Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN KASUS

TINEA VERSIKOLOR
dr. Sri Primawati Indraswari, Sp.KK, MM
Oleh: Maulita Agustine (030.10.171)

I.

PENDAHULUAN
Tinea versikolor adalah penyakit jamur superfisial yang kronik, biasanya

tidak memberikan keluhan subyektif, berupa bercak berskuama halus yang


berwarna putih sampai coklat hitam, terutama meliputi badan dan kadang-kadang
dapat menyerang ketiak, lipat paha, lengan, tungkai atas, leher, muka dan kulit
kepala yang berambut1.
Tinea versikolor disebabkan oleh Malessezia furfur Robin (BAILLON
1889), yaitu jamur yang bersifat lipofilik dimorfik dan merupakan flora normal
pada kulit manusia. Tinea versikolor atau dikenal juga dengan pitiriasis versikolor,
kromofitosis, dermatomikosis, purpura, liver spots, tinea flava, pitiriasis
versikolor flava dan panu2.
Tinea versikolor merupakan penyakit universal tetapi lebih banyak
dijumpai di daerah tropis oleh karena tingginya temperatur dan kelembapan 3.
Biasanya terjadi pada dewasa muda, dengan insiden puncak pada usia 20 tahunan.
Infeksi ini jarang terjadi bila produksi sebum menurun atau tidak ada.
Kejadiannya menurun pada usia dekade kelima dan keenam. Faktor-faktor
predisposisi terjadinya tinea versikolor adalah temperatur tinggi / kelembaban

Budimulja U. Pitiriasis Versikolor . In: Mikosis. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. 6th Ed. Balai
Penerbit FKUI Jakarta. 2011. p.100.
Janik MP, Heffernan MP. Yeast infections Tinea (pityriasis) Versicolor , In: Wolff K, Goldsmith
AL, Katz IS, Gilchrest AB, Paller SA, Leffel JD editors. Fitzpatricks Dermatology In General
Medicine. 7th Ed. New York: Mc Grew Hill Medical. 2008. p.623.
2
Loc.cit.
3
Hay RJ, Ashbee HR. Mycology: Pityriasis Versicolor. In: Burns T, Breathnach S, Cox N, Griffiths
C, editors. Rooks Textbook of Dermatology. 8th ed. Singapore: Wiley-Blackwell. 2010. p. 36.

relatif, kulit berminyak, hiperhidrosis, faktor herediter, terapi glukokortikoid, dan


imunodefisiensi4.
Kelainan kulit pitiriasis versikolor sangat superfisial dan ditemukan
terutama di badan. Kelainan ini terlihat sebagai bercak-bercak berwarna-warni,
bentuk tidak teratur sampai teratur, batas jelas sampai difus. Bercak-bercak
tersebut berflouresensi bila dilihat dengan lampu wood. Bentuk papulo-vesikuler
dapat terlihat walaupun jarang. Kelainan biasanya asimptomatik sehingga
adakalanya penderita tidak mengetahui bahwa ia berpenyakit tersebut. Kadangkadang penderita dapat merasakan gatal ringan, yang merupakan alasan berobat5.
Pada kulit terdapat flora normal yang berhubungan dengan timbulnya
pitiriasis versikolor ialah Pytorosporum orbiculare yang berbentuk bulat atau
Pityrosporum ovale yang berbentuk oval. Keduanya merupakan organisme yang
sama, dapat berubah sesuai lingkungannya, misalnya suhu, media, dan
kelembaban. Malassezia furfur merupakan fase spora dan miselium. Faktor
predisposisi menjadi patogen dapat endogen dan eksogen. Endogen dapat
disebabkan diantaranya oleh defisiensi imun. Eksogen dapat karena faktor suhu,
kelembaban udara, dan keringat6.
Berikut ini dilaporkan kasus tinea versikolor pada seorang laki-laki berusia
39 tahun.

II.

