Anda di halaman 1dari 28

Laporan Kasus

STROKE HEMORAGIK

Oleh
Raizsa Rusmiathie Noor
I4A011024

Pembimbing
dr. lily Runtunewe, Sp.S

BAGIAN / SMF ILMU PENYAKIT SARAF


FK UNLAM RSUD PENDIDIKAN ULIN
BANJARMASIN
April, 2014

STATUS PENDERITA

I.

DATA PRIBADI
Nama

: Ny. R

Jenis Kelamin : Perempuan


Umur

: 52 tahun

Alamat

: Komp.Persada Raya Permai Jalur 22, Handil Bakti

Status

: Menikah

Suku

: Banjar

Bangsa

: Indonesia

Agama

: Islam

Pendidikan

: SD

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

MRS

: 7 April 2015

No RMK
Ruang

II.

: 1.14.64.54
:

Seruni (Saraf)

ANAMNESIS

Alloanamnesis dengan anak pasien pada tanggal 7 April 2015.


KELUHAN UTAMA
Kelemahan ekstrimitas kiri sejak 3 jam SMRS, Nyeri kepala

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG


Pasien mengeluhkan sakit kepala 3 jam SMRS tanpa diikuti pusing, diikuti
dengan muntah sebanyak 1x, muntahan berisi makanan dan minuman yang
dikonsumsi pasien. beberapa saat kemudian pasien langsung terduduk dan
mendadak merasa lemah pada ekstrimitas sebelah kiri.
Pasien langsung dibawa keluarga ke IGD RSUD Ulin, saat dalam perjalan ke
rumah sakit keluarga pasien mengaku pasien kembali muntah sebanyak 3kali,
muntah tidak menyembur. pasien sempat tidak sadar dan mengalami kejang 1x
selama diperjalanan. Kejang berlangsung selama kurang lebih 10 menit kejang
diawali dengan badan yang tampak kaku diseluruh tubuh, lalu kedua kaki pasien
bergetar dan kelojotan pasien juga dalam keadaan tidak sadar. Pasien tidak ada
mengompol saat terjadi serangan kelemahan mendadak.
Saat tiba di IGD RSUD Ulin pasien sudah sadar dan tidak lagi mengalami kejang.
Dan dapat berbicara dengan pemeriksa walau pasien mengeluh nyeri kepala.

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU


Pasien memiliki riwayat Hipertensi dari 2 tahun yang lalu,, hipertensi tidak
terkontrol, pasien biasa memeriksakan diri ke kebidan di dekat rumah apabila
sakit kepala, dan sakit di daerah leher, apabila tekanan darah pasien tinggi pasien
biasanya diberikan obat catopril 12,5 mg, tapi pasien tidak rutin meminum obat.
Pasien tidak memiliki riwayat Diabetes Mellitus.

INTOKSIKASI
Tidak ada riwayat keracunan obat, zat kimia, makanan dan minuman.
RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA
Tidak ada riwayat hipertensi, stroke, diabetes mellitus asma, dan penyakit jantung.
KEADAAN PSIKOSOSIAL
Penderita tinggal di rumah bersama suami, 3 orang anak dan 1 orang menantu.
Rumah berukuran 7 x 9 meter dengan 3 kamar. Sumber air dari keran dan kadang
dari sumur. Jarak antar rumah saling berdekatan.

III.

STATUS INTERNA SINGKAT


Tanda Vital
Tekanan Darah

: 170/100 mmHg

Nadi

: 97 kali/menit

Respirasi

: 26 kali/menit

Suhu Badan

: 36,1 o C

Gizi

: Kurang

Kepala

: konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)

Leher

: dilatasi vena (-/-), peningkatan JVP (-/-), massa (+/

+) soliter, kenyal, mobile


Toraks

: suara napas vesikuler, ronkhi (-/-), wheezing (-/-)

Jantung

: S1S2 tunggal, bising (-), thrill (-)

Abdomen

: venektasi (-), hepar/lien/massa tidak teraba, nyeri

tekan (-), BU (+) N

Ekstremitas

: akral hangat, edema


+
+

IV.

V.

, parese

+
+

STATUS PSIKIATRI SINGKAT


Kesadaran

: jernih

Mood

: Hypothym

Afek

: Hypothym

Bentuk pikiran

: Realistis

Isi pikiran

: Normal

Arus pikiran

: Koheren

Penyerapan

: baik

Kemauan

: Dbn

Psikomotor

: Hypoaktif

STATUS NEUROLOGIS
A.

