Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pelayanan kesehatan, baik di Rumah Sakit maupun di Puskesmas, akan
diapresiasi oleh masyarakat luas selaku pengguna layanan jika pelayanan kedua
institusi pelayanan kesehatan tersebut bermutu. Pelayanan kesehatan yang
bermutu pasti menggunakan pendekatan manajemen sehingga pengelolaannya
menjadi efektif, efisien, dan produktif. Untuk bisa menyediakan pelayanan
kesehatan seperti itu, pimpinan dan staf dari kedua institusi pelayanan tersebut
harus menerepkan prinsip-prinsip manajemen (Muninjaya, 2012).
Manajemen adalah ilmu terapan yang dapat dimanfaatkan di berbagai jenis
organisasi untuk membantu manajer dalam memecahkan masalah organisasi,
sehingga manajemen juga dapat digunakan dalam bidang kesehatan untuk
membantu manajer organisasi pelayanan kesehatan memecahkan masalah
kesehatan masyarakat. Menurut Notoatmodjo (2003), manajemen kesehatan
adalah suatu kegiatan atau suatu seni untuk mengatur petugas kesehatan dan nonpetugas kesehatan masyarakat melalui program kesehatan. (Herlambang
&Murwani, 2012).
Sebagian besar penempatan dokter yang baru lulus diarahkan untuk
memenuhi kebutuhan tenaga medis di puskesmas seluruh Indonesia. Dokter tidak
saja berperan sebagai medicus practicus, tetapi juga sebagai pimpinan unit kerja
pelayanan kesehatan seperti sebagai kepala puskesmas (Muninjaya, 2012). Selain
itu, Undang-undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan,
menyebutkan dalam pasal 34 ayat 1 bahwa setiap pimpinan penyelenggaraan
fasilitas

pelayanan

kesehatan

perseorangan

harus

memiliki

kompetensi

manajemen kesehatan perseorangan yang dibutuhkan (Kemenkes, 2009). Untuk


itu, dokter dituntut untuk mengembangkan managerialship dan leadership-nya
sehingga tugas pokok dan fungsi puskesmas berkembang efektif,efisien,dan
produktif. Oleh karena itu, penting bagi dokter untuk mengetahui lebih dalam

serta memiliki kemampuan mengenai manajemen kesehatan dan manajemen


puskesmas (Muninjaya, 2012).
1.2.

Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui tentang

manajemen kesehatan dan manajemen puskesmas serta peran seorang dokter


dalam manajemen kesehatan dan manajemen puskesmas.
1.3.

Manfaat
Makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada penulis dan

pembaca khususnya dokter agar dapat lebih mengetahui dan memahami mengenai
Manajemen

Kesehatan

dan

Manajemen

Puskesmas

sehingga

dapat

menerapkannya saat bertugas sebagai dokter nantinya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Manajemen Kesehatan

2.1.1. Definisi
Secara klasik, manajemen adalah ilmu atau seni tentang penggunaan
sumber daya secara efisien, efektif, dan rasional untuk mencapai tujuan organisasi
yang telah ditetapkan sebelumnya. Manajemen merupakan ilmu terapan yang
penerapannya disesuaikan dengan ruang lingkup fungsi organisasi, bentuk kerja
sama manusia di dalam organisasi, dan ruang lingkup masalah yang dihadapi. Di
bidang kesehatan, manajemen diterapkan untuk mengatur perilaku staf yang
bekerja di dalam organisasi (institusi pelayanan) kesehatan untuk menjaga dan
mengatasi gangguan kesehatan pada individu atau kelompok masyarakat secara
efektif, efisien, dan produktif (Muninjaya, 2012).
Sehat adalah suatu keadaan optimal, baik jasmani maupun rohani serta
sosial ekonomi, dan tidak hanya terbatas pada keadaan bebas dari penyakit atau
kelemahan fisik dan mental saja (WHO, 1946). Di Indonesia pengertian sehat
dituangkan dalam UU Pokok Kesehatan RI No.9 tahun 1960 (Herlambang &
Murwani, 2012).
Menurut Notoatmodjo (2003) dalam buku Manajemen Kesehatan dan
Rumah Sakit, manajemen kesehatan adalah suatu kegiatan atau suatu seni untuk
mengatur para petugas kesehatan dan nonpetugas kesehatan guna meningkatkan
kesehatan masyarakat melalui program kesehatan (Herlambang & Murwani,
2012).
Sesuai dengan tujuan sistem kesahatan, yakni peningkatan derajat
kesehatan yang setinggi-tingginya, maka manajemen kesehatan tidak dapat
disamakan dengan manajemen niaga yang lebih berorientasi pada upaya mencari
keuntungan berupa uang untuk pemilik perusahaan (profit oriented) melainkan
manajemen kesehatan berorientasi memberikan manfaat pelayanan secara optimal
pada masyarakat (benefit oriented) oleh karena organisasi kesehatan lebih
mementingkan pencapaian kesejahteraan umum (Herlambang & Murwani, 2012).

