, zat organik (KmnO4), detergen, chloroform, dan
lain-lain), sifat mikrobiologi serta sifat radio aktivitas.

Dalam penelitian ini, parameter yang akan disisihkan antara lain :

1. Warna
Warna air dapat ditimbulkan oleh kehadiran organisme, bahan-bahan
tersuspensi yang berwarna dan oleh ekstrak senyawa-senyawa organik serta
tumbuh-tumbuhan (Nurhayati, 2014).
2. Kesadahan
Kesadahan disebabkan oleh adanya logam-logam atau kation-kation yang
bervalensi 2, seperti Fe, Sr, Mn, Ca, dan Mg, tetapi penyebab utama dari
kesadahan adalah kalsium (Ca) dan magnesium (Mg). Kalsium dalam air
mempunyai kemungkinan bersenyawa dengan bikarbonat, sulfat, khlorida, dan
nitrat, sementara itu magnesium terdapat dalam air kemungkinan bersenyawa
dengan bikarbonat, sulfat, dan khlorida (Widayat, 2007).
3. Klorida
Klorida merupakan suatu parameter kimia yang ada dalam air dan
membentuk perbedaan utama sistem ekologi (air tawar, air payau, dan air laut).
Perubahan besar dalam lingkungan dapat terjadi ketika air tawar berubah menjadi
air payau atau air asin maupun kearah sebaliknya yang dapat menentukan kualitas
air (Haryoto dan Myra, 2005).
4. Zat Organik
Zat organik (KMnO4) disebut juga parameter nilai permanganat. Nilai
permanganat merupakan jumlah miligram kalium permanganat yang dibutuhkan
untuk mengoksidasi organik dalam 1000 mL air pada kondisi mendidih (SNI,
2004). Parameter zat organik dipilih karena parameter ini termasuk yang melebihi
baku mutu secara mencolok dan juga relatif sulit diolah secara konvensional
(Notodarmojo, 2004)
5. Zat padat Terlarut (Total dissolved solid)
Total padatan terlarut merupakan konsentrasi jumlah ion kation (bermuatan
positif) dan anion (bermuatan negatif) di dalam air. Analisa total padatan terlarut
hanya menunjukkan pengukuran kualitatif dari jumlah ion terlarut, tetapi tidak
menjelaskan pada sifat atau hubungan ion. Selain itu, pengujian tidak memberikan
wawasan dalam masalah kualitas air yang spesifik. Oleh karena itu, analisa total
padatan terlarut digunakan sebagai uji indikator untuk menentukan kualitas umum
dari air. Sumber padatan terlarut total dapat mencakup semua kation dan anion
terlarut (Wahyu, 2007).

6. pH
pH menyatakan pengukuran aktivitas ion hidrogen (H+). Pembatasan pH
dilakukan karena akan mempengaruhi rasa, korosifitas air dan efisiensi klorinasi.
Beberapa senyawa asam dan basa lebih toksid dalam bentuk molekuler, dimana
disosiasi senyawa-senyawa tersebut dipengaruhi oleh pH (Nurhayati, 2014).
2.3

Biji Kelor
Biji kelor (Moringa oleifera) merupakan tumbuhan yang memiliki

ketingginan batang 7-11 meter, batang kayu getas (mudah patah), cabang batang
yang jarang, warna batang kelabu, akar yang kuat dan daun berbentuk telur
dengan ukuran kecil-kecil tersusun majemuk dalam satu tangkai. Kelor dapat
berkembang biak dengan baik pada daerah yang mempunyai ketinggian tanah
300-500 meter di atas permukaan laut. Bunganya berwarna putih kekuning
kuningan dan tudung pelepah bunganya berwarna hijau. Bunga kelor keluar
sepanjang tahun dengan aroma bau semerbak. Buahnya berbentuk kacang panjang
berwarna hijau dan keras serta berukuran 120 cm (Suyoto, 2011).
Biji kelor (Moringa oleifera) juga merupakan salah satu koagulan alami
yang telah berhasil diteliti. Dimana biji kelor dapat memenuhi 50%-90%
kebutuhan terhadap tawas dapat dihentikan dan digantikan oleh Moringa oleifera
(Ghebremichael, 2004). Zat aktif Moringa oleifera yang berperan sebagai
koagulan adalah rhamnosyloxy-benzil-isothiocyanate yang merupakan polielektrolit kationik yang mampu mengadsorbsi dan menetralisir partikel-partikel
koloid dalam air (Sutherland dalam Ahmad Mulia Rambe, 2009).
Protein biji kelor memiliki muatan positif dan bersifat kationik (Muyubi dan
Evison, 1995). Perbedaan muatan antara protein biji kelor yang dilarutkan dalam
air yang diketahui bermuatan positif dengan partikel penyebab kekeruhan air yang
bermuatan negatif, menyebabkan terjadinya flok yang semakin membesar dan
mengendapkan partikel penyebab kekeruhan air.
Serbuk biji kelor mampu menurunkan dan mengendapkan kandungan unsur
logam berat yang cukup tinggi dalam air, selain itu biji kelor lebih ekonomis
dibanding alum (tawas), karena tanaman kelor dapat dibudidayakan, sementara

