Anda di halaman 1dari 12

Nilai-nilai yang terkandung di dalam sila-sila pancasila khususnya sila ke-4 yang

berbunyi Kerakyatan yang di Pimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam


permusyawaratan / Perwakilan.
1. Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia
mempunyai kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama.
Didalam pelaksanaannya menjadi rumit, karena pengertian kedudukan, hak
dan kewajiban yang sama nya bisa di interpelasikan sendiri-sendiri.
2. Tidak Boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.
3. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan
bersama.
4. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.
5. Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai
hasil musyawarah.
6. Dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan
hasil keputusan musyawarah.
7. Didalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama diatas kepentingan
pribadi atau golongan.
8. Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani
yang luhur.
9. Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggung jawabkan secara moral
kepada Tuhan yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia,
nilai-nilai kebenaran, dan keadilan, mengutamakan persatuan dan kesatuan
demi kepentingan bersama.
10. Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk
melaksanakan permusyawaratan.

PENDIDIKAN PANCASILA DI PERGURUAN TINGGI


(Pendekatan Filosofis Ideologis dan Konstitusional)
I.

INTEGRITAS NILAI FILSAFAT DAN IDEOLOGI PANCASILA


Bangsa Indonesia sepanjang sejarahnya dijiwai nilai-nilai budaya dan moral
Pancasila sebagai diakui dalam amanat Bung Karno dalam Pidato di PBB September
1960: berbicara tentang nilai dasar negara Pancasila, sesungguhnya kita berbicara
tentang nilai-nilai warisan budaya dan filsafat hidup bangsa Indonesia sepanjang 2000
tahun berselang.
Berdasarkan kepercayaan dan cita-cita bangsa Indonesia, maka diakui nilai
filsafat Pancasila mengandung multi - fungsi dalam kehidupan bangsa, negara dan
budaya Indonesia.
Kedudukan dan fungsi nilai dasar Pancasila, dapat dilukiskan sebagai berikut:
7. Sistem Nasional
6. Sistem Filsafat Pancasila, filsafat dan budaya
Indonesia: asas dan moral politik NKRI.
5. Ideologi Negara, ideologi nasional.
4. Dasar Negara (Proklamasi, Pembukaan UUD
45): asas kerokhanian bangsa, jiwa UUD 45;
Nilai Dasar
sumber dari segala sumber hukum.
Filsafat Pancasila
3. Jiwa dan kepribadian bangsa; jatidiri nasional
(Volkgeist) Indonesia.
2. Pandangan hidup bangsa (Weltanschauung).
1. Warisan sosio-budaya bangsa.

Sesungguhnya nilai dasar filsafat Pancasila demikian, telah terjabar secara


filosofis-ideologis dan konstitusional di dalam UUD Proklamasi (pra-amandemen)
dan teruji dalam dinamika perjuangan bangsa dan sosial politik 1945 1998 (1945
1949; 1949 1950; 1950 1959 dan 1959 1998). Reformasi 1998 sampai sekarang,
mulai amandemen I IV: 1999 2002 cukup mengandung distorsi dan kontroversial
secara fundamental (filosofis-ideologis dan konstitusional) sehingga praktek
kepemimpinan dan pengelolaan nasional cukup memprihatinkan.
Berdasarkan analisis normatif filosofis-ideologis dan konstitusional demikian,
integritas nasional dan NKRI juga akan memprihatinkan. Karena, berbagai jabaran di
dalam amandemen UUD 45 belum sesuai dengan amanat filosofis-ideologis filsafat
Pancasila secara intrinsik. Terbukti, berbagai penyimpangan dalam tatanan dan
praktek pengelolaan negara cukup memprihatinkan, terutama dalam fenomena
praktek: demokrasi liberal dan ekonomi liberal.
Integritas Sistem Kenegaraan Pancasila UUD Proklamasi
Dalam analisis kajian normatif-filosofis-ideologis dan kritis atas UUD 45
(amandemen) dan dampaknya dalam hukum ketatanegaraan RI, dapat diuraikan
landasan pemikiran berikut:
1.
Baik menurut teori umum hukum ketatanegaraan dari Nawiasky,
maupun Hans Kelsen dan Notonagoro diakui kedudukan dan fungsi kaidah
negara yang fundamental yang bersifat tetap; sekaligus sebagai norma
tertinggi, sumber dari segala sumber hukum dalam negara Sebagai kaidah

