Anda di halaman 1dari 15

Acara III

FERMENTASI SUBSTRAT CAIR


FERMENTASI NATA DE COCO
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM
TEKNOLOGI FERMENTASI
Disusun oleh:
Emmanuel Natalino
12.70.0171
Kelompok C2

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA
SEMARANG
2015

1. HASIL PENGAMATAN
Tabel 1. Hasil Pengamatan Lapisan Nata de coco
Kel
C1
C2
C3
C4
C5

Tinggi Media
Awal (cm)
1
1
2
2
2,5

Tinggi Ketebalan Nata (cm)


0
7
14
0
0,30
0,50
0
0,25
0,70
0
0,30
0,40
0
0,30
0,90
0
0,30
0,30

0
0
0
0
0
0

% Lapisan Nata
7
30
25
15
15
12

14
50
70
20
45
12

Berdasarkan hasil pengamatan di atas dapat diperoleh informasi bahwa tinggi awal media
kelompok C1 dan C2 adalah 1 cm, untuk kelompok C3 dan C4 adalah 2 cm, dan untuk kelompok
C5 adalah 2,5 cm. Untuk tinggi ketebalan nata pada hari ke 0 adalah 0 cm atau belum terbentuk
nata pada semua kelompok. Pada % lapisan nata hari ke 0 juga belum dapat dilihat karena nata
belum terbentuk. Tinggi ketebalan nata kelompok C2 pada hari ke 7 adalah 0,25. Sedangkan
untuk kelompok lainnya yaitu 0,3 semua. Sedangkan pada hari ke 14 tinggi ketebalan nata
kelompok C5 adalah yang paling rendah yaitu 0,30. Kelompok C1, C2, C3, dan C4 secara
berurutan yaitu 0,5; 0,7; 0,4; dan 0,9. Sedangkan pada % lapisan nata hari ke 7 kelompok C1,
C2, C3, C4 dan C5 secara berurutan adalah 30, 25, 15, 15, dan 12. Sedangkan untuk hari ke 14
kelompok C1, C2, C3, C4, dan C5 secara berurutan adalah 50, 70, 20, 45, dan 12.

2. PEMBAHASAN
Nata de Coco merupakan makanan pencuci mulut (desert). Nata de Coco adalah makanan yang
banyak mengandung serat, mengandung selulosa kadar tinggi yang bermanfaat bagi kesehatan
dalam membantu pencernaan. Menurut Santosa (2012) Nata merupakan produk fermentasi yang
dihasilkan dari bantuan bakteri Acetobacter xylinum. Praktikum teknologi fermentasi kali ini,
praktikan melakukan percobaan mengenai pembuatan nata de coco. Saat ditumbuhkan di media
cair yang mengandung gula, bakteri ini akan menghasilkan asam cuka atau asam asetat dan
padatan putih yang terapung di permukaan media cair tersebut, lapisan putih inilah yang dikenal
sebagai nata (Tahir et. al., 2008). Teori lain juga membenarkan bahwa Acetobacter xylinum akan
membentuk nata melalui proses fermentasi, bakteri ini akan membentuk gel pada permukaan
larutan yang mengandung gula. Sel-sel Acetobacter xylinum selanjutnya akan membentuk nata
dapat karena adanya proses pengambilan glukosa di larutan gula dalam substrat. Glukosa tadi
akan bergabung dengan asam lemak membentuk prekursor pada membran sel yang nantinya
akan melakukan ekskresi dan bersama enzim akan mempolimerisasikan glukosa menjadi
selulosa di luar sel (Palungkun, 1996).
Nata adalah sejenis komponen minuman yang merupakan senyawa selulosa (dietary fiber), yang
dihasilkan dari air kelapa melalui proses fermentasi, yang melibatkan jasad renik (mikrobia),
yang selanjutnya dikenal sebagai bibit nata. Nata dapat dibuat dari beberapa bahan yang
mengandung gula, protein dan mineral, seperti air kelapa (nata de coco), sari kedelai (nata de
soya), nata de mango (sari buah mangga), nata de pina (sari buah nanas), dll. Bibit nata
sebenarnya berasal dari golongan bakteri Acetobacter xylinum, dimana bakteri ini bersifat
menguntungkan karena dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk menghasilkan produk yang
berguna (Pambayun, 2002).
Nata de coco memiliki nilai nutrisi yang sangat rendah karena kandungan terbesarnya adalah air.
Namun, nata de coco juga mengandung serat kasar (dietary fiber) yang sangat dibutuhkan tubuh
dalam proses fisiologi (Astawan & Astawan, 1991). Menurut Halib et al. (2012), nata de coco
bisa digunakan sebagai salah satu pilihan sumber selulosa murni untuk berbagai keperluan
industri. Sedangkan Mesomya et al. (2006) juga menambahkan bahwa nata de coco baik
dikonsumsi untuk menjaga berat badan dan mencegah penyakit kanker colon dan rectum. Hal ini

