Anda di halaman 1dari 22

Frozen Shoulder

Pembimbing:
Dr.Endang .......

Disusun oleh:
Ira Frayanti S
112014091

Kepanitraan Klinik Ilmu Penyakit Saraf


Fakultas Kedokteran Universitas Krosten Krida Wacana
RS. Panti Wilasa Dr. Cipto
Periode April 2015 30 Mei 2015

Daftar Isi
Pendahuluan
Isi

Anatomi dan fisiologi


Definisi
Epidemiologi
Etiologi

Pendahuluan
Frozen shoulder, atau juga sering disebut sebagai adhesive capsulitis,
merupakan suatu kelainan di mana terjadi inflamasi pada kapsul sendi bahu, yaitu
jaringan ikat disekitar sendi glenohumeral, sehingga sendi tersebut menjadi kaku
dan terjadi keterbatasan gerak dan nyeri yang kronis.
Adhesive capsulitis merupakan suatu kondisi yang sangat nyeri dan
melumpuhkan dan sering menyebabkan frustrasi besar bagi pasien dan perawatnya
karena pemulihannya yang lambat. Pergerakan bahu menjadi sangat terbatas.
Nyerinya biasanya terus-menerus, bertambah parah pada malam hari, atau saat
udara menjadi lebih dingin, dan akibat keterbatasan pergerakan sehingga membuat
melakukan kegiatan sehari-hari menjadi sulit.
Selain kesulitan dalam melakukan tugas sehari-sehari, pasien dengan adhesive
capsulitis terkadang mengalami gangguan tidur akibat nyeri yang bertambah pada
malam hari.
Pengobatan mungkin menyakitkan dan berat dan terdiri dari terapi fisik,
pengobatan, terapi pijat, hydrodilatation atau operasi. Seorang dokter juga dapat
melakukan manipulasi di bawah anestesi, yang membuka perlekatan dan jaringan
parut pada sendi untuk membantu memulihkan gerak sendi. Nyeri dapata diatasi
dengan analgesic dan NSAID. Kondisi ini sering kalo merupakan penyakit selflimiting, dapat sembuh tanpa operasi tapi memerlukan waktu hingga dua tahun.
Sebagian besar penderita penyakit ini dapat mengembalika 90% dari kemampuan
gerak sendi bahu. Pasien dengan frozen shoulder dapat mengalami kesulitan
bekerja dan melakukan aktivitas sehari-hari untuk beberapa waktu.

Isi
A. Definisi
Istilah frozen shouder hanya digunakan untuk penyakait yang sudah diketahui
dengan baik yang ditandai dengan nyeri dan kekakuan progresif bahu yang
berlangsung 18 bulan. Proses peradangan dari tendonitis kronis tapi perubahanperubahan peradangan kemudian menyebar melibatkan seluruh cuff dan capsul
(Appley, 1993).
Selama peradangan berkurang jaringan berkontraksi kapsul menempel pada
kaput humeri dan guset sinovial intra artikuler dapat hilang dengan perlengketan.
Frozen merupakan kelanjutan lesi rotator cuff, karena degenerasi yang progresif. Jika
berkangsung lama otot rotator akan tertarik serta memperlengketan serta
memperlihatkan tnada-tanda penipisan dan fibrotisasi. Keadaan lebih lanjut, proses
degenerasi diikuti erosi tuberculum humeri yang akan menekan tendon bicep dan
bursa subacromialis sehingga terjadi penebalan dinding bursa. Frozen shoulder dapat
pula terjadi karena ada penimbunan kristal kalsium fosfat dan karbonat pada rotator
cuff. Garam ini tertimbun dalam tendon, ligamen, kapsul serta dinding pembuluh
darah. Penimbunan pertama kali ditemukan pada tendon lalu kepermukaan dan
menyebar keruang bawah bursa subdeltoid sehingga terjadi rardang bursa, terjadi
berulang-ulang karena tekiri terus-menerus menyebabkan penebalan dinding bursa,
pengentalan cairan bursa, perlengketandinding dasar dengan bursa sehingga timbul
pericapsulitis adhesive akhirnya terjadi frozen shoulder (Mayo, 2007).
Frozen shoulder dibagi 2 Klasifikasi, yaitu :
a. Primer/ idiopetik frozen shoulder
Yaitu frozen yang tidak diketahui penyebabnya. Frozen shoulder lebih banyak
terjadi pada wanita dari pada pria dan biasanya terjadi usia lebih dari 41 tahun.
Biasanya terjadi pada lengan yang tidak digunakan dan lebih memungkinkan
terjadi pada orang-orang yang melakukan pekerjaan dengan gerakan bahu yang
lama dan berulang.

