Anda di halaman 1dari 27

I.

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan zaman yang pesat menuntut perusahaan yang ada saat ini
harus memiliki keunggulan dalam menjalankan proses bisnisnya agar tetap
bertahan dalam dunia bisnis, oleh karena itu saat ini banyak perusahaan yang mulai
memanfaatkan sistem dan teknologi informasi sebagai komponen utama dalam
mencapai keunggulan dalam berkompetisi dalam bisnis.
Kebutuhan efisiensi waktu dan biaya menyebabkan setiap pelaku usaha
merasa perlu menerapkan teknologi informasi dalam lingkungan kerja. Sistem
informasi manajemen menitikberatkan pada informasi untuk suatu keputusan
terstruktur atau informasi yang dapat diantisipasi. Hal tersebut mungkin tampak
sederhana, tetapi sebenarnya menyediakan informasi untuk membantu manajermanajer dalam membuat dan memutuskan keputusan-keputusan terkait pekerjaan
yang sangat sulit dan kompleks. Sistem informasi manajemen memainkan peranan
penting dalam penyusunan rencana strategis, pembuatan keputusan, dan
pengontrolan kegiatan-kegiatan untuk dapat mengukur tingkat keberhasilannya.
Sistem merupakan sekumpulan hal yang atau kegiatan atau elemen atau
subsistem yang saling bekerja sama atau yang dihubungkan dengan cara-cara
tertentu sehingga membentuk satu kesatuan untuk melaksanakan suatu fungsi guna
mencapai suatu tujuan (Sutanta 2003). Sistem informasi (SI), teknologi informasi
dapat membantu segala jenis bisnis untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas
proses bisnis, pengambilan keputusan manajerial, dan kerja sama kelompok kerja,
hingga dapat memperkuat posisi kompetitif perusahaan dalam pasar yang cepat
sekali berubah (OBrien dan Marakas, 2011).
Perencanaan strategi sistem dan teknologi informasi adalah gabungan dari
aktivitas pengembangan sistem dan teknologi informasi serta perencanaan strategi
bisnis sehingga menghasilkan perpaduan yang sangat menguntungkan untuk
meningkatkan proses bisnis dan kegiatan secara keseluruhan dari perusahaan
tersebut. Dengan penerapan sistem dan teknologi informasi yang baik, maka akan
menghasilkan informasi yang tepat dan cepat, sehingga akan membantu para

manajer dalam menentukan strategi-strategi bisnis yang tepat dan cepat untuk
mencapai visi dan misi perusahaan dengan cara menyediakan informasi-informasi
yang dibutuhkan sebagai bahan pertimbangan bagi para pembuat keputusan.
PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. berdiri pada tanggal 16 Januari
1985. Merupakan salah satu perusahaan penghasil semen terbesar di Indonesia,
dengan penerapan Sistem Infomasi Manajemen (SIM), Perusahaan dapat
mengintegrasikan dan mengotomatisasi banyak proses bisnis internal perusahaan,
terutama dalam manufaktur, logistik, distribusi, akuntansi, keuangan, dan fungsi
sumber daya manusia dari bisnis.
1.2.

Tujuan Makalah
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui implementasi

Sistem Informasi Manajemen (SIM) dalam perusahan PT Indocement Tunggal


Prakarsa Tbk. Serta permasalahan yang terdapat didalamnya.

II. DESKRIPSI PERUSAHAAN


2.1 Sejarah Perusahaan
PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. berdiri pada tanggal 16 Januari 1985.
Pabrik-pabrik yang saat ini dimiliki oleh Perseroan berasal dari PT Distinct
Indonesia Cement Enterprise (DICE), yang dalam tahun 1973 mulai membangun
tanur putar pertama dengan kapasitas terpasang sebesar 500.000 ton semen abuabu. Pembangunan tanur yang pertama ini selesai pada tahun 1975 dan diresmikan
pada tanggal 4 Agustus 1975. Tanggal ini kemudian ditetapkan sebagai hari jadi
Perseroan. Tanur pertama ini juga menjadi pabrik semen pertama yang dimiliki
Perseroan. Produksi komersialnya juga dimulai pada tahun yang sama.
a. Pada tanggal 4 Agustus 1976, pabrik kedua dari DICE dengan kapasitas
produksi sebesar 500.000 ton semen per tahun diresmikan. Pabrik ini kemudian
menjadi pabrik kedua dari Perseroan.
b. Tanggal 26 Desember 1978, PT Perkasa Indonesia Cement Enterprise (PICE)
meresmikan pabrik semen pertamanya yang memiliki kapasitas produksi
1.000.000 ton semen per tahun. Pabrik ini kemudian menjadi pabrik semen
ketiga dari Perseroan.
c. Kemudian tanggal 17 November 1980, PICE meresmikan pabrik semen kedua
dengan kapasitas produksi 1.000.000 ton semen per tahun. Pabrik ini menjadi
pabrik semen keempat dari Perseroan.
d. Tanggal 11 Maret 1981, PT Perkasa Indah Indonesia Cement Putih Enterprise
(PIICPE) meresmikan pabrik semennya. Pabrik semen ini memproduksi
150.000 ton semen putih White Cement) dan 50.000 ton semen sumur minyak
(Oil Well Cement) per tahun. Produksi semen putih dimulai pada tahun 1982,
sedangkan semen sumur minyak baru diproduksi pada tahun 1983. Pabrik
semen ini kemudian menjadi pabrik semen kelima dari Perseroan.
e. Pada tanggal 5 September 1983, PT Perkasa Agung Utama Indonesia Cement
Enterprise (PAUICE) meresmikan pabrik semennya yang memiliki kapasitas
produksi sebesar 1.500.000 ton semen per tahun. Pabrik ini kemudian menjadi
pabrik keenam dari Perseroan.