KESAN UMUM:
Kesadaran

: Kompos mentis

GCS

4-5-6

Pembicaraan : Disatria

: (+)

Monoton : (-)
Scanning : (-)

Afasia

: Motorik

: (-)

Sensorik

: (-)

Global

: (-)

Kepala:
Besar

: Normal

Asimetri

: (-)

Sikap paksa

: (-)

Tortikolis

: (-)
Muka:

Mask/topeng
Miopatik

: (-)

Fullmooon
B.

: (-)

: (-)
PEMERIKSAAN KHUSUS

1.

Rangsangan Selaput Otak


Kaku tengkuk

: (-)

Kernig

: (-/-)

Laseque

: (-/-)

Bruzinski I

: (-)

Bruzinski II

: (-)

2. Saraf Otak
Kanan

Kiri

N. Olfaktorius

Hiposmia

(-)

(-)

Parosmia

(-)

(-)

Halusinasi

(-)

(-)

N. Optikus

Kanan

Kiri

Visus

menurun

menurun

Yojana Penglihatan

tidak ada

tidak ada

Funduskopi

tidak dilakukan

tidak dilakukan

N. Occulomotorius, N. Trochlearis, N. Abducens

Kedudukan bola mata

Kanan

Kiri

tengah

tengah

Pergerakan bola mata ke


Nasal

normal

normal

Temporal :

normal

normal

Atas

normal

normal

Bawah

normal

normal

Temporal bawah :

normal

normal

Eksoftalmus

(-)

(-)

Celah mata (ptosis)

(-)

(-)

Pupil
Bentuk

bulat

bulat

Lebar

3 mm

3 mm

Perbedaan lebar

isokor

isokor

Reaksi cahaya langsung

(+)

(+)

Reaksi cahaya konsensuil

(+)

(+)

Reaksi akomodasi

(+)

(+)

Reaksi konvergensi

(+)

(+)

N. Trigeminus
Kanan

Kiri

Otot maseter

normal

normal

Otot temporal

normal

normal

Otot pterygoideus int/ext

normal

normal

Cabang Motorik

Cabang Sensorik
I.

R. Oftalmicus

normal

normal

II.

R. Maxillaris

normal

normal

III.

R. Mandibularis

normal

normal

Refleks kornea langsung

normal

normal

Refleks kornea konsensual

normal

normal

Kanan

Kiri

N. Facialis

Waktu Diam
Kerutan dahi

sama tinggi

Tinggi alis

sama tinggi

Sudut mata

sama tinggi

Lipatan nasolabial

kanan lebih tinggi

Waktu Gerak
Mengerutkan dahi

sama tinggi

Menutup mata

(+)

Bersiul

tidak dilakukan

Memperlihatkan gigi

bisa

(+)

Pengecapan 2/3 depan lidah

tidak dilakukan

Sekresi air mata

tidak dilakukan

Hiperakusis

sulit dievaluasi

N. Vestibulocochlearis
Vestibuler
Vertigo: (-)
Nistagmus

: (-)

Tinnitus aureum: (-/-)


Cochlearis : tidak dilakukan

N. Glossopharyngeus dan N. Vagus


Bagian Motorik:
Suara

: normal

Menelan

: sedikit terganggu

Kedudukan arcus pharynx : sde (tak terlihat)


Kedudukan uvula

: sde (tak terlihat)

Pergerakan arcus pharynx: sde (tak terlihat)

Detak jantung

: normal

Bising usus

: normal

Bagian Sensorik :
Refleks muntah

: (+)