KASUS
Seorang laki-laki, berusia 39 tahun, perkerjaan buruh bangunan, belum

menikah, beragama Islam, pendidikan terakhir Sekolah Menengah Pertama


(SMP), datang ke poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Kardinah Tegal pada
4

Janik MP, Heffernan MP. Yeast infections Tinea (pityriasis) Versicolor , In: Wolff K, Goldsmith
AL, Katz IS, Gilchrest AB, Paller SA, Leffel JD editors. Fitzpatricks Dermatology In General
Medicine. 7th Ed. New York: Mc Grew Hill Medical. 2008. p.623.
Gosh, Sudip K, Sunil KD, Indranil S, Jayasree NB, Arghyaprasun G, Aloke KR. Pityriasis
versicolor: A Clinicomycological and Epidemiological Study from A Tertiary Care Hospital.
Indian J Dermatol. 2008:53(4):182-5.
5
Budimulja U. Pitiriasis Versikolor . In: Mikosis. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. 6th Ed. Balai
Penerbit FKUI Jakarta. 2011. p.100.
6
Schwartz RA. Superficial Fungal Infections. Lancet. 2004;354: p. 1173-82

tanggal 9 Mei 2015 pukul 11.00 WIB dengan keluhan utama bercak keputihan,
bersisik dan terasa gatal di lengan bawah kanan dan kiri, punggung tangan kanan
dan kiri, dan leher.

ANAMNESIS KHUSUS
(Autoanamnesis dilakukan pada tanggal 9 Mei 2015 pukul 11.00 WIB di
poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Kardinah Tegal).
Keluhan timbul pertama kali kurang lebih 1 bulan yang lalu, timbul bercak
keputihan, yang terasa gatal pada lengan bawah kanan dan punggung tangan
kanan. Gatal dirasakan sepanjang hari dan terutama dirasakan pada saat cuaca
panas dan pasien berkeringat. Keluhan tidak diobati, lama kelamaan bercak
keputihan semakin meluas ke lengan bawah kiri, punggung tangan kiri dan leher.
Bercak keputihan tersebut lama kelamaan menjadi bersisik.
Pasien belum pernah mengobati keluhan tersebut, namun pasien mengaku
menggunakan bedak herocyn dan ditaburkan ditempat yang gatal, namun keluhan
tidak membaik dan semakin bertambah banyak. Karena belum merasakan
perubahan yang berarti, pasien berobat ke rumah sakit umum daerah.
Pasien mengatakan sudah pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya di
perut, bokong dan selangkangan kurang lebih 1 tahun yang lalu. Pasien berobat ke
RSUD Kardinah Tegal, didiagnosis tinea kruris et korporis dan mendapat obat
fungasol krim dan ketokonazol 1x1. Obat yang diberikan mengurangi gatal dan
keluhan pasien. Tidak ada riwayat asma bronkial, kebiasaan bersin-bersin di pagi
hari, kencing manis, ataupun alergi terhadap obat tertentu. Tidak ada anggota
keluarga serumah pasien yang mengalami keluhan seperti pasien. Penggunaan
obat dalam waktu lama atau pemberian obat oles disangkal.
Pasien adalah seorang buruh bangunan, yang bekerja mengangkat beban
berat seperti semen dan besi. Pekerjaan pasien yang mengangkat beban berat dan
tempat kerja yang panas sehingga membuat pasien banyak mengeluarkan
3

keringat. Pasien sehari-hari memakai baju seragam kerja dengan bahan yang
kurang menyerap keringat. Pasien mempunyai kebiasaan mandi hanya tiga kali
sehari menggunakan sabun dan sumber air tanah, warna air jernih tidak berbau,
terkadang keruh dan tidak berasa. Setiap selesai mandi pasien mengganti pakaian
yang baru, namun seragam kerja pasien hanya dicuci 3x/minggu.

PEMERIKSAAN FISIK
1. STATUS GENERALIS
Keadaan Umum

: Baik, tampak sakit ringan

Kesadaran

: Compos mentis, kooperatif

Tanda Vital

Tekanan Darah: 110/80 mmHg


Nadi

: 80 x/menit, volume cukup, irama teratur, equalitas


kiri dan kanan sama

Suhu

: Afebris

Pernafasan

: 20 x/menit, irama teratur, tipe pernafasan


abdominotorakal.

Kepala

Berat Badan

: 68 kg

Tinggi

: 173 cm

Status Gizi

: 22,74 kg/m2 (gizi baik)

: Normosefali, benjolan (-), rambut hitam, lurus, tidak mudah


dicabut, distribusi merata, alopesia (-), NT (-).

Mata

: Alis simetris, tidak mudah dicabut, oedem (-) dan benjolan (-),
bulu mata tidak rontok, trikiasis (-), konjungtiva pucat -/-, sklera
ikterik -/-, pupil bulat, isokor, diameter 3 mm, refleks cahaya
langsung dan tidak langsung +/+, sekret -/-.

