Anda di halaman 1dari 25

PRESENTASI KASUS

I.

Tanggal masuk RSUD

: 9 Juni 2015

Jam

: 11.20 WIB

Identifikasi
1) Nama

: Ny. D.M.

2) Umur

: 21 tahun

3) Agama

: Islam

4) Pendidikan

: SMA

5) Pekerjaan

: IRT
6) Alamat

Kp. Kesambi 2 RT/RW

014/004 Kec. Cinangka - Banten


7) Nama suami

: Tn. S.P.

8) Pekerjaan suami : Karyawan Swasta


9) Pendidikan suami :
10)
II.

SMK

No. CM

Anamnesis
2.1

: 551131

Keluhan
Utama

Keluar air-air dari jalan

lahir sejak pukul 03.00 WIB namun tidak


disertai dengan keluarnya lendir darah.
Tambahan :

Mulas yang dirasakan

sejak 2 hari yang lalu


2.2

Riwayat Haid

Menarche

2.3

Jumlah
Lama
HPHT
TP

: 14 tahun
: 2-3 x ganti pembalut/hari
: 7 hari
: 6 Oktober 2014
: 13 Juli 2015

Riwayat Perkawinan
1

Menikah satu kali, sejak 1,5 tahun yang lalu.


2.4

Riwayat Kehamilan Sekarang


Pasien G2P0A1 dengan usia kehamilan 35 minggu datang

ke IGD RSUD Kota Cilegon dengan keluhan keluar air-air dari


jalan lahir sejak pukul 03.00 WIB. Pasien mengeluh keluar airair dirasakan cukup banyak dan sekarang masih merembes.
Keluar air-air yang dirasakan pasien berwarna putih jernih dan
tidak berbau. Keluar lendir dan darah disangkal. Keluhan ini
juga disertai dengan adanya mules sejak 2 hari yang lalu.
Keluhan BAB/BAK tidak dirasakan oleh pasien. Selama
hamil pasien rutin memeriksakan kehamilannya ke Bidan
setiap bulan. Sampai saat ini, pasien masih merasakan
pergerakan janin. Pernah mengonsumsi obat atau jamu saat
kehamilan disangkal. Pasien pernah melakukan urut perut 2
kali pada masa kehamilannya. Dan terakhir dilakukan pada
usia kehamilan 8 bulan.
2.5

Riwayat Kehamilan dan Persalinan Terdahulu

Ini adalah kehamilan kedua. Pada kehamilan pertama, pasien


mengalami keguguran.
2.6

Riwayat Penyakit Terdahulu

Pasien tidak pernah dirawat dan tidak ada riwayat operasi.


2.7

Riwayat Penyakit Keluarga

Pasien mengaku dalam keluarga tidak ada yang memiliki


riwayat penyakit asma, kencing manis, penyakit jantung,
ginjal, dan pengobatan TB paru.
2.8

Riwayat Kontrasepsi

Pasien mengaku tidak pernah menggunakan KB.

III.

Pemeriksaan Fisik, 9 Juni 2015


1. Status Present
Keadaan umum :

Baik

Kesadaran

: Compos mentis

Tek. Darah

: 90/70 mmHg

Nadi

: 82x/menit

Pernafasan

: 20x/menit

Suhu

: 36,50C

BB

: -

TB

: -

2. Status Generalis
Kepala
Mata
Leher
Jantung

:
:
:
:

Normocephal
Konjungtiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-)
KGB tidak teraba
BJ I/II regular normal, murmur dan gallop (-)

Paru

: Suara napas vesikuler, rhonki (-/-), wheezing (-/-)

Abdomen
Ekstermitas

: membuncit, BU meningkat
: Akral hangat, edema superior dan inferior (-/-),

varises (-/-)
3. Status Obstetri
Inspeksi

Wajah

tampak

cloasma

gravidarum .
-

Payudara tampak menegang, kelenjar


montgomerry tampak lebih jelas, dan

papilla tampak menonjol.


Abdomen tampak membuncit simetris
dan terlihat striae gravidarum berupa
linea nigra.

Palpasi

: - TFU
-

: 27 cm

Letak punggung
: Punggung kanan
Presentasi
: Kepala
1/5
bagian
terbawah
janin
telah
memasuki PAP

Auskultasi

: 152 x/menit

TBBA

: 2325 gram

His

: 2 x tiap 10 menit lama 10-15 detik

Pemeriksaan Dalam
Vulva/Vagina

: Tidak ada kelainan

Portio

: Tebal, lunak

Pembukaan

:2

Ketuban
Letak rendah

: (-)
: kepala (Hodge 1)

4. Pemeriksaan Laboratorium

IV.

