Anda di halaman 1dari 22

KAPASITOR BANK

A. Pengertian Kapasitor
Kapasitor (Kondensator) yang dalam rangkaian elektronika
dilambangkan dengan huruf "C" adalah suatu alat yang dapat menyimpan
energi/muatan listrik di dalam medan listrik, dengan cara mengumpulkan
ketidakseimbangan internal dari muatan listrik.
Kapasitor ditemukan oleh Michael Faraday (1791-1867). Satuan
kapasitor disebut Farad (F). Satu Farad = 9 x 1011 cm2 yang artinya luas
permukaan kepingan tersebut. Struktur sebuah kapasitor terbuat dari 2
buah plat metal yang dipisahkan oleh suatu bahan dielektrik. Bahanbahan dielektrik yang umum dikenal misalnya udara vakum, keramik,
gelas dan lain-lain. Jika kedua ujung plat metal diberi tegangan listrik,
maka muatan-muatan positif akan mengumpul pada salah satu kaki
(elektroda) metalnya dan pada saat yang sama muatan-muatan negatif
terkumpul pada ujung metal yang satu lagi. Muatan positif tidak dapat
mengalir menuju ujung kutub negatif dan sebaliknya muatan negatif
tidak bisa menuju ke ujung kutub positif, karena terpisah oleh bahan
dielektrik yang non-konduktif. Muatan elektrik ini tersimpan selama
tidak ada konduksi pada ujung-ujung kakinya.
Kapasitor terbentuk dari dua buah konduktor. Suatu
kapasitor dinamakan bermuatan Q jika kedua konduktornya
diberimuatan Q yang sama namun berbeda jenis (yaitu + Q dan
Q). Proses pengisian kapasitor dilakukan dengan menghubungkan
kapasitor

tersebut

dengan

beda

potensial.Muatan

yang

tersimpan dalam kapasitor berbanding lurus dengan beda


potensial yang diberikan.
QV
Konstanta
ke
sebandingannya
menyatakan
(kapasitansi) kapasitor untuk menyimpan muatan.

kapasitas

Q=C . V
Berarti kapasitansi suatu kapasitor merupakan perbandingan

antara muatan yang


disimpannya dengan
antara konduktor-konduktornya.

beda

potensial

Dalam sistem listrik AC atau Arus Bolak-Balik ada tiga jenis daya
yang dikenal, khususnya untuk beban yang memiliki impedansi (Z),
yaitu:

Daya semu (S, VA, Volt Amper)

Daya aktif (P, W, Watt)

Daya reaktif (Q, VAR, Volt Amper Reaktif)


Dalam

rangkaian listrik AC gelombang tegangan dan arus

berbentuk sinusoida, besarnya daya setiap saat tidak sama. Maka daya
yang merupakan daya rata-rata diukur dengan satuan Watt, Daya ini
membentuk energi aktif persatuan waktu dan dapat diukur dengan kwh
meter dan juga merupakan daya nyata atau daya aktif yang digunakan
oleh beban listrik.
Daya

semu dinyatakan

dengan

satuan Volt-

Ampere (disingkat, VA), menyatakan kapasitas peralatan listrik, seperti


yang

tertera

reaktif (VAR)

pada
adalah

peralatan generator dan transformator.


daya

yang

terpakai

sebagai

Daya
energi

pembangkitan flux magnetik sehingga timbul magnetisasi dan daya ini


dikembalikan ke sistem karena efek induksi elektromagnetik itu sendiri,
sehingga daya ini sebenarnya merupakan beban (kebutuhan) pada suatu
sistim tenaga listrik.

Gambar 1. Segitiga Daya.

