Anda di halaman 1dari 64

i

Koridor
: Kalimantan
Fokus Kegiatan : Kelapa Sawit

LAPORAN TAHUNAN
PENELITIAN PRIORITAS NASIONAL
MASTERPLAN PERCEPATAN DAN PERLUASAN
PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA 2011-2025
(PENPRINAS MP3EI 2011-2025)
FOKUS/KORIDOR: KELAPA SAWIT/KALIMANTAN

PENGEMBANGAN TEKNOLOGI FIRE EARLY WARNING


TERINTEGRASI UNTUK AGROEKOSISTEM KELAPA SAWIT
BERKELANJUTAN DI LAHAN GAMBUT

Tahun ke 1 dari rencana 2 Tahun

Nina Yulianti, SP., M.Si., Ph.D NIDN 0030068201


Dr. Betrixia Barbara, SP., M.Si., NIDN 0025018002
Eritha Kristiana Firdara, S.Hut., MP., NIDN 0030097802

UNIVERSITAS PALANGKARAYA
DESEMBER 2014

ii


HALAMAN PENGESAHAN
Judul Penelitian
Peneliti/Pelaksanan
Nama
NIDN
Jabatan Fungsional
Program Studi
Nomor Hp
Email
Anggota (1)
Nama
NIDN
Perguruan Tinggi
Anggota (2)
Nama
NIDN
Perguruan Tinggi
Institusi Mitra
Nama
Alamat
Penanggung Jawab
Tahun Pelaksanaan
Biaya Tahun Berjalan
Biaya Keselutruhan

: Pengembangan Sistem Fire Early Warning Terintegrasi


Untuk Agroekosistem Kelapa Sawit Berkelanjutan Di
Lahan Gambut
: Nina Yulianti, SP, M.Si., Ph.D
: 0030068201
: Lektor
: Agroteknologi
: 081382457344
: ninayulianti.unpar@gmail.com
: Dr. Betrixia Barbara, SP., M.Si
: 0025018002
: Universitas Palangka Raya
: Eritha Kristriana Firdara, S.Hut., MP
: 0030097802
: Universitas Palangka Raya
: Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah
: Jl. Jendral Sudirman, No. 18, Palangka Raya
: Ir. Rawing Rambang, MP
: Tahun ke 1 dari rencana 2 tahun
: Rp. 175.000.000,: - Diusulkan ke Dikti Rp.175.000.000,- Inkind Dinas Perkebunan: Data Perkebunan Kelapa Sawit dan
Peta-Peta
Palangkaraya, 20 Desember 2014

iii


DAFTAR ISI
Halaman Judul . ...............................................................................................

Halaman Pengesahan ......................................................................................

ii

Daftar Isi ......... ...............................................................................................

iii

RINGKASAN .................................................................................................

PRAKATA .......................................................................................................

vi

BAB 1. PENDAHULUAN ...........................................................................

BAB 2. STUDI PUSTAKA ...........................................................................

2.1

MODIS sensor sebagai pemantau kebakaran di lahan gambut

2.2

Manfaat pendugaan dini bencana kebakaran ..........................

2.3

Teknologi fire early warning terintegrasi ................................

BAB 3. MANFAAT PENELITIAN ................................................................

BAB 4. METODE PENELITIAN ...................................................................

4.1 Analisis MODIS hotspot dan Fire Radiative Power ...................

4.2 Analisis curah hujan .....................................................................

4.3 Identifikasi perubahan lahan dan dampak kebakaran .................

4.4 Verifikasi lapangan (check ground) .............................................

4.5 Analisis Statistik FPRI dan FCE ..................................................

10

4.6 Membangun database SIG ...........................................................

11

4.7 Screening untuk pilot project .......................................................

11

BAB 5. HASIL DAN PEMBAHASAN .........................................................

12

5.1 Historis kebakaran gambut di Kalimantan Tengah .....................

12

5.2 Trend emisi dari kebakaran ........................................................

14

5.3 Pola presipitasi di selatan Kalimantan Tengah ...........................

16

5.4 Perubahan penutup lahan (Kasus di Block C-Pulang Pisau) ......

17

5.5 Estimasi daerah terdampak kebakaran (Kasus di KalampanganPalangka Raya) ...........................................................................

18

5.6 Agroekosistem kelapa sawit di lahan gambut Kalteng ...............

19

5.7 Observasi perilaku kebakaran di lahan gambut ..........................

21

5.8 Deskripsi karakteristik gambut setelah terbakar .........................

23

5.9 Pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat terhadap kebakaran


hutan dan lahan gambut ..............................................................

25

iv


5.10 Dampak dan kerugian kebakaran ...............................................

32

5.11 Model prediksi kebakaran yang diusulkan .................................

35

BAB 6. RENCANA TAHAP SELANJUTNYA .............................................

36

BAB 7. KESIMPULAN DAN SARAN ..........................................................

37

DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................

38

LAMPIRAN-LAMPIRAN ..............................................................................

40


RINGKASAN

Kebakaran lahan gambut di Kalimantan tengah terjadi hampir setiap tahun


dengan rata-rata titik panas mencapai 15.000 atau 62% dari total kebakaran di
Kalimantan. Dampak kebakaran ini sangat merugikan bagi agroekosistem kelapa sawit
karena akan merusak lahan dan menghambat fotosistesis tanaman pada musim
kebakaran. Tentu saja ini akan menggurangi produksi agroekosistem kelapa sawit.
Teknologi early waring terhadap kebakaran sangat diperlukan sehingga penelitian ini
penting untuk dilakukan. Selama ini di Kalimantan Tengah belum ada sistem
pencegahan kebakaran untuk perkebunan kelapa sawit. Tujuan penelitian ini adalah
untuk (i) menganalisis dan memetakan resiko kebakaran pada agroekosistem kelapa
sawit di lahan gambut Kalimantan Tengah, (ii) mengevaluasi data penggunaan lahan,
kondisi cuaca, dan sifat-sifat gambut yang berhubungan dengan kebakaran, (iii)
mengembangkan sistem early warning dengan Peatland Fire Risk Index (PFRI) berbasis
teknologi dan data-data pengukuran, dan (iv) melakukan analisis Fire-related Cause and
Effect (FCE) dan studi kelayakan terhadap penerapan teknologi terintegrasi pada
agroekosistem kelapa sawit. Manfaat penelitian adalah mendapatkan teknologi
pencegahan dini kebakaran sehingga menciptakan agroekosistem kelapa sawit yang
ramah lingkungan, mengurangi pelepasan gas emisi, dan mengurangi kehilangan lapisan
gambut yang bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman.. Hasil analisis data hotspot
MODIS menunjukkan bahwa lahan gambut di Pulang Pisau merupakan daerah yang
paling parah kejadian kebakarannya dengan rerata 1,000/ tahun baik pada tahun El Nino
maupun tahun La Nina. Desa Tumbang Nusa di Pulang Pisau berkontribusi sekitar 30
kebakaran pada Juli-Nopember 2014. Tingkat kematangn gambut di lokasi tersebut
masih tergolong belum terdekomposisi lanjut (hemik) dengan ketebalan diatas 100 cm.
Pada saat musim kemarau permukaan gambut menjadi sangat kering dengan kedalaman
muka air tanah mencapai 1 m. Hal ini menyebabkan lahan gambut di Desa Tumbang
Nusa sangat rentan terbakar. Kondisi ini didukung dengan kebiasaan masyarakat untuk
membersihkan lahan dengan cara membakar. Dampak yang dialami masyarakat di
sekitar areal kebakaran diantaranya produksi pertanian menurun, kerusakan lahan, dan
gangguan kesehatan. Jadi penelitian ini, pada tahun kedua akan mengaplikasikan produk
early warning terintegrasi untuk mengurangi berbagai dampak dari kebakaran gambut
yang mahal. Teknologi tersebut juga akan mendukung pelaksanaan sertifikasi ISPO
menjadi agroekosistem kelapa sawit berkelanjutan.
Kata kunci: fire early warning, agroekosistem kelapa sawit, pertanian berkelanjutan

vi


PRAKATA

Puji syukur dipanjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, sehingga penulis bisa
menyelesaikan laporan penelitian yang berjudul Pengembangan Sistem Fire Early
Warning Terintegrasi untuk Agroekosistem Kelapa Sawit Berkelanjutan di Lahan
Gambut. Kegiatan ini dibiayai oleh Hibah Kompetitif Nasional Penelitian Prioritas
Nasional Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 20112025 (PENPRINAS MP3EI 2011-2025) dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
tahun anggaran 2014. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima
kasih kepada :
1. Ketua Lembaga Penelitian Universitas Palangka Raya (UNPAR) selaku pengelola
program penelitian,
2. Dekan Fakultas Pertanian (Faperta) UNPAR yang telah menyetujui proposal dan
mendukung pelaksanaan penelitian ini,
3. Ketua Jurusan Budidaya pertanian (BDP), teman-teman staf pengajar dan mahasiswa
Prodi Agroteknologi Jurusan BDP Faperta UNPAR yang turut membantu kegiatan
lapang dan pengambilan sampel tanah,
4. Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.
Semoga laporan akhir ini dapat menjadi bahan informasi yang bermanfaat bagi
percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi khususnya pengelolaan perkebunan
kelapa sawit berkelanjutan.
Palangka Raya,

Penulis

Desember 2014

1

BAB 1. PENDAHULUAN
Sejak kebakaran terparah pada tahun 1997/1998, Indonesia selalu menjadi objek
kebakaran setiap tahun. Rerata tahunan jumlah titik api berdasarkan data satelit
mencapai 60.000 per tahun, dimana sekitar separuh angka tersebut berada di Kalimantan
(Yulianti et al., 2012) Kondisi ini cukup berhubungan dengan semakin tingginya
aktivitas manusia di daerah tersebut. Peta resiko kebakaran di Kalimantan dan Sumatra
menunjukkan sebaran sabuk api sebagian besar terdapat pada lahan gambut di kedua
pulau (Yulianti & Hayasaka, 2013; Yulianti et al., 2013). Kebakaran yang meluas ini
memiliki banyak dampak negatif yang serius terhadap kesehatan manusia, ekonomi
daerah, dan perubahan iklim global (Limin et al., 2007; Yulianti, 2011). Bahkan
Indonesia telah diposisikan sebagai salah satu negara yang pengemisi karbon (Dewan
Nasional Perubahan Iklim, 2011) dan pengekspor polusi asap diantara negara-negara
Asia Tenggara (Heil et al., 2006).
Penerapan teknologi dalam peringatan dini untuk bencana seperti tsunami dan
gempa bumi sudah banyak dilakukan, tetapi untuk kebakaran belum banyak dilakukan.
Teknologi penginderaan jauh merupakan cara terbaik dalam menyediakan data titik api
dengan tingkat kepercayaan tinggi tapi berbiaya relatif rendah.

Sejauh ini telah

berkembang berbagai satelit sensor untuk mendeteksi kebakaran berdasarkan


temperature, yaitu ATRS (Along Track Scanning Radiometer and Microwave Sounder),
AVHRR (Advanced Very High Resolution Radiometer), MODIS (Moderate Resolution
Imaging Spectroradiometer), dan VIIRS (Visible Infrared Imaging Radiometer Suite).
Untuk mempermudah pengelolaan data dan citra satelit pada skala keruangan
(spatial) tertentu maka diperlukan bantuan sistem informasi geografi (SIG). Kemudian,
informasi tersebut dapat didistribusikan secara cepat ke petugas pemadam kebakaran
maupun pihak terkait melalui perangkat telekomunikasi elektronik contohnya telepon
genggam cerdas (smartphone). Fasilitas GPS (Global Positioning System) pada
perangkat telekomunikasi tersebut juga dapat membantu perekaman posisi kebakaran.
Jadi, pengembangan teknologi berbasis penginderaan jauh, SIG dan telekomunikasi yang
terintegrasi diharapkan akan menghasilkan fire early warning (peringatan dini
kebakaran) yang efektif.
Menurut penelitian sebelumnya terdapat indikasi bahwa kejadian kebakaran pada
tahun-tahun terakhir banyak berkaitan dengan perkebunan-perkebunan kelapa sawit
(Miettinen et al., 2011). Dilain pihak, kelapa sawit merupakan komoditi ekspor andalan

di Indonesia. Dengan terus meningkatnya luasan perkebunan kelapa sawit (8 juta hektar
pada 2011; Ministry of Agriculture Republic of Indonesia, 2012) dari tahun ke tahun
maka fungsinya secara ekologis menjadi penting. Sejalan dengan komitmen pemerintah
mewujudkan kelapa sawit lestari, penelitian ini mencoba untuk mengembangkan fire
early warning untuk proteksi bagi agroekosistem kelapa sawit dan wilayah sekitarnya.
Tujuan utama dari penelitian ini terbagi menjadi 4 bagian, sebagai berikut (i)
menganalisis dan memetakan resiko kebakaran, (ii) mengevaluasi data penggunaan
lahan, kondisi cuaca, dan sifat-sifat gambut yang berhubungan dengan kebakaran, (iii)
mengembangkan sistem early warning untuk kebakaran berbasis teknologi dan data-data
pengukuran, dan (iv) melakukan analisis cost-benefit dan studi kelayakan terhadap
penerapan teknologi terintegrasi pada agroekosistem kelapa sawit.
Penelitian ini penting untuk dilakukan karena konsep zero burning dengan sistem
pencegahan dini merupakan salah satu bagian dari kegiatan Perkebunan Sawit yang
berkelanjutan. Pada 31 Desember 2014, semua perusahaan perkebunan kelapa sawit di
Indonesia harus menerapkan standar ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil). Peraturan
Menteri Pertanian Nomor 19/Permentan/OT.140/3/2011 tanggal 29 Maret 2011 tentang
Pedoman Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan (ISPO), apabila perusahaan tidak
menerapkan ISPO maka perusahaan akan terancam tidak bisa beroperasi lagi.
Sertifikasi ISPO didasarkan kepada peraturan perundangan yang, maka ketentuan
ini merupakan mandatory atau kewajiban yang harus dilaksanakan bagi pelaku usaha
perkebunan di Indonesia. Tujuannya adalah untuk memproduksi minyak kelapa sawit
yang berwawasan lestari sesuai tuntutan masyarakat global; mendukung komitmen
Indonesia dalam pelestarian Sumber Daya Alam (SDA) dan fungsi lingkungan hidup.
Luaran yang diharapkan dari kegiatan ini adalah teknologi (proses dan produk)
tepat guna serta publikasi ilmiah baik di tingkat nasional maupun internasional.
Kontribusi bagi ilmu pengetahuan adalah pengembangan fire early warning dapat
mengatasi dampak lingkungan dari agroekosistem kelapa sawit seperti pelepasan karbon,
dan mendukung perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan.


