Anda di halaman 1dari 57

REFERAT

ASPEK MEDIKOLEGAL SISTEM RUJUKAN DI


INDONESIA DAN LUAR NEGERI

DOSEN PENGUJI :
dr. Arief Rahman Sadad, Sp.F, SH, MSi.Med, DHM

RESIDEN PEMBIMBING :
dr. Julia Ike Haryanto

Disusun Oleh :
Afria Beny Safitri
Maulana Wasis Waskito
Tuti Alawiyah
Akbar Fadeli
Muhammad Aries
Nurtriastuti
Syarfina Rosyadah

1410221061
1410221036
1310221067
03010015
03009159
03010211
03010262

FK UPN
FK UPN
FK UPN
FK TRISAKTI
FK TRISAKTI
FK TRISAKTI
FK TRISAKTI

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN


MEDIKOLEGAL
RUMAH SAKIT UMUM PUSAT Dr. KARIADI SEMARANG
Periode 25 Mei 20 Juni 2015

HALAMAN PENGESAHAN
REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL

ASPEK MEDIKOLEGAL SISTEM RUJUKAN DI INDONESIA DAN


LUAR NEGERI

Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat dalam memenuhi


Program Pendidikan Profesi Dokter

Disusun Oleh :

Pembimbing

dr. Julia Ike Haryanto

Penguji

dr. Arief Rahman Sadad, Sp.F, SH, MSi.Med, DHM

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmatNya sehingga kami dapat menyelesaikan referat dengan judul Aspek
Medikolegal Sistem Rujukan di Indonesia dan luar negeri yang merupakan salah
satu syarat dalam melaksanakan kepaniteraan klinik di bagian Ilmu Kedokteran
Forensik Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Kariadi Semarang.
Kami juga mengaucapkan terima kasih kepada :
1
2
3
4

dr. Arief Rahman Sadad, Sp.F, SH, MSi.Med, DHM


sebagai penguji referat
dr. Julia Ike Haryanto sebagai residen pembimbing
Seluruh pembimbing dibagian Ilmu Kedokteran Forensik Rumah sakit

Umum Pusat Dr. Kariadi Semarang atas ilmu dan bimbingannya, dan
Seluruh rekan dokter muda dikepaniteraan klinik Ilmu Kedokteran
Forensik dan Medikolegal, serta semua pihak yang telah membantu dalam
pembuatan referat ini.
Kami sadar bahwa referat yang kami buat ini masih sangat banyak

kekurangannya, untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang
membangun dari para pembaca sehingga tulisan ini dapat menjadi lebih baik.

Semarang, 2 Juni 2015

Penulis

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN..........................................................................
KATA PENGANTAR...................................................................................
DAFTAR ISI.................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang

1
2
3

4
1.2 Rumusan

masalah.
5

1.3 Tujuan.

............

6
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian aspek medikolegal................................................................
2.2 Pengertian sistem rujukan dan rujukan...................................................
2.3 Jenis rujukan...........................................................................................
2.4 Langkah sistem rujukan.........................................................................
2.5 Alur sistem rujukan ...........................................................................
2.6 Surat pengantar rujukan..........................................................................
2.7 Acuan untuk merujuk bagi dokter Umum...............................................
2.8 Sistem pelayanan kesehatan di Malaysia................................................
2.9 Sistem pelayanan kesehatan di jerman...................................................
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan

7
7
10
15
29
34
34
42
47

54
3.2 Saran
55
DAFTAR PUSTAKA
56

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Undang-Undang Dasar Tahun 1945 menyatakan bahwa kesehatan
merupakan Hak Asasi Manusia. Setiap orang mempunyai hak untuk hidup
layak, baik dalam kesehatan pribadi maupun keluarganya termasuk
didalamnya mendapatkan makanan, pakaian, perumahan, dan pelayanan sosial
lain yang diperlukan. Kesehatan adalah keadaaan sehat baik secara fisik,
mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang hidup
produktif secara sosial dan ekonomi.1
Di negara Indonesia sistem rujukan kesehatan telah dirumuskan dalam
Permenkes No. 001 tahun 2012 tentang sistem rujukan pelayanan kesehatan
perorangan. Sistem rujukan pelayanan kesehatan merupakan penyelenggaraan
pelayanan kesehatan yang mengatur pelimpahan tugas dan tanggung
jawabpelayanan kesehatan secara timbal balik baik vertikal maupun
horizontal. Secara sederhana dapat diungkapkan, sistem rujukan mengatur
darimana dan harus kemana seseorang dengan gangguan kesehatan tertentu
memeriksakan keadaan sakitnya.2,3
Pelaksanaan sistem rujukan di Indonesia telah diatur dengan bentuk
bertingkat atau berjenjang, yaitu pelayanan kesehatan tingkat pertama, kedua
dan ketiga, dimana dalam pelaksanaannya tidak berdiri sendiri-sendiri namun
berada di suatu sistem dan saling berhubungan. Apabila pelayanan kesehatan
primer tidak dapat melakukan tindakan medis tingkat primer maka ia
menyerahkan tanggung jawab tersebut ke tingkat pelayanan di atasnya,
demikian seterusnya. Apabila seluruh faktor pendukung (pemerintah,
teknologi, dan transportasi) terpenuhi maka proses ini akan berjalan dengan
baik dan masyarakat awam akan segera tertangani dengan tepat.4
Penyebaran pelayanan kesehatan yang belum merata di Indonesia
menjadi suatu masalah tersendiri dalam mewujudkan pemerataan pelayanan
kesehatan yang bermutu terutama untuk masyarakat di daerah pelosok.Hal ini
dibuktikan dengan masih terpusatnya rumah sakit tipe A, B dan C di kotakota besar. Sedangkan pelayanan kesehatan terasa masih sangat kurang.3,4

Untuk mengatasi masalah penyebaran pelayanan kesehatan yang


belum merata di Indonesia maka diperlukan suatu sistem rujukan yang
baik.Sistem rujukan tersebut dapat berupa rujukan dari unit pelayanan
kesehatan yang lebih rendah ke lebih tinggi serta antar unit pelayanan
kesehatan yang setara. Dengan terciptanya sistem rujukan yang baik
diharapkan mampu mengurangi angka kesakitan dan kematian di Indonesia.3,4
Keteraturan sistem rujukan sendiri di Indonesia baru dimulai sejak
adanya BPJS, yaitu 1 Januari 2014, namun belum memberikan pelayanan
yang menyeluruh terhadap warga negaranya. Sedangkan menurut WHO
tahun 2000 Jerman merupakan negara dengan peringkat pertama dari 191
negara dalam memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh kepada
penduduknya, namun pada negara ini tidak mengenal adanya sistem rujukan
kesehatan. Malaysia merupakan salah satu negara berkembang yang juga
menganut sistem rujukan kesehatan. Adanya kesenjangan mengenai sistem
rujukan kesehatan di berbagai negara, membuat hal ini penting untuk
dibahas.
1.2 Rumusan Masalah
1.
2.
3.
4.
5.

Apa pengertian rujukan dan sistem rujukan, serta dasar hukumnya?


Apa saja jenis rujukan dan hukum yang mendasarinya?
Bagaimana langkah sistem rujukan dan hukum yang mendasarinya?
Bagaimana alur sistem rujukan serta dasar hukum yang mendasarinya?
Bagaimana bentuk surat pengantar rujukan sesuai hukum yang

mengaturnya?
6. Apa yang digunakan sebagai acuan untuk merujuk bagi dokter umum serta
hukum yang mendasarinya?
7. Bagaimana alur sistem rujukan kesehatan di negara lainnya?
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan Umum :
1. Memberikan pengetahuan kepada dokter dan dokter muda tentang aspek
medikolegal sistem rujukan pada bidang kesehatan di Indonesia dan luar
negeri.

Tujuan Khusus :
1. Mengetahui pengertian aspek medikolegal
2. Mengetahui pengertian rujukan dan sistem rujukan, serta hukum yang
3.
4.
5.
6.

mendasarinya
Mengetahui jenis rujukan dan hukum yang mendasarinya
Mengetahui langkah sistem rujukan dan hukum yang mendasarinya
Mengetahui alur sistem rujukan serta dasar hukum yang mendasarinya
Mengetahui bentuk surat pengantar rujukan sesuai hukum yang

mengaturnya
7. Mengetahui apa yang digunakan sebagai acuan untuk merujuk bagi dokter
umum serta hukum yang mendasarinya

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Aspek Medikolegal
Medikolegal secara harafiah berasal dari dua pengertian yaitu medik
yang berarti profesi dokter dan legal yang berarti hukum. Sehingga batasan
medikolegal adalah ilmu hukum atau suatu tata cara baku yang mengatur

bagaimana profesi dokter ini dilakukan sehingga memenuhi aturan-aturan


hukum yang ada. Medikolegal menurut KBBI adalah berkaitan, baik dengan
kesehatan maupun hukum.5,6
2.2 Pengertian Sistem Rujukan dan Rujukan
Di Negara Indonesia sistem rujukan kesehatan telah dirumuskan dalam
Permenkes No. 001 tahun 2012 pasal 3, Sistem rujukan adalah
penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang mengatur pelimpahan tugas dan
tanggungjawab pelayanan kesehatan secara timbal balik baik vertikal dalam
arti dari unit yang berkemampuan kurang kepada unit yang lebih mampu
maupun horizontal dalam arti antar unit yang setingkat kemampuannya,
kepada yang lebih berwenang dan mampu, terjangkau dan rasional. Ini
merupakan salah satu upaya dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan
kesehatan yang akan memberikan dampak pada penurunan. Secara sederhana
dapat dikatakan sistem rujukan mengatur darimana dan harus kemana
seseorang dengan gangguan kesehatan tertentu memeriksakan keadaan
sakitnya.2
Pasal 4
Menjelaskan bahwa sistem rujukan merupakan :
(1)

Pelayanan kesehatan dilaksanakan secara berjenjang, sesuai


kebutuhan medis dimulaidari pelayanan kesehatan tingkat
pertama.

(2)

Pelayanan kesehatan tingkat kedua hanya dapat diberikan atas


rujukandari pelayanan kesehatan tingkat pertama.

(3)

Pelayanan kesehatan tingkat ketiga hanya dapat diberikan atas


rujukan dari pelayanan kesehatan tingkat kedua atau tingkat
pertama.

(4)

Bidan dan perawat hanya dapat melakukan rujukan ke dokter


dan/atau dokter gigi pemberi pelayanan kesehatan tingkat
pertama.

(5)

Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat


(3), dan ayat(4)dikecualikan pada keadaan gawat darurat,
bencana, kekhususan permasalahan kesehatan pasien, dan
pertimbangan geografis.
Berdasarkan

Keputusan

Menteri

Kesehatan

RI

Nomor

128/MENKES/SK/II/2004 Tentang Kebijakan Dasar Puskesmas Rujukan


adalah pelimpahan wewenang dan tanggungjawab atas kasus penyakit atau
masalah kesehatan yang diselenggarakan secara timbal balik, baik secara
vertikal dalam arti satu strata sarana pelayanan kesehatan ke strata sarana
pelayanan kesehatan lainnya, maupun secara horizontal dalam arti antar sarana
pelayanan kesehatan yang sama.7
Pelaksanaan sistem rujukan di Indonesia telah diatur dengan bentuk
bertingkat atau berjenjang, yaitu kesehatan tingkat pertama, kedua, ketiga,
dimana dalam pelaksanaannya tidak berdiri sendiri namun berada di suatu
sistem dan saling berhubungan.Apabila pelayanan kesehatan primer tidak
dapat melakukan tindakan medis tingkat primer maka harus menyerahkan
tanggung jawab tersebut ke tingkat pelayanan di atasnya. Apabila seluruh
faktor pendukung (pemerintah, teknologi, dan transportasi) terpenuhi maka
proses ini akan berjalan dengan baik dan masyarakat awam akan segera
tertangani dengan tepat. Rujukan adalah upaya melimpahkan wewenang dan
tanggung jawab penanganan kasus penyakit yang sedang ditangani oleh
seorang dokter kepada dokter lain yang sesuai.3
Berdasarkan Undang Undang RI Nomor 29 Tahun 2004 Tentang
Praktik Kedokteran pasal 51 poin b yaitu Dokter atau dokter gigi dalam
melaksanakan praktik kedokteran mempunyai kewajiban merujuk pasien ke
dokter atau dokter gigi lain yang mempunyai keahlian atau kemampuan yang
lebih baik, apabila tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau
pengobatan.8

