Anda di halaman 1dari 15

1.

HASIL PENGAMATAN
Hasil pengamatan yang pembentukan lapisan nata de coco dan uji sensoris dapat
dilihat pada Tabel 1 dan Tabel 2 dibawah ini.
Tabel 1. Hasil Pengamatan Lapisan Nata de Coco
Kel
D1
D2
D3
D4
D5

Tinggi awal
media (cm)
2
1,2
1,3
1
2,5

Tinggi Ketebalan Nata (cm)


0
-

7
0,5
0,5
0,4
0,4
0,6

14
0,7
0,6
0,5
0,5
0,6

%Lapisan nata
0
-

7
25
41,67
30,77
40
24

14
35
50
38,46
50
24

Berdasarkan Tabel 1 mengenai lapisan nata de coco dapat diketahui tinggi awal media
kelompok D1 yaitu 2 cm, kelompok D2 yaitu 1,2 cm, kelompok D3 yaitu 1,3 cm, kelompok D4
yaitu 1 cm dan kelompok D5 yaitu 2,5 cm. Pada hari ke 7 peningkatan ketebalan paling banyak
terjadi pada kelompok D5 yatu 0,6 dan yang paling rendah adaalah kelompok D3 dan D4 yaitu
0,4. Pada hari ke 14 ketebalan lapisan nata de coco yang paling tinggi nampak pada kelompok
D1 yaitu 0,7 sedangkan kelompok D5 tidak mengalami perubahan.

Tabel 2. Hasil Pengamatan Uji Sensori Nata de Coco


Kelompok
D1
D2
D3
D4
D5

Aroma
++
++
+++
+
++

Keterangan:
Aroma:
+
: sangat asam
++
: asam
+++
: agak asam
++++ : tidak asam

Warna:
+
++
+++
++++

Warna
+
+
++
+
++
: kuning
: putih bening
: putih agak bening
: putih

Tekstur
+
+++
++
+++
+
Tekstur:
+
++
+++
++++

: tidak kenyal
: agak kenyal
: kenyal
: sangat kenyal

Berdasarkan tabel 2 mengenai uji sensori dapat diketahui bahwa nata de coco yang
memiliki aroma yang sangat asam ditunjukkan oleh kelompok D4. Kelompok D1, D2,
dan D5 menghasilkan nata decoco dengan aroma yang asam sedangkan kelompok D3
menghasilkan aroma yang asam. Warna lapisan nata de coco kelompok D1, D2, dan D3
adalah kuning dan kelompok D3 serta D5 memiliki warna lapisan putih bening. Tekstur

lapisan yang kenyal ditunjukkan pada kelompok D2 dan D4 sedangkan D1 dan D5


memiliki tekstur yang tidak kenyal.

2. PEMBAHASAN
3.

Tujuan dari dilakukannya praktikum fermentasi nataa de coco adala

untuk mengetahui pros dan tahapan yang terjadi selama fermentasi nata de coco
dan memanfaatkan limbah air kelapa dalam pembuatan nata de coco. Bahan
utama yang digunakan dalam pembuatan nata de coco adalah air kelapa.
Menurut Jagannath et al. (2008) nata de coco merupakan selulosa yang
terbentuk diatas air kelapa oleh bakteri Acetobacter xylinum. Secara fisik, nata
yang dihasilkan dengan medium air kelapa memiliki tipis dan kenyal, berbentuk
layer selulosa yang transparan pada permukaan medium dengan ketebalan yang
semakin meningkat pada hari ke 15 hingga 20. Lapisan dipotong kotak-kotak
dan direbus dalam air sebelum dimasak dengan sirup gula. Nata de coco
biasanya dikonsumsi dalam bentuk cocktail dan jeli buah. Pertumbuhan A.
xylinum dipengaruhi oleh jenis dan konsentrasi gula, sumber nitrogen dan pH.
Ketebalan nata de coco meningkatkan kapasitas penyerapan air yang secara
tidak langssung mempengaruhi tekstur secara fisik, dan sifat organoleptik. Nata
de coco memiliki tekstur yang kenyal, chewy, soft dan halus pada bagian
permukaan.
4.

