Anda di halaman 1dari 54

Laporan Kasus

Oleh:
TRAUMA
KAPITIS
Sylvia Cahyadi
(100100093)
Edric Chandra
(100100095)
William Purba
(100100354)
Dosen
Pembimbing:

dr. R. R. Shinta
Irina, Sp.An
Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif
Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara
Medan
2015

Bab 1
Latar
Belakang

CDC,
2010

Amerika Serikat mencatat 1,7 juta kasus trauma


kepala, 52.000 pasien meningga; dan selebihnya
dirawat inap. Trauma kepala juga merupakan
penyebab kematian ketiga dari semua jenis
trauma yang dikaitkan dengan kematian

BIN,
2012

Hingga saat ini kecelakaan jalan raya masih


memegang predikat pembunuh terbesar ketiga
di dunia, setelah penyakit jantung dan
Tuberculosis / TBC

Riyadina,
2009

Kepala yaitu 6.036 (13,1%) dari 45.987 orang


yang mengalami cedera jatuh dan 4.089 (19,6%)
dari 20.289 orang yang mengalami kecelakaan
lalu lintas

National Trauma Project di Islamic


Republic of Iran jenis trauma
Karbakhs,Zandi,Royz
tertinggi yang dilaporjab yaiut
rokh
sebanyak 78,7% trauma kepala dan
2009
kematian paling banyak juga
disebabkan oleh trauma kepala

Thomas,
2006

Rata-rata rawat inap pada lelaki dan


wanita akibat terjatuh dengan
diagnosa trauma kepala sebanyak
146,3 per 100.000 dan 158,3 per
100.000

Tujuan Penulisan
Memahami trauma kepala dan
penatalaksanaan
Meningkatkan kemampuan dalam
penulisan karya ilmiah di bidang
kedokteran
Memenuhi salah satu persyaratan kelulusan
Program Pendidikan Profesi Dokter di
Departemen Anestesiologi dan terapi Intensif
Fakultas kedokteran USU RSUP Haji Adam Malik
Medan

Bab 2
Tinjauan
Pustaka

Trauma kepala atau trauma kapitis adalah suatu ruda


paksa (trauma) yang menimpa struktur kepala
sehingga dapat menimbulkan kelainan strukturak dan
atau gangguan fungsional jaringan otak

Menurut Brain Injury Association of America, cedera


kepala adalah suatu kerusakan kepala, bukan bersifat
kongenital ataupun degeneratif, tetapi disebabkan
oleh serangan atau benturan fisik dari luar, yang dapat
mengurangi atau mengubah kesadaran yang mana
menimbulkan kerusakan kemampuan kognitif dan
fungsi fisik

Jenis Trauma
Avulsi

Abrasi

Frakt
ur

Lasera
si

Kontusi
o

Perdarahan Epidural
Perdarahan yang terjadi antara tulang kranial dan dural
meter
Gejala :

Kesadaran semakin menurun

Anisokor

Hemiparese kontralateral

Fraktur di temporal

Perdarahan Subdural
Perdarahan yang terjadi antara dura meter dan
arakhnoid, yang biasanya meliputi perdarahan vena
Jenis
Akut: gejala klinis berupa sakit kepala,persaaan mengantuk
dan kebingungan
Sub akut: biasanya 7- 10 hari setelah cedera
Kronis: mulanya perdarahan kecil memasuki ruang subdural,
bebrapa minggu kemudian menumpuk di sekitar membran
vaskuler dan secara pelan-pelan meluas

Perdarahan
Subarakhnoid
pendarahan ke dalam ruang (ruang subarachnoid)
diantara lapisan dalam (pia mater) dan lapisan tengah
(arachnoid mater) para jaringan yang melindungan otak
(meninges)
Gejala : kaku kuduk, nyeri kepala

Glasgow Coma Scale


Eye (kemampuan
membuka mata)

Verbal
(kemampuan
berkomunikasi

Motorik
(kemampuan
motorik)

Secara spontan (4)

Orientasi baik (5)

Kemampuan
menurut perintah (6)

Atas Perintah (3)

Jawaban kacau (4)

Dapat melokalisir
nyeri (5)

