Anda di halaman 1dari 9

Bangun imam besar, makmum dah nunggu nih.!

bisikan lembut yang mengikuti kecupan dipipiku itu membuatku tak bisa menolak untuk
membuka mataku yang masih lengket ini. Kulirik jam di dinding oranye kamar tidur kami dengan
seperempat mata terbuka. Pukul tiga pagi.

Setengah jam lagi ya makmum cantik,imam besar masih ngantuk berat nih kututupkan lagi
selimut yang tersingkap di kepalaku.

Gak mau, harus bangun sekarang, ntar kucubit lho! kali ini rengekan manja ini tak bisa
kutolak lagi. Dengan bergaya sempoyongan aku melangkah ke kamar mandi untuk berwudhu.

Eh, selimutnya gak usah dibawa sayang

***
Pagi ini aku berpura-pura tampak capek. Setelah tidurku tadi malam terganggu untuk shalat
malam, disambung lagi shalat subuh. Dan terpaksa membaca satu juz Al Quran agar aku
tidak terlelap lagi.

Dengan gaya kuyu, aku duduk di depan meja makan menanti sarapan yang disiapkan istriku.
Hari ini aku harus berangkat pagi. Ada rapat.

Pagi Kanda. pagi ini dinda buatkan sop favorit Kanda. Biar gak ngantuk lagi.

Senyum manis istriku sudah menyambut di ruang makan. Aku masih berpura-pura sebal.
Padahal senyum itulah yang membuatku tak bisa pergi lama darinya dalam dua tahun terakhir
ini.

***
Aku teringat ketika pertama kali kami bertemu. Sebenarnya bukan yang pertama, dia adalah
teman SMP-ku. Namun semenjak lulus SMP kami tak pernah berjumpa sampai bertemu di ruang
Poliklinik Umum RS Dr. Sardjito. Secara kebetulan, sebuah skenario yang indah dari Sang Maha
Sutradara. Perjumpaan itu yang akan mengubah jalan hidupku.
Perutku yang melilit-lilit sejak pagi memaksaku untuk terpaksa menginjak tempat yang paling
aku benci, rumah sakit. Mungkin karena hari sebelumnya aku dan teman-teman jurusan Teknik
Mesin berpesta di rumah salah satu teman yang diwisuda. Seperti biasa anak-anak Mesin yang
98.57 persen laki-laki pasti akan melakukan sesuatu yang radikal walau kadang konyol.
Sesuatu yang dianggap sebagai permainan untuk membuktikan kajantanan yang kadang tidak

jelas parameternya. Kemenanganku di lomba makan sambal yang mengerikan telah


mengantarku ke tempat yang kubenci ini.
Waktu itu aku belum lulus, walaupun angka sepuluh menempel dengan malu-malu di semester
yang aku tempuh. Biasa, anak mesin memang lambat lulus, begitu biasa aku berapologi.
Walaupun sebenarnya sudah banyak juga temanku yang lulus. Termasuk yang menyediakan
pesta sambal itu.

Ketika aku melangkah masuk ke ruang periksa, kulihat senyum yang tidak pernah kulupakan.
Yanti, teman SMP-ku dulu, aku tidak akan lupa. Meski kini dia memakai kerudung besar
dikepalanya. Itulah satu-satunya perubahan besar yang tampak padanya. Selain itu dia juga
bertambah cantik!

Masya Alloh, Tyo ya? Assalamu`alaikum.. kau kenapa?

Kata-kata pertama yang terucap setelah delapan tahun tak bertemu. Waktu itu aku tak banyak
bicara, keterkejutanku dan sesuatu yang bergemuruh didalam hatiku membuatku jadi pendiam.
Bahkan ketika dia mulai menginterogasi gejala sakitku aku hanya bisa menjawab sepotongpotong. Padahal biasanya aku sangat rewel bila diperiksa.

Ketika itu Yanti masih co-ast. Setelah diwisuda menjadi S.Ked beberapa bulan sebelumnya.
Entah mengapa sejak pertemuan itu aku menjadi selalu ingin bertemu dengannya. Padahal saat
itu aku sudah punya pacar, Kristin.
Ya, saat itu pergaulanku sangat bebas. Aku tak perduli ketika banyak temanku yang alim
mempertanyakan hubunganku dengan Kristin yang Katholik itu. Waktu itu tak masalah bagiku
pacaran dengan gadis beda agama. Toh kami belum tentu menikah.

