Anda di halaman 1dari 12

Praktikum Uji Tak Rusak Radiografi 2015

Pengujian Focal Spot

  • I. Tujuan Praktikum

 

Praktikum

pengujian

focal

spot

bertujuan

untuk

mengetahui atau menguji apakah ukuran focal spot

yang diketahui sebenarnya.

sama

dengan

ukuran

focal

spot

II.

Dasar Teori

A. Sinar-X Untuk menghasilkan sinar-X perlu tiga persyaratan dasar, yaitu sumber elektron, pasokan listrik tegangan tinggi dan target. Suatu berkas elektron menabrak target, akan berlangsung proses pembelokan (pengereman) elektron oleh medan inti yang akan menghasilkan sinar-X dengan energi kontinyu (bremstrahlung), dan tumbukan electron dengan electron kulit atom target, yang akan dipancarkan sinar- X karakteristik. Kualitas atau energi sinar-X menentukan kemampuan daya tembus pada materi yang dilaluinya yang ditentukan oleh energi elektron yang menumbuk target. Kuantitas atau intensitas sinar-X tergantung pada besarnya jumlah elektron yang menumbuk target. Kuantitas sinar-X dapat dikendalikan dengan mengatur besarnya arus tabung yang digunakan. B. Peralatan pengatur berkas (kolimator) Pengatur berkas gunanya untuk mengatur berkas radiasi yang keluar dari tabung pesawat sinar-X. Pengaturan berkas disesuaikan dengan luas lapangan penyinaran yang diinginkan. Untuk mengetahui dan memastikan bahwa berkas radiasi yang keluar dari peralatan pengatur berkas ini sesuai dengan kriteria penerimaan. a. Akurasi kolimator

Widya Priwika Gitaquin (031200277)

1

Praktikum Uji Tak Rusak Radiografi 2015

Ukuran kolimator dengan berkas radiasi harus sebangun. Untuk menandai bahwa ukuan berkas dan ukuran kolimator sebangun maka diperlukan lampu yang dapat menunjukkan besarnya ukuran kolimator. Untuk memastikan bahwa lampu kolimator yang menunjukkan luas berkas lapangan penyinaran dengan ukuran berkas radiasi sebangun maka diperlukan uji akurasi kolimator. Ketegaklurusan berkas, berkas radiasi harus tegak lurus dengan bidang film/citra. c. Iluminans (kuat cahaya) Cahaya dari lampu kolimator harus dapat terlihat jelas sehingga luas lapangan penyinaran dapat diidentifikasi pada saat akan melakukan penyinaran. Kuat cahaya dari lampu kolimator perlu diuji untuk memastikan masih dalam kriteria penerimaan d. Kebocoran radiasi Uji kebocoran radiasi dilakukan untuk memastikan bahwa kolimator tertutup sempurna dan radiasi yang bocor dari kolimator masih dalam kriteria penerimaan. Tegangan dan arus tabung maksimum dari generator berguna untuk mengatur perencanaan teknik radiografi untuk berbagai pemeriksaan dan berguna untuk mempertimbangkan proteksi radiasi yang diperlukan. Hal tersebut bergantung pada kebutuhan rumah sakit, misalnya“tegangan kerja dan arus maksimum” dapat merupakan faktor teknik maksimum yang digunakan rumah sakit dalam ruangan pemeriksaan radiografi. Nomor model tabung sinar-X dan rumah tabung yang terpasang memberikan identifikasi karakteristik termal dari tabung sinar-X. Nomor seri tabung sinar-X penting untuk identifikasi karena biasanya dilakukan penggantian tabung sinar-X yang mengalami kerusakan. Keluaran radiasi yang berbeda dari satu tabung sinar-X

Widya Priwika Gitaquin (031200277)

2

Praktikum Uji Tak Rusak Radiografi 2015

dengan tabung lain secara khusus disebabkan karena adanya perbedaan antara tabung sinar-X yang lama dan yang baru. Ukuran fokus nominal biasanya diidentifikasi oleh pabrikan, dan ukuran nominal tersebut bukan ukuran sebenarnya. Meskipun begitu sebaiknya dilakukan pencatatan untuk mengetahui ukuran fokus nominalnya. Filter tambahan yang ada dalam berkas sinar-X sebaiknya dicatat karena mempengaruhi laju paran radiasi. C. Focal Spot Focal spot didefinisikan sebagai luasan daerah target pada anoda yang dikenai tumbukan elektron. Proyeksi dari focal spot terhadap sumbu tabung sinar-X dinamakan dengan focal spot efektif atau optical focus, sedangkan focal spot yang tegak lurus terhadap permukaan target dinamakan dengan focal spot aktual. Penyebab utama terjadinya ketidaktajaman geometri dapat terjadi, karena focal spot tersusun atas banyak sumber titik (focal spot adalah sumber radiasi berdimensi). Sumber titik ini masing-masing membentuk gambar obyek pada tempat yang berbeda- beda, sehingga gambar obyek yang dibentuk setiap sumber titik tidak berada pada tempat yang sama pada film dan sebagian saling menumpuk seperti Gambar 1.