karena nata de coco memiliki kandungan selulosa yang tinggi, rendah lemak, rendah kalori, serta
tidak mengandung kolesterol.
Pembuatan nata de coco ini dimulai dengan pembuatan media, yaitu dengan air kelapa.
Pembuatan media dalam proses pembuatan nata de coco ini menurut Volk & Wheeler (1993),
bertujuan untuk memberi makanan bagi mikroorganisme pembentuk nata, mengkondisikan
lingkungan pembiakan organisme dalam jumlah yang besar, membuat biakan penyuburan, serta
untuk mendapatkan biakan murni.
Air kelapa digunakan sebagai salah satu bahan utama pembuatan media karena sebenarnya
produksi kelapa sangat melimpah, namun belum dimanfaatkan secara maksimal dan justru
terkadang dapat merusak lingkungan. Sehingga adanya pemanfaatan air kelapa untuk dibuat
menjadi sumber isolat bakteri dan sebagai substrat dalam fermentasi. Air kelapa mempunyai
potensi yang baik untuk dimanfaatkan sebagai bahan dasar fermentasi asam-asam organik, selain
karena adanya kandungan yang cukup komplit seperti gula, protein, asam amino, berbagai
macam vitamin dan mineral. Air kelapa juga memiliki kelebihan, yaitu murah, kadar kontaminasi
yang lebih kecil karena termasuk produk alami dan bukan merupakan sisa suatu proses produksi,
produk samping minimum serta ketersediaanya yang terjamin secara kontinyu (Widayati et al.,
2002). Awang (1991) menambahkan bahwa air kelapa mengandung air 91,23%, protein 0,29%,
lemak 0,15%, karbohidrat 7,27%, dan abu 1,06%. Selain itu juga mengandung sukrosa,
dekstrosa, fruktosa, vitamin B kompleks (asam niotinat 0,01 g, asam pentotenat 0,52 g, biotin
0,02 g, riboflavin 0,01 g, dan asam folat 0,003 g/ml.
Dalam praktikum ini, digunakan sebanyak 1,2 liter air kelapa yang telah disaring terlebih dahulu.
Penyaringan bertujuan untuk membebaskan air kelapa dari kotoran-kotoran yang masih ada
(Astawan & Astawan, 1991). Lalu air kelapa dipanaskan hingga mendidih lalu didinginkan
hingga suhunya tidak terlalu panas (hangat). Pemanasan air kelapa bertujuan untuk membunuh
mikroorganisme yang kemungkinan dapat mencemari produk yang dihasilkan. Dengan tidak
adanya pemanasan maka kemungkinan terdapat mikroorganisme lain yang secara langsung atau
tidak langsung dapat mengganggu pertumbuhan dan aktivitas Acetobacter xylinum dalam
mengubah glukosa menjadi selulosa sehingga kemampuan bakteri Acetobacter xylinum untuk