Hemoglobin

: 10,7 g/dl

Leukosit

: 17.410/uL

Hematokrit

: 35,0 %

Trombosit

: 332.000/uL

Gula Darah Sewaktu

: 88 mg/dl

Golongan darah

:-

HBsAg

: negatif

Anti-HIV

: non reaktif

Diagnosis
G2P0A1 hamil 35 minggu inpartu kala I fase laten dengan KPD
8 jam + PPI

V.

Penatalaksanaan

VI.

IVFD RL 20 tpm
Injeksi Cefriaxone 1 gr (skin test + )
Protab PPI
- Injeksi Dexametason 2 x 5 mg
- Nifedipine 10 mg
Observasi tanda-tanda vital

Prognosis
Bonam

VII.

FOLLOW UP

9 Juni 2015
Jam 11.20

Inform consent
Melakukan pemeriksaan
Memasang infus RL 20 tpm
Mengambil sampel darah

Injeksi cefrtiaxon 1 gr (skin test)


Protab PPI
Injeksi dexametason 2 x 5 mg
Nifedipine 10 mg
- Konsul dr. Indiarto Sp.OG
-

Jam 11.30

Os tiba di VK
Os mengatakan seperti ingin BAB
VT : portio tidak teraba, lengkap, ketuban (-),
Jam 14.00

penurunan kepala Hodge 2.


DJJ : 138 x/menit
HIS : 2-3x 10 40
Os dipimpin meneran pada saat his.
Bayi lahir spontan.
JK : Perempuan AS : 8/9 BB : 2900 gr PB : 48 cm
Anus (+), cacat (-), injeksi NeoK (+), DTM (+)

Jam 14.31

Injeksi Oksitosin (+)


Dilakukan

PTT,

plasenta

lahir

spontan

kesan

lengkap.
Perineum ruptur grade II, Masase (+), TFU 2 jari
dibawah pusat
PPV (+), Kontraksi Uterus (+)
Hecting (+)
Perdarahan kala III & IV 1500cc.
TD Post Partum 110/70 mmHg
S/ : Os mengatakan masih terasa lelah setelah
melahirkan
Jam 21.45

O/ : KU : Baik, Kesadaran : Compos mentis


6

TD : 120/80 mmHg, N: 82 x/menit,


RR : 20 x/menit, S: 36,7C
IVFD (+), TFU 2 jbp, PPV 30cc, Kontraksi
uterus (+)
A/ : P1A1 PP Spontan
P/ : Observasi K/U, TTV, PPV, TFU, Kontraksi uterus
Th/ oral (-), puasa (+)
10 Juni 2015
Jam 05.00

S/ : Os mengatakan perutnya masih terasa nyeri


O/ : KU : Baik, Kesadaran : Compos mentis
TD : 110/90 mmHg, N: 80x/menit,
RR : 24 x/menit, S: 36,2C
PPV (+), ASI (+), TFU 2 jbp
A/ : P1A1 PP Spontan
P/ : Observasi K/U, TTV, PPV
Menganjurkan ibu menjaga personal hygine

Jam 09.00

S/ : Os mengatakan masih keluar darah nifas


O/ : KU : Baik, Kesadaran : Compos mentis
TD : 120/80 mmHg, N: 80 x/menit,
RR : 20 x/menit, S: 36C
TFU 2 jbp, Kontraksi uterus (+), PPV (+), IVFD
(+)
A/ : P1A1 PP Spontan
P/ : Observasi K/U, TTV, PPV, TFU, Kontraksi uterus
Menganjurkan ibu untuk menyusui
Amoxillin 3 x 500 mg
Asam Mefenamat 3 x 500 mg
Pasien boleh pulang

DISKUSI
I.

