Anda di halaman 1dari 41

TINJAUAN PUSTAKA PEMERIKSAAN RADIOLOGIS

USUS HALUS

Oleh:
Desy Handayani AFS

100100015

Marini Yusufina Lubis

100100031

M. Faqih Lazuardi

100100076

Fadila Safira

100100099

M. Arief Pratama

100100106

Pembimbing:
dr. Elvita Rahmi Daulay, M.Ked (Rad), Sp.Rad (K)

DEPARTEMEN RADIOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2014

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Puji dan syukur kehadirat Allah Subhanahu wa Taala yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
tinjauan pustaka yang berjudul Tinjauan Pustaka Pemeriksaan Radiologis Usus
Halus.
Selama penyusunan tinjauan pustaka ini, penulis banyak memperoleh
bantuan dari berbagai pihak. Dengan segala kerendahan hati, penulis ingin
menyampaikan ucapan terima kasih dan rasa hormat kepada:
1. dr. Elvita Rahmi Daulay, M.Ked(Rad), Sp.Rad(K) selaku dosen

pembimbing, yang telah sepenuh hati bersedia membimbing dengan


sabar hingga tinjauan pustaka ini dapat selesai dengan baik.
2. Seluruh Konsulen di Departemen Radiologis FK USU, yang telah

memberi saran dan masukan yang membangun dalam penyusunan


tinjauan pustaka ini.
3. Seluruh Dokter yang mengikuti PPDS di Departemen Radiologis FK

USU, yang turut serta memberikan pengarahan dan bimbingan untuk


tinjauan pustaka ini.
4. Seluruh Staf Departemen Radiologis FK USU, yang telah mendukung
penulis dalam penyelesaian tinjauan pustaka ini.
Penulis sangat menyadari tinjauan pustaka ini pasti tidak luput dari
kekurangan, baik isi materi, pengetikan, penggunaan bahasa, maupun tata letak.
Oleh karena itu, penulis memohon maaf dan menerima masukan berupa kritik dan
saran yang membangun agar kelak kesalahan tersebut dapat diperbaiki dalam
tulisan selanjutnya. Semoga tinjauan pustaka ini dapat berguna bagi kita semua,
InsyaAllah.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Medan, 20 Desember 2014
Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................................
DAFTAR ISI..................................................................................................
BAB 1 PENDAHULUAN.............................................................................
1.1.

Latar

i
ii
1
1

Belakang.............................................................................
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA....................................................................

2.1. Anatomi Usus Halus....................................................................

2.2. Pemeriksaan Radiologis Usus Halus.....................................

2.2.1. Pemeriksaan Non Kontras...........................................

2.2.2. Pemeriksaan dengan

Kontras..
2.2.3. Pemeriksaan Non

12
14

Konvensional
2.3. Kelainan Usus Halus............................................................
BAB 3 PENUTUP.........................................................................................

37

3.1. Kesimpulan..................................................................................

37

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................

38

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Seorang dokter dalam melaksanakan profesinya amat memerlukan

pemeriksaan radiologis sebagai salah satu penunjang pemeriksaan diagnostik, di


samping pemeriksaan laboratorium, patologi anatomi dan mikrobiologi. Namun,
komunikasi yang baik antara klinisi dan radiologis sangatlah penting karena
radiologis harus mengerti masalah klinis pasien untuk melakukan pemeriksaan
yang tepat dan menginterpretasikan hasil pemeriksaan dengan benar. Selain itu,
klinisi juga harus mengerti kekuatan dan keterbatasan hasil yang didapat dari
pemeriksaan radiologis tersebut.
Radiologis diagnostik adalah ilmu kedokteran yang memiliki spesialisasi
dalam pencitraan tubuh manusia untuk mendiagnosis kelainan dengan
menggunakan alat yang berhubungan dengan radiasi, magnetik, gelombang suara
ultrasonik, nuklir, dan teknologi lainnya.
Radiologis diagnostik dapat diterapkan hampir pada seluruh anggota tubuh
manusia, seperti jantung, paru, tulang, saluran pencernaan, saluran kemih, hingga
sistem pembuluh darah. Dalam tinjauan pustaka ini, akan dibahas pemeriksaan
radiologis usus halus yang dapat dilakukan untuk mendiagnosis ataupun
menyingkirkan diagnosis banding suatu penyakit pada saluran pencernaan
khususnya usus halus.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Anatomi Usus Halus


Proses pencernaan dan penyerapan nutrisi makanan muncul di usus halus.

Usus halus menyediakan luas permukaan yang besar untuk proses pencernaan dan
penyerapan dan area diperbesar dengan adanya villi dan mikrovilli. Usus halus
berdiameter 2,5 cm, panjang kira-kira 3 m.1
Usus halus terdiri atas tiga bagian yaitu duodenum yang merupakan bagian
terpendek. Kebanyakan daerah dudenum berada di retroperitoneum dan tidak
memiliki mesenterium. Dimulai dari sfingter piloris dan diteruskan hingga 25 cm
hingga mencapai jejunum. Jejunum memiliki panjang kira-kira 1 m hingga ileum.
Jejunum dimulai dari ligamentum Treitz di abdomen kiri bagian atas. Ileum
memiliki panjang 2 m hingga usus besar hingga mencapai sfingter iliocaecal.
Bagian paling distal dari usus halus adalah ileum terminal dan merupakan bagian
yang penting karena merupakan tempat predileksi penyakit pada usus halus yang
cukup sering. 1, 2
Suplai arteri sebagian besar berasal dari arteri mesenterika superior dan
drainase vena berasal dari vena mesenterika superior. Dinding usus halus terdiri
atas mukosa, submukosa propria muskularis, tunika serosa, dan ketebalannya
tidak melebihi 1-2 mm.2
Usus halus terletak memanjang dimulai setelah pilorus lambung dan
berakhir di katup iliosekum.Usus halus terbagi atas duodenum, jejunum dan
ileum. Duodenum terletak retroperitoneal dan tidak masuk ke dalam
mesenterikum. Jejunum terletak pada perut bagian kuadran kiri atas dan difiksasi
longgar ke dinding posterior abdomen oleh mesenterikum. Ileum terletak pada
perut bagian kuadran kanan bawah dan juga difiksasi oleh mesenterikum.2 Pada
pemeriksaan radiologis, duodenum dan jejunum memperlihatkan gambaran
feathery appearance (seperti bulu-bulu), sedangkan ileum memperlihatkan
gambaran tubular appearance (seperti tabung atau selang). 4

Gambar 2.1. Anatomi Usus Halus


2.2.

