Anda di halaman 1dari 9

Nama : Viodita Rizki

Nim : 1407122581
Teknik Kimia S1-C
ADAB BERPAKAIAN DALAM ISLAM
Fungsi Pakaian
Ada tiga macam fungsi pakaian, yakni sebagai penutup aurat, untuk menjaga
kesehatan, dan untuk keindahan. Tuntunan Islam mengandung didikan moral yang tinggi.
Dalam masalah aurat, Islam telah menetapkan bahwa aurat lelaki adalah antara pusar sampai
kedua lutut. Sedangkan bagi perempuan adalah seluruh tubuh kecuali muka dan telapak
tangan.
Mengenai bentuk atau model pakaian, Islam tidak memberi batasan, karena hal ini
berkaitan dengan budaya setempat. Oleh karena itu, kita diperkenankan memakai pakaian
dengan model apapun, selama pakaian tersebut memenuhi persyaratan sebagai penutup
aurat.Pakaian merupakan penutup tubuh untuk memberikan proteksi dari bahaya asusila,
memberikan perlindungan dari sengatan matahari dan terpaan hujan, sebagai identitas
seseorang, sebagai harga diri seseorang, dan sebuah kebutuhan untuk mengungkapkan rasa
malu seseorang. Dahulu, pakaian yang sopan adalah pakaian yang menutup aurat, dan juga
longgar sehingga tidak memberikan gambaran atau relief bentuk tubuh seseorang terutama
untuk kaum wanita. Sekarang orang-orang sudah menyebut pakaian seperti itu sudah dibilang
kuno dan tidak mengikuti mode zaman sekarang atau tidak modis. Timbul pakaian you can
see atau sejenis tanktop, dll.
Para mukminin dan mukminat telah diperintahkan oleh Allah di dalam kitab nan suci,
al-Quran, surat Al-Araf ayat 26:
Artinya: Hai, anak Adam! Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk
menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang
paling baik. Yang demikian itu adalah sebagaian dari tanda-tanda Kekuasaan Allah, mudahmudahan mereka selalu ingat. (QS Al Araf : 26)
Atau Q.S. Al-Ahzab ayat 59 yang artinya :

Hai para Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istriistri orang mukmin, Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.
Yang demikian itu supaya mereka mudah dikenali karena itu mereka tidak diganggu. Dan
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Al Ahzab : 29)
Adab Berpakaian
Islam melarang umatnya berpakaian terlalu tipis atau ketat (sempit sehingga membentuk
tubuhnya yang asli). Kendati pun fungsi utama (sebagai penutup aurat) telah dipenuhi, namun
apabila pakaian tersebut dibuat secara ketat (sempit) maka hal itu dilarang oleh Islam.
Demikian juga halnya pakaian yang terlalu tipis. Pakaian yang ketat akan menampilkan
bentuk tubuh pemakainya, sedangkan pakaian yang terlalu tipis akan menampakkan warna
kulit pemakainya. Kedua cara tersebut dilarang oleh Islam karena hanya akan menarik
perhatian dan menggugah nafsu syahwat bagi lawan jenisnya. Dalam hal ini Rasulullah SAW
bersabda:
.





( )
Artinya: Ada dua golongan dari ahli neraka yang belum pernah saya lihat keduanya, yaitu
1) kaum yang membawa cambuk seperti seekor sapi yang mereka pakai buat memukul orang
(penguasa yang kejam, 2) perempuan-perempuan yang berpakaian, tetapi telanjang, yang
cenderung kepada perbuatan maksiat, rambutnya sebesar punuk unta. Mereka itu tidak bisa
masuk surga dan tidak akan mencium bau surga padahal bau surga itu dapat tercium sejauh
perjalanan demikian dan demikian. (HR Muslim)
Ada dua maksud yang menjadi kesimpulan pada hadits ini, yaitu sebagai berikut:
1. Maksud kaum yang membawa cambuk seperti seekor sapi ialah perempuanperempuan yang suka menggunakan rambut sambungan (cemara dalam
bahasa jawa), dengan maksud agar rambutnya tampak banyak dan panjang
sebagaimana wanita lainnya. Selanjutnya, yang dimaksud rambutnya seperti
atau sebesar punuk unta adalah sebutan bagi wanita yang suka menyanggul
rambutnya. Kedua macam cara tersebut (memakai cemara dan menyanggul)
termasuk perkara yang tercela dalam Islam