f. Tanggal 16 Desember 1984, PT Perkasa Inti Abadi Indonesia Cement


Enterprise (PIAICE) meresmikan pabrik semen pertamanya yang memiliki
kapasitas produksi sebesar 1.500.000 ton semen per tahun. Pabrik semen ini
kemudian menjadi pabrik ketujuh dari Perseroan.
g. Peresmian pabrik kedelapan Perseroan dilakukan pada tanggal 26 Juli 1985,
dengan kapasitas produksi 1.500.000 ton semen per tahun. Pabrik ini didirikan
oleh PT Perkasa Abadi Mulia Indonesia Cement Enterprise (PAMICE).
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pada mulanya kedelapan pabrik
yang dimiliki Perseroan tersebut dikelola dan dioperasikan oleh 6 buah
perusahaan, yang kemudian pada tahun 1985 ke 6 perusahaan tersebut
bergabung menjadi PT Indocement Tunggal Prakarsa. Kedelapan pabrik
tersebut di atas berada di satu lokasi di Citeureup, Bogor, Jawa Barat.
h. Selanjutnya, pabrik kesembilan - terletak di Palimanan, Cirebon, Jawa Barat berasal dari PT Tridaya Manunggal Perkasa Cement (TMPC) yang diambil alih
oleh Perseroan pada tahun 1991. Pabrik tersebut memiliki kapasitas terpasang
tahunan sebesar 1.200.000 ton.
i.

Sedangkan pada tahun 1996, Perseroan menyelesaikan pembangunan pabrik ke


10 dengan lokasi dan kapasitas yang sama dengan pabrik ke 9.

j.

Pabrik kesebelas yang terletak di Citeureup, Bogor, Jawa Barat diresmikan


pada tanggal 1 Maret 1999 dengan kapasitas terpasang sebesar 2.400.000 ton
klinker per tahun.
Sebagai hasil merjer antara Perseroan dengan PT Indocement Investama dan

PT Indo Kodeco Cement (IKC) pada 29 Desember 2000, maka Perseroan menjadi
pemilik pabrik semen di Tarjun, Kota Baru, Kalimantan Selatan (sebelumnya
dimiliki oleh IKC). Pabrik tersebut menjadi pabrik Perseroan keduabelas.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sampai saat ini, Perseroan
memiliki 12 pabrik. Pabrik ke-1 sampai dengan pabrik ke-8 dan pabrik ke-11
berada di Citeureup - Bogor, pabrik ke-9 dan pabrik ke-10 berada di Cirebon,
sedangkan pabrik ke 12 berada di Tarjun, Kota Baru.Status Perseroan sejak tanggal
5 Desember 1989 adalah perusahaan publik (Go Public) , di mana Perseroan
mencatatkan sebagian sahamnya di Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan Bursa Efek

Surabaya (BES). Dengan status sebagai perusahaan public, maka nama Perseroan
ditambah dengan Tbk. - yang berarti: Terbuka - menjadi PT Indocement
Tunggal Prakarsa Tbk. Selanjutnya, pada tanggal 26 September 1994 Perseroan
mencatatkan seluruh sahamnya di BEJ dan BES.
Pada 18 April 2001, Kimmeridge Enterprise Pte. Ltd. (anak perusahaan
HeidelbergCement Group/Kimmeridge) telah membeli seluruh saham Perseroan
milik Badan Penyehatan Perbankan Nasional dan PT Holdiko Perkasa. Dengan
demikian, pada tanggal tersebut Kimmeridge telah resmi menjadi pemegang saham
Perseroan.
Pada 24 April 2001, Kimmeridge melaksanakan HMETD atas sahamsahamnya serta saham-saham PT Mekar Perkasa dan PT Kaolin Indah Utama.
Berkaitan dengan hal tersebut, maka Kimmeridge menjadi pemegang 45,48%
saham Perseroan. Heidelberg Cement Group adalah produsen semen kelas dunia
yang berpusat di Jerman dan beroperasi di 50 negara, menjadi pemegang saham
pengendali Perseroan. Dengan masuknya Perseroan dalam Heidelberg Cement
Group (melalui Kimmeridge), Perseroan memperoleh manfaat keahlian teknis dan
keuangan bertaraf international, serta dukungan jaringan global di bidang
pemasaran.
Pada tanggal 18 Desember 2002, Perseroan menjadi pemegang saham
pengendali di PT Pionir Beton Industri. Pada tahun ini pula Perseroan
menyelesaikan proyek presipitator elektrostatis di pabrik Citeureup dan Cirebon.