Bahan yang digunakan dalam pembuatan media antara lain gula, asam

asetat glasial 95%, ammonium sulfat, starter, dan air kelapa. Air kelapa yang
digunakan merupakan air kelapa murni tanpa campuran apapun. Menurut
Hamad et al. (2011) dalam pembentukan nata de coco dibutuhkan Acetobacter
xylinum dimana bakteri ini membutuhkan sumber C, H, N, dan mineral. Air
kelapa mengandung sebagian nutrisi yang dibutuhkan oleh bakteri ini.
Kurangnya kandungan carbon dapat dilakukan penambahan sukrosa, glukosa
atau tepung sedangkan kekurangan nitrogen dapat dilakukan penambahan
ammonium sulfat, ZA, dan ekstrak yesat. Penambahan fruktosa akan
menghasilkan ketebalan selulosa yang paling baik dibandngkan dengan yang
lain. Tahapa awal yang dilakukan dalam praktikum pembuatan nata de coco
kloter D adalah dengan melakukan penyaringan (lihat gambar 1). Tujuan
dilakukan penyaringan adalah didapatkannya air kelapa murni tanpa campuran
serpihan kulit atau pun kotoran lain yang ikut bercampur dalam air kelapa.

5.
6.
7.

Gambar 1. Penyaringan air kelapa

Air kelapa yang telah disaring kemudian ditambahkan gula pasir dann

diaduk hingga larut. Penambahan gula berfungsi sebagai sumber karbon bagi
starter nata de coco. Larutan kemudian ditambah dengan ammonium sulfat
sebanyak 0,5%. Penambahan ammonium sulfat berfungsi sebagai sumber
nitrogen. Larutan lalu ditambah dengan asam cuka glasial hingga tercapai pH 45. Derajat keasaman harus dicapai agar pertumbuhan bakteri Acetobacter
xylinum berlangsung dengan optimal.
8.

Menurut Halib et al. (2012) selama proses fermentasi nata de coco,

Acetobacter xylinum memanfaatkaan glukosa yang terdapaat dalam air kelapa


sebagai sumber karbon dan mengubahnya menjadi selulosa ekstraseluler dalam
proses metabolisme. Acetobacter xylinum merupakan bakteri asam asetat gram
negatif dan bersifat aerob dengan yang memiliki kemampuan untuk
mengoksidasi berbagai jenis alkohol dan gula menjadi asam asetat. Derajat
keasaman air kelapa adalh 5-6 dan selulosa murni yang dihasilkan dari air kelapa
dengan bakteri selulosa berkisar 5 hingga 7,5.
9.

Menurut Mohammad et al. (2014) faktor pertumbuhan Acetobacter

xylinum yaitu:
-

sumber karbon
10.

Sumber carbon yang paling banyak digunakan adalah sukrosa. Selain

harganyaa yang murah, sukrosa mampu menghasilkan yield paling banyak.


Penggunaan sukrosa dalam jumlah banyak akan mengakibatkan limbah sukrosa
sedangkan bila penggunaannya terlalu sedikit maka pertumbuhan nata tidak
berjalan normal.

sumber nitrogen
11.
Sumber nitrogen yang bagus untuk menghasilkan nata adalah ekstrak

yeast dan casein.


pH
12.
Acetobacter xylinum dapat tumbuh pada pH antara 3,5-7,5. Pada pH 4,3

sangat tepat untuk pertumbuhan Acetobacter xylinum.


Suhu
13.
Suhu optimum yang digunakan untuk pertumbuhan Acetobacter xylinum
adalah 28oC-31oC. Dibawah suhu 28oC bakteri tidak tumbuh dan diatas 31oC

bakteri akan mati.


keberadan oksigen
14.

Tanpa adanya oksigen maka Acetobacter xylinum tidak dapaat tumbuh

dan pembentukaan selulosa akan terhenti.


15.
16.