B. Pengertian Faktor Daya (Cos Phi)


Faktor daya Cos phi adalah perbandingan antara daya aktif
(watt) dengan daya semu (VA). Daya reaktif yang tinggi akan
meningkatkan sudut ini dan sebagai hasilnya faktor daya akan menjadi
lebih rendah. Nilai cos phi selalu lebih kecil atau sama dengan satu.
Faktor Daya menggambarkan sudut phasa antara daya aktif dan daya
semu. Faktor daya yang rendah merugikan karena mengakibatkan arus
beban tinggi.
C. Efek Pemasangan Kapasitor
Perbaikan faktor daya ini menggunakan kapasitor bank.Faktor
daya dapat diperbaiki dengan memasang kapasitor pengkoreksi faktor
daya pada

sistem

distribusi

pabrik/industri. Kapasitor bertindak

listrik/instalasi

listrik

sebagai pembangkit

di
daya

reaktif dan oleh karenanya akan mengurangi jumlah daya reaktif, juga
daya semu yang dihasilkan oleh bagian beban. Sebuah contoh yang
memperlihatkan perbaikan faktor daya dengan pemasangan kapasitor
ditunjukkan dibawah ini:
Contoh:
3

Sebuah pabrik kimia memasang sebuah trafo 1500 kVA.


Kebutuhan parik pada mulanya 1160 kVA dengan faktor daya 0,70.
Persentase pembebanan trafo sekitar 78 persen (1160/1500 = 77.3
persen). Untuk memperbaiki faktor daya dan untuk mencegah denda
oleh pemasok listrik, pabrik menambahkan sekitar 410 kVAr pada
beban motor. Hal ini meningkatkan faktor daya hingga 0,89, dan
mengurangi kVA yang diperlukan menjadi 913 kVA, yang merupakan
penjumlahan vektor kW dankVAr. Trafo 1500 kVA kemudian hanya
berbeban 60 persen dari kapasitasnya. Sehingga pabrik akan dapat
menambah beban pada trafonya dimasa mendatang. (Studi lapangan
NPC)
D. Keuntungan perbaikan faktor daya melalui pemasangan kapasitor adalah:
1. Bagi Konsumen, khususnya perusahaan atau industri:
a. Diperlukan hanya sekali investasi untuk pembelian dan
pemasangan kapasitor dan tidak ada biaya terus menerus.
b. Mengurangi biaya listrik bagi perusahaan, sebab:
1) daya reaktif (kVAR) tidak lagi dipasok oleh perusahaan
sehingga kebutuhan total(kVA) berkurang dannilai denda
yang dibayar jika beroperasi pada faktor daya rendah dapat
dihindarkan.
2) Mengurangi

kehilangan

distribusi

(kWh)

dalam

jaringan/instalasi pabrik.
3) Tingkat tegangan pada beban akhir meningkat sehingga
meningkatkan kinerja motor.
2. Bagi pemasok listrik
a. Komponen reaktif pada jaringan dan arus total pada sistim
berkurang.

b. Kehilangan daya dalam sistim berkurang karena penurunan arus.


c. Kemampuan kapasitas jaringan distribusi listrik meningkat,
mengurangi kebutuhan untuk memasang kapasitas tambahan.
E. Metoda Pemasangan Instalasi Kapasitor
Cara pemasangan instalasi kapasitor dapat dibagi menjadi 3 bagian
yaitu :
a

Global compensation
Dengan metode ini kapasitor dipasang di induk panel ( MDP )
Arus yang turun dari pemasangan model ini hanya di penghantar
antara panel MDP dan transformator. Sedangkan arus yang lewat
setelah MDP tidak turun dengan demikian rugi akibat disipasi
panas pada penghantar setelah MDP tidak terpengaruh. Terlebih
instalasi tenaga dengan penghantar yang cukup panjang Delta
Voltagenya masih cukup besar.

Sectoral Compensation
Dengan metoda ini kapasitor yang terdiri dari beberapa panel
kapasitor dipasang dipanel SDP. Cara ini cocok diterapkan pada
industri dengan kapasitas beban terpasang besar sampai ribuan kva
dan terlebih jarak antara panel MDP dan SDP cukup berjauhan.