IDENTIFIKASI
Pasien G2P0A1 dengan usia kehamilan 35 minggu datang ke
IGD RSUD Kota Cilegon dengan keluhan keluar air-air dari
jalan lahir sejak pukul 03.00 WIB. Pasien mengeluh keluar airair dirasakan cukup banyak dan sekarang masih merembes.
Keluar air-air yang dirasakan pasien berwarna putih jernih dan
tidak berbau. Keluar lendir dan darah disangkal. Keluhan ini
juga disertai dengan adanya mules sejak 2 hari yang lalu.
Keluhan BAB/BAK tidak dirasakan oleh pasien. Selama hamil
pasien rutin memeriksakan kehamilannya ke Bidan setiap
bulan. Sampai saat ini, pasien masih merasakan pergerakan
janin. Pernah mengonsumsi obat atau jamu saat kehamilan
disangkal. Pasien pernah melakukan urut perut 2 kali pada
masa

kehamilannya.

Dan

terakhir

dilakukan

pada

usia

kehamilan 8 bulan.
II.

PERMASALAHAN
1. Apakah penegakan diagnosis pada kasus ini sudah tepat?
2. Faktor predisposisi apa yang didapatkan pada pasien ini ?
3. Apakah penatalaksanaan pasien ini sudah adekuat?

III.

ANALISA KASUS
1. Apakah penegakan diagnosis pada kasus ini sudah tepat?
Ya
Dari Anamnesa, didapatkan sudah tepat:
Wanita usia 21 tahun, kehamilan ini adalah kehamilan
kedua, pernah mengalami keguguran sebelumnya.
Usia kehamilan trimester ketiga.
Keluar air-air dari jalan lahir disertai dengan mulas
namun tidak disertai dengan keluarnya lendir darah.
Pernah melakukan urut perut pada masa kehamilan.

Dari pemeriksaan fisik, didapatkan sudah tepat:


Inspeksi

- Wajah : tampak cloasma

gravidarum .
-

Payudara
kelenjar

tampak

menegang,

montgomerry

tampak

lebih jelas, dan papilla tampak


-

menonjol.
Abdomen
simetris

tampak
dan

membuncit

terlihat

striae

gravidarum berupa linea nigra.


Palpasi

: - TFU

: 27 cm

Letak punggung

Punggung

kanan
Presentasi
: Kepala
1/5 bagian terbawah janin telah
memasuki PAP

Auskultasi

: 152 x/menit

TBBA

: 2325 gram

His

: 2 x tiap 10 menit lama 10-15 detik

Pemeriksaan Dalam

Vulva/Vagina
Portio
Pembukaan
Ketuban
Letak rendah

: Tidak ada kelainan


: Tebal, lunak
:2
: (-)
: kepala (Hodge 1)

Dari Pemeriksaan penunjang untuk mendiagnosis belum


tepat, karena :

Pemeriksaan penunjang Laboratorium hanya melakukan


pemeriksaan darah rutin. Urinalisa tidak dilakukan untuk
menyingkirkan diagnosis banding.

Diagnosis kerja : G2P0A1 hamil 35 minggu inpartu kala I fase


laten dengan KPD 8 jam + PPI
9

2. Faktor predisposisi apa yang didapatkan pada pasien ini ?


Faktor predisposisi yang mungkin pada pasien ini adalah
inkompetensia

serviks

dan

riwayat

urut

perut

saat

kehamilan.
3. Apakah penatalaksanaan pasien ini sudah adekuat?
Ya
Dengan adanya diagnosis tersebut, maka tatalaksana yang
direncanakan adalah

rehidrasi dengan pemberian infus

Ringer Laktat, injeksi ceftriaxon 1 gr IV, pemberian protab


PPI, dan observasi tanda-tanda vital.
Pemberian

infus

RL

berfungsi

untuk

menjaga

keseimbangan dan distribusi normal cairan tubuh dan


mempertahankan

keseimbangan

asam-basa.

Diberikan

pula injeksi ceftriaxon sebagai antibiotik untuk mencegah


infeksi setelah 8 jam ketuban pecah. Dikarenakan usia
kehamilan pasien ini 35 minggu, diberikan protab PPI yang
terdiri atas injeksi dexametason dan nifedipine oral.
Pemakaian kortikosteroid menjadikan pematangan paruparu

dipercepat

bilamana

ada

kemungkinan

terjadi

persalinan preterm. Sedangkan nifedipine untuk mencegah


atau menghentikan kontraksi uterus.

