Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN KASUS

TINEA VERSIKOLOR
dr. Sri Primawati Indraswari, Sp.KK, MM
Oleh: Maulita Agustine (030.10.171)

I.

PENDAHULUAN
Tinea versikolor adalah penyakit jamur superfisial yang kronik, biasanya

tidak memberikan keluhan subyektif, berupa bercak berskuama halus yang


berwarna putih sampai coklat hitam, terutama meliputi badan dan kadang-kadang
dapat menyerang ketiak, lipat paha, lengan, tungkai atas, leher, muka dan kulit
kepala yang berambut1.
Tinea versikolor disebabkan oleh Malessezia furfur Robin (BAILLON
1889), yaitu jamur yang bersifat lipofilik dimorfik dan merupakan flora normal
pada kulit manusia. Tinea versikolor atau dikenal juga dengan pitiriasis versikolor,
kromofitosis, dermatomikosis, purpura, liver spots, tinea flava, pitiriasis
versikolor flava dan panu2.
Tinea versikolor merupakan penyakit universal tetapi lebih banyak
dijumpai di daerah tropis oleh karena tingginya temperatur dan kelembapan 3.
Biasanya terjadi pada dewasa muda, dengan insiden puncak pada usia 20 tahunan.
Kejadiannya menurun pada usia dekade ke-5 dan ke-6. Infeksi ini jarang terjadi
bila produksi sebum menurun atau tidak ada. Faktor-faktor predisposisi terjadinya
tinea versikolor adalah temperatur tinggi / kelembaban relatif, kulit berminyak,
hiperhidrosis, faktor herediter, terapi glukokortikoid, dan imunodefisiensi4.
1

Budimulja U. Pitiriasis Versikolor . In: Mikosis. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. 6th Ed. Balai
Penerbit FKUI Jakarta. 2011. p.100.
Janik MP, Heffernan MP. Yeast infections Tinea (pityriasis) Versicolor , In: Wolff K, Goldsmith
AL, Katz IS, Gilchrest AB, Paller SA, Leffel JD editors. Fitzpatricks Dermatology In General
Medicine. 7th Ed. New York: Mc Grew Hill Medical. 2008. p.623.
2
Loc.cit.
3
Hay RJ, Ashbee HR. Mycology: Pityriasis Versicolor. In: Burns T, Breathnach S, Cox N, Griffiths
C, editors. Rooks Textbook of Dermatology. 8th ed. Singapore: Wiley-Blackwell. 2010. p. 36.
4
Janik MP, Heffernan MP. Yeast infections Tinea (pityriasis) Versicolor , In: Wolff K, Goldsmith
AL, Katz IS, Gilchrest AB, Paller SA, Leffel JD editors. Fitzpatricks Dermatology In General
Medicine. 7th Ed. New York: Mc Grew Hill Medical. 2008. p.623.

Kelainan kulit tinea versikolor sangat superfisial dan ditemukan terutama


di badan. Kelainan ini terlihat sebagai bercak-bercak berwarna-warni, bentuk
tidak teratur sampai teratur, batas jelas sampai difus. Bercak-bercak tersebut
berflouresensi bila dilihat dengan lampu wood. Bentuk papulo-vesikuler dapat
terlihat walaupun jarang. Kelainan biasanya asimptomatik sehingga adakalanya
penderita tidak mengetahui bahwa ia berpenyakit tersebut. Kadang-kadang
penderita dapat merasakan gatal ringan, yang merupakan alasan berobat5.
Pada kulit terdapat flora normal yang berhubungan dengan timbulnya tinea
versikolor ialah Pytorosporum orbiculare yang berbentuk bulat atau Pityrosporum
ovale yang berbentuk oval. Keduanya merupakan organisme yang sama, dapat
berubah sesuai lingkungannya, misalnya suhu, media, dan kelembaban.
Malassezia furfur merupakan fase spora dan miselium. Faktor predisposisi
menjadi patogen dapat endogen dan eksogen. Endogen dapat disebabkan
diantaranya oleh defisiensi imun. Eksogen dapat karena faktor suhu, kelembaban
udara, dan keringat6.
Berikut ini dilaporkan kasus tinea versikolor pada seorang laki-laki berusia
39 tahun.

II.