Pemeriksaan Radiologis Usus Halus


Pemeriksaan secara radiologis terhadap usus halus tetap menjadi penting

meskipun berbagai kemajuan telah dicapai dalam bidang endoskopi.Pemeriksaan


endoskopi serat optik tidak dapat memeriksa usus halus secara menyeluruh akibat
struktur usus halus yang panjang dan bergelombang.3 Pemeriksaan radiologis
untuk usus halus dapat dilakukan dengan beberapa cara berikut ini.
2.2.1.

Pemeriksaan Non Kontras


Pemeriksaan abdomen tanpa menggunakan kontras bisa dilakukan berupa

foto polos abdomen. Foto polos abdomen adalah suatu pemeriksaan tanpa
menggunakan kontras dengan sinar X yang menggambarkan struktur dan organ
didalam abdomen, yaitu lambung, hati, limpa, usus besar, usus kecil, dan
diafragma. Indikasi dilakukannya foto polos abdomen adalah akut abdomen
seperti obstruksi usus, perforasi saluran cerna, pankreatitis, batu ginjal atau batu
empedu, dan distribusi feses.
Pemeriksaan foto polos abdomen ini dilakukan tanpa persiapan.
Pemeriksaan ini untuk melihat gambaran distribusi dari gas dalam usus serta
kelainannya seperti udara bebas, fluid sinks, kidneys drop, transverse colon drops,
small bowel drops, breasts drop, lower abdomen bulges, dan diaphragm
descends.

Foto polos abdomen dapat dilakukan dalam 3 posisi, yaitu:


1. Berdiri, duduk, atau setengah duduk (erect)
Sinar horizontal, proyeksi AP. Yang dinilai adalah gambaran udara, ciran
dalam usus atau diluar usus, misalnya abses; gambaran udara bebas dibawah
diafragma; dan gambaran cairn di rongga pelvis atau abdomen bawah.
2. Tidur terlentang (supine)
Sinar dari arah vertical dengan royeksi antero posterior. Yang dinilai
adalah dinding abdomen, yang penting yaitu lemak preperitoneal kanan dan
kiri baik atau menghilang; garis psoas kanan dan kiri, baik, menghilang atau
bulging; batu yang radioopak, kalsifikasi atau benda asing yan radioopak;
gambaran udara dalam usus dapat menendakan berbagai hal yaitu normal;
pelebaran lambung, usus halus, dan kolon; penyebaran dari usus yang
melebar; keadaan dinding usus; jarak antara 2 dinding usus yang
berdampingan; dan kesuraman yang disebabakan oleh cairan diluar usus atau
massa tumor.
3. Left lateral decubitus (LLD) atau
Sinar horizontal, proyeksi AP. Yang dinilai hampir sama pada posisi
duduk, hanya udara bebas letaknya antara hati dengan dinding abdomen atau
antara pelvis dengan dinding abdomen.
2.2.2. Pemeriksaan dengan Kontras
Pada pemeriksaan dengan kontras, ada dua macam kontras yang
digunakan, yaitu kontras positif dan kontras negatif. Kontras positif yang biasa
digunakan adalah barium sulfat (BaSO4). Kontras positif lainnya yang sering
dipakai adalah zat yang mengandung iodium. Untuk pemeriksaan ginjal, kandung
empedu, pembuluh darah, limfe, dan sumsum tulang belakang digunakan zat yang
mengandung iodium. Pada beberapa penyakit seperti morbus Hirschsprung dan
atresia esofagus sering digunakan kontras yang mengandung iodium.2
Pada pemeriksaan dengan kontras negatif yang digunakan adalah udara,
karena paling murah, bagus, alamiah, dan mudah didapat. Sebagai kontras negatif
pengganti dalam hal demikian adalah CO2.2
Barium x-ray merupakan pemeriksaan radiografi dari saluran pencernaan.
Barium x-ray digunakan untuk mendiagnosis kelainan pada saluran cerna bila

dijumpai nyeri abdomen, perdarahan dari rektum, muntah yang belum dapat
dijelaskan penyebabnya, perubahan pergerakan usus, konstipasi atau diare kronik,
kesulitan atau nyeri saat menelan, penurunan berat badan yang belum jelas
penyebabnya5 dan untuk melihat adanya kelainan anatomi seperti tumor, ulkus,
kondisi inflamasi lainnya, polip, hernia, dan striktur.
Penggunaan

barium

dengan

x-ray

standard

memberikan

variasi

karakteristik dari saluran cerna. Barium merupakan bahan kering, putih, seperti
kapur yang dicampur dengan air untuk membuat larutan barium. Barium
merupakan penghisap x-ray dan terlihat berwarna putih pada film x-ray. Ketika
barium masuk ke saluran cerna, maka barium akan membentuk lapisan pada
dinding dari esofagus, lambung, usus besar, dan atau usus kecil sehingga kontur,
ukuran, bentuk dinding dan patensi akan terlihat pada x-ray.8
Pemeriksaan dengan kontras dapat menggunakan dua cara yaitu kontras
tunggal dan kontras ganda, yaitu :
1. Pemeriksaan dengan kontras tunggal
Pasien harus datang dalam keadaan puasa, agar pemeriksaan tidak
terganggu oleh sisa makanan. Setelah minum barium sulfat, maka dengan
fluoroskopi diikuti kontras sampai masuk ke dalam lambung, kemudian dibuat
foto-foto dalam berbagai posisi.2
2. Pemeriksaan dengan kontras ganda
Pada pemeriksaan dengan kontras ganda, pasien juga harus dalam keadaan
puasa. Sebelum dimulai, diberikan suntikan antispasmodik agar lambung dan
usus tenang dan lemas. Hal ini akan membantu membuat gambaran lambung
dan usus menjadi bagus dan halus. Pasien diminta untuk meminum barium
sulfat. Kemudian dilanjutkan dengan kontras ganda. Kontras negatif yang
paling bagus adalah udara. Sebuah karet tabung nasogastrik dimasukkan
lewat hidung dan esofagus ke dalam lambung, kemudian dipompakan udara.
Dengan demikian lambung dan bulbus duodeni menjadi kembung dan selaput
lendir menjadi jernih dan transparan.
Meskipun udara merupakan kontras negatif yang paling baik, namun tidak
disukai pasien. Sehingga, udara dapat diganti dengan bubuk effervescent. Pada

