Anda di halaman 1dari 51

KERATITIS

A. Anatomi dan Histologi Mata


Kelopak atau palpebra mempunyai fungsi melindungi bola mata, serta
mengeluarkan sekresi kelenjar yang membentuk film air mata didepan kornea. Kelopak
merupakan alat menutup mata yang berguna untuk melindungi bola mata terhadap
trauma, trauma sinar dan pengeringan bola mata.
Kelopak mempunyai lapis kulit yang tipis pada bagian depan sedang dibagian
belakang ditutupi selaput lendir tarsus yang disebut konjungtiva tarsal. Pada kelopak
terdapat bagian-bagian:
1. Kelenjar, seperti :
Kelenjar sebasea
Kelenjar Moll atau kelenjar keringat
Kelenjar Zeis pada pangkal rambut, dan
Kelenjar Meibom pada tarsus.
2. Otot, seperti :
M. orbukularis okuli, yang berjalan melingkar di dalam kelopak atas dan bawah,
dan terletak di bawah kulit kelopak.
M. Rioland, otot orbikularis okuli pada dekat tepi margo palpebra. M. orbikularis
berfungsi menutup bola mata yang dipersarafi N. fasial.
M. levator palpebra, yang berorigo pada annulus foramen orbita dan berinsersi pada
tarsus atas dengan sebagian menembs M. orbikularis okuli menuju kulit kelopak
bagian tengah. Bagian kulit tempat insersi M. levator palpebra terlihat sebagai
sulkus (lipatan) palpebra. Otot ini dipersarafi oleh N. III, yang berfungsi untuk
mengangkat kelopak mata atau membuka mata.

3. Didalam kelopak terdapat tarsus yang merupakan jaringa ikat dengan kelenjar di
dalamnya atau kelenjar Meibom yang bermuara pada margo palpebra.
4. Septum orbita yang merupakan jaringan fibrosis berasal dari rima orbita merupakan
pembatas isi orbita dengan kelopak depan.
5. Tarsus ditahan oleh septum orbita yang melekat pada rima orbita pada seluruh
lingkaran pembukaan rongga orbita. Tarsus (terdiri atas jaringan ikat yang merupakan
jaringan penyokong kelopak dengan kelenjar Meibom (40 di kelopak atas dan 20
pada kelopak bawah).
6. Pembuluh darah yang memperdarahinya adalah a. palpebra
7. Persarafan sensorik kelopak mata atas didapatkan dari rumus frontal N.V, sedang
kelopak bawah oleh cabang ke II saraf ke V.
Konjungtiva tarsal yang terletak di belakang kelopak hanya dapat dilihat dengan
melakukan eversi kelopak. Konjungtiva tarsal melalui forniks menutup bulbus okuli.
Konjungtiva merupakan membran mukosa yang mempunyai sel Goblet yang
menghasilkan musin.
Konjungtiva terdiri atas tiga bagian, yaitu:
Konjungtiva tarsal yang menutupi tarsus, konjungtiva tarsal sukar digerakkan dari
tarsus.
Konjungtiva bulbi menutui sklera dan mudah digerakkan dari sklera di bawahnya.
Konjungtiva fornises atau forniks konjungtiva yang merupakan tempat peralihan
konjungtiva tarsal dengan konjungtiva bulbi
Konjungtiva bulbi dan forniks berhubungan dengan sangat longgar dengan jaringan
dibawahnya sehingga bola mata mudh bergerak.
Bola mata berbentuk bulat dengan diameter anteroposterior 24mm. Bola mata
dibagian depan (kornea) mempunyai kelengkungan yang lebih tajam sehingga

terdapat bentuk dengan 2 kelengkungan yang berbeda. Bola mata dibungkus oleh 3
lapis jaringan, yaitu:
Sklera merupakan jaringan ikat yang kenyal dan memberikan bentuk pada mata,
meruakan baian terluar yang melindungi bola mata. Bagian terdepan sklera
disebut kornea yang bersifat transparan yang memudahkan sinar masuk ke dalam
bola mata. Kelengkungan kornea lebih besar disbanding sklera.
Jaringan uvea
Retina
Rongga orbita adalah rongga yang berisi bola mata dan terdapat 7 tulang yang
membentuk dinding orbta yaitu: lakrimal, etmoid, sphenoid, frontal, dan dasar orbita
yang terutama terdiri atas tulang maksila, bersama-sama tulang palatinum dan
zigomatikus.
Rongga orbita yang berbentuk pyramid ini terletak ada kedua sisi rongga hidung.
Dinding lateral orbita membentuk sudut 45 derajat dengan dinding medialnya.
Dinding orbita terdiri atas tulang:
Atap atau superior: os. Frontal
Lateral: os. Frontal, os. Zigomatik, ala magna os. Sphenoid
Inferior: os. Zigomatik, os. Maksila, os. Palatina
Nasal: os. Maksila, os. Lakrimal, os. Etmoid
Foramen optic terletak pada apeks rongga orbita, dilalui oleh saraf optic, arteri, vena,
dan saraf simpatik yang berasal dari pleksus carotid.
Fisura orbita superior di sudut orbita atas temporal dilalui oleh saraf lakrimal (V),
saraf frontal (V), saraf troklear (IV), saraf okulomotor (III), saraf nasosiliar (V),
abdusen (VI), dan arteri vena oftalmik.

Fisura orbita inferior terletak di dasar tengah temporal orbita dilalui oleh saraf infraorbita dan zigomatik dan arteri infra orbita.
Fosa lakrimal terletak disebelah temporal atas tempat duduknya kelenjar lakrimal.
Otot penggerak bola. Otot ini menggerakkan mata dengan fungsi ganda dan untuk
pergerakan mata tergantung pada letak dan sumbu penglihatan sewaktu aksi otot. Otot
penggerak mata terdiri atas 6 otot yaitu:
1) Otot oblik inferior
Oblik inferior memiliki origo pada fosa lakrimal tulang lakrimal, berinsersi pada
sklera posterior 2 mm dari kedudukan macula, dipersarafi saraf okulomotor,
bekerja untuk menggerakkan mata keatas, abduksi dan eksiklotorsi.
2) Otot oblik superior
Oblik superior berorigo pada annulus Zinn dan ala parva tulang sfenodi di atas
foramen optik, berjalan menuju troklea da dikatrol balik dan kemudianberjalan di
atas otot rektus superior, yang kemudian berinsersi pada sklera dibagian temporal
belakang bola mata. Oblik superior dipersarafi saraf ke IV atau saraf troklear yang
keluar dari bagian dorsal susunan saraf pusat.
Mempunyai aksi pergerakan miring dar troklea pada bola mata dengan kerja
utama terjadi bila sumbu aksi dan sumbu penglihatan searah atau mata melihat ke
arah nasal. Berfungsi menggerakkan bola mata untuk depresi (primer) terutama
bila mata melihat ke nasal, abduksi, dan insiklotorsi.
Oblik superior merupakan otot penggerak mata yang terpanjang dan tertipis.
3) Otot rektus inferior
Rektus inferior mempunyai origo pada annulus Zinn, berjalan antara oblik inferior
dan bola mata atau sklera dan insersi 6 mm di belakang limbus yang pada
persilangan dengan oblik inferior diikat kuat oleh ligament Lockwood.
Rektus inferior dipersarafi oleh n. III.

Fungsi menggerakkan mata: depresi (gerak primer), eksoklotorsi (gerak


sekunder), aduksi (gerak sekunder).
Rektus inferior membentuk sudut 23 derajat dengan sumbu penglihatan.
4) Otot rektus lateral
Rektus lateral mempunyai origo pada annulus Zinn di atas dan di bawah foramen
optic. Rektus lateral dipersarafi oleh N. VI. Dengan pekerjaan menggerakkan
mata terutama abduksi.
5) Otot rektus medius
Rektus medius mempunyai origo pada annulus Zinn dan pembungkus dura saraf
optik yang sering memberikan dan rasa sakit pada pergerakan mata bila terdapat
neuritis retrobulbar, dan berinsersi 5 mm di belakang limbus. Rektus medius
merupakan otot mata yang paling tebal dengan tendon terpendek.
Menggerakkan mata untuk aduksi (gerak primer).
6) Otot rektus superior
Rektus superior mempunyai origo pada annulus Zinn dekat fisura orbita superior
beserta lapis dura saraf optik yang akan memberikan rasa sakit pada pergerakkan
bola mata bila terdapat neuritis retrobulbal. Otot ini berinsersi 7 mm di belakang
limbus dan dipersarafi cabang superior N.III.
Fungsinya menggerakkan mata-elevasi, terutama bila mata meihat ke lateral:
Aduksi, terutama bila tidak melihat ke lateral
Insiklotorsi
Setiap mata terdiri atas tiga lapisan: tunika fibrosa (lapis luar), tunika vaskulosa
(lapis tengah) dan retina.

Mata menerima cahaya melalui kornea. Cahaya difokuskan oleh lensa pada
retina, yang mengandung sel-sel khusus yang menandai berbagai gambar bayangan
untuk dihantarkan ke otak melalui nervus optikus.
Mata mempunyai muskuli instrinsik yang menyesuaikan pembukaan iris dan
mempengaruhi diameter lensa, memungkinkan terjadinya akomodasi untuk penglihatan
dekat.
Bola mata mempunyai otot-otot ekstrinsik, melekat ke sisi luar orbita (bola
mata), yang menggerakkan mata secara terkoordinasi untuk menerima lapangan pandang
yang diinginkan.
Orbita secara terus menerus lembab pada permukaan anteriornya dengan cairan
lakrimalis (air mata) yang disekresi oleh glandula lakrimalis.
Bola mata ditutup oleh kelopak mata diatas dan dibawah, yang melindungi
permukaan anterior bola mata.
a.

Tunika fibrosa
Tunika fibrosa yang paling luar terdiri dari sklera dan kornea.
Sklera

Sklera adalah lapisan opak, relatif avaskular dari lapisan jaringan ikat fibrosa
yang menutupi 5/6 bagian posterior bola mata.

Sklera menerima perlekatan otot-otot ekstrinsik mata.

Tendo muskulus okulomotorius tertanam pada sklera.

Kaya akan serat-serat kolagen.