KASUS
Seorang laki-laki, berusia 39 tahun, perkerjaan buruh bangunan, belum

menikah, beragama Islam, pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP), datang


ke poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Kardinah Tegal pada tanggal 9 Mei 2015
pukul 11.00 WIB dengan keluhan utama bercak keputihan, bersisik dan terasa
gatal di lengan bawah kanan dan kiri, punggung tangan kanan dan kiri, dan leher.

Gosh, Sudip K, Sunil KD, Indranil S, Jayasree NB, Arghyaprasun G, Aloke KR. Pityriasis
versicolor: A Clinicomycological and Epidemiological Study from A Tertiary Care Hospital.
Indian J Dermatol. 2008:53(4):182-5.
5
Budimulja U. Pitiriasis Versikolor . In: Mikosis. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. 6th Ed. Balai
Penerbit FKUI Jakarta. 2011. p.100.
6
Schwartz RA. Superficial Fungal Infections. Lancet. 2004;354: p. 1173-82

ANAMNESIS KHUSUS
(Autoanamnesis dilakukan pada tanggal 9 Mei 2015 pukul 11.00 WIB di
poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Kardinah Tegal).
Keluhan timbul pertama kali kurang lebih 1 bulan yang lalu, timbul bercak
keputihan, bersisik sebesar koin yang terasa gatal pada lengan bawah kanan.
Pasien tidak mengobati keluhan yang dirasakan. 2 minggu yang lalu bercak
keputihan, bersisik yang terasa gatal menyebar ke lengan bawah kiri dan
punggung tangan kanan dan kiri. Pasien mengobati gatal yang dirasakannya
dengan bedak herocyn namun keluhan tidak membaik dan semakin menyebar. 1
minggu yang lalu bercak keputihan, bersisik menyebar ke leher. Pasien tidak
mengobati keluhan yang dirasakannya. Gatal dirasakan sepanjang hari dan
terutama dirasakan pada saat cuaca panas dan pasien berkeringat. Tidak terdapat
mati rasa pada bercak keputihan tersebut.
Pasien adalah seorang buruh bangunan, yang bekerja mengangkat beban
berat seperti semen dan besi. Pekerjaan pasien yang mengangkat beban berat dan
tempat kerja yang panas sehingga membuat pasien banyak mengeluarkan
keringat. Pasien sehari-hari memakai baju seragam kerja berkerah dengan bahan
yang kurang menyerap keringat. Pasien mempunyai kebiasaan mandi 2x sehari
menggunakan sabun dan sumber air tanah, warna air jernih tidak berbau,
terkadang keruh dan tidak berasa. Setiap selesai mandi pasien mengganti pakaian
yang baru, namun seragam kerja pasien hanya dicuci 3x/minggu.
Tidak ada riwayat asma bronkial, kebiasaan bersin-bersin di pagi hari,
kencing manis, ataupun alergi terhadap obat tertentu. Tidak ada anggota keluarga
serumah pasien yang mengalami keluhan seperti pasien. Tidak ada teman kerja
pasien yang mengalami keluhan yang sama. Penggunaan obat dalam waktu lama
atau pemberian obat oles disangkal. Pasien tidak memelihara binatang dirumah.
Pasien mengatakan sudah pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya di
perut, bokong dan selangkangan kurang lebih 1 tahun yang lalu. Pasien berobat ke

RSUD Kardinah Tegal, pasien tidak tahu nama obat yang diberikan namun obat
tersebut dapat mengurangi gatal dan keluhan pasien.

PEMERIKSAAN FISIK
1. STATUS GENERALIS
Keadaan Umum

: Baik, tampak sakit ringan

Kesadaran

: Compos mentis, kooperatif

Tanda Vital

Tekanan Darah: 110/80 mmHg


Nadi

: 80 x/menit, volume cukup, irama teratur, equalitas


kiri dan kanan sama

Suhu

: Afebris

Pernafasan

: 20 x/menit, irama teratur, tipe pernafasan


abdominotorakal.

Kepala

Berat Badan

: 68 kg

Tinggi

: 173 cm

Status Gizi

: 22,74 kg/m2 (gizi baik)

: Normosefali, benjolan (-), rambut hitam, lurus, tidak mudah


dicabut, distribusi merata, alopesia (-), NT (-).

