Anda di halaman 1dari 21

BAB I

KONSEP DASAR MEDIS


A. Definisi
Benigna Prostat Hiperplasia (BPH) adalah pembesaran progresif dari
kelenjar prostat (secara umum pada pria lebih tua dari 50 tahun) menyebabkan
berbagai derajat obstruksi uretra dan pembatasan aliran urinarius (Doenges, 1999).
Benigna Prostat Hiperplasia (BPH) adalah pembesaran jinak kelenjar prostat
disebabkan oleh karena hiperplasia beberapa atau semua komponen prostat meliputi
jaringan kelenjar/ jaringan fibromuskuler yang menyebabkan penyumbatan uretra
pars prostatika (Lab/ UPF Ilmu Bedah RSUD dr. Sutomo, 1994).
B. Etiologi
Etiologi Benigna Prostat Hiperplasia (BPH) belum diketahui secara jelas,
namun yang pasti kelenjar prostat sangat tergantung pada hormon androgen.
Faktor lain yang erat kaitannya dengan BPH adalah proses penuaan.
BPH adalah tumor jinak pada pria yang paling sering ditemukan. Pria
berumur lebih dari 50 tahun, kemungkinannya memiliki BPH adalah 50%. Ketika
berusia 80 85 tahun, kemungkinan itu meningkat menjadi 90%. Beberapa teori
telah dikemukakan berdasarkan faktor histologi, hormon, dan faktor perubahan
usia, diantaranya :
1. Teori DHT (Dehidrotestosteron)
Testosteron dengan bantuan enzim 5- reduktase dikonversi menjadi DHT
2.

yang merangsang pertumbuhan kelenjar prostat.


Teori Reawakening
Teori ini berdasarkan kemampuan stroma untuk merangsang pertumbuhan

3.

epitel.
Teori stem cell hypotesis
Stem sel akan berkembang menjadi sel aplifying. Sel aplifying akan
berkembang menjadi sel transit yang tergantung secara mutlak pada androgen,
sehingga dengan adanya androgen sel ini akan berproliferasi dan menghasilkan

pertumbuhan prostat yang normal.


4. Teori growth factors
Faktor pertumbuhan ini dibuat oleh sel-sel stroma di bawah pengaruh
androgen. Adanya ekspresi berlebihan dari epidermis growth factors (EGF)
dan/ atau fibroblast growth factors (FGF) dan atau adanya penurunan ekspresi
transforming growth factors- (TGF-), akan menyebabkan terjadinya

ketidakseimbangan pertumbuhan prostat dan menghasilkan pembesaran


prostat.
C. Patofisiologi
Kelenjar prostat adalah salah satu organ genetalia pria yang terletak di
sebelah inferior buli-buli, dan membungkus uretra posterior. Bentuknya sebesar
buah kenari dengan berat normal pada orang dewasa 20 gram. Mc Neal (1976)
membagi kelenjar prostat dalam beberapa zona, antara lain zona perifer, zona
sentral, zona transisional, zona fibromuskuler anterior dan periuretra (Purnomo,
2000). Sjamsuhidayat (2005), menyebutkan bahwa pada usia lanjut akan terjadi
perubahan keseimbangan testosteron-estrogen karena produksi testosteron menurun
dan terjadi konversi tertosteron menjadi estrogen pada jaringan adipose di perifer.
Purnomo (2000) menjelaskan bahwa pertumbuhan kelenjar ini sangat tergantung
pada hormon tertosteron, yang di dalam sel-sel kelenjar prostat hormon ini akan
dirubah menjadi dehidrotestosteron (DHT) dengan bantuan enzim alfa reduktase.
Dehidrotestosteron inilah yang secara langsung memacu m-RNA di dalam sel-sel
kelenjar prostat untuk mensintesis protein sehingga terjadi pertumbuhan kelenjar
prostat.
Oleh karena pembesaran prostat terjadi perlahan, maka efek terjadinya
perubahan pada traktus urinarius juga terjadi perlahan-lahan. Perubahan
patofisiologi yang disebabkan pembesaran prostat sebenarnya disebabkan oleh
kombinasi resistensi uretra daerah prostat, tonus trigonum dan leher vesika dan
kekuatan kontraksi detrusor. Secara garis besar, detrusor dipersarafi oleh sistem
parasimpatis, sedang trigonum, leher vesika dan prostat oleh sistem simpatis. Pada
tahap awal setelah terjadinya pembesaran prostat akan terjadi resistensi yang
bertambah pada leher vesika dan daerah prostat. Kemudian detrusor akan mencoba
mengatasi keadaan ini dengan jalan kontraksi lebih kuat dan detrusor menjadi lebih
tebal. Penonjolan serat detrusor ke dalam kandung kemih dengan sistoskopi akan
terlihat seperti balok yang disebut trahekulasi (buli-buli balok). Mukosa dapat
menerobos keluar diantara serat aetrisor. Tonjolan mukosa yang kecil dinamakan
sakula sedangkan yang besar disebut divertikel. Fase penebalan detrusor ini disebut
fase kompensasi otot dinding kandung kemih. Apabila keadaan berlanjut maka
detrusor menjadi lelah dan akhirnya mengalami dekompensasi dan tidak mampu
lagi untuk berkontraksi sehingga terjadi retensi urin. Pada hiperplasi prostat
2