Tahun

Plant / Lokasi

Produk

Kapasitas

1975

Plant 1 / Citeureup, Jawa Barat

OPC, PCC

Produksi1
640

1976

Plant 2 / Citeureup, Jawa Barat

OPC, PCC

534

1979

Plant 3 / Citeureup, Jawa Barat

OPC, PCC

1024

1980

Plant 4 / Citeureup, Jawa Barat

OPC, PCC

1024

1980

Plant 5 / Citeureup, Jawa Barat

OWC/WC

214

1983

Plant 6 / Citeureup, Jawa Barat

OPC, PCC

1472

1984

Plant 7 / Citeureup, Jawa Barat

OPC, PCC

1760

1984

Plant 8 / Citeureup, Jawa Barat

OPC, PCC

1520

19912

Plant 9 / Cirebon, Jawa Barat

OPC, PCC

1216

1996

Plant 10 / Cirebon, Jawa Barat

OPC, PCC

1216

1999

Plant 11 / Citeureup, Jawa Barat

OPC, PCC

2400

20003

Plant 12 /Tarjun, Kalimantan Selatan

OPC, PCC

2400

Kapasitas Total
Tabel 3 .1 Kapasitas Produksi (sumber : Intranet)
Keterangan :
1

dalam ribuan ton klinker tiap tahun

dengan akusisi

dengan merger bersama PT Indo Kodeco Cement pada 29 Desember 2000

OPC

: Ordinary Portland Cement

PCC

: Portland Composite Cement

OWC : Oil Well Cement


WC

: White Cement

2.2

Struktur organisasi perusahaan

15420

BOARD OF DIRECTORS

PT INDOCEMENT TUNGGAL PRAKARSA Tbk.

ORGANIZATION STRUCTURE

CORPORATE
HUMAN
RESOURCE
STRATEGY

HUMAN
RESOURCE
DIRECTOR
NON
EXECUTIVE
DIRECTOR

PRESIDENT DIRECTOR

BOARD OF
COMMISSIONERS

PUBLIC AND
GENERAL
AFFAIRS
DIVISION
PPC/
ADVISORS

UTILITY DIV
GENERAL
ENGINEERING &
CONSTRUCTION
DIVISION

PLANT 12
OP. SUPPLY DIV

DEPUTY
TECHNICAL
DIRECTOR

Gambar 3.1. Struktur organisasi perusahaan

HR / GA
PLANT
ACCOUNTING

PPC/

TECHNICAL
DIRECTOR

ADVISORS Plant 11
Ruang Lingkup Pekerjaan Electric Maintenance

IVE
OR

2.3.

THE SAREHOLDERS GENERAL


MEETING

CORPORATE
HUMAN
RESOURCE
DEVELOPOMENT

PAPER BAG DIV

GM OPERATION
TARJUN
PLANT 9/10
OP. SUPPLY DIV
PPC/
ADVISORS
GM OPERATION
CIREBON

COMM. DEV
HR / GA
PLANT
ACCOUNTING

COMMERCIA EX
L
DI
DIRECTOR

GM OPERATION
CITEUREUP

DEPUTY GM
OPERATION

PPC/
ADVISORS
TECH SERV DIV
READY MIX DIV
LOGISTIC
DIVISION

NON
EXECUTIVE
DIRECTOR

SALES &
MARKETING DIV

QAR DIV
SPPLY DIV
MINING DIV

HR / GA
Electrical Department Plant 11 mempunyai tugas
MARKETpokok dan tanggung jawab
DEVELOPMENT

COMM DEV

DIVISION
terhadap pemeliharaan peralatan listrik dan instrument
yang ada di plant 11.
PLANT

INTERNAL AUDIT

FINANCE
DIRECTOR

ACCOUNTING
DIVISION
Seperti diketahui bahwa peralatan listrik dan motor-motor
adalah merupakan
CORPORATE

SECRETAIAT DIV
penunjang utama untuk penggerak mesin dalam
proses produksi semen. Oleh
MANAGEMENT
INFORMATION

PLANT 1,2,5

karena itu Electrical Department senantiasa menjaga


peralatan
SYSTEMkehandalan
DIV.
PLANTlistrik
3,4
ACCOUNTING &

7,8
CONTROLLING
dan kontinuitas operasi dalam rangka menunjang
kelancaran operasi PLANT
Plant
11
DIVISION
PLANT 6,11

CORPORATE
LEGAL

DEPUTY
dengan memperhatikan beberapa aspek biaya, keselamatan
dan lingkungan. Untuk
FINANCIAL
DIRECTOR

CORPORATE
menunjang kelancaran proses produksi dan memudahkan
dalam pembagian
FINANCE
&
pekerjaan dan pengontrolan, maka dibuat suatuTAXATION
struktur
organisasi Electrical
TREASURY
DIVISION

Department Plant 11 seperti terlihat pada gambar 3.2.

Dalam menjalankan tugas di Electrical Maintenance Plant 11 terdiri dari


kelompok kerja (work group) yaitu :
A. Group Shift Maintenance
B. Group Non Shift Maintenance
C. Group Planning & Evaluation
A. Group Shift Maintenance
Adapun bidang pekerjaan yang menjadi tanggung jawab group shift adalah :
1.

Menangani trouble shooting

2.

Melakukan inspeksi berdasarkan jadwal yang ditentukan

3.

Menangani areal kerja dari Raw Meal, Kiln, Finish Mill, Packing
House dan Coal Mill

4.

Berdasarkan permintaan section lain

5.

Melanjutkan pekerjaan trouble shooting yang belum selesai oleh


shift terdahulu.