Kornea

Kornea adalah transparan, mendapat persarafan yang banyak, avaskular


meliputi 1/6 tunika. 5/6 itu sklera

Kornea bergabung dengan sklera pada suatu daerah yang disebut limbus,
yang mempunyai banyak pembuluh darah dan terdiri dari lima lapisan :
Epitel kornea
Epitel kornea membatasi sisi anterior kornea dan kontinyu dengan
konjungtiva (suatu membran mukosa yang melapisi bagian anterior sklera
dan membatasi permukaan dalam kelopak mata).
Kornea adalah epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk,
ketenabalannya 5-7 lapisan sel.
Epitel kornea mempunyai mikrovili pada permukaan superfisialnya;
mikrovili menangkap kelembaban, melindungi kornea dari dehidrasi.
Membran bowman
Suatu lapisan homogen aselular yang memberi bentuk, stabilitas dan
kekuatan pada kornea yang tebalnya 6-9 mm. Membran bowman bukanlah
membrane yang sebenarnya tetapi merupakan gabungan membrane basalis
epitel kornea dan lapisan luar dari substansia propria di bawahnya.
Stroma kornea (substansia propria)
Stroma kornea adalah lapisan kornea yang paling tebal, menyusun sekitar
90% tebalnya kornea. Stroma ini terdiri atas banyak lapisan dari kolagen
tipe I yaitu serat yang letaknya sejajar satu sama lain dalam setiap
deretan dan pada sudut serong satu sama lain pada lapisan yang
berdekatan.
Serat-serat kolagen terbenam dalam suatu substansia dasar amorf yang
kaya akan glikosaminoglikan kebanyakan dari kondroitin sulfat dan
keratan sulfat. Serat elastin yang tipis dan fibroblas juga ada dalam stroma
kornea. Lapisan ini tidak mengandung pembuluh darah.

Stroma mempunyai alur dalam daerah limbus yang dibatasi oleh endotel,
membentuk kanal schlemm. Kanal ini menyalurkan cairan (humor
akueus) dari kamera okuli anterior ke dalam sistem vena.
Membran Descemet adalah suatu lamina basalis yang tebal (5-10m) yang
memisahkan stroma dari endotel kornea. Mengandung serat kolagen yang
khas tersusun secara heksagonal yang terutama menclok pada orang usia
lanjut.
Endotel kornea
Endotel kornea membatasi sisi posterior kornea.
Endotel kornea adalah epitel selapis gepeng dengan sel-sel yang
memperlihatkan sejumlah vesikel pinositik.
Endotel kornea menyerap cairan sari stroma, jadi berperan terhadap
transparannya kornea, ikut serta pada refraksi cahaya.
b.

Tunika vaskulosa (uvea, lapis tengah/ lapisan vaskular mata) terdiri atas tiga bagian:
1. Koroid
Lapisan yang sangat vaskular, berpigmen pada mata di dinding posterior
orbita; jaringan ikatnya yang jarang berisi banyak melanosit.
Koroid melekat longgar pada tunika fibrosa.
Koroid mempunyai lapis koriokapilaris sebelah dalam dan membrana
Bruch (membran basalis) yang terbentang dari diskus optikus ke ora
serrata.
2. Korpus siliaris
Korpus siliaris adalah bentuk seperti baji perluasan ke anterior dari koroid.

Korpus siliaris secara sempurna melingkari lensa dan memisahkan ora serrata
dari iris.
Korpus siliaris pada permukaan dalamnya dibatasi oleh dua lapis sel: epitel
torak di sebelah luar berpigmen kaya dengan melanin dan epitel selapis
torak di sebelah dalam tidak berpigmen.
Prosesus siliaris
Tersusun secara radier (sekitar 70) dari korpus siliaris.
Ditengahnya ada jaringan ikat yang mengandung banyak kapiler
fenestrata.
Dilapisi oleh dua lapis epitel. Lapis dalam yang tidak berpigmen
mengangkut komponen dari filtrat plasma dalam kamera okuli
posterior dan kemudian membentuk humor akueus, yang mengalir ke
kamera okuli anterior melalui lubang pupil.
Mempunyai ligamentum suspensorium (zonula) yang timbul dari
prosesus dan melekat ke dalam kapsula lentis, bekerja melekatkannya
pada tempatnya.
Muskulus siliaris
Melekat ke sklera dan korpus siliaris sedemikian rupa sehingga
kontraksinya menegangkan korpus siliaris dan melepaskan tegangan
pada ligamentum suspensorium dan lensa mata. Kontraksi muskulus
siliaris memungkinkan lensa menjadi lebih konveks, memungkinkan
mata untuk focus pada objek yang dekat (akomodasi). Dengan
bertambahnya usia, elastisitas lensa berkurang, sehingga secara
bertahap kemampuan untuk akomodasi hilang.
Muskulus

siliaris

dipersarafi

okulomotorius (saraf krania III).

oleh

serat

parasimpatis

nervus

3. Iris
Iris adalah juluran paling anterior dari koroid, memisahkan kamera okuli
anterior dan kamera okuli posterior dari orbita.
Iris menutupi permukaan anterior lensa secara tidak sempurna, membentuk
suatu lubang pembukaan yang disebut pupil yang secara terus menerus
disesuaikan oleh otot-otot instrinsi pupil.
Iris dilapisi oleh lapisan sel-sel berpigmen secara tidak sempurna dan
fibroblas pada permukaan anteriornya.
Iris mempunyai jaringan ikat vaskular yang longgar berisi melanosit dan
fibroblas.
Permukaan dalam iris dilapisi oleh dua lapisan epitel yang mempunyai sel-sel
berpigmen yang menghalangi masuknya cahaya ke mata kecuali melalui
pupil.
Warna mata adalah biru jika hanya ada sedikit melanosit. Dengan makin
bertambahnya jumlah pigmen warna mata akan makin gelap.
Muskulus dilatator pupil
Muskulus dilatator pupil adalah otot polos dengan serat-serat yang berjalan
radier dari bagian perifer iris ke arah pupil.
Kontraksi otot ini karena rangsangan serat saraf simpatik, sehingga
melebarkan pupil.
Muskulus sfingter pupil

Muskulus sfingter pupil adalah otot polos yang tersusun melingkar


membentuk cincin di sekitar lubang pupil.
Kontraksi otot ini terjadi karena rangsangan oleh serat saraf parasimpatis
dari nervus okulomotorius (saraf kranial III), menciutkan pupil.
c.

Media refraksi mata


1. Humor akueus
Humor akueus adalah cairan menyerupai plasma dalam kompartemen anterior
mata yang dibentuk oleh sel-sel epitel yang membatasi prosesus siliaris.
Cairan ini secara tetap disekresi ke dalam kamera okuli posterior dan kemdian
mengalir ke dalam kamre okuli anterior melalui lubang pembukaan pupil; dari
sini cairan masuk sistem vena melalui kanalis schlemm.
2. Lensa
Adalah struktur bikonveks transparan (jernih) fleksibel terdiri dari kapsula
lentis, epitel subkapsular dan serat-serat lensa.
Kapsula lentis adalah suatu lamina basalis yang tebal yang membungkus
seluruh epitel lensa.
Epitel subkapsular (hanya pada permukaan anterior dan permukaan lateral
lensa) terdiri dari selapis sel-sel kubis yang satu sama lain berhubungan melalui
gap junction dan interdigitasi dengan serat-serat lensa.
Serat-serat lensa merupakan sel yang berdiferensiasi tinggi, memanjang ketika
matang, tidak mempunyai inti dan organel. Serat lensa terisi dengan
kelompokan protein yang disebut kristalin.
Ligamentum suspensorium terbentang antara lensa dan korpus siliaris,
menjaga tegangan pada lensa dan memungkinkan lensa memfokuskan pada
obyek jarak tertentu.

3. Korpus vitreus
Adalah jeli yang kenyal terutama terdiri dari air, kolagen dan asam hialuronat.
Jeli ini mengisi bagian dalam bola mata posterior terhadap lensa.

d. Retina
Retina adalah lapisan paling dalam dari ketiga lapisan mata dan berperansebagai
fotoreseptor.
Retina mempunyai lekukan dangkal pada dinding posteriornya yang hanya berisi
kerucut; daerah avaskular ini disebut fovea sentralis, daerah tengahnya yaitu
makula, memberikan ketajaman penglihatan terbesar.
Retina memperlihatkan 10 lapisan yang berbeda.
Hanya lapisan tertentu dari 10 lapis terdiri atas neuron yang menerima,
menggabungkan dan menangkap atau menghantarkan rangsangan ke otak untuk
pemrosesan. Hal ini meliputi fotoreseptor batang dan kerucut, sel bipolar dan sel
ganglion. Sel-sel dari lapisan lainnya berfungsi sebagai penyokong arsitektur
retina.
Epitel pigmen retina adalah suatu lapisan sel-sel torak yang melekat erat ke
membrana Bruch.
Struktur
Epitel pigmen retina mempunyai kompleks tautan dan invaginasi basal
yang berisi mitokondria, diduga sel-sel ini terlibat dalam transport ion.
Sel ini berisi reticulum endoplasma halus (SER) dan banyak granula
melanin yang letaknya di sebelah apikal dalam juluran sel.
Sel ini membuat juluran mikrovili terisi pigmen yang menyusup ke ujungujung batang dan kerucut.