b Sekunder frozen shoulder


Yaitu frozen yang diikuti trauma yang berarati pada bahu misal fraktur,
dislokasi, luka baker yang berat, meskipun cedera ini mungkin sudah terjadi
beberapa tahun sebelumnya.
Kapsul
Sendi mengalami

peradangan

Gambar 1
Capsulitis Adhesiva Bahu Kiri Tampak dari Anterior
2.1 Anatomi dan Fisiologi
Sendi pada bahu terdiri dari tiga tulang yaitu tulang klavikula, skapula, dan
humerus. Terdapar dua sendi yang sangat berperan pada pergerakan bahu yaitu
sendi akromiklavikular dan glenohumeral. Sendi glenohumeral lah yang berbentuk
ball-and-socket yang memungkinkan untuk terjadi ROM yang luas. Strukturstruktur yang membentuk bahu disebut juga sebgai rotator cuff. Tulang-tulang pada
bahu disatukan oleh otot, tendon, dan ligament. Tendon dan ligament membantu
member kekuatan dan stabilitas lebih. Otot-otot yang menjadi bagian dari rotator
cuff adalah m. supraspinatus, m. infraspinatus, m. teres minor, dan m.
subscapularis.
Otot-otot pada rotator cuff sangat penting pada pergerakan bahu dan menjaga
stabilitas sendi glenohumeral. Otot ini bermulai dari scapula dan menyambung ke
humerus membuat seperti cuff atau manset pada sendi bahu. Manset ini menjaga
caput humeri di dalam fossa glenoid yang dangkal.
Otot-otot pada rotator cuff menjada ball dalam socket pada sendi
glenohumeral dan memberikan mobilitas dan kekuatan pada sendi shoulder.
Terdapat dua bursa untuk memberi bantalan dan melingungi dari akromion dan
memungkinkan gerakan sendi yang lancar.
Saat terjadi abduksi lengan, rotator cuff memampatkan sendi glenohumeral,
sebuah istilah yang dikenal sebagai kompresi cekung (concavity compression),
untuk memungkinkan otot deltoid yang besar untuk terus mengangkat lengan.
Dengan kata lain, rotator cuff, caput humerus akan naik sampai sebagian keluar
dari fosa glenoid, mengurangi efisiensi dari otot deltoid.
I. Tanda dan gejala

Tanda dan gejala klinis yang sering timbul pada penderita frozen shoulder akibat
capsulitis adhesiva adalah :
a. Nyeri
Pasien berumur antara 40-60 tahun, dapat memiliki riwayat trauma, sering kali
ringan, diikuti rasa sakit pada bahu dan lengan. Nyeri berangsur-angsur bertambah
berat dan pasien sering tidak bisa tidur pada posisi yang terkena, setelah beberapa
bulan nyeri mulai berkurang, tetapi sementara itu kekakuan semakin menjadi,
berlanjut terus selama 6-12 bulan. Setelah itu beberapa bulan kemudian nyeri mulai
berkurang, tetapi kekakuan semakin menjadi. Setelah berapa bulan kemudian pasien
dapat bergerak, tetapi tidak normal.

Gambar 6
Diagnosis Banding Nyeri pada Shoulder
Nyeri dirasakan pada daerah otot deltoideus. Bila terjadi pada malam hari
sering dijumpai mengganggu tidur. Pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya
kesulitan penderita dalam mengangkat lengannya (abduksi), sehingga penderita akan
melakukan gerakan kompensasi dengan mengangkat bahu pada saat gerakan
mengangkat lengan yang sakit, yaitu saat flexi dan abduksi sendi bahu diatas 90 atau

di sebut dengan shrugging mechanism. Juga dapat dijumpai adanya atrofi otot gelang
bahu.(Heru,2004).
Cardinal feature yang ditemui adalah hilangnya atau berkurangnya
kemampuan gerakan pasiv dan aktif pada semua arah. Pemeriksaan X-ray
menunjukkan hasil yang normal kecuali ditemukan adanya reduce bone density. Kata
kunci untuk meng-exclude penyebab lain dari nyeri adalah, adanya stiff shoulder.

