Anda di halaman 1dari 11

In Search of Happiness

Mencari Kebahagiaan

There is an Eastern tale


of a wealthy king who ruled a
vast domain and lived in a
magnificent and luxurious
palace. In spite of all his power
and wealth he was very
unhappy.
Among the servants in
his court there was a wellknown sage whose counsel
the king frequently asked in
times of difficulty and crisis.
This wise man was summoned
to the kings presence.
The monarch asked
him how to get rid of his
worries and depression,
and how he might be
really happy. The sage
replied, There is but
one cure for the king.
Your Majesty must
sleep one night in
the shirt of a
happy man.

Ada dongeng dari timur mengenai


seorang raja kaya raya dan tinggal di
dalam istana megah. Meskipun
kekayaannya ber kelimpahan, raja itu
sangat tidak gembira.
Di antara hamba-hambanya ada
orang pintar yang seringkali dimintai
nasihat oleh sang raja setiap kali ada
masalah yang rumit. Orang pintar ini
dipanggil menghadap raja yang
menanyakan bagaimana cara untuk
menghilangkan kekuatiran dan depresi,
dan bagaimana cara memperoleh
kebahagiaan.
Orang pintar itu menjawab:
Hanya ada satu cara untuk
menyembuhkan
penyakit paduka.
Paduka har us tidur satu
malam dengan
mengenakan baju kaos
seseorang yang
benar-benar
berbahagia.

Messengers were dispatched


throughout the realm to search
for a man who was truly happy.
But everyone who was
approached had some cause for
misery, something that robbed
them of true and complete
happiness.
At last they found a mana
poor beggarwho sat smiling
by the roadside. When they
asked him if he was truly happy
and had no sorrows, he
declared that he was a truly
happy man.
Then they told him what
they wanted. The king must
sleep one night in the shirt of a
happy man, and he had given
them a large sum of money to
procure such a shirt. Would he
sell them his shirt that the king
might wear it?
The beggar burst into
uncontrollable laughter,
and replied, I am sorry
I cannot oblige the
king. I havent a
shirt on my back.

Sejumlah utusan dikerahkan ke


seluruh pelosok untuk mencari orang
yang benar-benar berbahagia tersebut.
Akan tetapi, setiap orang yang ditemui
selalu mempunyai persoalan hidup,
sesuatu yang menghalangi mereka
untuk menjadi betul-betul berbahagia.
Akhirnya mereka menemukan
seorang pengemis yang tersenyum
lebar di tepi jalan. Ketika ditanya jika
dia betul-betul berbahagia tanpa
kesedihan apapun, pengemis itu
mengakui bahwa dirinya memang
benar-benar berbahagia.
Kemudian mereka memberitahukan
bahwa raja harus tidur satu malam
dengan mengenakan baju kaos dari
seseorang yang benar-benar
berbahagia, bahwa mereka siap untuk
membayar berapa saja untuk membeli
pakaian tersebut. Maukah dia menjual
baju kaosnya supaya raja dapat
mengenakannya?
Pengemis itu tertawa terbahakbahak dan tidak bisa
berhenti, dan akhir nya
menjawab. Maaf tuantuan, saya tidak bisa
memenuhi keinginan
hati paduka sebab saya
tidak mempunyai
sehelai pakaian pun.

Five Grains of Rice

Lima Butir Beras

Once upon a time there lived


a poor beggar in a country
ruled by a king. The beggar had
no home, so every night he
went to a free hostel, where he
slept on a mat on the floor,
covering himself in the cooler
nights with old rags. His
clothing was tattered and old,
and having no means of earning
a livelihood other than begging,
he used to go out in the
morning after a meal of cold
rice left over from the previous
day and sit by the wayside with
his beggars bowl. For merit
passers-by used to throw some
grains of rice or copper coins
his way, so he usually had
enough rice for two meals a
day, and enough money to buy
sticks for a fire and a few
vegetables, fish or meat for
curry, which he ate at the
hostel.