Ah jangan fanatik, dosen kita aja ada yang istrinya beda agama. Dan mereka oke-oke aja,
argumen yang selalu aku pakai untuk menepis suara miring tentang Kristin.

Namun akhir-akhir ini Kristin agak menjauh dariku setelah aku menolak ikut acara Natalan
bersama keluarganya. Entahlah walaupun jauh dari sentuhan religius, aku masih merasa perlu
untuk tetap konsisten sebagai seorang Islam. Aku pernah dengar ada ulama yang melarang
umat islam ikut natalan.

Wah, males Kris. Lagian aku kan orang islam. Aneh kalo ikut Natalan, nanti dikira murtad aku

Kristin yang mulai berlalu dan perjumpaanku yang berkesan di poloklinik, semakin membuatku
mantap untuk mendekati Yanti. Kupikir ini seperti mengungkapkan cinta yang dulu tak

terungkapkan saat SMP. Dulu aku pernah menyukai Yanti ketika SMP. Namun cinta monyet
segera berlalu. Di SMA aku berpacaran dengan Erlin, Julia, Anna kata teman-teman aku
memang buaya!

***
Yanti memang tak secantik Kristin yang aduhai itu. Tapi senyumnya yang ikhlas dan natural itu
dan wajahnya yang tanpa sapuan kosmetik itu benar-benar membuatku melayang. Entahlah
seharusnya aku tidak tertarik pada penampilannya yang full cowled itu. Kurasa ada something
wrong pada hatiku. Biasanya aku hanya mengejar gadis untuk having fun. Dan tentu saja gadis
yang bisa diajak having fun bukan tipe seperti Yanti ini.

Aku tahu karakter orang-orang berkerudung besar seperti Yanti ini. Mereka anti pacaran. Karena
itu aku mencari metode pendekatan lain. Kukirim SMS dengan pesan-pesan religius yang
kudapat adri anak-anak SKI dan buku-buku agama. Atau sekedar mampir ke rumahnya dengan
berjuta alasan agar bisa bertemu. Mengajak reuni atau sekedar menanyakan kabar. Dan tentu
saja aku harus tampil dengan penampilan yang menunjang. Harus tampil religius. Baju koko plus
peci pinjaman menjadi modal meyakinkan. Itu pun aku tak pernah bisa mengobrol berdua. Yanti
selalu saja mengajak ibunya ikut berbincang. Wah aku jadi keki. Ilmu menggombal buaya-ku
tak bisa kupakai. Tapi tetap saja aku senang. Melihat senyumnya saja membuatku melihat dunia
ini dua kali lebih indah! Suer!

Setelah sebulan berjalan aku mulai yakin bahwa aku jatuh cinta beneran sama Yanti. Kubulatkan
tekad untuk menyatakan isi hati ini padanya. Dengan segenap pengalamanku sebagai buaya,
kutulis surat cinta penuh rayuan gombal. Kukirim surat itu melalui kurir, Udin, seorang teman coast SMA-ku. Kupesan agar jawabannya kalau bisa segera. Udin sih oke-oke aja, jajan bakso di
Gejayan pasti tak dapat ditolaknya.

***
Jantungku berdegup keras ketika Udin menelponku dan mengatakan Yanti ingin bertemu di
depan bangsal anak satu jam lagi. Degg
satu jam yang sangat lama bagiku. Aku terus berdo'a,
Ya Alloh jadikanlah cintaku bersambut cintanya

Ya. Kadang-kadang aku pun masih ingat Alloh, terutama saat tak ada cara lain yang ada didalam
benakku selain do'a.

Selasar didepan bangsal anak. Peristiwa yang sangat berkesan di dalam hatiku. Dengan
penampilan yang meyakinkan. Baju koko terbaru dan rambut terpotong rapi aku melangkah
menemui Yanti yang sudah menunggu. Dia masih mengenakan jas praktikum putihnya.
Senyumnya sudah mengambang melihat kedatanganku. Wah, prospek cerah nih..!

Assalamu'alaikum sudah baca suratku kan? sapaku dengan salam

Waalaikumussalam. Sudah. Jadi Tyo suka sama saya, cinta sama saya? suara lembutnya
terdengar seperti seorang ibu yang menghadapi anak nakalnya. Trus Tyo sekarang mau apa?