Mata

: Alis simetris, tidak mudah dicabut, oedem (-) dan benjolan (-),
bulu mata tidak rontok, trikiasis (-), konjungtiva pucat -/-, sklera
ikterik -/-, pupil bulat, isokor, diameter 3 mm, refleks cahaya
langsung dan tidak langsung +/+, sekret -/-.

Hidung

: Nafas cuping hidung (-), deformitas (-), septum deviasi (-), tidak
tampak adanya kelainan kulit pada hidung, konka eutrofi, mukosa
hiperemis (-), sekret (-), benjolan (-), nyeri tekan(-).

Telinga

: Normotia , benjolan -/-, nyeri tarik -/-, nyeri tekan -/-, serumen +/
+.

Mulut

: Bibir pucat (-), sianosis(-), pecah(-), sariawan(-), mukosa gusi


hiperemis(-), gigi karies (-). Letak lidah ditengah (+), tepi lidah
hiperemis (-), lidah kotor (-), lidahgeografik (-), tonsil T1-T1,
hiperemis (-).

Leher

: Otot bantu pernafasan m. sternocleidomastoideus (-), trakea


ditengah, deviasi (-), kelenjar tiroid tidak teraba membesar,
pembesaran KGB (-), kelainan kulit (+) lihat status dermatologis.

Thorax

: Retraksi intercostal (-) dan sela iga melebar (-), terdapat kelainan
kulit (lihat status dermatologikus).

Paru

Inspeksi

Kanan
Kiri
Simetris saat statis dan Simetris

Palpasi
Perkusi
Auskultasi
Ronkhi
Wheezing

dinamis
Vokal fremitus sama
sonor pada lapang paru
suara dasar vesikuler (+)
(-)
(-)

saat statis

dan

dinamis
Vokal fremitus sama
sonor pada lapang paru
suara dasar vesikuler (+)
(-)
(-)

Jantung
Inspeksi

: tampak pulsasi iktus cordis

Palpasi

: teraba iktus kordis dengan diameter 1 cm kuat angkat (+),


thrill (-).

Perkusi

Batas kanan

: ICS IV sternalis kanan

Batas kiri

: ICS V linea midklavikularis kiri

Batas atas

: ICS II sternalis kanan

Auskultasi

: S1S2 reguler, murmur (-), gallop(-).

Abdomen
Inspeksi

: Datar, simetris, tidak terdapat kelainan kulit

Auskultasi

: Bising (+) normal

Palpasi

: Supel, nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba


membesar

Perkusi

: Timpani di ke 4 kuadran abdomen

Inguinal

: pembesaran KGB (-), massa (-)

Ekstremitas

Superior:
o Oedem (-)
o Deformitas (-)
o Kelainan sendi (-)
o Kelainan kulit (+) lihat status dermatologikus
o Kelainan kuku (-)

Inferior:
o Oedem(-)
o Deformitas (-)
o Kelainan kulit (-)
o Kelainan kuku (-)

2. STATUS DERMATOLOGIKUS
Distribusi
: regional
Regio
: lengan bawah kanan dan kiri, punggung tangan
kanan dan kiri, leher
: multiple, konfluens, bilateral, tidak teratur, dengan

Lesi

ukuran miliar sampai plakat, batas tidak tegas.


Efloresensi
: makula hipopigmentasi, skuama

Gambar 1. Regio lengan bawah kanan

Gambar 2. Regio lengan bawah kiri

Gambar 3. Regio punggung tangan kanan dan kiri

Gambar 4. Regio leher


PEMERIKSAAN KHUSUS
Pada pemeriksaan kerokan lesi kulit dengan KOH 10%, tidak ditemukan
gambaran Spaghetti and meatballs yaitu hifa pendek dan spora bergerombol.