Individual Compensation
Dengan metoda ini kapasitor langsung dipasang pada masing
masing beban khususnya yang mempunyai daya yang besar. Cara
ini sebenarnya lebih efektif dan lebih baik dari segi teknisnya.
Namun ada kekurangan nya yaitu harus menyediakan ruang atau

tempat khusus untuk meletakkan kapasitor tersebut sehingga


mengurangi nilai estetika. Disamping itu jika mesin yang dipasang
sampai ratusan buah berarti total cost yang di perlukan lebih besar
dari metode diatas
F. Komponen-komponen utama yang terdapat pada panel kapasitor antara
lain:
1. Main switch / load Break switch
Main switch ini sebagai peralatan kontrol dan isolasi jika ada
pemeliharaan panel . Sedangkan untuk pengaman kabel / instalasi
sudah tersedia disisi atasnya (dari) MDP.Mains switch atau lebih
dikenal

load

break

switch

adalah

peralatan

pemutus

dan

penyambung yang sifatnya on load yakni dapat diputus dan


disambung dalam keadaan berbeban, berbeda dengan on-off switch
model knife yang hanya dioperasikan pada saat tidak berbeban.
Untuk menentukan kapasitas yang dipakai dengan perhitungan
minimal 25 % lebih besar dari perhitungan KVar terpasang dari
sebagai contoh :
Jika daya Kvar terpasang 400 Kvar dengan arus 600 Ampere, maka
pilihan kita berdasarkan 600 A + 25 % = 757 Ampere yang dipakai
size 800 Ampere.
2. Kapasitor Breaker.
Kapasitor Breaker digunakan untuk mengamankan instalasi kabel
dari breaker ke Kapasitor bank dan juga kapasitor itu sendiri.
Kapasitas breaker yang digunakan sebesar 1,5 kali dari arus nominal
dengan I m = 10 x Ir. Untuk menghitung besarnya arus dapat
digunakan rumusI n = Qc / 3 .VLSebagai contoh : masing masing
steps dari 10 steps besarnya 20 Kvar maka dengan menggunakan
rumus diatas didapat besarnya arus sebesar 29 ampere, maka
pemilihan kapasitas breaker sebesar 29 + 50 % = 43 A atau yang

dipakai 40 Ampere. Selain breaker dapat pula digunakan Fuse,


Pemakaian Fuse ini sebenarnya lebih baik karena respon dari kondisi
over current dan Short circuit lebih baik namun tidak efisien dalam
pengoperasian jika dalam kondisi putus harus selalu ada penggantian
fuse. Jika memakai fuse perhitungannya juga sama dengan
pemakaian breaker.
3. Magnetic Contactor
Magnetic contactor diperlukan sebagai Peralatan kontrol.Beban
kapasitor mempunyai arus puncak yang tinggi , lebih tinggi dari
beban motor. Untuk pemilihan magnetic contactor minimal 10 %
lebih tinggi dari arus nominal ( pada AC 3 dengan beban
induktif/kapasitif). Pemilihan magnetic dengan range ampere lebih
tinggi akan lebih baik sehingga umur pemakaian magnetic contactor
lebih lama.

4. Kapasitor Bank
Kapasitor bank adalah peralatan listrik yang mempunyai sifat
kapasitif..yang akan berfungsi sebagai penyeimbang sifat induktif.
Kapasitas kapasitor dari ukuran 5 KVar sampai 60 Kvar. Dari
tegangan kerja 230 V sampai 525 Volt atau Kapasitor Bank adalah
sekumpulan beberapa kapasitor yang disambung secara parallel
untuk mendapatkan kapasitas kapasitif tertentu. Besaran yang sering
dipakai adalah Kvar (Kilovolt ampere reaktif) meskipun didalamnya
terkandung / tercantum besaran kapasitansi yaitu Farad atau
microfarad. Kapasitor ini mempunyai sifat listrik yang kapasitif
(leading). Sehingga mempunyai sifat mengurangi / menghilangkan
terhadap sifat induktif (leaging)
5. Reactive Power Regulator