Pelayanan kesehatan perorangan terdiri dari 3 tingkatan, pelayanan


kesehatan tingkat pertama merupakan pelayanan kesehatan dasar yang
diberikan oleh fasilitas kesehatan tingkat pertama, pelayanan kesehatan tingkat
kedua merupakan pelayanan kesehatan spesialistik yang dilakukan oleh dokter
spesialis atau dokter gigi spesialis yang menggunakan pengetahuan dan
teknologi kesehatan spesialistik, dan pelayanan kesehatan tingkat ketiga
merupakan pelayanan kesehatan subspesialistik yang dilakukan oleh dokter
subspesialis atau dokter gigi subspesialis yang menggunakan pengetahuan dan
teknologi kesehatan sub spesialistik.3
Dalam menjalankan pelayanan kesehatan, fasilitas kesehatan tingkat
pertama dan tingkat lanjutan wajib melakukan sistem rujukan dengan
mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku.Pelayanan rujukan
dapat dilakukan secara horizontal dan vertikal.Rujukan horizontal adalah
rujukan yang dilakukan antar pelayanan kesehatan dalam satu tingkatan
apabila perujuk tidak dapat memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan
kebutuhan pasien karena keterbatasan fasilitas, peralatan dan/atau ketenagaan
yang sifatnya sementara atau menetap. Rujukan vertikal adalah rujukan yang
dilakukan antar pelayanan kesehatan yang berbeda tingkatan, dapat dilakukan
dari tingkat kesehatan yang lebih rendah ke tingkat pelayanan yang lebih
tinggi atau sebaliknya.3
Rujukan vertikal dari tingkat pelayanan yang lebih rendah ke tingkatan
pelayanan yang lebih tinggi dilakukan apabila, pasien membutuhkan
pelayanan kesehatan spesialistik atau subspesialistik, perujuk tidak dapat
memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan pasien karena
keterbatasan fasilitas, peralatan, dan/atau ketenagaan. Rujukan vertikal dari
tingkat pelayanan yang lebih tinggi ke tingkat pelayanan yang lebih rendah
dilakukan apabila, permasalahan pasien dapat ditangani oleh tingkatan
pelayanan yang lebih rendah sesuai dengan kompetensi dan kewenangannya,
kompetensi dan kewenangan pelayanan tingkat pertama atau kedua lebih baik
dalam menangani pasien tersebut, pasien membutuhkan pelayanan lanjutan
yang dapat ditangani oleh tingkatan pelayanan yang lebih rendah dan untuk
pelayanan kemudahan, efisiensi dan pelayanan jangka panjang, dan/atau

perujuk tidak dapat memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan


kebutuhan pasien karena keterbatasan sarana, prasarana, peralatan, dan/atau
ketenagaan.3

Gambar 1. Sistem Rujukan Berjenjang.3


2.3 Jenis rujukan
Sistem rujukan di Indonesia dibedakan atas 2 jenis, yaitu rujukan
medis dan rujukan kesehatan.Rujukan medis adalah upaya rujukan kesehatan
yang bersifat vertikal, horizontal atau timbal balik yang terutama berkaitan
dengan upaya penyembuhan dan rehabilitasi serta upaya yang bertujuan
mendukungnya. Rujukan kesehatan adalah rujukan upaya kesehatan yang
bersifat vertikal dan horizontal yang terutama berkaitan dengan upaya
peningkatan dan pencegahan serta upaya yang mendukungnya.2
Sebagaimana tercantum pada PermenkesRI Nomor 001 Tahun 2012
Tentang Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan Perorangan
Pasal 7
10

(1)

Rujukan dapat dilakukan secara vertikal dan horizontal.


Rujukan

vertikal

sebagaimana

dimaksud

pada

ayat(1)merupakanrujukan antar pelayanan kesehatan yang berbeda


tingkatan.
(2) Rujukan horizontal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan rujukan antar
pelayanan kesehatan dalam satu tingkatan.
(3)

Rujukan vertikal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat


dilakukan dari tingkatan pelayanan yang lebih rendah ke tingkatan
pelayanan yang lebih tinggi atau sebaliknya.2
Pasal 8
Rujukan horizontal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3)

dilakukan apabila perujuk tidak dapat memberikan pelayanan kesehatan sesuai


dengan kebutuhan pasien karena keterbatasan fasilitas, peralatan dan/atau
ketenagaan yang sifatnya sementara atau menetap.2
Pasal 9
Rujukan vertikal dari tingkatan pelayanan yang lebih rendah ke
tingkatanpelayanan yang lebih tinggi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7
ayat (4) dilakukan apabila:2
a. pasien membutuhkan pelayanan kesehatan spesialistik atau subspesialistik;
b.

perujuk

tidak

dengankebutuhan

dapat
pasien

memberikan
karena

pelayanan

keterbatasan

kesehatan
fasilitas,

sesuai

peralatan

dan/atauketenagaan.
Pasal 10
Rujukan vertikal dari tingkatan pelayanan yang lebih tinggi ke
tingkatanpelayanan yang lebih rendah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7
ayat (4) dilakukan apabila:2

11

a. permasalahan kesehatan pasien dapat ditangani oleh tingkatan pelayanan


kesehatan

yang

lebih

rendah

sesuai

dengan

kompetensi

dankewenangannya;
b. kompetensi dan kewenangan pelayanan tingkat pertama atau kedua lebih
baik dalam menangani pasien tersebut;
c. pasien membutuhkan pelayanan lanjutan yang dapat ditangani olehtingkatan
pelayanan kesehatan yang lebih rendah dan untuk alasankemudahan,
efisiensi dan pelayanan jangka panjang; dan/atau
d.

perujuk

tidak

dapat

memberikan

pelayanan

kesehatan

sesuai

dengankebutuhan pasien karena keterbatasan sarana, prasarana, peralatan


dan/atau ketenagaan.
Sistem rujukan medis mencakup 3 aspek pelayanan medis yaitu
rujukan pasien, rujukan spesimen atau penunjang diagnostik lainnya dan
rujukan pengetahuan.Rujukan pasien merupakan penatalaksanaan pasien dari
strata pelayanan kesehatan yang kurang mampu ke strata pelayanan kesehatan
yang lebih sempurna atau sebaliknya untuk pelayanan tindak lanjut.Rujukan
ilmu pengetahuan merupakan pengiriman dokter atau tenaga kesehatan yang
lebih ahli dari strata pelayanan kesehatan yang lebih mampu ke strata
pelayanan kesehatan yang kurang mampu untuk bimbingan dan diskusi atau
sebaliknya, untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan. Rujukan bahan
pemeriksaan laboratorium adalah pengiriman bahan-bahan pemeriksaan
laboratorium dari strata pelayanan kesehatan yang kurang mampu ke strata
yang lebih mampu atau sebaliknya, untuk tindak lanjut.2,9
Rujukan kesehatan adalah pelimpahan wewenang dan tanggungjawab
untuk masalah kesehatan masyarakat. Tujuannya adalah untuk meningkatkan
derajat

kesehatan

dan

ataupun

mencegah

penyakit

yang

ada

di

masyarakat.Rujukan kesehatan mencakup rujukan tenaga, rujukan sarana dan


rujukan operasional.Rujukan tenaga adalah pengiriman dokter atau tenaga
kesehatan dari strata pelayanan yang lebih mampu ke strata pelayanan
kesehatan yang kurang mampu untuk menanggulangi masalah kesehatan yang

12

ada di masyarakat atau sebaliknya, untuk pendidikan dan latihan.Rujukan


sarana adalah pengiriman berbagai peralatan medis atau non medis dari strata
pelayanan kesehatan yang lebih mampu ke strata pelayanan kesehatan yang
kurang mampu untuk menanggulangi masalah kesehatan di masyarakat, atau
sebaliknya untuk tindak lanjut. Rujukan operasional merupakan pelimpahan
wewenang

dan

tanggungjawab

penanggulangan

masalah

kesehatan

masyarakat dari strata pelayanan kesehatan yang kurang mampu ke strata


pelayanan kesehatan yang lebih mampu atau sebaliknya untuk pelayanan
tindak lanjut.2,9
Sebagaimana disebutkan dalam Permenkes RI Nomor 001 Tahun 2012
Tentang Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan Perorangan
Pasal 11
(1)

Setiap pemberi pelayanan kesehatan berkewajiban merujuk pasien bila


keadaan penyakit atau permasalahan kesehatan memerlukannya,
kecuali dengan alasan yang sah dan mendapat persetujuan pasien atau
keluarganya.

(2)

Alasan yang sah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pasien tidak
dapat ditransportasikan atas alasan medis, sumber daya, atau geografis.
Sedangkan menurut tata hubungannya, sistem rujukan terdiri dari :

rujukan internal dan rujukan eksternal.9


Rujukan Internal adalah rujukan horizontal yang terjadi antar unit pelayanan
di dalam institusi tersebut.Misalnya dari jejaring puskesmas (puskesmas
pembantu) ke puskesmas induk.
Rujukan Eksternal adalah rujukan yang terjadi antar unit-unit dalam jenjang
pelayanan kesehatan, baik horizontal (dari puskesmas rawat jalan ke puskesmas
rawat inap) maupun vertikal (dari puskesmas ke rumah sakit umum daerah).9
Manfaat sistem rujukan

Dari sudut pemerintah sebagai penentu kebijakan (policy maker), manfaat


sistem rujukan adalah membantu penghematan dana, karena tidak perlu
menyediakan berbagai macam peralatan kedokteran pada setiap sarana

13

kesehatan; memperjelas sistem pelayanan kesehatan, karena terdapat


hubungan kerja antara berbagai sarana kesehatan yang tersedia;
memudahkan pekerjaan administrasi, terutama pada aspek perencanaan.9

Dari sudut masyarakat sebagai pengguna jasa pelayanan (healtahun


consumer), manfaat sistem rujukan adalah meringankan biaya pengobatan,
karena dapat dihindari pemeriksaan yang sama secara berulang-ulang;
mempermudah masyarakat dalam mendapatkan pelayanan, karena telah
diketahui dengan jelas fungsi dan wewenang setiap sarana pelayanan
kesehatan.9

Dari

sudut

keseahatan

kalangan

kesehatan

sebagai

(healtahun

provider),

manfaat

penyelenggara
sistem

pelayanan

rujukan

adalah

memperjelas jenjang karier tenaga kesehatan dengan berbagai akibat positif


lainnya seperti semangat kerja, ketekunan, dan dedikasi; membantu
peningkatan pengetahuan dan ketrampilan, yaitu: kerja sama yang terjalin;
memudahkan atau meringankan beban tugas, karena setiap sarana
kesehatan mempunyai tugas dan kewajiban tertentu.9

2.4 Langkah sistem rujukan


Berdasarkan Peraturan Presiden RI No. 72 Tahun 2012 tentang Sistem
Kesehatan Nasional (SKN) pasal 5 menyebutkan bahwa SKN menjadi acuan
dalam penyusunan dan pelaksanaan pembangunan kesehatan yang dimulai
dari kegiatan perencanaan sampai dengan kegiatan monitoring dan evaluasi.10
Pasal 2
(1)

Pengelolaan kesehatan diselenggarakan melalui pengelolaan


administrasi

kesehatan,

informasi

kesehatan,

sumber

daya

kesehatan, upaya kesehatan, pembiayaan kesehatan, peran serta


dan pemberdayaan masyarakat, ilmu pengetahuan dan teknologi di
bidang kesehatan, serta pengaturan hukum kesehatan secara

14

terpadu dan saling mendukung guna menjamin tercapainya derajat


kesehatan yang setinggi-tingginya.
(2)

Pengelolaan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


dilakukan secara berjenjang di pusat dan daerah dengan
memperhatikan otonomi daerah dan otonomi fungsional di bidang
kesehatan.
Penyelenggaraan SKNtercantum dalam Peraturan Presiden RI No. 72

Tahun 2012A.5 :10

158. Terdapat tiga tingkatan upaya, yaitu upaya kesehatan tingkat


pertama/primer, upaya kesehatan tingkat kedua/sekunder, dan upaya
kesehatan tingkat ketiga/tersier.

159.

Upaya

kesehatan

diselenggarakan

secara

terpadu,

berkesinambungan, dan paripurna melalui sistem rujukan.

167. Rujukan di bidang upaya kesehatan perorangan dalam bentuk


pengiriman pasien, spesimen, dan pengetahuan tentang penyakit
dengan memperhatikan kendali mutu dan kendali biaya, serta rujukan
di

bidang

upaya

kesehatan

masyarakat

dilaksanakan

secara

bertanggung jawab oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan


berwenang serta sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku.