Adalah seorang pengemis di negara


yang kepala pemerintahannya adalah
seorang Maharaja. Pengemis itu tidak
mempunyai rumah, jadi setiap malam
dia tidur di tempat penampungan,
berbaring pada sehelai tikar,
berselimutkan kain-kain perca.
Pakaiannya compang-camping dan
karena tidak mempunyai keahlian
untuk mencari nafkah selain
mengemis, setelah sarapan nasi dingin
sisa dari malam sebelumnya, biasanya
dia pergi duduk di tepi jalan sambil
menadahkan mangkok. Orang-orang
yang berlalu-lalang pada umumnya
melemparkan sedekah berupa uang
logam atau beras ke dalam
mangkoknya. Beras yang diperolehnya
cukup untuk makan dua kali sehari dan
cukup uang untuk membeli kayu api,
sayur, ikan atau daging yang
disantapnya di tempat penampungan.

One day he heard that the


next morning the king himself
was coming that way in his
carriage. That raised his hopes, as
he said to himself, The king will
not give me a handful of rice or a
copper coin, or even a few
pennies, but nothing less than a
gold coin.
The next day he took up his
usual position by the side of the
road, and patiently awaited the
kings coming. The sun stood
overhead and still he waited in
the noonday heat, but no sign of
the ruler. Patiently he waited, still
full of hope, until almost sunset
and then he heard the welcome
sound of the horses hoofs and
the carriage wheels. Stepping
into the road, he brought the
carriage to a standstill,
approached the king and begged
for alms. Instead of giving him
anything, the king extended his
hands and asked the beggar to
give him something. Extremely
disappointed that a wealthy ruler
would beg from a poor beggar,
he counted out five grains of rice
from his bowl and placed them
angrily in the hands of the king.
Thank you, said the king, and
he continued his journey.

Pada suatu pagi didengarnya


bahwa keesokan harinya, sang
Maharaja akan melintas dengan
kereta kudanya. Timbullah
harapannya, dan dia berkata-kata
sendiri, Maharaja tidak akan
memberi segenggam beras, koin
tembaga ataupun uang receh,
melainkan uang emas.
Keesokan harinya seperti biasa dia
duduk di tepi jalan dan dengan sabar
menunggu kedatangan sang
Maharaja. Matahari sudah tinggi
tetapi masih belum ada tanda-tanda
kedatangan sang Maharaja. Dengan
sabar dia menunggu sambil terus
berharap dan ketika matahari sudah
hampir terbenam, dia mendengar
bunyi sepatu kuda dan roda kereta.
Melangkah ke tengah jalan
dihentikannya kereta, menghampiri
sang Maharaja dan meminta
sedekah. Bukannya memberi, sang
Maharaja bahkan mengulurkan
tangannya meminta agar pengemis
itu memberi sesuatu kepadanya.
Sangat kecewa karena seseorang
yang kaya raya sampai hati meminta
dari dirinya seorang pengemis, dia
menghitung lima butir beras dari
dalam mangkoknya dan dengan
marah meletakkannya di tangan sang
Maharaja. Terima kasih, kata sang
Maharaja kemudian meneruskan
perjalanannya.

With a sore heart and very


discouraged, the beggar went
that evening to his hostel, took
out his winnowing fan and
began to clean his rice for his
meal. As he did so, a small
glittering object attracted his
attention. Picking it up, he saw
that it was a grain of gold.
Laying it carefully on one side,
he went on winnowing till he
found another glittering golden
grain, then another. Now the
search began in real earnest,
and a fourth was found among
the rice. After another search he
saw a fifth and put it with the
others. But no matter how long
he searched after that, he found
not another grain of gold.
Then the truth dawned on
him. Five grains of rice given to
the king had brought him in
return five grains of gold. What
a fool I was! he exclaimed
regretfully. If Id known Id have
given it all to him.

Sakit hati dan kecewa, pengemis


itu kembali ke tempat penampungan
dan mulai membersihkan beras
untuk makan malam. Sesuatu yang
berkilauan menarik perhatiannya.
Benda itupun diambilnya dan
ternyata itu adalah butiran emas.
Menyisihkan butiran itu, dia
melanjutkan pekerjaannya dan
menemukan sebutir emas lagi, dan
sebutir lagi. Pengemis itu semakin
giat mencari, dan menemukan
butiran yang ke empat. Mencari lagi,
akhirnya diapun menemukan butiran
yang kelima. Meskipun dia terus
mencari, tetapi tidak ada lagi butiran
emas yang ditemukannya.
Kemudian pengemis itupun sadar.
Lima butir beras yang diberikannya
kepada sang Maharaja telah
memberikan kepadanya lima butir
emas. Alangkah bodohnya aku!
Seandainya aku tahu, akan kuberikan
semua gandumku bagi sang
Maharaja. Pengemis itu berkata di
dalam hatinya.