Rangsangan Nyeri
(2)

Kata-kata tidak
berarti (3)

Menghindar nyeri (3)

Tidak bereaksi (1)

Mengerang (2)

Fleksi (dekortikasi)
(3)

Tidak bersuara (1)

Ekstensi (desebrasi)
(2)
Tidak ada gerakan
(1)

Berdasarkan Skala Koma Glasgow, berat ringan trauma


kapitis dibagi atas:

Trauma kapitis ringan, Skor Skala Koma Glasgow 14-15

Trauma kapitis sedang, Skor Skala Koma Glasgow 9-13

Trauma kapitis berat, Skor Skala Koma Glasgow < 8

Penatalaksanaan Gawat Darurat


Trauma Kapitis Berat (GCS 3 8)
Airway
Posisi kepala
ekstensi
Pasang pipa
orofaring atau
pipa
endotrakeal
kalau perlu
Bersihkan dari
sisa
muntahan,
darah, lender,
atau gigi
palsu
Pemasangan
pipa
nasogastrik

Pernafasan
(breathing)
Gangguan
nafas dapat
sentral
maupun
perifer
Saturasi
oksigen >90%

Sirkulasi
Sering terjadi
hipotensi,
namun jarang
karena
intrakranial,
kebanyakan
factor
eksternal
Hendtikan
sumber
pendarahan,
perbaiki
fungsi jantung
dan
mengganti
darah yang
hilang

Pemeriksaan
neurologis
Pemeriksaan
GCS
Pemeriksaan
reflex cahaya
pupil

Secondary Survey
Pemeriksaan
fisik :
kesadaran,
pupil, deficit
fokal serebral
dan cedera
ekstrakranial

Pemeriksaan
Head CT-scan

Perawatan Intensive Care pada


Penderita Cedera Kepala Berat
Secara umum, cedera kepala dibagi menjadi dua periode:
1. Cedera kepala primer
2. Cedera kepala sekunder
- Intrakranial : oedem serebri, hematoma, hidrosefalus,
hipertensi intrakranial, vasopasm, perubahan metabolic,
eksitoksisitas, toksisitas ion kalsium, infeksi, dan kejang
- Ekstrakranial (sistemik) : hipotensi, hipokapnia,
hiperkapnia, hipertensi atau MAP > 110mmHg, anemia,
hipotermia, hiperglikemia, hipoglikemia, hipoosmolar,
gangguan asam basa, demam, hipotermia

Tujuan penanganan penderita cedera


kepala berat pada ICU meliputi
1. Stabilisasi pasien, jika belum stabil
2. Mencegah hipertensi intracranial
3. Mempertahankan terkanan perfusi serebral yang stabil
dan adekuat
4. Mencegah kerusakan otak sekunder
5. Mengoptimalisasi oksigenasi dan hemodinamik serebri
.

Analgesi,
sedasi, dan
paralisis
Ventilasi
mekanik
Bantuan
Hemodina
mik

Lini pertama : morphine, fentanyl dan


remifentanil
Berguna untuk anxiolitik, membatasi
peningkatan tekanan intrakranial i; menurunkan
konsumsi oksigen, produksi CO2; meningkatkan
kenyamanan pasien; dan mencegah pergeseran
yang berbahaya

Hipoksia (sat O2 < 90%, atau PaO2 < 60mmHg)


harus dihindari
Terapi hiperventilasi direkomendasikan hanya
untuk periode waktu tertentu untuk menurunkan
tekanan intrakranial
Setting SaO2 95% atau lebih dan/atau PaO2
80mmHg atau lebih dan mencapai eucapnia
dengan PaCO2 35 40 mmHg. PEEP diatur
dengan tekanan 5 8 cmH2O

Pemberian cairan secara agresif merupakan


langkah pertama dalam meresusitasi pasien
CVP 8 10mmHg
MAP direkomendasikan 80mmHg untuk
mempertahankan CPP 60mmHg dan batas
atas ICP > 20mmHg