Fungsi
Sel-sel epitel pigmen retina membentuk ester vitamin A (digunakan
dalam pembentukan igen visual oleh batang dan kerucut).
Sel ini memfagosit ujung-ujung yang lepas dai segmen luar batang.
Sel ini mensisntesis melanin, yang menyerap cahaya setelah batang dan
kerucut telah distimuli.
Lapisan fotoreseptor terdiri dari neuron-neuron (sel-sel fotoreseptor) yang
disebut batang dan kerucut. Dendritnya membentuk interdigitasi dengan sel-sel
dari epitel pigmen dan dasarnya membentuk sinaps dengan sel-sel dari lapisan
bipolar.
Membran limitan eksterna
Membrane limitan eksterna adalah bukan membrane yang sebenarnya tapi
suatu daerah dimana taut lekat (zonula adherent/ belt desmosome) diletakkan
antara sel-sel fotoreseptor dan sel-sel Muller retina (sel glia).
Membran ini juga mengandung mikrovili yang menjulur dari sel-sel Muller.
Lapisan inti luar
Terutama terdiri dari inti batang dan kerucut.
Lapisan pleksiform luar
Lapisan pleksiform luar mengandung sinapsis aksodendritik antara akson
sel-sel fotoreseptor dan dendrite sel bipolar dan sel horizontal.
Lapisan ini memperlihatkan pita sinapsis dalam sel batang dan sel kerucut
pada tempat sinapsis.
Lapisan inti dalam

Mengandung badan sel neuron, sel horizontal, sel amakrin dan inti sel Muller.
Lapisan pleksiform dalam
Lapisan pleksiform dalam mengandung sinapsis aksodendritik antara akson
sel bipolar dan dendrite sel-sel ganglion.
Juluran sel-sel amakrin terletak dalam lapisan ini.
Lapisan sel ganglion
Mengandung badan-badan sel gangion, yang membentuk hubungan terakhir
dalam rantai saraf retina.
Struktur sel-sel ganglion
Sel-sel ganglion adalah neuron khusus yang menjulurkan aksonnya ke
daerah khusus dari retina yang disebut diskus optikus.
Sel-sel ini adalah sel ganglion yang sangat kecil, difusa dan berlapis.
Fungsi sel ganglion
Sel-sel ganglion diakifkan oleh hiperpolarisasi batang dan kerucut dan
membangkitkan potensial aksi, yang disalurkan ke sel horizontal dan sel
amakrin dan dibawa ke sistem penangkap visual di otak.
Lapisan serat saraf optikus
Terutama terdiri dari akson yang tidak bermielin dari sel-sel ganglion, yang
membentuk serat dari nervus optikus. Ketika setiap serat menembus sklera,
saraf ini mendapat selubung myelin.
Membrana limitan interna
Terdiri dari juluran ujung sel Muller dan membrane basalisnya.
e. Struktur pelengkap dari mata

1.

Konjungtiva (membrane mukosa yang jernih)


Konjungtiva membatasi kelopak mata dan melipat ke dalam ke bagian anterior
orbita sampai kornea, diman alapisan ini menjadi kontinyu dengan epitel
kornea.
Konjungtiva adalah epitel berlapis torak yang mempunyai banyak sel-sel
goblet.
Konjungtiva dipisahkan oleh suatu lamina basalis dari lamina propria
dibawahnya dari jaringan ikat jarang.

2.

Kelopak mata (palpebra)


Kelopak mata dibatasi disebelah dalam oleh konjungtiva dan disebelah luar
oleh kulit yang elastic dan menutup jala penyokong lempeng tarsus.
Kelopak mata mengandung kelenjar sebasea (kelenjar meibom) yang telah
mengalami modifikasi, kelenjar sebasea yang lebih kecil (kelenjar Zeis) dan
kelenjar keringat (kelenjar Moll).

3.

Aparatus lakrimalis
Kelenjar lakrimalis
Kelenjar lakrimalis adalah kelenjar tubuloalveolar kompleks dengan
satuan sekretorik yang dikelilingi oleh lapis yang tidak sempurna dari selsel mioepitel.
Cairan lakrimalis (air mata) sebagian besar berupa air dan mengandung
lisozim, suatu enzim antibakteri. Air mata mengalir dari kelenjar
lakrimalis melalui 6-12 saluran ke dalam forniks konjungtiva, dari sini air
mata membasahi kornea dan konjungtiva, menjaganya agar tetap basah.
Air mata kemudian masuk ke punktum lakrimalis, menuju ke kanalikuli
lakrimalis.

Kanalikuli lakrimalis
Dibatasi oleh epitel berlapis gepeng dan bergabung membentuk
kanalikulus umum, yang mengalirkannya ke dalam sakus lakrimalis.
Sakus lakrimalis
Dibatasi oleh epitel bertingkat torak bersilia.
Duktus nasolakrimalis
adalah lanjutan sebelah bawah sakus lakrimalis dan juga dibatasi oleh
epitel bertingkat torak bersilia. Duktus mencurahkan isinya ke dasar
kavum nasi.

Gambar 1

Gambar 2

Gambar 3

Gambar 4

B. Fisiologi Mata
Mata adalah organ fotosensitif yang sangat berkembang dan rumit, yang
memungkinkan analisis cermat dari bentuk, intensitas cahaya, dan warna yang
dipantulkan objek. Mata terletak dalam struktur bertulang yang protektif di tengkorak,
yaitu rongga orbita. Setiap mata terdiri atas sebuah bola mata fibrosa yang kuat untuk
mempertahankan bentuknya, suatu sistem lensa untuk memfokuskan bayangan, selapis
sel fotosensitif, dan suatu sistem sel dan saraf yang berfungsi mengumpulkan,
memproses, dan meneruskan informasi visual ke otak. Tidak semua cahaya yang
melewati kornea mencapai fotoreseptor peka cahaya karena adanya iris, suatu otot polos
tipis berpigmen yang membentuk struktur seperti cincin di dalam aqueous humour.
Lubang bundar di bagian tengah iris tempat masuknya cahaya ke bagian dalam mata
adalah pupil. Iris mengandung dua kelompok jaringan otot polos, satu sirkuler dan yang
lain radial. Karena serat-serat otot memendek jika berkontraksi, pupil mengecil apabila
otot sirkuler berkontraksi yang terjadi pada cahaya terang untuk mengurangi jumlah
cahaya yang masuk ke mata. Apabila otot radialis memendek, ukuran pupil meningkat
yang terjadi pada cahaya temaram untuk meningkatkan jumlah cahaya yang masuk.
Untuk membawa sumber cahaya jauh dan dekat terfokus di retina, harus
dipergunakan lensa yang lebih kuat untuk sumber dekat. Kemampuan menyesuaikan
kekuatan lensa sehingga baik sumber cahaya dekat maupun jauh dapat difokuskan di
retina dikenal sebagai akomodasi. Kekuatan lensa bergantung pada bentuknya, yang
diatur oleh otot siliaris. Otot siliaris adalah bagian dari korpus siliaris, suatu spesialisasi

lapisan koroid di sebelah anterior. Pada mata normal, otot siliaris melemas dan lensa
mendatar

untuk

penglihatan

jauh,

tetapi

otot

tersebut

berkontraksi

untuk

memungkinkan lensa menjadi lebih cembung dan lebih kuat untuk penglihatan dekat.
Serat-serat saraf simpatis menginduksi relaksasi otot siliaris untuk penglihatan jauh,
sementara sistem saraf parasimpatis menyebabkan kontraksi otot untuk penglihatan
dekat.
Proses visual dimulai saat cahaya memasuki mata, terfokus pada retina dan
menghasilkan sebuah bayangan yang kecil dan terbalik. Ketika dilatasi maksimal, pupil
dapat dilalui cahaya sebanyak lima kali lebih banyak dibandingkan ketika sedang
konstriksi maksimal. Diameter pupil ini sendiri diatur oleh dua elemen kontraktil pada
iris yaitu papillary constrictor yang terdiri dari otot-otot sirkuler dan papillary dilator
yang terdiri dari sel-sel epitelial kontraktil yang telah termodifikasi. Sel-sel tersebut
dikenal juga sebagai myoepithelial cells. Jika sistem saraf simpatis teraktivasi, sel-sel
ini berkontraksi dan melebarkan pupil sehingga lebih banyak cahaya dapat memasuki
mata. Kontraksi dan dilatasi pupil terjadi pada kondisi dimana intensitas cahaya berubah
dan ketika kita memindahkan arah pandangan kita ke benda atau objek yang dekat atau
jauh. Pada tahap selanjutnya, setelah cahaya memasuki mata, pembentukan bayangan
pada retina bergantung pada kemampuan refraksi mata.
Beberapa media refraksi mata yaitu kornea (n=1.38), aqueous humour (n=1.33),
dan lensa (n=1.40). Kornea merefraksi cahaya lebih banyak dibandingkan lensa. Lensa
hanya berfungsi untuk menajamkan bayangan yang ditangkap saat mata terfokus pada
benda yang dekat dan jauh. Setelah cahaya mengalami refraksi, melewati pupil dan
mencapai retina, tahap terakhir dalam proses visual adalah perubahan energi cahaya
menjadi aksi potensial yang dapat diteruskan ke korteks serebri. Proses perubahan
ini terjadi pada retina. Retina memiliki dua komponen utama yakni pigmented retina dan
sensory retina. Pada pigmented retina, terdapat selapis sel-sel yang berisi pigmen melanin
yang bersama-sama dengan pigmen pada koroid membentuk suatu matriks hitam yang
mempertajam penglihatan dengan mengurangi penyebaran cahaya dan mengisolasi
fotoreseptor-fotoreseptor yang ada. Pada sensory retina, terdapat tiga lapis neuron yaitu
lapisan fotoreseptor, bipolar dan ganglionic. Badan sel dari setiap neuron ini dipisahkan
oleh plexiform layer dimana neuron dari berbagai lapisan bersatu. Lapisan pleksiform

luar berada diantara lapisan sel bipolar dan ganglionic sedangkan lapisan pleksiformis
dalam terletak diantara lapisan sel bipolar dan ganglionic. Setelah aksi potensial dibentuk
pada lapisan sensori retina, sinyal yang terbentuk akan diteruskan ke nervus optikus,
optic chiasm, optic tract, lateral geniculate dari thalamus, superior colliculi, dan korteks
serebri. Gambaran jaras penglihatan yang telah dijelaskan sebelumnya dapat dilihat pada
gambar berikut:

Gambar 5
Tajam penglihatan merupakan padanan dari bahasa inggris "Visual Acuity" yang
didefinisikan sebagai buruk atau jelasnya penglihatan yang bergantung pada tingkat
kejelasan upaya pemfokusan di retina. Ketajaman penglihatan merupakan kemampuan

sistem penglihatan untuk membedakan berbagai bentuk. Penglihatan yang optimal hanya
dapat dicapai bila terdapat suatu jalur saraf visual yang utuh, stuktur mata yang sehat
serta kemampuan fokus mata yang tepat. Tajam penglihatan dapat dibagi lagi menjadi
recognition acuity dan resolution acuity. Recognition acuity adalah tajam penglihatan
yang berhubungan dengan detail dari huruf terkecil, angka ataupun bentuk lainnya yang
dapat dikenali. Resolution acuity adalah kemampuan mata untuk mengenali dua titik
ataupun benda yang mempunyai jarak sebagai dua objek yang terpisah.
Tekanan intraokular ditentukan oleh kecepatan pembentukan aquos humor dan
tahanan terhadap aliran keluarnya dari mata. Tekanan intraokular diatur oleh dinamika
cairan aquos humor termasuk diantaranya yaitu produksi cairan aquos, aliran cairan,dan
tekanan vena episklera. Fungsi dari aquos humor adalah sebagai media refraksi,
pemberi nutrisi, dan juga mempengaruhi tekanan hidrostatik untuk stabilitas bola mata.
Tekanan bola mata pada manusia normal yang diukur dengan pemeriksaan tonometer
Aplanasi rata-rata berkisar 15,4 2,5 mmHg pada posisi duduk dan berkisar 16,1 2,8
mmHg pada posisi berbaring.
Distribusi tekanan intraokular rata-rata dari populasi umum berkisar antara 10-20
mmHg. Tekanan intraokular normal pada manusia dari data penelitian Beckerdengan
menggunakan tonometer Schiotz pada 909 populasi adalah 16,1 mmHg denganSD 2,8 mmHg, dan
dari penelitian Leydecker, dkk (1958) pada 10.000 populasimendapatkan nilai tekanan
intraokular 15,8 mmHg dengan SD 2,6 mmHg. PenelitianGoldmann pada 400 populasi
dengan menggunakan tonometer Aplanasi mendapatkannilai tekanan intraokular rata-rata
15,4 mmHg dengan SD 2,5 mmHg.
Tekanan intraokular merupakan pemeriksaan yang penting untuk mengetahui
adanya beberapa penyakit mata seperti myopia dan glaukoma karena pada keduakelainan
tersebut dijumpai adanya peningkatan tekanan intraokular. Tekanan 24,4 mmHg masih
dianggap sebagai batas tertinggi namun tekanan 20-22 mmHg sudah dianggap sebagai high
normal dan sudah harus diwaspadai.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi tekanan intraokular adalah sebagai berikut :

Umur

Umumnya usia muda mempunyai tekanan yang lebih rendah dibanding populasi
umum sedangkan pada orang tua, peninggian tekanan ini mempunyai hubungan dengan
tekanan darah yang meninggi, frekuensi nadi, dan obesitas. Dengan peningkatan umur,
pengeluaran aliran aquos humor menurun.

Jenis kelamin

Tidak banyak ditemukan perbedaan tekanan intraokular antara pria dan wanita.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Zaldi, bagian Ilmu Penyakit Mata USU pada
tahun 2003, tekanan intraokular ratarata pada pria adalah 15,52 0,87 mmHg (mata
kanan) dan 15,48 0,73 mmHg (mata kiri) dan pada wanita adalah 15,61 0,66 mmHg
(mata kanan) dan 15,59 0,81 mmHg (mata kiri). Umumnya wanita usia menopause
mempunyai tekanan intraokular yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan pria pada
umur yang sama.

Variasi diurnal

Variasi diurnal merupakan perubahan keadaan tekanan intraokular setiap hari.


Pada orang normal tidak melebihi 4 mmHg antara terendah dan tertinggi sedangkan pada
penderita glaukoma dapat lebih tinggi lagi. Umumnya tekanan intraokular meninggi pada
siang hari terutama pagi hari dan lebih rendah pada malam hari.

Gangguan refraksi

Terdapat hubungan antara myopia aksial dengan peninggian tekanan intraokular


dimana dengan bertambahnya panjang sumbu bola mata akan menyebabkan
meningkatnya tekanan intraokular.

Penyakit mata

Beberapa penyakit mata seperti uveitis dan ablasi retina dapat menyebabkan
penurunan tekanan-tekanan intraokular.
Imun Kornea
Imunitas Permukaan Kornea Lokal

Imunitas kornea lokal bergantung pada IgM, komplemen C1, dan sel Langerhans (LC) seluruhnya
ditemukan pada kornea perifer. IgG berdifusi ke dalam stroma dari daerah limbus dan akan mencapai
konsentrasi sebesar 50% dari konsentrasi serum. Inflamasi kornea dapat merangsang migrasi LC
sentripetal. Makrofag dapat diubah menjadi antigen-presenting cells (APCs) oleh interleukin-1 (IL-1)
yang dihasilkan dari sel epitel kornea. Peristiwa ini akan merangsang ekspresi molekul MHC kelas II
pada permukaan kornea. APCs selanjutnya akan memproses peptida antigenik agar membentuk
kompleks biner dengan molekul MHC kelas II. Makrofag juga mampu mencerna antigen yang
berbentuk partikel, termasuk bakteri utuh seperti stafilokokus dan amuba seperti Acanthamoeba, namun
makrofag lebih efektif dalam mencerna antigen terlarut seperti protein A dari Staphylococcus aureus yang
akan dimasukkan ke dalam kantung endositik. Ini berbeda dengan sel Langerhans yang hanya dapat
mencerna antigen terlarut. Limfosit T berfungsi mensekresikan sitokin di dalam jaringan yang bekerja
langsung terhadap sel target. Interferon (IFN-g) menstimulasi ekspresi molekul MHC kelas II di dalam
keratinosit, sel epitel, sel endotel, dan fibroblas yang semuanya dapat bertindak sebagai APCs yang
memproses dan menyajikan peptida imunofenik yang bergabung sebagai kompleks dengan molekul
MHC kelas II. Sel-sel tersebut memiliki kemampuan stimulasi sinyal yang berbeda-beda dan tidak dapat
menstimulasi sel T yang tidak aktif karena sel T tersebut membutuhkan aktivasi oleh IL- 2.
HIPERSENSITIVITAS TIPE-LAMBAT LOKAL
Hipersensitivitas tipe-lambat (delayed hypersensitivity, DH) dapat memicu reaksi imun yang
dimediasi oleh sel (cell-mediated). Contoh organisme yang menimbulkan DH adalah Onchocerca
volvulus dan Staphylococcus aureus.Reaksi imun ini diekspresikan oleh sel limfosit Th1 dan dimediasi
oleh sitokin. Mekanisme ini diduga menjadi penyebab ulkus kornea marjinal yang diakibatkan oleh
blefaritis rekuren oleh Staphylococcus aureus.
C. Keratitis
a. Definisi
Keratitis adalah peradangan pada salah satu dari kelima lapisan kornea.
Peradangan tersebut dapat terjadi di epitel, membran Bowman, stroma, membran
Descemet, ataupun endotel. Peradangan juga dapat melibatkan lebih dari satu lapisan
kornea.

b. Epidemiologi
Menurut Murillo Lopez (2006), Sekitar 25.000 orang Amerika terkena keratitis
bakteri per tahun. Kejadian keratitis bakteri bervariasi, dengan lebih sedikit pada
negara-negara industri yang secara signifikan lebih sedikit memiliki jumlah pengguna
lensa kontak. Insiden keratitis jamur bervariasi sesuai dengan lokasi geografis dan
berkisar dari 2% dari kasus keratitis di New York untuk 35% di Florida. Spesies
Fusarium merupakan penyebab paling umum infeksi jamur kornea di Amerika Serikat
bagian selatan (45-76% dari keratitis jamur), sedangkan spesies Candida dan
Aspergillus lebih umum di negara-negara utara. secara signifikan lebih sedikit yang
berkaitan dengan infeksi lensa kontak.
c. Etiologi
Keratitis dapat disebabkan oleh berbagai hal, seperti berkurangnya air mata,
keracunan obat, reaksi alergi pada pemberian obat topikal, dan reaksi terhadap
konjungtivitis menahun.
Histologi air mata
d. Macam-macam
1.

Berdasarkan kausa

a. Bakteri (paling sering)

Diplokok pneumonia

Streptokok hemolitikus

Pseudomonas aerogenosa

Moraxella liquefaciens

Klebsiella pneumoniae

Keratitis bakterial jarang terjadi pada mata normal dikarenakan adanya


mekanisme pertahanan alami kornea terhadap infeksi. Faktor predisposisi
yang umum terjadi adalah penggunaan lensa kontak, trauma, riwayat operasi
kornea, kelainan permukaan bola mata, penyakit sistemik dan imunosupresi.
Bakteri merupakan penyebab keratitis terbanyak di negara maju seperti
Amerika Serikat. Diperkirakan terdapat 30000 kasus keratitis bakterial di
Amerika Serikat setiap tahunnya. Penyebab terbanyak adalah spesies
stafilokokus dan pseudomonas. Di negara berkembang, streptokokus,
stafilokokus dan pseudomonas merupakan penyebab keratitis bakterial
terbanyak.
Tanda dan gejala klinis keratitis bakterial bergantung kepada virulensi
organisme dan durasi infeksi. Tanda utama adalah infiltrasi epitel atau
stroma yang terlokalisir ataupun difus. Umumnya terdapat defek epitel di atas
infiltrat stromal nekrotik yang berwarna putih-keabu-abuan. Tampilan
umum lainnya adalah abses stroma di bawah epitel yang intak. Infiltrat dan
edema kornea dapat terletak jauh dari lokasi infeksi primer. Ulserasi kornea
dapat berlanjut menjadi neovaskularisasi. Jika proteinase menyebabkan
stromal melting maka akan terbentuk descemetocele. Gejala yang dikeluhkan
dapat berupa rasa nyeri, pembengkakan kelopak mata, mata merah atau
mengeluarkan kotoran, silau, dan penglihatan yang buram.
Patogenesis
Perlekatan bakteri
Keratitis bakterial akan terjadi jika mikroorganisme dapat melawan
imunitas pejamu. Patogen akan melekat kepada permukaan kornea yang
cedera dan menghindari mekanisme pemusnahan oleh lapisan air mata dan
refleks kedip. Setelah cedera terjadi, bakteri yang bertahan akan melekat
kepada tepi sel epitel kornea yang rusak dan ke membran basalis atau stroma
pada tepi luka. Glikokaliks pada epitel yang cedera sangat rentan terhadap
perlekatan mikroorganisme.