Setelah semua bahan dilarutkan dalam panci, larutan tersebut kemudian

dipanaskan. Tujuan dilakukan pemanasan hingga mendidih adalah untuk


membunuh mikroba yang tidak diinginkan mati sehingga nata yang akan
dihasilkan tidak tercemar. Bila tidaak dilakukan proses pemanasan maka
mikroba lain dapat hidup sehingga dapat mengganggu pertumbuhan dan
aktivitas Acetobacter xylinum dalam mengkonversi gula menjadi selulosa
(Palungkun , 1992). Pemanasan juga dapat berfungsi untuk melarutkan gula.
Perlakuan panas akan meningkatkan kelarutan gula dalam air kelapa yang
menjadi medium pertumbuhan Acetobacter xylinum. Bila gula terlarut sempurna,
berarti kandungan karbon dalam medium tinggi akibatnya Acetobacter xylinum
dapat menghasilkan selaput tebal di permukaan larutan (Astawan & Astawan ,
1991).
17.

Setelah proses pemanasan, wadah plastik bersih disiapkan. Wadah plastik

kemudian diisi dengan media steril sebanyak 100 ml lalu ditutup rapat. Wadah
segera ditutup rapat tujuannya adalah untuk mencegah agar media kaya nutrisi
yang telah dibuat tersebut tidak terkontaminasi. Kemudian starter ditambahkan
ke dalam media sebanyak 10% (lihat gambar 2) dan digojok perlahan hingga
seuruh starter tercampur rata.

18.
19.
20.

Gambar 2. Pemindahan kultur Acetobacter xylinum

Setelah homogen, wadah plastik ditutup dengan kertas coklat dan

diinkubasi selama 2 minggu (lihat gambar 3). Setelah penambahan starter wadah
tidak ditutup rapat melainkan dengan menggunakan kertas coklat. Hal ini
dilakukan untuk memberikan kondisi pertumbuhan yang aerob bagi Acetobacter
xylinum. Bila wadah dalah keadaan tertutup rapat, maka starter akan
memperoleh kondisi anaerob. Pada kondisi anaerob, starter tidak dapat tumbuh
karena starter membutuhkan oksigen dalam proses fermentasi untuk
menghasilkan nata de coco.

21.
22.
23.

Gambar 3. Wadah plastik ditutup kertas coklat

Menurut Mohammad et al. (2014) Acetobacter xylinum merupakan

bakteri yang membutuhkan oksigen untuk bertahan hidup. Bakteri ini juga
dikenal sebagai bakteri asam asetat dimana selama kondisi lingkungannya
terdapat oksigen maka bakteri ini akan mengubah gula menjadi asam, lalu
mengoksidasi asam menjadi karbondioksida dan air selain itu bakteri ini juga
memiliki kemampuan untuk mengubah glukosa menjadi selulosa dalam proses
sintesis.
24.
Pengamatan hasil inkubasi dilakukan setelah hari ke 7 dan hari ke 14.
Hasil dari pengamatan adalah terbentuknya lapisan pada permukaan cairan (foto
hasil pengamatan terakhir terlampir). Lapisan yang terbentuk pada atas cairan
merupakan bioselulose yang dihasilkan dari proses fermentasi. Menurut Hamad

et al. (2011) nata de coco merupakan gel yang membentuk suatu lapisan selulosa
yang dihasilkan oleh Acetobacter xylinum. Pertumbuhan bakteri Acetobacter
xylinum menghasilkan selaput tebal pada permukaan medium dengan selulosa
sebanyak 35-62%. Selaput tebal itu mengandung polisakarida
berupa

ekstraseluler

miofibril. Heksofosfat diperlukan dalam pembatan nata. Dalam

mekanismenya heksofosfat akan mengalami oksidasi melalui pentosa fosfat.


Hasil yang diperoleh berupa NADPH dan melepas CO 2. Karbon dioksida aakan
menempel pada mikrofibril sehingga selaput selulosa akan terangkat ke
permukaan medium. Dalam proses fermentasi juga perlu ditaambahkan fosfat
organik yang berguna untuk mengubah sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa.
25.

Menurut Mohammad et al. (2014) selulosa merupakan komponen air

yang tidak dapat larut.