Refleks pallatum molle : sde


N. Accesorius
Kanan

Kiri

Mengangkat bahu

normal

tak bisa

Memalingkan kepala

normal

normal

N. Hypoglossus
Kedudukan lidah waktu istirahat

: normal

Kedudukan lidah waktu bergerak : deviasi kiri


Atrofi

: tidak ada

Kekuatan lidah menekan dalam pipi

: kurang

Fasikulasi lidah

: tidak ada

3. Sistem Motorik
Kekuatan Otot
Tubuh :

Otot perut

: normal

Otot pinggang

: normal

Kedudukan diafragma : Gerak

: normal

Istirahat

: normal

Lengan (Kanan/Kiri)
M. Deltoid

: tdl

M. Biceps

: tdl

M. Triceps

: tdl

Fleksi sendi pergelangan tangan

: 5/0

Ekstensi sendi pergelangan tangan: 5/0


Membuka jari-jari tangan

: 5/0

Menutup jari-jari tangan

: 5/0

Tungkai (Kanan/Kiri)
Fleksi artikulasio coxae

: 5/0

Ekstensi artikulatio coxae

: 5/0

Fleksi sendi lutut

: 5/0

Ekstensi sendi lutut

: 5/0

Fleksi plantar kaki

: 5/0

Ekstensi dorsal kaki

: 5/0

Gerakan jari-jari kaki

: 5/0

Besar Otot :
Atrofi

:-

Pseudohipertrofi

:-

Respons terhadap perkusi

: normal

Palpasi Otot :
Nyeri

:-

Kontraktur

:-

Konsistensi

: normal

Tonus Otot :

10

Lengan
Tungkai
Kanan

Kiri

Kanan

Kiri
Hipotoni

Spastik

Rigid

Rebound

Gerakan Involunter
Tremor :

Waktu istirahat

: (-/-)

Waktu bergerak

: (-/-)

Chorea

: (-/-)

Atetosis

: (-/-)

Balismus

: (-/-)

Torsion spasme

: (-/-)

Fasikulasi

: (-/-)

Myokimia

: (-/-)

Koordinasi :
Jari tangan jari tangan

: tdl

Jari tangan hidung

: tdl

Ibu jari kaki jari tangan

: tdl

Tumit Lutut

: tdl

Pronasi/supinasi

: tdl

11

Tapping dengan jari-jari tangan : tdl


Tapping dengan jari-jari kaki

: tdl

Gait dan station : tdl


4. Sistem Sensorik
Kanan/kiri
Rasa Eksteroseptik
Rasa

nyeri superfisial : normal /-

Rasa

suhu : tdl

Rasa

raba ringan : normal / -

Rasa Proprioseptik
Rasa

getar : tdl

Rasa

tekan : normal/ -

Rasa

nyeri tekan : normal/ -

Rasa

gerak posisi : normal/ -

Rasa Enteroseptik
Referred pain

: tdl

Rasa Kombinasi

Streognosis

: tdl

Barognosis

: tdl

Grapestesia

: tdl

Two

point tactil discrimination

Sensory
Loose

: tdl

extimination

: tdl

of Body Image

: tdl

12

Fungsi luhur

Apraxia

: tidak ada

Alexia

: tidak ada

Agraphia

: tidak ada

Fingerognosis

: tidak ada

Membedakan kanan-kiri

Acalculia

: tidak ada

: tidak ada

5. Refleks-refleks
Reflek kulit
Refleks kulit dinding perut : normal
Refleks cremaster

: tdl

Refleks gluteal

: tdl

Refleks anal

: tdl

Refleks Tendon/Periosteum (Kanan/Kiri):

Refleks Biceps

: 2+/

Refleks Triceps

: 2+/

Refleks Patella

: 2+/

Refleks Achiles

: 2+/

Refleks Patologis :
Tungkai
Babinski

: (-/-)

Oppenheim

: (+/+)

Chaddock

: (+/+)

13

Gordon

: (-/-)

Schaffer

: (+/+)

Lengan
Hoffmann-Tromner : (-/-)
Refleks Primitif :

Grasp

: tdl

Snout

: tdl

Sucking

: tdl

Palmomental

: tdl

6. Susunan Saraf Otonom

Miksi

: inkontinensi tidak ada

Defekasi

: konstipasi tidak ada

Sekresi keringat

Salivasi

Gangguan tropik

: normal

: normal
: tidak ada (kulit, rambut, kuku)