10

TINJAUAN PUSTAKA
KETUBAN PECAH DINI
1.Definisi
Ketuban Pecah Dini (amniorrhexis premature rupture of the
membrane PROM) adalah pecahnya selaput korioamniotik sebelum
terjadi proses persalinan. Secara klinis diagnosa KPD ditegakkan
bila seorang ibu hamil mengalami pecah selaput ketuban dan dalam
waktu satu jam kemudian tidak terdapat tanda awal persalinan,
dengan demikian untuk kepentingan klinis waktu 1 jam tersebut
merupakan waktu yang disediakan untuk melakukan pengamatan
adanya tanda-tanda awal persalinan. Bila terjadi pada kehamilan <
37 minggu maka peristiwa tersebut disebut KPD Preterm (PPROM =
preterm

premature

rupture

of

the

membrane

preterm

amniorrhexis.
Menurut Sarwono (2014) ketuban pecah dini adalah pecahnya
ketuban sebelum in partu, yaitu bila pembukaan primi kurang dari 3
cm dan pada multipara kurang dari 5 cm. Ketuban pecah dini
disebut juga sebagai pecahnya selaput ketuban sebelum terjadi
proses persalinan yang dapat terjadi pada usia kehamilan cukup
waktu atau kurang waktu (Cunningham, Mc. Donald, gant, 2002).
Hal ini dapat terjadi pada akhir kehamilan maupun jauh sebelum
11

waktunya melahirkan. KPD preterm adalah KPD sebelum usia


kehamilan 37 minggu. KPD yang memanjang adalah KPD yang
terjadi lebih dari 12 jam sebelum waktunya melahirkan. Waktu sejak
ketuban pecah sampai terjadi kontraksi rahim disebut ketuban
pecah dini (periode laten). Kondisi ini merupakan penyebab
persalinan premature dengan segala komplikasinya.
2. Etiologi
Penyebab terjadinya Ketuban Pecah Dini yaitu :
1 Inkompetensia serviks
Inkompetensia serviks adalah istilah untuk menyebut kelainan
pada otot-otot leher atau leher rahim (serviks) yang terlalu
lunak dan lemah, sehingga sedikit membuka ditengah-tengah
kehamilan karena tidak mampu menahan desakan janin yang
semakin besar.3 Berkurangnya kekuatan dari leher rahim atau panggul ibu
sehingga menyebabkan selaput ketuban mudah robek. Kanalis servikalis yang
selalu terbuka karena kelainan pada serviks (akibat persalinan atau curetage)
bisa menjadi penyebab terjadinya KPD.
2. Peninggian tekanan intra uterin
Tekanan intra uterin yang meninggi atau meningkat secara
berlebihan dapat menyebabkan terjadinya ketuban pecah
dini. Misalnya :
a. Trauma

hubungan

seksual,

pemeriksaan

dalam,

amniosintesis
b. Gemelli
Kehamilan kembar adalah suatu kehamilan dua janin atau
lebih. Pada kehamilan gemelli terjadi distensi uterus yang
berlebihan, sehingga menimbulkan adanya ketegangan rahim
secara berlebihan. Hal ini terjadikarena jumlahnya berlebih, isi
rahim yang lebih besar dan kantung (selaput ketuban )
relative kecil sedangkan dibagian bawah tidak ada yang
menahan sehingga mengakibatkan selaput ketuban tipis dan
mudah pecah.4
3. Makrosomia
12

Makrosomia adalah berat badan neonatus >4000 gram


kehamilan dengan makrosomia menimbulkan distensi uterus
yang meningkat atau over distensi dan menyebabkan tekanan
pada intra uterin bertambah sehingga menekan selaput
ketuban, manyebabkan selaput ketuban menjadi teregang,
tipis,

dan

kekuatan

membrane

menjadi

berkurang,

menimbulkan selaput ketuban mudah pecah.4


4. Hidramnion
Hidramnion atau polihidramnion adalah jumlah cairan amnion
>2000 mL. uterus dapat mengandung cairan dalam jumlah
yang sangat banyak. Hidramnion kronis adalah peningaktan
jumlah

cairan

amnion

terjadi

secara

berangsur-angsur.

Hidramnion akut, volume tersebut meningkat tiba-tiba dan


uterus akan mengalami distensi nyata dalam waktu beberapa
hari saja.3
5. Kelainan letak
Kelainan letak misalnya lintang, sehingga tidak ada bagian
terendah yang menutupi pintu atas panggul (PAP) yang dapat
menghalangi tekanan terhadap membran bagian bawah.3
6. Infeksi
Infeksi yang terjadi secara langsung pada selaput ketuban
maupun ascenden dari vagina atau infeksi pada cairan
ketuban

bisa

menyebabkan

terjadinya

KPD.