2.1.2. Fungsi
Fungsi-fungsi dalam manajemen kesehatan sama dengan fungsi-fungsi
dalam manajemen perusahaan, yaitu (Herlambang & Murwani, 2012) :
1. Fungsi Perencanaan (Planning)
Perencanaan merupakan fungsi terpenting dalam manajemen.
Perencanaan kesehatan adalah sebuah proses untuk merumuskan masalahmasalah kesehatan yang berkembang di masyarakat, menentukan
kebutuhan dan sumber daya yang tersedia, menetapkan tujuan program
yang paling pokok, dan menyusun langkah-langkah praktis untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan tersebut.
Dengan perencanaan dapat mengetahui : tujuan yang ingin dicapai;
jenis dan struktur organisasi yang dibutuhkan; jenis dan jumlah staf yang
diinginkan dan uraian tugasnya; sejauh mana efektivitas kepemimpinan
dan pengarahan yang diperlukan; bentuk dan standar pengawasan yang
akan dilakukan.
Terdapat lima langkah yang perlu dilakukan pada proses
penyusunan sebuah perencanaan dalam manajemen kesehatan, yaitu: (a)
analisa situasi; (b) mengidentifikasi masalah dan prioritasnya; (c)
menentukan tujuan program; (d) mengkaji hambatan dan kelemahan
program; (e) menyusun rencana kerja operasional.
2. Fungsi Pengorganisasian (Organizing)
Dengan adanya pengorganisasian, maka seluruh sumber daya yang
dimiliki oleh organisasi akan diatur penggunaannya secara efektif dan
efisien untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.
Dengan pengorganisasian, seorang pemimpin akan mengetahui:
pembagian tugas secara jelas, tugas pokok dan prosedur kerja staf,
hubungan

organisatoris

dalam

struktur

organisasi,

pendelegasian

wewenang, dan pemanfaatan staf dan fasilitas fisik yang dimiliki


organisasi.
Ada enam langkah penting dalam membuat pengorganisasian,
yaitu: (a) tujuan organisasi harus sudah dipahami oleh staf; (b) membagi
habis pekerjaan dalam bentuk kegiatan-kegiatan pokok untuk mencapai
tujuan; (c) menggolongkan kegiatan pokok ke dalam suatu kegiatan yang
4

praktis; (d) menetapkan kewajiban yang harus dilakukan oleh staf dan
menyediakan fasilitas pendukung yang diperlukan untuk melaksanakan
tugasnya; (e) penugasan personal yang terampil.
3. Fungsi Pelaksanaan dan Pembimbingan (Actuating)
Pada fungsi ini lebih mengarahkan dan menggerakkan semua
sumber daya untuk mencapai tujuan yang telah disepakati. Beberapa hal
yang dapat menggerakkan dan mengarahkan sumber daya manusia dalam
organisasi yaitu : peran kepemimpinan (leadership), motivasi staf, kerja
sama antar staf, dan komunikasi yang lancer antar staf.
Adapun tujuan fungsi pelaksanaan dan pembimbingan adalah: (1)
menciptakan

kerjasama

yang

lebih

efisien;

(2) mengembangkan

kemampuan dan keterampilan staf; (3) menumbuhkan rasa menyukai dan


memiliki pekerjaan; (4) mengusahakan suasana lingkungan kerja yang
meningkatkan motivasi prestasi kerja staf; (5) membuat organisasi
berkembang secara dinamis.
4. Fungsi Pengawasan (Controlling)
Melalui fungsi pengawasan, standar keberhasilan program yang
telah dibuat dalam bentuk target, prosedur kerja, dan sebagainya harus
selalu dibandingkan dengan hasil yang telah dicapai atau yang mampu
dikerjakan oleh staf.
Jenis standar pengawasan ada dua, yaitu : (1) standar norma,
standar yang dibuat berdasarkan pengalaman staf melaksanakan program
yang sejenis atau yang pernah dilaksanakan dalam situasi yang sama di
masa lalu; (2) standar kriteria, standar yang diterapkan untuk kegiatankegiatan pelayanan oleh petugas yang sudah mendapatkan pelatihan.
Pemimpin

bisa

mendapatkan

data

pada

saat

melakukan

pengawasan dengan tiga cara: pengamatan langsung, laporan lisan dari staf
atau pengaduan masyarakat, dan laporan tertulis dari staf.
Fungsi-fungsi manajemen diatas dapat dilihat pada Gambar 2.1. Meskipun
keempat fungsi manajemen tersebut terpisah satu sama lain, teteapi sebagai

sebuah proses, keempatnya merupakan suatu rangkaian kegiatan yang


berhubungan satu sama lain. Jika tujuan organisasi belum tercapai, pimpinan
organisasi harus menganalisis kelemahan pelaksanaan salah satu atau beberapa
fungsi manajemen tersebut (Muninjaya, 2012).