1. Merujuk Dan Menerima Rujukan Pasien


Pasien yang akan dirujuk harus sudah diperiksa dan layak untuk dirujuk,
kriteria pasien yang layak untuk dirujuk adalah sebagai berikut :9
a. Hasil pemeriksaan fisik sudah dapat dipastikan tidak mampu diatasi;
b. Hasil pemeriksaan fisik dengan pemeriksaan penunjang medis ternyata
tidak mampu diatasi;
c. Memerlukan pemeriksaan penunjang medis yang lebih lengkap, tetapi
pemeriksaan harus disertai pasien yang bersangkutan; dan/atau

15

d. Apabila telah diobati dan dirawat ternyata memerlukan pemeriksaan,


pengobatan dan perawatan di fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih
mampu.
Dalam prosedur merujuk dan menerima rujukan pasien ada dua pihak
yang terlibat yaitu pihak yang merujuk dan pihak yang menerima rujukan
dengan standar prosedur operasional sebagai berikut :
a. Standar Prosedur Operasional Merujuk Pasien
1. Prosedur Klinis:9
a) Melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
medik untuk menentukan diagnosis utama dan diagnosis banding.
b) Memberikan tindakan stabilisasi sesuai kasus berdasarkan Standar
Prosedur Operasional (SPO).
c) Memutuskan unit pelayanan tujuan rujukan.
d) Untuk pasien gawat darurat harus didampingi tenaga kesehatan yang
kompeten dibidangnya dan mengetahui kondisi pasien.
e) Pasien (pada point 4) diantar dengan kendaraan ambulans, agar petugas
dan kendaraan pengantar tetap menunggu sampai pasien di IGD
mendapat kepastian pelayanan, apakah akan dirujuk atau ditangani di
fasilitas pelayanan kesehatan setempat.
f) Rujukan kasus yang memerlukan standart kompetensi tertentu (sub
spesialis) Pemberi Pelayanan Kesehatan tingkat I (Puskesmas,Dokter
Praktek, Bidan Praktek, Klinik) dapat merujuk langsung ke rumah sakit
rujukan yang memiliki kompetensi tersebut
2. Prosedur Administratif: 9
a. Dilakukan setelah pasien diberikan tindakan medis.
b. Membuat rekam medis pasien.
c. Menjelaskan/memberikan
Informed

Consernt

(persetujuan/penolakan rujukan)
d. Membuat surat rujukan pasien rangkap 2, lembar pertama dikirim
ke tempat rujukan bersama pasien yang bersangkutan. Lembar
kedua disimpan sebagai arsip.
e. Mencatat identitas pasien pada buku register rujukan pasien.
f. Menyiapkan sarana transportasi

16

g. Menghubungi rumah sakit yang akan dituju dengan menggunakan


saran komunikasi dan menjelaskan kondisi pasien.
h. Pengiriman dan penyerahan pasien disertai surat rujukan ke tempat
rujukan yang dituju.
i. Fasilitas pelayanan kesehatan perujuk membuat laporan.
b. Standar Prosedur Operasional Menerima Rujukan Pasien.
1. Prosedur Klinis:9
a) Segera menerima dan melakukan stabilisasi/evaluasi pasien rujukan
sesuai Standar Prosedur Operasional (SPO).
b) Setelah stabil, pasien dibawa ke ruang perawatan elektif untuk
perawatan selanjutnya atau dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan
yang lebih mampu (jumlah tempat tidur/tenaga yang memiliki
kompetensi yang dibutuhkan)
c) Melakukan monitoring dan evaluasi kemajuan klinis pasien.

2. Prosedur Administratif: 9
a) Menerima, meneliti dan menandatangani surat rujukan pasien yang
telah diterima untuk ditempelkan di kartu status pasien.
b) Apabila pasien tersebut dapat diterima kemudian membuat tanda
terima pasien sesuai aturan masing-masing fasilitas pelayanan
kesehatan.
c) Mengisi hasil pemeriksaan dan pengobatan serta perawatan pada
rekam medis dan diteruskan ke tempat perawatan selanjutnya sesuai
kondisi pasien
d) Membuat informed consent (persetujuan tindakan, persetujuan rawat
inap atau pulang paksa).
e) Segera memberikan informasi

tentang

keputusan

tindakan

/perawatan yang akan dilakukan kepada petugas / keluarga pasien


yang mengantar.
f) Apabila tidak sanggup menangani (sesuai perlengkapan Puskesmas /
RS yang bersangkutan), maka harus merujuk ke RS yang lebih
mampu dengan membuat surat rujukan pasien rangkap 2, diisi

17

lengkap kemudian surat rujukan yang asli dibawa bersama pasien,


prosedur selanjutnya sama seperti merujuk pasien.
g) Mencatat identitas pasien dalam buku register yg ditentukan.
h) Rumah Sakit membuat laporan Triwulan
c. Standar Prosedur Operasional Memberi Rujukan Balik Pasien
1. Prosedur Klinis: 9
a) Rumah Sakit atau Puskesmas yang menerima rujukan pasien wajib
memberikan umpan balik ke Rumah Sakit/Puskesmas/Dokter Praktek/
Bidan Praktek/Klinik pengirim setelah dilakukan proses antara lain:
1) Sesudah pemeriksaan medis, diobati dan dirawat selanjutnya pasien
perlu di tindaklanjuti oleh Rumah Sakit/Puskesmas/Dokter Praktek/
Bidan Praktek/Klinik pengirim.
2) Sesudah pemeriksaan medis, diselesaikan tindakan kegawatan
klinis, tetapi masih memerlukan pengobatan dan perawatan
selanjutnya

yang

dapat

dilakukan

di

Rumah

Sakit/Puskesmas/Dokter Praktek/Bidan Praktek/Klinik pengirim.


b) Melakukan pemeriksaan fisik dan mendiagnosis bahwa kondisi pasien
sudah

memungkinkan

untuk

keluar

dari

perawatan

Rumah

Sakit/Puskesmas tersebut dalam keadaan:


1) Sehat atau Sembuh.
2) Sudah ada kemajuan klinis dan boleh rawat jalan.
3) Belum ada kemajuan klinis dan harus dirujuk ke tempat lain.
4) Pasien sudah meninggal.
c) Rumah Sakit/Puskesmas yang menerima rujukan pasien harus
memberikan laporan / informasi medis / balasan rujukan kepada
Rumah

Sakit/Puskesmas/Dokter

Praktek/

Bidan

Praktek/Klinik

pengirim pasien mengenai kondisi klinis terahir pasien apabila pasien


keluar dari Rumah Sakit / Puskesmas.
2. Prosedur Administratif: 9
a) Rumah Sakit / Puskesmas yang merawat pasien berkewajiban memberi
surat balasan rujukan (format terlampir ) untuk setiap pasien rujukan
yang pernah diterimanya kepada Rumah Sakit/Puskesmas/Dokter
Praktek/

Bidan

Praktek/Klinik

yang

mengirim

pasien

yang

bersangkutan.
18

b) Surat

balasan

rujukan

dapat

melalui

keluarga

pasien

yang

bersangkutan dan untuk memastikan informasi balik tersebut diterima


petugas kesehatan yang dituju, dianjurkan menghubungi melalui
sarana komunikasi yang memungkinkan seperti telepon, handphone,
faksimili dan sebagainya.
c) Bagi Rumah Sakit , wajib mengisi laporan Triwulan
d. Standar Prosedur Operasional Menerima Rujukan Balik Pasien
1. Prosedur Klinis : 9
a) Memperhatikan anjuran tindakan yang disampaikan oleh Rumah Sakit/
Puskesmas yang terakhir merawat pasien tersebut.
b) Melakukan tindak lanjut atau perawatan kesehatan masyarakat dan
memantau kondisi klinis pasien sampai sembuh.
2. Prosedur Administratif: Meneliti isi surat balasan rujukan dan mencatat
informasi

tersebut

di

buku

register

pasien

rujukan,

kemudian

menyimpannya pada rekam medis pasien yang bersangkutan dan memberi


tanda tanggal / jam telah ditindaklanjuti. 9
e. Standar Prosedur Operasional Rujukan

Pasien

Lintas

Batas

Persyaratan : 9
1. MOU antara Rumah Sakit dengan Pemerintah Kabupaten atau
Pemerintah Provinsi (Bagi yang belum memiliki Bapel atau UPT
Jamkes)
2. MOU antara Rumah Sakit dengan Pemerintah Kabupaten atau
Pemerintah Provinsi dan MOU antara Rumah Sakit dengan Badan
Penyelenggara Jaminan (Bagi yang telah memiliki Bapel / UPT
Jamkes)
3. Surat Rujukan dikeluarkan oleh Pemberi Pelayanan Kesehatan (Dokter
Praktek, Bidan Praktek, Klinik, Puskesmas, Rumah Sakit) berasal dari
wilayah terdekat dengan tempat tinggal pasien.
4. Untuk Kasus Gawat Darurat, tidak perlu surat rujukan.
f. Standar Prosedur Operasional Pengelolaan Pasien di Ambulance9

19

1. Pasien yang dirujuk didampingi oleh petugas kesehatan yang mampu


mengawasi dan antisipasi kegawatdaruratan.
2. Di dalam ambulan tersedia sarana prasarana life saving ( sesuai kondisi
pasien ).
3. Adanya komunikasi antar petugas yang ada di ambulan dengan rumah
sakit perujuk.
4. Pengoperasian mobil ambulan sesuai aturan lalu lintas.
5. Perkembangan dan tindakan yang diberikan terhadap pasien di dalam
ambulan dicatat dalam catatan perkembangan pasien/surat rujukan
2. Puskesmas Non PONED (Pelayanan Obstetri neonates Esensial
Dasar) /dokter praktek swasta/klinik
a) Prosedur Klinis: 9
1) Melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
medik untuk menentukan diagnosa utama dan diagnosis banding.
2) Memberikan tindakan stabilisasi pra rujukan sesuai kasus berdasarkan
Standar Prosedur Operasional (SPO).
3) Memutuskan unit pelayanan tujuan rujukan. Untuk pasien gawat
darurat harus didampingi petugas Medis / Paramedis yang kompeten
dibidangnya dan mengetahui kondisi pasien.
4) Apabila pasien diantar dengan kendaraan Puskesmas keliling atau
ambulans, agar petugas dan kendaraan tetap menunggu pasien di IGD
sampai ada kepastian pasien tersebut dapat dilayani dirawat inap atau
di rujuk ke fasilitas kesehatan lain
5) Untuk rujukan kasus yang memerlukan standar kompetensi tertentu
(sub spesialis) Pemberi Pelayanan Kesehatan tersebut di atas
(Puskesmas Non PONED/dokter praktek swasta/klinik) dapat merujuk
langsung ke Rumah Sakit Rujukan yang memiliki kompetensi
tersebut.
b) Prosedur Administratif: 9
2) Dilakukan setelah pasien diberikan tindakan
3) Membuat rekam medis pasien.
4) Menjelaskan/memberikan Informed Consernt (persetujuan/penolakan
rujukan)
5) Membuat surat rujukan pasien rangkap 2, lembar pertama dikirim ke

20

i.

Lembar pertama dikirim ke tempat rujukan bersama pasien yang

bersangkutan.
ii.
Lembar kedua disimpan sebagai arsip.
6) Mencatat identitas pasien pada buku register rujukan pasien.
7) Menyiapkan sarana transportasi serta menghubungi rumah sakit yang
akan dituju dengan menggunakan sarana komunikasi.
3. Puskesmas PONED (Pelayanan Obstetri neonates Esensial Dasar)
a) Menerima rujukan
1). Prosedur Klinis: 9
o Segera menerima dan melakukan stabilisasi/evaluasi pasien
rujukan sesuai Standar Prosedur Operasional (SPO).
o Setelah stabil, pasien dibawa ke ruang perawatan elektif untuk
perawatan selanjutnya atau dirujuk ke sarana kesehatan yang lebih
mampu (tempat tidur/tenaga ahli)
o Melakukan monitoring dan evaluasi kemajuan klinis pasien.
2). Prosedur Administratif: 9
i. Menerima, meneliti dan menandatangani surat rujukan pasien yang
telah diterima untuk ditempelkan di kartu status pasien.
ii. Apabila pasien tersebut dapat diterima kemudian membuat tanda
terima pasien sesuai aturan Puskesmas PONED.
iii. Mengisi hasil pemeriksaan dan pengobatan serta perawatan pada
rekam medis dan diteruskan ke tempat perawatan selanjutnya
sesuai kondisi pasien.
iv. Membuat informed consent (persetujuan tindakan, persetujuan
rawat inap atau pulang paksa).
v. Segera memberikan informasi

tentang

keputusan

tindakan

/perawatan yang akan dilakukan kepada petugas/keluarga pasien


yang mengantar.
vi. Apabila tidak sanggup menangani (sesuai perlengkapan Puskesmas
PONED yang bersangkutan), maka harus merujuk ke RS PONED
yang lebih mampu dengan membuat surat rujukan pasien rangkap
2. Kemudian surat rujukan yang asli dibawa bersama pasien,
prosedur selanjutnya sama seperti merujuk pasien.
vii. Mencatat identitas pasien di buku register yg ditentukan.
21

b) Merujuk
1) Prosedur Klinis: 9
i. Melakukan

anamnesis,

pemeriksaan

fisik

dan

pemeriksaan

penunjang medik untuk menentukan diagnosa utama dan diagnosis


banding.
ii. Memberikan

tindakan

stabilisasi

pra

rujukan

sesuai

kasus

berdasarkan
Standar Prosedur Operasional (SPO).
i. Memutuskan unit pelayanan tujuan rujukan.
ii. Untuk pasien gawat darurat harus didampingi petugas Medis /
Paramedis yang kompeten dibidangnya dan mengetahui kondisi
pasien.
iii. Apabila pasien diantar dengan kendaraan Puskesmas keliling atau
ambulans,
iv. Kendaraan tetap menunggu pasien di IGD sampai ada kepastian
pasien tersebut dapat dilayani dirawat inap atau dirujuk ke fasilitas
kesehatan lain
v. Untuk Rujukan kasus yang memerlukan standart kompetensi tertentu
(sub spesialis) Pemberi Pelayanan Kesehatan tersebut di atas
(Puskesmas,Dokter Praktek, Bidan Praktek, Klinik) dapat merujuk
langsung ke Rumah Sakit Rujukan yang memiliki kompetensi
tersebut.
2) Prosedur Administratif: 9
i. Dilakukan setelah pasien diberikan tindakan medis.
ii. Membuat rekam medis pasien.
iii. Menjelaskan / memberikan Informed Consernt

