Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Kelainan bawaan (kelainan kongenintal) adalah suatu kelainan pada
ketidaksempurnaan pada penyambungan bibir bagian atas yang biasanya
berlokasi tepat dibawah hidung atau deformitas ( kelainan ) daerah mulut
berupa celah atau sumbing atau pembentukan yang kurang sempurna semasa
embrional berkembang, bibir atas bagian kanan dan bagian kiri tidak tumbuh
bersatu..
Labioskizis dan labiopalatoskizis adalah anomali perkembangan pada
1 dari 1.000 kelahiran. Kelainan bawaan ini berkaitan dengan riwayat
keluarga, infeksi virus pada ibu hamil trimester I. jika tidak diobati akan
terjadin kesulitan dalam berbicara pada anak.
Ada beberapa kelainan bawaan diantaranya adalah labioskizis,
labiopalatoskizis, atresia esofagus, atersia rekti dan ani, obstruksi biliaris,
omfalokel, hernia diafragmatika, atresia duodeni, meningokel, ensefalokel,
hidrosefalus, fimosis, dan hipospadia. Salah satu kelainan bawaan yang akan
di jelaskan lebih jauh disini adalah labioskizis dan labiopalatoskizis.
Labioskizis dan Labiopalatoskizis merupakan deformitas daerah
mulut berupa celah atau sumbing atau pembentukan yang kurang sempurna
semasa embrional berkembang, bibir atas bagian kanan dan bagian kiri tidak
tumbuh bersatu. Belahnya belahan dapat sangat bervariasi, mengenai salah
satu bagian atau semua bagian dari dasar cuping hidung, bibir, alveolus dan
palatum durum serta molle. Suatu klasifikasi berguna membagi strukturstruktur yang terkena menjadi Palatum primer meliputi bibir, dasar hidung,
alveolus dan palatum durum dibelahan foramenincisivumPalatum sekunder
meliputi palatum durum dan molle posterior terhadap foramen. Suatu belahan
dapat mengenai salah satu atau keduanya, palatum primer dan palatum
sekunder dan dapat unilateral atau bilateral. Kadang-kadang terlihat suatu
belahan submukosa, dalam kasus ini mukosanya utuh dengan belahan
mengenai tulang dan jaringan otot palatum.

Labioskiziz atau yang lebih dikenal dengan sebutan bibir sumbing,


merupakan masalah yang di alamai oleh sebagian kecil masyarakat. Setiap
tahun, diperkirakan 700-10.000 bayi lahir dengan keadaan bibir sumbing..
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan labioskizis atau labiopalatoskizis ?
2. Apa penyebab dari labioskizis atau labiopalatoskizis ?
3. Bagaimana cara mengatasi labioskizis atau labiopalatoskizis ?
C. Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah:
1. Untuk memahami tentang labioskizis atau labiopalatoskizis.
2. Untuk mengetahui apa penyebab dari labioskizis atau labiopalatokizis
3. Untuk mengetahui bagaimana cara mengatasi masalah labioskizis atau
labiopalatoskizis
D. MANFAAT PENULISAN
1. Bagi Masyarakat
Dapat menambah pengetahuan dan jadi sumber informasi bagi semua
kalangan masyarakat , sehingga masyarakat dapat mengerti mengenai
labiopalatoskizis .
2. Bagi Institusi Rumah Sakit
Meningkatkan mutu pelayanan dan dapat memberikan gambaran tentang
pencegahan serta pengobatan labiopalatoskizis dr.Doris Sylvanus Palangka
Raya.
3. Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai alat ukur kemampuan mahasiswa terhadap dunia kesehatan dan
penambah referensi di perpustakaan.
4. Bagi Mahasiswa
Dapat meningkatkan wawasan dan pengetahuan tentang masalah-masalah
kesehatan yang terbaru.

BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Definisi
Labioskizis adalah kelainan congenital sumbing yang terjadi akibat
kegagalan fusi atau penyatuan prominen maksilaris dengan prominen nasalis

medial yang dilikuti disrupsi kedua bibir, rahang dan palatum anterior.
Sedangkan Palatoskizis adalah kelainan congenital sumbing akibat kegagalan
fusi palatum pada garis tengah dan kegagalan fusi dengan septum nasi.
( Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi, dan Anak Balita, 2010)
Labioskizis atau cleft lip atau bibir sumbing adalah suatu kondisi
dimana terdapatnya celah pada bibir atas diantara mulut dan hidung. Kelainan
ini dapat berupa takik kecil pada bahagian bibir yang berwarna sampai pada
pemisahan komplit satu atau dua sisi bibir memanjang dari bibir ke hidung.
Palatoskisis adalah fissura garis tengah pada palatum yang terjadi
karenakegagalan 2 sisi untuk menyatu karena perkembangan embriotik.
Labioskizis dan labiopalatoskizis merupakan deformitas daerah mulut
berupa celah atau sumbing atau pembentukan yang kurang sempurna semasa
perkembangan embrional di mana biir atas bagian kanan dan bagian kiri tidak
tumbuh bersatu.
Labioskizis dan labiopalatoskizis adalah anomali perkembangan pada 1
dari 1000 kelahiran. Kelainan bawaan ini berkaitan dengan riwayat keluarga,
infeksi virus pada ibu hamil trimester pertama. Labioskizis/labiopalatoskizis
yaitu kelainan kotak palatine (bagian depan serta samping muka serta langitlangit mulut) tidak menutup dengan sempurna.
B. Etiologi
Umumnya kelainan kongenital ini berdiri sendiri dan penyebabnya
tidak diketahui dengan jelas. Selain itu dikenal dengan beberapa syndrom atau
malformasi yang disertai adanya sumbing bibir, sumbing palatum atau
keduanya yang disebut kelompok syndrom clefts dan kelompok sumbing yang
berdiri sendiri non syndromik clefts.
Beberapa cindromik clefts adalah sumbing yang terjadi pada kelainan
kromosom ( trysomit 13, 18, atau 21 ) mutasi genetik atau kejadian sumbing
yang berhubungan dengan akobat toksisitas selama kehamilan ( kecanduan
alkohol ), terapi fenitoin, infeksi rubella, sumbing yang ditemukan pada
syndrom