Gambar 7
Scartch Test
b. Keterbatasan LGS (Lingkup Gerak Sendi)

Frozen sholder karena capsulitis adhesiva ditandai dengan adanya


keterbatasan lingkup gerak sendi glenohumeral pada semua gerakan yang nyata, baik
gerakan yang aktif maupun pasif. Sifat nyeri dan keterbatasan gerak sendi bahu terjadi
pada semua gerakan sendi bahu, tetapi sering menunjukkan pola yang spesifik, yaitu
pola kapsuler. Pola gerak sendi bahu ini adalah gerak exorotasi lebih terbatas dari
gerak abduksi dan lebih terbatas dari gerak adduksi. Ini adalah suatu gambaran klinis
yang dapat menyertai tendinitis, infark myokard, diabetes melitus, fraktur
immobilisasi berkepanjangan atau redikulitis cervicalis. Keadaan ini biasanya
unilateral, terjadi pada usia antara 4560 tahun dan lebih sering pada wanita.
Nyeri dirasakan pada daerah otot deltoideus. Bila terjadi pada malam hari
sering sampai mengganggu tidur. Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya
kesukaran penderita dalam mengangkat lengannya (abduksi), sehingga penderita akan
melakukan dengan mengangkat bahunya (srugging).

Gambar 8
Frozen Shoulder
c. Penurunan kekuatan otot dan arofi otot
Pada pemeriksaan fisik didsapat adanya kesukaran penderita dalam
mengangkat lengannya (abduksi) karena penurunan kekuatan otot. Nyeri dirasakan
pada daerah otot deltoideus, bila terjadi pada malam hari sering menggangu tidur.
Pada pemeriksaan didapatkan adanya kesukaran penderita dalam mengangkat
lengannya (abduksi), sehingga penderita akan melakukan dengan mengangkat

bahunya (srugging). Juga dapat dijumpai adanya atropi bahu (dalam berbagai
tingkatan). Sedangkan pemeriksaan neurologik biasanya dalam batas normal.
d. Gangguan Aktifitas fungsional
Dengan beberapa adanya tanda dan gejala klinis yanmg ditemukan pada
penderita frozen shoulder akibat capsulitis adhesiva seperti adanya nyeri, keterbatasan
LGS, penurunan kekuatan otot, dan atrofi maka secara langsung akan mempengaruhi
aktifitas fungsional yang dijalani.
II. Diagnosis
Tidak semua kekakuan atau nyeri pada shoulder didiagnosis dengan frozen
shoulder, terdapat beberapa kontroversi mengenai cara mendiagnosis frozen shoulder.
Stiffnes dapat terjadi pada beberapa keadaan seperti pada arthritis, rheumatoic, post
traumatic dan postoperatif.
Diagnosis frozen shoulder ditegakkan secara klinis, dengan dua karakteristik yang
didapatkan yaitu:
1) Painful restriction of movement dengan X-ray normal
2) Natural progression dengan 3 successive phase

Gambar 9
X-ray normal pada Frozen Shoulder
Pada saat menemukan pasien pertama kali, beberapa kondisi harus di exclude,
infeksi, post traumatic stiffness, diffuse stiffness dan reflex sympathetic dystrophy.

Infeksi. Pada pasien diabetes, sangat penting menyingkirkan adanya infeksi. Pada
hari pertama dan kedua nyeri biasanya tanda tanda inflamasi belum ditemukan.
Posttraumatic stiffness. Setelah adanya cedera shoulder yang parah, stiffness dapat
bertahan selama beberapa bulan. Nyeri diawal dan secara gradual berkurang nyerinya.
Tidak ditemukan karakteristik dari frozen shoulder.
Diffuse stiffness. Jika lengan sedang dalam perawatan karena sebab yang lain
misalnya forearm fracture shoulder dapat ditemukan kaku. Namun sekali lagi,
karakteristik dari frozen shoulder tidak ditemukan.
Reflex Yympathetic Dystrophy. Shoulder pain dan stiffness dapat mengikuti
myocardial infarction atau stroke. Keadaanya sama dengan frozen shoulder lalu kemudian
setelah diobservasi lebih lanjut ternyata merupakan bentuk dari reflex sympathetic
dystrophy. Pada kasus yang berat upper limb dapat terlibat, dengan adanya trophic dan
perubahan vasomotor di tangan (the shoulder hand syndrome)
III.Penatalaksanaan
a. Terapi Konservatif
Terapi konservatif ditujukan untuk meredakan nyeri dan mencegah stiffening
yang berkelanjutan selama masa recovery terlampaui. Latihan sangat dianjurkan,
yang terpenting adalah pedunculum exercise. Physioterapi masih diragukan
manfaatnya sedangkan injeksi steroid masih diperdebatkan.
Saat terjadi nyeri akut, anastesi general dapat dipertimbangkan untuk
membantu range of movement. Shoulder digerakkan secara gently tapi lembut ke
external rotation lalu di abduksi dan flexi. Perawatan khusus diperlukan bagi
elderly, pasien dengan osteoporosis memiliki resiko tinggi terjadi fraktur pada neck
of humerus. Dan akhitnya persendian di injeksi dengan methylprednisolon dan
lignocain.