Peralatan ini berfungsi untuk mengatur kerja kontaktor agar daya


reaktif yang akan disupply ke jaringan/ system dapat bekerja sesuai
kapasitas yang dibutuhkan. Dengan acuan pembacaan besaran arus
dan tegangan pada sisi utama Breaker maka daya reaktif yang
dibutuhkan dapat terbaca dan regulator inilah yang akan mengatur
kapan dan berapa daya reaktif yang diperlukan. Peralatan ini
mempunyai bermacam macam steps, dari 6 steps , 12 steps sampai
18 steps.

I. IMPEDANSI JARINGAN
Arus AC adalah arus yang sipatnya mempunya dua arah atau lebih di
kenal dengan sebutan arus bolak-balik yang tidak memiliki sisi negatif, dan
hanya mempunya ground (bumi). Arus AC biasa di gunakan untuk tegangan
listrik PLN sebesar misalnya 220 Volt 50 hertz, ini adalah tegangan standard
untuk Indonesia.
Pada dasarnya, di setiap rangkaian arus pasti mempunyai nilai
induktansi, hambatan dan kapasitas. Akan tetapi nilai hambatan, kapasitas dan
induktansi tergantung pada jenis komponen di dalam rangkaian tersebut, yang
dalam keadaan tertentu nilainya dapat diabaikan sedangkan pada kondisi lain
tidak dapat diabaikan. Dalam arus AC, terdapat hambatan yang disebut
impedansi (Z) yang terdiri dari :

HambatanMurni (R)
HambatanInduktif (XL)
HambatanKapasitor (XC)

Padarangkaian

R-L-C,

:
:
:

terdapat

kemungkinanimpedansi

dengansudutfase, yaitu :
(0

)
2

XL>XC : rangkaian bersifat induktif, arus tertinggal

dari tegangan sebesar

(0

)
2

XL< XC: rangkaian bersifat kapasitif, arus tertinggal

dari tegangan sebesar

XL=XC : rangkaian bersifat resistif (terjadi resonansi), arus sefase


dengan tegangan.

A. Rangkaian seri

K
R

Rangkaian Listrik dengan Hubungan Seri

Gambar di atas menunjukan sebuah rangkaian listrik dengan arus


bolak-balik dengan susunan seri yang terdiri dari T sebuah tegangan arus
bolak-balik, bangku kapasitor (C), Induktor (L), Hambatan (R) dan sebuah
miliamperemeter (mA).
Jika E adalah besarnya tegangan efektif dan besarnya frekuensi
sudut dari sumber tegangan arus bolak-balik, maka besarnya arus efektif
(I) yang mengalir melalui rangkaian tersebut adalah :
I

E
R2 X L X C

(1)
dimana :
R = besarnya tahanan (Ohm)
L = besarnya induktansi dari konduktor (Henry)

C = besarnya kapasitansi dari kapasitor (Farad)


I = kuat arus (Ampere)
E = tegangan (Volt)
= frekuensi sudut (radian per detik)

Jika nilai C diubah-ubah besarnya, maka akan terdapat harga I yang


mencapai harga maksimum. Harga arus maksimum itu dicapai pada saat
harga :

1
2L

Dan besarnya kuat arus :

I max

E
R
C

Rangkaian listrik dimana I mencapai maksimum dan harga

1
2L

disebut : dalam keadaan resonansi seri.