Organizing

Planning

Actuating

Gambar 2.1 Siklus Fungsi Manajemen


Controlling

(Sumber: Muninjaya, 2012)


2.1.3. Ruang Lingkup
Seperti halnya manajemen perusahaan, di bidang kesehatan juga dikenal
berbagai jenis manajemen sesuai dengan ruang lingkup kegiatan dan sumber daya
yang dikelolanya. Ruang lingkup manajemen kesehatan secara garis besar
mengerjakan kegiatan yang berkaitan dengan (Herlambang & Murwani, 2012).:
1.
2.
3.
4.

Manajemen sumber daya manusia (personalia)


Manajemen keuangan (mengurusi cashflow keuangan)
Manajemen logistik (mengurusi logistik-obat dan peralatan)
Manajemen pelayanan kesehatan dan sistem informasi manajemen
(melayani pelayanan kesehatan masyarakat)
Untuk masing-masing bidang tersebut dikembangkan manajemen yang

lebih spesifik sesuai dengan ruang lingkup dan tugas pokok institusi kesehatan.
Penerapan manajemen pada unit pelaksana teknis seperti puskesmas dan RS
merupakan upaya untuk memanfaatkan dan mengatur sumber daya yang dimiliki
oleh masing-masing unit pelayanan kesehatan tersebut, dan diarahkan untuk
mencapai tujuan organisasi (unit kerja dan sebagainya) secara efektif, efisien,
produktif, dan bermutu (Muninjaya, 2012).
Manajemen kesehatan harus dikembangkan di tiap-tiap organisasi
kesehatan di Indonesia, seperti Kantor Departemen Kesehatan, Dinas Kesehatan

di daerah, Rumah Sakit, dan Puskesmas, dan jajarannya. Untuk memahami


penerapan manajemen kesehatan di Rumah Sakit, Dinas Kesehatan, dan
Puskesmas perlu dilakukan kajian proses penyusunan rencana tahunan
Departemen Kesehatan dan Dinas Kesehatan di daerah. Khusus untuk tingkat
Puskesmas, penerapan manajemen dapat dipelajari melalui perencanaan yang
disusun setiap lima tahunan (Herlambang & Muwarni, 2012).
2.1.4. Subsistem Manajemen Kesehatan
Subsistem adalah bagian dari sistem yang membentuk sistem pula. Dalam
sistem kesehatan nasional, subsistem manajemen kesehatan adalah tatanan yang
menghimpun berbagai upaya administrasi kesehatan yang didukung oleh
pengelolaan data dan informasi, pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan
dan teknologi, serta pengaturan hukum kesehatan secara terpadu dan saling
mendukung, guna menjamin tercapainya derajat kesehatan yang setinggitingginya (Herlambang & Murwani, 2012).
Subsistem manajemen kesehatan terdiri dari empat unsur utama
(Herlambang & Murwani, 2012) :
1. Administrasi kesehatan, adalah kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan
pengendalian serta pengawasan dan pertanggungjawaban penyelenggara
pembangunan kesehatan.
2. Informasi kesehatan, adalah hasil pengumpulan dan pengolahan data yang
merupakan masukan bagi pengambilan keputusan di bidang kesehatan.
3. Ilmu pengetahuan dan teknologi, adalah hasil penelitian dan
pengembangan yang merupakan masukan bagi pengambilan keputusan di
bidang kesehatan.
4. Hukum kesehatan, adalah peraturan perundang-undangan kesehatan yang
dipakai sebagai acuan bagi penyelenggara pembangunan kesehatan.
2.1.5. Pembiayaan Program Kesehatan
Sesuai dengan UU No. 22 dan 25 tahun 1999 (diubah menjadi UU No.32
dan 33 tahun 2004) tentang pemerintah daerah dan perimbangan keuangan pusat
dan daerah, dana pembangunan kesehatan berasal dari tiga sumber yaitu

(Muninjaya, 2012) :
1. Pemerintah (APBN), yang disalurkan ke daerah dalam bentuk DAU (Dana
Alokasi

Umum)

dan

DAK

(Dana

Alokasi

Khusus).