BAB 2. STUDI PUSTAKA
2.1 MODIS sensor sebagai pemantau kebakaran di lahan gambut

Pada tahun 2002, MODIS (Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer)


sensor yang dibawa oleh Terra dan Aqua satelit mulai memonitor kondisi kebakaran
seluruh dunia. Pemantauan dilakukan pada siang hari dan malam hari untuk mendeteksi
kebakaran aktif keduanya dan dikembangkan menggunakan algoritma kontekstual
tingkat kecerahan suhu dari saluran 4m dan 11m. Metode ini memungkinkan untuk
mengamati daerah-daerah kecil mengalami pembakaran atau kebakaran bahkan pada
luasan sekitar 50m2 di bawah cuaca tenang dan konsi lahan homogen (Justice et al.,
2002; Giglio et al., 2003;. Giglio, 2010). Selanjutnya, NASA (National Aeronautics and
Space Administration) bekerja sama dengan University of Maryland dan menggunakan
dua sumber online untuk memfasilitasi pengumpulan data secara global, Rapid Response
MODIS dan Informasi Kebakaran Sistem Manajemen Sumber Daya (Davies et al.,
2003).
Sejauh ini, hanya beberapa studi telah berfokus pada penggunaan MODIS dalam
studi yang mencakup negara-negara tropis. Csiszar et al. (2005) dan Giglio et al. (2006)
menyelidiki distribusi api hanya secara global dalam awal beroperasinya MODIS
sedangkan penelitian lain menekankan kejadian kebakaran yang lebih lokal dan untuk
jangka pendek (Hoscillo et al., 2011; Langner & Siegert, 2009; Tansey et al., 2008).
Penggunaan MODIS untuk mendeteksi kebakaran gambut pada lahan gambut terbesar di
Indonesia telah dilakukan oleh beberapa peneliti (Putra et al 2011; Yulianti et al., 2013).
Dari penelitian terdahulu dapat disimpulkan bahwa data titik panas (kebakaran) dari
MODIS cukup efektif untuk mendeteksi bukan hanya kebakaran hutan tetapi juga lahan
gambut (Yulianti & Hayasaka, 2011).
2.2 Manfaat pendugaan dini bencana kebakaran
Peringatan dini (early warning) terhadap bencana termasuk kebakaran sangat
penting untuk dilakukan.

Apabila kebakaran bisa dicegah terjadi pada suatu

agroekosistem kelapa sawit, maka dampak-dampak negatifnya bisa dihilangkan. Di


negara-negara yang memiliki angka kebakaran yang tinggi telah dikembangkan berbagai
metode untuk menduga kebakaran. Berbagai data pendugaan diperoleh baik dari data
satelit maupun pengukuran di lapangan.
Sistem Canadian Forest Fire Weather Index (FWI) adalah model pendugaan
dengan enam komponen yang menjelaskan efek kelembaban bahan bakar dan angin pada

perilaku api. Sistem ini mampu menduga terjadinya kebakaran harian di Kanada
(Natural Recources Canada, 2013). Australia juga

telah memiliki metode yang

dinamakan Forest Fire Danger Index (FFDI). Indeks tersebut dapat digunakan untuk
menduga bahaya kebakaran dengan menggabungkan tingat kekeringan, berdasarkan
curah hujan dan penguapan, serta dengan variabel meteorologi untuk kecepatan angin,
suhu dan kelembaban (Dowdy et al., 2009). Sementara, Amerika Serikat telah memiliki
berbagai satelit untuk memantau kebakaran dibawah program Active Fire Mapping
(USDA Forest Service, 2013). Sistem peringatan dini bahaya kebakaran hutan di
Indonesia telah dilbuat oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika dengan
mengadopsi dari sistem di Kanada. Peta yang dihasilkan berguna untuk menduga
kejadian kebakaran sampai enam hari ke depan (BMKG, 2013).
Takahashi & Limin (2011) juga telah mengembangkan suatu indeks untuk
menduga kebakaran lapisan gambut yang disebut peat fire index (PFI; indeks kebakaran
gambut). Keuntungannya adalah dapat memperkirakan tingkat kerawanan kebakaran
gambut. Kombinasi pendugaan dengan PFI dengan hasil deteksi titik panah dari MODIS
bisa mencegah kebakaran lapisan gambut yang sangat sulit untuk dipadamkan.
2.3 Teknologi fire early warning terintegrasi
Berdasarkan studi pustaka yang telah di pelajari, sudah ada beberapa peneliti
yang mengusulkan metode menduga kebakaran pada lahan gambut (Putra et al., 2008;
Putra et al 2011; Yulianti & Hayasaka, 2013; Yulianti et al., 2013). Aplikasi metode ini
belum dilakukan untuk pemantauan kebakaran khusus di areal agroekosistem kelapa
sawit. Padahal sistem tanam yang homogen pada suatu hamparan kelapa sawit
kemungkinan lebih mudah dipantau jika dibandingkan kondisi heterogen di kawasan
hutan.
Sistem fire early warning akan mengintegrasikan informasi lahan gambut dan
cuaca (disediakan oleh sistem informasi geografi) dengan informasi satelit. Dengan
menggabungkan dua sumber informasi dengan informasi yang tersedia dalam aplikasi
seperti disediakan oleh layanan LAPAN (http://jica-jst.lapanrs.com/~knakau/), sistem ini
akan memberikan akses ke suatu kawasan, memvisualisasikan kondisi kerapatan
vegetasi, kondisi cuaca seperti curah hujan secara real time. Dengan cara ini, maka akan
mungkin untuk memantau hari demi hari, apa bagian dari kawasan tertentu memiliki
risiko terbesar dari kebakaran. Sistem ini dirancang untuk mendeteksi kebakaran pada
agroekosistem kelapa sawit dan menawarkan cara sederhana untuk mengakses juga
mendistribusi data satelit.


BAB 3. MANFAAT PENELITIAN

Manfaat penelitian adalah mendapatkan teknologi pencegahan dini kebakaran


sehingga menciptakan agroekosistem kelapa sawit yang ramah lingkungan, mengurangi
pelepasan gas emisi, dan mengurangi kehilangan lapisan gambut yang bermanfaat bagi
pertumbuhan tanaman.
Manfaat kedua dari hasil penelitian ini diharapkan ke depannya adalah semakin
mudah untuk mengatasi bencana kebakaran dengan biaya rendah karena menggunakan
produk early warning terintegrasi dapat mengurangi biaya pemadaman kebakaran
gambut yang mahal. Dimana manfaatnya tidak hanya untuk pemilik perkebunan kelapa
sawit saja tetapi juga untuk semua masyarakat di Kalimantan Tengah bahkan Asia
Tenggara yang selalu mengalami dampak polusi udara tahunan. Selanjutnya diharapkan
semakin banyak muncul sektor pertanian dan kehutanan yang bersertifikat lestari
(sustainable) baru yang menerapkan sistem produksi ramah lingkungan yang bernilai
pangsa pasar tinggi selain agroekosistem kelapa sawit, misalnya perkebunan karet dan
Acacia cassicava.
Manfaat lain adalah meningkatkan citra perkebunan kelapa sawit di Indonesia
agar diakui di tingkat dunia sebagai perkebunan yang berwawasan lingkungan, karena
beberapa tahun ini Amerika Serikat dan Uni Eropa sempat menolak produk minyak
sawit dari Indonesia yang dinilai dalam mengelola perkebunan kelapa sawit di Indonesia
tidak ramah lingkungan terutama pada lahan gambut.


BAB 4. METODE PENELITIAN
4.1 Analisis MODIS hotspot dan Fire Radiative Power

Data MODIS hotspot harian (Collection 5.1 active fire product) antara 2002
sampai 2014 yang digunakan dalam penelitian ini. Tingkat kepercayaan (confidency)
yang digunakan adalah mulai dari 70% Baru-baru ini, data tersebut telah diekstraksi
secara otomatis melalui website FIRMS (Fire Information for Resources Management
System, https://earthdata.nasa.gov/data/near-real-time-data/firms). Untuk mengetahui
trend dan pola kebakaran di level provinsi dilakukan analisis dengan metode kalkulasi
berdasarkan wilayah administrasi di Kalimantan Tengah dengan bantuan software
ArcGIS.
Dalam penelitian ini, ukuran sel yang digunakan dalam analisis, semua lintang
dan bujur memanfaatkan sebagai dasar untuk grid digunakan untuk mengidentifikasi
lokasi tertentu di Kalimantan Tengah (calon areal percontohan tahun kedua). Ukuran sel
dengan panjang sisi 0,1 derajat digunakan. untuk mempermudah, panjang sisi sel
didasarkan pada garis lintang dan bujur, yang berarti bahwa daerah sel berbeda,
tergantung pada garis lintang . Sebagian besar analisis menggunakan ukuran sel grid 0,1
dalam bujur dan lintang untuk mengevaluasi kepadatan hotspot dan distribusi api di
Kalimantan. Hotspot yang dihitung tergantung pada bujur dan lintang. Sebuah
pengukuran kepadatan hotspot dari " hotspot / cell " diperkenalkan untuk perbandingan
sederhana.
Fire Radiative Power (FRP) juga dapat menjelaskan perilaku kebakaran tidak
hanya di wilayah studi tetapi perbandingan untuk Kalimantan. FRP adalah tingkat emisi
energi dari pembakaran api (Kaufman et al., 1998). Data tersebut memiliti satuan
Megawatt (MW) diperoleh dari nilai daya yang tersimpan dalam tingkat 2 (dua) produk
api dikalikan dengan daerah pixel (Giglio, 2010). Hasil pada penelitian ini diperoleh
dengan menggunakan grid 1 derakjat lintang dan bujur, metode yang dengan penelitian
kami sebelumnya (Yulianti et al, 2012). Lahan gambut di bagian selatan Kalimantan
(southern Kalimantan) terdiri dari 11 sel (7 sel dari selatan Kalimantan Tengah dan 3 sel
dari selatan Kalimantan Barat, dan 1 sel dari Kalimantan Selatan). Ada satu wilayah
khusus bernama MRP* (areal eks Proyek Lahan Gambut), yang terletak di 2.5o-3.5o LS
dan 113.5o-114.5o BT. Daerah lain memiliki 55 sel (16 sel Kalimantan Barat, 27 sel
Kalimantan Timur, dan 12 sel lain Tengah & Selatan yang lain) dari empat provinsi di
Kalimantan.


4.2 Analisis curah hujan

Data curah hujan untuk Kalimantan Tengah diekstraksi dari data cuaca penuh
diukur pada Bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya (koordinat 2.23 LS, 113.95 BT), yang
berjarak sekitar 100 km dari garis pantai terdekat. Rerata curah hujan dari 35 tahun
1978-2012 digunakan untuk memastikan masa musim kemarau. Data 11 tahun terakhir
rata-rata data curah hujan, 2002-2012, yang digunakan untuk menunjukkan tren curah
hujan baru-baru ini dan hubungan mereka dengan kejadian api kewenangan Indonesia
Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Badan (BMKG).
Data curah hujan harian diolah untuk menentukan data curah hujan harian ratarata untuk periode tertentu dan data curah hujan akumulasi. Dalam tulisan ini, periode
10-hari digunakan untuk mengevaluasi rata-rata harian curah hujan dan hari nomor (DN
untuk singkatannya) digunakan sebagai tanggal akumulasi curah hujan. Pengolahan data
ini diterapkan untuk metode smoothing data.. Selain itu, data akumulasi curah hujan
untuk setiap 10 hari dikonversi menjadi curah hujan harian (mm / hari) untuk
mementukan musim kering dan hujan.
4.3 Identifikasi perubahan lahan dan dampak kebakaran
a. Klasifikasi penutup lahan dari citra LANDSAT
Tahap pertama dari klasifikasi citra satelit adalah georeferensi dengan titik-titik
acuan tetap di peta rupa bumi. Selanjutnya, citra Landsat TM tahun 2013 dengan tujuh
buah informasi band dapat diklasifikasi untuk mengidentifikasi lingkupan hutan atau tata
guna lahan. Metode yang dipergunakan adalah klasifikasi terbimbing (Supervised
Classification).
b. Deliniasi bekas terbakar dari citra MODIS
Dalam studi ini, MODIS Terra resolusi 250 m band 7-2-1 dari tahun 2009-2013
digunakan. Semua gambar diperoleh dari FIRMS bagian Borneo-South East
menggunakan

Rapid

Response

System

dari

situs

NASA

(http://earthdata.nasa.gov/data/). Untuk perhitungan luasnya wilayah yang terbakar,


penelitian ini mengklasifikasikan gambar dengan menggunakan algoritma clustering
tidak terbimbing ISODATA dalam perangkat lunak ArcGIS.
c. Pengkelasan agroekosistem kelapa sawit di lahan gambut
Data pertama adalah peta agroekosistem kelapa sawit diperoleh dari peta konsesi
kelapa sawit di Kalimantan oleh WWF (2006). Data kedua adalah peta konsesi kelapa

sawit di Kalimantan Tengah adalah dari mitra Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan
Tengah (2014). Metode ini mengikuti tipe/jenis pengusahaan dari agroekosistem kelapa
sawit yang telah ditetap oleh Kementrian Pertanian Indonesia. Pada tahap pengkelasan
dilakukan comparasi antara kedua peta untuk menemukan tipe pengusahaan konsesi
dilahan gambut Kalimantan Tengah. Semua tahapan tersebut menggunakan perangkat
lunak ArcGIS.
4.4 Verifikasi lapangan (check ground)
a. Pre-survey awal
Hasil penilaian evaluasi lahan baik berupa data tabular maupun peta kesesuaian
lahan masing-masing tipe penutup lahan perlu diverifikasi dan validasi di lapangan.
Untuk membantu kegiatan ini maka digunakan metode survey plot dengan bantuan GPS.
Daerah yang terpilih adalah Kabupaten Kapuas, Pulang Pisau, Katingan, Kotawaringin
Timur dan Kota Palangka Raya, dimana terkenal sebagai sentra perkebunan kelapa sawit
di Kalimantan Tengah.
Pola api gambut permukaan ditangkap oleh kamera inframerah thermal imaging
(Therma ditembak F30, Nippon avionik Co, Ltd, Jepang). Sebagai perbandingan, suhu di
pinggiran membara diperiksa menggunakan Thermo Recorder TR-81 (TashikaBoeki
Shokai KK, Jepang). Lokasi Pengukuran adalah daerah Pulang Pisau bagian selatan,
yang terletak di lokasi kanal antara Sungai Kahayan dan Barito.
b. Survey (Kuisioner Sikap, Pengetahuan dan Tindakan)
Survei pendahuluan dengan melakukan peninjauan atau pengecekan daerah yang
rawan kebakaran di Kalimantan Tengah. Tujuannya adalah untuk memperoleh gambaran
menyeluruh tentang kondisi lapang berupa identifikasi masalah atau kendala-kendala
setempat, pengumpulan data primer dan sekunder dari masyarakat sekitar perkebunan
kelapa sawit rakyat dan perusahaan di lahan gambut.
Survey dilakukan pada 4 (empat) Kabupaten di Kalimantan Tengah yaitu
Kapuas, Pulang Pisau, Katingan dan Kotawaringin Timur. Masing-masing Kabupaten
diambil satu buah desa sebagai tempat dilakukannya survey. Pemilihan desa tersebut
adalah berdasarkan pertimbangan bahwa keempat desa merupakan daerah yang paling
terdampak ketika kebakaran hutan dan lahan terjadi di Kalimantan Tengah. Adapun
rincian lokasi survey secara lengkap tersaji pada Tabel 1.