B. Rangkaian paralel
K
L

Rangkaian Listrik dengan Hubungan Paralel

Gambar menunjukkan sebuah rangkaian arus bolak-balik dengan


susunan paralel dengan induktor (termasuk hambatannya) dengan
kapasitor kemudian disusun seri dengan miliamparemeter ke sumber

10

tegangan arus bolak-balik. Jika E tegangan efektif dari sumber tegangan,


maka kuat arus efektifnya adalah :
I

E 2 C 2 1 2 2 LC
R 2 2 L2

(4)

Jika C diubah-ubah besarnya, maka akan terdapat harga I yang mencapai


harga minimum. Harga arus minimum itu dapat dicapai pada saat harga :

1
R2
2

L
L

(5)

dan besar kuat arus :

ER
R 2 L2
2

Seperti halnya pada rangkaian seri, maka pada saat arus mencapai hargga
minimum, maka rangkaian tersebut : dalam keadaan resonansi paralel.
Catatan :
Pada percobaan ini tidak dipakai hambatan R khusus, melainkan R diambil
dari kumparan konduktornya (induktor terdiri dari kuparan kawat dan
besi).
Rangkaian bangku kapasitor biasanya seperti :

C1

C2

C3

C4

Rangkaian Bangku Kapasitor

Jadi dengan menyusun paralel kapasitansinya dijumlahkan dari


masing-masing kapasitor yang terpakai. Adapun bangku kapasitor geser
dimana kapasitansinya adalah jumlah langsung dari tiap-tiap penunjukkan
gesernya.

11

Pada setiap pengukuran baik arus searah maupun arus bolak-balik,


selalu digunakan batas ukur yang terbesar kemudian berturut-turut
dikecilkan. Demikian pula untuk tegangan.
II.

RESONANSI
Resonansi adalah suatu gejala yang terjadi pada suatu rangkaian arus
bolak-balik yang mengandung elemen induktor, L, dan kapasitor, C.
Resonansi terbagi atas dua yaitu:
Resonansi dalam rangkaian seri (resonansi seri)
Resonansi dalam rangkaian paralel (resonansi paralel = anti resonansi)
Resonansi seri terjadi bila reaktansi induktif sama dengan reaktansi
kapasitif, XL= XC dan Resonansi parallel terjadi bila suseptansi induktif
pada suatu cabang sama dengan suseptansi kapasitif pada cabang lainnya,
BL = B C
A. Frekuensi Resonansi
Resonansi adalah proses bergetarnya suatu benda dikarenakan
ada benda lain yang bergetar, hal ini terjadi karena suatu benda
bergetar pada frekuensi yang sama dengan frekuensi benda yang
terpengaruhi.
Resonansi pada rangkaian AC (Alternating Curren) merupakan
keadaan dimana reaktansi induktif dan reaktansi kapasitif memiliki
nilai yang sama (XL = XC ). Reaktansi induktif akan meningkat
seiring meningkat-nya frekuensi sedangkan reaktansi kapasitif justru
sebaliknya, akan menurun jika frekuensi meningkat. Jadi hanya akan
ada satu nilai frekuensi dimana keadaan kedua reaktanssi tersebut
bernilai sama.
Frekuensi resonansi dapat dihitung menggunakan persamaan
matematika berikut ini :

B. Rangkaian seri
Rangkaian resonansi seri merupakan kombinasi rangkaian
induktor dan kapasitor yang disusun secara seri. Bila frekuensi sumber

12

tegangan diubah-ubah, maka akan terjadi resonansi ketika reaktansi


induktif sama dengan reaktansi kapasitif,
X L X C maka r frek . sudut resonansi

r L

1
r C

dan f r

1
LC

r
1

2 LC

frekuensi resonansi

Z = R + jX
Z = R + j (rL 1/rC)
Z = R + j 0 atau
Z=R
Nilai impedansi sama dengan nilai resistansi sehingga vS = vR. Untuk
menghitung nilai frekuensi referensi menggunakan rumus diatas.
Contoh :

Pada rangkaian di atas kapasitor C1 memiliki nilai kapasitansi


10uF dan induktor L1 memiliki nilai induktansi 120mH. Berapakah
frekuensi resonansi (Fr) pada rangkaian resonansi seri di atas?
Fr = 1 / (2 (LC))
Fr = 1 / (2 3,14 (0,12 10-5))
Fr = 1 / 0,006879
Fr = 145,36 Hz
Jika disimulasikan menggunakan software simulasi dan kita
plot nilai arus terhadap frekuensi, rangkaian resonansi seri akan
menghasilkan bentuk kurva seperti terlihat berikut ini.