digolongkan dua tanda gejala yaitu obstruksi dan iritasi. Gejala obstruksi
disebabkan detrusor gagal berkontraksi dengan cukup lama dan kuat sehingga
kontraksi terputus-putus (mengganggu permulaan miksi), miksi terputus, menetes
pada akhir miksi, pancaran lemah, rasa belum puas setelah miksi. Gejala iritasi
terjadi karena pengosongan yang tidak sempurna atau pembesaran prostat akan
merangsang kandung kemih, sehingga sering berkontraksi walaupun belum penuh
atau dikatakan sebagai hipersensitivitas otot detrusor (frekuensi miksi meningkat,
nokturia, miksi sulit ditahan/ urgency, disuria).
Karena produksi urin terus terjadi, maka satu saat vesiko urinaria tidak
mampu lagi menampung urin, sehingga tekanan intravesikel lebih tinggi dari
tekanan sfingter dan obstruksi sehingga terjadi inkontinensia paradox (overflow
incontinence). Retensi kronik menyebabkan refluks vesiko ureter dan dilatasi. ureter
dan ginjal, maka ginjal akan rusak dan terjadi gagal ginjal. Kerusakan traktus
urinarius bagian atas akibat dari obstruksi kronik mengakibatkan penderita harus
mengejan pada miksi yang menyebabkan peningkatan tekanan intra abdomen yang
akan menimbulkan hernia dan hemoroid. Stasis urin dalam vesika urinaria akan
membentuk batu endapan yang menambal. Keluhan iritasi dan hematuria. Selain
itu,

stasis

urin

dalam

vesika

urinaria

menjadikan

media

pertumbuhan

mikroorganisme, yang dapat menyebabkan sistitis dan bila terjadi refluks


menyebabkan pyelonefritis (Sjamsuhidayat, 2005).

D. Tanda dan Gejala


Gejala-gejala pembesaran prostat jinak dikenal sebagai Lower Urinary
Tract Symptoms (LUTS), yang dibedakan menjadi:
1. Gejala iritatif, yaitu sering buang air kecil (frequency), buang air kecil pada
malam hari lebih dari satu kali (nocturia), tergesa-gesa untuk buang air kecil
(urgency), sulit menahan buang air kecil (urgen incontinence), dan nyeri pada
saat miksi (disuria).
2. Gejala obstruktif adalah pancaran melemah, rasa tidak puas setelah buang air
kecil (incomplete emptying), menunggu lama pada permulaan buang air kecil
(hesitancy), harus mengedan saat buang kecil (straining), buang air kecil

terputus-putus (intermittency), dan waktu miksi memanjang yang akhirnya


menjadi retensi urin dan inkontinen karena overflow.
E. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan colok dubur
Pemeriksaan colok dubur dilakukan untuk mengetahui adanya
pembesaran prostat, benjolan keras (menunjukkan kanker) dan nyeri tekan
(menunjukkan adanya infeksi).
2. Pemeriksaan laboratorium
a. Sedimen Urin
Untuk mencari kemungkinan adanya proses infeksi atau inflamasi saluran
kemih.
b. Kultur Urin
Mencari jenis kuman yang menyebabkan infeksi atau sekaligus
menentukan sensitifitas kuman terhadap beberapa antimikroba yang
diujikan.
3. Pemeriksaan radiologi
a. Foto polos abdomen
Mencari kemungkinan adanya batu saluran kemih atau kalkulosa prostat
dan kadang menunjukan bayangan buli-buli yang penuh terisi urin yang
merupakan tanda dari retensi urin.

b. Intra Vena Pielografi (IVP)


Mengetahui kemungkinan kelainan ginjal atau ureter berupa hidroureter
atau hidronefrosis, memperkirakan besarnya kelenjar prostat, penyakit pada
buli-buli.
c. Ultrasonografi (trans abdominal dan trans rektal)
Untuk mengetahui pembesaran prostat, volume buli-buli atau mengukur
sisa urin dan keadaan patologi lainnya seperti difertikel, tumor.
d. Systocopy
Untuk mengukur besar prostat dengan mengukur panjang uretra
parsprostatika dan melihat penonjolan prostat ke dalam rektum.
F. Komplikasi
Komplikasi yang sering terjadi pada pasien BPH antara lain : seiring dengan
semakin beratnya BPH, dapat terjadi obstruksi saluran kemih karena urin tidak
mampu melewati prostat. Hal ini dapat menyebabkan infeksi saluran kemih dan
apabila tidak diobati, dapat mengakibatkan gagal ginjal (Corwin, 2000).

Kerusakan traktus urinarius bagian atas akibat dari obstruksi kronik


mengakibatkan penderita harus mengejan pada miksi yang menyebabkan
peningkatan tekanan intra abdomen yang akan menimbulkan hernia dan hemoroid.
Stasis urin dalam vesika urinaria akan membentuk batu endapan yang menambah
keluhan iritasi dan hematuria. Selain itu, stasis urin dalam vesika urinaria
menjadikan media pertumbuhan mikroorganisme, yang dapat menyebabkan sistitis
dan bila terjadi refluks menyebabkan pyelonefritis (Sjamsuhidayat, 2005).

G. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada BPH dapat dilakukan dengan :

1. Observasi (watchfull waiting)


Biasanya dilakukan pada pasien dengan keluhan ringan, saran yang
diberikan ialah kurangi minum setelah makan malam untuk mengurangi
nokturia, hindari obat dekongestan, kurangi kopi, hindari alkohol, tiap 3 bulan
kontrol keluhan, sisa kencing dan pemeriksaan colok dubur.

2. Medikamentosa
a. Penghambat adrenergik
Obat-obat yang sering dipakai adalah Prozosin, Dexzazosin, Terazin,
Afluzosin atau yang lebih slektif (Trambulozin) dosis dimulai dari 1
mg/hari, sedangkan dosis Trombulozin adalah 0,2 0,4 mg/hari.
Penggunaan antagonis a-1-adrenergik karena secara efektif mengurangi
obstruksi pada buli-buli tanpa merusak kontraktilitas destrusor.
b. Penghambat enzim -2 reduktase
Obat yang dipakai adalah Finasferide (PROSCAR) dengan dosis 1x5
mg/hari, obat golongan ini dapat menghambat pembentukan DHT
sehingga prostat yang membesar akan mengecil. Namun, obat ini bekerja
lebih lambat daripada golongan bloker dan manfaatnya hanya jelas pada
prostat yang sangat besar.
3. Terapi Bedah
Waktu penanganan untuk tiap pasien bervariasi tergantung beratnya
gejala dan komplikasi.
Indikasi pembedahan pada BPH adalah :
a. Klien yang mengalami retensi urin akut atau pernah retensi urin akut
b. Klien dengan residual urine >100 ml
c. Klien dengan penyulit

1) Hydroneprosis
2) Terbentuknya batu buli
3) Infeksi saluran kencing berulang
4) Hematuri berat/ berulang
5) Hernia/ hemoroid
6) Menurunnya kualitas hidup
7) Retensio urine
8) Gangguan fungsi ginjal
d. Terapi medikamentosa tidak berhasil
e. Sindroma prostatisme yang progresif
f. Flow metri yang menunjukkan pola obstruktif
1) Flow. Max < 10 ml
2) Kurva berbentuk datar
3) Waktu miksi memanjang
Kontra indikasi pembedahan pada BPH adalah :
a. IMA (Infark Miokard Akut)
b. CVA akut
Jenis tindakan pembedahan pada pasien BPH antara lain :
a. Terapi bedah konvensional (Open Simple Prostatektomy)
Indikasi untuk melakukan tindakan ini adalah bila ukuran prostat
terlalu besar (diatas 100g) atau bila disertai divertikulum atau batu bulibuli.
1) Prostatektomi supra pubis
Yaitu pengangkatan kelenjar prostat melalui insisi yang dibuat pada
kandung kemih.
2) Prostatektomi retro pubis
Yaitu pengangkatan kelenjar prostat melalui insisi pada abdomen
bagian bawah melalui fosa prostat anterior tanpa memasuki kandung
kemih.
3) Prostatektomi peritoneal
Yaitu pengangkatan kelenjar prostat radikal melalui sebuah insisi
diantara skrotum dan rektum.
4) Prostatektomi retropubis radikal
Yaitu pengangkatan kelenjar prostat termasuk kapsula, vesikula
seminalis dan jaringan yang berdekatan melalui sebuah insisi pada
abdomen bagian bawah, uretra dianastomosiskan ke leher kandung
kemih pada kanker prostat.
b. Terapi invasif minimal
1) TURP (Trans Uretrhal Resection of the Prostate)
Yaitu pengangkatan sebagian atau keseluruhan kelenjar prostat yang
menimbulkan obstruksi melalui sitoskopi atau resektoskop yang
dimasukkan melalui uretra.

2) TUIP (Trans Urethral Incision of the Prostate)


Dilakukan terhadap penderita dengan gejala sedang sampai berat dan
dengan ukuran prostat kecil.
c. Terapi laser
Tekniknya antara lain Trans Urethral Laser Induced Prostatectomy
(TULIP) yang dilakukan dengan bantuan USG, Visual Coagulative
Necrosis, Visual Laser Ablation of the Prostate (VILAP), dan Interstitial
Laser Therapy.
d. Terapi alat
1) Microwave hypertermia
Memanaskan jaringan adenoma melalui alat yang dimasukkan melalui
uretra atau rektum dengan suhu 42 45 oC sehingga diharapkan terjadi
koagulasi.
2) Trans Urethral Needle Ablation (TUNA)
Alat yang dimasukkan melalui uretra yang apabila posisi sudah diatur,
dapat mengeluarkan 2 jarum yang dapat menusuk adenoma dan
mengalirkan panas, sehingga terjadi koagulasi sepanjang jarum yang
menancap di jaringan prostat.
3) High Intensity Focused Ultrasound (HIFU)
Melalui probe yang ditempatkan di rektum yang memancarkan energi
ultrasound dengan intensitas tinggi dan terfokus.
4) Intraurethral Stent
Adalah alat yang secara endoskopik ditempatkan di fosa prostatika
unruk mempertahankan lumen uretra tetap terbuka.
5) Trans Urethral Baloon Dilatation
Dilakukan dengan memasukkan kateter yang dapat mendilatasi fosa
prostatika dan leher kandung kemih.
H. Prognosis
Prognosis untuk BPH berubah-ubah dan tidak dapat diprediksi pada tiap
individu walaupun gejalanya cenderung meningkat. Namun BPH yang tidak segera
ditindaki memiliki prognosis yang buruk karena dapat berkembang menjadi kanker
prostat. Menurut penelitian, kanker prostat merupakan kanker pembunuh nomor 2
pada pria setelah kanker paru-paru. BPH yang telah diterapi juga menunjukkan
berbagai efek samping yang cukup merugikan bagi penderita.