2. Mereka dikatakan berpakaian karena memang mereka menempelkan pakaian


pada tubuhnya, tetapi pakaian tersebut tidak berfungsi sebagai penutup aurat.
Oleh karena itu, mereka dikatakan telanjang. Pada zaman modern seperti
sekarang ini, amat banyak manusia (perempuan) mengenakan pakaian yang
amat tipis sehingga warna kulitnya tampak jelas dari luar. Sementara itu
banyak pula perempuan yang memakai pakaian relatif tebal, namun karena
sangat ketat sehinga bentuk lekuk tubuhnya terlihat jelas. Kedua cara
berpakaian seperti itu (terlampau tipis dan ketat) termasuk perkara yang
dilarang dalam Islam.
Ciri-ciri pakaian wanita Islam di luar rumah ialah:

Pakaian itu haruslah menutup aurat sebagaimana yang dikehendaki syariat.

Pakaian itu tidak terlalu tipis sehingga kelihatan bayang-bayang tubuh badan dari luar.

Pakaian itu tidak ketat atau sempit tapi longgar dan enak dipakai. la haruslah menutup
bagian-bagian bentuk badan yang dapat mengundang syahwat.

Warna pakaian tsb suram atau gelap seperti hitam, kelabu asap atau perang.

Pakaian itu tidak sekali-kali dipakai dengan bau-bauan yang harum

Pakaian itu tidak bertasyabbuh (bersamaan atau menyerupai)dengan pakaian lakilaki yaitu tidak meniru-niru atau menyerupai pakaian laki-laki.

Pakaian itu tidak menyerupai pakaian perempuan-perempuan kafir dan musyrik.

Pakaian itu bukanlah pakaian untuk bermegah-megah atau untuk menunjuk-nunjuk


atau berhias-hias.

Aurat perempuan yang merdeka (demikian juga khunsa) dalam sholat adalah seluruh badan
kecuali muka dan telapak tangan yang lahir dan batin hingga pergelangan tangannya. Oleh
karena itu jika nampak rambut yang keluar ketika sholat atau nampak batin telapak kaki
ketika rukuk dan sujud, maka batallah sholatnya.

Aurat perempuan merdeka di luar sholat Di hadapan laki-laki ajnabi atau bukan muhram
yaitu seluruh badan. Artinya, termasuklah muka, rambut, kedua telapak tangan (lahir dan
batin) dan kedua telapak kaki (lahir dan batin). Maka wajiblah ditutup atau dilindungi seluruh
badan dari pandangan laki-laki yang ajnabi untuk mengelakkan dari fitnah. Demikian
menurut mahzab Syafei.
Di hadapan perempuan yang kafir Auratnya adalah seperti aurat bekerja yaitu seluruh badan
kecuali kepala, muka, leher, dua telapak tangan sampai kedua siku dan kedua telapak
kakinya. Demikianlah juga aurat ketika di hadapan perempuan yang tidak jelas pribadi atau
wataknya atau perempuan yang rusak akhlaknya.
Ketika sendirian, sesama perempuan dan laki-laki yang menjadi mahramnya Auratnya adalah
di antara pusat dan lutut Walau bagaimanapun, untuk menjaga adab dan untuk memelihara
dan berlakunya hal yang tidak diingini, maka perlulah ditutup lebih dari itu. Ini adalah
penting untuk menghindarkan fitnah.
Salah satu permasalahan yang kerap kali dialami oleh kebanyakan manusia dalam
kesehariannya adalah melepas dan memakai pakaian baik untuk tujuan pencucian pakaian,
tidur, atau yang selainnya. Sunnah-sunnah yang berkaitan dengan melepas dan memakai
pakaian adalah sebagai berikut : Mengucapkan Bismillah. Hal itu diucapkan baik ketika
melepas maupun memakai pakaian. Imam An-Nawawy berkata : Mengucapkan bismillah
adalah sangat dianjurkan dalam seluruh perbuatan. Memulai Dengan Yang Sebelah Kanan
Ketika Akan Memakai Pakaian. Berdasarkan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Apabila
kalian memakai pakaian maka mulailah dengan yang sebelah kanan.
Kaum Lelaki Dilarang Memakai Cincin Emas dan Pakaian Sutra
Dalam hal ini, cincin emas dan pakaian sutra yang dipakai oleh kaum lelaki, Khalifah Ali r.a
pernah berkata:
( )