Widya Priwika Gitaquin (031200277)

3

Praktikum Uji Tak Rusak Radiografi 2015

Praktikum Uji Tak Rusak Radiografi 2015 Gambar 1. Bayangan Tepi Obyek Oleh Sumber Titik Pada Kedua

Gambar 1. Bayangan Tepi Obyek Oleh Sumber Titik Pada Kedua Ujung Focal Spot

  • D. Pinhole Dan Multihole Pinhole alat ukur dimensi focal spot berupa suatu

lembaran tipis material dengan nilai atenuasi tinggi untuksinar-gamma/sinar-X, yang mempunyai lubang kecil, yang dalam pemakaiannya

ditempatkan di antara focal spot dan film. Sedangkan multihole adalah modifikasi dari pinhole, dengan menambah beberapa lubang pada jarak tertentu disekita pinhole lubang. Kelebihan penggunaaan multihole dibandingkan dengan pinhole adalah ketepatan penempatan lokasi pengukuran, dan data yang didapatkan dapat diolah dengan metode statistik.

  • E. Error Atau Penyimpangan

Persentase penyimpangan adalah salah satu metode untuk membandingkan nilai eksperimen dengan nilai yang diterima atau nilai literatur. Definisi dari persentase penyimpangan ditunjukkan rumus:

Presentase error = dengan NL = Nilai Literature NE = Nilai Experiment[7]

Widya Priwika Gitaquin (031200277)

4

Praktikum Uji Tak Rusak Radiografi 2015

III.

Alat dan Bahan

  • - Pesawat Sinar-X

  • - Pinhole

  • - Multihole

  • - Penyangga

  • - Film radiografi

  • - Bahan proses loading film

IV.

Langkah Kerja

A. Mengatur Posisi Penembakan Sinar-X 1. Meletakkan pinhole diantara pesawat Sinar X

dan film radiografi

2. Peletakan

pinhole

dapat

diatur

dengan

penyangga dan harus simetris tepat berada

dibawah focal spot. 3. Jarak SFD yang telah dibuat tidak boleh diubah

ubah karena yang akan dilakukan variasi

adalah FOD 4. Meletakkan film secara simetris berada tepat

dibawah pinhole/multihole

  • B. Proteksi Radiasi Saat Penyinaran

Persiapan 1. Sebelum memulai kegiatan penyinaran, seluruh

pekerjaan yang tidak memerlukan penyinaran radiasi harus dlaksanakan terlebih dahulu:

 

a.

Perhitungan

waktu

penyinaran,

perhitungan

 

tegangan kerja,

 

b.

Set up /pemasangan pada perlengkapan pada

specimen

2.

Siapkan

peralatan

Proteksi

radiasi

sebelum

melakukan pekerjaan radiografi :

 

a.

Surveymeter, Periksa surveymeter yang akan digunakan: baterai, sertifikat dan kalibrasi, hidupkan dan pelajari cara pemakaian dan pembacaan skalanya

b.

Film Badge/Pocket dosimeter, harus berfungsi

 

dengan baik dan terkalibrasi.

 

c.

Tali kuning dan tanda radiasi/ Lampu alarm

Widya Priwika Gitaquin (031200277)

5

Praktikum Uji Tak Rusak Radiografi 2015

Pelaksanaan 1. Sebelum penyinaran

  • a. Gunakan peralatan monitor radiasi perorangan, baca dosimeter saku dan catat.

  • b. Sebelum memasuki ruangan / daerah kerja

pastikan pesawat dalam kondisi terkunci dan

posisi pengukur waktu (timer) pesawat pada posisi angka 0 (nol). Pastikan dengan menggunakan survey meter bahwa didalam ruangan tidak terdapat paparan radiasi

  • c. Lakukan set up pekerjaan, Letakkan

specimen

pada posisi penyinaran (SFD) yang telah ditentukan, pemasangan huruf B atau F bila diperlukan

  • d. Pasang tanda radiasi dipasang pada daerah radiasi dengan laju dosis 3μSv/jamdi luar

ruangan kerja radiasi.

  • e. Periksa sekali lagi dan pastikan tidak terdapat

seorangpun di daerah penyinaran. Atur tegangan, arus tabung dan timer sesuai dengan waktu penyinaran yang diperlukan.

  • f. Tempatkan

surveymeter

di

sebelah

panel

control, perlu diperhatikan panel control harus berada di daerah aman ( paparan radiasi < 10 μSv/jam)

  • g. Nyalakan lampu tanda radiasi (pesawat ada yang terhubung dengan lampu yang terhubung dengan control panel)

  • 2. Saat Penyinaran

    • a. Nyalakan pesawat dengan menekan tombol

“ON” pada control panel

b.