BAB II
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

A. Data Dasar Pengkajian


1. Sirkulasi
Tanda :

Peninggian TD (efek pembesaran ginjal)

2. Eliminasi
Gejala :
-

Penurunan kekuatan/ dorongan aliran urine : tetesan

Keragu-raguan pada berkemih awal

Ketidakmampuan untuk mengosongkan kandung kemih dengan lengkap :


dorongan dan frekuensi berkemih

Nokturia, disuria, hematuria

Duduk untuk berkemih

ISK berulang, riwayat batu (stasis urinaria)

Konstipasi (protrusi prostat ke dalam rektum).

Tanda:
-

Massa padat di bawah abdomen bawah (distensi kandung kemih), nyeri


tekan kandung kemih

Hernia inguinalis, hemoroid (mengakibatkan peningkatan tekanan


abdominal yang memerlukan pengosongan kandung kemih mengatasi
tahanan).

3. Makanan/ Cairan
Gejala:
-

Anoreksia, mual, muntah

Penurunan berat badan

4. Nyeri/ Kenyamanan
Gejala:
-

Nyeri suprapubis, panggul, atau punggung: tajam dan kuat (pada


prostatitis akut)

Nyeri punggung bawah.

5. Keamanan
Gejala:
-

Peningkatan suhu

6. Seksualitas
Gejala:
-

Masalah tentang efek kondisi/ terapi pada kemampuan seksual.

Takut inkontinensia/ menetes selama hubungan intim

Penurunan kekuatan kontraksi ejakulasi

Tanda :
-

Pembesaran/ nyeri tekan prostat

B. Diagnosa Keperawatan
1. Pre operasi
a. Retensi urine berhubungan dengan obstruksi uretra pars prostatika
b. Nyeri akut berhubungan dengan distensi kandung kemih
c. Gangguan eliminasi urin berhubungan dengan berkurangnya aliran kemih
d. Gangguan pola tidur berhubungan dengan aktivasi sistem RAS akibat
nyeri
e. Ansietas berhubungan dengan mekanisme koping tidak efektif (kurang
pengetahuan tentang penyakit)
2. Post operasi
a. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri fisik (tindakan pembedahan)
b. Resiko infeksi berhubungan dengan adanya luka insisi (prosedur invasif)
c. Kurang pengetahuan tentang penyakit berhubungan dengan kurangnya
paparan informasi
d. Ansietas berhubungan dengan mekanisme koping tidak efektif (kurang
pengetahuan tentang penyakit)
C. Penyimpangan KDM
(Terlampir)
D. Intervensi Keperawatan
1. Diagnosa pre operasi
a. Retensi urine berhubungan dengan obstruksi uretra pars prostatika
Diagnosa
Keperawatan/
Masalah Kolaborasi

Rencana keperawatan
Tujuan dan Kriteria
Intervensi
Hasil

10

Retensi urin
berhubungan dengan:
Tekanan uretra
tinggi,blockage,
hambatan reflek,
spingter kuat
DS :
- Disuria
- Bladder terasa
penuh
DO :
- Distensi bladder
- Terdapat urine
residu
- Inkontinensia tipe
luapan
- Urin output
sedikit/ tidak ada

NOC :
Urinary elimination
Urinary
Contiunence
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan
selama . retensi urin
pasien teratasi dengan
kriteria hasil:
Kandung kemih
kosong secarapenuh
Tidak ada residu
urine >100-200 cc
Intake cairan dalam
rentang normal
Bebas dari ISK
Tidak ada spasme
bladder
Balance cairan
seimbang

NIC :
Urinary Retention Care
Monitor intake dan
output
Monitor penggunaan
obat antikolinergik
Monitor derajat distensi
bladder
Instruksikan pada
pasien dan keluarga untuk
mencatat output urine
Sediakan privacy untuk
eliminasi
Stimulasi reflek bladder
dengan kompres dingin
pada abdomen.
Kateterisaai jika perlu
Monitor tanda dan
gejala ISK (panas,
hematuria, perubahan bau
dan konsistensi urine)

