Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

KEPERAWATAN ANAK
LABIOPALATOSIS

DI SUSUN
OLEH:
KELOMPOK VI
FAIDIN
SUFANDI SAID
HIKMAH

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM MAKASSAR
MAKASSAR
2014
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Alhamdulillahirabbilalamin, banyak nikmat yang Allah berikan, tetapi
sedikit sekali yang kita ingat. Segala puji hanya layak untuk Allah Tuhan seru
sekalian alam atas segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada
terkira besarnya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul
LABIOPALATOSIS
Dalam penyusunannya, kami memperoleh banyak bantuan dari berbagai
pihak, karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada kedua orang tua, dosen mata kuliah keperawatan anak dan kawan-kawan
seperjuangan di UNIVERSITAS ISLAM MAKASSAR yang telah memberikan
dukungan, kasih, dan kepercayaan yang begitu besar. Dari sanalah semua
kesuksesan ini berawal, semoga semua ini bisa memberikan sedikit kebahagiaan
dan menuntun pada langkah yang lebih baik lagi.
Meskipun kami berharap isi dari makalah ini bebas dari kekurangan dan
kesalahan, namun selalu ada yang kurang. Oleh karena itu, kami mengharapkan
kritik dan saran yang membangun agar MAKALAH ini dapat lebih baik lagi.

Makassar, Mey 2015

Kelompok

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR..
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan.
BAB II PEMBAHASAN
A. KONSEP DASAR MEDIS.
1. Pengertian
2. Klasifikasi ........................................................................................
3. Etiologi.
4. Pathofisiologi.....................................................................................
5. Tanda dan gejala.
6. Penyimpangan KDM (PATWAY)....................................................
7. Manifestasi Klinis.......................................................................
8. Penatalaksanaan ...............................................................................
B. KONSEP DASAR ASKEP.
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA

BAB 1
PENDAHULUAN
A.

LATAR BELAKANG
Kasus bibir sumbing dan celah langit-langit merupakan cacat bawaan
yang masih menjadi masalah di tengah masyarakat. Di lakukan penelitian
pada 126 penderita yang di lakukan operasi secara gratis pada bayi, anak
maupun dewasa.
Pada dasarnya kelainan bawaan dapat terjadi pada mulut, yang biasa di
sebut labio palato schisis. Kelainan di duga terjadi akibat infeksi virus yang di
derita ibu pada kehamilan trimester 1. jika hanya terjadi sumbing pada bibir,
bayi tidak akan banyak mengalami gangguan karena masih dapat diberi
minum dengan dot biasa. Bayi dapat mengisap dot dengan baik asal dotnya
diletakan di bagian bibir yang tidak sumbing.
Kelaianan bibir ini dapat segera di perbaiki dengan pembedahan. Bila
sumbing mencakup pula palatum mole / palatum durum, bayi akan mengalami
kesukaran minum, walau[pun bayi dapat mengisap namun bahaya tersedak
mengancam. Bayi dengan kelainan bawaan ini akan mengalami gangguan
pertumbuhan karena sering menderita infeksi saluran pernapasan akibat
aspirasi. Keadan umur yang kurang baik juga akan menunda tindakan untuk
memperbaiki kelainan tersebut.
B. RUMUSAN MASALAH
1.
2.
3.
4.
5.

Bagaimana yang di maksud dengan labioplatosis


Apa yang menyebabkan sehingga terjadi labioplatosis
Seperti apa kebutuhan dasar dari labioplatosis
Seperti apa tanda dan gejala dari labioplatosis
Bagaimana diagnosa dan implmentasi keperawatan labioplatosis

C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui Bagaimana yang di maksud dengan labioplatosis

2. Untuk mengetahui seperti apa yang menyebabkan sehingga terjadi


labioplatosis
3. Untuk mengetahui bagaimana kebutuhan dasar dari labioplatosis
4. Untuk mengetahui bentuk dari tanda dan gejala labioplatosis
5. Untuk mengetahui diagnosa dan implmentasi keperawatan labioplatosis

BAB 11
PEMBAHASAN

A. KONSEP DASAR MEDIS


1.