negara yang fundamental, sekaligus sebagai asas kerokhanian negara dan


jiwa konstitusi, nilai-nilai dimaksud bersifat imperatif (mengikat, memaksa).
Artinya, semua warga negara, organisasi infrastruktur dan suprastruktur
dalam negara imperatif untuk melaksanakan dan membudayakannya.
Sebaliknya, tiada seorangpun warga negara, maupun organisasi di dalam
negara yang dapat menyimpang dan atau melanggar asas normatif ini; apalagi
merubahnya.
2.
Dengan mengakui kedudukan dan fungsi kaidah negara yang
fundamental, dan bagi negara Proklamasi 17 Agustus 1945 ialah berwujud:
Pembukaan UUD Proklamasi 1945. Siapapun dan organisasi apapun yang
tidak mengamalkan dasar negara Pancasila beserta jabarannya di dalam
UUD negara bermakna pula tidak loyal dan tidak membela dasar negara
Pancasila, maka sikap dan tindakan demikian dapat dianggap sebagai makar
(tidak menerima ideologi negara dan UUD negara). Jadi, mereka dapat
dianggap melakukan separatisme ideologi dan atau mengkhianati negara.
3.
Pokok pikiran yang keempat yang terkandung dalam "pembukaan"
ialah negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar
kemnusiaan yang adil dan beradab.
Oleh karena itu, Undang-Undang Dasar harus mengandung isi yang
mewajibkan pemerintah dan lain-lain penyelenggara negara untuk
memelihara budi pekerti kemanusiaan yang luhur dan memegang teguh
cita-cita moral rakyat yang luhur
II.

PROGRAM MENDASAR PENDIDIKAN PANCASILA DI PT


Sebagai amanat nilai dasar negara dan UUD negara, maka sistem pendidikan
nasional berkewajiban (imperatif) melaksanakan visi-misi pembudayaan nilai dasar
negara Pancasila, baik sebagai dasar negara maupun sebagai ideologi negara (ideologi
nasional). Visi-misi demikian tersurat dan tersirat dalam UUD Proklamasi seutuhnya.
Untuk pelaksanaannya secara melembaga, sebagai kurikulum dasar (core
curriculum, kurikulum inti) semua jenjang dan jenis pendidikan melaksanakan dengan
berpedoman kepada ketentuan peraturan perundangan yang berlaku. Inilah visi-misi
Pendidikan Pancasila di perguruan tinggi khususnya, dan pendidikan
kewarganegaraan (PKn) untuk semua tingkat dan jenis pendidikan umumnya.
Dengan berpedoman kepada pasal-pasal UUD Proklamasi ini, dapat dikembangkan
tujuan, isi dan program pembinaan SDM unggul-kompetitif-terpercaya sebagai
subyek dalam NKRI. Mereka wajib dikembangkan sesuai kaidah fundamental
Pancasila dan UUD Proklamasi; terutama
1. Pembudayaan dasar negara Pancasila, khususnya sila I (Pasal 29) sebagai landasan
moral watak dan kepribadian SDM Indonesia;
2. Dalam bidang HAM mulai nilai sila I II IV dan V, dan jabarannya dalam UUD
(Pasal 28, 34) perlu pembudayaan dan pengamalan yang nyata.
3. Khusus kondisi sosial ekonomi, karena cukup menyimpang dari nilai dasar
Pancasila dan UUD (terutama sila V dan Pasal 33, 34) maka realitas aktual berupa
ekonomi liberal dan penguasaan berbagai sumber daya alam yang vital dan
potensial oleh investor, maka pendidikan kita kepada generasi penerus menjadi
sekedar propaganda dan kebohongan publik (yang mungkin ditertawakan mereka).
A. Landasan Pelaksanaan Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi

Meskipun UU No. 20 tahun 2003 tidak mengandung kurikulum yang khusus


adanya program Pendidikan Pancasila, namun tetap diakui bahwa nilai
Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi negara menjadi core curriculum
(kurikulum dasar, kurikulum inti), sebagai nilai dasar (nilai fundamental)
Indonesia.
Program pendidikan Pancasila di PT bahkan menjadi prioritas mendesak,
supaya para kader ilmuan, termasuk kader kepemimpinan dalam NKRI
memiliki wawasan nasional yang memadai demi tegaknya budaya dan moral
politik nasional dari sistem kenegaraan Pancasila.
Analisis: fenomena era reformasi, hampir semua komponen bangsa terlanda
praktek budaya dan moral politik liberalisme dan neoliberalisme; bahkan juga
hanya memuja kebebasan (baca: liberalisme) atas nama: demokrasi dan HAM.
Akibatnya, kondisi nasional makin mengalami konflik horisontal dan
degradasi nasional; bahkan juga bangkitnya neo-PKI (komunis gaya
baru/KGB) dengan berbagai ormas mereka (PRD, Papernas, dan sebagainya).
1. Program perkuliahan berpedoman kepada GBPP Pendidikan Pancasila yang
ditetapkan SK Dirjen Dikti No. 43/Dikti/Kep/2006, 2 Juni 2006 tentang Ramburambu Kelompok MKPK (Mata Kuliah Pembinaan Kepribadian) di PT.
2. Pengembangan SAP yang ada dapat disesuaikan dengan kondisi bangsa negara RI
sebagai
kelanjutan
reformasi
dan
tantangan
globalisasi-liberalisasipostmodernisme dan kebangkitan neo-PKI (KGB).
.
B. Filsafat Pancasila Sebagai Sistem Ideologi Nasional
Bahwa sesungguhnya UUD Negara adalah jabaran dari filsafat negara
Pancasila sebagai ideologi nasional (Weltanschauung); asas kerokhanian negara dan
jatidiri bangsa. Karenanya menjadi asas normatif-filosofis-ideologis-konstitusional
bangsa; menjiwai dan melandasi cita budaya dan moral politik nasional, terjabar
secara konstitusional:
1. Negara berkedaulatan rakyat (= negara demokrasi: sila IV).
2. Negara kesatuan, negara bangsa (nation state, wawasan nasional dan wawasan
nusantara: sila III), ditegakkan sebagai NKRI.
3. Negara berdasarkan atas hokum:asas supremasi hukum demi keadilan dan
keadilan sosial: oleh semua untuk semua (sila I-II-IV-V); sebagai negara hukum
Pancasila.
4. Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar Kemanusiaan
yang adil dan beradab (sila I-II) sebagai asas moral kebangsaan kenegaraan RI;
ditegakkan sebagai budaya dan moral manusia warga negara dan politik
kenegaraan RI.
5.

Negara berdasarkan asas kekeluargaan (paham persatuan: negara melindungai


seluruh tumpah darah Indonesia, dan seluruh rakyat Indonesia. Negara mengatasi
paham golongan dan paham perseorangan: sila III-IV-V); ditegakkan dalam
sistem ekonomi Pancasila.

Semua asas filosofis-ideologis demikian terjabar dalam UUD Proklamasi;


karenanya kewajiban semua lembaga negara dan kepemimpinan nasional untuk
melaksanakan amanat konstitusional dimaksud; terutama NKRI dengan identitas

sebagai negara demokratis dan negara hukum menegakkan HAM dengan asas dan
praktek budaya dan moral politik yang dijiwai moral filsafat Pancasila yang
beridentitas theisme-religious. Amanat konstitusional ini secara kenegaraan terutama
menegakkan moral Ketuhanan dan kemanusiaan yang adil dan beradab; dalam NKRI
sebagai negara hukum demi supremasi hukum dan keadilan serta keadilan sosial (oleh
semua, untuk semua)
Sistem kenegaraan RI secara formal adalah kelembagaan nasional yang
bertujuan mewujudkan asas normatif filosofis-ideologis (dasar negara Pancasila)
sebagai kaidah fundamental dan asas kerokhanian negara di dalam kelembagaan
negara bangsa (nation state).
Perwujudan Sistem NKRI Berdasarkan Pancasila - UUD 45