pierrerobin,

penyebab

non

sindromik

clefts

dafat

bersifat

multifaktorial seperti masalah genetik dan pengaruh lingkungan


Banyak faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya bibir sumbing.
faktor tersebut antara lain, yaitu :

1. Faktor Genetik atau keturunan Dimana material genetic dalam kromosom


yang mempengaruhi/. Dimana dapat terjadi karena adanya mutasi gen
ataupun kelainan kromosom. Pada setiap sel yang normal mempunyai 46
kromosom yang terdiri dari 22 pasang kromosom non-sex (kromosom 1
s/d 22 ) dan 1 pasang kromosom sex ( kromosom X dan Y ) yang
menentukan jenis kelamin. Pada penderita bibir sumbing terjadi Trisomi
13 atau Sindroma Patau dimana ada 3 untai kromosom 13 pada setiap sel
penderita, sehingga jumlah total kromosom pada tiap selnya adalah 47.
Jika terjadi hal seperti ini selain menyebabkan bibir sumbing akan
menyebabkan gangguan berat pada perkembangan otak, jantung, dan
ginjal. Namun kelainan ini sangat jarang terjadi dengan frekuensi 1 dari
8000-10000 bayi yang lahir.
2. Kurang Nutrisi contohnya defisiensi Zn dan B6, vitamin C pada waktu
hamil, kekuranganasam folat.
3. Radiasi
4. Terjadi trauma pada kehamilan trimester pertama.
5. Infeksi pada ibu yang dapat mempengaruhi janin contohnya seperti
infeksi rubella dan sifilis, toxoplasmosis dan klamidia.
6. Pengaruh obat teratogenik, termasuk jamu dan kontrasepsi hormonal,
akibat toksisitas selama kehamilan, misalnya kecanduan alkohol, terapi
penitonin.
7. Multifaktoral dan mutasi genetic
8. Diplasia ektodermal.
9. Syndrome atau malformasi yang disertai adanya sumbing bibir, sumbing
palatum atau keduanya disebut kelompok syndrome cleft dan kelompok
sumbing yang berdiri sendiri non syndromik clefts.
10. Beberapa syndromik cleft adalah sumbing yang terjadi pada kelainan
kromosom (trysomit 13, 18 atau 21) mutasi genetik atau kejadian
sumbing yang berhubungan dengan akibat toksikosis selama kehamilan
(kecanduan alkohol, terapi fenitoin, infeksi rubella, sumbing yang
ditemukan pada syndrome peirrerobin.
C. Klasifikasi
Jenis belahan pada labioskizis dan labiopalatoskizis dapat sangat
bervariasi, bisa mengenal salah satu bagain atau semua bagian dari dasar
cuping hidung, bibir, alveolus dan palatum durum, serta palatum mlle. Suatu
4

klasifikasi membagi struktur-struktur yang terkena menjadi beberapa bagian


berikut :
1. Palatum primer meliputi bibir, dasar hidung, alveolus, dan palatum
durum di belahan foramen insisivum.
2. Palatum sekunder meliputi palatum durum dan palatum molle posterior
terhadap foramen.
3. Suatu belahan dapat mengenai salah satu atau keduanya, palatum primer
dan palatum sekunder dan juga bisa berupa unilateral atau bilateral.
4. Terkadang terlihat suatu belahan submukosa. Dalam kasus ini mukosanya
utuh dengan belahan mengenai tulang dan jaringan otot palatum.
Klasifikasi dari kelainan ini diantaranya berdasarkan akan dua hal yaitu :
1. Klasifikasi berdasarkan organ yang terlibat
a. Celah di bibir (labioskizis)
b. Celah di gusi (gnatoskizis)
c. Celah di langit (palatoskizis)
d. Celah dapat terjadi lebih dari satu organ misalnya terjadi di bibir
dan langit langit (labiopalatoskizis)
2. Berdasarkan lengkap/tidaknya celah terbentuk
Tingkat kelainan bibir sumbing bervariasi, mulai dari yang ringan hingga
yang berat. Beberapa jenis bibir sumbing yang diketahui adalah :
a. Unilateral Incomplete yaitu jika celah sumbing terjadi hanya
disalah satu sisi bibir dan memanjang hingga ke hidung.
b. Unilateral Complete yaitu jika celah sumbing yang terjadi hanya
disalah satu sisi sisi bibir dan memanjang hingga ke hidung.
c. Bilateral Complete yaitu Jika celah sumbing terjadi di kedua sisi
bibir dan memnajang hingga ke hidung.
D. Patofisiologi
Cacat terbentuk pada trimester pertama kehamilan, prosesnya karena
tidak terbentuknya mesoderm, pada daerah tersebut sehingga bagian yang telah
menyatu (proses nasalis dan maksilaris) pecah kembali. Labioskizis terjadi
akibat fusi atau penyatuan prominen maksilaris dengan prominen nasalis
medial yang diikuti disfusi kedua bibir, rahang, dan palatum pada garis tengah
dan kegagalan fusi septum nasi. Gangguan fusi palatum durum serta palatum
mole terjadi sekitar kehamilanke-7 sampai 12 minggu.
E. Tanda dan Gejala
Ada beberapa gejala dari bibir sumbing yaitu :