Ya terus gimana dengan Yanti? Yanti terima tidak cinta saya? Gleg, lidahku kelu. Padahal
biasanya menggombal adalah keahlianku. Namun kali ini aku benar-benar kena batunya!

Tentu saja yanti terima cinta Tyo. Masak sih orang ngasih cinta mau ditolak.

Aku sedikit keki, kenapa dia malah tertawa kecil begitu.

"Terus habis itu gimana? Yanti bertanya lagi, masih dengan senyumnya yang lembut yang
membuatku hampir tak bisa bicara.

"Yaa.. terus kita jadian. Kau jadi pacarku, begitu jawabku ragu. Ingin kutelan lagi kalimat
yang baru saja meluncur dari mulutku. Mengingat aku tahu karakter orang-orang seperti Yanti
yang anti pacaran.

Wah kenapa pacaran? Gimana kalau kita menikah saja?"

Degg aku hanya berdiri kaku. Menikah? Sebuah tantangan yang baru pertama kali ini ku
terima. Hari ini Si Buaya bener-bener KO! Aku tak habis pikir. Selama karirku menjadi buaya,
tak satupun gadis yang berani menantangku menikah. Apalagi pada saat ditembak

Berarti harus me..menikah ya..? wah, kalau begitu aku pikir-pikir dulu deh

Pikir-pikir? Jawaban yang tidak bermutu setelah pernyataan cinta yang menggebu-gebu. Namun
hanya itulah amunisi kata-kata yang kupunyai saat itu. Sementara amunisi lain sudah lenyap
karena kondisi yang diprediksi tidak sesuai kenyataan.

***

Menikah! Aku harus berani! Tak perduli apa kata orang, aku sudah jatuh cinta beneran sama
Yanti! Masa buaya takut ditantang menikah! Tapi kemudian aku teringat cerita-cerita sumbang
tentang pernikahan. Orang menikah akan dibebani tanggung jawab. Harus setia. Harus punya
pekerjaan. Harus ini. Harus itu. Nanti kalau punya anak kan repot. Perlu biaya besar. Dan segala
macam problema rumah tangga yang pernah kudengar dari mereka yang sudah berpengalaman
menikah, menghantui pikiranku.

Dan yang jelas setelah menikah aku tidak akan bebas lagi!
Itulah yang terlintas dipikiranku. Aku mulai ragu, apalagi sehari setelah peristiwa itu Kristin
mengajakku balikan. Aku semakin bingung dan kacau. Di satu sisi jujur kuakui, aku sangat takut
untuk menikah. Di sisi lain aku benar-benar terobsesi pada Yanti. I'm truly, madly, depply, do
love her.

Pusing aku mulai kalut dan kacau. Kuliah yang tinggal mengulang sering kutinggalkan. Aku
lebih sering membaca buku. Di kos, perpus, dan bahkan toko buku. Temanya tentu saja tentang
pernikahan. Namun buku-buku itu hanya membuatku semakin pening. Ada yang bilang menikah
saat kuliah itu sangat mendukung perkembangan jiwa seseorang. Namun di buku lain
mengatakan bahwa menikah di usia muda hanya kan membawa perceraian dan ketidak
bahagiaan.

Akhirnya kuputuskan untuk berpikir sendiri. Sepekan penuh aku berpikir keras. Bahkan laporan
praktikum pun harus menunggu. Kucoba menata satu-persatu masalah dan potensi yang akan
kuhadapi dan aku punyai untuk menikah.

Masalah? Tentu saja, karena aku masih kuliah.


Orang bilang kalau menikah saat kuliah akan berantakan salah satunya. Ah, itu cuma kata
orang. Yang lain juga bilang menikah di saat kuliah justru akan membuat kita lebih
dewasa. Kurasa masalah lain yang jauh lebih besar adalah bahwa aku belum punya penghasilan.
Kata orang kalau menikah seorang laki-laki harus menafkahi istri dan keluarganya. Wah,
bagaimana mau menafkahi sementara aku belum bekerja. Tapi kurasa babeh juga tidak
keberatan untuk melipat duakan kiriman bulanan. Selain beliau cukup berada untuk mensuplai
dana buatku, beliau juga pernah berkata bahwa jika kau menikah dan belum punya pekerjaan,
beliau akan membantu.