Dengan

diberlakukannya otonomi daerah, porsi dana sector kesehatan yang


bersumber dari APBN menurun. Pemerintah pusat juga masih tetap
membantu pelaksanaan program kesehatan melalui bantuan dana
dekonsentrasi, khususnya untuk pemberantasan penyakit menular.
2. APBD yang bersumber dari PAD (Pendapatan Asli Daerah), baik yang
bersumber dari pajak maupun penghasilan badan usaha milik Pemda.
Mobilisasi dana kesehatan juga bisa bersumber dari masyarakat dalam
bentuk asuransi kesehatan, investasi pembangunan sarana pelayanan
kesehatan oleh pihak swasta dan biaya langsung yang dikeluarkan oleh
masyarakat untuk perawatan kesehatan. Dana pembangunan kesehatan
yang diserap dari berbagai sektor harus dibedakan dengan dana sektor
kesehatan yang diserap oleh dinas kesehatan.
3. Bantuan luar negeri, dapat dalam bentuk hibah (grant) atau pinjaman
(loan) untuk investasi atau pengembangan pelayanan kesehatan.

2.2.

Manajemen Puskesmas

2.2.1. Definisi Puskesmas


Menurut Permenkes No.75 tahun 2014 tentang pusat kesehatan
masyarakat, disebutkan bahwa Pusat Kesehatan Masyarakat yang selanjutnya
disebut Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan
upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama,
dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk mencapai
derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya
(Depkes, 2014).
2.2.2. Tugas dan Fungsi Puskesmas
8

Puskesmas mempunyai tugas melaksanakan kebijakan kesehatan untuk


mencapai tujuan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya dalam rangka
mendukung terwujudnya kecamatan sehat dan mendukung tercapainya tujuan
pembangunan kesehatan nasional yakni meningkatkan kesadaran,kemauan dan
kemampuan hidup sehat bagi setiap orang yang bertempat tinggal di wilayah kerja
puskesmas agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Dalam
melaksanakan tugas tersebut, puskesmas menyelenggarakan fungsinya sebagai
pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan, pusat pemberdayaan
masyarakat, dan pusat pelayanan kesehatan strata pertama (Kemenkes, 2004).
Puskesmas bertanggungjawab menyelenggarakan pelayanan kesehatan
tingkat pertama secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan. Pelayanan
kesehatan tingkat pertama yang menjadi tanggungjawab puskesmas meliputi
(Kemenkes, 2004):
a. Pelayanan kesehatan perorangan
Pelayanan kesehatan perorangan adalah pelayanan yang bersifat pribadi
(private goods) dengan tujuan utama menyembuhkan penyakit dan
pemulihan kesehatan perorangan, tanpa mengabaikan pemeliharaan
kesehatan dan pencegahan penyakit. Pelayanan perorangan tersebut
adalah rawat jalan dan untuk puskesmas tertentu ditambah dengan
rawat inap.
b. Pelayanan kesehatan masyarakat
Pelayanan kesehatan masyarakat adalah pelayanan yang bersifat publik
(public goods) dengan tujuan utama memelihara dan meningkatkan
kesehatan serta mencegah penyakit tanpa mengabaikan penyembuhan
penyakit dan pemulihan kesehatan. Pelayanan kesehatan masyarakat
tersebut antara lain promosi kesehatan, pemberantasan penyakit,
penyehatan

lingkungan,

perbaikan

gizi,

peningkatan

kesehatan

keluarga, keluarga berencana, kesehatan jiwa serta berbagai program


kesehatan masyarakat lainnya.

2.2.3. Susunan Organisasi Puskesmas


Puskesmas
kabupaten/kota,

merupakan
sesuai

dengan

unit

pelaksana

ketentuan

teknis

peraturan

dinas

kesehatan

perundangundangan.

Puskesmas dipimpin oleh seorang Kepala Puskesmas yang merupakan seorang


Tenaga Kesehatan dengan kriteria sebagai berikut (Depkes, 2014):
a) Tingkat pendidikan paling rendah sarjana dan memiliki kompetensi
manajemen kesehatan masyarakat;
b) masa kerja di Puskesmas minimal 2 (dua) tahun; dan
c) telah mengikuti pelatihan manajemen Puskesmas.
Kepala Puskesmas bertanggungjawab atas seluruh kegiatan di Puskesmas
dan ia dapat merencanakan dan mengusulkan kebutuhan sumber daya Puskesmas
kepada dinas kesehatan kabupaten/kota. Dalam hal di Puskesmas kawasan
terpencil dan sangat terpencil yang tidak tersedia seorang tenaga kesehatan seperti
kriteria diatas, maka Kepala Puskesmas merupakan tenaga kesehatan dengan
tingkat pendidikan paling rendah diploma tiga (Depkes,2014).
Organisasi Puskesmas paling sedikit terdiri atas (Depkes, 2014):
a) kepala Puskesmas;
b) kepala sub bagian tata usaha;
Unit Tata Usaha yang bertanggungjawab membantu Kepala Puskesmas dalam
pengelolaan:
Data dan informasi
Perencanaan dan penilaian
Keuangan
c)
d)
e)
f)

Umum dan pengawasan


penanggung jawab UKM dan Keperawatan Kesehatan Masyarakat;
penanggung jawab UKP, kefarmasian dan Laboratorium; dan
penanggungjawab jaringan pelayanan Puskesmas dan jejaring
fasilitas pelayanan kesehatan.