B. Group Non Shift Maintenance


Adapun bidang pekerjaan yang menjadi tanggung jawab meliputi :
1. Pemeliharaan dasar: kebersihan dan pelumasan equipment, pelaksanaan
work order IMS
2. Inspeksi berdasarkan work order IMS
3. Perbaikan kerusakan: Service, Modifikasi, Repair dan pemasangan

4. Memenuhi/melayani permintaan berdasarkan SR dan ISR


5. Perbaikan pada waktu Kiln Shutdown
C. Group Planning & Evaluation
Adapun bidang pekerjaan yang menjadi tanggung jawab meliputi :
1.

Merencanakan dan melakukan evaluasi hasil kerja

2.

Merencanakan jadwal pemeliharaan

3.

Merencanakan suku cadang

4.

Pengawasan terhadap peralatan kerja

5.

Analisa data

6.

Memasukan data (data entry) dari work order IMS

7.

Administrasi perkantoran

Gambar 3.2 Struktur Organisasi Electric Department P 6/11

2.4 Proses Produksi Semen


Proses produksi semen dapat diperlihatkan melalui alur proses pada gambar
di bawah ini (Gb. 3.3)

Gambar 3.3 Alur Produksi Semen


(sumber : intranet)

Bahan baku untuk pembuatan semen terdiri dari batu kapur (80% ), tanah liat
(10%), pasir-silika (9%) dan pasir besi (1%). Berikut akan digambarkan dengan
ringkas 7 tahap pembuatan semen :
2.4.1

Penambangan dan Penghancuran


Batu kapur, yang merupakan bahan baku utama, ditambang di quarry yang

berjarak 6 km dari pabrik. Setelah dikeruk oleh diesel shovel dan dimuat ke dump
truck, kemudian dibawa ke mesin penghancur batu yang sanggup menghancurkan
batu sebanyak 2.500 ton per jam. Batu kapur yang telah dihancurkan kemudian
dikirim dengan ban berjalan ke tempat penampungan yang berjarak sekitar 4 km.
Begitu juga proses yang sama untuk tanah liat, pasir dan pasir besi.

2.4.2

Pengeringan
Semua bahan yang sudah dihancurkan dikeringkan di dalam pengering

yang berputar untuk mencegah pemborosan panas. Kadar air dari material tersebut
menjadi turun sesuai dengan kualitas yang telah ditentukan sesuai standar yang
telah ditetapkan.
2.4.3

Penggilingan
Setelah disimpan di Raw Mill Feed Bins, campuran material yang telah

mengikuti standar dimasukkan ke dalam penggilingan. Dalam proses penggilingan


ini, pengambilan contoh dilakukan setiap satu jam untuk diperiksa agar komposisi
masing-masing material tetap konstan dan sesuai dengan standar. Setelah itu
tepung yang telah bercampur itu dikirimkan ke tempat penyimpanan.
2.4.4

Pembakaran dan Pendinginan


Dari tempat penyimpanan hasil campuran yang telah digiling, material

yang telah halus itu dikirim ke tempat pembakaran yang berputar dan
bertemperatur sangat tinggi sampai menjadi klinker. Setelah klinker ini
didinginkan, dikirim ke tempat penyimpanan. Selama proses ini berlangsung,
peralatan yang canggih digunakan untuk memantau proses pembakaran yang
diawasi secara terus menerus dari Pusat Pengendalian. Bahan bakar yang
dipergunakan adalah batu bara, kecuali untuk semen putih dan oil well cement
digunakan gas alam.
2.4.5

Penggilingan Akhir
Klinker yang sudah didinginkan kemudian dicampur dengan gips yang

masih diimpor, kemudian digiling untuk menjadi semen. Penggilingan ini


dilaksanakan dengan sistem close circuit untuk menjaga efisiensi serta mutu yang
tinggi. Semen yang telah siap untuk dipasarkan ini kemudian dipompa ke dalam
tangki penyimpanan.

2.4.6

Pengantongan
Dari

silo

tempat

penampungan,

semen

dipindahkan

ke

tempat

pengantongan untuk kantong maupun curah. Pengepakan menjadi efisien dengan

menggunakan mesin pembungkus dengan kecepatan tinggi. Kantong-kantong yang


telah terisi dengan otomatis ditimbang dan dijahit untuk kemudian dimuat ke truk
melalui ban berjalan. Sedangkan semen curah dimuat ke lori khusus untuk
diangkut ke tempat penampungan di pabrik, atau langsung diangkut ke Tanjung
Priok untuk disimpan atau langsung dikapalkan.
2.4.7

Pengawasan Mutu
Untuk menjaga agar produksi semen yang berkualitas tinggl bisa tetap

konsisten, pengujian yang dilakukan dengan menggunakan fasilitas kontrol


kualitas yang dihubungkan dengan komputer. Termasuk diantaranya pengujian
sampel otomatis secara terus menerus, analisa X-ray, analisa mikroskop secara
berkala, yang semuanya dilaksanakan oleh tenaga-tenaga yang ahli.

III.

LANDASAN TEORI

3.1 Konsep Dasar Sistem Informasi


Suatu sistem pada dasarnya adalah sekolompok unsur yang erat
hubungannya satu dengan yang lain, yang berfungsi bersama-sama untuk mencapai
tujuan tertentu. Secara sederhana, suatu sistem dapat diartikan sebagai suatu
kumpulan atau himpunan dari unsur, komponen, atau variabel yang terorganisir,
saling berinteraksi, saling tergantung satu sama lain, dan terpadu. Dari defenisi ini
dapat dirinci lebih lanjut pengertian sistem secara umum, yaitu :
1.