Tekanan
Perfusi
Serebral
(CPP)
Terapi
hyperosmol
ar
Profilaksis
anti kejang

CPP = MAP ICP


Mempertahankan tekanan lebih dari
60mmHg

Manitol efektif menurunkan tekanan


intrakranial setelah cedera kepala berat
Dosis efektif adaah 0.25 1 g/kg,
diberikan intravenous selama 15 20
menit
Indikasi :perburukan neurologis akut
(dilatasi pupil, hemiparese, maupun
kehilangan kesadaran)

Mencegah kejang pada early post


traumatic
Rekomendasi : Phenytoin
Loading dose 15 20 mg/kg secara
intravena selama 30 menit diikuti 100mg
intravenous selama 8 jam, dititrasi
selama 7 hari

Profilasis
Stress
Ulcer
Nutrisi

Pemberian enteral feeding, H-2 bloker, PPI dan


sukralfat

Hipermetabolik, hiperkatabolik dan status


hiperglikemi dengan perubahan fungsi penceranan
Pemberian secara enteral lebh bagus daripada
pemberian parenteral
Nutrisi sebanyak 140% dari resting metabolic
expenditure (REE) pada pasien nonparalyzed dan
100% pada pasien paralyzed dengan protein 15%
dari total kalori.

Tidak direkomendasikan untuk meningkatkan


outcome dan menurunkan tekanan intrakranial

Steroid

Koma
barbitura
te
Cairan
dan
elektrolit

Bila terjadi hipertensi


intrakranial refrakter
Fenobarbital
direkomendasikan untuk
menginduksi koma
barbiturat
Dosis 10mg/kg seama 30
menit kemudian 5mg/kg/jam
selama 3 jam kemudia 1
mg/kg/jam.
Euvolemia ke hipervolemia
moderat (CVP 8 10mmHg
Kristaloid isotonik digunakan
untuk tatalaksana cairan

Perawatan umum :
1. Head up 30 45 derajat
2. Mempertahankan kepala dan leher dalam posisi netral
sehingga meningkatkan drainase vena serebral dan
menurunkan tekanan intracranial
3. Menghindari kompresi vena jungular interna dan
eksterna
4. Mengobservasi tekanan intrakranial berkala
5. Melakukan hygine kulit, perawatan mata, dan mulut
6. Melakukan fisioterapi18

Bab 3
Laporan
Kasus

Anamnesis
Bapak SH, 25 tahun 66 kg, datang ke Rumah Sakit Umum Pusat Haji
Adam Malik dengan penurunan kesadaran akibat kecelakaan lalu lintas
saat berkendara dengan sepeda motor sekitar 12 jam sebelum masuk
rumah sakit. Pasien sebelumnya merupakan pasien dari RS Herna Tebing
Tinggi yang kemudian dirujuk ke RSUP HAM untuk mendapatkan
pengobatan lebih lanjut.
31 Mei 2015
10.00 WIB
Pasien
mengalami
kecelakaan
lalu lintas
tetapi
mekanismenya
tidak
diketahui
Pasien dibawa
ke RS Herna

Time sequence

31 Mei 2015
11.00 WIB
Keluarga
pasien tiba di
RS Herna
Keluarga
melihat bahwa
pasien hanya
bisa
mengerang
dan tampak
gelisah

31 Mei 2015
23.00 WIB
Pasien tiba di
Blue Line
RSUP HAM
dengan GCS 7
(E1 V2 M4)

31 Mei 2015
23.05 WIB
Lakukan
tindakan
resusitasi
berupa
pembebasan
airway,
pemberian
oksigen dan
cairan
resusitasi

Primary Survey
Tanda dan Gejala
A (airway)
Snoring (+)
Gargling (+)
Crowing (-)
B (breathing)
Napas spontan
SP/ST: vesikuler/(-)
SaO2: 88%
RR: 36 kali/menit
C (circulation)
Capillary Refill Time >
2 detik
Akral dingin
T/V lemah
TD: 90/60 mmHg
HR = 90 kali/menit,
regular
D (disability)
Kesadaran: Respond to
pain
GCS : 7 (E1 V2 M4)
E (exposure)
jejas
pada
Dijumpai
occipital sinistra
Dijumpai laserasi pada
tangan,
lutut,
dan
punggung kaki.
hematom
Dijumpai
pada orbital dextra