Tabel 1. Lokasi Survey untuk kuisioner Knowledge, Attitude, and Practice (KAP)
No
1
2
3
4

Kabupaten
Kapuas
Pulang Pisau
Katingan
Kotawaringin Timur

Kecamatan
Dadahup
Jabiren Jaya
Kahayan Hilir
Mentaya Hilir

Desa
Dadahup
Tumbang Nusa
Luwuk Kanan
Samuda Besar

Data dikumpulkan dengan dua (2) metode, yaitu: kuisioner KAP dan Focus
Group Discussion (FGD). Kuesioner berisikan pilihan ataupun isian atas jawaban dari
pertanyaan terkait dengan pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat di lokasi survey.
Pemilihan responden sebagai unit contoh dilakukan dengan metode acak sederhana.
Jumlah responden dalam survey adalah sebesar 77 responden. Responden tiap desa
berjumlah antara 17 sampai dengan 21 responden. Sedangkan FGD dilakukan dengan
mengumpulkan informasi dari tokoh-tokoh masyarakat dan informan kunci terkait
dengan kebakaran lahan dan hutan di lokasi survey.
Hasil survey ditabulasi dalam bentuk persentase. Selanjutnya, tabulasi data
tersebut dianalisis secara deskriptif untuk mempresentasikan pengetahuan, sikap dan
perilaku masyarakat terhadap kebakaran hutan dan lahan Gambut keluarga di
Kalimantan Tengah. Analisis data juga dilakukan terhadap karakteristik umum
responden.
c. Sampling
Pengambilan contoh tanah gambut tidak terganggu dengan

meratakan dan

membersihkan lapisan atas tanah yang akan di ambil, kemudian meletakkan ring sampel
dengan posisi tegak pada lapisan tanah, mengganggi tanah di sekeliling ring sampel
dengan skop (cangkul atau pisau lapang), menggiris tanah dengan pisau sampai hampir
mendekati ring sampel, selanjutnya menekan ring sampel sampai bagiannya masuk
kedalam tanah, meletakkan ring sampel lain yang tepat di atas ring sampel yang pertama,
kemudian tekan sampai bagian bawah dari ring sampel kedua masuk kedalam tanah ( 1
cm), ring sampel beserta tanah di dalamnya digali dengan skop atau cangkul,
memisahkan kedua ring sampel dengan perlahan dan potong kelebihan tanah yang ada
pada bagian atas dan bawah tabung sampai rata sekali kemudian menutup ring sampel
dengan penutup dan diberi label untuk uji lanjutan.

10

Pengambilan contoh tanah gambut terganggu dengan membersihkan lapisan atas


tanah yang akan diambil, kemudian meletakkan mata bor di permukaan tanah dan
memutar pegangan bor perlahan-lahan kearah kanan dengan tekanan sampai seluruh
kepala bor terbenam. Kepala bor perlahan dikeluarkan dari tubuh tanah dengan memutar
pegangan bor tanah kearah kiri dengan disertai tarikan, contoh tanah yang terbawa
kepala bor dilepaskan perlahan sampai bersih dan diusahakan tidak banyak merusak
susunan tanah. Pengeboran dilanjutkan pada setiap ketebalan tanah 20 cm sampai
kedalaman tertentu, contoh tanah hasil pengeboran pada setiap ketebalan 20 cm
diletakkan tersusun menurut kedalaman asilinya, sehingga akan diperoleh gambaran
profil tanah
Untuk mengetahui kematangan tanah gambut di lapang, hasil sampling tanah
kemudian dilakukan pengukuran terdiri dari kematangan gambut yang di ukur dengan
metode suntik atau metode peras, selain dua metode tersebut, cara lain untuk mendukung
penggolongan tingkat kematangan gambut dapat memperhatikan warna tanah yang
dapat di lihat dan atau dengan membandingkan menggunakan buku Munsell Soil Color
Chart. Selanjutnya untuk mengetahui pola ketebalan dalam menentukan keragaman
kematangan tanah gambut dapat di ukur dengan membuat sketsa profil ketebalan gambut
secara vertikal dan horizontal.
Adapun parameter lainnyan yang diamati lansung di lokasi penelitian di Desa
Dadahup, Tumbang Nusa, Palangka Raya, Luwuk Kanan, Samuda Besar dan Baamang
Hulu, sebagai berikut:
1. Muka air tanah dengan menggunakan pipa paralon dan water logger
2. Kelembaban tanah
3. Suhu tanah
d. Analisis sifat fisik dan kimia gambut
Analisis tanah di Laboratorium dilaksanakan untuk mengetahui nilai beberapa
parameter yang digunakan dalam penelitian terdiri dari sifat fisik dan kimia tanah
gambut. Analisis tanah yang digunakan menggunakan metode sebagai berikut:
1.

Bobot isi tanah gambut dan kadar air diukur dengan metode gravimetri
(Blakermore. et.al. 1987)

2.

Tingkat dekomposisi gambut dengan kadar serat dan warna

3.

Kondisi pH tanah dengan menggunakan pH meter (H2O)

4.

N-total menggunakan metode Kjeldahl

11


5.

P-tersedia menggunakan metode Bray I

6.

C-total menggunakan metode tanur

4.5 Analisis statistik PFRI dan FCE


a. Peatland Fire Risk Index (PFRI)
Peta resiko kebakaran Masa Depan untuk Kalimantan Tengah dibuat mirip
dengan Yulianti dan Hayasaka (2013) dengan data tambahan dari curah hujan, muka air
tanah, tutupan lahan dan kondisi gambut. Hubungan mingguan antara kebakaran dan
faktor-faktor yang mempengaruhinya akan ditampilkan dalam persamaan seperti:
FPRIn = P wn.Gwn.Epo.Pi
Dimana, FPRI adalah Peatland Fire Risk Index (Indeks Risiko Kebakaran Lahan
Gambut)
Pwn adalah 10-hari presipitasi
Gwn adalah 10-hari muka air tanah
Epo adalah evapotranspirasi konstanta di musim panas Musim Kemarau (SD)
Pi adalah indeks properti gambut di SD
Selanjutnya, PFRI diusulkan sebagai peringatan dini dasar terutama untuk agroekosistem
kelapa sawit. Persamaan tersebut mengakomodasi faktor anomali iklim dan faktor biofisik yang lebih terukur untuk memprediksi bencana kebakaran di masa depan.
b. Statistik non-parametrik untuk Fire-related Cause and Effect (FCE)
Untuk mengetahui penyebab dan dampak kebakaran (Fire-related Cause and
Effect) di lahan gambut terhadap masyarakat di daerah-daerah rawan kebakaran
diperlukan analisis statistik non-parametrik. Uji statistik nonparametrik ialah suatu uji
statistik yang tidak memerlukan adanya asumsi-asumsi mengenai sebaran data populasi.
Uji statistik ini disebut juga sebagai statistik bebas sebaran (distribution free). Statistik
nonparametrik tidak mensyaratkanbentuk sebaran parameter populasi berdistribusi
normal. Statistik nonparametrik dapat digunakan untuk menganalisis data yang berskala
nominal atau ordinal karena pada umumnya data berjenis nominal dan ordinal tidak
menyebar normal. Dari segi jumla data, pada umumnya statistik nonparametrik
digunakan untuk data berjumlah kecil (n <30). Hasil persamaan FCE yang telah diuji
dengan korelasi Spearman dan uji Chi-square diharapkan mampu menjadi solusi untuk
pencegahan kebakaran dini berdasarkan faktor-faktor non biofisik dan iklim.

12


4.6 Membangun database SIG

Pengolahan database dalam bentuk spatial (peta) dan non-spatial (data grafik)
dari dengan menggunakan beberapa bantuan software ArcGIS vers. 10.2. Produk akhir
yang diharapkan adalah peta resiko kebakaran di lahan gambut dengan berbasis Peatland
Fire Risk Index (PFRI). Prototype dari sistem Fire Early Warning (pencegahan dini)
terintegrasi khusus untuk wilayah yang rawan kebakaran akan ditampilkan secara online
melalui website sehingga bisa diakses melalui PC dan smartphone (Gambar 1).

Gambar 1. Konsep peringatan dini masa depan untuk minyak sawit


4.7 Screening untuk pilot project
Pemilihan daerah atau perusahaan kelapa sawit yang akan dijadikan tempat untuk
aplikasi didasarkan oleh hasil-hasil peta dan verifikasi yang dilakukan. Berikut ini
beberapa kriteria yang digunakan untuk penilaian yaitu memiliki tingkat kebakaran
tinggi, berada pada lahan gambut yang tebal, tanaman sudah berproduksi, belum
memiliki teknologi early warning untuk kebakaran. Metode survey yang digunakan
adalah dengan aerial survey menggunakan pesawat capung dari MAP.

13


BAB 5. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Historis kebakaran gambut di Kalimantan Tengah


Dalam Tabel 2, kebakaran lahan gambut rata-rata menunjukkan di El Nino dan
La Nina (definisi NOAA). Kejadian kebakaran terparah di lahan gambut selama (>
1.000 hotspot) yang diamati di Kabupaten Kapuas dan Pulang Pisau Kabupaten di
bawah kondisi kering yang timbul dari peristiwa El Nio dengan ONI (indeks
Samudera Nio) nilai dalam NDJ (November, Desember, Januari) lebih besar dari 0,5.
Ada hubungan yang kuat antara kegiatan kebakaran dan kurangnya akumulasi curah
hujan pada bulan Juli, Agustus dan September (seperti dijelaskan pada Gambar 7).
Urutan ketiga dari kebakaran terparah di lahan gambut terjadi di Kabupaten
Kotawaringin Timur. Hal ini terbukti bahwa sebagian besar kebakaran terkait dengan
aktivitas pertanian, dan ini konsisten dengan Kabupaten Kotawaringin Timur berada di
rumah untuk budidaya paling produktif kelapa sawit di Kalimantan Tengah (440.000
ha, Tabel 2).
Tabel 2. Kebakaran (hotspots) di Kalimantan Tengah dari 2002 sampai 2013
Luas (.103ha)
No

Kabupaten
Gambuta

Barito
Selatan

2
3

Non
Gambut

228.00

883.00

Barito Timur

39.00

Barito Utara

0.30

Gunung Mas

5
6

Kelapa
Sawitb

Rerata Kebakaran
(hotspots) in Lahan
Gambut
Tahun
Tahun
El Nino c La Nina d

Rerata Densiti
Kebakaran
(hotspots/yr.10-3ha)
Tahun
Tahun
El Nino La Nina

15.00

406.25

65.75

1.78

0.29

383.00

7.50

46.25

12.25

1.19

0.31

830.00

20.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

1,080.00

7.50

0.00

0.00

0.00

0.00

Kapuas

439.00

1,499.00

34.00

1,239.25

133.25

2.82

0.30

536.00

1,780.00

54.00

495.00

18.25

0.92

0.03

282.00

1,076.00

167.00

327.75

44.00

1.16

0.16

Katingan
Kotawaringin
Barat
Kotawaringin
Timur

342.00

1,650.00

440.00

651.25

88.00

1.90

0.26

Lamandau

0.70

641.00

53.00

0.25

0.00

0.36

0.00

10

Murung Raya

0.00

2,370.00

0.04

0.00

0.00

0.00

0.00

11

Palangkaraya

118.00

240.00

0.20

272.00

30.25

2.31

0.26

12

Pulang Pisau

640.00

900.00

12.00

1,900.00

414.25

2.97

0.65

13

Seruyan

325.00

1,640.00

241.00

611.50

45.00

1.88

0.14

14

Sukamara

104.00

383.00

51.00

296.75

27.75

2.85

0.27

Total
3,054.00 15,355.00 1,102.24 6,246.25
878.75
b
Note: a Wetlands, 2004
BPS Kalteng, 2011
c
Oceanic Nino Index > 0.5 dOceanic Nino Index < 0.5 (NOAA, 2013)

20.15

2.66

14

Pola kebakaran pada lahan gambut dan non gambut di 4 (empat) kabupaten yang
sangat rawan kebakaran dapat dilihat pada Gambar 2. Rerata kebakaran di lahan
gambut lebih tinggi dibandingankan dengan kebakaran di lahan non gambut terjadi di
Kabupaten Pulang Pisau (mencapai 1,000/tahun) dan Kapuas (mencapai 500/tahun).
Kedua daerah ini merupakan daerah eks PLG di Kalimantan Tengah. Luasan lahan
gambut di Pulang Pisa merupakan lahan yang terluas di Kalimantan Tengah,
berkontribusi sekitar 21% dari total lahan gambut Kalteng. Kondisi hutan rawa gambut
yang telah mengalami penggundulan dan pembuatan kanal-kanal drainase membuat
lahan gambut di daerah tersebut tidak mampu menahan air sehingga muka air tanah
menurun mencapai > 50 cm pada saat kemarau (Putra dan Hayasaka, 2011). Akibatnya,
lapisan gambut mengalami kekeringan dan rentan terhadap kebakaran bawah tanah.

Gambar 2. Kejadian kebakaran pada lahan gambut dan non gambut di Kabupaten
Pulang Pisau, Kapuas, Kotawaringin Timur dan Katingan
Untuk analisis menggunakan 0,1 derajat, eks PLG Blok C, salah satu bagian dari
Kabupaten Pulang Pisau dipilih sebagai hasil contoh (Gambar 3). Berdasarkan analisis
awal dan sekunder, penelitian ini ingin menekankan kegiatankebakaran di bagian
daerah yang paling rawan api di Indonesia dan Kalimantan. Daerah ini berada di bawah
satu musim kering atau pola Sd. Di sini, kita bisa melihat perbedaan pusat kebakaran
pada tahun kebakaran parah pada tahun 2002, 2006, dan 2009 itu menunjukkan gerakan
dari yang paling selatan dari blok C menuju ke arah barat laut blok C. Penelitian ini
menggunakan citra Landsat untuk memverifikasi perubahan hutan dan vegetasi dalam
beberapa tahun terakhir 2001 sampai 2011 seperti pada Gambar 8.

15

Gambar 3. Distribusi Kebakaran di Blok C eks PLG pada tahun


2002, 2006, dan 2009 oleh grid 0.1o
5.2 Trend emisi dari kebakaran
Total Fire Radiative Power (FRP) di Kalimantan adalah 1.152.577+ 876,512MW
(mean+1SD). Dalam dua tahun dengan insiden tertinggi api, 2006 dan 2002, daerah
lahan gambut Kalimantan bagian selatan dirilis sekitar 1,4 juta dan 1,2 juta MW FRP,
masing-masing seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4 kiri. Kontribusi mereka adalah
sekitar 63% pada tahun 2006 dan 54% pada tahun 2002 dari total energi yang dilepaskan
dari seluruh Kalimantan di setiap tahun. Untuk tahun 2009 dan 2004 kebakaran parah,
total FRP di Kalimantan Selatan Lahan Gambut adalah sedikit lebih rendah dari daerah
lain; hanya sekitar 822.000 MW dan 683.000 MW. Setiap kali mengingat jumlah sel,
kilometer rata-rata FRP per persegi mencapai 6,1 MW untuk tahun 2009 dan 5 MW
untuk 2004 Sebaliknya, daerah lain memiliki nilai jauh lebih rendah, sekitar 1,3 MW/
km2 untuk tahun 2009 dan 1,2 MW/km2 untuk 2004 ini nilai yang diperoleh dengan
membagi total FRP dengan total luas grid dalam km2. Sebuah ukuran sel satu derajat
tunggal mewakili sekitar 12,300 km2.
Emisi oleh kebakaran dalam Gambar 4 kiri dipancarkan tidak hanya dari
kebakaran gambut itu sendiri tetapi juga dari kebakaran vegetasi. Total nilai FRP
berguna untuk melihat baik emisi jumlah pembakaran (Ichoku & Kaufman, 2005;.
Vermote et al, 2009) atau konsumsi bahan bakar (Wooster et al, 2005; Schroeder et al,
2010.). Kondisi ini menggambarkan bahwa Kalimantan bagian selatan (termasuk
Kalimantan Tengah) adalah sumber terbesar dari emisi gas termasuk karbon dioksida
(CO2) dan juga telah kehilangan banyak cadangan biomassa.