Hidung

: Nafas cuping hidung (-), deformitas (-), septum deviasi (-), tidak
tampak adanya kelainan kulit pada hidung, konka eutrofi, mukosa
hiperemis (-), sekret (-), benjolan (-), nyeri tekan(-).

Telinga

: Normotia , benjolan -/-, nyeri tarik -/-, nyeri tekan -/-, serumen +/
+.

Mulut

: Bibir pucat (-), sianosis(-), pecah(-), sariawan(-), mukosa gusi


hiperemis(-), gigi karies (-). Letak lidah ditengah (+), tepi lidah
hiperemis (-), lidah kotor (-), lidahgeografik (-), tonsil T1-T1,
hiperemis (-).

Leher

: Otot bantu pernafasan m. sternocleidomastoideus (-), trakea


ditengah, deviasi (-), kelenjar tiroid tidak teraba membesar,
pembesaran KGB (-), kelainan kulit (+) lihat status dermatologis.

Thorax

: Retraksi intercostal (-) dan sela iga melebar (-), terdapat kelainan
kulit (lihat status dermatologikus).

Paru

Inspeksi

Kanan
Kiri
Simetris saat statis dan Simetris

Palpasi
Perkusi
Auskultasi
Ronkhi
Wheezing

dinamis
Vokal fremitus sama
sonor pada lapang paru
suara dasar vesikuler (+)
(-)
(-)

saat statis

dan

dinamis
Vokal fremitus sama
sonor pada lapang paru
suara dasar vesikuler (+)
(-)
(-)

Jantung
Inspeksi

: tampak pulsasi iktus cordis

Palpasi

: teraba iktus kordis dengan diameter 1 cm kuat angkat (+),


thrill (-).

Perkusi

:
5

Batas kanan

: ICS IV sternalis kanan

Batas kiri

: ICS V linea midklavikularis kiri

Batas atas

: ICS II sternalis kanan

Auskultasi

: S1S2 reguler, murmur (-), gallop(-).

Abdomen
Inspeksi

: Datar, simetris, tidak terdapat kelainan kulit

Auskultasi

: Bising (+) normal

Palpasi

: Supel, nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba


membesar

Perkusi

: Timpani di ke 4 kuadran abdomen

Inguinal

: pembesaran KGB (-), massa (-)

Ekstremitas

Superior:
o Oedem (-)
o Deformitas (-)
o Kelainan sendi (-)
o Kelainan kulit (+) lihat status dermatologikus
o Kelainan kuku (-)

Inferior:
o Oedem(-)
o Deformitas (-)
o Kelainan kulit (-)
o Kelainan kuku (-)

2. STATUS DERMATOLOGIKUS
Distribusi
: regional
Regio
: lengan bawah kanan dan kiri, punggung tangan
kanan dan kiri, leher
: multiple, konfluens, bilateral, tidak teratur, dengan

Lesi

ukuran lentikular sampai plakat, batas tidak tegas.


Efloresensi
: makula hipopigmentasi, skuama

Gambar 1. Regio lengan bawah kanan

Gambar 2. Regio lengan bawah kiri

Gambar 3. Regio punggung tangan kanan dan kiri

Gambar 4. Regio leher


PEMERIKSAAN KHUSUS
Pada pemeriksaan mikologik kerokan kulit dengan KOH 10%, tidak
ditemukan gambaran Spaghetti and meatballs yaitu hifa pendek dan spora
bergerombol.

RESUME
Seorang laki-laki berusia 39 tahun, datang ke Poliklinik kulit dan kelamin
RSUD Kardinah Tegal pada tanggal 9 Mei 2015 pukul 11.00 WIB dengan keluhan
utama bercak keputihan bersisik yang terasa gatal di daerah lengan bawah kanan
dan kiri, punggung tangan kanan dan kiri, leher.
Keluhan timbul pertama kali kurang lebih 1 bulan yang lalu berupa
makula hipopigmentasi gatal pada lengan bawah kanan dan punggung tangan
kanan, terasa gatal sepanjang hari dan terutama dirasakan saat cuaca panas dan
pasien berkeringat. Makula hipopigmentasi meluas ke lengan bawah kiri,
punggung tangan kiri dan leher. Lesi menjadi disertai dengan skuama. Pasien
belum pernah mengobati keluhan tersebut, namun pasien mengaku menggunakan
bedak herocyn dan ditaburkan ditempat yang gatal, namun keluhan tidak membaik
dan semakin bertambah banyak. Pasien sudah pernah mengalami hal seperti ini
sebelumnya di perut, bokong dan selangkangan kurang lebih 1 tahun yang lalu.
Pasien berobat ke RSUD Kardinah Tegal, didiagnosis tinea kruris et korporis dan
mendapat obat fungasol krim dan ketokonazol 1x1. Obat yang diberikan
mengurangi gatal dan keluhan pasien. Pasien adalah seorang buruh bangunan.
9