Perlekatan mikrobial diawali oleh interaksi adhesin bakteri dengan


reseptor glikoprotein pada permukaan okular. Kemampuan bakteri untuk
melekat kepada defek epitel tampaknya berperan terhadap seringnya kejadian
infeksi oleh S. aureus, S. pneumoniae, and P. aeruginosa. Produksi biofilm
akan meningkatkan agregasi bakteri, melindungi mikroorganisme yang
melekat dan meningkatkan pertumbuhan pada tahap infeksi dini. Pili
(fimbriae) yang terdapat pada permukaan bakteri akan memfasilitasi
perlekatan P. aeruginosa dan Neisseria spp. ke epitel.
Invasi bakteri
Kapsul bakteri dan komponen permukaan lainnya memiliki peran yang
penting dalam menginvasi kornea. Sebagai contoh, beberapa bakteri
menghindari aktivasi jalur komplemen alternatif karena memiliki polisakarida
di kapsulnya. Lipopolisakarida pada subkapsul bakteri merupakan mediator
utama terhadap terjadinya inflamasi kornea. Inokulasi endotoksin pada
intrastroma kornea akan memicu respon peradangan. Invasi bakteri ke dalam
sel epitel dimediasi sebagian oleh interaksi antara protein permukaan sel
bakteri, integrin, protein permukaan sel epitel, dan pelepasan protease bakteri.
Organisme seperti as N. gonorrhoeae, N. meningitidis, Corynebacterium
diphtheriae, Haemophilus aegyptius, and Listeria monocytogenes

dapat

menembus permukaan epitel kornea yang intak melalui mekanisme ini.


Terkadang kolonisasi bakteri pada permukaan kornea dapat mendahului invasi
stroma.

Tanpa antibiotik

atau intervensi lainnya, bakteri dapat

melanjutkan proses invasi dan replikasi pada stroma kornea. Keratosit


memiliki kemampuan fagositosis, namun stroma avaskular yang terpajan tidak
dapat melindungi kornea. Mikroorganisme di stroma anterior akan
memproduksi enzim proteolitik yang akan menghancurkan matriks stroma
dan fibrilkolagen. Invasi bakteri dapat terjadi beberapa jam setelah terjadinya
kontaminasi luka kornea dengan agen eksogen atau setelah penggunaan lensa
kontak yang terkontaminasi. Peningkatan populasi bakterial tertinggi terjadi
pada 2 hari pertama infeksi stroma.

Setelah inokulasi terjadi, bakteri akan menginfiltrasi epitel sekitarnya


dan stroma yang lebih dalam di sekitar lokasi infeksi awal. Bakteri yang
bertahan cenderung ditemukan pada tepi infiltrat atau di dalam pusat ulserasi
kornea. Multiplikasi bakteri yang tidak terkendali di dalam stroma kornea akan
mengakibatkan pembesaran fokus infeksi ke kornea sekitarnya.
Inflamasi Kornea dan Kerusakan Jaringan
Berbagai mediator dan sel radang dapat dipicu oleh invasi bakteri dan
menimbulkan inflamasi yang mengakibatkan destruksi jaringan. Mediator
inflamasi yang terlarut meliputi sistem pembentuk-kinin, sistem pembekuan
dan fibrinolitik, imunoglobulin, komponen komplemen, amino vasoaktif,
eikosanoid, neuropeptida, dan sitokin. Kaskade komplemen dapat dipicu untuk
membunuh bakteri namun kemotaksin yang complement-dependent dapat
mengawali inflamasi fokal. Produksi sitokin seperti tumor necrosis factor
(TNF)-alpha and interleukin-1 akan mengakibatkan adhesi dan ekstravasasi
neutrofil di pembuluh darah limbus. Proses ini dimediasi oleh glikoprotein
adhesi sel seperti integrin dan selektin dan anggota superfamily imunoglobulin
seperti intercellular adhesion molecules (ICAMs) pada sel endotel vaskular dan
leukosit. Dilatasi vaskular konjungtival dan limbal berhubungan dengan
peningkatan permeabilitas yang akan menimbulkan eksudat radang di dalam
lapisan air mata dan kornea perifer. Neutrofil polimorfonuklir (PMNs) dapat
memasuki kornea yang cedera melalui lapisan air mata pada defek epitel,
namun umumnya PMN melewati limbus. Perekrutan sel radang akut akan
terjadi beberapa jam setelah terjadinya inokulasi bakteri. Dengan
terjadinya akumulasi neutrofil pada lokasi infeksi, semakin banyak sitokin dan
komponen komplemen yang dihasilkan untuk menarik lebih banyak leukosit.
Makrofag akan berpindah ke kornea untuk memusnahkan bakteri dan neutrofil
yang telah berdegenerasi. Inflamasi stroma yang berat dapat mengakibatkan
penghancuran stroma secara proteolitik dan nekrosis jaringan.
Kerokan dari kornea yang terinfeksi akan memperlihatkan kumpulan
neutrofil di antara jaringan debris nekrotik. Organisme dapat ditemukan pada

pemeriksaan pewarnaan Gram. Pemeriksaan kultur sangat membantu


identifikasi organisme penyebab dan sensitivitas antibiotik.

Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan kultur bakteri dilakukan dengan menggores ulkus kornea dan
bagian tepinya dengan menggunakan spatula steril guna untuk mengetahui
macam kuman penyebabnya kemudian ditanam di media cokelat, darah dan
agar Sabouraud, kemudian dilakukan pengecatan dengan Gram. Bila tidak
terdapat kumannya, dari macam-macam sel yang ditemukan, dapat diketahui
kira-kira penyebab keratitisnya. (hasilnya?)

Biopsy kornea dilakukan jika kultur negatif dan tidak ada perbaikan secara
klinis dengan menggunakan blade kornea bila ditemukan infiltrat dalam di
stroma. (hasilnya?)
Terapi
Dapat diberikan inisial antibiotik spektrum luas sambil menunggu hasil kultur
bakteri. Berikut tabel pengobatan inisial antibiotik yang dapat diberikan:

*Pengobatan

diberikan

setiap

jam,

pemberian

siklopegik

untuk

mengistirahatkan mata. (American Academy 0f Ophthalmology staff)


b. Virus
Herpes simpleks
Herpes zoster
Variola (jarang)
Vacinia (jarang)
Keratitis herpetik
Disebabkan oleh Herpes Simpleks Virus (HSV) dan herpes zoster.
Herpes Simpleks Virus (HSV) merupakan salah satu infeksi virus tersering pada
kornea. Virus herpes simpleks menempati manusia sebagai host, merupakan
parasit intraselular obligat, dapat ditemukan pada mukosa, rongga hidung,
rongga mulut, vagina dan mata. Penularan dapat terjadi melalui kontak dengan

cairan dan jaringan mata, rongga hidung, mulut, alat kelamin yang

mengandung virus.
Patofisiologi keratitis herpes simpleks dibagi dalam 2 bentuk :
Pada epitelial : kerusakan terjadi akibat pembiakan virus intraepitelial

mengakibatkan kerusakan sel epitel dan membentuk tukak kornea superfisial.


Pada stromal : terjadi reaksi imunologik tubuh terhadap virus yang menyerang
yaitu reaksi antigen-antibodi yang menarik sel radang ke dalam stroma. Sel
radang ini mengeluarkan bahan proteolitik untuk merusak virus tetapi juga
akan merusak stroma di sekitarnya.
Manifestasi klinis pasien dengan HSV keratitis mengeluh nyeri, fotofobia,
penglihatan kabur, mata berair, mata merah, tajam penglihatan turun terutama
jika bagian pusat yang terkena.
Infeksi primer herpes simpleks pada mata biasanya berupa konjungtivitis
folikularis akut disertai blefaritis vesikuler yang ulseratif, serta pembengkakan
kelenjar limfe regional. Kebanyakan penderita juga disertai keratitis epitelial
dan dapat mengenai stroma tetapi jarang. Pada dasarnya infeksi primer ini
dapat sembuh sendiri, akan tetapi pada keadaan tertentu di mana daya tahan
tubuh sangat lemah akan menjadi parah dan menyerang stroma.

Infeksi kekambuhan merupakan infeksi pada seseorang yang telah mempunyai


antibody terhadap herpes simpleks dan dicetuskan oleh berbagai trigger
mechanism.
Herpes zoster virus dapat memberikan infeksi pada ganglion Gaseri saraf
Trigeminus. Bila yang terkena ganglion cabang oftalmik maka akan terlihat

gejala-gejala herpes zoster pada mata. Gejala ini tidak akan melampaui garis
median kepala. Biasanya herpes zoster akan mengenai orang dengan usia
lanjut. Keratitis vesikular dapat terjadi akibat herpes zoster. Gejala yang
terlihat pada mata adalah rasa sakit pada daerah yang terkena dan badan
berasa hangat (kenapa?). Penglihatan berkurang dan merah (kenapa?).
Pada kelopak akan terlihat vesikel dan infiltrat pada kornea. Vesikel tersebar
sesuai dengan dermatom yang dipersarafi saraf trigeminus yang dapat progresif
dengan terbentuknya jaringan parut. Daerah yang terkena tidak melewati
garis meridian.
Pemeriksaan Penunjang
Usapan epitel dengan Giemsa multinuklear noda dapat menunjukkan sel-sel
raksasa, yang dihasilkan dari perpaduan dari sel-sel epitel kornea yang
terinfeksi dan virus intranuklear inklusi.

Terapi
Debridement
Cara efektif mengobati keratitis dendritik adalah debridement epithelial, karena
virus berlokasi didalam epithelial. Debridement juga mengurangi beban
antigenic virus pada stroma kornea. Epitel sehat melekat erat pada kornea
namun epitel yang terinfeksi mudah dilepaskan. Debridement dilakukan
dengan aplikator berujung kapas khusus. Obat siklopegik seperti atropine 1%
atau homatropin 5% diteteskan kedalam sakus konjungtiva, dan ditutup dengan
sedikit tekanan. Pasien harus diperiksa setiap hari dan diganti penutupnya

sampai defek korneanya sembuh umumnya dalam 72 jam.