RESUME
Seorang laki-laki berusia 39 tahun, datang ke Poliklinik kulit dan kelamin
RSUD Kardinah Tegal pada tanggal 9 Mei 2015 pukul 11.00 WIB dengan keluhan
utama bercak keputihan bersisik yang terasa gatal di daerah lengan bawah kanan
dan kiri, punggung tangan kanan dan kiri, leher.
Pada anamnesis didapatkan makula hipopigmentasi, skuama berukuran
numular yang terasa gatal pada lengan bawah kanan dan menyebar ke lengan
bawah kiri, punggung tangan kanan dan kiri, leher.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan status generalis dalam batas normal.
BMI didapatkan normoweight. Pada status dermatologis, distribusi regional; regio
lengan bawah kanan dan kiri, punggung tangan kanan dan kiri, dan leher;
didapatkan lesi multiple, konfluens, bilateral, tidak teratur, dengan ukuran miliar
hingga plakat, batas tidak tegas; eflorosensi tampak makula hipopigmentasi,
skuama.
Pada pemeriksaan kerokan lesi kulit dengan KOH 10 % tidak didapatkan
hifa pendek dan spora bergerombol gambaran spaghetti and meatballs.

DIAGNOSIS BANDING

Tinea Versikolor
Pitiriasis Alba
Vitiligo
Dermatitis Seboroik
Morbus Hansen

DIAGNOSIS KERJA

Tinea Versikolor

USULAN PEMERIKSAAN

Pemeriksaan menggunakan lampu Wood


Pemeriksaan SGOT / SGPT

PENATALAKSANAAN
1. Umum
Memberikan penjelasan pada pasien tentang peyakit yang diderita

dan pengobatannya
Menyarankan pasien agar menggunakan bahan pakaian yang

menyerap keringat
Menyarankan agar pasien selalu menyeka keringatnya
Menyarankan agar pasien menyuci baju kerjanya setiap hari
Melakukan pengobatan sesuai anjuran dokter dan kontrol apabila
keluhan belum sembuh

2. Khusus
Sistemik (oral) :
o Ketokonazol 200 mg/hari selama 2 minggu
Topikal :
o Ketokonazol krim dioleskan 2 kali sehari sehabis mandi
tiap pagi dan sore hari selama 2 minggu.

10

PROGNOSIS

III.

Quo ad vitam

: ad bonam

Quo ad functionam

: ad bonam

Quo ad sanationam

: ad bonam

Quo ad cosmeticum

: ad bonam

PEMBAHASAN
Diagnosis Tinea versikolor pada pasien ini ditegakkan berdasarkan

anamnesis dan pemeriksaan fisik.


Tinea versikolor adalah penyakit jamur superfisial yang kronik, biasanya
tidak memberikan keluhan subyektif, berupa bercak berskuama halus yang
berwarna putih sampai coklat hitam, terutama meliputi badan dan kadang-kadang
dapat menyerang ketiak, lipat paha, lengan, tungkai atas, leher, muka dan kulit
kepala yang berambut7. Merupakan penyakit universal tetapi lebih banyak
dijumpai di daerah tropis oleh karena tingginya temperatur dan kelembapan 8.
Biasanya terjadi pada dewasa muda, dengan insiden puncak pada usia 20 tahunan.
Kejadiannya menurun pada usia dekade kelima dan keenam. Faktor-faktor
predisposisi terjadinya tinea versikolor adalah temperatur tinggi / kelembaban
relatif, kulit berminyak, hiperhidrosis, faktor herediter, terapi glukokortikoid, dan
imunodefisiensi9.

Budimulja U. Pitiriasis Versikolor . In: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S editors. Ilmu Penyakit
Kulit Dan Kelamin. 6th Ed. Balai Penerbit FKUI Jakarta. 2011. p.100.
Janik MP, Heffernan MP. Yeast infections Tinea (pityriasis) Versicolor , In: Wolff K, Goldsmith
AL, Katz IS, Gilchrest AB, Paller SA, Leffel JD editors. Fitzpatricks Dermatology In General
Medicine. 7th Ed. New York: Mc Grew Hill Medical. 2008. p.623.
8
Hay RJ, Ashbee HR. Mycology: Pityriasis Versicolor. In: Burns T, Breathnach S, Cox N, Griffiths
C, editors. Rooks Textbook of Dermatology. 8th ed. Singapore: Wiley-Blackwell. 2010. p. 36
9
Janik MP, Heffernan MP. Yeast infections Tinea (pityriasis) Versicolor , In: Wolff K, Goldsmith
AL, Katz IS, Gilchrest AB, Paller SA, Leffel JD editors. Fitzpatricks Dermatology In General
Medicine. 7th Ed. New York: Mc Grew Hill Medical. 2008. p.623.
Gosh, Sudip K, Sunil KD, Indranil S, Jayasree NB, Arghyaprasun G, Aloke KR. Pityriasis
versicolor: A Clinicomycological and Epidemiological Study from A Tertiary Care Hospital.
Indian J Dermatol. 2008:53(4):182-5.