Setelah sekian waktu berpikir keras aku menyerah. Kurasa otakku tak kan mampu untuk
mengeksekusi sebuah keputusan untuk menikah atau tidak. Di tengah keputusasaanku aku
teringat Udin. Kurasa dia bisa membantuku memecahkan masalah ini. Aku selalu percaya anakanak SKI dan alumninya punya kebijakan yang bisa aku andalkan untuk memecahkan masalah-

masalah rumit. Mereka punya instuisi yang menakjubkan untuk menghadapi masalah yang berat
sekalipun. Aku minta pertimbangan pada Udin yang alim ini. Udin hanya tertawa. Shalat
Istikharah saja. Minta petunjuk sama Alloh.

***

Kuputuskan untuk mengikuti saran Udin. Kuambil air wudhu dengan sempurna dan aku shalat
dengan khusuknya. Kurasa itu shalatku yang paling khusuk sepanjang hidupku. Kupasrahkan
segalanya pada-Nya. Jikalau Yanti yang terbaik untukku maka kuatkanlah tekadku untuk
menikah dengannya. Jikalau bukan maka biarkanlah kami berdua menjadi sahabat yang sejati.
Sebuah do'a yang tak pernah keluar dari dalam hatiku sebelumnya. Namun do'a ini kini amat
kusyukuri. Mungkin ini salah astu do'a terbaik sepanjang hidupku.

Esok pagi aku bangun dengan serah tekadku bulat. Alloh dan cintaku akan menguatkan
kelemahanku!
Akan kupenuhi tantangan Yanti.

"Maukah kau menikah denganku?"


Kalimat itu terus terucap dihatiku. Kutelpon orang tuaku.. Dan mereka memberiku lampu hijau.

Yang penting kamu lulus kuliah.

Untungnya orang tuaku permisif untuk urusan ini. Kebetulan keluarga orang tuaku punya kultur
menikah usia muda dan ini kusyukuri sampai saat ini. Tak lupa beliau berdua mengucapkan
selamat atas keberanianku untuk menikah. Selama ini beliau berdua selalu mendesakku untuk
segera menikah, tapi aku selalu menjawab, ntar kalau dah lulus.

Kukirim SMS kepada Yanti. Aku ingin bertemu dengannya di tempat yang sama di saat dia
menantangku. Di depan bangsal anak. Kubilang aku ingin menyampaikan sesuatu pertanyaan
penting.

Walaupun hatiku sudah mantap, jantungku masih saja berdegup keras. Di hatiku masih
berlintasan berbagai pertanyaan. Bagaimana kalau dia menolak? Kalau setuju, bagaimana nanti
kesiapanku? Ah, kutepis semua pertanyaan itu. Kalaupun dia menolak artinya Alloh belum
menentukan dia sebagai jodohku. Tentang bagaimana nanti, kupasrahkan pada Alloh semata.
Entahlah aku menjadi lebih religius setelah bertemu Yanti.

Kali ini aku tampil sederhana, aku pasrah pada Alloh atas segalanya. Aku merasa ringan dan
bersih. Kaos lengan panjang hitam, celana cargo, dan sandal gunung. Sangat berbeda dengan
saat pertemuan sebelumnya. Aku ingin tampil apa adanya, inilah aku, dengan segala kelebihan
dan kekuranganku.

Dan selasar di depan bangsal anak menjadi saksi. Dengan bergetar, bismillah kukatakan, Yanti
maukah kau menikah denganku? pertanyaan yang terlalu lugas buat seekor buaya sepertiku.
Namun saat itu hanya itulah kata-kata yang kumiliki. Sebuah ungkapan terjujur yang pernah aku
ungkapkan pada gadis yang kucintai.

Saya insya Alloh bersedia menjadi istri Tyo. Tapi syaratnya Tyo harus mau mengaji

Kali ini jawaban Yanti sangat serius. Senyum yang biasanya menghiasi wajahnya menghilang.
Suaranya bergetar terbata-bata, seperti suaraku saat mengucapkan pertanyaan berat itu
dengan serak. Mata indahnya berkaca-kaca.
Dunia seakan lepas dari kakiku. Semua beban lenyap tak bersisa. Aku mau teriak pada seluruh
dunia sebuah proklamasi Aku cinta Yantiii!!!! Namun kesadarn masih bersamaku. Aku masih
teringat di mana aku berada. Ku ambil napas panjang. Alhamdulillah, ya aku mau mengaji

Sore itu kutraktir Udin atas suksesnya lamaranku.

wheiimasya Alloh. Selamat ya! Udin menepuk bahuku dengan bangga dan bahagia.

wah kalau begitu nanti pas walimahannya aku mau jadi EO-nya

Tawaran yang takkan kutolak. Setidaknya Udin menjdi mak comblangku. Hari ini sekerat ayam
goreng terasa sangat enak dimulutku. Mungkin yang terenak sepanjang yang pernah kurasakan.