Terapi Obat

IDU (Idoxuridine) analog pirimidin (terdapat dalam larutan 1% dan diberikan

setiap jam, salep 0,5% diberikan setiap 4 jam)


Vibrabin: sama dengan IDU tetapi hanya terdapat dalam bentuk salep
Trifluorotimetidin (TFT): sama dengan IDU, diberikan 1% setiap 4 jam
Asiklovir (salep 3%), diberikan setiap 4 jam.
Asiklovir oral dapat bermanfaat untuk herpes mata berat, khususnya pada

orang atopi yang rentan terhadap penyakit herpes mata dan kulit agresif.
Terapi Bedah
Keratoplasti penetrans mungkin diindikasikan untuk rehabilitasi penglihatan
pasien yang mempunyai parut kornea yang berat, namun hendaknya dilakukan
beberapa bulan setelah penyakit herpes non aktif.

c. Jamur
Candida
Aspergilin
Nocardia
Cephalosporum
Keratitis infektif yang disebabkan oleh jamur merupakan diagnosis
terbanyak pada negara India sedangkan data prevalensi di Indonesia belum
tersedia. Jamur terkadang merupakan flora normal eksternal di mata
karena berhasil diisolasi dari sakus konjungtiva pada 3-28% mata normal. Pada
mata yang mengalami penyakit, angka isolasi jamur dapat mencapai 17-37%.
Insidensi keratomikosis di Amerika Serikat adalah 6-20% dan umumnya terjadi
di daerah pedesaan. Aspergillus spp. merupakan penyebab terbanyak keratitis
yang timbul di seluruh dunia. Candida spp. dan Aspergillus spp. adalah
penyebab keratitis jamur terbanyak di Amerika Serikat.
Fusarium spp. dilaporkan sebagai penyebab keratitis jamur di Afrika,
India, China dan Jepang. Isolat terbanyak di negara India adalah Aspergillus
spp., Penicillium spp., dan Fusarium spp. Identifikasi jamur yang akurat sangat

penting untuk pencegahan paparan di masa yang akan datang dan penentuan
modalitas terapi terbaik.
Gejala keratitis jamur umumnya tidak seakut keratitis bakterial.
Gejala awal dapat berupa rasa mengganjal di mata dengan peningkatan
rasa nyeri. Tanda klinis yang paling sering ditemukan pada pemeriksaan
lampu celah juga umum ditemukan pada keratitis mikrobial seperti supurasi,
injeksi konjungtiva, defek epitel, infiltrasi stroma, reaksi radang di bilik
mata depan atau hipopion. Tanda klinis yang dapat membantu penegakan
diagnosis keratitis jamur filamentosa adalah ulkus kornea yang bercabang
dengan elevasi, batas luka yang iregular dan seperti kapas, permukaan
yang kering dan kasar, serta lesi satelit. Tampilan pigmentasi coklat dapat
mengindikasikan infeksi oleh jamur dematiaceous Keratitis jamur juga dapat
memiliki tampilan epitel yang intak dengan infiltrat stroma yang dalam.
Walaupun terdapat tanda-tanda yang cukup khas untuk keratitis jamur,
penelitian klinis gagal membuktikan bahwa pemeriksaan klinis cukup untuk
membedakan keratitis jamur dan bakterial.
Faktor risiko utama untuk keratitis jamur adalah trauma okular. Faktor
risiko lain untuk keratitis jamur adalah penggunakan kortikosteroid. Steroid
dapat mengaktivasi dan meningkatkan virulensi jamur, baik melalui
penggunaan sistemik

maupun

topikal.

Faktor risiko lainnya

adalah

konjungtivitis vernal atau alergika, bedah refraktif insisional, ulkus


kornea neurotrofik yang disebabkan oleh virus varicella-zoster atau
herpes simpleks, keratoplasti, dan transplantasi membran amnion. Faktor
predisposisi keratitis jamur untuk pasien keratoplasti adalah masalah jahitan,
penggunaan steroid topikal dan antibiotik, penggunaan lensa kontak, kegagalan
graft, dan defek epitel persisten. Trauma umumnya terjadi di lingkungan luar
rumah dan melibatkan tumbuhan. Pada tahun 2009 terjadi peningkatan insiden
keratitis jamur yang disebabkan oleh Fusarium spp. pada pengguna lensa
kontak yang dikaitkan dengan larutan pembersih ReNu with MoistureLoc.

Median usia pasien adalah 41 tahun dan 94% menggunakan lensa


kontak soft. Pada pemeriksaan pabrik, gudang, filtrat larutan maupun botol
Renu yang belum dibuka tidak ditemukan kontaminasi oleh jamur. Penyebab
yang paling mungkin adalah hilangnya aktivitas fungistatik akibat peningkatan
suhu yang berkepanjangan. Sejak ditarik dari peredaran pada tahun 2006,
angka keratitis jamur telah kembali menurun. Selain Fusarium, jamur lain yang
juga

dihubungkan

Acremonium,Alternaria,

dengan

penggunaan

Aspergillus,

Candida,

lensa

kontak

Collectotrichum,

adalah
and

Curvularia. Jamur dapat tumbuh di dalam matriks lensa kontak soft.


Penyakit sistemik juga merupakan faktor risiko bagi terjadinya keratitis
jamur, terutama yang berkaitan dengan imunosupresi. Suatu penelitian
mencatat angka insidensi diabetes mellitus sebesar 12% pada sekelompok
penderita keratitis jamur. Pasien yang menderita penyakit kronik dan
menjalani perawatan rawat inap intensif juga memiliki predisposisi untuk
terjadinya keratitis jamur, terutama Candida spp. Pada suatu penelitian di
Afrika ditemukan bahwa pasien yang positif-HIV memiliki kemungkinan
yang lebih besar untuk menderita keratitis jamur dibandingkan pasien yang
HIv-negatif. Hal ini juga ditemukan pada pasien penderita kusta. Keratitis
jamur pada anak jarang dijumpai pada penelitian di luar negeri. Biasanya
penyakit ini ditemukan setelah terjadi trauma organik pada mata. Pada suatu
penelitian, keratitis jamur pada anak memiliki prevalensi 18% dari seluruh
keratitis anak yang dikultur. Anamnesis sulit digali pada sebagian besar kasus,
oleh karena itu seluruh kasus dengan kecurigaan keratitis harus menjalani
pemeriksaan kultur jamur.
Diagnosis pasti dibuat dengan pemeriksaan mikroskopik dengan KOH 10%
terhadap kerokan kornea yang menunjukkan adanya hifa.
Prognosis keratitis jamur bervariasi sesuai dengan kedalaman dan ukuran lesi
serta organisme penyebab. Infeksi superfisial yang kecil umumnya memiliki
respon yang baik terhadap terapi topikal. Infeksi stroma yang dalam atau
dengan keterlibatan sklera maupun intraokular lebih sulit untuk ditangani.

Suatu penelitian intervensional prospektif mengevaluasi terapi natamisin


topikal pada 115 pasien keratitis jamur. Pada penelitian tersebut, 52 pasien
mengalami keberhasilan terapi, 27 menderita ulkus yang pulih walaupun
lambat,

dan

36

mengalami

kegagalan

terapi.

Analisis

multivariat

memperlihatkan bahwa kegagalan terapi berhubungan dengan ukuran lesi yang


lebih dari 14 mm2 , adanya hipopion, dan Aspergillus sebagai organisme
penyebab. Jika penanganan medis gagal, dapat dilakukan operasi.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan yang dapat dilakukan yaitu pemeriksaan kerokan kornea
(sebaiknya dengan spatula Kimura) yaitu dari dasar dan tepi ulkus dengan
biomikroskop. Dapat dilakukan pewarnaan KOH, Gram, Giemsa atau KOH +

Tinta India. Diduga akibat virus jika yang ditemukan banyak monosit.
Biopsi jaringan kornea dan diwamai dengan Periodic Acid Schiff atau

Methenamine Silver. (dilakukan kapan?)


Terapi
Pasien dengan infeksi jamur disarankan di rawat dan diberi pengobatan
natamisin 5% (keratitis jamur filamentosa, fusarium species), amphoterisin B

0,15%-0,30% (keratitis yeast, aspergillus species).


Diberikan pengobatan sistemik ketokonazole

siklopegik.
Bila disertai peningkatan intraokuler diberikan obat oral anti glaukoma.
Keratoplasti dilakukan jika tidak ada perbaikan.

(200-600

mg/hari)

dan

Penyulit yang dapat terjadi adalah endoftalmitis.


d. Alergi
Keratokonjungtivitis flikten
Merupakan radang kornea dan konjungtiva yang merupakan reaksi
imun yang mungkin sel mediated pada jaringan yang sudah sensitive
terhadap

antigen.

Dahulu

diduga

disebabkan

alergi

terhadap

tuberkuloprotein. Sekarang diduga juga alergi terhadap jenis kuman lain.


Untuk mengetahu penyebab sebaiknya dicai penyebab alerginya.
Pada benjolan akan terjadi penimbunan sel limfoid.

Secara

histopatologik ditemukan sel eusinofil dan tidak pernah ditemukan basil


tuberkulosis. Terdapat daerah yang berwarna keputihan yang merupakan
degenerasi hialin. Terjadi pengelupasan lapis sel tanduk epitel kornea.
Mata akan memberikan gejala lakrimasi dan fotofobia disertai rasa
sakit. Bentuk keratitis dengan gambaran yang bermacam-macam, dengan
ditemukannya infiltrate dan neovaskularisasi pada kornea. Gambaran
karakteristiknya adalah dengan terbentuknya papul atau pustul pada
kornea ataupun konjungtiva. Pada mata terdapat flikten pada kornea berupa
benjolan berbatas tegas berwarna putih keabuan, dengan atau tanpa
neovaskularisasi yang menuju ke arah benjolan tersebut. Biasanya bersifat
bilateral yang dimulai dari daerah limbus.
Pada gambaran klinis akan terlihat suatu keadaan sebagai hiperemia
konjungtiva, kurangnya air mata, menebalnya epitel kornea, perasaan
panas disertai gatal dan tajam penglihatan yang berkurang. Pada
limbus

tampak

benjolan

putih

kemerahan

dikelilingi

daerah

konjungtiva yang hyperemia. Bila terjadi penyembuhan akan terjadi


jaringan parut dengan neovaskularisasi pada kornea.
Pengobatan dengan steroid dapat diberkan dengan berhati-hati.
Tukak atau ulkus fliktenular
Tukak flikten sering ditemukan berbentuk sebagai benjolan abu-abu, yang
pada kornea terlihat sebagai:
Ulkus fasikular, berbentuk ulkus yang menjalar melintas kornea dengan
pembuluh darah jelas dibelakangnya.
Flikten multiple disekitar limbus.