11

Kelainan kulit tinea versikolor sangat superfisial dan ditemukan terutama


di badan. Kelainan ini terlihat sebagai bercak-bercak berwarna-warni, bentuk
tidak teratur sampai teratur, batas jelas sampai difus. Bercak-bercak tersebut
berflouresensi bila dilihat dengan lampu wood. Bentuk papulo-vesikuler dapat
terlihat walaupun jarang. Kelainan biasanya asimptomatik sehingga adakalanya
penderita tidak mengetahui bahwa ia berpenyakit tersebut. Kadang-kadang
penderita dapat merasakan gatal ringan, yang merupakan alasan berobat10.
Pada kasus ini, pasien mengeluh adanya bercak keputihan bersisik yang
terasa gatal pada lengan bawah kanan dan kiri, punggung tangan kanan dan kiri,
dan leher.
Pada anamnesis didapatkan makula hipopigmentasi, skuama berukuran
numular yang terasa gatal pada lengan bawah kanan dan menyebar ke lengan
bawah kiri, punggung tangan kanan dan kiri, leher.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan status generalis dalam batas normal.
BMI didapatkan normoweight. Pada status dermatologis, distribusi regional; regio
lengan bawah kanan dan kiri, punggung tangan kanan dan kiri, dan leher;
didapatkan lesi multiple, konfluens, bilateral, tidak teratur, dengan ukuran miliar
hingga plakat, batas tidak tegas; eflorosensi tampak makula hipopigmentasi,
skuama.
Pada pemeriksaan kerokan lesi kulit dengan KOH 10 % tidak didapatkan
hifa pendek dan spora bergerombol gambaran spaghetti and meatballs.
Pemeriksaan fisik diatas sesuai dengan kepustakaan mengenai tinea
versikolor. Hal ini dapat didiagnosis banding dengan Pitiriasis Alba, Vitiligo,
Dermatitis Seboroik dan Morbus Hansen. Menurut kepustakaan, pitiriasis alba
tidak spesifik dan belum diketahui penyebabnya. Pitiriasis alba sering dijumpai
pada anak berumur 3-16 tahun (30-40%). Wanita dan pria sama banyak. Lesi
berbentuk bulat, oval atau plakat yang tidak teratur. Warna merah muda atau

10

Budimulja U. Pitiriasis Versikolor . In: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S editors. Ilmu Penyakit
Kulit Dan Kelamin. 6th Ed. Balai Penerbit FKUI Jakarta. 2011. p.100.

12

sesuai warna kulit dengan skuama halus. Lesi dapat dijumpai pada ekstremitas
dan badan11. Dengan demikian pitiriasis alba dapat disingkirkan.
Menurut kepustakaan, vitiligo adalah hipomelanosis idiopatik didapat
ditandai dengan adanya makula putih yang dapat meluas. Dapat mengenai seluruh
bagian tubuh yang mengandung sel melanosit. Klinis vitiligo bercak berwarna
putih (makula hipopigmentasi) dengan diameter beberapa milimeter sampai
beberapa sentimeter, bulat atau lonjong dengan batas tegas. Vitiligo dapat
menyerang semua umur dan ras, dan terbanyak sebelum umur 20 tahun. Penyakit
ini juga diturunkan secara genetik. Pemeriksaan lampu wood makula amelanotik
tampak putih berkilau12. Dengan demikian vitiligo dapat disingkirkan.
Menurut kepustakaan, dermatitis seboroik adalah penyakit jamur
superficial yang kronik berupa bercak berskuama halus berwarna putih coklat
hitam. Biasa terjadi pada usia 18-40 tahun. Klinis eritema dan skuama yang
berminyak, agak kekuningan, batas tidak tegas. Predileksi kulit kepala dan
perbatasan kepala dan wajah. Dengan demikian dermatitis seboroik dapat
disingkirkan.
Menurut

kepustakaan,

morbus

hansen

ditandai

dengan

makula

hipopigmentasi yang mempunyai ciri-ciri anestesi, alopesia, anhidrosis dan atrofi.