b. Nyeri akut berhubungan dengan distensi kandung kemih


Diagnosa
Keperawatan/
Masalah Kolaborasi

Rencana keperawatan
Tujuan dan Kriteria
Intervensi
Hasil

11

Nyeri akut
berhubungan dengan:
Agen injuri (biologi,
kimia, fisik,
psikologis), kerusakan
jaringan
DS :
- Laporan secara
verbal
DO :
- Posisi untuk
menahan nyeri
- Tingkah laku
berhati-hati
- Gangguan tidur
(mata sayu, tampak
capek, sulit atau
gerakan kacau,
menyeringai)
- Terfokus pada diri
sendiri
- Fokus menyempit
(penurunan persepsi
waktu, kerusakan
proses berpikir,
penurunan interaksi
dengan orang dan
lingkungan)
- Tingkah laku
distraksi, contoh :
jalan-jalan,
menemui orang lain
dan/atau aktivitas,
aktivitas berulangulang)
- Respon autonom
(seperti diaphoresis,
perubahan tekanan
darah, perubahan
nafas, nadi dan
dilatasi pupil)
- Perubahan
autonomic dalam
tonus otot (mungkin
dalam rentang dari
lemah ke kaku)
- Tingkah laku
ekspresif (contoh :

NOC :

NIC :
Lakukan pengkajian
nyeri secara komprehensif
Level,
termasuk lokasi,

pain
karakteristik, durasi,
control,
frekuensi, kualitas dan

comfort
faktor presipitasi
level
Observasi reaksi
nonverbal
dari
Setelah dilakukan
ketidaknyamanan
tinfakan keperawatan
Bantu pasien dan
selama . Pasien tidak
keluarga untuk mencari dan
mengalami nyeri,
menemukan dukungan
dengan kriteria hasil:
Kontrol lingkungan
Mampu mengontrol yang
dapat mempengaruhi
nyeri (tahu
nyeri
seperti suhu ruangan,
penyebab nyeri,
pencahayaan dan
mampu
kebisingan
menggunakan tehnik
Kurangi faktor
nonfarmakologi
presipitasi
nyeri
untuk mengurangi
Kaji tipe dan sumber
nyeri, mencari
nyeri
untuk menentukan
bantuan)
intervensi
Melaporkan bahwa
Ajarkan tentang teknik
nyeri berkurang
non farmakologi: napas
dengan
dala, relaksasi, distraksi,
menggunakan
kompres hangat/ dingin
manajemen nyeri
Berikan analgetik untuk
Mampu mengenali
mengurangi nyeri: ...
nyeri (skala,
Tingkatkan istirahat
intensitas, frekuensi Berikan informasi
dan tanda nyeri)
tentang nyeri seperti
Menyatakan rasa
penyebab nyeri, berapa
nyaman setelah
lama nyeri akan berkurang
nyeri berkurang
dan antisipasi
Tanda vital dalam
ketidaknyamanan dari
rentang normal
prosedur
Tidak mengalami
Monitor vital sign
sebelum dan sesudah
gangguan tidur
pemberian analgesik
pertama kali
Pain

12

gelisah, merintih,
menangis, waspada,
iritabel, nafas
panjang/berkeluh
kesah)
Perubahan dalam
nafsu makan dan
minum

c. Gangguan eliminasi urin berhubungan dengan berkurangnya aliran kemih


Diagnosa
Keperawatan/
Masalah Kolaborasi

Rencana keperawatan
Tujuan dan Kriteria
Intervensi
Hasil
Gangguan eliminasi
NOC :
NIC :
urin berhubungan

Kontines Pantau eliminasi urine


dengan:
meliputi frekuensi,
ia urine
Obstruksi anatomis,
konsistensi, bau, volume

Eliminas
gangguan sensori atau
dan warna jika perlu
i urine
motorik, dan infeksi
Ajarkan pasien tentang
saluran kemih
tanda
dari gejala infeksi
Setelah dilakukan
DS :
saluran kemih
tinfakan keperawatan
- Disuria
Instruksikan pasien dan
selama . Pasien tidak
- Urgensi
keluarga untuk mencatat
mengalami gangguan
DO :
haluaran urine bila
eliminasi urine, dengan
- Sering berkemih
diperlukan
kriteria hasil:
- Mengalami
Instruksikan pasien

Menun
kesulitan di awal
untuk berespons segera
jukkan kontinesia
berkemih
terhadap kebutuhan
urine, yang
- Inkontinensia
eliminasi jika perlu
dibuktikan oleh
- Nokturia
Anjurkan pasien untuk
indikator berikut:
- Retensi
minum
200 ml cairan pada
selalu, sering,
saat makan, diantara waktu
kadang-kadang,
makan dan di awal petang.
jarang atau tidak
pernah
ditunjukkan) :
Infeksi saluran
kemih (SDP [Sel
darah putih]
<100.000)
Kebocoran urine
diantara
berkemih

13

Menun
jukkan eliminasi
urine, yang
dibuktikan oleh
indikator berikut:
tidak pernah, jarang,
kadang-kadang,
sering, atau selalu
ditunjukkan) :
Eliminasi secara
mandiri
Mempertahanka
n pola berkemih
yang dapat
diduga.

d. Gangguan pola tidur berhubungan dengan aktivasi sistem RAS akibat nyeri
Diagnosa
Keperawatan/
Masalah Kolaborasi

