Anda di halaman 1dari 13

JENIS, FUNGSI DAN KALIBRASI BEBERAPA ALAT

UKUR DI LABORATORIUM KONVERSI ENERGI


TEKNIK MESIN UNS

1. TERMOMETER AIR RAKSA

a. Fungsi Termometer Air Raksa

Termometer adalah alat untuk mengukur suhu. Thermometer


analog bisa juga disebut sebagai thermometer manual, karena cara
pembacaannya masih manual. Penggunaan air raksa sebagai bahan
utama thermometer karena koefisien muai air raksa terbilang konstan
sehingga perubahan volume akibat kenaikan atau penurunan suhu hampir
selalu sama. Namun ada juga beberapa termometer keluarga
mengandung alkohol dengan tambahan pewarna merah. Termometer ini
lebih aman dan mudah untuk dibaca.

Jenis khusus termometer air raksa, disebut termometer maksimun,


bekerja dengan adanya katup pada leher tabung dekat bohlam. Saat suhu
naik, air raksa didorong ke atas melalui katup oleh gaya pemuaian. Saat
suhu turun air raksa tertahan pada katup dan tidak dapat kembali ke
bohlam membuat air raksa tetap didalam tabung. Pembaca kemudian
dapat membaca temperatur maksimun selama waktu yang telah
ditentukan. Untuk mengembalikan fungsinya, termometer harus
diayunkan dengan keras. Termometer ini mirip desain termometer medis.

Air raksa akan membeku pada suhu -38.83 °C (-37.89 °F) dan hanya
dapat digunakan pada suhu diatasnya. Air raksa, tidak seperti air, tidak
mengembang saat membeku sehingga tidak memecahkan tabung kaca,
membuatnya sulit diamati ketika membeku. Jika termometer mengandung
nitrogen, gas mungkin mengalir turun ke dalam kolom dan terjebak disana
ketika temperatur naik. Jika ini terjadi termometer tidak dapat digunakan
hingga kembali ke kondisi awal. Untuk menghindarinya, termometer air
raksa sebaiknya dimasukkan ke dalam tempat yang hangat saat
temperatur di bawah -37 °C (-34.6 °F). Pada area di mana suhu
maksimum tidak diharapkan naik di atas - 38.83 ° C (-37.89 °F)
termometer yang memakai campuran air raksa dan thallium mungkin bisa
dipakai. Termometer ini mempunyai titik beku of -61.1 °C (-78 °F).
b. Pengukuran Termometer Air Raksa

Termometer air raksa umumnya menggunakan skala suhu Celsius


dan Fahrenhait. Celsius memakai dua titik penting pada skalanya: suhu
saat es mencair dan suhu penguapan air. Es mencair pada tanda kalibrasi
yang sama pada thermometer yaitu pada uap air yang mendidih. Saat
dikeluarkan termometer dari uap air, ketinggian air raksa turun perlahan.
Ini berhubungan dengan kecepatan pendinginan (dan pemuaian kaca
tabung). Jadi pegukuran suhu celsius menggunakan suhu pencairan dan
bukan suhu pembekuan.

Titik didih Celcius yaitu 0 °C (212 °F) dan titik beku pada 100 °C (32
°F). Tetapi peneliti lain -Frenchman Jean Pierre Cristin– mengusulkan versi
kebalikan skala celsius dengan titik beku pada 0 °C (32 °F) dan titik didih
pada 100 °C (212 °F). Dia menamakannya Centrigade.

c. Cara kerja Termometer Air Raksa

Alat ini terdiri dari pipa kapiler yang menggunakan material kaca
dengan kandungan air raksa di ujung bawah. Untuk tujuan pengukuran,
pipa ini dibuat sedemikian rupa sehingga hampa udara. Jika temperatur
meningkat, Merkuri akan mengembang naik ke arah atas pipa dan
memberikan petunjuk tentang suhu di sekitar alat ukur sesuai dengan
skala yang telah ditentukan. Adapun cara kerja secara umum adalah sbb ;