Selama

penyinaran

berlangsung, lakukan

survey dan pengawasan daerah radiasi disekeliling daerah penyinaran. Jika tanda radiasi kurang tepat, lakukan penempatan

Widya Priwika Gitaquin (031200277)

6

Praktikum Uji Tak Rusak Radiografi 2015

tanda radiasi dengan menggeser yang sesuai dengan pengukuran dari surveymeter.

  • c. Waktu penyinaran berakhir, pesawat secara otomatis akan mati, kembalikan pengatur waktu ke posisi angka 0 (nol) dan putar kunci pengaman ke posisi “LOCK”

3. Setelah Penyinaran

a.

Survey

kedalam

ruangan dengan

menggunakan surveymeter untuk memastikan

tidak terdapat radiasi

  • b. Ambil specimen dan film

  • c. Matikan lampu tanda bahaya (lampu tanda

bahaya yang terhubung dengan control panel

akan mati secara otomatis setelah timer penyinaran dicapai). Lepas tanda-tanda radiasi (rambu) serta peralatan lainnya

d.

Baca

dosimeter

saku

dan

baca

penunjukkannya.( catat dan bandingkan

dengan bacaan sebelum penyinaran)

  • e. Matikan surveymeter.

C. Proses dan Pembacaan Film Pemasangan Film (Loading Film) 1. Nyalakan lampu penerang dan bersihkan

ruangan proses film.

2.

Siapkan

Film

Radiografi

(masih dalam

kemasan), Screen Film, kaset dan plakban pada

meja loading. 3. Pastikan kaset tidak rusak dan screen dalam

4.

kondisi bersih dan baik

Atur

dan ingat susunan peralatan tersebur

(Film, Screen, kaset, plakban) sehingga mudah

diambil dalam kondisi gelap. 5. Matikan lampu penerangan dan gunakan lampu

intensitas rendah (safelight)

Widya Priwika Gitaquin (031200277)

7

Praktikum Uji Tak Rusak Radiografi 2015

  • 6. Biarkan mata menyesuaikan selama beberapa menit

  • 7. Keluarkan

film

dari

kemaan

dan

amplop

pembungkus, ambil selapis film

 
  • 8. Lepaskan

kertas

pengapit

film

pelan-pelan,

ambil filmnya

  • 9. Tempatkan film diantara screen Pb (atas dan

bawah), kemudian masukkan film yang ber- screen dalam kaset dengan mulut saling menutup.

10.

Untuk

mencegah kebocoran,lakban ujung

kasetnya.

11.

Tutup kembali amplop film dan masukkan

dalam kemasan (kardusnya)

 

12.

Nyalakan

lampu

penerang

dan

rapi dan

bersihkan meja loading dari sampah, kertas dan

sampah lainnya.

Pembongkaran Film (Unloading Film) dan proses film

  • 1. Bawa kaset film yang telah diradiografi ke ruang

proses film. Nyalakan lampu penerang ruang proses film

2.

Aduk

larutan

developer

dan

fixer

(masing

masing larutan punya pengaduk dan jangan

dicampur), kemudian ukur temperatur larutan

developer.

  • 3. Dengan suhu pengukuran, lihat dalam tabel

waktu yang diperlukan untuk pengembangan

film dalam larutan developer.

  • 4. Bersihkan tangan, Siapkan hanger kering pada

meja loading dengan mulut bagian depan

  • 5. Matikan lampu penerangan dan gunakan lampu

intensitas rendah (safelight)

  • 6. Biarkan mata

menit

menyesuaikan seama beberapa

  • 7. Buka plakban penutup kaset film, keluarkan

screen dan film dari kaset

Widya Priwika Gitaquin (031200277)

8

Praktikum Uji Tak Rusak Radiografi 2015

  • 8. Ambil film, pegang bagian tepi dan pasang pada hanger

  • 9. Masukkan

hanger dan film dalam larutan

developer untuk proses pengembangan film

dengan waktu yang telah ditentukan, sambil diagitasi (agitasi naik turun)

10.

Selesai

waktu

pengembangan,

tiriskan

sebentar kemudian masukkan dalam stopbath

untuk menghentikan prose pengembangan film,

kira-kira setengah waktu di developer. Dalam stopbath agitasi tetap dilakukan.

11.

Selesai

waktu

stopbath,

tiriskan

sebentar,

kemudian masukkan dalam fixer untuk penetapan bayangan pada film, dengan waktu

kira-kira 2 kali waktu developer, dan tetap dilakukan agitasi. Pada keadaan difixer, lampu penerangan boleh dinyalakan (bila ada yang sedang melakukan proses pengembangan, lampu jangan dinyalakan.)