prinsipnya, serbukan ini terdiri atas natrium bikarbonat dan asam lemah.
Terjadi reaksi kimiawi antara kedua bahan tersebut yang menghasilkan gas
cukup banyak untuk pemeriksaan kontras ganda.2
Fluoroskopi sering digunakan saat barium x-ray. Fluoroskopi dapat
melihat gambaran saluran cerna. Sinar x-ray secara kontinu akan dilewatkan
ke bagian tubuh yang diperiksa, dan ditransmisikan ke monitor sehingga
bagian tubuh dan gerakannya dapat terlihat secara jelas. Fluoroskopi dapat
membantu radiolog untuk melihat pergerakan barium pada saluran cerna saat
dimasukkan ke mulut atau rektum.

Gambar 2.2. Foto polos abdomen normal

a. Barium Meal (Esophagus-Maag-Duodenal)


Pemeriksaan barium meal merupakan pemeriksaan untuk mengevaluasi
kelainan yang terjadi pada esofagus, lambung, dan duodenum. Bahan kontras

dimasukkan melalui mulut dan diperiksa dengan pesawat sinar-X dan


fluoroskopi.
Persiapan untuk pemeriksaan ini yaitu, dua hari sebelum pemeriksaan,
pasien melakukan diet rendah serat. Pasien tidak diperbolehkan merokok
dan mengunyah permen karet karena dapat merangsang sekresi asam
lambung air liur. Sehari sebelum pemeriksaan, pasien diberikan laxansia dan
diinstruksikan untuk puasa 8-9 jam sebelum pemeriksaan.
Teknik pemeriksaan dapat menggunakan dua metode yaitu kontras tunggal
dan kontras ganda.Untuk pemeriksaan dengan kontras tunggal digunakan
barium sulfat yang terdiri atas dua jenis yaitu thin barium dan thick barium.
Thin barium didapat melalui pencampuran barium dan air dengan
perbandingan 1:1, sementara thick barium

didapat melalui pencampuran

barium dan air dengan perbandingan 3:1. Lalu, pasien meminum suspensi
barium.
Pada pemeriksaan dengan kontras ganda, pasien diberikan spasmolitik
seperti buscopan atau glukagon secara intravena untuk menekan motilitas dan
memperbaiki kualitas film. Lalu, pasien meminum kontras barium sebanyak
30 mL. Kontras ganda didapatkan dengan memasukkan gas ke dalam
lambung dengan menggunakan bubuk effervescent. Pemeriksaaan dilakukan
dengan panduan fluoroskopi.
Pengambilan gambar radiografis esofagus menggunakan posisi Right
Anterior Oblique (RAO) 30-40 derajat, lateral, dan AP. Proyeksi RAO
bertujuan agar esofagus tidak superposisi dengan vertebrae dan jantung.
Pengambilan

gambar

radiografis

untuk

lambung

dan

duodenum

menggunakan posisi Right Anterior Oblique (RAO) 40-70 derajat, PA, lateral
kanan, dan Left Posterior Oblique (LPO). Proyeksi RAO untuk melihat
gambaran keseluruhan dari lambung dan duodenum. Posisi PA untuk melihat
pilorus dan korpus lambung dan proyeksi LPO untuk melihat bulbus
duodenum yang bebas superposisi dari pilorus lambung.4
b. Barium Follow-Through
Barium follow through merupakan pemeriksaan dengan menggunakan
larutan barium yang dimasukkan ke usus halus dan pada saat yang bersamaan

gambar x-ray diambil. Barium follow through digunakan untuk mendiagnosis


adanya ulkus, tumor, dan penyakit inflamasi usus halus seperti penyakit
Crohn, dan kolitis ulseratif. 5
Pemeriksaan ini merupakan lanjutan dari pemeriksaan lambung dengan
barium meal dan sering dikerjakan sebagai bagian dari pemeriksaan traktus
gastrointestinal bagian atas.2 Ada beberapa komponen untuk menunjang
keberhasilan pemeriksaan

yaitu persiapan

pasien, densitas dan volume

barium sulfat yang tepat.


Pasien harus dalam

keadaan puasa, sehingga usus halus dan caecum

dalam keadaan kosong. Boleh diberikan laxansia oral sebelum pemeriksaan.


Agen prokinetik seperti metoclopramide 20 mg dapat diberikan secara oral
sebagai tablet atau sirup. Suspensi barium dengan densitas rendah dapat
digunakan yaitu sekitar 300 mL yang dicapurkan dalam air, sehingga menjadi
larutan 600 mL. Setengah dari larutan ini diminum dan pasien dalam posisi
telentang, lalu film diambil pada waktu menit ke-10 dan 30. 3
Pada umumnya pemeriksaan dilakukan dengan kontras tunggal, karena
membuat kontras ganda sulit jika menginginkan gambaran seluruh usus halus.
Pemeriksaan kontras ganda pada duodenum cukup mudah. Pemeriksaan
follow

through merupakan pemeriksaan yang dilanjutkan

setelah

pemeriksaan lambung. Pemeriksaan follow through dapat dilakukan dengan


beberapa cara yaitu pasien diminta untuk meminum 200-300 mL sama seperti
pada pemeriksaan lambung dan perjalanannya dalam usus halus dilihat dengan
cara mengambil foto sinar X dalam selang waktu yang teratur sampai barium
memasuki kolon.3 Waktu untuk melewati usus halus ini bervariasi antar
pasien, ada yang dapat selesai dalam waktu tiga seperempat jam, dua jam,
bahkan lebih.4
Indikasi untuk melakukan pemeriksaan ini antara lain inflamasi usus halus
penyakit