Pengertian
Labio palato schisis adalah malformasi yang disebabkan oleh gagalnya
prosesus nasal median dan maksilaris untuk menyatu selama
perkembangan embrionik (kapita selekta,jilid 2 ).
Labio palato schisis adalah isura garis tengah pada palatum yang terjadi
karena kegagalan dua sisi untuk menyatu selama perkembangan
embrionik.
(www geogle.com)

2. Klasifikasi
Berdasarkan organ terlihat :
Celah bibir (labioschisis)
Celah gusi (gratoschisis)
Langit-langit ( palatoschisis )
Tingkat kelahiran biasa bervariasi mulai dari ringan sampai parah (celah
bias sampai hidung).
Beberapa jenis bibir sumbing yang di ketahui yaitu :
1. Unilateral Inkomplete
Apabila celah sumbing terjadi hanya di salah satu sisi bibir dan
tidak memanjang hingga ke hidung.
2. Unilateral Complete
Apabila celah sumbing terjadi di kedua sisi bibir dan memanjang
hingga ke hidung.
3. Bilateral Complete
Apabila celah sumbing terjadi di ke dua sisi bibir dan memanjang
hingga ke hidung.
3. Etiologi
Belum di ketahui pasti. Hipotesis yang di ajukan antara lain :

a) Insufisiensi zat untuk tumbuh kembang organ selama embrional dalam


hal kuatitas (pada gangguan sirkulasi feto-maternal) dan kualitas
(defisiensi asam folat, vitamin C dan zn).
b) Pengaruh obat teratologik, termasuk jamu dan kontrasepsi hormonal.
c) Infeksi,khususnya viral ( toksoplasma ) dan klamidal
d) Faktor genetik
e) Kelainan ini juga diduga terjadi akibat lnfeksi virus yang di derita ibu
pada kehamilan trimester pertama.
4. Pathofisiologi
Cacat terbentuk pada trimester pertama kehamilan, prosesnya karena tidak
terbentuknya mesoderm pada daerah tersebut sehingga kembali juga oleh
beberapa etiologi.prosesnya karena kegagalan fusi palatum pada garis
tengah dan kegagalan fusi dengan septum nasi.
5. Tanda dan gejala
Ada beberapa gejala dari bibir sumbing yaitu :
a. Terjadi pamisahan Langit-langit
b. Terjadi pemisahan bibir
c. Terjadi pemisahan bibir dan langit-langit
d. Infeksi telinga berulang
e. Berat badan tidak bertambah
f. Pada bayi terjadi regurgitasi nasal ketika menyusui yaitu keluarnya air
susu dari hidung.

6. Penyimpangan KDM (PATWAY )


Insufisiensi zat

toksikosis selama

infeksi

genetik

Untuk tumbuh kembang

kehamilan

Kegagalan fungsi palatum


palatum
Pada garis tengah
nasi

refleks mengisap Asi, yang


terganggu akibat adanya
patologis, pucat, turgor kulit
jelek, kulit kering, perut
kembung, BB menurun.

Perubahan nutrisi kurang


nerima,sensitif,
dari kebutuhan tubuh

kegagalan fungsi
dengan septum

bayi rewel,
adanya sumbing adanya disfungsi
menangis,
pada bibir dan
tuba eustachi
tidak dapat
palatum
yang dapat meberistirahat
ngakibatkan terDengan tenang,
jadinya otitis
dan nyaman,
media serta
sulit mengisap
gangguan
dan menelan Asi
resti
pendengaran,
trauma
adanya sifat
sisi pembedahan kurang meresti trauma sisi
pembedahan

adanya sumbing gangguan rasa


pada bibir dan
nyaman nyeri
palatum.
Resti

perubahan
Menjadi
orangtua
Referensi :
1. Ngastinya. 2005. Perawatan anak sakit edisi 2. Jakarta : EGC
2. Doengoes Marlin. 2001. Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta : EGC

7.

adanya
gangguan
pertumbuhan
anatomi naso
faring, adanya
garis jahitan
pada daerah
mulut.

Manifestasi Klinis
a) Refleks mengisap Asi yang terganggu, akibat adanya kondisi pathologis

b) Adanya gangguan pertumbuhan anatomi nasofaring


c) Adanya disfungsi tuba eustachius yang dapat mengakibatkan
terjadinya otitis media, serta gangguan pendengaran.
8.

Penatalaksanaan

a. Keperawatan
i. Masalah yang dapat terjadi adalah resiko tersedak
ii. Ibu harus dilatih untuk memberikan Asi, yang harus diberikan
secara hati hati dan sering beristirahat jika tetap mengalami
kesukaran. Asi dapat di pompa dan diberikan dengan sedotan
sedikit sedikit. Perhatikan agar pompa payudara dan gelas
penampung Asi selalu diseduh agar tidak terjadi terkontaminasi.
1. Medis
-

Tindakan operasi pertama di kerjakan untuk menutup celah bibir


berdasarkan kriteria tube of ten yaitu umur > 10 minggu (3 bulan)
> 10 pon (5 kg), > 10 gr/dl, leukosit > 10.000/ui.