Ulkus cincin, yang merupakan gabungan ulkus.


Keratitis fasikularis
Keratitis dengan pembentukan pita pembuluh darah yang menjalar dari
limbus ke arah kornea. Biasanya berupa tukak kornea akibat flikten yang
menjalar ke daerah sentral disertai fasikulus pembuluh darah.
Keratitis fasikularis adalah suatu penampilan flikten yang berjalan
(wander phlycten) yang membawa jalur pembuluh darah baru sepanjang
permukaan kornea. Pergerakan dimulai dari limbus.
Dapat berbentuk flikten multiple di sekitar limbus ataupun ulkus cincin,
yang merupakan gabungan ulkus cincin.
Keratokonjungtivitis vernal
Merupakan penyakit rekuren, dengan peradangan tarsus dan
konjungtiva bilateral. Penyebabnya tidak diketahui, akan tetapi didapatkan
terutama pada musim panas dan mngenai anak sebelum berusia 14 tahun.,
terutama laki-laki lebih sering disbanding perempuan.
Pasien umumnya mengeluh gatal, biasanya disertai riwayat alergi
keluarga ataupun dari pasien itu sendiri, blefarospasme, fotofobia,
penglihatan buram dan kotoran mata berserat-serat.
Sering ditemukan hipertrofi papil yang kadang-kadang berbentuk
Cobble stone pada kelopak atas dan konjungtiva daerah limbus.
Pengobatan yang diberikan obat topical antihistamin dan kompres
dingin.
e. Defisiensi vitamin (xeroftalmi)

f. Kerusakan N. V (keratitis neuroparalitik)

g. Tidak diketahui penyebabnya (Ulkus Moorens)

2.

Berdasarkan tempat

a. Keratitis Pungtata (Keratitis Pungtata Superfisial dan Keratitis Pungtata


Subepitel)
Keratitis yang terkumpul di daerah membrane Bowman, dengan infiltrate
berbentuk bercak-bercak halus.
Disebabkan oleh hal yang tidakspesifik dan dapat terjadi pada moloskum
kontagiosum. Akne rosasea, hepes simpleks, herpes zoster, blefaritis
neuroparalitik, infeksi virus, vaksinia, trakoma dan trauma radiasi, dry eyes,
trauma, lagoftalmos, keracunan obat seperti neomisin, tobramisin dan bahan
pengawet lainnya.
Biasanya terdapat bilateral dan berjalan kronis tanpa terlihatnya gejala
kelainan konjungtiva, ataupun tanda akut, yang biasanya terjadi pada dewa
-

muda.
Keratitis pungtata superficial
Memberikan gambaran seperti infiltar halus bertitik-titik pada permukaan
kornea. Menampakkan bintik-bintik pada pemulasan dengan fluoresin
terutama daerah pupil.
Disebabkan sindrom dry eye, blefaritis, keratopati lagoftalmus, kerucunan
obat topikal, sinar ultra violet, trauma kimia ringan, danpemakaian lensa
kontak. Pasien akan mengeluh sakit, silau, mata merah dan rasa kelilipan.
Pengobatan dengan pemberian air mata buatan, tobramisin tetes mata, dan

siklopegik.
Keratitis pungtata subepitel
Keratitis yang terkumpul di daerah membrane Bowman. Pada keratitis ini
biasanya terdapat bilateral dan berjaln ronis tanpa terlihatnya gejala kelainan

konjungtiva, atupun tanda akut, yang biasanya terjadi pada dewasa muda.
b. Keratitis Marginal
Merupakan infiltrat yang tertimbun pada tepi kornea sejajar dengan limbus.
Penyakit infeksi lokal konjungtiva dapat menyebabkan keratitis kataral atau

keratitis marginal ini. Keratitis marginal kataral biasanya terdapat pada pasien
setengah umur dengan adanya blefarokonjungtivitis.
Bila tidak diobati dengan baik maka akan mengakibatkan tukak kornea.
Biasanya bersifat rekuren, dengan kemungkinan terdapatnya streptococcus
pneumonia, Hemophilus aegepty, Moraxella lacunata, dan Esrichia. Infiltrate
dan tukak yang terlihat diduga merupakan timbunan kompleks antigenantibodi.
Penderita akan mengeluh sakit, seperti kelilipan, lakrimasi, disertai fotofobia
berat. Pada mata akan terlihat blefarospasme pada satu mata, injeksi
konjungtiva, infiltrate atau ulkus yang memanjang, dangkal unilateral dapat
tunggal atau multiple, sering disrtai neovaskularisasi dari arah limbus.
Bila tidak diobati dengan baik maka akan mengakibatkan tukak kornea.
Pengobatan yang diberikan adalah antibiotika yang sesuai dengan penyebab
infeksi lokalnya dan steroid dosis ringan. Pada pasien dapat diberikan vitamin
B dan C dosis tinggi. Pada kelainan yang indolen dilakukan kauteterisasi
dengan listrik ataupun AgNO3 di pembuluh darahnya atau dilakukan flep
konjungtiva yang kecil.
Penyulit yang terjadi berupa jaringan parut pada kornea yang akan
mengganggu penglihatan atau ulkus meluas dan menjadi lebih dalam.

c. Keratitis Interstisial

e. Gambaran klinis/gambaran kelainan


Tanda subyektif:
Sakit, terkecuali pada keratitis neuroparalitika, fotofobia, lakrimasi, blefarospasme,
gangguan visus.
Tanda obyektif:
Infeksi perikornea dilimbus kornea. Kalau hebat juga disertai dengan injeksi
konjungtiva. Mungkin juga terdapat peradangan dari iris dan badan siliar. Kornea
edema dan terdapat infiltrat.
f. Patofisiologi
Mata yang kaya akan pembuluh darah dapat dipandang sebagai pertahanan
imunologik yang alamiah. Pada proses radang, mula-mula pembuluh darah
mengalami dilatasi, kemudian terjadi kebocoran serum dan elemen darah yang
meningkat dan masuk ke dalam ruang ekstraseluler. Elemen-elemen darah makrofag,
leukosit polimorf nuklear, limfosit, protein C-reaktif imunoglobulin pada permukaan
jaringan yang utuh membentuk garis pertahanan yang pertama. Karena tidak

mengandung vaskularisasi, mekanisme kornea dimodifikasi oleh pengenalan antigen


yang lemah. Keadaan ini dapat berubah, kalau di kornea terjadi vaskularisasi.
Rangsangan untuk vaskularisasi timbul oleh adanya jaringan nekrosis yang dapat
dipengaruhi adanya toksin, protease atau mikroorganisme. Secara normal kornea yang
avaskuler tidak mempunyai pembuluh limfe. Bila terjadi vaskularisasi terjadi juga
pertumbuhan pembuluh limfe dilapisi sel.
Reaksi imunologik di kornea dan konjungtiva kadang-kadang disertai dengan
kegiatan imunologik dalam nodus limfe yang masuk limbus (kornea perifer) dan sklera
yang letaknya berdekatan dapat ikut terkait dalam sindrom iskhemik kornea perifer,
suatu kelainan yang jarang terjadi, tetapi merupakan kelainan yang serius.
Patofisiologi keadaan ini tidak jelas, Antigen cenderung ditahan oleh komponen
polisakarida di membrana basalis. Dengan demikian antigen dilepas dari kornea yang
avaskuler, dan dalam waktu lama akan menghasilkan akumulasi sel-sel yang memiliki
kompetensi imunologik di limbus. Sel-sel ini bergerak ke arah sumber antigen di
kornea dan dapat menimbulkan reaksi imun di tepi kornea. Sindrom iskhemik dapat
dimulai oleh berbagai stimuli. Bahwa pada proses imunologik secara histologik
terdapat sel plasma, terutama di konjungtiva yang berdekatan dengan ulkus. Penemuan
sel plasma merupakan petunjuk adanya proses imunologik. Pada keratitis herpetika
yang khronik dan disertai dengan neo-vaskularisasi akan timbul limfosit yang sensitif
terhadap jaringan kornea.
Karna kornea avaskuler, maka pertahanan pada waktu peradangan tak dapat segera
datang, seperti pada jaringan lain, yang mengandung banyak vaskularisasi. Maka
badan kornea, wandering cells, dan sel-sel lain yang terdapat didalam stroma

kornea, segera bekerja sebagai makrofag, baru kemudian disusul dengan dilatasi
pembuluh darah yang terdapat dilimbus dan tampak sebagai injeksi perikornea.
Sesudahnya baru terjadi infiltrasi dari sel-sel mononuclear, sel plasma, PMN, yang
mengakibatkan timbulnya infiltrat, yang tampak sebagai bercak berwarna kelabu,
keruh dengan batas-batas tak jelas dan permukaan tidak licin, kemudian dapat
terjadi kerusakan epitel dan timbulah ulkus (tukak kornea). Ulkus ini dapat
menyebar ke permukaan atau masuk kedalam stroma. Lebar dan dalamnya ulkus dapat
dilihat dengan tes fluoresin.
Jika peradangan hebat, tetapi belum ada perforasi dari ulkus, maka toksin dari
peradangan kornea dapat sampai ke iris dan badan siliar, dengan melalui membrane
Descemet, endotel kornea ke cairan coa. Dengan demikian iris dan badan siliar
meradang dan timbullah kekeruhan dicairan coa, disusul dengan terbentunya
hipopion (pus didalam coa). Hipopion ini steril tidak mengandung kuman. Karena
kornea pada ulkus menipis, oleh karena itu tekanan intra okuler dapat menonjol keluar
dan disebut karatektasi. Bila peradangan terus mendalam, tetapi tidak mengenai
membran Descemet, dapat timbul tonjolan membrane Descemet, yang disebut
Descemetocele atau mata lalat. Bila peradangan hanya dipermukaan saja, dengan
pengobatan yang baik dapat sembuh tanpa jaringan parut. Pada peradangan yang
dalam, penyembuhan berakhir dengan pembentukan jaringan parut, yang dapat berupa
nebula, macula atau leukoma.
Nebula

: timbul bila ulkus tidak begitu dalam dan tampak sebagai bercak seperti

awan, yang hanya dapat dilihat dikamar gelap denga cahaya buatan.