Gambar 10.
Injeksi Antinyeri dan Kortikosteroid pada Frozen Shoulder
Metode alternatif lainnya adalah dengan injeksi large volume (50 200 ml) of
steril saline under pressure. Pada arthroscopy menunjukkan bahwa manipulasi dan
distensi memiliki efek ruptur capsul sendi. Nyeri post operasi dapat dikontrol, jika
perlu dengan interscalene block. Latihan dapat dilakukan segera jika dirasakan
sudah nyaman.
Hasil dari terapi konservatif sangat subyektif. Beberapa pasien berkurang
nyerinya dan merasa puas. Bagaimanapun juga, pada pemeriksaan selanjutnya
menunjukkan residual restriction movement (specially external rotation) pada lebih
dari 50% kasus.

b. Terapi Operatif
Operasi bukan merupakan well defined role. Indikasi utamanya adalah
adanya prolonged dan disabling restriction of movement yang gagal dengan terapi
konservatif. Rotator interval dan coracohumeral ligament di relased, dan
coracoacromial

ligament

di

latih.

Dapat

dilakukan

dengan

bantuan

arthroscopically, sedangkan pada kasus yang sulit open operation lebih disarankan.

Gambar 11
Arthroscopy pada Frozen Shoulder

Fisiotherapy
1. Diatermi gelombang pendek (Short Wave Diathermy/ SWD)
Short wave diathermy merupakan suatu pengobatan dengan menggunakan
stressor berupa energi elektromagnetik yang dihasilkan oleh arus listrik bolak- balik
frekuensi 27, 12 MHz, dengan panjang gelombang 11m.
Efektifitas dalam penggunaan SWD ditentukan oleh penentuan intensitas dan
dosis.Intensitas ditentukan oleh perasaan penderita terhadap panas yang diterimanya.

Besar kecilnya intensitas bersifat subjektif tergantung sensasi panas yang diterima
pasien oleh karena itu antara orang satu dengan lainnya mungkin bisa berbeda
intensitas SWD yang diberikan. Menurut schliphake, intensitas dibagi menjadi empat
tingkat yaitu : (a) Intensitas submitis (penderita tidak merasakan panas), (b) Intensitas
mitis (penderita merasakan sedikit panas), (c) Intensitas normalis (penderita
merasakan hangat yang nyaman), (d) Intensitas fortis (Penderita merasakan panas
yang kuat, tapi masih bisa ditahan).
Tujuan terapi panas yang dihasilkan pada pemberian SWD ini adalah:
a)

Mengurangi nyeri
Adanya gejala nyeri menunjukkan dalam keadaan tidak normal. Jaringan
tersebut merupakan sumber nyeri, keadaan yang tidak normal tadi memberikan
iritasi kepada reseptor nyeri. Stimulus tadi selanjutnya akan dihantarkan oleh
serabut C tanpa myelin (nyeri tumpul, lamban, diffuse) atau serabut A delta
bermielin (nyeri tajam, cepat). Panas yang diberikan akan memberikan efek
sedative karena adanya kenaikan nilai ambang nyeri.karena adanya vasodilatasi
akan memperlancar pembuangan zat pain producing substance (Sri Mardiman,
1989).