TAP
U

MPR
D

45

P A N C A S I L A

Asas normatif fundamental ini bersumber dari sistem filsafat Pancasila yang
memancarkan identitas martabatnya sebagai sistem filsafat theisme-religious.
(Bandingkan dengan berbagai sistem filsafat yang melandasi sistem kenegaraan dari:
negara komunisme, negara liberalisme-kapitalisme; negara sosialisme, zionisme
maupun fascisme). Jadi, bangsa dan NKRI secara normatif memiliki integritas dan
kualitas keunggulan sistem kenegaraan; karenanya kita optimis dapat menjadi bangsa
dan negara jaya.
C. Sistem Kenegaraan Pancasila Tegak dalam N-Sistem Nasional
Menegakkan filsafat Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi nasional,
secara kebangsaan dan kenegaraan berwujud sistem kenegaraan Pancasila. Sebab,
setiap sistem kenegaraan dilandasi sistem filsafat dan atau sistem ideologi.
Kesadaran dan kebanggaan nasional suatu bangsa terpancar dalam asas
kebangsaan (nasionalisme); sebagai wujud kesadaran jatidiri bangsa (jatidiri nasional,
identitas nasional) yang ditegakkan dalam semua bidang kehidupan berbangsa dan
bernegara. Sistem kenegaraan demikian berwujud dikembangkannya dan
ditegakkannya berbagai sistem nasional sebagai pengamalan dan pembudayaan dasar
negara dan ideologi negara.
Pengembangan dan pembudayaan sistem nasional ini sebagai wujud kesadaran
nasional dan wawasan nasional; sekaligus sebagai fungsi dari asas imperatif
konstitusional sistem ideologi nasional. Sebaliknya, tidak dikembangkan dan
dibudayakannya N-sistem nasional adalah fenomena degradasi nasional yang
bermuara: disintegrasi nasional; dan keruntuhan sistem kenegaraannya.
Secara formal-struktural-kenegaraan
asas normatif filosofis-ideologis
Pancasila dikembangkan (dijabarkan) dalam tatanan kenegaraan sebagai terlukis
dalam skema berikut.

N-SISTEM NASIONAL
SISTEM HUKUM NASIONAL
SISTEM POLITIK

SISTEM EKONOMI

N E G A R A H U K U M
FILSAFAT HUKUM
FILSAFAT NEGARA
SOSIO-BUDAYA & FILSAFAT HIDUP
NUSANTARA (ALH-SDA) & BANGSA (SDM) INDONESIA
*) =

N = sejumlah sistem nasional, terutama:


1. Sistem filsafat Pancasila
2. Sistem ideologi Pancasila
3. Sistem Pendidikan Nasional (berdasarkan) Pancasila
4. Sistem hukum (berdasarkan) Pancasila
5. Sistem ekonomi Pancasila
6. Sistem politik Pancasila (= demokrasi Pancasila)
7. Sistem budaya Pancasila
8. Sistem Hankamnas, Hankamrata

Secara fundamental: normatif-filosofis-ideologis dan konstitusional skema di


atas melukiskan asas normatif: praktek budaya dan moral politik bangsa negara
sebagaimana tersurat dan tersirat dalam UUD Proklamasi (UUD 45). Pengamalan
amanat dimaksud terjabar dalam UUD 45, dan dikembangkan di dalam Tap MPR No.
XVII/MPR/1998 serta dilengkapi dengan Undang-Undang No. 39 tahun 1999 tentang
HAM.