Selulosa banyak dijumpai di dinding sel tanaman,

batang, ranting dan jaringan kayu. Selulosa yang ditemukan di tanaman dikenal
sebagai microfibril dimana memiliki kemampuan untuk membentuk jaringan
ikat yang sangat kuat pada dinding sel. Kombinasi antara mikrofibril dan
glukosa akan membentuk makrofibril. Selulosa terbentuk hasil dari proses
fermentasi.
26.

Berdasarkan hasil pengamatan pada tebal lapisan selulosa dapat

diketahui bahwa kelompok D1 memiliki lapisan dengan tinggi

0,7 cm,

kelompok D2 dan D5 0,6 cm; serta D3 dan D4 memiliki lapisan dengan tinggi
0,5cm. Data yang diperoleh ini didapat setelah pengamatan pada hari ke 14.
Tinggi lapisan yang dihasilkan tergolong cukup rendah karena pada umumnya
nata de coco memiliki lapisan mencapai 2 cm. Menurut Seumahu et al. (2007),
tebal nata yang baik mencapai 1,5-2 cm transparansi dan kekenyalan yang
tinggi. Lapisan nata dengan ketebalan kurang dari 0,5 cm tergolong tidak baik.
Hasil praktikum yang diperoleh tidak sesuai dengan sitasi karena tebal lapisan
tidak mencapai antara 1,5-2 cm. Cairan pada bagian bawah lapisan nampak
sedikit keruh, hal ini menunjukkan adanya starter yang tumbuh namun lamakelamaan mati akibat kurangnya jumlah oksigen yang digunakan dalam proses
metabolisme.
27.
Menurut Hamad et al. (2011) selulosa akan disintesis dengan proses yang
bertahap yaitu UDPG dan selodekstrin. Gabungan dari UDP glukosa dan unit

glukosa akan menghasilkaa selodekstrin yang akan terus terbentuk hingga 30


unit glukosa bergabung dengan ikatan beta 1,4. Selodekstrin juga bergabung
dengan lemak dan protein. Pembentukan nata terjadi setelah waktu inkubasi 24
jam dan penbentukan nata mengalami peningkatan dengan cepat selama 5-6 hari
inkubasi kemudian mengalami pelambaatan. Pelabatan terjadi karena kondisi
medium menjadi semakin asam dan gula yang menjadi substrat berkurang. Pada
2-3 hari pertama, selulosa tidak terbentuk namun pertumbuhan bakteri
ditunjukkan dengan adanya kekeruhan.
28.
Pertumbuhan lapisan yang kurang sempurna juga dapat terjadi karena
kurangnya kandungan nitrogen dalam medium. Penambahan nitrogen dalam
medium dilakukan dengan penambahan ammonium sulfat. Menurut Hamad et
al. (2013) yield nata dengan menggunakan sumber nitrogen berupa urea dan ZA
menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan. Ketebalan selulosa
tersendah ditunjukan dengan penggunaan ekstrak yeast sebagai sumber nitrogen.
Yang paling buruk adalah pada penggunaan ammonium sulfat dimana nataa de
coco tidak terbentuk sama sekali. Penambahan nitrogen sangat berguna dalam
biosintesa selulosa.
29.

Kemungkinan lain yang mungkin mengakibatkan lapisan tidak terbentuk

tebal adalah suhu yang kurang optimal, terbatasnya oksigen dalam medium dan
kandungan nitrogen. Menurut Hamad et al. (2013) ketika Acetobacter xylinum
melakukan biosintesis selulosa, fermentasi yang terjadi pada air kelapa adalah
fermentasi merge dimana

selulosa akan kontak langsung dengan udara

dilanjutkan ke dalam wadah. Pembentukan selulosa akan mencapai maksimum


ketika oksigen sudah tidak dapat menembus layer sehingga bakteri sulit
melakukan biosintesis. Namun apabila pada akhir biosintesis masih terdapat
nitrogen dalam medium maka nitrogen akan memberikan efek penurunan
produk. Semakin banyak unsur nitrogen yang ditambahkan maka selulosa yang
terbentuk dalam nata akan semakin kompak dan memiliki kandungan air yang
semakin sedikit. Pembentukan selulosa yang terlalu pekat akan meningkatkan
tekanan osmosis sehingga terjadi lisis pada sel bakteri. Nata dengan kualitas
yang baik memiliki kandungan air yang rendah (Wijayanti et al., 2010).