Makula

: terjadi bila ulkus lebih dalam dan tampak sebagai bercak putih

yangtampak dikamar biasa.


Leukoma : didapat bila ulkus lebih dalam lagi dan tampak sebagai bercak putih
seperti porselen, yang tampak dari jarak jauh.
Bila ulkusnya lebih mendalam lagi, maka timbullah perforasi. Adanya perforasi
membahayakan mata, oleh karena timbl hubungan langsung dari bagian dalam mata
dengan dunia luar, sehingga kuman dapat masuk kedalam mata dan menyebabkan
timbulnya endoftalmitis, panoftalmi dan berakhir dengan ptisis bulbi.
Dengan terjadinya perforasi, cairan bilik mata depan dapat mengalir keluar dan iris
mengikuti gerakan ini kedepan, sehingga iris melekat pada luka kornea yang perforasi
dan disebut sinekhia anterior atau iris dapat menonjol keluar melalui perforasi
tersebut dan disebut iris prolaps, yang menyumbat fistel. Pada waktu adanya
perforasi, tekanan intraokuler menurun. Oleh karena timbul peradangan dari iris dan
badan siliar, maka cairan coa mengandung fibrin dan fibrin ini menutup fistel sehingga
tekanan intraokuler menaik lagi. Dengan naiknya TIO, fibrin yang menutup fistel,
terlepas kembali dan fistelun terbuka lagi. Jadi fistel hilang timbul berganti-ganti,
sampai terbentuknya jaringan parut dikornea. Bila pada tempat perforasi kornea denga
iris prolaps, kemudian timbul jaringan parut, maka disebut leukoma adherans,
dimana pada tempat tersebut terjadi penyempitan sudut coa, oleh adanya sinekhia
anterior, menyebabkan aliran cairan bilik mata disudut coa menjadi terganggu, yang
dapat menyebabkan timbulnya peninggian TIO (glaucoma sekunder). Karena itulah
pada leukoma adherans jangan lupa mengukur tekanan intraokuler. Berhubung

jaringan parut pada leukoma adherans tidak kuat, adanya glaukoma sekunder dapat
menyebabkan menonjolnya leukoma tersebut, yang disebut stafiloma kornea, tampak
seperti anggur.
RESUME:
Ulkus kornea

Non perforata, kalau sembuh dapat timbulkan nebula, makula,


leukoma.
Perforata, kalau sembuh dapat timbulkan leukoma adherans,
stafiloma kornea.

Karena ada ulkus kornea menipis, menonjol, timbulkan keratektasi.


ulkus mendalam, sampai membrane Descemet, timbulkan
Descematocele.
g. Pemeriksaan
1.

Tes placido
Penderita membelakangi jendela atau sumber cahay. Pemeriksa menghadap penderita
dengan jarak pendek, sambil memegang alat placid. Alat placid dipasang didepan mata
penderita an pemerksa melihat bayangan Placido pada kornea penderita, melalui
lubang yang terdapat di tengah-tengah alat tersebut, sedang penderita melihat kearah
lubang tersebut. Yang diperhatikan gambaran sirkuler yang direfleksi pada permukaan
kornea penderita. Bila bayangan dikornea gambarannya sirkulernya teratur, disebut
placido (-), pertanda permukaan kornea baik. Kalau gambaran sirkulernya tidak
teratur, placido (+), berarti permukaan kornea tidak baik, mungkin ada infiltrat, ulkus
sikatriks, astigmatisme.

2.

Tes fluoresin

Yaitu dengan memasukkan kertas yang mengandung fluoresin steril kedalam sakus
konjungtiva inferior setelah terlebih dahulu dibei anestesi local, kemudian penderita
disuruh engedip beberapa waktu, dan kertas fluoresinnya dicabut. Pada tempat ukus
tampak berwarna hijau.
Fluoresin adalah bahan yang berwarna jingga merah yang bila disinari gelombang
biru akan memberikan gelombang hijau. Bahan larutan ini dipakai untuk melihat
terdapatnya defek epitel kornea, fistel kornea, atau yang disuntikan intravena untuk
dibuat foto pembuluh darah retina.
3.

Tes fistel
Setelah pemberian fluoresin, bola mata harus ditekan sedikit, untuk melepaskan fibrin
dari fistel, sehingg acairan coa dapat mengalir keluar melalui fistel, seperti air mancur,
pada tempat ulkus dengan fistel tersebut.

4.

Visus
Tahap I. Pengamatan:
Pemeriksa memegang senter perhatikan:
-Posisi bolamata: apakah ada juling
-Konjungtiva: ada pterigium atau tidak
-Kornea: ada parut atau tidak
-Lensa: jernih atau keruh/ warna putih
Tahap II. Pemeriksaan Tajam Penglihatan Tanpa Pinhole:
-Pemeriksaan dilakukan di pekarangan rumah (tempat yang cukup terang),
responden tidak boleh menentang sinar matahari.
-Gantungkan kartu Snellen atau kartu E yang sejajar mata responden dengan jarak 6
meter (sesuai pedoman tali).
-Pemeriksaan dimulai dengan mata kanan.
-Mata kiri responden ditutup dengan telapak tangannya tanpa menekan bolamata.

-Responden disuruh baca huruf dari kiri-ke kanan setiap baris kartu Snellen atau
memperagakan posisi huruf E pada kartu E dimulai baris teratas atau huruf yang
paling besar sampai huruf terkecil (baris yang tertera angka 20/20).
-Penglihatan normal bila responden dapat membaca sampai huruf terkecil (20/20).
-Bila dalam baris tersebut responden dapat membaca huruf atau memperagakan posisi
huruf E KURANG dari setengah baris maka yang dicatat ialah baris yang tertera angka
di atasnya.
-Bila dalam baris tersebut responden dapat membaca huruf atau memperagakan posisi
huruf E SETENGAH baris atau LEBIH dari setengah baris maka yang dicatat ialah
baris yang tertera angka tersebut.
Pemeriksaan Tajam Penglihatan dengan HITUNG JARI:
-Bila responden belum dapat melihat huruf teratas atau terbesar dari kartu Snellen atau
kartu E maka mulai HITUNG JARI pada jarak 3 meter (tulis 03/060).
-Hitung jari 3 meter belum bisa terlihat maka maju 2 meter (tulis 02/060), bila belum
terlihat maju 1 meter (tulis 01/060).
-Bila belum juga terlihat maka lakukan GOYANGAN TANGAN pada jarak 1 meter
(tulis 01/300).
-Goyangan tangan belum terlihat maka senter mata responden dan tanyakan apakah
responden dapat melihat SINAR SENTER (tulis 01/888).
-Bila tidak dapat melihat sinar disebut BUTA TOTAL (tulis 00/000).
Tahap III, Pemeriksaan Tajam Penglihatan dengan PINHOLE:
-Bila responden tidak dapat melanjutkan lagi bacaan huruf di kartu Snellen atau kartu
E atau hitung jari maka pada mata tersebut dipasang PINHOLE.
-Hasil pemeriksaan pinhole ditulis dalam kotak dengan pinhole. Cara penulisan huruf
yang terbaca sama dengan cara pemeriksaan tanpa pinhole.
-Dengan pinhole responden dapat melanjutkan bacaannya sampai baris paling bawah
(normal, 20/20) berarti responden tersebut GANGGUAN REFRAKSI.

-Dengan pinhole responden dapat melanjutkan bacaannya tetapi tidak sampai baris
normal (20/20) pada usia anak sampai dewasa berarti responden tersebut
GANGGUAN REFRAKSI dengan mata malas.
-Bila dengan pinhole responden tidak dapat melanjutkan bacaan huruf atau
memperagakan posisi huruf E maka disebut KATARAK.

5.

Bakteriologik
Pemeriksaan hapusan langsung dari usapan pada ulkus kornea. Bila banyak monosit
diduga akibat virus, leukosit PMN kemungkinan akibat bakteri, eusinofil menunjukkan
radang akibat alergi, limfosit terdapat pada radang yang kronis.
Pemeriksaan pembiakan dapat untuk mengetahui kuman penyebab.
Tes resistensi, agar pengobatan yang digunakan lebih tepat dan terarah.

6.

Sensibilitas kornea
Di bagian mata biasanya tes ini dilakukan bila kita curiga adanya Keratitis Herpetika,
dimana sensibilitas korneanya menurun.
1.Penderita dan pemeriksa saling berhadapan
2.Penderita diminta untuk melihat jauh
3.Pemeriksa memegang kapas yang dipilih ujungnya dan menyentuh kornea (yang
jernih).
4.Perhatikan apakah penderita mengedipkan mata atau mengeluarkan air mata.
5.Bila demikian berarti sensibilitas kornea baik.
h. Komplikasi
Komplikasi yang paling ditakuti dari keratitis adalah penipisan kornea dan
akhirnya perforasi kornea yang dapat mengakibatkan endophtalmitis sampai hilangnya
penglihatan (kebutaan). Beberapa komplikasi yang lain diantaranya:

Gangguan refraksi
Jaringan parut permanent
Ulkus kornea
Perforasi kornea
Glaukoma sekunder

i. Prognosis
Keratitis dapat sembuh dengan baik jika ditangani dengan tepat dan jika tidak diobati
dengan baik dapat menimbulkan ulkus yang akan menjadi sikatriks dan dapat
mengakibatkan hilang penglihatan selamanya.
Prognosis visual tergantung pada beberapa faktor, tergantung dari:

Virulensi organisme
Luas dan lokasi keratitis
Hasil vaskularisasi dan atau deposisi kolagen