Pekerjaan pasien yang mengangkat beban berat dan tempat kerja yang panas
sehingga membuat pasien banyak mengeluarkan keringat. Pasien sehari-hari
memakai baju seragam kerja dengan bahan yang kurang menyerap keringat.
Pasien mempunyai kebiasaan mandi tiga kali sehari, setiap selesai mandi pasien
mengganti pakaian yang baru, namun seragam kerja pasien hanya dicuci
3x/minggu.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan status generalis dalam batas normal.
BMI didapatkan normoweight. Pada status dermatologis, lengan bawah kanan dan
kiri, punggung tangan kanan dan kiri, dan leher didapatkan lesi multiple,
konfluens, bilateral, tidak teratur, dengan ukuran lentikular sampai plakat, batas
tidak tegas; tampak makula hipopigmentasi, skuama.
Pada pemeriksaan mikologik kerokan kulit dengan KOH 10 % didapat
hifa pendek dan spora bergerombol gambaran spaghetti and meatballs.
DIAGNOSIS BANDING

Tinea Versikolor
Pitiriasis Alba
Vitiligo

DIAGNOSIS KERJA

Tinea Versikolor

USULAN PEMERIKSAAN

Pemeriksaan menggunakan lampu Wood


Pemeriksaan SGOT / SGPT

PENATALAKSANAAN
1. Umum
10

Memberikan penjelasan pada pasien tentang peyakit yang diderita

dan pengobatannya
Menyarankan pasien agar menggunakan bahan pakaian yang

menyerap keringat
Menyarankan agar pasien selalu menyeka keringatnya dan
menjaga kebersihan dirinya seperti dengan sering mengganti

pakaiannya terutama bisa berkeringat


Bila terasa gatal, sebaiknya jangan menggaruk terlalu keras karena

dapat menyebabkan luka dan infeksi sekunder


Menyarankan agar pasien menjaga kebersihan lingkungan rumah\
Melakukan pengobatan sesuai anjuran dokter dan kontrol apabila
keluhan belum sembuh

2. Khusus
Sistemik (oral) :
o Anti jamur golongan imidazol misalnya ketokonazol 200

mg/hari selama 10 hari


Topikal :
o
Anti jamur golongan azol misalnya mikonazol krim
dioleskan 2 kali sehari sehabis mandi tiap pagi dan sore
hari selama 2 minggu.

PROGNOSIS

III.

Quo ad vitam

: ad bonam

Quo ad functionam

: ad bonam

Quo ad sanationam

: dubia ad bonam

Quo ad cosmeticum

: ad bonam

PEMBAHASAN
Diagnosis Tinea versikolor pada pasien ini ditegakkan berdasarkan

anamnesis dan pemeriksaan fisik.

11

Tinea versikolor adalah penyakit jamur superfisial yang kronik, biasanya


tidak memberikan keluhan subyektif, berupa bercak berskuama halus yang
berwarna putih sampai coklat hitam, terutama meliputi badan dan kadang-kadang
dapat menyerang ketiak, lipat paha, lengan, tungkai atas, leher, muka dan kulit
kepala yang berambut7. Merupakan penyakit universal tetapi lebih banyak
dijumpai di daerah tropis oleh karena tingginya temperatur dan kelembapan 8.
Biasanya terjadi pada dewasa muda, dengan insiden puncak pada usia 20 tahunan.
Kejadiannya menurun pada usia dekade kelima dan keenam. Faktor-faktor
predisposisi terjadinya tinea versikolor adalah temperatur tinggi / kelembaban
relatif, kulit berminyak, hiperhidrosis, faktor herediter, terapi glukokortikoid, dan
imunodefisiensi9.
Kelainan kulit pitiriasis versikolor sangat superfisial dan ditemukan
terutama di badan. Kelainan ini terlihat sebagai bercak-bercak berwarna-warni,
bentuk tidak teratur sampai teratur, batas jelas sampai difus. Bercak-bercak
tersebut berflouresensi bila dilihat dengan lampu wood. Bentuk papulo-vesikuler
dapat terlihat walaupun jarang. Kelainan biasanya asimptomatik sehingga
adakalanya penderita tidak mengetahui bahwa ia berpenyakit tersebut. Kadangkadang penderita dapat merasakan gatal ringan, yang merupakan alasan berobat10.
Pada kasus ini, pasien mengeluh adanya bercak keputihan bersisik yang
terasa gatal pada lengan bawah kanan dan kiri, punggung tangan kanan dan kiri,
dan leher.