1) Sebelum terjadi perubahan suhu, volume air raksa berada pada


kondisi awal.
2) Perubahan suhu lingkungan di sekitar termometer direspon air
raksa dengan perubahan volume.
3) Volume merkuri akan mengembang jika suhu meningkat dan akan
menyusut jika suhu menurun.
4) Skala pada termometer akan menunjukkan nilai suhu sesuai
keadaan lingkungan.

d. Kalibrasi Termometer Air Raksa

Kalibrasi merupakan proses verifikasi bahwa suatu akurasi alat ukur


sesuai dengan rancangannya. Kalibrasi biasa dilakukan dengan
membandingkan suatu standar yang terhubung dengan standar nasional
maupun internasional dan bahan-bahan acuan tersertifikasi.

e. Proses kalibrasi thermometer antara lain :

1) Letakkan silinder termometer di air yang sedang mencair dan


tandai poin termometer disaat seluruh air tersebut berwujud cair
seluruhnya. Poin ini adalah poin titik beku air.
2) Dengan cara yang sama, tandai poin termometer disaat seluruh air
tersebut mendidih seluruhnya saat dipanaskan.
3) Bagi panjang dari dua poin diatas menjadi seratus bagian yang
sama.

2. TERMOMETER DIGITAL

a. Fungsi Termometer Digital

Termometer merupakan salah satu alat ukur yang berfungsi untuk


mengetahui suhu objek (benda/tubuh).

b. Prinsip kerja Termometer Digital

Termometer digital, biasanya menggunakan termokopel sebagai


sensornya untuk membaca perubahan nilai tahanan. Secara sederhana
termokopel berupa dua buah kabel dari jenis logam yg berbeda yang
ujungnya, hanya ujungnya saja, disatukan (dilas). Titik penyatuan ini
disebut hot junction. Prinsip kerjanya memanfaatkan karakteristik
hubungan antara tegangan (volt) dengan temperatur. Setiap jenis logam,
pada temperatur tertentu memiliki tegangan tertentu pula. Pada
temperatur yang sama, logam A memiliki tegangan yang berbeda dengan
logam B, terjadilah beda tegangan (kecil sekali, miliVolt) yang dapat
dideteksi. Jadi dari input temperatur lingkungan setelah melalui
termokopel terdeteksi sebagai perbedaan tegangan (volt). Beda tegangan
ini kemudian dikonversikan kembali nilai arusnya melalui
pengkomparasian dengan nilai acuan dan nilai offset di bagian
komparator, fungsinya untuk menerjemahkan setiap satuan amper ke
dalam satuan volt kemudian dijadikan besaran temperatur yang
ditampilkan melalui layar/monitor berupa seven segmen yang
menunjukkan temperatur yang dideteksi oleh termokopel.
Termokopel ini macam-macam, tergantung jenis logam yang
digunakan. Jenis logam akan menentukan rentang temperatur yang bisa
diukur (termokopel suhu badan (temperatur rendah) berbeda dengan
termokopel untuk mengukur temperatur tungku bakar (temperatur
tinggi)), juga sensitivitasnya.

Secara terperinci prinsip kerja thermometer digital dapat dijelaskan


sebagai berikut:

1) Sensor yg berupa PTC atau NTC dengan tingkat sensitifitas tinggi


akan berubah nilai tahanannya jika terjadi sebuah prubahan suhu
yg mengenainya.
2) Perubahan nilai tahanan ini linear dengan perubahan arus, sehingga
nilai arus ini bisa dikonversi ke dalam bentuk tampilan display
3) Sebelum dikonversi, nilai arus ini di komparasi dengan nilai acuan
dan nilai offset di bagian komparator, fungsinya untuk
menerjemahkan setiap satuan amper ke dalam satuan volt yg akan
dikonversi ke display.

c. Pembacaan Pengukuran Termometer Digital

Pembacaan pengukuran termometer ini dilakukan langsung dari


nilai display dengan memperhatikan garis segmen yang ada.