Tindakan

operasi

selanjutnya

adalah

menutup

langitan

(palatolasti0. di kerjakan sedini mungkin (15-24bulan) sebelum


anak mampu bicara lengkap sehingga pusat bicara di otak belum
membentuk cara bicara.
-

Setelah operasi, anak dapat belajar dari orang lain atau melakukan
spech therapist untuk melatih atau mengajar anak bicara dengan
normal.

Pada umur 8-9


tahun dilakukan operasi penambahan tulang pada celah alveolus /
maksila

untuk

memungkinkan

ablioefodenti

mengatur

pertumbuhan gigi di kanan-kiri celah supaya normal.


Pencegahan infeksi.

Menaati praktek pencegahan infeksi terutama kebersihan tangan


serta

memakai sarung tangan.

Memperhatikan dengan seksam proses yang telah terbukti


bermanfaat untuk dekontaminasi dan pencucian peralatan dan
benda kotor,ikuti dengan sterilisasi dan desinfeksi tingkat tinggi.

Selalu memoerhatikan teknik aseptik sewaktu melakukan tindakan


yang bersifat infasif seperti : suction endotracheal,melakukan
penyuntikan obat-obat pada akses perifer maupun vena central,
pemasangan kateter urine,dll.

B. KONSEP DASAR ASKEP


1. Pengkajian
b) Biodata pasien dan biodata penanggung jawab
c) Riwayat kesehatan masa lalu
Pasien menderita insufisiensi zat untuk tumbuh kembang organ selama
masa embrional.
d) Riwayat kesehatan sekarang
Pengaruh

obat

tetatologik

termasuk

jamu

dan

hormonal,kecanduan alkohol.
e) Riwayat keluarga
Anggota keluarga ada yang bibir sumbing.
f) Pemeriksaan Fisik
1 Mata

Keadaan konjungtiva

Keadaan sclera

Keadaan lensa
2 Hidung

Kemampuan penglihatankepekaan penciuman

Adanya polip/hambatan lain pada hidung, adanya pilek.


3 Mulut dan Bibir

Warna bibir

Apakah ada luka

kontrasepsi

Apakah ada kelainan


4 Leher

Keadaan vena jugularis

Apakah ada pembesaran kelenjar.


5 Telinga

Bentuk telinga

Kepekaan pendengaran

Kebersihan telinga
6 Dada

Bentuk dan irama napas

Keadaan jantung dan paru-paru


7

Abdomen

Ada kelainan atau tidak

Bentuknya supel atau tidak

Genitalia
Kebersihan daerah genetalia
Ada edema atau tidak
Keadaan alat genetalia
9 Ekstermitas atas dan bawah

Bentuknya normal atau tidak

Tonus otot kuat atau lemah

10 Kulit

g)
a.

Warna kulit

Turgor kulit

Pengkajian Perpola
Aktivitas / istirahat

Sulit mengisap Asi

Sulit menelan Asi

b.

c.

d.

Bayi rewel,menangis

Tidak dapat beristirahat dengan tenang dan nyaman

Sirkulasi

Pucat

Turgor kulit jelek

Makanan / cairan

Berat badan menurun

Perut kembung

Turgor kulit jelek, kulit kering

Neurosensori

Adanya trauma psikologi pada orang tua

Adanya sifat kurang menerima, sensitif


e. Nyaman / nyeri

Adanya resiko tersedak

Disfungsi tuba eustachi

Adanya garis jahitan pada daerah mulut

Tabulasi Data
Sulit mengisap Asi, sulit menelan Asi, bayi rewel,menangis,tidak dapat
beristirahat dengan tenang dan nyaman, pucat,turgor kulit jelek, berat badan
menurun, perut kembung, kulit kering, adanya trauma psikologi pada orang
tua,danya sifat menerima sensitif, adanya resiko tersedak, disfungsi tuba
eustachi,adanya garis jahitan pada daerah mulut, adanya sumbing bibir dan
sumbing palatum.
Klasifikasi Data
DS : sulit mengisap Asi, sulit menelan Asi, bayi rewel, menangis, tidak dapat
beristirahat dengan tenang dan nyaman.