membentuk nata juga menjadi tidak sempurna (Astawan & Astawan (1991) & Tortora et al.,
(1995)).
Kemudian dilakukan penambahan gula pasir sebanyak 10% dari volume air kelapa dan
ammonium sulfat sebanyak 0,5% dari volume air kelapa, lalu diaduk perlahan hingga rata.
Penambahan gula pasir pada air kelapa ini berperan sebagai sumber karbon organik untuk
mikroorganisme (Awang, 1991). Menurut Pambayun (2002), sumber karbon yang bisa
digunakan meliputi monosakarida dan disakarida, dimana sukrosa merupakan sumber karbon
yang paling banyak digunakan, contoh sukrosa adalah gula pasir. Penambahan gula pasir
sebanyak 10% yang dilakukan telah sesuai dengan pendapat Sunarso (1982), yang menyatakan
bahwa konsentrasi optimum gula yang digunakan untuk 100 ml substrat adalah 10 gram. Hal ini
karena penambahan gula dalam jumlah yang kurang atau berlebih akan membuat bakteri
Acetobacter xylinum tidak mampu memanfaatkannya secara optimal. Hayati (2003) juga
mengatakan bahwa penambahan gula dalam pembuatan nata bertujuan untuk memperoleh
tekstur, penampakan, dan flavor yang ideal, selain juga berfungsi sebagai pengawet.
Sementara itu, penambahan amonium sulfat (sebanyak 0,5% dari volume total air kelapa)
sebagai sumber nitrogen bertujuan untuk mendukung aktivitas bakteri nata. Sumber nitrogen
yang digunakan dapat diperoleh dari protein maupun ekstrak yeast (nitrogen organik),
ammonium fosfat (ZA), urea dan ammonium sulfat (nitrogen anorganik). Sumber nitrogen yang
sering digunakan adalah ammoniun fosfat (ZA) karena dapat menghambat pertumbuhan
Acetobacter aceti yang merupakan pesaing Acetobacter xylinum (Pambayun, 2002). Menurut
Awang (1991), syarat minimal medium yang digunakan untuk proses fermentasi adalah
mengandung unsur karbon dan nitrogen. Rahayu (1993) menambahkan bahwa sumber C dan N
digunakan untuk pembentukan asam nukleat dan protein sebagai sumber energi untuk
pertumbuhan bakteri optimum, yaitu berupa molekul amonia yang dapat langsung diserap oleh
sel bersama dengan sumber N lain termasuk urea didalamnya.
Perlakuan berikutnya adalah penambahan asam asetat glasial pada air kelapa hingga pH-nya
mencapai 4-5. Penambahan asam asetat glasial bertujuan untuk membuat pH medium yang
sesuai dengan kebutuhan Acetobacter xylinum, sehingga perlu dilakukan penambahan acidulan
ke dalam medium (Anastasia et al., 2008). Pambayun (2002) mengatakan bahwa Acetobacter
xylinum masih dapat tumbuh pada kisaran pH 3,57,5 namun kondisi optimum untuk bakteri ini

adalah pada suasana asam (pH 4,3). Pada kondisi basa, Acetobacter xylinum tidak dapat tumbuh,
sehingga dibutuhkan asam (asam asetat glacial atau asam cuka) untuk menurunkan pH atau
meningkatkan keasaman.
Menurut Atlas (1984), pada kondisi pH 4,5; 2,5-asam ketoglukonat akan diubah menjadi
selulosa. Selain itu, pH yang terlalu rendah menyebabkan Acetobacter xylinum akan
menggunakan energi secara berlebih untuk mengatasi stress akibat perbedaan pH yang terlalu
besar. Sehingga nantinya aktivitas Acetobacter xylinum akan terhenti akibat ketersediaan energi
yang telah habis. Jagannath et al. (2008) mengatakan bahwa untuk membentuk lapisan nata yang
tebal, maka diperlukan pembuatan nata dengan perlakuan pada pH 4-4,2 ; penambahan
ammonium sulfat sebanyak 0,45-0,5% serta sukrosa sebanyak 10%.
Kemudian air kelapa dimasak agar media menjadi steril dan disaring kembali dengan
menggunakan kain saring, lalu dimasukkan pada wadah plastik transparan. Sterilisasi berupa
pemasakan bertujuan untuk membunuh mikroorganisme yang tidak diinginkan, sedangkan
proses penyaringan bertujuan untuk mendapatkan media yang bersih dan bebas dari kontaminan
atau pengotor lainnya (Pato & Dwiloted, 1994). Selanjutnya ditambahkan biang nata (starter)
secara aseptis, ke dalam wadah yang telah berisi media (air kelapa) sebanyak 10% dari volume
media. Penambahan starter sudah sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa dalam pembuatan
nata ditambahkan inokulum sebanyak 1-10%, yang nantinya akan menyebabkan terjadinya
pertumbuhan nata pada substrat (Rahayu et al., 1993).
Dalam proses pembuatan nata tadi, ditambahkan bakteri Acetobacter xylinum. Menurut Fardiaz
(1992), kelompok Acetobacter memiliki sifat anaerobik. Kelompok Acetobacter dapat
mengoksidasi etanol menjadi asam asetat, mengoksidasi asam amino secara lengkap menjadi
CO2 dan H2O dengan membebaskan amonia, serta terkadang akan melepaskan H 2S jika asam
aminonya tergolong sulfidril. Pambayun (2002) menjelaskan bahwa Acetobacter xylinum atau
bibit nata tergolong bakteri yang tidak membahayakan, namun menguntungkan karena dapat
dimanfaatkan oleh manusia hingga menghasilkan produk yang berguna.
Lalu proses selanjutnya dilanjutkan dengan menggojog secara perlahan agar media dan starter
bercampur. Kemudian permukaan wadah ditutup dengan menggunakan kertas koran secara rapat
dengan menggunakan bantuan karet, untuk selanjutnya diinkubasikan pada suhu ruang selama 2