Penelitian

menunjukkan infeksi sebagai penyebab utama ketuban pecah


dini.Membrana

khorioamniotik

terdiri

dari

jaringan

viskoelastik. Apabila jaringan ini dipacu oleh persalinan atau


infeksi maka jaringan akan menipis dan sangat rentan untuk
pecah disebabkan adanya aktivitas enzim kolagenolitik.Infeksi
merupakan faktor yang cukup berperan pada persalinan
preterm denganketuban pecah dini. Grup B streptococcus
mikroorganisme yang sering menyebabkan amnionitis.5

13

7. Multipara, grandemultipara, pada kehamilan yang terlalu


sering akan mempengaruhi proses embriogenesis sehingga
selaput ketuban yang terbentuk akan lebih tipis dan yang
akan menyebabkan selaput ketuban pecah sebelum tanda
tanda inpartu.
8. Usia ibu yang lebih tua
Karakteristik pada ibu berdasarkan usia sangat berpengaruh
terhadap

kesiapan

ibu

selama

kehamilan

maupun

menghadapi persalinan. Usia untuk reproduksi optimal bagi


seorang ibu adalah antara umur 20-35 tahun. Di bawah atau
di atas usia tersebut akan meningkatkan resiko kehamilan dan
persalinan.6

Usia

mempengaruhi

seseorang

sistem

sedemikian

reproduksi,

besarnya

karena

akan

organ-organ

reproduksinya sudah mulai berkurang kemampuannya dan


keelastisannya dalam menerima kehamilan.
9. Riwayat KPD sebelumnya
Pengalaman yang pernah dialami oleh ibu bersalin dengan
kejadian

KPD

dapat

berpengaruh

besar

pada

ibu

jika

menghadapi kondisi kehamilan. Riwayat KPD sebelumnya


beresiko 2-4 kali mengalami ketuban pecah dini kembali.
Patogenesis terjadinya KPD secara singkat ialah akibat
penurunan kandungan kolagen dalam membran sehingga
memicu terjadinya ketuban pecah dini dan ketuban pecah
preterm. Wanita yang pernah mengalami KPD pada kehamilan
atau menjelang persalinan maka pada kehamilan berikutnya
akan lebih beresiko dari pada wanita yang tidak pernah
mengalami KPD sebelumnya karena komposisi membran yang
menjadi

rapuh

dan

kandungan

kolagen

yang

semakin

menurun pada kehamilan berikutnya.


10.

Merokok selama kehamilan

14

Kebiasaan merokok atau lingkungan dengan rokok yang


intensitas tinggi dapat berpengaruh pada kondisi ibu hamil.
Rokok

mengandung

lebih

dari

2.500

zat

kimia

yang

teridentifikasi termasuk karbonmonoksida, amonia, aseton,


sianida hidrogen, dan lain-lain. Merokok pada masa kehamilan
dapat menyebabkan gangguan-gangguan seperti kehamilan
ektopik, ketuban pecah dini, dan resiko lahir mati yang lebih
tinggi.

3. Patofisiologi
Mekanisme terjadinya KPD yaitu hilangnya elastisitas selaput
ketuban ini sangat erat kaitannya dengan jaringan kolagen, yang
dapat terjadi karena penipisan oleh infeksi atau rendahnya kadar
kalogen. Kolagen pada selaput ketuban terdapat pada amnion di
daerah lapisan kompakta, fibroblast serta pada chorion di daerah
lapisan retikuler dan trofoblas. Sintesis maupun degradasi jaringan
kolagen dikontrol oleh sistem aktivitas interleukin (IL-I) dan
prostaglandin jika ada infeksi dan inflamasi terjadi peningkatan
aktivitas IL-I dan prostaglandin menghasilkan kolagenase jaringan
sehingga terjadi depolimerasi kolagen pada selaput chorion dan
amnion yang menyebabkan selaput ketuban tipis, lemah dan
mudah pecah.7

15

4. Manifestasi klinik
Manifestasi klinik KPD menurut Mansjoer (2002) antara lain :
1. Keluar air ketuban berwarna putih keruh, jernih, kuning,
hijau atau kecoklatan, sedikit-sedikit atau sekaligus banyak.
2. Dapat disertai demam bila sudah ada infeksi
3. Janin mudah diraba
4. Pada pemeriksaan dalam selaput ketuban tidak ada, air
ketuban sudah kering
5. Inspekulo : tampak air ketuban mengalir atau selaput
ketuban tidak ada dan air ketuban sudah kering.