Setiap sistem terdiri dari unsur-unsur.

2.

Unsur-unsur tersebut merupakan bagian terpadu sistem yang bersangkutan.

3.

Unsur sistem tersebut bekerja sama untuk mencapai tujuan sistem.

4.

Suatu sistem merupakan bagian dari sistem lain yang lebih besar.
Secara umum informasi dapat didefinisikan sebagai hasil dari pengolahan

data dalam suatu bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi penerimanya
yang menggambarkan suatu kejadian-kejadian nyata yang digunakan untuk
pengambilan keputusan. Informasi merupakan data yang telah diklasifikasikan atau
diolah atau diinterpretasi untuk digunakan dalam proses pengambilan keputusan.
Sistem informasi adalah suatu sistem dalam suatu organisasi yang
mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi harian yang mendukung fungsi
operasi organisasi yang bersifat manajerial dengan kegiatan strategi dari suatu
organisasi untuk dapat menyediakan kepada pihak luar tertentu dengan informasi
yang diperlukan untuk pengambilan keputusan. Sistem informasi dalam suatu
organisasi dapat dikatakan sebagai suatu sistem yang menyediakan informasi bagi
semua tingkatan dalam organisasi tersebut kapan saja diperlukan. Sistem ini
menyimpan, mengambil, mengubah, mengolah dan mengkomunikasikan informasi
yang diterima dengan menggunakan sistem informasi atau peralatan sistem
lainnya.

3.2

Sistem Informasi Manajemen

Sistem Informasi Manajemen merupakan sistem informasi yang menghasilkan


hasil keluaran (output) dengan menggunakan masukan (input) dan berbagai proses
yang diperlukan untuk memenuhi tujuantertentu dalam suatu kegiatan manajemen.
Pengembangan SIM canggih berbasis komputer memerlukan sejumlah orang yang
berketrampilan tinggi dan berpengalaman lama dan memerlukan partisipasi dari
para manajer organisasi. Prinsip utama perancangan SIM: SIM harus dijalin secara
teliti agar mampu melayani tugas utama. Tujuan sistem informasi manajemen
adalah memenuhi kebutuhan informasi umum semua manajer dalam perusahaan
atau dalam subunit organisasional perusahaan. SIM menyediakan informasi bagi
pemakai dalam bentuk laporan dan output dari berbagai simulasi model
matematika.

Gambar 1. Komponen-komponen dalam SI (Sumber: OBrien, 2007)


Sistem informasi terdiri dari komponen-komponen yang disebut blok bangunan
(building block), yang terdiri dari komponen input, komponen model, komponen
output, komponen teknologi, komponen hardware, komponen software, komponen
basis data, dan komponen kontrol. Semua komponen tersebut saling berinteraksi
satu dengan yang lain membentuk suatu kesatuan untuk mencapai sasaran.

1.

Komponen input : Input mewakili data yang masuk kedalam sistem


informasi. Input disini termasuk metode dan media untuk menangkap data
yang akan dimasukkan, yang dapat berupa dokumen- dokumen dasar.

2.

Komponen model : Komponen ini terdiri dari kombinasi prosedur, logika,


dan model matematik yang akan memanipulasi data input dan data yang
tersimpan di basis data dengan cara yang sudah ditentukan untuk
menghasilkan keluaran yang diinginkan.

3.

Komponen output : Hasil dari sistem informasi adalah keluaran yang


merupakan informasi yang berkualitas dan dokumentasi yang berguna untuk
semua pemakai sistem.

4.

Komponen teknologi : Teknologi merupakan tool box dalam sistem


informasi. Teknologi digunakan untuk menerima input, menjalankan model,
menyimpan dan mengakses data, menghasilkan dan mengirimkan keluaran,
dan membantu pengendalian dari sistem secara keseluruhan.

5.

Komponen hardware : Hardware berperan penting sebagai suatu media


penyimpanan vital bagi sistem informasi. Yang berfungsi sebagai tempat
untuk menampung database atau lebih mudah dikatakan sebagai sumber data
dan informasi untuk memperlancar dan mempermudah kerja dari sistem
informasi.

6.

Komponen software : Software berfungsi sebagai tempat untuk mengolah,


menghitung dan memanipulasi data yang diambil dari hardware untuk
menciptakan suatu informasi.

7.

Komponen basis data : Basis data (database) merupakan kumpulan data yang
saling berkaitan dan berhubungan satu dengan yang lain, tersimpan di
perangkat keras komputer dan menggunakan perangkat lunak untuk
memanipulasinya. Data perlu disimpan dalam basis data untuk keperluan
penyediaan informasi lebih lanjut. Data di dalam basis data perlu
diorganisasikan sedemikian rupa supaya informasi yang dihasilkan
berkualitas. Organisasi basis data yang baik juga berguna untuk efisiensi
kapasitas

penyimpanannya.

Basis

data

diakses

atau

dimanipulasi

menggunakan perangkat lunak paket yang disebut DBMS (Database


Management System).
8.