10

daun dan buahnya yang dikembangkan dengan biji dan stek dan dapat tumbuh
dengan cepat di daerah berair, sehingga dapat dibudidayakan di sekitar daerah
aliran sungai. Menurut Muyubi dan Evison (1995), kekeruhan air dapat berkurang
sekitar 36-98,2 % dengan pemakaian biji kelor sebanyak 100-450 mg/l.
Perjernihan air menggunakan biji kelor dapat digunakan untuk menurunkan nilainilai karakteristik air payau sehingga air payau dapat memenuhi standar baku
mutu air minum sesuai peraturan Menteri Kesehatan RI No. 492/ MenKes/ PER/
IV/ 2010. Karakteristik biji kelor (moringa oleifera) dapat dilihat pada tabel 2.2.
Tabel 2.2 Kandungan Biji Kelor (Moringa Oleifera)
No
Kandungan Moringa oleifera
1
Kandungan Proximate
Tekstur (%)
Abu (%)
Karbohidrat (%)
Serat (%)
Protein (%)
Lemak (%)
2
Kandungan mineral
Kalsium (mg)
Magnesium (mg)
Potasium (mg)
Phospor (mg)
Besi (mg)
Sulfat (mg)

Berat
71,3
2,3
3,7
6,7
12,8
3,2
43,5
13,6
186,2
138,5
16,5
98,2
(sivakumar, 2013)

Biji kelor (moringa oleifera) yang digunakan dalam penelitian ini diambil di
Jl. Utama (Tengku Bey simpang tiga), Bukit Raya, Pekanbaru. Akan tetapi, biji
kelor di provinsi Riau sangat banyak dijumpai pada daerah dumai. Sedangkan di
Indonesia, tanaman biji kelor (moringa oleifera) sangat banyak dijumpai di pulau
Jawa, terutama di Jawa Timur, yang perkebunannya lagi dikembangkan. Dapat
dilihat pada Gambar 2.2.

11

Gambar 2.2 Biji Kelor


2.4

Teknologi Membran

2.4.1 Definisi Membran


Membran merupakan sebagai lapisan tipis semipermeabel yang didalamnya
terdapat pori-pori yang berfungsi menahan spesi-spesi yang lebih besar dari
ukuran pori membran sedangkan spesi tertentu yang ukurannya lebih kecil dari
pori membran akan lolos. Perkembangan teknologi membran mengalami
kemajuan yang sangat pesat terutama dalam proses pemisahan. Tidak hanya
digunakan dalam pengolahan air minum dan air baku saja, saat ini membran juga
digunakan sebagai salah satu alternatif dalam pengolah limbah. Teknologi
membran dipilih karena prosesnya yang sangat sederhana, konsumsi energi yang
digunakan rendah sehingga mudah dalam pengoperasian dan pemeliharaan, tidak
merusak material, tidak menggunakan zat kimia tambahan dan tidak
menghasilkan limbah baru sehingga tergolong sebagai clean technology (Lindu
dkk, 2008).
Operasi membran dapat juga diartikan sebagai proses pemisahan dua atau
lebih komponen dari aliran fluida melalui suatu membran. Membran berfungsi
sebagai penghalang (barrier) tipis yang sangat selektif diantara dua fasa, hanya
dapat melewatkan komponen tertentu dan menahan komponen lain dari suatu
aliran fluida yang dilewatkan melalui membran (Mulder, 1996).
Proses pemisahan pada membran disebabkan karena adanya gaya dorong
(driving force) yang diberikan, dapat berupa perbedaan tekanan (P), temperatur
(T), konsentrasi (C), atau potensial listrik (E) (Mulder, 1996).

12

Skema proses pemisahan dengan membran secara umum dapat dilihat pada
Gambar 2.3.