30.

Berdasarkan hasil pengamatan pada tabel 1 dapat diketahui persentase

peningkatan lapisan nata de coco yang telah dibuat oleh kloter D. Bila diamati
secara keseluruhan, terdapat persentase peningkatan lapisan nata pada hampir
seluruh kelompok. Semua kelompok mengalami peningkatan kecuali kelompok
D5 yang tetap 24% pada hari ke 14. Lapisan tidak mengalami peningkatan
karena adanya sedikit guncangan yng mungkin terjadi saat dilakukan
pengamatan pada hari ke 7. Menurut Pambayun (2002) guncangan yang terjadi
selama pengamatan pada hari ke 7 mengakibatkan lapisan nata tidak mengalami
peningkatan pada hari ke-14.
31.
Setelah dilakukan pengamatan terhadap ketebalan, maka dilakukan uji
sensori terhadap nata de coco yang dihasilkan. Sebelum dilakukan uji sensori
dilalukan beberapa tahapan terlebih dahulu agar lapisan nata edible untuk
dimakan. Lapisan nata yang terbentuk dicuci dengan menggunakan air mengalir
(lihat gambar 4). Tujuan dicuci dengan air mengalir adalah agar nata yang
dihasilkan tidak terasa asam, bersih, tidak lengket dan tidak berlendir. Menurut
Rahman (1992) tujuan dilakukannya pencucian lapisan nata adalah untuk
membuang sisa asam yang masih melekat.

34.

32.
33. Gambar 4. Pencucian lapisan nata de coco
Nata yang tebentuk kemudian dimasak dengan menggunakan air gula.

Proses pemasakan bertujuan untuk menginaktivasi sisa-sisa starter yang sedang


bekerja pada lapisan (lihat gambar 5). Penambahan gula bertujuan untuk
memberikan rasa manis pada nata de coco.

35.
36. Gambar 5. Perendaman gula

37.

Setelah dimasak nata diangkat dan dipindahkan di tempat lain untuk

didinginkan. Nata kemudian dipotong dengan ukuran 1x1 cm (lihat gambar 6).
Menurut Hamad et al. (2013) yield nata pada tahap akhir dipotong-potong
hingga diperoleh ukuran nata 1x1 cm.
38.

39.
40. Gambar 6. Pemotongan Nata de Coco
41.
42. Pada tahap akhir, nata de coo yang telah dipotong-potong kemudian diletakkan
dalam wadah untuk dilakukan uji sensori (lihat gambar 7).

43.
44. Gambar 7. Uji sensori nata de coco
45. Berdasarkan tabel hasil pengamatan yang ke 2 dapat diketahui hasil sensori nata
pada kloter D. Uji sensori dilakukan terhadap aroma, tekstur dan warna. Bila dilihat
dari segi aroma, kelompok D4 memiliki aroma yang sangat asam sedangkan D3
memiliki aroma yang agak asam. Kelompok D1, D2, dan D5 menghasilkan nata
dengan aroma yang asam. Aroma yang asam dapat terjadi karena beberapaa hal.
Pertama karena penambahan asam glasial pada awal sebelum dilakukan fermentasi.
Menurut Fardiaz (1992) penambahan asam cuka glasial pada medium sebelum
proses fermentasi. Penambahan asam sebelum fermentasi segaja dilakukan untuk
menciptakan kondisi asam yang sesuai bagi pertumbuhan Acetobacter xylinum. pH
optimum untuk pertumbuhan bakteri ini adalah 4-5. Kedua suasana asam pada hasil
akhir fermentasi disebabkan asam asetat hasil produksi samping starter selama
proses fermentasi berlangsung. Ketiga tingginya kandungan asam disebakan karena
proses pencucian yang tidak bersih. Menurut Rahman (1992) proses pencucian yang