1.
2.
3.
4.
5.

Terjadi pemisahan langit-langit


Terjadi pemisahan bibir
Terjadi pemisahan bibir dan langit-langit
Infeksi telinga berulang, berat badan tidak bertambah
Pada bayi tidak terjadi regurgitas nasal ketika menyusui yaitu keluarnya
air susu dari hidung.

F. Faktor Resiko
Angka kejadian kelalaian kongenital sekitar 1/700 kelahiran dan
merupakan salah satu kelainan kongenital yang sering ditemukan, kelainan ini
berwujud sebagai labioskizis disertai palatoskizis 50%, labioskizis saja 25%
dan palatoskizis saja 25%. Pada 20% dari kelompok ini ditemukan adanya
riwayat kelainan sumbing dalam keturunan. Kejadian ini mungkin disebabkan
adanya faktor toksik dan lingkungan yang mempengaruhi gen pada periode fesi
ke-2 belahan tersebut; pengaruh toksik terhadap fusi yang telah terjadi tidak
akan memisahkan lagi belahan tersebut.
Resiko Kejadian Sumbing pada Keluarga :
Non-syndromic Clefts
Resiko sumbing pada

Resiko labioskizis

anak berikutnya

dengan atau tanpa

Resiko palatoskizis

palatokoskizis (%)
Bila ditemukan satu anak
menderita sumbing
Suami istri dalam
keturunan tidak ada yang
sumbing
Dalam keturunan ada
yang sumbing
Bila di temukan dua anak
yang menderita sumbing
Salah satu orang tuanya
menderita sumbing
Kedua orang tuanya
menderita sumbing

2-3

4-9

3-7

14

13

12

13

30

20

G. Komplikasi
6

Keadaan kelainan pada wajah seperti bibir sumbing ada beberapa komplikasi,
yaitu :
1. Kesulitan makan, dialami pada penderita bibir sumbing dan jika
diikuti dengan celah palatum. Memerlukan penanganan khusus seperti
dot khusus, posisi makan yang benar dan juga kesabaran dalam
memberi makan pada bayi bibir sumbing. Merupakan masalah
pertama

yang

labiopalatoskizis.

terjadi

pada

Adanya

bayi

penderita

labioskizis

dan

labioskizisdan
labiopalatoskizis

memberikan kesulitan pada bayi untuk melakukan hisapan pada


payudara ibu atau dot. Tekanan lembut pada pipi bayi dengan
labioskizis mungkin dapat meningkatkan kemampuan hisapan oral.
Keadaan tambahan yang ditemukan adalah reflex hisap dan reflek
menelan pada bayi dengan labioskizis tidak sebaik bayi normal, dan
bayi dapat menghisap lebih banyak udara pada saat menyusu.
Memegang bayi dengan posisi tegak urus mungkin dapat membantu
proses menyusu bayi. Menepuk-nepuk punggung bayi secara berkala
juga dapat membantu. Bayi yang hanya menderita labioskizis atau
dengan labiopalatoskizis biasanya dapat menyusui, namun pada bayi
dengan labioplatoschisis biasanya membutuhkan penggunaan dot
khusus. Dot khusus (cairan dalam dot ini dapat keluar dengan tenaga
hisapan kecil) ini dibuat untuk bayi dengan labiopalatoskizis dan bayi
dengan masalah pemberian makan/ atau asupan makanan tertentu.
2. Infeksi telinga dikarenakan tidak berfungsi dengan baik saluran yang
menghubungkan telinga tengah dengan kerongkongan dan jika tidak
segera diatasi maka akan kehilangan pendengaran. Anak dengan
labiopalatoskizis lebih mudah untuk menderita infeksi telinga karena
terdapatnya

abnormalitas

perkembangan

dari

otot-otot

yang

mengontrol pembukaan dan penutupan tuba eustachius.