(persetujuan/

penolakan rujukan)
iv. Membuat surat rujukan pasien rangkap 2
i.a. Lembar pertama dikirim ke tempat rujukan bersama pasien yang
bersangkutan.
i.b. Lembar kedua disimpan sebagai arsip.
v. Mencatat identitas pasien pada buku register rujukan pasien

22

4. Rumah Sakit PONED (Pelayanan Obstetri neonates Esensial Dasar)


Menerima rujukan maternal
a) Prosedur klinik: 9
1) Segera menerima dan melakukan stabilisasi/evaluasi pasien rujukan
sesuai Standar Prosedur Operasional (SPO).
2) Setelah stabil, pasien dibawa ke ruang perawatan elektif untuk
perawatan selanjutnya atau dirujuk ke sarana kesehatan yang lebih
mampu (tempat tidur/tenaga ahli) (sesuai dengan 1a dan 1 b)
3) Melakukan monitoring dan evaluasi kemajuan klinis pasien
b) Prosedur Administrasi: 9
1) Menerima, meneliti dan menandatangani surat rujukan pasien yang
telah diterima untuk ditempelkan di kartu status pasien.
2) Apabila pasien tersebut dapat diterima kemudian membuat tanda
terima pasien sesuai aturan masing-masing sarana.
3) Mengisi hasil pemeriksaan dan pengobatan serta perawatan pada
rekam medis dan diteruskan ke tempat perawatan selanjutnya sesuai
kondisi pasien.
4) Membuat informed consent (persetujuan tindakan, persetujuan rawat
inap atau pulang paksa).
5) Segera memberikan informasi tentang keputusan tindakan/perawatan
yang akan dilakukan kepada petugas/keluarga pasien yang mengantar.
6) Apabila tidak sanggup menangani (sesuai perlengkapan RS yang
bersangkutan), maka harus merujuk ke RS kelas A yang lebih mampu
dengan membuat surat rujukan pasien rangkap 2. Kemudian surat
rujukan yang asli dibawa bersama pasien, prosedur selanjutnya sama
seperti merujuk pasien. (catatan komunikasi ke tujuan rujukan)
7) Mencatat identitas pasien di buku register serta mengisi laporan
Triwulan pada RL.1.
8) Pengiriman dan penyerahan pasien disertai surat rujukan ke tempat
rujukan yang dituju.
Pelayanan kesehatan sebagaimana tercantum pada Peraturan Presiden RI
No. 72 Tahun 2012 ttg Sistem Kesehatan Nasional dibagi dalam dua
keompok besar, yaitu pelayanan kesehatan perorangan dan pelayanan

23

kesehatan masyarakat. Pelayanan kesehatan perorangan dan pelayanan


kesehatan masyarakat dibagi lagi atas primer, sekunder, dan tersier.10
-

A.5.a. 1). a). Pelayanan Kesehatan Perorangan Primer (PKPP)


171. Pelayanan kesehatan perorangan primer adalah pelayanan kesehatan
dimana terjadi kontak pertama secara perorangan sebagai proses awal
pelayanan kesehatan.
172. Pelayanan kesehatan perorangan primer memberikan penekanan
pada pelayanan pengobatan, pemulihan tanpa mengabaikan upaya
peningkatan dan pencegahan, termasuk di dalamnya pelayanan kebugaran
dan gaya hidup sehat (healtahuny life style)

A.5.a. 2). a). Pelayanan Kesehatan Perorangan Sekunder (PKPS)


187. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder adalah pelayanan
kesehatan spesialistik yang menerima rujukan dari pelayanan kesehatan
perorangan primer, yang meliputi rujukan kasus, spesimen, dan ilmu
pengetahuan serta dapat merujuk kembali ke fasilitas pelayanan
kesehatan yang merujuk.
188. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder dilaksanakan oleh dokter
spesialis atau dokter yang sudah mendapatkan pendidikan khusus dan
mempunyai izin praktik serta didukung tenaga kesehatan lainnya yang
diperlukan.
189. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder dilaksanakan di tempat
kerja maupun fasilitas pelayanan kesehatan perorangan sekunder baik
rumah sakit setara kelas C serta fasilitas pelayanan kesehatan lainnya
milik Pemerintah, Pemerintah Daerah, masyarakat, maupun swasta).

A.5.a. 3).a). Pelayanan Kesehatan Perorangan Tersier (PKPT)

24

198.

Pelayanan

kesehatan

perorangan

tersier

menerima

rujukansubspesialistik dari pelayanan kesehatan di bawahnya, dan


dapatmerujuk kembali ke fasilitas pelayanan kesehatan yang merujuk.
199.

Pelaksana

pelayanan

kesehatan

perorangan

tersier

adalah

doktersubspesialis atau dokter spesialis yang telah mendapatkan


pendidikankhusus atau pelatihan dan mempunyai izin praktik dan
didukungoleh tenaga kesehatan lainnya yang diperlukan.
200. Pelayanan kesehatan perorangan tersier dilaksanakan di rumah
sakitumum, rumah sakit khusus setara kelas A dan B, baik
milikPemerintah,

Pemerintah

Daerah

maupun

swasta

yang

mampumemberikan pelayanan kesehatan subspesialistik dan juga


termasukklinik khusus, seperti pusat radioterapi.
201.

Pemerintah

mengembangkan

berbagai

pusat

pelayanan

unggulannasional yang berstandar internasional untuk memenuhi


kebutuhanpelayanan kesehatan dan menghadapi persaingan global dan
regional.
202.

Fasilitas

pelayanan

kesehatan

perorangan

tersier

dapat

didirikanmelalui modal patungan dengan pihak asing sesuai dengan


peraturanperundang-undangan yang berlaku.
203.

Pelayanan

kesehatan

perorangan

tersier

wajib

melaksanakanpenelitian dan pengembangan dasar maupun terapan dan


dapatdijadikan

sebagai

pusat

pendidikan

dan

pelatihan

tenaga

kesehatansesuai dengan kebutuhan.


-

A.5.a. 1). b). Pelayanan Kesehatan Masyarakat Primer (PKMP)


179. Pelayanan kesehatan masyarakat

primer

adalah

pelayanan

peningkatan dan pencegahan tanpa mengabaikan pengobatan dan


pemulihan dengan sasaran keluarga, kelompok, dan masyarakat.

25

180. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat primer menjadi


tanggung jawab Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang pelaksanaan
operasionalnya dapat didelegasikan kepada Puskesmas, dan/atau fasilitas
pelayanan kesehatan primer lainnya yang diselenggarakan oleh
Pemerintah, Pemerintah Daerah dan/atau masyarakat.
-

A.5.a. 2).b). Pelayanan Kesehatan Masyarakat Sekunder (PKMS)


193. Pelayanan kesehatan masyarakat sekunder menerima rujukan
kesehatan dari pelayanan kesehatan masyarakat primer dan memberikan
fasilitasi dalam bentuk sarana, teknologi, dan sumber daya manusia
kesehatan serta didukung oleh pelayanan kesehatan masyarakat tersier.
194. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat sekunder menjadi
tanggung jawab Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan/atau Provinsi
sebagai fungsi teknisnya, yakni melaksanakan pelayanan kesehatan
masyarakat yang tidak sanggup atau tidak memadai dilakukan pada
pelayanan kesehatan masyarakat primer.
195. Dalam penanggulangan penyakit menular yang tidak terbatas pada
suatu batas wilayah administrasi pemerintahan (lintas kabupaten/ kota),
maka tingkat yang lebih tinggi (provinsi) yang harus menanganinya.

A.5.a. 3).b). Pelayanan Kesehatan Masyarakat Tersier (PKMT)


204. Pelayanan kesehatan masyarakat tersier menerima rujukan kesehatan
dari pelayanan kesehatan masyarakat sekunder dan memberikan fasilitasi
dalam bentuk sarana, teknologi, sumber daya manusia kesehatan, dan
rujukan operasional, serta melakukan penelitian dan pengembangan
bidang kesehatan masyarakat dan penapisan teknologi dan produk
teknologi yang terkait.
205. Pelaksana pelayanan kesehatan masyarakat tersier adalah Dinas
Kesehatan Provinsi, unit kerja terkait di tingkat provinsi, Kementerian
Kesehatan, dan unit kerja terkait di tingkat nasional.

26

sebagaimana dinyatakan juga dalam peraturan menteri kesehatan RI nomor


001 tahun 2012 tentang sistem rujukan pelayanan kesehatan perorangan
pelayanankesehatan peroranganpasal 2 :2
(1) pelayanan kesehatan perorangan terdiri dari 3 (tiga) tingkatan yaitu :
a. pelayanan kesehatan tingkat pertama;
b. pelayanan kesehatan tingkat kedua; dan
c. pelayanan kesehatan tingkat ketiga.
(2) Pelayanan kesehatan tingkat pertama sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) huruf a merupakan pelayanan kesehatan dasar yang diberikan oleh
dokter

dan

dokter

gigi

di

puskesmas,

puskesmas

perawatan,

tempatpraktik perorangan, klinik pratama, klinik umum di balai/lembaga


pelayanan kesehatan, dan rumah sakit pratama.
(3) dalam keadaan tertentu, bidan atau perawat dapat memberikan pelayanan
kesehatan tingkat pertama sesuai ketentuan peraturan perundangundangan
(4) Pelayanan kesehatan tingkat kedua sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf b merupakan pelayanan kesehatan spesialistik yang dilakukan oleh
dokter spesialis atau dokter gigi spesialis yang menggunakan
pengetahuan dan teknologi kesehatan spesialistik.
(5) Pelayanan kesehatan tingkat ketiga sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf c merupakan pelayanan kesehatan sub spesialistik yang dilakukan
oleh dokter sub spesialis atau dokter gigi sub spesialis yang
menggunakan pengetahuandan teknologi kesehatan sub spesialistik.

27

Pasal 5
(1) Sistem rujukan diwajibkan bagi pasien yang merupakan peserta jaminan
kesehatan atau asuransi kesehatan sosial dan pemberi pelayanan
kesehatan
(2) Peserta

asuransi

kesehatan

komersial

mengikuti

aturan

yang

berlakusesuai dengan ketentuan dalam polis asuransi dengan tetap


mengikutipelayanan kesehatan yang berjenjang.
(3) Setiap

orang

yang

bukan

peserta

jaminan

kesehatan

atau

asuransikesehatan sosial, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat


mengikutisistem rujukan.
Pasal 6
Menyatakan bahwa dalam rangka meningkatkan aksesibilitas,
pemerataan
dilakukan

dan
ke

peningkatanefektifitas

fasilitas

pelayanan

pelayanankesehatan

kesehatan,

terdekat

yang

rujukan
memiliki

kemampuan pelayanan sesuai kebutuhan pasien.