Artinya: Rasulullah SAW pernah melarang aku memakai cincin emas dan pakaian sutra
serta pakaian yang dicelup dengan ashfar. (HR Thabrani)

Yang dimaksud dengan ashfar ialah semacam wenter berwarna kuning yang kebanyakan
dipakai oleh wanita kafir pada zaman itu. Ibnu umar meriwayatkan sebagai berikut:
:


Artinya: Rasulullah SAW pernah melihat aku memakai dua pakaian yang dicelup dengn
ashfar maka sabda beliau: Ini adalah pakaian orang-orang kafir, oleh karena itu janganlah
engkau pakai.
Larangan bagi laki-laki memakai cincin emas dan pakaian dari sutra adalah suatu didikan
moral yang tinggi. Allah telah menciptakan kaum lelaki yang memiliki naluri berbeda dengan
perempuan, memiliki susunan tubuh yang berbeda dengan tubuh perempuan. Lelaki memiliki
naluri untuk melindungi kaum perempuan yang relatif lemah kondisi fisiknya. Oleh sebab itu,
sangat tidak layak kiranya apabila lelaki meniru tingkah laku perempuan yang suka berhias
dan berpakaian indah serta suka dimanja. Dari sisi lain, larangan ini sekaligus sebagai upaya
pencegahan terhadap sikap hidup bermewah-mewahan, sementara masih banyak rakyat yang
hidup dibawah garis kemiskinan.
1.

Tidak dibolehkan memakai sutera dan emas bagi kaum lelaki berdasarkan hadits
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, dimana beliau Shallallahu alaihi wa sallam
mengambil kain sutera dan memegangnya dengan tangan kanannya sedangkan emas
dipegang dengan tangan kirinya kemudian bersabda:

.
Sesungguhnya keduanya haram atas kaum lelaki dari ummatku. [HR. Abu Dawud
no. 4057 diriwayatkan pula dengan sanad hasan oleh an-Nasa-i VIII/160 dan Ibnu
Hibban no. 1465]
2.

Tidak dibolehkan bagi laki-laki memanjangkan pakaian atau celana panjang, burnus
(sejenis mantel yang bertudung kepala) atau jubah sampai melebihi mata kaki. Hal ini
berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam:

Kain yang dibawah mata kaki maka tempatnya di Neraka. [HR. Al-Bukhari no.
5787 dan an-Nasa-i VIII/207 no. 5331]
3.

Diwajibkan bagi wanita muslimah untuk memanjangkan pakaiannya hingga dapat


menutupi kedua mata kakinya dan hendaknya menjulurkan kain kerudung jilbab pada
kepalanya hingga menutupi leher dan dadanya, sebagaimana firman Allah Azza wa
Jalla :



Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri
orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.
Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak
diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Al-Ahzaab/33: 59]
Dan firman Allah Azza wa Jalla:






Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangan
mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan
perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka. Dan hendaklah mereka
menutupkan kain kudung ke dada mereka, dan janganlah menampakkan perhiasan
mereka, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka,
atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara
mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara
perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki
atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita)

atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka
memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan
bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.
[An-Nuur/24: 31]
4.