13

Bentuk kurva untuk rangkaian resonansi seri pada saat keadaan


resonansi, arus yang mengalir pada rangkaian mencapai nilai
maksimum-nya. Ini menandakan bahwa rangkaian resonansi seri
memiliki impedansi yang sangat rendah pada kondisi resonansi,
bahkan pada rangkaian ideal nilai impedansi rangkaian akan sama
dengan 0 (Nol).
C. Rangkaian paralel (Tank Circuit)
Kombinasi rangkaian induktor dan kapasitor yang dapat
menghasilkan keadaan resonansi lainnya adalah dengan merangkai
induktor dan kapasitor secara paralel atau disebut juga sebagai Tank
Circuit.
Contoh :

Cara menghitung frekuensi resonansi (Fr) pada rangkaian


paralel sama dengan menghitung frekuensi resonansi pada rangkaian
seri.Bentuk kurva yang dihasilkan oleh rangkaian resonansi paralel
melalui simulasi elektronika diperlihatkan pada gambar berikut ini.

14

Berdasarkan pada kurva di atas, pada keadaan resonansi, arus yang


mengalir pada rangkaian mencapai nilai minimum-nya bahkan hampir
mendekati 0 (Nol). Ini menandakan bahwa impedansi rangkaian
sangat tinggi bahkan pada kondisi ideal impedansi rangkaian memiliki
nilai yang tak terhingga.

D. Anti Resonansi
Pada suatu rangkaian resonansi paralel yang hanya terdiri dari
induktor (L) dan kapasitor (C) jika ditambahkan resistor (R) secara seri
pada salah satu-nya akan mengakibatkan bergeser-nya frekuensi
resonansi. Hal ini juga berimbas menjadi tidak relevan-nya persamaan
frekuensi resonansi (Fr) yang telah dijelaskan sebelumnya.

Pada rangkaian resonansi paralel di atas ditambahkan RL (100) yang


disusun secara seri dengan induktor L1. Hasilnya frekuensi resonansi
bergeser ke bawah dari 145,36 Hz menjadi 131,83 Hz.

15

Jika resistor di tambahkan secara seri pada C1 yakni RC (100 ), hasilnya


frekuensi resonansi bergeser ke atas dari 145,36 Hz menjadi 165,96 Hz.
Pergeseran nilai frekuensi resonansi (Fr) ketika suatu rangkaian resonansi
paralel yang terdiri dari L dan C ditambahkan pada salah satu-nya sebuah R
dengan nilai yang cukup besar, dinamakan sebagai Anti Resonansi.
Kemudian bagaimana dengan rangkaian resonansi seri yang hanya
terdiri dari induktor (L) dan kapasitor (C) jika ditambahkan resistor (R)
secara seri?

Ternyata pergeseran frekuensi resonansi tidak terlalu signifikan jika


dibandingkan dengan hasil perhitungan menggunakan persamaan Fr. Pada
hasil perhitungan Fr = 145,36 Hz sedangkan jika ditambahkan R1 (100 ),
Fr = 144,54 Hz dan hal ini masih bisa di toleransi. Berdasarkan pada hal
tersebut, dapat disimpulkan bahwa anti resonansi tidak terjadi pada rangkaian
resonansi seri.
III.