minggu. Selama proses inkubasi, wadah tidak boleh digoyang agar lapisan nata yang terbentuk
tetap stabil dan tidak terpisah-pisah. Dimana waktu dan suhu inkubasi yang dilakukan sudah
sesuai dengan teori, yaitu untuk mendapatkan nata terbaik dengan ketebalan yang optimum,
maka dibutuhkan waktu fermentasi selama 10-14 hari pada suhu 28-32C (Rahayu et al.,
1993). Teori pendukung lain berupa percobaan yang dilakukan oleh Czaja et al. (2004) yaitu
proses inkubasi yang dilakukan pada hari ke-16 sudah tidak dapat lagi terjadi (tidak tampak
pertumbuhan lapisan nata) dikarenakan proses fermentasi optimalnya selama 14 hari.
Setelah itu, dilakukan inkubasi selama 14 hari diikuti dengan pengamatan yang dilakukan
sebanyak 3 kali (hari ke-0, ke-7, dan ke-14) untuk menghitung persentase ketebalan lapisan.
Proses inkubasi bertujuan untuk memberi kesempatan pada bakteri untuk beradaptasi,
beraktitivas, dan menumbuhkan nata pada substrat dengan mengubah gula menjadi selulosa
hingga lapisan nata de coco terbentuk. Pada hari terakhir (hari ke-14), setelah persentase
ketebalan lapisan dihitung semua, nata yang telah terbentuk selanjutnya dikeluarkan dari wadah
dan dicuci dengan air mengalir sambil dibersihkan dari selaput atau lendir yang menyelimutinya.
Nata yang sudah terbentuk kemudian direndam dalam aquades selama 3 hari, dimana setiap
harinya nata harus dicuci dibawa air mengalir dan aquades yang digunakan untuk merendam
harus diganti minimal sebanyak 2x, yaitu di pagi dan sore hari untuk mempercepat penghilangan
bau asam pada nata. Perendaman dan penggantian air ini bertujuan untuk mempercepat
penghilangan bau asam pada nata yang dihasilkan (Rahayu et al., 1993). Setelah itu, dilakukan
pengamatan uji sensori terhadap aroma, warna, dan tekstur pada nata yang dihasilkan. Awalnya
nata dicuci terlebih dahulu, dipotong-potong, direbus dengan larutan gula (300 gram gula dengan
500 ml air matang) hingga mendidih, baru kemudian dibandingkan antar kelompok dalam satu
kloter.
Menurut Anastasia et al (2008), biomassa nata yang terbentuk berasal dari pertumbuhan
Acerobacter xylinum selama proses fermentasi cairan yang mengandung gula dan asam. Gula
dalam medium akan dipecah oleh A. xylinum sehingga polisakarida yaitu selulosa akan
membentuk benang-benang serat yang akan terus menebal membentuk jaringan kuat yang
disebut pelikel nata. Dari peraktikum nata tadi, didapatkan nata de coco yang terbentuk berada di
bagian atas media atau pada permukaan cairan, dimana menurut Palungkun (1996) hal ini terjadi
karena adanya gelembung gas CO2 yang dihasilkan selama proses fermentasi, yang memiliki