2.2.4. Penerapan Manajemen di Puskesmas


Untuk terselenggaranya berbagai upaya kesehatan perorangan dan upaya
kesehatan masyarakat yang sesuai dengan azas penyelenggaraan puskesmas,
perlu ditunjang oleh manajemen puskesmas yag baik. Manajemen puskesmas

10

adalah rangkaian kegiatan yang bekerja secara sistematik untuk menghasilkan


luaran puskesmas yang efektif dan efisien. Rangkaian kegiatan sistematis yang
dilaksanakan oleh puskesmas membentuk fungsi-fungsi manajemen. Ada tiga
fungsi manajemen pusksesmas yang dikenal yakni : (Kemenkes, 2004):
1. Perencanaan (P1)
Diselenggarakan melalui mekanisme perencanaan mikro (micro
planning). Merupakan perencanaan tingkat puskesmas. Pengembangan
program puskesmas selama 5 tahun disusun dalam MP (Mikro Planning)
(Muninjaya, 2004).
Perencanaan

adalah

proses

penyusunan

rencana

tahunan

puskesmas untuk mengatasi masalah kesehatan di wilayah kerja


pusksesmas. Rencana tahunan puskesmas dibedakan atas dua macam:
a) Perencanaan Upaya Kesehatan Wajib
Jenis upaya kesehatan wajib adalah sama untuk setiap puskesmas,
yakni Promosi Kesehatan, Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Ibu dan
Anak termasuk Keluarga Berencana, Perbaikan Gizi Masyarakat,
Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular serta Pengobatan.
Langkah-langkah perencanaan yang harus dilakukan puskesmas
adalah sebagai berikut:
1. Menyusun usulan kegiatan
Langkah pertama yang dilakukan oleh puskesmas adalah menyusun
usulan kegiatan dengan memperhatikan berbagai kebijakan yang
berlaku, baik nasional maupun daerah, sesuai dengan masalah sebagai
hasil dari kajian data dan informasi yang tersedia di puskesmas.
Usulan ini disusun dalam bentuk matriks (Gantt Chart) yang berisikan
rincian kegiatan, tujuan, sasaran, besaran kegiatan (volume), waktu,
lokasi serta perkiraan kebutuhan biaya untuk setiap kegiatan (Gambar
2.2).

11

Gambar 2.2 Contoh Gantt Chart Usulan Kegiatan


(Sumber: Kemenkes,2004)
Rencana ini disusun melalui pertemuan perencanaan tahunan
puskesmas yang dilaksanakan sesuai dengan siklus perencanaan
kabupaten/kota dengan mengikut sertakan BPP serta dikoordinasikan
dengan camat.
2. Mengajukan usulan kegiatan
Langkah kedua yang dilakukan puskesmas adalah mengajukan
usulan kegiatan tersebut ke dinas kesehatan kabupaten/kota untuk
persetujuan pembiayaannya. Perlu diperhatikan dalam mengajukan
usulan kegiatan harus dilengkapi dengan usulan kebutuhan rutin,
sarana

dan

prasarana,

dan

operasional

puskesmas

beserta

pembiayaannya.
3. Menyusun rencana pelaksanaan kegiatan
Langkah ketiga yang dilakukan oleh puskesmas adalah menyusun
rencana pelaksanaan kegiatan yang telah disetujui oleh Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota (Rencana Kerja Kegiatan/Plan of Action)
dalam bentuk matriks (Gantt Chart) yang dilengkapi dengan pemetaan
wilayah (mapping) (Gambar 2.3 dan Gambar 2.4).