3. Kesulitan berbicara misalnya suara sengau. Otot-otot untuk berbicara
mengalami penurunan fungsi karena adanya celah. Hal ini dapat
mengganggu pola berbicara bahkan dapat menghambatnya. Pada bayi
dengan labiopalatoskizis biasanya juga memiliki abnormalitas pada
perkembangan otot-otot yang mengurus palatum mole. Saat palatu
7

mmole tidak dapat menutup ruang/ rongga nasal pada saat bicara,
maka didapatkan suara dengan kualitas nada yang lebih tinggi
(hypernasal quality of speech). Meskipun telah dilakukan reparasi
palatum, kemampuan otototot tersebut diatas untuk menutup ruang
atau rongga nasal pada saat bicara mungkin tidak dapat kembali
sepenuhnya normal. Anak mungkin mempunyai kesulitan untuk
menproduksi suara atau kata p, b, d, t,h, k, g, s, sh, and ch, dan
terapi bicara (speech therapy) biasanya sangat membantu.
4. Masalah gigi, pada celah bibir gigi tumbuh tidak normal atau bahkan
tidak tumbuh, sehingg perlu perawatan dan penanganan khusus. Anak
yang lahir dengan labioskizis dan labiopalatoskizis mungkin
mempunyai masalah tertentu yang berhubungan dengan kehilangan,
malformasi, dan malposisi dari gigi geligi pada arean dari celah bibir
yang terbentuk.
H. Penatalaksanaan
Penanganan untuk bibir sumbing adalah dengan cara operasi. Operasi
ini dilakukan setelah bayi berusia 2 bulan, dengan berat badan yang meningkat,
dan bebas dari infeksi oral pada saluran napas dan sistemik. Dalam beberapa
buku dikatakan juga untuk melakukan operasi bibir sumbing dilakukan hukum
Sepuluh (rules of Ten) yaitu, Berat badan bayi minimal 10 pon, Kadar Hb 10 g
%, dan usianya minimal 10 minggu dan kadar leukosit minimal 10.000/ui.
Ada tiga tahap penatalaksanaan labioschisis yaitu :
1. Tahap sebelum operasi
Pada tahap sebelum operasi yang dipersiapkan adalah
ketahanan tubuh bayi menerima tindakan operasi, asupan gizi yang
cukup dilihat dari keseimbangan berat badan yang dicapai dan usia
yang memadai. Patokan yang biasa dipakai adalah rule of ten meliputi
berat badan lebih dari 10 pounds atau sekitar 4-5 kg , Hb lebih dari 10
gr % dan usia lebih dari 10 minggu , jika bayi belum mencapai rule of
ten ada beberapa nasehat yang harus diberikan pada orang tua agar
kelainan dan komplikasi yang terjadi tidak bertambah parah. Misalnya
memberi minum harus dengan dot khusus dimana ketika dot dibalik
susu dapat memancar keluar sendiri dengan jumlah yang optimal

artinya tidak terlalu besar sehingga membuat bayi tersedak atau terlalu
kecil sehingga membuat asupan gizi menjadi tidak cukup, jika dot
dengan besar lubang khusus ini tidak tersedia bayi cukup diberi
minum dengan bantuan sendok secara perlahan dalam posisi setengah
duduk atau tegak untuk menghindari masuknya susu melewati langitlangit yang terbelah.
Selain itu celah pada bibir harus direkatkan dengan
menggunakan plester khusus non alergenik untuk menjaga agar celah
pada bibir menjadi tidak terlalu jauh akibat proses tumbuh kembang
yang menyebabkan menonjolnya gusi kearah depan (protrusio pre
maxilla) akibat dorongan lidah pada prolabium , karena jika hal ini
terjadi tindakan koreksi pada saat operasi akan menjadi sulit dan
secara kosmetika hasil akhir yang didapat tidak sempurna. Plester non
alergenik tadi harus tetap direkatkan sampai waktu operasi tiba.
2. Tahap sewaktu operasi
Tahapan selanjutnya adalah tahapan operasi, pada saat ini yang
diperhatikan adalah soal kesiapan tubuh si bayi menerima perlakuan
operasi, hal ini hanya bisa diputuskan oleh seorang ahli bedah Usia
optimal untuk operasi bibir sumbing (labioplasty) adalah usia 3 bulan.
Usia ini dipilih mengingat pengucapan bahasa bibir dimulai pada usia
5-6 bulan sehingga jika koreksi pada bibir lebih dari usia tersebut
maka pengucapan huruf bibir sudah terlanjur salah sehingga kalau
dilakukan operasi pengucapan huruf bibir tetap menjadi kurang
sempurna.
Operasi untuk langit-langit (palatoplasty) optimal pada usia 18
20 bulan mengingat anak aktif bicara usia 2 tahun dan sebelum anak
masuk sekolah. Palatoplasty dilakukan sedini mungkin (15-24 bulan)
sebelum anak mulai bicara lengkap sehingga pusat bicara di otak
belum membentuk cara bicara. Kalau operasi dikerjakan terlambat,
sering hasil operasi dalam hal kemampuan mengeluarkan suara
normal atau tidak sengau sulit dicapai. Operasi yang dilakukan
sesudah usia 2 tahun harus diikuti dengan tindakan speech teraphy
karena jika tidak, setelah operasi suara sengau pada saat bicara tetap
terjadi karena anak sudah terbiasa melafalkan suara yang salah, sudah
9

ada mekanisme kompensasi memposisikan lidah pada posisi yang


salah. Bila gusi juga terbelah (gnatoschizis) kelainannya menjadi
labiognatopalatoschizis, koreksi untuk gusi dilakukan pada saat usia
89 tahun bekerja sama dengan dokter gigi ahli ortodonsi.
3. Tahap setelah operasi.
Tahap
selanjutnya
adalah
tahap
setelah