Kesimpulan
Penanganan
pemeriksaan
Airway unclear
Dilakukan
cairan
dan sekitar rongga mulut,
Adanya
jatuhnya pangkal lidah pemasangan
menutupi jalur nafas
endotracheal tube, dan

suction
In-line mobilization
Takipnea
Oksigen via ETT 6
liter/menit
Saturasi O2 rendah

Hasil
Airway clear

Hipotensi
Hipoperfusi

Pasang 2 IV line 18G


Pemberian cairan Ringer
Solution 2500 ml habis
dalam 1 jam

Pasien dengan penurunan


kesadaran

Mempertahankan A-B-C
tetap lancar

Pasien
penurunan
kesadaran

Risiko hipovolemia dan


hipotermia

Menyelimuti pasien
tidak hipotermi

RR: 14 kali/menit
SaO2: 99%

TD: 100/60 mmHg


CRT < 2 detik
Akral mulai hangat
T/V cukup

dengan

agar Pasien normotermia

Secondary Survey
B1 : airway clear terintubasi ETT, RR : 14x/menit, SP :
vesikuler, ST : - , S/G/C = -/-/-, Riw
asma/sesak/batuk/alergi : -/-/-/- ; MLP : sdn, JMH : >6cm
B2 : akral : H/M/K, TD : 100/60, HR : 87x/menit, T/V :
kuat/cukup , CRT: < 2 detik, T : 36.8C
B3 : Sens : GCS 5T (E1, M4, VT) ; pupil : anisokor,
diameter kiri 1mm/ kanan 4mm; RC: +/+, Riw: kejang
(-), Muntah (-), otorhea (-), rhinorea (-), Battle sign (-),
Racoon Eye (-)
B4 : BAK (+) vol : 300cc (res), warna : kuning jernih
B5 : abdomen : soepel, peristaltic (+) normal
B6 : oedem(+), fraktur : os zygomaticus kanan

Penanganan di IGD

Head up 300

Pemasangan 2 IV line 18G

IVFD Ringer Solution sebanyak 2500 ml habis dalam 1 jam dan


memberikan Ringer Solution sebanyak 20 tetes/menit makro.

Pasang foley catheter untuk memantau urine output

Melakukan intubasi pada pasien dengan indikasi GCS 7

Melakukan kontrol pernafasan sebanyak 14-20 kali/menit

Rencana pemeriksaan foto thorax, foto cervical, foto kepala,


dan CT-scan

Acc tindakan anestesi terhadap evakuasi SDH oleh


departemen bedah saraf

Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium
Jenis pemeriksaan
Hasil
HEMATOLOGI
Hemoglobin (HGB)
15,10 g%
Leukosit (WBC)
28,59x103/mm3
Hematokrit
43,70%
Trombosit (PLT)
241x103
FAAL HEMOSTASIS

PT
18,6 (13,8) detik
APTT
35,8 (32,8) detik
TT
22,5 (17,0) detik
INR
1,35
GINJAL
Ureum
13,50 mg/dL
Kreatinin
0,66 mg/dL
ELEKTROLIT
Natrium (Na)
142 mEq/L
Kalium (K)
3,1 mEq/L
Klorida (Cl)
109 mEq/L
METABOLISME KARBOHIDRAT
Glukosa Darah
116,40 mg/dL
(Sewaktu)
HATI
Albumin
3,5 g/dL

Rujukan
13,217,3
4,511,0x103
4349%
150450x103

<50 mg/dL
0,701,20 mg/dL
135155 mEq/L
3,65,5 mEq/L
96106 mEq/L
<200 mg/dL

3,44,8 g/dL

Pemeriksaan Penunjang
Foto Thorax AP

Kesimpulan : Kesan paru dan jantung dalam batas


normal, tidak terdapat fraktur.

Pemeriksaan Penunjang
Foto Schaedel AP

Foto Schaedel Lateral

Kesimpulan : Kesan fraktur pada frontal kanan.

Pemeriksaan Penunjang
Foto Cervical

Kesimpulan : Tidak tampak kelainan pada tulang cervical.

Pemeriksaan Penunjang
Foto Pelvic AP

Kesimpulan : Tidak tampak kelainan pada tulang pelvic.