Komponen kontrol : Banyak hal yang dapat merusak sistem informasi,


seperti bencana alam, api, temperatur, air, debu, kecurangan-kecurangan,
kegagalan-kegagalan sistem itu sendiri, ketidakefisienan, sabotase dan lain
sebagainya. Beberapa pengendalian perlu dirancang dan diterapkan untuk
meyakinkan bahwa halhal yang dapat merusak sistem dapat dicegah ataupun
bila terlanjur terjadi kesalahan- kesalahan dapat langsung cepat diatasi.

9.

Komponen jaringan
Untuk menghubungkan komputer-komputer perangkat keras dalam sebuah
kesatuan diperlukan media untuk menghubungi antara hardware dan software
sistem informasi yang digunakan di suatu perusahaan. Komponen jaringan
terdiri dari hardware dan software jaringan. Hardware komponen jaringan
berupa kartu penghubung jaringan (Network Interface Card), media
penghubung jaringan, HUB (konsentrator), repeater, bridge, dan router.
Komponen software jaringan berupa sistem operasi jaringan, network adapter
drive, dan protokol jaringan

IV. PEMBAHASAN
4.1

Sistem Manajemen Pemeliharaan


Sistem manajemen pemeliharaan adalah rangkaian kegiatan dalam

memanfaatkan sumber daya yang ada secara maksimal dalam rangka mencapai
sasaran pemeliharaan peralatan / mesin dan fasilitas lain dalam suatu unit produksi
dengan melakukan kegiatan perencanaan, pengorganisasian dan pengawasan /
pengontrolan

untuk

mencapai

tujuan.

Sistem

manajemen

pemeliharaan

menghendaki organisasi dapat mengendalikan dan mengelola sumber dayanya


dengan mengoptimalkan kerja mesin / peralatan maupun sumber daya manusia.
Sistem pemeliharaan mengalami beberapa tahapan-tahapan, yaitu :
1.

Breakdown Maintenance

2.

Preventive Maintenance

3.

Predictive Maintenance

4.

Total Productive Maintenance

4.1.1

Breakdown Maintenance
Breakdown Maintenance atau pemeliharaan atas kerusakan adalah

perbaikan atas kerusakan yang sudah terjadi. Informasi kerusakan ini umumnya
datang dari operator dan tindakan perbaikannya harus segera dilaksanakan.
Sistem ini tidak selalu jelek, tetapi untuk pemeliharaan peralatan listrik dan
instrument masih dipakai. Beberapa peralatan tidak bisa dipelihara atau digunakan
sistem yang lain seperti card-card instrument, relay, MCB dan lain-lain. Apalagi
dewasa ini peralatan control mengarah pada pemakaian card-card elektronik
seperti Soft Starter, Converter, Protection Relay sehingga mau tidak mau sistem
breakdown maintenance masih tetap dipergunakan.
4.1.2

Preventive Maintenance
Preventive Maintenance (PM) atau pemeliharaan pencegahan adalah

kegiatan pemeliharaan yang dilakukan untuk mencegah atau mengurangi


kerusakan atau keausan. Secara umum orang mempunyai pengertian bahwa PM

adalah kegiatan pemeliharaan yang dilakukan secara rutin dan berkala seperti
kegiatan inspeksi, servis dan perbaikan berkala. Pada pemeliharaan ini berdasarkan
waktu atau Time Base.
Dengan melakukan PM secara sistematis dimaksudkan agar :
1. Diperoleh pandangan menyeluruh tentang kondisi teknis dari peralatan
2. Dapat meramalkan sisa umur dari komponen
3. Dapat merencanakan penggantian komponen
4. Mengurangi perbaikan yang parah
5. Mengurangi jumlah breakdown

4.1.3

Predictive Maintenance
Pemeliharaan Prediktif dikenal juga sebagai pemeliharaan dengan acuan

kondisi alat atau Condition Base. Metode ini mengukur setiap keluaran pada alat
yang berhubungan dengan kemunduran komponen atau subsistem. Misalnya noise
atau bunyi pada bearing yang terus menerus dan semakin keras merupakan
petunjuk keausan. Metode ini biasanya memungkinkan pengukuran yang dilakukan
dibandingkan dengan suatu nilai batas tertentu. Bila kondisi abnormal bisa
dideteksi, masih tersedia cukup waktu untuk menganalisis kondisi gangguan dan
menghindari terjadinya breakdown. Masih ada rencana penanggulangan ataupun
mengurangi dampak kegagalan yang akan terjadi pada alat.
Keuntungan penerapan pemeliharaan prediktif adalah inspeksi bisa
dilakukan tanpa menghentikan operasi alat. Dengan demikian tidak ada kehilangan
waktu akibat inspeksi shutdown. Keuntungan lain berupa biaya pekerja lebih
rendah bila dibandingkan dengan pemeliharaan preventif.