DO : pucat, turgor kulit jelek, bert badan menurun, perut kembung, kulit kering,
adanya trauma psikologi padaa orang tua, adanya siat kurang menerima,
sensitif, adanya esiko tersedak, disfungsi tuba eustachi, adanya garis jahitan
pada daerah mulut, adanya sumbing bibir dan sumbing palatum.
Analisa Data
No

Symptom

Etiologi

Pre op
1

Perubahan nutrisi

DS : sulit mengisap dan menelan


Asi.

Problem
kurang dari

Defek fisik

kebutuhan tubuh

menurun
DS: -

Bayi dengan defek

Resiko tinggi

DO: adanya trauma psikologi pada

fisisk yang sangat

perubahan

terlihat

menjadi orang tua

Prosedur

Resiko tinggi

dapat beristirahat dengan

pembedahan,

trauma sisi

tenang dan nyaman, sulit

disfungsi menelan

pembedan

DO: pucat, turgor kulit jelek, kulit


kering, perut kembung,BB
2

orang tua, adanya sifat kurang


menerima, sensitif, adanya
sumbing pada bibir dan
3

palatum
DS: bayi rewel, menangis, tidak

mengisao dan menelan Asi.


DO: adanya garis jahitan pada
daerah mulut
Post op
4

Gangguan

DS: bayi rewel,menangis


DO: adanya garis jahitan pada

Insisi bedah

daerah mulut
5

DS : DO : adanya luka operasi tertutup

Terpaparnya
lingkungan dan

Resti infeksi

kasa

prosedur invasi

PRIORITAS MASALAH
PRE OP : - Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
-

resti perubahan
menjadi orang tua

resti trauma sisi


pembedahan

POST OP : - gangguan rasa nyaman nyeri


- resti infeksi
2.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
PRE OP
a.

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d defek fisik


yang di tandai dengan :
DS : Sulit mengisap dan menelan Asi
DO : Pucat, turgor kulit jelek, kulit kering,perut kembung, BB
menurun

b.

Resiko tinggi perubahan menjadi orang tua b/d bayi dengan


defek fisik yang sangat terlihat yang di tandai dengan :
DS : DO : Adanya trauma psikologipada orang tua, adanya sifat kurang
menerima, sensitif, adanya sumbing pada bibir dan palatum

c.

Resiko tinggi trauma sisi pembedahan b/d prosedur


pembedahan, disfungsi menelan, yang di tandai dengan :
DS : Bayi rewel, menangis, tidak dapat beristirahat dengan tenang
dan nyaman, sulit mengisap dan menelan Asi.
DO : adanya garis jahitan pada daerah mulut

POST OP

a.

gangguan rasa nyaman nyeri b/d insisi bedah yang di tandai


dengan
DS : Bayi rewel, menangis
DO : Adanya garis jahitan pada daerah mulut

b.

resti infeksi b/d terpaparnya linkungan dan prosedur invasi,


yang di tandai dengan :
DS : DO : Adanya luka operasi tertutup kasa

No
1

Diagnosa Keperawatan
Perubahan nutrisi kurang
dari kebutuhan tubah b/d
defek fisik yang di tandai :
DS: Sulit mengisap dan
menelan Asi
DO: Pucat, turgor kulit
jelek,kulit kering,
perut kembung, BB
menurun

Tujuan
Setelah
mendapatkan
tindakan
keperawatan di
harapkan
perubahan nutrisi
dapat teratasi
dengan kriteria :
tidak pucat
turgor kulit
membaik
kulit lembab,
perut tidak
kembung
bayi
menunjukan
penambahan
berat badan yang
tepat.

Rencana Keperawatan
Intervensi
Rasional
1. Bantu ibu dalam
1. Membantu ibu dalam
menyusui, bila ini
memberikan Asi dan posisi
adalah keinginan
puting yang stabil
ibu. Posisikan dan
membentuk kerja lidah dalam
stabilkan puting susu
pemerasan susu.
dengan baik di
dalam rongga mulut.
2. Bantu menstimulasi
2. Karena pengisapan di
refleks ejeksi Asi
perlukan untuk menstimulasi
secara manual /
susu yang pada awalnya
dengan pompa
mungkin tidak ada
payudara sebelum
menyusui
3. Gunakan alat makan 3. Membantu kesulitan makan
khusus, bila
bayi, mempermudah menelan
menggunakan alat
da mencegah aspirasi
tanpa puting. (dot,
spuit asepto) letakan
formula di belakang
lidah
4. Melatih ibu untuk
4. Mempermudah dalam
memberikan Asi
pemberian Asi
yang baik bagi
bayinya
5. Menganjurkan ibu
5. Untuk mencegah terjadinya
untuk tetap menjaga
mikroorganisme yang masuk
kebersihan, apabila
di pulangkan
6. kolborasi dengan
6. Untuk mendapatkan nutrisi
ahli gizi.
yang seimbang