Pemeriksaan Penunjang
CT-Scan Kepala

Kesimpulan: Subdural hemorrhage pada frontotemporoparietalis kanan, fraktur os


zygomatikum kanan, subgaleal hematoma pada frontotemporoparietalis kanan,
midline shift ke kiri lebih kurang 1,5 cm.

Diagnosis:
Head Injury GCS 7 + Subdural
Hematom o/t
Frontotemporoparietalis Dextra

Follow-Up Pasien di Instalasi Gawat Darurat


02 Juni 2015
S : Penurunan kesadaran
O:
B1 :
B2 :
B3 :
B4 :
B5 :
B6 :

Airway: clear, terintubasi, S/G/C : -/-/-, MV: Spont, RR: 14 x/menit, SP/ST: vesikuler/-, SpO 2: 99%
Akral : H/M/K, TD: 120/80 mmHg , HR: 108 x/menit, T/V: cukup, CRT < 3 detik, reguler
Sens: GCS E2 M5 Vt, RC: -/+, pupil: anisokor, ka>ki diameter: 4mm/ 2mm
UOP: (+), kateter terpasang, volume: 50 cc/jam
Soepel, peristaltik (+)
Oedem (-)

A : Subdural hematom o/t frontotemporoparietalis dextra


P:
- Bed rest + Head up
- Diet SV 1800 kkal + 60 gr protein
- IVFD. Mannitol 20% 125 ml/6 jam
- Fentanyl 200 mg/50 ml NaCl 0,9% -> 5 ml/jam
- Inj. Meropenem 1 gr/8 jam
- Inj. Ranitidine 50 mg/12 jam
- Inj. Fenitoin 100 mg /8 jam

Pemeriksaan Laboratorium
ANALISA GAS DARAH
pH
pCO2

7,430

7,357,45

28,3 mmHg

3842

pO2

171,9 mmHg

85100

Bikarbonat (HCO3)

18,4 mmol/L

2226

Total CO2

19,2 mmol/L

1925

Kelebihan Basa (BE)

-4,4 mmol/L

(-2)(+2)

99,5%

95100

Saturasi O2

03 Juni 2015
S : Penurunan kesadaran
O:
B1 : Airway: clear, terintubasi, S/G/C : -/-/-, MV: Spont, RR: 20 x/menit, SP/ST: vesikuler/-, SpO 2:
99%
B2 : Akral : H/M/K, TD: 120/70 mmHg , HR: 90 x/menit, T/V: cukup, CRT < 3 detik, reguler
B3 : Sens: GCS E2 M5 Vt, RC: -/+, pupil: anisokor, ka>ki diameter: 4mm/ 2mm
B4 : UOP: (+), kateter terpasang, volume: 50 cc/jam
B5 : Soepel, peristaltik (+)
B6 : Oedem (-)
A : Subdural hematom o/t frontotemporoparietalis dextra
P:
- Bed rest + Head up
- Diet SV 1800 kkal + 60 gr protein
- IVFD. Mannitol 20% 125 ml/6 jam
- Fentanyl 200 mg/50 ml NaCl 0,9% -> 3 ml/jam
- Inj. Meropenem 1 gr/8 jam
- Inj. Ranitidine 50 mg/12 jam
- Inj. Fenitoin 100 mg /8 jam
- Transfusi PRC 3 bag
- Fisioterapi
Pemeriksaan Laboratorium
HEMATOLOGI
Hemoglobin (HGB)
Leukosit (WBC)
Hematokrit
Trombosit (PLT)
Analisa Gas Darah
pH
pCO2
pO2
Bikarbonat (HCO3)
Total CO2
Kelebihan Basa (BE)
Saturasi O2