16

5. Diagnosis
Diagnosis ketuban pecah dini dapat ditegakkan dengan
keterangan terjadinya pengeluaran cairan secara mendadak dengan
disertai bau yang khas dari vagina sebelum adanya tanda-tanda
persalinan.7 Teknik untuk menegakkan diagnosa KPD dengan hasil
yang

baik

diantaranya

dapat

ditegakan

dari

anamnesis,

pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium.


1. Anamnesis
Dari anamnesis dapat menegakkan 90% dari diagnosis.
Kadang kala cairan seperti urin dan vaginal discharge bisa
dianggap

cairan

amnion.

Penderita

merasa

basah

dari

vaginanya atau mengeluarkan cairan banyak dari jalan lahir.


2. Inspeksi
Pengamatan biasa akan tampak keluarnya cairan dari vagina,
bila ketuban baru pecah, dan jumlah airnya masih banyak,
pemeriksaan ini akan makin jelas.
3. Pemeriksaan Inspekulo
Merupakan langkah pertama untuk mendiagnosis KPD karena
pemeriksaan

dalam

seperti

vaginal

toucher

dapat

meningkatkan resiko infeksi, cairan yang keluar dari vagina


perlu diperiksa : warna, bau, dan PH nya, yang dinilai adalah

Keadaan umum dari serviks, juga dinilai dilatasi dan


perdarahan dari serviks. Dilihat juga prolapsus tali pusat
atau ekstremitas janin. Bau dari amnion yang khas juga
harus diperhatikan.

Pooling

pada

cairan

amnion

dari

forniks

posterior

mendukung diangnosis KPD. Melakukan perasat valsava


atau menyuruh pasien untuk batuk untuk memudahkan
melihat pooling

17

Cairan amnion di konfirmasikan dengan menggunakan


nitrazine test. Mengambil cairan dari fornik posterior
kemudian cairan ditempelkan pada kertas lakmus dan
akan terjadi perubahan warna bila menjadi biru (basa)
adalah air ketuban, bila menjadi merah (asam) adaIah
urine. Kertas lakmus akan berubah menjadi biru jika PH 6
6,5. Sekret vagina ibu memiliki PH 4 5, dengan kerta
nitrazin ini tidak terjadi perubahan warna. Kertas nitrazin
ini dapat memberikan positif palsu jika tersamarkan
dengan darah, semen atau vaginisis trichomiasis.

Mikroskopis
Oborization,
menggunakan

(tes

pakis).

yaitu

Tes

dengan

pipet

diambil

cairan dan dibuat preparat apus,


Ialu

dikeringkan

di

udara

sehingga akan terjadi kristalisasi,


kemudian dilihat di bawah mikroskop bila tampak seperti
gambaran daun pakis adalah cairan ketuban.
4. Dilakukan juga kultur dari swab untuk chlamydia, gonnorhea,
dan stretococcus group B
Pemeriksaan Lab
1. Pemeriksaan alpha fetoprotein (AFP), konsentrasinya tinggi
didalam cairan amnion tetapi tidak dicairan semen dan urin
2. Hitung darah lengkap dan urine dengan kultur dan tes sensitivitas bakteri
3. Tes pakis
4. Tes lakmus

Pemeriksaan USG
18

Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat jumlah cairan


ketuban dalam kavum uteri. Pada kasus KPD terlihat jumlah cairan
ketuban

sedikit

Oligohidramnion

(Oligohidramnion
ditambah

dengan

atau
hasil

anhidramnion).
anamnesis

dapat

membantu diagnosis tetapi bukan untuk menegakkan diagnosis


rupturnya membran fetal. Selain itu dinilai amniotic fluid index (AFI),
presentasi janin, berat janin, dan usia janin.
6. Penatalaksanaan
Masih banyak perbedaan pendapat dalam penatalaksanaan
KPD. cara penatalaksanaan yang terpilih untuk KPD haruslah
merupakan salah satu yang mempunyai resiko paling kecil terhadap
ibu dan janin. Penatalaksanaan KPD dapat dilakukan dengan dua
cara (Manuaba, 2008) yaitu:
a. Penatalaksanaan Konservatif (menunggu)
Penatalaksanaan ini dilakukan setelah 24 jam ketuban pecah
dengan cara: Rawat di rumah sakit, apabila tidak terdapat tandatanda komplikasi seperti suhu lebih dari 38 0C, leukosit lebih dari
15.000/mm, air ketuban berbau, kental dan hijau maka pada usia
kehamilan >28 dan < 37 minggu diberikan obat-obatan berupa:
1) Tokolitik
Berikan tokolitik, salbutamol 10 mg dan 11 cairan IV. Mulai
infus dengan I0 tetes/menit. Cairan yang dipakai adalah
cairan isotonik (RL atau garam fisiologis) karena dalam RL
terkandung Na, K dan Cl ketiga elektrolit ini berfungsi untuk
menjaga keseimbangan dan distribusi normal cairan tubuh,
mempertahankan