What I Once Was

Siapa Saya Dulunya

A certain noble man was raised


to his grand and exalted state
from very humble surroundings.
He had been a shepherd in his
earlier days and so, in his
mansion, he had one room
known as The Shepherds
Room. In that room were
reproductions of hills and valleys,
running streams, rocks and
sheepfolds. There also were the
staff he had carried and the
clothes he had worn as a lad
when herding his sheep. When
asked one day the meaning of
this, he replied, If ever my heart
is tempted to haughtiness and
pride, I go into that room and
remind myself of what I once
was.

Ada orang terpandang yang berasal


dari lingkungan yang sangat
sederhana. Ketika masih muda, dia
adalah seorang penggembala
domba, jadi di rumahnya yang
besar itu ada sebuah ruangan yang
diberi nama Ruang Gembala. Di
dalamnya terdapat replika bukit,
lembah, sungai dengan bebatuan
dan kandang domba. Di situ juga
disimpan tongkat gembala dan
pakaian yang dulu dikenakannya.
Ketika ditanya apa arti semua itu,
dia menjawab, Apabila saya
tergoda untuk menjadi tinggi hati
dan angkuh, saya masuk ke
ruangan itu untuk mengingatkan
diri akan masa lalu saya.

Is Less More?
One day a father of a rich
family took his son on a trip to
the country to show him how
poor people can be. They
spent a day and a night in the
farm of a very poor family.
When they got back from their
trip, the father asked his son,
How was the trip?
Very good, Dad!
Did you see how poor
people can be? the father
asked.
Yes!
And what did you learn?
The son answered, I saw
that we have one dog at
home, and they have four. We
have a pool that reaches to
the middle of the garden, they
have a creek that has no end.
We have imported lamps in
the garden, they have the
stars. Our patio reaches to the
front yard, they have a whole
horizon.
When the little boy was
finished, his father was
speechless. Isnt it true that it
all depends on the way you
look at things? If you have
God, love, faith, and a positive
attitude towards life, youve
got everything!

Apakah Kekurangan Berarti Lebih


Banyak?
Pada suatu hari seorang ayah dari
keluarga yang kaya raya membawa
anaknya ke suatu negeri dengan maksud
agar si anak melihat bagaimana ada orang
yang sangat miskin. Mereka melewatkan
waktu sehari dan semalam di rumah
seorang petani yang sangat miskin. Ketika
mereka kembali dari perjalanan itu,
ayahnya bertanya kepada si anak,
Bagaimana perjalanannya?
Bagus sekali, Ayah!
Apakah kamu melihat bagaimana ada
orang yang sangat miskin? tanya sang
ayah.
Ya!
Dan hikmah apa yang kamu peroleh?
Anak itu menjawab, Aku melihat kita
punya seekor anjing di rumah dan mereka
punya empat. Kita punya kolam renang
yang memanjang hingga ke tengah taman,
mereka punya sungai yang tak berujung.
Kita punya lampu kebun yang diimpor dari
luar negeri, mereka punya bintangbintang di langit. Emperan kita terbuka
hingga ke halaman depan, mereka punya
seluruh cakrawala.
Ketika anaknya selesai berbicara,
ayahnya tak dapat berkata-kata. Bukankah
benar bahwa segalanya itu tergantung
dari bagaimana kita memandangnya? Jika
kamu punya Tuhan, kasih, iman dan sikap
positif tentang hidup, kamu punya segalagalanya!

What Can I Give?

Apa yang Bisa Kuberi?

You can show your love for


others by giving of yourself.
Show your love by lending a
helping hand. Tell your friends
that you care about them and
that they are special to you.
Comfort others when theyre
sad or hurt. Spend time with
someone who needs a friend.
Show your parents you love
them by helping to clean the
house, by being obedient, or
showing them appreciation and
praying for them.
As someone once said, One
of the greatest gifts you can give
is a bit of yourself. And thats
what these next nine gifts are
gifts of you. They cost nothing,
but are some of the most
precious presents you can give
to your friends and family.