d. Kalibrasi Termometer Digital

Kalibrasinya biasa menggunakan kalibrator manual atau otomatis,


kalibrator manual suhu yg dikenakan ke sensor adalah suhu pemanas
nyata dimulai dari 0 derajat untuk setting ofsetnya. Kalibrasi otomatis
terdiri dari suhu pemanas dan checker untuk gain dalam rangkaian
komparatornya

e. Material Penyusun Termometer Digital

Termometer digital memiliki bagian penyususn terpenting. Material


penyusun tersebut adalah sebagai berikut:

1) Sensor PTC/ NTC


2) Komparator (OP-amp dan sejenisnya)
3) ANALOG to Digital konverter
4) Dekoder display (IC 7447 TTL misalnya)
5) Display (7 segmen, LCD, monitor)

3. ANEMOMETER

a. Fungsi Anemometer
Pengamatan unsur-unsur cuaca dan iklim memerlukan alat-alat
meteorologi yang bersifat peka, kuat, sederhana dan teliti. Ditinjau dari
cara pembacaannya, alat meteorologi terdiri atas dua jenis, yaitu:

1) Recording yaitu alat yang dapat mencatat data secara terus-


menerus, sejak pemasangan hingga pergantian alat berikutnya.
Contoh : barograf dan anemograf.
2) Non recording yaitu alat yang digunakan bila datanya harus dibaca
pada saat-saat tertentu untuk memperoleh data. Contoh:
barometer, ermometer dan anemometer.

Anemometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur arah dan


kecepatan angin. Satuan meteorologi dari kecepatan angin adalah Knots
(Skala Beaufort). Sedangkan satuan meteorologi dari arah angin adalah 0o
– 360o serta arah mata angin. Anemometer harus ditempatkan di daerah
terbuka.

Pada saat tertiup angin, baling-baling/mangkok yang terdapat pada


anemometer akan bergerak sesuai arah angin. Makin besar kecepatan
angin meniup mangkok-mangkok tersebut, makin cepat pula kecepatan
berputarnya piringan mangkok-mangkok. Dari jumlah putaran dalam satu
detik maka dapat diketahui kecepatan anginnya. Di dalam anemometer
terdapat alat pencacah yang akan menghitung kecepatan angin. Hasil
yang diperoleh alat pencacah dicatat, kemudian dicocokkan dengan Skala
Beaufort.c Gambar Anemometer adalah :

b. Tipe Anemometer

Anemometer sendiri terdapat dua tipe secara umum. Tipe tersebut adalah
sebagai berikut:

1) Anemometer dengan tiga atau empat mangkok

Sensornya terdiri dari tiga atau empat buah mangkok yang


dipasang pada jari-jari yang berpusat pada suatu sumbu vertikal
atau semua mangkok tersebut terpasang pada poros vertikal.
Seluruh mangkok menghadap ke satu arah melingkar sehingga bila
angin bertiup maka rotor berputar pada arah tetap. Kecepatan
putar dari rotor tergantung kepada kecepatan tiupan angin. Melalui
suatu sistem mekanik roda gigi, perputaran rotor mengatur sistem
akumulasi angka penunjuk jarak tiupan angin. Anemometer tipe
“cup counter” hanya dapat mengukur rata-rata kecepatan angin
selama suatu periode pengamatan. Dengan alat ini penambahan
nilai yang dapat dibaca dari satu pengamatan ke pengamatan
berikutnya, menyatakan akumulasi jarak tempuh angin selama
waktu dari kedua pengamatan tersebut, sehingga kecepatan
anginnya adalah sama dengan akumulasi jarak tempuh tersebut
dibagi lama selang waktu pengamatannya.