Gambar 2.3 Mekanisme Pemisahan pada Membran


(Mulder, 1996)
Ada dua jenis larutan yang dihasilkan dalam proses membran. Larutan
pertama disebut sebagai permeat. Dimana larutan ini merupakan larutan yang
akan dipisahkan. Larutan tersebut dinamakan permeat karena larutan ini
dipermeasikan melalui membran. Larutan kedua disebut retentat, dimana larutan
ini mengandung sejumlah kontaminan dalam konsentrasi tertentu yang ditolak
oleh membran (Haiyul, 2013).
Operasi membran terbagi dua jenis pola aliran :
1. Aliran Cross-Flow
Aliran cross-flow, umpan mengalir melalui suatu membran, dengan hanya
sebagian saja yang melewati pori membran untuk memproduksi permeat,
sedangkan aliran pelarut atau cairan pembawa akan melewati permukaan
membran sehingga larutan, koloid dan padatan tersuspensi yang tertahan oleh
membran akan terus terbawa menjadi aliran balik. Pada sistem cross flow juga,
arah aliran umpan yaitu parallel atau sejajar pada permukaan membran. Aliran
parallel tersebut akan menghasilkan gaya geser (shear forces) dan/atau turbulensi
didekat permukaan membran sehingga pembentukan filter cake (deposisi partikel
yang menumpuk pada permukaan membran) relatif kecil.
2. Aliran Dead-End
keseluruhan dari fluida melewati membran (sebagai media filter) dan
partikel tertahan pada membran, dengan demikian fluida umpan mengalir melalui
tahanan membran dan tahanan penumpukan partikel pada permukaan membran
(Mallack dkk, 1997). Dengan demikian, pada aliran dead-end penyumbatan

13

(clogging) dan pembentukan cake pada membran lebih cepat terjadi dibandingkan
dengan sistem aliran cross-flow karena deposisi partikel pada permukaan
membran akan tersapu (swept away) oleh kecepatan aliran umpan. Aliran deadend dan crossflow dapat dilihat pada Gambar 2.4.

Gambar 2.4 Aliran Dead-End dan Crossflow


(Timoti, 2005)
2.4.2 Klasifikasi Membran
2.4.2.1 Berdasarkan ukuran pori
Berdasarkan ukuran pori (koyuncu, 2015), membran dapat dibedakan dibagi
menjadi 2 yaitu:
1. Membran berpori (porous membrane)
Prinsip pemisahan membran berpori didasarkan pada perbedaan ukuran
partikel dengan ukuran pori membran. Membran jenis ini biasanya digunakan
untuk proses mikrofiltrasi (melewatkan air, menahan mikroba) dan ultrafiltrasi
(melewatkan air menahan garam mineral).
2. Membran non pori (non-porous membrane)
Prinsip pemisahannya didasarkan pada perbedaan kelarutan dan kemampuan
berdifusi. Membran dengan jenis ini digunakan untuk proses permeasi gas, dan
dialisis.
2.4.2.2 Berdasarkan ukuran strukturnya
Berdasarkan strukturnya, membran dapat dibedakan menjadi membran
simetrik dan membran asimetrik (Mulder, 1996). Dapat dilihat pada Gambar 2.5.

14

Gambar 2.5 (a) Struktur Membran Simetrik (b) Struktur Membran Asimetrik
(Timoti, 2005)
1. Membran simetrik (berpori atau tidak berpori)
Membran simetris hanya terdiri dari satu lapisan membran dengan ketebalan
antara 10-200 m. Laju permeasi pada membran simetris ini akan semakin besar
jika membran semakin tipis.
2. Menbran asimetrik
membran asimetris terdiri dari dua lapisan. Lapisan bagian atas merupakan
lapisan yang sangat rapat dengan ketebalan antara 0,1-0,5 m sedangkan lapisan
kedua merupakan lapisan berpori dengan ketebalan antara 50-150 m. Kombinasi
sifat kedua lapisan ini menghasilkan membran dengan selektivitas dan laju
permeasi yang tinggi.
2.4.2.3 Berdasarkan bahan (asalnya)
Berdasarkan bahan (asalnya) (Mulder, 1996), membran dapat dibedakan
menjadi membran alami (biologis) dan membran sinetis.
1. Membran alami
Menbran alami terdapat dalam sel organisme atau makhluk hidup. Membran
ini berfungsi untuk membantu proses metabolisme dan melindungi isi sel dari
pengaruh lingkungan, misalnya akibat pengaruh perbedaan tekanan osmosis sel
dengan lingkunganya.
2. Membran sinetis