7,3 g%
13,12x103/mm3
21,60%
143x103

13,217,3
4,511,0x103
4349%
150450x103

7,523
29,3 mmHg
184,5 mmHg
23,6 mmol/L
24,5 mmol/L
0,9 mmol/L
99,7%

7,357,45
3842
85100
2226
1925
(-2)(+2)
95100

04 Juni 2015
S : Penurunan kesadaran
O:
B1 : Airway: clear, terintubasi, S/G/C : -/-/-, MV: Spont, RR: 20 x/menit, SP/ST: vesikuler/-,
SpO2: 99%
B2 : Akral : H/M/K, TD: 120/70 mmHg , HR: 100 x/menit, T/V: cukup, CRT < 3 detik, reguler
B3 : Sens: GCS E2 M5 Vt, RC: -/+, pupil: anisokor, ka>ki diameter: 4mm/ 2mm
B4 : UOP: (+), kateter terpasang, volume: 100 cc/jam
B5 : Soepel, peristaltik (+)
B6 : Oedem (-)
A : Subdural hematom o/t frontotemporoparietalis dextra
P:
- Bed rest + Head up
- Diet SV 1800 kkal + 60 gr protein
- IVFD. Mannitol 20% 125 ml/6 jam
- Fentanyl 200 mg + Miloz 15 mg dalam 50 ml NaCl 0,9% -> 3 ml/jam
- Inj. Meropenem 1 gr/8 jam
- Inj. Ranitidine 50 mg/12 jam
- Inj. Fenitoin 100 mg /8 jam
- Fisioterapi
Pemeriksaan Laboratorium
HEMATOLOGI
Hemoglobin (HGB)
10,8 g%
13,217,3
Leukosit (WBC)
13,87x103/mm3
4,511,0x103
Hematokrit
31,20%
4349%
Trombosit (PLT)
151x103
150450x103
ANALISA GAS DARAH
pH
7,470
7,357,45
pCO2
28,2 mmHg
3842
pO2
136,8 mmHg
85100
Bikarbonat (HCO3)
20,1 mmol/L
2226
Total CO2
20,9 mmol/L
1925
Kelebihan Basa (BE)
-2.8 mmol/L
(-2)(+2)
Saturasi O2
99,2%
95100
METABOLISME KARBOHIDRAT
Glukosa Darah (Sewaktu)
121,00 mg/dL
< 200

05 Juni 2015
S : Penurunan kesadaran
O:
B1 :
B2 :
B3 :
B4 :
B5 :
B6 :

Airway: clear, sungkup, S/G/C : -/-/-, RR: 24 x/menit, SP/ST: vesikuler/-, SpO2: 99%
Akral : H/M/K, TD: 130/80 mmHg , HR: 98 x/menit, T/V: cukup, CRT < 3 detik, reguler
Sens: GCS E3 M5 V2, RC: +/+, pupil: anisokor, ka>ki diameter: 4mm/2mm, kejang (+)
UOP: (+), kateter terpasang, volume: 100 cc/jam
Soepel, peristaltik (+)
Oedem (-)

A : Subdural hematom o/t frontotemporoparietalis dextra


P:
- Bed rest + Head up
- Diet SV 1800 kkal + 60 gr protein
- IVFD. Mannitol 20% 125 ml/6 jam
- Fentanyl 200 mg dalam 50 ml NaCl 0,9% -> 3 ml/jam
- Inj. Meropenem 1 gr/8 jam
- Inj. Ranitidine 50 mg/12 jam
- IVFD Fenitoin 200 mg /12 jam dalam NaCl 0,9% 50 ml habis dalam 10 menit
- Fisioterapi

Bab 4
Masalah dan
Pembahasan

No.
1.

Masalah

Pembahasan

Airway

Airway

Snoring dan gargling dialami Penanganan awal pada pasien


oleh

pasien

sehingga

dilakukan

pemasangan

oropharyngeal

tube

dan

dengan

trauma

kepala

yaitu

pastikan jalan nafas lancar dan


jika curiga adanya trauma cervical
maka lakukan in line mobilization

suction untuk membersihkan terlebih dahulu. Pasien dilakukan


rongga mulut dari cairan. jaw thrust, karena belum diketahui
Kemudian memastikan tulang apakah adanya trauma cervical
cervical tetap pada tempatnya atau tidak. Pastikan tidak ada
dengan inline mobilization.
Setelah

dilakukan

tindakan,

tidak terdengar snoring dan


gargling, jalan nafas lancar.

sumbatan pada jalan nafas seperti


cairan. Pada pasien yang diduga
adanya jatuhnya lidah sehingga
menyebabkan
dilakukan
oropharyngeal

snoring

dapat

pemasangan
tube

atau

endotracheal tube jika didapati


GCS < 8.