Crohn,

dicurigai

terjadi

penyempitan

(striktur),

gangguan

penyerapan, fistula enterocutaneous, penilaian panjang usus halus pasca


reseksi usus halus, dan malarotasi.3

Cara lain adalah

meminta pasien minum sebagian dengan interval

beberapa saat sampai akhirnya seluruh suspensi habis. Dengan fluoroskopi


diikuti perajalanan barium sulfat dan dibuat foto dari usus yang terisi kontras.
Pemeriksaan berakhir bila ileum terminal telah dilewati dan kolon asendens
mulai terisi.4
Pada pemeriksaan, duodenum dan jejunum memperlihatkan gambaran
seperti bulu-bulu, sedangkan ileum memperlihatkan gambaran seperti tabung
atau selang. Ada beberapa keadaan dimana pemeriksaan follow through tidak
dapat dilakukan, salah satunya pada keadaan obstruksi dalam kolon atau
ileus.4
Setelah pemeriksaan, pasien diminta memakan makanan tinggi serat dan
minum air yang cukup untuk mengeluarkan barium dari tubuh. Dapat
digunakan enema atau laxansia untuk membantu pengeluaran barium dari
tubuh.5

Gambar 2.3. Gambaran barium follow-through normal.


c. Enteroklisis (Small Bowel Enema)
Enteroklisis digunakan untuk melihat pola mukosa usus dengan kontras
ganda. Ini merupakan pemeriksaan khusus untuk usus halus, dengan visualisasi
pada bagian superior dari pemeriksaan follow through. Pemeriksaan usus halus ini
dilakukan dengan cara memasukkan kontras ke dalam usus halus melalui
nasojejunal tube. Persiapan pada pasien adalah sama seperti follow through,
dengan atau tanpa laxansia satu hari sebelum pemeriksaan. Tuba yang telah
dirancang khusus dimasukkan melalui hidung atau diinjeksikan melalui tabung
dan diikuti dengan pemberian air ataupun zat methyl cellulose untuk
mendistensikan usus halus dan memberikan gambaran mukosa yang lebih detail.
Kemudian dilakukan manuver ke dalam fleksura duodenojejunal di bawah
panduan fluoroskopi. Selanjutnya, sekitar 1 liter barium yang telah dilarutkan

10

dimasukkan ke dalam tuba sampai saluran yang berisi barium secara terus
menerus masuk ke dalam ileum terminal. Teknik ini lebih cepat dalam mendeteksi
kelainan usus halus dibandingkan pemeriksaan barium follow through, walaupun
terasa kurang menyenangkan bagi pasien. 3,4
Indikasi melakukan pemeriksaan ini antara lain inflamasi usus halus
umumnya penyakit Crohn, sindroma malabsorpsi, dan penyakit-penyakit lain
seperti tumor dan divertikulum Merckel. Keuntungan dari pemeriksaan ini
dibandingkan dengan barium follow-through adalah enteroklisis memberikan
gambaran

mukosa

yang

lebih

detail,

sedangkan

kerugiannya

adalah

ketidaknyamanan pasien akibat penggunaan nasojejunal tube. 6

Gambar 2.4. Gambaran barium enema normal. Tanda panah menunjukkan


ileum terminal.

11

d. Ileostomi enema
Simptom yang mengikuti ileostomi dapat terjadi karena penyakit yang
rekuren, seperti penyakit Crohn, dan hernia stoma. Ileostomi enema
merupakan suatu metode dimana kateter Foley dimasukkan ke dalam stoma,
kemudia balon dikembangkan di dinding abdomen anterior, dan suspensi
barium diinjeksikan dengan spuit, lalu diikuti udara untuk efek kontras ganda.3

Gambar 2.5. Ileostomi enema normal


2.2.3. Pemeriksaan Non Konvensional
Pemeriksaan non konvensional dapat dilakukan untuk melihat gambaran
yang lebih detail dari berbagai sudut kecil organ tubuh. Pemeriksaan ini dapat
dilakukan dengan menggunakan kontras maupun non kontras.
1. Computerized Tomography (Tomografi)
Pemeriksaan tomografi usus halus mempunyai peranan tersendiri karena
dapat memperlihatkan gambaran penebalan dinding usus yang merupakan
tanda penting dari penyakit inflamasi usus halus dan limfoma, dan terkadang
dapat menunjukkan

neoplasma usus halus. Pemeriksaan tomografi dapat

dilakukan dengan

menggunan kontras ataupun nonkontras. Sebelum

dilakukan pemeriksaan, pasien dipuasakan 4-6 jam terlebih dahulu kemudian


diberikan Gastrografin peroral atau air untuk memperjelas gambaran usus

12

halus. Tomografi enteroklisis dapat diberikan dengan cara memasukkan


kontras melalui nasojejunal tube kemudian diikuti pemeriksaan tomografi. 1
Pemeriksaan tomografi komputer usus halus biasanya menggunakan
beberapa teknik khusus untuk melakukan gambaran, yaitu seperti pemeriksaan
tomografi

enterography,

menggunakan

dimana

pada

pemeriksaan

ini

gambaran

material kontras yang yang masuk ke intravena setelah

menelan cairannya yang berguna untuk menghasilkan gambaran resolusi yang


tinggi dari usus halus dan pada struktur lainnya di abdomen. Pemeriksaan
tomografi komputer pada usus halus biasanya dilakukan untuk membantu
menegakkan diagnosis penyakit infeksi, perdarahan atau trauma, neoplasma,
abses, fistula, dan obstruksi pada usus, dan pemeriksaan ini juga mampu
membantu diagnosis penyakit Crohn. Pemeriksaan pada penyakit ini biasanya
dilakukan untuk menentukan lokasi, tingkat keparahan, dan komplikasi yang
tidak terduga, yang berguna untuk memandu pengobatan yang efektif.

Gambar 2.6. Gambaran tomografi abdomen normal.


Perhatikan struktur feathery appearance pada jejunum (tanda panah)
2. Pemeriksaan non kontras

13

a.