Gambar 2.3 Contoh Gantt Chart Rencana Pelaksanaan


(Sumber: Kemenkes, 2014)
12

Gambar 2.4 Contoh Pemetaan wilayah upaya kesehatan


(mapping)
(Sumber: Kemenkes, 2014)

b) Perencanaan Upaya Kesehatan Pengembangan


Jenis upaya kesehatan pengembangan dipilih dari daftar upaya kesehatan
pokok puskesmas yang telah ada, atau upaya inovasi yang dikembangkan sendiri.
Upaya laboratorium medik, upaya laboratorium kesehatan masyarakat dan
pencatatan dan pelaporan tidak termasuk pilihan karena ketiga upaya ini
merupakan upaya penunjang yang harus dilakukan untuk kelengkapan upayaupaya puskesmas. Langkah-langkah perencanaan upaya kesehatan pengembangan
yang dilakukan oleh puskesmas mencakup hal-hal sebagai berikut:
a. Identifikasi upaya kesehatan pengembangan
Langkah pertama yang dilakukan adalah mengidentifikasi upaya kesehatan
pengembangan yang akan diselenggarakan oleh puskesmas. Identifikasi ini
dilakukan berdasarkan ada/tidaknya masalah kesehatan yang terkait dengan setiap
upaya

kesehatan

pengembangan

tersebut.

Apabila

puskesmas

memiliki

kemampuan, identifikasi masalah dilakukan bersama masyarakat melalui


pengumpulan data secara langsung di lapangan melalui Survei Mawas Diri.
13

Survei Mawas Diri merupakan kegiatan pengumpulan data untuk


mengenali keadaan dan masalah yang dihadapi, serta potensi yang dimiliki untuk
mengatasi masalah tersebut. Tahapan pelaksanaan:
1. Pengumpulan data cepat berupa data primer yakni yang dikumpulkan
langsung dari sumber data atau data yakni yang berasal dari catatan yang ada.
2. Pengolahan data
3. Penyajian data berupa data masalah dan potensi
Tetapi apabila kemampuan pengumpulan data bersama masyarakat
tersebut tidak dimiliki oleh puskesmas, identifikasi dilakukan melalui kesepakatan
kelompok (Delbecq Technique)

oleh petugas puskesmas dengan mengikut

sertakan Badan Penyantun Puskesmas.


Delbecq Technique merupakan perumusan masalah dan identifikasi
potensi melalui kesepakatan sekelompok orang yang memahami masalah tersebut.
Tahapan pelaksanaan:
1. Pembentukan tim.
2. Menyusun daftar masalah
3. Menetapkan kriteria penilaian masalah
4. Menetapkan urutan prioritas masalah berdasarkan kriteria
penilaian dilengkapi dengan uraian tentang potensi yang dimiliki
Tergantung dari kemampuan yang dimiliki, jumlah upaya kesehatan
pengembangan yang terpilih dapat lebih dari satu. Di samping itu identifikasi
upaya kesehayan pengembangan dapat pula memilih upaya yang bersifat inovatif
yang tidak tercantum dalam daftar upaya kesehatan puskesmas yang telah ada,
melainkan dikembangkan sendiri sesuai dengan masalah dan kebutuhan
masyarakat serta kemampuan puskesmas.
b. Menyusun usulan kegiatan
Langkah kedua yang dilakukan oleh puskesmas adalah menyusun usulan
kegiatan yang berisikan rincian kegiatan, tujuan sasaran, besaran kegiatan
(volume), waktu,lokasi serta perkiraan kebutuhan biaya untuk setiap kegiatan.
Rencana yang telah disusun tersebut diajukan dalam bentuk matriks (Gantt Chart).
Penyusunan rencana pada tahap awal pengembangan program dilakukan melalui
pertemuan yang dilaksanakan secara khusus bersama dengan BPP dan Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota dalam bentuk musyawarah masyarakat.
14

Musyawarah Masyarakat merupakan pertemuan masyarakat yang dihadiri


oleh para pemimpin, baik formal maupun informal dan anggota masyarakat untuk
merumuskan prioritas masalah kesehatan dan upaya penanggulangannya. Tahapan
pelaksanaan:
1. Pemaparan daftar masalah kesehatan dan potensi yang dimiliki.
2. Membahas dan melengkapi urutan prioritas masalah
3. Membahas dan melengkapi potensi penyelesaian masalah yang
4. Merumuskan cara penanggulangan masalah sesuai dengan potensi
5. Menetapkan rencana kegiatan penanggulangan masalah (dalam bentuk Gantt
Chart)
c. Mengajukan usulan kegiatan
Langkah ketiga yang dilakukan oleh puskesmas adalah mengajukan usulan
kegiatan ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota untuk pembiayaannya. Usulan
kegiatan tersebut dapat pula diajukan ke Badan Penyantun Puskesmas atau
pihak-pihak lain. Apabila dilakukan ke pihak-pihak lain, usulan kegiatan
harus dilengkapi dengan uraian tentang latar belakang, tujuan serta urgensi
perlu dilaksanakannya upaya pengembangan tersebut.
d. Menyusun rencana pelaksanaan kegiatan
Langkah keempat yang dilakukan oleh puskesmas adalah menyusun rencana
pelaksanaan yang telah disetujui Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau
penyandang dana lain (Rencana Kerja Kegiatan/Plan of Action) dalam bentuk
matriks (Gantt Chart) yang dilengkapi dengan pemetaan wilayah (mapping).
Penyusunan rencana pelaksanaan kegiatan ini dilakukan secara terpadu
dengan penyusunan rencana pelaksanaan upaya kesehatan wajib.
2. Penggerakkan Pelaksanaan (P2)
Diselenggarakan melalui mekanisme lokakarya mini (mini
workshop) (Gambar 2.5 dan Gambar 2.6). Lokakarya Mini Puskesmas
(LKMP) merupakan bentuk penjabaran MP kedalam paket-paket kegiatan
program yang dilaksanakan oleh staf, baik secara individu maupun
berkelompok. LKMP dilaksanakan setiap tahun (Muninjaya, 2004).