operasi,

penatalaksanaanya tergantung dari tiap-tiap jenis operasi yang


dilakukan, biasanya dokter bedah yang menangani akan memberikan
instruksi pada orang tua pasien misalnya setelah operasi bibir sumbing
luka bekas operasi dibiarkan terbuka dan tetap menggunakan sendok
atau dot khusus untuk memberikan minum bayi. Banyaknya penderita
bibir sumbing yang datang ketika usia sudah melebihi batas usia
optimal untuk operasi membuat operasi hanya untuk keperluan
kosmetika saja sedangkan secara fisiologis tidak tercapai, fungsi
bicara tetap terganggu seperti sengau dan lafalisasi beberapa huruf
tetap tidak sempurna, tindakan speech teraphy pun tidak banyak
bermanfaat.
I. Perawatan
1. Menyusu ibu
Menyusu adalah metode pemberian makan terbaik untuk seorang bayi
dengan bibir sumbing tidak menghambat pengisapan susu ibu. Ibu dapat
mencoba sedikit menekan payudara untuk mengeluarkan susu. Dapat juga
menggunakan

pompa

payudara

untuk

mengeluarkan

susu

dan

memberikannya kepda bayi dengan menggunakan botol setelah dioperasi,


karena bayi tidak menyusu sampai 6 minggu.
2. Menggunakan alat khusus, seperti :
a. Dot domba (dot yang besar, ujung halus dengan lubang besar) yaitu
suatu dot yang diberi pegangan yang menutupi sumbing udara
bocor disekitar sumbing dan makanan dimuntahkan melalui hidung,
atau hanya dot biasa dengan lubang besar.
b. Dapat juga diberikan dengan menggunakan botol peras, dengan cara
memeras botol, maka susu dapat didorong jatuh di bagian belakang
mulut hingga dapat dihisap bayi.
c. Ortodonsi, yakni pemberian plat/dibuat okulator untuk menutup
sementara celah palatum agar memudahkan pemberian minum dan

10

sekaligus mengurangi deformitas palatum sebelum dapat dilakukan


tindakan bedah definitif.
d. Posisi mendekati duduk dengan aliran yang langsung menuju
bagian sisi atau belakang lidah bayi, kemudian bayi ditepuk-tepuk
pada punggungnya berkali-kali secara lembut untuk mengeluarkan
udara/bayi disendawakan, dikarenakan bayi dengan sumbing pada
bibirnya cenderung untuk menelan banyak udara. Periksalah bagian
bawah hidung dengan teratur, kadang-kadang luka terbentuk pada
bagian pemisah lubang hidung, hal ini suatu kondisi yang sangat
sakit dapat membuat bayi menolak menyusu. Jika hal ini terjadi
arahkan dot ke bagian sisi mulut untuk memberikan kesempatan
pada kulit yang lembut tersebut untuk sembuh.
J. Pengobatan
Pada bayi dengan bibir sumbing dilakukan bedah elektif yang
melibatkan beberapa disiplin ilmu untuk penanganan selanjutnya. Bayi akan
memperoleh operasi untuk memperbaiki kelainan, tetapi waktu yang tepat
untuk operasi tersebut bervariasi.
Tindakan pertama dikerjakan untuk menutup celah bibir berdasarkan
kriteria rule often yaitu umur > 10 minggu, BB > 10 pon/5 Kg, Hb > 10 gr/dl,
leukosit > 10.000/ui.
Tindakan operasi selanjutnya adalah menutup langitan/palatoplasti
dikerjakan sedini mungkin (15-24 bulan) sebelum anak mampu bicara lengkap
sehingga tindakan operasi penambahan tulang pada celah alveolus/maxilla
untuk memungkinkan ahli ortodensi mengatur pertumbuhan gigi dikanan dan
kiri celah supaya normal.
Operasi terakhir pada usia 15-17 tahun dikerjakan setelah pertumbuhan
tulang-tulang muka mendeteksi selesai. Operasi mungkin tidak dapat dilakukan
jika anak memiliki kerusakan horseshoe yang lebar. Dalam hal ini, suatu
kontur seperti balon bicara ditempel pada bagian belakang gigi geligi menutupi
nasofaring dan membantu anak bicara yang lebih baik.
Anak dengan kondisi ini membutuhkan terapi bicara, karena langitlangit sangat penting untuk pembentukan bicara, perubahan struktur, juga pada
sumbing yang telah diperbaiki, dapat mempengaruhi pola bicara secara
permanen.