15

Membran sinetis dibuat berdasarkan reaksi kimia dan digunakan untuk


tujuan tertentu. Membran ini terbagi atas membran organik, misalnya selulosa
asetat, dan membran anorganik yang terbuat dari keramik, logam dan karbon.
2.4.2.4 Berdasarkan gaya dorong (driving force)
Berdasarkan gaya dorong membran dapat diklasifikasikan seperti yang
ditunjukkan pada Tabel 2.3.
Tabel 2.3 Perbandingan membran berdasarkan gaya dorong
Perbedaan
Membran
Reverse
Nanofiltrasi Ultrafiltrasi
Osmosis
Membran
Asymmetric or Composite
Asymmetric
composite
Ukuran pori
< 2 nm
< 2 nm
1-100 nm
Prinsip
Difusi larutan
Difusi larutan Mekanisme
pemisahan
ayakan
Material
Selulosa
Poliamida
Polimer,
membran
triasetat,
keramik
poliamida
Fluks range 0,05-1,4
1,4-12
10-50
(L/m2.h)
Tekanan
10-100 bar
5-20 bar
1-5 bar
operasi

Mikrofiltrasi
Symmetric
asymmetric
0,05 10 nm
Mekanisme
ayakan
Polimer,
keramik
> 50
0,1-2 bar
(Mulder, 1996)

Tabel 2.4 Perbandingan Keenam Jenis Teknologi Membran Berdasarkan Daya


Dorong (Driving Force)
Jenis Membran
Keterangan
Mikrofiltrasi
1.
Membran memiliki ukuran lebih besar dari
(MF)
Ultrafiltrasi (UF)
2.
Dapat menahan koloid besar dan partikel serta
mikroorganisme berukuran > 10 m
3.
Beroperasi pada tekanan antara (0,1-2 )bar
4.
Batasan fluks lebih besar dari 50 L/m2.jam
5.
Umumnya berstruktur simetrik
6.
Aplikasi: sterilisasi minuman dan farmasi,
pengolahan air limbah atau fermentasi kontinu,
recovery logam dalam bentuk koloid

16

Ultrafiltrasi
(UF)

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Nanofiltrasi
(NF)

Reverse Osmosis
(RO)

1.
2.
3.
4.
5.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Dialilsis

1.

Elektrodialisis

2.
1.

2.
3.

Merupakan membran makroporos dengan ukuran


pori (0,1-0,002) m
Mampu menahan partikel, koloid serta
mikroorganisme
Tekanan operasi antara (1-10 )bar
Batasan fluks mencapai (10-50)L/m2.jam
Kebanyakan berukuran asimetrik
Memisahkan senyawa berberat molekul tinggi
dari senyawa berberat molekul rendah
Aplikasi: industri makanan, industri farmasi,
industri. kertas, pengolahan limbah cair
Hanya dapat dilewati senyawa dibawah 1 nm
beroperasi pada tekanan antara (5-20) bar
Batasan fluks mencapai (1,4-12)L/m2.jam
Membran dapat merejeksi kuat ion-ion divalen,
sedangkan ion-ion monovalen lebih sedikit
Aplikasi : pelunakan (pengolahan) air minum
Membran mempunyai suatu lapisan tak berpori
(tidak terdeteksi alat yang disebut SEM)
Permeabel terhadap air dan alkohol
Sebelum dilewatkan ke membran, fluida terlebih
dahulu ditekan secara omosis
Tekanan operasi pada membran (10-100) bar
Batasan fluks (0,05-1,4)L/m2.jam
Aplikasi: memisahkan bahan-bahan berberat
molekul rendah dari larutan
Umumnya digunakan untuk memisahkan garam
dari mikcrosolute dari larutan yang mengandung
makromolekul
Aplikasi : pencucian darah
Membran yang digunakan membran penukar ion
yang disusun secara berselang-seling diantara
elektroda
Memisahkan bahan-bahan bermuatan dari larutan
Aplikasi: desalting larutan ionik, pemisahan asam
amino dari larutan dan proses klor-alkali
(Scott, K., dalam Mesah, 2008)