2) Anemometer Termal

Anemometer ini merupakan satu sensor yang digunakan


untuk mengukur kecepatan fluida (angin) sesaat. Cara kerja dari
sensor ini berdasarkan pada jumlah panas yang hilang secara
konvektif dari sensor ke lingkungan sekeliling sensor. Besarnya
panas yang dipindahkan dari sensor secara langsung berhubungan
dengan kecepatan fluida yang melewati sensor. Jika hanya
kecepatan fluida yang berubah, maka panas yang hilang bisa
diinterpretasikan sebagai kecepatan fluida tersebut. Kerja
Anemometer ini mengikuti prinsip tabung pitot, yaitu dihitung dari
tekanan statis dan tekanan kecepatan.

c. Proses Pengukuran Anemometer

Berikut contoh perhitungan sederhana kecepatan angin yang diukur


dengan anemometer tiga mangkok. Panjang lingkaran susunan mangkok-
mangkok adalah 3 m, dan susunan itu pada suatu waktu berputar 20 kali
dalam waktu 10 detik, maka kecepatan angin dapat dihitung : [(20x3)/10
m = 6 m/dt]

Untuk memudahkan menghitung putaran dari pada piringan


anemometer maka salah satu mangkok diberi warna lain.

Sehubungan dengan karena adanya perbedaan kecepatan angin


dari berbagai ketinggian yang berbeda, maka tinggi pemasangan
anemometer ini biasanya disesuaikan dengan tujuan atau kegunaannya.
Untuk bidang agroklimatologi dipasang dengan ketinggian sensor
(mangkok) 2 meter di atas permukaan tanah. Untuk mengumpulkan data
penunjang bagi pengukuran penguapan Panci Kelas A, dipasang
anemometer setinggi 0,5 m. Di lapangan terbang pemasangan umumnya
setinggi 10 m. Dipasang didaerah terbuka pada pancang yang cukup kuat.
Untuk keperluan navigasi alat harus dipasang pada jarak 10 x tinggi faktor
penghalang seperti adanya bangunan atau pohon. Sebagian besar
Anemometer ini umumnya tidak dapat merekam kecepatan angin
dibawah 1-2 mil/jam karena ada faktor gesekan apa awal putaran.

d. Proses Kalibrasi Anemometer

Proses kalibrasi anemometer dilakukan secara periodik agar


perfomansi dan hasil pencatatan tetap stabil dan baik. Berikut urutan
proses kalibrasi pada anemometer.

• For wind direction calibration, the following method can yield an


accuracy of ±5° or better if carefully done. Begin by connecting the
instrument to a signal conditioning circuit which indicates wind
direction value. This may be an indicator which displays wind
direction values in angular degrees or simply a voltmeter
monitoring the output. Hold or mount the instrument so the vane
center of rotation is over the center of a sheet of paper which has
30° or 45° crossmarkings. Position theinstrument so the mounting
crossarm is oriented north-south with the vane on the north and the
anemometer on the south. With the counterweight pointing directly
at the anemometer the wind direction signal should correspond to
180° or due south. Looking from above, visually align the vane with
each of the crossmarkings and observe the indicator display. It
should correspond to vane position within 5°. If not, it may be
necessary to adjust the relative position of the vane skirt and shaft.
See step 3 in the MAINTENANCE section under potentiometer
replacement.
• It is important to note that while the sensor mechanically rotates
through 360°, the full scale wind direction signal from the signal
conditioning occurs at 352°. For example, in a circuit where 0 to
1.00 VDC represents 0° to 360°, the output must be adjusted for
0.978 VDC when the instrument is at 352° full scale. (352°/ 360° X
1.00 volts = 0.978 volts).
• Wind speed calibration is determined by the cup wheel turning
factor and the output characteristics of the transducer. Calibration
formulas showing cup wheel rpm and frequency output vs. wind
speed are included below.
• Calibration Formulas for Model 03102 Wind Sentry Anemometer
o WIND SPEED vs CUP WHEEL RPM
 m/s = (0.01250 x rpm) + 0.2
 knots = (0.02427 x rpm) + 0.4
 mph = (0.02795 x rpm) + 0.4
 km/hr = (0.04499 x rpm) + 0.7
o WIND SPEED vs OUTPUT FREQUENCY - Hz
 m/s = (0.7500 x Hz) + 0.2
 knots = (1.4562 x Hz) + 0.4
 mph = (1.6770 x Hz) + 0.4
 km/hr = (2.6994 x Hz) + 0.7
4. TERMOKOPEL