Rencana keperawatan
Tujuan dan Kriteria
Intervensi
Hasil
Gangguan pola tidur NOC :
NIC :
berhubungan dengan: Anxiety Control
Sleep Enhancement
Psikologis :
Determinasi efek-efek
Comfort Level
usia tua,
medikasi
terhadap pola
Pain Level
kecemasan, agen
tidur
Rest : Extent and
biokimia, suhu
Jelaskan pentingnya
Pattern
tubuh, pola
tidur
yang adekuat
Sleep : Extent ang
aktivitas, depresi,
Fasilitasi untuk
Pattern
kelelahan, takut,
mempertahankan aktivitas
kesendirian.
sebelum tidur (membaca)
Setelah dilakukan
Lingkungan :
Ciptakan lingkungan
tindakan keperawatan
kelembaban,
yang nyaman
selama . gangguan
kurangnya
Kolaburasi pemberian
pola tidur pasien
privacy/kontrol
obat tidur
teratasi dengan kriteria
tidur, pencahayaan, hasil:
medikasi
Jumlah jam tidur
(depresan,
dalam batas normal
stimulan),kebising
Pola tidur,kualitas
an.
dalam batas normal
Fisiologis :
Perasaan fresh
Demam, mual,
sesudah
posisi, urgensi
tidur/istirahat
urin.
Mampu
DS :
mengidentifikasi
Bangun lebih
hal-hal yang
awal/lebih lambat

14

Secara verbal
menyatakan tidak
fresh sesudah tidur
DO :
Penurunan
kemempuan fungsi
Penurunan
proporsi tidur
REM
Penurunan
proporsi pada
tahap 3 dan 4 tidur.
Peningkatan
proporsi pada
tahap 1 tidur
Jumlah tidur
kurang dari normal
sesuai usia

meningkatkan tidur

e. Ansietas berhubungan dengan mekanisme koping tidak efektif (kurang


pengetahuan tentang penyakit)
Diagnosa
Keperawatan/
Masalah Kolaborasi

Rencana keperawatan
Tujuan dan Kriteria
Intervensi
Hasil
Ansietas berhubungan NOC :
NIC :
dengan
Kontrol kecemasan Anxiety Reduction
faktor keturunan,
(penurunan kecemasan)
Koping
krisis situasional,
Gunakan pendekatan
sress, perubahan
yang
menenangkan
Setelah dilakukan
status kesehatan,
Nyatakan dengan jelas
asuhan selama . klien ancaman kematian,
harapan
terhadap pelaku
kecemasan teratasi dgn
perubahan konsep
pasien
kriteria hasil:
diri, kurang
Jelaskan semua
Klien mampu
pengetahuan dan
prosedur dan apa yang
mengidentifikasi
hospitalisasi
dirasakan selama prosedur
dan
DO/ DS:
Temani pasien untuk
mengungkapkan
- Insomnia
memberikan
keamanan dan
gejala cemas
- Kontak mata
mengurangi
takut
Mengidentifikasi,
kurang
Berikan informasi
mengungkapkan
- Kurang istirahat
faktual
mengenai diagnosis,
dan menunjukkan
- Berfokus pada diri
tindakan prognosis
tehnik untuk
sendiri
Libatkan keluarga
mengontol cemas
- Iritabilitas
untuk mendampingi klien
Vital sign dalam
- Takut
Instruksikan pada
batas
normal
- Nyeri perut
pasien untuk menggunakan

15

Penurunan TD dan
denyut nadi
Diare, mual,
kelelahan
Gangguan tidur
Gemetar
Anoreksia, mulut
kering
Peningkatan TD,
denyut nadi, RR
Kesulitan bernafas
Bingung
Bloking dalam
pembicaraan
Sulit
berkonsentrasi

Postur tubuh,
ekspresi wajah,
bahasa tubuh dan
tingkat aktivitas
menunjukkan
berkurangnya
kecemasan

tehnik relaksasi
Dengarkan dengan
penuh perhatian
Identifikasi tingkat
kecemasan
Bantu pasien mengenal
situasi yang menimbulkan
kecemasan
Dorong pasien untuk
mengungkapkan perasaan,
ketakutan, persepsi
Kelola pemberian obat
anti cemas: ........

2. Diagnosa post operasi


a. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri fisik (tindakan pembedahan)
Diagnosa
Keperawatan/
Masalah Kolaborasi

Rencana keperawatan
Tujuan dan Kriteria
Intervensi
Hasil
Nyeri akut
NOC :
NIC :
berhubungan dengan:

Pain
Lakukan pengkajian
agen injuri (biologi,
nyeri secara komprehensif
Level,
kimia, fisik,
termasuk lokasi,

pain
psikologis), kerusakan
karakteristik, durasi,
control,
jaringan
frekuensi, kualitas dan

comfort
DS :
faktor presipitasi
level
Laporan secara
Observasi reaksi
verbal
nonverbal
dari
Setelah dilakukan
DO :
ketidaknyamanan
tinfakan keperawatan
Posisi untuk
Bantu pasien dan
selama . Pasien tidak
menahan nyeri
keluarga untuk mencari dan
mengalami nyeri,
Tingkah laku
menemukan dukungan
dengan kriteria hasil:
berhati-hati
Kontrol lingkungan
Mampu mengontrol Gangguan
yang
dapat mempengaruhi
nyeri (tahu
tidur (mata sayu,
nyeri seperti suhu ruangan,
penyebab nyeri,
tampak capek, sulit
pencahayaan dan
mampu
atau gerakan
kebisingan
menggunakan tehnik
kacau,
Kurangi faktor
nonfarmakologi
menyeringai)
presipitasi
nyeri
untuk mengurangi
Terfokus pada
Kaji tipe dan sumber
nyeri, mencari
diri sendiri
nyeri
untuk menentukan
bantuan)
Fokus
intervensi
Melaporkan bahwa
menyempit
Ajarkan tentang teknik
nyeri berkurang
(penurunan
non farmakologi: napas
dengan
16