Di dalam alinea 4 pembukaan UUD 1945 tertulis Kemudian dari pada itu untuk
membentuk suatu pemerintahan negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa
Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan
umum, mencerdaskan kehidupan bangsa . Kalimat ini memiliki tujuan khusus,
yaitu untuk realisasi pembangunan bangsa Indonesia ke dalam dengan membentuk
negara hukum formal dalam hubungannya melindungi segenap bangsa dan seluruh
tumpah darah Indonesia, serta membentuk negara hukum material yang hubungannya
memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa. Menyatakan
bahwa dasar filsafat negara Indonesia bersumber dari hukum filosofis (Pancasila)
yang terdapat dalam anak kalimat alinea 4 pembukaan UUD 1945, yang berbunyi
..dengan berdasar kepada Tuhan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan
beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan/ perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan bagi seluruh
rakyat Indonesia.. Pancasila mempunyai hakikat, sifat, kedudukan dan fungsi
sebagai pokok kaidah negara yang fundamental.
Dari pengertian di atas kita mengetahui bahwa Pancasila memiliki peran yang sangat
penting bagi bangsa Indonesia. Jika mengkaji lebih lanjut, Pancasila sebagai

pandangan hidup bangsa, maka jelas bahwa Pancasila terdiri atas kesatuan rangkaian
nilai-nilai luhur yang merupakan wawasan yang menyeluruh terhadap kehidupan itu
sendiri. Pandangan hidup berfungsi sebagai kerangka aturan untuk menata kehidupan
individu maupun sosial dalam masyarakat serta hubungan dengan alam sekitarnya.
Dalam pengertian tersebut, maka proses perumusan pandangan hidup masyarakat
dituangkan dan dikembangkan menjadi pandangan hidup bangsa, dituangkan dan
dilembagakan menjadi pandangan hidup negara yang disebut sebagai ideologi bangsa
dan
pandangan
hidup
negara
disebut
ideologi
Negara.
Dari penjelasan di atas kita bisa mengetahui hubungan antara pembukaan UUD 1945
dengan Pancasila. Hubungan tersebut digolongkan menjadi dua, yaitu secara formal
dan material. Secara formal; Dengan dicantumkannya Pancasila secara formal dalam
pembukaan UUD 1945, maka Pancasila memperoleh kedudukan sebagai norma dasar
hukum positif. Dengan demikian, tata kehidupan bernegara tidak hanya betopang
pada asas-asas sosial, ekonomi, politik, akan tetapi dalam perpaduannya dengan
keseluruhan asas yang melekat padanya, yaitu perpaduan asas kultural, religius dan
asas-asas
kenegaraan
yang
unsurnya
terdapat
dalam
pancasila.
Sedangkan secara material; Pancasila sebagai sumber tertib hukum di Indonesia yang
meliputi sumber nilai, sumber materi, sumber bentuk dan sifat yang merupakan pokok
kaidah negara secara fundamental.
Nilai permusyawaratan perwakilan masih jauh dari harapan, karena masih banyak
saudara kita yang menyelesaikan suatu persoalan dengan cara-cara kekerasan
(anarkis). Nilai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia juga masih belum
sepenuhnya terlaksana, karena angka kemiskinan dan pengangguran masih cukup
tinggi.
Solusi terbaik untuk mengatasi persoalan-persoalan kebangsaan di atas adalah dengan
kembali ke nilai-nilai Pancasila, membumikan Pancasila dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Membumikan Pancasila berarti menjadikan
nilai-nilai Pancasila menjadi nilai-nilai yang hidup dan diimplementasikan dalam
kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu Pancasila yang sesungguhnya berada dalam
tataran filsafat harus diturunkan ke dalam hal-hal yang sifatnya implementatif.
Ketauladanan dari para pemimpin, baik pemimpin formal (pejabat negara) maupun
informal (tokoh masyarakat). Dengan ketauladanan yang dijiwai oleh nilai-nilai
Pancasila, diharapkan masyarakat luas akan mengikutinya. Hal ini disebabkan
masyarakat kita masih kental dengan budaya paternalistik yang cenderung mengikuti
perilaku pemimpinnya. Sudah semestinya kita bangga kepada bangsa dan negara
Indonesia yang berideologikan Pancasila. Mari kita kembali ke jati diri bangsa
(Pancasila) dalam menyelesaikan setiap masalah kebangsaan yang kita hadapi.
Kita sebagi Bangsa Indonesia adalah Pejuang Pancasila, Pejuang yang harus
mempertahankan PANCASILA dan memperjuangkan UUD'45 yang asli, jangan
hanya memperjuangkan Pancasila sebagai ideologi saja tapi juga UUD45 sebagai
landasan Negara. Karena UUD'45, Ideologi Pancasila dan NKRI adalah satu kesatuan
yang tidak dapatdipisahkan.