a. Fungsi Termokopel

Pada dunia elektronika, termokopel merupakan sensor suhu yang


banyak digunakan untuk mengubah perbedaan suhu dalam benda
menjadi perubahan tegangan listrik (voltase). Termokopel yang sederhana
dapat dipasang, dan memiliki jenis konektor standar yang sama, serta
dapat mengukur temperatur dalam jangkauan suhu yang cukup besar
dengan batas kesalahan pengukuran kurang dari 1 °C.

b. Cara Kerja Termokopel

Pada tahun 1821, seorang fisikawan Estonia bernama Thomas


Johann Seebeck menemukan bahwa sebuah konduktor (semacam logam)
yang diberi perbedaan panas secara gradien akan menghasilkan tegangan
listrik. Hal ini disebut sebagai efek termoelektrik. Untuk mengukur
perubahan panas ini, gabungan dua macam konduktor sekaligus sering
dipakai pada ujung benda panas yang diukur. Konduktor tambahan ini
kemudian akan mengalami gradiasi suhu, dan mengalami perubahan
tegangan secara berkebalikan dengan perbedaan temperatur benda.
Menggunakan logam yang berbeda untuk melengkapi sirkuit akan
menghasilkan tegangan yang berbeda, meninggalkan perbedaan kecil
tegangan memungkinkan kita melakukan pengukuran, yang bertambah
sesuai temperatur. Perbedaan ini umumnya berkisar antara 1 hingga 70
microvolt tiap derajad celcius untuk kisaran yang dihasilkan kombinasi
logam modern. Beberapa kombinasi menjadi populer sebagai standar
industri, dilihat dari biaya, ketersediaanya, kemudahan, titik lebur,
kemampuan kimia, stabilitas, dan hasil. Sangat penting diingat bahwa
termokopel mengukur perbedaan temperatur di antara 2 titik, bukan
temperatur absolut.

Pada banyak aplikasi, salah satu sambungan (sambungan yang


dingin) dijaga sebagai temperatur referensi, sedang yang lain
dihubungkan pada objek pengukuran. Termokopel dapat dihubungkan
secara seri satu sama lain untuk membuat termopile, dimana tiap
sambungan yang panas diarahkan ke suhu yang lebih tinggi dan semua
sambungan dingin ke suhu yang lebih rendah.

Dengan begitu, tegangan pada setiap termokopel menjadi naik,


yang memungkinkan untuk digunakan pada tegangan yang lebih tinggi.
Dengan adanya suhu tetapan pada sambungan dingin, yang berguna
untuk pengukuran di laboratorium, secara sederhana termokopel tidak
mudah dipakai untuk kebanyakan indikasi sambungan lansung dan
instrumen kontrol. Mereka menambahkan sambungan dingin tiruan ke
sirkuit mereka yaitu peralatan lain yang sensitif terhadap suhu (seperti
termistor atau dioda) untuk mengukur suhu sambungan input pada
peralatan, dengan tujuan khusus untuk mengurangi gradiasi suhu di
antara ujung-ujungnya.

Di sini, tegangan yang berasal dari hubungan dingin yang diketahui


dapat disimulasikan, dan koreksi yang baik dapat diaplikasikan. Hal ini
dikenal dengan kompensasi hubungan dingin. Biasanya termokopel
dihubungkan dengan alat indikasi oleh kawat yang disebut kabel ekstensi
atau kompensasi. Tujuannya sudah jelas. Kabel ekstensi menggunakan
kawat-kawat dengan jumlah yang sama dengan kondoktur yang dipakai
pada Termokopel itu sendiri. Kabel-kabel ini lebih murah daripada kabel
termokopel, walaupun tidak terlalu murah, dan biasanya diproduksi pada
bentuk yang tepat untuk pengangkutan jarak jauh - umumnya sebagai
kawat tertutup fleksibel atau kabel multi inti. Kabel-kabel ini biasanya
memiliki spesifikasi untuk rentang suhu yang lebih besar dari kabel
termokopel. Kabel ini direkomendasikan untuk keakuratan tinggi. Kabel
kompensasi pada sisi lain, kurang presisi, tetapi murah.