No
2

Diagnosa Keperawatan
Tujuan
Cemas / resiko tinggi
Setelah
perubahan menjadi orang
mendapatkan
tua b/d bayi dengan defek
tindakan
fisik yang sangat terlihat,
keperawatan di
yang di tandai dengan :
harapkan resti
DS : perubahan menjadi
DO : Adanya trauma
orang tua tidak
psikologi pada orang terjadi dengan
tua, adanya sifat
kriteria :
kurang menerima,
pasien dan
sensitif, adanya
keluarga
sumbing pada bibir
menunjukan
dan palatum
penerimaan
terhadap bayi
keluarga
mendiskusikan
perasaan dan
kekhawatiran
mengenai defek
anak,
perbaikannyadan
proses masa
depan

Rencana Keperawatan
Intervensi
Rasional
1. Berikan kesempatan
1. Mendorong koping
untuk mengekspresikan
keluarga
perasaan
2. tunjukan sikap
2. Meredam sikap sensitif
penerimaan terhadap
orangtua terhadap sikap
bayi dan keluarga
sensitif orang lain
3. tunjukan dengan
3. Mendorong penerimaan
perilaku bahwa anak
terhadap bayi
adalah manusia yang
berharga
4. gambarkan hasil
4. Untuk mendorong adanya
perbaikan bedah
pengharapan
terhadap defek,gunakan
foto hasil yang
memuaskan
5. anjurkan pertemuan
5. Membantu orangtua
dengan orang tua lain
mendiskusikan
yang mempunyai
kekhawatirannya, berbagi
pengalaman serupa dan
pengalaman swehingga
dapat menghadapinya
timbulnya sifat menerima
dengan baik.
terhadap bayi
6. menganjurkan orangtua
6. Untuk mencegah
untuk selalu menjaga
terjadinya defek pada
kesehatan bayinya
bayi

No
3

Diagnosa Keperawatan
Tujuan
Resiko tinggi trauma sisi
Setelah
pembedahan b/d prosedur
mendapatkan
pembedahan, disfungsi
tindakan
menelan, yang di tandai
keperawatan di
dengan :
harapkan trauma
DS : Bayi rewel,
sisi pembedahan
menangis,tidak dapat tidak terjadi dengan
beristirahat dengan
kriteria :
tenang dan nyaman, bayi tidak rewel
sulit mengisap dan
dan menangis
menelan Asi.
Bayi dapat
DO : adanya garis jahitan
beristirahat
pada daerah mulut
dengan tenang
dan nyaman,
dapat menelan
Asi denagan
baik.

Rencana Keperawatan
Intervensi
Rasional
1. Beri posisi leher yang
1. Mencegah trauma pada
miring atau duduk
sisi operasi
2. Pertahankan alat
2. Melindungi garis jahitan
pelindung bibir.
dan meminimalkan resiko
Gunakan teknik
trauma.
pemberian makan
nontraumatik.
3. Gunakan paket restrain
3. Mencegahnya agr tidak
pada bayi
berulang dan menggaruk
wajahnya
4. Hindarkan menempatkan 4. Mencegah trauma pada
objek di dalam mulut
sisi operasi
setelah perbaikan kateter
mengisap. Spatel lidah
sedalam dot atau pendek
kecil.
5. Jaga agar bayi tidak
5. Menangis dapat
menangis dengan jelas
menyebabkan tegangan
dan terus menerus
pada jahitan
6. Bersihkan garis jahitan
6. Mencegah terjadinya
dengan perlahan setelah
infeksi dan inflamasi
memberi makan dan jika
yang mempengaruhi
perlu sesuai instruksi
penyembuhan
dokter
7. Ajar tentang
7. Meminimalkan terjadinya
pembersihan dan
komplikasi setelah
prosedur restrain
pulang.
khususnya bila bila bayi
akan di pulangkan

sebelum jahitan di lepas.

No
4

Diagnosa Keperawatan
gangguan rasa nyaman
nyeri b/d insisi bedah yang
di tandai dengan :
DS : Bayi rewel dan
menangis
DO : Adanya garis jahitan
pada daerah mulut

Tujuan
Setelah
mendapatkan
tindakan
keperawatan di
harapkan masalah
nyeri dapat
terkontrol dengan
kriteria :
Bayi tidak rewel
Tidak menangis
Bayi mengalami
tingkat
kenyamana yang
optimal
Bayi tampak
nyaman dan
istirahat dengan
tenang.