2.4.3 Teknologi Membran Ultrafltrasi

17

Pada penelitian ini, peneliti memilih membran ultrafiltrasi (UF) sebagai alat
untuk mengolah air payau. Hal ini didasarkan karena membran ultrafiltrasi diduga
mampu menurunkan parameter seperti zat organik yang terkandung dalam air
payau dan kekeruhan pada air payau, serta menahan mikroorganisme yang
terkandung dalam air payau.
Ultrafiltrasi (UF) merupakan proses membran dengan gaya dorong (driving
force) tekanan untuk memisahkan partikel, mikroorganisme, molekul-molekul
besar (large molecule) dan droplets emulsi. Media penyaringan (filter medium)
merupakan membran macropores dengan kemampuan untuk memisahkan partikel
yang berukuran antara 0,0001-0,02 m. Membran ini beroperasi pada tekanan
antara 1-5 bar dengan batasan permeabilitas adalah 10-50 L/m2.jam.bar
(Mulder,1996). Metode membran ultrafiltrasi menggunakan membran semi
permeabel untuk memisahkan makromolekul dari larutannya. Ukuran dan bentuk
molekul merupakan faktor penting dalam proses ultrafiltrasi.
Keunggulan membran UF dibandingkan dengan pengolahan secara
konvensional yaitu memerlukan energi yang lebih rendah untuk operasi dan
pemeliharaan, desain dan konstruksi untuk sistem dengan skala kecil,
peralatannya modular sehingga mudah di scaleup dan tidak butuh kondisi ektrim
(temperatur dan pH) (Notodarmojo dkk, 2004). Walaupun demikian, membran
mempunyai keterbatasan keterbatasan seperti terjadinya fenomena fouling, yang
menjadi pembatas bagi volume air terolah yang dihasilkan dan juga keterbatasan
umur membran.
2.4.4 Parameter Utama dalam Proses Membran
Karekterisasi membran dapat dilihat dari dua parameter utama yang
menentukan kinerja membran, yaitu : Selektivitas dan Permeabilitas.
2.4.4.1Selektivitas
Selektivitas suatu membran merupakan ukuran kemampuan suatu membran
untuk menahan suatu spesi atau melewatkan suatu spesi tertentu. Selektivitas
membran tergantung pada interaksi antar muka dengan spesi yang akan

18

melewatinya. Secara umum selektifitas berhubungan dengan kualitas permeat


yang dihasilkan dimana ukuran pori permukaan membran sangat berpengaruh.
Parameter yang digunakan untuk menggambarkan selektivitas membran
adalah koefisien rejeksi (R). Koefisien rejeksi adalah fraksi konsentrasi zat terlarut
yang tidak menembus membran dan dirumuskan sebagai berikut (Mulder, 1996).

R=

cp

x100%

c f

....... (2.1)

Dimana :
R

= Koefisien rejeksi (%)

Cp = Konsentrasi zat terlarut dalam permeat


Cf

= Konsentrasi zat terlarut dalam umpan


Harga R berkisar antara 0 sampai 1. Jika harga R = 1 berarti zat kontaminan

ditahan oleh membran secara sempurna.Untuk mengurangi penumpukkan materi


pada permukaan membran ada dua cara yang dapat dilakukan yaitu: (Milisic,
dalam mesah 2008).
1. Menjaga partikel mengenai membran
Untuk menjaga partikel mengenai membran ada beberapa cara teknik yang
dapat digunakan seperti proses filtrasi, proses koagulasi dimana upaya upaya
tersebut disebut sebagai pretreatment.
2. Membersihkan membran
Untuk membersihkan membran dapat digunakan pembersihan membran
secara periodik atau meningkatkan tegangan geser (shear stress). Pada permukaan
membran dimana konstituen yang telah tertahan (fouling) akan tergeser oleh
turbulensi aliran sehingga tidak terjadi penumpukkan partikel.
2.4.4.2Permeabilitas
Permeabilitas membran merupakan ukuran kecepatan dari suatu spesi atau
konstituen menembus membran. Secara kuantitas, permeabilitas membran sering
dinyatakan sebagai fluks atau koefisien permeabilitas. Dimana fluks akan

19

menentukan berapa banyak permeat yang dapat dihasilkan (kuantitas), sedangkan


selektivitas berkaitan dengan kualitas permeat.
Fluks adalah jumlah volume permeat yang melewati satu satuan permukaan
luas membran dengan waktu tertentu dengan adanya gaya dorong (driving force),
dalam hal ini berupa tekanan (Notodarmojo dkk, 2004). Fluks dirumuskan sebagai
berikut: (Mulder, 1996).