7. Columna Vertebralis
Kelainan Lokal

Skoliosis

: tidak ada

Lordosis

: tidak ada

Kifosis

Kifoskoliosis : tidak ada

Gibbus

Nyeri tekan/ketuk

: tidak ada

: tidak ada
: tidak ada

Gerakan Servikal Vertebra

14

Fleksi

: baik

Ekstensi

: tdl

Lateral deviation

Rotasi

: baik

: baik

Gerak Tubuh : tdl


8. Pemeriksaan PA
Tidak dilakukan
9. Pemeriksaan radiologik
Tengkorak

: X-ray

: tidak dilakukan

CT-scan

MRI

: tidak dilakukan

15

Cerebral Angiografi

: tidak dilakukan

Columna vertebra
Plain X Foto

Myelografi / caudografi
MRI

: tidak dilakukan
: tidak dilakukan

10. Pemeriksaan E.E.G.


11. Pemeriksaan dengan Echoencefalografi
Tidak dilakukan

16

12. Pemeriksaan Elektrodiagnostik


Tidak dilakukan
13. Pemeriksaan Tambahan Laboratorium Darah Rutin
Hemoglobin

: 11,8 g/dl

Leukosit

: 12,3 /ul

Eritrosit

: 4,35 juta/ul

Hematokrit

: 34,9 Vol%

Trombosit

: 330.000 /ul

RDW-CV

: 16,1%

MCV

: 80,4 fl

MCH

: 27,1 pg

MCHC

: 33,8%

LED

: tidak dilakukan

Hitung Jenis
Gran%

: 80.6

Limfosit

: 13.7

MID%

: 5.7

Gran#

: 9.90

Limfosit

: 1.7

MID#

: 0.7

Kimia
Gula darah :
Gula Darah Sewaktu : 157
Hati

17

SGOT : 46
SGPT : 47
Ginjal
Ureum

: 26

Creatinin : 1.1
Elektrolit
Natrium : 140.8
Kalium : 3.2
Chloride : 104.2

14. Diagnosis
Diagnosis klinis
Diagnosis etiologis

: Hemiparesis sinistra
: Pons serebri sesuai dengan vascuarisasi
a.cerebri posterior

Diagnosis topis

: Brainstem hemorrhage

15. Penatalaksanaan
IVFD RL 20 tpm
Inj. Ranitidin 2 x 50 mg
Inj. Citicolin 2 x 250 mg
Inj. Ceftriaxon 2 x 1gr amp
Inj. Antrain 3 x 1 amp
PO Amlodipin 1x 10 mg
Program Manitol

18

VI.

RESUME

A. ANAMNESIS :
parese yang muncul mendadak di ekstremitas superior dan inferior sinistra,
headache di seluruh kepala, parese paralisis ekstremitas superior dan inferior
sinistra, vomitus non proyektil 3 kali berisikan makanan dan minuman, seizure
tonik-klonik selama 10 menit, selama kejang kesadaran menurun.
B. PEMERIKSAAN FISIK
Interna
Kesadaran

: Kompos mentis

Tekanan Darah

: 170/100 mmHg

Nadi

: 97 kali/menit

Respirasi

: 26 kali/menit

Suhu Badan

: 36,1 o C

Gizi

: Kurang

Kepala

: konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)

Leher

: dilatasi vena (-/-), peningkatan JVP (-/-), massa (+/

+) soliter, kenyal, mobile


Toraks

: suara napas vesikuler, ronkhi (-/-), wheezing (-/-)

Jantung

: S1S2 tunggal, bising (-), thrill (-)

Abdomen

: venektasi (-), hepar/lien/massa tidak teraba, nyeri

tekan (-), BU (+) N

19

Ekstremitas

: akral hangat, edema


+
+

Status psikiatri

, parese

+
+

: tidak ada kelainan

Status Neurologis

Kesadaran : komposmentis (GCS 4-5-6)

Pupil isokor, diameter 3mm/3mm, refleks cahaya (+/+), gerak mata normal

Rangsang meningeal (-)

Saraf kranialis: sudut mulut kiri menurun, disartria dan disfagia ringan, bahu
kanan tidak dapat diangkat

Motorik : paralisis motorik (kekuatan 0) pada ekstremitas superior dan inferior


sinistra,

Sensorik : tidak ada kelainan

Reflek fisiologis: menurun pada ekstremitas superior et inferior sinistra

Refleks patologis: schaffner sinistra/dextra (+/+). Chaddock dextra/sinistra (+/


+), Oppenheim dextra/sinistra (+/+), gonda dextra/sinistra (+/+).