No. Masalah
2. Breathing

Pembahasan
Breathing

Pasien mengalami peningkatan Pada

trauma

kepala,

CPP

frekuensi

pernafasan

36 berkurang, sebagai kompensasi

kali/menit.

Pada

ini tubuh untuk menaikkan CPP

dilakukan

pasien

pemasangan adalah

endotracheal

tube

dengan

vasodilatasi

dengan pembuluh darah di otak yaitu

aliran 6 L per menit.Setelah dengan hiperventilasi. Namun


dilakukan

resusitasi, hal

ini

dapat

meningkatkan

pernafasan pasien diambil alih tekanan intrakranial sehingga


dengan

manual

bagging. ventilasi harus diatur.

Saturasi oksigen dipertahankan


> 90%.

No Masalah

Pembahasan

.
3.

Circulation

Circulation
-

Dilakukan pemasangan 2 IV line -Kristaloid isotonik


dengan

IV

cath

No.

18

dan

dilakukan pemberian cairan 2500cc


habis dalam 1 jam untuk mencukupi

merupakan

cairan

lini

pertama

yang

digunakan untuk mengganti cairan dan


resusitasi.

Cairan

normosaline

direkomendasikan sebagai lini perteama

kebutuhan cairan pasien, menjaga untuk cairan resusitasi. Pasien digolongkan


sirkulasi tubuh tetap lancar. Hasilnya perdarahan kelas I. EBV = 4200cc. EBL=
yaitu akral hangat, merah, kering 420 cc. Rule 3:1 = 12600cc. Pasien diberi
dan

denyut

jantung

berkurang, cairan sebanyak 2500cc, hal ini tidak


sesuai

tekanan darah naik.


-

MAP

pasien

dipertahankan

80mmHg mmHg. Pada pasien ini,

dengan

perdarahan.

perhitungan

Tekanan

perfusi

kelas
serebral

didefinisikan sebagai MAP dikurang ICP


(CPP

MAP

ICP).

Tekanan

dibawah

tekanan darah selama pemantauan 50mmHg harus dihindari. Mempertahankan


di icu 120/80mmHg
tekanan lebih dari 60mmHg menyediakan

perfusi ke jaringan otak yang iskemik pada


cedera

kepala

direkomendasikan

berat.

80mmHg

MAP
untuk

No. Masalah

4.

Pembahasan

Disability

Disability

Pasien hanya dapat bereaksi pada Penilaian pada disability pada saat
respon terhadap nyeri.

primary

survey

hanya

menilai

Dilakukan head up 300 pada pasien pasien dengan AVPU, dan pada
yang

mengalami

trauma

kepala.

pada secondary survey dilakukan lebih


cermat

dengan

Glasgow

Coma

Pada evaluasi secondary survey Scale dengan nilai paling tidak


pada B3 atau Brain didapati pasien sadar yaitu 3 dan paling sadar yaitu
memiliki GCS7 (E1 M4 V2).

15.
Klasifikasi nilai GCS yaitu:
-Trauma kepala ringan: 14-15
-Trauma kepala sedang: 9-13
-Trauma kepala berat: 3-8

No.

Masalah

Pembahasan

5.

Exposure

Exposure

Dijumpai jejas pada occipital sinsitra Seluruh pakaian dibuka dan mencari
dan adanya hematom pada orbital trauma dari head to toe. Dilakukan
dextra.
dilakukan

Pada

pasien

perban

ini

pada

sinistra dari RS sebelumnya.

telah cara logroll untuk melihat adanya

occipital jejas di daerah punggung.


Pasien

yang

cenderung

pakaiannya
untuk

dibuka

mengalami

hipotermi, sehingga diperlukan untuk


menyelimuti

pasien

atau

menggunakan blanket penghangat.

No. Masalah

Pembahasan

6.