2.5 Alur sistem rujukan


Informasi kegiatan rujukan pasien dibuat oleh petugas kesehatan
pengirim dan di catat dalam surat rujukan pasien yang dikirimkan ke
dokter tujuan rujukan, yang berisikan antara lain : nomor surat, tanggal
dan jam pengiriman, status pasien keluarga miskin (gakin) atau non gakin
termasuk umum, ASKES atau JAMSOSTEK, tujuan rujukan penerima,
nama dan identitas pasien, resume hasil anamnesa, pemeriksaan fisik,
diagnosa, tindakan dan obat yang telah diberikan, termasuk pemeriksaan
penunjang, kemajuan pengobatan dan keterangan tambahan yang
dipandang perlu.4
Informasi balasan rujukan dibuat oleh dokter yang telah menerima
pasien rujukan dan setelah selesai merawat pasien tersebut mencatat

28

informasi balasan rujukan di surat balasan rujukan yang dikirimkan


kepada pengirim pasien rujukan, yang berisikan antara lain: nomor surat,
tanggal, status pasien keluarga miskin (gakin) atau non gakin termasuk
umum, ASKES atau JAMSOSTEK, tujuan rujukan penerima, nama dan
identitas pasien, hasil diagnosa setelah dirawat, kondisi pasien saat keluar
dari perawatan dan follow up yang dianjurkan kepada pihak pengirim
pasien. Informasi pengiriman spesimen dibuat oleh pihak pengirim dengan
mengisi Surat Rujukan Spesimen, yang berisikan antara lain: nomor surat,
tanggal, status pasien keluarga miskin (gakin) atau non gakin termasuk
umum, ASKES atau JAMSOSTEK, tujuan rujukan penerima, jenis/bahan
spesimen

dan

nomor

spesimen

yang

dikirim,

tanggal

pengambilanspesimen, jenis pemeriksaan yang diminta, nama dan


identitas pasien asal spesimen dan diagnos klinis. Informasi balasan hasil
pemeriksaan bahan / spesimen yang dirujuk dibuat oleh pihak
laboratorium penerima dan segera disampaikan pada pihak pengirim
dengan menggunakan format yang berlaku di laboratorium yang
bersangkutan. Informasi permintaan tenaga ahli / dokter spesialis dapat
dibuat oleh Kepala Puskesmas atau Rumah Sakit Umum Kab/Kota yang
ditujukan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kab/Kota atau oleh Dinas
Kesehatan Kab/ Kota yang ditujukan ke Dinas Kesehatan Provinsi dengan
mengisi Surat Permintaan Tenaga Ahli, yang berisikan antar lain : nomor
surat, tanggal, perihal Permintaan Tenaga Ahli dan menyebutkan jenis
spesialisasinya, waktu dan tempat kehadiran jenis spesialisasi yang
diminta, maksud keperluan tenaga ahli diinginkan dan sumber biaya atau
besaran biaya yang disanggupi. Informasi petugas yang mengirim,
merawat atau meminta tenaga ahli selalu ditulis nama jelas, asal institusi
dan nomor telepon atau handphone yang bisa dihubungi pihak lain.
Keterbukaan antara pihak pengirim dan penerima untuk bersedia
memberikan informasi tambahan yang diperlukan masing-masing pihak
melalui media komunikasi bersifat wajib untuk keselamatan pasien,
spesimen dan alih pengetahuan medis. Pencatatan dan Pelaporan sistem
informasi rujukan menggunakan format RL.1 yang baku untuk Rumah

29

Sakit dan format R.4 untuk laporan rujukan puskesmas. Adapun alur
pelaporan rujukan akan mengikuti alur pelaporan yang berlaku.4

ALUR SISTEM RUJUKAN


Alur sistem rujukan :11
1. Alur Rujukan
Ada beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam alur rujukan yaitu:
a. Klasifikasi fasilitas Kesehatan
b. Lokasi/Wilayah/ Kabupaten/ Kota
c. Koordinasi unsur-unsur pelaksana Teknis
2. Alur rujukan kasus kegawatdaruratan
Dari Kader dapat langsung merujuk ke:
-

Puskesmas pembantu
Pondok bersalin atau bidan di desa
Puskesmas/ puskesmas rawat inap
Rumah sakit swasta/RS pemerintah
Dari Posyandu dapat langsung merujuk ke:

- Puskesmas pembantu
- Pondok bersalin atau bidan desa
- Puskesmas/ puskesmas rawat inap
- Rumah sakit pemerintah/ swasta
3. Dari Puskesmas Pembantu
Dapat lansung merujuk ke rumah sakit tipe D/C atau rumah sakit swasta
4. Dari Pondok bersalin/ Bidan Desa
Dapat langsung merujuk ke rumah sakit tipe D/C atau rumah sakit swasta.

30

Gambar 2. Bagan alur rujukan.11


Menurut Undang-undang No.44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit, Pasal 24. Pasal
ini berisi tentang klasifikasi rumah sakit. Adapun mengenai bunyi pasal ini adalah
sebagai berikut:12
1. Dalam rangka penyelenggaraan pelayanan kesehatan secara berjenjang dan
fungsi rujukan, rumah sakit umum dan rumah sakit khusus diklasifikasikan
berdasarkan fasilitas dan kemampuan pelayanan Rumah Sakit.

31

2. Klasifikasi Rumah Sakit umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


terdiri atas:
a. Rumah Sakit Umum kelas A
b. Rumah Sakit Umum kelas B
c. Rumah Sakit Umum kelas C
d. Rumah Sakit Umum kelas D
3. Klasifikasi Rumah Sakit khusus sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1)
terdiri atas:
a. Rumah Sakit Umum kelas A
b. Rumah Sakit Umum kelas B
c. Rumah Sakit Umum kelas C
4. Ketentuan lebih lanjut mengenai klasifikasi sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri.
Pada bagian penjelasan UU No.44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit ini
dijelaskan bahwa:12

Rumah Sakit Umum kelas A adalah Rumah Sakit Umum yang


mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling sedikit 4
(empat) spesialis dasar, 5 (lima) spesialis penunjang medik, 12 (dua
belas) spesialis lain dan 13 (tiga belas) subspesialis.

Rumah Sakit Umum kelas B adalah Rumah Sakit Umum yang


mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling sedikit 4
(empat) spesialis dasar, 4 (empat) spesialis penunjang medik, 8 (delapan)
spesialis lain dan 2 ( dua) subspesialis dasar.

Rumah Sakit Umum kelas C adalah Rumah Sakit Umum yang


mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling sedikit 4
(empat) spesialis dasar, 4 (empat) spesialis penunjang medik.
32

Rumah Sakit Umum kelas D adalah Rumah Sakit Umum yang


mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling sedikit 2
(dua) spesialis dasar.

2.6 Surat pengantar rujukan


Sebagaimana tercantum pada Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 001
Tahun 2012 Tentang Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan Perorangan Pasal
15Surat pengantar rujukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf
csekurang-kurangnya memuat :2 (a). identitas pasien; (b). hasil pemeriksaan
(anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaanpenunjang) yang telah
dilakukan; (c). diagnosis kerja; (d). terapi dan/atau tindakan yang telah
diberikan; (e). tujuan rujukan; dan (f). nama dan tanda tangan tenaga
kesehatan yang memberikan pelayanan.
Pasal 12
(1) Rujukan

harus

mendapatkan

persetujuan

dari

pasien

dan/atau

keluarganya.
(2) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah
pasien dan/atau keluarganya mendapatkan penjelasan dari tenaga
kesehatan yang berwenang.
(3) Penjelasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekurang-kurangnya
meliputi:
a. diagnosis dan terapi dan/atau tindakan medis yang diperlukan;
b. alasan dan tujuan dilakukan rujukan;
c. risiko yang dapat timbul apabila rujukan tidak dilakukan;
d. transportasi rujukan; dan
e. risiko atau penyulit yang dapat timbul selama dalam perjalanan.

2.7 Acuan Untuk Merujuk Bagi Dokter Umum


Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI) merupakan standar
minimal kompetensi lulusan dan bukan merupakan standar kewenangan
dokter layanan primer. SKDI pertama kali disahkan oleh Konsil
Kedokteran Indonesia (KKI) pada tahun 2006 dan telah digunakan sebagai

33

acuan untuk pengembangan kurikulum berbasis kompetensi(KBK). SKDI


juga menjadi acuan dalam pengembangan uji kompetensi dokter yang
bersifat nasional.13
Pasal 1
f. Standar kompetensi dokter Indonesia merupakan bagian dari standar
pendidikan profesi dokter Indonesia
g. Standar kompetensi dokter Indonesia sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) tercantum dalam lampiran yang disahkan oleh konsil
kedokteran Indonesia.ang merupakan bagian tidak terpisahkan dari
peraturan konsil kedokteran Indonesia ini.
Pasal 2
Setiap perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan profesi
dokter, dalam mengembangkan kurikulum harus menerapkan standar
kompetensi dokter Indonesia sebagaimana dimaksud dalam pasal 1 ayat
(2).
Pasal 3
Pada saat peraturan ini mulai berlaku, keputusan konsil kedokteran
Indonesia nomor 21A/KKI/KEP/IX/2006 tentang pengesahan standar
kompetensi dokter, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
Pasal 4
Peraturan konsil kedokteran Indonesia ini mulai berlaku pada tanggal
diundangkan.
Agar

setiap

orang

mengetahuinya,

memerintahkan

pengundangan

peraturan konsil kedokteran Indonesia ini dengan penempatannya dalam berita


Negara republik Indonesia.
Tingkat Kemampuan 1: mengenali dan menjelaskan

34

Lulusan dokter mampu mengenali dan menjelaskan gambaran klinik


penyakit, dan mengetahui cara yang paling tepat untuk mendapatkan
informasi lebih lanjut mengenai penyakit tersebut, selanjutnya menentukan
rujukan yang paling tepat bagi pasien. Lulusan dokter juga mampu
menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan.
Tingkat Kemampuan 2: mendiagnosis dan merujuk
Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik terhadap penyakit
tersebut dan menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan
pasien selanjutnya.Lulusan dokter juga mampu menindaklanjuti sesudah
kembali dari rujukan.
Tingkat Kemampuan 3: mendiagnosis, melakukan penatalaksanaan awal, dan
merujuk
3A. Bukan gawat darurat
Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi
pendahuluan pada keadaan yang bukan gawat darurat.Lulusan dokter
mampu menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan pasien
selanjutnya.Lulusan dokter juga mampu menindaklanjuti sesudah kembali
dari rujukan.
3B. Gawat darurat
Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi
pendahuluan pada keadaan gawat darurat demi menyelamatkan nyawa
atau mencegah keparahan dan/atau kecacatan pada pasien.Lulusan dokter
mampu menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan pasien
selanjutnya. Lulusan dokter juga mampu menindaklanjuti sesudah kembali
dari rujukan.
Tingkat Kemampuan 4: mendiagnosis, melakukan penatalaksanaan secara mandiri
dan tuntas

35

Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik dan melakukan


penatalaksanaan penyakit tersebut secara mandiri dan tuntas.
4A. Kompetensi yang dicapai pada saat lulus dokter
4B. Profisiensi (kemahiran) yang dicapai setelah selesai internsip dan/atau
Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan (PKB).
Berdasarkan

Keputusan

Menteri

Kesehatan

RI

Nomor128/MENKES/SK/II/2004 Tentang Kebijakan Dasar Puskesmas Sebagai


sarana pelayanan kesehatan tingkat pertama, kemampuan yang dimiliki oleh
puskesmas terbatas.Padahal puskesmas berhadapan langsung dengan masyarakat
dengan berbagai permasalahan kesehatannya. Untuk membantu puskesmas
menyelesaikan berbagai masalah kesehatan tersebut dan juga untuk meningkatkan
efisiensi, maka penyelenggaraan setiap upaya puskesmas (wajib, pengembangan
dan inovasi) harus ditopang oleh azas rujukan.
Sesuai dengan jenis upaya kesehatan yang diselenggarakan oleh puskesmas ada
dua macam rujukan yang dikenal, yakni :7
a. Rujukan upaya kesehatan perorangan
b. Rujukan upaya kesehatan masyarakat
a. Rujukan upaya kesehatan perorangan
Cakupan rujukan pelayanan kesehatan perorangan adalah kasus penyakit.
Apabila suatu puskesmas tidak mampu menanggulangi satu kasus penyakit
tertentu, maka puskesmas tersebut wajib merujuknya ke sarana pelayanan
kesehatan yang lebih mampu (baik horisontal maupun vertikal). Sebaliknya pasien
paska rawat inap yanghanya memerlukan rawat jalan sederhana, dirujuk ke
puskesmas.7
Rujukan upaya kesehatan perorangan dibedakan atas tiga macam :
1). Rujukan kasus keperluan diagnostik, pengobatan, tindakan medik (biasanya
operasi) dan lain-lain.