PENGGUNAAN FILTER PASIF SEBAGAI PEREDUKSI EFEK


HARMONISA
Beberapa peralatan yang dapat menyebabkan timbulnya harmonisa
antara lain peralatan-peralatan yang umumnya menggunakan jenis semikonduktor seperti lampu hemat energi, TV, printer, komputer dan lain
sebagainya. Peralatan ini dirancang untuk menggunakan arus listrik secara
hemat dan efisien karena arus listrik hanya dapat melalui komponen semikonduktornya selama periode pengaturan yang telah ditentukan. Namun di
16

sisi lain hal ini akan menyebabkan gangguan gelombang arus dan tegangan
yang pada akhirnya akan kembali ke bagian lain sistem tenaga listrik.
Fenomena ini akan menimbulkan gangguan beban tidak linier satu
fasa. Hal di atas banyak terjadi pada distribusi yang memasok pada areal
perkantoran atau komersial. Sedangkan pada areal perindustrian gangguan
yang terjadi adalah beban non-linier tiga fasa yang disebabkan oleh motor
listrik, kontrol kecepatan motor, batere charger, electroplating, dapur
busur listrik, dan lain-lain.
Masalah yang dibahs tentang penentuan tingkat % THD (Total
Harmonic Distortion) arus dan tegangan sesuai acuan standar IEEE 5191992 Menentukan nilai kapasitor dan induktor sebagai filter pasif untuk
tingkat harmonisa ke-3 pada beban lampu hemat energi dan lampu pijar
agar sesuai dengan standar IEEE 519-1992.

A. Teori dasar Harmonisa


Pada dasarnya, harmonisa adalah gelombang-gelombang sinus
dengan frekuensi kelipatan (integer) dari frekuensi sumber, dan
apabila digabungkan dengan gelombang sinus dengan frekuensi
sumber akan menghasilkan gelombang yang terdistorsi (non-sinus).
Sedangkan frekuensi harmonik pada dasarnya adalah suatu frekuensi
yang menyebabkan cacatnya gelombang amplitudo dalam suatu
sistem tenaga listrik .
Untuk bilangan bulat pengali frekuensi dasar disebut angka
urutan harmonisa. Misalnya, frekuensi dasar suatu sistem tenaga
listrik adalah 50 Hz, maka harmonisa keduanya adalah gelombang
dengan frekuensi sebesar 100 Hz, harmonisa ketiga adalah gelombang
dengan frekuensi sebesar 150 Hz dan seterusnya sehingga dapat
dituliskan dengan persamaan (Suprianto 2005 : 22)

17

fh = n x f1 1)
dengan :
fh = frekuensi harmonisa
f1 = frekuensi fundamental
n = bilangan bulat positif
Gelombang-gelombang

ini

kemudian

menumpang

pada

gelombang murni atau aslinya sehingga terbentuk gelombang cacat yang


merupakan jumlah antara gelombang murni sesaat dengan gelombang
harmonisanya. Karakteristik harmonisa dapat dipresentasikan dengan deret
fourier (Jusmin 2003:17).
f ( t )=

a0
[ a cos ( h 0 t ) +b h sin (h 0 t )] ..2)
2 h=1 h
T

a0 =

1
f ( t ) dt
T 0
T

2
ah = f ( t ) .cos h tdt
T 0
T

2
bh = f ( t ) .sin h tdt
T 0
Harmonisa sangat mengganggu sistem tenaga listrik, berbeda
halnya jika kita melihat bahwa sebuah generator menjadi sumber penghasil
listrik dan peralatan listirk yang menjadi bebannya sedangkan untuk
harmonisa justru sebaliknya beban menjadi sumber harmonisa dan beban
harmonisa adalah peralatan listrik disekitarnya dan generator itu sendiri.
Harmonisa cenderung akan menuju ketempat yang memiliki impedansi
yang rendah dan dalam sistem penyaluran energi listrik terdapat impedansi
yang sangat rendah sehingga harmonisa dapat bergerak menuju generator
sebagai pembangkit tenaga listrik (Schneider Electric:102).
18