b) Memberikan relaksasi otot- otot spasme


Nyeri bahu akan merangsang reaksi protektif dari tubuh berupa spasme
otot- otot sekitar bahu. Ini dimaksudkan untuk memfiksir sendi bahu agar tidak
bergerak, yang selanjutnya akan terhindar rasa nyeri. Reaksi spasme itu sendiri
akan menghambat sistem peredaran darah setempat yang mengakibatkan
terhambatnya reorgnisasi jaringan dan pain producing substance. Hal ini akan
menambah nyeri, sehingga siklus yang tidak menguntungkan, sel-sel abnormal
yang menyebabkan bengkak dan nyeri oleh pengaruh medan magnit yang
ditimbukan oleh gelombang pulsa SWD, sel-sel abnormal dapat dinormalkan (Sri
Mardiman, 1989).
Syarat-syarat untuk menentukan indikasi pemberian terapi dengan SWD:
1) Stadium dari penyembuhan luka
2) Sifat dari jaringan atau organ yang mengalami kerusakan
3) Lokalisasi dari jaringan/ organ yang mengalami kerusakan
2. Terapi Manipulasi

Terapi manipulasi adalah suatu gerakan pasif yang digerakkan dengan


tiba- tiba, amplitude kecil dan kecepatan yang tinggi, sehingga pasien tidak
mampu menghentika gerakan yang terjadi ( Mudatsir, 2007 ).
Tujuan mobilisasi sendi adalah untuk mengembalikan fungsi sendi normal
dan tanpa nyeri. Secara mekanis, tujuannya adalah untuk memperbaiki joint play
movement dan dengan demikian memperbaiki roll-gliding yang terjadi selama
gerakan aktif. Terapi manipulasi harus diakhiri apabila sendi telah mencapai LGS
maksimal tanpa nyeri dan pasien dapat melakukan gerakan aktif dengan normal
(Heru P Kuntono, 2007).
Gerakan translasi (traksi dan gliding) dibagi menjadi tiga gradasi. Gradasi
gerakan ini ditentukan berdasarkan tingkat kekendoran (slack) sendi yang
dirasakan fisioterapis saat melakukan gerakan pasif seperti yang ditunjukkan pada
Grade I
Grade I traksi merupakan gerakan dengan amplitudo sangat kecil sehingga
tidak sampai terasa adanya geseran permukaan sendi. Kekuatan gaya tarik yang
diberikan sebatas cukup untuk menetralisir gaya kompresi yang bekerja pada
sendi.
Kombinasi antara tegangan otot, gaya kohevisitas kedua permukaan
sendi dan tekiri atmosfer menghasilkan gaya kompresi pada sendi.
Grade II traksi dan gliding gerakan sampai terjadi slack taken up jaringan
di sekitar persendian meregang.
Grade III traksi dan gerakan sampai diperoleh slack taken up kemudian
diberi gaya lebih besar lagi sehingga jaringan di sekitar persendian teregang.
Traksi untuk memperbaiki luas gerak sendi:
Traksi mobilisasi grade III efektif untuk memperbaiki mobilitas sendi
karena dapat meregang (streatch) jaringan lunak sekitar persendian yang
memendek. Traksi-mobilisasi dipertahamkan selama 7 detik atau lebih dengan
kekuatan maksimal sesuai dengan toleransi pasien. Antara dua traksi yang
dilakukan, traksi tidak perlu dilepaskan total keposisi awal melainkan cukup
diturunkan kegrade II dan kemudian lakukan traksi grade III lagi. (Mudatsir S,
2002).
3. Terapi Latihan.
Adapun metode yang digunakan adalah :

a. Active exercise
Latihan aktif disini bertujuan untuk menjaga serta menambah
lingkup gerak sendi (LGS).Disini penulis memberikan latihan dengan
menggunakan metode free active exercise.Gerakan dilakukan oleh
kekuatan otot penderita itu sendiri dengan tidak menggunakan suatu
bantuan dan tahanan yang berasal dari luar.Latihan ini bisa dilakukan
kapan pun dan dimana pun penderita berada.
b. Overhead pulley
Tujuan dari pemberian overhead pulley adalah untuk menambah
lingkup gerak sendi dan meningkatkan nilai kekuatan otot dengan bantuan
alat ini. Dengan adanya gerakan yang berulang-ulang maka akan terjadi
penambahan lingkup gerak sendi serta menjaga dan menambah kekuatan
otot jika diberi beban.
c. Codman pendulum exercis.
Codman pendulumexercise dilakukan pada stadium akut.
1) Tujuan :
Untuk mencegah perlengketan pada sendi bahu dengan
melakukan gerakan pasif sedini mungkin yang dilakukan pasien secara
aktif.
Gerakan pasif dilakukan untuk mempertahankan pergerakan
pada sendi & mencegah pelengketan permukaan sendi. Sedangkan
pencegahan gerakan aktif adalah untuk mencegah terjadinya kontraksi
otot- otot rotator cuff & abductor bahu
2) Cara melakukan:
Pasien membungkukkan badan