kecenderungan melekat pada jaringan selulosa dan mengakibatkan jaringan tersebut terangkat ke
permukaan cairan. Apabila terjadi gangguan selama fermentasi (goncangan, dll) maka akan
menyebabkan nata yang telah terbentuk di permukaan cairan menjadi turun.
Berdasarkan Tabel 1 hasil pengamatan, pada hari ke-0 lapisan nata masih belum terbentuk pada
semua kelompok. Pada hari ke-7, pada masing-masing kelompok mulai terlihat lapisan nata yang
terbentuk dengan ketinggian yang berbeda-beda. Pada hari ke-14, lapisan nata yang terbentuk
juga semakin tebal. Setelah tebal lapisan nata pada hari ke-0, 7, dan 14 diukur ketinggiannya,
selanjutnya dilakukan perhitungan presentase lapisan nata dengan menggunakan rumus:
Presentase Lapisan :

x100%

Dari tabel hasil pengamatan diperoleh informasi tinggi ketebalan nata pada hari ke 0 adalah 0 cm
atau belum terbentuk nata pada semua kelompok. Pada % lapisan nata hari ke 0 juga belum dapat
dilihat karena nata belum terbentuk. Tinggi ketebalan nata kelompok C2 pada hari ke 7 adalah
0,25. Sedangkan untuk kelompok lainnya yaitu 0,3 semua. Sedangkan pada hari ke 14 tinggi
ketebalan nata kelompok C5 adalah yang paling rendah yaitu 0,30. Kelompok C1, C2, C3, dan
C4 secara berurutan yaitu 0,5; 0,7; 0,4; dan 0,9.
Dari hasil pengamatan ketebalan nata, dapat dilihat adanya kecenderungan pola yang sama, yaitu
ketebalan lapisan akan meningkat seiring dengan bertambahnya hari (waktu) inkubasi. Selain itu,
hasil yang didapat ini kurang bisa dilihat pengaruh pemberian biang nata sebesar 10% dari
volume media karena semua kelompok menggunakan konsentrasi yang sama walaupun
persentase ketebalan lapisan yang didapat pada hari ke-14 amat beragam. Adanya perbedaan
presentase lapisan pada setiap kelompok kemungkinan disebabkan karena wadah yang
digunakan setiap kelompok memiliki ukuran yang berbeda sehingga ketinggiannya juga berbeda
satu dengan lainnya.
Sedangkan pada % lapisan nata hari ke 7 kelompok C1, C2, C3, C4 dan C5 secara berurutan
adalah 30, 25, 15, 15, dan 12. Sedangkan untuk hari ke 14 kelompok C1, C2, C3, C4, dan C5
secara berurutan adalah 50, 70, 20, 45, dan 12. Dari hasil ini dapat disimpulkan juga bahwa
Adanya perbedaan presentase lapisan pada setiap kelompok kemungkinan disebabkan karena

wadah yang digunakan setiap kelompok memiliki ukuran yang berbeda sehingga ketinggiannya
juga berbeda satu dengan lainnya.
Palungkun (1996) menambahkan bahwa pembentukan nata terjadi karena proses pengambilan
glukosa di larutan gula dalam substrat oleh sel-sel Acetobacter xylinum. Kemudian glukosa
tersebut digabungkan dengan asam lemak membentuk prekursor (penciri nata) pada membran
sel. Prekursor ini selanjutnya dikeluarkan dalam bentuk ekskresi dan bersama enzim
mempolimerisasikan glukosa menjadi selulosa di luar sel. Komponen selulosa ini selanjutnya
akan membentuk jaringan mikrofibril yang panjang dalam cairan fermentasi.
Faktor faktor yang berpengaruh dalam pembuatan nata adalah pH, suhu dan kandungan gula
dalam substrat (Rahman, 1992). Pambayun (2002) menambahkan bahwa bakteri Acetobacter
xylinum akan menghasilkan enzim ekstraseluler yang dapat menyusun (mempolimerisasi) zat
gula menjadi ribuan rantai (homopolimer) serat atau selulosa. Dari jutaan jasad renik yang
tumbuh dalam bahan tersebut, akan dihasilkan jutaan lembar benang-benang selulosa yang
akhirnya tampak padat berwarna putih hingga transparan, yang disebut dengan nata.