Budimulja U. Pitiriasis Versikolor . In: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S editors. Ilmu Penyakit
Kulit Dan Kelamin. 6th Ed. Balai Penerbit FKUI Jakarta. 2011. p.100.
Janik MP, Heffernan MP. Yeast infections Tinea (pityriasis) Versicolor , In: Wolff K, Goldsmith
AL, Katz IS, Gilchrest AB, Paller SA, Leffel JD editors. Fitzpatricks Dermatology In General
Medicine. 7th Ed. New York: Mc Grew Hill Medical. 2008. p.623.
8
Hay RJ, Ashbee HR. Mycology: Pityriasis Versicolor. In: Burns T, Breathnach S, Cox N, Griffiths
C, editors. Rooks Textbook of Dermatology. 8th ed. Singapore: Wiley-Blackwell. 2010. p. 36
9
Janik MP, Heffernan MP. Yeast infections Tinea (pityriasis) Versicolor , In: Wolff K, Goldsmith
AL, Katz IS, Gilchrest AB, Paller SA, Leffel JD editors. Fitzpatricks Dermatology In General
Medicine. 7th Ed. New York: Mc Grew Hill Medical. 2008. p.623.
Gosh, Sudip K, Sunil KD, Indranil S, Jayasree NB, Arghyaprasun G, Aloke KR. Pityriasis
versicolor: A Clinicomycological and Epidemiological Study from A Tertiary Care Hospital.
Indian J Dermatol. 2008:53(4):182-5.
10
Budimulja U. Pitiriasis Versikolor . In: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S editors. Ilmu Penyakit
Kulit Dan Kelamin. 6th Ed. Balai Penerbit FKUI Jakarta. 2011. p.100.

12

Pada anamnesa didapatkan sejak 1 bulan yang lalu terdapat makula


hipopigmentasi bentuk ireguler pada lengan bawah kanan dan punggung kanan
yang dirasakan gatal dan semakin hebat apabila berkeringat. Pasien belum pernah
mengobati keluhan tersebut, namun pasien mengaku menggunakan bedak herocyn
dan ditaburkan ditempat yang gatal, namun keluhan tidak membaik dan semakin
bertambah banyak. Lesi meluas ke lengan bawah kiri, punggung tangan kiri dan
leher.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan status generalis : dalam batas normal.
Pada pemeriksaan dermatologi didapatkan distribusi regional pada ad regio :
lengan bawah kanan dan kiri, punggung tangan kanan dan kiri dan leher. Lesi :
multiple, konfluens, bilateral, tidak teratur, dengan ukuran lentikular sampai
plakat, batas tidak tegas. Eflorosensi : makula hipopigmentasi, skuama.
Pada pemeriksaan penunjang dengan kerokan kulit dengan KOH 10 %
didapat hifa pendek dan spora bergerombol gambaran spaghetti and meatballs.
Pemeriksaan fisik diatas sesuai dengan kepustakaan mengenai tinea
versikolor. Hal ini dapat didiagnosis banding dengan Pitiriasis Alba dan Vitiligo.
Menurut kepustakaan, pitiriasis alba tidak spesifik dan belum diketahui
penyebabnya. Ditandai dengan adanya bercak kemerahan dan skuama halus yang
akan menghilang serta meninggalkan area yang depigmentasi. Pitiriasis alba
sering dijumpai pada anak berumur 3-16 tahun (30-40%). Wanita dan pria sama
banyak. Lesi berbentuk bulat, oval atau plakat yang tidak teratur. Warna merah
muda atau sesuai warna kulit dengan skuama halus. Lesi dapat dijumpai pada
ekstremitas dan badan11. Dengan demikian pitiriasis alba dapat disingkirkan.
Menurut kepustakaan, vitiligo adalah hipomelanosis idiopatik didapat
ditandai dengan adanya makula putih yang dapat meluas. Dapat mengenai seluruh
bagian tubuh yang mengandung sel melanosit. Klinis vitiligo bercak
berwarnaputih (makula hipopigmentasi) dengan diameter beberapa milimeter
sampai beberapa sentimeter, bulat atau lonjong dengan batas tegas. Vitiligo dapat
11

Soepardiman L. Pitiriasis Alba. Dalam: Penyakit Kulit yang Lain. Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin. 6th ed. Jakarta: FKUI; 2011. p. 333-4.