Seperti sekarang ini dengan adanya pemilihan langsung maka sila ke 4 dari Pancasila
telah hilang dan efeknya adalah seperti yang telah kita lihat contohnya PILKADA,
kita melihat dengan adanya pilkada berapa banyak dana yg dikeluarkan oleh negara
kita pertahun, Satu daerah melaksanakan pilkada saja bisa memerlukan dana hingga
300 miliar bayangkan berapa biaya yang dikeluarkan Pemerintah untuk dapat
melaksanakan
pilkada
diseluruh
Bangsa
kita
ini.
Belum lagi dana yg dikeluarkan oleh calonnya, berapa besar dana yang dikeluarkan.
Apa benar dia mengeluarkan dana itu untuk membangun daerah untuk rakyat? Atau
hanya untuk dapat mendapatkan dana yang berkali- kali lipat dari dana yang telah dia
keluarkan?
Pancasila dasar negara RI, adalah ideologi nasional, terjabar dalam UUD Proklamasi.
Kelembagaan dan kepemimpinan negara wajib menegakkan dan membudayakannya;
demikian pula bagi generasi penerus. Karenanya, negara (i.c. Pemerintah) wajib
mendidikkannya bagi generasi penerus. Hanya dengan demikian visi-misi nasional
akan terlaksana, dan integritas bangsa dalam NKRI berdasarkan Pancasila UUD
Proklamasi tegak lestari.

DAFTAR PUSTAKA
(Sumber : http://hendra-aquan.blog.friendster.com)
http://dutamasyarakat.com

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan k Hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat
dan karuniaNya yang telah dilimpahkan kepada penulis selama menempuh pendidikan
dan dalam menyusun Makalah yang berjudul Nilai-nilai pancasila yang terkandung
dalam sila ke-4 dalam perguruan tinggi.
Makalah ini disusun untuk menyelesaikan tugas Pancasila
Dalam penyusunan Makalah ini, penulis telah mendapatkan banyak bantuan,
dorongan motivasi dan masukan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada
kesempatan ini perkenankanlah penulis menyampaikan ucapan terima kasih sebesarbesarnya kepada:
1. Bapak Drs.Asmarullah selaku dosen pengampu dalam penyusunan Makalah ini
2. Orang tua dan keluarga tercinta yang telah banyak memotivasi dalam penyelasaian
Makalah ini.
3. Rekan-rekan seangkatan dan seperjuangan serta semua pihak yang telah
memberikan masukan dan dukungan dalam penyelesaian Makalah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan Makalah ini masih jauh dari
sempurna, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun
demi kesempurnaan Makalah ini. Semoga Makalah ini dapat bermanfaat bagi
mahasiswa/I Jurusan Kesehatan Lingkungan Pontianak dalam meningkatkan
pengetahuan tentang pancasila di masyarakat.

Pontianak,

November 2009

Penulis

MAKALAH PENDIDIKAN PANCASILA

DISUSUN OLEH:
ZAINAB
EVI NURSANTI
URAI M AKIL WASA
URAY IRWAN
WIDI DWI M
RAFIZAH
KIKI AMELIA
WENDI YANDIKA
ARI SULISTIO
HARIS SUHUD

POLTEKKES DEPKES PONTIANAK


JURUSAN KESEHATAN
LINGKUNGAN D3
2009/2010