Berdasarkan gambar 1 diatas harmonisa awalnya muncul dari


beban non-linier kemudian bergerak menuju sistem penyaluran energi
listrik dan peralatan lain akibatnya transformator dapat terkena dampak
yang sangat berbahaya yakni panas yang berlebih pada transformator yang
disebabkan oleh naiknya losses pada transformator setelah itu merambat
menuju sistem penyaluran energi listrik dan peralatan lainya.
Salah satu sumber harmonisa yang akan kita bahas kali ini untuk
menjelaskan prinsip kerja dari filter harmonisa pasif adalah harmonisa
yang ditimbulkan oleh lampu hemat energy.
B. Prinsip Kerja Filter Pasif
Prinsip kerja dari filter shunt (filter pasif paralel) adalah
dengan meng-short circuit-kan arus harmonisa yang ada dekat dengan
sumber distorsi. Ini dilakukan agar supaya menjaga arus harmonisa
yang masuk tersebut tidak keluar menuju peralatan lain dan sumber
supply energi listrik. Komponen filter pasif ini terdiri dari dua
komponen yakni kapasitor yang dihubungkan seri dengan induktor
(reaktor).
Penggunaan filter jenis ini dapat memberikan keuntungan
tersendiri bagi sistem tenaga listrik, disamping mampu mereduksi
tingkat harmonisa, penggunaan kapasitor pada peralatan ini dapat
memperbaiki cos sistem, pada reaktornya berfungsi sebagai filter
19

dan juga melindungi kapasitor dari over kapasitor hal ini dikarenakan
adanya resonansi. Sebuah rangkaian LC dipasang pada frekuensi
harmonisa sebagai filter, pemasangannya secara paralel dengan
peralatan yang menyebabkan distorsi harmonisa seperti gambar 5.

Penentuan nilai kapasitor sangat penting karena jika arus harmonisa


yang dihasilkan adalah kecil sedangkan kapasitas kapasitor lebih besar,
maka akan muncul masalah baru dalam sistem tenaga listrik yakni over
capasitive, kondisi ini akan menyebabkan pemanasan berlebih pada
peralatan-peralatan lainnya, salah satunya adalah penghantarnya karena
arus dan tegangan akan naik. Kapasitor yang digunakan bermacam-macam
tergantung pada tingkat harmonisa yang dihasilkan.

20

1. Perhitungan kapasitor
Data daya beban :
S = 363 VA = 0,363 kVA
Cos = 0,8
Untuk Cos sebesar 0,8 diperlukan besarnya kapasitor : 0,363 x sin
(arccos (0,8) = 0,21 kVAR. Agar dapat mengurangi besarnya kapasitas
dari kapasitor dengan tujuan agar Cos sistem menjadi baik, maka
perlu dinaikan Cos menjadi 0.95. sehingga memerlukan kapasitor
sebesar :
0,363 x sin (arccos (0,95)) = 0,11 kVAR
Dibutuhkan kompensasi dari filter : 0,21 0,11 = 0,09 kVAR
Untuk tegangan nominal sistem 380 V, reaktansi fiter Xfilter dapat
diketahui :
2

k V (100)
X filter=
kVAR

( 0.38 )2 (1000)
=1604.4
0.09
X filter

merupakan perbedaan antara reaktansi kapasitif dan

reaktansi induktif pada frekuensi fundamental:


X filter r =X kapasitor X L
Misalkan untuk orde harmonisa ke-3, maka:
2

X kapasitor =h X t=3 X L
Oleh karena itu, reaktansi kapasitif yang diinginkan dapat dicari:

21

X filter x h2 1604 x 32
X kapasitor = 2
= 2
1805
h 1
3 1
Karena dipasaran kapasitas kapasitor sebesar 0.08 kVAR tidak ada
sedangkan kapasitor yang paling kecil adalah sebesar 2.5 kVAR,
maka dipilih kapasitor dengan daya 2.5kVAR tipe standar.
2. Penentuan Induktor
Kapasitas filter reactor sekarang dapat dihitung untuk dipasang
dengan kapasitor pada frekuensi yang diinginkan (fundamental):
X L(fund )=

X kapasitor
h

57.7
= 3.8
152

Maka besarnya inductor yang dibutuhkan :


X L(fund )

L = 2. .50

3.8
=0.01 mH
314

22