tidak bersih akan mempengaruhi proses perendaman. Kondisi nata de coco yang
benar setelah mengalami proses perendaman ditunjukkan oleh kelompok D3 yang
menghasilkan nata dengan aroma yang agak asam.
46. Bila dilihat dari segi tekstur, nata yang baik memiliki tekstur yang kenyal.
Berdasarkan hasil pengamatan pada tabel uji sensori dapat diketahui bahwa tekstur
yang tidak kenyal ditunjukkan kelompok D1 dan D5, tekstur yang agak kenyal
ditunjukkan oleh kelompok D3 dan tekstur kenyal disebabkan kelompok D2 dan
D4. Menurut Jagannath et al. (2008) nata de coco merupakan selulosa yang
terbentuk diatas air kelapa oleh bakteri Acetobacter xylinum. Secara fisik, nata yang
dihasilkan dengan medium air kelapa memiliki tipis dan kenyal, berbentuk layer
selulosa yang transparan pada permukaan medium dengan ketebalan yang semakin
meningkat pada hari ke 15 hingga 20. Lapisan nata yang baik memiliki tekstur yang
kenyal, chewy, soft dan halus pada bagian permukaan. Menurut Nurhayati(2006)
ketebalan lapisan nata mempengaruhi tingkat kekenyalan. Semakin tebal nata maka
semakin kenyal pula nata yang dihasilkan. Bila dilihat dari persentase ketebalan
lapisan nata yang dihasilkan maka seharusnya kelompok D2 dan D4 dengan tingkat
ketebalan nata 50% memiliki tingkat kekenyalan yang paling tinggi.
47. Bila dilihat dari segi warna berdasarkan tabel 2 hasil dari uji sensori dapat diketahui
bahwa kelompok D1, D2, D4, dan D5 memiliki lapisan nata yang berwarna kuning
dan hanya kelompok D3 memiliki lapisan nata berwara putih bening. Menurut
Seumahu et al. (2007), tebal nata yang baik mencapai 1,5-2 cm transparansi dan
kekenyalan yang tinggi. Menurut Pambayun (2002) selulosa yang dihasilkan
Acetobacter xylinum berwarna putih hingga transparan. Menurut Wijayanti et al.
(2010) penggunaan gula pasir yang berwarna putih akan mempengaruhi warna
sehingga diperoleh warna nata yang putih. Warna kuning yang terbentuk jterjadi
akibat pertumbuhan bakteri Acetobacter xylinum yang tidak berjalan sempurna.
48.
49.

50. KESIMPULAN
51.
Nata merupakan selulosa yang dihasilkan dari fermentasi medium dengan

menggunakan Acetobacter xylinum.


Nata de Coco merupakan nata dengan bahan dasar air kelapa
Air kelapa memiliki nutrisi yang sesuai untuk pertumbuhan Acetobacter xylinum.
Sumber karbon starter diperoleh dari gula pasir dan sumber nitrogen diperoleh dari

ammonium sulfat.
Penambahan asam cuka glasial akan mengkondisikan lingkugan asam yang sesuai

untuk pertumbuhan starter.


pH yang sesuai berkisar 4-5
Acetobacter xylinum merupakan bakteri yang membutuhkan oksigen untuk proses

metabolismenya.
Inkubasi selama proses fermentasi disamakan dengan suhu optimum pertumbuhan

Acetobacter xylinum yaitu pada suhu (28-30oC).


Ketebalan nata tidak mempengaruhi tingkat kekenyalan.
Ketebalan nata yang baik mencapai 1,5-2 cm
Guncangan yang terjadi selama proses fermentasi akan menggangu metabolime

starter dan proses fermentasi itu sendiri.


Pencucian pada air mengalir dapat menghilangkan asam yang menempel pada nata.
Pemberian gula saat akan dilakukan uji sensori bertujuan untuk mengurangi aroma

asam dan memberikan rasa manis.


Aroma asam disebabkan oleh asam cuka glasial yang ditambahkan sebelum proses

fermentasi dan asam asetat hasil produk samping dari Acetobacter xylinum.
Warna lapisan nata yang baik adalah putih hingga transparan.
52.