dan lengan yang sakit

tergantung vertical. Posisi ini menyebabkan lengan fleksi 90 pada


bahu tanpa adanya kontraksi otot- otot deltoid maupun rotator cuff.
Gravitasi / gaya tarik bumi menyebabkan pemisahan permukaan sendi
glenohumeral sehingga kapsul sendi tersebut akan memanjang. Lutut
pasien dalam keadaan fleksi untuk mencegah timbulnya gangguan pada
pinggang.

Gambar 12
Slide ke Arah Postero Lateral
Posisi pasien berbaring terlentang, posisi terapis duduk di kursi
menghadap pasien. Pada pelaksanaannya kedua tangan terapis
memegang bagian proksimal lengan atas, siku pasien diletakkan pada
bahu terapis kemudian terapis mendorong ke arah postero lateral.
Tujuan pemberian terapi ini adalah untuk memperbaiki gerak
endorotasi sendi bahu.

Gambar 13
Traksi Latero Ventro Cranial

Gambar 14
Slide ke Arah Caudal
Posisi pasien berbaring terlentang, lengan abduksi sebatas
nyeri, posisi terapis berdiri di samping sendi bahu pasien.
Pelaksanaannya siku terapis ditekuk dan diposisikan menempel pada
tubuh terapis, sedangkan jari I dan II diletakkan pada daerah caput
humeri pasien, lengan terapis yang lain menyangga pada siku pasien
dengan fiksasi, terapis mendorong caput humeri ke arah caudal dengan
dorongan dari siku terapis yang menempel pada tubuh terapis dan
dorongan bisa ditambah dengan gaya berat badan. Tujuan pemberian
terapi ini adalah untuk memperbaiki gerak abduksi sendi bahu.

Gambar 15
Slide ke Arah Antero Medial
Posisi pasien berbaring terlentang, posisi terapis berdiri di
samping sisi yang akan diterapi. Pelaksanaan tangan terapis di letakkan
pada bagian proksimal lengan atas (sedekat mungkin dengan axilla).
Lengan bawah pasien dijepit dengan lengan terapis kemudian terapis

menggerakakkan ke arah antero medial. Tujuan pemberian terapi ini


adalah untuk memperbaiki gerak eksorotasi sendi bahu.
Edukasi
Edukasi yang diberikan pada pasien dengan kondisi frozen shoulder akibat
capsulitis adhesiva antara lain : (1) pasien diminta melakukan kompres panas (jika
pasien tahan) 15 menit pada bahu yang sakit untuk mengurangi rasa nyeri yang
timbul, (2) pasien dianjurkan agar tetap meggunakan lengannya dalam batas toleransi
pasien untuk menghindari posisi immobilisasi yang lama yang dapat memperburuk
kondisi frozen shoulder, (3) latihan sesuai metode Codman pendular exercise di
rumah dengan beban minimal dan dapat ditambah secara bertahap, (4) latihan
merambatkan jari lengan yang sakit ke dinding (walking finger), (5) menghindari
posisi menetap yang lama yang dapat memicu rasa nyeri, (6) latihan dengan handuk,
posisi lengan seperti huruf S terbalik kedua lengan memegang handuk kemudian
bahu yang sehat menarik ke atas sampai lengan yang sakit tertarik, (7) latihan
penguatan dengan prinsip Codman pendular exercise yang dilakukan di dalam kolam
atau bak mandi dengan melawan tahanan air.

IV. Komplikasi
Pada kondisi frozen shoulder akibat capsulitis adhesiva yang berat dan tidak
dapat mendapatkan penanganan yang tepat dalam jangka waktu yang lama, maka akan
timbul problematik yang lebih berat antara lain : (1) Kekakuan sendi bahu (2)
Kecenderungan terjadinya penurunan kekuatan otot-otot bahu (3) Potensial
terjadinya deformitas pada sendi bahu (4) Atropi otot-otot sekitar sendi bahu (5) Adanya
gangguan aktifitas keseharian (AKS).
Adapun berbagai macam gangguan yang ditimbulkan dari frozen shoulder adalah
sebagai berikut :
1. Impairment.
Pada kasus frozen shoulder akibat capsulitis adhesiva permasalahan yang
ditimbulkan antara lain adanya nyeri pada bahu, keterbatasan lingkup gerak sendi
dan penurunan kekuatan otot di sekitar bahu.