15

Gambar 2.5 Lokakarya Mini Bulanan


(Sumber: Kemenkes, 2004)

16

Gambar 2.6 Lokakarya Mini Tribulanan


(Sumber: Kemenkes, 2004)
3. Pengawasan, Pengendalian dan Penilaian (P3)
Diselenggarakan melalui mekanisme stratifikasi puskesmas yang
kemudian menjadi penilaian kinerja puskesmas. Sistem pencatatan dan
pelaporan terpadu puskesmas (SP2TP) adalah kompilasi pencatatan program
yang dilakukan secara terpadu setiap bulan.Penjabaran fungsi pengawasan
dan pengendalian program disebut juga dengan Local Area Monitoring
(LAM). LAM yang dijabarkan khusus untuk memantau kegiatan program
KIA disebut dengan PIAS (Pemantauan Ibu dan Anak Setempat) (Muninjaya,
2004).

17

Stratifikasi puskesmas merupakan kegiatan evaluasi program yang


dilakukan setiap tahun untuk mengetahui pelaksanaan manajemen program
puskesmas secara menyeluruh. Penilaian dilakukan oleh tim dari Dinas Kesehatan
Provinsi dan Kabupaten/Kota. Data SP2TP dimanfaatkan oleh puskesmas untuk
penilaian stratifikasi (Muninjaya, 2004).
Supervisi rutin oleh pimpinan puskesmas dan rapat-rapat rutin untuk
koordinasi dan memantau kegiatan program. Supervisi oleh pimpinan,
monitoring, dan evaluasi merupakan penjabaran fungsi manajemen (pengawasan
dan pengendalian) di puskesmas (Tabel 2.1) (Muninjaya, 2004).
Planning
Organizing

Actuating

Mikro planning, perencanaan tingkat puskesmas


Struktur organisasi, pembagian tugas, pembagian wilayah kerja,
pengembangan program puskesmas
Lokakarya mini puskesmas, kepemimpinan, motivasi kerja,
koordinasi, komunikasi melalui rapat rutin bulanan untuk

Controlling

membahas aktivitas harian dan kegiatan program


PIAS, LAM, PWS KIA, supervise, monitoring, evaluasi, audit
internal keuangan di puskesmas
Tabel 2.1 Penerapan Fungsi Manajemen di Puskesmas
(Sumber: Muninjaya, 2004)

2.2.5

Subsistem Manajemen Puskesmas


Dalam upaya menunjang pengembangan program pokok puskesmas,

puskesmas memiliki enam subsistem manajemen, yaitu (Muninjaya, 2004):


1. Subsistem pelayanan kesehatan
Berupa promosi, pencegahan, pengobatan, rehabilitasi medis dan sosial
2. Subsistem manajemen keuangan
Jenis anggaran yang digunakan terdiri dari dana rutin (gaji pegawai)

dan dana operasional/proyek untuk masing-masing program.


Sumber anggaran, sejak otonomi daerah yang ditetapkan berdasarkan
UU No. 22 dan 25 tahun 1999 sumber dana puskesmas sebagian besar
dari APBD kabupaten/kota yang disalurkan melalui dinas kesehatan
kabupaten/kota. Hanya sebagian kecil yang berasal dari APBN.

18

Puskesmas juga mendapat dana dari sumber-sumber lain yang sah dan

tidak mengikat.
Pimpinan puskesmas menunjuk bendahara puskesmas, ada yang
menjadi bendahara proyek (mencatat dan melaporkan dana operasional
kegiatan proyek) dan bendahara rutin (mengurusi gaji pegawai dan

pemasukan keuangan rutin puskesmas).