16

Gambar 4. Emisi dari kebakaran


Untuk mengevaluasi aktif terbakar per sel, FRP rata-rata akan diperkenalkan
pada Gambar 4 kanan. Rata-rata tertinggi FRP 2002-2011 adalah 1.044 MW / (hotspot
sel.) Di Kalimantan Timu, berkontribusi terhadap sekitar 35% dari total rata-rata FRP
seluruh Kalimantan. Diikuti oleh Kalimantan Barat dan Selatan dengan 882 dan 463
MW / (sel hotspot.). Di eks PLG, energi rata-rata yang dipancarkan sekitar 39 MW / (sel
hotspot.). Sisanya sekitar 570 MW / (sel hotspot.) Didistribusikan di daerah lain. Radiasi
energi api yang terkait dengan tingkat di mana bahan bakar yang dikonsumsi dan asap
yang dihasilkan. Peta pelepasan emisi dengan FRP data secara global ditunjukkan dalam
Website MACC (Pemantauan Komposisi Atmosfer dan Iklim, http: //www.gmesatmosphere.eu/) seperti pada Gambar 5.

Gambar 5. Peta rerata densiti FRP secara global


5.3 Pola curah hujan di Kalimantan Tengah
Gambar 6 menunjukkan curah hujan rata-rata harian dari dua periode yang
berbeda diplot dengan garis-garis yang solid tebal dan tipis. Garis tebal dengan putaran
mark padat menunjukkan perubahan musiman setiap hari hujan rata-rata pada beberapa
tahun terakhir dari tahun 2002 sampai tahun 2011. Harian hujan rata-rata untuk interval
10-tahun terakhir 2002-2011 adalah 7,88 mm / hari, dan untuk api parah tahun (2002,

17

2004, 2006, dan 2009) adalah 6.64 mm / hari. Garis tipis menunjukkan variasi musiman
setiap hari hujan rata-rata untuk periode 34-tahun dari tahun 1978 sampai 2011. Selama
34-tahun hari hujan rata-rata adalah 8 mm / hari. Sebuah nilai yang lebih kecil dalam
curah hujan rata-rata harian untuk interval 10-tahun terakhir menunjukkan kondisi
pengering dalam beberapa tahun terakhir. Sebuah curah hujan rata-rata harian dari
5 mm/hari digunakan sebagai nilai ambang untuk menentukan musim sangat kering di
Palangkaraya. Dengan nilai ambang ini, periode kekeringan di Palangka Raya
didefinisikan sebagai 3 bulan dari awal Juli sampai akhir September (JAS), dengan
menggunakan kurva merapikan untuk rerata data 10-tahun, seperti yang ditunjukkan
pada Gambar 6. Namun, ada sekitar satu setengah kalinya bulan perbedaan waktu antara
nilai terendah presipitasi di DN = 230 dan di permukaan air terendah bawah tanah di DN
= 275 (Yulianti dan Hayasaka, 2013). Dalam beberapa tahun kebakaran parah, rata-rata
terendah harian curah hujan adalah 0 mm/hari dari bulan Agustus sampai September.
Trend ini yang menyebabkan kekeringan pada lahan gambut di Kalimantan
Tengah.Korelasi yang cukup kuat (R2 > 50%) antara curah hujan selama JAS dengan
kejadian kebakaran tahunan terlihat pada Gambar 7.

Gambar 6. Pola harian curah hujan rata-rata menggunakan data 10-tahun dan 34-tahun
dari Palangkaraya, Kalimantan Tengah

18

Gambar 7. Korelasi Akumulasi curah hujan dengan kebakaran (hotspot)


di Kalimantan Tengah
5.4 Perubahan penutup lahan (Kasus di Block C-Pulang Pisau)
Selama 2002-2012, api tahunan di Pulang Pisau memiliki variasi yang
signifikan (~1.500 hotspot) antara El Nino dan La Nina (Tabel 1). Gambar 7
menunjukkan api pada tahun 2006 adalah api yang paling parah di kabupaten ini. Itu
adalah sebagian besar karena kebakaran kejadian di blok C dari MRP (~ 50% dari total
luas Pulang Pisau) seperti yang ditampilkan di Gambar 8 Untuk memperjelas salah satu
efek samping dari api, kita membandingkan hasil dari perubahan tutupan lahan dari citra
Landsat ETM + dan hotspot dari MODIS.

Gambar 8. (a) Hutan, vegetasi, deforestasi, dan devegetasi daerah di eks PLG Blok C
Kabupaten Pulang Pisau (2001-2001); (b) distribusi Hotspot pada tahun 2006

19

Gambar diatas menunjukkan daerah terbesar deforestasi (warna merah,


Gambar 8a) memiliki sesuai dengan api padat pada tahun 2006 (kotak biru dan
sekitarnya, Gambar 8b). Ada juga bukti yang menunjukkan bahwa daerah dengan
mengalami deforestasi didorong kebakaran pada tahun 2006 masih merupakan rawa
gambut campuran yang tersisa pada tahun 2005 seperti yang ditunjukkan pada Hoscillo.,
et al (2011).
5.5 Estimasi daerah terdampak kebakaran (Kasus di Kalampangan-Palangka
Raya)
Gambar 9 dan Tabel 2 menyajikan hasil areal yang terbakar dan daerah-hotspot
yang terkena dampak di lokasi penelitian blok C eks PLG utara. Untuk menekankan
batas kawasan yang terbakar, kami melakukan pengolahan gambar standar satelit untuk
kedua Terra MODIS 250 m band resolusi 7-2-1 DN 261 (pre-puncak api) dan DN 290
(pasca-puncak api). Metode dapat ini membawa masalah over exposure bagi daerah
dibakar atau gambut telanjang di dekat daerah vegetasi dan badan air seperti yang
ditunjukkan dalam merah muda merah Gambar 9. Dalam pra-puncak gambar api, total
areal yang terbakar adalah 34,65% dari studi yang disurvei, yang memiliki 206 hotspot
kejadian. Sejalan dengan peningkatan hotspot lebih dari 300 pada DN 290, area yang
terbakar memanjang sekitar 37 km2. Satu kebakaran yang aktif dapat menduduki daerah
0.75km2. Hal ini hanya 75% dari ukuran pixel hotspot tunggal yang menunjukkan ada
yang mungkin tumpang tindih hotspot dalam satu km2.

Gambar 9. Contoh kawasan yang terbakar band citra MODIS Terra 7-2-1 pasca diproses
daerah yang terkena dampak (merah muda merah) dan garis hotspot (garis
kuning) untuk tahun 2009 di Blok C eks PLG bagian utara

20

Hasil dari daerah yang terbakar berbasis MODIS dibandingkan dengan daerahhotspot yang terkena dampak dapat dilihat pada Gambar 9. Daerah perhitungan
diperoleh dari batas-batas hotspot, dengan asumsi bahwa titik-titik hotspot diposisikan di
tengah area hotspot. Luas area hotspot yang terkena dampak adalah 5,22% lebih kecil
dari total luas yang terbakar pasca-puncak api (DN 290) seperti pada Tabel 3. Ini berarti
satu hotspot dibakar tentang 0.4km2, hampir setengah lebih kecil dari areal yang
terbakar. Masalah yang sama ini telah melihat oleh beberapa penelitian sebelumnya baik
di daerah yang berbeda atau sama (Siegert et al, 2004;. Silvia et al, 2005;. Miettinen et
al, 2007.). Banyak kebakaran permukaan dan gambut skala kecil api terdeteksi di
wilayah barat karena daerah itu adalah daerah perkotaan dan lahan pertanian. Beberapa
kebakaran akan mudah menyebar, tetapi juga tidak berkelanjutan (sesaat), menunjukkan
terjadi pembakaran cukup terkontrol atau terpola.
Tabel 3. MODIS daerah yang terbakar dan daerah-hotspot yang terkena dampak untuk
tahun 2009 kebakaran parah di blok C utara

Water body

Image DN 261
(206 hotspots)
70.85 (11.92%)

Total area (km2)


Image DN 290
(323 hotspots)
59.38 (9.99%)

Hotspot-affected
(534 hotspots)
-

Vegetation/trees

317.49 (53.42%)

291.34 (49.02%)

Burnt area/bare peat

205.94 (34.65%)

243.56 (40.98%)

212.55 (35.76%)

Land category

5.6 Agroekosistem kelapa sawit di lahan gambut Kalimantan Tengah


Untuk melihat sebaran agroekosistem kelapasawit di Kalimantan Tengah,
penelitian ini melakukan tumpang tindih peta konsensi kelapa sawit dengan peta sebaran
gambut. Hasilnya menunjukkan bahwa terdapat puluhan agroekosistem yang berada di
lahan gambut (Gambar 10). Pasca dikeluarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor
19/Permentan/OT.140/3/2011 tanggal 29 Maret 2011 tentang Pedoman Perkebunan
Kelapa Sawit Berkelanjutan (ISPO), maka Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan
tengah melakukan kegiatan clear and clean. Namun, perkebunan kelapa sawit masih
tertemukan di lahan gambut berdasarkan peta resmi dari Dinas Perkebunan (2014).
Dengan bantuan lingkaran merah pada peta bisa dilihat bahwa areal agroekosistem
kelapa sawit di lahan gambut terdapat pada kabupaten Pulang Pisau, Kapuas,
Kotawaringin timur, dan Katingan (Gambar 11). Hal ini juga jelas bahwa sebagian besar
kebakaran parah adalah pada keeempat kabupaten (Gambar 2) cenderung berkaitan

21

dengan aktivitas pertanian, dan ini konsisten dengan daerah ini terdapat kegiatan
agroekosistemkelapa sawit yang paling produktif.

Gambar 10. Areal kelapa sawit dan lahan gambut tahun 2006

Gambar 11. Areal kelapa sawit dan lahan gambut tahun 2014
5.7 Observasi perilaku kebakaran lahan gambut
Pengamatan dilakukan pada bulan Agustus - September 2014 di sepanjang jalan
Trans Kalimantan. Di mata telanjang, tidak ada api terlihat (api) dan hanya melepaskan
asap. Sebaliknya, kamera termal ditangkap (Therma Ditembak F30) pada Gambar. 12
menunjukkan aktivitas pembakaran (suhu bervariasi). Pengamatan pada Gambar 12

22

menunjukkan suhu di pusat pembakaran hanya sekitar 350oC. Hal ini karena aktivitas
kebakaran di daerah ini telah berusaha untuk dipadamkan oleh petugas pemadam
kebakaran dengan injeksi air. Sebagai bukti, pinggiran suhu membara diperiksa
menggunakan Thermo Perekam TR-81 menunjukkan kisaran 25-30oC. Kondisi
menunjukkan basah tapi masih membara hidup selama beberapa minggu kemudian.

Gambar 12. Gambar infra red (IR) kondisi kebakaran gambut di Desa Tumbang Nusa
(atas). Gambar yang diambil oleh kamera biasa (kiri) dan kamera termal (kanan).

Gambar 13. Profil vertikal kebakaran gambut


Pengamatan perubahan suhu di lapisan gambut yang telah dilakukan selama
periode kebakaran pada tahun 2014 peristiwa kebakaran. Dalam studi ini, IR-gambar
dari kebakaran gambut 0-50 cm diklasifikasikan menggunakan beberapa kategori untuk
menunjukkan variasi temperatur lapisan gambut seperti ditunjukkan pada Gambar 13.
Dari ekstrim tinggi untuk suhu tinggi terjadi terutama di kedalaman melebihi 20 cm di
bawah tanah. Di sisi lain, suhu rendah terjadi di tanah permukaan. Ini adalah salah satu
alasan mengapa kebakaran gambut sangat sulit untuk dideteksi oleh mata telanjang. Di

23

beberapa daerah, kami sulit untuk menemukan asap dan panas radiasi di permukaan
sebagai tanda api gambut, terutama setelah hujan atau air injeksi oleh pemadam
kebakaran. Hanya saja beberapa hari kemudian ditempat yang sama akan muncul
kebakaran gambut kembali. Ini menunjukkan lapisan gambut di bawah masih potensial
untuk proses pembakaran tidak komplit (tanpa oksigen).
5.8

Deskripsi karakteristik gambut setelah terbakar


Lokasi survey dan sampling ini terletak di lahan gambut bekas terbakar pada

tahun 2014 yang berada pada 6 (enam) lokasi berbeda yaitu Desa Dadahup, Desa
Tumbang Nusa, Desa Luwuk Kanan, Desa Samuda Besar, Desa Baamang Hulu dan
Palangka Raya. Dari keseluruhan lokasi survey dan sampling, ada 3 (tiga) lokasi yang
berada di agroekosistem kelapa sawit rakyat (lihat Lampiran). Sedangkan, 2 (dua) lokasi
terletak di Desa Dadahup dan Tumbang Nusa masih berdekatan dengan agroekosistem
kelapa sawit besar, yaitu PT. Globalindo Agro Lestari, PT.Dian Agro Mandiri dan PT.
Handil Hambie (lihat Lampiran). Satu lokasi lainnya di Samuda besar digunakan untuk
perkebunan kelapa dan sawah
Kematangan gambut dari keenam lokasi tersebut adalah cukup beragam dari
saprik (lanjut) sampai fibrik (muda). Kebergaman kematangan gambut di 5 (lima) lokasi
cenderung secara vertikal, dimana bagian permukaan memiliki kematangan saprik
karena lahan tersebut telah mengalami pengolahan yang intensif untuk pertanian,
drainase dan kejadian kebakaran yang berulang sehingga mempercepat proses
dekomposisi. Material gambut Saprik tersebut didominasi bahan gambut yang sudah
melapuk dan memiliki tekstur mirip tanah mineral serta memiliki warna dari very dark
grey sampai black (Andriesse, 1988). Sementara itu kematangan pada lokasi di Desa
Tumbang Nusa sangat beragam baik vertikal maupun horizontal disebabkan lahan ini
masih memiliki tutupan lahan hutan belukar dan sebagian baru dibuka untuk pertanian
sehingga belum mengalami dekomposisi lanjut (hemik; 10Y 3/1). Warna hitam yang
mendominasi pada semua lokasi penelitian adalah akibat adanya sisa-sia arang dari
kebakaran yang terjadi pada tahun September - Oktober 2014. Karakteristik fisik dan
kimia gambut pada lokasi penelitian secara jelas disajikan pada Tabel 4.
Muka air di lahan gambut berkisar antara 50 sampai 100 cm dibawah permukaan
tanah. Namun, kadar air pada lokasi penelitian tergolong masih tinggi, dimana rata-rata
memiliki berkisar antara 100-200 %. Kadar air tertinggi terdapat pada Desa Tumbang
Nusa yaitu mencapai 400% meskipun sampel diambil pada saat musim kering. Hal ini

24


berhubungan dengan kondisi gambut yang cukup lembab di lokasi tersebut.