persepsi waktu,
kerusakan proses
berpikir,
penurunan
interaksi dengan
orang dan
lingkungan)
Tingkah laku
distraksi, contoh :
jalan-jalan,
menemui orang
lain dan/ atau
aktivitas, aktivitas
berulang-ulang)
Respon
autonom (seperti
diaphoresis,
perubahan tekanan
darah, perubahan
nafas, nadi dan
dilatasi pupil)
Perubahan
autonomic dalam
tonus otot
(mungkin dalam
rentang dari lemah
ke kaku)
Tingkah laku
ekspresif (contoh :
gelisah, merintih,
menangis,
waspada, iritabel,
nafas
panjang/berkeluh
kesah)
Perubahan
dalam nafsu makan
dan minum

menggunakan
manajemen nyeri
Mampu mengenali
nyeri (skala,
intensitas, frekuensi
dan tanda nyeri)
Menyatakan rasa
nyaman setelah
nyeri berkurang
Tanda vital dalam
rentang normal
Tidak mengalami
gangguan tidur

dala, relaksasi, distraksi,


kompres hangat/ dingin
Berikan analgetik untuk
mengurangi nyeri: ...
Tingkatkan istirahat
Berikan informasi
tentang nyeri seperti
penyebab nyeri, berapa
lama nyeri akan berkurang
dan antisipasi
ketidaknyamanan dari
prosedur
Monitor vital sign
sebelum dan sesudah
pemberian analgesik
pertama kali

17

b. Resiko infeksi berhubungan dengan adanya luka insisi (prosedur invasif)


Diagnosa
Keperawatan/
Masalah Kolaborasi
Risiko infeksi
Faktor-faktor risiko :
- Prosedur Infasif
- Kerusakan
jaringan dan
peningkatan
paparan
lingkungan
- Malnutrisi
- Peningkatan
paparan
lingkungan
patogen
- Imonusupresi
- Tidak adekuat
pertahanan
sekunder
(penurunan Hb,
Leukopenia,
penekanan respon
inflamasi)
- Penyakit kronik
- Imunosupresi
- Malnutrisi
- Pertahan primer
tidak adekuat
(kerusakan kulit,
trauma jaringan,
gangguan
peristaltik)

Rencana keperawatan
Tujuan dan Kriteria
Intervensi
Hasil
NOC :
NIC :
Immune Status
- Pertahankan teknik aseptif
- Batasi pengunjung bila
Knowledge :
perlu
Infection control
- Cuci tangan setiap sebelum
Risk control
dan sesudah tindakan
keperawatan
Setelah dilakukan
Gunakan baju, sarung
tindakan keperawatan
tangan sebagai alat
selama pasien
pelindung
tidak mengalami infeksi
Ganti letak IV perifer dan
dengan kriteria hasil:
dressing sesuai dengan
Klien bebas dari
petunjuk umum
tanda dan gejala
- Gunakan kateter intermiten
infeksi
untuk menurunkan infeksi
Menunjukkan
kandung kencing
kemampuan untuk
- Tingkatkan intake nutrisi
mencegah timbulnya
- Berikan terapi antibiotik:
infeksi
.......................................
Jumlah leukosit
- Monitor tanda dan gejala
dalam batas normal
infeksi sistemik dan lokal
Menunjukkan
- Pertahankan teknik isolasi
perilaku hidup sehat
k/p
Status imun,
- Inspeksi kulit dan membran
gastrointestinal,
mukosa terhadap
genitourinaria dalam
kemerahan, panas, drainase
batas normal
- Monitor adanya luka
- Dorong masukan cairan
- Dorong istirahat
- Ajarkan pasien dan
keluarga tanda dan gejala
infeksi
- Kaji suhu badan pada
pasien neutropenia setiap 4
jam

c. Kurang pengetahuan tentang penyakit berhubungan dengan kurangnya paparan


informasi
18

Diagnosa
Keperawatan/
Masalah Kolaborasi
Kurang Pengetahuan
berhubungan dengan :
keterbatasan kognitif,
interpretasi terhadap
informasi yang salah,
kurangnya keinginan
untuk mencari
informasi, tidak
mengetahui sumbersumber informasi.
DS:
- Menyatakan secara
verbal adanya
masalah
DO:
- Ketidakakuratan
mengikuti
instruksi, perilaku
tidak sesuai