36

2). Rujukan bahan pemeriksaan (spesimen) untuk pemeriksaan laboratorium yang


lebih lengkap.
3). Rujukan ilmu pengetahuan antara lain mendatangkan tenaga yang lebih
kompeten untuk melakukan bimbingan kepada tenaga puskesmas dan ataupun
menyelenggarakan pelayanan medik di puskesmas.

b. Rujukan upaya kesehatan masyarakat


Cakupan rujukan pelayanan kesehatan masyarakat adalah masalah kesehatan
masyarakat, misalnya kejadian luar biasa, pencemaran lingkungan, dan bencana.7
Rujukan pelayanan kesehatan masyarakat juga dilakukan apabila satu
puskesmastidak mampu menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat wajib
dan pengembangan, padahal upaya kesehatan masyarakat tersebut telah menjadi
kebutuhan masyarakat. Apabila suatu puskesmas tidak mampu menanggulangi
masalah kesehatan masyarakat, maka puskesmas tersebut wajib merujuknya ke
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.7
Rujukan upaya kesehatan masyarakat dibedakan atas tiga macam :7
1). Rujukan sarana dan logistik, antara lain peminjaman peralatan fogging,
peminjaman alat laboratorium kesehatan, peminjaman alat audio visual, bantuan
obat, vaksin, bahan-bahan habis pakai dan bahan makanan.
2). Rujukan tenaga antara lain dukungan tenaga ahli untuk penyelidikan kejadian
luar biasa, bantuan penyelesaian masalah hukum kesehatan, penanggulangan
gangguan kesehatan karena bencana alam.
3). Rujukan operasional, yakni menyerahkan sepenuhnya masalah kesehatan
masyarakat dan tanggungjawab penyelesaian masalah kesehatan masyarakat dan
atau penyelenggaraan upaya kesehatan masyarakat (antara lain Upaya Kesehatan
Sekolah, Upaya Kesehatan Kerja, Upaya Kesehatan Jiwa, Pemeriksaan Contoh
Air Bersih) kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Rujukan operasional
diselenggarakan apabila puskesmas tidak mampu.

37

Contoh ilustrasi kasus


Tn. Amar, 56 tahun datang ke puskesmas karena mengeluh dada rasa
terhimpit sejak setengah jam yang lalu. Dimana saat itu Tn. Amar sedang bermain
tenis lapangan, rasa nyeri menjalar sampai keleher dan diikuti jantung
berdebar..Tn.Amar baru kali ini sakit seperti ini, tetapi beliau mempunyai riwayat
darah tinggi dan kolestrol tinggi.
Dari pemeriksaan dipuskesmas, dokter mendapatkan TD 160/100mmHg,
Nadi 100 x/menit, Nafas 26x/menit.Tidak ditemukan kelainan jantug dan paru.
Dari pemerikasaan EKG didapatkanST elevasi pada Lead II, III, aVF, HR:
100x/menit tidak terdapat tanda tanda iskemik atau infark jantung. Dokter
memberikan oksigen dan isosorbit dinitrat sublingual.
Dokter menerangkan kepada Tn. Amar dan keluarga untuk merujuk ke
RSUP, karena diperlukan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan diagnosis,
mendapatkan penatalaksanaan yang maksimal, dan menghidari komplikasi yang
mungkin terjadi.
Pembahasan :
1. Apakah tindakan yang dilakukan oleh dokter puskesmas sudah benar?
Benar. Karena sudah sesuai dengan standar dan kompetensi dokter
indonesia (SKDI) yang ditulis dalam peraturan konsil kedokteran
indonesia nomer 11 tahun 2012 tentang Standar Kopetensi Dokter
indonesia, karna pada kasus ini masuk dalam SKDI 3B yang berbunyi:
Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi
pendahuluan pada keadaan gawat darurat demi menyelamatkan nyawa
atau mencegah keparahan dan/atau kecacatan pada pasien. Lulusan dokter
mampu menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan pasien
selanjutnya. Lulusan dokter juga mampu menindaklanjuti sesudah kembali
dari rujukan.
2. Mengapa Tn. Amar harus dirujuk? Karna dari gejala klinis, pemeriksaan
fisik dan hasil EKG dapat disimpulkan bahwa diagnosis Tn. Amnar adalah

38

MCI,setelah diberikan penatalaksanaan yang standar, sesuai kriteria SKDI


3B. Maka Tn. Amar dirujuk ke Rumah Sakit dengan kemampuan yang
lebih kopeten.
3. Rujukan jenis apa yang diterapkan pada kasus Tn.Amar? rujukan Vertikal,
seperti yang tertulis di Permenkes RI no 1 th 2012 dikarenakan
keterbatasan fasilitas
4. Apa yang seharusnya dilakukan oleh perujuk untuk memenuhi
kelengkapan berkas rujukan?

1. Prosedur Klinis:
a) Melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
medik untuk menentukan diagnosis utama dan diagnosis banding.
b) Memberikan tindakan stabilisasi sesuai kasus berdasarkan Standar
Prosedur Operasional (SPO).
c) Memutuskan unit pelayanan tujuan rujukan.
d) Untuk pasien gawat darurat harus didampingi tenaga kesehatan yang
kompeten dibidangnya dan mengetahui kondisi pasien.
e) Pasien (pada point 4) diantar dengan kendaraan ambulans, agar
petugas dan kendaraan pengantar tetap menunggu sampai pasien di
IGD mendapat kepastian pelayanan, apakah akan dirujuk atau
ditangani di fasilitas pelayanan kesehatan setempat.
f) Rujukan kasus yang memerlukan standart kompetensi tertentu (sub
spesialis) Pemberi Pelayanan Kesehatan tingkat I (Puskesmas,Dokter
Praktek, Bidan Praktek, Klinik) dapat merujuk langsung ke rumah
sakit rujukan yang memiliki kompetensi tersebut
2. Prosedur Administratif:
a) Dilakukan setelah pasien diberikan tindakan medis.
b) Membuat rekam medis pasien.
c) Menjelaskan/memberikan Informed Consernt (persetujuan/penolakan
rujukan)

39

d) Membuat surat rujukan pasien rangkap 2, lembar pertama dikirim ke


tempat rujukan bersama pasien yang bersangkutan. Lembar kedua
disimpan sebagai arsip.
e) Mencatat identitas pasien pada buku register rujukan pasien.
f) Menyiapkan sarana transportasi
g) Menghubungi rumah sakit yang akan dituju dengan menggunakan saran
komunikasi dan menjelaskan kondisi pasien.
h) Pengiriman dan penyerahan pasien disertai surat rujukan ke tempat
rujukan yang dituju.
i) Fasilitas pelayanan kesehatan perujuk membuat laporan.

5. Bagaimana isi surat rujukan untuk Tn. Amar?

KLINIKPRATAMA ............................................................................................
......
Alamat ...................................................................................
______________________________________________________________
________________________________________SURAT PENGANTAR

RUJUKAN
Nomer : .........................
Kepada Yth.
................................................
................................................
Dengan ini kami mengirimkan pasien :
Nama : Tn. Anmar

jenis kelamin : Laki-laki

2.8 Sistem pelayanan kesehatan Malaysia


tanggal lahir : 3 mei 1959
pekerjaan

: pensiunan PNS

2.8.1Sekilas Mengenai Malaysia


alamat : jalan solo 5 semarang
40

Malaysia adalah sebuah negara federasi yang terdiri dari 13 bagian dan 2
teritori dengan sistem pemerintahan demokrasi, Perdana menteri sebagai kepala
negara dan konstitusional monarki yang dipilih oleh sultan. Menurut klasifikasi
Bank dunia Malaysia merupakan sebuah negara dengan pendapatan menengah,
pertumbuhan perekonomian meningkat pesat pada abad ke 20. Populasi di
malaysia (terhitung lebih dari 28 juta jiwa dengan 70% hidup di daerah perkotaan)
memiliki keuntungan pada pembangunan sistem kesehatan, akses yang baik pada
kebersihan air dan sanitasi, dan program kuat pada bidang sosial dan ekonomi.
Angka kehidupan rata-rata 73 tahun. Penyakit tidak menular merupakan penyebab
mortalitas dan morbiditas tertinggi tetapi penyakit menular tetap menjadi
perhatian.14
Pelayanan kesehatan terdiri dari pajak dan pusat pelayanan primer
kesehatan dan rumah sakit, dan pelayanan swasta terutama di klinik umum dan
rumah sakit di daerah perkotaan.Sektor publik pelayanan kesehatan diberikan oleh
kementerian kesehatan melalui pusat, negara dan pekerjaan.Kementrian kesehatan
meregulasi sektor swasta, industri farmasi dan keamanan makanan dan
pertumbuhan dan regulasi pada pelayanan kesehatan pribadi.
Undang-undang yang mengatur pelayanan kesehatanprofesional mengharuskan
mereka untuk mendaftar dengan hukumbadan profesional.14
Sistem keuangan sistem kesehatan malaysia terutama melalui pendapatan
umum dan pajak yang dikumpulkan oleh negara, sementara sektor swasta melalui
iuran dari pasien dan beberapa asuransi kesehatan swasta. Pengeluaran untuk
kesehatan mencapai 4.6% dari anggaran pemerintah pada tahun 2009 dengan
pengeluaran terbesar dari publik, mencapai 56% dari total pengeluaran kesehatan
(THE) pada tahun 2009. Sumber utama THE pada tahun 2008 dari Kementerian
kesehatan (42%), diikuti pengeluaran rumah tangga mencapai34%. Kementerian
kesehatan membayar fasilitas kesehatan melalui anggaran dan pasien membayar
dokter swasta dan rumah sakit swasta pada dasar biaya untuk pelayanan.14
Jumlah pelayanan primer publik (sekarang 802 pusat dan lebih dari 2000
klinik komunitas kecil) dan klinik gigi tersebar secara merata untuk menjangkau
penduduk di daerah pedesaan.Pelayanan sekunder ditawarkan pada rumah sakit
publik lebih kecil dan pelayanan tersie kompleks, pada rumah sakit regional dan

41

nasional (termasuk rumah sakit pendidikan yang dijalankan oleh departemen


pendidikan).Pertumbuhan berjalan lambat beberapa tahun terakhir, bagaimanapun,
pelayanan publik di daerah perkotaan, tidak terus diimbangi dengan urbanisasi
yang cepat, ketikan rasio populasi dari tempat tidur di rumah sakit berkurang
sedikit demi sedikit.Klinik swasta dan rumah sakit swasta pada daerah orban
berkembang dengan pesat beberapa tahun terakhir. Penyediaantenaga kesehatan
profesional berkurang jumlahnya secara serius, walaupun pemerintah telah
meningkatkan jumlah tempat pelatihan.14
Kementrian kesehatan telah mengembangkan jaringan yang luas ke pusat
pelayanan primer publik dan juga pelayanan gigi terutama bagi anak-anak, tetapi
pelayanan tersebut under strain dan memiliki sedikit staf, jadi pasien sering
menunggu lama.Pelayanan primer diberikan hanya dengan fungsi terbatas sejak
seseorang dapat langsung merujuk dari dokter umum dan dengan penambahan
sedikit biaya (jika di sektor publik) dapat pergi langsung ke spesialis dan rumah
sakit. Pelayanan pemerintah dengan meningkatkan pelayanan pada orang miskin
dan pelayanan swasta yang lebih baik pada orang yang tinggal di daerah
perkotaan.peraturan rumah sakit saat ini memiliki tiga prinsip : menguatkan
pelayanan khusus pada rumah sakit publik besar; meningkatkan jumlah hari dari
pusat bedah, dan memperluas pelayanan rumah sakit swasta terkemuka untuk
memenuhi pasar pariwisata medis (dengan 35 rumah sakit yang berpartisipasi
pada 2010). Malaysia memiliki sektor manufaktur farmasi yang diekspor ke
negara lain dan juga menyuplai 30% permintaan domestik.14
Pemerintah mensurvei dan berespon awal pada kejadian luar biasa
penyakit menular sebagai hasil pandemik seperti SARS dan avian flu, yang
memiliki dampat besar pada perekonomian negara.Kementrian kesehatan
mengatur program vaksinasi, telah berkoordinasi dengan klinik pelayanan primer
dan rumah sakit, dan secara lambat diperkenalkan teknologi informasi komunitas
pada fasilitas publik. Pemerintah meningkatkan pusat pelatihan singkat pada
tenaga kesehatan profesional, yang memiliki kekuatan pada regulasi keamanan
obat dan makanan, regulasi farmasi dan menempatkan negara sebagai tujuan
wisata medis.14
2.8.2Sejarah Sistem Kesehatan di Malaysia
42

Sistem kesehatan malaysia merujuk pada Inggris sejak Malaysia merdeka pada
tahun 1957 tetapi dengan pelayanan dasar terutama pada daerah urban. Pelayanan
kesehatan diperluas sebagai prioritas setelah kemerdekaan, terutama untuk
masyarakat dengan ekonomi rendah dan penduduk pedesaan.Sebuah model tigatier pelayanan kesehatan primer dikembangkan untuk sektor publikdi akhir tahun
1950terdiri dari pusat kesehatan, empat sub pusat dan empat klinik kebidanan
disetiap sub pusat.14
Sub pusat tier dihapuskan pada tahun 1970 dan klinik bidan digantikan dengan
klinik komunitas keperawatan yang lebih komprehensif. 14
Saat kemerdekaan tahun 1957, terdapat 10 rumah sakit besar dan 56 rumah sakit
kabupaten, ditambah 7 lembaga untuk pasien kusta dan jiwa. Laboratorium
didirikan tahun 1964 untuk memproduksi obat untuk pelayanan departemen
kesehatan.14