4.1.4

Indocement

Maintenance/

Management

System

(Workflow

Indocement System)
Indocement Maintenance System

adalah suatu sistem manajemen

pemeliharaan yang mengelola peralatan (mechanical, electrical) secara terpadu dan

terkendali dengan mengikut sertakan seluruh komponen yang terkait antara lain
tenaga kerja, alat yang dipakai serta suku cadang.
Sistem pemeliharaan ini lebih ditekankan kepada bidang pekerjaan yang
sifatnya preventive, dimana pemeliharaan peralatan/mesin secara teratur dengan
mempertimbangkan interval waktu yang disesuaikan tanpa menunggu peralatan
tersebut mengalami kerusakan.
4.1.5

Work Order (WO)


Work Order adalah petunjuk atau perintah kerja yang dikeluarkan

Workflow yang mencakup :


1. Jenis / sifat pekerjaan yang harus dilaksanakan terhadap peralatan / mesin,
apakah berupa pekerjaan pemeliharaan / perbaikan atau inpeksi.
2. Sejumlah instruksi yang harus dikerjakan yang berhubungan dengan
pemeliharaan / perbaikan.
3. Daftar sumber daya manusia dan alat yang digunakan dalam instruksiinstruksinya.
4. Daftar suku cadang yang digunakan dalam instruksi-instruksi
Adapun jenis-jenis work order yang dikeluarkan Work flow adalah :
a.

Preventive work order


Adalah lembar kerja yang dikeluarkan Work flow secara otomatis berdasarkan
penjadwalan yang ditetapkan yang diatur dengan interval waktu.

b.

Inspection work order


Adalah lembar kerja yang ditekankan pada perintah pemeriksaan inspeksi dan
hasilnya dituangkan dalam bentuk angka (nilai)

c.

Corrective work order


Adalah perintah kerja yang dibuat secara manual untuk menangani jenis
pekerjaan emergency, service request dari department lain dan ISR (Internal
Service Request).

d.

Triggered / Sleeping work order

Adalah perintah kerja yang dibuat secara otomatis apabila parameter hasil
pemantauan inspeksi melampaui ambang batas yang telah ditetapkan
sebelumnya.
4.2

Departemen Elektrikal Plan 6 - 11


Departemen ini memiliki kewajiban untuk mendukung dan membantu

kegiatan utama plant, yakni proses produksi, dengan menjaga kelangsungan


pasokan listrik plant dan instrument (alat) listrik yang digunakan agar dapat
bekerja dengan baik dan dapat diatasi dengan cepat jika terjadi kerusakan.
Umumnya, alat listrik tersebut adalah motor-motor listrik yang digunakan mulai
dari proses pengolahan raw meal hingga finish mill, yang jumlahnya mencapai
lebih dari 2000 buah motor, seperti motor fan, motor conveyor, kiln drive motor,
grinding dan finish mill drive motor, dan lain sebagainya.
Dalam pelaksanaannya, selain mengerjakan program departemen yang
terdiri dari planning and evaluation dan instrument electric maintenance yang
meliputi kegiatan overhaul dan perawatan alat-alat listrik, departemen ini juga
melayani work request dari departemen mekanik dan produksi jika terjadi masalah
(trouble) dilapangan serta untuk kalibrasi alat ukur listrik.
Planning,
evaluation,
maintenance, work
request (mechanic &
production)
(Bahan Baku
Semen)
INPUT

Proses pengerjaan
atau perbaikan

Proses produksi
yang kontinu

PROSES

OUTPUT

Gambar 2 : Proses Electrical Department

Meskipun tugas utama depertemen ini adalah untuk mendukung kegiatan


proses produksi, namun keberadaannya tetap menjadi sangat penting. Hal ini
dapat dirasakan jika terjadi masalah yang berkaitan dengan alat listrik yang dapat

mengakibatkan terganggunya kegiatan produksi atau bahkan bisa sampai membuat


plant berhenti produksi sama sekali.
Dalam Menjalankan tugas dan fungsinya departemen ini terbagi kedalam
tiga bagian (section) yang memiliki tanggung jawab yang berbeda tiap bagiannya,
bagian tersebut tergambarkan pada diagram organisasi dibawah ini, diagram
tersebut menunjukan garis komando pada departemen elektrikal di plant 6 11 ini.

Gambar 3 : Diagram Organisasi Departemen Elektrikal Plant 6 11

4.2.1

Planning and Evaluation group


Seperti yang terlihat pada diagram organisasi pada departemen elektrikal

terdapat sebuah seksi yang bertanggung jawab untuk melaksanakan resource

planning

(man

scheduling),

maintenance

planning

(penyusunan

jadwal

maintenance, menentukan hal yang perlu maintenance, memberikan petunjuk cara


maintenance,dll), material planning (penyediaan sparepart, oli, maupun alat atau
bahan lainnya),

pengawasan pelaksanaan maintenance, dan evaluasi hasil

maintenance. Dalam menyelesaikan tugas pada seksi ini dibagi kedalam beberapa
penanggung jawab yang berisi :
1. Planner : Merupakan penanggung jawab dari seksi/grup ini, seorang planner
membuat planning (man schedulling), membagi tugas tugas sesuai data
inspeksi dan juga membuat perencanaan serta memastikan ketersediaan tenaga
kerja untuk menyelesaikan tugasnya.
2. Engineer : Yaitu memiliki tugas sebagai penganalisa, masalah masalah yang
ada dan perencanaan agar masalah masalah tersebut tidak terjadi lagi.
3. Part Material Control : Yaitu memiliki tugas sebagai penyedia material (spare
part) dan memastikan ketersediaannya, selain itu juga membuat dan
berkoordinasi dengan pihak supply division dan warehouse.
4. Inspector dan jr.Inspector : Yaitu melakukan inspeksi secara berkala,
memastikan kelayakan peralatan listrik berjalan dengan baik dan bebas
gangguan, apabila terdapat gangguan maka akan dimasukan keberita acara
untuk di buat work order.
5. IMS Data Entry : Yaitu memasukan data kedalam work flow IMS dan
membuat jadwal untuk perawatan sesuai alur IMS.
6. Warehouse : Yaitu yang bertanggung jawab atas gudang dari workshop
elektrikal, memastikan ketersediaan material yang akan digunakan dan
berkoordinasi dengan part material control.
7. Tool keeper : Yaitu bertanggung jawab atas peralatan yang akan digunakan
untuk bekerja.