Ini

merupakan fenomena yang cukup menarik karena pada lokasi tersebut terjadi kebakaran
yang cukup parah. Sementara itu, berdasarkan pengamatan pada lokasi di Palangka Raya
dan Dadahup cenderung telah terjadinya kondisi kering tak balik (irreversible drying).
Ciri-cirinya adalah ditemukan banyak pasir semu (pseudosand) yang akan mengambang
jika dimasukkan ke air. Kondisi ini sebagai akibat dari menurunnya gugus karboksilat
(COOH) dan OFH-fenolat sehingga gambut pada 0-20 cm menjadi sangat kering (Azri,
1999, Yulianti et al, 2010).
Tabel 4. Karakteristik gambut pada lokasi penelitian
Lokasi

Dadahup
**

Tumbang
Nusa**

Palangka
Raya*

Luwuk Baamang
Kanan*
Hulu*

Samuda
Besar***

Sifat fisik
Tingkat
Kematangan
(0-50 cm)
Warna
Muka air (cm)
Kadar Air (%)
Bobot Isi
(g/cc)
Ketebalan
gambut (cm)
Kelembaban
(0-40 cm)
Kelembaban
(>40 cm)
Suhu (oC)
pH H2O
C-organik (%)
N total
C/N rasio
P tersedia

Saprik

Hemik

Saprik

Saprik

Dark
Brown
(7.5YR
3/2)
> 50
70-100

Dark
Reddish
Brown
(10R 3/1)
>100
300-400

Reddish
Black
(7.5R
1.7/1)
>75
100-200

0.34-0.42

0.14-0.18

0.19-0.27

Reddish
Black
(7.5R
1.7/1)
>100
250-270
0.190.21

>50

>100

>80

Kering

Lembab

Lembab
28-29
3.6-4
60.99
1.02
59.79
42.6

Saprik

Saprik

>100
150-250

Very
Dark
(2.5 YR
2/2)
>50
150-200

0.19-0.27

0.25-0.26

>70

>50

>50

Kering

Kering

Kering

Kering

Basah

Kering

Basah

Lembab

Lembab

****

****

29

****

****

2.9-3.1
61.00
1.02
59.80
45.5

3.2-3.3
50.96
0.66
77.21
20.90

3.3-3.4
54.34
0.52
104.5
25.00

3-3.1
63.19
1.57
40.25
47.9

Sifat kimia
3-3.1
55.82
1.40
39.87
46.0

* Agroekosistem kelapa sawit


**Hutan belukar yang berdekatan dengan agroekosistem kelapa sawit
***Penggunaan lain
****Alat mengalami kerusakan

Black
(10 YR
2/1)

25

Berdasarkan hasil analisis diperoleh bobot isi gambut pada lokasi penelitian yang
berkisar antara 0.19 - 0.42 g/cc untuk tingkat kematangan saprik dan 0.14-0.18 g/cc
untuk tingkat kematangan hemik. Bobot isi pada gambut saprik tersebut sedikit lebih
tinggi dibandingkan dengan hasil penelitian sebelumnya (<0.2 g/cc) di agroekosistem
kelapa sawit di Sumatra Utara (Yulianti, 2009). Kondisi ini menunjukkan bahwa lapisan
gambut lebih didominasi oleh kandungan air yang sangat tinggi (lebih dari 2 kali
volume). Jika gambut terus mengalami kekeringan dan terbakar terutama pada lokasi
yang memiliki gambut hemik maka dekomposisi akan semakin cepat terjadi.
Ketebalan gambut yang ditunjukkan pada Tabel 4 rata-rata berkisar antara 50 cm
sampai lebih dari 100 cm. Gambut di Dadahup, Baamang Hulu dan Samuda Besar dapat
digolongkan sebagai gambut dangkal sampai sedang. Lapisan bawahnya berupa endapan
alluvial dengan bahan mineral berwarna abu-abu dan kekuningan. Sedangkan Palangka
Raya, Tumbang Nusa dan Luwuk Kanan memiliki gambut sedang sampai dalam dengan
lapisan bawahnya berupa hamparan pasir kuarsa.
Sementara pH H2O tidak menunjukkan keragaman baik pada gambut hemik
maupun gambut saprik. Nilai pH tersebut tergolong sangat masam diduga akibat dari
dekomposisi bahan gambut yang menghasilkan asam-asam organik. Terdapat indikasi
bahwa semakin turun muka air maka akan semakin masam gambutnya (Yulianti dan
Damanik, 2006). Untuk sifat kimia gambut lainnya ditampilkan pada Tabel 4.
5.9

Pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat terhadap kebakaran hutan dan


lahan gambut
Pada subbab ini akan dilihat bagaimana pengetahuan (Knowledge) responden

terhadap kebakaran hutan dan lahan yang akan di bagi menjadi empat (4) bagian yaitu:
1) pengetahuan tentang lahan gambut yang sangat mudah terbakar, 2) pengetahuan
tentang dampak asap kebakaran hutan dan lahan, 3) pengetahuan tentang larangan
pembakaran hutan dan lahan, dan 4) pengetahuan tentang keberadaan Tim Serbu Api
(TSA).
Lahan gambut sangat mudah terbakar
Responden mengetahui dengan baik bahwa lahan gambut sangat mudah terbakar
ketika musim kemarau. Seluruh responden di tiga (3) desa menyatakan bahwa lahan
gambut sangat mudah terbakar. Di Desa Dadahup masih ada responden yang menjawab
tidak mudah terbakar, tetapi persentasenya sangat kecil, yaitu hanya sebesar 6%. Seperti
yang ditunjukkan pada Tabel 4

26


Tabel 5. Pengetahuan responden tentang mudahnya lahan gambut terbakar (%)
Desa
Dadahup
Tumbang Nusa
Luwuk Kanan
Samuda Besar

Ya
94
100
100
100

Tidak
6
0
0
0

Total
100
100
100
100

Dampak kebakaran hutan dan lahan gambut


Pengetahuan responden sangat baik terkait dengan dampak asap kebakaran
hutan/lahan terhadap kesehatan. Seluruh responden di tiga (3) desa mengetahui dengan
baik bahwa asap kebakaran hutan dan lahan berdampak buruk terhadap kesehatan. Masih
ditemukan responden di Desa Samuda Besar yang menganggap bahwa asap tersebut
tidak berdampak terhadap kesehatan, tetapi jumlahnya sangat kecil, yaitu hanya sebesar
6%. Gambaran pengetahuan responden tentang dampak kebakaran hutan dan lahan
terhadap kesehatan dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Pengetahuan Responden
kesehatan (%)
Desa
Dadahup
Tumbang Nusa
Luwuk Kanan
Samuda Besar

tentang dampak kebakaran hutan dan lahan terhadap


Ya
100
100
100
94

Tidak
0
0
0
6

Total
100
100
100
100

Menurut responden, penyakit yang paling banyak diderita akibat asap kebaran
hutan/lahan adalah batuk dan mata perih. Responden yang menjawab batuk dan mata
perih adalah 100% di seluruh desa yang di survey. Sakit batuk dan mata perih memang
sangat umum diderita oleh masyarakat di daerah terdampak asap tersebut. Hal ini juga
dibuktikan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa angka penderita
gangguan pernapasan meningkat saat musim kebakaran (Yulianti, 2011).
Selanjutnya, responden merasa bahwa sesak nafas juga menjadi masalah ketika
asap terjadi. Responden yang merasa kabut asap menyebabkan sesak nafas bervariasi
disetiap daerah survey yaitu dengan persentase antara 48%-83%. Pengetahuan responden
terkait penyakit yang ditimbulkan oleh asap kebakaran hutan dan lahan dapat dilihat
pada Tabel 7.

27

Tabel 7. Pengetahuan Responden Tentang Penyakit yang ditimbulkan oleh asap


kebakaran hutan dan lahan (%)
Desa
Batuk
Mata Perih
Sesak Nafas
Dadahup
100
100
59
Tumbang Nusa
100
100
52
Luwuk Kanan
100
100
48
Samuda Besar
100
100
83
Larangan pembakaran hutan dan lahan
Pemerintah Kalimantan Tengah telah berupa untuk mencegah kebakaran hutan
dan lahan yang terjadi hampir disetiap musim kemarau. Berbagai usaha dilakukan
termasuk membuat berbagai larangan baik dalam bentuk Perda, spanduk, himbauan, dan
lainnya.
Berdasarkan hasil survey diketahui bahwa diseluruh daerah survey telah ada
larangan membakar lahan. Responden yang mengetahui bahwa ada larangan membakar
lahan sangat tinggi, yaitu lebih dari 80% untuk seluruh daerah. Gambaran adanya
larangan membakar lahan dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Pengetahuan Responden Tentang adanya larangan membakar lahan (%)
Desa
Ya
Tidak Ada
Tidak Tahu
Total
Dadahup
88
12
0
100
Tumbang Nusa
100
0
0
100
Luwuk Kanan
100
0
0
100
Samuda Besar
89
6
6
100
Larangan membersihkan lahan dengan cara dibakar tersebut disosialisasikan
dalam bentuk spanduk, himbauan tertulis dan himbauan langsung ke masyarakat.
Menurut responden, Gubernur dan Bupati memberikan sosialisasi dalam bentuk spanduk
dan memberikan himbauan kepada apartur di bawahnya seperti Camat, Kepala Desa, dan
Ketua RT. Sedangkan himbauan secara langsung sampai ke masyarakat disampaikan
secara langsung oleh Kepala Desa dan Ketua RT. Himbauan secara langsung pun
disampaikan oleh aparat kepolisian, Dinas Kehutanan dan BNBP (Badan Nasional
Penanggulangan

Bencana).

Pengetahuan

Responden

tentang

membersihkan lahan dengan cara dibakar dapat dilihat pada Tabel 9.

media

larangan

28


Tabel 9. Pengetahuan responden
bakar
Siapa Yang Melarang
Gubernur
Bupati
Camat
Kepala Desa
Ketua RT
Polisi
Dinas Kehutanan
BNBP

tentang larangan membersihkan lahan dengan cara di


Media Larangan
Spanduk dan himbauan ke aparatur di Bawahnya
Spanduk dan himbauan ke aparatur di Bawahnya
Himbauan ke aparatur di Bawahnya
Himbauan langsung ke masyarakat
Himbauan langsung ke masyarakat
Himbauan langsung ke masyarakat
Himbauan langsung ke masyarakat
Himbauan langsung ke masyarakat

Selanjutnya sosialisasi kebijakan pemerintah Kalimantan Tengah tentang


larangan membakar lahan dan dampak asap kebakaran tersebut sangat minim dilakukan.
Responden yang mengetahui bahwa ada sosialisasi kebijakan tentang larangan
membakar lahan hanya ada di desa Luwuk Kanan dan Samuda Besar, itupun dengan
persentase yang kecil yaitu di bawah 50%. Sedangkan tak satupun responden yang
mengetahui adanya sosialisasi dampak kebakaran lahan dan hutan di daerah survey.
Tabel 10. Pengetahuan responden tentang adanya sosialisasi kebijakan larangan
membakar lahan dan dampak kebakaran hutan dan lahan (%)
kebijakan pemerintah
Kalimantan Tengah ttg
Dampak
larangan membakar lahan
Desa
Tidak Tidak
Tidak
Tidak
Ada Ada
Tahu
Total Ada
Ada
Tahu
Total
Dadahup
0
100
0
100
0
100
0
100
Tumbang
Nusa
0
0
100
100
0
100
0
100
Luwuk Kanan 43
0
57
100
0
100
0
100
Samuda Besar 22
22
56
100
0
100
0
100
Gambaran tentang sosialisasi kebijakan pemerintah Kalimantan Tengah tersebut
dapat dilihat pada Tabel 10. Rendahnya sosialiasi kebijakan pemerintah Kalimantan
Tengah tentang larangan membakar lahan ini memiliki dampak yang kurang baik dalam
hal efektifitas tersebut dalam mengurangi kebakaran lahan. Umumnya responden hanya
mengetahui bahwa membersihkan lahan dengan cara dibakar akan ditegur dan ditangkap
pihak keamanan. Masyarakat tidak mengetahui bahwa ada peraturan yang kuat dan jelas
yang melarang aktivitas membersihkan lahan dengan cara dibakar.
Selanjutnya, rendahnya sosialisasi tentang dampak kebakaran dan lahan akan
mengurangi kesadaran masyarakat akan dampak negatif dari asap yang ditimbulkan dari

29

kebakaran tersebut. Kebakaran hutan dan lahan sangat merugikan masyarakat baik
secara kesehatan, ekonomi dan sosial. Sosialisasi dampak kebakaran hutan dan lahan
akan menyadarkan masyarakat bahwa kerugian kebakaran lahan dan hutan lebih besar
dibandingkan keuntungan yang diperoleh dari membersihkan dan membiarkan lahan
terbakar.
Kondisi diatas mencerminkan masih kurangnya usaha serius dari pemerintah
daerah untuk menangani masalah kebakaran hutan dan lahan gambut baik di tingkat
Kabupaten maupun Provinsi. Padahal Kalimantan Tengah telah memiliki Peraturan
Gubernur Kalimantan Tengah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Pedoman Pembukaan
Lahan dan Pekarangan Bagi Masyarakat. Pada Pasal 1 dijelaskan bahwa diperlukan
berbagai perijinan dalam pembukaan lahan dan pejabat bersangkutan harus
memperhatikan data hotspot (titik panas) dan indeks kebakaran serta indeks kemarau.
Bahkan harus pembakaran harus dibatasi jika Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU)
sampai tingkat berbahaya. Pencemaran udara pada saat kebakaran dari tahun 20022012 sudah menyebabkan polusi udara tahunan baik di daerah desa maupun ibukota
propovinsi, Palangka Raya (Hayasaka et al, 2014).
Keberadaan Tim Serbu Api (TSA)
Keberadaan TSA sangat penting di daerah bergambut yang rawan terbakar.
Adanya TSA akan mempercepat pemadaman api, karena gambut yang terbakar akan
cepat merembet ke daerah sekitarnya.
Tabel 11. Pengetahaun Responden Tentang Keberadaan TSA (%)
Desa
Dadahup
Tumbang Nusa
Luwuk Kanan
Samuda Besar

Ada
0
100
33
0

Tidak Ada
100
0
0
0

Tidak Tahu
0
0
67
100

Total
100
100
100
100

Hasil survey menunjukan bahwa pengetahuan responden di Desa Tumbang Nusa


sangat baik terhadap keberadaan TSA. Hal ini bisa dimaklumi karena daerah Tumbang
Nusa merupakan salah satu desa terparan yang mengalami kebakaran hutan dan lahan.
Selain itu desa ini berada di pinggir jalan lintas propinsi yang sangat mudah terpantau
kebakaran hutan dan lahannya. Karena mudah terpantau menyebabkan segala bantuan
(salah satunya TSA) menjadi prioritas pemerintah setempat.

30

Kondisi di daerah Tumbang Nusa berbeda dengan desa lainnya. Tampak bahwa
sebagian besar responden yang berada di desa lainnya menjawab bahhwa TSA tidak ada
di desa mereka dan sebagian lainnya mengatakan tidak mengetahui apakah desa mereka
memiliki TSA.
Hasil FGD menguatkan hasil survey ini, karena menurut hasil FGD hanya Desa
Tumbang Nusa saja yang memiliki TSA yang cukup aktif, itupun jumlahnya hanya 1
grup. Menurut warga, TSA tersebut sangat kurang jumlahnya ketika musim kebakaran
hutan dan lahan terjadi. Hasil pantauan langsung menunjukan bahwa luasan desa yang
terbakar sangat banyak dan hampir merusak fasilitas umum seperti kantor desa,
jembatan dan bangunan sekolah. Menurut warga, kondisi tersebut sangat umum terjadi
ketika kebakaran hutan dan lahan mulai terjadi di daerah tersebut.
Selanjutnya hasil FGD menunjukan bahwa Desa Dadahup dan Samuda Besar
tidak memiliki TSA. Sedangkan di Luwuk kanan TSA ada tetapi tidak aktif. Hasil FGD
juga menujukan bahwa warga di ketiga desa ini sangat menginginkan adanya TSA di
desa mereka agar cepat menangani kebakaran lahan dan hutan sebelum mengenai lahan
mereka dan fasilitas umum.
Sikap (attitude) responden adalah potensi perilaku/tindakan yang mungkin terjadi
jika terjadi stimulus. Jadi, sikap responden bukan merupakan tindakan yang sudah
terjadi, tetapi kemungkinan tindakan yang akan dilakukan oleh responden ketika
dihadapkan pada situasi tertentu.