Gambar sistem kesehatan tiga-tier


SISTEM KESEHATAN DI MALAYSIA
Gambar skematik Sistem Kesehatan di Malaysia

43

Sistematika sistem kesehatan terlihat pada gambar 2-1. Sektor publik


memberikan sekitar 82% pada pasien rawat inap dan 35% pada pasien rawat jalan
dan sektor swasta menyediakan sekitar 18% perawatan pada pasienrawat inap dan
62% padapasien rawat jalan (husein, 2009). Kementrian kesehatan menawarkan
jangkauan pelayanan menyeluruhtermasuk promosi kesehatan, pencegahan
penyakit, kuratif dan rehabilitatif melalui klinik dan rumah sakit, sedangkan
institusi khusus menyediakan perawatan jangka panjang. Sebagai tambahan,
beberapa kementrian pemerintah lain menyediakan pelayanan terkait kesehatan.
Sektor kesehatan swasta menyediakan pelayanan kesehatan, terutama daerah
perkotaan, melalui dokter umum dan rumah sakit swasta dengan terfokus pada
pelayanan kuratif.perusahaan swasta menggunakan diagnostik laboratorium dan
pelayanan beberapa ambulan. Organisasi bukan milik pemerintah menyediakan
beberapa pelayanan kesehatan pada beberapa kelompok. Pengobatan tradisional,
seperti praktisi cina dan malaysia dan produk, yang digunakan pada beberapa
sektor populasi.14
2.8.3SISTEM RUJUKAN DI MALAYSIA

44

.Gambar Alur rujukan kesehatan di malaysia

Alur pasien
Pasien menuju kinik publik atau swasta melalui berbagai alur.Kebanyakan
pelayanan primer didaerah perkotaan disediakan dokter umum dan spesialis
swasta yang mengobati atau merujuk pasien ke rumah sakit. Pada kementrian
kesehatan klinik kesehatan , pasien melalui proses registrasi, prekonsultasi,
konsultasi risiko, tes diagnostik, diagnosis dan intervensi. Dokter dapat mengobati
pasien, mengecek kembali untuk mengetahui kondisi pasien atau merujuk ke
rumah sakit untuk pengobatan sekunder atau tersier.14
Sejak pelayanan kesehatan primer disediakan pedoman merujuk ke
spesialis atau rumah sakit, mereka memiliki batasan. Pasien dapat melewati klinik
pelayanan kesehatan primer dan pergi langsung ke rumah sakit dan membayar
biaya lebih dikenakan untuk rawat jalan pasien (meskipun untuk banyak biaya ini
dibebaskan).14
2.9 SISTEM KESEHATAN DI JERMAN
2.9.1 Sekilas tentang jerman

45

Sejarah

mencatat

jerman

sebagai

negara

pelopor

sistem

pembayaran kesehatan yang kini berkembang di banyak negara di dunia,


yaitu sistem asuransi wajib untuk tiap kelompok kerja atau di lingkungan
suatu usaha/perusahaan.Model asuransi kesehatan sosial (Social Health
Insurance).Model ini dirintis sejak Jerman dibawah Bismarck pada tahun
1882.Model inilah yang berkembang di beberapa Negara Eropa, Jepang
(sejak 1922) dan kemudian ke Negara-negara Asia lainnya yakni
Philipina, Korea, Taiwan dll.Kelebihan sistem ini memungkinkan
cakupan 100% penduduk dan relatif rendahnya peningkatan biaya
pelayanan kesehatan. Ada tiga kunci kebijakan Jerman di akhir abad ke
19, yaitu setiap pekerja wajib mengikuti program dana sakit, dana yang
terkumpul dikelola sendiri oleh kelompoknya dan sumber dana berasal
dari pekerja itu sendiri, bukan dari pemerintah (Stierle, 1998).
2.9.2 Sitem Asuransi di Jerman
Terdapat dua macam asuransi kesehatan, yakni asuransi kesehatan
milik negara/umum (Gesetzliche Krankenkasse) dan privat yang dikelola
oleh swasta, untuk masyarakat yang mampu disarankan menggunakan
asuransi milik swasta.Asuransi kesehatan di Jerman meliputi asuransi
perawatan yang satu paket dengan asuransi kesehatan hal itu
dimaksudkan sebagai jaminan atau tindakan preventif jika terjadi
kecelakaan atau penyakit yang membutuhkan suatu perawatan rutin dan
lama.Dengan sistem asuransi ini pengguna tidak perlu membayar
pemeriksaan dokter. Bahkan untuk pelajar dan anak-anak dibawah usia
18 tahun, dikenai aturan pembebasan biaya obat. Bagi para pekerja harus
tetap membeli sendiri obat-obatan yang dibutuhkan.Lain halnya jika kita
anggota dari asuransi kesehatan privat, kita harus membayar segala biaya
pemeriksaan baik dokter ataupun jasa kesehatan lainnya terlebih dahulu,
kemudian baru meminta penggantian ke asuransi.
Jika seorang pembayar asuransi memiliki keluarga (anak dan
pasangan hidup), jumlah yang harus dibayar tetap sama dengan jika dia
seorang diri. Keluarganya ikut dalam asuransinya tanpa perlu membayar

46

lagi, disebutnya mitversichert.Aturan baru kesehatan di Jerman, mulai


tahun 2004, anggota keluarga yang mitversichert diharuskan membayar
biaya dokter tambahan.Akan tetapi hal ini tidak berlaku bagi anak
dibawah 18 tahun.
Asuransi kesehatan umum yang bersifat gesetzlich antara lain:
a. AOK (Allgemeine Ortskrankenkasse)
b. TK (Tekniker Krankenkasse)
c. BEK (Barmer Ersatzkasse)
d. DAK (Deutsche Angestellten Krankenkasse)
e. BKK (Betriebskrankenkasse)
Jasa

untuk

tiap

asuransi

berbeda-beda.Sebaiknya

kita

menanyakannya pada badan asuransi dimana kita mendaftar.Dengan


asuransi ini kita tidak perlu membayar pemeriksaan dokter. Bahkan untuk
pelajar dan anak-anak dibawah usia 18 tahun, dikenai aturan pembebasan
biaya obat. Bagi para pekerja harus tetap membeli sendiri obat-obatan
yang dibutuhkan.Lain halnya jika kita anggota dari asuransi kesehatan
privat, kita harus membayar segala biaya pemeriksaan baik dokter
ataupun jasa kesehatan lainnya terlebih dahulu, kemudian baru meminta
penggantian ke asuransi.
2.9.3 Sistem Pembiayaan Kesehatan
Sistem pembiayaan kesehatan untuk cakupan universal dapat
dibagi menjadi tiga kategori pembayar tunggal (single payer), pembayar
ganda (two-tier), dan sistem mandat asuransi. Jerman merupakan salah
satu Negara yang menerapkan system pembayaran dengan metode
system mandat asuransi, Dalam pelaksanaan mandat asuransi, pemerintah
di sejumlah negara membatasi jumlah perusahaan asuransi. Di beberapa
negara lainnya jumlah perusahaan asuransi yang beroperasi tidak dibatasi
dan berlangsung dalam mekanisme pasar.Pemerintah melakukan regulasi
dan standarisasi, misalnya larangan perusahaan asuransi untuk menolak

47

untuk mengasuransi warga yang telah melangalami penyakit (preexisting condition).


Jerman menerapkan sistem penyediaan pelayanan kesehatan yang
lebih pluralistik, berdasarkan asuransi sosial wajib ataupun asuransi
swasta.Tingkat

kontribusi

asuransi

wajib

biasanya

ditentukan

berdasarkan gaji dan pendapatan, dan biasanya didanai oleh perusahaan


maupun pekerja penerima manfaat asuransi. Tidak jarang dana kesehatan
merupakan campuran antara premi asuransi, kontribusi wajib perusahaan
dan pekerja, dan pajak pemerintah. Sistem asuransi ini membayar
penyedia pelayanan kesehatan swasta atau pemerintah dengan regulasi
tingkat pembayaran.Di Jerman, premi asuransi kesehatan wajib dikelola
oleh perusahaan asuransi yang dimiliki bersama oleh masyarakat.
Pada tahun 2007 diputuskan reformasi sistem kesehatan. Bagian
pokoknya ialah dana kesehatan sentral. Mulai tahun 2009 semua iuran
yang disetor kepada badan asuransi kesehatan wajib, baik oleh karyawan
maupun oleh pemberi kerja, disalurkan ke dana tersebut. Jumlahnya
ditambah dengan tunjangan dari fiskus. Per peserta, ke-200 lebih asuransi
kesehatan wajib yang ada menerima sejumlah uang yang pasti dari dana
sentral itu. Badan asuransi kesehatan yang banyak anggotanya adalah
orang lanjut usia, penyandang penyakit kronis dan orang berpendapatan
rendah mendapat uang tambahan. Pemerintah Federal bertujuan agar
badan asuransi dalam jangka panjang menjadi lebih otonom dalam
penetapan iuran, dan perbedaan menurut daerah dapat dimungkinkan.
Rencana selanjutnya, besar iuran peserta dilepaskan dari tingkat
pendapatan, namun akan adanya faktor pengimbang sosial. Supaya biaya
pemeliharaan kesehatan sedapat mungkin dipisahkan dari biaya
sampingan imbalan kerja, bagian iuran yang dibayar oleh pemberi kerja
tidak akan dinaikkan lagi.
Sistem pembiayaan kesehatan di Jerman merupakan sistem yang
terbaik di dunia namun agaknya dengan berjalannya waktu dan
modernisasi teknologi dalam bidang kedokteran membuat biaya
perawatan kesehatan menjadi melambung tinggi hal tersebut tentu

48

berakibat buruk pada pengeluaran di bidang kesehatan yang melambung


tinggi hingga membuat pemerintah jerman merasa sangat terbebani, barubaru

ini

terdapat

wacana

perubahan

atau

revolusi

sistem

kesehatan.Namun revolusi sistem tersebut dapat merugikan masyarakat


yang

telah

bertahun-tahun

dimanjakan

oleh

sistem

kesehatan

sebelumnya. pemerintah menetapkan bahwa skema baru sistem


perawatan kesehatan Jerman terdiri atas kenaikan premium menjadi 15,5
persen pendapatan gaji kotor, padahal per 1 Januari 2010 angkanya
berada di 14,9 persen. Kontribusi pembayawan asuransi kesehatan ini
diperoleh dari majikan dan staf.Dalam reformasi terdahulu di tahun 2006
dan 2008, besaran kontribusi pun meningkat. Tak cuma itu, para pasien
pun akan diwajibkan membuat pembayaran bersama di kantor dokter.
Bayaran ini ditentukan oleh perusahaan asuransi, dengan kata lain biaya
kesehatan nantinya akan naik dan dibayar oleh si pasien sendiri. Rencana
reformasi juga meliputi alokasi anggaran yang diperkecil untuk para
dokter, klinik, obat-obatan, dan administrasi. (Republika,2010 )
Terkait biaya kesehatan, ada standarisasi biaya yang berlaku di
seluruh Jerman. Dia mencontohkan, biaya operasi usus buntu sama, baik
itu di rumah sakit kecil maupun di rumah sakit besar. Mulai biaya dokter,
pemakaian alat, laboratorium, obat dan keperluan medis lainnya.Yang
membedakan adalah keperluan non medis saja.Seperti ruang rawat,
fasilitas pribadi seperti televisi dan lain-lain.
2.10.4 Praktek Dokter di Jerman
Menurut dr. Jan Pramidya Maringka SpAn, di Jerman dikenal dua
jenis dokter, yakni dokter rumah sakit dan dokter privat. Seorang dokter
harus memilih salah satu, menjadi dokter sebuah rumah sakit atau dokter
privat yang berpraktek sendiri.Jadi dokter tidak merangkap. Jika menjadi
dokter sebuah rumah sakit, maka tidak diperbolehkan bekerja di rumah
sakit lain maupun membuka praktek pribadi. Begitu juga sebaliknya,
seorang dokter privat tidak boleh bekerja di rumah sakit.Dokter privat
juga hanya membuka satu tempat praktek saja.