Rencana keperawatan
Tujuan dan Kriteria
Intervensi
Hasil
NOC:
NIC :
Knowledge : disease Kaji tingkat
pengetahuan pasien dan
process
keluarga
Knowledge : health
Jelaskan patofisiologi
behavior
dari penyakit dan
bagaimana hal ini
Setelah dilakukan
berhubungan dengan
tindakan keperawatan
anatomi dan fisiologi,
selama . pasien
dengan cara yang tepat.
menunjukkan
Gambarkan tanda dan
pengetahuan tentang
gejala yang biasa muncul
proses penyakit dengan
pada penyakit, dengan cara
kriteria hasil:
yang tepat
Pasien dan keluarga
Gambarkan proses
menyatakan
penyakit,
dengan cara yang
pemahaman tentang
tepat
penyakit, kondisi,
Identifikasi
prognosis dan
kemungkinan penyebab,
program pengobatan
dengan cara yang tepat
Pasien dan keluarga
Sediakan informasi
mampu
pada
pasien tentang kondisi,
melaksanakan
dengan cara yang tepat
prosedur yang
Sediakan bagi keluarga
dijelaskan secara
informasi tentang kemajuan
benar
pasien dengan cara yang
Pasien dan keluarga
tepat
mampu menjelaskan Diskusikan pilihan
kembali apa yang
terapi atau penanganan
dijelaskan
Dukung pasien untuk
perawat/tim
mengeksplorasi atau
kesehatan lainnya
mendapatkan second
-

opinion dengan cara yang


tepat atau diindikasikan
Eksplorasi
kemungkinan sumber atau
dukungan, dengan cara
yang tepat

d. Ansietas berhubungan dengan mekanisme koping tidak efektif (kurang


pengetahuan tentang penyakit)

19

Diagnosa
Keperawatan/
Masalah Kolaborasi

Rencana keperawatan
Tujuan dan Kriteria
Intervensi
Hasil
Ansietas berhubungan NOC :
NIC :
dengan
Kontrol kecemasan Anxiety Reduction
faktor keturunan,
(penurunan kecemasan)
Koping
krisis situasional,
Gunakan pendekatan
stress, perubahan
yang
menenangkan
Setelah dilakukan
status kesehatan,
Nyatakan
dengan jelas
asuhan selama . klien
ancaman kematian,
harapan terhadap pelaku
kecemasan teratasi dgn
perubahan konsep
pasien
kriteria hasil:
diri, kurang
Jelaskan semua
Klien mampu
pengetahuan dan
prosedur
dan apa yang
mengidentifikasi
hospitalisasi
dirasakan selama prosedur
dan
DO/DS:
Temani pasien untuk
mengungkapkan
- Insomnia
memberikan keamanan dan
gejala cemas
- Kontak mata
mengurangi takut
Mengidentifikasi,
kurang
Berikan informasi
mengungkapkan
- Kurang istirahat
faktual
mengenai diagnosis,
dan menunjukkan
- Berfokus pada diri
tindakan
prognosis
tehnik untuk
sendiri
Libatkan keluarga
mengontol cemas
- Iritabilitas
untuk mendampingi klien
Vital sign dalam
- Takut
Instruksikan pada
batas normal
- Nyeri perut
pasien untuk menggunakan
- Penurunan TD dan Postur tubuh,
tehnik relaksasi
ekspresi wajah,
denyut nadi
Dengarkan dengan
bahasa
tubuh
dan
- Diare, mual,
penuh perhatian
tingkat aktivitas
kelelahan
Identifikasi tingkat
menunjukkan
- Gangguan tidur
kecemasan
berkurangnya
- Gemetar
Bantu pasien mengenal
kecemasan
- Anoreksia, mulut
situasi yang menimbulkan
kering
kecemasan
- Peningkatan TD,
Dorong pasien untuk
denyut nadi, RR
mengungkapkan perasaan,
- Kesulitan bernafas
ketakutan, persepsi
- Bingung
Kelola pemberian obat
- Bloking dalam
anti cemas: ........
pembicaraan
- Sulit
berkonsentrasi

DAFTAR PUSTAKA

20

Anonim. 2013. Asuhan Keperawatan untuk BPH (Benigna Prostat Hiperplasia).


http://askep-laporan-pendahuluan.blogspot.com/2013/09/asuhan-keperawatanuntuk-bph-benigna.html (02 Desember 2014).
Anonim. 2014. Laporan Pendahuluan BPH (Benigna Prostat Hiperplasia).
http://lpkeperawatan.blogspot.com/2014/01/laporan-pendahuluan-bph-benignaprostat-hiperplasia.html#.VIPneNKUccE (02 Desember 2014).
Davey, Patrick. 2005. At A Glance Medicine. Jakarta: Erlangga.
Doenges, Marilyn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Ed. 3. Jakarta: EGC.
Indi, Adista. 2008. Laporan Pendahuluan BPH (Benigna Prostat Hiperplasia).
http://ndestha.blogspot.com/2012/09/laporan-pendahuluan-bph.html (02 Desem
ber 2014).
Purnomo. 2000. Dasar-Dasar Urologi. Malang: Fakultas Kedokteran Universitas
Brawijaya.
Sjamsuhidayat, R. 2005. Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: EGC.
Wilkonson, Judith M. 2011. Buku Saku Diagnosis Keperawatan : Diagnosis NANDA,
Intervensi NIC, Kriteria Hasil NOC, Ed. 6. Jakarta: EGC.

21