Mereka memakai perbedaan kecil, biasanya campuran material


konduktor yang murah yang memiliki koefisien termoelektrik yang sama
dengan termokopel (bekerja pada rentang suhu terbatas), dengan hasil
yang tidak seakurat kabel ekstensi. Kombinasi ini menghasilkan output
yang mirip dengan termokopel, tetapi operasi rentang suhu pada kabel
kompensasi dibatasi untuk menjaga agar kesalahan yang diperoleh kecil.
Kabel ekstensi atau kompensasi harus dipilih sesuai kebutuhan
termokopel. Pemilihan ini menghasilkan tegangan yang proporsional
terhadap beda suhu antara sambungan panas dan dingin, dan kutub harus
dihubungkan dengan benar sehingga tegangan tambahan ditambahkan
pada tegangan termokopel, menggantikan perbedaan suhu antara
sambungan panas dan dingin.

5. HYGROMETER

a. Prinsip Kerja Hygrometer

Hygrometer mempunyai prinsip kerja yaitu dengan menggunakan


dua thermometer. Thermometer pertama dipergunakan untuk mengukur
suhu udara biasa dan yang kedua untuk mengukur suhu udara
jenuh/lembab (bagian bawah thermometer diliputi kain/kapas yang
basah). Thermometer Bola Kering: tabung air raksa dibiarkan kering
sehingga akan mengukur suhu udara sebenarnya.

b. Fungsi Hygrometer

Hygrometer digunakan untuk mengukur kelembaban udara relative


(RH)

c. Proses Pengukuran

Higrometer terdapat dua skala, yang satu menunjukkan


kelembaban yang satu menunjukkan temperatur. Cara penggunaannya
dengan meletakkan di tempat yang akan diukur kelembabannya,
kemudian tunggu dan bacalah skalanya. skala kelembaban biasanya
ditandai dengan huruf h dan kalau suhu dengan derajat celcius.

Ada bentuk higrometer lama yakni berbentuk bundar atau berupa


termometer yang dipasang didinding. Cara membacanya juga sama, bisa
dilihat pada raksanya di termometer satu yang untuk mengukur
kelembaban dan satu lagi yang mengukur suhu. yang bundar ya dibaca
skalanya.

Perlu diperhatikan pada saat pengukuran dengan hygrometer


selama pembacaan haruslah diberi aliran udara yang berhembus kearah
alat tersebut, ini dapat dilakukan dengan mengipasi alat tersebut dengan
secarik kertas atau kipas. Sedangkan pada slink, alatnya harus diputar.

d. Kalibrasi

Sebuah sistem kalibrasi higrometer telah dirancang dan dibuat


dalam rangka peningkatan kemampuan kalibrasi higrometer untuk
menghasilkan sebuah sistem kalibrasi yang dapat memberikan
kemampuan ukur terbaik di bawah 2,5%. Sistem yang dibangun
memanfaatkan prinsip kerja divided flow atau aliran terbagi. Pengujian
dilakukan terhadap sistem tersebut pada rentang kelembaban relative
yang biasa dipakai untuk melakukan kalibrasi, yaitu dari 10% hingga 95%.
Pengukuran ketidakseragaman test chamber telah dilakukan pada rentang
kelembaban tersebut dengan menggunakan dua buah sensor. Hasil akhir
pengujian menunjukkan sistem yang dibangun mampu memberikan
kemampuan ukur terbaik masing-masing adalah 0,62% pada RH 10% dan
0,51% pada RH 60% dan 95%.