2. Functional limitation.
Masalah-masalah yang sering ditemui pada kondisi-kondisi frozen
shoulder adalah keterbatasan gerak dan nyeri, oleh karena itu dalam keseharian
sering ditemukan keluhan-keluhan seperti tidak mampu untuk menggosok
punggung saat mandi, menyisir rambut, kesulitan dalam berpakaian, mengambil
dompet dari saku belakang kesulitan memakai breast holder (BH) bagi wanita
dan gerakan-gerakan lain yang melibatkan sendi bahu (Appley, 1993).

Gambar 15
Functional Limitation pada Frozen Shoulder
3. Participation restriction.
Pasien yang mengalami frozen shoulderakan menemukan hambatan untuk
melakukan aktifitas sosial masyarakat karena keadaannya, hal ini menyebabkan
pasien tersebut tidak percaya diri dan merasa kurang berguna dalam masyarakat,
tapi pada umumnya frozen shoulder jarang menimbulkan disability atau
kecacatan.

V. Prognosis
Apabila dilakukan tindakan sendiri mungkin secara tepat maka prognosis gerak dan
fungsi dari kasus frozen sholder adalah baik. Penderita sebaiknya diberitahu bahwa akan
dapat menggerakkan bahu kembali tanpa rasa nyeri tetapi memerlukan waktu beberapa bulan.
(Setiawan,1991).
VII. Diagnosis banding
a. Tendinitis bicipitalis
Tendon otot biceps dapat mengalami kerusakan secara tersendiri, meskipun
berada bersama-sama otot supraspinatus. Tendinitis ini biasanya merupakian reaksi
terhadap adanya trauma akibat jatuh atau dipukul pada bahu dengan lengan dalam
posisi adduksi serta lengan bawah supinasi.
Pada kasus tendonitis juga dapat terjadi pada orang-orang yang bekerja keras
dengan posisi seperti tersebut di atas dan secara berulang kali. Pemeriksaan fisik
pada penderita tendinitis bisipitalis didapatkan adanya aduksi sendi bahu terbatas,
nyeri tekan pada tendon otot bisep, tes yorgason disamping timbul nyeri juga
didapat penonjolan pada samping medial tuberkuluminus humeri, berarti tendon
otot bisep tergelincir dan berada di luar sulcus bisipitalis sehingga terjadi penipisan
tuberkulum (Heru, 2004).
b. Bursitis Subacromialis
Bursitus subacromialis merupakan peradangan dari bursa sub acromialis,
keluhan utamanya adalah tidak dapat mengangkat lengan ke samping (abduksi
aktif), tetapi sebelumnya sudah merasa pegal-pegal di bahu. Lokasi nyeri yang
dirasakan adalah pada lengan atas atau tepatnya pada insertion otot deltoideus di
tuberositas deltoidea humeri. Nyeri ini merupakan nyeri rujukan dari bursitis sub
acromialis yang khas sekali, ini dapat dibuktikan dengan penekanan pada
tuberkulum humeri. Tidak adanya nyeri tekan berarti nyeri rujukan.
Pada pemeriksaan fisik dijumpai adanya Panfull arc sub acromialis 7001200, tes fleksi siku melawan tahanan pada posisi fleksi 90 0 terjadi rasa nyeri (Heru,
2004).
c. Tendinitis Supraspinatus

Tendon otot supraspinatus sebelum berinsersio pada tuberkulum mayus


humeri, akan melewati terowongan pada daerah bahu yang dibentuk oleh kaput
humeri (dengan pembungkus kapsul sendi glinohumeral) sebagai alasnya, dan
acromion serta ligamentum coraco acromiale sebagai penutup bagian atasnya.
Disini tendon tersebut akan saling bertumpang tindih dengan tendon dari otot bisep
kaput longum. Adanya gesekan berulang-ulang serta dalam jangka waktu yang lama
akan mengakibatkan kerusakan pada tendo otot supraspinatus dan berlanjut sebagai
tendonitis supraspinatus (Heru, 2004).