keseimbangan

asam-basa,

dan

mempertahankan keseimbangan normal osmotik. Pemberian


tokolitik bertujuan untuk memperpanjang usia kehamilan
dalam

waktu

yang

singkat

agar

dapat

memberikan

kortikosteroid, bila tidak ada tanda-tanda gawat janin atau


komplikasi yang lain.
2) Kortikosteroid (pematangan paru)
19

Berikan kortikosteroid, betametason 12 mg IM dalam dua


dosis setiap 12 jam, deksametason 6 mg IM dalam 4 dosis
setiap

jam.

pematangan

Pemakaian

paru-paru

kortikosteroid

dipercepat

menjadikan

bilamana

ada

kemungkinan terjadi persalinan preterm. Sesuai dengan


laporan kesepakatan institusi kesehatan nasional dewasa ini,
umumnya

penelitian

yang

melibatkan

pemakaian

betametason dan deksametason memperIihatkan penurunan


insiden

yang

pernapasan,

amat

jelas

perdarahan

dari

gangguan

intraventrikuler

kesukaran

dan

kematian

neonatus bilamana telah diberikan kortikosteroid sebelum


persalinan terjadi, terutama pada kehamilan antara 26-34
minggu.
3) Vitamin C dosis tinggi
Pemberian

vitamin

ini

bertujuan

untuk

mekanisme

imunitas, menjaga keseimbangan substansi jaringan ikat,


menjaga

keseimbangan

epitel

pembuluh

darah

dan

keseimbangan zat perekat antar sel. Dosis yang dapat


diberikan

adalah

1-2

tablet/hari,

tiap

tablet

hisap

mengandung 500 mg vitamin C.


4) Antibiotik
Dapat diberikan Ampisilin 4 x 500 mg selama 7 hari
ditambah eritromisin 250 mg peroral 3 kali sehari selama 7
hari.
b. Penatalaksanaan aktif
Kehamilan > 37 minggu, induksi dengan oksitoksin. Bila gagal seksio sesarea.
Bila tanda-tanda infeksi berikan antibiotik dosis tinggi dan terminasi persalinan.
Bila skor pelvik < 5, lakukan pematangan pelviks, kemudian induksi. Jika tidak
berhasil lakukan seksio sesarea. Bila skor pelviks > 5 lakukan induksi persalinan.2

20

Menurut POGI tahun 2006 penatalaksanaan dibagi menjadi 3 masa


kehamilan,yaitu:
21

1. Ketuban pecah dini pada kehamilan > 35 minggu

Prinsipnya lahirkan janin

Beri antibiotika profilaksis

2. Ketuban pecah dini pada kehamilan 32 35 minggu

Terapi antibiotik

Pematangan paru beta/dexa metasone 12 mg IV

Tokolisis: mimetic, Ca channel blocker

Jika terdapat kompresi tali pusat atau plasenta akibat air ketuban sangat
sedikit amnio infusi

Ekspektatif bila paru telah matang

3. Ketuban pecah dini pada kehamilan < 32 minggu

Terapi antibiotik

Induksi pematangan paru beta/dexa metasone 12 mg IV bila kehamilan > 28


minggu

Tokolisis: mimetic, Ca channel blocker

Jika terdapat kompresi tali pusat atau plasenta akibat air ketuban sangat
sedikit amnio infusi

Sedapat mungkin dipertahankan sampai 33 35 minggu, jika tidak ada


infeksi.