Gambar 14. Sikap Responden Terkait Dengan Membersihkan Lahan Dengan Cara Di
Bakar Atau Tidak

31

Ketika responden dihadapkan pada pilihan apakah akan membersihkan lahannya

dengan cara di bakar, maka diketahui bahwa sebagian besar responden di Desa Luwuk
Kanan dan Samuda Besar akan memilih untuk membersihkan lahannya dengan cara di
bakar. Sedangkan di Desa Dadahup dan Tumbang Nusa, responden yang menjawab akan
membakar lahannya hanya sebesar 24% dan 19%.
Tingginya sikap responden yang memilih membersihkan lahannya dengan cara di
bakar karena menurut mereka cara tersebut paling cepat, hemat, mudah dan praktis untuk
membersihkan sisa tebatasan dan batang-batang kayu.
Selanjutnya, responden yang bersikap memilih tidak memberihkan lahannya
dengan cara di bakar adalah karena takut terkena sanksi (ditangkap polisi) dan takut
apinya merembet tidak terkendali. Selanjutnya, menurut mereka, membersihkan lahan
bisa dengan cara lain, antara lain dengan cara di semprot racun. Gambaran tentang
alasan responden bersikap memilih membersihkan lahannya dengan dibakar atau tidak
dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12. Alasan responden
Alasan menjawab ya
Cepat bersih
Hemat biaya
Mudah dan praktis
Karena banyak kayu
Membakar sisa tebasan
rumput dan semak agar
tidak tumbuh

Alasan menjawab tidak


Ada larangan dan takut kena sanksi
Takut api mernjalar dan tidak terkendali
Bisa dibersihkan dengan cara lain
(contoh: penyemprotan herbisida)

Tingkah laku (practice) adalah tindakan yang sudah dilakukan oleh responden.
Jadi, tingkah laku merupakan sikap yang telah terealisasikan. Hasil survey menunjukan
bahwa sikap responden tidak konsisten dengan tingkah laku yang terjadi. Kenyataanya,
lebih banyak responden yang berperilaku membersihkan lahannya dengan cara di bakar
di bandingkan sikapnya. Responden yang berperilaku membersihkan lahan dengan cara
dibakar sangat tinggi terjadi 3 desa (Tumbang Nusa, Luwuk Kanan, dan Samuda Besar),
yaitu di atas 70%. Sedangkan di Desa Dadahup hanya ditemukan 24% responden
dengan tingkah laku yang sama. Meskipun persentasenya sangat kecil, tetapi kondisi ini
sangat berbahaya. Hal ini disebabkan karena sekecil apapun sumber api akan menjadi
pemicu potensial kebakaran yang besar di lahan gambut.

32

Gambar 15. Tingkah laku responden terkait dengan membersihkan lahan dengan cara di
bakar atau tidak
Gambar 15 menunjukkan bahwa kesadaran dann kepedulian masyarakat sangat
rendah terkait kebakaran hutan dan lahan akibat membersihkan lahan mereka. Sekitar
70% dari responden di Desa Tumbang Nusa, Luwuk Kanan dan Samuda Besar
mengakui bahwa mereka akan memilih cara pembakaran.

Sebaliknya, fenomena

menarik terjadi pada Desa Dadahup dimana mayoritas responden memilih untuk tidak
melakukan tindakan pembakaran lahan gambut. Ini mungkin terkait dengan dampak
positif dari kegiatan Kalimantan Forests and Climate Partnership (KFCP) yang baru
berakhir tahun 2013 yang lalu. Kegiatan ini selain fokus pada reforestasi juga melakukan
edukasi tentang pentingnya rehabilitasi lahan gambut (Rosenberg dan Wilkinson, 2013).
5.10 Dampak dan kerugian kebakaran
Pada Juli sampai Nopember 2014, Kalimantan Tengah mengalami bencana
kebakaran hutan dan lahan yang cukup parah (lihat Lampiran). Area yang berada pada
lahan gambut memiliki titik kebakaran (hotspot) yang signifikan dibandingkan daerah
non lahan gambut lainnya. Pada periode tersebut lokasi penelitian ini memiliki titik
kebakaran (hotspot) mencapai 48 di Luwuk Kanan, 30 di Tumbang Nusa, dan 16 di
Samuda Besar. Kejadian kebakaran di Luwuk Kanan adalah sekitar 0,03% dari total
kebakaran di Katingan (1,327 kejadian). Kejadian kebakaran di Tumbang Nusa adalah
sekitar 0,02% dari total kebakaran di Pulang Pisau (1,426 kejadian).

Kejadian

kebakaran di Samuda Besar adalah sekitar 0,01 % dari total kebakaran di Kotawaringin
Timur (1,372 kejadian). Hal yang menarik terjadi di Desa Dadahup tidak terdeteksi titik
kebakaran tetapi di desa tetangga yaitu area transmigrasi UPT Dadahup G3 terdeteksi 50

33

titik kebakaran (sekitar 0,04% dari total kebakaran di Kapuas). Kondisi kebakaran tahun
2014 dapat dilihat pada Gambar 16.

Gambar 16. Kebakaran di Kalimantan Tengah tahun 2014


Untuk mengetahui lebih jelas dampak dan kerugian akibat terjadinya kebakaran
maka dilaksanakan kegiatan FGD pada Desa Dadahup, Tumbang Nusa, Luwuk kanan
dan Samuda Besar. Sebagian besar responden di lokasi penelitian adalah petani
(58.44%). Selain itu, buruh (18.18%), pedagang (7.79%), nelayan (7.79%), serabutan
(5.19%), dan PNS (2.60%). Kondisi pekerjaan utama responden dapat dilihat pada
Gambar 17. Hal ini memiliki korelasi cukup kuat dengan rendahnya pendidikan
penduduk desa. Lulusan dari pendidikan dasar (SD-SMP) sekitar 60% dan lulusan
pendidikan menengah sekitam 30%. Kurang dari 10% warga desa di lokasi penelotian
yang pernah mengenyam pendidikan tinggi, dimana mayoritas adalah perangkat desa
(Kepala Desa, Sekretaris Desa dan perangkat lainnya).

Gambar 17. Persentase pekerjaan responden

34

Khusus terhadap responden yang bekerja sebagai petani dikategorikan


berdasarkan jenis tanaman yang ditanam. Hasilnya diketahui bahwa sebagian besar
petani responden cenderung menanam karet yaitu sebesar 47%. Pekerjaan ini merupakan
pekerjaan turun-temurun untuk masyarakat lokal di Kalimantan Tengah. Tanaman lain
yang cukup banyak ditanam adalah padi, yaitu sekitar 24%. Sedangkan yang menanam
kelapa, kelapa sawit dan rotan masih sangat kecil yaitu dibawah 10%. Petani kelapa
sawit merupakan target dari penelitian ini karena jenis tanaman ini sedang menjadi
primadona meskipun mayoritas agroekosistem kelapa sawit cenderung dimiliki
perusahaan besar. Gambaran jenis tanaman yang ditanam dapat dilihat pada Gambar 18.

Gambar 18. Petani reponden berdasarkan jenis tanaman


Tabel 13 menunjukkan secara deskriptif tentang dampak dan kerugian akibat
kebakaran yang terjadi pada tahun 2014 di lokasi penelitian. Beberapa jenis pekerjaan
mayoritas pada daerah tersebut diambil sebagai sampel untuk melihat jenis dampak.
Petani merupakan pekerjaan utama masyarakat di 4 (empat) desa yang menjadi lokasi
penelitian (Gambar 17). Menurut hasil FGD, dampak akibat kebakaran pada petani
karet adalah menurunnya produktivitas getah yang diproduksi sekitar 50% dari total
rerata produksi. Jika produksi normal perbatang karet lokal adalah 4 kg/hari dan puncak
kebakaran terjadi selama 2 (dua) bulan maka total estimasi biaya kerugian mencapai
50.000 rupiah (2 kg/hari x 60 hari x Rp 5.000/kg). Sedangkan, dampak yang banyak
dialami oleh petani kelapa sawit terutama di Desa Luwuk Kanan adalah kebakaran
kebun yang baru ditanami. Kondisi ini menyebabakan petani harus menanam kembali
kebun dengan bibit baru. Kerugian yang terjadi diestimasi sekitar 1,5 juta rupiah jika
jumlah bibit baru yang ditanam adalah 500 batang (belum ditambah upah buruh tanam).

35

Tabel 13. Dampak dan kerugian akibat kebakaran berdasarkan pekerjaan mayoritas
Jenis dan
Periode kerugian
persentase
Estimasi biaya
Saat
Setelah
Dampak
pekerjaan
kerugian (Rp)*
kebakaran kebakaran
responden
Petani (+32%)

Produktivitas getah
5.000/kg
Karet
menurun

Pembibitan ulang
3.000/bibit
Kelapa
setelah kebun
Sawit
terbakar

Buruh (+18%)
Pengobatan infeksi
500.000/kunjungan
saluran pernapasan
dokter THT
atas (ISPA)

Nelayan (+8%)
Tangkapan ikan
25.000/kg
berkurang

Pedagang (+8%)
Peningkatan harga
500/item**
barang modal
*Data berdasarkan harga/biaya yang berlaku di Kalteng
**Sembako

5.11 Model prediksi kebakaran yang diusulkan


Dari hasil analisis hotspot, pengukuran curah hujan dan sifat gambut, maka
diusulkan bentuk baru dari pendugaan kebakaran yang akan diterapkan pada tahun
kedua. Model ini merupakan penyempurnaan dari Peat Fire Index yang dibuat oleh
Takahashi dan Limin (2011). Peatland Fire Risk Index merupakan integrasi berbagai
data untuk menduga berapa besar kerawanan kebakaran pada areal lahan gambut. Model
ini akan didukung oleh model Fire Cause and Effect yang diperoleh dari data kuisionel
perilaku, sikap dan tindakan masyarakat. Data-data yang ada disimpan pada pusat data
yang berlokasi di Prodi Agroteknologi Fakultas Pertanian, Universitas Palangka Raya.

Gambar 19. Data sateli dan lapangan untuk Peat Fire Risk Index

36


BAB 6. RENCANA TAHAPAN BERIKUTNYA

Tabel 1. Jadwal kegiatan selanjutnya


Jenis
N
Kegiata
o
n
Tahun
II
Studi
1 kelayak
an
Sistem
2
fire
alert
Pilot
3
project
Sosialis
asi dan
4
publika
si
Memfa
silitasi
integras
i
kelemb
5
agaan
pemant
au
kebakar
an
Analisi
s dan
6
pelapor
an

Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
ke-1
ke-2
ke-3
ke-4
ke-5
ke-6
ke-7
ke-8
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

VVVVVVVV
VVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVV
VVVVVV

VVVVVVV

VVVVVVVVVVV

37


BAB 7. KESIMPULAN DAN SARAN
7.1 Kesimpulan

Pada laporan kemajuan ini dapat disimpulakan bahwa terdapat 4 (empat)


kabupaten yang sangat rawan kebakaran di lahan gambut. Hal tersebut terkait dengan
besarnya luasan lahan gambut dan juga aktivitas agroekosistem kelapa sawit. Pulang
Pisau merupakan daerah yang paling parah kejadian kebakarannya baik pada tahun El
Nino maupun tahun La Nina, dimana mayoritas hotspot ditemukan di lahan gambut
dengan rerata 1,000/ tahun.

Salah satu daerah yang berkontribusi besar terhadap

kebakaran di Kabupaten Pulang Pisau adalah eks PLG blok C. Areal ini memiliki
kejadian kebakaran terparah pada tahun 2006, 2002 dan 2009. Pada tahun 2006, luasan
hutan dan vegetasi yang hilang di eks PLG blok C berhubungan dengan kejadian
pembersihan lahan besar-besaran pada tahun yang sama untuk agroekosisstem kelapa
sawit.
Berdasarkan hasil kuisioner dan FGD di Desa Dadahup, Tumbang Nusa, Luwuk
Kanan dan Samuda Besar dapat disimpulkan bahwa responden mengetahui dengan baik
bahwa tanah bergambut sangat mudah terbakar serta dampak kebakaran hutan dan lahan.
Meskipun mereka mengetahui dengan baik adanya larangan membersihkan lahan dengan
cara di bakar yang disosialiskan melalui spanduk dan himbauan namun responden yang
membersihkan lahannya dengan cara dibakar masih sangat tinggi sehingga potensi
kebakaran lahan dan hutan yang tidak terkendali menjadi besar pada tahun 2014.

7.2 Saran
1. Perlu adanya teknologi early warning yang mampu mendeteksi kebakaran lahan dan
hutan karena potensi kebakaran yang disebabkan oleh kelalaian manusia masih
sangat tinggi.
2. Perlu diadakan pelatihan Tim Serbu Api (TSA) dan tambahan TSA yang memadai
jumlahnya untuk membantu warga memadamkan api.
3. Perlu dilakukan sosialisasi tentang kebijakan pemerintah dan dampak buruk
kebakaran terhadap masyarakat dan sosialisasi teknologi pencegahan dini kebakaran
untuk pihak terkait, seperti pemerintah.

38


DAFTAR PUSTAKA

[BMKG] Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika. 2013. Sistem peringatan bahaya


kebakaran,
diakses
Desember
2013.
http://meteo.bmkg.go.id/peringatan/kebakaranhutan
Csiszar, I., R. Denis, L. Giglio, C. O. Justice, and J. Hewson. 2005. Global fire
distribution from MODIS. Int. J. Wildland Fire Vol.14 (2): 117130.
[DNPI] Dewan Nasional Perubahan Iklim. 2010. Indonesias Greenhouse Gas
Abatement Cost Curve, Jakarta.
Davies, D.K., S.Ilavajhala, M.M. Wong, C.O. Justice. 2009. Fire information for
resource management system: archiving and distributing MODIS active fire data.
IEEE Transactions on Geoscience and Remote Sensing 47: 72-79.
Dowdy, A., Finkele, K., Mills, G.A. and de Groot, B. 2009. Australian fire behaviour as
represented by the McArthur Forest Fire Danger Index and the Canadian Forest
Fire
Weather
Index.
CAWCR
Technical
Report
No.
10,
http://cawcr.gov.au/publications/technicalreports/ CTR_010_Online_Final.pdf .
Giglio, L. 2010. MODIS Collection 5 Active Fire Product User's Guide Version 2.4.
Science Systems and Applications, Inc., University of Maryland, Department of
Geography.
Giglio, L., I. Csiszar, and C.O. Justice. 2006. Global distribution and seasonality of
active fires as observed with the Terra and Aqua MODIS sensors. J.
Geophys.Res. 111, G02016, doi:10.1029/2005JG000142.
Giglio, L., J. Descloitres, C.O.Justice, and Y. Kaufman. 2003. An enhanced contextual
fire detection algorithm for MODIS. Remote Sensing of Environment 87: 273282.
Heil, A., B. Langmann, and E. Aldrian. 2006. Indonesian peat and vegetation fire
emissions: study on factors influencing large-scale smoke haze pollution using a
regional atmospheric chemistry model. Mitigation and Adaptation Strategies for
Global Change 12: 113133.
Hoscilo, A., S.E. Page, K.J. Tansey, and J.O. Rieley. 2011. Effect of repeated fires on
land-cover change on peatland in southern Central Kalimantan, Indonesia, from
1973-2005. Int. J. Wildland Fire 20: 578-588.
Ichoku, C., and Y. J. Kaufman .2005. A method to derive smoke emission rates from
MODIS fire radiative energy measurements, IEEE Trans. Geosci. Remote Sens.,
43(11): 26362649, doi:10.1109/TGRS.2005.857328.
Justice, C.O., L. Giglio, S. Korontzi, J. Owens, J. T. Morisette, D. Roy, J.Descloitres, S.
Alleaume, , F. Petitcolin,and Y. Kaufman. 2002. The MODIS fire products.
Remote Sensing of Environment 83: 244262.
Langner, A., and F. Siegert (2009) Spatiotemporal fire occurrence in Borneo over a
period of 10 years. Global Change Biology 15: 48-62.
Limin, S, H., H. Takahashi, A,Usup, H,Hayasaka, M, Kamiya and N, Murao. 2007.
Impacts of haze in 2002 on social activity and human health in Palangka Raya.
Tropics Vol.16: 275-282.
Miettinen, C. Shi and S.C. Liew. 2011. Influence of peatland and land cover distribution
on fire regimes in Insular Southeast Asia. Regional Environmental Change, 11,
1, 191-201.
Miettinen, J., A. langner, and F. Siegert. 2007. Burnt area estimation for the year 2005
in Borneo using multi-resolution satellite imagery. Int. J. Wildland Fire vol. 16
(I): 45-53.
Ministry of Agriculture Republic of Indonesia, 2012. Indonesia Palm Oil in Number