Magnetic Resonance Imaging (Pencitraan Magnetik Resonansi)


Pemeriksaan Pencitraan Magnetik Resonansi umumnya dilakukan

untuk membuat diagnosis awal dan pemantauan dari penyakit-penyakit


inflamasi usus halus. Dibandingkan tomografi, pemeriksaan Pencitraan
Magnetik Resonansi kurang sensitif dalam mendeteksi penyakit seperti
inflamasi usus halus dan obstruksi. Namun sekarang sedang dilakukan
usaha-usaha untuk meningkatkan penggunaan Pencitraan Magnetik
Resonansi dalam pemeriksaan usus halus dengan dikembangkannya teknik
Pencitraan Magnetik Resonansi enteroklisis dan pengembangan media
kontras oral. Teknik menahan napas cepat (fast breath hold sequences)
baru dan penggunaan obat pelemas otot polos dilakukan untuk mengurangi
artefak pada Pencitraan Magnetik Resonansi dan meningkatkan kualitas
gambar. 3

b. Ultrasonografi (Sonografi)
Penggunaan sonografi pada pemeriksaan usus halus sangat bergantung
kepada tingkat kemampuan operator. Pemeriksaan ini bergantung kepada teknik
kompresi berjenjang (graded compression technique) untuk menilai keadaan usus
halus.Teknik sonografi Doppler dapat pula digunakan untuk menilai fungsi usus
halus. 2
c. Kedokteran Nuklir
Teknik dalam kedokteran nuklir, seperti penggunaan meta-iodo-benzylguanadine (MIBG) atau ocreotide dapat digunakan pada kasus tumor
neuroendokrin atau tumor karsinoid.Tenechtium-99m dapat digunakan untuk
mendeteksi divertikel Merckel. 3
2.3. Kelainan-Kelainan Usus Halus
1. Penyakit Crohn
Etiologi dari penyakit ini belum diketahui secara pasti. Penyakit ini
mempunyai karakteristik terjadinya inflamasi lokal granulomatosa kronis non-

14

spesifik.Umumnya mengenai bagian ileum terminal namun dapat menyerang


semua bagian usus halus dan usus besar. 3 Tanda-tanda yang dapat terlihat pada
pemeriksaan barium antara lain: terjadinya striktur lumen usus halus., panjang
striktur bervariasi, terkadang lumen usus halus menjadi sangat sempit sehingga
menimbulkan gambaran yang disebut string sign.
a. Terjadi kontraksi dari sekum, terutama bila terlihat gambaran penyakit
pada ileum terminal.
b. Terjadi dilatasi segmen usus halus di sebelah proksimal dari daerah
yang mengalami penyempitan.
c. Gambaran ulkus dapat terlihat.
d. Terjadi penebalan atau distorsi dari gambaran lipatan mukosa usus
halus.
e. Terlihat pemisahan bagian usus halus yang terkena penyakit dengan
yang normal akibat penebalan dinding lumen ataupun inflamasi
f. Terkadang dapat terlihat adanya fistula ke bagian usus halus yang lain,
kolon, kandung kemih, ataupun vagina.
Penggunaan

sonografi

dapat

membantu

mengidentifikasi

adanya

penebalan dari lipatan usus halus dan selain itu juga dapat menilai abses di
abdomen bagian bawah. Pada tomografi, lipatan usus halus yang terkena akan
memperlihatkan gambaran penebalan dinding lumen dan corakan lemak
mesenterikum akibat terjadinya inflamasi. Bila terdapat fistula, Pencitraan
Magnetik Resonansi digunakan untuk melihat dan menggambarkan fistula
tersebut. 3

15

Gambar 2.7. Gambaran penyakit Crohn


pada pemeriksaan barium dan tomografi.
Dijumpai striktur akibat ulserasi pada ileum
dengan permukaan irregular, dan dijumpai ada
Merupakan iskemik yang berakhirbagian
pada infark
usus halus,
suatu massa
yang pada
terpisah
dikarenakan
kejadian gawat darurat yang disebabkan peradangan.
oleh tersumbatnya arteri mesenterika
2. Iskemik Usus Halus

superior baik karena trombus maupun emboli. Dapat terjadi penebalan dan edema
dinding usus halus, dan kadang gas dapat terlihat di dalam dinding usus. Perforasi
ke peritoneum juga dapat terjadi yang ditandai dengan adanya gas di kavum
peritoneum. Dapat juga dijumpai udara pada arteri mesenterika maupun vena
porta pada kasus yang parah. Gambaran-gambaran ini paling baik terlihat pada
pemeriksaan tomografi. 3

16

3. Malabsorpsi
Beberapa jenis penyakit dapat menyebabkan malabsorpsi, baik zat-zat
makanan, vitamin, maupun mineral. Pemeriksaan defenitif untuk menentukan
malaabsorpsi adalah biopsi jejunum. 3
Tanda-tanda pada pemeriksaan radiologis yang dapat terlihat pada semua
jenis malaabsorpsi antara lain :

Dilatasi usus halus, dimana jejunum

ileum.
Penebalan lipatan mukosa usus halus.
Barium dapat menjadi encer akibat akumulasi cairan di usus halus

lebih terpengaruh dari pada

sehingga pada pemeriksaan tampak gambaran usus halus menjadi


kurang tebal. 3

Gambar 2.8. Gambaran malaabsobsi pada


pemeriksaan barium

4. Obstruksi usus halus

Terlihat dilatasi usus dan penebalan mukosa


lipatan usus. Pada lipatan usus bagian bawah
barium terlihat kurang jelas dikarenakan proses
dilusi. Tidak ada penyebab spesifik malabsorpsi,
namun pada kasus ini disebabkan gluten
enteropathy.