3. Subsistem manajemen logistik
Setiap program membutuhkan dukungan logistik yang jumlah dan jenisnya
berbeda-beda. Kebutuhan ini disusun dalam Lokakarya Mini Puskesmas
(LKMP). Agar praktis biasanya kebutuhan logistik puskesmas disediakan
oleh dinas kesehatan kabupaten/kota dan BKKBN (khusus untuk program
KB) dengan dana yang sudah dialokasikan setiap tahun. Pimpinan
puskesmas mempunyai wewenang dan wajib memeriksa administrasi
barang dan obat secara rutin.
4. Subsistem manajemen personalia
Untuk meningkatkan motivasi kerja staf, sistem intensif perlu
diterapkan sesuai dengan ketentuan yang disepakati bersama. Selain itu
pemberian penghargaan oleh pimpinan kepada staf yang berprestasi

akan membantu meningkatkan motivasi mereka.


Untuk manajeman personalia di puskesmas, dokter selaku manajer
puskesmas tidak diberikan wewenang untuk mengangkat staf kecuali
puskesmas menyisihkan dana sendiri untuk membayar honor staf.
Akan tetapi dokter berhak mengusulkan kebutuhan staf (jumlah dan

jenis) ke Dinkes kabupaten/kota.


Pertemuan antara pimpinan dengan staf sebaiknya diadakan secara

rutin dalam pertemuan rutin seperti rapat bulanan dan mingguan


5. Subsistem pencatatan dan pelaporan
Laporan yang dibuat oleh puskesmas antara lain:
Laporan harian (melaporkan adanya kejadian luar biasa (KLB)

penyakit tertentu
Laporan mingguan (melaporkan kegiatan penanggulangan penyakit
diare)

19

Laporan bulanan (ada 4 jenis, LB1 berisi data kesakitan, LB2 berisi
data kematian, LB3 berisi data program gizi. KIA, KB, dan P2M, LB4

untuk obat-obatan)
6. Subsistem pengembangan peran serta masyarakat (melalui PKMD)

BAB III
KESIMPULAN
3.1.

Kesimpulan

20

1. Manajemen kesehatan berorientasi memberikan manfaat pelayanan


secara optimal pada masyarakat (benefit oriented).
2. Pelayanan kesehatan yang bermutu pasti menggunakan pendekatan
manajemen sehingga pengelolaannya menjadi efektif, efisien, dan
produktif. Prinsip manajemen yang digunakan berdasarkan fungsi
planning, organizing, actuating, dan controlling.
3. Sistem manajemen puskesmas yakni perencanaan

(P1)

yang

diselenggarakan melalui mekanisme perencanaan mikro (micro


planning) yang kemudian menjadi perencanaan tingkat puskesmas,
penggerakkan

pelaksanaan

(P2)

yang

diselenggarakan

melalui

mekanisme lokakarya mini (mini workshop) serta pengawasan,


pengendalian dan penilaian (P3) yang diselenggarakan melalui
mekanisme stratifikasi puskesmas yang kemudian menjadi penilaian
kinerja puskesmas,
4. Dokter tidak saja berperan sebagai medicus practicus, tetapi juga
sebagai pimpinan unit kerja pelayanan kesehatan seperti sebagai kepala
puskesmas. Untuk itu, dokter dituntut untuk mengembangkan
managerialship dan leadership-nya sehingga tugas pokok dan fungsi
puskesmas berkembang efektif,efisien,dan produktif.

21

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2014. Peraturan Menteri Kesehatan


Republik

Indonesia

Nomor

75

Tahun

2014.

Diambil

dari:

www.depkes.go.id [Diakses tanggal 30 Juni 2015]


Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2004. Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 128/MENKES/SK/II/2004 Tentang Kebijakan
Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat.

Diambil dari: www.ippi.or.id

[Diakses tanggal 30 Juni 2015]


Muninjaya, A. 2004. Manajemen Kesehatan Edisi 2. Jakarta : EGC. Hal: 44-49,
156,158-164
Muninjaya, A. 2012. Manajemen Kesehatan Edisi 3. Jakarta : EGC. Hal: 1-2, 3238, 43, 52-55
Herlambang, S., Murwani, A. 2012. Cara Mudah Memahami Manajemen
Kesehatan dan Rumah sakit. Gosyen Publishing: Yogyakarta. Hal: 1828,36-47
Presiden Republik Indonesia. 2009. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor
36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan. Hal: 13, 65 . Diambil dari : http://ereport.alkes.kemkes.go.id/home/message/404 [Diakses tanggal 30 Juni
2015]
World Health Organization. 1948. WHO Definition of Health. Diambil dari :
http://www.who.int/about/definition/en/print.html [Diakses tanggal 30 Juni
2015]

22

LAMPIRAN

23