Rencana Keperawatan
Intervensi
Rasional
Observasi
1. Dapat menidentifikasikan
1. Kaji tanda-tanda vital,
rasa sakit akut dan
perhatikan tackikardi
ketidak nyamanan
dan peningkatan
pernapasan.
2. Kaji penyebab
2. Ketidak nyamanan
ketidaknyamanan yang
mungkin di sebabkan oleh
mungkin selain dari
adanya proses inflamasi
prosedur operasi
3. Kaji skala nyeri, catat
3. Membantu mengetahui
lokasi, intensitas nyeri
derajat ketidak nyamana
dan keefektifan analgesik
sehingga memudah dalam
Mandiri
memberi tindakan
4. Anjurkan keluarga untuk 4. Mengurangi rasa nyeri
melakukan masase
ringan
Penkes
5. Jelaskan orangtua atau
keluarga untuk terlibat
dalam perawatan bayi
6. Kolaborasi, berikan
analgesik / sedatif sesuai
instruksi.

5. Memberi rasa aman dan


nyaman
6. Analgesik menelan SSP
yang memberi respon
pada observasi nyeri

No
5

Diagnosa Keperawatan
Tujuan
Resti infeksi b/d
Setelah
terpaparnya lingkungan
mendapatkan
dan prosedur invasi yang di tindakan
tandai dengan :
keperawatan
DS : diharapkan
DO : Adanya luka operasi
masalah resti
tertutup kasa
infeksi tidak
terjadi dengan
kriteria :
- luka sembuh dan
tidak tertutup
kasa

Rencana Keperawatan
Intervensi
Rasional
Observasi
1. Kaji tanda-tanda vital.
1. Menentukan intervensi
selanjutnya.
2. Kaji tanda-tanda infeksi 2. Membantu tindakan yang
tepat
Mandiri
3. Jaga area kesterilan luka
operasi

3. Mencegah dan
mengurangi transmisi
kuman
4. Mencegah kontaminasi
patogen

4. Lakukan aseptik dan


desinfeksidalam
perawatan luka
5. Cuci tangan sebelum dan 5. Melindungi dari sumber
sesudah melakukan
infeksi, mencegah infeksi
tindakan perawatan luka.
silang
Penkes
6. Menjelaskan kepada
keluarga untuk
menciptakan lingkungan
yang bersih dan bebas
dari kontaminasi dari
luar
7. Menjelaskan kepada
keluarga untuk menjaga
kebersihan luka
Kolaborasi

6. Mengurangi kontaminasi
pasien dari agen infeksius

7. Menjaga kesterilan luka

8. Kolaborasi dengan
medis untuk pemberian
obat yang sesuai
(antibiotik )

8. Membantu mencegah
infeksi.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Labio palato schisis merupakan kongenital anamali yang
berupa adanya kelainan bentuk pada stuktur wajah. Kelainan sumbing
selain mengenai bibir juga bisa mengenai langit-langit. Berbeda pada
kelainan bibir yang terlihat secara estefik, kelainan sumbing langitlangit

lebih

berefek

kepada

fungsi

mulut

seperti

menelan,

makan,minum dan bicara. Keadaan ini menyebabkan intake minum /


makanan yang masuk menjadi kurang dan jelas berefek terhadap
pertumbuhan dan perkembangannya, selanjutnya mudah terkena
infeksi saluran nafas atas ksrena terbukanya palatum tidak ada batas
antara hidung dan mulut, bahkan infeksi bisa menyebar sampai ke
telinga.
B.

SARAN
1. Bagi perawat
Agar dapat memberi ASKEP pada klien labio palato schisis melalui
pendekatan proses keperawatan semaksimal mungkin
2. Bagi masyarakat
Agar selalu memperhatikan kesehatan diri dan lingkungan apabila
di temukan tanda dan gejala labio palati schisis, maka segera

memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat sehingga dapat di


obati segera.

DAFTAR PUSTAKA
Mansjoer Arif.2001.Kapita selekta kedokteran,edisi ketiga jilid I. Jakarta:EGC
Dongoes Marylin.1999.Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta:EGC
Midwifeipeah.blogspot.com/2009/11/labioskisiz-labiopalatoskisis-by-1.html?m=1