Obstruksi mekanikal usus halus dapat disebabkan karena faktor intrinsik


dan ekstrinsik. Penyebab ekstrinsik yaitu adanya adhesi atau perlengketan, hernia
(inguinal, femoral, atau internal) dan massa yaitu disseminated peritoneal
malignancy, sementara malaformasi kongenital atau peritoneal merupakan
penyebab ekstrinsik yang jarang. Penyebab intrinsik dapat dikarenakan adanya
penyakit mural disebabkan striktur yang terinflamasi karena penyakit Crohn atau
enteritis radiasi, iskemia, atau karena tumor usus primer.3

17

Foto polos abdomen dapat digunakan untuk melihat sangkaan obstruksi. Gas
dan cairan berkumpul di bagian proksimal obstruksi menimbulkan dilatasi
progresif pada usus halus. Beberapa gambaran pada film polos abdomen adalah :
Lingkar usus yang terdistensi di bagian sentral, sering berdiameter > 3 cm.
Lapisan transversa dari valvula conniventes umumnya melebihi seluruh
usus halus.
Tidak adanya gas pada usus besar, jika terdapat gas, ini mengindikasikan
adanya obstruksi yang baru atau tidak komplit.
Jika terdapat obstruksi tinggi, seperti pada duodenum atau jejunum bagian
atas, tanda-tanda di atas mungkin tidak didapatkan dan tidak terdapat
distensi usus halus atau batas cairan.
Lokasi obstruksi dapat diperkirakan. Jika hanya ditemukan beberapa lingkar
usus yang mengalami distensi, maka obstruksi sepertinya berada di jejunum
bagian atas, namun jika lingkar usus halus yang terlihat cukup banyak, ini
mengindikasikan bahwa obstruksi berada di ileum; semakin banyak jumlah
lingkar usus yang mengalami deistensi, semakin distal lokasi obstruksi. 4

18

Gambar 2.9. Pada posisi supine (kiri) terlihat gambaran dilatasi lipatan dari usus
halus pada abdomen atas. Usus halus mengalami dilatasi abnormal dibandingkan
dengan usus besar yang kolaps. Pada foto sebelah kanan terlihat gambaran multiple
air-fluid level pada bagian permukaan yang mengalami dilatasi.

Gambar 2.10. Pada gambaran tomografi dengan pemotongan aksial abdomen


bagian bawah terlihat multiple fluid-filled dan dilatasi lipatan usus halus (panah
putih) dan kolaps kolon kanan (panah merah)

5. Ileus dan pseudo obstruksi


Ileus paralitik adalah dilatasi abnormal dari usus karena adanya disfungsi
dari otot halus, dilatasi dapat terjadi terlokalisasi ataupun difus. Penyebab dari
ileus paralitik cukup banyak dapat berupa sepsis, obat-obatan seperti opioid,
gangguan elektrolit seperti hiponatremia, infark myokardial, trauma abdomen,
inflamasi intraabdomen, dan hematoma retroperitoneal. Ditandai jika tidak adanya
tanda obstruksi fokal dan dilatasi usus halus serta usus besar. Untuk membedakan
gambaran radiologis foto polos ileus obstruksi dengan ileus paralitik adalah ileus
paralitik cenderung memiliki gambaran air fluid level yang tidak dapat dibedakan

19

(seluruh daerah air fluid level memiliki tinggi yang sama). Gambaran sentinel
loop (dilatasi usus yang terlokalisir) menandakan adanya inflamasi terlokaslisir
di abdomen karena inflamasi.
Pseudoobstruksi dapat disebabkan karena keadaan miopati viseral atau
neuropati. Ketika mencurigai pesudoobstruksi, perlu dipikirkan mengenai adanya
sindrom paraneoplastik, terutama karsinoma sel kecil. Pasien sering mengeluhkan
nyeri perut dan distensi, yang memberikan episode obstruksi mekanikal.
Diagnosis dari ileus pada foto polos menunjukkan gambaran dilatasi usus yang
atoni. 3

Gambar 2.11. (A) Gambaran foto polos abdomen pada ileus paralitik menunjukkan usus
terisi gas namun tidak dilatasi. (B) Gambaran sentinel sign pada foto polos abdomen
menunjukkan adanya bagian ileus yang terisi oleh udara menunjukkan ileus terlokalisir
diakibatkan adanya gangguan dari kolon.

20

Gambar 2.12. Tomografi pada ileus tanpa adanya gambaran lengkungan


usus yang normal, dicurigai adanya ileus paralitik.
6. Malarotasi
Sewaktu berada dalam kandungan, usus halus mengalami beberapa kali
putaran hingga ke posisi normal saat kelahiran.Kegagalan perputaran ini dapat
mengakibatkan usus halus terletak di sebelah kanan abdomen dan kolon di sebelah
kiri abdomen.Pada anak-anak sangat penting untuk dapat mengenali kelainan
rotasi bahkan yang kecil sekalipun karena keadaan ini dapat berkembang menjadi
volvulus, penyakit yang sangat membahayakan nyawa. 3
Pada pemeriksaan radiologiss foto polos didapati gambaran dilatasi usus
halus proksimal. Sedangkan pada pemeriksaan tomografi dijumpai bentuk
konfigurasi U dan fluid-filled pada usus halus terutama dibagian yang
mengalami rotasi. Dijumpai mesenterium terotasi tajam disekitar bagian yang
terpelintir (whirls sign). Bentuk yang mengalami rotasi menunjukkan proses
nekrosis atau iskemik.

21

Gambar 2.13. (A) Barium follow through volvulus pada usus halus.
(B) Gambaran volvulus pada pemeriksaan tomografi dijumpai bentuk
konfigurasi U dan fluid-filled pada usus halus terutama dibagian yang
mengalami rotasi.

Gambar 2.14. Dijumpai mesenterium terotasi tajam disekitar bagian yang


terpelintir (whirls sign).

22

Gambar 2.15. Gambaran foto polos volvulus menunjukkan adanya dilatasi


lambung dan penumpukan gas di distal.

Gambaran 2.16. Sonorafi pada volvulus menunjukkan adanya whirlpool sign

23

Gambar 2.17. Sonografi dengan Doppler menunjukkan arah dari arteri


mesenterika superior dan vena mesenterika superior yang berlawanan pada
volvulus.
7. Necrotizing Enterocolitis (NEC)
NEC merupakan

penyakit dengan predileksi pada bayi prematur.