13

menyerang semua umur dan ras, dan terbanyak sebelum umur 20 tahun. Penyakit
ini juga diturunkan secara genetik. Pada pemeriksaan histopatologi, tidak
ditemukan adanya melanosit12. Dengan demikian vitiligo dapat disingkirkan.
Penatalaksanaan umum pada pasien adalah menghilangkan faktor
predisposisi penting, misalnya mengusahakan daerah lesi selalu kering dan
memakai baju yang menyerap keringat. Terapi yang diberikan berupa anti jamur
sistemik dan topikal. Anti jamur sistemik yang diberikan yaitu anti jamur
golongan imidazol (ketokonazol 200 mg/hari) selama 10 hari. Selain itu juga
diberikan anti jamur topikal yaitu anti jamur golongan imidazol (ketokonazol
2x/hari) selama 2 minggu. Diberikan golongan imidazol untuk terapi sistemik
maupun topikal karena umumnya berkhasiat fungistatik dan pada dosis tinggi
bekerja fungisid terhadap fungi tertentu. Imidazol memiliki efektivitas klinis yang
tinggi dengan angka kesembuhan berkisar 70-100%. Ketokonazol fungistatikum
imidazol pertama yang digunakan per oral, spectrum kerja yang lebar.
Prognosis baik bila pengobatan dilakukan menyeluruh, tekun dan
konsisten. Pengobatan harus diteruskan 2 minggu setelah fluorosensi negatif
dengan pemeriksaan lampu Wood dan sediaan langsung negatif13.

12

Smoller BR, Hiatt KM. Tinea Versicolor. In: Smoller BR, Hiatt KM, editors.
Dermatopathology: The Basics. USA: Springer; 2009. p. 94-6.
Soepardiman L. Vitiligo. Dalam: Kelainan Pigmen. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. 6th ed.
Jakarta: FKUI; 2011. p. 296-8.
13
Budimulja U. Pitiriasis Versikolor . Dalam: Mikosis. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. 6th Ed.
Balai Penerbit FKUI Jakarta. 2011. p.101.

14

DAFTAR PUSTAKA

Budimulja U. Pitiriasis Versikolor . In: Mikosis. Ilmu Penyakit Kulit Dan

Kelamin. 6th Ed. Balai Penerbit FKUI Jakarta. 2011. p.100.


Gosh, Sudip K, Sunil KD, Indranil S, Jayasree NB, Arghyaprasun G,
Aloke

KR.

Pityriasis

versicolor:

Clinicomycological

and

Epidemiological Study from A Tertiary Care Hospital. Indian J Dermatol.

2008:53(4):182-5.
Hay RJ, Ashbee HR. Mycology: Pityriasis Versicolor. In: Burns T,
Breathnach S, Cox N, Griffiths C, editors. Rooks Textbook of

Dermatology. 8th ed. Singapore: Wiley-Blackwell. 2010. p. 36.


Janik MP, Heffernan MP. Yeast infections Tinea (pityriasis) Versicolor , In:
Wolff K, Goldsmith AL, Katz IS, Gilchrest AB, Paller SA, Leffel JD
editors. Fitzpatricks Dermatology In General Medicine. 7th Ed. New York:

Mc Grew Hill Medical. 2008. p.623.


Schwartz RA. Superficial Fungal Infections. Lancet. 2004;354: p. 1173-82
15

Smoller BR, Hiatt KM. Tinea Versicolor. In: Smoller BR, Hiatt KM,

editors. Dermatopathology: The Basics. USA: Springer; 2009. p. 94-6.


Soepardiman L. Pitiriasis Alba. Dalam: Penyakit Kulit yang Lain. Ilmu

Penyakit Kulit dan Kelamin. 6th ed. Jakarta: FKUI; 2011. p. 333-4.
Soepardiman L. Vitiligo. Dalam: Kelainan Pigmen. Ilmu Penyakit Kulit
dan Kelamin. 6th ed. Jakarta: FKUI; 2011. p. 296-8.

16