Susunan saraf otonom: tidak ada kelainan

Columna vertebralis: tidak ada kelainan

C. DIAGNOSIS
Diagnosis Klinis

: hemiparese dextra

Diagnosis Etiologis

: brainstem Hemoragik

20

Diagnosis Topis

: pons cerebri sesuai dengan vaskularisasi arteri

cerebral posterior
D. PENATALAKSANAAN
IVFD RL 20 tpm
Inj. Ranitidin 2 x 50 mg
Inj. Citicolin 2 x 250 mg
Inj. Ceftriaxon 2 x 1gr amp
Inj. Antrain 3 x 1 amp
PO Amlodipin 1x 10 mg
Program Manitol

21

VII. PEMBAHASAN
Telah dilakukan pemeriksaan pada seorang perempuan berusia 52 tahun dengan
diagnosis klinis hemiparalisis (hemiplegi) lengan dan tungkai kiri. Pada pasien ini
diagnosis dapat ditegakan berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Dari anamnesis didapatkan keluhan utama kelemahan pada lengan dan tungkai
kiri, nyeri di sekujur kepala, vomitus non-proyektil, dan kejang tonik-klonik 10
menit dengan penurunan kesadaran. Pasien memiliki riwayat hipertensi yang tak
terkendali sebelumnya.
Dari hasil pemeriksaan fisik pada pemeriksaan motorik didapatkan adanya
kelemahan total (paralisis) pada lengan dan tungkai kiri. Pada pemeriksaan refleks
fisiologis (BPR, TPR, KPR dan APR) didapatkan refleks fisiologis meningkat
pada lengan dan tungkai kiri bila dibandingkan dengan lengan dan tungkai
sebelah kanan. Pada pemeriksaan sensorik tidak didapatkan adanya kelainan.
didapatkan adanya refleks patologis ( chaddock (+/+), Schaffner (+/+), oppenheim
(+/+)) pada pasien. Pemeriksaan 12 saraf kranial didapatkan sudut mulut sebelah
kiri yang asimetris pada saat diam dan bergerak, disartria dan disfagia ringan,
serta bahu kiri yang tidak dapat diangkat. Dari pemeriksaan bisa disimpulkan
terdapat gangguan pada nervus kranialis VII sentral, N. IX-N.X, dan N. XI kiri.
Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik diatas, pada pasien ini
didapatkan defisit neurologik yang mendadak tanpa adanya trauma kepala
sebelumnya berupa kelemahan pada lengan dan tungkai kiri. Serangan ini muncul
pada saat pasien melakukan aktivitas ringan (berjalan di dalam rumah). Hal ini

22

diperkuat dengan riwayat hipertensi tak terkontrol, sehingga kemungkinan besar


pasien ini mengalami stroke hemoragik.
Stroke adalah kondisi sangat merusak yang terdiri atas berbagai patofisiologi yang
luas seperti trombosis, perdarahan, dan emboli. Diagnosis terkini dari stroke
bergantung pada pemeriksaan klinis dokter dan didukung lebih jauh lagi oleh
pemeriksaan neuroimaging. Pemeriksaan biomarker darah yang dapat digunakan
untuk mendiagnosis stroke pada fase akut, membedakan tipe stroke, atau bahkan
memprediksi serangan stroke inisial atau rekuren akan sangat membantu tugas
dokter.1
Faktor risiko ialah faktor yang menyebabkan seseorang lebih rentan/mudah
mengalami GPDO (baik iskemik ataupun hemoragik). Adapun yang termasuk
faktor risiko dari stroke yang tidak dapat diubah adalah usia tua, jenis kelamin
pria, ras, riwayat keluarga, dan riwayat stroke. Sedangkan faktor risiko dari stroke
yang dapat diubah adalah hipertensi, diabetes mellitus, merokok, alkohol,
kontrasepsi oral, hiperurisemia, dislipidemia.2,3
Dari faktor risiko diatas, maka dapat disimpulkan bahwa faktor risiko yang dapat
diubah pada pasien ini adalah usia riwayat hipertensi yang tak terkontrol. Faktor
risiko tak dapat diubah pada pasien adalah jenis kelamin pria dan usia yang sudah
tua (676 tahun).
Stroke dapat dibagi menjadi 2 kelompok besar yaitu stroke akibat perdarahan
(stroke hemoragik) dan stroke akibat infark. Keduanya memiliki gambaran klinis
yang relatif mudah untuk dibedakan namun tetap harus menggunakan
pemeriksaan neuroimaging untuk memastikan diagnosis.4,5

23

Menurut Chandra, kita dapat mendignosis terjadinya stroke perdarahan atau stroke
infark dengan melihat gejala awal dan pemeriksaan klinis:3
Tabel 1. Diagnosis banding stroke hemoragik dan non hemoragik
GEJALA

PERDARAHAN

INFARK

Sangat akut

Sub akut

Aktif

Bangun tidur

++

Nyeri kepala

++

Muntah

++

Kejang-kejang

++

Kesadaran menurun

++

+/-

+++ (dari hari 1)