53. Semarang, 27 Juni 2015

Asisten Dosen,
-

54.
55.
56. Destya Pisita
57. 12.70.0170

Nies Mayangsari
Wulan Apriliana

58. DAFTAR PUSTAKA


59.
Astawan, M. & M. W. Astawan. (1991). Teknologi Pengolahan Nabati
Tepat Guna Edisi Pertama. Akademika Pressindo. Bogor.
60.
61. Fardiaz, S. (1992). Mikrobiologi Pangan 1. PT Gramedia. Jakarta.
62.
63. Halib, N., M.C.I.M. Amin, and I. Ahmad. 2012. Physicochemical Properties and
Characterization of Nata de Coco from Local Food Industries as a Source of
Cellulose. Sains Malaysiana 41 (2): 205-211.
64.
65.
Hamad, A. dan Kristiono. 2013. Pengaruh Penambahan Sumber Nitrogen
Terhadap Hasil Fermentasi Nata De Coco. Momentum Vol 9 (1): 62-65.
66.
Hamad, A., N.A. Andriyani, H. Wibisono, dan H. Sutopo. 2011. Effects
of Carbon Sources on the Physical Properties of Nata de Coco. Techno Vol 12
(2).
67.
Jagannath, Kalaiselvan S. S, Manjunatha P. S, Raju A. S. Bawa. (2008).
The effect of pH, sucrose and ammonium sulphate concentrations on the
production of bacterial cellulose (Nata-de-coco) by Acetobacter xylinum. World
J Microbiol Biotechnol (2008) 24:25932599.
68.
69.
Mohammad, S.M., N.A. Rahman, M.S. Khalil, and S.R.S. Abdullah.
2014. An Overview of Biocellulose Production Using Acetobacter xylinum
Culture. Biological Research 8 (6): 307-313.
70.
Nurhayati, Siti. (2006). Kajian Pengaruh Kadar Gula dan Lama
Fermentasi Terhadap Kualitas Nata De Soya.Universitas Terbuka p1-8.
71.
72.
Palungkun, R. (1996). Aneka Produk Olahan Kelapa. Penebar Swadaya.
Jakarta.
73.
74.
Pambayun, R. (2002). Teknologi Pengolahan Nata de coco. Kanisius.
Yogyakarta.
75.
76.
Rahman, A. (1992). Teknologi Fermentasi. ARCAN Pusat Antar
Universitas Pangan dan Gizi IPB. Bandung.
77.
78.
Seumahu, Cecilia Anna, Antonius Suwanto, Debora Hadisusanto, dan
Maggy Thenawijaya Suhartono. (2007). The Dynamics of Bacterial
Communities During Traditional Nata de Coco Fermentation. Microbiology
Indonesia, August 2007, p 65-68.
79.
80.
Wijayanti, F; Sri K; dan Masud E. (2010). Pengaruh Penambahan
Sukrosa dan Asam Asetat Glacial terhadap Kualitas Nata dari Whey Tahu dan
Substrat Air Kelapa. Jurnal Industria 1(2) : 86-93.
81.
82.

83. LAMPIRAN
83.1. Perhitungan
84.

Lapisan Nata de Coco=

tinggi ketebalan nata (cm)


x 100
tinggi media awal (cm)

85. Hari ke 7
86. D1
87.

Lapisan Nata de Coco=

0,5
x 100 =25
2

88. D2
89.

Lapisan Nata de Coco=

0,5
x 100 =41,67
1,2

90. D3
91.

Lapisan Nata de Coco=

0,4
x 100 =30,77
1,3

92. D4
93.

Lapisan Nata de Coco=

0,4
x 100 =40
1

94. D5
95.

Lapisan Nata de Coco=

0,6
x 100 =24
2,5

96. Hari ke 14
97. D1
98.

Lapisan Nata de Coco=

0,7
x 100 =35
2

99. D2
100.
101.

Lapisan Nata de Coco=


D3

0,6
x 100 =60
1,2

102.
103.
104.
105.
106.

Lapisan Nata de Coco=

0,5
x 100 =38,46
1,3

D4
Lapisan Nata de Coco=

0,5
x 100 =50
1

D5
Lapisan Nata de Coco=

0,6
x 100 =24
2,5

106.1. Foto

107.
108.

Gambar 8. Foto hasil pengamatan NDC terakhir kloter D

108.1. Laporan Sementara


108.2. Jurnal
109.
110.