Kamu bisa memperlihatkan kasih


untuk sesama dengan memberikan
uluran tangan. Ungkapkanlah bahwa
kamu peduli dan bahwa dia istimewa
bagimu. Hiburlah orang yang sedang
dirundung kesedihan atau kemalangan.
Lewatkanlah waktu dengan seseorang
yang membutuhkan teman.
Perlihatkanlah kasih sayang kepada
orang tuamu dengan membantu
membersihkan rumah, dengan bersikap
patuh, atau memperlihatkan apresiasi
dan berdoa untuk mereka.
Sebagaimana pernah diungkapkan
oleh seseorang, Salah satu pemberian
yang terbesar, yang dapat diberikan
adalah diri sendiri. Dan itulah
kesembilan pemberian berikut ini
pemberian dirimu. Tidak ada biaya,
tetapi merupakan salah satu pemberian
yang sangat berharga, yang dapat kamu
berikan kepada teman dan keluarga.

The Gift of Love: Tell others


that you love them and care
about them.

Pemberian Kasih. Ungkapkanlah


bahwa kamu mengasihi dan peduli.

The Gift of Time. Take time to


be with your friends and family.
The Gift of Good Example.
Others can learn from your
good example, and can be
encouraged to do the right
thing if they see you do it first.
The Gift of Acceptance. Make
those around you feel accepted
and appreciated for who they
are.
The Gift of Seeing the Best in
People. Let others know what
you like about them!
The Gift of Giving Up a Bad
Habit. All of us have habits that
annoy those we love. What a
great gift it would be if you
could give up an unpleasant or
unhealthy habit.
The Gift of Teaching. Helping
someone you love learn
something new is an important
investment in their future
happiness. Sharing our talents
with others is a good way to
show our love.
The Gift of Listening. Few
of us know how to listen
effectively. Too often we
interrupt or act
disinterested when
someone else is
talking.

Pemberian Waktu. Lewatkanlah waktu


bersama dengan teman-temanmu dan
keluargamu.
Pemberian Teladan yang Baik. Orang
lain dapat belajar dari teladan kamu dan
dapat bersemangat untuk melakukan
sesuatu yang benar jika mereka melihat
kamu melakukannya.
Pemberian Penerimaan. Buatlah agar
orang di sekitar kamu merasa diterima
dan dihargai apa adanya.
Pemberian yang Melihat sisi Terbaik di
Dalam Diri Seseorang. Utarakanlah apa
yang kamu sukai dalam diri orang lain!
Pemberian yang Mengesampingkan
Kebiasaan Buruk. Kita semua punya
kebiasaan yang menjengkelkan orang
yang kita sayang. Betapa luar biasanya
pemberian itu jika kamu bisa
menghentikan kebiasaan yang tidak
menyenangkan atau yang tidak sehat.
Pemberian Mengajar. Membantu orang
yang kamu kasihi belajar sesuatu yang
baru bagaikan penanaman modal untuk
kebahagiaan mereka di masa depan.
Berbagi talenta kita adalah salah satu cara
yang baik untuk memperlihatkan kasih
sayang kita.
Pemberian yang Mendengarkan. Tidak
banyak dari kita yang dapat mendengar
dengan efektif. Seringkali kita
menyela atau berperilaku
seolah-olah kita tidak tertarik
sewaktu orang lain berbicara.

The Gift of Letting Others Give.


When we let others give to us,
and when we accept their gifts in
a gracious manner, we may be
giving them one of the most
important gifts of all.

Pemberian yang Membiarkan Orang


Lain Memberi. Apabila kita membiarkan
orang lain memberi kepada kita,
kemudian kita menerima Pemberian
mereka dengan sikap yang anggun,
kemungkinan kita memberikan
Pemberian yang paling penting.

Image credits:
Cover: smeagorl via 123rf.com
Pages 2- 3 adapted from clipart by Brandi Carolyn, used under CC-SA license
Page 4 Microsoft clipart
Page 6 nirots via freedigitalphotos.net
Page 7 Simon Howden via freedigitalimages.net
Pages 9 11 Microsoft Clipart
Text courtesy of Motivated Magazine and Steps Character Building Course. Used by permission.

www.freekidstories.org