Pagi itu kuterima SMS dari Yanti.ngajinya mulai nanti sore lho. Nanti dijemput Udin didepan
parkiran RS jam 4 sore.

Hah? Ngaji sore-sore? Lagian bukannya ngaji bisa sambil nonton TV. Kayak pengajiannya Aa
Gym. Padahal sore ini aku ada latihan basket. Aku bingung sesaat, namun demi cinta apapun
kan kujalani huii gombal!

Sore itu kujemput Udin. Kami menuju tempat yang ditunjukkan Udin. Sebuah rumah kos kecil di
Pogung. Aku heran, tak ada tanda-tanda orang akan pergi mengaji disitu.

Mana pengajiannya, Din, kok sepi? tanyaku ragu.

Di dalam. Dah masuk saja.

Ternyata yang disebut pengajian oleh Yanti jauh berbeda dari yang kubayangkan. Sebuah
pertemuan kecil dengan salah satu orang menjadi pemateri. Dan semuanya mahasiswa! Tak ada
kyai yang kubayangkan mengisi pengajian ini. Dan temanya pun sangat beragam dan berbeda
dari pengajian yang biasa aku kenal.

Aku mudah merasa include dengan mereka meski semua itu asing bagiku. Dengan segala kealim-an, keramahan,dan keterbukaan mereka membuatku yang masih beginner ini tidak merasa
tertinggal terlalu jauh. Tak ada kesan arogan dan merasa lebih senior pada mereka. Walau jelas
aku tidak ada apa-apanya dibanding mereka.

Dan saat yang agung dalam hidupku itu pun tiba. Setelah sebulan sejak aku melamar Yanti, kami
menikah. Suasana yang begitu sakral kurasakan. Setelah ikrar agung itu ku ucapkan dan Yanti
mencium tanganku pertama kalinya. Tak kuasa kutahan air mata haru dan bahagiaku. Senyum
photo genitku berantakan ketika Udin memfoto kami berdua.

Hoi jangan nangis, ini khan hari bahagia. Udin terus saja menggoda kami

Ya sejak saat itulah perjalanan hidup kami lalui bersama. Aku terus berproses menjadi manusia
sejati dengan dorongan dari Yanti yang tak pernah terputus. Dialah co-ast dan trainerku. Banyak
ilmu agama yang belum kuketahui kudapat darinya. Tak perlu malu atau gengsi. Toh
kenyataanya aku memang harus banyak belajar. Walaupun dia juga sering kutraining bagaimana
merawat mesin motornya dengan baik.

Saat aku malas mengaji, dialah yang selalu mendorongku.

Bu Dokter hari ini daku absen ngaji ya? Capek nih, habis nguber-uber dosen pembimbing

Gak boleh darling calon S.T. gak boleh males ngaji. Inget janji dulu, hayo. Kalo gak ngaji gak
ada yang mijitin nanti malam.

Senyummu memang charge bagi semangatku yang mudah luntur ini.


Kau juga yang selalu membuatku tak pernah kehabisan energi untuk menyelesaikan tugas
akhirku yang berat. Hingga wisudaku tak terasa sudah di depan mata. Foto wisuda bersama istri
yang dulu kuanggap khayal terwujud juga. Wah senangnya!

***

Eh kok malah senyum-senyum sendiri? Gak enak ya sopnya? pelukan hangat istriku
membuyarkan nostalgiaku.

Emmm enak kok enaaaakkk sekali. Cuma lagi ngelamunin gimana tampang baby kita kalau
dah lahir nanti. Ganteng kayak babehnya ato cantik kayak umminya.

Uuugombal!

Seperti biasa kalau gemas, Yanti mencubitku. Aku hanya tertawa.

Sungguh besar pahala bagi mereka yang rela menjadi jalan hidayah bagi orang lain. Kutatap lagi
Yanti, Ummu Sulaimku. Kekasihku, bidadariku dengan sepenuh kasih. Sungguh BIDADARI TAK
SECANTIK SENYUMMU