Seorang muslim tidak dibenarkan menutup kain ke seluruh tubuhnya dan tidak
menyisakan tempat keluar untuk kedua tangannya karena Rasulullah Shallallahu
alaihi wa sallam melarang hal ini dan tidak boleh berjalan dengan satu sandal, hal ini
karena Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
.

Janganlah salah seorang di antara kalian berjalan dengan satu sandal saja namun
hendaknya memakai keduanya atau melepaskannya sama sekali. [HR. Al-Bukhari
no. 5856 dan Muslim no. 2097 (68)]

5.

Laki-laki muslim tidak boleh menggunakan busana muslimah dan wanita muslimah
tidak boleh menggunakan busana laki-laki. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah
Shallallahu alaihi wa sallam:
.

Allah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita-wanita yang
menyerupai laki-laki.[1]
Dan sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam lainnya:
.
Allah melaknat laki-laki yang mengenakan busana wanita dan wanita yang
menggunakan busana laki-laki.[2]

6.

Bagi seorang muslim, jika hendak mengenakan sandal maka haruslah memulai
dengan kaki kanan dan jika hendak melepaskan memulai dengan kaki kiri. Rasulullah
Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

.
Apabila salah seorang di antara kamu memakai sandal (sepatu), maka mulailah
dengan yang kanan dan apabila melepasnya mulailah dengan yang kiri. [HR. AlBukhari no. 5855 dan Muslim no. 2097]
7.

Hendaknya memulai memakai baju dari bagian kanan sebagaimana hadits Rasulullah
Shallallahu alaihi wa sallam:

.
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menyukai mendahulukan yang kanan ketika
memakai sandal, menyisir, bersuci dan dalam semua urusannya. [HR. Al-Bukhari no.
168 dan Muslim no. 268 (67)]

8.

Hendaknya ketika memakai baju baru, sorban (kopiah atau peci) baru, dan jenis
pakaian lainnya yang baru untuk mengucapkan doa:


.
Ya Allah, hanya bagimu segala pujian, Engkaulah yang telah memberikanku pakaian,
aku memohon kepada-Mu untuk memperoleh kebaikannya dan kebaikan dari tujuan
dibuatnya pakaian ini. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan
dari tujuan dibuatnya pakaian ini.[3]
[Disalin dari kitab Aadaab Islaamiyyah, Penulis Abdul Hamid bin Abdirrahman asSuhaibani, Judul dalam Bahasa Indonesia Adab Harian Muslim Teladan, Penerjemah
Zaki Rahmawan, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir Bogor, Cetakan Kedua Shafar 1427H Maret 2006M]
[1]. Lafazh di atas adalah lafazh yang keliru karena tidak ditemukan lafazh laana
Allah, namun yang benar adalah laana Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, yaitu:



.
Nabi Shallallahu alaihi wa sallam melaknat orang laki-laki yang menyerupai wanita
dan wanita-wanita yang menyerupai laki-laki. [HR. Al-Bukhari no. 5886, 6834, Abu
Dawud no. 4930]-pent.
[2]. Tetapi lafazh ini salah karena mencantumkan lafazh ( Allah melaknat),
padahal yang benar adalah ( Rasulullah melaknat) dan ini riwayat Imam alBukhari, namun pada riwayat Abu Dawud dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu
anhu adalah sebagai berikut:

.
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang mengenakan busana
wanita dan wanita yang menggunakan busana laki-laki. [HR. Abu Dawud no. 4098]penj.
[3]. HR. Abu Dawud no. 4020, at-Tirmidzi no. 1822, al-Hakim IV/192 dengan
menshahihkannya dan disepakati oleh adz-Dzahabi dari Abu Said al-Khudri
Radhiyallahu anhu.-penj.