49

Untuk aturan jam kerja dokter juga sangat ketat. Setiap dokter, baik
dokter umum maupun spesialis memiliki 40 jam kerja dalam seminggu.
Peraturan jam kerja juga berlaku bagi dokter rumah sakit maupun dokter
privat. Jam kerja menjadi perhatian serius di Jerman.Dokter biasanya
bekerja

mulai

setengah

delapan

pagi

sampai

setengah

empat

sore.Limahari kerja saja.Selain pembatasan tempat praktek dan jam kerja,


seorang dokter di Jerman juga harus pensiun pada usia 65 tahun.
Hanya saja, meski ada pembatasan-pembatasan, penghasilan dokter
di Jerman sangat diperhatikan. Penghasilan seorang dokter sama besar di
seluruh Jerman, baik yang bekerja dikotabesar, maupun dikotakecil. Jika
dihitung, penghasilan dokter di Jerman termasuk penghasilan warga kelas
menengah.Sejak menjadi dokter muda sudah di bayar. Ambil spesialisasi
juga gratis.Disini (Indonesia) ambil spesialisasi malah harus membayar
mahal.
Di Jerman sudah umum jika harus membuat janji atau termin untuk
pemeriksaan dokter.Walaupun untuk beberapa dokter umum tinggal
datang dan menunggu giliran dipanggil.Terkadang pada beberapa dokter
ahli seperti mata, THT atau kulit, kita harus menunggu sampai lebih 3
minggu, kecuali jika kasusnya darurat.
Kita dapat membuat termin melalui telpon atau langsung datang ke
tempat praktek dokter.Usahakan untuk datang tepat waktu sekitar 15
menit sebelum termin. Umumnya keterlambatan menyebabkan kita harus
menunggu lama karena giliran kita yang seharusnya dilompati oleh
pasien lain yang memiliki termin yang berurutan. Sehingga kita harus
menunggu sampai setelah 2 atau 3 pasien.Belum lagi terkadang
resepsionis

yang

sinis

jika

keterlambatan

melebihi

dari

30

menit.Walaupun hal ini tidak berlaku umum untuk semua dokter.Untuk


mengantisipasinya, jika kita tidak bisa datang tepat waktu, sebaiknya kita
menelpon untuk memberitahukan keterlambatan itu.
Ke dokter mana kita harus pergi?Informasi pertama biasaya dari
teman terdekat atau keluarga. Alternatif lain yang lebih memiliki banyak
pilihan adalah mencari di buku telpon. Hampir semua dokter tertera di

50

buku telpon. Tinggal mencari yang terdekat dengan tempat tinggal kita
lalu menelpon membuat termin dan menanyakan jam prakteknya. Agar
semua data kesehatan anda dapat terkontrol dan terdokumentasi dengan
rapi, sebaiknya kita memiliki dokter umum tetap.
Berbeda dengan di Indonesia, semua dokter di Jerman bekerja
dengan komputer dan sistem database yang canggih.Sistem manajemen
data, baik pasien, penyakit dan obat sangat bagus.Mereka mempunyai
pasti data obat berikut kandungannya dan harga di apotek. Kita bisa lebih
mudah mendapatkan obat alternatif yang sama. Jika kita mempunyai obat
pribadi dari Indonesia dan kehabisan, kita dapat menanyakannya ke
apotek atau langsung ke dokter untuk dicarikan gantinya dengan
kandungan dan komposisi yang sama.
2.10.5 Sistem Rujukan
Rujukan sistem jaminan sosial di antaranya adalah negara-negara
Eropa, termasuk Jerman. Negara ini dalam laporan Organisasi Kesehatan
Dunia (WHO) tahun 2000 menduduki peringkat pertama dari 191 negara
anggota

WHO

dalam

memberikan

pelayanan

kesehatan

secara

menyeluruh kepada penduduknya.


Pelayanan kesehatan di Jerman adalah tidak ada sistem
rujukan.Pasien boleh datang ke dokter umum, dokter spesialis atau
langsung ke unit gawat darurat di rumah sakit.Kadang-kadang unit gawat
darurat kebanjiran pasien, terutama di malam hari, akhir pekan atau masa
liburan, karena dokter praktik swasta berlibur.
Tetapi tetap ada perbedaan kualitas antara asuransi umum dan
privat di jerman.Dari segi pelayanan di praktek dokter, pasien privat lebih
didahulukan dibanding pasien asuransi umum dan tidak semua dokter
melayani pasien asuransi umum.Dan dari segi pelayanan medis tidak
semua therapy pelengkap tambahan diberikan pada pasien asuransi
umum seperti perawatan muka (laser), keca mata, dental implant, contact
lenses dan sebagainya.Berbeda dengan asuransi privat yang banyak
macamnya dari segi harga iuran sampe ke segi fasilitas yang didapat.

51

Mahasiswa di jerman memiliki biaya asuransi yang lebih murah


dibanding orang lain yg sudah kerja atau berumur > 26 tahun. Mahasiswa
disana dibebankan biaya 80 / bulan dan bebas memilih dokter
manapun yang terdaftar resmi dan semuanya gratis, tetapi apabila kita
hanya diberi resep kita dapat menebusnya di apotek manapun dengan
dicover hamper 90% dari asuransi contoh apabila harga obat 30 kita
hanya membayar 5 berbeda dengan yang privat harus membayar penuh
dimuka, baru setelah itu diklaim ke asuransi privat. Dan dalam hal rawat
inap asuransi umum (GKV) hanya mengcover biaya beberapa hari saja
sesuai acuan tiap-tiap penyakit, dan apabila lebih dari target rawat yang
ada, pasien dibebankan untuk tambah biaya ekstra untuk perawatan.
Di Jerman juga berlaku European Health Insurance Card (EHIC)
apabila orang tersebut berada di EU/EEA atau The European Union atau
European Economic Area dan tinggal sementara di Jerman, mereka bisa
mendapat fasilitas kesehatan gratis pula.

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan.

52

Di Negara Indonesia sistem rujukan kesehatan telah dirumuskan dalam


Permenkes No. 001 tahun 2012 pasal 3. Sistem rujukan adalah
penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang mengatur pelimpahan tugas
dan tanggungjawab pelayanan kesehatan secara timbal balik baik vertikal
dalam arti dari unit yang berkemampuan kurang kepada unit yang lebih
mampu maupun horizontal dalam arti antar unit yang setingkat
kemampuannya, kepada yang lebih berwenang dan mampu, terjangkau
dan rasional.

Sistem rujukan di Indonesia dibedakan atas 2 jenis, yaitu rujukan medis


dan rujukan kesehatan. Pada Permenkes RI Nomor 001 Tahun 2012
Tentang Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan Perorangan Pasal 7, rujukan
dapat dilakukan secara vertikal dan horizontal. Rujukan horizontal diatur
dalam Permenkes RI Nomor 001 Tahun 2012 Pasal 8, sedangkan rujukan
vertikal diatur dalam Permenkes RI Nomor 001 Tahun 2012 Pasal 9 dan
10.

Langkah-langkah untuk melakukan tindakan rujukan dibagi menjadi


prosedur klinis dan prosedur administratif. Berdasarkan Peraturan Presiden
RI No. 72 Tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan Nasional (SKN) pasal 5
menyebutkan bahwa SKN menjadi acuan dalam penyusunan dan
pelaksanaan pembangunan kesehatan yang dimulai dari kegiatan
perencanaan sampai dengan kegiatan monitoring dan evaluasi.

Alur rujukan dilakukan sesuai dengan tingkat atau jenjang dari pelayanan
kesehatan. Menurut Undang-Undang No.44 Tahun 2009 tentang Rumah
Sakit, Pasal 24 berisi tentang klasifikasi rumah sakit. Dalam rangka
penyelenggaraan pelayanan kesehatan secara berjenjang dan fungsi
rujukan, rumah sakit umum dan rumah sakit khusus diklasifikasikan
berdasarkan fasilitas dan kemampuan pelayanan Rumah Sakit.

Sebagaimana tercantum pada Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 001


Tahun 2012 Tentang Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan Perorangan
Pasal 15Surat pengantar rujukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13
huruf csekurang-kurangnya memuat tentang identitas pasien, hasil
pemeriksaan

yang

dilakukan

(anamnesis,

pemeriksaan

fisik

dan

53

penunjang), diagnosis kerja, terapi dan/atau tindakan yang telah diberikan,


tujuan rujukan dannama dan tanda tangan tenaga kesehatan yang
memberikan pelayanan.

Acuan yang digunakan untuk merujuk bagi dokter umum adalah Standar
Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI). SKDI merupakan standar minimal
kompetensi lulusan dan bukan merupakan standar kewenangan dokter
layanan primer. SKDI juga menjadi acuan dalam pengembangan uji
kompetensi dokter yang bersifat nasional.

Terdapat perbedaan sistem rujukan kepada ketiga negara tersebut. Sistem


rujukan di Indonesia mulai dari pelayanan kesehatan primer ke sekunder
menuju tersier secara bertahap, sedangkan di Malaysia dan Jerman rujukan
kesehatan bisa langsung dari pelayanan primer ke sekunder maupun tersier

3.2. Saran
Saran kami sebagai penulis kepada:

Pemerintah agar lebih lagi memperhatikan aspek kesehatan khususnya


penyediaan tenaga dan faslitas serta membuat suatu sistem kerja sama
yang baik dalam upaya melakukan tindakan rujukan.

Tenaga kesehatan agar berusaha untuk mempelajari dan memahami


tentang sistem rujukan yang berlaku di Indonesia agar mampu untuk
melakukan tindakan rujukan yang tepat, serta dapat bekerjasama dengan
tenaga kesehatan yang lain dengan begitu diharapkan dapat menurunkan
angka kematian dan kecacatan yg terjadi.

Daftar Pustaka
1

Alim N, Musakkir, Irwansyah. Putusan majelis kehormatan disiplin


kedokteran Indonesia (mkdki) sebagai alat bukti awal dalam penegakan
hukum kesehatan. Fakultas Hukum UNHAS Makassar diakses dari

54

http://pasca.unhas.ac.id/jurnal/files/bfaf75c2e6da88787575bf63e38fa2e4.p
2

df.
Permenkes RI No.001.Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan Perorangan.

Tahun 2012.
Paduan
praktis

www.rsmargono.go.id pada tanggal 13 Mei 2015.


Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat. Petunjuk Teknis Sistem

Rujukan Pelayanan Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat.Tahun 2011.


Abraham S, dkk. Tanya jawab ilmu kedokteran forensik. Semarang: Badan

Penerbit Universitas Diponegoro Semarang; 2012. h.1.


KBBI online. Diunduh dari http://kbbi.web.id/medikolegal. Pada Tanggal

14 Mei 2015.
Kemenkes RI No. 128/MENKES/SKII/2004.Pengertian Rujukan. Tahun

8
9

2004.
Undang Undang RI. Nomor 29. Tentang Praktik Kedokteran. Tahun 2004.
Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta No.59. Pedoman

sistem

rujukan

berjenjang.

Diunduh

dari

Pelaksanaan Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan. Tahun 2012.


10 Peraturan Presiden RI No.72. Sistem Kesehatan Nasional.Tahun 2012.
11 Yulianti, Nindi. Sistem Rujukan Pelayanan di Indonesia. Tahun 2011.
Diunduh

dari

www.slideshare.net/pjj_kemenkes/modul-kb-2-43811258

pada tanggal 12 Mei 2015.


12 Undang-undang.No.44. Tentang Rumah Sakit. Tahun 2009
13 Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia No.11. Standar Kompetensi
Dokter Indonesia.Tahun 2012.
14 Jaafar, S et al. 2013. Malaysia Health System Review. Health Systems in
Transition, Vol 3 No.1 2013
15 Admin. 2003. Upaya Menjamin Kesehatan dan Sosial Penduduk. 21
September.Available:googleweblight.com/?
lite_url=http://anugerampastiktmxv.blogspot.com/2012_07_01_archive.html?m
%3D1&ei=XyFbGCN8&lc=idID&s=1&ts=1433663121&sig=AG8UcukhYf3B
MD_hnspoQAG4x9c6lNrZHw
16 Admin. 2010. Tentang Jerman + Studi di Jerman Sistem Kesehatan.
Thursday, January 14, available : googleweblight.com/?lite_url=http://studijerman.blogspot.com/2010/01/sistemkesehatan.html?m
%3D1&ei=u8MD4CN6&lc=idID&s=1&ts=1433656623&sig=AG8UcumaJBban
DSDlQzMQrq2SxjLJseLA
17 Admin. 2012. Pembiayaan Sektor Kesehatan. Minggu, 29 Juni, available :
googleweblight.com/?
lite_url=http://anugerampastiktmxv.blogspot.com/2012_07_01_archive.html?m
%3D1&ei=XyFbGCN8&lc=idID&s=1&ts=1433663121&sig=AG8UcukhYf3B
MD_hnspoQAG4x9c6lNrZHw

55

18 Admin. 2012. Perlukah Pembatasan Jam Kerja Dokter. 6 Januari.


Available : kangbrama.wordpress.com/2012/01/06/perlukah-pembatasanjam-kerja-dokter/
19 Expatica. 2015. Your Guide to The German HealthCare system.
Available at: http://www.expatica.com/de/healthcare/Your-guide-to-theGerman-healthcare-system_103359.html

56