Perdarahan di retina

++

Papil edema

Kaku kuduk, Kernig, Brudzinski

++

Ptosis

++

Lokasi

Subkortikal

Kortikal/subkortikal

Permulaan
Waktu serangan
Peringatan sebelumnya

Bradikardi

Berdasarkan tabel diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa pasien ini memenuhi
kriteria seperti yang ada pada tabel diatas yaitu awal terjadinya yang sangat tibatiba dan disertai dengan nyeri kepala. Pasien mendapat serangan saat sedang aktif,
muntah-muntah, dan mengalami kejang yang disertai dengan penurunan
kesadaran. Kuat dugaan pasien ini mengalami stroke hemoragik. Satu-satunya
cara yang akurat untuk dapat mendiagnosis stroke hemoragik dan non-hemoragik
adalah dengan bantuan CT Scan.6
Pengelolaan 5B pada pasien ini telah dilakukan sebagai berikut:7

24

1.

Pernapasan (breath); jalan napas harus bebas, berikan oksigen kalau perlu.
Pada kasus ini pasien diberikan oksigen, untuk membantu sirkulasi oksigen ke

otak.
2.
Darah (blood); tekanan darah dipertahankan agak tinggi (160/100 mmHg) agar
perfusi oksigen dan glukosa ke otak tetap optimal untuk menjaga metabolisme
3.

otak.
Otak (brain); berikan manitol atau kortikosteroid untuk mengurangi edema
otak, bila ada kejang segera berikan diazepam atau dilantin intravena secara
perlahan. Keluhan kejang tidak ditemukan lagi saat pasien dirawat di RSUD Ulin.
Pada pemberian manitol yang harus diperhatikan adalah tekanan darah pasien dan

4.

kadar ureum kreatinin.


Saluran kemih (bladder); pelihara keseimbangan cairan dan pasang kateter
bila ada inkontinensia uri. Pada pasien ini telah dipasang kateter saat masuk IGD

5.

RSUD Ulin.
Gastrointestinal (bowel); berikan nutrisi yang adekuat, bila perlu berikan NGT.
Pasien masih dapat makan sendiri tanpa nutrisi melalui NGT.
Terapi yang diberikan pada penderita ini adalah IVFD NaCl 2 flask/24 jam untuk
maintenance cairan yang adekuat dan produksi urin dipantau dengan kateter,
injeksi citicolin/brainact 2 x 250 mg sebagai neuroprotektor untuk sel-sel neuron
otak, injeksi Gastridin 2 x50mg 1 amp untuk mencegah timbulnya stress ulcer
karena

intake

yang

tidak

adekuat

dan

menanggulangi

efek

samping

gastrointestinal dari citicolin, injeksi Antrain 3 x 1 amp sebagai anti-nyeri dan


anti-febris, inj cefriaxone 2x1gr untuk mencegah sepsis, amlodipin oral 1x10 mg
untuk mengontrol hipertensi.
Tujuan rehabilitasi pada penderita stroke adalah:2,6

25

1.
2.
3.

Memperbaiki fungsi motorik, pembicaraan dan fungsi lain yang terganggu


Adaptasi mental sosial dari penderita stroke
Sedapat mungkin penderita harus dapat melakukan aktivitas sehari-hari

DAFTAR PUSTAKA

1.

Chandra, B. Stroke. Dalam : Neurologi Klinik. Surabaya : FK UNAIR,


1994; 28-32

26

2.

Mardjono, Marah dan Priguna Sidartha, Mekanisme Gangguan Vaskular


Susunan Saraf dalam Neurologi Klinis Dasar. Jakarta: Dian Rakyat, 1997; 268301

3.

Suryoatmojo, Bambang (Ed). Protokol Penatalaksanaan Gangguan


Peredaran Darah dalam Protokol Penatalaksanaan Penyakit Saraf. Yogyakarta:
RSU dr Soetomo; 133-149.

4.

Kelompok Studi Stroke Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia.


Guideline Stroke 2007. Edisi Revisi. Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf
Indonesia: Jakarta, 2007.

5.

Nasissi, Denise. Hemorrhagic Stroke Emedicine. Medscape, 2010.

6.

Rohkamm, Reinhard. Color Atlas of Neurology. Edisi 2. BAB 3.


Neurological Syndrome. George Thieme Verlag: German, 2003.

27