39

2012. Directorat General of Proceesing and Marketing of Agriculture Product,


Jakarta.
Natural Recources Canada, 2013. Canadian Forest Fire Weather Index (FWI) System,
diakses
Desember
2013.
http://cwfis.cfs.nrcan.gc.ca/en_CA/background/summary/fwi
Putra, E.I, H. Hayasaka, H. Takahashi, and A. Usup. 2008. Recent peat fire activity in
the Mega Rice Project Area, Central Kalimantan, Indonesia. Journal of Disaster
Research Vol. 5 No. 5: 334-341.
Putra, E.I. and Hayasaka, H. 2011. The effect of the precipitation pattern of the dry
season on peat fire occurrence in the Mega Rice Project area, Central
Kalimantan, Indonesia. TROPICS, 19, 4, 145-156.
Siegert, F., and A. A. Hoffmann. 2000. The 1998 forest fires in East Kalimantan
(Indonesia): a quantitative evaluation using high resolution, multitemporal ERS-2
SAR images and NOAA-AVHRR hotspot data. Remote Sensing of Environment
72: 64-77.
Silvia. J.M.N., A.C.L Sa, and J.M.C. Pereira. 2005. Comparison of burned area
estimates derived from SPOT-VEGETATION and Landsat ETM+ data in Africa:
Influence of spatial pattern and vegetation type. Remote Senseing of
Environment 96, 188-201.
Takahashi,H., and Limin, S. 2011. Water in peat and peat fire in tropical peatland.
Proceedings of the 3rd International Workshop JST-JICA on Wild Fire and
Carbon Management in Peat-Forest in Indonesia, Palangka Raya-Indonesia.
Tansey, K., J. Beston, A. Hoscilo, S.E. Page, and C.U. Paredes Hernndez. 2008. The
relationship between MODIS fire hotspot count and burned area in a degraded
tropical peat swamp forest in Central Kalimantan, Indonesia. J. Geophys. Res.,
113, D23112, doi:10.1029/2008JD010717.
USDA Forest Service, 2013. Active Fire Mapping Program, diakses Desember 2013.
http://activefiremaps.fs.fed.us/
Vermote, E., E. Ellicott, O. Dubovik, T. Lapyonok, M. Chin, L. Giglio, and G. J.
Roberts. 2009. An approach to estimate global biomass burning emissions of
organic and black carbon from MODIS fire radiative power. Journal Of
Geophysical Research, VOL. 114, D18205, doi:10.1029/2008JD011188
Yulianti, N and Hayasaka, 2011 Satellite-Based Early Warning System to Control Forest
and Peatland Fire In: Textbook for summer school 2011 in Indonesia
Management strategy of tropical peatland: development and conservation,
Nov. 8-19, 2011. Integrated field environmental science global center of
excellent (IFES-GCOE) Indonesia liason office, Bogor, Indonesia.
Yulianti, N. 2011. The health effect of smoke and haze from tropical forest-peat fires.
In: Textbook for summer school 2011 in Indonesia Management strategy of
tropical peatland: development and conservation, Nov. 8-19, 2011. Integrated
field environmental science global center of excellent (IFES-GCOE) Indonesia
liason office, Bogor, Indonesia.
Yulianti, N. and Hayasaka, H. 2013. Recent active fire under El Nio conditions in
Kalimantan, Indonesia. American Journal of Plants Science (Special Issue on
The Future of Forest) 4, 3A, 685-696.
Yulianti, N. Hayasaka H. and Usup A.. Recent forest and peat fire trends in Indonesia, the latest
decade by MODIS hotspot data. Global Environmental Research 16, 1, 105-116,
Yulianti, N., Hayasaka, H., Usup, A., and Sepriando, A. 2013 Recent Trends of Fire Occurrence
in Sumatra (Analysis using MODIS Hotspots Data): a comparison with Fire Occurrence
in Kalimantan. Open Journal of Forestry Vol. 3 No.4, p.129-137

40

LAMPIRAN

41


LAMPIRAN 1. Biodata Ketua Tim Peneliti
Biodata Ketua Tim
a. Identitas Diri
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Nama Lengkap
Jabatan Fungsional
NIP/NIDN
Tempat dan Tanggal Lahir
Alamat Rumah
No HP
No telepon/Fax
Alamat kantor
Nomor telepon/Fax
Alamat e-mail

Nina Yulianti, SP., M.Si., Ph.D


Lektor
19820630 200501 2 002/0030068201
Sampit, 30 Juni 1982
Jl. Nilam II No. 02, G. Obos XII, Palangkaraya
081382457344
Jl. Yos Sudarso, Tunjung Nyaho, Palangkaraya
0536-3222664
ninayulianti.unpar@gmail.com
1. Sistem Informasi dan Sumber Daya Lahan (Program
S1)
2. Ilmu Ukur Tanah dan Kartografi (Program S1)
3. Aplikasi Komputer (Program S1)
4. Agroklimatologi (Program S1)
5. Dasar-Dasar Ilmu Tanah (Program S1)
6. Pengelolaan dan Pemanfaaatan Lahan Gambut dan
Pasang Surut
7. Bahasa Inggris (Program S1)
8. Ekologi Manusia (Program S2)

b. Riwayat Pendidikan:
Program
Nama PT

S1
Universitas Lambung
Mangkurat

S2
Institut Pertanian Bogor

S3
Hokkaido University,
Jepang

Ilmu Tanah

Ilmu Tanah, konsentrasi


penginderaan jauh dan
informasi spatial

Sistem Lingkungan
Manusia, konsentrasi
penginderaan jauh
dan informasi spatial

Tahun Masuk
Tahun Lulus
Judul
Skripsi/Tesis/Disertasi

2000
2004
Efesiensi Pemupukan
Nitrogen di Tanah Sawah
yang Sifat Fisika dan
Kimianya Berbeda

2006
2009
Cadangan Karbon Lahan
Gambut dari
Agroekosistem Kelapa
Sawit PTPN IV Ajamu,
Kabupaten Labuhan Batu,
Sumatra Utara

2010
2013
The Influence of
Precipitation Patterns
on Recent Peatland
Fires in Indonesia

Nama Pembimbing

Dr. A. Rizalli Saidy, SP,


MAg.Sc
Ir. Hairil Ifansyah, MP

Prof. Dr. Ir. Supiandi


Sabiham, M.Agr
Dr. Ir. M. Ardiansyah

Assoc. Prof. DEng.


Hiroshi Hayasaka
-

Bidang Ilmu

c. Pengalaman Penelitian (Bukan Skripsi, Tesis, maupun Disertasi):


No.

Tahun

2006

2010

2011-2012

Judul Penelitian
Pengaruh Penurunan Muka Air
terhadap Status Hara Nitrogen pada
Permukaan Tanah Gambut (Ketua tim)
Combustion Properties of Peat and
Various Vegetation from Burnt Area in
Central Kalimantan (Ketua tim)
Biodiversity Conservation and

Pendanaan
Sumber
Jumlah (juta Rp)
Dana RUTIN
Universitas
3
Palangkaraya
JST/JICA,
Jepang
20
Japan Science

350

42

2011

2014

Rehabilitation in line with Local


Community Wisdom A Case Study in
Indonesian Peat Swamp Forest
(Anggota tim)
Effect Peatland Fires and Its Smoke on
Public Health in Palangkaraya (Ketua
tim)
Pengembangan Sistem Fire Early
Warning Terintegrasi untuk
Agroekosistem Kelapa Sawit
Berkelanjutan di Lahan Gambut (Ketua
Tim)

and Technology,
Jepang
Mandiri
5
Perprinas-MP3EI
175

d. Pengalaman Pengabdian Kepada Masyarakat:


No.

Tahun

2006

2007

2014

2014

2014

Judul Penelitian
Penyuluhan Pertanian di Desa
Kalampangan (Anggota tim)
Peran Perempuan Etnis Dayak dalam
Upaya Pemanfaatan Lahan Eks Sejuta
Hektar (Studi Kasus di Desa Dadahup)
(Ketua tim)
Pengolahan Buah Nangka dan
Rambutan Menjadi Aneka Snack
Sebagai Alternatif Industri Usaha Kecil
Menengah Ibu Rumah Tangga Di Desa
Pulau Kupang, Kabupaten Kapuas
(Anggota tim)
Pendidikan Lingkungan Untuk Siswa
Sekolah Menengah Pertama
Environmental Education For Junior
High School Students
Pendidikan Keberlanjutan Lingkungan
untuk Masyarakat Desa di Lahan
Gambut: Metode Pencegahan Dini dan
Dampak Kebakaran, serta Alternatif
Pengelolaan Lahan (Ketua tim)

Sumber
Mandiri

Pendanaan
Jumlah (juta Rp)

Studi Kajian
Wanita, DP2M,
DIKTI

3
10

Mandiri
3

Resona
Foundation

15

Mandiri
6

e. Pengalaman Penulisan Artikel Ilmiah:


1.

No.

Tahun
2008

2.

2008

3.

2009

4.

2009

Judul Artikel
Penurunan Muka Air Terhadap Status
Hara Nitrogen pada Permukaan Tanah
Gambut (Nina Yulianti dan Z.
Damanik)
Peranan Perempuan Etnis Dayak
Dalam Upaya Pemanfaatan Lahan Eks
PLG Sejuta Hektar (Studi Kasus di
Desa Dadahup) (Nina Yulianti dan
Dewi Saraswati)
Potensi Kehilangan Karbon Akibat
Pembentukan Pasir Semu pada Lahan
Gambut yang dikonversi menjadi
agroekosistem kelapa sawit (Nina
Yulianti, Supiandi Sabiham, M.
Ardiansyah, E.S Sutarta dan W.
Darmosarkoro)
Kajian Tantangan dan Peluang
Pengelolaan Gambut bagi Perempuan

Volume/Nomor
Vol. 2 No.1, p.
18-25

Nama
AGRIenvi

Vol. XVII No. 1,


p. 29-37

Buletin Bawi Itah

Vol. 10 No. 1, p.
13-18

Agripeat

Vol. XVIII No.


1, p.19-31

Buletin Bawi Itah

43


Tani (Nina Yulianti)
Karbon Stok dari Gambut dan
Biomassa pada Agroekosistem Kelapa
Sawit PTPN IV Ajamu, Kabupaten
Labuhan Batu, Sumatra Utara (Nina
Yulianti, Supiandi Sabiham, M.
Ardiansyah, dan Kukuh Murtilaksono)
Allometric Equation of Oil Palm: An
Estimation Approach of Biomass
Carbon Stock in Tropical Peatland
(Nina Yulianti, Supiandi Sabiham, M.
Ardiansyah, Kukuh Murtilaksono, E.S.
Sutarta, and W. Darmosarkoro)

5.

2009

p. 10

Prosiding Pekan
Ilmiah ke-1,
Faperta, Unpar
(12-13 December
2009)

6.

2010

p. 143-146

Proceedings of
International
Symposium and
Workshop on
Tropical Peatland
Management,
The Proper Use
of Tropical
Peatland.
Palangkaraya,
Indonesia (10-11
Juni 2010)
Proceedings of the
Japan Association
of Fire Science
and Engineering
(JAFSE) Annual
Symposium, Toky
o-Japan (16-17
May 2011)
Proceedings of
Symposium of the
Meteorological
Society of Japan,
Sapporo-Japan (8
June 2011)
Proceedings of
the 3rd
International
Workshop JSTJICA on Wild
Fire and Carbon
Management in
Peat-Forest in
Indonesia, Palang
ka RayaIndonesia (22-24
September 2011)
Topics in Tropical
Peatland 03,
Summer School
2011 Edition,
Integrated Field
Environment
Science-Global
Center of
Excellence,
Indonesia Liaison
Office
Topics in Tropical
Peatland 41,
Summer School
2011 Edition,

7.

2011

2009 Severe Fires in Central


Kalimantan (Nina Yulianti, Hiroshi
Hayasaka, Aswin Usup)

p.212-213

8.

2011

The Relationship Between Drought and


Peat Fire Occurrence in Kalimantan
During The Last 13 Years (Nina
Yulianti, Hiroshi Hayasaka)

p. 20-23

9.

2011

Analysis of Recent Forest and Peat Fire


Occurrence in Indonesia using MODIS
Hotspots Data (Hiroshi Hayasaka, Nina
Yulianti, and Aswin Usup )

p.55-66

10.

2011

Application of Remote-Sensing Data


for The Detection of Forest and
Peatland Fire in Indonesia (Nina
Yulianti, Hiroshi Hayasaka)

p.6-7

11.

2011

MODIS Hotspots Detection as A


Satellite-Based Early Warning System
to Control Forest and Peatland Fire
(Nina Yulianti, Hiroshi Hayasaka)

p.82-83

44

Integrated Field
Environment
Science-Global
Center of
Excellence,
Indonesia Liaison
Office
12.

2011

The Health Effect of Smoke and Haze


from Tropical Forest-Peat Fires (Nina
Yulianti)

p. 114-115

13.

2012

Tropical Peat Fire Characteristics in


Kalimantan using MODIS Hotspot and
Imagery Data (Nina Yulianti, Hiroshi
Hayasaka, Aswin Usup)

p. 40-45

14.

2012

Vol. 16 No.1,
p.105-116

15.

2013

Recent Forest and Peat Fire Trends in


Indonesia, The Latest Decade by
MODIS Hotspot Data (Nina Yulianti,
Hiroshi Hayasaka, Aswin Usup)
Recent Active Fires under El Nino
Conditions in Kalimantan, Indonesia
(Nina Yulianti, Hiroshi Hayasaka)

16.

2013

Vol. 3 No.4,
p.129-137

17.

2013

Recent Trends of Fire Occurrence in


Sumatra (Analysis using MODIS
Hotspots Data): a comparison with Fire
Occurrence in Kalimantan (Nina
Yulianti, Hiroshi Hayasaka, Alpon
Sepriando)
Recent Active Tropical Peatland Fires
in Indonesia (Nina Yulianti, Hiroshi
Hayasaka, Aswin Usup, Alpon
Sepriando)

18.

2013

Situation of Peat Fire Combustion on


Southern Kalimantan, Indonesia (Nina
Yulianti, Hiroshi Hayasaka, Aswin
Usup)

p.163-164

Vol. 4 No.3A, p.
685-696

p. 39-40

Topics in Tropical
Peatland 57,
Summer School
2011 Edition,
Integrated Field
Environment
Science-Global
Center of
Excellence,
Indonesia Liaison
Office
Proceedings of
International
Symposium
JST/JICA on Wild
Fire and Carbon
Management in
Peat-Forest in
Indonesia 2012,
Bogor-Indonesia,
(13-14 September
2012)
Global
Environmental
Research
American Journal
of Plant Sciences
(Special Issue of
The Future
Forest)
Open Journal of
Forestry

Proceedings of
International
Conference
Wetland
Systems: Ecology,
Functioning and
Management,
Padova-Italy (1-4
September 2013)
Proceedings of
International
Conference
Wetland
Systems: Ecology,
Functioning and

45

Management,
Padova-Italy (1-4
September 2013)
19.