Penyebab dari penyakit ini belum diketahui tetapi diduga karena iskemia pada
bayi yang rentan mengalami stress. Berbagai keadaan seperti prematuritas,
kelainan jantung bawaaan, asfiksia, sindrom gangguan pernapasan, kateterisasi
umbilikus, infeksi, dan komplikasi persalinan sering kali dihubungkan dengan
timbulnya NEC. Hampir 90 % kasus terjadi pada 24 jam pertama setelah lahir
hingga hari ke-10. Gejala klinis berupa bayi tidak mau makan, feses bercampur
empedu, perut kembung, diare dan feses bercampur darah, distress pernapasan
dengan asidosis, dan sepsis.
Inflamasi dimulai dari permukaan mukosa dan berlanjut menjadi
perdarahan, nekrosis koagulatif dengan hilangnya integritas mukosa, nekrosis
transmural dan perforasi. NEC dapat melibatkan bagian usus besar maupun kecil,
tetapi lokasi tersering adalah ileum terminal. 2,9
Pada pemeriksaan foto polos abdomen dengan posisi telentang merupakan
posisi yang paling sering digunakan untuk mendiagnosis NEC. Pemeriksaan foto
polos menunjukkan :

Dilatasi usus dapat menyeluruh atau usus halus saja tergantung pada
bagian usus yang terkena. Akibat gangguan fungsi biasanya ada hubungan
dengan beratnya klinis, sedangkan distribusi dilatasi usus pada

pemeriksaan serial berhubungan dengan progresivitas klinis.


Pneumatosisi intestinalis, yaitu bayangan udara intramural pada dinding
usus, lambung, atau rektum. Terlihat sebagai gelembung dan garis paralel
dalam dinding usus yang merupakan tanda patognomonik pada NEC yang
timbul dan menghilang dengan cepat dalam waktu singkat, biasanya satu
jam.

24

Udara dalam vena porta berupa gambaran gelembung radiolusen yang

bercabang-cabang di daerah perifer hati.


Pneumoperitoneum, tampak udara bebas atau cairan di dalam rongga
peritoneum dan dilatasi usus yang persisten. Gambaran ini merupakan
tanda bahwa harus segera dilakukan tindakan bedah. Gambaran udara
bebas dapat berupa udara di kedua sisi usus (tanda Rigler), dan udara
mengisi kavitas abdomen yang memperjelas ligamen falsiformis ( football
sign).
Pada pemeriksaan sonografi, dapat terlihat penebalan dinding usus,

perubahan kondisi vaskular usus berupa hipervaskular pada stadium awal atau
hipovaskular (infark pada stadium lanjut), gas di intramural berupa fokus
hiperekoik di dalam dinding usus, dan cairan bebas dengan debris yang ekogenik
bila terjadi perforasi. 2,

Gambar 2.12. Pneumatosis intestinalis. Tanda panah merah menandakan


radiolusensi linear dari dinding usus yang menandakan udara masuk ke
dalam lumen usus.

25

Gambar 2.13. Foto polos abdomen menunjukkan distensi multipel lipatan


usus dengan gas intramural.

Gambar 2.1.14. Foto polos abdomen menunjukkan lusensi di hati yang


dicurigai sebagai gas di vena porta.

26

Gambar 2.1.15. Foto polos abdomen menunjukkan tanda Rigler.

Gambar 2.16. Foto polos abdomen menunjukkan football sign.

27

Gambar 2.17. Sonografi yang menunjukkan fokus ekogenik di dalma dinding


usus di hepar kuadran kanan bawah menunjukkan pneumatosis intestinalis.
8. Intususepsi (Invaginasi)
Intususepsi

menggambarkan

masuknya

segmen

proksimal

usus

(instususeptum) ke dalam lumen usus distal (intususepiens). Paling sering di


daerah iliokolika, tetapi dapat juga jejuno-ileal dan kolokolika. Intususepsi
biasanya muncul pada anak berumur tiga bulan pertama. Beberapa keadaan ini
dapat menjadi lead point untuk intususepsi berupa malignansi sistem saluran
cerna, penyakit kongenital berupa divertikulum Meckel, periapendisitis ataupun
trauma mural. Intususepsi menyebabkan aliran vena balik menjadi terganggu
sehingga menimbulkan edema dan membatasi aliran darah. Suplai arteri ke usus
juga terganggu dan timbul iskemia serta nekrosis.2,9
Gejala klinis intususepsi berupa nyeri perut bagian atas, muntah, adanya
massa di abdomen bagian kuadran kanan atas, feses berdarah pada pemeriksaan
rektum.2
Gambaran radiologis berupa foto polos menunjukkan tanda-tanda
obstruksi usus halus, kadang tampak sebagia bayangan yang menyerupai sosis
(sausage sign) di bagian tengah abdomen. Pada sonografi menunjukkan doughnut
sign atau pseudokidney sign. Dengan barium enema tampak defek pengisian
barium yang konveks, barium akan terhenti sementara dan memberikan gambaran
coiled spring apabila barium melingkari intususeptum. Kontraindikasi untuk

28

barium enema adalah perforasi. Pada tomografi akan terlihat konfigurasi usus
dalam usus, dimana lapisan usus terduplikasi membentuk cincin konsentris (target
sign) pada posisi transversal atau seperti sosis ketika gambar dibuat
longitudinal.2,9

Gambar 2.18. Foto polos abdomen


menunjukkan jaringan lunak berbentuk sosis
(sausage sign).

Gambar 2.19. Pemeriksaan barium enema dengan kontras


water soluble

29

Gambar 2.20. Pemeriksaan sonografi menunjukkan gambaran doughnut


sign dan pseudokidney sign.

Gambar 2.21. Pemeriksaan tomografi pada abdomen dan pelvis menujukkan


lipoma di ileum (garis merah) sebagai lead point untuk intususepsi yang
ditunjukkan target sign (garis biru), dan lapangan longitudinal menunjukkan
gambaran sosis (garis hijau).

30

j.

Ulkus Duodenum
Mayoritas dari ulkus duodenum terjadi pada ampulla duodenum.Ulkus

biasanya terjadi pada dinding anterior dan posterior dengan frekuensi yang sama.
Seperti pada lambung, ulkus pada dinding dependen terisi dengan barium. Ulkus
pada dinding non dependen terukir dengan barium dan terlihat seperti cincin.
Akan sulit untuk melapisi dinding anterior sehingga foto telungkup dan tegak dari
ampulla duodenum harus diambil. Ulkus pada umumnya berbentuk bulat, tetapi
mungkin berbentuk linear seperti ulkus lambung, terutama pada masa
penyembuhan. Spasme dan jaringan parut bisa terjadi pada batas ampulla
duodenum,

mendistorsi

bentuk

dan

sering

menghasilkan

clover

leaf

appearance yang khas. Jika telah terdapat bekas scar pada duodenum bisa sulit
untuk mendiagnosa ulserasi berulang. Ulkus yang sangat besar dapat menutupi
seluruh ampulla duodenum, dan apabila pinggirannya halus, ulkus tersebut dapat
disangka sebagai ampulla yang normal.