Peningkatan tekanan intrakranial pada pasien

Cedera kepala rentan terhadap cedera kepala sekunder yang

dengan cedera kepala ini dapat dicegah

diperlukan:

disebabkan

oleh

peningkatan

tekanan

intrakranial

sehingga

dengan dlakukan:

-Head up 30 45 derajat, akan menurunkan tekanan intrakranial

-Head up 30 derajat

pneumonia ventilator

-Cegah hipoksia
-Pasien dalam keadaan normovolume
-Cegah nyeri, diberikan analgesia yaitu injeksi
Fentanyl 200 mcg + NaCl 0,9% -> 5 ml/jam.
-Pemberian diuresis osmosis sebanyak 125
ml/6 jam
-Inj. Fenitoin 100 mg /8 jam

dan

meningkatkan

-Narkotik

seperti

direkomendasikan

perfusi

serebri

morphine,
sebagai

lini

dan

menurunkan

resiko

fentanyl

dan

remifentanil,

pertama

yang

menyediakan

analgesia, sedasi ringan dan depresi jalan napas yang berguna


untuk intubasi dan ventilasi mekanik. Pemberian dapat dilakukan
secara kontinus atau bolus berkala.
Hal ini berguna dalam membatasi peningkatan tekanan intrakranial
yang terjadi akibat agitasi, ketidaknyamanan, batuk atau nyeri;
menurunkan konsumsi oksigen, produksi CO2; meningkatkan
kenyamanan pasien; dan mencegah pergeseran yang berbahaya.
-

Pemberiaan

manitol

efektif

menurunkan

tekanan

intrakranial, meningkatkan tekanan perfusi otak, memperbaiki aliran


darah otak. Efek ini berhubungan dengan penambahan volume
plasma dengan penurunan hematokrit, viskositas plasma, volume
darah otak. Osmolaritas harus dipantau dan jangan melebihi 320
mOsm/L
-

Phenitoin direkomendasikan sebagai profilaksis pada kejang

early post traumatic. Loading dose 15 20 mg/kg secara intravena


selama 30 menit diikuti 100mg intravenous selama 8 jam, dititrasi
selama 7 hari.

No.

Masalah

7.

Pasien

Pembahasan
dengan

penurunan Pada pasien penurunan kesadaran

kesadaran diperlukan nutrisi yang beri dukungan nutrisi (140% dari


cukup dengan:

resting energy expenditure/ REE

Pemasangan NGT

pada pasien yang tidak paralisis dan

Diet SV 1800 kkal + 60 gr protein 100%

Cairan dan eldektrolit yang adekuat.

REE

paralisis)
formulka

pada

dengan
enteral

pasien

yang

menggunakan
atau

parenteral

yang mengandung paling sedikit


15% kalori dari protein dalam 7 hari
setelah cedera.

Bab 5
Kesimpulan

Kesimpulan
Trauma kepala adalah trauma mekanik pada kepala
secara langsung ataupun tidak langsung yang
menyebabkan gangguan fungsi neurologis yaitu
gangguan fisik, kognitif, psikososial baik sementara
ataupun menetap.
Trauma kepala dapat diklasifikasikan berdasarkan
rentang skor GCS yaitu trauma kepala ringan pada GCS
13-15, trauma kepala sedang pada GCS 9-12, dan trauma
kepala berat pada GCS 3-8.
Pasien dengan trauma kepala wajib ditangani dengan
segera dan dipantau dimulai sejak mengalami trauma
karena dapat terjadi hal seperti aspirasi, hipotensi,
kejang, dan sebagainya yang dapat memperburuk
keadaan pasien.

Terima Kasih

Pertanyaan
1. Perhitungan kelas perdarahan sama atau tidak pada
trauma kepala? JB: Tergantung etiologi
2. Muscle relaxant kapan diberikan pada penanganan
awal pasien? JB: Ketika dibutuhkan kontrol pernafasan
pada pasien
3. Target resusitasi cairannya? Kapan diberikan mannitol
20%? Bagaimana jika hipertensi? JB:???
4. Apakah gejala pasien bukan karena kompensasinya
sehingga dapat dimasukkan kedalam kriteria kelas
perdarahan? Bagaimana cara menentukan penurunan
kesadaran akibat perdarahan dan trauma kepala?
Bagaimana respiratory rate yang tinggi dapat
menurunkan tekanan intrakranial?