3. KESIMPULAN
Nata merupakan produk fermentasi dengan bantuan bakteri Acetobacter xylinum.
Acetobacter xylinum termasuk bakteri yang tidak membahayakan tetapi menguntungkan
karena dapat dimanfaatkan oleh manusia hingga menghasilkan produk yang berguna.
Proses pembuatan nata de coco meliputi 2 tahapan utama, yaitu pembuatan media dan proses
fermentasi.
Air kelapa mengandung air 91,23%, protein 0,29%, lemak 0,15%, karbohidrat 7,27%, dan
abu 1,06%.
Nata de coco memiliki kandungan selulosa yang tinggi, rendah lemak dan kalori, serta tidak
mengandung kolesterol.
Penyaringan bertujuan untuk membebaskan air kelapa dari kotoran-kotoran yang masih ada.
Pemanasan air kelapa bertujuan untuk membunuh mikroorganisme yang kemungkinan dapat
mencemari produk yang dihasilkan.
Penambahan gula pasir pada pembuatan nata de coco berperan sebagai sumber karbon untuk
mikroorganisme.
Sumber nitrogen yaitu amonium sulfat bertujuan untuk mendukung aktivitas bakteri nata.
Penambahan asam asetat glasial dilakukan untuk membuat pH media menjadi optimal yaitu
pada pH 4-5, karena bakteri Acetobacter xylinum sangat cocok untuk tumbuh pada suasana
asam, yaitu sekitar pH 4,3.
Pada kondisi pH 4-4,2 serta diberikan penambahan ammonium sulfat sebanyak 0,45-0,5%
serta sukrosa sebanyak 10% akan terbentuk nata yang tebal.
Inkubasi nata de coco selama 10-14 hari, pada suhu 2832C akan menghasilkan produk
dengan ketebalan yang optimum.
Proses pamasakan akhir bertujuan untuk sterilisasi media sehingga mikroorganisme yang
tidak diinginkan akan mati.
Perendaman nata dalam aquades berfungsi untuk menghilangkan aroma asam.
Bibit nata sebenarnya merupakan golongan bakteri dengan nama Acetobacter xylinum.
Biomassa nata berasal dari pertumbuhan Acerobacter xylinum selama proses fermentasi
cairan yang mengandung gula dan asam.
Gelembung-gelembung gas CO2 yang

dihasilkan

selama

fermentasi

mempunyai

kecenderungan melekat pada jaringan selulosa sehingga menyebabkan jaringan tersebut


terangkat dan mengapung ke permukaan cairan.
Faktorfaktor yang berpengaruh dalam pembuatan nata adalah pH, suhu dan kandungan gula
dalam substrat.
Nata berupa sel berwarna putih hingga abu-abu muda, tembus pandang dan memiliki tekstur
kenyal.
9

10

Terjadi peningkatan ketebalan nata saat fermentasi karena polisakarida berupa selulosa akan
membentuk benang-benang serat yang terus menebal membentuk jaringan kuat.
Semakin tebal nata yang dihasilkan, semakin menurun kekenyalannya.
Semarang, 8 Juli 2015
Praktikan,
Emmanuel Natalino

Asisten dosen,
Wulan Apriliana
Nies Mayangsari

4. DAFTAR PUSTAKA
Anastasia; Nadia; dan Afrianto Eddy. (2008). Mutu Nata de Seaweed dalam Berbagai
Konsentrasi Sari Jeruk Nipis. Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi II. Universitas
Lampung.
Astawan, M. dan M. W. Astawan. (1991). Teknologi Pengolahan Nabati Tepat Guna Edisi
Pertama. Akademika Pressindo. Bogor.
Atlas, R. M. (1984). Microbiology Fundamental And Applications. Mc Milland Publishing
Company. New York.
Awang, S. A. (1991). Kelapa: Kajian SosialEkonomi. Aditya Media. Yogyakarta.
Czaja W.; Dwight R; and R. Malcolm Brown, Jr. (2004). Structural Investigations of Microbial
Cellulose Produced in Stationary and Agitated Culture. Cellulose11: 403 411.
Fardiaz, S. (1992). Mikrobiologi Pangan 1. PT Gramedia. Jakarta.
Halib, N.; Mohd C. I. M. A.; and Ishak A. (2012). Physicochemical Properties and
Characterization of Nata de Coco fromLocal Food Industries as a Source of Cellulose. Sains
Malaysiana 41(2)(2012): 205211
Hayati, M. (2003). Membuat Nata de Coco. Adi Cita Karya Nusa. Yogyakarta.
Jagannath, A; A. Kalaiselvan; S. S. Manjunatha; P. S. Raju; and A. S. Bawa. (2008). The Effect
of Ph, Sucrose and Ammonium Sulphate Concentrations on The Production of Bacterial
Cellulose (Nata-De-Coco) by Acetobacter Xylinum.World J Microbiol Biotechnol (2008)
24:25932599.
Mesomya, W; Varapat P; Surat K.; Preeya L.; Yaovadee C.; Duangchan H.; Pramote T.; and
Plernchai T. (2006). Effects of Health Food from Cereal and Nata De Coco on Serum Lipids in
Human. J. Sci. Technol., 28(Suppl. 1) : 23-28.
Palungkun, R. (1996). Aneka Produk Olahan Kelapa. Penebar Swadaya. Jakarta.
Pambayun, R. (2002). Teknologi Pengolahan Nata de Coco. Kanisius. Yogyakarta.
Pato, U. & Dwiloted, B. (1994). Proses dan Faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan Nata de
Coco. Sains Teks I (A): 70 77.
Rahayu, E. S.; R. Indriati; T. Utami; E. Harmayanti & M. N. Cahyanto. (1993). Bahan Pangan
Hasil Fermentasi. UGM. Yogyakarta.
Rahman, A. (1992). Teknologi Fermentasi. ARCAN Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi
IPB. Bandung.