Gambar 4 : Diagram Work Flow IMMS

4.2.2

Electrical Maintenance Section


Bertanggung

jawab

untuk

pelaksanaan

maintenance

sesuai

yang

direncanakan oleh Planning and Evaluation group untuk peralatan listrik dengan
arus kuat seperti keberlangsungan motor motor listrik dan transformator. Setelah
Inspector melakukan inspeksi tehadap peralatan listrik maka dibuat work order
untuk dikerjakan oleh seksi ini. Seksi ini dipimpin oleh seorang superintendent
yang bertanggung jawab terhadap keberlangsungan tugas yang dikerjakan. Tugas
yang dimaksud seperti Preventive maintenance terhadap motor high tension,
Penggantian bearing motor, penggantian panel dan lain sebagainya. Dalam
pelaksanaan tanggung jawab ini seksi ini dibagi kedalam 4 group kerja dan 1 group
inspeksi, area kerja dikerjakan berdasarkan wilayah plant 6 dan plant 11, yang
mana terbagi kedalam dua wilayah untuk masing masing plant yaitu wilayah raw
mill dan kiln serta wilayah cement mill dan packing. Untuk keberlangsungan

pabrik dari sisi elektris selama 24 jam, maka seksi ini juga terdapat shift group
yang terbagi kegalam 3 group shift yaitu shift A, B dan C.
4.2.

Instrumentation Section

Bertanggung

jawab

untuk

pelaksanaan

maintenance

sesuai

yang

direncanakan oleh Planning and Evaluation group untuk peralatan listrik dengan
arus lemah atau secara instrumentasi alat alat listrik seperti speed sensor, Weighing
feeder dsb. Setelah Inspector melakukan inspeksi tehadap peralatan listrik maka
dibuat work order untuk dikerjakan oleh seksi ini. Seksi ini dipimpin oleh seorang
superintendent yang bertanggung jawab terhadap keberlangsungan tugas yang
dikerjakan. Tugas yang dimaksud seperti Preventive maintenance terhadap sensor
seperti load cell pada wheiging feeder, metal separator dan scatter untuk mengukur
suhu kiln shell. Dalam pelaksanaan tanggung jawab ini seksi ini dibagi kedalam 2
group kerja dan 1 group inspeksi, area kerja dikerjakan berdasarkan wilayah plant
6 dan plant 11 Untuk keberlangsungan pabrik dari sisi elektris selama 24 jam,
maka seksi ini juga terdapat shift group yang terbagi kegalam 3 group shift yaitu
shift A, B dan C.

4.3 Kendala dan Permasalahan


Kendala yang timbul
1.

sistem dari server utama sudah bagus, hanya


saja user PC yang masih ada kelemahan

2.

Alur kerja yang masih sulit dalam hal surrogate (klo


berhalangan dan tidak sempat konfirm bisa menghambat)

3.

Dalam hal supply (gudang) sparepart produksi semen


terkadang tidak sesuai dengan yang yang ada digudang, dalam hal jumlah
maupun spesifikasi karena data yang dikirimkan ada ketidak sesuaian

V. KESIMPULAN DAN SARAN


5.1

Kesimpulan

5.2

Saran
4.

Upgrade atau maintenance rutin

5.

Program lebih fleksible jika ada yang berhalangan


bisa dengan wakil yang memiliki password

6.

Pendataan secara teliti sesuai spesifikasi dan


meminimalisir kekeliruan input data

DAFTAR PUSTAKA
Ariefiani R. 2010. Faktor penentu kesuksesan dan kegagalan pengembangan
sistem
informasi
di
suatu
perusahaan.
http://rizma.blogstudent.mb.ipb.ac.id.
Gunton. 1993. A Dictionary of Information System & Computer Science.
McGraw-Hill: New York.
Kudang B. Seminar dan Solahudin, MS. 2010. Pemahaman Teknologi Informasi
dan Sistem Informasi. FATETA. IPB : Bogor
Leitch, R. A. 2004. The Chiropractic Theories: A Textbook of Scientific Research.
Lippincott Williams and Wilkins: New Jersey.
Murdaningsih A. 2009. Analisis Pengaruh Partisipasi pemakai terhadap Kepuasan
Pemakai Sistem Informasi dalam Pengembangan Sistem Informasi
dengan Dukungan Manajemen Puncak, Komunikasi PemakaiPengembang, Kompleksitas Sistem, Kompleksitas Tugas, pengaruh
Pemakai sebagai Variabel Pemoderasi [skripsi]. Fakultas Ekonomi
Jurusan Akuntansi, Universitas Muhammadiyah. Surakarta.
OBrien & Marakas. 2011. Management Information System Tenth Edition.
c.Graw- Hill Companies: New York.
Sutanta, Edhy. 2003. Sistem Informasi Manajemen. Graha Ilmu: Yogyakarta.