11

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
1. Identitas klien
Meliputi nama,alamat,umur
2. Keluhan utama :
Alasan klien masuk ke rumah sakit
3. Riwayat Kesehatan

12

Riwayat kehamilan, riwayat keturunan, labiotalatos kisis dari keluarga,


berat/panjang bayi saat lahir, pola pertumbuhan, pertambahan/penurunan
berat badan, riwayat otitis media dan infeksi saluran pernafasan atas.
4. Pengkajian Keluarga
a. Observasi infeksi bayi dan keluarga
b. Kaji harga diri / mekanisme kuping dari anak/orangtua
c. Kaji reaksi orangtua terhadap operasi yang akan dilakukan
d. Kaji kesiapan orangtua terhadap pemulangan dan kesanggupan
mengatur perawatan di rumah.
e. Kaji tingkat pengetahuan keluarga
5. A
6. B1 - Breathing (Respirasi)
o

RR neonatus normal : 30 50 x/menit

RR bayi normal : 26 40 x/menit

Pernafasan abdominal dan diafragma

Pernafasan dangkal dan iregular

Pada pt dengan labio palatoschizis system pernafasannya terganggu, karena bayi


tidak dapat bernafas melalui mulut apabila hidungnya tersumbat. Akibatnya dapat
terjadi distress pernafasan atausebagai kompensasi melakukan hiperventilasi dan
selanjutnya dapat terjadi dispnea
7. B2 Bleeding (Kardiovaskuler)

TD neonatus normal 80/50 mmHg

TD bayi normal 90/61 mmHg

Nadi neonatus normal 70 -170 mmHg

Nadi bayi normal 80 160 mmHg

Pada pasien labio palatoscizis, sistem kardiovaskuler tidak mengalami gangguan


8. B3 Brain (Neurologik)
Reflek pada bayi :

A. Babinski
Jari jari kaki ekstensi ketika telapak kaki diusap. Pada penderita labio
palatoschizis reflek babinski positif
B. Galant

13

Melengkungkan badan ke arah sisi yang di stimulasi ketika dilakukan pengusapan


di sepanjang tulang belakang. Pada penderita labio palatoschizis reflek gallant
positif
C. Moro
Ekstensi tiba tiba kea rah luar dan kembali kea rah garis tengah ketika bayi
terkejut akibat suara keras / perubahan posisi yang cepat. Pada penderita labio
palatoschizis reflek moro positif
D. Palmar
Menggenggam objek dengan jari ketika telapak tangan disentuh. Pada penderita
labio palatoschizis reflek palmar positif
E. Placing
Usaha untuk mengangkat dan meletakkan kaki di tepi permukaan kaki ketika kaki
disentuh di bagian atasnya. Pada penderita labio palatoschizis reflek placing
positif
F. Plantar
Fleksi jari jari kaki ke arah dalam, ketika tumit telapak kaki diusap. Pada
penderita labio palatoschizis reflek plantar positif
G. Righting
Berusaha untuk mempertahankan kepala pada posisi tegak. Pada penderita labio
palatoschizis reflek ini positif
H. Rooting
Memiringkan kepala ke arah pipi yang diberi stimulus sentuhan. Pada penderita
labio palatoschizis reflek ini positif
I.

Sucking
Menghisap objek yang diletakkan dalam mulut. Pada penderita labio palatoschizis
reflek ini negative karena muara tuba eustachiinya terganggu

J.

Stepping
Membuat gerakan melangkah ketika digendong pada posisi tegak dengan kaki
menyentuh permukaan. Pada penderita labio palatoschizis reflek ini positif.
9. B4 Bladder (Eliminasi Urine)

A. Jumlah urin = cairan yang masuk

14

B. Awal : urin keluar 20 ml dan meningkat sesuai dengan pemasukan


C. Frekuensi voiding : 2 -6 x selanjutnya 5 25 x / 24 jam
D. Pada bayi void : 15 60 ml/kg BB/24 jam
E. BJ urin : 1,005 1,015
F. Standar volume urin

Bayi baru lahir : 10 90 ml/kg BB/ hari

Bayi : 80 90 ml/kg BB/hari

G. GFR bayi baru lahir : 30 50 % dewasa


H. Rata rata bayi BAK : 8 -12 x/hari
I.

Pada penderita labio palatoschizis system ini mengalami gangguan


10. B5 Bowel (Gastro Intestinal)
Pada penderita labio palatoschizis, system ini mengalami gangguan
dikarenakan bentuk bibir. Labio palatoschizis pada bayi normal, jumlah nutrisi
berdasarkan BB adalah :
BB
1 10 kg

Kebutuhan Nutrisi / Hari


100 cc / BB

11 20 kg

1000 + 50 cc ( BB 10 )

> 20 kg

1500 + 20 cc ( BB 20 )

Pada penderita labio palatoschizis asupan kurang dari kebutuhan karena proses
menghisap terganggu
11. B6 Bone (Muskuloskeletal)
A. Jumlah kartilago > osifikasi tulang
B. Pertumbuhan ukuran otot karena hipertropi dibanding hiperplasia

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
15

1. Resiko aspirasi berhubungan dengan gangguan menelan.


2. Resiko Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan refleks menghisap pada anak tidak adekuat.
3. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan kelainan anatomis
(labiopalatoskizis).
4. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan insisi pembedahan.
5. Resiko infeksi berhubungan dengan insisi pembedahan.
6. Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga tentang
penyakit.
C. Rencana Keperawatan
No
1.

Diagnosa
Keperawatan
Resiko aspirasi
berhubungan
dengan
gangguan
menelan.