6. NERACA DIGITAL/ELEKTRONIK

a. Fungsi

Dalam kehidupan sehari-hari, massa sering diartikan sebagai berat,


tetapi dalam tinjauan fisika kedua besaran tersebut berbeda. Massa tidak
dipengaruhi gravitasi, sedangkan berat dipengaruhi oleh gravitasi. Fungsi
dari neraca elektrik maupun bukan elektrik secara umum adalah sebagai
alat pengukur massa. Kegunaan neraca ini tergantung dari skala dari
neraca tersebut misal neraca/timbangan elektrik yang ada di pasar
swalayan dengan yang di laboratorium tentu sensitivitas dan skala
neracanya jauh berbeda.

b. Proses Pengukuran

Secara umum proses meninbang dengan neraca elektronik/digital


adalah:

1) Pastikan bahwa timbangan sudah menyala.


2) Pastikan timbangan menunjukkan angka ”nol”( jika tidak perlu di
koreksi).
3) Letakakan benda yang massanya akan diukur pada piringan tempat
benda.
4) Baca skala yang tertera pada display digital sesuai skala satuan
timbangan tersebut.
5) Untuk pengukuran yang sensitivitasnya tinggi perlu menunggu 30
menit, karena hanya dapat bekerja pada batas temperatur yang
ditetapkan.

c. Kalibrasi
1) Pengontrolan Timbangan/Neraca

Timbangan/Neraca dikontrol dengan menggunakan anak


timbangan yang sudah terpasang atau dengan dua anak timbangan
eksternal, misal 10 gr dan 100 gr. Timbangan/Neraca elektronik, harus
menunggu 30 menit untuk mengatur temperatur. Jika menggunakan
timbangan yang sangat sensitif, hanya dapat bekerja pada batas
temperatur yang ditetapkan. Timbangan harus terhindar dari gerakan
(angin) sebelum menimbang angka “nol” harus dicek dan jika perlu
lakukan koreksi. Penyimpangan berat dicatat pada lembar/kartu
kontrol, dimana pada lembar tersebut tercantum pula berapa kali
timbangan harus dicek. Jika timbangan tidak dapat digunakan sama
sekali maka timbangan harus diperbaiki oleh suatu agen (supplier).

2) Kebersihan timbangan

Kebersihan timbangan harus dicek setiap kali selesai digunakan,


bagian dan menimbang harus dibersihkan dengan menggunakan sikat,
kain halus atau kertas (tissue) dan membersihkan timbangan secara
keseluruhan timbangan harus dimatikan, kemudian piringan (pan)
timbangan dapat diangkat dan seluruh timbangan dapat dibersihkan
dengan menggunakan pembersih seperti deterjen yang lunak,
campurkan air dan etanol/alkohol. Sesudah dibersihkan timbangan
dihidupkan dan setelah dipanaskan, cek kembali dengan menggunakan
anak timbangan.

7. PYRANOMETER

Pyranometer juga disebut solarmeter digunakan untuk mengukur


besarnya pengaruh radiasi cahaya pada permukaan bidang dengan
satuan W/m2. Kinerja alat ini dengan dipasang pada suatu permukaan
bidang kemudian dengan adanya hantaman cahaya tepat pada sensor
cahaya yang akan diteruskan pada tampilan komputer dalam bentuk
simpangan besarnya fluks yang diberikan cahaya tersebut.

Nilai maksimum yang memberikan fluks terbesar jika cahaya


menghantam sensor sejajar dengan bidang vertikal dan nilai terkecil fluks
cahaya saat cahaya jatuh sejajar bidang horizontal, sehingga besarnya
simpngan fluks bergantung pada sudut cosinus terhadap sumbu vertikal
selain dari besarnya muatan elektron yang menghantam sensor dari
radiasi cahaya. Dengan adanya muatan elektron tersebut dapat diukur
dengan rumus medan listrik sehingga simpangan fluks magnet
berbanding lurus dengan peningkatan arus akibat penumpukan elektron.
Pada saat kalibrasi digunakan saat diletakkan pyranometer di dalam
ruangan gelap yang tidak ada cahaya dan pengaruh medan listrik maupun
medan magnet sebagai keadaan ideal saat keadaan normal atau keadaan
nol.