7. Komplikasi
Persalinan Prematur
Setelah ketuban pecah biasanya segera disusul oleh persalinan. Periode laten
tergantung umur kehamilan. Pada kehamilan aterm 90% terjadi dalam 24 jam setelah
ketuban pecah. Pada kehamilan antara 28-34 minggu persalinan dalam 24 jam.Pada
kehamilan kurang dari 26 minggu persalinan terjadi dalam 1 minggu.9
Infeksi
Resiko infeksi ibu dan anak meningkat pada Ketuban Pecah Dini.Pada ibu
terjadi

korioamnionitis.Pada

bayi

dapat

terjadi

septicemia,

pneumonia,

omfalitis.Umumnya terjadi korioamnionitis sebelum janin terinfeksi.Pada Ketuban


Pecah Dini prematur, infeksi lebih sering daripada aterm. Secara umum insiden
22

infeksi sekunder pada Ketuban Pecah Dini meningkat sebanding dengan lamanya
periode laten.9
Komplikasi Ibu:
- Endometritis
- Penurunan aktifitas miometrium (distonia, atonia)
- Sepsis (daerah uterus dan intramnion memiliki vaskularisasi sangat
banyak)
- Syok septik sampai kematian ibu.
Komplikasi Janin
- Asfiksia janin
- Sepsis perinatal sampai kematian janin.

Gambar. Infeksi intrauterin progresif


pasca ketuban pecah dini pada kehamilan prematur
Hipoksia dan Asfiksia
Dengan pecahnya ketuban terjadi oligohidramnion yang menekan tali pusat
hingga terjadi asfiksia atau hipoksia. Terdapat hubungan antara terjadinya gawat janin
dan oligohidramnion, semakin sedikit air ketuban, janin semakin gawat.9
Sindrom Deformitas Janin
Ketuban Pecah Dini yang terjadi terlalu dini menyebabkan pertumbuhan janin
terhambat, kelainan disebabkan oleh kompresi muka dan anggota badan janin serta
hipoplasi pulmonary.9

23

Gambar. Deformitas Janin


8. Prognosis
Prognosis tergantung pada usia kandungan, keadaan ibu dan bayi serta adanya
infeksi atau tidak. Pada usia kehamilan lebih muda, midtrimester (13-26 minggu)
memiliki prognosis yang buruk. Kelangsungan hidup bervariasi dengan usia
kehamilan saat diagnosis (dari 12% ketika terdiagnosa pada 16-19 minggu, sebanyak
60% bila didiagnosis pada 25-26 minggu). Pada kehamilan dengan infeksi prognosis
memburuk, sehingga bila bayi selamat dan dilahirkan memerlukan penanganan yang
intensif. Apabila KPD terjadi setelah usia masuk ke dalam aterm maka prognosis
lebih baik terutama bila tidak terdapatnya infeksi, sehingga terkadang pada aterm
sering digunakan induksi untuk membantu persalinan.9,10
Daftar Pustaka
1. Prawirohardjo, Sarwono. 2014. Ilmu Kebidanan Sarwono
Prawirohardjo.

Jakarta:

PT.

Bina

Pustaka

Sarwono

Prawirohardjo.
2. Cunningham Gary F, Leveno J Kenneth , Bloom L Steven ,
Hauth C John , III Gilstrap Larry , Wenstrom D Katharine .
Williams Obstetrics Edisi 22.2005 .
3. Manuaba, I.B.G. 2009 . Buku Ajar Patologi Obstetri. Jakarta:
EGC.
4. Saifuddin,

Abdul

Bari.

2006.

Buku

Panduan

Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.

Praktis
Jakarta:

Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.


5. Manuaba I.B.G, Chandranita Manuaba I.A, Fajar Manuaba
I.B.G.(eds) Pengantar Kuliah Obstertri. Bab 6: Komplikasi
Umum Pada Kehamilan. Ketuban Pecah Dini. Cetakan
Pertama. Jakarta. Penerbit EGC. 2007. Pp 456-60.
6. Depkes RI. 2007. Kejadian Ketuban Pecah Dini di Indonesia.
Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
7. Varney, Hellen,dkk. 2008. Buku Ajar Asuha Kebidanan,
Volume 2. Jakarta: EGC.

24

8. Mansjoer, Arif. 2008. Kapita Selekta Kedokteran edisi ketiga


jilid I. Jakarta : Media Aesculapius.
9. Saifuddin, Abdul B 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan
Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
10. Cunningham FG, et all. Bagian IV Persalinan dan Pelahiran Normal dalam
Obstetri William; Alih bahasa, Andry Hartono, Y.Joko Suyono, Brahmn
U.Pendit; editor bahasa Indonesia, Profitasari, et all. Ed.21 Vol.1. Jakarta:
EGC, 2000. h. 282

25