2013

Peatland Fires Monitoring in


Kalimantan and Sumatra: the Recent
MODIS Hotspots Data (Nina Yulianti,
Hiroshi Hayasaka, Aswin Usup, Alpon
Sepriando)

p. 22

20.

2013

The Influence of Weather Condition on


Seasonal and Spatial Fires in
Kalimantan (Nina Yulianti, Hiroshi
Hayasaka)

p. 54

21

2014

p.10-16

22

2014

23

2014

Biomass Fuel Properties From Burned


Peatland (Nina Yulianti, Hiroshi
Hayasaka, Aswin Usup)
Peat-fire-related air pollution in Central
Kalimantan, Indonesia (Hiroshi
Hayasaka, Izumi Noguchi, Erianto
Indra Putra, Nina Yulianti, and Krisna
Vadrevu)
A Proposed Peatland Fires Risk Index
(PFRI) for Palm Oil Agroecosystem in
Indonesia (Nina Yulianti, Betrixia
Barbara, Eritha Kristianan Firdara,
Alpon Sepriando, Rawing Rambang

Proceedings of
34th Asian
Conference on
Remote Sensing
2013 Bridging
Sustainable Asia,
Bali-Indonesia
(20-24 October
2013)
Proceedings of 7th
International
Symposium on
Kurishio Science,
PontianakIndonesia (21-23
November 2013)
Agripeat Vol. 15
No.1

p.

Environmental
Pollution

p.68

2014 IndonesianAmerican Kavli


Frontiers of
Science

f. Pengalaman Penyampaian Makalah Secara Oral Pada Pertemuan/Seminar


Ilmiah Dalam 5 Tahun Terakhir
Tahun
2009
2011
2011
2013
2013
2013
2013

Kegiatan
Pekan Ilmiah Ke-1 Fakultas Pertanian, UNPAR
The Japan Association of Fire Science and
Engineering (JAFSE) Annual Symposium
Symposium of the Meteorological Society of Japan
International Conference Wetland Systems:
Ecology, Functioning and Management
34th Asian Conference on Remote Sensing 2013
Bridging Sustainable Asia
7th International Symposium on Kurishio Science
Pekan Ilmiah Ke-5 Fakultas Pertanian, UNPAR

Tempat
Universitas Palangkaraya
Tokyo University of Science, Jepang
Hokkaido University, Jepang
University of Padova, Italy
Bali
Universitas Tanjung Pura
Universitas Palangkaraya

g. Penghargaan yang Pernah Diraih dalam 10 Tahun Terakhir (dari pemerintah,


asosiasi atau institusi lainnya)
No
1
2

Jenis Penghargaan
Pemenang Paper Bidang
Lingkungan Hidup
Pemenang Poster Terbaik

Institusi Pemberi
penghargaan
Pemerintah Provinsi
Kalimantan Tengah
JST/JICA project on Wild Fire
and Carbon Management in
Peat-Forest in Indonesia
(Jepang)

Tahun
2009
2012

46

Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan dapat
dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila di kemudian hari ternyata dijumpai
ketidak-sesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima sanksi.
Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah satu
persyaratan dalam pengajuan Hibah MP3EI.
Palangkaraya, 20 Desember 2014
Ketua,

Nina Yulianti, SP., M.Si. Ph.D


NIDN. 0030068201

47

LAMPIRAN 2. Publikasi di 2014 Indonesian-American Kavli Frontiers of


Science Indonesian diselenggarakan oleh Academy of
Sciences-U.S. National Academy of Sciences di Medan, 2224 Juni 2014 (abstrak dan poster)

48

49

LAMPIRAN 3. Publikasi pada the 1st International Conference of Faculty


of Geology, Universitas Padjajaran di Bandung, 28-29
Oktober 2014 (fullpaper)
Detection of Surface Peat Fires (Smoldering) using Infra Red (IR)
Images
Nina Yulianti1,2*
Faculty of Agriculture, University of Palangka Raya
2
Graduate School of Natural Resources and Environment Management, University of
Palangka Raya
Jalan Yos Sudarso Palangka Raya, Central Kalimantan, Indonesia
*ninayulianti.unpar@gmail.com
1

Abstract
Peat fires occur in peat layer (organic soil), roots, dry leaves and other organic
matter. This type is smoldering fire (incomplete fire), which can be active for days with
flameless and low spreading rates. The depth of smoldering is about tens centimeters but
it can be difficult to recognize with the naked eyes. In Central Kalimantan, peat fire is
one of big environment issues related to to carbon emission and peatland degradation.
The objective of this study was to investigate the change or variation of temperature on
the surface peat fires. The temperatures of surface peat fire were observed by thermal
(infrared) video system (TVS 600, Nippon Avionic Co., Ltd., Japan), about three hour at
one-minute interval. The patterns of surface peat fire were captured by infrared thermal
imaging camera (Therma shot F30, Nippon Avionic Co., Ltd., Japan). As a comparison,
the temperature on the outskirts of smoldering checked using Thermo Recorder TR-81
(Tashika Boeki Shokai K.K., Japan). The results showed that the apparent temperature
profile of an actual peat fire in the MRP area on September 15, 2004 was ranged from
100 to 500oC. Further, the average temperature at the center of the burning identified
more than 300oC (observation on summer dry season of 2014). The outskirts of
smoldering recorded had lower temperature but there were various patterns depending
on the conditions of fire ecology and peat itself.
Keywords: IR images, peat fires, temperature, summer dry season, thermal camera
1. Introduction
The wildfire disaster was not a new event in Indonesia. Since about two decades
ago, annual fire occurred particularly in peatland (organic soil with depth over 50 cm)
across the coastal of Sumatra and Kalimantan Island (Yulianti et al., 2012). Central

50

Kalimantan with the largest areas of tropical peatland in Kalimantan covers an area of
about 2 million ha (Wetland, 2004). In 1996/1997, more than 1 million ha of peat swamp
forest (hereafter PSF) of Central Kalimantan has drained by drainage channels for
conversion to agricultural land under the Mega Rice Project (hereafter MRP). The effect
was a lowering of ground water levels (hereafter GWL), mainly in the following dry
season, that are a cause of severe wildfires. Page et al. (2002) showed that as much as
70% of the PSF was destroyed by the fire in 1997. Lately, this event is famous as
peatland fire occurrence. After these fires, the larger part of PSF was lost and has
become abandoned peatland with ferns and grass as the dominating vegetation.
The peatland fires usually produce toxic smoke as well as they release large
amounts of green house gases (CO2, SO4 and N2O). Hooijer et al (2006) estimated that
CO2 emission from this source in Indonesia was the possible average maximum 4,32
Gt/y. Further, biodiversity on peatland and PSF are endangered. The peatland area that
is now not under cultivation may be subject to uncontrolled and unpredictable wildfires
but effective preventive measures are not carried out at present. Limitations of
firefighting facilities and personnel result in frequent and increasingly serious fires, and
study on peat fires is not very active due to complicating factors like that it involves
combustion type or smoldering fires. In addition, firefighting efforts that are handled by
the government are little effective. Indeed, fire behavior and characteristics on peatland
are unique and the environment is fragile when compared with other types of land from
one to other area.
A more detailed knowledge of the fire behavior in this area is essential for fire
prevention, fire fighting, and fire control to be able to design a fire protection strategy
for the future. In addition to observational data from remote sensing will require direct
observations in the field as verification. To enable this, the objective of this paper is to
elucidate the peat fire condition particularly temperature of smoldering by digital
observation of actual fires near Palangka Raya, Central Kalimantan, Indonesia.
2. Methodology
The observation areas were located near Palangka Raya (the capital city of
Central Kalimantan) where covering a part of the MRP area (Fig. 1). Most of the areas
had burned several times from 1997 to 2013 during summer dry season. After that, there
was invaded by dense bushes and ferns. These plants are potential as high-risk fuel for
future fire such discussed in Yulianti et al, 2014.

51

Fig. 1 Study area in the MRP of central Kalimantan


This paper has four methods to detect the peat temperatures, namely thermal
video, infrared digital camera, portable thermometer and thermo-sensor. The temperature
changes of surface peat fire were observed by thermal video system (TVS 600, Nippon
Avionic Co., Ltd., Japan). Temperature was recorded about three hour at one-minute
interval. The patterns of surface peat fire were captured by infrared thermal imaging
camera (Therma shot F30, Nippon Avionic Co., Ltd., Japan). As a comparison, the
temperature on the outskirts of smoldering checked using Thermo Recorder TR-81
(TashikaBoeki Shokai K.K., Japan). Six-day daily temperature at the burning peat layers
measurement done by Usup et al. (2004). Measurement location is Kalampangan area,
which lies in the location of the canal between Kahayan and Sebangau River. The
temperature was measured with a chromel-alumelthermocouples 0.5 and a 6-channel
data logger (KADEC-US, KONA system Co. Ltd, Japan). Sensors positioned at 5 cm
intervals, from the peat surface to a depth of 40 cm of peat burning.
3. Results and Discussions
3.1 Fire types in peatland
Fig. 2 shows a typical surface fire situation in abandoned peatland with three
combustion types, namely, flaming, smoldering, and glowing. The active fire with
flaming has high flame temperatures, around more than 800oC (Saharjo, 2006). Under
high temperatures, not only dead vegetative matter such as trees, bushes, grass, and ferns
but also fresh, growing vegetable matter in this vegetation burn with relatively high fire
spreading rates. Smoldering and glowing fires are flameless combustion and show low
spreading rates due to lower temperatures.

52

In ground peat fires, the fire spreading behavior could be simply explained by
heat flows near the ground surface. At the top of the peat layer or ground surface, heat
from peat fires warms air near the surface and the heated air moves upward. With this
movement, cool surrounding air would move into the surface area and cool the surface.
However, with the burning underground peat, the cooling flow of incoming air disrupted
by the heat rising from the fire zone and so there is no flow of cooling air. Further, this
kind of peat fire tends to move toward underground layers and it was observed that these
fires leave deep holes with depths of more than 30 cm at the peat fire site. As a result,
the spreading rate of peat fires becomes relatively slower due to the smoldering type of
peat combustion underground with low temperature combustion (around 500 or 600 oC
(Rein et al. 2008)). This unique fire behavior answers some of the question why
smoldering fires occur over long durations, and why peat fires are difficult to extinguish.

Fig. 2 Peatland fire in the MRP canal in 2009


Above the forest floor, fire comes with flames or of this type of fire, called
surface fires. In abandoned peatland, surface fires also could reach dangerous levels
mainly due to ferns. Page et al. (2009) stated that peatland dominated with ferns over
more than 50% of the total area could be a high fire risk, as ferns are a favorable fuel
with its high calorific value and low ignition temperature; its values are the same as peat
(Yulianti et al. 2012). This means that ferns are fire prone vegetation, particularly under
dry conditions.
3.2 Surface temperature of smoldering
To observe actual peat fire conditions, we have now used a thermal video system
(TVS) to measure the peat fire propagation. The apparent temperature profile of an
actual large fire in the MRP area on September 15, 2004 was observed with TVS (Fig.
3). The first observations showed that the temperatures in the peat fire zone ranged from

53

100 to 500oC. The temperature around 500oC was the glowing combustion temperature
of peat and coincided with the observed glowing temperature of TG-DTA (Usup et al.,
2004). The lower temperature was in the frontlines (boundaries), where it was around
125oC, just above the boiling point of water. In this situation the water content of the
peat would generally vaporize, following which the peat layer will start to ignite, this
lower temperature boundary may be termed a so-called pre-heating zone (Rein et al.
2008), this was the situation simultaneous with that in the center of the burning area, in
the center, the temperatures recorded by the TVS were higher ranging from 300 to
500oC. In this central zone where the flaming combustion occurred there will also be a
release of heat and smoke in large amounts.

Fig. 3 Temperature in surface smoldering recorded by TVS. Note: X axis is row and
Y axis is column of pixel (after Usup, 2004)

Fig. 4 IR-images of peat fire conditions in Tumbang Nusa (above) and Maliku (below).
Images captured by an ordinary camera (left) and a thermal camera (right)
The second observation was carried out on August - September 2014 along Trans
Kalimantan Highway. In the naked eye, there is not visible fire (flame) and only releases

54

smoke. Instead, thermal camera captured (Therma Shot F30) in Fig. 4 shows the activity
of combustion (temperature varies). The observation in Fig. 4 shows the temperature at
the center of the burning is only about 350oC. This is because the fire activity in this area
had attempted to be extinguished by firefighter with water injection. As an evident, the
temperature outskirts of smoldering checked using Thermo Recorder TR-81 show range
from 25 to 30 oC much lower than the result of TVS on September 2004. The conditions
indicated wetter but the smoldering still alive for a few weeks later during this study
surveyed.
3.3 Vertical temperature profile
Observation of temperature changes in the peat layer had done during a fire
period in 2014 fire event. In this study, the IR-image from peat fire 0-50 cm was
classified using several categories in order to show the variation of peat layer
temperature as shown in Fig. 5. From the extreme high to the high temperature occurred
mostly in depth of exceed 20 cm below ground. In the other hand, low temperature
occurred in surface ground. It is one of the reasons why peat fire very difficult to
recognized by the naked eye. In some areas, we were hard to found smoke and heat
radiation on surface as a sign of peat fire, particularly after the rain or water injection by
fire fighter .

Fig. 5 Profil peat fire


Reference
Hooijer, A., M. Silvius, H. Wsten and S. Page. 2006. PEAT-CO2 Assessment of CO2 Emissions from
Drained Peatlands in SE Asia, Delft Hydraulics Report Q3943.
Page, S.E., A. Hostilo, A. Langner, K. Tansey, F. Siegert, S. Limin and J.O. Rieley. 2009. Tropical
peatland fires in Southeast Asia, In: Mark A. Cochrane, Tropical Fire Ecology Climate Change,
Land use and Ecosystem Dynamics. Praxis Publishing, Chichester, 263-287.

55

Page, S.E., F. Siegert, J. O. Rieley, H.D. V. Boehm, A. Jaya and S. Limin. 2002. The amount of carbon
release from peat and forest fires in Indonesia during 1997. Nature, 420, 61-65.
Rein, G., N. Cleaver, C. Ashton, P. Pironi and J.L. Torero. 2008. The severity of smouldering peat fires
and damage to the forest soil. Catena, 74, 304-309.
Saharjo, B. H. 2003. Fire behavior in Pelalawan peatland, Riau Province. Biodiversitas, 7, 1, 90-93.
Usup, A., Y. Hashimoto, H. Takahashi and H. Hayasaka. 2004. Combustion and thermal characteristics of
peat fire in tropical peatland in Central Kalimantan. TROPICS, 14, 1, 1-19.
Usup. A. 2004. Peat Fire Characteristics of Tropical Peatland in Central Kalimantan, Indonesia. Doctoral
dissertation, Hokkaido University
Yulianti, N., H. Hayasaka and A.Usup. 2014. Recent forest and peat fire trends in Indonesia, the latest
decade by MODIS hotspot data. Global Environmental Research 16, 1, 105-116.
Yulianti, N., H. Hayasaka, A. Usup. 2014. Biomass fuels properties from burned peatland. Jurnal AGRI
PEAT, 15, 1, 10-16.

56

LAMPIRAN 4. Surat penerimaan naskah ilmiah pada Journal Socio


Economics Agricultural Volume 10 No. 1 yang diterbitkan
Jurusan Sosial ekonomi Pertanian Fakultas pertanian
Universitas Palangka Raya

LAMPIRAN 5. Kegiatan analisis, input data dan diskusi

57


LAMPIRAN 6. Kegiatan Kuisioner, FGD, dan Sampling

58