Santosa, B.; Kgs. Ahmad; and Domingus T. (2012). Dextrin Concentration and Carboxy Methyl
Cellulosa (CMC) in Makingof Fiber-Rich Instant Baverage from Nata de Coco. IEESE
International Journal of Science and Technology (IJSTE), Vol. 1 No. 1, Mar 2012,6-11.
Sunarso. (1982). Pengaruh Keasaman Media Fermentasi Terhadap Ketebalan Pelikel pada
Pembuatan Nata de Coco. Skripsi. UGM. Yogyakarta.
Tahir, I.; Sri S.; and Shinta D. A. (2008). KAJIAN PENGGUNAAN LIMBAH BUAH NENAS
LOKAL (Ananas comosus, L) SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN NATA Fruit Waste of
Local Pineapple (Ananas Comosus, L) as Nata Media.
http://iqmal.staff.ugm.ac.id/wp.../semnaskimxviii-2008-iqmal-nanas.pdf
Tortora, G.J., R. Funke & C.L. Case. (1995). Microbiology. The Benjamin / Cummings
Publishing Company, Inc. USA.
Volk, W.A. & M.F. Wheeler. (1993). Mikrobiologi Dasar. Erlangga. Jakarta.
Widayati, Eny; Sutarno; dan Setyaningsih, Ratna. (2002). Seleksi Isolat Bakteri untuk
Fermentasi Asam Laktat dari Air Kelapa Varietas Rubescent (Cocos nucifera L. var. rubescent).
Biosmart Volume 4 Nomor 2 Halaman 32-35.

5. LAMPIRAN
5.1.
Perhitungan
Persentase Lapisan Nata =

Tinggi Ketebalan Nata


x 100%
Tinggi Media Awal

Kelompok C1
H0 Persentase Lapisan Nata =

0
x 100% = 0%
1

H7 Persentase Lapisan Nata =

0,3
x 100% = 30 %
1

H14 Persentase Lapisan Nata =

0.5
x 100% = 50 %
1

Kelompok C2
H0 Persentase Lapisan Nata =

0
x 100% = 0%
1

H7 Persentase Lapisan Nata =

0,25
x 100% = 25%
1

H14 Persentase Lapisan Nata =

0,7
x 100% = 70%
1

Kelompok C3
H0 Persentase Lapisan Nata =

0
x 100% = 0%
2

H7 Persentase Lapisan Nata =

0,3
x 100% = 15%
2

H14 Persentase Lapisan Nata =

0,4
x 100% = 20%
2

Kelompok C4
H0 Persentase Lapisan Nata =

0
x 100% = 0%
2

H7 Persentase Lapisan Nata =

0,3
x 100% = 15%
2

H14 Persentase Lapisan Nata =

0,9
x 100% = 45%
2

Kelompok C5
H0 Persentase Lapisan Nata =

0
x 100% = 0%
2,5

H7 Persentase Lapisan Nata =

0,3
x 100% = 12%
2,5

H14 Persentase Lapisan Nata =


5.2.

Abstrak Jurnal

5.3.

Laporan Sementara

0,3
x 100% = 12%
2,5