Tujuan/Kriteria

1. Perubahan yg tjd pada

mengalami

aspirasi selama

proses pemberian

aspirasi, dengan

proses pemberian

makanan dan

Kriteria Hasil:

makan dan

pengobatan bisa saja

Menunjukkan

pemberian

menyebabkan

kemampuan
menelan.
Bertoleransi
thd asupan
oral dan
sekresi tanpa
aspirasi.
Bertoleransi

pengobatan
2. Tempatkan pasien
pada posisi semifowler atau fowler.
3. Sediakan kateter

kemampuan menelan

tidur dan lakukan

terganggu.

penghisapan selama
dengan kebutuhan.

status gizi,

kurang dari

dengan Kriteria

kebutuhan

Hasil :

tubuh

Mempertahan
kan BB dalam

menyumbat jalan

disamping tempat

perenteral

ngan nutrisi

mengeluarkan sekresi.
3. Mencegah sekresi
napas, khususnya bila

makan, sesuai

tanpa aspirasi.
Menunjukkan

aspirasi.
2. Agar mempermudah

penghisap

thd pemberian

Ketidakseimba

berhubungan

Rasional

1. Pantau tanda-tanda

peningkatan

2.

Intervensi

Hasil
Tidak akan

1. Pantau kandungan
nutrisi dan kalori
pada catatan asupan.
2. Ketahui makanan

1. Memberikan
informasi sehubungan
dgn keb nutrisi &

keefektifan terapi.
kesukaan pasien.
2. Meningkatkan selera
3. Ciptakan lingkungan
makan klien.

16

dengan refleks
menghisap
pada anak
tidak adekuat

batas normal.
Toleransi thd

yang menyenangkan 3. Meningkatkan


untuk makan.

diet yang

sosialisasi &
memaksimalkan

dianjurkan.
Menyatakan

kenyamanan klien bila


kesakitan makan

keinginannya

menyebabkan malu.

untuk
mengikuti
3.

Kerusakan

diet.
Menunjukkan

komunikasi

kemampuan

untuk

verbal

komunikasi,

berkomunikasi

berhubungan

dengan Kriteria

secara perlahan dan

dengan

hasil :

mengulangi

kelainan

Menggunakan

anatomis

bahasa tertulis,

(labiopalatoski

berbicara atau

zis).

nonverbal.
Mengguanaka
n bahasa
isyarat.
Pertukaran
pesan dengan

4.

1. Anjurkan pasien

permintaan.
2. Sering berikan
pujian positif pada
pasien yang
berusaha untuk

nyaman nyeri

rasa nyaman,

bayi/anak dan

berhubungan

dengan kriteria

dengan insisi

hasil :

pembedahan.

Menunjukkan

individual
yang efektif

keadaan klien akan


lebih membaik karena
mendapat dorongan.
3. Membantu klien
memahami
pembicaraan.

singkat.
1. Kaji pola istirahat

secara

lancar.
2. Pujian dapat membuat

dan kalimat yang

Gangguan rasa

relaksasi

berkomunikasi lebih

berkomunikas
3. Menggunakan kata

orang lain.
Meningkatkan

teknik

1. Melatih agar bisa

kegelisahan.
2. Bila klien anak,
berikan aktivitas
bermain yang sesuai
dengan usia dan
kondisinya.
3. Berikan analgetik
sesuai program.

1. Mencegah kelelahan
dan dapat
Meningkatkan
koping terhadap
stres atau
ketidaknyamanan.
2. Meningkatkarelaksa
si dan membantu
pasien
memfokusknperhatia

17

untuk

n pada sesuatu

mencapai

disamping diri

kenyamanan.
Mempertahan

sendiri /
ketidaknyamanan

kan tingkat

dapat

nyeri pada

menurunkankebutuh

atau kurang

an dosis / frekuensi

(skala 0-10)
Melaporkan

analgesik.
3. Derajat nyeri

nyeri pada

sehubungan dengan

penyedia

luas dan dampak

perawatan

psikologi

kesehatan.

pembedahan sesuai
dengan kondisi

5.

1. Berikan posisi yang

Mencegah

berhubungan

infeksi, dengan

tepat setelah makan,

mobilisasi sekret,

dengan insisi

kriteria Hasil :

miring kekanan,

menurunkan resiko

pembedahan.

Terbebas dari

kepala agak sedikit


tinggi supaya

tanda atau

makanan tertelan

gejala infeksi.
Menunjukkan

dan mencegah

higiene pribadi
yang adekuat.
Menggambark
an faktor yang

aspirasi yang dapat


berakibat
pneumonia.
2. Kaji tanda-tanda

pneumonia.
2. Deteksi dini
terjadinya infeksi
memberikan
pencegahan
komplikasi lebih
serius dan Mencegah
kontaminasi dan

menunjang

infeksi, termasuk

kerusakan sisi

penularan

drainage, bau dan

operasi.

infeksi.
6.

tubuh.
1. Meningkatkan

Resiko infeksi

Ansietas

Rasa cemas

berhubungan

teratasi, dengan

dengan

Kriteria Hasil :

kurangnya

Mencari

demam.
Kaji tingkat kecemasan Untuk mengetahui
klien.

seberapa besar

Berikan terapi bermain

kecemasan yang

kepada si anak untuk

dirasakan klien

18

pengetahuan

informasi

mengalihkan ras

keluarga

untuk

cemasnya.

tentang

menurunkan Berikan penyuluhan

penyakit.

kecemasan.
Menghindari
sumber
kecemasan
bila mungkin.
Menggunakan

sekarang.
Untuk mengurangi
kecemasan yang

pada klien dan keluarga

dirasakan klien, berikan

tentang penyakit dan

suasana yang tenang

proses

dan nyaman.

penyembuhannya.