J=

V
Axt

. (2.2)

Dimana :
J

= Fluks (L/m2.jam)

V = Volume permeat (ml)


A = Luas permukaan membran (m2)
t = Waktu ( jam)
2.4.5 Modul Membran
Secara umum, modul membran memiliki dua macam konfigurasi yaitu
konfigurasi datar (flat) dan konfigurasi tubular.
2.4.5.1 Konfigurasi Datar
Pada konfigurasi datar, ada dua macam modul yang biasa digunakan, yaitu
modul membran yang menyerupai alat filtrasi yang disebut jenis plate and frame
dan jenis spiral wound.
1. Plate and frame
Modul-modul membran disusun sedemikian rupa dengan jarak tertentu dan
dibuat sejajar. Umpan masuk searah dengan membran, menembus membran
melalui permukaan atas membran, dan keluar sebagai permeat dari bagian dalam
membran.
2. Spiral wound
Modul terdiri dari dua membran datar, penjarak umpan, dan bahan berpori
pengumpul permeat yang digulung membentuk silinder. Pada bagian tengah
silinder terdapat pipa pengumpul permeat yang berfungsi untuk menampung
aliran permeat dan mengalirkannya sebagai produk. Penjarak umpan merupakan

20

suatu ayakan yang berfungsi untuk meningkatkan turbulensi aliran umpan pada
permukaan membran. Dua lembar membran dan bahan berpori pengumpul
permeat disatukan, sedangkan penjarak umpan dibiarkan terbuka agar aliran
umpan dapat masuk. Larutan umpan mengalir aksial sepanjang modul dalam celah
yang terbentuk antara penjarak dan membran. Gambar 2.6 a dan b
memperlihatkan gambar kedua jenis modul tersebut.

b.

a.
Gambar 2.6 a) Plate and Frame, b) Spiral Wound
(Timoti, 2005)
2.4.5.2 Konfigurasi Tubular

Modul membran jenis ini berbentuk tube atau pipa. Umpan (effluent feed)
ditekan masuk ke dalam tube ataupun serat dari arah luar, sedangkan permeat
mengalir melalui sisi dalam tube. Berdasarkan ukuran diameter tubular membran
yang dipakai, konfigurasi tubular digolongkan atas tiga modul :
1.

Modul tubular, umumnya memiliki diameter (5-25) mm. Modul tubular


digunakan untuk menangani cairan dengan viskositas yang tinggi.

2.

Modul hollow fiber, memiliki ukuran yang lebih kecil dari 0,5 mm dan
diperlukan ratusan hingga ribuan fiber untuk membentuk satu kesatuan
(bundle).
Pada Gambar 2.7 a dan b diperlihatkan gambar membran konfigurasi

tubular dan modul membran hollow fiber.

a.

b.

21

Gambar 2.7 a) Modul Membran Tubular, b) Modul Membran Hollow Fiber


(Timoti, 2005)
2.5

Metode Koagulasi dan Floakulasi


Koagulasi dan flokulasi merupakan suatu metode pemurnian yang bekerja

dengan menggunakan bahan kimia.


2.5.1 Koagulasi
Koagulasi didefinisikan sebagai proses destabilisasi muatan koloid padatan
tersuspensi termasuk bakteri dan virus, dengan suatu koagulan. sehingga akan
terbentuk flok-flok halus yang dapat diendapkan, proses pengikatan partikel
koloid dapat dilihat pada Gambar 2.8 Pengadukan cepat (flash mixing) merupakan
bagian integral dari proses koagulasi. Tujuan pengadukan cepat adalah untuk
mempercepat dan menyeragamkan penyebaran zat kimia melalui air yang diolah
(Risdianto, 2007).

Gambar 2.8 Proses Pengikatan Partikel Koloid oleh Koagulan (CG)


(Risdianto, 2007)
2.5.2 Flokulasi

22

Flokulasi merupakan proses pembentukan flok, yang pada dasarnya


merupakan pengelompokan/ aglomerasi antara partikel dengan koagulan
(menggunakan proses pengadukan lambat atau slow mixing), Proses pengikatan
partikel koloid oleh flokulan dapat dilihat pada Gambar 2.9 Pada flokulasi terjadi
proses penggabungan beberapa partikel menjadi flok yang berukuran besar.
Partikel yang berukuran besar akan mudah diendapkan (Risdianto, 2007).

Gambar 2.9 Proses Pengikatan Partikel Koloid oleh Flokulan


(Risdianto, 2007)