Gambar 2.22 Tanda panah menunjukkan clover leaf appearance yang


merupakan ciri khas ulkus duodenum
k.

Tumor usus halus


Tumor usus halus merupakan kasus yang jarang dan seringkali sulit untuk

didiagnosis karena temuan-temuan klinis yang tidak spesifik dan diagnosis yang

31

biasanya tidak diperhitungkan, hal ini biasanya berujung pada presentasi penyakit
yang parah dan prognosis yang buruk. Biasanya banyak tumor jinak cenderung
tetap kecil dan asimtomatik, sehingga pasien yang datang dengan keluhan
kemungkinan memiliki tumor yang ganas.

Tumor jinak
Ada banyak jenis dari tumor jinak usus halus, tumor adenoma dan tumor
stroma merupakan tumor yang paling umum. Presentasi klinis biasanya
terjadi ketika tumor sudah cukup besar untuk menyebabkan obstruksi pada
usus. Selain itu pendarahan samar dan anemia bisa menjadi gejala. Tumor
stroma jinak (leiomioma), tumor jinak usus halus paling umum, muncul
dari otot polos muskularis propria. Tumor ini biasanya terdapat jejunum
dan mungkin memiliki komponen endoluminal dan exoluminal. Tumor ini
biasanya mudah dilihat dengan studi kontras apabila sudah cukup besar
untuk menyebabkan obstruksi atau intususepsi, dan mungkin juga dapat
terlihat pada CT scan. Adenoma mirip secara morfologis dan histologis
dan diklasifikasikan sebagai: tubular, vili, tubulovillous .

Gambar 2.23. Massa homogen berbatas tegas dengan permukaan licin.

Tumor Ganas
Tumor ganas usus halus sering dikaitkan dengan prognosis yang suram,
tidak lain karena presentasi penyakit yang terlambat. Terdapat asosiasi

32

antara adenokarsinoma dengan Crohn penyakit dan coeliac penyakit dan


morfologi pada dasarnya mirip dengan yang terlihat di usus besar :
Annular, shouldered, dan apple core lesion. Limfoma berasal dari nonHodgkin dan merupakan tumor ganas usus halus yang paling umum.
Sekali lagi, ada hubungandengan coeliac penyakit dan Crohn penyakit
(Greenstein et al 1992), dan leukemia. Limfoma juga bisa merupakan
sekunder dari tempat lain.

Gambar 2.24. Lesi yang pada gambaran radiologis tumor ganas usus halus.
l.

Atresia Ileum
Atresia ileum merupakan kelainan kongenital dimana dijumpai stenosis

total dari bagian ileum. Gejala klinis berua perut kembung. Pada gambaran
radiologis menunjukkan adanya pelebaran usus-usus halus, pada posisi supine
tampak gambaran air fluid level dalam usus halus. Pada barium enema tampak

33

kaliber kolon kecil, sering kali disertai dengan perkapuran peritonitis mekonium
akibat adanya perforasi intrauterine.

Gambar 2.25. Atresia ileum


l.

Atresia duodenum
Atresia duodenum

merupakan kelainan kongenital dimana dijumpai

penyempitan secara komplit sehingga menghalangi jalannya makanan dari


lambung menuju usus untuk mengalami proses penyerapan. Pada foto abdomen
posisi supine dijumpai gambaran double bubble sign. Gambaran ini berupa dua
struktur berisi udara pada abdomen atas dengan atau tanpa udara dibagian

34

distalnya. Bubble yang terletak di proksimal kiri adalah lambung yang terisi udara
dan cairan. Bubble kedua yang terletak disebelah kanan garis tengah adalah
duodenum proksimal.
Pada obstruksi komplit memberkan gambaran double bubble tanpa udara
di bagian distal. Sedangkan obstruksi parsial pada duodenum seperti duodenal
web atau gambaran dobble bubble dengan udara dibagian distal.

Gambar 2.26. (A) Gambaran double bubble sign. (B) Gambaran atresia
duodenum dengan kontras

35

Gambar 2.27. Atresia duodenum dengan tomografi.

Gambar. 2.28. Sonografi pada atresi duodenum menunjukkan adanya double


bubble sign.

36

BAB 3
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
1. Pemeriksaan radiologis traktus pencernaanvus terdiri dari foto X-ray,
ultrasonografi (sonografi), computerized tomography (tomografi), dan
magnetic resonance imaging (Pencitraan Magnetik Resonansi).
2. Pemeriksaan radiologis traktus pencernaan usus dengan menggunakan foto
X-ray terbagi atas dua golongan besar yaitu pemeriksaan tanpa kontras dan
pemeriksaan dengan kontras.
3. Pemeriksaan dengan kontras pada usus halus meliputi foto polos dengan
kontras (Barium Meal, Barium Follow-Through, Enteroklisis atau Small
Bowel Enema, Ileostomi enema, tomografi atau Computed Tomography)
sedangkan pemeriksaan non kontras (Pencitraan Magnetik Resonansi atau
Magnetic Resonance Imaging, sonografi, dan kedokteran nuklir).

37

DAFTAR PUSTAKA
1. Tortora, Gerard J & Bryan, Derrickson., 2009. Principles of Anatomy and
Physioloygy Twelfth Edition.Wiley : Manhattan.
2. Rasad, Sjahriar., 2010. Radiologis Diagnostik. FK UI : Jakarta.
3. Sutton, David., 2003. Textbook of Radiology and Imaging. Elsevier.
4. Patel, Pradip R., 2007. Letomografiure Notes Radiologis Edisi Kedua.
Erlangga : Jakarta.
5. Paul B, Adam WM, Jeremiah CH. Applied Radiologiscal Anatomy. Edisi
2. UK: Cambridge University press; 2012.
6. Lisle DA. Imaging For Students. Italy: Giunti; 2001.