12.

Selesai

waktu

fixer,

tiriskan sebentar,

kemudian masukkan dalam air untuk pencucian

film. 13. Lakukan pencucian film dengan air kran, sambil

digosok dengan jari sehingga film tidak licin

(peret) 14. Bilas dengan drying agent, bila tidak tersedia

dapat digubakan atr diberi sedikit sampo, kemudian dilakukan pengeringan.

Pembacaan Film

  • 1. Siapkan viewer dan densitometer

  • 2. Nyalakan viewer, dan atur kuat penerangannya

  • 3. Pasang film hasil radiografi yang telah kering, perhatikan bentuk bayangan radiograp

  • 4. Amati bayangan penetrameter, amati kawat terkecil pada las yang nampak dalam radiograp

Widya Priwika Gitaquin (031200277)

9

Praktikum Uji Tak Rusak Radiografi 2015

  • 5. Dengan densitometer, ukur densitas pada las

disekitar kawat terkecil yang nampak sebagai densitas penetrameter (Dp)

  • 6. Ukur

densitas bada base material (diluar las

dalam bayangan benda uji) sebagai densitas

material

  • 7. Ukur densitas pada las (kira-kira 1 cm diatas dan

dibawah sumbu) pada kondisi paling terang dan paling gelap, biasanya 3 pengukuran, sebagai densitas las yang mempunyai harga densitas minimum (Dmin) dan harga densitas maksimum (Dmaks)

  • 8. Amati cacat yang tergambar dalam radiograp, tentukan jenisnya

9.

Bila

pengamatan

sudah

selesai,

Matikan

densitometer, dan matikan viewer. 10. Rapi dan bersihkan ruang baca film tersebut.

  • V. Data Hasil Praktikum

A

B
B

Gambar 2. Film Hasil Praktikum pinhole

Besar dimensi Fs pada film adalah A = 3,13 dan B =

VI.

3,8

Pembahasan

Pengujian

dilaksanakan

Dimensi

Focal

Spot,

pengujian

ini

untuk

menentukan

dimensi

focal

spot

biasanya dilakukan dengan metode Pinhole Imaging. Dengan metode ini dapat diukur dimensi (panjang dan lebar) suatu focal spot yang setelah melalui perhitungan, nilainya dapat dibandingkan dengan nilai

Widya Priwika Gitaquin (031200277)

10

Praktikum Uji Tak Rusak Radiografi 2015

yang tercantum pada alat. Selain itu, pegujian juga berguna untuk mengetahui terjadi kerusakan atau perubahan bentuk / cacat pada focal spot.

Pengujian dimensi focal spot diawali dengan percobaan pendahuluan. Percobaan pendahuluan dilakukan dengan membuat variasi jarak antara FHD (Focal spot Hole Distance) dan FFD (Focal spot Film Distance) untuk mendapatkan jarak yang sesuai agar diperoleh hasil bayangan yang tajam. Selain dari variasi jarak FHD dan FFD, dilakukan juga radiografi dengan variasi tegangan. Hal ini dimaksudkan agar didapatkan gambar dimensi bayangan focal spot sesuai densitas yang dipersyaratkan. Dalam praktikum ini, FFD (Focal spot Film Distance) yang digunakan yakni sebesar 11,9 cm atau 119 mm sedangkan jarak FHD (Focal spot Hole Distance) adalah sebesar 307 mm. Dalam perhitungannya, dengan membagi nilai FHD (Focal spot Hole Distance) dengan nilai FFD (Focal spot Film Distance) didapatkan nilai 2,57. Telah diketahui bahwa besar p atau lubang pinhole sebesar 0,8. Sehingga untuk mengetahui besar x adalah dengan mengalikannya dan didapatkan nilai 2,01 cm. Sehingga dapat diketahui bahwa tingkat error yang terjadi hanya berada dibawah 3%.

VII.

Kesimpulan

  • 1. Luas permukaan focal spot pada film hasil radiografi didapatkan sebesar 2,01

  • 2. Tingkat kesalahan atau error berada dibawah 3%

  • 3. Besar luas permukaan sebenarnya focal spot dapat berubah dikarenakan pelelehan yang disebabkan oleh pendinginan yang tidak baik

Widya Priwika Gitaquin (031200277)

11

Praktikum Uji Tak Rusak Radiografi 2015

  • 4. Pengujian focal spot dilaksanakan untuk melihat homogenitas

  • 5. Besar intensitas film dapat dianggap sama

LAMPIRAN Gambar 3. Hasil Film Radiografi menggunakan Multihole

Praktikum Uji Tak Rusak Radiografi 2015 4. Pengujian focal spot dilaksanakan untuk melihat homogenitas 5. Besar

Gambar 4. Hasil Film Radiografi menggunakan Pinhole

Widya Priwika Gitaquin (031200277)

12