Lesi bisa satu atau banyak, batas tegas dan ukuran bervariasi. Terdapat penebalan
saraf perifer. Dengan demikian morbus hansen dapat disingkirkan.
Penatalaksanaan umum pada pasien adalah menghilangkan faktor
predisposisi penting, misalnya mengusahakan daerah lesi selalu kering dan
memakai baju yang menyerap keringat. Terapi yang diberikan berupa anti jamur
sistemik dan topikal. Anti jamur sistemik yang diberikan yaitu anti jamur
golongan imidazol (ketokonazol 200 mg/hari) selama 2 minggu. Selain itu juga
diberikan anti jamur topikal yaitu anti jamur golongan imidazol (ketokonazol
11

Soepardiman L. Pitiriasis Alba. Dalam: Penyakit Kulit yang Lain. Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin. 6th ed. Jakarta: FKUI; 2011. p. 333-4.
12
Smoller BR, Hiatt KM. Tinea Versicolor. In: Smoller BR, Hiatt KM, editors.
Dermatopathology: The Basics. USA: Springer; 2009. p. 94-6.
Soepardiman L. Vitiligo. Dalam: Kelainan Pigmen. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. 6th ed.
Jakarta: FKUI; 2011. p. 296-8.

13

2x/hari) selama 2 minggu. Diberikan golongan imidazol untuk terapi sistemik


maupun topikal karena umumnya berkhasiat fungistatik dan pada dosis tinggi
bekerja fungisid terhadap fungi tertentu. Imidazol memiliki efektivitas klinis yang
tinggi dengan angka kesembuhan berkisar 70-100%. Ketokonazol fungistatikum
imidazol pertama yang digunakan per oral, spectrum kerja yang lebar.
Prognosis baik bila pengobatan dilakukan menyeluruh, tekun dan
konsisten. Pengobatan harus diteruskan 2 minggu setelah fluorosensi negatif
dengan pemeriksaan lampu Wood dan sediaan langsung negatif13.

DAFTAR PUSTAKA

Budimulja U. Pitiriasis Versikolor . In: Mikosis. Ilmu Penyakit Kulit Dan

Kelamin. 6th Ed. Balai Penerbit FKUI Jakarta. 2011. p.100.


Gosh, Sudip K, Sunil KD, Indranil S, Jayasree NB, Arghyaprasun G,
Aloke

KR.

Pityriasis

versicolor:

Clinicomycological

and

Epidemiological Study from A Tertiary Care Hospital. Indian J Dermatol.

2008:53(4):182-5.
Hay RJ, Ashbee HR. Mycology: Pityriasis Versicolor. In: Burns T,
Breathnach S, Cox N, Griffiths C, editors. Rooks Textbook of

Dermatology. 8th ed. Singapore: Wiley-Blackwell. 2010. p. 36.


Janik MP, Heffernan MP. Yeast infections Tinea (pityriasis) Versicolor , In:
Wolff K, Goldsmith AL, Katz IS, Gilchrest AB, Paller SA, Leffel JD
editors. Fitzpatricks Dermatology In General Medicine. 7th Ed. New York:

Mc Grew Hill Medical. 2008. p.623.


Schwartz RA. Superficial Fungal Infections. Lancet. 2004;354: p. 1173-82

13

Budimulja U. Pitiriasis Versikolor . Dalam: Mikosis. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. 6th Ed.
Balai Penerbit FKUI Jakarta. 2011. p.101.

14

Smoller BR, Hiatt KM. Tinea Versicolor. In: Smoller BR, Hiatt KM,

editors. Dermatopathology: The Basics. USA: Springer; 2009. p. 94-6.


Soepardiman L. Pitiriasis Alba. Dalam: Penyakit Kulit yang Lain. Ilmu

Penyakit Kulit dan Kelamin. 6th ed. Jakarta: FKUI; 2011. p. 333-4.
Soepardiman L. Vitiligo. Dalam: Kelainan Pigmen. Ilmu Penyakit Kulit
dan Kelamin. 6th ed. Jakarta: FKUI; 2011. p. 296-8.

15