Untuk mengetahui
bagaimana untuk

teknik

memudahkan

relaksasi untuk

memberikan support

menurunkan

atau penyuluhan.

kecemasan.

D. Implementasi
merupakan tindakan mandiri berdasarkan ilmiah, masuk akal dalam
melaksanakan yang bermanfaat bagi klien yang diantisipasi berhubungan
dengan diagnosa keperawatan dan tujuan yang telah ditetapkan.
Pelaksanaan merupakan pengelolaan dan perwujudan dari rencana
keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan di atas. Tindakan
keperawatan pada klien dapat berupa tindakan mandiri maupun tindakan
kolaborasi. Dalam pelaksanaan tindakan, langkah-langkah yang dilakukan
adalah mengkaji kembali keadaan klien, validasi rencana keperawatan,
menentukan kebutuhan dan bantuan yang diberikan serta menetapkan
strategi tindakan yang dilakukan. Selain itu juga dalam pelaksanaan
tindakan, semua tindakan yang dilakukan pada klien dan respon klien pada
setiap

tindakan

keperawatan

didokumentasikan

dalam

catatan

keperawatan. Dalam pendokumentasian catatan keperawatan hal yang


perlu didokumentasikan adalah waktu tindakan dilakukan, tindakan dan

19

respon klien serta diberi tanda tangan sebagai aspek legal dari
dokumentasi yang dilakukan.
E. Evalusai
merupakan tahap akhir dari proses keperawatan yang mengukur seberapa
jauh tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai, berdasarkan standar atau
kriteria yang telah ditetapkan. Evaluasi merupakan aspek penting didalam
proses keperawatan, karena menghasilkan kesimpulan apakah intervensi
keperawatan diakhiri atau ditinjau kembali atau dimodifikasi. Dalam
evaluasi prinsip obyektifitas, reabilitas dan validitas dapat dipertahankan
agar keputusan yang diambil tepat. Evaluasi proses keperawatan ada dua
arah yaitu evaluasi proses (evaluasi formatif) dan evaluasi hasil (evaluasi
sumatif). Evaluasi proses adalah evaluasi yang dilakukan segera setelah
tindakan dilakukan dan didokumentasikan pada catatan keperawatan.
Sedangkan evaluasi hasil adalah evaluasi yang dilakukan untuk mengukur
sejauh mana pencapaian tujuan yang ditetapkan dan dilakukan pada akhir
keperawatan.

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Labioskizis/Labiopalatoskizis yaitu kelainan kotak palatine (bagian
depan serta samping muka serta langit-langit mulut) tidak menutup dengan
sempurna. Merupakan deformitas daerah mulut berupa celah atau sumbing atau
pembentukan yang kurang sempurna semasa embrional berkembang, bibir atas
bagian kanan dan bagian kiri tidak tumbuh bersatu. Banyak faktor yang dapat
mempengaruhi terjadinya bibir sumbing antara lain :
a. Faktor genetik atau keturunan
b. Kurang nutrisi contohnya defisiensi Zn dan B6, vitamin C dan asam
folat.
c. Radiasi

20

d. Terjadi trauma pada kehamilan trimester pertama


e. Infeksi pada ibu yang dapat mempengaruhi janin contohnya seperti
infelsi rubella dan sifillis, toksoplasmosis dan klamidia
f. Pengaruh obat teratogenik, termasuk jamu dan kontrasepsi hormonal,
akibat toksisitas selama kehamilan, misalnya kecanduan alkohol.
g. Multifaktorial dan mutasi genetik
h. Displasia ektodrmal
Bibir sumbing ada beberapa tingkatan juga istilahnya berdasarkan organ
yang terlibat diantaranya: celah di bibir (labioskizis), celah di gusi
(gnatoskizis), celah di langit (palatoskizis). Celah dapat terjadi lebih dari satu
organ misalnya: terjadi di bibir dan langit-langit (labiopalatoskizis).
B. Saran
Beberapa kelainan bawaan tidak dapat dicegah, tetapi ada beberapa hal yang
dapat dilakukan untuk mengurangi resiko terjadinya kelainan bawaan :
Tidak merokok dan menghindari asap rokok
Menghindari alkohol
Menghindari obat terlarang
Memakan makanan yang bergizi dan mengkonsumsi vitamin prenatal
Melakukan olah raga dan istirahat yang cukup
Melakukan pemeriksaan prenatal secara rutin
Mengkonsumsi suplemen asam folat
Menjalani vaksinasi sebagai perlindungan terhadap infeksi
Menghindari zat-zat yang berbahaya.

21

DAFTAR PUSTAKA
Betz, Cecily, dkk. 2002. Buku Saku Keperawatan Pedriatik. Jakarta ; EEC.
Hidayat, Aziz Alimul. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta :
Salemba Medika.
Nelson. 1993. Ilmu Kesehatan Anak bagian 2. Jakarta; Fajar Interpratama.
Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EEC.
Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EEC.
Wong, Dona L.2004. Pedoman Klinis Keperawatan Pedriatik. Jakarta : EEC.
http://mvzpry.blogspot.com/2009/05/bab-i-pendahuluan.html

22